Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan suatu proses alami yang akan berlangsung dengan
sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang
membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan,
pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai. Persalinan dibagi
menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit dapat terjadi pada
setiap tahap tersebut (Manuaba, dkk. 2010).
Persalinan adalah terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau post
matur) mempunyai onset yang spontan (tidak diinduksi) selesai setelah 4 jam
dan sebelum 24 jam sejak saat awitannya (bukan partus presipitatus atau
partus lama) mempunyai janin (tunggal) dengan presentasi verteks
(puncak kepala) dan oksiput pada bagian anterior pelvis terlaksana tanpa
bantuan artificial (seperti forseps) tidak mencakup komplikasi (seperti
pendarahan hebat) mencakup pelahiran plasenta yang normal. Dalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai proses kelahiran.
Persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan kajian dan bukti ilmiah
menunjukan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu merupakan
salah satu upaya efektip untuk mencegah kesakitan dan kematian.
Penatalaksanaan komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan setelah
persalinan. Dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu perlu
diantisipasi adanya keterbatasan kemampuan untuk menatalaksanaakan
konplikasi pada jenjang pelayanan tertentu. Kompetensi petugas, pengenalan
jenis komplikasi dan ketersediaan sarana pertolongan menjadi penentu bagi
kebersihan penatalaksanaan komplikasi yang umumnya akan selalu berada
menurut derajat keadaan dan tempat terjadinya.
Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada
ibu selama persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses
persalinan, membuat ibu lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta

1
untuk mendeteksi konplikasi yang mungkin terjadi selama persalinan dan
ketidaknormalan dalam proses persalinan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
Asuhan Persalinan Normal (APN).

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui pengertian persalinan
b. Untuk mengetahui macam-macam persalinan
c. Untuk mengetahui sebab-sebab mulainya persalinan
d. Untuk mengetahui tanda-tanda persalinan
e. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
f. Untuk mengetahui kebutuhan dasar persalinan
g. Untuk mengetahui tahap persalinan
h. Untuk mengetahui langkah-langkah asuhan persalinan normal (APN)

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) (JNPK-KR
Depkes RI, 2008).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus ke dunia luar. Persalinan dan kelahiran normal merupakan proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu),
lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
waktu 18 jam, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Damayanti, dkk,
2014).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin+uri) yang
dapat hidup ke dunia luar dari dalam rahim melalui jalan lahir dengan LBK
atau dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat, serta tidak melukai ibu
dan bayi, yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Mochtar, 2013).

B. Macam – Macam Persalinan


1. Partus prematurus adalah berakhirnya kehamilan setelah janin mampu
hidup tetapi belum cukup bulan. Bayi dengan berat 1.000 sampai 2.499
gram dianggap prematur (Hakimi, 2010).
2. Partus aterm adalah persalinan antara usia kehamilan 37 dan 42 minggu,
berat janin di atas 2500 gram (Manuaba dkk, 2012).
3. Partus post matures (serotinus) adalah persalinan melampaui usia
kehamilan 42 minggu. Pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba
dkk, 2012).

3
C. Sebab-sebab mulainya persalinan
Sampai saat ini hal yang menyebabkan mulainya persalinan belum
diketahui benar, hanya teori-teori yang kompleks antara lain karena faktor-
faktor hormon, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf,
dan nutrisi (Sulistyawati, 2010).
1. Teori penurunan hormone
Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai, terjadi
penurunan kadar estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai
penenang otot-otot polos rahim , jika kadar progesteron turun akan
menyebabkan tegangnya pembuluh darah dan menimbulkan his.
2. Teori distensi rahim
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
Setelah melewati batas tersebut, akhirnya terjadi kontraksi sehingga
persalinan dapat dimulai.
3. Teori iritasi mekanis
Dibelakang servik terletak ganglion servikalis (fleksus
frankenhauser), bila ganglion ini digeser dan ditekan (misalnya oleh
kepala janin), maka akan timbul kontraski uterus.
4. Teori plasenta menjadi tua
Seiring matangnya usia kehamilan. Vili chorialis dalam plasenta
mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan turunnya kadar
estrogen dan progesteron yang mengakibatkan tegangnya pembuluh darah
sehingga akan menimbulkan kontraksi uterus.
5. Teori oksitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh kalenjar hipofisis anterior. Perubahan
keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot
rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Menurunya
konsentrasi progesteron karena matangnya usia kehamilan menyebabkan
oksitosin meningkatkan aktivitasnya dalam merangsang otot rahim untuk
berkontraksi, dan akhirnya persalinan dimulai.

