Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tidak menular telah menyebabkan kematian lebih dari 36

juta orang setiap tahun yaitu 63% dari seluruh kematian. Penyakit tidak

menular yang terjadi sebelum usia 60 tahun telah menyebabkan lebih dari 9

juta kematian, dan 90% dari kematian dini terjadi di negara dengan

penghasilan rendah dan menengah (Kementerian Kesehatan RI, 2014-a).

Menurut data Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas (2013),

prevalensi kanker di Indonesia 13,2 jiwa penduduk dan membutuhkan

pengobatan dini. Angka itu naik dibandingkan Riskesdas 2007 yang sebesar

8,3 persen. Sedangkan kasus tertinggi kanker dijawa tengah yaitu sebesar

3.986 kasus (17,91%). Di Kota Semarang terdapat proporsi sebesar 3,18%.

Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Sukoharjo yaitu 3.164

kasus (14,22%) dan apabila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan di

Kabupaten Sukoharjo adalah sebesar 10,99.

Satu dari 10 kematian disebabkan oleh kanker (Ennen, 2004;

kanker menjadi penyebab kematian ke 5 di indonesia setelah jantung, stroke,

saluran pernafasan dan diare. Marsh & Keyrouz, 2010; American Heart

Association, 2014; kanker forum, 2015). Secara global, 15 juta orang terserang

kanker setiap tahunnya, satu pertiga meninggal dan sisanya mengalami

kecacatan permanen (Kanker forum, 2015). Kanker merupakan penyebab


utama kecacatan dan kematian yang tidak dapat dicegah (American Heart

Association, 2014 dalam Hasan, 2018).

Kanker merupakan urutan ke 5 sebagai penyebab utama

kematian di Indonesia. Pada tahun 2012, kanker telah menyebabkan

kematian sebanyak 328.500 orang. Jumlah penderita penyakit kanker di

Indonesia pada tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga medis diperkirakan

ada sebanyak 1.236.825 orang, dan berdasarkan diagnosis tenaga medis atau

gejala diperkirakan ada sebanyak 2.137.941 orang (Kementerian Kesehatan

RI, 2014-a).

jumlah penderita kanker yang menjalani kemoterapi sepanjang

September sampai Nopember tahun 2012 sebanyak 153 orang. Salah satu

terapi yang digunakan untuk kanker adalah kemoterapi, terutama terhadap

kanker sistemik dan kanker dengan metastasis klinis ataupun subklinis

(Dessen, 2018).

Pada kanker stadium lanjut lokal, kemoterapi sering menjadi satu-


satunya metode pilihan yang efektif (Desen, 2008). Meskipun sering menjadi
terapi pilihan utama, kemoterapi menyebabkan banyak efek samping
diantaranya mual muntah, gangguan keseimbangancairanelektrolitdan
stomatitis. Kondisi ini dapat menjadi sesuatu yang membuat cemas dan stres
pada pasien yang terkadang membuat pasien memilih untuk menghentikan
siklus terapi dan berpotensi untuk mempengaruhi harapan hidup dimasa depan.
(Hesket, 2008; Smeltzer, Bare, Hinkle., & Cheever, 2008).
Kecemasan yang dialami pasien kanker dapat timbul akibat perasaan
ketidakpastiantentangpenyakit, pengobatan, dan prognosa (Shaha, 2008).
Kecemasan yang tidak diatasi dengan baik dapat menimbulkan rangsangan
pada kortek serebri yang selanjutnya dapat menstimuli pusat muntah, sehingga
memungkinkan untuk terjadinya peningkatan keluhan mual dan muntah akibat
kemoterapi. Kecemasan juga dapat memperberat keluhan mual dan muntah,
dan mual dan muntah itu sendiri dapat menimbulkan kecemasan. Sehingga
merupakan lingkaran setan yang harus diputuskan melalui berbagai upaya.

Untuk mengatasi efek psikologi pada pasien kanker yang menjalani


kemoterapi dapat diberikan psikoterapi yang salah satunya adalah dengan
memberikan terapi perilaku. Salah satu bentuk terapi perilaku adalah terapi
relaksasi. Terapi relaksasi yaitu suatu metode terapi melalui prosedur relaksasi
otot, agar pasien secara sadar mengendalikan aktivitas faal dan psikis,
memperbaiki kondisi disfungsi faal psikis, sehingga berhasil menstabilkan
emosi dan mengatasi gejala penyakitnya terutama kecemasan akibat regimen
kemoterapi. Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi
kecemasan adalah Progressive Muscle Relaxation (PMR).
PMR adalah salah satu dari teknik relaksasi yang paling mudah dan
sederhana yang sudah digunakan secara luas. Menurut Richmond (2007), PMR
merupakan suatu prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua
langkah. Langkah pertama adalah dengan memberikan tegangan pada suatu
kelompok otot, dan kedua dengan menghentikan tegangan tersebut kemudian
memusatkan perhatian terhadap bagaimana otot tersebut menjadi relaks,
merasakan sensasi relaks secara fisik dan tegangannya menghilang.
Hasil penelitian pengaruh PMR terhadap kecemasan dan mual muntah
akibat kemoterapi pada pasien kanker telah pernah dilakukan terdapat respon
yang bermakna pada klien.
Dari hal tersebut menimbulkan ketertarikan untuk meneliti

pengaruh PMR terhadap metode relaksasi nyeri pada pasien kanker.


