Anda di halaman 1dari 56

MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PENYAKIT DIABETES


MELLITUS DAN HIPERTENSI MELALUI KUISIONER DAN
PENYULUHAN

Disusun oleh:

BOBBY CHANDRA
FEBRINA ISYADORA
GANIAH UTAMI
ZULFI RIZQI ALFAJRIN
M TAUFIK
AHMAD FARHAN SHADIQIN
MAS REDIKA HIKMATULLAH

PUSKESMASCADASARI

Jl. Raya Serang KM. 5 Telp. (0253) 204243 Cadasari Pandeglang - Banten
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT dan junjungan kita Nabi Muhammad
SAW karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Mini Project yang
berjudul“EvaluasiProlanis BPJS” sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
persyaratan dalam menyelesaikan program dokter Intersip pada fase Puskesmas.

Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan terima kasih yang


sebesar-besarnya kepada dr. Joko suyanto selaku dosen pembimbing dokter
intersip atas kesediaan beliau meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing,
mendukung, dan memberikan masukan kepada penulis sehingga Mini Project ini
dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Penulis menyadari bahwa penulisan Mini Project ini masih belum
sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan Mini
Project ini di kemudian hari. Semoga Mini Project ini dapat memberikan
sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang
kesehatan. Atas bantuan dan segala dukungan dari berbagai pihak baik secara
moral maupun spiritual, penulis mengucapkan terima kasih.

Pandeglang, Februari 2019


Dokter internsip

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia dan investasi untuk


keberhasilan pembangunan bangsa ( UUD 1945 pasal 28 H ayat I ). Untuk itu
perlu diselenggarakan pembangunan kesehatan secara menyeluruh agar
terwujud masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan. Dalam pasal 34
disebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak yang salah
satunya diwujudkan dengan pembangunan Puskesmas dan jaringannya.
Dalam Pasal 22 ayat I UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, manfaat jaminan kesehataan bersifat pelayanan perseorangan
berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang
diperlukan. Dalam pasal yang sama pada ayat 3 disebutkan, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial mengembangkan system pelayanan kesehatan,
system kendali mutu pelayanan, dan system pembayaran pelayanan kesehatan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
Adapun tentang hak peserta diatur dalam Peraturan Presiden No. 12
Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 20 ayat I, setiap peserta berhak
memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan
perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan
kebutuhan medis yang diperlukan.
Sementara data International Diabates Federation (IDF) menunjukkan,
jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dan
menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia. Sedangkan Hipertensi merupakan
masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai
dengan data Riskesdas 2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum
adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia. Adapun jumlah
penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cadasari pada tahun
2017sebanyak 35.701jiwa, dan 30.000 jiwa diantaranya termasuk dewasa-
lansia, yang mana perlu dilakukan skrining DM dan Hipertensi. Hasil skrining
Prolanis pada Puskesmas cadasari mencapai 330 jiwa dari 7 desa, dari hasil
yang didapat pencapaian program Prolanis belum memenuhi target dan terjadi
beberapa masalah.

Pada makalah ini, menjelaskan pencapaian program dan evaluasi suatu


program BPJS, yaitu Prolanis, sebagai suatu upaya dalam menekan angka
insidensi penyakit kronis terutama DM dan Hipertensi. Dengan pembuatan
makalah ini, diharapkan dapat mengembangkan program Prolanis, dan dapat
mengatasi masalah-masalah yang ada.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup


optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke fasilitas
kesehatan tingkat pertama memiliki hasil “baik” pada pemeriksaan spesifik
terhadap penyakit DM Tipe 2 dan hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait
sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mengevaluasi program Prolanis pada program BPJS di PKM Cadasari


b. Meningkatkan pengetahuan kesehatan pada masyarakat di kecamatan
Cadasari dalam upaya memulihkan penyakit kronis
c. Mencegah timbulnya penyakit kronis, khusus nya terhadap penyakit DM
TIPE 2 dan Hipertensi
d. Meningkatkan status kesehatan bagi masyarakat penderita penyakit kronis
yang menjadi peserta BPJS di Puskesmas Cadasari.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, rumusan


masalah pada program ini sebagai berikut :
1. Penemuan pasien prolanis belum optimal berdasarkan penyisiran
setiap wilayah yang ada di wilayah kerja puskesmas.
2. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang program penyakit kronis.
3. Belum optimalnya program program yang ada dari Prolanis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini
terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu.Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia.Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan kognitif
adalah domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over
behavior).Dari hasil pengalaman serta penelitian terbukti bahwa perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. Penelitian yang dilakukan Rogers (1974) menunjukkan
bahwa sebelum seseorang mengadaptasi perilaku yang baru didalam diri orang
tersebut terjadi proses yang beruntun sebagai berikut:4
1. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (merasa tertarik) merasa tertarik terhadap stimulus atau objek
tersebut disini sikap subjek sudah mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya) hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa
yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang, karena dari pengalaman dan penelitian yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.4

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan

Menurut Bloom (1987) dikutip oleh Notoatmodjo (2007), pengetahuan


yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut.4
1. Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall), terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehension)adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Aplication) diartikan kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4. Analisis (Analysis) merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
5. Sintesis (Syntesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemajuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi


beberapa faktor sebagai berikut:4
1. Pengalaman, dapat diperoleh dari pengalaman diri sendiri atau orang lain.
Misalnya, jika seseorang pernah merawat seorang anggota keluarga yang
sakit hipertensi, umumnya menjadi lebih tahu tindakan yang harus
dilakukan jika terkena hipertensi.
2. Tingkat pendidikan, karena pendidikan dapat membawa wawasan atau
pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang memiliki
pengetahuan tinggi akan mempunyai pengalaman lebih luas dibandingkan
dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
3. Sumber informasi, keterpaparan seseorang terhadap informasi
mempengaruhi tingkat pengetahuaannya. Sumber informasi yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya televisi, radio, Koran,
buku, majalah dan internet.

2.1.4 Pengukuran Pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur.Kedalaman pengetahuan yang
ingin kita ketahui dapat disesuaikan dengan tingkat domain diatas.

2.2 Hipertensi

Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal,

antaralain meningkatnya prevalensihipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi

yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan

darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi

yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

2.2.1 Definisi

Hipertensi yang tidak diketahuipenyebabnya didefinisikan sebagai

hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilh hipertensi primer, untuk


membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang

diketahui.

2.2.2 Patogenesa

Hipertensiesensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama

karena interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang

mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah:

1. Faktor risiko, seperti: diet dan asupan garam, stres, ras, obesitas,

merokok, genetik.

2. Sistem saraf simpatis : Tonus simpatis, variasi diurnal

3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi

endotel pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari

endotel, otot polos dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir.

4. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperanpada sistem renin,

angiotensin dan aldosteron.

Kaplan menggambarkan beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian

tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar tekanan darah = Curah Jantung x

Tahanan Perifer.

2.2.3 Kerusakan Organ Target


Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum ditemui pada

pasien hipertensi adalah :

1. Jantung : Hipertrofi ventrikel kiri, angina atau infark miokardium,gagal

jantung.

2. Otak : Stroke atau transient ischemic attack.

3. Penyakit Ginjal Kronis.

4. Penyakit arteri perifer.

5. Retinopati.

Beberapa penilitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ

tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ,

atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya auotoantibodi terhadap

reseptor AT1 angiotensin II, stress oksidatif, down regulation, dari ekspresi nitric

oxidesynthase dan lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi

garam dan sensitifitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan

organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi

transforming growth factor-β.

