Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL


(PKP)
PENGGUNAAN MEDIA GUNTING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK
HALUS ANAK DI PAUD AGAPE SUJAH
KECAMATAN SELUAS KABUPATEN BENGKAYANG

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan
Profesional – PAUD 4501

Disusun Oleh :
Nama : Yohana
Nim :

UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ PONTIANAK
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya setiap manusia bersifat dinamis dan memiliki dorongan ingin tahu tentang
segala sesuatu, baik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain, kebendaan, kejadian
maupun perbuatan. Sifat dinamis dan rasa ingin tahu merupakan potensi dasar yang harus
dikembangkan secara terarah dan optimal. Dengan sifat dasar alami setiap manusia, kita bisa
melihat dengan nyata dimana anak-anak begitu sering asyik bermain-main dengan sesuatu
benda atau melakukan sesuatu perbuatan yang dirinya sendiri belum mengetahui manfaat dan
bahayanya. Kondisi ini merupakan indikasi objektif yang membenarkan bahwa setiap
manusia bersifat dinamis dan memiliki rasa ingin tahu, misalnya tentang benda-benda tajam
seperti pisau, silet, cutter, alat mencocok, gunting dan lain-lain.

Gunting sebagai salah satu dari sekian banyak benda tajam sering anak-anak temukan, baik di
rumah maupun di sekolah. Aktivitas yang dilakukan anak-anak dengan menggunakan
gunting, itu sebenarnya suatu gejala awal yang positif dapat meningkatkan kemampuan
motorik halus anak, semestinya mendapat respon yang positif dari guru dan orang tua. Gejala
tersebut merupakan modal dasar dan momentum awal yang baik bagi suatu proses belajar,
karena belajar hakikatnya adalah proses aktivitas yang terencana dan sadar tujuan. Namun
demikian kenyataan yang dilakukan pada umumnyaoleh guru dan orang tua justru bersifat
kontradiktif dengan dasar-dasar kependidikan. Umumnya guru TK atau orang tua justru
melarang murid dan anak-anak mereka untuk memegang dan menggunakan gunting, tanpa
memberi penjelasan kepada anaknya. Sikap perilaku tersebut semata-mata hanya karena
kekhawatiran guru dan orang tua yang takut anaknya terluka karena tergunting, barang-
barangnya rusak/berantakan atau mungkin merasa jengkel dengan segala aktivitas anaknya
tersebut. Sikap semacam itu bukan hanya tidak bijaksana, tetapi juga sekaligus dapat
mematikan potensi positif dalam diri anak.

Sebenarnya aktivitas anak merupakan kunci pokok dari suatu kegiatan belajar. Sementara itu
interaksi anak dengan sesuatu benda atau suatu perbuatan yang dilakukan anak merupakan
suatu kegiatan yang dapat direkayasa sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu kegiatan
belajar. Seperti halnya kegiatan menggunting. Dengan demikian sifat dinamis dan rasa ingin
tahu anak tentang sesuatu benda atau perbuatan bisa didesain menjadi suatu proses
edukatif. Dalam hal ini anak dapat diarahkanpada perkembangan motorik. Sujiono (2007:
1.12), Perkembangan motorik adalah proses seorang anak belajar untuk terapil
menggerakan anggota tubuh. Perkembangan motorik pada anak meliputi motorik kasar dan
halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau
sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu
sendiri. Seperti brrjalan, melompat, berlari, naik sepeda. Motorik halus adalah gerakan yang
menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh
kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari
tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua
kemampuan tersebut jelas sangat diperlukan anak agar mereka dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal.

Dalam standar kompetensi kurikulum TK tercantum bahwa tujuan pendidikan di TK adalah


membantu mengembangkan berbagai potensi anak baik psikis dan fisik yang meliputi moral
dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian, dan seni
untuk memasuki pendidikan dasar. Untuk itu anak TK belajar dari guru tentang berbagai hal
termasuk gerakan motorik halus. Berdasarkan observasi di PAUD AGAPE SUJAH anak-
anak menunjukkan keterlambatan dalam keterampilan motorik halusnya, yang ditandai
dengan kurang terampilnya siswa dalam penggunaan media gunting. Ketidakmaksimalan ini
penyebabnya adalah pengelolaan kelas, yaitu penggunaan media dalam
menumbuhkembangkan kreativitas anak dalam meningkatkan keterampilan motorik
halusnya. Pendidikan di TK dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus mempunyai
kemampuan menyesuaikan media sesuai dengan karakteristik tujuan anak yang diberi
pembelajaran.

Untuk pengembangan kemampuan dasar anak dilihat dari kemampuan motorik halusnya,
maka guru-guru PAUD AGAPE SUJAH akan membantu meningkatkan keterampilan motorik
halus anak dalam hal memperkenalkan dan melatih gerakan halus anak, meningkatkan
kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan
keterampilan tubuh sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan
terampil. Dengan demikian, belajar melalui benda konkrit seperti media gunting untuk
meningkatkan motorik halus anak dipandang akan lebih efektif. Oleh karena itu dalam
penelitian ini akan diangkat suatu judul “Penggunaan Media Gunting untuk
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak di PAUD AGAPE SUJAH
Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka secara umum pokok
permasalahan penelitian ini adalah : Bagaimana penggunaan media gunting dapat
meningkatkan kemampuan motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH. Mengingat
luasnya permasalahan tersebut maka penulis batasi pada sub-sub masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Gambaran kemampuan motorik halus anak di PAUD AGAPE
SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang?
2. Bagaimana Efektivitas penggunaan media gunting dalam pembelajaran 3M di PAUD
AGAPE SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang ?
3. Bagaimana pengaruh penggunaan media gunting dalam meningkatkan kemampuan
motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten
Bengkayang?
C. Tujuan Perbaikan
1. Tujuan Secara Umum :
Untuk mengetahui bagaimana penggunaan media gunting dapat meningkatkan kemampuan
motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang.
2. Tujuan Secara Khusus :
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a. Untuk memperoleh Gambaran kemampuan motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH
Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang.
b. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan media gunting dalam pembelajaran 3M di
PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang?
c. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gunting dalam meningkatkan kemampuan
motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten
Bengkayang?

