Anda di halaman 1dari 29

LABORATORIUM FITOKIMIA

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA EKSTRAK KULIT BATANG
SIRSAK (Annona muricata) DENGAN METODE KROMATOGRAFI
LAPIS TIPIS (KLT) YANG BERASAL DARI DESA BILALANG, KEC.
MANUJU, KAB. GOWA

NAMA / NIM : 1. Asa Annisa / PO713251171059


2. As’ad / PO713251171060
3. Chylvia dwijulian p / PO713251171062
4. Devi rachmadani A/ PO713251171063
5. Eka irma julianti / PO713251171064
6. Elsa. A / PO713251171065
7. Fitri Ramadani/ PO713251171066
8. Hesty Meylinda / PO713251171068

KELOMPOK / KELAS : II (dua) / II B

HARI PRAKTIKUM : Rabu

PEMBIMBING : Drs.H.Ismail Ibrahim, M. Kes, Apt

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tahun terakhir ini penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional

mengalami peningkatan yang sangat menggembirakan, hal ini terbukti dengan

makin banyaknya obat tradisional yang beredar dipasaran, untuk itu perlu

langkah yang tepat dalam usaha pengembangannya dengan cara

mengembangkan dan menggalakkan penelitian obat tradisional, sehingga

penggunaannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan bukan

berdasarkan pada pengalaman saja.

Penggunaan tanaman sudah diketahui efeknya dan khasiatnya

tetapi belum diketahui komponen senyawa kimianya. Jika kita menyadari

bahwa tumbuh-tumbuhan dapat mengandung beribu-ribu kandungan kimia,

maka dari itu diperlukan metode pemisahan, pemurnian, identifikasi

kandungan yang terdapat dalam tumbuhan yang sifatnya berbedadan dalam

jumlah yang banyak itu.

Dalam dunia farmasi banyak hal yang dipelajari. Bukan hanya cara

membuat obat sintesis saja namun juga mengenali dan memanfaatkan hewan

dan tanaman yang berkhasiat obat untuk dijadikan obat herbal ataupun

disintesis.

Sebagai seorang farmasis kita harus mengetahui dahulu kandungan

apa yang ada di dalam tanaman tersebut sebelum dipasarkan. Salah satu
caranya adalah memalui ekstraksi untuk mendapatkan ekstrak yang nantinya

akan mempermudah proses identifikasi.

Untuk itu pada praktikum ini dilakukan percobaan ekstraksi

dengan metode ekstraksi refluks dan cairan penyari yang sesuai untuk

mendapatkan ekstrak dari sampel.

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud percobaan

Adapun maksud dari percobaan ini adalah:

a. Mengetahui cara ekstraksi Sirsak (Annona muricata) dengan metode

refluks.

b. Mengidentifikasi senyawa kimia yang terkandung dalam Sirsak

(Annona muricata) dengan metode refluks.

2. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

a. Menentukan cara ekstraksi sirsak (Annona muricata) dengan metode

refluks.

b. Menentukan senyawa kimia yang terkandung dalam sirsak (Annona

muricata) dengan metode refluks.

c. Menentukan nilai Rf dari senyawa yang didapatkan


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan atau penyarian

komponen kimia dari suatu sampel dengan menggunakan pelarut tertentu.

Dimana ekstraksi ini bertujuan untuk menarik komponen kimia yang terdapat

dalam simplisia atau sampel. Ekstraksi dapat kita lakukan pada sampel yang

berasal dari tumbuhan atau tanaman, hewan dan mineral atau pelican (Dirjen

POM, 1979).

Dalam farmakope IV ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh

dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia

hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hampir semua

pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisisa diperlakukan

sedemikian rupa hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang

terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa

komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada

lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut

(Harbone,J.B.1987).

Metode refluks adalah metode ekstraksi komponen dengan cara

mendidihkan campuran antara contoh dan pelarut yang sesuai pada suhu dan

waktu tertentu. Serta uap yang terbentuk diembunkan dalam kondensor agar
kembali ke labu reaksi. Pada umumnya metode refluks digunakan untuk

ekstraksi bahan-bahan yang sulit dipisahkan. Pada kondisi ini jika dilakukan

pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan sampai

selesai (Harbone,J.B.1987).

