Anda di halaman 1dari 140

BAB 1 Pendahuluan

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Bencana merupakan bagian dari kehidupan
manusia yang datang tanpa diduga kapan akan terjadi,
bilamana terjadi dan dimana terjadi. Oleh karena
ketidakpastian tersebut, banyak masyarakat yang kurang
peduli dan tidak Perrnah menyiapkan diri dalam
menghadapi bencana tersebut. Jika terjadi bencana yang
sesungguhnya maka semua akan panik dan akhirnya
timbul korban dan kerusakan yang lebih besar lagi.
Padahal jika masyarakat memahami dan menjalankan
manajemen bencana dengan baik, maka dampak akibat
dari bencana tersebut sebisa mungkin dapat
diminimalisir baki korban material maupun rohani atau
jiwa, bila perlu tidak ada korban karena sudah
diantisipasi terlebih dahulu. Pendidikaan dan
pengetahuan terhadap antisip asi manajemen
kebencanaan masih dirasa belum maksimal dan bisa
dikatakan masih kurang. Masyarakat luas banyak yang
tidak mengenal apalagi sampai memahami prinsip -
prinsip manajemen pencegahan bencana. Penerapan
manajemen bencana secara terorganisir dengan baik baru
terbatas dijalankan dikalangan usaha atau perusahaan
industri skala besar karena merupakan salah satu bagian

Pramudi Harsono - Suflani 1


BAB 1 Pendahuluan

dari program keselamatan dan kesehatan kerja (Ramli,


2010).
Sejalan dengan semakin meningkatnya
perkembangan berbagai macam industri, se makin
meningkat pula dampak positif dan negatif yang diterima
oleh pekerja maupun masyarakat umum yang berkaitan
secara langsung maupun taidak langsung terhadap
keberadaan perusahaan industri tersebut. Dampak
negatif dari proses produksi operasional bisa d imulai dari
skala kecil sampai pada skala besar , bahkan bisa
dikatakan dalam jumlah skala yang lebih besar lagi dan
luas menyebar dapat dikatakan menjadi tragedi bencana
industri. Kondisi ini menuntut cara berfikir pelaku bisnis
atau pihak manajemen organ isasi untuk mebuat
perencanaan strategis. Salah satu bagian penting yang
harsu diperhatikan dalam perencanaan strategis ini
adalah perencanaan menghadapi bencana. Bencana
menjadi subyek penting dalam elemen perencanaan
strategis karena sifatnya yang tidak pasati sehingga
manajemen dituntut untuk selalu siap mengahadapinya.
Pencegahan kerugian melalui sebuah perencanaan
manajemen bencana yang matang akan lebih berguna dan
lebih menekan biaya dibanding tindakan setelah bencana
tersebut terjadi. (Pribadi, 2009 ).
Keberadaan industri tak mungkin dihindari pada
saat sekarang, karena keberadaan industri pada suatu
daerah dapat meningkatkan perekonomian daerah
tersebut,namun industri juga beresiko menyebabkan
terjadinya bencana yang bisa menyengsarakan

2 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

masyarakat. Koesoemadinata dalam acara bedah buku “


Bencana Industri : Relasi Negara, Perusahaan Dan
Masyarakat Sipil” di Galeri Cipta III Taman Ismail
Marjuki menjelaskan bahwa masyarakat tak mungkin lagi
hidup tanpa keberadaan industri, namun pemerintah
juga dituntut untuk memperhatikan persoalan sosial
budaya masyarakat setempat jika di suatu daerah
didirikan perindustrian. Pada abad ini, bencana non
alam yang terburuk mengakibatkan penderitaan manusia
dan kematian disebabkan oleh perang, trasnportasi, dan
insutri. Pada awalnya yang terkena dampak bencana
industri terutama masyarakat yang terlibat dalam
kegiatan industri, akan tepai setelah perang dunia kedua
kabibat dari ekspansi yang cepat, industri kimia dan
penggunaan tenaga nuklir menyebabkan bahaya yang
serius kepada orang -rang diluar iudsntri. Menurut
Bernadino 9rammazzi, 1989), bencana industri kimia
yang pertama kali didokumentsaikan bersamaan dengan
asal-usul industri ditahun 1600 -an. Bencana industri
kimia hari ini berbeda dalam proses terjadinya da n jenis
bahan kimianya (ILO, 1988). Bencana industri pada
umumnya adalah peristiwa yang tidak terkendali yang
mengakibatkan kematian dan cidera pada sejumlah orang
didalam atau diluar pabrik, bersifat ekstensif dan
berakibat kerusakan lingkungan atau kedua nya.
Bencana akibat kegagalan teknologi pada industri
selain akan menyebabkan korban jiwa, sarana dan
prasarana industri itu sendiri, juga mengorbankan dan
merugikan masyarakat yang bertempat tinggal di

Pramudi Harsono - Suflani 3


BAB 1 Pendahuluan

lingkungan industri tersebut. Bencana industri kimia


umumnya adalah peristiwa yang tidak terkendali yang
bisa mengakibatkan kebakaran, ledakan, atau lepasnya
zat beracun yang mengakibatkan kematian dan cidera
pada sejumlah orang didalam atau diluar pabrik, bersifat
ekstensif dan mengakibatkan kerusakan ling kungan atau
keduanya. Menurut ILO setiap tahun terjadi 1,1 juta
kematian yang disebabkan penyakit atau kecelakaan
akibat hubungan pekerjaan. 300.000 kematian terjadi dari
250 juta kecelakaan, sisanya adalah kematian karena
penyakit akibat hubungan pekerjaa n, dimana
diperkirakan terdapat 160 juta penyakit akibat hubungan
pekerjaan.
Dua bencana industri telah membuat dunia
terhenyak, berduka dan sekaligus khawatir akan dampak
yang akan ditimbulkannya. Pertama, bencana industri 3
Desember 1984 meledaknya pabri k methyl isocyyanate
(MIC) bahan baku peptisida di Bhopal India. Korban
mencapai 50.000 – 100.000, kematian sekitar 2000 -2500
orang. Bencana Industri Kedua terjadi pada 26 April 1986,
meledaknya reaktor nuklir di Chernobil, menyebabkan 30
tewas seketika, akibat sampah nuklir ribuan orang
terkena dampak dan akan meninggal karena kanker
(https://bempolnes.wordpress.com ).
Satu bencana industri yang tak kalah besar
dampaknya dan memakan banyak korban juga terjadi di
Indonesia. Bencana itu adalah keluarnya lumpur panas
akibat aktivitas eksplorasi gas yang dilakukan oleh PT.
Lapindo Brantas Inc. di Porong Sidoarjo Jawa Timur pada

4 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

29 Mei 2006. Bencana ini mengakibatkan tergenangnya


area pertanian, perumahan dan indus tri di 16 Desa dari
tiga kecamatan disekitarnya, yaitu kecamatan Porong,
Jabon dan Tanggulangin. Bencana lumpur lapindo ini
menyebabkan lebih dari 8200 jiwa dievakuasi dan lebih
dari 25 ribu jiwa harus mengungsi, sekitar 10.000 rumah
tenggelam, belum lagi ternak dan infra struktur yang
rusak. Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana industri
memiliki dampak yang sangat luas dan menimbulkan
kerugian yang tidak sedikit.
Pulau Jawa merupakan kantong kantong wilayah
potensi terjadinya bencana alam, sebut saja Jaw a Barat,
Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI dan khususnya wilayah
provinsi Banten, tingkat kerentanan bencana industri,
disesuaikan berdasarkan tingkat kerentanan gagal
tehnologi, yang mnegacu pada pada kepadatan
penduduk dan kelompok rentan. Dari industri yang
sudah didefinisikan memiliki potensi bahaya besar,
kemudian dilakukan pendifinisian tingkat kerentanan
dengan mengacu pada pedoman pengkajian resiko
bencana yang sesuai dengan peraturan BNPB. No. 02
Tahun 2012. Meningkatknya jumlah industri migas
maupun non migas yang terus bertambah setiap
tahunnya tentu merupakan sinyal positif bagi
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun industri
berikut potensi bencana serta dampaknya negatif yang
terbawa adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindari
apalagi dihilangkan sama sekali. Oleh karenanya strategi
untuk mengantisipasi porensi bencana atau dampak

Pramudi Harsono - Suflani 5


BAB 1 Pendahuluan

negatif dari industri menjadi sangat penting dilakukan.


Sehubungan dengan nhalini maka keberadaan atau
tersedianyapemetaan resiko bencana industri di
Indonesia menjadi sangat krusial.
Dibawah ini dijelaskan mengenai tingkat kerentanan
bencana industri di provinsi Banten melalui tabel sebagai
berikut :
Tabel 1.1
Jumlah Daerah rentan Bencana Industri Ditiap Provinsi
di Pulau Jawa

Jumlah di Tingkat Kerentanan


Daerah
No. Provinsi
Rentan Tinggi Sedang Rendah
Bencana

1. Jawa 13 13
Barat

2. Banten 4 4

3. Jawa 7 3 3 3
Timur

4. Jawa 3 3
Tengah

5. DI. 1 1
Yogakarta

Sumber : BNPB, tahun 2017

6 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

Berdasarkan data potensi Bencana yang ada, BPBD


dan DLH Kota Cilegon telah memetakan potensi bencana
industri sebagai berikut :

Gambar 1.1
Pemetaan Wilayah Potensi Bencana Industri di Kota
Cilegon, Banten

Pada Tabel 1.1 dan gambar 1.1 dapat dijelaskan


bahwa potensi wilayah provinsi Banten menunjukkan
wilayah yang rentan terhadap bencana industri, yaitu
dengan urutan dalam tabel yang menempati urutan no.2
dengan skala bencana industri dengan tingkat
kerentanan yang cukup tinggi. Dari gambar 1.1. juga
tampak jelas juga diplot dengan warna merah adalah
wilayah rentan terhadap bencana industri dengan

Pramudi Harsono - Suflani 7


BAB 1 Pendahuluan

sebaran sesuai dengan zona wilayah industri yang ada


dikota Cilegon, Provinsi Banten.
Pada peta rawan bencana bencana industri dapat
dikembangkan lebih komprehensif menjadi peta resiko
bencana industri yang nantinya akan digunakan sebagai
modal dasar dalam menyusun strategi dalam
mengidentifikasn potensi dan manajemen bencana
industri dikota Cilegon, provinsi Banten. Disamping juga
pemetaan ini tidaklah mudah karena menyangkut juga
dari manajemen resiko dan strategi dalam menyusun dan
mengidentifikasi potensi bencana industri tersebut.
Dari data Industri di kota Cilegon itu sendiri,
menurut Asosiasi AMC/CMA (Anyer Merak
Cilegon/Chemical Manufacturer Association 2010 , dapat
diketahui bahwa bencana industri kimia/petrokimia di
area Anyer – Merak – Cilegon dan Bojanegara juga telah
beberapa kali terjadi dan kemungkinan bisa terjadi lagi
karena bahan baku dan hasil hasil produksi yang
ditangani oleh industri ini adalah termasuk bahan yang
berbahaya. Data dibawah ini adalah bencana industri
yang pernah terjadi diarea Anyer - Merak - Cilegon dan
Bojanegara antara lain sebagai berikut :
1. Kebakaran pada 10 yangki dari 13 tangki penampung
bahan kimia milik PT. Tomindomas Bulktank
Terminal (TBT) di Jalan Me rak, Cilegon, Provinsi
Banten, pada hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2002.
Selain tangki penampung, beberapa truk pengangkut
juga terbakar. Tangki-tangki tersebut berisi Iso Prophil

8 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

Alcohol, Methyl EtthylKetone, Vinyl Acetat Monomer,


Methyl Ethylene Glycol . Akibat kejadian tersebut
perusahaan akhirnya ditutup. (Disnaker dan DLH
Kota Cilegon).
2. Kebakaran tangki Ethylene PT. Asahimas Chemical di
Anyer pada tahun 2002. Akibat kejadian tersebut,
ratusan karyawan dievakuasi dan proses produksi
dihentikan sementara. (Semianr komunitas Indonesia
tahun 2004).
3. Meledaknya tangki utama untuk memproduksi
bahan kimia cair (azodicarboamide), milik PT. Lautan
Otsuka Chemical di kawasan industri Ciwandan, Kota
Cilegon, yang terjadi pada hari Senin tanggal 16
Februari 2009, jam 15.15 Wib. Ledakan berakibat 5
karyawan mengalami luka -luka bakar. Tiga
diantaranya harus dirawat di Rumah Sakit Krakatau
Medika Cilegon, sedang 2 karyawan lainnya hanya
dirujuk untuk rawat jalan. (Disnaker dan DLH Kota
Cilegon).
4. Terjadi lagi peristiwa me ledaknya tangki, yang berisi
resin, formalin, methano l dan asam milik PT. Dover
Chemical di Desa Gerem, Kecamatan Grogol, Kota
Cilegon, Provinsi Banten, pada hari Kamis, tanggal 18
Februari 2016, pada jam 16.30 WIB, yang
menyebabkan karyawan mengalami ses ak nafas dan
dibawa ke RS. Krakatau Medika, Cilegon.

Pramudi Harsono - Suflani 9


BAB 1 Pendahuluan

5. Dan masih banyak lagi terjadi kecelakan industri


lainnya dibeberapa tempat .(Disnaker dan DLH Kota
Cilegon).
Sekecil apapun bencana yang disebabkan oleh
industri tentunya tidak diinginkan oleh pihak mana pun,
baik itu perusahaan, karyawan , masyarakat maupun
pemerintah. Karena bencana industri membawa
kerugian yang cukup besar bagi perusahaan, karyawan
atau masyarakat sekitar. Kota Cilegon dikenal sebagai
Kota Industri. Keberadaan Industri di Kota Cilego n
diawali dengan berdirinya perusahaan baja pertama PT.
Krakatau Steel diawal tahun 70 -an. Industri Baja di Kota
Cilegon diikuti oleh industri -industri lain. Letaknya yang
strategis karena dekat dengan ibukota negara, dan berada
di bibir pantai, membuat in dustri di kota Cilegon terus
berkembang, terutama industri kimia. Luas kawasan
industri di Kota Cilegon mencapai 892 Ha, yang terbagi
dalam 3 zona kawasan, yaitu : Zona Ciwandan, Zona
Kawasan Industri Cilegon dan Zona Merak.
Perbedaan industri di Kota Cile gon dengan kota
lain, seperti Kota Tangerang, Kota Bekasi dan daerah
industri lain adalah pada jenis industrinya. Industri di
Cilegon lebih didominasi oleh industri kimia dan
berteknologi tinggi milik perusahaan asing. Berdasarkan
data dari BPTPM Kota Cil egon pada November 2014
terdapat 124 industri PMA dengan jumlah investasi
sebesar 68,29 trilyun dan 45 PMDN dengan total investasi
sebesar 17,67 trilyun. Industri kimia adalah industri yang
memiliki resiko bencana sangat tinggi, karena kecelakaan

10 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

pada industri kimia dapat menjadi bencana besar bagi


masyarakat Cilegon. Potensi Bahaya dari aktivitas
industri kimia antara lain pada bongkar muat B3 di
terminal Kimia khusus dan transportasi B3,
penyimpanan/penimbunan B3,pada saat proses
produksi, keberadaan pera latan dengan komponen
radioaktif dan penempatan Pipa Interkoneksi antar
pabrik yang berisi B3.Apabila terjadi kegagalan teknologi
pada aktifitas tersebut, dapat menimbulkan kebocoran
yang dapat menjadi bencana industri.
Bencana yang disebabkan industri kim ia seperti
yang terjadi di Chernobil Rusia dan Bhopal , India, tidak
hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada
kesehatan untuk jangka waktu yang panjang. Oleh
karenanya, pemerintah pusat, pemerintah daerah Kota
Cilegon, selaku pengampu kebijakan dan pelaksana
pengawasan, hendaknya dapat mengantisipasi
kemungkinan bencana industri di Kota Cilegon. Memang
di Kota Cilegon belum pernah terjadi kecelakaan industri
yang besar, tetapi walaupun demikian pemerintah Kota
Cilegon harus selalu mewaspadai kemu ngkinan bencana
industri yang akan terjadi. Pada saat ini saja polusi udara
yang terjadi di Kota Cilegon berdasarkan hasil penelitian
dari 10 jenis penyakit di Kota Cilegon, penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan (ISPA) adalah peringkat pertama,
dengan jumlah pasien di tahun 2010 mencapai 83.099 dan
menempati urutan terbesar dari 8 kabupaten/kota di
wilayah Provinsi Banten, yang diambil dalam artikel
ilmiah, (Ardina Dwiyani http://ardinadwiyaniinayah.

