Anda di halaman 1dari 12

PSIKODIAGNOSTIK NON-PROYEKTIF

Myers-Briggs Type Indicator Test

DOSEN PENGAMPU:

Neneng Tati Sumiati, M.Si.,Psi

DISUSUN OLEH:

Firdha Amelia Widya A. 11160700000043

Nurhanisyah 11160700000044

Euis Nurhafizah 11160700000053

KELAS:

6/B

FAKULTAS PSIKOLOGI

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengklasifikasi kepribadian manusia menjadi sebuah kajian menarik pada bidang
ilmu psikologi. Informasi tentang kelebihan dan kelemahan diri seseorang dapat
teridentifikasi walaupun tidak secara keseluruhan. Dalam perkembangan ilmu psikometri
sebagai upaya untuk mengukur atribut-atribut kepribadian manusia masih terus dilakukan
hingga saat ini. Hal itu dilakukan karena manusia memiliki karakteristik yang unik dan
saling berbeda dengan yang lain.
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah salah satu tes psikologi yang paling
banyak dilakukan. Baik di tempat kerja, organisasi, maupun dalam keseharian kita, kita
pasti sering mendengar diskusi orang lain mengenai tipe kepribadian mereka dan hal-hal
yang berhubungan dengan tipe kepribadian tersebut.
Pada makalah ini penulis akan menjabarkan apa saja yang terkait dengan tes
MBTI, yaitu mengenai latar belakang teori dari tes MBTI, perkembangannya, bagaimana
cara administrasinya, skoring, validitas dan reliabilitas, norma, serta keunikan dan
keterbatasan dari tes MBTI.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana latar belakang teori dari tes MBTI?


2. Bagaimana perkembangan tes MBTI hingga saat ini?
3. Bagaimana cara mengadministrasikan tes MBTI?
4. Bagaimana cara skoring tes MBTI?
5. Apa yang dimaksud validitas dan reliabilitas dari tes MBTI?
6. Apa saja norma yang berlaku pada tes MBTI?
7. Apa saja keunikan dan keterbatasan dari tes MBTI?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Teori pada Tes MBTI

Myers Briggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang berdasarkan
atas pemikiran C.G. Jung (1921-1971) mengenai persepsi, judgment dan sikap yang
digunakan oleh setiap tipe yang berbeda dari individu. Persepsi adalah kemampuan
psikologis individu untuk sadar pada hal-hal, orang-orang dan ide-ide. Judgment
melibatkan berbagai cara untuk menyimpulkan apa yang telah dipersepsikan individu
tersebut. Kalau orang berbeda satu sama lain ketika mempersepsikan sesuatu juga ketika
melakukan judgment, maka perbedaan ini juga mempengaruhi minat, ketrampilan, nilai-
nilai serta reaksi mereka.

Menurut Carl Gustav Jung dalam L. Naisaban (2003: 22), manusia memiliki dua
tipe kepribadian yakni ekstrovert dan introvert. Selain itu Jung juga mengemukakan
pendapat tentang empat fungsi kepribadian manusia yang terdapat dalam bukunya yang
berjudul Psychological Types, yakni; sensing (fungsi pengindera), intuition (fungsi
intuitif), thinking (fungsi berfikir), dan feeling (fungsi perasa) atau lebih dikenal sebagai
Tipe Kepribadian Jung.

B. Perkembangan Tes MBTI

MBTI dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan puterinya Isabel Briggs
Myers sejak Perang Dunia II antara tahun 1939-1945. Mereka percaya bahwa
pengetahuan akan kepribadian dapat membantu perempuan yang akan memasuki dunia
kerja di bidang industri. Setelah mengalami pengembangan, akhirnya Tes MBTI ini
pertama kali dipublikasikan pada tahun 1962. Dalam mengembangkan MBTI, Isabel
Briggs Myers dan Katharine Briggs Myers membahas dua tujuan terkait dalam
perkembangan dan penerapan instrumen MBTI, yaitu (1) Identifikasi dari dasar
preferensi yang tersirat dalam Teori Carl Jung, (2) Identifikasi dan deskripsi dari 16 tipe
kepribadian yang merupakan hasil dari interaksi dan preferensi (Myers Briggs
Foundation, 2015).

