Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENYAKIT TERMINAL

Di Susun Oleh:

1. Adit Cartono
2. Fahrur Rozi Putra N
3. Felicitas Dahai
4. Hermanto
5. Krismonika Alfajaria
6. Maria Noni Krismanti
7. Rika Puji Astutik
8. Siti Aminah
9. Wahyuni Dwi Astuti
10.Winda Nur Jannah

AKPER 17 KARANGANYAR

TAHUN AJARAN 2018


Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………...….i

Latar Belakang………………….………………………………………………..i

Rumusan Masalah…………………….………………………………………….ii

Tujuan ………………………………………..………………………………….ii

Manfaat……………………………………………..……………………………ii

BAB II PEMBAHASAN ………………………………..……………...............1

A. Pengertian………...………………………………………….....………..1

B. Kriteria Penyakit Terminal….………………………………………..…..1

C. Perbedaan Anak Dengan Dewasa Dalam Mengartikan Kematian………1

D. Kebutuhan Anak Yang Terminal………………………………...............2

E. Menjelaskan Kematian Pada Anak………………………………,…......2

F. Masalah-Masalah Pada Pasien Penyakit Terminal…………………...….2

G. Kehilangan Dan Berduka………...……………………..…………...…..3

H. Sekarat dan kematian…………………………………………………….9

I. Perubahan tubuh setelah kematian…………………………….................9

BAB III PENUTUP………………………………………….…..…………….iii

A. Kesimpulan……………………………………………………………...iii

B. Saran…………………...………………………………………………..iv

DAFTAR PUSTAKA………………..………………………………………...v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di antara para penderita sakit, terdapat penderita sakit yang menurut
perhitungan tenaga medis tidak akan dapat sembuh lagi. Mereka inilah yang
disebut sebagai pasien terminal. Keadaan sedemikian secara tak langsung
membawa seseorang kepada situasi di mana ia merasa kehilangan harapan untuk
hidup. Sedangkan keadaan vegetatif merupakan keadaan di mana seseorang
berada dalam keadaan koma (tidak sadar) secara berkepanjangan, namun belum
dapat dikategorikan sebagai telah mati karena aktivitas elktrik otaknya masih ada,
meskipun minimal.
Secara medis, orang yang mengalami keadaan seperti ini belum dapat
dinyatakan telah mati karena tubuhnya adakalanya masih menunjukkan reaksi
terhadap beberapa rangsangan tertentu. Jika keadaan ini berlangsung selama lebih
dari sebulan, maka pasien itu akan memasuki tahap yang di sebut vegetatif yang
persisten (persistent vegetative state). Kehidupannya dapat dipertahankan dengan
bantuan makanan yang disalurkan melalui pembuluh darah. Apabila keadaan
koma ini berlangsung lebih dari tiga bulan, maka semakain tipis harapan untuk
pulih dari sakit yang dialami. Bahkan menurut Persatuan Dokter Sedunia, ketidak-
sadaran yang mencapai lebih dari enam bulan akan mengkibatkan kerusakan yang
lebih parah di otak penderita.
Dua situasi ini memiliki konsekuensi yang sama, yakni kecilnya
kemungkinan untuk sembuh dari sakit yang diderita. Harapan bagi pulihnya
kesehatan si pasien sangat tipis. Hal ini membuka kemungkinan untuk diambilnya
keputusan: atau meneruskan upaya pengobatan atau memberhentikan tindakan
pengobatan yang sedang dilakukan.

i
B. Rumusan Masalah
Apa saja hal perlu diketahui mengenai pasien terminal ?

