Anda di halaman 1dari 8

Perolehan Asset Tetap

1. Pengertian aset tetap


Menurut PSAK (2004) pengertian aktiva tetap adalah aktiva yang berwujud yang diperoleh
dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu yang digunakan dalam operasi
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Sedangkan pengertian aktiva tetap menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) adalah aktiva
berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai dengan dibangun terlebih dahulu, yang
digunakan dalam operasi perusahaan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan
normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

2. Karakteristik aset tetap


Menurut Jerry J. Weygandt (2007), karakteristik aktiva tetap yaitu:
 Memiliki bentuk fisik (bentuk dan ukuran yang jelas)
 Digunakan dalam kegiatan operasional
 Tidak untuk dijual ke konsumen

Sedangkan menurut Soemarso S.R (2005), karakteristik aktiva tetap adalah sebagai berikut:

 Masa manfaatnya lebih dari satu tahun


 Digunakan dalam kegiatan perusahaan
 Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan
 Nilainya cukup besar

3. Penilaian aset tetap


Nilai Aktiva tetap (Cost) dicatat berdasarkan harga beli ditambah biaya yang terjadi dalam rangka
menempatkan aktiva tersebut pada tempat dan kondisi siap untuk digunakan.

Nilai (Cost) Tanah : Nilai (Cost) Mesin dan Perlengkapan:


 Harga beli  Harga beli
 Komisi  Pajak dan bea masuk
 Biaya balik nama  Ongkos angkut
 Biaya survey  Asuransi
 Biaya meratakan tanah dan lain-lain  Biaya pemasaran
 Biaya uji coba (trial run) dan lain-lain

4. Akun-akun yang tergolong aset tetap


 Tanah (Land)
 Sarana ( Land Improvements)
 Bangunan (Building)
 Mesin dan Peralatan (Manchinery & Equipment)

5. Penentuan harga perolehan berbagai aset tetap dengan cara membeli


Pengertian Harga perolehan adalah semua pengeluaran yang dikorbankan untuk mendapatkan
aktiva tetap dan pengeluaran lain agar aktiva siap untuk digunakan. (Haryono Jusup, 2005; 155).
Harga perolehan adalah harga beli ditambah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
dan menyiapkan hingga aktiva tetap tersebut siap digunakan. (Wit & Erhans, 2000; 82).
Prinsip akuntansinya adalah aktiva tetap harus dicatat sesuai dengan harga perolehannya.

1
Contoh kasus
Sebuah komputer merek acer dibeli dengan harga Rp. 7.500.000 dan mendapat potongan tunai
sebesar 10%. Biaya tambahan untuk install komputer dan pemasangan sehingga komputer siap
digunakan sebesar Rp. 250.000. maka harga perolehan komputer tersebut dapat dihitung sebagai
berikut:

Harga beli 7.500.000


Potongan tunai 10 % (750.000 )
6.750.000
Biaya install dan pasang 250.000
Harga Perolehan 7.000.000
Jurnal transaksi tersebut adalah:

Komputer 7.000.000
Kas 7.000.000

Terdapat beberapa cara dalam memperoleh aktiva tetap, beberapa faktor yang mempengaruhi
harga perolehan aktiva tetap diantaranya:
a. Perolehan aktiva tetap Pembelian tunai
b. Perolehan aktiva tetap Pembelian kredit
c. Perolehan aktiva tetap dengan wesel bunga
d. Perolehan aktiva tetap Pembelian gabungan (satu paket)
e. Perolehan aktiva tetap dengan penerbitan saham
f. Perolehan aktiva tetap Membangun sendiri
g. Perolehan aktiva tetap adanya sumbangan/hadiah dari pihak lain
h. Perolehan aktiva tetap dengan Pertukaran

1) Perolehan Aktiva Tetap Pembelian Tunai


Dalam pembelian secara tunai, harga perolehan adalah harga beli bersih setelah dikurangi
potongan tunai ditambah pengeluaran-pengelauaran.

