Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KEBUDAYAAN ISLAM

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu:
Muhammad Riza Chamadi, S.Ag., M.Ag.

Disusun oleh:
1. Fitria Nabilla (B1A018104)
2. Freedo Mahardikha (B1A018123)
3. Nissavira (B1A018138)
4. Sabila Salma (B1A018148)

FAKULTAS BIOLOGI
PROGAM STUDI S1 BIOLOGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan limpahan Rahmat, Taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kebaikan dan kebenaran di dunia dan akhirat
kepada umat manusia.
Makalah dengan judul “Kebudayaan Islam” ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah Pendidikan Agama Islam dan juga untuk khalayak ramai sebagai bahan penambah
ilmu pengetahuan serta informasi yang semoga bermanfaat.
Makalah ini kami susun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin.
Namun, kami menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan
masih banyak kesalahan serta kekurangan. Maka dari itu kami sebagai penyusun makalah ini
mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang membaca makalah ini terutama Dosen Mata
Kuliah Pendidikan Agama Islam yang kami harapkan sebagai bahan koreksi untuk kami.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi penulis dan pembaca pada
umumnya.

Purwokerto, 11 Mei 2019

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................................
Daftar Isi............................................................................................................
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang......................................................................................
B. Tujuan...................................................................................................
BAB II Pembahasan
A. Pengertian Kebudayaan Islam.............................................................
B. Konsep Kebudayaan dalam Islam......................................................
C. Prinsip-prinsip Kebudayaan Islam.....................................................................
D. Masjid sebagai Pusat Peradaban Islam..............................................
E. Nilai-nilai Islam dan Budaya Indonesia............................................
F. Contoh Kebudayaan dalam Islam dan hukumnya...................................
G. Sikap terhadap Kebudayaan dalam Islam..............................................

BAB III Penutup


A. Kesimpulan.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ajaran-ajaran islam yang diyakini oleh umat islam mengandung nilai-nilai islam yang
memiliki peran yang sangat penting di dalam mengembangkan kebudayaan islam. Disamping
itu, ajaran-ajaran islam juga membumikan ajaran utama (yang sebagai syariah) sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan hidup umat manusia. Manusia sering dikatakan sebagai mahluk yang
paling tinggi dibandingkan dengan mahluk lainnya. Tingginya harkat dan martabat manusia
karena manusia mempunyai akal budi. Dengan adanya akal budilah, manusia mampu
menghasilkan kebudayaan yang cenderung membuat manusia menjadi lebih baik dan lebih
maju. Dengan kebudayaan tersebut manusia memperoleh banyak kemudahan dan kesenangan
hidup. Akal budi pun mampu menciptakan dan melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni
dan keseluruhan yang dihasilkan akal budi tersebut dapat dikelola untuk menghasilkan
produk-produk yang dapat dimanfaatkan oleh manusia guna menuju peradaban yang modern.
Seiring dengan berkembangnya IPTEK manusia akan lebih dapat memilah-milah bagian-
bagian yang positif dan negatif untuk diri pribadi dan orang lain. Dengan peradaban manusia
yang semakin modern maka pola pikir manusia akan lebih berkembang. Apabila dikaitkan
dengan sejarah peradaban islam maka manusia merupakan suatu fungsi yang digunakan
untuk meneruskan peradaban dimasa lalu untuk menjalankan peradaban modern.
BAB 11
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN ISLAM
Kebudayaan secara etimologi merupakan perpaduan dari istilah “budi” yang berarti akal,
pikiran, pengertian, paham, perasaan, dan pendapat. dan “daya” yang berarti tenaga,
kekuatan, kesanggupan. Menurut terminologi kebudayaan adalah himpunan segala daya dan
upaya yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi, untuk memperbaiki sesuatu
tujuan dalam rangka mencapai kesempurnaan, (Agus Salim, 1954:300). Definisi kebudayaan
secara khusus dikemukakan oleh para senimandan budayawan islam sebagai menifestasi dari
ruh, zauq, iradah, dan amal (cipta, rasa,karsa, dan karya) dalam seluruh segi kehidupan insani
sebagai fitrah, ciptaan karunia Allah SWT. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dipahami
bahwa kebudayaan muncul dari pengerahan semua potensi yang diberikan Allah kepada
semua manusia.
Kebudayaan islam selalu terkait dengan nilai-nilai illahiyah yang bersumber dari ajaran kitab
suci Al-Qur'an dan Hadist, sehingga dapat dipahami bahwa kebudayaan islam itu adalah
implementasi dari Quran dan Sunnah oleh umat islam dalam kehidupannya, baik dalam
bentuk pemikiran, tingkah laku, maupun karya untuk kemaslahatan umat manusia dalam
rangka mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah dan mencari keridhoaan-Nya.
B.KONSEP KEBUDAYAAN DALAM ISLAM
Secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budicipta rasa, karsa, dan
karya manusia. Kebudayan pasti tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Kebudayaan yang
telah terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang universal berkembang menjadi peradaban.
Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar
tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan
dirinya sendiri. Disini agama islam berfungsi untuk membimbing manusia dalam
mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau
berperadaban Islam. Sehubungan dengan hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi
nilai-nilai ketuhanan atau disebut sebagai peradaban islam, maka fungsi agama di sini
semakin jelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri
mengalami kebekuan karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini
sangat terasa akan perlunya suatu bimbingan wahyu.
Allah mengangkat seorang rasul dari jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran
bimbingannya adalah umat manusia. Oleh sebab itu, misi utama Muhammad diangkat
sebagai rasul adalah menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam. Mengawali tugas
utamanya, nabi meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam yang kemudian berkembang
menjadi peradaban Islam. Ketika dakwah Islam keluar dari jazirah Arab, kemudian tersebar
keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjangdan rumit, yaitu asimilasi budaya-
budaya setempat dengan nilai-nilai Islam yang kemudian menghasilkan kebudayaan Islam.
Kebudayaan ini berkembang menjadi suatu peradaban yang diakui kebenarannya secara
universal.
C.PRINSIP KEBUDAYAAN DALAM ISLAM
Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada
kehidupanyang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk
menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang
bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang
tidak bermanfaat dan membawa mudharat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu
meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat
menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajatkemanusiaan.
Prinsip semacam ini sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat perbedaan-perbedaan
yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan:
“Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan,
dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat
memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi
derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.
Dari situ, islam telah membagi budaya menjadi tiga macam:
Pertama: kebudayaan yang tidak bertentangan dengan islam. Seperti kadar
besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat aceh, umpamanya keluarga
wanita biasanya menentukan jumlah mas kawin sekitar 50 – 100 gram emas.
Kedua: kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan islam. Contoh yang paling
jelas, adalah tradisi jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan
dengan ajaran Islam, seperti lafadh “talbiyah” yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka'bah
dengan telanjang.
Ketiga: kebudayaan yang bertentangan dengan islam. Seperti budaya “ngaben” yang
dilakukan oleh masyarakat Bali.

D. MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN ISLAM


Masjid pada umumnya hanya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus
seperti tempat ibadah khusus seperti shalat, padahal masjid mestinya berfungsi lebih luas dari
pada sekadar sebagai tempat shalat. Sejak awal berdirinya masjid belum bergeser dari fungsi
utamanya, yaitu sebagai pusat penyelenggaraan peribadatan pada umumnya, disamping
tempat shalat. Masjid pada zaman Nabi dijadikan sebagai pusat membangun peradaban
Islam. Nabi Muhammad saw. mensucikan jiwa kaum muslimin, mengajarkan Al-Qur'an dan
Al-Hikmah, bermusyawarah untuk menyelesaikan berbagai persoalan kaum muslimin,
membina sikap dasar kaum muslimin terhadap orang yang berbeda agama atau ras, hingga
upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru melalui Masjid. Masjid dijadikan
simbol kesatuan dan persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan
masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh orisinal sebagai pusat peribadatan dan peradaban.
Sekolah-sekolah dan universitas-universitas pun kemudian bermunculan, justru dari masjid.
Masjid Al-Azhar di Mesir merupakan salah satu contoh yang sangat dikenal luas kaum
muslimin Indonesia. Melalui masjid ini, tercetak intelektual Islam dari berbagai belahan
dunia, juga mampu memberikan beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan
pengentasan kemiskinan merupakan program utama masjid.
Pada saat ini, kita akan sangat sulit menemukan masjid yang memiliki program nyata
dibidang pencerdasan keberagamaan umat. Kita (mungkin) tidak menemukan masjid yang
memiliki kurikulum terprogram dalam pembinaan keberagamaan umat, terlebih-lebih
menyediakan beasiswa dan upaya pengentasan kemiskinan. Dalam perkembangan masjid
berikutnya muncul kelompok-kelompok yang sadar untuk mengembalikan fungsi masjid
sebagaimana mestinya. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan pentingnya peranan masjid
untuk mencerdaskan dan mensejahterakan jamaahnya. Menurut ajaran islam, masjid memiliki
dua fungsi yang utama, yaitu:
1. Sebagai pusat ibadah ritual.
2. Berfungsi sebagai pusat ibadah social.
Dari fungsi tersebut , titik sentralnya bahwa fungsi utama masjid adalah pusat pembinaan
umat Islam.