Prinsip dari metode refluks adalah Penarikan komponen kimia yang

dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-

sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari

terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari

yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali

sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung

secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut

dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan

dan dipekatkan.Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk

mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan

pemanasan langsung. Sedangkan kerugian metode ini adalah membutuhkan

volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator

(Harbone,J.B.1987)

Tumbuhan sirsak (Annona muricata Linn.) memiliki sejarah panjang

dalam pengobatan secara tradisional di benua Amerika. Di Andes Peru,

sediaan teh daun sirsak digunakan untuk radang selaput lendir hidung (radang

mukosa membran) dan bijinya yang telah di serbuk digunakan untuk

membunuh parasit. Bagian kulit kayu, akar, dan daun digunakan untuk

diabetes, obat penenang dan antispasmodik. Suku asli di Guyana


menggunakan sediaan teh dari daun dan kulit kayu sebagai obat penenang dan

tonik jantung sedangkan di Brazil daerah Amazon sediaan teh daun sirsak

digunakan untuk gangguan masalah hati, minyak dari daun dan buah

mentahnya dicampur dengan minyak zaitun untuk digunakan dalam

pengobatan secara eksternal untuk neuralgia, rematik, dan nyeri artritis. Saat

ini di Amerika Serikat dan Eropa, tumbuhan sirsak mulai digunakan sebagai

ajuvan alami yang populer untuk terapi kanker (Leslie T.2005).

Tumbuhan sirsak (Annona muricata Linn.) adalah tumbuhan tropis dari

keluarga Annonaceae. Daun tumbuhan sirsak dilaporkan mengandung

minyak esensial dan secara empiris bermanfaat untuk demam, nyeri,

pernapasan, penyakit kulit, parasit internal dan eksternal, infeksi bakteri,

hipertensi, peradangan, diabetes dan kanker. Saat ini lebih dari 200 senyawa

astogenin telah diidentifikasi dan diisolasi dari tumbuhan sirsak (Ana

V.2016).

B. Uraian Bahan

1. Aquades (FI eds IV, 1995 : 96)

Nama Resmi : Aqua destilata.

Nama Lain : air suling

Rumus Molekul : H2O

Berat molekul : 18

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

mempunyai rasa.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik


2. Etanol (FI eds IV, 1995 : 65 )

Nama resmi : Aethanolum

Sinonim : Etanol, alcohol

RM/BM : C2H6O/46,07

Pemerian : Jernih, tidak berbau, bergerak, cairan pelarut

menghasilkan bau yang khas dan rasa terbakar

pada lidah.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,

di tempat sejuk jauh dari nyala api.

3. Kloroform (FI eds IV, 1995 :151 )

Nama : Chloroform

Nama lain : kloroform

Berat molekul : 119,38 g/mol

Rumus molekul : CHCl3

Pemerian : cairan, mudah menguap; tidak berwarna; bau khas;

rasa manis dan membakar.

Kelarutan : larut dalam lebih kurang 200 bagian air; mudah larut

dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam sebagian

besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam

minyak lemak.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik bersumbat kaccca,

terlindung dari cahaya.


4. Metanol (FI eds IV, 1995 :706 )

Nama Resmi : Metil Alkohol

Nama Lain : Metanol, Hidroksimetana, Metil alkohol, Metil hidrat,

Alkohol kayu, Karbinol.

Berat Molekul : 32.04 g/mol

Rumus Molekul : CH3OH

Pemerian : Pada “keadaan atmosfer” ia berbentuk cairan yang ringan,

mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan

beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan

daripada etanol).

Kegunaan : sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar

dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.

5. Benzena (FI eds IV, 1995 : 658)

Nama Resmi : BENZENA

Rumus Molekul : C6H6

Berat Molekul : 78,11

Pemerian : Murni pereaksi

Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 14,30 bagian air, larut dalam

ppppppppppp kloroform, alkohol

6. N-heksana (FI eds IV, 1995: 283)

Nama resmi : HEXAMINUM

Nama lain : Heksamina


RM/BM : C6H12N4 / 140,19

Pemerian : hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,

ppppppppppppptidak berbau, rasa membakar an manis kemudian agak pahit.