D. Manfaat Perbaikan
1. Manfaat Secara Teoritis :
a. Penelitian ini senantiasa menjadi wahana untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan guru dalam penggunaan media pembelajaran pada jenjang PAUD.
b. Penelitian ini senantiasa menjadi wahana untuk menerapkan kemampuan penelitian ilmiah
dalam mengkaji permasalahan di bidang pendidikan pada jenjang PAUD

2. Manfaat Secara Praktis :


a. Bagi Guru, penelitian ini semoga menjadi masukan untuk meningkatkan kemampuan dalam
pemilihan media pembelajaran yang efektif bagi pembelajaran di tingkat PAUD.
b. Bagi Siswa, senantiasa membangkitkan motivasi serta meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa di tingkat PAUD.
c. Bagi Lembaga, senantiasa menjadi masukan yang baik dalam pengambilan kebijakan
khususnya dalam kebijakan pengadaan media pembelajaran di tingkat PAUD.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium”. Secara
harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang
dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Media
menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan.
Sedangkan Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa
yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk
memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar

2. Media Pembelajaran
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya.
Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para
siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri
proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum
dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru
yang sedang mengajar. Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan
menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan
bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain
yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan
guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai
sumber balajar yang ada.Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam
pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan
dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur
pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi
belajar kepada siswa.

Peran media dalam komunikasi pembelajaran di TK sangat penting artinya mengingat


perkembangan anak saat itu berada pada masa konkrit. Oleh karena itu, salah satu prinsip
pembelajaran di TK adalah kekonkritan. Dengan demikian pembelajaran di TK harus
menggunakan sesuatu yang memungkinkan anak dapat belajar secara konkret. Prinsip
kekonkritan tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media sebagai saluran penyampai
pesan dari guru kepada anak agar pesan tersebut dapat diserap anak dengan baik. Dengan
demikian diharapkan terjadi perubahan-perubahan perilaku berupa kemampuan dalam
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa proses
pembelajaran akan lebih berhasil bila anak turut aktif dalam proses pembelajaran tersebut.
Dengan kata lain yang menjadi pusat dalam kegiatan pembelajaran bukanlah guru
melainkan anak. Hal ini berarti perlunya beragai fasilitas belajar, termasuk media
pembelajaran. Hasil penelitian British Audio-Visual Association menghasilkan temuan bahwa
rata-rata jumlah informasi yang diterima indra adalah :
75 % melalui indra penglihatan
13 % melalui indra pendengaran
6 % melalui indra sentuhan dan perabaan
6 % melalui indra penciuman dan lidah.

Dari data tersebut menunjukan bahwa penggunaan media yang dapat dilihat (visual) dalam
pembelajaran di TK lebih menguntungkan dibandingkan dengan penyampaian secara
verbal. Gunting sebagai salah satu media pembelajaran dapat digunakan guru untuk
meningkatkan kemampuan motorik halus anak.

3. Gunting
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pendidikan Dasar hal 249 dituliskan “Gunting” kb 1
alat perkakas untuk memotong kain (rambut dan sebagainya) 2 menggunting kk memotong
(memangkas dan sebagainya) dengan memakai gunting.

4. Langkah-langkah Penggunaan Media Gunting


a. Guru menyediakan peralatan gunting sesuai dengan jumlah anak
b. Guru menyediakan lembaran kertas kosong sesuai dengan jumlah anak
c. Guru menjelaskan kepada anak cara memegang gunting yang benar
d. Guru menjelaskan kepada anak cara menggunting kertas yang baik dan benar
e. Guru memeriksa hasil pekerjaan anak dalam menggunting kertas
f. Guru memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting
kertas yang baik dan benar
g. Guru membagikan kertas berpola gambar yang sudah disiapkan sebelumnya
h. Guru memperagakan cara menggunting kertas berpola gambar yang baik dan
benar
i. Anak mempraktekan cara menggunting kertas berpola gambar seperti yang
telah diperagakan guru
j. Guru dan anak melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah
dilaksanakan
k. Guru memberikan penilaian hasil pekerjaaan anak

5. Manfaat Media Pembelajaran


Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru
dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara
lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari
dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
b. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara
alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar
menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
c. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media
guru cenderung bicara satu arah.
d. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan
tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-
ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah
memahami pelajaran.
e. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan
utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami
pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan
mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
f. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan
kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang
guru. Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru
di luar lingkungan sekolah.
g. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai
ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
h. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak memiliki waktu untuk memberi
perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa,
pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain

B. Perkembangan Motorik Halus


1. Pengertian Perkembangan Motorik Halus
Menurut Nursalam (2005) perkembangan motorik halus adalah “kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu dan melakukan gerak yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan
otot-otot kecil, memerlukan koordinasi yang cermat serta tidak memerlukan banyak tenaga.”
Sedangkan menurut Moelichatoen (2004) motorik halus adalah “merupakan kegiatan yang
menggunakan otot-otot halus pada jari dan tangan. Gerakan ini keterampilan bergerak”.