E. NILAI-NILAI ISLAM DALAM BUDAYA INDONESIA

Islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayanya. Karena Islam lahir dan berkembang
dari negeri Arab, maka Islam yang masuk ke Indonesia tidak terlepas dari budaya Arabnya.
Pada awal-awal masuknya dakwah Islam ke Indonesia dirasakan sangat sulit membedakan
mana ajaran Islam dan mana budaya Arab. Masyarakat awam menyamakan antara perilaku
yang ditampilkan oleh orang arab dengan perilaku ajaran Islam. Seolah-olah apa yang
dilakukan oleh orang arab itu semua mencerminkan ajaran Islam, bahkan hingga kini budaya
arab masih melekat pada tradisi masyarakat Indonesia.
Dalam perkembangan dakwah islam di Indonesia, para da’I mendakwahkan ajaran islam
melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para wali ditanah jawa. Karena
kehebatan para wali Allah dalam mengemas ajaran islam dengan bahasa budaya setempat,
sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai islam telah masuk dan menjadi tradisi
dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih jauh lagi bahwa nilai-nilai islam sudah menjadi
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan mereka. Seperti dalam upacara-upacara
adat dan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa al-Qur’an/arab sudah banyak masuk
kedalam bahasa daerah bahkan kedalam bahasa Indonesia yang baku. Semua itu tanpa
disadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ajaran islam.
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami
perintahkan kepadanya): “Keluarlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang
benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak
bersyukur” (Ibrahim:5).
Rasulullah saw bersabda:
Abdullah bin Umar mengatakan bahwa kaum jahiliyah biasa berpuasa pada Hari Asyura (10
Muharram) dan Rasulullah SAW beserta kaum Muslimin pun mempuasaiya sebelum
difardukan puasa Ramadhan. Ketika puasa Ramadhan difardukan, Rasululllah SAW
bersabda: “Sesungguhnya Asyura itu satu di antara Hari-Hari Allah. Siapa mau aberpuasa
silahkan, bagi yang tidak mau pun tidak mengapa” (HR Muslim)
Banyak tradisi masyarakat Indonesia yang bernuansa islami, biasanya tradisi tersebut
dilaksanakan untuk memperingati hari besar umat Islam. Misalnya perayaan sekaten yang
diselenggarakan untuk menyambut maulid Nabi, ada juga perayaan yang dimaksudkan untuk
memperingati perjuangan penyebaran ajaran Islam.
F. CONTOH KEBUDAYAAN DALAM ISLAM DAN HUKUMNYA

Selamatan kehamilan
Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam ajaran Islam. Itu
termasuk perkara baru dalam agama, dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah,
dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ٌ ‫ض ََللَة‬ ِ ‫ت ْاْل ُ ُم‬


َ ‫ور فَإ ِ َّن ُك َّل ُمحْ دَث َ ٍة بِدْ َعةٌ َو ُك َّل بِدْ َع ٍة‬ ِ ‫َوإِيَّا ُك ْم َو ُمحْ دَثَا‬

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama)
adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.” (HR Abu Dawud, no. 4607;
Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah)

Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa
keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana
atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya
keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Allah berfirman:

‫س ِمي ُع ْال َعل ِي ُم‬


َّ ‫ض ًّرا َوالَ نَ ْف ًعا وهللاُ ه َُو ال‬ ِ ‫قُ ْل أَت َ ْعبُد ُونَ ِمن د‬
َ ‫ُون هللاِ َما الَ َي ْم ِلكُ لَ ُك ْم‬

“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat
memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?” Dan Allah-lah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 76)
Sudah menjadi kebiasaan umumdi tengah-tengah masyarakat adanya kecenderungan
membesarbesarkan perkara sunat, atau perkara mubah tapi menelantarkan perkara yang
wajib. Kalau menyelenggarakan selamatan berlomba-lomba secara besar-besaran tapi untuk
menyumbang pembangunan masjid, mushalla pondok pesantren dan sejenisnya bahkan saling
mengundurkan diri. Kita utamakan perkara yang terpenting, baru yang agak penting
dantinggalkan perkara yang mubazdir.[1]

Tumpeng Rosulan
Masyarakat Cilacap, Jawa tengah,mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “,
yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang
dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan
penguasa Lautan selatan ( Samudra Hindia ).Hal tersebut merupakan sebagian contoh
kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan
mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan
yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat
kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakan kebudayaan yang menurunkan
derajat kemanusiaan.
Karena mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak
bermanfaat dan menghinakan manusia yang sudah meninggal dunia.Dalam hal ini al
Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan : “ Sesungguhnya
nash-nash syareat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa
saja berupa kebatilan yang telah disepakati, seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat
kita hari ini, yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus
pada malam- malam lebaran.

Nyadran dan rasulan


Satu di antara sekian banyak tradisi yang ada di daerah tanah jawa pada umumnya di
daerah gunungkidul khususnya adalah tradisi rasulan atau nyadran atau juga di sebut dengan
bersih desa.banyak orang yang menganggap bahwa ritual ini adalah suatu keharusan yang
harus mereka lakukan di hari yang sudah mereka tentukan ,hingga mereka peras
keringat,banting tulang, menjual apa yang mereka miliki untuk acara tersebut .