--------------------Jika di panaskan dalam suhu ± 260⁰ menyublim.

Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml etanol (95 %) P dan

ppppppppppppdalam lebih kurang 10 bagian kloroform P

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : antiseptikum

C. Uraian Tumbuhan

1. Klasifikasi

Kingdom : Plantae ( Tumbuhan )

Divisi : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga )

Kelas : Magnoliopsida ( berkeping dua / di kotil )

Ordo : Magnoliales

Famili : Annonaceae

Genus : Anonna

Spesies : Annona muricata


2. Morfologi

a. Daun

Tanaman sirsak memiliki daun berwarna hijau mudah dan tua dengan

panjang 6-18 cm, lebar 3-7 cm, berbentuk bulat telur, ujung lancip dan ada

juga yang tumpul, daun bagian atas mengkilap hujai dan gundul kusam di

bagian bawah daun. Daun tanaman sirsak ini memiliki bau yang sangat

menyengat dengan tangkai 3-10 mm.

b. Bunga

Tanaman sirsak memiliki bungkai tunggal dan memiliki berbagai macam

putik sehingga di disebut berpistil majemuk. Mahkota bunga berjumlah 6

sepalum terdiri 2 lingkaran, berbentuk segitiga, tebal dan kaku, berwarna

kuning keputihan dan setelah tua akan mekar dan menjadi buah .

c. Buah

Tanaman sirsak memiliki buah berwarna hijau kekuningan jika mulai

matang dan hijau muda ketika masih mudah atau mentil. Bentuk buah sirsak

oval dan juga yang loncong, dengan strukut kulit berduri kehitaman dan

tidak terlalu tajam. Bagian dalam buah ini lembek, berwarna putih dan

memiliki biji berwarna kehitaman.

d. Biji

Tanaman sirsak memiliki biji kehitaman atau coklat berbentuk bulat dan

lonjong dengan panang 16,8 mmdan lebar 9,6 mm. Memiliki jumlah yang
sangat bervariasi mecapi 20-70 butir biji secara normalnya. Jika biji

berwarna putih kecoklatan berarti biji tersebut tidaklah normal.

3. Kandungan Kimia

Tanaman sirsak (Annona muricata Linn.) merupakan bahan alam yang

berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker. Komponen senyawa

yang terkandung dalam tanaman sirsak antara lain senyawa-senyawa

asetogenin (muricin H, muricin I, dan cis-annomontacin.) serta alkaloid

isoquinolon yang memiliki efek sitotoksik. Asetogenin adalah senyawa

poliketida yang bersifat nonpolar dengan struktur 30–32 rantai karbon tidak

bercabang yang terikat pada gugus 5-metil-2-furanon. Rantai furanon dalam

gugus hidrofuranon pada C23 memiliki aktivitas sitotoksik Penelitian ekstrak

heksan dari kulit batang sirsak mempunyai efek sitotoksik terhadap sel CEM-

SS dengan nilai IC50 sebesar 0,8 µg/mL dan ekstrak etil asetat dari kulit

batang sirsak mempunyai efek sitotoksik terhadap sel HL. (Padma et al., 2002).

Annona muricata L merupakan pohon buah populer yang dibudidayakan

di seluruh daerah tropis dunia, dimana biji dan daun dari spesies ini ditemukan

mengandung lebih dari 50 mono-THF acetogenins. Beberapa intermediet kunci

yang terlibat dalam biosintesis acetogenins ini telah diisolasi dari spesies ini

dan diberi nama sebagai epomuricenins-A dan B, montecristin, cohibins-A dan

B, muridienins-1 dan 2, muridienins-3 dan 4 , muricadienin dan

chatenaytrienins-1, 2 dan 3 dan juga senyawa baru yang disebut sebagai


sabadelin yang mungkin menjadi prekursor biogenetis cis-panatellin (Ivan

A.2003).

4. Khasiat dan Manfaat Sirsak

Annonaceae merupakan salah satu famili tumbuhan terbesar yang tersebar

di daerah tropis dan subtropis dan Australia sebagai pusat utama

penyebarannya. Famili ini memiliki 130 genus dan 2000 spesies.Indonesia

memiliki lebih dari 20 genus dengan lebih dari 40 spesies Annonaceae. Selain

itu family ini menunjukkan aktivitas insektisida, antitumor dan antifungal

berdasar penelitian beberapa spesies dari genus Annona, Polyalthia, Uvaria dan

Xylopia. bahwa ekstrak daun A. muricata dengan pelarut polar menunjukkan

toksisitas terhadap larva udang A. salina dengan LC50 0,49 µg mL-1.