2. Kemampuan Motorik Halus Anak TK


a. Anak Usia 3-4 Tahun
1) Menggunting kertas menjadi dua bagian
2) Mencuci dan mengelap tangan sendiri
3) Mengaduk cairan dengan sendok
4) Menuang air dari teko
5) Memegang garpu dengan cara menggenggam
6) Membawa sesuatu dengan penjepit
7) Apabila diberikan gambar kepala badan manusia yang belum lengkap, ia akan dapat
menambahkan paling sedikit dua organ tubuh
8) Membuka kancing dan melepas ikat pinggang
9) menggambar lingkaran namun bentuknya masih kasar.

b. Anak Usia 4-5 Tahun


1) mengikat tali sepatu
2) memasukan surat ke dalam amplop
3) memoleskan selai di atas roti
4) membentuk berbagai objek dengan tanah liat
5) mencuci dan mengeringkan muka tanpa membasahi baju
6) memasukan benang ke dalam lubang jarum (Sujiono, 2007:1.15-1.16)

3. Fungsi Perkembangan Motorik Halus


Menurut Mudjito (2007: ) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik
halus yaitu :
a. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan
senang.
b. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi helpessness (tidak
berdaya) pada bulan-bulan pertama kehidupannya.
c. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
sekolah.

4. Karakter Perkembangan Motorik Halus Anak


Karakter perkembangan motorik halus menurut Walkay dalam Mudjito (2007) dapat
disimpulkan bahwa keterampilan motorik halus yang paling utama adalah:
a. Pada saat anak usia 3 tahun, kemampuan gerak halus anak belum berbeda dari
kemampuan gerak halus anak bayi.
b. Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak secara substansial sudah mengalami
kemajuan dan gerakannya sudah lebih cepat, bahkan cenderung sempurna.
c. Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik anak sudah lebih sempurna lagi tangan, lengan, dan
tubuh bergerak di bawah koordinasi mata.
d. Pada akhir masa kanak-kanak usia 6 tahun ia belajar bagaimana menggunakan jemari dan
pergelangan tangannya untuk menggunakan ujung pensil.

5. Faktor – Faktor Perkembangan Motorik Anak


Faktor-faktor yang membantu meningkatkan motorik anak yang dapat dilakukan oleh
guru TK adalah :
a. Menyediakan peralatan atau lingkungan yang memungkinkan anak melatih keterampilan
motoriknya.
b. Setiap anak memiliki jangka waktu sendiri dalam menguasai suatu keterampilan.
c. Aktivitas fisik anak yang bervariasi, yaitu aktivitas fisik untuk bermain dan bergembira
sambil menggerakkan anggota tubuh.
d. Aktivitas fisik anak dapat mencapai kemampuan yang diharapkan sesuai dengan
perkembangannya.

6. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak TK


Motorik adalah semua gerakan yang mungkin dapat dilakukan oleh seluruh tubuh, sedangkan
gerakan motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan pusat motorik di
otak. Perkembangan motorik berkembang sejalan dengan kematangan syaraf dan otak. Oleh
sebab itu, setiap gerakan yang dilakukan anak sesederhana apapun, sebenarnya merupakan
hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai dan sistem dalam tubuh yang dikontrol otak,
otaklah yang berfungsi sebagai bagian dari susunan syaraf yang mengatur dan mengontrol
semua aktivitas fisik dan mental seseorang.

Aktivitas anak terjadi di bawah kontrol otak. Secara simultan dan berkesinambungan, otak
terus mengolah informasi yang ia terima. Bersamaan dengan itu, otak bersama jaringan syaraf
yang membentuk sistem syaraf pusat yang mencakup lima pusat kontrol, akan mendiktekan
setiap gerak anak. Dalam kaitannya dengan perkembangan motorik anak, perkembangan
motorik berhubungan dengan perkembangan kemampuan gerak anak. Gerak merupakan
unsur utama dalam perkembangan motorik anak, oleh sebab itu, perkembangan kemampuan
motorik anak akan dapat terlihat secara jelas melalui berbagai gerakan dan permainan yang
mereka lakukan. Perkembangan motorik anak terbagi menjadi dua bagian, yaitu gerakan
motorik kasar dan gerakan motorik halus. Gerakan motorik kasar adalah kemampuan yang
membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh anak. Seperti meloncat, memanjat,
berlari, menaiki sepeda, berdiri dengan satu kaki dan sebagainya. Gerakan motorik halus
adalah bila gerakan hanya melibatkan bagian-bagin tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh
otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari jemari tangan dan gerakan
pergelangan tangan yang tepat. Gerakan ini membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang
cermat.

Gerakan motorik halus yang terlihat saat usia TK, antara lain adalah anak mulai dapat
menyikat giginya, menyisir, memakai sepatu sendiri, menggunting dan sebagainya.
Pengembangan motorik pada anak TK adalah merupakan proses memperoleh keterampilan
dan pola gerakan yang dapat dilakukan anak. Dalam mempelajari kemampuan motorik halus
anak belajar ketepatan koordinasi tangan dan mata. Anak juga belajar menggerakan
pergelangan tangan agar lentur dan anak belajar berkreasi dan berimajinasi.

Semakin baiknya gerakan motorik halus anak membuat anak dapat berkreasi, seperti
menggunting kertas, menyatukan dua lembar kertas, menganyam kertas, tapi tidak semua
anak memiliki kematangan untuk menguasai kemampuan pada tahap yang sama. Dalam
melakukan gerakan motorik halus anak juga memerlukan dukungan keterampilan fisik serta
kematangan mental ( Sujiono, 2007: 1.14). Untuk meningkatkan kemampuan motorik halus
anak TK sudah barang tentu memerlukan bantuan guru. Disini guru dituntut untuk dapat
menjalankan perannya sebagai guru TK sehingga anak benar-benar dapat berkembang secara
optimal.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Informasi Subjek Penelitian


Perbaikan kemampuan motorik halus anak di kelompok B PAUD AGAPE SUJAH
Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan media
gunting. Seberapa besar kontribusi yang diberikan dengan media ini, sehingga akan tercapai
kegiatan belajar yang menyenangkan dan menarik bagi anak.
Nama Lokasi : PAUD AGAPE SUJAH
Kelompok :B
Tema / Sub Tema : Siklus I Makanan/Macam-macam makanan
Siklus II Pakaian/macam-macam pakaian
Waktu : Siklus I Tanggal 3 - 7 Maret 2019
Siklus II Tanggal 10 – 14 Maret 2019

Jumlah seluruh siswa kelompok B adalah 13 orang, terdiri dari 7 orang anak laki-laki dan 6
orang anak perempuan. Kemampuan masing-masing anak di PAUD AGAPE SUJAH berbeda
satu sama lainnya. Hal ini dianggap wajar karena memang mereka datang dari latar belakang
yang berbeda seperti latar belakang keluarga dan tempat tinggal. Tapi secara umumnya
tumbuh kembang semua anak di sekolah terlihat baik, karena guru memberikan pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik perkembangan anak PAUD.

