Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

DisusunOleh :
dr. Anugrah Octa Pamungkas

Pembimbing:
dr. Amru

Pendamping :
dr. Tony Sinaga
dr. Mustika Siregar

RSU Dr. FERDINAND LUMBAN TOBING


SIBOLGA
2018
i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala


karena atas limpahan rahmat dan ridho-Nya laporan kasus dengan judul
“HIPEREMESIS GRAVIDARUM” dapat terselesaikan. Adapun tujuan dari
pembuatan lapkas ini adalah untuk melengkapi persyaratan dalam menjalankan
Program Pendidikan Internsip Dokter Indonesia di RSU Dr. Ferdinand Lumban
Tobing Sibolga.
Terimakasih saya ucapkan kepada dr. Amru selaku pembimbing dalam
penyelesaian laporan kasus ini atas bimbingan serta pencerahan yang telah
diberikan dalam penyusunan laporan kasus ini, kemudian ucapan terima kasih
untuk kedua orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan doa, semangat
dan motivasi, juga rekan seperjuangan internsip.
Karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada penulis, penulis sadar
bahwa hasil dari usaha penyusunan paper ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangat penulis harapkan untuk memperbaiki kekurangan serta penyusunan laporan
kasus lain dikemudian hari.
Semoga laporan kasus yang penulis buat ini dapat menambah wawasan bagi
pembaca dan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas pada umumnya serta praktisi
kesehatan pada khususnya.

Sibolga, 23 Februari 2019

Anugrah Octa Pamungkas Hasibuan

DAFTAR ISI
ii

Kata Pengantar ..........................................................................................................

Daftar Isi ....................................................................................................................

ii

BAB 1 Pendahuluan ..............................................................................................

1.1 Latar Belakang ...................................................................................

1.2 Tujuan Pembahasan ...........................................................................

BAB 2 Tinjauan Pustaka ......................................................................................

2.1 DefInisi...............................................................................................

2.2 Etiologi...............................................................................................

2.3 Patologi...............................................................................................

2.4 Klasifikasi...........................................................................................

2.5 Diagnosis............................................................................................

2.6 Gejala Klinis.......................................................................................

5
iii

2.7 Diagnosis Banding..............................................................................

2.8 Komplikasi .........................................................................................

2.9 Pencegahan.........................................................................................

2.10 Penatalaksanaan..................................................................................

BAB 3 Laporan Kasus ..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kehamilan biasanya ditandai dengan adanya riwayat terlambat haid dan
keluhan mual muntah. Mual dan muntah dalam kehamilan dikenal dengan
morning sickness, dialami 80% wanita hamil. Mual dan muntah adalah gejala
yang umum dan wajar terjadi pada usia kehamilan trimester I . Mual biasanya
terjadi pada pagi hari, dapat juga timbul setiap saat dan pada malam hari.
Gejala ini biasanya terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan
berlangsung ± 10 minggu. Derajat beratnya mual dan muntah yang terjadi
pada kebanyakan kehamilan sampai dengan gangguan yang berat dimana
keluhan semakin memburuk, menetap, hingga mengganggu aktivitas sehari-
hari dikenal dengan hiperemesis gravidarum.1,2
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya
sehingga segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat
mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat
badan menurun, dehidrasi dan terdapat aseton dalam urin.1,2
Mual dan muntah mempengaruhi hingga 50% kehamilan, kebanyakan
perempuan mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet
dan simptom akan teratasi hingga akhir trimester I. Etiologinya belum
diketahui secara pasti, tetapi adal beberapa ahli yang menyatakan bahwa erat
hubungannya dengan endokrin, biokimia dan psikologis.1,2,4
Penelitian-penelitian memperkirakan bahwa mual dan muntah terjadi pada
50-90% dari kehamilan. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida
dan 40-60% multi gravida. Dari seluruh kehamilan di USA 0,3-2%
diantaranya mengalami hiperemesis gravidarum. Mual dan muntah yang
berkaitan dengan kehamilan biasanya dimulai pada usia kehamilan 9-10
minggu, puncaknya pada usia kehamilan 11-13 minggu, dan kebanyakan
sembuh pada umur kehamilan 12-14 minggu, 1-10% dapat berlanjut
melampaui 20-22 minggu.3,4
2

1.2. Tujuan Pembahasan


Dalam penyusunan laporan kasus ini tentunya memiliki tujuan yang
diharapkan berguna bagi pembaca dan khususnya pada penulis sendiri. Tujuan
penyusunan laporan kasus ini adalah sebagai berikut :
1. Melengkapi tugas dokter internship
2. Menambah wawasan tentang kasus hiperemesis gravidarum bagi penulis
dan pembaca.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya
sehingga segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat
mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat
badan menurun, dehidrasi dan terdapat aseton dalam urin.1-4