B. Tujuan

1. Umum

a. Menganalisis keefektifan Progressive Muscle Relaxation (PMR) terhadap

metode rlaksasi nyeri pada pasien kanker.

2. Khusus

1. Mengetahui intensitas nyeri pasien kanker sebelum dilakukan intervensi

PMR

2. Mengetahui intensitas nyeri pasien kanker setelah dilakukan intervensi PMR

3. Menganalisis pengaruh pemberian Progressive Muscle Relaxation (PMR)

terhadap intnsitas nyeri pada pasien kanker.

C. Manfaat

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharpkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-

pihak terkait berikut ini:

1. Bagi masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam meningkatkan

kenyamanan serta kepuasan pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

2. Bagi perawat atau rumah sakit

Apabila penelitian ini berpengaruh dan relaksasi nyeri, maka

diharapkan Progressive Muscle Relaxation (PMR) dapat diteriapkan

perawat sebagai intervensi mandiri keperawatan.

3. Bagi Institusi Pendidikan


Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bacan ilmiah

sumber literatur yang berguna untuk menambah pengetahuan dan

wawasan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Teori

A. Stroke

Menurut World Health Organization atau WHO (2006, p. 4),

stroke adalah suatu gangguan neurologis fokal (atau global) dengan

onset mendadak, dan berlangsung lebih dari 24 jam (atau menyebabkan

kematian) tanpa ada penyebab yang jelas selain vaskular (Christiawan &

Frederick, 2017).

Stroke merupakan penyakit pada otak berupa gangguan fungsi

saraf lokal atau global yang munculnya mendadak, progresif, dan

cepat. Gangguan fungsi saraf pada stroke disebabkan oleh gangguan

peredaran darah otak yang nontraumatik. Gangguan saraf tersebut dapat

menimbulkan gejala berupa: kelumpuhan wajah atau anggota badan,

bicara tidak lancar, bicara tidak jelas atau pelo, mungkin perubahan

kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Seseorang dikatakan

mengalami stroke jika pernah didiagnosis menderita penyakit stroke oleh

tenaga kesehatan atau belum pernah didiagnosis menderita penyakit stroke

oleh tenaga kesehatan tetapi sudah pernah mengalami secara mendadak

kelumpuhan pada satusisi tubuh atau mulut menjadi mencong tanpa

kelumpuhan otot mata, bicara pelo, sulit komunikasi atau tidak mampu

mengerti pembicaraan (Kementerian Kesehatan RI, 2013, p. 91).


1) Klasifikasi Stroke

Menurut Junaedi (2011) stroke diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a) Stroke Haemoragik

adalah stroke yang diakibatkan oleh pembuluh darah yang

pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan

merembes ke daerah otak danmerusaknya.

Menurut letaknya, stroke hemoragik dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

(1) Perdarahan subarakhnoid (PSA) adalah perdarahan yang terjadi

didalam selaputotak

(2) Perdarahan intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang terjadi

didalam jaringanotak.

b) Stroke Non Hemoragik atau strokeIskemik

adalah stroke yang diakibatkan oleh penyumbatan di sepanjang

jalur pembuluh darah arteri yang menuju keotak.

Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya, yaitu:

(1) Aterotrombotik : penyumbatan pembuluh darah olehkerak atau

plak dindingarteri.

(2) Kardioemboli : sumbatan arteri oleh pecahan plak (emboli)

darijantung.

(3) Lakuner : sumbatan plak pada pembuluh darah yang

berbentuk lubang
3) Manifestasi Klinis

Menurut (Nabyl, 2012 : 31) tanda dan gejala berdasarkan lokasi

yang terkena stroke dibagi menjadi tiga, yaitu:

a) Bagian system saraf pusat, yaitu kelemahan otot, kaku dan

menurunnya fungsisensorik.

b) Batang otak, yaitu lidah melemah; kemampuan membau,

mengecap, melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi

menurun; serta kemampuan reflek, ekspresi wajah, pernapasan

dan detak jantung menjaditergangg.

c) Cerebral kortek, yaitu tidak bisa bicara, kehilangan kemampuan

untuk melakukan gerakan-gerakan, daya ingat menurun,

hemiparase dankebingungan.

4) Patofisiologi

Peningkatan tekanan darah yang tinggi mengakibatkan

ruptur pembuluh darah serebral atau aneurisma yaitu

pengembangan pembuluh darah otak yang semakin rapuh sehingga

pecah. Pembuluh darah yang pecah mengakibatkan perdarahan

pada subarakhnoid atau ventrikel otak, sehingga terjadi hematom

serebral yang berakibat pada peningkatan TIK. Adanya

peningkatan TIK mengakibatkan penurunan kesadaran yang

kemudian menimbulkan vasospasme arteri serebral, sehingga

terjadi infark jaringan karena tidak bisa dialiri oleh darah.