Katherine Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers merasa yakin bahwa teori
Jung dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman manusia. Mereka
mengembangkan suatu instrumen berdasarkan teori Jung yang memungkinkan seseorang
mempelajari jenis perilakunya sendiri sehingga dapat memahami dirinya sendiri dengan
lebih baik berkaitan dengan cara mereka berinteraksi dengan yang lain. Katharine Briggs
bekerja secara diam-diam dan mengembangkan teori Jung lebih lanjut. Tapi putrinya,
Isabel yang lebih berhasil mengembangkan teori tersebut. Dia mampu menemukan fungsi
lain yang belum didefinisikan oleh Jung yaitu Perceiving dan Judging.

Teori Myers-Briggs menyimpulkan bahwa setiap individu mempunyai empat


macam modus utama untuk beroperasi. Berikut penjelasan masing-masing dimensi
kepribadian menurut Nafis Mudrika (2011: 2), antara lain:

1) Extrovert vs Introvert (E vs I)
Dimensi EI melihat sumber energi seseorang berasal dari luar atau dalam
(dirinya). Ekstrovert merupakan tipe kepribadian yang menyukai dunia luar. Mereka
senang bergaul, berinteraksi sosial, beraktifitas dengan orang lain, serta berfokus pada
dunia luar. Sebaliknya, dimensi introvert menyukai dunia dalam (diri sendiri).
Introvert senang menyendiri, merenung, membaca dan tidak begitu suka bergaul
dengan banyak orang, mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi serta fokus.
2) Sensing vs Intuition (S vs N)
Dimensi SN melihat cara individu memproses data. Tipe sensing memproses
data berdasar fakta yang konkrit, praktis, realistis dan melihat data apa adanya.
Mereka menggunakan pedoman pengalaman dan data konkrit serta memilih cara-cara
yang sudah terbukti. Tipe sensing berfokus pada masa kini. Sementara tipe intuition
memproses data dengan melihat pola dan hubungan, pemikir abstrak, konseptual serta
melihat berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka berpedoman imajinasi,
memilih cara unik, dan berfokus pada masa depan. Tipe intuition sangat inovatif,
penuh inspirasi dan ide unik.
3) Thinking vs Feeling (T vs F)
Dimensi ketiga melihat bagaimana orang mengambil keputusan. Thinking
adalah mereka yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk
mengambil keputusan. Mereka cenderung berorientasi pada tugas dan objektif,
terkesan kaku dan keras kepala. Tipe Thinking menerapkan prinsip dengan konsisten.
Sementara Feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai
yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan. Mereka berorientasi pada
hubungan dan subjektif. Tipe Feeling sering terkesan memihak, mereka empatik dan
menginginkan harmoni.
4) Perceiving vs Judging (P vs J)
Dimensi terakhir melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging disini bukan
berarti judgemental (menghakimi). Judging diartikan sebagai tipe orang yang selalu
bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur
(tidak melompat-lompat). Mereka tidak suka hal-hal mendadak dan di luar
perencanaan. Tipe judging ingin merencanakan pekerjaan dan mengikuti rencana itu.
Orang dengan dimensi judging bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur dan
perencanaan step by step. Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap
fleksibel, spontan, adaptif, dan bertindak secara acak untuk melihat beragam peluang
yang muncul. Perubahan mendadak tidak masalah dan ketidakpastian membuat
mereka bergairah. Orang dengan dimensi perceiving bagus dalam menghadapi
perubahan dan situasi mendadak.

Berdasarkan identifikasi Myers dan Briggs, maka tipe kepribadian manusia dapat
digolongkan menjadi 16 tipe kepribadian yang mana tipe-tipe tersebut merupakan
kombinasi dari keempat dimensi kecenderungan di atas, diantaranya:

1. ESTJ : Extrovert, Sensing, Thinking, Judging


2. ENTJ : Extrovert, Intuition, Thinking, Judging
3. ESFJ : Extrovert, Sensing, Feeling, Judging
4. ENFJ : Extrovert, Intuition, Feeling, Judging
5. ESTP : Extrovert, Sensing, Thinking, Perceiving
6. ENTP : Extrovert, Intuition, Thinking, Perceiving
7. ESFP : Extrovert, Sensing, Feeling, Perceiving
8. ENFP : Extrovert, Intuition, Feeling, Perceiving
9. INFP : Introvert, Intuition, Feeling, Perceiving
10. ISFP : Introvert, Sensing, Feeling, Perceiving
11. INTP : Introvert, Intuition, Thinking, Perceiving
12. ISTP : Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving
13. INFJ : Introvert, Intuition, Feeling, Judging
14. ISFJ : Introvert, Sensing, Feeling, Judging
15. INTJ : Introvert, Intuition, Thinking, Judging
16. ISTJ : Introvert, Sensing, Thinking, Judging