Bahkan tidak sedikit mereka rela ngutang ngutang, ada yang sampe terjadi pertikaian
antara suami istri gara gara tidak ada biaya untuk pesta hura hura tersebut.Yang lebih
memprihatinkan mereka yang melakukan adalah saudara saudara kita kaum muslimin,untuk
acara yang satu ini mereka belum tahu kalau acara itu sebetulnya acara yang bertentangan
dengan syariat Islam, bahkan bisa membatalkan keislamannya ,kenapa tidak.Mereka dalam
acara acara itu banyak melakukan ritual-ritual yang berasal bari agama hindu, yang ini sudah
jelas kesyirikannya .

Mereka mendatangi makam-makam leluhur, wali dan orang soleh yang menurutnya
adalah bagian dari tempat mencari berkah. Bahkan kadang sangat berlebihan dan menjadi
suatu keharusan dalam melakukannya sehingga orang orang datang berbondong-bondong
mendatangi kuburan ,tempat tempat yang di keramatkan seperti pohon besar, gua gua, telaga,
dan anehnya pula mereka membawa makanan tertentu, seperti apem, nasi uduk dengan
ingkungnya, bunga bunga yang di takir dengan daun pisang, bahkan yang tidak ketinggalan
yaitu dupa atau kemenyan turut mereka bawa.kemudian mereka di tempat tersebut
mengadakan doa yang di pimpin mbah kaum atau sesepuh desa, yang di mulai menyebut
danyang-danyang atau dedemit yang menunggu desa itu atau tempat itu untuk supaya
memeberikan syafaat, kesehatan, ketentraman, keselamatan, panen yang banyak dan
sebagainya, sekalipun di sela-sela doa ada yang di ambil dari islam.Namun yang perlu kita
ketahui bahwa semuanya itu tidak ada asal usulnya dari islam bahkan semuanya bertentangan
dengan ajaran islam yang benar.

Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 72


Yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik , dan akan mengampuni dosa
selainnya (yang di bawah syirik) bagi siapa yang di kehendaki”.

Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Al Muaththa’ Bahwa rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam bersabda:
\
”Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang di sembah . Allah sangat
murka kepada orang orang yang menjadikan kuburan Nabi Nabi mereka sebagai tempat
ibadah”.
Di riwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘ranhu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
sallam bersabda:
”janganlah kamu jadikan rumah rumah kamu sebagai kuburan , dan janganlah kamu jadikan
kuburanku sebagai tempat perayaan , tetapi ucapkanlah shalawat untuku karena
sesungguhnya ucapan shalawatmu sampai kepadaku di manapun kamu berada”.
( HR Abu Dawud dengan isnat hasan)”

Dengan berdasarkan dalil dalil di atas dapat di ambil kesimpulan:


a) Rasulullah melarang ziarah kubur dengan cara cara tertentu, yang tidak sesuai dengan islam
b) Larangan mengadakan acara di kuburan Rasulullah , lebih lebih di kuburan selainnya
c) Allah murka terhadap orang yang beribadah di kuburan(Doa termasuk ibadah)maka tidak
boleh di lakukan di kuburan.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Mas’ud


Yang artinya:

”Sesungguhnya yang termasuk sejelek jeleknya manusia ialah orang orang yang masih hidup
ketika terjadi kiamat dan orang orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah”.

Jelaslah dalam hadits di atas bahwa melakukan ibadah apapun di kuburan hukumnya
adalah haram.Dan masih banyak lagi acara acara yang sangat sangat bertentangan dengan
islam diantanya, pentas wayang kulit yang di yakini bisa mendatangkan keberkahan, pentas
Reog, Jatilan yang mengundang demit atau syaiton . Dan anehnya biaya untuk itu tidak
sedikit bahkan jika ada yang tidak mau membayar di ancam akan di kucilkan di masyarakat
terkadang kata kata seperti ini keluar dari orang orang yang punya kedudukan di daerah itu ,
padahal tidak ada undang undang yang mengatur hal itu.

Umat Islam di negeri ini mempunyai tradisi yang bermacam-macam. Selain berbagai
peringatan hari-hari besar Islam, mereka juga masih mempunyai tradisi yang sudah ada sejak
dulu. Ritual yang sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia.yaitu sebagai mana telah kita
sampaikan di atas yaitu Nyadran. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kebanyakan masyarakat
jawa menjelang Ramadan atau di luar bulan itu. Meskipun bentuk acara dan waktu yang tidak
sama, namun semua dilaksanakan menjelang berakhirnya bulan Sya’ban atau orang Jawa
menyebutnya dengan istilah ruwahan

