Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN AKHIR PRATIKUM

KARAKTERISTIK TEKNIK BAHAN HASIL PERTANIAN


“SIFAT FISIK GABAH DAN BERAS”

OLEH :
WAHYU HANDOKO (J1B116054)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karakter beras secara umum dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik padi merupakan faktor utama penentu karakter gabah dan beras.
Ukuran dan bentuk, warna, pengapuran (chalky), kandungan amilosa-amilopektin,
konsistensi gel, suhu gelatinisasi, dan aroma beras merupakan karakter yang
diturunkan secara genetik. Faktor lingkungan yang mempengaruhi karakter varietas
antara lain adalah butir kuning rusak, butir hijau mengapur, butir retak, dan kadar air
beras.
Karakteristik umum yang banyak mempengaruhi mutu beras di pasaran adalah
(1) ukuran dan bentuk, (2) derajat sosoh, (3) keterawangan, (4) kebersihan dan
kemurnian, (5) kepulenan dan Aroma beras, tidak seperti kebanyakan sereal lainnya,
dikonsumsi dalam bentuk butiran utuh. Dengan demikian sifat fisik beras seperti
ukuran, bentuk, keseragaman, dan kenampakan juga berperan penting dalam hal
mutu. Selanjutnya, karena beras mengalami proses penyosohan, maka sifat penting
yang menyangkut karakter fisik tersebut ditentukan terutama oleh butiran endosperm
beras.
Terdapat korelasi antara karakter beras yang dijual di pasaran dengan
preferensi beras yang dibeli konsumen. Semakin baik karakter beras makin disukai
oleh konsumen sehingga mereka membelinya untuk dikonsumsi. Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa konsumen di pedesaan dan kota di Jawa Barat
membeli beras dengan mempertimbangkan karakter fisik dan fisikokimia beras
(Rachmat et al. 2006)..

Ditinjau dari sisi penerapan standar mutu beras, karakter mutu yang paling
disukai konsumen dapat diartikan sebagai identifikasi status pemahaman dan
penerimaan standar atau kelas mutu beras yang ada.Preferensi konsumen terhadap
beras pada kelas mutu tertentu dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain
penampilan fisik beras, kepulenan nasi, budaya, dan tingkat sosial-ekonomi
konsumen. Konsumen mengapresiasi kesesuaian karakter beras yang disukai dengan
cara membayar insentif harga untuk tingkat mutu beras tertentu. Hasil identifikasi dan
pengujian mutu beras ini dapat digunakan sebagai bahan kajian pemilihan dan
pengembangan varietas padi dengan karakteristik mutu beras yang disukai di wilayah
setempat.