B. Deskripsi per Siklus


Kegiatan pengembangan ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri
dari lima hari pembelajaran, 5 SKH, 5 skenario perbaikan dan 5 lembar observasi. Dalam
melaksanakan kegiatan perbaikan perkembangan, disusun secara rinci yang dimulai dengan
membuat perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi dan lembar refleksi,
yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana kelebihan dan kelemahan pelaksanaan
pembelajaran sehingga dapat diperbaiki pada kegiatan yang akan dilaksanakan berikutnya.

1. Siklus I
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus 1 diawali dengan membuat perencanaan pembelajaran atau SKH
(Satuan Kegiatan Harian).
SKH 1
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang macam-macam
makanan kesukaan dan bernyanyi “aku anak sehat”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar buah apel, menghubungkan tulisan dengan gambar
dan mengelompokkan gambar macam-macam makanan.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bermain tepuk “tepuk sate”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan salam
dan pulang.

SKH 2
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang makanan kesukaan
dan bertepuk “tepuk kuman”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar es krim, mengurutkan gambar dengan huruf dan
menghitung jumlah makanan.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bernyanyi “buah-buahan (Bahasa Inggris)”, evaluasi, berdo’a,
mengucapkan salam dan pulang.

SKH 3
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang makanan binatang dan
bernyanyi individual.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar ikan, menghubungkan makanan binatang dengan
tulisannya dan mengelompokkan makanan binatang.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bermain tepuk “tepuk ikan”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan salam
dan pulang.

SKH 4
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang macam-macam
minuman dan bernyanyi “pok ame-ame”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar gelas, menebalkan tulisan macam-macam
minuman dan menghubungkan gambar dengan bilangan.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak mendengarkan sajak sederhana “aku sehat”, evaluasi, berdo’a,
mengucapkan salam dan pulang.

SKH 5
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang minuman kesukaan
dan menebak judul lagu .
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar minuman kesukaan dari koran atau majalah,
menghubungkan gambar dengan tulisannya dan mengelompokkan gambar minuman.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bernyanyi “kalau kau senang hati”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan
salam dan pulang.

2. Siklus II
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus II diawali dengan membuat perencanaan pembelajaran atau SKH
(Satuan Kegiatan Harian).
SKH 6
1). Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang macam-macam jenis
pakaian dan bermain tepuk “tepuk polisi”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar baju, menghubungkan gambar macam-macam
pakaian dengan tulisannya dan mengelompokkan gambar macam-macam pakaian.
3). Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4). Penutup
Di kegiatan akhir anak bernyanyi “polingga”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan salam dan
pulang.

SKH 7
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang pakaian untuk bekerja
dan bertepuk “tepuk dokter”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar jenis-jenis pakaian untuk bekerja, menebalkan
tulisan dan menghitung gambar pakaian.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bernyanyi “pak pilot”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan salam dan
pulang.

SKH 8
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang pakaian daerah dan
bernyanyi “senggol dendang”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar pakaian adat,menulis huruf depan gambar dan
menyebutkan urutan bilangan dengan gambar.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bermain tepuk “tepuk kabayan”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan
salam dan pulang.

SKH 9
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang baju boneka dan
bernyanyi “dakocan”.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting gambar boneka, menebalkan tulisan minuman dan
mengelompokkan gambar dengan bilangan.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bermain tepuk “tepuk badut”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan salam
dan pulang.

SKH 10
1) Pembukaan
Diawali dengan mengucapkan salam, berdo’a, bercakap-cakap tentang asal mula pakaian dan
bernyanyi kelompok.
2) Inti
Di kegiatan ini anak menggunting kain, menghubungkan gambar dengan tulisannya dan
mengurutkan gambar dengan angka.
3) Istirahat
Anak-anak sebelum makan cuci tangan dan berdo’a dulu, kemudian bermain bersama.
4) Penutup
Di kegiatan akhir anak bermain tepuk “tepuk kupu-kupu”, evaluasi, berdo’a, mengucapkan
salam dan pulang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Per Siklus


Berdasarkan temuan-temuan dari kegiatan perbaikan yang dilakukan selama 2 siklus yang terdiri dari
10 kali tampilan di kelas, baik yang berkaitan dengan perolehan hasil belajar anak maupun peneliti
serta temuan-temuan pengamatan teman sejawat yang berkaitan dengan pelaksanaan perbaikan
pengembangan diperoleh data sebagai berikut :
1. Siklus I
a. Hasil Belajar Anak
Siklus I saya laksanakan dari tanggal 3 – 7 Maret 2019. Dari siklus I diperoleh data hasil
belajar siswa dengan menggunakan media gunting sebagai berikut :

Tabel : 1
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus I Tampilan ke-1

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)

• 2 15,38 Baik
√ 3 23,08 Sedang
O 8 61,54 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 2 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 3
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 8 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
belum sesuai dengan yang diharapkan guru.