Di saat-saat seperti ini juga di berbagai daerah di Jawa banyak di jumpai ritual sadranan
atau nyadran atau Rasulan, atau juga bersih desa. Tradisi ini mengandung makna dan nuansa
religius dan magis yang senantiasa mewarnai ritual-ritual itu. Biasanya, tempat-tempat yang
dituju dalam kegiatan nyadran ini, adalah makam para leluhur, tokoh-tokoh besar, alim ulama
serta para tokoh yang banyak berjasa bagi daerah dan syiar agama pada masa lampau.[4]

Tahlilan
Dalam bahasa Arab, Tahlil berarti menyebut kalimah “syahadah” yaitu “La ilaha illa
Allah” (‫)الاله اال هللا‬. Dalam konteks Indonesia, tahlil menjadi sebuah istilah untuk menyebut
suatu rangkaian kegiatan doa yang diselenggarakan dalam rangka mendoakan keluarga yang
sudah meninggal dunia.
Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial
yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari
kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta
masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Quran, dzikir-dzikir, dan disertai doa-doa
tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat
kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka
acara tersebut dikenal dengan istilah "Tahlilan".

Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang


dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari
ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara
tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara
satu tempat dengan tempat lainnya. Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama
menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu
mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Quran dan
Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim
yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wataala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah
subhanahu wataala telah berfirman (artinya):
"Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al Quran) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya." (An Nisaa:
59)
Kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa
Rasulullah shalAllahu alaihi wasallam, di masa para sahabatnya dan para Tabiin maupun
Tabiut tabiin. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah
seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafii, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa
dengan mereka ataupun sesudah mereka. Awal mula acara tersebut berasal dari upacara
peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama
Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendoakan orang
yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu
tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan
agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan doa-doa ala agama lain dengan
bacaan dari Al Quran, maupun dzikir-dzikir dan doa-doa ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan
adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.Memang benar Allah
subhanahu wataala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Quran, berdzikir dan
berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Quran, dzikir-dzikir, dan doa-doa diatur
sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang
diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalAllahu alaihi
wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarkan.
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena
memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wataala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu
wataala berfirman (artinya):
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan
nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian." (Al Maidah: 3)
Juga Rasulullah shalAllahu alaihi wasallam bersabda:
‫ك ْمََنَ ال َّن ِار إِلَّ قَ ْد بيِِّنَ لَِ َق ِ ِّرب ِمنَ ا ْل َج َّن ِة َويبَا ِعد مَقِ َي ش َْيء ي ََ َما ب‬
"Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan
menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya." (H.R
Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah
sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan
maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalAllahu alaihi
wasallam.
Peringatan Ulang Tahun (Bancaan Tiron)
Masyarakat Jawa, sejak zaman sebelum kedatangan Islam yang didakwahkan oleh para
wali memiliki budaya bancaan/selamatan. Bancaan yang mereka laksanakan di samping pada
acara tingkepan sebagaimana yang disebutkan dalam bab yang telah lalu ada lagi bancaan-
bancaan yang lain, di antaranya :
Ada juga orang tua yang mengadakan bancakan dalam acara hari ulang anaknya. Mereka
menyebutnya “bancaan tiron”. Sebagian warga kita ada yang ikut-ikutan mengadakan
peringatan ulang tahun dengan acara dan upacara yang dikemas secara khusus untuk kegiatan
itu.
Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah memandang tradisi semacam ini dengan sikap
proporsional, yaitu dengan pendirian bahwa di dalam selamatan itu ada unsur-unsur
kebaikan, di antaranya: menyampaikan tahni’ah/ucapan selamat kepada sesama muslim,
mempererat kerukunan antara keluarga dan tetangga, menjadi sarana sedekah dan bersyukur
kepada Allah, serta mendo’akan si anak semoga menjadi anak yang shalih dan shalihah. Ini
semua tidak ada yang bertentangan dengan syari’at Islam.
Maka jika ditanyakan, apakah ada dalil syara’ mengenai peringatan ulang tahun kelahiran?
Jawabnya ada, yaitu dalil qiyas, yakni mengqiyaskan masalah ini dengan perilaku sahabat
nabi. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa sewaktu sahabat Ka’ab bin Malik menerima kabar
gembira dari nabi saw. Mengenai penerimaan taubatnya, maka sahabat Thalhah bin
Ubaidillah menyampaikan kepadanya ucapan selamat (tahni’ah).