1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya pratikum ini yaitu :
a. Menentukan bulk density (g/cm3)
b. Menentukan angle of respose gabah dan beras (o)
c. Menentukan angle of friction gabah dan beras (o)
1.3 Manfaat
Manfaat dilaksanakannya pratikum ini yaitu :
a. Agar praktikan mampu memahami sifat fisik gabah dan beras.
b. Agar praktikan mampu membedakan Angle of respose dan Angle of friction.
c. Agar praktikan dapat mengetahui mana beras yang berkulitas baik mana yang
tidak.
d. Agar mampu menentukan sifat fisik gabah dan beras serta menentukan faktor
ilmiah yang mempengaruhi sifat tersebut.
e. Agar praktikan memahami tentang sifat fisik utama dari bahan pertanian
terutama gabah dan beras sebagai hasil pertanian yang paling utama untuk
penelitian dimasa mendatang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sifat fisik bahan pertanian merupakan faktor yang sangat penting dalam
masalah-masalah dalam merancang suatu alat khusus untuk suatu produk pertanian
atau analisa perilaku produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik
pertanian adalah bentuk, ukuran, luas permukaan, warna, penampakan, berat,
prositas, densitas, dan kadar air.
Angle of repose merupakan sifat teknik dari suatu bahan berbentuk granular
yang dituang dalam suatu permukaan horizontal yang akan membentuk
suatugundukan berbentuk kerucut. Sudut antara permukaan gundukan terhadap
permukaan horizontal inilah yang disebut dengan angle of respose. (Adhiguna, 2013)
Angle of friction adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan kayu dengan
bidang horizontal, pada saat gabah diatas permukaan tersebut karena gaya berat. Gaya
berat adalah massa partikel yang menempati satu unit volume tertentu. Densitas bulk
ditentukan dengan oleh berat wadah yang diketahui volumenya dan merupakan hasil
pembagian dengan berat granular dengan volume wadah. Porositas merupakan bagian
yang tidak ditempati oleh partikel atau bahan padatan.
Kriteria untuk bentuk dan dapat dibagi atas berbagai macam diantaranya:
1. Charterd Standards (Gambar standar)
Yaitu dengan mengukur penampang memanjang dan menglintang akan
menghasilkan gambar standar. Contoh: round, oblate, oblong, cone, dan lain-
lain. Charted standard sangat sederhana namun bersifat sangat subjektif.
2. Roundnes
Yaitu ukuran keruncingan sudut dari suatu bahan padat. Ada beberap
persamaan untuk melakukan perhitungan dengan roundness diantaranya:
Rd= Ap/Ac atau Rd= r/R atau Rd= dr/dt
3. Sphericity
Yaitu perbandingan antara luas permukaan bola yang mempunyai volume
sama dengan diameter bak terkecil yang dapat mengelilingi objek. Nilai dari skala
penentuan sphericity dorentang dari 0-1. Dimana jika suatu benda mendekati nilai 1
maka benda tersebut dapat dinyatakan mendekati nilai kebulatan.
Asumsi dari bahan yang dianggap memiliki bentuk ellips. Sphericity secara
jelas dapat dijelaskan dengan rumus:
Sphericity= (volume bahan/volume bola yang mengeliling)^1/3
4. Reseblance to Geometric Bodies (Kemiripan dengan Benda Geometris)
Yaitu penentuan sifat fisik suatu benda dengan benda standar yang selain
standar tersebut dihubungkan dengan benda geometri. Benda geometri yang
dimaksud dapat dikelompokkan menjadi:
a. Bulat memanjang (prolate spheroid)
b. Bulat membujur (oblate spheroid)
c. Kerucut berputar/silinder.
Dimana dapat didefinisikan masing-masingnya sebagai berikut:
a. Bulat memanjang (prolate spheroid)
Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah bentuk ellips berputar pada sumbu
panjangnya. Contoh : lemon.
b. Bulat membuju (oblate spheroid)
Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah ellips berputar pada sumbu
pendeknya. Contoh : anggur.
c. Kerucut berputar/silinder
Yaitu bentuk yang menyerupai kerucut/ tabung. Contoh: wortel dan timun.
Bahan pada pangan biasanya berbentuk cairan dan padatan, meskipun
demikian bukan berarti bahan mengandung air tidak mengandung bahan padatan
begitu juga sebaliknya. Bahan pangan juga memiliki sifat cair seperti airan encer.
Kedua sifat inilah yang dinamakan sifat alir bahan pangan.
Beras adalah butiran padi yang telah dibuang, namun kulit sekam telah
menjadi bagian bagian kasar yang secara konvensional disebut dengan dedak. Gabah
merupakan hasil panenpad dari tangkai induknya. Gabah tersusun atas 15-30% kulit
luar atau sekam, 4-5% kulit ari, 12-14% katul, 65-67% endosperm dan sisanya
merupakan lembaga.
Sekam membentu jaringan keras sehingga menjadi perisai pelindung bagi
butir beras terhadap pengaruh luar. Kulit ari bersifat kedap terhadap oksigen, karbon
dioksida, dan kedap air. Sehingga dapat melindungi butir beras dari kerusakan
oksidasi dan enzimatis. Lapisan katul merupakan lapisan yang banyak mengandung
vitamin B1, B2, B6, B12, dan niasir. Endosperm merupakan bagian utama dari butir
beras dengan pati sebagaikomposisi utamanya. Endosperm juga mengandung protein
dan selulosa dalam jumlah banyak serta vitamin dan mineral dalam jumlah kecil.
Berikut ini dikemukakan secara umum kritera dan mutu beras diantaranya:
1. Mutu Pasar
Mutu beras dipasaran umumnya berkaitan dengan harga beras tersebut. Dalam
kaitan ini Badan Logistik (Bulog) telah menetapkan ciri penetapan mutu beras yang
akan dibeli badan tersebut. Namun ketentuan ini tidak berlaku dipasar bebas. Ukuran
beras adalah panjang butiran beras utuh menggunakan mikrometer.
2. Mutu Rasa
Mutu rasa beras yang dapat dijadikan tolak ukur memiliki sifat subjektif yang
dipengaruhi oleh daerah, suku bangsa, dan sebagainya. Meskipun belum ada
ketentuan yang pasti untuk menetapkan mutu beras, namun mutu rasa sudah menjadi
acuan memperkirakan jenis varietas dari produk tersebut.
3. Mutu Tanak
Yaitu persyaratan utama dalam pengolahan beras dalam dunia internasional.
Hal ini telah diterapkan dalam penerapan mutu beras di Amerika. Ciri utama dari
mutu tanak adalah pengembangan volume, kemampuan mengikat air, stabilitas
pengalengan nasi, lama waktu dalam penanakan, serta viskositas padi yang digunakan
tesebut.
4. Komposisi Beras
Kandungan standar gizi beras adalah sebesar 360 kalori ,protein sebesar 6,8
gram, kalsium 6 mg dan zat besi 8 mg. Salah satu faktor yang mempengaruhi biologis
tanah adalah suhu. Perubahan secara kimia pada proses penyimpanan secara cepat