Adanya kerusakan organ target, terutama pada jantung dan pembuluh darah,

akan memperburuk prognosis pasien hipertensi. Tingginya morbiditas dan

mortalitas pasien hipertensi terutama disebabkan oleh timbulnya penyakit

kardiovaskuler.
Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi antara lain :

1. Merokok

2. Obesitas

3. Kurangnya aktifitas fisik

4. Dislipidemia

5. Diabetes Melitus

6. Mikroalbuminuria atau perhitungan LFG <60 ml/menit

7. Umur (Laki-laki >55 tahun, wanita 65 tahun)

8. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular prematur

Pasien dengan prehipertensi beresiko mengalami peningkatan tekanan darah

menjadi hipertensi; mereka yang tekanan darahnya berkisar antara 130-139/80-89

mmHg dalam sepanjang hidupnya akan memiliki dua kali resiko menjadi

hipertensi dan mengalami penyakit kardiovaskular dari pada tekanan darahnya

lebih rendah.

Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik >140

mmHg merupakan faktor resiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit

kardiovaskular dari pada tekanan diastolik :

1. Risiko penyakit kardiovaskular dimulai pada tekanan darah 115/75

mmHg, meningkat dua kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg

2. Risiko penyakit kardiovaskular bersifat kontinyu, konsisten, dan

independen dari faktor resiko lainnya


3. Individu berumur 55 tahun memiliki 90% risiko untuk mengalami

hipertensi

2.2.4 Evaluasi Hipertensi

Evaluasi pada pasien hipertensi bertujuan untuk: 1). Menilai pola hidup dan

identifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular lainnya atau menilai adanya

penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan. 2).

Mencari penyebab kenaikan tekanan darah. 3). Menentukan ada tidaknya

kerusakan target organ dan penyakit kardiovaskular.

Evaluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang

keluhan pasien, riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik

serta pemeriksaan penunjang. Anamnesis meliputi :

1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah

2. Indikasi adanya hipertensi sekunder:

a). Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal (ginjal polikistik)

b). Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakaian

obat-obat analgesik dan obat/bahan lain

c). Episoda berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi

d). Episoda lemah otot dan tetani (aldosteronisme)

3. Faktor-faktor resiko :

a). Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien

b). Riwayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarga

c). Riwayat diabetes melitus pada pasien atau keluarganya

d). Kebiasaan merokok


e). Pola makan

f). Kegemukan, intensitas olah raga

g). Kepribadian

4. Gejala kerusakan organ :

a). Otak dan mata : sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, defisit

sensoris atau motoris, transient ischemic attack

b). Jantung : palpitasi, nyeri dada, sesak,bengkak kaki

c). Ginjal : haus ,poliuri, nokturi, hematuri

d). Arteri perifer: Ekstremitas dingin, klaudikasio intermitten

5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya

6. Faktor-faktor pribadi, keluarga dan lingkungan

Pemeriksaan fisik selain memeriksa tekanan darah, juga untuk evaluasi

adanya penyakit penyerta, kerusakan organ target serta kemungkinan adanya

hipertensi sekunder, pengukuran darah: pengukuran rutin dikamar periksa,

pengukuran 24 jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM), pengukuran

sendiri oleh pasien.

Pengukuran di kamar periksa dilakukan pada posisi duduk di kursi setelah

pasien istirahat selama 5 menit, kaki di lantai dan lengan pada posisi setinggi

jantung. Ukuran dan peletakan manset (panjang 12-13 cm, lebar 35 cm untuk

standar orang dewasa) dan stetoskop harus benar (gunakan suara Korotkoff fase I

dan V untuk penentuan sistolik dan diastolik). Pengukuran dilakukan dua kali,
dengan sela 1-5 menit, pengukuran tambahan dilakukan jika hasil kedua

pengukuran sebelumnya sangat berbeda.

Beberapa indikasi penggunaan ABPM antara lain : Hipertensi borderline

atau yang bersifat episodik, hipertensi office atau white coat, adanya disfungsi

saraf otonom, hipertensi sekunder, sebagai pedoman dalam pemilihan jenis obat

antihipertensi, tekanan darah yang resisten terhadap pengobatan antihipertensi,

gejala hipotensi yang berhubungan dengan pengobatan antihipertensi.

Pengukuran sendiri dirumah memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kekurangannya adalah masalah ketepatan pengukuran, sedang kelebihannya

antara lain dapat menyingkirkan efek white coat dan memberikan banyak hasil

pengukuran.

Pada pasien hipertensi, beberapa pemeriksaan untuk menentukan adanya

kerusakan organ target dapat dilakukan secara rutin, sedang pemeriksaan lainnya

hanya dilakukan bila ada kecurigaan yang didukung oleh keluhan dan gejala

pasien. Pemeriksaan untuk mengevaluasi adanya kerusakan organ target meliputi:

1. Jantung :

- Pemeriksaan fisis

- Foto polos dada (untuk melihat pembesaran jantung, kondisi arteri intratoraks

dan sirkulasi pulmoner)

- Elektrokardiografi (untuk deteksi iskemia, gangguan konduksi, aritmia, serta

hipertrofi ventrikel kiri)

- Ekokardiografi

2. Pembuluh darah :
- Pemeriksaan fisis termasuk perhitungan pulse pressure

- Ultrasonografi (USG) karotis

- Fungsi endotel (masih dalam penelitian)

3. Otak :

- Pemeriksaan neurologis

- Diagnosisstroke ditegakan dengan menggunakan cranial computed

tomography (CT) scan atau magnetic resonance imaging (MRI), ( untuk

pasien dengan keluhan gangguan neural, kehilangan memori atau gangguan

kognitif.

4. Mata : Funduskopi

5. Fungsi ginjal :

- Pemeriksaan fungsi ginjal dan penentuan adanya proteinuria/mikro-

makroalbuminuria serta rasio albumin kreatinin urin

- Perkiraan laju filtrasi glomerulus, yang untuk pasien dalam kondisi stabil

dapat diperkirakan dengan menggunakan modifikasi rumus dari Cockroft-

Gault sesuai dengan anjuran National Kidney Foundation (NKF).

2.2.5 Pengobatan

Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah, target tekanan darah <140/90

mmHg, untuk individu beresiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) <130/80

mmHg, penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular dan menghambat laju

penyakit ginjal proteinuria.


Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadapbfaktor resiko atau

kondisi penyerta lainnya seperti diabetes melitus atau dislipidemia juga harus

dilaksanakan hingga mencapai target terapi masing-masing kondisi.

Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis.

Terapi nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan

tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko serta

penyakit penyerta lainnya. Terapi nonfarmakologis terdiri dari:

1. Menghentikan merokok

2. Menurunkan berat badan berlebih

3. Menurunkan konsumsi alkohol berlebih

4. Latihan fisik

5. Menurunkan asupan garam

6. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak

Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang

dianjurkan oleh JNC 7:

1. Diuretika, terutama jenis thiazide atau aldosterone antagonist

2. Beta blocker

3. Calcium chanel blocker atau calcium antagonist

4. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)

5. Angiotensin II Receptor Blocker atau AT receptor antagonist/blocker

Masing- masing obat antihipertensi memiliki efektifitas dan keamanan

dalam pengobatan hipertensi, terapi pemilihan obat antihipertensi juga

dipengaruhi beberapa faktor yaitu:


1. Faktor sosio ekonomi

2. Profil faktor risiko kardiovaskular

3. Ada tidaknya kerusakan organ target

4. Ada tidaknya penyakit penyerta

5. Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi

6.Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang digunakan pasien untuk

penyakit lain

7. Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam

menurunkan risiko kardiovaskular

Untuk sebagaian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan

target tekanan darah dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan

untuk menggunakan obat antihipertensi dengan massa kerja panjang atau yang

memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sehari sekali. Pilihan apakah

memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi

tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi

dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian tekanan

darah belum mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan

dosis obat tersebut atau berpindah ke antihipertensi lain dengan dosis rendah. Efek

samping umumnya bisa di hindari dengan menggunakan dosis rendah, baik

tunggal maupun kombinasi. Sebagian pasien memerlukan kombinasi obat

antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, tetapi terapi kombinasi dapat

meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah


obat yang harus diminum bertambah. Kombinasi yang telah terbukti efektif dan

dapat ditoleransi pasien adalah:

1. Diuretika dan ACEI atau ARB

2. CCB dan BB

3. CCB dan ACEI atau ARB

4. CCB dan Diuretika

5. AB dan BB

6. Kadang diperlukan tiga atau empat kobinasi obat

2.2.6 Pemantauan Hipertensi

Pasien yang telah mulai mendapat pengobatan harus datang kembali untuk

evaluasi lanjutan dan pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapai.