Pramudi Harsono - Suflani 11


BAB 1 Pendahuluan

blogspot.com/2012/05/pengaruh -banyaknya-industri-di-kota.
html, dan diakses pada 22 November 201 6).
Hal ini menunjukkan bahwa potensi bencana
industri di Kota Cilegon sangat besar dan berbahaya, oleh
karena itu perlu keseriusan Pemerintah Daerah dalam
menangani ini.
Bencana industri selain terjadi karena kegagalan
teknologi, dapat juga terjadi sebagai dampak ikutan dari
bencana alam, misalkan karena gempa bumi. Kota
Cilegon merupakan salah satu daerah yang rawan
bencana, karena selain karena lokasi dekat dengan
gunung api “Krakatau” yang pernah meletus dengan
dahsyat pada tahun 1883 ternyata pada saat ini masih
aktif, juga karena dalam Selat Sunda, terdapat lempengan
yang berpotensi gempa bumi. Gempa bu mi dan Tsunami
adalah potensi bencana yang kemungkinan besar akan
terjadi di Cilegon. Apabila itu terjadi, dapat kita
bayangkan seberapa besar korban dan kerusakan yang
akan terjadi, karena sebagian industri kimia berada di
bibir pantai sepanjang Kota Cile gon. Oleh karena itu
Pemerintah Daerah Kota Cilegon harus melakukan
berbagai upaya yang bersifat komprehensif untuk
mengurangi resiko bencana tersebut, dan secara aktif
melakukan korodinasi antar dinas terkait, dalam hal ini
seperti yang telah peneliti lakukan dengan observasi dan
wawancara dengan Dinas Disperida Kota Cilegon, Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), Kota Cilegon dan Dinas BPBD
(Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Kota Cilegon.
Upaya-upaya tersebut salah satu upaya untuk

12 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

mengurangi resiko benc ana adalah dengan melakukan


upaya-upaya pencegahan untuk meminimalisir
terjadinya kegagalan teknologi.

1.2. Urgensi Penelitian


Penelitian ini penting untuk dilakukan karena
industrialisasi di Kota Cilegon berkembang sangat pesat.
Dapat dilihat dari pertum buhan jumlah industri yang
meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu industri
yang berkembang di Kota Cilegon adalah industri kimia
dan industri berat lain yang apabila terjadi bencana dapat
berdampak luas bagi masyarakat di Kota Cilegon. Oleh
karena itu perlu identifikasi potensi bencana industri di
Kota Cilegon dan pengelolaan/ manajemen bencana
untuk mengurangi resiko kerugian yang besar yang
ditimbulkan oleh bencana industri tersebut.

1.3. Rumusan Masalah Penelitian


Kota Cilegon sebagai kota wilaya h industri
menjadikan sebagai suatu kawasan yang berbasis industri
menyebabkan rentan terhadap aspek gangguan dan
potensi bencana industri lebih banyak permasalahannya.
Disamping juga sebagai daerh penyangga yang
berbatasan langsung dengan kepualauan Suma tera, yaitu
pelabuhan Merak.

Pramudi Harsono - Suflani 13


BAB 1 Pendahuluan

Berdasarkan urian tersebut diatas maka terlihat


beberapa pokok permasalahan yang ingin dikaji dlam
penelitian ini antara lain sebagai berikut :
a. Potensi bencana apa sajakah yang dapat ditimbulkan
dari industri yang terdapat di Kota Cilegon ?
b. Bagaimanakah Manajemen Bencana diterapkan dalam
rangka mencegah terjadinya bencana industri di Kota
Cilegon ?

1.4. Tujuan Penelitian


Tujuan Penelitian pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi potensi bencana in dustri di Kota
Cilegon
b. Mendapatkan gambaran dan menganalisiss
pelaksanaan Manajemen Bencana di Kota Cilegon

1.5. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
beberpa manfaat akademik bagi peneliti dan manfaat
eksternal
1.5.1 Manfaat Akademik
1. Bagi Peneliti adalah untuk menambah ilmu
pengetahuan dan pengalaman dalam
mengaplikasikan ilmu yang diperoleh,

14 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 1 Pendahuluan

khususnya berkaitan dengan identrifikasi potensi


dan manajemen bencana industri di kota
Cilegon, Provinsi Banten.
2. Bagi Institusi Pendididkan adalah untuk
menambah literatur dan bahan materi dan
bacaan ilmiah dikalangan akademik, khususnya
yang berkaitan dengan identrifikasi potensi dan
manajemen bencana industri di kota Cilegon,
Provinsi Banten.
1.5.2 Manfaat Eksternal
Dalam hal ini bagi stake holder (pemangku
kepentingan), dalam mengidentifikasi potensi dan
manajemen bencana industri, di kota Cilegon,
provinsi Banten, yaitu sebagai berikut :
1. Perusahaan industri yang berada di area wilayah
kota Cilegon, provinsi Banten, yang meliputi 3
zona/wilayah.
2. Pemerintah Daerah kota Cilegon, provinsi
Banten, dengan Dinas – dinas terkait.
Kelompok masyarakat terutama yang berada di
wilayah/domisili yang berdekatan dengan kawasan
industri di kota Cilegon, prvinsi Banten.

--oo0oo—

Pramudi Harsono - Suflani 15


BAB 1 Pendahuluan

16 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

BAB 2
KAJIAN TEORITIK

2.1. Pengertian Bencana dan Bencana Industri


Banyak pengertian atau definisi tentang “bencana”
yang pada umumnya merefleksikan karakteristik tentang
gangguan terhadap pola hidup manusia, dampak
bencana bagi manusia, dampak terh adap struktur sosial,
kerusakan pada aspek sistem pemerintahan, bangunan
dan lain-lain serta kebutuhan masyarakat yang
diakibatkan oleh bencana.
W. Nick Carter dalam bukunya yang berjudul
“Disaster Management”, memberikan definisi bencana
berdasarkan Concise Oxford Dictionary sebagai “sudden on
great misfortune, calamity “. Sedangkan berdasarkan
Webster’s Dictionary, bencana dimaknai sebagai “a
sudden calamitous event producing great material damage, loss,
and distress”
Definisi lain dari bencana yang di muat dalam
buku Disaster Manajemen tersebut adalah :
“An event natural or man -made, sudden or progressive, which
impacts with such severity that the affected community has to
respond by taking exceptional measure ”.

Pramudi Harsono - Suflani 17


BAB 2 Kajian Teoritik

Definisi yang lain menur ut International Strategy


for Disaster Reduction (UIN -ISDR-2002, 24) adalah :
“ A serious diription of the functioning of comunity or a sosiety
causing widespread human, material, economic or enironmental
losses which exceed the ability of the affected com munity/society
to cope using its own resources”.
Pengertian Bencana menurut Parker
(1992:131)adalah sebagai berikut :
“…sebuah kejadian alam atau kejadian hasil tangan
manusia yang tidak biasa, termasuk kejadian yang
disebabkan oleh kegagalan sistem teknol ogi yang
melemahkan kapasitas respondari komunitas manusia,
kelompok individu atau lingkungan alam dan yang
menyebabkan kerusakan besar, kerugian ekonomi,
kehancuran, cedera, dan/atau kematian …”
Sementara itu Noji (1997:65) mendefinisikan
bencana sebagai berikut :
“Bencana sebagai hasil dari kerusakan ekologiyang luas
yang terkait dengan manusia dan lingkungannya,
kejadiannya serius dan terjadi secara tiba -tiba (atau
lambat, seperti dalam peristiwa kekeringan). Dalam skala
tersebut, kejadiannya melanda m asyarakat secara luas
sehingga dibutuhkan usaha -usaha yang luar biasa untuk
mengatasinya. Seringpula dibutuhkan bantuan pihak luar
bahkan dunia internasional untuk mengatasi kejadian
ini“.

18 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

Pengertian Bencana menurut UU Nomor 24 Tahun


2007 adalah sebagai berikut :
“Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban ji wa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis.
Peristiwa atau serangkaian peristiwa sebagimana
didefinisikan oleh Undang - undang tersebut dapat
dijelaskan bahwa peristiwa bisa bersifat tunggal
(peristiwa /fenomena alam), ata u bisa berupa lebih dari
satu peristiwa (rangkaian peristiwa/fenomena alam)
dalam waktunhampir bersamaan. Contoh peristiwa
gempa tektonik . Apabila gempa tektonik tersebut diikuti
tsunami, hal ini disebut rangkaian peristiwa, atau banjir
misalnya. Ketika banjir sudah surut/selesai dan kita
memulai membersihkan kotorn dan sampah di dalam
rumah atau dihalaman rumah yang terkena banjir, tiba -
tiba datang lagi, hal inilah juga disebut rangkaian
peristiwa.
Untuk dapat membedakan antara “bencana” dan
“bukan bencana” dapat diberikan contoh “letusan
gunung” yang terjadi ditengah laut, apakah letusan
Gunung api tersebut dapat disebut Bencana?, marilah kita
urai apakah memenuhi unsur -unsur atau kriteria
sebagaimana dikemukakan diatas. Pertama, letusan

Pramudi Harsono - Suflani 19


BAB 2 Kajian Teoritik

gunung api tersebut merupakan peristiwa , kedua,


terjadinya letusan gunung api adalah karena faktor alam
(fenomena alam). Ketiga letusan gunung api terjadi
secara perlahan lahan (ada proses peristiwa). Keempat
letusan gunung api terjadi ditengah laut (yang jauh dari
pemukiman penduduk). Hal ini diyakini tidak
menimbulkan korban jiwa manusia atau
kerusakan/kerugian harta benda. Kelima tidak ada unsur
diluar kemampuan manusia untuk menanggapinya
karena kejadiannya ditengah laut, sedangkan penduduk
berada jauh dar lokasi kejadian. Setelah diurai, ternyata
letusan gunung api tersebut tidak memenuhi unsur
dampak korban jiwa manusia maupun
kerusakan/kerugian. Juga tidak diperlukan kemampuan
masyarakat untuk menanggapinya . Dengan demikian
letusan gunung api ditengah laut yan g dimaksu adalah
bukan bencana melainkan hanya fenomenaalam biasa.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan
secara garis besar bencana dibedakan 3 (tiga) macam :
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau serangkaian p eristiwa yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanah longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan
oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang
antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,
epidemi, dan wabah penyakit.

20 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh


peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial
antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan
teror.
Menurut UN International Strategy for Disaster
Reduction (UN/ISDR,2002), terdapat dua jenis utama
bencana yaitu bencana alam dan bencana teknologi.
Bencana alam terdiri dari tiga:
1. Bencana hydro-meteorological berupa banjir, topan,
banjir bandang, kekeringan dan tanah longsor.
2. Bencana geophysical berupa gempa, tsunami, dan
aktifitas vulkanik
3. Bencana biological berupa epidemi, penyakit tanaman
dan hewan.
Bencana teknologi terbagi menjadi tiga grup yaitu:
1. Kecelakaan industri berupa keboc oran zat kimia,
kerusakan infrastruktur industri, kebocoran gas,
keracunan dan radiasi.
2. Kecelakaan transportasi berupa kecelakaan udara, rail,
jalan dan transportasi air.
3. Kecelakaan miscellaneous berupa struktur domestic
atau struktur nonindustrial,ledakan dan kebakaran.

Pramudi Harsono - Suflani 21


BAB 2 Kajian Teoritik

2.2. Bagaimana Proses Terjadinya Bencana ?


Peristiwa yang ditimbulkan oleh gejala alam
ataupun yang diakibatkan oleh kegiatan manusia, baru
dapat disebut bencana ketika masyarakat/manusia yang
terkena dampak oleh peristiwa itu tidak mamp u untuk
menanggulanginya. Ancaman alam itu sendiri tidak
selalu berakhir dengan bencana. Ancaman alam menjadi
bencana ketika manusia tidak siap untuk menghadapinya
dan pada akhirnya terkena dampak. Keretnanan manusia
terhadap dampak gejala alam, sebagian b esar ditentukan
oleh tindakan manusia atau kegagalan manusia untuk
bertindak.
Jika diamati terjadinya bencana adalah karena
adanya pertemuan antara bahaya dan kerentanan, serta
ada pemicunya. Adalah suatu hal yang tidak disengaja
bahwasanya bencana meru pakan proses yang tidak
disengaja terjadi dan disengaja terjadi. Melalui proses
tersebut dapat diketahui bahwa bencana terjadi setelah
melalui proses dan memenuhi unsur bahaya (gunung
berapi misalnya). Jika masyarakat yang tinggal disekitar
gunung berapai aktif dan atau bertempat tinggal
dibantaran sungai dimana lahar mengalir sungai tersebut
(jika terjadi letusan gunung berapi), maka masyarakat
tersebut rentan terhadap bencana letusan gunung berapi.
Sedangkan resiko bencana adalah kemungkinan
kemungkinan yang terjadi yang ditimbulkan oleh letusan
gung berapi. Besar kecilnya resiko sangat ditentukan oleh
tingkat kerentanan. Demikian pula oleh bencana yang

22 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

diakibatkan oleh faktor non alam atau industri kimia,


Inipun menjadi sebuah fenomena tersendiri sepeti radiasi
zat kimia, letusan pabrik dan lain sebagainya tentunya
akan berdampak pada internal dn eksternal dilingkungan
masyarakat dan sekitarnya, tergantung besar kecil resiko
terhadap bencana non alam tersebut. Apabila
masyarakat sudah mengenal bencana d an
karakteristiknya, seperti sudah memiliki kemampuan
tentang penanganan bencana, maka tingkat kerentanan
masyarakat tersbut kecil. Hal ini berarti masyarakat yang
berangkutan memiliki kemampuan untuk menghadapi
bencna. Terjadinya bencana juga dipengaruhi adanya
pemicu (trigger). Jika ada penduduk yang tingal didaerah
lereng atau perbukitan yang tanahnya labil, maka jika
terjadi hujan dengan curah hujan yang tinggi dn
berlangsung lama, lereng atau bukit tersebut akan
dengan mudahnya longsor. Dampaknya bisa menelan
kprban jiwa atau merusak bangunan rumah penduduk.
Pada kejadian ini triggernya adalah hujan deras yang
berlangsung lama/terus menerus. Hal ini juga terjadi
bencana industri seperti bocornya pipa gas yang
berakibat terjadinya kebakaran pada suatu pe rusahaan
industri kimia, jadi pemicunya bisa pipa yang bocor,
kesalahan manusia (human error).
Dibawah ini adalah diagram yang sudah kita
kenal selama ini, yaitu proses terjadinya bencana, sebagai
berikut :

Pramudi Harsono - Suflani 23


BAB 2 Kajian Teoritik

pemicu

Bahaya
Bencana
Resiko
Bencana
Kerentanan

Gambar 2.1
Proses Terjadinya Bencana

Menurut buku Manajemen Bencana (Dr. Eko Teuh


aripurno, dkk, 1997, 15), terdapat beberapa proses dari
tejadinya bencana, antara lain :
1. Bahaya (harzard)
Bahaya adalah suatu fenomena alam atau buatan yang
mempunyai potensi mengancam kehidupa n manusia,
kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan.
Bumi tempat tinggal kita secara alami mengalami
perubahan secara dinamis untuk mencapai suatu
keseimbangan. Sebagai misal akibat proses -proses
dari dalam bumi dan dari luar bumi, bumi
membangun dirinya yang ditunjukkan dengan
pergerakan kulit bumi, pembentaukan Gunung api,
pengangkatan daerah dataran menjadi pegunungan
yang merupakan bagian dari proses internal.
Sedangkan proses eksternal yang berupa hujan, angin,