2.2 Etiologi
Mual dan muntah mempengaruhi hingga 50% kehamilan, kebanyakan
perempuan mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet dan
simptom akan teratasi hingga akhir trimester pertama. Etiologinya belum
diketahui secara pasti, tetapi adal beberapa ahli yang menyatakan bahwa erat
hubungannya dengan endokrin, biokimia dan psikologis. 1,2 Faktor-faktor yang
menjadi predisposisi diantaranya:2,3
a) Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes dan
hehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG.
b) Faktor organik : masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik.
c) Faktor psikologik: keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan,
rasa takut terhadap kahamilan dan persalinan, takut memikul tanggung
jawab dan sebagainya.
d) Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes dan lain-lain.

2.3 Patologi
Dari otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum
diperoleh keterangan bahwa terjadi kelainan pada organ-organ tubuh berikut:2
a) Hepar: pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak
sentilobuler tanpa nekrosis.
b) Jantung: jantung atrofi, kecil dari biasa. Kadang dijumpai perdarahan
sub-endokardial.
4

c) Otak: terdapat bercak perdaran pada otak.


d) Ginjal: tampak pucat, degenerasi lemak pada tubuli kontorti.

2.4 Klasifikasi
Secara klinis hiperemesis gravidarum di bedakan atas 3 tingkatan, yaitu:1,2

a) Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap


makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium,
muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit cairan empedu,
dan yang terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100x/ menit
dan tekanan darah sistolik menurun. Mata cekung dan lidah kering,
turgor kulit berkurang dan urin sedikit tetapi masih normal.
b) Tingkat II : gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum
dimuntahkan, haus hebat, subfebril, nadi cepat dan > 100 – 140x/
menit,tekanan darah sistolik < 80 mmHg, apatis, kulit pucat, lidah
kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat badan
cepat menurun.
c) Tingkat III : terjadi gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah
berkurang atau berhenti, tetapi dapat terjadi ikterus, sianosis,
nistagmus, gangguan jantung, bilirubin, dan proteinuria.

2.5 Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum diantaranya:1,2
a) Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.
b) Tanda vital: nadi meningkat 100 x / menit, tekanan darah menurun
pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran.
c) Fisik: dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun,
pada vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan,
konsistensinya lunak, pada pemeriksaan inspekulo seviks berwarna
biru.
d) Pemeriksaan USG: untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan
dan kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan mola
hidatidosa.
5

e) Laboratorium: kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, keton dan


proteinuria.

2.6 Gejala Klinis


Mulai terjadi pada trimester pertama. Gejala klinik yang sering dijumpai
adalah nausea, muntah, penurunan berat badan, ptialism (saliva yang berlebihan),
tanda-tanda dehidrasi, hipotensi dan takikardi. Pemeriksaan laboratorium dapat
dijumpai hiponatremi, hipokalemia, dan peningkatan hematokrit.1,2,3

2.7 Diagnosis Banding


Penyakit-penyakit yang sering menyertai wanita hamil dan mempunyai
gejala muntah-muntah yang hebat harus dipikirkan. Beberapa penyakit tersebut
antara lain:
a) Appendicitis akut.
Pada pasien hamil dengan appendicitis akut keluhan nyeri tekan perut
sangat menonjol sedangkan pada pasien hamil tanpa appendicitis akut
keluhan tersebut sedikit bahkan tidak ada. Tanda-tanda defance
musculare juga bisa dijadikan petunjuk membedakan hamil dengan
appendictis akut dan tanpa appendicitis akut.
b) Ketoasidosis diabetes.
Pasien dicurigai menderita ketoasidosis diabetes jika sebelum hamil
mempunyai riwayat diabetes atau diketahui pertama kali saat hamil
apalagi disertai dengan penurunan kesadaran dan pernafasan
kussmaul. Perlu dilakukan pemeriksaan keton, pemeriksaan gula
darah, dan pemeriksaan gas darah.
c) Gastritis dan ulkus peptikum.
Pasien dicurigai menderita gastritis dan ulkus peptikum jika pasien
mempunyai riwayat makan yang tidak teratur, dan sering
menggunakan NSAID. Keluhan nyeri epigastrium tidak terlalu dapat
membedakan dengan wanita hamil yang tanpa gastritis/ulkus
peptikum karena hampir semua pasien dengan hiperemesis
gravidarum mempunyai keluhan nyeri epigastrium yang hebat. Pasien
dengan gastroenteritis selain menunjukkan gejala muntah-muntah,
juga biasanya diikuti dengan diare. Pasien hiperemesis gravidarum
yang murni karena hormon jarang disertai diare.
d) Hepatitis.
6