Setelah tekanan darah tercapai dan stabil, kunjungan selanjutnya dengan interval

3-6 bulan, tetapi frekuensi kunjungan ini juga ditentukan oleh ada tidaknya

komorbiditas seperti gagal jantung, penyakit yang berhubungan seperti diabetes,

dan kebutuhan akan pemeriksaan laboratorium. Strategi untuk meningkatkan

kepatuhan pada pengobatan :

1. Empati dokter akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan

pasien

2. Dokter harus mempertimbangkan latar belakang budaya serta

kepercayaan pasien serta sikap pasien terhadap pengobatan


3. Pasien diberi tahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang masih

harus dicapai, rencana pengobatan selanjutnya serta pentingnya

mengikuti rencana tersebut

Penyebab hipertensi resisten :

1. Pengukuran tekanan darah yang tidak benar

2. Dosis belum memadai

3. Ketidak patuhan pasien dalam penggunaan obat antihipertensi

4. Ketidak patuhan pasien dalam memperbaiki pola hidup

5. Kelebihan volume cairan tubuh

6. Adanya terapi lain

7. Adanya penyebab hipertensi lain/sekunder

Jika dalam 6 bulan target pengobatan (termasuk target tekanan darah) tidak

tercapai, harus dipertimbangkan untuk melakukan rujukan ke dokter spesialis atau

subspesialis. Bila selain hipertensi ada kondisi lain seperti diabetes melitus atau

penyakit ginjal maka dianjurkan merujuk kepada seorang dokter yang ahli jika

laju filtrasi glomerulus mencapai < 60 ml/menit/1,73 m2, atau jika ada kesulitan

dalam mengatasi hipertensi atau hiperkalemia, serta rujukan kepada konsultan

nefrologi jika laju filtrasi glomerulus mencapai < 30 ml/men/1,73 m2, atau lebih

awal jika pasien beresiko mengalami penurunan fungsi ginjal yang cepat atau

didiagnosis dan prognosis pasien masih diragukan.


Pengobatan antihipertensi umumnya untuk selama hidup. Penghentian

pengobatan cepat atau lambat akan diikuti dengan naiknya tekanan darah sampai

seperti sebelum memulai pengobatan antihipertensi. Walaupun demikian, ada

kemungkinan untuk menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi secara

bertahap bagi pasien yang diagnosis hipertensinya sudah pasti serta tetap patuh

terhadap pengobatan nonfarmakaologis. Tindakan ini harus disertai dengan

pengawasan tekanan darah.8

2.3.1 Diabetes Melitus


2.3.1.1 Definisi
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu sindrom klinis kelainan metabolic,
ditandai oleh adanya hiperglikemia yang disebabkan oleh defek sekresi insulin,
defek kerja insulin atau keduanya. Dari berbagai penelitian epidemiologis, seiring
dengan perubahan pola hidup didapatkan bahwa prevalensi DM meningkat
terutama di kota besar. Jika tidak ditangani dengan baik tentu saja angka
komplikasi kronis DM juga akan meningkat., termasuk komplikasi kaki diabetes,
yang akan menjadi topik bahasan utama kali ini.5

2.3.1.2 Patofisiologi
Berbagai teori dikemukakan untuk menjelaskan patogenesis terjadinya
komplikasi DM. diantaranya yang terkenal adalah teori jalur poliol, teori
glikosilasi, dan yang terakhir adalah teori stress oksidatif yang dikatakan dapat
menjelaskan secara keseluruhan berbagai teori sebelumnya (unifying
mechanism).Apapun teori yang dianut, semuanya masih berpangkal pada kejadian
hiperglikemia, sehingga usaha untuk menurunkan terjadinya komplikasi DM
harus dilakukan dengan memperbaiki, mengendalikan, dan menormalkan
konsentrasi gula darah.Manfaat usaha menormalkan konsentrasi gula darah untuk
mencegah terjadinya berbagai komplikasi DM tipe 2 sudah terbukti pada berbagai
penelitian epidemiologis skala besar dan lama seperti misalnya pada UKPDS. 5
Hiperglikemi pada DM dapat terjadi karena masukan karbohidrat yang
berlebih, pemakaian glukosa di jaringan tepi berkurang, akibat produksi glukosa
hati yang bertambah, serta akibat insulin berkurang jumlah maupun kerjanya.
Dengn memperhatikan mekanisme asal terjadinya hiperglikemia ini, dapat
ditempuh berbagai langkah yang tepat dala usaha untuk menurunkan konsentrasi
glukosa darah sampai batas yang aman untuk menghindari terjadinya komplikasi
kronis DM. 5

2.3.1.3 Komplikasi
Diabetes mellitus akan menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi
kronik jika dibiarkan tidak dikelola dengan baik. Komplikasi baik mikroangiopati
maupun makroangiopati.Adanya pertumbuhan sel dan kematian sel yang tidak
normal merupakan dasar terjadinya komplikasi kronik diabetes mellitus.Kelainan
dasar tersebut sudah dibutikan terjadi pada para penyandang diabetes mellitus
maupun juga pada berbagai binatang percobaan. Perubahan dasar/disfungsi
tersebut terutama terjadi pada endotel pembuluh darah, sel otot polos pembuluh
darah maupun pada sel mesangial ginjal, semuanya menyebabkan perubahan pada
pertumbuhan dan kesntasan sel, yang kemudian pada gilirannya akan
menyebabkan terjadinya komplikasi vaskular diabetes.6

Pada penyandang DM dapat terjadi komplikasi pada semua tingkat sel dan
semua tingkat anatomic.Manifestasi komplikasi kronis dapat trjadi pada tingkat
pembuluh darah kecil (mikrovaskular) berupa kelainan pada retina mata,
glomerulus ginjal, syaraf, dan pada ototjantung (kardiomiopati.Pada pembuluh
darah besar manifestasi komplikasi kronis DM dapat terjadi pada pembuluh darah
serebral, jantung (penyakit jantung kororner) dan pembuluh darah perifer (tungkai
bawah). Komplikasi lain DM dapat berupa kerentanan berlebih terhadap infeksi
dengan akibat mudahnya terjadi infeksi saluran kemih, tuberculosis paru, dan
infeksi kaki yang kemudian dapat berkembang menjadi ulkus/ gangrene diabetes. 5
2.3.1.4 Tatalaksana
Pilar pengelolaan diabetes terdiri dari penyuluhan, perencanaan makan
yang baik, kegiatan jasmani yang memadai dan penggunaan obat berkhasiat
menurunkan konsentrasi glukosa darah seperti golongan sekretagok insulin
(sulfonil urea, repaglinid, dan nateglinid), golongan metformin, golongan inhibitor
alfa glucosidase, golongan tiazolidindione, dan insulin. Dengan
mengkombinasikan berbagai macam obat berkhasiat menurunkan konsentrasi
glukosa darah, akan dapat dicapai sasasran pengendalian konsentrasi glukosa
darah yang optimal unutk mencegah terjadinya komplikasi kronis DM. 5

2.4 Program Pengelolaan Penyakit Kronis

2.4.1 Konsep Prolanis

Prolanis merupakan upaya promotif dan preventif yang dilakukan oleh BPJS

kesehatan pada era JKN. Pada buku panduan praktis program prolanis yang

diterbitkan BPJS sudah dijelaskan secara detail mengenai konsep prolanis.