Contoh kasus
Dibeli mesin pabrik seharga Rp. 55.000.000, biaya tambahan yang terkait meliputi, PPN sebesar
Rp. 5.500.000, Premi asuransi sebesar Rp. 550.000 dan biaya pemasangan mesin sebesar Rp.
1.450.000. maka harga perolehannya dapat dihitung :

Harga beli 55.000.000


PPN 5.500.000
Premi asuransi 550.000
Biaya pemasangan 1.450.000
Harga perolehan 62.500.000

2
Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah

Mesin pabrik 62.500.000


Kas 62.500.000

2) Perolehan Aktiva Tetap Pembelian Kredit


Pembelian secara kredit jangka panjang umumnya melibatkan bunga kredit, bunga dapat
ditetapkan secara eksplisit dan implisit. Bunga eksplisit adalah bunga yang ditetapkan secara jelas
atau terus terang dalam pembelian kredit. Bunga implisit adalah bunga yang belum ditetapkan
atau tidak ditetapkan secara terus terang sehingga harus mencari dulu berapa besar bunganya.
Baik menggunakan bunga secara eksplisit maupun implisit, bunga tidak boleh dimasukkan ke
dalam menghitung harga perolehan, mengapa ? karena bunga bukan merupakan pengorbanan
untuk medapatkan aktiva tetap, tetapi pengorbanan untuk menggunakan dana pihak lain.

3) Perolehan Aset Tetap Menggunakan Wesel Bunga


Pembelian aktiva tetap dengan jumlah rupiah yang besar biasanya akan dibayar perusahaan
dengan menggunakan wesel berbunga. Pembeli biasanya diwajibkan membayar uang muka dan
sisanya dibayar dengan wesel berbunga, dan pembayaran bunga dibayar pada saat jatuh tempo
wesel tersebut.
Harga perolehan aktiva dapat dihitung dengan jumlah uang muka ditambah nilai nominal wesel.
Biaya bunga merupakan biaya pendanaan (financing cost) yang dicatat dengan mendebet rekening
biaya bunga.

Contoh kasus
PT Asio membeli peralatan pabrik seharga Rp. 120.000.000 secara tunai. Uang muka yang
diberikan sebesar Rp. 20.000.000 dan sisanya dibayar dengan wesel berbunga jangka waktu
setahun bunga 10%. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

Peralatan pabrik 120.000.000


Kas 20.000.000
Utang wesel 100.000.000
(untuk mencatat uang muka dan penarikan utang wesel)

Dan pada saat jatuh tempo wesel, dibayarkan nilai nominal setelah ditambah dengan bunga
sebesar 10.000.000 ( 100.000.000 x 10%) dan dicatat dalam jurnalnya:
Utang wesel 100.000.000
Biaya bunga 10.000.000
Kas 110.000.000

4) Pembelian Dalam Satu Paket/Gabungan/ Lump-Sum


Pembelian dalam satu paket (gabungan) sering disebut juga sebagai lump-sum. Harga paket
gabungan didasarkan pada harga perolehan masing-masing aktiva tetap yang ditentukan dengan
harga pasar.

Contoh kasus

3
Pada tanggal 1 Januari, PT Lisa membeli tanah, gedung dan peralatan dengan harga total sebesar
Rp. 100.000.000. harga pasar masing-masing untuk tanah sebesar Rp. 45.000.000, untuk gedung
seharga Rp. 75.000.000 dan untuk peralatan seharga Rp. 30.000.000.:

Golongan Harga Pasar % dari HP & Perhitungan Alokasi


Tanah 45.000.000 30 % x 100.000.000 30.000.000
Gedung 75.000.000 50 % x 100.000.000 50.000.000
Peralatan 30.000.000 20 % x 100.000.000 20.000.000
150.000.000 100 % 100.000.000

Jurnal untuk mencatat pembelian aktiva tetap secara gabungan sebagai berikut:

Tanah gedung dan perlatan 100.000.000


Kas 100.000.000

Jurnal untuk mencatat alokasi harga perolehan dari masing-masing aktiva adalah

Tanah 30.000.000
Gedung 50.000.000
Peralatan 20.000.000
Kas 100.000.000

5) Perolehan Aktiva Tetap Membangun Sendiri


Perusahaan terkadang membangun sendiri aktiva tetap/asset tetapnya. Asset yang dibangun
sendiri adalah bangunan yang timbul karena tidak ada harga pembelian ataupun harga kontrak
pembangunan. Maka perusahaan harus mengalokasikan seluruh biaya yang dikeluarkan meliputi
biaya (bahan, tenaga kerja dan oberhead) yang berkaitan dengan pembangunan tersebut. Biaya
overhead biasanya seperti listrik, asuransi, peraltan pabrik dan pengawas pabrik. Cara yang boleh
dipilih dalam mengalokasikan biaya overhead pabrik diantaranya:
a. Tidak mengalikasikan overhead pada biaya pembangunan
b. Mengalokasikan atas dasar produksi yang hilang
c. Mengalokasikan sebagian overhead pada biaya pembangunan
d. Asset tetap yang dibangun dengan dana dari pinjaman.