24 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

serta fenomena iklimnya cenderung m elakukan


perusakan morfologi melalaui proses degredasi
(pelapukan ataupun erosi, abrasi),. Proses perubahan
secaa dinamis dari bumi maupuan bahaya industri
sebagai akibat faktor non alam diapandang sebagai
potensi ancaman bahaya bagi masyarakat terutama
yang tinggal disekitar daerah rawan bencana.
2. Kerentanan (Vulnerability)
Kerentanan merupakan suatu kondisi dari suatu
komunitas atau masyarakat yang mengarah atau
menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi
ancaman bahaya. Tingkat kerentanan adalah suatu hal
yang sangat pentingsebagai salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya bencana, karena
bencana baru akan terjadi apabila bahaya terjadi pada
kondisi yang rentan, seperti yang dikemukakan
Awaatona, (1997:2) : “ Natural disasters are the
interaction between natural hazards and vulnerable
condition”. Adapun tingkat kerentanan dapat ditinjau
dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial
kependudukan dan ekonomi. Kerentanan sosial
menggambarkan kondisi tingkat kerapuhan sosial
dalam menghadapi bahay a. Beberaa indikator
kerentanan sosial antara lain kepadatan penduduk,
laju pertumbuhan dan prosentase penduduk usia
produktif dan usia non produktif. Kerentanan
ekonomi menggambarkan suatu kondisi tingkat
kerapuhan ekonomi dalam menghadapi bahaya.
Beberapa indiaktor kerentanan ekonomi diantaranya

Pramudi Harsono - Suflani 25


BAB 2 Kajian Teoritik

adalah pre4sentase tangga yang bekerja disektor


rentan (sektor rawan terhadap pemutusan hubungan
kerja), dan prosentase rumah tangga miskin.
3. Resiko Bencana (Disaster Risk)
Resiko bencana adalah interaksi antara k erentanan
daerah dengan ancaman bahaya bencana yang terjadi.
Ancaman bahaya, khususmya bahaya alam bersifat
tetap karena bagian dari dinamika proses alami
pembangunan ataupun pembentukan roman muka
bumi baik tenaga internal maupun eksetrnal.
Sedangkan tingkat kerentanan daerah dapat
dikurangi, sehingga kemampuan dalam menghadapi
ancaman tersebut semakin meningkat. Secara umum
resiko dapat dirumuskan sebagai berikut :
Secara umum, resiko dapat dirumuskan sebagai
berikut :
R = f ( Bahaya * Kerentanan / Kemamp uan )
Keterangan :
R : Resiko
F : Fungsi
* : Kali/perkalian
/ : Bagi/Perkalian
Dalam kaitan ini, bahaya menunjukkan
kemungkinan terjadinya, bencana baik alam maupun non
alam, kerentanan menunjukkn kerawanan yang dihadapi
suatu kondisi masyarakat dalam menghadapi ancaman

26 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

bahaya bencana. Ketidakmampuan merupakan


kealngkaan upaya atau kegiatan untuk mengurangi
korban jiwa atau kerusakan, ataupun ketidak maupun
akan semakin besar pula resiko bencana yang dihadapi.
Dalam kaitan pengurangan resiko bencana, u paya
yang dapat dialakuakan adalah penuruan tingkat
kerentanan karena hal tersebut relatif lebih mudah
diabndingkan dengan mengurangi/memperkecil akibat
bahaya.
Berikut gambar proses terjadinya Bencana, sebaai
berikut :

Resiko, Resiko,
Bahaya Kerentanan Bahaya Kerentana

Gambar 2.2
Proses Terjadinya Resiko Bencana

2.3. Faktor-faktor Pencyebab Bencana


Terdapat 3 (tiga) faktor penyebab terjadinya
bencana, antara lain sebagai berikut :

Pramudi Harsono - Suflani 27


BAB 2 Kajian Teoritik

1. Faktor alam (natural disaster)


Karena fenomena alam dan tanpa ada ampur tangan
manusia
2. Faktor Non Alam (non natural disastes)
Adalah merupakan bukan yang diakibatkan karena
fenomena alam dan juga bukan akibat perbuatan
manusia
3. Faktor Sosial /manusia (man made. disastes)
Merupakan murni perbuatan manusia, sebaai akibat
perbuatan manusia, muncul seperti pertiakaian
konflik horizontal, vertikal ataupun erpbuatan
terorisme.
Secara umum faktor penyebab terjadinya bencana
adalah karena adanya interaksi antara ancaman (harzard)
dan kerentanan (vulnerable). Ancaman bencana menurut
Undang – undang Nomor 24 Tahun 2007 “ adala h suatu
kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan
bencana”. Kerentanan terhadap dampak atau resiko
bencana adalah “ karakateristik biologies, geografis,
sosial, ekonomi, politik, budaya, dan tehnologi ssuatu
masyarakat disuatu wilayah untuk jangka wakt u tertentu
yang mengruangi kemampuan masyarakat untuk
mencegah, meredam, mencpai keiapan, dan menanggapi
damapak bahaya tertentu” (MPBI, 2004:5).
Menurut ADVC (2006), mengelompokkan
kerentanan kedalam lima katagori, yaitu, sebagai berikut :

28 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

1. Kerentanan physik (physical vulnerability) , meliputi


umur konstruksi bangunan, materi penyusun
bangunan, infrastruktur jalan dan fasilitas umum.
2. Kerentanan sosial (social vulnerabilty), yang meliputi
persepesi tentang resiko dan pandangan hidup
masyarakat yang berkaitan dengan budaya, agama,
etnik, interaksi sosial, umur, jenis kelamin, dan
kemiskinan.
3. Kerentanan ekonomi ( economic vulnerability), yang
meliputi pendapatan investasi, potensi kerugian
barang/persediaan yang timbul.
4. lingkungan (environmental vulnerability), yang meliputi
aiar, udara, tanah, flora, dan fauna.
5. Kerentanan kelembagaan (institutional vulneability) ,
yang meliputi tidak adanya sistem penaggulanagan
bencana, pemerintahan yang buruk dan tidak adanya
sikronisasi aturan yang ada.
Menurut Eko Teguh Pari purno (Ed), 2013, sumber
ancaman bencana dapat dikelompokkan kedalam empat
sumber ancaman, yaitu :
1. Sumber ancaman klimatologis, adalah ancaman yang
ditimbulkan oleh pengaruh iklim, dapat berupa
rendah dan tingginya curah hujan, tingggi dan
derasnya ombak dipantai,a rah angin serta beberapa
kejadian alam lain yang sangat erat kaitannya dengan
iklim dan cuaca. Contoh : banjir, kekeringan, taifun,
petir hebat, abrasi pantai dan badai.

Pramudi Harsono - Suflani 29


BAB 2 Kajian Teoritik

2. Sumber ancaman geologis, yaitu sumber ancaman


yang terjadi oleh adanya din amika bumi, baik berupa
pergerakan lempeng bumi, bentuk dan rupa bumi dan
jenis materi penyususnan bumi, adalah beberapa
contoh kondisi dan dinamika bumi. Seperti : letusan
Gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan tanah
longsor.
3. Sumber ancaman industri dn k egagalan teknologi,
adalah sumebr ancaman akibat adanya kegagalan
teknologi maupun kesalahan pengelolaan suatu
proses industri, pembuanagan limbah, polusi yang
ditimbulkan atau dapat pula akibat proses persiapan
produksi. Contoh adalah : kebocoran raktor n uklir,
pemcemaran limbah dan semburan lumpur.

2.4. Kegagalan Teknologi dan Bencana Industri


Kegagalan Teknologi menurut Peraturan Kepala
BNPB Nomor 4 tahun 2008 adalah kejadian bencana yang
diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian,
kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan
teknologi atau industri (BPBD Kota Serang, 2014 diunduh
dari http://bpbdserang01.page4.me/75.html) .
UN-ISDR (United Nation of International Strategies
for Disaster Reduction, 2009) mendefinisikan kegagalan
teknologi (technological hazard) sebagai: “Semua kejadian
bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain,

30 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam


penggunaan teknologi dan atau industri” bencana
Menurut Shaluf (2007) bencana industri
merupakan bagian dar i Man-made disaster atau bencana
yang disebabkan oleh tangan manusia, yang termasuk
socio technical disaster . Salah satu bencana yang termasuk
dalam socio technical disaster tersebut adalah technological
disaster atau bencana industri.
Penyebab terjadinya kegagalan teknologi antra
lain:
1) Kebakaran
2) Kegagalan/kesalahan desain keselamatan
pabrik/teknologi
3) Kesalahan prosedur pengoperasian pabrik
4) Kerusakan komponen
5) Kebocoran reaktor nukir
6) Kecelakaan transportasi (darat, laut dn udara)
7) Sabotasae atau pembakaran akibat kerusuhan
8) Dampak ikutan dari bencana alam (gempa bumi dan
sebagainya).
Kegagalan teknologi dapat menyebabkan
pencemaran (udara, air dan tanah), korban jiwa,
keruskan, bangunan, dan kerusakan lainnya. Bencana
Kegagalan teknologi pada skala yang besa r akan dapat
mengancam kestabilan ekologi secara global.

Pramudi Harsono - Suflani 31


BAB 2 Kajian Teoritik

Dibawah ini adalah faktor -faktor penyebab


kecelakaan industri antara lain :
1. Mesin
2. Alat angkut
3. Bejana tekan/boiler, instalasi listrik
4. Bahan kimia/radiasi
5. Lingkungan kerja
Lima penyebab diatas tentunya dapat dijadikan
bahan pertimbangan pemerintah untuk melakukan
pengawasan yang lebih ketat terhadap aktivitas
perusahaan-perusahaan yang bergerak di sector industri,
terutama perusahaan kimia.

2.5. Manajemen Bencana


2.5.1 Perkembangan Pandangan Bencana d an
Paradikmanya
Bencana adalah kejadian yang dipastikan akan
menimbulkan korban dan kerugian bagi semua
komponen yang berada di wilayah bencana tersebut.
Oleh karena itu bencana harus ditangani dengan
melakukan manajemen bencana. Manajemen
bencana telah ada`sejak tahun 3200 SM, pada saat itu
manajemen bencana terbatas pada program tunggal
untuk menangani satu bencana. Program tersebut
diorganisasikan dan dipahami untuk mengurangi

32 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

penderitaan dan kerusakan untuk membangun


kembali lingkungannya (Kusumasari, 2 014:19).
Berbagai pandangan tentang bencana
berkembang dari waktu ke waktu, terkait dengan
tingakt pemahaman terhadap kejadian bencana,
yaitu :
1. Pandangan konvensional
Adalah pandangan yang menganggap bahwa
bencana merupakan takdir dari Tuhan Yang
Maha Esa, bencana dianggap takdir , karena
dianggap sebagai takdir berupa
musibah/kecelakaan. Menurut pandangan ini
bencana tidak dapat diprediksi karena tidak
menentu datangnya dan tidak dapat dihindari
serta dikendalikan. Mneurut pandangan ini juga,
masyarakat adalah korban akibat bencana, dan
berhak menerima bantuan dari pihak luar yang
telah dikoordinaikan.
2. Pandangan ilmu pengetahuan
Pandangan ini mengemukakan tentang bencana
berdasarkan ilmu pengetauan alam yang
menganggap bahwa bencana sebagai akibat
unsur karakteristik fisik yang membahayakan
kehidupan manusia. Bencana dipandang sebgai
kekuatan alam yang luar biasa, karena bencana
merupakan proses geofisik, geologi, dan hydro -
meteorolgy. Dari aspek ini pula pandangan ini

Pramudi Harsono - Suflani 33


BAB 2 Kajian Teoritik

berkembang dab menganggap semua benca na


adalah peristiwa alamiah yang tidak
memerhitungkan manusia sebagai penyebab
terjadinya bencana.
3. Pandangan ilmu terapan
Perkembangan ilmu alam terapan mulai
bervariasi dengan berkembangnya ilmu ilmu
terapan. Pandangan ilmu terapan melihat
bencana didasarkan pada besarnya ketahanan
atau tingakt keruskan akibat bencana. Ini
dilatarbelakangi oleh ilmu -ilmu teknik sipil dan
bangunan/kosntruksi. Pekngkajian bencana
lebih ditujukan pada upaya untuk meningkatkan
kekuatan fisik struktur bangunan untuk
memperkecil kerusakan.
4. Pandangan progresif
Pandangan progresif menganggap bencana
sebagai bagian yang biasa dan selalu terjadi
dalam pembangunan. Artinya bencana
merupakan masalah yang tidak pernah berhenti
dalam proses pembangunan. Peran pemerintah
dan masyarakat dalam manajemen bencana
adalah mengenai model bencana itu sendiri.
Pembangunan selalu bersinergi dalam
kesiapsiagaan dalam model penanggulangan
bencana. Disini peran pemerintah dituntut lebih
aktif dan berpartisipasi dalam penanggulanagan
antisipasi bencana dan bersinergi juga dengan

34 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

pihak pihak terjait baik sektor swasta dan


organisasi kelembagaan dalam pembangunan.
5. Pandangan ilmu sosial dan holistik
Pandangan ilmu sosial memfokuskan pada
bagaimana tanggapan dan kesiapan
masyarakatmengahdapi bahaya. Besarn ya
tergantung dari perbedaan tingakt kerentanan
masyarakat dalam menghadapi bahaya atau
ancaman bencana. Sedangkan pandangan
holsitik lebih menekankan pada pada bahaya
kerentanan serta kemampuan masyarakat dalam
menghadapi bahaya dan resiko bencana. Gejal a
alam dapat menjadi bahaya jika meCranagncam
manusia dan harta benda. Dan bahaya akan
berubah menajdi bencana jika bertmu dengan
kerentanan dan ketidakmampuan masyarakat.

2.5.2 Pengertian Manajemen Bencana


Manajemen bencana (Disaster Management),
adalah ilmu pengetahauan yang mempelajari
benana beserta segala aspek yang berkaitan dengan
bencana, terutama resiko bencana dan bagaimana
menghindari resiko bencana. Manajemen Bencana
merupakan proses dinamis tentang bekerjanya
fungsi-fungsi planning, organizing, actuating, dan
controlling. Cara bekerja Manajemen Bencana adalah
melalui kegiatan pencegahan, miatigasi dan

Pramudi Harsono - Suflani 35


BAB 2 Kajian Teoritik

kesiapsiagaan , tanggap darurat serta pemulihan.


Sedangkan tujuannya (secara umum), antara lain
untuk melindungi masyarakat beserta harta
bendanya dari ancaman bencana.
Format standart/dasar manajemen bencana
sebagaimana dikemukakan oleh Nick Carter dalam
buku The Disaster Management Cycle , digambarkan
dibawah ini sebagai berikut :

Gambar 2.3
Siklus Manajemen Benca na (gambar-1)

Kegiatan Maajemen Bencana erupakan


kegiatan yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi
terkait dengan berbagai aspek kehidupan
masyarakat dan memerlukan pednekatan yang
bersifat multi disiplin. Peraturan perundang -

36 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

undangan yang dijadikan acuan pun melingkupi


peraturan perundang-undangan lintas sektor.
Gambar format/standar/dasar manajemen
bencana diatas hendaknya dimaknai bahwa jika
telah dilakukan langkah -langkah /kegiatan seja fase
pencegahan/mitigasi, dan kesiapsiagaan, jika
kemudian terjadi bencana maka hal tersebut
memasuki fase tanggap darurat, kemudian fase
pemulihan dan kemudian kembali lagi kefase
pencegahan/mitigasi. Pencegahan/mitigasi
sebagaimana dimaksud pada akhir kalimat
diperlukan untuk menghadapi kemungkinan
terjadinya bencana dimasa yang akan datang.
Berdasarkan pemahaman ini, maka kalimat kembali
lagi ke fase pencegahan/mitigasi hendaknya
diartikan sebagai fase pencegahan/mitigasi pada
siklus manajemen bencana berikutnya (kontiniu atau
spiral dalam bentuk cincin sebagaimana s klus
manajemen bencana, gambar 2.3

Pramudi Harsono - Suflani 37


BAB 2 Kajian Teoritik

Dibawah ini diperjelas dengan gambar Siklus


Manajemen Bencana sebagai berikut :

Gambar 2.4
Siklus Manajemen Bencana (gambar-2)

Berikut beberapa definisi Manajemen Bencana


dari beberapa referensi pakar ma najemen bencana
sebagai berikut :
1. “An applied science which seeks, by the systematic
observation and analysis of disasters, to improve
measures relating to prevention, mitigation,
prepartedness, emergency response, and recovery” (W.
Nick Carter, 1991xxiii) .