C. Tujuan
Untuk mengetahi tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban pasien terminal
agar sesuai dengan yang seharusnya

D. Manfaat
Mengetahi dan dapat bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya,sesuai
dengan porsinya agar tidak ada yang merasa dilebihkan/dikurangkan.

ii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, kematian
tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. (Stuard & Sundeen, 1995).
Penyakit pada stadium lanjut, penyakit utama tidak dapat diobati, bersifat
progresif, pengobatan hanya bersifat paliatif ( mengurangi gejala dan keluhan,
memperbaiki kualitas hidup. (Tim medis RS Kanker Darmais, 1996)

B. Kriteria Penyakit Terminal


Penyakit tidak dapat disembuhkan
Mengarah pada kematian
Diagnosa medis sudah jelas
Tidak ada obat untuk menyembuhkan
Prognosis jelek
Bersifat progresif

C. Perbedaan Anak Dengan Dewasa Dalam Mengartikan Kematian


1. Jangan berfikir kognitif dewasa dengan anak tentang arti kematian.
2. Anak tidak memiliki kematangan emosional dalam mempersepsikan tentang
arti kematian.
3. Mekanisme koping pada anak belum terbentuk.
4. Anak di ajak berdiskusi mengenai / tentang tuhan,surga, dan benda-benda
yang tidak terlihat.

1
D. Kebutuhan Anak Yang Terminal
1. Komunikasi,
Dalam hal ini anak sangat perlu di ajak unuk berkomunikasi atau berbicara
dengan yang lain terutama oleh kedua orang tua.
2. Memberitahu kepada anak bahwa ia tidak sendiri dalam menghadapi penyakit
tersebut.
3. Berdiskusi dengan siblings (saudara kandung) agar saudara kandung mau ikut
berpartisipasi dalam perawatan atau untuk merawat.
4. Social support meningkatkan koping
E. Menjelaskan Kematian Pada Anak
1. Kebanyakan seorang psikolog percaya bahwa dengan berkata jujur merupakan
strategi yang terbaik dalam mendiskusikan kematian dengan anak.
2. Respon anak terhadap pertanyaan mengenai kematian merupakan dasar tingkat
kematangan anak dalam mengartikan kematian.
3. Pada anak pra sekolah, anak mengartikan kematian sebagai : kematian adalah
sudah tidak ada nafas, dada dan perut datar, tidak bergerak lagi,dan tidak bisa
berjalan seperti layaknya orang yang dapat berjalan seperti orang sebelum mati /
meninggal.
4. Kebanyakan anak-anak (anak yang menderita penyakit terminal) membutuhkan
keberanaian, bahwa ia di cintai dan tidak akan merasa di tinggalkan.
5. Tanpa memandang umur, sebagai orang tua seharusnya sensitife dan simpati,
mendukunng apa yang anak rasakan.

F. Masalah – Masalah Pada Pasien Penyakit Terminal


1. Masalah Fisik
- Nyeri
- Perubahan kulit
- Distensi
- Konstipasi
- Alopesia
2
2. Masalah Psikologi
- Ketergantungan tinggi
- Kehilangan kontrol
- Kehilangan produktifitas
- Hambatan dalam berkomunikasi
3. Masalah Sosial
- Menarik Diri
- Isolasi sosial
4. Masalah spiritual
- Kehilangan harapan
- Perencanaan saat ajal tiba

G. Kehilangan Dan Berduka


Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat
dialami individu ketika terpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik
sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi
perasaan kehilangan.
1. Bentuk – Bentuk Kehilangan
a. Kehilangan yang nyata (actual loss)
- Kehilangan orang atau objek yang tidak lagi dirasakan, dilihat, diraba
Ex. Kehilangan anggota tubuh, anak, peran, hubungan.
b. Kehilangan yang dirasakan (Perceived loss)
- Kehilangan yang sifatnya unuk menurut orang yang mengalami kedukaan.
Ex. Kehilangan harga diri, percaya diri
2. Jenis kehilangan
a. Kehilangan objek eksternal
b. Kehilangan lingkungan yang dikenal
c. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti
d. Kehilangan suatu aspek diri
e. Kehilangan hidup
3
3. Dampak Kehilangan
a. Anak – Anak
Kehilangan dapat mengancam untuk berkembang  regresi  takut
ditinggal dan sepi.
b. Remaja atau Dewasa Muda
Kehilangan dapat menyebabkan desintegrasi dalam keluarga.
c. Dewasa Tua
Kehilangan khususnya kematian pasangan hidup  pukulan berat dan
menghilangkan semangat.
4. Berduka
a. Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan.
b. Berduka diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-
masing orang dan didasarkan pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan
keyakinan spiritual yang dianutnya.
c. Berkabung adalah periode penerimaan terhadap kehilangan dan
berduka.
d. Berkabung terjadi dalam masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh
kebudayaan atau kebiasaan.
5. Jenis berduka
a. Berduka normal
Perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal.
b. Berduka antisipatif
Proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan sesungguhnya
terjadi.
c. Berduka yang rumit
Seseorang sulit maju ke tahap berikutnya. Berkabung tidak kunjung
berakhir.
d. Berduka tertutup
Kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka.