Form standar MBTI sudah dipublikasikan sejak 1943 dan menjadi salah satu alat
assesmen fungsi mental yang paling banyak digunakan dan mampu diaplikasikan dalam
banyak bidang yaitu pendidikan, perilaku organisasi, pengembangan karier, dan lain-lain.
Sampai dengan saat ini, form MBTI telah mengalami perkembangan yaitu terdiri atas
MBTI step I, step II dan step III dan Murphy-Meisgeier Type Indicator for Children yang
digunakan pada anak berusia 8 sampai 14 tahun. Saat ini, MBTI banyak digunakan di
perusahaan dan agensi pemerintah sebagai bagian dari lokakarya (workshop) untuk
mengembangkan produktivitas, kerjasama dalam tim, kepemimpinan dan keahlian lain
yang dibutuhkan dalam korporasi, dan juga dalam pemilihan karyawan dalam tes
penerimaan.

C. Administrasi Tes MBTI

Panduan Standard Administrasi

Pelaksanaan pengadminstrasian MBTI step 1 dan step 2 dilakukan tanpa dibatasi


oleh standard waktu tertentu, namun juga harus mempertimbangkan keefektifan waktu
yang seharusnya diberikan untuk klien agar mampu menjawab setiap pertanyaan secara
keseluruhan. Batasan waktu yang biasa diberikan antara 15 sampai 25 menit. Dalam
proses pengerjaannya, terkadang juga terdapat beberapa kelalaian yang dilakukan oleh
klien, sehingga membuat hasil tes tidak optimal. Salah satu bentuk kelalaian yang
dilakukan berupa ketidakmampuan klien untuk memilih salah satu diantara 2 pernyataan
yang disediakan pada setiap nomor soal. Klien cenderung memaksakan diri dalam
memilih salah satu pernyataan yang ada sehingga terjadi ketidaksesuaian atas “apa”
yang ada pada diri klien dengan jawaban yang diberikan. Berikut ini adalah pedoman
standard dalam pengadministrasian MBTI, antara lain:

 Tidak ada batasan waktu untuk menyelesaikan kuesioner MBTI, namun tetap
menjaga keefektifan waktu untuk penyelesaiannya.
 Segera memberikan respon untuk item yang merefleksikan diri.
 Beberapa item bisa dihilangkan, apabila benar-benar tidak memungkinkan untuk
membuat pilihan.
 Jangan memberikan penjelasan kepada klien terkait dengan makna kata atau frase.
 Menyarankan jawaban yang berdasar pada pemahaman sendiri
 Memberitahukan pada klien bahwa setiap jawaban item tidak akan mempengaruhi
hasil tes secara keseluruhan.

Instruksi Pengadminsitrasian MBTI

“Anda akan dihadapkan pada 70 pasang pernyataan. Tugas anda adalah memilih satu
dari 2 pernyataan (A atau B) yang ada pada masing-masing soal, manakah yang
menurut anda paling mencerminkan diri anda. Jika anda merasa bahwa kedua
pernyataan tersebut sama-sama mencerminkan diri anda, maka anda diharuskan tetap
memilih satu pernyataan yang paling mencerminkan diri anda. Begitu pula sebaliknya,
jika anda merasa bahwa kedua pernyataan tersebut sama-sama tidak mencerminkan
diri anda, anda tetap harus memilih satu pernyataan yang paling mendekati diri anda”.

D. Skoring pada Tes MBTI

Tujuan utama dalam melakukan skor Step I dari Type Indicator kepribadian
Myers-Briggs adalah untuk mengelompokkan klien dalam 4 kategori: E atau I, S atau N,
T atau F, dan J atau P. Dengan diperkenalkannya M Formulir tahun 1998, penggunaan
istilah skor kurang sesuai, baik dalam menjelaskan tipe klien dan dalam "berpikir
tentang" hasil tipe. Jenis skor yang dilaporkan pada formulir sebelumnya merupakan
Indikator yang secara tidak sengaja membuat kesalahan interpretasi dalam mengukur
kepribadian, kompetensi, kedewasaan. M Formulir memiliki satu ukuran yang
direferensikan sebagai skor.