38 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

2. “The process of forming common objectives and


common values in order to encourage participants to
plan for and deal with potential and actual disasters. “
(Pearc, 2000, Chapter,11).
3. Penanggulangan bencana, (Disasters/emergency
management) adalah “proses yang terus menerus
dimana setiap individu, kelompok dan
masyarakat berusaha mengatur resiko untuk
menghindari atau memperbaiki dampak dari
suatu bencana yang dihasilkan dari suatu
musibah “ (Wikipedia, Emergency Management,
2007).
4. Penyelenggaraan penanggu lanagn bencana
adalah “serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang
beresiko timbulnya bencana, kegiatan
pencegahan bencana, tanggap darurat dan
rehabilitasi’ (Undang –undang Nomor 24 Tahun
2007, pasal 1 angka 5).
Lain halnya Manajemen Bencana oleh Shaluf
(2008) dalam Kusumasari (2014:19 -20) didefinisikan
sebagai : “Istilah kolektif yang mencakup semua
aspek perencanaan untuk merespon bencana,
termasuk kegiatan-kegiatan sebelum bencana dan
setelah bencana yang mungkin juga merujuk pada
manajemen resiko dan konsekuensi bencana.
Manajemen bencana meliputi rencana, struktur serta
pengaturan yang dibuat dengan melibatkan usaha

Pramudi Harsono - Suflani 39


BAB 2 Kajian Teoritik

dari pemerintah, sukarelawan dan pihak -pihak


swasta dengan cara yang terkoordinasi dan
komprehensif untuk meres pon seluruh kebutuhan
darurat. Oleh karena itu manajemen bencana terdiri
dari semua perencanaan, pengorganisasian, dan
mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk
menangani semua fase bencana sebagai peristiwa
alam yang unik”.
Berdasarkan pada pendapat Sh aluff tersebut,
maka setidaknya dalam pelaksanaan manajemen
bencana meliputi : Perencanaan, Pengorganisasian
dan Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan.
Manajemen Bencana menurut Jayaraman,
Chandrasekar dan Rao, 1997 meliputi : Prediksi,
Peringatan, Bantuan Darurat, Rehabilitasi dan
Rekontruksi. Sementara itu menurut Alexander,
Copola dan King dalam Kusumasari (2014:21)
terdapat empat aktivitas manajemen bencana, yaitu
Mitigasi, Kesiapsiagaan, Respon dan Pemulihan.
a. Mitigasi
Mitigasi didefinisikan sebagai ti ndakan yang
diambil sebelum bencana terjadi dengan tujuan
mengurangi atau menghilangkan dampak
bencana terhadap masyarakat dan lingkungan.
Mitigasi sering disebut pencegahan atau
pengurangan resiko, dianggap sebagai landasan
manajemen bencana.

40 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

Terdapat dua jenis mitigasi, yaitu mitigasi


structural dan non structural. Mitigasi structural
didefinisikan sebagai usaha pengurangan resiko
yang dilakukan melalui pembangunan atau
perubahan lingkungan fisik melalui penerapan
solusi yang dirancang. Mitigasi Non -struktural
meliputi pengurangan kemungkinan atau
konsekuensi resiko melalui modifikasi proses -
proses perilaku manusia atau alam tanpa
membutuhkan penggunaan struktur yang
dirancang. Teknik ini dianggap sebagai cara
manusia menyesuaikan dengan alam. Di dalam
teknik ini terdapat langkah -langkah regulasi,
program pendidikan dan kesadaran masyarakat,
modifikasi fisik non structural, modifikasi
perilaku serta pengendalian lingkungan.
b. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan berarti merencanakan tindakan
untuk merespon jika terjadi bencana.
Kesiapsiagaan juga dapat didefinisikan sebagai
suatu keadaan siap siaga dalam menghadapi
krisis, bencana atau keadaan darurat lainnya.
Godschalk (1991:134) menekankan kesiapsiagaan
sebagai tindakan sebagai tindakan yang diambil
sebelum kondisi darurat untuk mengembangkan
kemampuan operasional dan untuk
memfasilitasi respons yang efektif jika keadaan
darurat terjadi. Kesiapsiagaan menurut Mileti
(1991:127) menyatakan bahwa kesiapsiagaan

Pramudi Harsono - Suflani 41


BAB 2 Kajian Teoritik

mencakup kegiatan seperti berikut.


Merumuskan, menguji dan melakukan latihan
terhadap rencana bencana, memberikan
pelatihan bagi responden bencana dan
masyarakat umum, melakukan komunikasi
dengan public dan orang lain tentang kerentanan
bencana, serta tindakan yang harus dilakukan
untuk mengurangi hal tersebut.
c. Respon/Daya Tanggap
Kusumasari (2014:28) Respon adalah tindakan
yang dilakukan segera sebelum, selama dan
setelah bencana terjadi. Tujuan kegiatan ini
adalah untuk menyelamatkan nyawa,
mengurangi kerusakan harta benda dan
meningkatkan pemulihan dari insiden tersebut
(Shaluf dalam Kusumasari (2014:28).
d. Pemulihan (Recovery)
Pemulihan menurut Sulivan dalam
Kusumasari(2014:30) adalah kegiatan
mengembalikan sistem infra struktur kepada
standar operasi minimal dan panduan upaya
jangka panjang yang dir ancang untuk
mengembalikan kehidupan ke keadaan dan
kondisi normal keadaan yang lebih baik setelah
bencana.
Menurut Coppola (2007) pemulihan
membutuhkan proses perencanaan, koordinasi

42 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

dan pendanaan yang kompleks. Pemulihan


meliputi banyak kegiatan , sepert i komunikasi,
penyediaan penampungan sementara atau
jangka panjang, penilaian terhadap kerusakan
dan kebutuhan pembongkaran struktur
bangunan yang rusak serta pembersihan,
pemindahan pembuangan puing -puing
sampah/reruntuhan. Disamping itu ada pula
kegiatan rehabilitasi infra struktur, inspeksi dan
perbaikan, konstruksi baru, rehabilitasi sosial,
penciptaan lapangan kerja, penggantian kerugian
harta benda, rehabilitasi korban yang terluka dan
pendampingan ulang resiko bencana.

2.5.3 Prinsip - prinsip Manajemen Bencana


Pasal 3 Undang - undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana menyatakan
bahwa penanggulangan bencana harus didsarkan
pada asas/prinsip utama : yaitu kemanusiaan,
keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan, keseimban gan, keselarasan, dan
keserasian, ketertiban, dan kepastian hukum,
kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, ilmu
pengetahuan dan tehnologi. Selain itu
penanggulanagan bencana juga harus didasarkan
pada prinsip-prinsip praktis sebagai berikut :

Pramudi Harsono - Suflani 43


BAB 2 Kajian Teoritik

1. Cepat dan Tepat


Cepat dana tepat adalah bahwa
penanggulanagan bencana dilaksanakan secara
tepat sesuai dengan tuntunan keadaan.
2. Prioritas
Prioritas dimasudkan sebagai upaya
penanggulangan bencana yang harus
mengutamakan kelompok rentan.
3. Keterpaduan dan Keterpad uan
Koordinasi dimaksudkan sebagai upaya
penanggulangan bencana yang didasarkan pada
koordinasi yang baik dan saling mendukung.
Sedangkan keterpaduan dimaksudkan sebagai
upaya penanggulangan bencana dilaksanakan
oleh berbagai sektor secara terpadu yang
didasarkan pada kerjasama yang baik dan saling
mendukung.
4. Berdaya guna dan Berhasil guna
Dalam mengalami kesulitan masyarakat
dilakukan dengan tidak membuang waktu,
tenaga, dan biaya yang berlebihan.
5. Transparansi dan Akuntabilitas
Transparansi dimaksudkan bah wa
penanggulanagn bencana dilakukan secara
terbuka dn dapat dipertanggungjawabkan .
Sedangkan akuntabilitas adalah bahwa

44 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

penanggulanagan bencana dilakukan secara


terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan
secara etik dan hukum.
6. Kemitraan
Penanggulanagan benca na harus melibatkan
berbagai pihak secara berimbang. Peran serta
kemitraan ini dimaksudkan adanya sinergitas
dari berbagai macam kemitraan. Peran serta
pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat
keamanan baik TNI dan Polisi, organisasi
lingkungan hidup da n kepemudaan ,
perusahaaan –perusahaan UMKM dan industri
serta melibatkan masyarakat sekitar lingkungan
terjadinya bencana .
7. Pemberdayaan
Pemberdayaan dimaksudkan bahwa
penanggulanagan bencana dilakukan dengan
melibatkan korban bencana secara aktif. Hal in i
dimaksudkan bahwa korban bencana hendaknya
tidak dipandang sebagai obyek semata. Tidak
menuatup kemungkinan peran aktif dalam
keluarga korban dengan tim BPBD atapun
lembaga lain yang bersifat bantuan
kemanusiaan. Sebagai contoh kasus meledaknya
pabrik petasan didaerah kabupaten Tangerang ,
jangan hanya korban sebagai obyek tontonan,
merak. contoh lain skala kecil misalanya dari
pusat krisi kesehatan terhadap kecelakaan

Pramudi Harsono - Suflani 45


BAB 2 Kajian Teoritik

industri di Pulo merak kota Cilegon Banten


tertanggl 08 Juni 2018, terjadi keracu nan
dibongkar muat barang di pelabuhan Indah Kiat
Kelurahan Taman Sari, Pulo Merak, yang
mengakibatkan 2 orang mengalami keracunan
amoniak dan keluhan sesak nafas. dan masih
banyak lagi contoh contoh lain dibidang industri,
peran serta karyawan dan masaya rakat meallui
pemberdayaan dan keterlibatan semua yang ada
hendaknya saling bersinergi.
8. Non Diskriminasi dan Non Proselitisi
Adalah bahwa dalam penanggulangan bencana
tidak memberikan perlakuan yang berbeda
terhadap jenis kelamin, suku, aga, ras dan aliran
politik manapun. Proseliti dimaksudkan memili
arti pendatang yang berasal dari bahasa Yunani.
Dalam perjanian lama proselit dimaksudkan
untuk orang yang bukuan suku Israell, mereka
mengenyam hak tamu dan berada dalam
eprlindungan Undang -undang. Sengan kata lain
sebagai pendatangd, dan akhirnya sekarang
proseit mendapat arti yaitu orang yang telah
berpindah-pindah agama dengan faktor
duniawi. Dlam artian disini berati non proseliti
dalam penanggulangan bencana dilarang
menyebarkan agama dan keyakinan a taupun
pemaksaan keyakinan manapun dalam
mempengaruhi korban untuk beralih keyakinan
secara agama.

46 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 2 Kajian Teoritik

2.5.4 Pada Situasi terdapat Identifikasi Potensi Bencana


Pada situasi ini dilakukan kegitan -kegiatan
kesiapsiagaan yang berkaitan peingatan dini dan
mitigasi bencana. Kesiapsiagaan adalah perkiraan -
perkiraan tentang kebutuhan yang akan timbul jika
terjadi bencana dan memastikan sumber daya untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan demikian
kesiapsiagaan akan membawa manusia atau
masyarakat didaerah rawan bencana pada tataran
kesiapan/kesiapsiagaan yang lebih baik dalam
menghadapi bencana. Kegiatan kesiapsiagaan
meletakkan aturan -aturan penanggulanagn
kedaruratan sedemikian rupa sehingga menjadi
lebih efektif termasuk kegiatan penyusunan dan uji
coba rencana kontijensi (contegency planning) ,
mengorganisir, memasang dan menguji sistem
peringatan dini, logistik kebutuhan dasar, pelatihan
dan prosedur tetap lainnya (protap).

--oo0oo—

Pramudi Harsono - Suflani 47


BAB 2 Kajian Teoritik

48 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan
metode deskriptif, dengan menggunakan desain studi
kualitatif, yan digunakan untuk menganalisis tahapan -
tahapan yang dilakukan dalam mengidekntifi kasi potensi
dan manajemen bencana industari di kota Cilegon,
provinsi Banten. Krik and Miler mendifinisikan bahwa
penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yan secara fundamental bergantung
dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan
dalam peristilahannya, Moeleong (2007 :3). Parwito (2007
: 84), mendifinisikan studi deskriptif kualitatif adalah
suatu metode untuk menggambarkan suatu gejala -gejala
sosial atau berusahan mendiskripsikan fenomena sosial
tertentu secara terperinci. Sedang menurut Sugiyono,
dalam bukunya metodolgi penelitian bisnis, metode
penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan
untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebaai
lawannya adalah eksperimen), dimana peneliti adalah
sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber
data dilakukan secara puposive dan snowbal , teknik

Pramudi Harsono - Suflani 49


BAB 3 Metodologi Penelitian

pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis


data bersifat/kualitatif, dan hasil penelitian kuali tatif
lebih ditekankan pada makna dari generalisasi (Sugiyono,
2012: 14).
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian
yang digunakan untuk memahami fenomena yang
dialami oleh subyek penelitian, seda ngkan jenis dan
pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
bermaksud untuk melihat, mengetahui, menggambarkan
dan menganalisis fenomenatertentu sesuai dengan
kenyataan yan terjadi. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan identifiakasi terhadap peris tiwa nyata yang
terjadi dilapangan melalui proses wawancara, observasi,
maupun dokumentasi sesuai dengan data dan fakta yang
diperoleh terkait identifiaksi potensi dan manajemen
pencegahan bencana indusri, melalui kebijakan -kebijakan
dari pemerintahan daer ah kota Cilegon, provinsi Banten.
Baik melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag) kota Cilegon, Dinas Lingkungan Hidup
(DLH), kota Cilegon dan Dinas Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD), kota Cilegon, elemen
perusahaan industri dikota Cilegon dan masyarakat di
wilayah kota Cilegon.

50 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

3.2. Fokus dan Sumber Penelitian


Penetapan fokus dalam penelitian kualitatif
bertujuan untuk memberikan batasan dalam
pengumpulan data, sehingga peneliti dapat lebih
memfokuskan penelitian terhadap ma salah-masalah yan
menjadi tujuan penelitian. Melalui fokus penelitian,
informasi yang terdapat dilapangan dapat dipilih sesuai
dengan kajian permasalahan. Penetapan fokus yang jelas
dan taktis, peneliti dapaat membuat keputusan yang
tepat tentang data mana yang harus dikumpulkan dan
mana yang tidak menjadi priioritas . Berdasarkan
pemaparan diatas, maka fokus penelitian ini adalah
identifiakasi potensi dan manajemen bencana industri di
kota Cielgon, provinsi Banten. Dengan penelitian melalui
observasi dan wawancara pada :
1. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)
kota Cilegon.anten
2. Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kota Cilegon,
provinsi Banten
3. Badan Penanggulanagan Bencana Daerah (BPPD),
kota Cilegon, provinsi Banten.
4. Beberapa perusahaan industri diko ta Cielgon,
provinsi Banten.
5. Sebagian warga atau elemen masyarakat kota
Cilegon, provinsi Banten.

Pramudi Harsono - Suflani 51


BAB 3 Metodologi Penelitian

Fokus penelitian ini diharapkan menjadi arah penelitian,


agar penelitian ini dihadapkan pada data obervasi dan
wawancancara.