dapat terjadi pada tingkat suhu 30-40°C, sedangkan pada tingkatan suhu lebih dari itu
akan menyebabkan hilangnya daya kecambah dari gabah.
Butiran-butiran gabah memiliki karakteristik bentuk dan beragam, tergantung
varietasnya. Secara umum, subspecies padi yang ditanam di dunia dapat dibedakan
menjadi 3 jenis yaitu Japonica,Javanica, dan Indica. Padi jenisJaponica memiliki
bentuk butiran gabah pendek membulat, sedangkan pdadi jenis Indica memiliki
bentuk butiran bulat memanjang. Di Indonesia jenis padi yang banyak ditanam yaitu
padi jenis Indica. Butiran gabah dapat diuraikan menjadi bagian-bagian. Secara garis
besar, bagian-bagian gabah dapat dibedakan mejnadi tiga bagian. Bagian paling luar
disebut sekam. Sekam tersusun dari palea, lemma, dan glume. Bagian keduadisebut
bagian bekatul. Bagian bekatul tersusun atas lapisan luar, lapisan tengah, lapisan
silang, testa, dan aleuron, sedangkan lapisan yang paling dalam disebut endosperm.
Gabah hasil panen kemudian diproses lebih lanjut menjadi beras melalui proses
penggilingan. Tahapan pascapanen tanaman padi meliputi perontokan, pengangkutan,
pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengemasan. Salah satu tahapan
pascapanen yang peting yaitu proses penggilingan. Pada tahapan ini, gabah yang
sudah siap digiling atau Gabah Kering Giling (KGK) akan diproses menjadi beras
putih yang siap dikonsumsi (Purba, 2012).
Dilihat dari segi kandungan gizi, butiran beras mengandung 70-75%
karbihidrat, 6-7,5% protein, 3 % lemak, dan sedikit vitamin B2. Karbohidrat dan
protein terdapat di dalam lapisan bekatul dan endosperm, sebagian besar lemak dan
vitamin B2 terdapat dalam bekatul. Kandungan protein pada endosperm berpengaruh
pada rendemen beras kepala dan derajat keputihan butiran. Kadar protein yang tinggi
membuat butiran menjadi keras sehingga cenderung tidak patah pada saat
penyosohan atau berat sosoh. Berat sosoh adalah tingkat terlepasnya lapisan bekatul,
lembaga, dan edikit endosperm dan butiran beras. Penilaian derajat sosoh :
a. Perhitungan berat bekatul yang terlepas setelah proses penyosohan.
b. Menggunakan pembanding standar derajat sosoh beras secara visual dengan
bantuan alat kaca pembesar.
c. Menggunakan alat Satake Milling Meter MM-1C atau whiteness meter.
Selain itu butiran beras juga tahan terhadap gesekan sehingga hanya sedikit
bangian endosperm yang terkikis. Akibatnya, derajat sosoh akan menjadi rendah.
Kualitas fisik gabh terutama ditentukan oleh kadar air dan kemurnian gabah.
Kadar air gabah adalah jumlah kandungan air di dalam butiran gabah yang biasa
dinyatakan dalam satuan (%) dan dari berat basah (wet basis). Sedangkan tingkat
kemurnia gabah merupakan persentase berat gabah bernas terhadapberat keseluruhan
campuran gabah. Makin banyak benda asing atau gabah hampa atau rusak di dalam
campuran gabah maka tingkat kemurnian gabah akan menurun. Kemudian gabah
dipengaruhi oleh adanya butir yang tidak bernas seperti butir hampa, butir-butir
tanah, batu-batu kerikil, potogan kayu, potongan logam, angkai padi, biji-bijian lain,
bangkai serangga hama, serat karung, dan sebagainya. Termasuk pula dalam kategori
kotoran adalah butiran-butiran bagah yang telah terkelupas dan gabah patah. Kualitas
gabah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas berasyan dihasilkan. Kualitas gabah
yang baik akan berpengaruh pada tingginya rendemen giling. Rendemen giling adalah
persentase berat sosoh terhadap berat gabah yang digiling.
Kadar air yang optimal untuk melakukan penggilingan adalah 13-15%. Pada
kadar air yang lebih tinggi gabah sulit terkelupas, sedangkan pada kadar air yang
lebih rendah butiran gabah menjadi mudah patah. Gabah yang baru panen (GKP),
memiliki kadar air antara 20-27%. Apabila gabah disimpan sebelum digiling kadar
airnya harus diturunkan terlebih dahulu dengan cara dikeringkan sampai kadar air
maksimum 18%. Pada kadar air ini gabah disebut gabah kering simpan (GKS).
Sebelum digiling GKS dikeringkan lagi hingga kadar air sekitar 13-15%.
Gabah kering panen yang memiliki kadar air sekitar 20% akan menurun
beratsnya sebanyak 7% setelah mengalami proses pengeringan hingga menjadi gabah
kering giling yang memiliki kadar air sekitar 14%. Apabila tidak langsung digiling,
gabah terlebih dahulu disimpan dalam bentuk gabah kering giling. Gabah kering
giling yang memiliki kadar air sekitar 14% dan kotoran sekitar 3% dianggap sebagai
bobot awal (100%) yang merupakan masukan terhadap proses penggilingan. Proses
penggilingan padi diawali dengan pembersihan awal untuk membersihkan kotoran-
kotoran yang berjumlah kira-kira 3% dari bobot gabah awal. Selanjutnya gabah
mengalami proses pemecahan kulit, dimana sekam yang berbobot 20% dari bobot
gabah awal-awal terlepas dari butiran gabah, dan akan tersisa beras pecah kulit
sebanyak 77%. Beras pecah kulit kemudian melalui proses penyosohan untuk
memisahkan bekatulnya dan untuk mendapat warna beras yang mengkilap. Akibat
proses ini diperoleh bekatul sebanyak 10% dari berat gabah awal. Beras kepala
sebanyak 52%. Persentase sekam dan bekatul sematat-mata disebabkan oleh
perbedaan varietas padi, sedangkan persentase beras patah dan beras kepala banyak
dipengaruhi oleh kinerja mesin yng dipakai.
Kadar air merupakan salah satu fisik dari bahan yang menunjukkan
banyaknya air yang terkandung di dalam bahan. Kadar air biasanya digunakan dalam
persentase berat air terhadap bahan basah atau dalam gram air untuk setiap 100gram
bahan yang disebut dengan kadar air basis basah (bb). Berat bahan kering atau
padatan adalah setelah mengalami pemanasan beberapa waktu tertentu
sehingga beratnya tetap.
Cara pengerigan secara umum ke dalam empat golongan menurut suhu udara
pengeringnya :
a. Cara pengeringan dengan suhu sangat rendah.
b. Cara pengeringan dengan suhu rendah.
c. Cara pengeringan dengan suhu tinggi.
d. Cara pengeringan dengan suhu sangat tinggi.
BAB III
METODOLOGI PRATIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pratikum kuliah karakteristik teknik bahan hasil pertanian dengan judul sifat
fisik gabah dan beras dilaksanakan pada hari rabu, 10 oktober 2018 pukul 08.00 s/d
selesai diruang laboratorium analisis fakultas teknologi pertanian Universitas Jambi.