Dilihat dari jumlah prosentase anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik baru
15,38 %. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran belum berhasil.
Tabel : 2
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus I Tampilan ke-2

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 3 23,08 Baik
√ 4 30,77 Sedang
O 6 46,15 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 3 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 4
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 6 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
belum sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru 23,08 %. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran belum berhasil.

Tabel : 3
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus I Tampilan ke-3

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 4 30,77 Baik
√ 4 30,77 Sedang
O 5 38,46 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 4 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 4
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 5 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
belum sesuai dengan yang diharapkan guru.
Dilihat dari jumlah prosentase anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik baru
30,77 %. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran belum berhasil.

Tabel : 4
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus I Tampilan ke-4

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 5 38,46 Baik
√ 3 23,08 Sedang
O 5 38,46 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 5 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori
sedang 3 orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 5 orang anak. Sehingga dari
tabel di atas dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil
belajar belum sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru 38,46 %. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran belum berhasil.

Tabel : 5
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus I Tampilan ke-5

Sikulus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 6 46,15 Baik
√ 3 23,08 Sedang
O 4 30,77 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 6 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 3
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 4 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
belum sesuai dengan yang diharapkan guru.
Dilihat dari jumlah prosentase anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik
baru 46,15 %. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran belum berhasil.

c. Refleksi
Data temuan penelitian bersama teman sejawat yang dapat dihimpun adalah sebagai berikut :
1) Refleksi komponen pembelajaran.
Kegiatan yang telah dilaksanakan suadah sesuai dengan indikator yang ditentukan, materi
yang disajikan juga sesuai dengan tingkat perkembangan anak, media pembelajaran telah
sesuai dengan indikator yang telah ditentukan, reaksi anak terhadap metode pembelajaran
yang digunakan dapat diterima sebagai pengalaman yang beragam. Alat penilaian yang
digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
2) Refleksi proses kegiatan
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sudah sesuai dengan SKH yang telah disusun, namun
masih ada kelemahan dalam hal penataan kegiatan, pengelolaan kelas, juga pemanfaatan
waktu yang belum maksimal. Penyebabnya karena mungkin guru baru pertama dan belum
beradaptasi dengan lingkungan serta belum optimalnya penataan kegiatan. Dalam
memperbaiki kelemahan tersebut guru melakukannya dengan cara menyesuaikan keadaan
dan kegiatan yang biasa/rutin dilaksanakan. Kekuatan guru dalam merancang kegiatan sudah
disesuaikan dengan tema dan perkembangan anak. Penyebab kekuatan dalam merancang
kegiatan disesuaikan dengan atan dengan memberi kesempatan kepada anak agar dapat
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal-hal unik positif yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran adalah sebagian besar anak dapat menerima dan melaksanakan kegiatan
tersebut. Alasan guru yang dapat dipertangungjawabkan dalam mengambil keputusan dan
tindakan mengajar adalah menerapkan prinsip belajar sambil bermain dan bermain seraya
belajar. Reaksi anak terhadap pengelolaan kelas belum sepenuhnya dapat menerima
pembelajaran yang dilaksanakan guru karena masih ada anak yang asyik dengan kegiatannya
sendiri. Sebagaian anak dapat menangkap penjelasan yang diberikan guru. Dalam penilaian
reaksi anak sangat antusias karena anak senang dengan pujian dan tanda bintang. Anak telah
mencapai indikator kemampuan yang ditetapkan guru. Guru juga telah dapat mengatur dan
memanfaatkan waktu kegiatan sebaik mungkin. Untuk kegiatan penutup telah dapat
meningkatkan penguasaan anak terhadap materi yang disampaikan.

2. Siklus II
a. Hasil Belajar Anak
Siklus kedua saya laksanakan berdasarkan hasil yang belum maksimal dari siklus I maka
diadakan pendekatan bagi siswa yang masih jauh dari yang diharapkan tentang pelaksanaan
kegiatan pembelajarannya. Penulis memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih berani
mencoba menggunakan gunting dan pemberian motivasi melalui pejelasan tentang
penggunaan gunting. Siklus II dilaksanakan tanggal 10 – 14 Maret 2019, dari kegiatan siklus
II ini diperoleh data sebagai berikut :

Tabel : 11
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus II Tampilan ke-1

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)

• 7 53,85 Baik
√ 2 15,38 Sedang
O 4 30,77 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 7 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 2
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 4 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
belum sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru 53,85 %. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran belum berhasil.

Tabel : 12
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus II Tampilan ke-2

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 8 61,54 Baik
√ 3 23,08 Sedang
O 2 15,38 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 8 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori
sedang 3 orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 2 orang anak. Sehingga dari
tabel di atas dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil
belajar sudah sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru 61,54%. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran belum berhasil.

Tabel : 13
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus II Tampilan ke-3

Sikulus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 9 69,23 Baik
√ 2 15,38 Sedang
O 2 15,38 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 9 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 2
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 2 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
sudah sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru 69,23 %. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran sudah berhasil.

Tabel : 14
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus II Tampilan ke-4

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 10 76,92 Baik
√ 3 23,08 Sedang
O 0 0,00 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 10 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori
sedang 3 orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 0 orang anak. Sehingga dari
tabel di atas dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil
belajar sudah sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik mencapai 76,92 %. Hal ini menunjukan bahwa
pembelajaran sudah berhasil.