3.3. Sumber Data


Menurut Loftland dalam Moleong (2007:157),
sumber data utama penelitian kualitatif ialah kata -kata
dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti
sumber data tertulis. Adapun sumber data dalah
penelitian ini adalah :
1. Data Primer
Data primer yang digunakan adalah be rasal dari hasil
wawancara terstruktur, sumber data ditulis dan
direkam. Penelitian disini lebih ditekankan kepada
kebijakan pemerintah daerah dalam usaha -usaha
mengidentifikasi potensi dan manajemen industri
.Data primer dikumpulkan melalui observasi
partisipasi pasif karena peneliti tidak ikut terlibat
dalam kegiatan tersebut. Penentuan informasi obyek
yang diwawancarai dilakukan berdasarkan
pertimbangan-peritmbangan tertentu, dikarenakan
pihak/instansi tersebut menduduki posisi yang
mempunyai wewenan g yang dapat memberikan
informasi-informasi yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai kapabilitasnya dalam
penelitian ini.

52 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari
sumber-sumber yang ada, dan digunakan sebagai
pendukung guna mencari fakta yang sebenarnya.
Data sekunder ini dipergunakan untuk melengkapi
informasi dalam rangka mencocokkan data yang
dperoleh. Sumber data sekunder antar lain berita
berita surat kabar, website, artikel dan refernsi -
referensi, baik dari catatan, ar sip, dan dokumen yang
telah diberikan oleh pihak dinas terkait. Dalam hal ini
pihak – pihak yang berhubungan dengan penelitian
ini, yaiatu Dinas Disperindag kota Cilegon, Dinas
Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon dan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BP BD) kota
Cilegon. Pemilihan data sekunder ini merupakan
unsur tambahan yang sekiranya tidak dapat
diwawancarai secara langsung. Misalnya juga
korespondensi melalui handphone atau gadget dan alat
komunikasi yang lain yang menunjang penelitian ini.

Pramudi Harsono - Suflani 53


BAB 3 Metodologi Penelitian

3.4. Tahapan Penelitian


Tahapan penelitian dapat digambarkan sebagai
berikut :

1. Merancang Desain
Penelitian dan
Menyususn Instrumen

2. Mengurus Ijin
Penelitian
Identifikasi Potensi
Bencana Industri di Kota
3. Turun ke lapangan Cilegon
untuk , Observasi,
Wawancara, melakukan
dokumentasi Pelaksanaan Manajemen
Bencana Industri di Kota
Cilegon
Analisis Data

Penyusunan Laporan Output : Laporan Akhir


Akhir dan Penulisan dan Artikel Ilmiah pada
Artikel Ilmiah untuk Jurnal Nasional ber
Jurnal ISSN

Gambar 3.1
Tahapan Penelitian

54 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

3.5. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian


3.5.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kota
Cilegon, provinsi Banten melalui perijinan dan
rekomendaasi resmi Pemerintah kota Cilegon,
provinsi Banten, melalui Dinas - dinas terkait,
sebagai berikut :
a. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD )
Kota Cilegon
b. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon
c. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota
Cilegon
d. Sektor Industri Pabrik di wilayah kota Cilegon.
3.5.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini berkisar dari bulan April
2018 s/d Agustus 2018.
3.5.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian adalah pihak -pihak
yang berhubungan langsung maupun tidak
langsung dengan kesiapan rencana tanggap darurat
sesuai dengan identifkasi potensi dan bencana
industri di kota Cilegon. Narasumber, wawancara
dan observasi disini lebih banyak kepada penentu
kebijakan dan identifikasi potensi bencana industri,
dalam hal ini adalah dinas - dinas terkait di
pemerintahan kota Cilegon, yaitu : Dinas

Pramudi Harsono - Suflani 55


BAB 3 Metodologi Penelitian

Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota


Cilegon, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota
Cilegon dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Kota Cilegon, beberapa narasumber
dari manajer ERT/Safety dan pendapat masyarakat
kota Cilegon.
Pemilihan narasumber dari populasi penelitian
dilakukan dengan menggunakan teknik Purpose
sampling berdasarkan prinsip kesesuaian dan
kecukupan. Artinya narasumber adalah orang -orang
yang mempunyai power, atau pemangku kebijakan
dan otoritas, dipilih berdasarkan ciri -ciri spesifik
yang sesuai dengan masalah yang diteliti (Sugiyono,
2009).
Procedures Examples

Representin Matrix, trees,


g propositions
Visualizing
Context,
Describing categories,
Classifying comparison
Interpreting
Reflecting,
Reading Writing notes
Memoing Across question

Gambar 3.2. Data Analysis Spiral


Sumber : Creswell (2013 : 183) “ Qualitative Inquiry &
Research Design : Choosing Among Five Approaches”

56 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

3.5.4. Informan Penelitian


Keseluruhan narasumber dalam penelitian ini
berjumlah 14 informan yang terdiri dari 6 informan
kunci dari level kepala dinas dan manajer dan 8
informan dari level staf dan pendapat masyarakat.
Menurut Sugiyono (2012:108), informan merupakan
orang yang menguasai dan memahami data,
informasi, ataupun fakta dari suatu objek penelitian.

3.6. Rancangan Penelitian

Gambar 3.3
Skema Rancangan Pen elitian

Pramudi Harsono - Suflani 57


BAB 3 Metodologi Penelitian

3.7. Teknik Pengumpulan dan Analisa Data


3.6.1. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang benar dan akurat
sehingga mampu menjawab permasalahan
penelitian. Maka teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam peneltian ini adalah sebagai
berikut :
1. Wawancara mendalam (in-depth interview)
Wawancara digunakan sebagai teknik
pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi dan ingin mengetahui hal -hal
dari rsponden yang lebih mendalam. Seperti
diungkap Esterbeg dalam Sugiyono (20012 : 2 31),
yaitu wawancara merupakan pertemuan dua
orang untuk bertukar informasi dan ide melalui
tanya jawab, sehingga dapat dikontribusikan
makna dalam suatu topik tertentu.
2. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2012:240), dokumen
merupakan catatan peristiwa yang sud ah berlalu.
Dokumen bisa benbentuk tulisan, gambar, atau
karya-karya monumental dari seseorang. Studi
dokumen merupakan dari penggunaaan metode
observasi dan wawancara dalam penelitian
kualitatif. Teknik dokumentasi pada penelitian
ini dengan cara mengumpu lkan data melalui
peninggalan tertulis yang diperoleh dari lokasi

58 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 3 Metodologi Penelitian

penelitian, yaitu Dinas Disperindag, Dinas


Lingkungan Hidup dan BPBD kota Cilegon dan
beberapa informasi yang didapat dari
narasumber Perusahaan industri dan
masyarakat.
3. Observasi digunakan untuk memperoleh data
dengan melakukan pengamatan secara sistematis
pada obyek penelitian. Pengamatan langsung
dilapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi
dan lokasi penelitian. Nasution dalam Sugiyono
(2012 : 226) menyatakan bahwa observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan , para ilmuwan
hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu
fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh
melalui obsarvasi.
3.6.2. Teknik Analisa Data
Teknik pengolahan data tidak cukup hanya
terdiri dari tabulasi dan rekapitulasi saja. Lebih dari
itu, pengolahan data tidak laina dalah tahap analisis
dan interpretasi data dan penarikan kesimpulan
atau verifikasi. Penelitian ini menggunakan proses
analisis model interaktif dalam Pawito (2007 :104),
yaitu analisis yang terdiri dari 3 alur kegiatan secara
bersama –sama yaitu terdiri dari :

Pramudi Harsono - Suflani 59


BAB 3 Metodologi Penelitian

1. Reduksi
Data yang diperoleh dilapangan perlu dicatat
dan tearperinci dan dituangkan dalam uraian
atau laproan yang lengkap dan terperinci.
2. Penyajian Data
Merupakan proses pengumpulan informasi yang
disusun berdasarkan karagori atau
pengelompokan - pengelompokan yang
diperlukan. Interprestasi data merupakan proses
pemahaman makna dari serangkaian data tang
telah tersaji, dalam wujud yang tidak sekedar
melihat apa yang tersurat, namun lebih pada
memahami atau menafsirkan mengenai apa yang
tersirat didalam data yang telah disajikan.

--oo0oo—

60 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

BAB 4
GAMBARAN UMUM DAN
TEMPAT PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Kota Cilegon


Kota Cilegon adalah sebuah Kota di Provinsi
Banten, Indonesia. Cilegon berada di ujung barat
laut pulau Jawa, tepatnya perbatasan dengan Selat
Sunda. Kota Cilegon dikenal sebagai kota industri,
sebutan lain bagi Kota Cilegon adalah Kota Baja
mengingat kota ini merupakan penghasil baja terbesar di
Asia Tenggara karena sekitar 6 juta t on baja dihasilkan
tiap tahunnya di Kawasan Industri Krakatau Steel
Cilegon (KIEC). Di Kota Cilegon terdapat berbagai
macam objek vital Negara, antara lain Pelabuhan Merak,
Pelabuhan Cigading Habeam Centre, Kawasan
Industri Krakatau Steel, PLTU Suralaya, PLTU Krakatau
Daya Listrik, Krakatau Tirta Industri Water Treatment
Plant, (Rencana Lot) Pembangunan Jembatan Selat
Sunda dan (Rencana Lot), Kawasan Industri Berikat Selat
Sunda. Kota Cilegon adalah sebuah kota di Provinsi
Banten, Indonesia. Cilegon berada di ujung barat
laut pulau Jawa, di tepi Selat Sunda. Kota Cilegon dikenal
sebagai kota industri. Sebutan lain bagi Kota Cilegon
adalah Kota Baja mengingat kota ini merupakan
penghasil baja terbesar di Asia Tenggara karena sekitar 6
juta ton baja dihasilkan tiap tahunnya d i Kawasan

Pramudi Harsono - Suflani 61


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

Industri Krakatau Steel, Cilegon. Di Kota Cilegon


terdapat berbagai macam objek vital negara antara
lain Pelabuhan Merak, Pelabuhan Cigading Habeam
Centre, Kawasan Industri Krakatau Steel, PLTU
Suralaya, P LTU Krakatau Daya Listrik, Krakatau Tirta
Industri Water Treatment Plant, (Rencana Lot)
Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan (Rencana Lot)
Kawasan Industri Berikat Selat Sunda.
Berdasarkan letak geografisnya, Kota Cilegon
berada dibagian paling ujung sebelah Barat Pulau Jawa
dan terletak pada posisi : 5°52'24" - 6°04'07" Lintang
Selatan (LS), 105°54'05" - 106°05'11" Bujur Timur (BT) ].
Secara administratif wilayah berdasarkan UU No.15
Tahun 1999 tentang terbentuknya Kotamadya Daerah
Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II
Cilegon pada tanggal 27 April 1999, Kota Cilegon
mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan
Bojonegara (Kabupaten Serang)
 Sebelah Barat : berbatasan dengan Selat Sunda
 Sebelah Selatan: berbatasan dengan Kecamatan Anyer
dan Kecamatan Mancak (Kabu paten Serang)
 Sebelah Timur: berbatasan dengan Kecamatan
Kramatwatu tepat di wilayah serdang (Kabupaten
Serang)
Cilegon memiliki wilayah yang relatif landai di
daerah tengah dan pesisir barat hingga timur kota, tetapi

62 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

di wilayah utara cilegon topografi me njadi berlereng


karena berbatasan langsung gunung batur, sedangkan di
wilayah selatan topografi menjadi sedikit berbukit -bukit
terutama wilayah yang berbatasan langsung dengan
Kecamatan Mancak.
Kota ini memiliki wilayah strategis yang
berhubungan langsung dengan selat sunda, dan
terhubung dengan jalan tol Jakarta - Merak. Selain itu
rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda yang
nantinya akan terkoneksi dengan jalan lingkar selatan
Kota Cilegon menambah tingkat konektivitas Kota ini
dengan daerah lain di sekitarnya.
Berdasarkan administrasi pemerintahan, Kota
Cilegon memiliki luas wilayah ±17.550 Ha terbagi atas 8
(delapan) Kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah
(Perda) No.15 Tahun 2002 Tentang Pembentukan 4
(empat) Kecamatan baru, wilayah Kota Cilegon yang
semula terdiri dari 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan
Cilegon, Kecamatan Cibeber, Kecamatan Ciwandan, dan
Kecamatan Pulomerak, selanjutnya dibagi menjadi 8
(delapan) Kecamatan, yaitu :
 Kecamatan Cilegon
 Kecamatan Ciwandan
 Kecamatan Pulomerak
 Kecamatan Cibeber
 Kecamatan Grogol

Pramudi Harsono - Suflani 63


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

 Kecamatan Purwakarta
 Kecamatan Citangkil
 Kecamatan Jombang
Pemanfaatan kawasan perindustrian
 Luas kawasan industri : 892 ha (4 kawasan indu stri)
 Luas eksisting kawasan perindustrian : 1.298,51 ha
 Rencana alokasi ruang untuk kawasan perindustrian :
3.514,28 ha (20,02 % dari luas kota)
 Kawasan perindustrian kota cilegon terbagi 3 zona :
zona ciwandan, zona kawasan dan zona merak
Jumlah Industri Di Kota Cilegon berdasarkan Data
BPTPM) Pada November 2014 dibedakan Berdasarkan
jenis idustri yang terbagi atas PMA (Perusahaan Milik
Asing ) dan PMDN (Perusahaan Milik Dalam Negeri)
adalah sebagai berikut :
1) PMA : 124 perusahaan, Investasi Total : Rp . 68,29 T
2) PMDN : 45 perusahaan, Investasi Total : Rp. 17,87 T
Berdasarkan bidang usaha Industri yang terdapat
di kawasan Kota Cilegon adalah sebagai berikut :
1) Logam, Kimia, Manufaktur, Plastik, Bahan
2) Bangunan, Agro danRafinasi, Minyak danGas
3) Bumi, Jasa Pelabuhan dan Pergudangan.

64 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

4.2. Visi dan Misi Kota CIlegon


4.2.1 Definisi Visi dan Misi
 Visi
Menurut Wibisono (2006:43), visi merupakan
rangkaian kalimat yang menyatakan cita -cita
atau impian sebuah organisasi atau perusahaan
yang ingin dicapai di masa de pan. Atau dapat
dikatakan bahwa visi merupakan pernyataan
want to be dari organisasi atau perusahaan. Visi
juga merupakan hal yang sangat krusial bagi
perusahaan untuk menjamin kelestarian dan
kesuksesan jangka panjang.
Dalam visi suatu organisasi terdapat juga nilai-
nilai, aspirasi serta kebutuhan organisasi dimasa
depan, sebagaimana diungkapkan oleh Philip
Kotler yang dikutip oleh Nawawi (2000 : 122),
Visi adalah pernyataan tentang tujuan organisasi
yang diekspresikan dalam produk dan
pelayanan yang ditaw arkan, kebutuhan yang
dorganisasi di masa depan seperti yang
diungkapkan oleh Kotler yang dikutip oleh
Nawawi (2000:122), Visi adalah pernyataan
tentang tujuan organisasi yang diekspresikan
dalam produk dan pelayanan yang ditawarkan,
kebutuhan yang dapat d itanggulangi, kelompok
masyarakat yang dilayani, nilai -nilai yang
diperoleh serta aspirasi dan cita -cita masa depan.

Pramudi Harsono - Suflani 65


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

Visi bagi organisasi atau pemerintahan dapat


digunakan sebagai :
1. Penyatuan tujuan, arah dan sasaran
organisasi.
2. Dasar untuk pemanfatan dan alokasi sumber
daya serta pengendaliannya.
3. Pembentuk dan mpembangun budaya
organisasi.
Visi yang efektif antara lain harus memiliki
karakteristik seperti :
1. Imagible (dapat di bayangkan).
2. Desirable (menarik).
3. Feasible (realities dan dapat dicapai).
4. Focused (jelas).
5. Flexible (aspiratif dan responsif terhadap
perubahan lingkungan).
6. Communicable (mudah dipahami).