3.2 Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan pada pratikum ini diantaranya timbangan
digital/manual, Varnier Caliper/jangka sorong, Micrometer sekrup, pipa dengan
diameter 21 cm, busur, papan triplek (40x40) cm dan plat tipis (40x40) cm.
sedangkan alat yang digunakan pada pratikum ini yaitu beras dan gabas seberat 1 kg.

3.3 Metoda Pratikum


a. Ukur panjang (dmayor), lebar (dmoderat) dan tebal (dminor) untuk padi dan beras
menggunakan Varnier Caliper atau jangka sorong. Sample pada masing-
masing bahan yang digunakan sebanyak 10 butir. Data yang didapat
selanjutnya dimasukkan pada tabel sample bahan dan hitunglah nilai rata-
ratanya.
b. Tentukan jenis gabah berdasarkan ukuran panjangnya.
dmayor Jenis
> 7,5 mm Sangat panjang
6,5 < dmayor < 7,5 mm Panjang
5,5 < dmayor < 6,5 mm Sedang
< 5,5 mm Pendek

c. Tentukan jenis beras berdasarkan ukuran dan panjangnya


dmayor Jenis
> 7,0 mm Sangat panjang
6,0 < dmayor < 7,0 mm Panjang
5,0 < dmayor < 6,0 mm Sedang
< 5,0 mm Pendek

d. Tentukan subjenis atau rasio untuk padi (dmayor/dmoderat)


Rasio Jenis
> 3,0 mm Slender
2,0 < rasio < 3,0 mm Bold
< 2,0 mm Round

e. Tentukan bulk density bahan, yaitu : perbandingan masa dengan volume.