4
6. Teori hipotalamus – pituitari dan glandula suprarenalis
Glandula suprarenalis merupkan pemicu terjadinya persalinan. Teori
ini menunjukkan, pada kehamilan dengan bayi annsefalus sering terjadi
kelambatan persalinan karena tidak terbentuknya hipotalamus.
7. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka sebagai salah
satu sebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin yang diberikan secara intervena menimbulkan kontraksi
miometrium pada setiap usia kehamilan
8. Induksi persalinan
Persalinan juga dapat ditimbulkan dengan jalan seperti (1) amniotomi
(pemecahan ketuban) (2) Oksitosin drip (pemberian oksitosin menurut
tetesan per infus) dan (3) gagang laminaria.
9. Teori berkurangnya nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hippokrates untuk
pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi
akan segera di keluarkan.

D. Tanda-tanda Persalinan
1. Tanda – tanda permulaaan persalinan
a. Lightening
Menjelang minggu ke-36 pada primigravida, terjadi penurunan
fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk kedalam panggul.
Masuknya kepala janin ke dalam panggul dapat dirasakan oleh wanita
hamil dengan tanda-tanda seperti (a) Terasa ringan di bagian atas dan
rasa sesak berkurang, (b) Di bagian bawah terasa penuh dan
mengganjal, (c) Kesulitan saat berjalan, dan (d) Sering berkemih.
b. Terjadinya his permulaan
His permulaan ini sering diistilahkan sebagai his palsu dengan
ciri-ciri seperti (a) Rasa nyeri ringan di bagian bawah, (b) Datang tidak
teratur, (c) Tidak ada perubahan pada servik atau tidak ada tanda-

5
tanda kemajuan persalinan, (d) Durasi pendek, dan (e) Tidak
bertambah bila beraktivitas (Sulistyawati dan Nugaraheny, 2010).
2. Tanda Masuk dalam Persalinan
a. Terjadinya his persalinan.
Karakter dari his persalinan, yaitu (a) Pinggang terasa sakit
menjalar kedepan, (b) Sifat his teratur, interval makin pendek, dan
kekuatan makin besar, (c) Terjadi perubahan pada serviks, (d) Jika
pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan, maka
kekuatannya bertambah.
b. Pengeluaran lendir dan darah
Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada serviks
yang menimbulkan (a) Pendataran dan pembukaan, (b) Pembukaan
menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis servikalis
terlepas, (c) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah.
c. Pengeluaran cairan
Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya
selaput ketuban. Jika ketuban sudah pecah, maka persalinan dapat
berlangsung dalam 24 jam. Namun jika ternyata tidak tercapai, maka
persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan tertentu, misalnya
ekstraksi vakum, atau section caesaria (Ari, 2010).

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan


Menurut Rukiyah (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
adalah sebagai berikut.
1. Faktor Kekuatan (Power)
Power adalah kekuatan janin yang mendorong janin keluar.Kekuatan
yang mendorong janin keluar dalam persalinan ialah his, kontraksi otot-
otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerja sama
yang baik dan sempurna (Oxorn, 2010).

6
2. Faktor Bayi (Passanger)
Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin,yang
meliputi sikap janin, letak janin, presentasi janin, bagian terbawah janin,
dan posisi janin (Rohani, 2011).
3. Faktor Jalan Lahir (Passage)
Passage atau faktor jalan lahir dibagi atas
a. Bagian keras: tulang-tulang panggul (rangka panggul).
b. Bagian lunak: otot-otot, jaringan-jaringan, dan ligament-ligament
(Asrinah, 2010).
4. Faktor Psikis (psyche)
Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami dan
anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama bersalin dan
kelahiran anjurkan merreka berperan aktif dalam mendukung dan
mendampingi langkah-langkah yang mungkin akan sangat membantu
kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu untuk didampingi, dapat membantu
kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu untuk didampingi (Rukiyah, 2009).
5. Posisi Ibu (Positioning)
Posisi ibu dapat memengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi
persalinan. Perubahan posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk
menghilangkan rasa letih, memberi rasa nyaman dan memperbaiki
sirkulasi (Sondakh, 2013).

F. Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin


Menurut Asrinah ( 2010) kebutuhan dasar ibu bersalin terdiri dari 2 faktor
utama, yaitu sebagai berikut.
1. Dukungan fisik dan psikologi
Setiap ibu yang akan memasuki masa persalinan biasanya diliputi
perasaan takut, khawatir, ataupun cemas, terutama pada ibu primipara.
Perasaan takut bisa meningkatkan nyeri, otot-otot menjadi tegang, dan ibu
menjadi cepat lelah, yang pada akhirnya akan menghambat proses
persalinan. Sehingga bidan diharapkan ibu sebagai pendamping persalinan

7
yang dapat diandalkan serta mampu meberikan dukungan, bimbingan dan
pertolongan persalinan.
2. Posisioning dan aktifitas
Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks, sebisa mungkin
bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu
dalam persalinannya. Adapun posisi-posisi yang dianjurkan bagi ibu
bersalin adalah sebagai berikut.
Posisi Alasan
Duduk atau setengah Lebih mudah bagi bidan untuk
duduk membimbing kelahiran kepala bayi dan
mengamati perenium
Posisi merangkak a. Baik untuk persalinan dengan
punggung yang sakit
b. Membantu bayi melakukan rotasi
c. Peregangan minimal pada perenium
Berjongkok atau berdiri a. Membantu penurunan kepala bayi
b. Memperbesar ukuran panggul
c. Memperbesar dorongan meneran
Berbaring miring ke kiri a. Member rasa santai bagi ibu yang
letih
b. Member oksigenasi yang baik pada
bayi
c. Membantu mencegah trjadinya
d. laserasi.

G. Tahap Persalinan
Tahapan persalinan dibagi menjadi 4 kala, yaitu sebagai berikut.
1. Kala I
Pada kala I persalinan dimulainya proses persalinan yang ditandai
dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat, dan menyebakan

8
perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap, fase Kala I
Persalinan terdiri dari
a. Fase Laten yaitu dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan
mendekati 4 cm, kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara
20-30 detik, tidak terlalu mules. Fase laten berlangsung selama 8 jam,
pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai pembukaan 3 cm.
b. Fase aktif dengan tanda-tanda kontraksi diatas 3 kali dalam 10 menit,
lamanya 40 detik atau lebih dan mules, pembukaan 4 cm hingga
lengkap, penurunan bagian terbawah janin, waktu pembukaan serviks
sampai pembukaan lengkap 10 cm. Fase aktif dibagi dalam 3 fase
yaitu fase akselerasi lamanya 2 jam dengan pembukaan 3 menjadi 4
cm, fase dilatasi maksimal lamanya 2 jam dengan pembukaan 4
menjadi 9 cm, fase deselerasi lamanya 2 jam pembukaan dari 9 sampai
pembukaan lengkap.
Lama kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam dengan
pembukaan 1 cm per jam, pada multigravida 8 jam dengan pembukaan 2
cm per jam. Komplikasi yang dapat timbul pada kala I yaitu ketuban pecah
dini, tali pusat menumbung, obstrupsi plasenta, gawat janin, inersiauteri
(Rukiyah, 2009).
2. Kala II
Gejala dan tanda kala II, telah terjadi pembukaan lengkap tampak
bagian kepala janin melalui pembukaan introitus vagina, ada rasa ingin
meneran saat kontraksi, ada dorongan pada rektum atau vagina, perinium
terlihat menonjol, vulva dan springter ani membuka, peningkatan
pengeluaran lendir dan darah (Asrinah, 2010).
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses
ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Pada kala
pengeluaran janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi
tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan
rasa mengedan, karena tekanan pada rectum ibu merasa seperti mau buang
air besar dengan tanda anus membuka. Pada waktu his kepala janin mulai

9
kelihatan, vulva membuka, perinium membuka, perinium meregang.
Dengan adanya his ibu dan dipimpin untuk mengedan, maka lahir kepala
diikuti oleh seluruh badan janin (Rukiyah, 2009).
Komplikasi yang dapat timbul pada kala II yaitu eklamsi,
kegawatdaruratan janin, tali pusat menumbung, penurunan kepala terhenti,
kelelahan ibu, persalinan lama, ruptur uteri, distocia karena kelainan letak,
infeksi intra partum, inersia uteri, tanda-tanda lilitan tali pusat (Rukiyah,
2009).
3. Kala III
Batasan kala III, masa setelah lahirnya bayi dan berlangsungnya
proses pengeluaran plasenta. Tanda-tanda pelepasan plasenta : terjadi
perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang atau
menjulur keluar melalui vagina atau vulva, adanya semburan darah secara
tiba-tiba kala III, berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Asrinah, 2010).
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi
pusat beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi lagi untuk
melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6
menit-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan
pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta, disertai pengeluaran darah.
Komplikasi yang dapat timbul pada kala III adalah perdarahan akibat
atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat
(Rukiyah, 2009).
4. Kala IV
Dimulainya dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post
partum. Komplikasi yang dapat timbul pada kala IV adalah sub involusi
dikarenakan oleh uterus tidak berkontraksi, perdarahan yang disebabkan
oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, sisa plasenta (Sondakh, 2013).