Pasien hepatitis yang menunjukkan gejala mual-muntah yang hebat


biasanya sudah menunjukkan gejala ikterus yang nyata disertai
peningkatan Serum Glutamic Oxaloacetate Transaminase (SGOT) dan
Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) yang nyata. Kadang-
kadang sulit membedakan pasien hiperemesis gravidarum tingkat III
(tanda-tanda kegagalan hati) yang sebelumnya tidak menderita
hepatitis dengan wanita hamil yang sebelumnya memang sudah
menderita hepatitis.
e) Pankreatitis akut
Pasien dengan pankreatitis biasanya mempunyai riwayat peminum
alkohol berat. Gejala klinis yang dijumpai berupa nyeri epigastrium,
kadang-kadang agak ke kiri atau ke kanan. Rasa nyeri dapat menjalar
ke punggung, kadang-kadang nyeri menyebar di perut dan menjalar ke
abdomen bagian bawah. Pemeriksaan serum amylase dapat membantu
menegakkan diagnosis.
f) Tumor serebri.
Pasien dengan tumor serebri biasanya selain gejala mual-muntah yang
hebat juga disertai keluhan lain seperti sakit kepala berat yang terjadi
hampir setiap hari, gangguan keseimbangan, dan bisa pula disertai
hemiplegi. Pemeriksaan CT scan kepala pada wanita hamil sebaiknya
dihindari karena berbahaya bagi janin.

2.8 Komplikasi
a. Maternal : akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan teradinya
diplopia, palsi nervus ke-6, ataksia, dan kejang. Jika hal ini tidak
segera ditangani akan terjadi psikosis korsakoff (amnesia,
menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun kematian.
Komplikasi yang perlu diperhatikan adalah Ensephalopati Wernicke.
Gejala yang timbul dikenal sebagai trias klasik yaitu paralisis otot-otot
ekstrinsik bola mata (oftalmoplegia), gerakan yang tidak teratur
(ataksia), dan bingung.
b. Fetal : penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan
kejadian gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR).
7

2.9 Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksananakan
dengan jalan memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai
suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-
kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari
dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Makanan yang
berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Defekasi yang teratur
hendaknya dapat teratur.1,2,3

2.10 Penatalaksanaan
a. Obat-obatan.
Apabila keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan
pengobatan. Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital,
vitamin yang dianjurkan yaitu vitamin B1 dan B6, antihistamin juga
dianjurkan. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetik seperti
prometazin (avopreg), proklorperazin, atau mediamer B6.
b. Isolasi.
Dilakukan dalam kamar yang tenang, batasi pengunjung / tamu, hanya
dokter dan perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah
berhenti dan pasien mau makan. Catat cairan yang masuk dan keluar
dan tidak diberikan makan dan minum dan selama 24 jam. Kadang-
kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang
tanpa pengobatan.
c. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat
disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi
pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya
dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
d. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan
protein dengan glukosa 5% dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter
sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya
vitamin B komplek dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein,
dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
8

Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan.


urin perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan
bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3
kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan
seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak
muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk
diberikan minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah dengan
makanan yang tidak cair.

Penghentian kehamilan dilakukan bila keadaan umum memburuk melalui


pertimbangan beberapa aspek meliputi pemeriksaan medik dan psikiatrik,
manifestasi klinis berupa:
a. Gangguan kejiwaan: delirium, apatis, somnolen sampai koma,
gangguan jiwa Ensephalopati Wernick.
b. Gangguan penglihatan: perdarahan retina, kemunduran visus.
c. Gangguan faal: hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk anuria,
jantung dan pembuluh darah dalam bentuk nadi meningkat dan
tekanan darah menurun.
9

BAB III
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. ENP
Umur : 32 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Jubeleum
Tanggal masuk : 13 Februari 2019
No. RM : 136851