Prolanis adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang

dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan

BPJS kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS

kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang

optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisisen.

Kegiatan prolanis ini tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan para

pengguna peserta BPJS. Selain itu kegiatan prolanis dapat membantu BPJS

kesehatan dalam meminimalisir kejadian PTM, dimana pembiayaan untuk pasien

dengan penyakit kronis sangat tinggi, maka perlu dilakukan upaya pencegahan

terkait penyakit kronis. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan prolanis
ini adalah mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas

hidup optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke FKTP

memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit diabetes melitus

tipe II dan hipertensi sesuai panduan klinis terkait, sehingga dapat mencegah

timbulnya komplikasi penyakit.5

2.4.2 Pengertian PROLANIS BPJS

PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan


proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta,
Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan
bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai
kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif
dan efisien. (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan, 2014)

Tujuan program ini dalam BPJS adalah untuk mendorong peserta


penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator
75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama memiliki
hasil “baik” pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan
Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya
komplikasi penyakit.(Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan, 2014)

Adapun Program Pengelolaan Penyakit Kronis memiliki karateristik


sebagai berikut:

a. Penetapan target kesehatan individual bagi setiap penderita penyakit kronis.

b. Penanganan kesehatan per individual peserta penderita penyakit kronis fokus


pada upaya promotif dan preventif untuk mencegah episode akut.
c. Edukasi dan upaya meningkatkan kesadaran dan peran serta Peserta
penderita penyakit kronis terhadap perawatan kesehatannya secara mandiri.

d. Penerapan protokol pengobatan yang berdasaran evidence base medicine.

e. Peningkatan fungsi gate keeper pada tingkat Rawat Jalan Tingkat Pertama
dalam rangka pengendalian biaya pelayanan rujukan. (Rini, 2014)

2.4.3Sasaran Prolanis

Sasaran Prolanis adalah seluruh peserta Askes Sosial penderitapenyakit


kronis Diabetes Mellitus dan Hipertensi. Tahapannya, peserta harus mendaftar
dahulu di Kantor Cabang PT Askes (Persero) terdekat atau di Puskesmas dan
Dokter keluarga tempat peserta terdaftar. Setelah mendaftar, peserta akan
mendapatkan Dokter Keluarga Prolanis atau Dokter di Puskesmas Prolanis
yang dipilih serta buku pemantauan status kesehatan. Dokter
Keluarga/Puskesmas di sini berperan sebagai gatekeeper yang tidak hanya
memilih pasien untuk dirujuk ke spesialis terkait, tetapi diharapkan juga dapat
memberikan pelayanan komprehensif dan terfokus pada upaya promotif dan
preventif. Dokter Keluarga/Dokter Puskesmas akan bertindak sebagai manajer
kesehatan bagi penderita penyakit kronis ini. Dokter keluarga juga akan
berperan sebagai konsultan bagi peserta yang memberikan bimbingan, edukasi,
dan peningkatan kemampuan peserta untuk melakukan pemeliharaan atas
kesehatan pribadinya secara mandiri. Dokter akan memantau kondisi dan status
kesehatan peserta Prolanis secara rutin serta bisa memberikan resep obat kronis
pada level Rawat Jalan Tingkat Pertama. (Rini, 2014)
2.4.3 Mekanisme Prolanis BPJS

Pelayanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis bersifat komprehensif


(menyeluruh) meliputi :

a. Upaya promotif; penyuluhan/informasi berbagai media, konsultasi, dan


reminder aktifitas medis

b. Upaya preventif; imunisasi, penunjang diagnostik, kunjungan rumah (home


visite), konseling.

c. Upaya kuratif; pemeriksaan dan pengobatan penyakit pada Rawat Jalan


Tingkat Pertama, Rawat Jalan Lanjutan, Rawat Inap Lanjutan serta
pelayanan obat.

d. Upaya rehabilitatif; penanganan pemulihan dari penyakit kronis.

Pelayanan PROLANIS di fasilitas kesehatan primer lebih fokus pada


pelayanan promotif dan preventif meliputi :

a. Pemberian konsultasi medis, informasi, edukasi terkait penyakit kronis


kepada penderita dan keluarga

1) Kunjungan ke rumah pasien.

2) Penyuluhan penyakit kronis.

3) Pelatihan bagi tata cara perawatan bagi penderita.

b. Pemantauan kondisi fisik peserta kronis secara berkesinambungan.

c. Pemberian resep obat kronis dan kemudian peserta mengambil obat

pada Apotek yang ditunjuk.


d. Pemberian surat rujukan ke Fasilitas yang lebih tinggi untuk kasus-kasus
yang tidak dapat ditanggulangi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama /
Primer.

e. Penanganan terapi penyakit kronis dan peresepan obat kronis sesuai Panduan
Klinis penanganan penyakit kronis yang berlaku.

f. Membuat dokumentasi status kesehatan per Pasien terhadap setiap pelayanan


yang diberikan kepada tiap pasien

g. Membuat jadwal pemeriksaan rutin yang harus dijalani oleh peserta

2.4.4 Langkah-Langkah Pelaksanaan

Sebelum melaksanakan PROLANIS, ada beberapa langkah yang harus


dilakukan sebelum aktivitas PROLANIS itu sendiri:

1. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan:

a. Hasil Skrining Riwayat Kesehatan dan atau

b. Hasil Diagnosa DM Tipe II dan Hipertensi (pada Faskes Tingkat Pertama


maupun RS).

2. Menentukan target sasaran.

3. Melakukan pemetaan Faskes Dokter Keluarga/ Puskesmas berdasarkan


distribusi target sasaran peserta.

4. Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes Pengelola.

5. Melakukan pemetaan jejaring Faskes Pengelola (Apotek, Laboratorium) .

6. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani peserta


prolanis.
7. Melakukan sosialisasi prolanis kepada peserta (instansi, pertemuan
kelompok pasien kronis di RS, dan lain-lain).

8. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus Tipe 2


dan Hipertensi untuk bergabung dalam prolanis.

9. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dengan form


kesediaan yang diberikan oleh calon peserta Prolanis.

10. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta


terdaftar.

11. Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar.

12. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta prolanis.

13. Melakukan distribusi data peserta Prolanis sesuai Faskes Pengelola.

14. Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan status


kesehatan peserta, meliputi pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan Darah,
IMT, HbA1C. Bagi peserta yang belum pernah dilakukan pemeriksaan,
harus segera dilakukan pemeriksaan.

15. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal peserta
per Faskes Pengelola (data merupakan luaran Aplikasi P-Care).

16. Melakukan Monitoring aktifitas prolanis pada masing-masing Faskes


Pengelola:

a. Menerima laporan aktifitas prolanis dari Faskes Pengelola.

b. Menganalisa data.

17. Menyusun umpan balik kinerja faskes prolanis.

18. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/ Kantor Pusat.


Setelah semua persiapan pelaksanaan prolanis sudah dipenuhi, Aktivitas
prolanis dapat dilakukan. Adapun aktivitas prolanis dijalankan sebagai berikut :

1. Konsultasi Medis Peserta Prolanis : jadwal konsultasi disepakati bersama


antara peserta dengan faskes pengelola.

2. Edukasi kelompok peserta prolanis.

Definisi : Edukasi Klub Risti (Klub Prolanis) adalah kegiatan untuk


meningkatkan pengetahuan kesehatan dalam upaya memulihkan penyakit dan
mencegah timbulnya kembali penyakit serta meningkatkan status kesehatan
bagi peserta prolanis.

