Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“KASUS PENUNGGAKAN PAJAK OLEH


PT. PERTAMINA”
Mata Kuliah : Pengantar Perpajakan
Dosen : M. Arief., SE., M.Si

Disusun oleh :
Kelas Akuntansi Pagi R-1 (Kelompok 8)

Nama Anggota Kelompok :


Winda Tri Utari ( 181110040 )
Azlin M. Noor ( 181110012 )
Cici Ramadani ( 181110042 )

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS HARAPAN MEDAN
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “Kasus Penunggakan
Pajak oleh PT. Pertamina” ini dapat tersusun hingga selesai.

Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, saya sadar bahwa masih


banyak kekurangan dalam penulisan makalah. Oleh karena itu, sangat diharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, 21 Maret 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………… 1

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………. 2

BAB I ( PENDAHULUAN )

A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………………….. 3
B. RUMUSAN MASALAH………………………… ………………………………………. 4
C. TUJUAN PENULISAN……………………………………………………………………. 4

BAB II ( PEMBAHASAN )

A. ANALISIS KASUS PAJAK PT. PERTAMINA………………………………………. 5


B. DESKRIPSI TEORI…………………………………………………………………………..
1. PENGERTIAN PAJAK………………………………………………………….. 6
2. FUNGSI PAJAK…………………………………………………………………… 6
3. TUNGGAKAN PAJAK………………………………………………………….. 7
4. PENAGIHAN PAJAK……………………………………………………………. 7
C. CARA PENYELESAIAN KASUS PT. PERTAMINA……………………………… 10

BAB III ( PENUTUP )

A. KESIMPULAN………………………………………………………………………………. 11
B. SARAN………………………………………………………………………………………… 11

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………… 12

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pajak merupakan sumber penerimaan Negara disamping penerimaan dari
sumber lain. Dengan posisi yang sedemikian penting itu, pajak merupakan penerimaan
strategis yang harus dikelola dengan baik oleh Negara. Dalam struktur keuangan Negara
tugas dan fungsi penerimaan pajak dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah
Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pajak juga merupakan beban bagi
perusahaan. Mengingat pajak adalah beban yang akan mengurangi laba bersih
perusahaan maka perusahaan akan berupaya semaksimal mungkin agar dapat
membayar pajak sekecil mungkin dan berupaya untuk menghindari pajak. Berdasarkan
data-data yang ada, masih banyak perusahaan yang menunggak pajak.

Tunggakan pajak adalah besarnya pajak terutang yang belum dibayarkan oleh
Wajib Pajak. Dalam makalah ini akan membahas tentang kasus penunggakan pajak yang
dituduhkan oleh PT. Pertamina (Persero), dimana seperti dilansir dalam portal berita
vivanews.com, perusahaan ini telah menunggak pajak sebesar Rp 4,3 Triliun. Seperti
diungkapkan oleh Anggota Komisi XI Murady Darmansyah kepada Direktorat Jenderal
(Ditjen) Pajak. Perlu diketahui bahwa tunggakan pajak tersebut merupakan tunggakan
pajak yang belum kadaluwarsa. Jadi penyelesaian kasusnya dapat segera diselesaikan.

Untuk mengatasi berbagai kendala perlu dilaksanakan tindakan penagihan yang


mempunyai kekuatan hukum yang memaksa. Tindakan penagihan meliputi
pemberitahuan surat teguran, penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan surat
paksa, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, serta menjual barang
yang telah disita berdasarkan ketentuan yang diatur dalam UU No. 19 Tahun 1997
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan UU No.
19 Tahun 2000. Pelaksanaan penagihan pajak yang tegas, konsisten dan konsekuen
diharapkan akan dapat membawa pengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak
dalam membayarkan hutang pajaknya. Hal ini merupakan posisi strategis dalam
meningkatkan penerimaan Negara dari sektor pajak sehingga tindakan penagihan pajak
tersebut dapat menyelamatkan penerimaan pajak yang tertunda.