Tabel : 15
Tabel Data Hasil Belajar Anak Siklus II Tampilan ke-5

Siklus I
Nilai Prosentase Keterangan
Frekuensi
(%)
• 12 92,31 Baik
√ 1 7,69 Sedang
O 0 0,00 Kurang
Jumlah 13 100
Sumber : Data Hasil Observasi
Dari tabel di atas terlihat bahwa anak yang berhasil menggunting dengan kategori baik yaitu
berjumlah 12 orang anak, jumlah anak yang berhasil menggunting dengan kategori sedang 1
orang anak dan sisanya anak yang kurang berjumlah 0 orang anak. Sehingga dari tabel di atas
dapat disimpulkan bahwa anak dalam hal ini jumlah anak dalam pencapaian hasil belajar
sudah sesuai dengan yang diharapkan guru. Dilihat dari jumlah prosentase anak yang
berhasil menggunting dengan kategori baik baru mencapai 92,31 %. Hal ini menunjukan
bahwa pembelajaran sangat berhasil. Secara keseluruhan dari tabel data hasil belajar
anak dengan menggunakan media gunting siklus I dan II di atas dapat kita lihat untuk
kategori Baik (B) adalah sebagai berikut Tampilan 1 sebanyak 2 orang anak atau
= 15,38 %, Tampilan 2 bertambah menjadi 3 orang anak atau =23,08 %, Tampilan 3
bertambah menjadi 4 orang anak atau = 30,77 %, Tampilan 4 bertambah menjadi 5 orang
anak atau 38,46 %, Tampilan 5 bertambah menjadi 6 orang anak atau = 46,15%, Tampilan 1
Siklus II bertambah 7 orang anak atau = 53,85 %, Tampilan 2 bertambah menjadi 8 orang
anak atau = 61,54%, Tampilan 3 bertambah menjaadi 9 orang anak atau 69,23, Tampilan 4
bertambah menjadi 10 orang anak atau = 76,92 % dan Tampilan 5 bertambah menjadi
12 orang anak atau = 92,31 %. Hasil belajar anak dalam pembelajaran dengan menggunakan
media gunting untuk kategori Sedang (S) siklus I adalah sebagai berikut : Tampilan 1
sebanyak 3 siswa atau = 23,08 %, Tampilan 2 bertambah menjadi 4 siswa atau = 30,77 %,
Tampilan 3 tetap 4 siswa atau = 30,77 %, Tampilan 4 tetap 3 siswa atau 23,08 %, Tampilan
5 tetap 3 orang anak atau = 23,08 %, Siklus II Tampilan 1 berkurang lagi menjadi 2orang
anak atau = 15,38 %, Tampilan 2 bertambah menjadi 3 orang anak atau = 23,08%, Tampilan
3 berkurang menjadi 2 orang anak atau 15,38, Tampilan 4 bertambah menjadi 3
oranganak atau = 23,08 % dan Tampilan 5 berkurang menjadi 1 orang anak atau =7,69
%. Hasil belajar anak dalam pembelajaran dengan menggunakan media gunting untuk
kategori Kurang (K) siklus I adalah sebagai berikut : Tampilan 1 sebanyak 8 orang anak atau
= 61,54 %, Tampilan 2 berkurang menjadi 6 orang anak atau = 46,15 %, Tampilan 3
bertambah menjadi 5orang anak atau = 38,46 %, Tampilan 4 tetap 5 orang anak atau 38,46
%, Tampilan 5 berkurang menjadi 4 orang anak atau = 30,77 %, siklus II
Tampilan 1 berkurang menjadi 4 orang anakatau = 30,77 %, Tampilan 2 berkurang
menjadi 2 oranag anak atau = 15,38%, Tampilan 3 tetap 2orang
anak atau = 15,38 %, Tampilan 4 dan Tampilan 5 berkurang menjadi 0 siswa atau = 0,00 %.
Dari siklus I dan II dengan 10 kali tampilan hasil belajar siswa dengan menggunakan
media gunting menunjukan peningkatan yang signifikan. Hal ini berarti juga bahwa
kemampuan motorik halus anak dalam pembelajaran dengan menggunakan media gunting
meningkat secara signifikan.

c. Refleksi
Data temuan penelitian bersama teman sejawat yang dapat dihimpun adalah sebagai berikut :
1) Refleksi komponen pembelajaran.
Kegiatan yang telah dilaksanakan suadah sesuai dengan indikator yang ditentukan, materi
yang disajikan juga sesuai dengan tingkat perkembangan anak, media pembelajaran telah
sesuai dengan indikator yang telah ditentukan, reaksi anak terhadap metode pembelajaran
yang digunakan dapat diterima sebagai pengalaman yang beragam. Alat penilaian yang
digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

2) Refleksi proses kegiatan


Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sudah sesuai dengan SKH yang telah disusun, namun
masih ada kelemahan dalam hal penataan kegiatan, pengelolaan kelas, juga pemanfaatan
waktu yang belum maksimal. Penyebabnya karena mungkin guru baru pertama dan belum
beradaptasi dengan lingkungan serta belum optimalnya penataan kegiatan. Dalam
memperbaiki kelemahan tersebut guru melakukannya dengan cara menyesuaikan keadaan
dan kegiatan yang biasa/rutin dilaksanakan. Kekuatan guru dalam merancang kegiatan sudah
disesuaikan dengan tema dan perkembangan anak. Penyebab kekuatan dalam merancang
kegiatan disesuaikan dengan atan dengan memberi kesempatan kepada anak agar dapat
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal-hal unik positif yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran adalah sebagian besar anak dapat menerima dan melaksanakan kegiatan
tersebut. Alasan guru yang dapat dipertangungjawabkan dalam mengambil keputusan dan
tindakan mengajar adalah menerapkan prinsip belajar sambil bermain dan bermain seraya
belajar. Reaksi anak terhadap pengelolaan kelas belum sepenuhnya dapat menerima
pembelajaran yang dilaksanakan guru karena masih ada anak yang asyik dengan kegiatannya
sendiri. Sebagaian anak dapat menangkap penjelasan yang diberikan guru. Dalam penilaian
reaksi anak sangat antusias karena anak senang dengan pujian dan tanda bintang. Anak telah
mencapai indikator kemampuan yang ditetapkan guru. Guru juga telah dapat mengatur dan
memanfaatkan waktu kegiatan sebaik mungkin. Untuk kegiatan penutup telah dapat
meningkatkan penguasaan anak terhadap materi yang disampaikan.