4
6. Respon Berduka
Tahap respon berduka menurut Kubler - Ross :
a. Denial (Penolakan)
Reaksi pertama.
Syok, tidak percaya, mengerti, atau mengingkari kenyataan.
Reaksi fisik :
Letih
Mual
Gangguan pernafasan
Detak jantung cepat
Tidak tahu berbuat apa
Berlangsung beberapa menit hingga beberapa tahun
b. Anger (Marah)
Individu menolak kehilangan.
Kemarahan timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau
dirinya sendiri.
Perilaku :
- Agresif
- Menyerang orang lain
- Menuduh dokter atau perawat tidak kompeten
Respon fisk :
- Muka merah
- Gelisah
- Tangan mengepal
c. Bargainning (Tawar – Menawar)
Penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan.
Berupaya melakukan tawar – menawar dengan memohon
kemurahan Tuhan.

5
d. Depression (Depresi)
Menunjukan sikap menarik diri
Kadang bersikap sangat penurut
Tidak mau bicara
Menyatakan keputusasaan
Rasa tidak berharga
Bisa muncul keinginan bunuh diri
Gejala fisik :
- Menolak makan
- Libido turun
e. Acceptance ( Penerimaan)
Reorganisasi perasaan kehilangan
Pikiran tentang objek yang hilang akan mulai berkurang atau
hilang beralih ke objek baru.
Menerima kenyataan kehilangan
Mulai memandang ke depan.
Apabila dapat memulai tahap ini dan menerima dengan perasaan
damai  tuntas
Apabila kegagalan masuk ketahap penerimaan 
mempengaruhi dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya
7. Askep kehilangan dan berduka
a. Pengkajian
- Faktor genetik
- Kesehatan fisik
- Kesehatan mental
- Pengalaman kehilangan dimasa lalu
- Struktur kepribadian
- Adanya stresor perasaan kehilangan

6
b. Diagnosa keperawatan
- Berduka b.d kehilangan aktual atau kehilangan yang dirasakan.
- Berduka antisipatif b.d perpisahan atau kehilangan.
- Berduka disfungsional b.d kehilangan orang/benda yang dicintai
atau memiliki arti besar.
c. Perencanaan Tindakan Keperawatan
Secara umum:
- Membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan cara:
- Mendengarkan pasien berbicara
- Memberi dorongan agar agar pasien mau mengungkapkan
perasaannya.
- Menjawab pertanyaan pasien secara langsung
- Menunjukkan sikap menerima dan empati
- Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghambat.
- Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat.
- Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien.
- Meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga.
- Menentukan tahap keberadaan pasien.
Secara khusus :
- Tahap Denial
Memberikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan
Menunjukan sikap menerima dengan ikhlas dan mendorong
pasien untuk berbagi rasa
Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang
sakit, pengobatan
- Tahap Anger
Mengijinkan dan mendorong pasien mengungkapkan rasa marah
sacara verbal tanpa melawan kemarahan :
Menjelaskan kepada keluarga bahwa kemarahan pasien
sebenarnya tidak ditujukan kepada mereka.
7
Membiarkan pasien menangis
Mendorong pasien untuk membicarakan kemarahannya
- Tahap Bargainning
Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah dan takut :
Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian
Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut atau rasa
bersalahnya
Bila psien selalu mengungkapkan “kalau” atau “seandainya”
beritahu pasien bahwa perawat hanya dapat melakukan sesuatu
yang nyata.
Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa bersalah
dan rasa takunya.
- Tahap Depression
Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut :
Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas
perasaannya
Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat
risikonya
Membantu pasien mengurangi rasa bersalah :
Menghargai perasaan pasien
Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan
mengaitkan dengan kenyataan
Memberi kesempatan menangis dan mengungkapkan perasaan
Bersama pasien membahas pikiran negatif yang selalu timbul
- Tahap Acceptance
Membantu pasien menerima kehilangan yang tidak bisa dielakan:
Membantu keluarga mengunjungi pasien secara teratur
Membantu keluarga berbagi rasa
Membahas rencana setelah masa berkabung terlewati
Memberi informasi akurat tentang kebutuhan pasien dan keluarga.
8
H. Sekarat dan Kematian
Sekarat (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi
kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal,
Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernafasan, nadi, dan
tekanan darah, serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai
denagn terhentinya aktifitas listrik otak, atau dapat juga dikatakan terhentinya
fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara
menetap.