Sirsak adalah tanaman obat yang telah digunakan sebagai obat alami untuk

berbagai penyakit. Beberapa studi oleh para peneliti yang berbeda

menunjukkan bahwa kulit kayu serta daunnya memiliki aktivitas anti-

hipertensi, vasodilator, anti-spasmodik (relaksan otot polos) dan aktivitas

depresi cardio (memperlambat denyut jantung) pada hewan. Sifat dan aktivitas

A. muricata lainnya didokumentasikan oleh penggunaan tradisional termasuk

penggunaan sebagai anti-kanker, anti-bakteri, anti jamur, antimalaria, anti-

mutagenik (pelindung seluler), muntah (menginduksi muntah), anti-convulsant,

obat penenang, insektisida dan stimulan rahim. Aktivitas anti-virus dari ekstrak

etanol A. muricata terhadap virus Herpes simpleks. Ekstrak A. muricata telah

terbukti memiliki anti-parasit, anti-rematik, astringent, anti-leishmanial dan


efek sitotoksik. A. muricata juga telah terbukti efektif melawan resisten (MDR)

sel kanker multi-obat . Annona muricata telah digunakan secara tradisional di

banyak bagian dunia di mana akses ke pelayanan kesehatan formal terbatas

(Padma et al.1998).

D. Uraian Kromatografi lapis tipis

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan

perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada

kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua fase yaitu

fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran

sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen

yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen

yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (haqiqi, 2008).

1. Fase diam

Pelaksaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis

silica atau aluminium yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau

logam atau plastic yang keras. Jel silica (aluminium) merupakan fase

diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga

mangandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar

ultraviolet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang

sesuai. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah aluminium-

aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki

gugus-OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silica kemuudian digunakan

serupa untuk aluminium (Haqiqi, 2008).


2. Fase gerak

Dalam kromatografi, eluent adalah fase gerak yang berperan penting

pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam

(adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan

terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen

gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan

jumlah umpan.

Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya

pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini

yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis

tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik, suatu

pelarut yang bersifat larutan relative polar, dapat mengusir pelarut yang

relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (Haqiqi, 2008).


BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan :

a. Aluminium oil

b. Beaker glass

c. Cawan

d. Gelas ukur

e. Hot Plate

f. Kondensor

g. Labu alas bulat

h. Timbangan

2. Bahan yang digunakan :

a. Aquades

b. Benzen

c. Etanol

d. Etil asetat

e. Kloroform

f. Sirsak (Annona muricata)

g. Metanol

h. n- heksan
B. Cara Kerja

1. Metode Ekstraksi Refluks

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Ditimbang sampel sebanyak 40 g

3. Diukur etanol sebanyak 500 ml dengan menggunakan gelas ukur

4. Dimasukkan sampel kedalam labu alas bulat

5. Dimasukkan batu didih sebanyak 4 butir kedalam labu alas bulat

6. Ditambahkan cairan penyari etanol sebanyak 500 ml kedalam labu alas

bulat

7. Diletakkan diatas hot plate dan alat refluks dirangkaikan

8. Dilakukan penyarian dengan menggunakan metode refluks selama ± 4

jam

9. Sampel disaring menggunakan kain putih dan ditampung dalam beaker

glass

10. Dimasukkan kedalam rotavapor dan diuapkan

11. Ekstrak yang diperoleh ditimbang dan dimasukkan dalam botol vial

2. Identifikasi senyawa aktif ekstrak bahan alam

1. Pembuatan Eluen

a. CHCl3-MeOH-H2O (16:6:1)

Disiapkan gelas ukur dan erlenmeyer untuk masing-masing larutan,

diukur metanol sebanyak 13,04 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer.