B. Pembahasan
Motorik adalah semua gerakan yang mungkin dapat dilakukan oleh seluruh tubuh, sedangkan
gerakan motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan pusat motorik di
otak. Perkembangan motorik berkembang sejalan dengan kematangan syaraf dan otak. Oleh
sebab itu, setiap gerakan yang dilakukan anak sesederhana apapun, sebenarnya merupakan
hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai dan sistem dalam tubuh yang dikontrol otak,
otaklah yang berfungsi sebagai bagian dari susunan syaraf yang mengatur dan mengontrol
semua aktivitas fisik dan mental seseorang. Aktivitas anak terjadi di bawah kontrol otak.
Secara simultan dan berkesinambungan, otak terus mengolah informasi yang ia terima.
Bersamaan dengan itu, otak bersama jaringan syaraf yang membentuk sistem syaraf pusat
yang mencakup lima pusat kontrol, akan mendiktekan setiap gerak anak. Dalam kaitannya
dengan perkembangan motorik anak, perkembangan motorik berhubungan dengan
perkembangan kemampuan gerak anak. Gerak merupakan unsur utama dalam perkembangan
motorik anak, oleh sebab itu, perkembangan kemampuan motorik anak akan dapat terlihat
secara jelas melalui berbagai gerakan dan permainan yang mereka lakukan. Gerakan
motorik halus adalah bila gerakan hanya melibatkan bagian-bagin tubuh tertentu saja dan
dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari jemari tangan dan
gerakan pergelangan tangan yang tepat. Gerakan ini membutuhkan koordinasi mata dan
tangan yang cermat. Gerakan motorik halus yang terlihat saat usia PAUD, antara lain adalah
anak mulai dapat menyikat giginya, menyisir, memakai sepatu sendiri, menggunting dan
sebagainya.

Pengembangan motorik pada anak PAUD adalah merupakan proses memperoleh


keterampilan dan pola gerakan yang dapat dilakukan anak. Dalam mempelajari kemampuan
motorik halus anak belajar ketepatan koordinasi tangan dan mata. Anak juga belajar
menggerakan pergelangan tangan agar lentur dan anak belajar berkreasi dan berimajinasi.
Semakin baiknya gerakan motorik halus anak membuat anak dapat berkreasi, seperti
menggunting kertas, menyatukan dua lembar kertas, menganyam kertas, tapi tidak semua
anak memiliki kematangan untuk menguasai kemampuan pada tahap yang sama. Dalam
melakukan gerakan motorik halus anak juga memerlukan dukungan keterampilan fisik serta
kematangan mental ( Sujiono, 2007: 1.14). Secara umum menurut pengamatan penulis
kemampuan motorik halus anak PAUD AGAPE SUJAH sebelum dilakukan perbaikan sangat
lemah, kemampuan motorik halusnya baru mencapai di bawah 15 % dari jumlah siswa
kelompok B yang berjumlah 13 orang anak. Lemahnya kemampuan motorik halus anak
terlihat ketika guru menyuruh anak untuk melakukan menggunting kertas, menyatukan dua
lembar kertas, dan menganyam kertas, Pada umumnya mereka masih kurang terampil dalam
menggerakan otot halusnya. Perhatian mereka masih tidak focus dalam pembelajaran dan
anak kurang berani dalam melakukan tindakan atau melakukan gerakan-gerakan yang
menuntut otot halusnya. Hal ini dapat dimengerti karena memang banyak foktor yang
mempengaruhinya. Selain factor kematangan anak itu sendiri juga cara mengajar guru.

Dari temuan-temuan dan hasil diskusi dengan teman sejawat tentang penggunaan gunting
dalam pembelajaran untuk meingkatkan kemampuan motorik halus anak perlu direncanakan
dengan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran
yang telah dibuat sebelumnya. Di samping pemberian kesempatan waktu belajar yang lebih
panjang dan fleksibel. Artinya waktu belajar diperpanjang durasinya dan waktu kegiatannya
dapat dilaksanakan sebelum masuk, waktu istirahat maupun waktu siswa hendak pulang.
Untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak PAUD sudah barang tentu memerlukan
bantuan guru. Disini guru dituntut untuk dapat menjalankan perannya sebagai guru PAUD
sehingga anak benar-benar dapat berkembang secara optimal.

Berdasarkan data-data penelitian di atas yang diperoleh dari temuan-temuan selama


melakukan perbaikan pembelajaran dapat dilihat bahwa penggunaan gunting dapat
meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan
Seluas Kabupaten Bengkayang Tahun 2018/2019. Peningkatan dapat kita lihat dari hasil
belajar anak yang berkategori baik terus meningkat dari setiap tampilan sementara itu anak
yang berkategori sedang dan kurang mengalami penurunan hampir di setiap tampilan.
Bahkan untuk anak dengan kategori kurang mereka sudah tidak ada lagi pada akhir tampilan
siklus ke II. Hal berbalik dengan data sebelum dilakukan perbaikan keberhasilan
anak menurut pengamatan penulis sebelum dilakukan perbaikan menunjukan hanya kurang
lebih 15 % anak yang berhasil dalam belajar.