Berdasarkan riwayat tersebut, maka hukum peringatan ulang tahun adalah mubah,
bahkan sebagian ulama mengatakan sunnah hukumnya, namun dengan catatan : selama tidak
ada hal-hal yang munkar di dalamnya. Misalnya : menyalakan lilin, memasang gambar
patung (walaupun berukuran kecil) di tengah-tengah kue yang dihidangkan atau alatul malahi
(alat permainan musik) yang diharamkan. Karena hal tersebut termasuk syi’ar orang-orang
non muslim atau syi’ar orang fasik.
Kenduri Arwah
Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (As-Sunnah Ash-Shahiihah), dan sebaik-
baik pemahaman atas dua hal tersebut adalah pemahaman para shahabat Rasulullah
radliyallaahu ‘anhum ajm’ain (atsar as-salafush-shalih). Dan untuk menjawab pertanyaan
Saudara, maka kami akan mengembalikannya kepada 3 (tiga) hal tersebut.
Allah ta’ala telah berfirman :

‫ّللاُ ِب ُك ُم ْاليُس َْر َوالَ ي ُِريدُ بِ ُك ُم ْالعُس َْر‬


‫ي ُِريد ُ ه‬

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian semua, dan tidak menghendaki kesulitan bagi
kalian semua…..” (QS. Al-Baqarah : 185).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

..……‫إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إال غلبه فسددوا وقاربوا‬

“Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yang bersikap berlebih-lebihan dalam beragama
pasti akan kalah. Beramallah yang benar ! Beramallah yang paling dekat dengan
pengamalan syari’at…” (HR. Bukhari nombor 39 – penomboran dari maktabah sahab : 39
dan 6098; dan Muslim nombor 2816).

Ayat dan hadits di atas memberikan kefahaman bagi kita semua bahawa agama Islam
ini adalah agama yang mudah. Mudah untuk difahami dan mudah untuk diamalkan. Seorang
muslim hanya dibebani untuk mengerjakan apa-apa yang dicontohkan dan meninggalkan apa-
apa yang dilarang atau tidak ada contohnya (dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam).
Itulah salah satu sisi kemudahan yang sangat besar bagi umat Islam. Mereka sekali-kali tidak
dibebani untuk membuat-buat syari’at yang akhirnya justeru memberatkan mereka.Kembali
kepada inti pertanyaan saudara, maka ada beberapa riwayat shahih mengenai hal ini.

Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu, dia berkata :

‫كنا نرى االجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة‬

“Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat, serta


penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tetamu) merupakan sebahagian daripada
niyahah (meratapi mayat)” (HR. Ahmad nombor 6905 dan Ibnu Majah nombor 1612).

Dari Thalhah radliyallaahu ‘anhu, dia berkata :

: ‫ قال‬.‫ فهل تجتمع النسآء عنكم على الميت ويطعم‬: ‫ قال‬.‫ ال‬: ‫ قال‬.‫ هل يناح قبلكم على الميت‬: ‫قدم جرير على عمر فقال‬
.‫ تلك النياحة‬: ‫ فقال‬.‫نعم‬

“Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi
mayat ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita
kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayat dan memakan hidangannya ?”. Jarir
menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayat)”. (HR.
Ibnu Abi Syaibah 2/487).

Dari Sa’id bin Jubair radliyallaahu ‘anhu, dia berkata :

‫ النياحة والطعام على الميت وبيتوتة المرأة ثم أهل الميت لبست منهم‬: ‫من عمل الجاهلية‬

“Merupakan perkara Jahiliyyah : An-Niyahah, hidangan keluarga mayat, dan menginapnya


para wanita di rumah keluarga mayat” (HR. Abdurrazzaq 3/550 dan Ibnu Abi Syaibah
dengan lafadh yang berbeza). Ketiga riwayat tersebut saling menguatkan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

‫اثنتان في الناس هما بهم كفر الطعن في النسب والنياحة على الميت‬

“Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan meratapi mayat
(an-niyahah)”. (HR. Muslim 67)

Dari hadits, atsar, dan penjelasan ulama di atas telah jelas bagi kita bahwa berkumpul
dan makan makanan di tempat ahli mayit bukanlah perkara yang disunnah. Bahkan itu bid’ah
yang sangat dibenci. Semua ulama mu’tabar yang dalam keilmuannya telah menyepakati hal
ini, kecuali sedikit di antara orang-orang awam yang pendapat mereka diabaikan. Bahkan
yang menjadi sunnah (sebagaimana yang dijelaskan oleh ikatan ulama NU Tasikmalaya di
atas) adalah kita – para tetangga ahli mayat – yang membuatkan makanan serta
mengirimkannya kepada ahli mayat yang sedang ditimpa kesusahan.

Dasarnya adalah perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada para


shahabatnya ketika Ja’far bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu gugur di medan jihad :

‫اصنعوا آلل جعفر طعاما فإنه قد أتاهم أمر شغلهم‬

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far. Sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah
yang menyibukkan mereka” (HR. Abu Dawud nombor 3132, At-Tirmidzi nombor 998, Ibnu
Majah nombor 1610, dan lain-lain; shahih lighairihi).