Langkah-langkah penskoran MBTI:

1. Pada lembar jawaban MBTI terdapat 70 pernyataan


2. Setiap pernyataan terdiri atas pilihan jawaban A dan B
3. Setiap 1 pilihan jawaban pada masing-masing nomor soal akan diberikan skor
angka 1.
4. Pensekoran dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing nilai angka 1
pada pilihan jawaban A dan pilihan jawaban B.
5. Penjumlahan dilakukan berdasar pada pengelompokan yang ada.
6. Hasil penjumlahan pada pengelompokan tersebut akan menghasilkan nilai pada
masing-masing dikotomi, yang nantinya akan digambarkan pada grafik
7. Hasil grafik yang ada akan digunakan sebagai dasar interpretasi MBTI masing-
masing individu.

E. Validitas dan Reliabilitas

Keakuratan MBTI tergantung pada jujur diri pelaporan oleh orang diuji seperti
beberapa pengukuran kepribadian lain, seperti Minnesota Multiphasic Personality
Inventory (MMPI) atau Inventarisasi Personality Assessment, MBTI tidak menggunakan
skala validitas. Untuk menilai tanggapan berlebihan atau baik secara sosial, akibatnya
individu termotivasi untuk memalsukan tanggapan mereka, Jika dan satu studi
menemukan bahwa MBTI penghakiman atau dimensi persepsi berhubungan dengan
Kepribadian skala kebohongan Angket Eysenck.. responden "takut mereka kehilangan
sesuatu, mereka bisa menjawab karena mereka menganggap mereka seharusnya”.

Beberapa peneliti telah menafsirkan reliabilitas tes rendah. Studi telah


menemukan bahwa antara 39% dan 76% dari mereka yang diuji jatuh ke dalam jenis
yang berbeda setelah pengujian ulang beberapa minggu atau tahun kemudian. Suatu
kajian melaporkan bahwa tes yang memiliki reliabilitas belah dua bagus, Sedangkan
reliabilitas MBTI sensitive terhadap jarak waktu antar tes. Sekitar 83% ketika individu
dites lagi setelah sembilan bulan, dan individu dites ulang setelah lebih dari sembilan
bulan. Secara keseluruhan 50% masih sama ketika di tes ulang kemudian, dan 36% tidak
sama setelah lebih dari sembilan bulan.

Banyak masalah validitas dan reliabilitas dalam alat tes ini, yang diperburuk
dengan sedikit berkembangnya alat ukur ini sejak awal dibuatnya di tahun 1940. Masalah
validitas dan reliabilitas ini juga merupakan hasil penelitian David J. Pettinger di tahun
2005, yang mengambil kesimpulan bahwa walaupun alat tes ini menawarkan kemudahan
dan daya tarik lainnya, MBTI belum bisa mendukung klaim yang ada mengenai alat tes
ini. Ronald E. Riggio menulis kritik terhadap tes MBTI dengan menggaris bawahi
kekurangan utama dari tes ini, bahwa MBTI didasarkan pada teori yang tidak pernah
teruji dalam eksperimen yang terkontrol. Teori kepribadian Jung selain didasarkan oleh
pengamatan klinis, juga banyak didasari oleh mitologi dan hal mistis lainnya yang sulit
dibuktikan secara ilmiah.

F. Kekurangan dan Kelebihan

Kelebihan Tes MBTI


1. Tes ini dirancang untuk mengimplementasikan teori, jadi teori (jung) harus dimengerti
untuk memahami Tes MBTI
2. Berdasarkan teori, ada dinamika hubungan yang khusus antar skala, yang kemudian akan
mengantar penjelasan tentang 16 tipe kepribadian
3. Subjek mengenali karakteristiknya dengan jelas dan tipologi sebagai cara untuk
menjelaskan dirinya dan orang lain. Aspek pada step II, mampu memperkaya
pemahaman mengenai individual differences dalam masing-masing tipe kepribadian
4. Skala ini memperhatikan fungsi dasar manusia yaitu persepsi judgment yang selalu ada
diperilaku manusia, sehingga sangat bermanfaat untuk digunakan dalam kehidupan
sehari-hari
5. MBTI tidak bersifat menilai, sehingga tidak ada yang baik dan buruk ataupun yang benar
dan salah. Akan tetapi responden harus menjawab sesuai dengan dirinya.
Kelemahan Tes MBTI

1. Dari sebuah pandangan atau perspektif normatif, akan diperoleh deskripsi atas tipe
kepribadian sehingga terlihat terlalu mudah untuk menggambarkan permasalahan
psikologis yang sebenarnya.
2. MBTI kurang memperhtikan perbedaan individu sehingga akan mempengaruhi hasil
tesnya
3. Walaupun teori ini bertahan lama, namun validitas dari tes MBTI masih perlu
dipertanyakan.
4. Hasil dari tes MBTI bersifat statis, hanya berorientasi pada hasil dari tes MBTI.
Kesederhanaan dari pertanyaan mendorong munculnya gagasan bahwa tipologi sendiri
merupakan hal sederhana dan statis bukannya kompleks dan dinamis