H. Langkah-langkah Asuhan Persalinan Normal (APN)


1. Peralatan
a. Alat pelindung diri (masker, skor, sepatu boot)

10
b. puit 3cc : 2 buah
c. Aboket ukuran 16/18 : 2 buah
d. Gunting : 1 buah
e. Neirbeken : 1 buah
f. Plaster
g. Kom larutan klorin 0.5% : 1 buah
h. Tempat sampah basah
i. Tempat spuit bekas
j. Handuk pribadi : 1 buah
k. Wastafel
2. Bahan
a. Saf I
1) Partus set :
2) Arteri klem kocher 2
3) ½ kocher
4) Gunting tali pusat
5) Doek steril
6) Handscoen 2 pasang
7) Benang tali pusat
8) Kassa secukupnya
9) Monoral
10) Kom obat berisi oksitosin 6 ampul, lidokain, ergometrin, salep
mata tetrasiklin, vit K, Hepatitis B
11) Spuit 3 cc 3 buah
12) Kom kapas kering
13) Kom air DTT
14) Betadine
15) Clorin spray
16) Nierbekken : 2 buah
17) Lampu sorot / head light
18) Kapas alkohol dalam tempatnya

11
b. Saf 2
1) Bak instrumen berisi hecting set
2) Emergency set
3) Jarum dan catgut Chromic
4) DeeLee/ Penghisap lendir
5) Piring plasenta
6) Larutan klorin untuk sarung tangan
7) Tempat spuit bekas
8) Tempat ampul bekas
9) Tensi meter
10) Stetoscope
11) Termometer
c. Saf 3
1) Cairan infus (RL )
2) Abocath No 16 G – 18 G
3) Wascom berisi air DTT
4) Wascom berisi larutan chlorin 0,5%
5) Torniket
6) Infus set makro
7) Gunting verband
8) Washlap 2 buah
9) Handscoon
10) Plastik Merah (Tempat Sampah Basah)
11) Plastik Kuning (Tempat Sampah Kering)
12) Ember berisi larutan detergen Barier Protection
13) APD (topi pelindung, kacamata, masker, celemek)
14) Handuk 2 buah
15) Under pad
16) Sarung / selimut
17) Pembalut ibu
18) Perlengkapan ibu

12
19) Perlengkapan bayi
20) Sepatu boot
21) Resusitasi set

Prosedur Pelaksanaan
No Langkah Kerja Gambar
1 Amati tanda gejala kala dua
- adanya keinginan meneran
- Dorongan untuk meneran
- Perineum menonjol
- Vulva vagina dan sfingter anus menonjol

2 1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan da


obat-obatan esensial. Untuk asfiksia 
tempat yang datar dan keras, 2 kain dan
1 handuk bersih dan kering, lampu sorot
60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh
bayi.
 Menggelar kain diatas perut ibu dan
tempat resusitasi serta ganjal bahu
bayi.
 Menyiapkan oksitosin 10 unit dan
alat suntik steril sekali pakai di dalam
partus set

13
3 Gunakan celemek
Gunakan celemek yang terbuat dari plastik
agar mudah membersihkannya

4 Mencuci tangan

5 Pakai sarung tangan


Pastikan sarung tangan yang digunakan tidak
bocor

6 Hisap oksitosin dengan menggunakan


teknik satu tangan & Tempatkan ½ kocher
agar mudah mengambilnya (bila ketuban
belum pecah )

7 Bersihkan vulva dan perineum,

14
8 Lakukan pemeriksaan dalam,bila ketuban
belum pecah sedangkan pembukaan sudah
lengkap lakukan amniotomi

9 Dekontaminasi sarung tangan,kedalam


larutan klorin 0,5 % kemudian lakukan cuci
tangan

10 Periksa DJJ

11 Memberitahu ibu dan keluarga bahwa


pembukaan sudah lengkap

12 Mambantu menganbil posisi yang nyaman


sesuai kinginan ibu

15
13 Pimpin ibu untuk mengedan saat ibu
mempunyai dorongan yang kuat untuk
meneran

14 Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau


mengambil posisi yang nyaman, jika ibu
belum merasa ada dorongan untuk meneran
dalam 60 menit).