Diukur aquadest sebanyak 2,17 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer


lalu dikocok ad homogen. Diukur kloroform sebanyak 34,78 ml

dimasukkan sedikit kedalam erlenmeyer sambil dikocok lalu

ditambahkan sisanya dikocok ad homogen. Dimasukkan kedalam

chamber kurang lebih 2 cm lalu dijenuhkan.

b. EtoAc-EOH-H2O (10:2:1)

Disiapkan gelas ukur dan erlenmeyer untuk masing-masing larutan,

diukur etanol sebanyak 7,69 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer.

Diukur aquadest sebanyak 3,84 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer

lalu dikocok ad homogen. Diukur etoasetat sebanyak 38,46 ml

dimasukkan sedikit kedalam erlenmeyer sambil dikocok lalu

ditambahkan sisanya dikocok ad homogen. Dimasukkan kedalam

chamber kurang lebih 2 cm lalu dijenuhkan

c. Benzen- EtOAc (9:1); (8:2); (7:3)

Disiapkan gelas ukur dan erlenmeyer untuk masing-masing larutan,

diukur benzen sebanyak 35 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer.

Diukur etil asetat sebanyak 15 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu

dikocok ad homogen. Dimasukkan kedalam chamber kurang lebih 2 cm

lalu dijenuhkan

d. Hexana- EtOAc (9:1); (8:2); (7:3)

Disiapkan gelas ukur dan erlenmeyer untuk masing-masing larutan,

diukur benzen sebanyak 35 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer.

Diukur etil asetat sebanyak 15 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu


dikocok ad homogen. Dimasukkan kedalam chamber kurang lebih 2 cm

lalu dijenuhkan

2. Analisa Sampel ( menggunakan eluen) metode kromatografi lapis tipis

I. Pengaktifan lempeng kromatografi lapis tipis

Lempeng silica gel diaktifkan dengan cara dipanaskan

dalam oven pada suhu 105-1100 C lalu dikeluarkan dan siap

untuk digunakan.

II. Penjenuhan chamber

Cairan pengelusi yang akan digunakan sebagai fase gerak

dimasukkan kedalam chamber yang tertutup. Dalam eluen

tersebut kemudian dimasukkan potongan kertas saring yang

dilebihkan sampai keluar dari chamber. Jika kertas saring pada

bagian luar chamber sudah basah menunjukkan bahwa chamber

tersebut sudah jenuh dan siap untuk digunakan.

III. Penotolan sampel pada KLT

Pada potongan lempeng silica gel, dibuat jarak tempuh sisi

bawah lempeng 0,1 cm dan 0,5 cm pada sisi atas. Ekstrak

methanol dan eter serta n-butanol ditotolkan pada lempeng silica

gel dengan menggunakan pipa kapiler secara tegak lurus hingga

diperoleh titik penotolan. Selanjutnya dimasukkan kedalam

chamber yang telah jenuh. Posisi lempeng berdiri dengan

kemiringan 5 derajat dari dinding chamber, chamber ditutup dan

sampel dibiarkan terelusi.


a) Ekstrak methanol diidentifikasi dengan cairan pengelusi CHCl3-

MeOH-H2O (16:6:1), EtOAc-EtOH-H2O (8:2:1), C6H14-EtOAc

(8:2), dan C6H6-EtOAc (8:2).

b) Ekstrak eter diidentifikasi dengan cairan pengelusi C6H14-

EtOAc (8:2)dan C6H6-EtOAc (8:2).

c) Ekstrak n-Butanol diidentifikasi dengan cairan pengelusi

CHCl3-MeOH-H2O (16:6:1) dan EtOAc-EtOH-H2O (8:2:1)

IV. Pengamatan Noda dengan sinar UV

Lempeng dikeluarkan dari chamber, dan dibiarkan hingga kering.

Selanjutnya noda yang terbentuk diamati dibawah sinar UV, ditandai

dan digambar pada kertas sesuia dengan noda yang tampak atau

didokumentasikan.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Hasil Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis pada ekstrak kulit batang

sirsak.