Untuk situasi ini, ada hal yang perlu diperhatikan yaitu perlakuan biaya pinjaman selama
pembangunan. Perhitungan biaya pinjaman saat pembangunan dalam mengakuisisi asset tetap
boleh menggunakan beberapa cara alternative seperti:

a. Tidak mengkapitalisasi biaya pinjaman selama pembangunan.


b. Membebankan pembangunan dengan semua biaya dana yang digunakan , baik yang bisa
diidentifikasi maupun yang tidak.
c. Mengkapitalisasi hanya biaya pinjaman sebenarnya terjadi hanya selama pembangunan.

4
6) Perolehan Aktiva Tetap Dengan Menerbitkan Saham
Asset yang diperoleh dengan menerbitkan saham dapat dinai atas dasar nilai tetapan saham
tersebut. Nilai pasar dari saham yang diterbitkan adalah petunjuk yang layak atas harga pokok dari
harta yang diakuisisi, mengapa ? karena saham itu merupakan ukuran yang baik dari harga
ekuivalen kas masa berjalan.
Pada tanggal 1 mei, PT Abadi mengeluarkan saham sebanyak 5.000 lembar, nilai pari @10.000
untuk membeli tanah yang mempunyai harga pasar wajar saham @8.000. maka perhitungan dapat
dilakukan sebagai berikut:

Nilai nominal saham (5000 x Rp. 10.000,-) = Rp. 50.000.000,-


Harga pasar wajar (5000 x Rp. 8.000,-) = (Rp. 40.000.000,-)
Selisih lebih nilai nominal diatas harga
Pasar wajar (Disagio) Rp.10.000.000,00

Jurnal untuk mencatat transaksi diatas adalah

Tanah 40.000.000
Disago saham 10.000.000
Saham biasa 50.000.000

7) Pertukaran Asset Tetap Yang Serupa


Pertukaran asset tetap harus didasarkan pada nilai wajar dari asset yang diserahkan atau nilai
wajar dari asset yang diterima dengan memperhitungkan keuntungan dan kerugian yang diakui.
Ada tiga situasi yang berkaitan dengan pertukaran asset yang sejenis, seperti:

a. Akuntansi pertukaran asset yang sejenis dengan tombokan


Pertukaran ini dicatat keuntungan dan kerugian yang diakui pada nilai wajar asset yang
diserahkan. Nilai wajar dari harta yang diterima harus digunakan hanya jika lebih jelas daripada
nilai wajar harta yang diserahkan.

Contoh kasus
PT Mega menukarkan beberapa truk dengan nilai buku Rp. 420.000.000. pada saat ini truk
tersebut mempunyai harga pokok Rp. 640.000.000 dan akumulasi penyusutan sebesar Rp.
220.000.000. harga pasar wajar truk tersebut Rp. 490.000.000. untuk pertukaran ini, PT. Mega
megneluarkan uang kas sebagai tombok sebesar Rp. 170.000.000. harga pasar wajar truk baru
sebesar Rp. 660.000.000.
Perhitungan yang dapat dilakukan adalah:

Perhitungan harga tanah

Nilai wajar truk-truk yang ditukar Rp. 490.000.000,-


Kas yang dibayarkan Rp. 170.000.000,-
Harga pasar wajar truk Rp. 660.000.000,-

5
Perhitungan keuntungan

Harga pasar wajar dari truk Rp. 490.000.000,-


Nilai buku dari truk (Rp. 420.000.000,-)
Keuntungan dari pelepasan truk Rp. 70.000.000,-

Jurnal untuk transaksi ini adalah:

Truk baru 660.000.000


Akm peny. truk 220.000.000
Truk 640.000.000
Keuntungan pelep. truk 70.000.000
Kas 170.000.000

b. Akuntansi pertukaran untuk asset yang serupa (situasi kerugian)