Berikut daftar 10 penunggak pajak per 1 februari yang dikutip oleh detikfinance
dari jawaban Ditjen Pajak mengenai pertanyaan Komisi XI DPR-RI, Rabu (3/2/2010)
1. Pertamina (Persero) : Surat Paksa
2. Karaha Bodas Company LLC : Penyanderaan
3. Industri Pulp Lestari : Blokir Rekening

3
4. BPPN : Surat Paksa
5. Kalimanis Plywood Industries : Penyitaan
6. Bakrie Investindo : Surat Paksa
7. Bentala Kartika Abadi : Surat Paksa
8. Daya Guna Samudra Tbk : Pelelangan
9. Kaltim Prima Coal : Surat Paksa
10. Merpati Nusantara Airlines : Surat Paksa

B. Rumusan Masalah
 Bagaimanakah kronologi kasus PT. Pertamina yang dituduh sebagai penunggak
pajak?
 Apa itu penunggakan pajak dan bagaimana tindakan penagihannya?
 Bagaimanakah cara penyelesaian kasus dari PT. Pertamina?

C. Tujuan Penulisan
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Perpajakan
 Mengetahui kronologi kasus PT. Pertamina
 Mengetahui dasar-dasar hukum perpajakan terkait kasus PT. Pertamina
 Mengetahui cara penyelesaian kasus PT. Pertamina

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Kasus Pajak PT. Pertamina


Dalam artikel vivanews.com menyebutkan perusahaan-perusahaan lain yang
terlibat kasus yang sama mengenai penunggakan pembayaran pajak. Ditjen pajak
mengatakan bahwa terdapat perusahaan yang terlibat penunggakan pajak, di antaranya
merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahaan tersebut banyak yang
merasa telah membayar pajak. Namun kenyataan di lapangan, perusahaan-perusahaan
tersebut belum menuntaskan pembayaran pajaknya. Salah satu perusahaan yang
menjadi fokus permasalahan dalam analisis kasus ini adalah PT. Pertamina (Persero).
Sebagaimana dijelaskan diatas penunggakan pajak menjadi suatu permasalahan yang
serius. Dengan demikian terdapat kewajiban bagi yang bersangkutan untuk
melunaskannya.

Kasus mengenai penunggakan pajak bukan merupakan kasus baru. Kasus ini telah
banyak terjadi sejak lama. Berbagai peraturan perpajakan yang telah dibentuk seiring
kemajuan teknologi belum efektif dalam menyelesaikan kasus ini. Target penerimaan
pajak yang diharapkan menjadi sulit dicapai akibat dari permasalahan ini. Oleh karena
itu di dalam makalah ini akan diuraikan dasar hukum dan beberapa teori untuk
menjelaskan apa yang menjadi pokok permasalahan dalam kasus ini. Dalam reformasi
perpajakan tahun 1983, sistem pemungutan pajak telah mengalami perubahan yang
cukup signifikan yaitu official assesment system menjadi self assesment system.
Berbeda dengan official assesment system, dalam self assesment system, Wajib Pajak
diberikan kepercayaan untuk menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajaknya.

Pemerintah juga melakukan pembaharuan yang menyangkut kebijakan


perpajakan, adminstrasi perpajakan, dan undang-undang perpajakan yang saling
berhubungan satu sama lain untuk mencapai target penerimaan pajak secara optimal.
Negara juga memberi tanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk
bertindak sebagai Law enforcement agent, yaitu tindak penegakan hukum yang meliputi
pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan. Ini merupakan salah satu cara yang dilakukan
oleh Dirjen Pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak selain setoran pembayaran
pajak secara sukarela. Namun optimalisasi penerimaan pajak masih terbentur pada
berbagai kendala. Dalam jangka pendek, salah satu kendalanya adalah tingginya angka
tunggakan pajak, baik yang murni penghindaran pajak (tax avoidance) maupun
ketidakmampuan membayar utang pajak.

5
B. Deskripsi Teori
1. Pengertian Pajak
Pajak adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Rakyat yang membayar pajak
tidak akan merasakan manfaat dari pajak secara langsung, karena pajak digunakan
untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi. Pajak merupakan salah
satu sumber dana pemerintah untuk melakukan pembangunan, baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah. Pemungutan pajak dapat dipaksakan karena dilaksanakan
berdasarkan undang-undang.