Nilai Rf
No. Eluen Pelarut
(UV)
1. Kloroform Metanol 0,98
CHCl3-MeOH-H2O (16 : 6 : 1) 0,8
0,66
Butanol 0,98
0,94
0,76
0,58
2. Etil Asetat Metanol 0,4
EtOAc-EOH-H2O (10 : 2 : 1) 0,28
0,2
Butanol 0,9
0,8
3. Benzene Metanol 0,8
Benzen-EtOAc (9 : 1) 0,68
0,54
0,4
Dietil Eter 0,94
0,8
0,72
0,6
4. Hexana Metanol 0,94
Hexana-EtOAc (7 : 3) 0,72
0,66
Dietil Eter 0,88
0,72
0,52

B. Pembahasan
Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan percobaan ekstraksi batang

sirsak dengan metode penyarian refluks. Metode ini memang tidak termasuk
cara resmi, akan tetapi sangat cocok untuk menyari bahan yang keras seperti

batang dan akar, tetapi cara ini tidak boleh dilakukan apabila bahan aktifnya

mudah menguap atau terurai atau rusak oleh pemanasan. Sebelum di ekstraksi

Batang sirsak dipotong-potong saja atau kalau dibuat serbuk, buatlah serbuk

kasar. Penyarian dengan metode refluks ini juga termasuk cara panas, karena

bahan baku yang disari dipanaskan bersama-sama penyari dalam labu alas

bulat. Supaya cairan penyari tidak banyak menguap, maka diatas labu alas

bulat di pasang pendingin libieg atau pendingin bola (kondensor) yang

panjangnya sesuai dengan titik didih penyari organik yang digunakan. Semakin

rendah titik didihnya, harus digunakan pendingin yang panjang. Penyarian

dengan metode refluks dilakukan selama 4 jam dengan suhu 60oC dengan

larutan penyari yaitu etanol.

Setelah mencapai 4 jam, maka simplisia batang sirsak dan larutan penyari

disaring, dan larutan penyarinya dimasukkan ke dalam beaker, lalu kemudian

diuapkan pelarutya dengan menggunakan alat rotavafor, setelah pelarutnya

diuapkan ekstrak disimpan dalam cawan lalu diuapkan di atas penangas air

hingga menjadi ekstrak kental. Setelah ekstrak menjadi kental dan tidak ada

air, maka ekstrak diekstraksi kembali dengan metode ekstraksi cair-cair.

Ekstraksi ini menggunakan corong pisah yang digunakan untuk memisahkan

ekstrak methanol, dietil eter dan n-butanol dari sampel batang sirsak. hasil

ekstraknya dimasukkan ke vial. Setelah diekstraksi maka hasil ektrak

methanol, dietil eter serta n-butanol dilakukan isolasi zat aktif dengan metode

kromatografi lapis tipis dan dielusi dengan eluen CHCl3-MeOH-H2O (16:6:1),


EtOAc-EOH-H2O (10:2:1), Benzen-EtOAc (9:1), (8:2), (7:3), Hexana- EtOAc

(9:1), (8:2), (7:3), yang telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan kertas saring

di dalam chamber. Pada saat isolasi zat aktif dengan menggunakan

kromatografi lapis tipis, ekstrak methanol batang sirsak, ekstrak dietil eter

batang sirsak dan ekstrak n-Butanol batang sirsak kemudian dilihat dibawah

sinar UV.

Analisis secara kromatografi lapis tipis menggunakan lempeng sintetic silica

gel F254, hasil dari noda yang diperoleh akan nampak menggunakan sinar ultra

violet 366 nm.

Hasil kromatografi lapis tipis ekstrak metanol pada eluen kloroform-

metanol-air (16:6:1) diperoleh 3 noda dengan nilai Rf masing-masing 0,98; 0,8;

dan 0,66. Pada eluen heksan : etil asetat (7:3) diperoleh 3 noda dengan nilai Rf

masing-masing 0,94; 0,72 dan 0,66. Pada eluen etil asetat : etanol : air (10:2:1)

diperoleh 3 noda dengan nilai Rf masing-masing 0,4; 0,28 dan 0,2. Pada eluen

benzene – etil asetat (9:1) diperoleh 4 noda dengan nilai Rf masing-masing 0,8;

0,68; 0,54 dan 0,4.

Hasil kromatografi lapis tipis menggunakan ekstrak eter pada eluen

benzen :etil asetat (9:1) diperoleh 4 noda dengan nilai Rf masing-masing 0,94;

0,8; 0,72 dan 0,6. Sedangkan pada eluen heksan : etil asetat (7:3) diperoleh 3

noda dengan nilai Rf masing-masing 0,88; 0,72 dan 0,52.