15 Letakan handuk bersih (untuk mengeringkan


bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah
membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.

16 Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian,


dibawah bokong ibu.
17 Buka tutup partus set dan perhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan.

16
18 Pakau sarung tangan DTT atau steril

19 Lindungi perineum dengan tangan kanan


yang dilapisi kain , sementara tangan kiri
menahan puncak kepala agar tidak terjadi
defleksi yang terlalu cepat saat kepala lahir
( minta ibu tidak meneran dan bernafas
pendek – pendek )

20 Periksa / cek apakah ada lilitan tali pusat


pada leher dengan seksama
GAMBAR

21 Tunggu hingga kepala janin selesai


melakukan putaran paksi luar secara
spontan

22 Setelah kepala janin menghadap paha ibu


,tempatkan kedua telapak tangan biparietal
kepala bayi , tarik secara hati – hati ke arah
bawah sampai bahu anterior / depan lahir ,

17
kemudian dengan lembut menarik ke arah
atas sampai bahu posterior / belakang lahir

23 Setelah kedua bahu lahir , sangga kepala ,


leher , dan bahu bayi bagian posterior
dengan posisi ibu jari pada leher , dan
keempat jari lain pada bahu dan dada /
punggung bayi ,sementara tangan kiri
memegang lengan dan bahu bayi bagian
anterior saat badan dan lengan lahir

24 Setelah badan dan lengan lahir , dengan


tangan kiri susuri punggung ke arah bokong
dan tungkai bawah bayi untuk memegang
tungkai bawah ( selipkan jari telunjuk tangan
kiri diantara kedua lutut bayi )

25 2. Lakukan Penilaian (selintas) :


a. Apaka bayi menangis kuat dan/atau
bernafas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak dengan aktif?
Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau
megap-megap lakukan langkah resusitasi
(lanjut ke langkah resusitasi pada asfiksia
bayi baru lahir).

18
26 Segera keringkan bayi
Key Point:
Bungkus kepala dan badan bayi , kecuali
bagian tali pusat

27 Periksa kembali uterus untuk memastikan


tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil
tunggal).
28 Informasikan pemberian suntikan oksitosin

Setiap tindakan harus dikomunikasikan


kepada pasien
29 Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir,
suntikan oksitosin 10 unit IM (intramuskuler)
di ⅓ paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin)

30 Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali


pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal
dari klem pertama.

31 3. Pemotongan dan ikat tali pusat

19
32 Letakkan bayi agar kontak kulit ibu ke
kulit bayi

33 Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat


dan pasang topi di kepala bayi. Biarkan
bayi tetap melakukan kontak kulit dengan
kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam
34 Pindahkan klem ke dua sekitar 5- 10 cm dari
vulva

 Mencegah evulsi
Gunakan tangan kanan

35 Letakkan satu tangan di atas kain pada perut


ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi.
Tangan lain menegangkan tali pusat

36 Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali


pusat kearah bawah sambil tangan yang lain
mendorong uterus ke arah belakang-atas
(dorso-kranial) secara hati-hati (untuk
mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak
lahir setelah 30-40 detik, hentikan
peregangan tali pusat dan tunggu hingga
timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
prosedur di atas.

20
 Jika uterus tidak segera berkontraksi,
minta ibu, suami atau anggota keluarga
untuk melakukan stimulasi putting susu.
37 4. Lakukkan peregangan dan dorongan
dorso-kranial hingga plasenta terlepas,
minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar
lantai dan kemudian kea rah atas,
mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan
tekanan dorso-kranial)
38 Lahirkan plasenta
 Pegang plasenta dengan kedua tangan
 Putar plasenta searah jarum jam dengan
lembut sehingga selaput tidak robek.

39 Lakukan Massase

 Letakkan telapak tangan di fundus


 Lakukan masase dengan gerakan
melingkar secara lembut sehingga uterus
berkontraksi (fundus menjadi keras)
40 Periksa plasenta dan selaputnya .