I. Perubahan Tubuh Setelah Kematian


1. Algor mortis (dingin)
Suhu tubuh perlahan – lahan turun
2. Rigor mortis ( kaku mayat)
Terjadi sekitar 2 – 4 jam setelah kematian.
3. Livor mortis (lebam mayat)
Sel darah mengalami hemolisis dan darah turun kebawah
4. Pembekuan darah
5. Putrefaction (Pembusukan) dan autolisis

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kondisi Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
penyakit atau sakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga sangat
dekat dengan proses kematian.
Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi
fisik, psikologis, social yang dialami, sehingga dampak yang ditimbulkan pada
tiap individu juga berbeda. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang
ditunjukan oleh pasien terminal.
Orang yang telah lama hidup sendiri, terisolasi akibat kondisi terminal dan
menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi
peredaan terhadap penderitaan. Atau sebagian beranggapan bahwa kematian
sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan
orang-orang yang dicintai. Sedangkan yang lain beranggapan takut akan
perpisahan, dikuncilkan, ditelantarkan, kesepian, atau mengalami penderitaan
sepanjang hidup.
Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi terminal, dia akan
menjalani hidup, merespon terhadap berbagai kejadian dan orang disekitarnya
sampai kematian itu terjadi. Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada
kematian itu sendiri tetapi lebih pada kehilangan kontrol terhadap fungsi tubuh,
pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan psikologis yang diakibatkan
ketakutan akan perpisahan, kehilangan orang yang dicintai.

iii
B. Saran

1. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal,
tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien
sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya
dapat meninggal dengan tenang dan damai.
2. Ketika merawat klien menjelang ajal atau terminal, tanggung jawab
perawat harus mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan social
yang unik.
3. Perawat harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak
dengan klien menjelang ajal, untuk mendengarkan klien mengekspresikan
duka citanya dan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.
4. Asuhan perawatan klien terminal tidaklah mudah. Perawat membantu
klien untuk meraih kembali martabatnya. Perawat dapat berbagi
penderitaan klien menjelang ajal dan melakukan intervensi yang dapat
meningkatkan kualitas hidup, klien harus dirawat dengan respek dan
perhatian penuh. Dalam melakukan perawatan keluarga dan orang terdekat
klien harus dilibatkan, bimbingan dan konsultasi tentang perawatan
diperlukan.

iv
DAFTAR PUSTAKA

Smith, Sandra F, Smith Donna J with Barbara C Martin. Clinical Nursing Skills. Basic to
Advanced Skills, Fourth Ed, 1996. Appleton&Lange, USA.
Craven, Ruth F. Fundamentals of nursing : human healt and function.
Kozier, B. (1995). Fundamentals of nursing : Concept Procees and Practice, Ethics and
Values.
California : Addison Wesley