Sasaran : Terbentuknya kelompok peserta (Klub) prolanis minimal 1 Faskes


Pengelola 1 Klub. Pengelompokan diutamakan berdasarkan kondisi kesehatan
Peserta dan kebutuhan edukasi.

Langkah - langkah:

a. Mendorong Faskes Pengelola melakukan identifikasi peserta terdaftar


sesuai tingkat severitas penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi yang disand
b. Memfasilitasi koordinasi antara Faskes Pengelola dengan Organisasi Profesi/Dokter
Spesialis diwilayahnya

c. Memfasilitasi penyusunan kepengurusan dalam Klub

d. Memfasilitasi penyusunan kriteria Duta PROLANIS yang berasal dari peserta.

Duta PROLANIS bertindak sebagai motivator dalam kelompok Prolanis (membantu Faskes
Pengelola melakukan proses edukasi bagi anggota Klub)

e. Memfasilitasi penyusunan jadwal dan rencana aktifitas Klub minimal 3 bulan pertama

f. Melakukan Monitoring aktifitas edukasi pada masing-masing Faskes Pengelola:

1) Menerima laporan aktifitas edukasi dari Faskes Pengelola

2) Menganalisis data

g. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS

h. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat dengan tembusan kepada
Organisasi Profesi terkait diwilayahnya

3. Reminder melalui SMS Gateway

Definisi : Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta untuk melakukan kunjungan
rutin kepada Faskes Pengelola melalui pengingatan jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola
tersebut

Sasaran : Tersampaikannya reminder jadwal konsultasi peserta ke masing-masing Faskes


Pengelola

Langkah – langkah:

a. Melakukan rekapitulasi nomor Handphone peserta PROLANIS/Keluarga peserta per


masing-masing Faskes Pengelola

b. Entri data nomor handphone kedalam aplikasi SMS Gateway

c. Melakukan rekapitulasi data kunjungan per peserta per Faskes Pengelola


d. Entri data jadwal kunjungan per peserta per Faskes Pengelola

e. Melakukan monitoring aktifitas reminder (melakukan rekapitulasi jumlah peserta yang


telah mendapat reminder)

f. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang mendapat reminder dengan
jumlah kunjungan

g. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat

4. Home Visit

Definisi : Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah Peserta PROLANIS
untuk pemberian informasi/edukasi kesehatan diri dan lingkungan bagi peserta PROLANIS
dan keluarga

Sasaran:

Peserta PROLANIS dengan kriteria :

a. Peserta baru terdaftar

b. Peserta tidak hadir terapi di Dokter Praktek Perorangan/Klinik/Puskesmas 3 bulan berturut-


turut

c. Peserta dengan GDP/GDPP di bawah standar 3 bulan berturut-turut (PPDM)

d. Peserta dengan Tekanan Darah tidak terkontrol 3 bulan berturut-turut (PPHT)

e. Peserta pasca opname

Langkah – langkah:

a. Melakukan identifikasi sasaran peserta yang perlu dilakukan Home Visit

b. Memfasilitasi Faskes Pengelola untuk menetapkan waktu kunjungan

c. Bila diperlukan, dilakukan pendampingan pelaksanaan Home Visit

d. Melakukan administrasi Home Visit kepada Faskes Pengelola dengan berkas sebagai
berikut:
1) Formulir Home Visit yang mendapat tanda tangan Peserta/Keluarga peserta yang
dikunjungi

2) Lembar tindak lanjut dari Home Visit/lembar anjuran Faskes Pengelola

e. Melakukan monitoring aktifitas Home Visit (melakukan rekapitulasi jumlah peserta yang
telah mendapat Home Visit)

f. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang mendapat Home Visit dengan
jumlah peningkatan angka kunjungan dan status kesehatan peserta

g. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat

2.5 Pembuatan Film

Membuat film profesional bukanlah pekerjaan yang sederhana. Membuat film

profesional melibatkan banyak pihak dengan spesifikasinya sendiri-sendiri. Orang-orang

yang terlibat dalam pembuatan film pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Pasal

20 Ayat 2 disebut sebagai insan perfilman. Insan perfilman tersebut adalah sebagai

berikut.

a. Penulis Skenario

Penulis skenario adalah seseorang yang menerjemahkan ide cerita ke dalam bahasa

tulis yang akan digunakan sebagai pedeoman tertulis bagi semua pihak yang terlibat.

b. Sutradara

Sutradara adalah seseorang yang memimpin proses pembuatan video/film/iklan.

Sutradara bekerja mengatur laku di depan kamera, mengarahkan acting dan

dialog, mengontrol posisi dan gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal lain

yang berhubungan dengan hasil akhir yang maksimal sebuah film. Sutradara

menduduki posisi tertinggi dari sisi artistik.


c. Artis (Pemeran)

Artis adalah orang-orang yang menjadi pemeran dalam sebuah film. Artis laki-laki

dikenal dengan istilah aktor sementara artis perempuan dikenal dengan sebutan

aktris.

d. Juru Kamera

Juru kamera adalah orang yang bertugas mengambil gambar atau mengoperasikan

kamera saat diadakan pengambilan gambar/shooting.

d. Penata Cahaya (Lighting)

Penata cahaya bertugas mengatur pencahayan dalam pembuatan video/film/iklan.

e. Penata Suara

Bagian tata suara bertugas membuat/memilih/merekam suara dan efek-efek suara

yang sesuai dengan suasana cerita dalam proses produksi.

f. Penyunting Suara (Editing Audio)

Penyunting suara dan penyunting gambar bekerja secara bersamaan dalam proses

penyuntingan atau editing.

g. Penata Laku

Penata laku bertugas membantu sutradara dalam mengatur pergerakan/laku pemain

I. Penata Musik

Bagian tata musik bertugas membuat/memilih musik yang sesuai dengan suasana

cerita dalam pembuatan video/film/iklan.

j. Penata Artistik

Bagian ini bertugas membuat atau mengatur latar dan setting yang sesuai dengan

suasana cerita dalam proses produksi.


k. Penyunting Gambar (Editing Video)

Penyunting gambar dalam pembuatan film bertugas melakukan

editing atas hasil pengambilan gambar dalam proses produksi.

l. Perancang Animasi

Bagian ini bertugas memberikan tambahan efek-efek animasi pada gambar sehingga

gambar lebih hidup.

m. Produser

Produser merupakan seseorang yang mempunyai tugas untuk memimpin dan

mengarahkan secara keseluruhan.

2.6 Prosedur Pembuatan Film

1. Memilih lokasi atau tempat untuk casting, hal ini dilakukan pada bulan Januari 2019 pada

minggu ke 1.

2. Menentukan media apa yang ingin digunakan untuk membuat film tersebut, hal ini

dilakukan pada bulan Januari 2019 pada minggu ke 3.

3. Memilih beberapa orang untuk menjadi peran masing masing di film pendek tersebut, hal

ini dilakukan pada bulan Februari 2019 minggu ke 1, dalam peran tersebut diantaranya:

Mas Redika Hikmmatullah sebagai dokter, M.Taufik sebagai warga dan pasien, Zulfi

Rizqi Alfajrin sebagai warga dan pasien, Bobby Candra dan Febrina Isyadora sebagai juru

kamera, Ahmad Farhan Shadiqin sebagai sutradara dan Ganiah Utami sebagai pengarah

alur cerita.

4. Membuat naskah / teks dialog antara pemeran dalam film tersebut, hal ini dilakukan pada

bulan Februari 2019 pada minggu ke 1.


5. Setelah naskah / teks dialog tersebut berhasil, kami mulai melakukan penggarapan film

pendek tersebut, hal ini dilakukan pada bulan Februari 2019 pada minggu ke 1.

6. Setelah itu memilih beberapa video hasil rekaman yang paling cocok untuk ditampilkan,

hal ini dilakukan pada bulan Februari pada minggu ke 1.