2. Fungsi Pajak
Pajak memiliki peranan yang signifikan dalam kehidupan bernegara, khususnya
pembangunan. Pajak merupakan sumber pendapatan negara dalam membiayai seluruh
pengeluaran yang dibutuhkan, termasuk pengeluaran untuk pembangunan. Sehingga
pajak mempunyai beberapa fungsi, antara lain:

1) Fungsi Anggaran (Fungsi Budgeter)


Pajak merupakan sumber pemasukan keuangan negara dengan cara mengumpulkan
dana atau uang dari wajib pajak ke kas negara untuk membiayai pembangunan nasional
atau pengeluaran negara lainnya. Sehingga fungsi pajak merupakan sumber pendapatan
negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran negara dengan pendapatan
negara.

2) Fungsi Mengatur (Fungsi Regulasi)


Pajak merupakan alat untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam
lapangan sosial dan ekonomi. Fungsi mengatur tersebut antara lain:

a. Pajak dapat digunakan untuk menghambat laju inflasi.


Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor, seperti: pajak
ekspor barang.
b. Pajak dapat memberikan proteksi atau perlindungan terhadap barang produksi dari
dalam negeri, contohnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
c. Pajak dapat mengatur dan menarik investasi modal yang membantu perekonomian
agar semakin produktif.

3) Fungsi Pemerataan (Pajak Distribusi)


Pajak dapat digunakan untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan antara pembagian
pendapatan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat.

6
4) Fungsi Stabilisasi
Pajak dapat digunakan untuk menstabilkan kondisi dan keadaan perekonomian, seperti:
untuk mengatasi inflasi, pemerintah menetapkan pajak yang tinggi, sehingga jumlah
uang yang beredar dapat dikurangi. Sedangkan untuk mengatasi kelesuan ekonomi atau
deflasi, pemerintah menurunkan pajak, sehingga jumlah uang yang beredar dapat
ditambah dan deflasi dapat di atasi.
Keempat fungsi pajak di atas merupakan fungsi dari pajak yang umum dijumpai di
berbagai negara. Untuk Indonesia saat ini pemerintah lebih menitik beratkan kepada 2
fungsi pajak yang pertama. Lembaga Pemerintah yang mengelola perpajakan negara di
Indonesia adalah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah Kementerian
Keuangan Republik Indonesia. Tanggung jawab atas kewajiban membayar pajak berada
pada anggota masyarakat sendiri untuk memenuhi kewajiban tersebut, sesuai dengan
sistem self assessment yang dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Direktorat
Jenderal Pajak, sesuai fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan, penyuluhan,
pelayanan, serta pengawasan kepada masyarakat. Dalam melaksanakan fungsinya
tersebut, Direktorat Jenderal Pajak berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan
kepada masyarakat sesuai visi dan misi Direktorat Jenderal Pajak.

3. Tunggakan Pajak
Tunggakan pajak adalah besarnya pajak terutang yang belum dibayarkan oleh Wajib
Pajak. Tunggakan pajak ini disebabkan oleh 2 (dua) hal, yaitu:
a. Karena pemeriksaan
Pemeriksaan ini meliputi:
1) Surat Ketetapan Pajak (SKP) adalah surat yang diterbitkan terbatas pada Wajib Pajak
tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan
(SPT) atau karena ditemukannya data fisik yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.
2) Surat Tagihan Pajak (SPT) adalah surat untuk melakukan penagihan pajak dan atau
sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda bagi Wajib Pajak.
b. Karena Wajib Pajak tidak mampu membayar kewajiban
Dalam hal ini tuggakan timbul karena murni yang bersangkutan atau Wajib Pajak tidak
dapat memenuhi kewajiban perpajakannya. Apabila bidang penagihan mendapati
adanya 8 tunggakan yang disebabkan seperti diatas, maka akan dilakukan tindakan
penagihan aktif sebagai sarana untuk menagih pajak kepada Wajib Pajak.