Hasil kromatografi lapis tipis pada ekstrak n-butanol pada eluen etil

asetat : etanol : air (10:2:1) diperoleh 2 noda dengan nilai Rf masing-masing


0,9 dan 0,8. Pada eluen kloroform : metanol : air (16:6:1) diperoleh 4 noda

dengan nilai Rf masing-masing 0,98; 0,94; 0,76 dan 0,58.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada hasil identifikasi ekstrak Metanol Batang Sirsak terdapat 10 senyawa

bersifat polar

2. Pada hasil identifikasi ekstrak Dietil Eter Batang Sirsak terdapat 7 senyawa

bersifat non polar

3. Pada hasil identifikasi ekstrak n-Butanol Batang Sirsak terdapat 6 senyawa

bersifat non polar

B. Saran

Pengawasan laboratorium lebih menjelaskan secara detail untuk menambah

pemahaman mahasiswa dalam praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Ana V, Efigenia M, Elhadi M, Eva N, Annona muricata: A Comprehensive


Review on Its Traditional Medicinal Uses, Phytochemicals,
Pharmacological Activities, Mechanisms of Action and Toxicity. Arabian
Journal of Chemistry. King Saudi University,2016,h 1-30.
Dirjen POM,1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Keseshatan
Republik Indonesia. Jakarta.

Harbone,J.B, 1987. Metode fitokimia penuntun cara modern menganalisa


tumbuhan, terbitan kedua. Penerbit ITB. Bandung.

Leslie T. Technical Data Report for GRAVIOLA (Annona muricata), Sage Press,
Inc., Austin, 2005,h 3-54.

Padma, P. P. N. T. S. a. K. R., 1998. Effect of the extract of Annona muricata and


Petunia nyctaginiflora on Herpes simplex virus.. J. Ethnopharmacol, 61(:
81- 83.)
Lampiran 1

1. Hasil Kromatografi lapis Tipi (KLT) ekstrak metanol

Eluen C6H14-EtOAc (7:3) Eluen C6H6-EtOAc (9:1)

NO Warna Rf Warna Rf

1 Hijau 0,94 cm Merah 0,8 cm

2 Merah 0,66 cm Hijau 0,68 cm

3 Orange 0,72 cm Orange 0,54 cm

4 - - Hijau 0,4 cm

2. Hasil Kromatografi lapis Tipis (KLT) ekstrak eter

Eluen C6H14-EtOAc (7:3) Eluen C6H6-EtOAc (9:1)

NO Warna Rf Warna Rf

1 Hijau 0,94cm Kuning 0,84 cm

2 Hijau 0,8 cm Hijau 0,74 cm

3 Hijau 0,72 cm Hijau 0,58 cm

4 Merah 0,64 cm Kuning 0,5 cm

5 Merah 0,58 cm Hijau 0,42 cm

6 Orange 0,54 cm Kuning 0,36 cm


7 Orange 0,4 cm Hijau 0,28 cm

8 Kuning 0,34 cm Hijau 0,14 cm

3. Hasil Kromatografi lapis Tipi (KLT) ekstrak n-Butanol

Eluen CHCl3-MeOH-H2O Eluen EtOAc-EtOH-H2O (10:2:1)


(16:6:1)
NO Warna Rf Warna Rf

1 Hijau 0,98 cm Hijau 0,9 cm

2 Hijau 0,94 cm Hijau 0,8 cm

3 Hijau 0,76 cm - -

4 Hijau 0,58 cm

Lampiran 2

Gambar 1 : Hasil identifikasi Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak

metanol

Gambar 2 :Hasil identifikasi Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak eter


Gambar 3 :Hasil identifikasi Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak n-

Butanol Eluen(A) CHCl3-MeOH-H2O (16:6:1) dan Eluen (B)

EtOAc-EtOH-H2O (10:2:1)
Lampiran 3
Gambar proses pengerjaan

A B

C D
Ket: Gambar A : Proses Ekstraksi

Gambar B : Hasil dari Ekstraksi dengan metode refluks

Gambar C : Proses penguapan dengan alat Rotavavor

Gambar D : Proses elusi ekstrak di dalam eluen