7. Memulai tahap editing, hal ini dilakukan pada minggu ke 1 bulan Februari 2019.

8. Setelah itu video tersebut kami tampilkan di beberapa kegiatan luar Puskesmas Cadasari,

hal ini dilakukan pada bulan Februari 2019 minggu ke 2.

9. Menilai keberhasilan dari video tersebut dalam upaya mini project kami yang bertujuan

untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit hipertensi dan diabetes

mellitus melalui media audiovisual, hal ini dilakukan di minggu ke 3 bulan Februari 2019.
BAB III
PENCAPAIAN PROGRAM

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan

pengetahuan mengenai pengetahuan penyakit hiperensi dan diabetes mellitus para peserta

Posbindu setiap bulannya.Prolanis terhadap penyakit hipertensi dan diabetes mellitus ini

bertujuan untuk mencegah adanya komplikasi . Penelitian ini disajikan dalam bentuk

distribusi frekuensi terhadap variabel yang diteliti yaiu variabel pengetahuan mengenai

Posbindu dan senam kaki diabetes.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Posbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan tanggal 27 sampai 28 Februari 2019

3.3 Populasi dan Subjek Penelitian


1. Populasi penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka populasi dalam penelitian ini adalah

semua pesertaPosbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu dilakukan tanggal 27 sampai

28 Februari 2019
2. Populasi target Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka populasi dalam penelitian ini adalah

semua peserta Posbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu dilakukan tanggal 27 sampai

28 Februari 2019

3. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian adalah populasi target yang masuk kriteria inklusi yang berjumlah

10 peserta

3.4 Kriteria Pemilihan Subjek Penelitian


1. Kriteria Inklusi

peserta Posbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu yang aktif dilakukan tanggal 27

sampai 28 Februari 2019

2. Kriteria Eksklusi

peserta Posbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu yang menolak berpartisipasi

3.5 Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh dari pengisian kuesioner yang telah disiapkan oleh peneliti dengan

menggunakan teknik penyuluhan tentang penyakit tidak menular Hipertensi dan

Diabetes Mellitus kepada peserta Posbindu Desa Kuranji dan Kurung Dahu dilakukan

tanggal 27 sampai 28 Februari 2019.


2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berupa kuesioner yang berisi pertanyaan tertulis tentang

pengetahuan Posbindu dan senam kaki diabetes.Pengetahuan reponden tentang

Posbindu dianggap baik bila benar menjawab 8-10 pertanyaan, cukup bila benar 5-7

pertanyaan dan kurang bila hanya menjawab <5 pertanyaan. Pengetahuan reponden

tentang penyuluhan penyakit diabetes mellitus dan hipertensi dianggap baik bila

benar menjawab 8-10 pertanyaan, cukup bila benar 5-7 pertanyaan dan kurang bila

hanya menjawab <5 pertanyaan.

Tabel 2 Klasifikasi Tingkat Pengetahuan Posbindu

Skor Tingkat Pengetahuan


<5 Kurang
5-7 Cukup
8-10 Baik

Tabel 3 Klasifikasi Tingkat Pengetahuan Penyakit Hipertensi dan Diabetes Mlelitus

Skor Tingkat Pengetahuan


<5 Kurang
5-7 Cukup
8-10 Baik

3.6 Teknik Pengolahan


1. Pengolahan Data (editing)

Meneliti kembali apakah lembar kuesioner sudah cukup baik sehingga dapat di proses

lebih lanjut. Editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika terjadi

kesalahan maka upaya perbaikan dapat segera dilaksanakan.

2. Pengkodean (Coding)
Usaha mengklarifikasi jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya, menjadi

bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.

3. Pemasukan Data (Entry)

Memasukan data ke dalam perangkat komputer sesuai dengan kriteria.

4. Pembersihan Data (Cleaning data)

Data yang telah di masukan kedalam komputer diperiksa kembali untuk mengkoreksi

kemungkinan kesalahan.
Bab IV
Hasil Penelitian

4.1 Geografi
Posisi Puskesmas Cadasarisebagai pintu gerbang Kabupaten Pandeglang.Luas

wilayah sebesar 3.649,593 ha yang terdiri dari daratan, pesawahan dan perbukitan. Adapun

batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Serang, sebelah timur berbatasan

dengan Kecamatan Koroncong, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Karang

Tanjung, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Serang. Secara administratif

Puskesmas Cadasari termasuk wilayah Kecamatan Cadasari yang membawahi 11 desa.

Tabel 2.1. Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan


di Wilayah Kerja Puskesmas Cadasari

Jarak Terjauh Waktu Tempuh


dari Desa dari Desa
Luas Wilayah
No Desa
(Ha) ke Puskesmas ke Puskesmas (Menit)
(KM) Roda 2 Roda 4

1 Cadasari 313,62 0.5 3 5

2 Ciinjuk 51 0.5 10 15

3 Cikentrung 296,1533 2 10 15

4 Kadu Ela 105,52 7 15 30

5 Kadu Engang 1575 7 30 60

6 Kaung Caang 286 1 10 15

7 Koranji 226,3 4 20 30

8 Kurung Dahu 160 1 5 10

9 Pasir Peuteuy 200 5 20 30

10 Tanagara 200 1 5 10

11 Tapos 236 4 10 15
Jumlah 3649,593

Sumber: Profil kecamatan

Berdasarkan tabel 2.1 bahwa waktu tempuh tercepat menuju Puskesmas Cadasari

selama 3 menit memakai roda 2 dan 5 menit memakai roda 4 dari Desa Cadasari, karena

Puskesmas Cadasari berada di Desa Cadasari. Waktu tempuh terlama menuju Puskesmas

Cadasari dari Desa Kadu Engang selama 30 menit memakai roda dua dan 60 menit memakai

roda empat. Waktu tempuh berdasarkan kondisi jalan saat ini.

4.2 Demografi
Adapun jumlah penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cadasari pada tahun

2017sebanyak 35.701jiwa.Sesuai sasaran pelayanan kesehatan di Puskesmas penduduk

diklasifikasikan berdasarkan usia sebagai berikut:

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin

di Wilayah Kerja Puskesmas CadasariTahun 2019

No Desa Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Cadasari 3.428 3.469 6.897

2 Ciinjuk 2.141 2.105 4.246

3 Cikentrung 1.244 1.120 2.364

4 Kadu Ela 732 731 1.463

5 Kadu Engang 1.130 1.067 2.197

6 Kaung Caang 2.925 2.242 5.167

7 Koranji 1.133 1.238 2.371

8 Kurung Dahu 968 987 1.955

9 Pasir Peuteuy 973 897 1.870

10 Tanagara 1.555 1.286 2.841


11 Tapos 2.366 1.964 4.330

Jumlah 18.595 17.106 35.701

Sumber: Profil kecamatan

Faktor pendidikan sebagai penunjang dalam meningkatkan kesadaran masyarakat

untuk hidup sehat, maka tingkat pendidikan perlu diketahui untuk menyesuaikan pendekatan

pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Cadasaritahun 2016.Adapun rinciannya

sebagai berikut:

Tabel 2.3. Jumlah Penduduk menurut Tingkat Pendidikan (umur > 12 tahun)

di Wilayah Kerja Puskesmas Cadasari Tahun 2019

Pendidikan
No Desa
SD SLTP SLTA Diploma ≥Sarjana

1 Cadasari

2 Ciinjuk 231 481 222 48 25

3 Cikentrung

4 Kadu Ela

5 Kadu Engang

6 Kaung Caang

7 Koranji

8 Kurung Dahu 786 578 925 6 42

9 Pasir Peuteuy 288 140 69 0 7

10 Tanagara

11 Tapos

Jumlah 1.017 1.059 1.147 54 67

Sumber: Profil desa


Masyarakat sebagai sasaran pelayanan kesehatan dan dipandang sebagai subjek dalam

meningkatkan kesadaran hidup sehat.Oleh karena itu kekuatan masyarakat perlu diketahui

sebagai potensi dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.Berikut adalah kekuatan

berupa organisasi masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Cadasari Tahun 2019.