Pastikan plasenta dan selaputnya utuh dan


masukkan pada tempat plasenta

41 Evaluasi adanya laserasi


Jika terdapat laserasi yang mengalami
perdarahan aktip segera lakukan penjahitan

21
42 Cuci tangan
Celupkan tangan yang menggunakan sarung
tangan ke dalam larutan klorin kemudian
bilas dengan air DTT dan keringkan dengan
handuk bersih

43 Celupkankedua tangan yang memakai sarung


tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, bilas
kedua tangan tersebut dengan air DTT dan
keringkan dengan kain yang bersih dan
kering
44 Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase
uterus dan menilai kontraksi

45 Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan


darah
46 Lanjutkan pemantauan kontraksi dan
mencegah perdarahan pervaginam
47 Bersihkan ibu dengan air DTT. Bersihkan
sisa cairan ketuban, lender dan darah. Bantu
ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
48 Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu
memberikan ASI. Anjurkan keluarga
memberi ibu minuman dan makanan yang
diinginkannya.

22
49 Dekontaminasi tempat bersalin dengan
larutan klorin 0,5%.

50 Tempatkan semua peralatan bekas pakai


dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas
peralatan setelah dekontaminasi

51 Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke


tempat sampah yang sesuai.

52 Celupkan sarung tangan kotor ke dalam


larutan klorin 0,5%, balikkan bagian dalam
ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.

23
53 Cuci kedua tangan dengan sabun dan air
mengalir

54 Setelah satu jam lakukan


penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotic profilaksis, dan Vitamin K1, 1
mg intramuscular di paha kiri
55 Setelah satu jam pemberian K1 berikan
suntikan imunisasi Hepatitis B dipaha kanan
anterrolateral

56 Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung


kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama
pasca persalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pasca persalinan :
57 Periksa kembali bayi untuk dipastikan bahwa
bayi bernafas dengan baik (40-60 kali/menit)
serta suhu tubuh normal (36,5-37,5)
58 Lengkapi partograf (halaman depan dan
belakang), periksa tanda vital dan asuhan
kala IV

24
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Persalinan normal adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dikandung
selama 37 – 42 minggu, presentasi belakang kepala / ubun-ubun kecil di bawah
sympisis melalui jalan lahir biasa, keluar dengan tenaga ibu sendiri, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan berlangsung kurang dari 24 jam. Setelah
persalinan ibu maupun bayi dalam kondisi baik.
Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang pasien
dan keluarganya. Sangat penting untuk diingat bahwa persalinan adalah proses
yang normal dan merupakan kejadian yang sehat. Namun demikian, potensi
terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa selalu ada sehingga bidan harus
mengamati dengan ketat pasien dan bayi sepanjang proses melahirkan.
Dukungan yang terus menerus dan penatalaksanaan yang trampil dari bidan
dapat menyumbangkan suatu pengalaman melahirkan yang menyenagkan
dengan hasil persalinan yang sehat dan memuaskan.

B. Saran
Diharapkan dengan membaca makalah ini dapat meningkatkan
pengetahuan mahasiswa mengenai asuhan persalinan normal dan mampu
memberikan asuhan kepada ibu bersalin sesuai dengan teori dan SOP, serta
memberikan asuhan sayang ibu kepada ibu bersalin sehingga ibu nyaman,
selamat dan bayi lahir sehat. Selain itu, dianjurkan ibu untuk melahirkan di
fasilitas kesehatan dan ditolong oleh petugas kesehatan yang profesional.

25
DAFTAR PUSTAKA

Ari, S & Esti, N. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba
Medika.
Asrinah, Putri. dkk. 2010. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Damayanti, dkk. 2014. Buku Ajar: Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ibu
Bersalin dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Deepublish.
JNPK-KR. 2008. Buku Acuan Asuahan ersalinan Normal.
Hakimi, 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medica.
Manuaba, I.A.C, et al. 2012. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Edisi
2. Jakarta: EGC.
Mochtar R. 2013. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi III.
Jakarta: EGC.
Oxorn. H., Forte. W. R. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan.
Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica ( YEM).
Rukiyah. Y. A., Yulianti. L., 2009. Asuhan Kebidanan (Patologi Kebidanan).
Jakarta: Trans Info Media.
Rohani. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan. Jakarta: Salemba Medika
Sulistyawati, A, Nugaraheny, E. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.
Jakarta : Salemba Medika.
Sondakh, J. 2013. Asuhan kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta:
Erlangga.

26