II. ANAMNESIS
 Keluhan Utama :
Pasien datang ke IGD RSU dr. FL. Tobing Sibolga dengan keluhan mual
dan muntah.
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSU dr. FL. Tobing Sibolga dengan keluhan mual
dan muntah sejak kemarin 2 hari yang lalu (11 Februari 2019). Mual
muntah awalnya hanya terjadi pada pagi hari saja dan terjadi setelah
makan dan minum, namun sejak 2 hari sebelum masuk RSU dr. FL.
Tobing muntah yang dialami > 10 kali per hari dengan volume kurang
lebih 1/2 - 3/4 gelas besar. Isi yang dimuntahkan berupa makanan dan
minuman yang dikonsumsi sebelumnya, pada muntahan tidak terdapat
darah. Keluhan mual dan muntah semakin bertambah berat bila setelah
makan dan minum, dan berkurang saat istirahat. Selain itu pasien juga
mengeluh badan terasa lemas sehingga tak mampu melakukan aktivitas
sehari-hari seperti biasanya, bibir terasa kering, nafsu makan dirasakan
menurun karena pasien takut muntah. BAB dan BAK dirasakan semakin
menurun. Pasien juga mengeluh nyeri ulu hati dan berat badan menurun.
Riwayat keluar darah dari kemaluan (+), 30 menit sebelum masuk rumah
sakit, 1 hari yang lalu hanya berupa flek-flek..
 Riwayat Haid :
Menarche :
Haid :
10

Siklus :
Lama Haid :
Hari Pertama Haid Terakhir :
Hari Perkiraan Lahir :
 Riwayat Nikah :
Merupakan pernikahan yang pertama dan sudah sudah berjalan 8 tahun.
 Riwayat Obstetri :
G3P2A0
1. Perempuan, aterm, berat badan lahir 3000 gram, lahir spontan di tolong
oleh bidan, sekarang usia 7 tahun, sehat
2.
3. Hamil ini.
 Riwayat Keluarga Berencana (KB) :
Pasien mengaku menggunakan KB suntik 3 bulanan, sudah berhenti 2,5
tahun yang lalu.
 Riwayat Ante Natal Care (ANC) :
Pasien memeriksakan kehamilannya di bidan 3 kali, belum mendapatkan
imunisasi TT
 Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
- Riwayat Alergi Obat : disangkal
- Riwayat Gastritis : disangkal
- Riwayat penyakit selama kehamilan : disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalisata

 Keadaan Umum : tampak lemas


 Kesadaran : compos mentis
 Tanda Vital :
 Tekanan Darah : 110 / 80 mmHg
11

 Nadi : 90 x / menit, isi dan tegangan kurang


 Pernapasan : 24 x / menit, teratur
 Suhu : 36.7 0C
 Mata : mata cekung (+/+), konjungtiva palpebra anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-)
 Telinga: discharge (-/-)
 Hidung : discharge (-/-), napas cuping hidung (-/-)
 Mulut : sianosis (-), bibir kering (+)
 Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-)
 Thorak :
Cor : BJ I, II reguler, bising (-)
konfigurasi jantung dalam batas normal
Pulmo : SP vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
 Abdomen : TFU tidak teraba, turgor kulit menurun, bising
usus (+) , nyeri tekan epigastrium (+)
 Ekstremitas :
Superior Inferior
Edema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Refleks Fisiologis +N/+N +N/+N
Refleks Patologis -/- -/-

Status Ginekologi

VT : fluor (-), fluksus (-)


Vagina/Uretra/Vulva : tak ada kelainan
Portio : sebesar jempol tangan
OUE : tertutup
Adnekasa parametrium : tak ada kelainan
Cavum douglass : tak ada kelainan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


12

Usulan : pemeriksaan laboratorium:darah rutin, kimia urin, elektrolit, gula


darah dan pemeriksaan USG

V. DIAGNOSA KERJA

Hiperemesis Gravidarum + Abortus Imminens + MG G3P2A0 + Prev SC 2x

VI. PENATALAKSANAAN
 Infus RL 20 gtt/i
 Injeksi Ondansetron 4mg / 8 jam
 Injeksi Asam Traneksamat 500mg / 8 jam
 Asam Folat 1 x 400 mg
 Vit B6 3 x 1

VII.PROGNOSIS
Quo Ad Visam : dubia ad bonam
Quo Ad Sanam : dubia ad bonam
Quo Ad fungionam : dubia ad bonam
Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo S,Wiknjosastro H. 2007. Hiperemesis Gravidarum. Dalam:

Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Hal 814-818.

2. Mochtar, R., Sofian, A. 2012. Hiperemesis Gravidarum. Dalam: Sinopsis

Obstetri. Jakarta: EGC. Hal 141-142.

3. Tim Obsgin RSUD Ulin- FK UNLAM. 2008. Hiperemesis Gravidarum.

Dalam: Kegawatdaruratan Obstetri dan Ginekologi. Banjarmasin:

Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD ULIN – FK UNLAM

Banjarmasin. Hal 51-52.

4. Ogunyemi DA. Hyperemesis Gravidarum. Emedicine. Available from:

http://www.emedicine.com (Accesed : 18 Maret 2013).

Anda mungkin juga menyukai