𝑚
Bulk density = 𝑣

Dimana : m = massa dari bahan (g)


v = volume tabung (V) – 1/4 d2 t

f. Tentukan angle of respose, yaitu : tuangkan 1 kg bahan diatas bidang datar


dan selanjutnya ukur sudut kemiringan tumpukan bahan.

𝑡
Angle of respose = Arc tan 𝑑

g. Tentukan angle of friction, yaitu : letakkan10 butir masing-masing bahan


diatas permukaan bidang datar (triplek / plat tipis), selanjutnya miringkan
bidang pelan-pelan dan ukurlah besar sudut kemiringan bidang pada
saatbahan meluncur.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengukuran gabah dan beras dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Pengukuran
No Bahan Parameter Nilai
1 Gabah dmayor 8,54 mm
dmoderat 3,43 mm
dminor 2,18 mm
Beras dmayor 7,72 mm
dmoderat 2,80 mm
dminor 2,05 mm

2 Gabah Ratio 2,56 mm


Beras Ratio 2,76 mm
3 Gabah Sphericity :
Sampel 1 5,13 mm
Sampel 2 6,60 mm
Sampel 3 4,05 mm
Sampel 4 7,77 mm
Sampel 5 8,58 mm
Sampel 6 5,67 mm
Sampel 7 9,75 mm
Sampel 8 10,53 mm
Sampel 9 8,58 mm
Sampel 10 9,36 mm
Beras Sphericity :
Sampel 1 5,04 mm
Sampel 2 8,14 mm
Sampel 3 8,14 mm
Sampel 4 5,46 mm
Sampel 5 7,77 mm
Sampel 6 4,08 mm
Sampel 7 5,04 mm
Sampel 8 5,04 mm
Sampel 9 4,32 mm
Sampel 10 4,81 mm

4 Gabah Bulk Density 0,25 g/mm3


Beras Bulk Density 0,21 g/mm3
5 Gabah Angle Of Respose (menggunakan rumus) 14,57o
Angle Of Respose (menggunakan sudut kemiringn) 35o
Beras Angle Of Respose (menggunakan rumus) 16,17o
Angle Of Respose (menggunakan sudut kemiringn) 25o
6 Gabah Angle Of Friction
Menggunakan Triplek 39,66o
Menggunakan Plat Tipis 15o
Beras Angle Of Friction
Menggunakan Triplek 35,33o
Menggunakan Plat Tipis 12,66o