Tabel 2.4. Organisasi Masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat


Di Wilayah Puskesmas Cadasari Tahun 2019

Bidang
No Desa
Jumlah Ekonomi Kesehatan Pendidikan

1 Cadasari

2 Ciinjuk

3 Cikentrung

4 Kadu Ela

5 Kadu Engang

6 Kaung Caang 1 1

7 Koranji

8 Kurung Dahu

9 Pasir Peuteuy

10 Tanagara

11 Tapos

Jumlah 1 1

Sumber: Profil desa


4.3 Materi

Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan program

lanjut usia pada penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus di Puskesmas DTP Cadasari,

Kabupaten Pandeglang , Banten periode ,yang berisi kegiatan :

1. Penentuan kelompok sasaran pasien Hipertensi dan Diabetes Mellitus

2. Penentuan tempat penyuluhan pasien program lanjut usia terhadap penyakit

hipertensi dan Diabetes Mellitus

3. Sosialisasi pasien program lanjut usia terhadap penyakit hipertensi dan

Diabetes Mellitus

4. Pencegahan serta pemberian terapi pasien program lanjut usia terhadap

penyakit hipertensi dan Diabetes Mellitus

4.4 Hasil pencapaian Program Lanjut Usia

Jumlah penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cadasari pada tahun

2017sebanyak 35.701jiwa, dan 30.000 jiwa diantaranya termasuk dewasa-lansia, yang

mana perlu dilakukan skrining DM dan Hipertensi.

Hasil skrining Prolanis pada PKM cadasari mencapai 330 jiwa dari 7 desa,

terdiri dari 32 jiwa penderita DM dan 135 jiwa penderita Hipertensi dari desa

Cadasari, 32 jiwa penderita Hipertensi dari desa Cikentrung, 26 jiwa Penderita

Hipertensi dari desa Kaung caang, 23 jiwa penderita Hipertensi dari desa Koranji, 39

jiwa penderita Hipertensi dari desa pasir peteuy, 24 jiwa penderita Hipertensi dari

desa Cidahu, 19 jiwa penderita Hipertensi dari desa Tapos. Dari hasil yang didapat

pencapaian program Prolanis belum memenuhi target.


Jumlah pasien DM & Hipertensi
350
300
250
200
150
100
50
0
DM Hipertensi

Berdasarkan data, dimana penderita Hipertensi lebih tinggi dibanding dengan

penderita penyakit Diabetes Melitus (DM) dari seluruh desa.

Perbandingan pasien Hipetansi antar Desa di Cadasari


160
140
120
100
80
60
40
20
0
Kaung Pasir
Cadasari Cikentrung Koranji Cidahu Tapos
Caang Peteuy
DM 32
Hipertensi 135 32 26 23 39 24 19

Berdasarkan data diatas, dimana penderita Hipertensi dari masing – masing

desa terbanyak pada desa cadasari, kedua adalah desa Pasir Peteuy, ketiga desa

Cikentrung, keempat desa kaung caang, kelima desa cidahu, keenama desa Koranji,

ketujuh desa Tapos.

4.5 Sumber Data


Sumber data dalam evaluasi ini diambil dari data sekunder dan tersier yang

berasal dari:
 Profil kesehatan Puskesmas DTP Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten

 Data geografi dari Puskesmas DTP Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten

 Data demografi Puskesmas DTP Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten

 Data kelompok Program Lanjut Usia terhadap pasien penderita Hipertensi dan

Diabetes Mellitus di Puskesmas DTP Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten

 Laporan Program Lanjut Usia terhadap pasien penderita Hipertensi dan Diabetes

Mellitus di Puskesmas DTP Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten

4.4 Hasil

4.4.1 Gambaran Tingkat Pengetahuan Peserta Penyuluhan Diabetes Mellitus dan


Hipertensi

Tabel 4.4 Pengetahuan Responden Mengenai Posbindu

Status Pengetahuan Jumlah Persentase (%)


Baik 8 88,88
Cukup 1 11,11
Kurang 1 11,11

Tabel diatas memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan

baik yaitu sejumlah8 responden (88,88 %), cukup baik sejumlah 1 responden (11,11 %), dan

berpengetahuan kurang sejumlah 1 orang (11,11 %).

Tabel 4.5 Distribusi Jawaban Pada Pertanyaan Mengenai Posbindu

Soal (Nomor) Tahu Tidak tahu


1 8 responden 2 responden
2 8 responden 2 responden
3 5 responden 5 responden
4 8 responden 2 responden
5 5 responden 5 responden
6 5 responden 5 responden
7 9 responden 1 responden
8 4 responden 6 responden
9 6 responden 4 responden

Tabel 4.6 Pengetahuan Responden Mengenai Pengetahuan Penyakit HT dan DM II

Nilai Jumlah Persentase


Baik 7 77,77
Cukup 2 22,22
Kurang 1 11,11

Tabel diatas memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan


baik sejumlah 7 responden (77,77 %), cukup baik sejumlah 2 responden (22,22 %), dan
berpengetahuan kurang sejumlah 1 orang (11,11 %).

Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Pada Pertanyaan Mengenai Penyakit HT dan DM II

Soal Melakukan hal yang bisa Tidak Melakukan hal yang bisa
(Nomor) mengontrol hipertensi mengontrol hipertensi
1 7responden 3responden
2 7responden 3responden
3 8 responden 2responden
4 9responden 1responden
5 3responden 7responden
6 6 responden 3responden
7 8 responden 2responden
8 5 responden 5responden
9 6responden 4responden
10 5responden 5responden
Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 6 responden yang diteliti yang tidak tahuapa itu
penyakit Diabetes Mellitus dan Hipertensi, faktor penyebab diabetes mellitus dan hipertensi,
serta gejala penyakit tersebut.

4.4.2 Gambaran Perbandingan Pengetahuan Responden Mengenai Posbindu dan


penyuluhan penyakit DM II dan HT

Tabel 4.8 Perbandingan Pengetahuan Responden dan Perilaku Responden

Pengetahuan Pengetahuan Senam Kaki Diabetes


Total
Posbindu Baik Cukup Kurang
Baik 5 1 1 7
Cukup 0 1 0 1
Kurang 2 0 0 2
Total 7 2 1 10

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


Laki-Laki 6 60%
Perempuan 4 40%

Dari penelitian di dapatkan Dari penelitian di dapatkan tidak ada responden yang
berjenis kelamin laki-laki sebanyak 6 orang (60%), dan yang berjenis kelamin perempuan
sebanyak 4 orang (40%).

Tabel 4.2 Pendidikan Terakhir Responden

Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase (%)


Tidak Sekolah 0 0
SD 0 0
SMP 5 50%
SMA/Sederajat 5 50%
Perguruan Tinggi 0 0
Pendidikan terakhir seluruh responden yang berjumlah 10 orang, yaitu tamat SMP dan
SMA.Tidak ada responden yang tidak sekolah.

Tabel 4.3 Pekerjaan Responden

Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


Ibu Rumah Tangga 7 70%
PNS 0 0
Pegawai Swasta 0 0
Wiraswasta/ lain-lain 3 30%

Pekerjaan seluruh responden yang berjumlah 10 orang, yaitu sebagai ibu rumah
tangga7 orang dan wiraswasta 3 orang . Tidak ada responden yang memiliki
pekerjaan sebagai PNS, dan pegawai swasta.
Bab V
Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berpengetahuan baik

mengenai Posbindu yaitu sebanyak 7 responden (77,77%), berpengetahuan baik yaitu 2 orang

(22,22) berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 1 orang (11,11%) dan sisanya berpengetahuan

kurang yaitu sebanyak 1 responden (11,11%). Kurangnya pengetahuan responden ini dapat

disebabkan karena kurangnya keaktifan responden dalam mengikuti pembinaanPosbindu

yang diadakan oleh penulis dan petugas kesehatan setempat.