G. Norma Pada Tes MBTI

1) Tipe bukan trait


MBTI tidak mengindikasikan level atau tingkat kekuatan dari masing-masing fungsi,
tapi hanya mengindikasikan kecenderungan ke arah fungsi yang mana.
2) Sukarela
Partisipan yang digunakan harus sukarela, tidak etis memaksa orang untuk di tes
MBTI.
3) Kerahasiaan
Hasil dari MBTI Reported dan Best Fit type bersifat rahasia antara partisipan dan
administrator dan tidak etis dibuka secara umum tanpa persetujuan.
4) Tidak untuk seleksi
Hasil MBTI tidak boleh untuk melabel, mengevaluasi batas kemampuan responden,
MBTI bukan alat yang pantas dan tepat untuk seleksi pegawai. Namun tes ini dapat
digunakan untuk membantu para pencari kerja menemukan tipe pekerjaan yang
paling cocok untuk mereka.
5) Umpan balik
Setiap partisipan harus mendapatkan umpan balik yang pantas dari administrator.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Myers Briggs Type Indicator Test atau biasa disingkat menjadi tes MBTI berdasarkan
teori Carl Gustav Jung yang menurut Ia, manusia memiliki dua tipe kepribadian yakni
ekstrovert dan introvert. Selain itu Jung juga mengemukakan pendapat bahwa ada empat
fungsi kepribadian manusia yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Psychological
Types, yakni; sensing (fungsi pengindera), intuition (fungsi intuitif), thinking (fungsi
berfikir), dan feeling (fungsi perasa) atau lebih dikenal sebagai Tipe Kepribadian Jung.

Lalu, teori Jung dikembangkan oleh Katharine Briggs dan putrinya, yaitu: Isabel yang
lebih berhasil mengembangkan teori tersebut. Dia mampu menemukan fungsi lain yang
belum didefinisikan oleh Jung yaitu Perceiving dan Judging. Mereka juga
mengidentifikasikan 16 tipe kepribadian berdasarkan 4 tipologi kepribadian Jung.

Administrasi pada tes ini biasanya diberikan batasan waktu ± 15 hingga 25 menit
dengan 70 pernyataan beserta 2 pilihan. Skoring pada tes ini memberikan angka 1 pada setiap
jawaban pernyataan dan dijumlahkan sesuai pengelompokkan yang ada. Beberapa peneliti
telah menafsirkan reliabilitas tes rendah. Studi telah menemukan bahwa antara 39% dan 76%
dari mereka yang diuji jatuh ke dalam jenis yang berbeda setelah pengujian ulang beberapa
minggu atau tahun kemudian. Begitupun validitasnya yang masih dipertanyakan.
Menurut norma yang ada, tes MBTI untuk mengetahui tipe kepribadian, bukan trait.
Partisipan bersifat sukarela (tidak ada unsur paksaan), hasil tes ini dijaga kerahasiaannya
antara partisipan dan tester, tes ini juga tidak untuk menyeleksi pegawai serta feedback tester
haruslah baik kepada partisipan.

DAFTAR PUSTAKA

Amaliyah, Meli & Fiftin Noviyanto. 2013. “Aplikasi Tes Kepribadian untuk Penempatan
Karyawan Menggunakan Metode MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) Berbasis Web (Studi
Kasus: PT. Winata Putra Mandiri)”. Jurnal Sarjana Teknik Informatika, 1(2).

Anastasi, A. & Urbina, S. 1997. Psychological Testing, 7 th Edition. Prentice-Hall, Inc.

Eko, S & Mudaim. 2017. Pengembangan Inventori MBTI Sebagai Alternatif Instrumen
Pengukuran Tipe Kepribadian. Indonesian Journal Of Educational Counseling. Januari. Vol 1,
No 1.

Gregory, R. J. 2007. Psychological Testing: History, Principles, 5th Edition. Boston:


Pearson Education, Inc.

Http://eprints.uny.ac.id/28427/2/BAB2.pdf (Diakses pada tanggal 19 April 2019).

Mudrika, N. 2011. Ebook Membaca Kepribadian Menggunakan Myers Briggs Type


Indicator).

Riggio, R.E., (2014, 21 Februari). “The Truth about Myers-Briggs Types”. Psychology
Today.

Beri Nilai