Pada praktikum sifat fisik gabah dan beras ini dimana telah diketahui bahwa
antara gabah dan beras memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk masing-masing
bahan (gabah dan beras) diambil sampel secara acak sebanyak 10 buah sampel dari
masing-masing bahan yang ukurannya berbeda. Dalam menentukan dmayor,
dmoderat, dan dminor harus diperhatikan nilai pengukuran bahan. Maksudnya adalah
agar tidak terjadi kekeliruan terhadap nilai dmoderat, dan dminor. Karena
kebanyakan pembacaan data antara dmoderat, dan dminor sering salah tempat. Nilai
dari dmoderat akan selalu lebih besar dibandingkan dengan dminor.
Dari data gabah secara rata-rata didapatkan nilai dmayor, dmoderat, dan
dminor berturut-turut adalah8,54 mm, 3,43 mm dan 2,18 mm. Sedangkan dari data
rata-rata yang didapatkan dari nilai dmayor, dmoderat, dan dminor dari beras adalah
7,72 mm, 2,80 mm dan 2,05 mm. Dari data ini menunjukkan bahwa nilai dari
dmayor, dmoderat, dan dminor dari gabah akan lebih besar dibandingkan nilai
dmayor, dmoderat, dan dminor dari beras. Faktor yang menyebabkan perbedaan nilai
ini adalah karena beras merupakan bahan dari gabah yang telah kehilangan sekam.
Untuk kasus ini berlaku jika bahan yang dibandingkan berasal dari varietas yang
sama. Namun pada varietas berbeda perbandingan ini tidak berlaku karena boleh jadi
suatu varietas memang ukurannya pendek atau panjang. Tetapi untuk ratio gabah dan
beras ini nilai tererndahnya adalah gabah dikarenakan nilai perbandingan dmayor dan
dmoderat yang lebih besar dibandingkan dengan beras.
Untuk hasil dari sphericity didapatkan nilai yang berbeda dari sampel 1
sampai sampel 10 karena dari bentuk, ukuran yg berbeda dari sampel 1 sampai
dengan sampel 10.
Dari data Bulk density didapatkan nilai gabah 0,25 g/mm3 dan beras 0,21
g/mm3. Dapat dilihat pada data tersebut bahwa nilai Bulk density gabah lebih besar
daripada beras karena perbandingan antara masa 1000g dengan volume
4005,855 mm3 yang lebih kecil daripada nilai perbandingan masa 1000g dan volume
4749,25 mm3 beras yg lebih besar maka didapatkan nilai Bulk density gabah yang
lebih besar yaitu 0,25 g/mm3 sedangkan beras 0,21 g/mm3. Dari perbedaan data ini
dapat diambil kesimpulan bahwa beras sebagai bahan pangan yang bersifat
mengambil banyak tempat dengan jumlah persatuan unit yang lebih banyak. Hal ini
menunjukkan bahwa beras lebih bulky atau menempati ruang yang sama dengan
massa lebih besar dibandingkan dengan gabah.
Sedangkan hasil perhitungan angle of respose dengan pengamatan secara
manual dengan menggunakan alat berupa busur dan menggunakan perhitungan
dengan rumus pada masing-masing bahan terutama pada pencarian nilai dari angle of
friction. Dalam menentukan angle of respose dari gabah dan beras dilakukan secara
manual dimana nilai angle of respose masing-masing adalah 35o untuk gabah dan 25o
untuk beras. Hasil yang berbeda ini dipengaruhi secara langsung oleh permukaan
gabah dan beras yang berbeda. Dimana permukaan gabah lebih kasar dibandingkan
dengan permukaan beras. Sehingga daya saling memegang antar bahan pada gabah
lebih besar dibandingkan dengan beras.
Dari data angle of friction dari gabah dan beras didapatkan 39,66o gabah pada
triplek dan 35,33o beras pada triplek pula. Sedangkan pada plat tipis pada gabah
senilai 15o sedangkan pada beras sebesar 12,66o. Hampir sama dengan penjelasan
pada angle of respose dimana nilai pada angle of friction dipengaruhi oleh permukaan
benda/bahan juga dipengaruhi oleh permukaan benda peluncur (triplek dan plat tipis)
dimana permukaan pada plat tipis yang lebih licin dan triplek yang sedikit kasar.
Dalam hal ini nilai angle of friction pada plat tipis lebih rendah disbanding
angle of friction pada triplek disebabkan karena koefisien gesek dari plat tipis lebih
rendah. Hal inilah yang menyebabkan banyak alat pada pengolahan pertanian lebih
sering menggunakan plat tipis terutama jenis plat stainless stell. Kritria gabah dan
beras dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kriteria Gabah dan Beras
No Bahan Parameter Jenis
1 Gabah dmayor Sangat panjang
Beras dmayor Sangat panjang
2 Gabah Ratio Bold
Beras Ratio Bold