Contoh kasus
PT. Esa mendapatkan mesin baru seharga Rp. 160.000.000,- dengan cara menukar mesin lama
yang dimiilki PT. Jaka Purnama. Mesin lama terhitung mempunyai nilai buku Rp. 80.000.000
dengan harga pokok Rp. 120.000.000, akumulasi penyusutan sebesar Rp. 40.000.000. harga
pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000 dan tombokan penukaran disetujui sebesar Rp.
90.000.000.
Perhitungannya adalah
Harga pokok mesin baru

Harga katalog mesin baru Rp. 160.000.000


Tombokan untuk mesin lama (Rp. 90.000.000)
Kas yang harus dibayarkan Rp. 70.000.000
Harga pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000
Harga pokok mesin baru Rp.130,000.000
Perhitungan kerugian pelepasan mesin lama

Perhitungan kerugian

Harga pasar wajar dari mesin Rp. 60.000.000,-


Nilai buku dari mesin lama Rp. 80.000.000
Kerugian pelepasan mesin Rp. 20.000.000

Jurnal yang dibuat adalah :

Mesin Baru 130.000.000


Ak. Peny. Mesin 40.000.000
Kerugian Pelep. Mesin 20.000.000
Peralatan 120.000.000

6
Kas 70.000.000

c. Akuntansi pertukaran untuk asset yang serupa (situasi keuntungan tetapi taka da kas yang
diterima)
Pertukaran asset yang menimbulkan keuntungan biasanya lebih rumit, karena jika
pertukaran ini belum menyelesaikan proses pencarian laba maka setiap keuntungan harus
ditangguhkan.

Contoh kasus
PT. Abadi menukar mobil lama dengan nilai buku Rp. 135.000.000 dari harga pokok sebesar
Rp. 150.000.000. akumulasi penyusutan Rp. 15.000.000 dan harga pasar wajar mobil lama
sebesar Rp. 160.000.000 dan harus membayar uang kas sebesar Rp. 10.000.000 yang ditukar
dengan mobil baru dengan harga pasar wajar Rp. 170.000.000.:

Perhitungannya sebagai berkut:


Perhitungan keuntungan

Harga pasar wajar mobil lama Rp. 160.000.000


Nilai buku mobil lama (Rp. 135.000.000)
Total keuntungan yang tidak diakui Rp. 25.000.000

Perhitungan lain dapat dilakukan

Nilai buku mobil baru PT. Abadi

Harga pasar wajar mobil baru Rp. 170.000.000


Keuntungan yang ditangguhkan (Rp. 25.000.000)
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000

Atau dapat dilakukan dengan cara berikut:

Nilai buku dari mobil lama Rp. 135.000.000


Kas yang dibayarkan Rp. 10.000.000
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000

Jurnalnya adalah

Mobil Baru 45.000.000


Ak. Peny. Mobil Lama 15.000.000
Mobil Lama 150.000.000
Kas 10.000.000

7
d. Pertukaran asset tetap yang tidak serupa
Pertukaran asset ini dihitung dari harga pasar wajar asset yang dipertukarkan mana yang lebih
jelas.

Contoh kasus
PT. Cendikia melakukan transaksi pertukaran tanah seluas 1.000 meter persegi dengan mobil
seharga Rp 200.000.000. pertukaran ini mengakibatkan PT. Cendekia menerima kas sebanyak
Rp. 20.000.000.:

Jurnal yang dibuat adalah

Mobil 200.000.000
Kas 20.000.000
Tanah 220.000.000

8) Akuisisi Dan Disposisi Dari Donasi Atau Hadiah


Pertukaran asset yang berasal dari donasi disebut juga transfer tanpa timbal balik (karena transfer
satu arah). Perlakuan ini dihitung dari nilai buku asset yang akan dicatat dalam buku.

Contoh kasus
PT. Kartika menerima sebidang tanah dari donasi, harga pasar wajar dari tanah seharga Rp.
150.000.000 kemudian digunakan untuk pembangunan fasilitas umum.:
Jurnalnya adalah;

Tanah 150.000.000
Modal Donasi 150.000.000

Contoh kasus

PT. Wijaya menghibahkan tanah seharga Rp. 80.000.000, namun tanah tersebut mempunyai harga
pasar wajar Rp. 110.000.000.:

Jurnal transaksi tersebut adalah:

Harta Donasi 110.000.000


Tanah 80.000.000
Keuntungan 30.000.000