Pengumpulan data mengenai evaluasi pengetahuan masyarakat Kuranji dan Kurung

Dahu dilakukan setelah diadakannya pembinaan mengenai Posbindu tentang pengetahuan

penyakit tidak menular yaitu Hipertensi dan Diabetes Mellitus. Penyuluhan dilakukan pada

tanggal 27 dan 28 Februari 2019.

Mengingat jumlah penduduk Kuranji dan Kurung Dahu yang mengalami penyakit

PTM cukup banyak yaitu 60 orang dengan penyakit hipertensi, 30 orang dengan penyakit

diabetes melitus. Maka dibentuklah Posbindu PTM untuk menemukan kasus penyakit tidak

menular serta konsultasi untuk mencegah dan menanggulangi dampak dari penyakit tidak

menular tersebut.

5.1 Hasil Pembahasan

Hasil pembahasan yang kami dapatkan mengenai tidak tercapainya program Prolanis

disebabkan sebagai berikut:

1. Penjaringan pasien yang belum berkesinambungan di seluruh wilayah kerja PKM

Cadasari.

2. Kurangnya kerjasama lintas program dalam pendataan penemuan pasien prolanis.

3. Belum berjalan maksimal penyuluhan mengenai penyakit DM dan HT.


4. Belum terbentuknya club –club prolanis di setiap desa, disertai mengajak tiap club

untuk mengikuti senam Lansia di PKM cadasari.

5.2 Penyelesaian

Untuk menyelesaikan penyebab tidak tercapainya program Prolanis menurut kami tim

mini project, yaitu:

1. Melakukan penjaringan pasien agar terjadi berkesinambungan di seluruh wilayah

kerja PKM Cadasari.

2. Melakukan kerjasama lintas program dalam pendataan penemuan pasien prolanis.

3. Memaksimal penyuluhan mengenai penyakit DM dan HT.

4. Pembentukan club –club prolanis di setiap desa, disertai mengajak tiap club untuk

mengikuti senam Lansia di PKM cadasari.

5.3 Metode Intervensi

Metode intervensi yang dapat kami lakukan sebagai tim mini projeck kali ini adalah:

1. Melakukan penyuluhan mengenai penyakit DM dan HT.

2. Membantu untuk melakukan penjaringan pasien DM dan Hipertensi di seluruh

wilayah kerja PKM Cadasari.

3. Mengajak tiap club untuk mengikuti senam Lansia di PKM cadasari.

5.4 Hasil Kegiatan Program Prolanis

Penyuluhan /Edukasi Kelompok Peserta Prolanis, Edukasi klub Resiko Tinggi

(Klub Prolanis)Adalah kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan dalam

upaya memulihkan, mencegah penyakit dan meningkatkan status kesehatan bagi

peserta Prolanis PKM Cadasari


Penyuluhan pasien PROLANIS dilakukan secara berkala setiap 3 bulan sekali

, dalam Kegiatan ini para peserta mendapatkan informasi tentang penyakit yang

sedang di deritanya .

1. Senam
Kegiatan senam prolanis merupakan suatu program wajib yang dilaksanakan

oleh Puskesmas Cadasari yang dilaksanakan setiap hari sabtu pagi. Kegiatan ini

meliputi senam, penyuluhan kesehatan, serta pemeriksaan kesehatan para lansia di

sekitar wilayah kerja PKM Cadasari.

Setelah senam kegiatan selanjutnya adalah pemeriksaan kesehatan lansia,

pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan gula darah,

pemeriksaan asam urat dan pemeriksaan kolesterol. selain digunakan untuk

melakukan pemantauan kesehatan lansia dan penderita penyakit kronis lainnya,

kegiatan ini sendiri juga bertujuan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam

pencegahan komplikasi penyakit kronik dan untuk meningkatkan kualitas kesehatan

masyarakat di dalam wilayah kerja PKM Cadasari.

Namun kegiatan ini belum berjalan sempurna, karena kurang nya antusias dari

masyarakat mengenai senam.

2. Pemberian terapi

Pemberian terapi untuk pasien prolanis diberikan secara berkala setiap bulan.

Dosis terapi di sesuaikan berdasarkan kondisi peserta dari hasil pemantauan kesehatan

penderita. Bagi peserta yang mempunyai rujuk balik dari rumah sakit atau dokter

Spesialis pengelola akan berkordinasi dengan apotek yang ditunjuk pihak bpjs dalam

pengadaan obat untuk pasien peserta bpjs.


3. Home Vicite
Sudah dilaksanakan, namun belum sesuai prosedural dan tidak didatanya pasien.
BAB VI

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Evaluasi hasil pelaksanaan merupakan salah satu fungsi management,untuk

menilai keberhasilan pelaksanaan program pemantauan yang dilaksanakan secara

berkala dan terus menerus.Untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam

melaksanakan kegiatan.

Dari hasil evaluasi yang telah dilaksanakan maka hasil dari program ini masih

belum mencapai target, maka dari itu untuk mencapai keberhasilan target target

tersebut. Diperlukan dukungan dari berbagai belah pihak.

5.2 Saran

Sebaiknya edukasi dari PROLANIS semakin diperluas mengenai pentingnya

penanganan promotif dan preventif pada penyakit DM dan hipertenis. Tenaga

kesehatan memberikan informasi yang lebih tentang PROLANIS, sehingga

masyarakat menjadi lebih peduli dan berpartisipasi dalam upaya mendeteksi

kemungkinan adanya bibit penyakit kronis seperti DM dan Hipertensi.


DAFTAR PUSTAKA
Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan, 2014. Program Pengelolaan Penyakit Kronis
(PROLANIS). In: Panduan Praktis. Jakarta: BPJS Kesehatan.
Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan, 2015. Norma Penetapan Besaran Kapitasi dan
pembayaran Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan Pada Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nomor 2 Tahun
2015.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, 2015. Tata Cara Pendaftaran dan Pembayaran Iuran
Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja. Peraturan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 1 Tahun 2015.
Budiarto, W. & Kristiana, L., 2015. Pemanfaatan Dana Kapitasi Oleh Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (Fktp) Dalam Penyelenggaraan JKN.
Idris, F., 2014. Pengintegrasian Program Preventif Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 PT
Askes (Persero) ke Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). J Indon Med Assoc,
64(Fakultas Kedokteraan Universitas Sriwijaya), pp. 115-121.
Ikatan Dokter Indonesia, 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Jakarta: s.n.
Januraga, P. P., 2008. Analisis Besaran Biaya Per Kapita dan Premi Jaminan Kesehatan
Jembrana (JKJ) Berdasarkan Biaya Klaim dan Utilisasi Pelayanan Tahun 2005.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam
Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 59 Tahun 2014.
Purnamasari, D., 2014. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. In: Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: FKUI, pp. 2323-2327.
Putri, A. E., 2014. Seri Buku Saku-2 BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
s.l.:Friedrich-Ebert-Stiftung.
Rini, D. E., 2014. Analisis Partisipasi Tenaga Kesehatan Pelayanan Primer dalam Program
Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Kota Kendari. Issue Makassar.
Sari, N. M., 2015. Analisis Implementasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)
BPJS Kesehatan pada. Surakarta.

Lampiran

1. Senam

Ket : kegiatan senam prolanis pada hari sabtu pagi di PKM casadasari

2. Penjaringan Pasien DM & Hipertensi

Ket : Penjaringan pasien DM dan Hipertensi di desa Pasir Peteuy


3. Kegiatan preventif pada anak melalui kegiatan Posyandu

4. Kegiatan Home visite