Akibatnya terjadi gangguan perfusi jaringan serebral yang

menyebabkan defisit neurologi (Rendy, 2012 :13).

B. Saturasi Oksigen

Saturasi oksigen adalah presentase oksigen yang telah

bergabung dengan molekul hemoglobin (Hb), oksigen bergabung dengan

Hb dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, pada

saat yang sama oksigen dilepas untuk memenuhi kebutuhan jaringan

(Shouldersodom dikutip oleh Ewens, 2008). Tubuh manusia normal

membutuhkan pasokan oksigen yang konstan untuk berfungsi secara

sehat, kadar oksigen rendah dalam darah dapat menyebabkan kondisi

medis yang serius dan mengancam jiwa (Hasan, 2018).

Gambaran saturasi oksigendapat mengetahui kecukupan oksigen

dalam tubuh sehingga dapat membantu dalam penentuan terapilanjut

(Demet, et al., 2000 dalam Sunarto, 2005).

C. Elevasi Kepala

Elevasi kepala berdasarkan pada respon fisiologis merupakan

perubahan posisi untuk meningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah

terjadinya peningkatan TIK. Peningkatan Tekanan Intra Kranial adalah

komplikasi serius karena penekanan pada pusat-pusat vital di dalam otak

(herniasi) dan dapat mengakibatkan kematian sel otak (Rosjidi, 2014).

Elevasi kepala tidak boleh lebih dari 45°, dengan rasional pencegahan
peningkatan resiko penurunan tekanan perfusi serebral danselanjutnya

dapat memperburuk iskemia serebral jika terdapat vasopasme (Sunardi,

2011 dalam Hasan 2018).

2. Pengaruh Pemberian Elevasi Kepala Terhadap Saturasi Oksigen Pada

Pasien Stroke

Dalam posisi telentang dengan disertai posisi kepala elevasi/head up

menunjukkan aliran balik darah dari bagian inferior menuju ke atrium kanan

cukup baik karena resistensi pembuluh darah dan tekanan atrium kanan tidak

terlalu tinggi, sehingga volume darah yang masuk (venous return) ke

atrium kanan cukup baik dan tekanan pengisian ventrikel kanan (preload)

meningkat, yang dapat mengarah ke peningkatan stroke volume dan cardiac

output. Pasien diposisikan head up akan meningkatkan aliran darah diotak

dan memaksimalkan oksigenasi jaringan serebral (Hasan, 2018).

Dalam hal ini sistem sistem pernapasan sangat berperan penting

ketersediaan oksigen untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh dan

pertukaran gas. Melalui peran sistem respirasi oksigen diambil dari atmosfer,

di transfusi masuk ke paru-paru dan terjadi pertukaran gas oksigen dengan

karbondioksida di alveoli, selanjutnya oksigen akan di difusi masuk kapiler

darah untuk dimanfaatkan oleh sel dalam proses metabolisme (Tarwoto,2013

dalam Hasan, 2018).


BAB III

METODE PENULISAN

A. Rancangan Solusi Yang Ditawarkan

Dalam mengatasi permasalahan diatas maka akan dilakukan desain

inovatif berupa study kasus pada dua pasien, dimana pasien pertama

diberlakukan sebagai intervensi yang diberikan elevasi kepala 30 derajat,

sedangkan pasien kedua sebagai kontrol yang diberikan elevasi kepala 45

derajat. Kemudian akan dinilai perubahan saturasi oksigen dari masing-masing

pasien, kemudian dilakukan analisa.

B. Target dan Luaran

Target yang akan mendapatkan perlakuan intervensi pada deskripsi kasus

ini yaitu pasien stroke haemoragik dan diberikan intervensi elevasi kepala

30 derajat dan 45 derajat. Luaran dari deskripsi kasus ini yaitu untuk

mengetahui perlakuan yang dilakukan berdasarkan evidence based practice,

selanjutnya dilakukan observasi hasil dari pemberian elevasi kepala 30 derajat

dan 45 derajat terahadap saturasi oksigen.

C. Prosedur Pelaksanaan

1. Tahap Awal

Memilih pasien utnuk dijadikan responden berdasarkan kriteria inklusi

yaitu; pasien stroke haemoragic, memiliki onset yang sama.


2. Tahap Pelaksanaan

a) Pra Intervensi

1) Memberikan informed consent pada responden

2) Melakukan kontrak waktu

3) Memberikan kesempatan bertanya

4) Mengukur saturasi oksigen

b)Tahap Intervensi

1) Posisikan pasien dengan elevasi kepala 30 derajat dan 45 derajat

2) Memberikan intervensi selama 8 jam.

c) Post Intervensi

1) Mengukur saturasi oksigen