 Misi
Misi (mission) adalah apa sebabnya kita ada (why
we exist / what we believe we can do). Menurut
Prasetyo dan Benedikta (2004:8), Di dalam misi
produk dan jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan, pasar yang dilayani dan teknologi
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan

66 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

pelanggan dalam pasar tersebut. Pernyataan misi


harus mampu menentukan kebutuhan apa yang
dipuasi oleh perusahaan, siapa yang memilik i
kebutuhan tersebut, dimana mereka berada dan
bagaimana pemuasan tersebutdilakukan.
Menurut Drucker (2000:87), Pada dasarnya misi
merupakan alasan mendasar eksistensi suatu
organisasi. Pernyataan misi organisasi, terutama
di tingkat unit bisnis menentuk an batas dan
maksud aktivitas bisnis perusahaan. Jadi
perumusan misi merupakan realisasi yang akan
menjadikan suatu organisasi mampu
menghasilkan produk dan jasa berkualitas yang
memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan
terhadap pelanggannya (Prasetyo da n Benedicta,
2004:8). Menurut Wheelen sebagaimana dikutip
oleh Wibisono (2006, :46).
Misi merupakan rangkaian kalimat yang
menyatakan tujuan atau alasan eksistensi
organisasi yang memuat apa yang disediakan
oleh perusahaan kepada masyarakat, baik berupa
produk ataupun pelayanan sektor jasa. Langkah
penyusunan misi yang umum dilakukan oleh
organisasi atau perusahaan adalah dengan
mengikuti proses tahapan - tahapanantara lain
sebagai berikut ini:
1. Melakukan proses brainstorming dengan
mensejajarkan beberap a kata yang
menggambarkan organisasi.

Pramudi Harsono - Suflani 67


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

2. Penyusunan prioritas dan pemfokusan pada


kata-kata yang paling penting
3. Mengkombinasikan kata -kata yang telah
dipilih menjadi kalimat atau paragraf yang
menggambarkan misi perusahaan.
4. Mengedit kata-kata sampai terdengar benar
atau sampai setiap orang kelelahan untuk adu
argumentasi berkaitan dengan kata atau fase
favorit mereka.

 Visi dan Misi Kota Cilegon.


Berpijak pada kondisi saat in, sebagaimana kota
kota lain diwilayah Republik Indonesi, maka
permasalahan dan tan tangan yang dihadapi
sampai dengan Tahun 2016 s/d 2021, sesuai
dengan Penyusunan Rencana Strategis
(RENSTRA). serta mempertimbangkan potensi
dan harapan masyarakat Kota Cilegon maka
“visi pembangunan Kota Cilegon Tahun 2016 -
2021” adalah sebagai berikut:
“TERWUJUDNYA KOTA CILEGON YANG
UNGGUL DAN SEJAHTERA BERBASIS
DUKUNG INDUSTRI, PERDAGANGAN DAN
JASA”.

Harapan yang terkandung dalam visi


pembangunan Kota Cilegon Tahun adalah

68 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

terwujudnya Kota Cilegon sebagai kota pusat


Industri, Perdagangan dan Jasa yan g saling
dukung guna mencapai peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Arah kebijakan
pencapaian visi jangka panjang di letakan
kepada penyiapan landasan pokok, infrastruktur
dan suprastruktur utama dan penunjang, serta
pembentukan kultur budaya masyarakat, yang
didukung oleh upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat secara sistematis, dalam kerangka
pembangunan manusia seutuhnya.
Adapun indikasi wujud pencapaian sasaran
strategis visi pembangunan Kota Cilegon adalah sebagai
berikut :
1. Meningkatnya kesejahte raan masyarakat;
2. Menurunnya kemiskinan;
3. Menurunnya pengangguran;
4. Meningkatnya kualitas kinerja dan kualitas
perekonomian.
Bertiitik tolak dari visi pembangunan Kota Cilegon
Tahun 2016-2021 maka dirumuskan “misi pembangunan
Kota Cilegon” adalah sebagai be rikut:
1. Memantapkan Kemandirian Perekonomian Daerah
2. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui
Penanggulangan Melalui Kemiskinan dan
Pengangguran ;

Pramudi Harsono - Suflani 69


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

3. Memantapkan Lingkungan Kota Yang Asri dan


Lestari;
4. Memantapkan Kualitas Sumber Daya Manusia dan
Peningkatan Kesejahteraan Sosial ;
5. Memantapkan Pelayanan Sarana dan Prasarana Kota ;
6. Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik .

4.3. Badan Penanggulangan Bencana Daerah


(BPBD).
Dalam perkembangan Kota Cilegon, untuk
penanganan bencana sebelum OPD BPBD terbe ntuk,
dilaksanakan oleh Satuan Pelaksana Penanggulanagn
Bencana (Satlak PB) yang didalamnya terlibat beberapa
OPD dan instansi verikal seperti Sekretariat Satlak PB),
Dinas Kesehatan, Dinas PU, Unsur Polres, Dinas Sosial,
PMI, Tagana dan lain sebagainya. M enyadari adanya
ancaman bencana dan sulitnya koordinasi antar instansi
di Kota Cielgon, sebagai langkah antisipasi untuk
pengurangan resiko bencana dan upaya mengurangi atau
menghilangkan kerugian serta korban jiwa yang lebih
besar bagi masyarakat, maka Pe merintah Kota Cilegon
membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) berdasarkan Peraturan Daerah Kota Cilegon
Nomor 5 Tahun 2014, tentang Perangkat Daerah Kota
Cilegon.

70 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

Pembentukan BPBD ini juga merupakan amanat


Undang-Undnag Nomor 24 Thun 2007 tent ang
penanggulanagan bencana dan mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang
penyelenggaraan Penanggulangan Bencana serta
Permendagri Nomor 46 tahun 2008 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan
Bencana Daerah. Menuru t UU Nomor 24 Tahun 2007,
tentang Penanggulangan Bencana, pengertian bencana
adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu penghidupan masyarakat
yang disebabkan faktor alam dan /atau faktor non alam
maupun faktor manusia sebagai akibat atimbulnya
korban jiwa manusia, keruskan lingkungan, kerugian
harta benda dandampak psikologis. (lihat di Bab II Kajian
Teoritik, Jenis dan ptoensi nya). Adpaun BPBD Kota Cilegon
berlokasi Jalan Kubang Laban No.23 Kecamatan Jombang
Kota Cilegon, 42411.
Guna memperkuat visi dan misi Kota Cilegon
yang unggul dan sejahtera berbasis dukung industri,
maka BPBD Kota Cilegon mempunyai Visi dan Misi
antara lain :
Visi Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD), Kota Cilegon adalah :
“TERWUJUDNYA MASYARAK AT KOTA CILEGON
YANG SELALU SIAP SIAGA, TANGGAP DAN
TANGGUH DALAM MENGHADAPI BENCANA “.
Misi BPBD :

Pramudi Harsono - Suflani 71


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

1. Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan yang baik;


2. Meningkatkan daya dukung daerah dalam upaya
pencegahan, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko
bencana
3. Meningkatkan penanganan kedaruratan dan logistik
dalam penyelenggaraan penanggulangan
kebencanaan; dan
4. Memulihkan kondisi pasca bencana secara cepat dan
tepat serta menggalang kemitraan dengan instansi
terkait, masyarakat, dan dunia usaha di bidang
rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana.

4.3.1. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops)


Adalah satuan tugas fungsional pada BPBD
Kota Cilegon yang bertanggung jawab kepada
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD), yaitu fungsi utamanya adalah pengelola an
informasi bencana meliputi informasi data,
mencatat, mengelola, mengalokasi dan
mendesiminasi informasi data kepada pemerintah,
lembaga instansi terkait.
Adapun lokasi Rupusdalops (Crisis Centre),
Kota Cilegon berada di Jalan Buyut Arman No.1
Citangkil, Kota Cilegon.

72 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

Tugas Pokok Pusdalops antara lain :


1. Sebelum Bencana : Memberikan dukungan
kegiatan pada saat sebelum bencana
(pengumpul, pengolah, penyaji data dan
informasi kebencaanaan secara rutin.
2. Saat Bencana : Memberikan dukungan pada
poskotanggap darurat dan pelaksanaan kegiatan
darurat.
3. Setelah Bencana : Memberikan dukungan
kegiatan pada saat setelah bencana terjadi.
Fungsi Pusdalops, antara lain :
1. Sebagai fungsi penerima, pengolahan dan
pendistribusian informasi kebencanaan.
2. Fungsi tanggap daru rat sebgai fasilitator
pengerahan sumber daya untuk penanganan
tanggap darurat bencana secara cepat, tepat,
efisie dan efektif.
3. Fungsi Koordinatif, komunikasi dan sinkronisasi
pelestarian penangulangan becnana.
Tanggung Jawab Pusdalops, antara lain :
1. Secara struktural, sebagai unit pemantau
kebencanaan dari BPBD Kota Cilegon yang
menyelenggarakan kegiatan penaggulangan
bencana.
2. Secara Institusional, sebagai pelaksanaan amanah
Undang – Undang Kebencanaan yang berlaku.

Pramudi Harsono - Suflani 73


BAB 4 Gambaran Umum dan Tempat Penelitian

3. Secara Operasional, sebagai pelaksana tu gs,


fungsi dan peran pusdalops.
Demikian sekiranya unit yang paling berperan
dalam struktur organisasi pemerintah yang paling
dirasa dominan dalam penanganan manajemen
inforamasi kebencanaan baik disebabkan faktor
alam dan non alam.

4.3. Obyek Penelitian


Dalam hal ini obyek penelitian disini adalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan identifikasi
potensi dan bagaimana mengelola manajemen bencana
yang disebabkan oleh kegitan industri yang berada
diwilayah Kota Cilegon, Banten. beberapa faktor dalam
mengdentifiakasi kebencanan industri ini seperti :
1. Perusahaan Industri
2. Peran serta Pemerintah (Melalui Dinas - dinas terkait
seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD), Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) d an
dinas terkait lainnya.
3. Masyarakat disekitar lokasi perusahaan industri.

--oo0oo—

74 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1. Identifikasi Potensi Bencana Industri di


Kota Cilegon
Penelitian ini diawali dengan melakukan
identifikasi perusahaan yang berada di kawasan industri
Cilegon, yang meliputi kawasan industri Ciwandan,
Kawasan Krakatau Indus trial Estate Cilegon Dan
Kawasan Gerem. Berikut daftar perusahaan besar
kategori industri di Kota Serang berdasarkan berbagai
sumber :
Tabel 5.1.
Daftar Perusahaan Besar di Kota Cilegon

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

1. PT. Asahimas Chemical Kimia

2. Jetty Ciwandan Galangan Kapal

3. PT. Lautan Otsuka Chemical Kimia

PT. Daekyung Indah Heavy


4. Mesin
Industry

Pramudi Harsono - Suflani 75


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

PT. Chandra Asri


5. Kimia
Petrochemical

6. PT. Fajar Mas Murni Mesin

7. PT. Krakatau Daya Listrik Listrik

8. Standard Toyo Polimer Kimia

9. PT. Bluescope Steel Engineering

10. PT. Trakindo Utama Alat Berat

11. PLTU Suralaya Listrik

12. PT. Krakatau Posco Baja

13. PT. Krakatau Steel Baja

PT. Bungasari Flour Mills


14. Pabrik Tepung
Indonesia Factory

15. Cold Rolled Steel Pabrik Baja

Peralatan
16. PT. Pgas Solution
Industri

17. PT. Aneka Kimia Raya ,Tbk Kimia

18. PT. Akr Corporindo Peralatan Industri

76 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

19. PT. Unggul Indah Cahaya Kimia

20. PT. Barata Indonesia Mesin

21. PT. Federal Karyatama Kilang Minyak

Peralatan
22. PT. Dystar Cilegon
Industri

Peralatan
23. PT. Tjokto Putra Persada
Industri

24. PT. Nippon Shokubai Kimia

25. PT. Mc Pet Film Indonesia Kimia

Peralatan
26. PT. Bayer Urethanes Indonesia
Industri

Peralatan
27. PT. Tri Mulya Interbuana
Industri

28. PT. Khi Pipe Industries Pipa

29. PT. Seamless Pipe Indonesia Pipa

30. PT. Dover Chemical Kimia

PT. Titan Petrokimia


31. Kimia
Nusantara

Pramudi Harsono - Suflani 77


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

32. PT. Indonesia Power Listrik

33. PT. Lotte Chemical Kimia

34. PT. Cabot Indonesia Kimia

PT. Indonesia Pos Chemtech


35. Kimia
Chosun

36. PT. Cj Korea Express Logistic Jasa Peti Kemas

37. PT. Posco Mtech Indonesia Engineering

38. PT. Kolon Ina Jasa Angkutan

39. PT. Samudra Marine Indone sia Shipping

Peralatan
40. PT. Saba Pratama
Industri

41. PT. Cba Chemical Industries Kimia

42. PT. King Paper Kertas

PT. Permata Dunia Sukses


43. Kimia
Utama

44. PT. Argamas Bajatama Baja

45. PT. Bayer Material Science Mesin

78 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

Minyak Dan
46. PT. British Petroleum
Gas

Minyak Dan
47. PT. Amoco Mitsui
Gas

48. PT. Latinusa Mesin/Plat

PT. Krakatau Nippon Steel


49. Baja
Sumikin

50. PT. Timah Industri Timah

51. PT. Sentra Usaha Tama Jaya Mesin

52. PT. Indofero Mesin

53. PT. Krakatau Semen Indonesia Semen

54. PT. Thermax International Mesin

55. PT. Cilegon Corn Block Corn Block

56. PT. Archroma Cilegon Kimia

57. PT. Jawa Manis Rafinasi Kimia

58. PT. Cerestar Flour Mills Tepung

59. PT. Cmindo Gemilang Semen

Pramudi Harsono - Suflani 79


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

60. PT. Dover Chemical Indonesia Kimia

PT. Indorama Polipet


61. Kimia
Indonesia

Minyak Dan
62. PT. Castrol Indonesia
Gas

63. PT. Sri S Rubber Indonesia Karet

64. PT. Standard Toyo Polimer Kimia

65. PT. Ccsi Factory Mesin

PT. Krakatau Poschem


66. Kimia
Dongsuh Chemical

67. PT. Trodomain Chemical Kimia

68. PT. Bumi Merak Terminalindo Terminal Kilang

Peralatan
69. PT. Continental Solvindo
Industri

70. PT. Nx Indonesia Kimia

71. PT. Bakrie Diafoil Pabrik Plastik

72. PT. Redeco Petrolin Utama Kimia

80 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

No Nama Perusahaan Bidang Usaha

73. Tereos Fks Indonesia Tepung

74. PT. Mayora Cigading Tepung

PT. Cheetham Garam


75. Garam
Indonesia

76. PT. Trinseo Kimia

Peralatan
77. PT. Statomer Merak
Industri

78. PT. Bangun Beton Indone sia Semen

79. PT. Styrindo Mono Kimia

80. PT. Rohm And Haas Indonesia Kimia

81. PT. Mca Indonesia Kimia

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Berdasarkan data yang dihimpun peneliti ini,


dapat dikatakan bahwa industri kimia mendominasi
perusahaan yang berada di wilayah Kota Cilegon Banten.