4. Penagihan Pajak
a. Pengertian Penagihan Pajak
Menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang penagihan pajak dengan surat
paksa sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000
penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang

7
pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan
penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan
pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang
yang telah disita.

b. Jenis Penagihan Pajak


Penagihan pajak ternyata punya banyak jenis. Ada yang sifatnya pasif, aktif bahkan
seketika dan sekaligus. Apa bedanya dan apa konsekuensinya bagi wajib pajak?
Penjelasannya akan Anda peroleh pada poin di bawah ini.
1) Penagihan Pajak Pasif
Pada penagihan pajak pasif, DJP hanya menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP), Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKBT), SK Pembetulan, SK Keberatan, dan Putusan Banding yang menyebabkan pajak
terutang lebih besar. Dalam penagihan pasif, fiskus hanya memberitahukan kepada
wajib pajak bahwa terdapat utang pajak. Jika dalam waktu satu bulan sejak
diterbitkannya STP atau surat sejenis, wajib pajak tidak melunasi utang pajaknya, maka
fiskus akan melakukan penagihan aktif.

2) Penagihan Pajak Aktif


Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, penagihan aktif merupakan kelanjutan dari
penagihan pasif. dalam penagihan aktif, fiskus bersama juru sita Pajak berperan aktif
dalam tindakan sita dan lelang.

3) Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus


Penagihan seketika dan sekaligus ini merupakan penagihan pajak yang dilakukan oleh
fiskus atau juru sita pajak kepada wajib pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo
pembayaran pajak. Penagihan pajak juga meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis
pajak, masa pajak, dan tahun pajak. Tujuannya penagihan jenis ini adalah untuk
mencegah terjadinya utang pajak yang tidak bisa ditagih. Jika saat dilakukan penagihan
seketika dan sekaligus wajib pajak belum membayar, maka juru sita pajak akan
menunggu hingga tanggal jatuh tempo.

c. Tindakan Penagihan Pajak


Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan
penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan
pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang
yang telah disita. (Pasal 1 angka 9 UU No.19 tahun 2000 tentang penagihan pajak
dengan surat paksa).

8
Dalam UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara
Perpajakan atau KUP, Dasar penagihan pajak yaitu:
1) Pasal 18 ayat (1) UU KUP menyebutkan dasar penagihan pajak adalah:
a. Surat Tagihan Pajak (SPT)
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
d. Surat Keputusan Pembetulan , Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, yang
menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Jika dalam jangka waktu 30
hari belum dilunasi, maka 7 hari setelah jatuh tempo akan diikuti dengan penagihan
pajak secara aktif yang dimulai dengan menerbitkan surat teguran. Penagihan pajak
aktif merupakan kelanjutan dari penagihan pajak pasif, dimana dalam upaya penagihan
ini fiskus berperan aktif dalam arti tidak hanya mengirim surat tagihan atau surat
ketetapan pajak tetapi akan diikuti dengan tindakan sita, dan dilanjutkan dengan
pelaksanaan lelang.
2) Pasal 12 UU PBB menyebutkan dasar penagihan pajak adalah:
a. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
b. Surat ketetapan pajak
2. Surat Tagihan Pajak (SPT) merupakan dasar penagihan pajak.

d. Tahapan Penagihan Pajak


Beberapa tahapan dalam penagihan pajak, yaitu:
1) Surat Teguran, apabila utang pajak yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP),
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT), tidak dilunasi melewati 7 (tujuh) hari dari batas waktu jatuh tempo
(satu bulan sejak tanggal diterbitkannya). Tujuannya adalah memberikan peringatan
kepada penanggung pajak agar segera melunasi utang pajak sehingga tidak perlu lagi
dilakukan penagihan secara paksa.

2) Surat Paksa, apabila utang pajak tidak dilunasi setelah 21 hari dari tanggal surat
teguran, maka akan diterbitkan Surat Paksa yang disampaikan oleh juru sita pajak
Negara dengan dibebani biaya penagihan. Menurut KUP Surat Paksa merupakan
kegiatan pelaksanaan penagihan pajak yang dilakukan setelah penerbitan Surat
Teguran, Surat Peringatan atau sejenisnya. Surat Paksa adalah surat perintah membayar
utang pajak dan biaya penagihan pajak.
Menurut pasal 6 ayat (1) UU PPSP, Surat Paksa diterbitkan apabila:
1. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo
pembayaran dan kepadanya telah diterbitkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau
surat lain yang sejenis.
2. Terhadap penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan pajak seketika dan
sekaligus.