Berkumpul dan makan makanan di keluarga mayit adalah perbuatan yang tidak disyari’atkan.
Dan bagi keluarga mayat, maka ia tidak perlu menyediakan makanan atau minuman yang
sengaja diperuntukkan kepada para tamu yang sedang ta’ziyah atau membantu pengurusan
jenazah. Jika dia melakukannya, maka ia sama saja mendorong orang untuk melakukan
perbuatan yang dilarang. Allah ta’ala berfirman :

ِ ‫اإلثْ ِم َو ْالعُد َْو‬


‫ان‬ ِ ‫ى َوالَ تَ َع َاونُواْ َعلَى‬ ‫َوت َ َع َاونُواْ َعلَى ْال ه‬
َ ‫بر َوالته ْق َو‬

“Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan kamu tolong-
menolong dalam dosa dan maksiat” (QS. Al-Maidah : 2). Allaahu a’lam.

G. SIKAP TERHADAP KEBUDAYAAN DALAM PRSEFEKTIF ISLAM

Tidak sedikit tradisi (adat-istiadat) yang mayoritas dianut oleh muslim di Indonesia sangat
jauh dari nilai-nilai murni dan shahih dari Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kita akan mudah menyaksikan, melihat, mengamati,
mendengar, merasakan bahkan turut terlibat dalam ritual tradisi yang turun temurun
diwariskan dari generasi ke generasi bahkan hingga di zaman digital hari ini.
Lalu jika demikian, apa yang harus kita lakukan sebagai muslim Indonesia yang terkenal
akan kekokohan tradisi leluhur, dan bagaimanakah seharusnya sikap kita?
Berbicara tentang adat-istiadat (tradisi) bukan lagi sesuatu yang langka bagi masyarakat
Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa istilah adat istiadat
mengacu pada tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi lain
sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat (Kamus
besar bahasa Indonesia,1988:5,6). Adapun makna lainnya adat-istiadat disebut sebagai suatu
hal yang dilakukan berulang-ulang secara terus menerus hingga akhirnya melekat, dipikirkan
dan dipahami oleh setiap orang tanpa perlu penjabaran. Di dalam adat-istiadat itulah kita akan
menemukan tiga wujud kebudayaan sebagaimana dijelaskan oleh pakar kebudayaan
Koentjaraningrat dalam bukunya; pertama wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai atau
norma. Kedua, wujud kebudayaan sebagai aktivitas atau pola tindakan manusia dalam
masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sebagaimana definisi tersebut maka tradisi (adat-istiadat) merupakan suatu kesatuan yang
terpolakan, tersistem dan terwariskan turun temurun. Nilai-nilai yang dianut dalam sebuah
tradisi pada masyarakat tertentu misalnya nilai sirri na pacce (harga diri dan rasa malu) di
Makassar adalah suatu kekayaan leluhur yang hingga hari ini masih diyakini masyarakat
Bugis-Makassar Sulawesi-Selatan. Bukan hanya di Makassar saja, masih begitu banyak
tradisi yang diagungkan oleh setiap suku di Indonesia dan menjadi sebuah kebanggaan dan
pemersatu antar suku bangsa.
Tradisi dalam kacamata Islam
Jika ditinjau dari sudut pandang Islam, Alqur’an sebagai pedoman hidup telah menjelaskan
bagaimana kedudukan tradisi (adat-istiadat) dalam agama itu sendiri. Karena nilai-nilai yang
termaktub dalam sebuah tradisi dipercaya dapat mengantarkan keberuntungan, kesuksesan,
kelimpahan, keberhasilan bagi masyarakat tersebut. Akan tetapi eksistensi adat-istiadat
tersebut juga tidak sedikit menimbulkan polemik jika ditinjau dari kacamata Islam.Tradisi
turun laut dengan membawa beberapa sajian makanan misalnya dipercaya dapat membawa
keberuntungan bagi para nelayan yang baru memiliki perahu agar kelak tidak terjadi
malapetaka. Bagaimana Islam memandang keyakinan dan ritual tersebut?
Islam sebagai agama yang syariatnya telah sempurna berfungsi untuk mengatur segenap
makhluk hidup yang ada dibumi dan salah satunya manusia. Ibnul
Qayyim rahimahullah pernah berkata: “Seluruh syari’at yang pernah diturunkan oleh Allah,
senantiasa membawa hal-hal yang manfaatnya murni atau lebih banyak (dibandingkan
kerugiannya), memerintahkan dan mengajarkannya…”
Setiap aturan-aturan, anjuran, perintah tentu saja akan memberi dampak positif dan setiap
larangan yang diindahkan membawa keberuntungan bagi hidup manusia. Salah satu larangan
yang akan membawa maslahat bagi manusia adalah menjauhkan diri dari kebiasaan-
kebiasaan nenek moyang terdahulu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hal tersebut
sebagaimana yang Allah firmankan dalam AlQur’an :
‫ّللا أَنزَ َل َما اتَّ ِبعوا لَهم قِي َل َو ِإذَا‬
َّ ‫يَهت َدونَ َو َل ئًاَشَي يَع ِقلونَ َل آبَاؤهم َكانَ أَ َولَو ۗ آبَا َءنَا لَي ِه ََع أَلفَينَا َما نَت َّ ِبع بَل قَالوا‬
[٢:١٧٠]
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka
menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami
(melakukannya).” Padahal,nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak
mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah:170)