Untuk kriteria dari gabah dan beras didapatkan jenis panjang (dmayor) dari
gabah sangat panjang dari ukuran nilai dmayor > 7,5 mm yaitu 8,54 mm dan untuk
beras didapat kan jenis panjang (dmayor) sangat panjang dari ukuran nilai dmayor > 7,0
mm yaitu 7,72 mm. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata nilai dmayor untuk beras dan
gabah yaitu sangat panjang dari uji sampel yang sudah dilakukan. Faktor yang
menyebabkan perbedaan antara nilai gabah dan beras ini adalah karena beras
merupakan bahan dari gabah yang telah kehilangan sekam.
Sedangkan hasil dari ratio gabah dan beras didapatkan jenis bold yaitu tebal
dari beberapa sampel yang telah diuji.
Karakteristik fisik dan fisikokimia beras konsumsi diIndramayu, Cianjur, dan
Ciamis, Jawa Barat, identik dengan karakter dari unit penggilingan padi dan
pedagang pasar, yakni memiliki butiran kering, panjang, dan ramping, berwarna
putih, persentase beras kepala tinggi, tingkat kepulenan dan tekstur nasi sedang.
Karakteristik mutu beras tersebut, relatif sama dengan standar beras pengadaan dalam
negeri. Karakter beras yang teridentifikasi sesuai dengan kriteria yang diinginkan unit
penggilingan dan pedagang beras (Wibowo et al. 2009)
Pemahaman dan penyadaran tentang mutu beras di tingkat penggilingan dan
pedagang masih rendah. Sosialisasi standar dan labeling komponen mutu beras perlu
dilakukan secara intensif agar pemilik penggilingan dan pedagang termotivasi
meningkatkan mutu berasnya agar memiliki nilai jual yang lebih baik (Wibowo et al.
2009).
Hasil identifikasi karakter mutu beras ini diharapkan bermanfaat bagi pemula
dalam perbaikan karakter dan perakitan varietas unggul baru (Wibowo et al. 2009).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu, kita dapat menetukan angle of
respose danangle of friction gabah dan beras baik secara manual maupun dengan
perhitungan rumus. Dimana angle of respose dipengaruhi oleh luas gundukan pada
beras dan gabah dimana nilai angle of respose dari beras lebih tinggi dibandingkan
dengan dengan angle of friction dari gabah. Hal ini disebabkan karena permukaan
gabah yang lebih kasar yang disebabkan permukaan sekam sehingga setian bahan
saling memegang satu sama lain sehingga besarnya nilai sudut menjadi rendah.
Sedangkan nilai angle of friction dari beras lebih kecil dibanding dengan
angle of friction gabah baik itu pada peluncur berupa triplek dan plat tipis . Dimana
hal ini disebabkan karena permukaan beras dan peluncur yang halus ditambah dengan
kemiringan tertentu sehingga nilai sudut yang ditimbulkan juga semakin kecil. Faktor
yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah perbedaan koefisien gesek beras lebih
kecil dengan koefisien gesek gabah.
5.2 Saran
Saran dalam melakukan praktikum ini adalah agar dalam praktikum serius
dalam melakukan pengukuran karena nantinya data yang diperoleh akan berakibat
pada perbandingan dengan data acuan sebenarnya. Selanjutnya dalam melakukan
praktikum ini harus lebih memahami teori diawal sebelum praktikum sehingganya
nanti pada saat melakukan praktikum praktikan telah dapat memahami secara jelas
apa yang harus dilakukan didalam laboratorium.
Kemudian yang paling penting adalah kekompakan anggota kelompok dalam
melakukan praktikum. Hal ini penting karena tanpa adanya koordinasi yang baik
antar anggota kelompok akan meyebabkan terjadinya kesalahpahaman. Misalkan jika
dalam melakukan pengambilan data objek hanya dilakukan oleh satu orang tanpa
adanya pembagian tugas yang jelas maka proses praktikum akan berjalan cukup lama.
DAFTAR PUSTAKA

Adhiguna, Rizky Tirta. 2013. Karakteristik Tenik Sifat Reologi Pada Produk
Pertanian. Jakarta : Erlangga.
Listyawati, 2007. Kajian Susut Pasca Panen dan Pengaruh Kadar Air Gabah
Terhadap Mutu Beras Giling Varietas Ciherang. Skripsi. Fakultas
Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Purba. 2012. Teknologi Produksi Benih Gabah dan Beras. Bandung : ITB.
Rachmat, R., R. Thahir, and M. Gummert. 2006. The empirical relationship between
price and quality of rice at market level in West Java. Indonesian Journal
of Agricultural Science 7(1):27-33.
Wibowo, prihadi. S. Dewi Indrasari, and Jumali. 2009. Identifikasi Karakteristik dan
Mutu Beras di Jawa Barat. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol. 28
No. 1 2009.
LAMPIRAN

Perhitungan dmayor dmoderat dminor gabah


7,8+7,6+8,3+8,9+9,9+8,9+8,5+8,1+8,3+9,1
dmayor = = 8,54 mm
10
2,7+3,0+2,7+3,7+3,9+2,7+3,9+3,9+3,9+3,9
dmoderat = = 3,43 mm
10
1,9+2,2+1,5+2,1+2,2+2,1+2,5+2,7+2,2+2,4
dminor = = 2,18 mm
10

Perhitungan dmayor dmoderat dminor beras


8,7+8,7+7,8+7,2+7,5+7,2+7,6+7,8+7,5+7,2
dmayor = = 7,72 mm
10
2,4+3,7+3,7+2,6+3,7+2,4+2,4+2,4+2,4+2,3
dmoderat = = 2,80 mm
10
2,1+2,2+2,2+2,1+2,1+1,7+2,1+2,1+1,8+2,1
dminor = = 2,05 mm
10