Seperti halnya hasil belajar anak, kemampuan guru pun semakin bertambah. Hal ini
ditunjukan dengan adanya keinginan dan usaha guru untuk terus memperbaiki kekurangan-
kekurangan yang dirasakan selama proses pembelajaran dalam setiap tampilan dan siklus
perbaikan. Dari data aspek penampilan guru menunjukan adanya peningkatan dari rata-
rata 96 % dengan 4 komentar pada siklus I naik menjadi 100 % pada siklus II dan tampa
komentar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penampilan guru dalam hal ini
kemampuan guru atau cara mengajar guru sudah tidak diragukan lagi. Ia sudah dapat
mengajar dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang dibuatnya. Hal ini berarti pula
bahwa pelaksanaan pembelajaran di PAUD AGAPE SUJAH sudah dapat dilaksanakan
dengan baik dan penggunaan media gunting dalam pembelajaran efektif karena dapat
meningkatkan kemampuan motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH Kabupaten
Bengkayang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan temuan-temuan selama perbaikan pembelajaran dengan menggunakan gunting
sebagaimana telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa : sebelum dilakukan
perbaikan kemampuan motorik halus anak PAUD AGAPE SUJAH secara umum sangat
lemah. Lemahnya kemampuan motorik halus anak terlihat ketika guru menyuruh anak untuk
melakukan menggunting kertas, menyatukan dua lembar kertas, dan menganyam
kertas, Pada umumnya mereka masih belum terampil dalam menggerakan otot halusnya.
Perhatian mereka masih tidak fokus dalam pembelajaran dan anak kurang berani dalam
melakukan tindakan atau melakukan gerakan-gerakan yang menuntut otot halusnya. Hal ini
dapat dimengerti karena memang banyak foktor yang mempengaruhinya. Selain faktor
kematangan anak itu sendiri juga cara mengajar guru.

Dari temuan-temuan dan hasil diskusi dengan teman sejawat tentang penggunaan gunting
dalam pembelajaran untuk meingkatkan kemampuan motorik halus anak perlu direncanakan
dengan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran
yang telah dibuat sebelumnya. Di samping pemberian kesempatan waktu belajar yang lebih
panjang dan fleksibel. Artinya waktu belajar diperpanjang durasinya dan waktu kegiatannya
dapat dilaksanakan sebelum masuk, waktu istirahat maupun waktu siswa hendak pulang.
Untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak TK sudah barang tentu memerlukan
bantuan guru. Disini guru dituntut untuk dapat menjalankan perannya sebagai guru TK
sehingga anak benar-benar dapat berkembang secara optimal.

Berdasarkan data-data penelitian di atas yang diperoleh dari temuan-temuan selama


melakukan perbaikan pembelajaran dapat dilihat bahwa penggunaan gunting dapat
meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan
Seluas Kabupaten Bengkayang Tahun 2018/2019. Peningkatan dapat kita lihat dari hasil
belajar anak yang berkategori baik terus meningkat dari setiap tampilan sementara itu anak
yang berkategori sedang dan kurang mengalami penurunan hampir di setiap tampilan.
Bahkan untuk anak dengan kategori kurang mereka sudah tidak ada lagi pada akhir tampilan
siklus ke II. Hal berbalik dengan data sebelum dilakukan perbaikan keberhasilan
anak menurut pengamatan penulis sebelum dilakukan perbaikan menunjukan hanya kurang
lebih 15 % anak yang berhasil dalam belajar.

Pada umumnya kemampuan motorik halus anak PAUD AGAPE SUJAH setelah dilakukan
perbaikan menunjukan peningkatan yang sangat memuaskan. Hal ini terlihat dari
keterlibatan anak secara langsung dalam berbagai kegiatan baik pendahuluan, inti dan
kegiatan akhir sehingga menambahmotivasi anak untuk lebih aktif mengikuti proses
pembelajaran penggunaan media dan alat pembelajaran yang sesuai dengan perencanaan
mejadikan pembelajaran menjadi lebih efektif. Dari pembelajaran yang efektif ini
menghantarkan hasil belajar yang optimal. Penggunaan media gunting efektif untuk
meningktakan kemampuan motorik halus pada anak kelompok B di PAUD AGAPE
SUJAH Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2018/2019. Setelah
diadakan perbaikan hasil belajar anak meningkat dari 46,15 % pada siklus I menjadi 92,31%
pada siklus II.

B. Saran
Berdasarkan temuan hasil penelitian tindakan perbaikan tentang penggunaan media gunting
untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak PAUD AGAPE SUJAH Kecamatan
Seluas Kabupaten Bengkayang disarankan sebagai berikut:
1. Upaya peningkatan kemampuan motorik halus anak di PAUD AGAPE SUJAH selain
selain dengan upaya-upaya di atas juga harus dibarengi dengan tersedianya kesempatan
waktu belajar yang lebih panjang dan fleksibel. Artinya waktu belajar diperpanjang
durasinya dan waktu kegiatannya dapat dilaksanakan sebelum masuk, waktu istirahat
maupun waktu siswa hendak pulang.
2. Agar hasil belajar lebih baik disarankan kesiapan belajar siswa ditingkatkan lagi.
3. Media gunting dapat diterapkan lebih lanjut pada bidang pengembangan kemampuan
motorik halus sejenis atau yang lain dengan mengambil tema yang berbeda.
4. Pemilihan gambar-gambar berpola agar lebih bervariatif dan menarik supaya
kemampuan motorik halus anak betul-betul terlatih.
DAFTAR PUSTAKA

Ali Nugraha, 2008. “Kurikulum dan Bahan Belajar TK” Universitas Terbuka, Jakarta.

Bambang Sujiono, dkk, 2007, “Metode Pengembangan Fisik”, Universitas Terbuka, Jakarta

IGAK Wardhani, dkk, 2008,”Penelitian Tindakan Kelas”, Universitas Terbuka, Jakarta

Tim PKP PG-PAUD, 2009, “Panduan Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM)
Program D-II PGTK”, Universitas Terbuka, Jakarta

Tim PKP PG-PAUD, 2010, “Panduan Pemantapan Kemampuan Profesional”, Universitas


Terbuka, Jakarta

Tim TAP FKIP UT, 2011, “Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP”, Universitas Terbuka,
Jakarta