9
3. Penanggung pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam
keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak.
UU KUP juga mengatur mengenai jangka waktu bagi Dirjen Pajak untuk melakukan
penagihan pajak. Apabila sudah melampaui jangka waktu yang ditentukan maka hak
untuk melakukan penagihan pajak tersebut menjadi daluwarsa. (Utang pajak harus
dilunasi dalam waktu 2 x 24 jam).

3) Surat Sita, apabila utang pajak belum juga dilunasi dalam waktu 2 x 24 jam dapat
dilakukan tindakan penyitaan atas barang-barang wajib pajak, dengan dibebani biaya
pelaksanaan sita. Penyitaan tidak semata-mata bertujuan untuk menjual barang milik
penanggung pajak, melainkan petugas menggunakan barang-barang tersebut sebagai
jaminan agar penanggung pajak melunasi pajaknya.
Jadi, penanggung pajak masih memiliki kesempatan untuk melunasi pajaknya selama 14
hari terhitung dari penyitaan harta penanggung pajak. Jika dalam 14 hari penanggung
pajak masih belum membayarkan utang pajaknya, maka akan diterbitkan pengumuman
lelang. Penyitaan dilaksanakan oleh juru sita pajak dengan disaksikan oleh 2 orang yang
dianggap sudah dewasa sebagai saksi, berkewarganegaraan Indonesia, dikenal oleh juru
sita pajak, dan dapat dipercaya.

4) Lelang, dalam waktu 14 hari setelah tindakan penyitaan, utang pajak belum dilunasi
maka akan dilanjutkan dengan tindakan perlelangan melalui kantor lelang Negara.
Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya pelaksanaan sita belum dibayar maka akan
dibebankan bersama-sama dengan biaya iklan untuk pengumuman lelang dalam surat
kabar dan biaya lelang pada saat perlelangan.

C. Cara Penyelesaian Kasus PT. Pertamina


Terkait dengan kasus Pertamina, apabila langkah awal dalam penagihan pajak
yaitu Penerbitan Surat Teguran, Surat peringatan, atau Surat lain yang sejenis diabaikan.
Maka Ditjen pajak dapat melakukan langkah-langkah berikutnya yaitu penyampaian
Surat Paksa dan sebagainya. Dalam penyampaian Surat Paksa tersebut apabila telah
melampaui jangka waktu yang ditentukan maka hak untuk melakukan penagihan pajak
tersebut menjadi daluwarsa.

Demikianlah rangkaian langkah-langkah yang harus di tempuh oleh Ditjen Pajak


dalam kaitannya dengan kasus ini. Pertamina sebagaimana telah dijelaskan di atas
menunggak pajak sebesar Rp 4,3 Triliun, maka menjadi kewajiban perusahaan tersebut
untuk melakukan pelunasan pajaknya.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Tunggakan pajak adalah besarnya pajak terutang yang belum dibayarkan oleh Wajib
Pajak. Untuk mengatasi berbagai kendala, perlu dilaksanakan tindakan penagihan yang
mempunyai kekuatan hukum yang memaksa. Dengan penjabaran diatas dapat
disimpulkan bahwa di dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2000 tentang Penagihan
Pajak dan Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan atau KUP telah mengatur dasar hukum dalam kaitannya dengan kasus
penunggakan pajak oleh PT. Pertamina (persero).

B. Saran

Saran sebagai penyusun makalah ini yaitu bayarlah pajak sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang berlaku di Indonesia. Membayar pajak merupakan peran serta
masyarakat (wajib pajak) untuk ikut secara langsung dan bersama-sama melaksanakan
pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Membayar pajak juga sebagai bukti
bahwa kita cinta tanah air kita, Indonesia.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Daftar 10 penunggak pajak

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-1292498/pertamina-bersikukuh-tak-

punya-tunggakan-pajak

2. Analisis Kasus PT. Pertamina

https://www.academia.edu/27740330/ANALISIS_KASUS_PENUNGGAKAN_PAJAK_OLEH_PT.

_PERTAMINA_PERSERO_DALAM_PERSPEKTIF_HUKUM_PAJAK

3. Deskripsi Teori

https://www.cermati.com/artikel/pengertian-pajak-fungsi-dan-jenis-jenisnya

http://eprints.uny.ac.id/8740/3/bab%202%20-09409131017.pdf

12
13
14