Pramudi Harsono - Suflani 81


BAB 5 Hasil Penelitian

Sumber : Data penelitian 2017, diolah


Gambar 5.1
Diagram Persentase Industri Berdasarkan Bidang Usaha

Berdasarkan diagram diatas tergambar dengan


jelas bahwa bidang usaha perusahaan dalam kategori
industri besar sebagian besar adalah di bidang kimia
sekitar 36%, selanjutnya adalah perusahaan yang
memproduksi peralatan industri, kemudian pabrik
pembuatan mesin-mesin dan baja.
Dalam pasal 38 UU Nomor 24 tahun 2007,
dijelaskan bahwa salah satu upaya upaya pencegaha n
bencana dapat dilakukan dengan : Identifikasi dan
pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman bencana. Sebagai kota industri, Kota Cilegon
harus melakukan identifikasi industri - industri mana saja
yang berpotensi menimbulkan bencana yan g besar,

82 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

apabila terjadi kegagalan teknologi atau kecelakaan pada


industri tersebut. Misalkan PT. Chandra Asri
Petrochemical memiliki potensi polusi udara, dari asap
dan bau yang tidak sedap. Untuk jangka panjang, apakah
hal tersebut berdampak pada kesehat an masyarakat yang
berada tak jauh dari area industri ini. Dan apabila terjadi
kebocoran tangki, atau ledakan akibat kesalahan operasi
bagaimana dampaknya terhadap masyarakat. Oleh
karena itu pemerintah daerah kota Cilegon harus
membuat daftar perusahaan b erikut dampak yang
ditimbulkan dari operasi tersebut, bila perlu diberikan
kategori. Selain berdasarkan pada dampak akibat operasi,
pengkatagorian ini dapat didasarkan pada jenis bahan
yang digunakan, apakah menggunakan bahan kimia
yang berbahaya atau tid ak dan pada limbah yang
dihasilkan.
Berdasarkan pada data yang ada maka identifikasi
potensi bencana industri di Kota Cilegon dapat dijelaskan
pada tabel berikut :
Tabel.4.2
Potensi Bencana Berdasarkan Jenis Usaha

Jenis
No. Potensi Bencana Penyebab
Usaha

1. Kimia - Kebocoran zat - kegagalan


kimia desain
- Infra struktur keselamatan

Pramudi Harsono - Suflani 83


BAB 5 Hasil Penelitian

industri pabrik,
- Kebakaran - kesalahan
- Ledakan prosedur
pengoperasi
- Kebocoran gas an,
- Keracunan - kerusakan
- Radiasi komponen

- Epidemi/penyakit - kebocoran
kulit reaktor
- kecelakaan
transportasi
- dampak
ikutan dari
bencana
alam
- instalasi
listrik

2. Mesin - ledakan - kegagalan


dan desain
- kebakaran
peralatan keselamatan
industri - kerusakan pabrik
infrastruktur
- kesalahan
prosedur
pengoperasi
an pabrik

84 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

- kerusakan
komponen
- kelalaian
pekerja
- instalasi
listrik

3. Baja - Polusi udara - kegagalan


- Ledakan desain
keselamatan
- Kebakaran pabrik
- Kerusakan - kesalahan
infrastruktur prosedur
pengoperasi
an pabrik
- kerusakan
komponen
- kelalaian
pekerja

4. Minyak - Pencemaran laut - kegagalan


dan Gas desain
- Kebakaran dan
ledakan reaktor keselamatan
pabrik
- Kerusakan
infrastruktur - kesalahan
prosedur
pengoperasi

Pramudi Harsono - Suflani 85


BAB 5 Hasil Penelitian

an pabrik
- kerusakan
komponen
- kelalaian
pekerja
- Kebocoran
pipa

5. Listrik - Pencemaran udara - kegagalan


desain
- Kebakaran
keselamatan
- Ledakan pabrik,
- Kerusakan - kesalahan
Infrastruktur prosedur
pengoperasi
an,
- kerusakan
komponen
- dampak
ikutan dari
bencana
alam
- instalasi
listrik

6. Semen, - Polusi udara dan - kegagalan


tepung air desain

86 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

- Kerusakan keselamatan
infrastruktur pabrik
- kesalahan
prosedur
pengoperasi
an pabrik
- kerusakan
komponen
- kelalaian
pekerja
- kecelakaan
transportasi

Sumber : Penelitian 2018, diolah

Berdasarkan klasifikasi diatas, maka potensi


bencana industri yang paling besar dan membahayakan
adalah potensi bencana pada industri kimia. Potensi
bencana yang ditimbulkan oleh industri kimia yang
mendominasi industri di Kota Cilegon, dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1. Kebocoran pipa, tabung zat kimia selain dapat
menimbulkan kebakaran, ledakan juga dapat
menimbulkan pencemaran udara bahkan radiasi.
Radiasi dari bahan radioaktif industri kimia dapat
menyebabkan penyakit.

Pramudi Harsono - Suflani 87


BAB 5 Hasil Penelitian

2. Kerusakan infrastruktur, berupa kerusakan gedung


akibat ledakan dan kebakaran, kerusakan instalasi
listrik dan jaringan telekomunikasi.
3. Potensi bencana industri dari industri kimia di
wilayah pesisir pantai Ciwandan dan Merak adalah
pencemaran air laut, akibat limbah kimia yang
mengakibatkan rusaknya ekosistem yang ada dilaut.
4. Potensi bencana industri kimia juga dapat disebabkan
karena proses perpindahan/transportasi cairan kimia,
di dalam lingkungan pa brik maupun transportasi di
luar pabrik. Misalnya apabila terjadi kecelakaan pada
truk pengangkut bahan kimia di jalan raya.
Tumpahan cairan kimia, bahkan terbakarnya cairan
kimia dapat menyebabkan radiasi dan polusi udara.
Pada industri non kimia potensi bencana industri
yang timbul hampir sama, yaitu pencemaran udara dan
air, penyakit sebagai akibat pencemaran udara dan air,
kebakaran, ledakan dan kerusakan infrastruktur.
Penyebabnya pun tidak jauh berbeda yaitu karena
kegagalan teknologi dan desain kesel amatan pabrik,
kesalahan prosedur pengoperasiaan, kerusakan
komponan, kebocoran pipa gas, kecelakaan transportasi
dan dampak ikutan dari bencana alam.
Potensi bencana industri tersebut dapat dicegah
oleh setiap perusahaan dengan memperhatikan ketentuan
sebagai berikut :

88 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

1. Menggunakan komponen pabrik yang terstandarisasi,


komponen industri yang terstandarisasi tentunya
sudah menjalani proses quality control (QC) yang
sangat ketat, sehingga setiap komponennya dapat
dipertanggungjawabkan kekuatan dan keamananny a.
2. Lulus uji analisis dampak lingkungan, Analisis
Dampak Lingkungan (AMDAL) wajib dimiliki oleh
setiap industri besar pada saat mengajukan ijin
pembangunan industri di suatu wilayah. Dengan
memiliki amdal, maka perusahaan tersebut dianggap
sudah layak untuk beroperasi dan operasi yang
dilakukan olehperusahaan tersebut tidak memberikan
dampak negatif terhadap lingkungannya.
3. Pemeriksaan rutin terhadap mesin -mesin, instalasi
listrik, pipa dan lain-lain.
Dari hasil wawancara peneliti dengan informan
dari Disperindag Kota Cilegon dan Dinas Lingkungan
Hidup Kota Cilegon mengenai kebijakan identifikasi
potensi bencana dan manajemen industri di kota Cilegon,
semua menyatakan ada kebijakan secara umum tentang
keselamatan kerja dan lingkungan, baik secara parsial
tiap-tiap perusahaan industri, maupun secara bersama -
sama dan bersinergi dengan pemerintah daerah dan
masyarakat, masalah tanggap darurat.
Sejauhmana peran Pemerintah Daerah dalam
mengidentifikasi potensi bencana industri pada
perusahaan-perusahaan industri terutama industri kimia

Pramudi Harsono - Suflani 89


BAB 5 Hasil Penelitian

di kota Cilegon, dapat dijelaskan oleh jawaban beberapa


informan berikut ini.
Jawaban Informan 1, yang didampingi informan 7 :
Kami dari Disperindag kota Cilegon, dalam hal
mengidentifikasi potensi bencana industri tentunya
selalu bersinergi dengan dinas -dinas terkait utamanya
dengan BPBD, dalam hal penanggulangan menghadapi
bencana industri. Dan Disperindag lebih menekankan
perlindungan keselamatan pada perusahaan -perusahaan
industri itu sendiri, terutama perusahaan industri besa r
dimana proses perijinan industrinya langsung dari
pusat dan lebih terlatih dan sudah siap dalam
menghadapi poataensi bencana industri melauli
kesiagaan dan kesigapan. Disamping melalui sosialiasi -
sosialisasi secara inten kepad lapisan masyarakat.
Jawaban Informan 2, yang didampingi informan 8 :
Peran serta Dinas Lingkungan Hidup kota Cilegon,
tentunya sejalan dengan pemerintah provinsi, dan
pemerintah pusat. Utamanya mengenai identifikasi
potensi dan manajemen bencana industri tentunya.
Sebenarnya peran serta dan tugas dalam rencana
strategis (REINSTRA) DLH Kota Cilegon tahun 2016
– 2021 dn Visi dan Misi dengan memberikan arah
kebijakan pembangunan lingkungan hidup dengan
landasan hukum yaitu diantara undang -undang No.32.
tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup, jadi emskipun DLH terkait dengan
Lingkungan Hidup tapi disini terkait dengan sinergitas
antar dinas dan kelmbagaan perusahaan industri dan

90 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

masyarakat agar tidak terjadi pencemaran yang


berkaitan dengan bahaya dan dampak d ari kegagalan
bencana industri.
Identifikasi potensi dan manajemen bencana industri
disini berkaitan juga dengan bencana alam lainnya
secara bersama-sama, disini tentunya diarahkan dan
diidentifikasi bagaimana seandanya terjadi gelombang
tsunami yang mengakibatkan berbagai elemen bahan -
bahan industri yang luluh lantak, ataupun bahan -bahan
kimia lainya yang nantinya bercampur dan mencemari
dan merusak wilayah – wilayah strategis baik itu milik
perusahaan, pemerintah atapun wilayah pemukiman
peduduk sekitar daerah Cilegon. Disini perlu upaya -
upaya yang sinergi dan berkesinambungan dalam usaha
minimal meminimilasir potensi bencana industri yang
terjadi di kota Cilegon, ptovinsi Banten
Berdasarkan pada jawaban informan diatas dapat
disimpulkan, bahwa Pemerintah Kota Cilegon telah
melakukan identifikasi potensi bencana, dimana
identifikasi potensi bencana industri ini melibatkan
beberapa SKPD dan bersinergi satu dengan yang lainnya.
SKPD yan terlibat dalam hal ini adalah Dinas Lingkungan
Hidup, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas
Perijinan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Kota Cilegon. Tak lepas dari itu juga bersinergi dengan
perusahaan-perusahaan yang berada di Kota Cilegon.
Selain terjadinya koordinasi, kerjasama diantara beberapa
SKPD dan perusahaan-perusahaan yang terdapat di Kota
Cilegon, Pemerintah Daerah juga perlu bersinergi dengan

Pramudi Harsono - Suflani 91


BAB 5 Hasil Penelitian

Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Pusat.


Karena di Kota Cilegon banyak terdapat PMA yang
ijinnya berasal dari Pemerintah Pusat.
Selain mengidentifikasi pote nsi Bencana Industri
di Kota Cilegon, Pemerintah Daerah Kota Cilegon. juga
memiliki peran penting dalam mencegah bencana
industri, seperti mengendalikan pertumbuhan industri,
pemberian ijin amdal yang ketat, pengawasan operasi
industri dan pengelolaan lim bah industri. Manajemen
bencana industri menjadi suatu keharusan bagi
Pemerintah Daerah Kota Cilegon, sebagai upaya
penanggulang Bencana Industri di Kota Cilegon

5.2. Manajemen Bencana Industri di Kota


Cilegon
Dalam pembahasan Manajemen Bencana Industri
di Kota Cilegon, peneliti mengacu pada pendapat
Alexander , Copola dan King dalam Kusumasari (2014 ;
21-24) dimana aktivitas manajemen bencana meliputi :
Mitigasi, Kesiapsiagaan, Respon dan Pemulihan.
5.2.1. Mitigasi Bencana
Mitigasi didefinisikan sebagai tindakan yang
diambil sebelum bencana terjadi dengan tujuan
mengurangi, menghilangkan dampak bencana
terhadap masyarakat dan lingkungan. Mitigasi
Bencana tidak terlepas dari upaya manajemen
penanggulangan bencana yang dilakukan oleh

92 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

Pemerintah Daerah Kota Cilegon. Mitigasi bencana


harus dilakukan secara terencana dan komprehensif
melalui berbagai upaya dan pendekatan baik secara
tekhnis, manusia maupun administrasi (Ramli,
2010).
Manajemen penanggulangan bencana tidak
lepas dari peran dan tanggung jawab P emerintah
Daerah untuk menangulangi bencana industri di
Kota Cilegon, hal ini akan terkait erat dengan tugas
pokok dan fungsi yang dijalankan oleh Pemerintah
Daerah sebagai penyelenggara pemerintahan,
dalam UU Nomor 32 tahun 2004 Pemerintah Daerah
memiliki kewenangan :
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
2. Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata
ruang ( Widjaja,2005:166)
Kedua kewenangan tersebut didalamnya
termasuk dalam perencanaan dan pengendalian
pembangunan industri. Dengan kewenangan
tersebut pemerintah daerah dapat membuat
berbagai regulasi untuk mencegah dampak negatif
industri dengan membuat rencana dan
pengendalian pembangunan industri dan rencana
tata ruang.
Peran pemerintah dalam mencegah bencana
sudah diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007.

Pramudi Harsono - Suflani 93


BAB 5 Hasil Penelitian

Dimana pemerintah daerah diberikan kewenangan


yang meliputi :
1. Menetapkan kebijakan penanggulangan bencana.
Kegiatan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap
darurat, dan rehabilitasi. Salah satu kegiatan
penanggulangan adalah kegiatan pencegahan
bencana, pencegahan bencana ini tidak hanya
bencana alam tetapi seharusnya juga bencana
yang disebabkan oleh industri - industri yang
beroperasi di wilayah daerahnya. Upaya yang
dapat dilakukan pemerintah daerah untuk
mencegah bencana industri yaitu melakukan
perencanaan dan pengendalian pembangunan
industri.
Pemerintah daerah harus merencanakan
pembangunan industri di wilayahnya akan di
arahkan ke sector mana. Apakah industri berat
dengan teknologi tinggi, ataukah industri dengan
teknologi rendah yang menyerap banyak tenaga
kerja. Karena jenis industri yang dikembangkan
akan berdampak pada bencana industri yang
akan ditimbulkan oleh indus tri tersebut. Industri
kimia dengan teknologi tinggi memiliki resiko
bencana industri yang berbeda dengan bencana
industri pada industri bahan makanan seperti

94 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

perusahaan terigu. Ancaman bencana pada


teknologi kimia sangat berbahaya dan
berdampak lama. Oleh karena itu, pemerintah
daerah harus lebih selektif dan ketat dalam
menerima investasi pada industri kimia.
Pemberian izin untuk membangun industri harus
didasarkan pada ketentuan teknis dan
persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah.
Seperti ijin amdal, memenuhi persyaratan dalam
pengelolaan limbah B3, adanya standarisasi atas
alat yang digunakan dan lokasi yang jauh dari
pemukiman.
Pengendalian industri yang dapat
dilakukan oleh pemerintah daerah adalah
dengan membatasi jumlah investasi pada sektor
industri, atau bahkan menghentikan
pembangunan industri, misalnya industri kimia
dengan mempertimbangkan dampak polusi air,
udara yang ditimbulkannya, karena semakin
terbatasnya lahan industri. Karena apabila
industri tidak dikendalikan, maka akan semakin
banyak lahan-lahan produktif yang akan
dijadikan lahan industri, selain itu, industri juga
akan semakin dekat dengan pemukiman
penduduk. Oleh karena itu pemerintah daerah
melalui Rencana Strategisnya sebaiknya tidak
mengandalkan lagi sektor industri sebagai
sasaran pembangunan. Begitupula dalam
membuat perencanaan, pemanfaatan dan

Pramudi Harsono - Suflani 95


BAB 5 Hasil Penelitian

pengawasan tata ruang, pemerintah daerah


harus menata kawasan mana saja yang
diperbolehkan untuk membangun industri.
Penataan kawasan industri juga harus
disesuaikan dengan jenis ind ustrinya. Hak ini
untuk mencegah dampak yang besar pada
masyarakat apabila terjadi kecelakaan pada
industri atau bencana industri.
Dari sektor industri dari perusahaan -
perusahaan industri yang memiliki potensi
bahaya besar adalah industri logam, industri
petrokimia, industri pupuk dan beberapa
industri lainya yang berhubungan dengan bahan
kimia. Pemanfaat perencanaan strategis dengan
membuat pemetaan resiko bencana industri,
penentuan jenis atau macam dari industri
bebrbahaya besar dilakukan dengan mengacu
kepada beberapa dokumen yaitu SK Menperin
No.620/2012 tentang Obyek Vital Nasional
Sektor Industri, SK Menteri ESDM No.3407
k/MEM/2012 tentang Obyek Vital Nasional
Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, SK
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.187
?MEN/1999 tentang Pengendalian Bahaya Kimia
Berbahaya di Tempat Kerja dan Peraturan
Menteri LH No.3/2013 tentang Audit
Lingkungan Hidup dimana didalamnya terdapat
jenis/macam usaha dan atau kegiatan beresiko
tinggi. Dari sektor energi dan sumber daya