Perhitungan ratio gabah


dmayor 8,54 𝑚𝑚
Ratio = = = 2,56 mm
dmoderat 3,43 𝑚𝑚
Perhitungan ratio beras
dmayor 7,72 𝑚𝑚
Ratio = = = 2,76 mm
dmoderat 2,80 𝑚𝑚

Perhitungan sphericity gabah


(𝑎 𝑥 𝑏 𝑥 𝑐)
Sphericity =
𝑎
7,8 𝑥 2,7 𝑥 1,9
Sample 1 = =,5,13 mm2
7,8
7,6 𝑥 3,0 𝑥2,2
Sample 2 = 7,6
=,6,6 mm2
8,3 𝑥 2,7 𝑥 1,5
Sample 3 = =,4,05 mm2
8,3
8,9 𝑥 3,7 𝑥 2,1
Sample 4 = =,7,77 mm2
8,9
9,9 𝑥 3,9 𝑥 2,2
Sample 5 = =,8,58 mm2
9,9
8,9 𝑥 2,7 𝑥 2,1
Sample 6 = =,5,67 mm2
8,9
8,5 𝑥 3,9 𝑥 2,5
Sample 7 = =,9,75 mm2
8,5
8,1 𝑥 3,9 𝑥 2,7
Sample 8 = =,10,53 mm2
8,1
8,3 𝑥 3,9 𝑥 2,2
Sample 9 = =,8,58 mm2
8,3
9,1 𝑥 3,9 𝑥 2,4
Sample 10 = =,9,36 mm2
9,1

Perhitungan sphericity beras


(𝑎 𝑥 𝑏 𝑥 𝑐)
Sphericity =
𝑎
8,7 𝑥 2,4 𝑥 2,1
Sample 1 = =,5,04 mm2
8,7
8,7 𝑥2,2 𝑥 3,7
Sample 2 = =,8,14 mm2
8,7
7,8 𝑥 3,7 𝑥 2,2
Sample 3 = =,8,14 mm2
7,8
7,2 𝑥 2,6 𝑥 2,1
Sample 4 = =,5,46 mm2
7,2
7,5 𝑥 3,7 𝑥 2,1
Sample 5 = =,7,77 mm2
7,5
7,2 𝑥 2,4 𝑥 1,7
Sample 6 = =,4,08 mm2
7,2
7,6 𝑥 2,4 𝑥 2,5
Sample 7 = =,5,04 mm2
8,5
7,8 𝑥 2,4 𝑥 2,1
Sample 8 = =,5,04 mm2
7,8
7,5 𝑥 2,4 𝑥 1,8
Sample 9 = =,4,32 mm2
7,5
7,2 𝑥 2,3 𝑥 2,1
Sample 10 = =4,81 mm2
7,2
Perhitungan Bulk density gabah
𝑚 1000𝑔 1000𝑔 1000𝑔
= = = = 0,25𝑔/𝑚𝑚3
𝑣 1 2 1 2 4005,855
4𝜋 𝑑 𝑡 4 𝑥 3,14 𝑥 27 𝑥 7
Perhitungan Bulk density beras
𝑚 1000𝑔 1000𝑔 1000𝑔
= = = = 0,21𝑔/𝑚𝑚3
𝑣 1 2 1 2 4749,25
4𝜋 𝑑 𝑡 4 𝑥 3,14 𝑥 27,5 𝑥 7

Perhitungan Angle of repose Gabah


8
𝑎𝑟𝑐 tan = 𝑎𝑟𝑐 tan 0,29 = 16,17𝑜
27,5
Perhitungan Angle of repose Beras
7
𝑎𝑟𝑐 tan 27 = 𝑎𝑟𝑐 tan 0,26 = 14,57𝑜

Perhitungan Angle of friction Gabah dengan 3 kali pengulangan dengan


menggunakan triplek
40𝑜 + 42𝑜 + 37𝑜
= 39,66𝑜
3
Perhitungan Angle of friction Gabah dengan 3 kali pengulangan dengan
menggunakan plat tipis
15𝑜 + 15𝑜 + 15𝑜
= 15𝑜
3
Perhitungan Angle of friction Beras dengan 3 kali pengulangan dengan menggunakan
triplek
36𝑜 + 34𝑜 + 36𝑜
= 35,33𝑜
3
Perhitungan Angle of friction Beras dengan 3 kali pengulangan dengan menggunakan
plat tipis
13𝑜 + 12𝑜 + 13𝑜
= 12,66𝑜
3
DOKUMENTASI