‫ّللا أَنزَ َل َما إِلَى تَعَا َلوا َلهم قِي َل َوإِذَا‬ َّ ‫َو َل شَيئًا يَعلَمونَ َل مَآبَاؤه َكانَ أَ َولَو ۚ آبَا َءنَا َعلَي ِه َو َجدنَا َما َحسبنَا قَالوا‬
َّ ‫الرسو ِل َوإِلَى‬
َ‫[ يَهتَدون‬٥:١٠٤]
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan
(mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek
moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang
mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula)
mendapat petunjuk?” (QS Al-Maidah:104)
Kedua ayat tersebut menjelaskan kepada kita tentang orang-orang yang lebih patuh pada
ajaran dan perintah nenek moyangnya daripada Syariat yang diwahyukan oleh Allah didalam
Al-Qur’an. Seperti adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu pada ritual-ritual yang
menjanjikan keselamatan, ketenangan hidup, penolak bala yang menjadi salah satu tradisi
masyarakat Indonesia di berbagai daerah.
Lalu bagaimana sikap kita?
Adanya syariat tidak berupaya menghapuskan tradisi/adat –istiadat, Islam menyaringi tradisi
tersebut agar setiap nilai-nilai yang dianut dan diaktualisasikan oleh masyarakat setempat
tidak bertolakbelakang dengan Syariat. Sebab tradisi yang dilakukan oleh setiap suku bangsa
yang nota bene beragama Islam tidak boleh menyelisihi syariat. Karena kedudukan akal tidak
akan pernah lebih utama dibandingkan wahyu Allah Ta’ala. Inilah pemahaman yang esensi
lagi krusial yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Keyakinan Islam sebagai agama
universal dan mengatur segala sendi-sendi kehidupan bukan hanya pada hubungan
transendental antara hamba dan Pencipta tetapi juga aspek hidup lainnya seperti ekonomi,
sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Kadangkala pemahaman parsial inilah yang masih
diyakini oleh ummat Islam. Oleh karena itu, sikap syariat Islam terhadap adat-istiadat
senantiasa mendahulukan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Hadist dibanding adat atau tradisi.
‫ضى ِإذَا مؤ ِمنَة َو َل ِلمؤ ِمن َكانَ َو َما‬ َّ ‫ص َو َمن ۗ أَم ِرهِم ِمن ال ِخ َي َرة هم ََل َيكونَ أَن أَم ًرا َو َرسوله‬
َ َ‫ّللا ق‬ َّ ‫فَقَد َرسولَه ََو‬
ِ ‫ّللاَ َيع‬
َ ‫ض ََل ًل‬
‫ض َّل‬ َ ‫[ ُّمبِينًا‬٣٣:٣٦]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat, sesat yang nyata.” (QS.Al-Ahzab:36)
Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kepada kita untuk berIslam secara kaffah yaitu
secara batin dan dzahir. Seorang muslim tidak mencukupkan dirinya pada aspek ibadah,
tetapi lalai pada persoalan akidah, pun demikian pula sebaliknya memahami aqidah tetapi
lalai dari sisi ibadah. Seorang muslim juga tidak boleh lalai dalam memperhatikan akhlaknya
kepada Allah dan pada sesama manusia. Akhlak kepada Allah inilah yang dibuktikan dengan
sikap menerima, mentaati syariat Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
jika hal ini bisa teraktualisasi pada diri seorang muslim maka tidak akan kita temukan lagi
sikap menolak pada syariat baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya
(Koentjaraningrat, 1987).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebudayaan Islam mempunyai banyak beragam......
Kita sebagai umat Islam harus mengetahui sikap yang harus dilakukan terhadap
kebudayaan dalam tanpa menyimpang dari sunnah-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Footnote:
Al Wajiz Fi Idhahi Qawaid Al-Fiqh Al Kulliyyah, Oleh Dr.Muhammad
Shidqi Al Burnu 276.

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press

https://islami.co/sikap-islam-terhadap-budaya-lokal/

https://wahdah-or-id.cdn.ampproject.org/v/s/wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-
perspektif-
islam/amp/?amp_js_v=a2&_gsa=1&usqp=mq331AQCCAE%3D#referrer=https%3A%2F%2Fwww.g
oogle.com&_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwahdah.or.id%2Fmenyikapi-
tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam%2F

https://www.bacaanmadani.com/2018/02/10-contoh-tradisi-islam-di-nusantara.html?m=1

http://guntursatriajati.blogspot.com/2015/01/contoh-10-kebudayaan-dan-hukumnya-dalam.html?m=1