96 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

mineral beberapa instalasi yang dinilai


mempunyai potensi bahaya besar adalah kilang
minyak, kilang LPG, kilang LNG, depo BBM, dan
fasilitas pengeboran.
Pemerintah Daerah Kota Cilegon telah
membuat Kebijakan Mitigasi Bencana yang
dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
2010 – 2030 sebagai berikut :

Gambar 5.2
Rencana Tata Ruang Wilayah 2010 – 20130
Mitigasi Bencana Industri sudah tertuang dalam
RTRW 2010-2030 yang dituangkan dalam Perda
Kota Cilegon Nomor 3 Tahun 2011. Ini
menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah K ota
Cilegon sangat serius dalam perencanaan guna

Pramudi Harsono - Suflani 97


BAB 5 Hasil Penelitian

mencegah bencana industri, mengantisipasi dan


mengelola bencana industri di Kota Cilegon.
Berdasarkan pada gambar tersebut, maka
dapat dijelaskan bahwa sebagai berikut :
a. Kawasan sebelah utara Cilegon, diseki tar
wilayah Suralaya yang berbatasan dengan
kecamatan Bojonegara dijadikan wilayah
untuk mempertahankan alam menjadi Ruang
Terbuka Hijau (RTH) dengan tujuan untuk
melindungi kawasan PLTU Suralaya. Kita
tahu bahwa PLTU Suralaya merupakan
instalsi vital milih Nasional, maka untuk
melindungi kawasan PLTU Suralaya dari
bencana alam seperti tsunami dan banjir,
maka dibuat RTH. RTH juga dimaksudkan
untuk memfilter polusi udara dan debu yang
disebabkan oleh operasi PLTU Suralaya.
b. Kawasan pelabuhan Merak merupakan jalan
menuju pulau Sumatera adalah merupakan
jalur yang tersibuk dalam trasnportasi masal.
Disini merupakan kombinasi jalur industri
pabrikasi dengan jalur transportasi
penghubung ke pulau Sumatera. Daerah
zona ini merupakan daerah yang menjadi
zona perlindungan, karena disamping juga
harus mempertahankan bentang alam Pulo
Merak agar menjadi kawasan lindung (dalam
artian melindungi kawasan Pelabuhan

98 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

Merak), karena didalamnya unsur -unsur asset


vital pemerintah seperti Pelabuhan Merak,
Terminal Pelabuhan Mer ak dan Stasiun
Kereta Api), sedang unsur perusahaan
industri juga banyak yang berdomosili
disekitar dekat dengan pelabuhan.
c. Adapun titik zona industri sekitar kawasan
KIEC, sebagai mitigasi bencana dan konsep
yang sebagaimana diarsir dengan lonjong
kebawah, dan merupakan konsep kawasan
industri Krakatau Steel, yaitu KIEC akan
dibangun benteng alam sepanjang 5 km dan
lebar 100 meter yang dimaksudkan adalah
merupakan hutan kota yang nantinya akan
menjadi penahan gelombang dari arus ombak
yang bisa datang sew aktu-waktu terjadi
bencana, utamanya melindungi kawasan
industri Krakatau Steel dan industri pabrikasi
sekitar wilayah KIEC, sehingga
meminimalisasi dampak dan merubah fungsi
ruang hijau dari kawasan industri yang
menjadi pelabuhan.
2. Pembuatan perencanaan p embangunan yang
memasukkan unsur -unsur kebijakan
penanggulangan bencana,pelaksanaan kebijakan
kerja sama dalam penanggulangan bencana
dengan provinsi dan/atau kabupaten/kota lain.

Pramudi Harsono - Suflani 99


BAB 5 Hasil Penelitian

Wilayah Kota Cilegon ini berdampingan dengan


wilayah kabupaten Serang, begit upun dengan
kawasan industrinya. Kawasan industri Cilegon
membentang dari Ciwandan sampai Merak,
sementara itu disebelah utara kota Cilegon
membentang . kawasan industri Bojonegara yang
berada di bawah kewenangan Kabupaten Serang.
Dampak bencana industri y ang ditimbulkan oleh
industri di Anyer dan Bojonegara, akan lebih
besar terhadap masyarakat di wilayah otonomi
Kota Cilegon, dibandingkan kota Serang. Oleh
karena itu perlu adanya kerjasama pemerintah
daerah Kota Cilegon dengan Kabupaten Serang
dalam merencanakan dan mengendalikan
pembangunan industri. Jangan sampai
pemerintah kabupaten Serang terus -menerus
memberikan ijin investasi untuk pembangunan
industri kimia, sementara lokasinya semakin
mendekati kawasan pemukiman penduduk kota
Cilegon. Sehingga kabu paten Serang
diuntungkan dan kota Cilegon dirugikan, akibat
polusi udara, air dan kerusakan ekosistim, hilir
mudik kendaraan berat yang mengakibatkan
jalan rusak.
3. Pengaturan penggunaan teknologi yang
berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya
bencana pada wilayahnya.
Untuk mengatur penggunaan teknologi yang
berpotensi sumber bencana industri, pemerintah

100 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

daerah perlu bekerjasama dengan BPPT,


Kemenristek untuk melakukan serangkaian
pengujian atas alat tersebut . Sementara terkait
dengan penggunaan alat pem erintah daerah juga
harus memastikan bahwa alat yang digunakan
tersertifikat dan memenuhi standar yang telah
ditetapkan. Hal ini untuk mengurangi potensi
bencana yang ditimbulkan akibat kegagalan
teknologi atau mal-function atas alat tersebut.
4. Perumusan kebijakan pencegahan penguasaan
dan pengurasan sumber daya alam yang
melebihi kemampuan alam pada wilayahnya.
Industri membutuhkan lahan ,bagi industri di
Kota Cilegon yang sebagian besar adalah industri
kimia pastinya membutuhkan area yang cukup
luas. Pemerintah daerah harus membatasi
pembangunan industri, dan melarang
perusahaan yang membangun dengan merusak
alam. Pembangunan di kawasan Industri
Cilegon sebagian besar menggunakan lahan
perladangan, sebagian lagi dengan meratakan
area perbukitan dan sebagia n lagi adalah area
persawahan. Perusakan perbukitan yang dapat
menjadi sandaran air apabila hujan, dapat
menimbulkan bencana banjir pada daerah
sekitarnya. Oleh karena itu pemerintah daerah
juga harus melakukan pengawasan dalam
pembangunan industri dan mem berikan sangsi

Pramudi Harsono - Suflani 101


BAB 5 Hasil Penelitian

yang tegas apabila kegiatan industrinya


melanggar aturan dan merusak lingkungan.
Dalam pasal 38 UU Nomor 24 tahun 2007,
dijelaskan bahwa upaya pencegahan bencana dapat
dilakukan dengan :
1. Identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap
sumber bahaya atau ancaman bencana
Sebagai kota industri, Kota Cilegon harus
melakukan identifikasi industri –industri mana
saja yang berpotensi menimbulkan bencana yang
besar, apabila terjadi kegagalan teknologi atau
kecelakaan pada industri tersebut. Misalka n PT.
Chandra Asri Petrochemical memiliki potensi
polusi udara, dari asap dan bau yang tidak
sedap. Untuk jangka panjang, apakah hal
tersebut berdampak pada kesehatan masyarakat
yang berada tak jauh dari area industri ini. Dan
apabila terjadi kebocoran tan gki, atau ledakan
akibat kesalahan operasi bagaimana dampaknya
terhadap masyarakat. Oleh karena itu
pemerintah daerah kota Cilegon harus membuat
daftar perusahaan berikut dampak yang
ditimbulkan dari operasi tersebut, bila perlu
diberikan kategori. Selain berdasarkan pada
dampak akibat operasi , pngkategorian ini dapat
didasarkan pada jenis bahan yang digunakan,
apakah menggunakan bahan kimia yang
berbahaya atau tidak dan pada limbah yang

102 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

dihasilkan. Untuk identifikasi potensi bencana


industri di Kota Cilegon sudah diuraikan oleh
peneliti pada tabel 4.2.
2. Kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan
sumber daya alam yang secara tiba -tiba
dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber
bahaya bencana
Pembangunan industri tentunya tidak melalui
proses yang tiba-tiba, tetapi melalui serangkaian
prosedur yang harus dipenuhi, agar industri
yang dibangun tidak membahayakan
keselamatan pekerja juga masyarakat di
lingkungan industri. Oleh karena itu apabila di
wilayah suatu daerah ada sebuah perusahaan
yang tiba-tiba dibangun, maka pemerintah
daerah memiliki kewajiban untuk menelusuri
perusahaan tersebut dan meminta kelengkapan
persyaratan yang harus dipenuhi. Apabila
perusahaan tersebut tidak melengkapi
persyaratan yang harus dipenuhi, maka
pemerintah daerah dapat menghe ntikan
operasional pembangunan industri tersebut.
3. Pemantauan penggunaan teknologi yang secara
tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi
sumber ancaman atau bahaya bencana.
Apabila perusahaan mengganti alat teknologi
yang digunakan untuk operasinya, seharusnya
dilaporkan kepada dinas perindustrian, untuk

Pramudi Harsono - Suflani 103


BAB 5 Hasil Penelitian

selanjutnya dilakukan serangkaian uji coba


kelayakan teknologi tersebut. Hal ini guna
mencegah kecelakaan kerja yang ditimbulkan
oleh kegagalan teknologi atau ketidak layakan
alat.
4. Penataan ruang dan pengelolaan lingkungan
hidup.
Pemerintah Daerah membuat rencana tata ruang
dan menetapkan wilayah -wilayah berdasarkan
fungsi. Misalnya kecamatan Purwakarta dan
Cibeber adalah sebagi wilayah pemukiman, oleh
karena itu tidak boleh ada ijin pembangunan
industri di kedua wilayah tersebut. Sebaliknya
wilayah Ciwandan adalah wilayah industri,
maka pemerintaha daerah tidak memberikan ijin
untuk pembangunan perumahan.
5. Penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh
pemerintah daerah untuk mencegah bencana
industri adalah dengan menguatkan masyarakat
di wilayah industri baik secara so sial maupun
ekonomi. Masyarakat di wilayah industri dapat
menjadi pengawas bagi pembangunan industri.
Misalnya ada industri yang tiba -tiba dibangun di
daerah tempat tinggal mereka, maka masyarakat
beserta aparat desa dapat menanyakan dan
melaporkan keberadaannya pada dinas
perindustrian dan perdagangan. Masyarakat juga

104 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

harus dibekali dengan pengetahuan tentang


bencana industri, sehingga mereka melakukan
pencegahan terhadap diri sendiri, misalnya kalau
keluar menggunakan masker, tidak
menggunakan air sungai untuk keperluan sehari -
hari dan lain-lain.
6. Pemerintah secara berkala melaksanakan
pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan
tata ruang dan pemenuhan standar keselamatan.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian
dan Dinas Tenaga Kerja harus secara rutin
melakukan pemantauan langsungm sidak terhadap
pelaksanaan tata ruang dan pemenuhan standar
keselamatan kerja. Dinas Tenaga Kerja seharusnya
mewajibkan perusahaan yang ada di wilayah Kota
Cilegon melakukan tes kesehatan rutin, berkala
tergantung jenis perusahaannya. Hal ini untuk
menjamin bahwa performa karyawan memang
memenuhi persyaratan untuk melakukan tugas
yang tidak ringan. Karena seperti kita k etahui, dari
berbagai kecelakaan industri yang terjadi sebagian
besar adalah disebabkan oleh human error.
Peran Pemerintah Daerah dalam
penangulangan Bencana Industri di Kota Cilegon ,
seperti yang telah disampaikan pada penjelasan. Hal
ini diperkuat dengan jawaban informan berikut ini :
Jawaban Informan 1, yang didampingi informan 7 :

Pramudi Harsono - Suflani 105


BAB 5 Hasil Penelitian

Peran serta Disperidag adalah diatantaranya dalam


mengendalikan pelaksanaan penyusunan rencana
operasional Seksi Industri Logam, Mesin, Kimia,
Elektronika, dan Alat Angkut b erdasarkan rencana
operasional Bidang sebagai pedoman pelaksanaan
tugas, dengan tahapan: 1) menelaah rencana
operasional Bidang Perindustrian; 2)
mengidentifikasi kriteria hasil kerja untuk setiap
kegiatan dalam rencana operasional; 3) menyusun
detail rencana pelaksanaan kegiatan yang akan
dilakukan; 4) menetapkan rencana kegiatan tersebut.
Jawaban Informan 3, yang didampingi informan 9:
Peran serta BPBD kota Cilegon, tentunya sejalan
dengan pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat.
mengenai manajemen be ncana industri tentunya.
Hal ini sesuai amanat pembentukan BPBD
berdasarkan Perda kota CilegonNo.5 tahun 2014
tentang perangkat Daeerah kota Cilegon. Diperjelas
lagi dengan Perpu No.21 tahun 2008, mengenai
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana serta
Permendagri No.46 tahun 2008 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja BPBD.
Sinergitas dalam penanganan bencana industri
tentunya menjadi patokan dalam implementasi kerja
BPBD kota Cilegon. Sehingga dalam
perkembangannya di kota Cilegon, untuk
penanganan bencana sebelum OPD BPBD
terbentuk, dilaksanakan oleh Satuan Pelaksana
Penanggulanagn Bencana (Satlak PB), yang

106 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

didalamnya lerlibat beberapa OPD dan instansi


vertikal seperti OPD Badan Kesbang Linmas,
Unsur Kodim, Polres, Dinas Sosial, Dinas
Kesehatan, PU, PMI, Tagana, perusahaan industri
dan lain sebagainya.
Selain pemerintah daerah, Pemerintah Pusat
juga dapat melakukan beberapa upaya mencegah
bencana industri, antara lain :
1. Memasukkan bencana industri ke dalam
Undang-Undang Penanggulangan Bencana,
Dengan dimasukkannya bencana industri
kedalam UU Penanggulangan Bencana, maka
pihak industri menjadi lebih bertanggungjawab
untuk mencegah bencana, dan jelas tanggung
jawab apa yang harus ditanggung oleh
pengusaha apabila terjadi bencana industri.
2. Kementerian Lingkungan Hidup membuat
kebijakan teknis sistem pengelolaan limbah
bahan berbahaya dan beracun untuk diterapkan
pada industri. Sementara untuk pelaksanaannya
nanti akan diawasi oleh dinas perindustrian.
Hal ini dikuatkan oleh pernyataan salah satu
informan dari DLH Kota Serang sebagai berikut :
“Adapun penanganan pencegahan bencana industri
yaitu melakukan diteksi dan pengawasan sedini
mungkin terhadap potensi bencana industri, melalui
kontrol dan mobilisasi supervisi. Mengingat kendala
peralatan dan armada dar i BPBD sangat terbatas

Pramudi Harsono - Suflani 107


BAB 5 Hasil Penelitian

seperti ambulan, kendaraan dan peralatan


pencegahan, tentunya menjadi peran serta dinas
terkait lainnya disamping bantuan dari peran serta
perusahaan swasta nasional”.
Pentingnya peran pemerintah pusat dalam
upaya pencegahan bencana industri di Kota Cilegon
disampaikan oleh informan berikut ini :
Jawaban Informan 1, yang didampingi informan 7 :
Pemerintah Pusat harus terlibat dalam upaya
pencegahan bencana industri di daerah, karena
perijinan dan pendirian perusahaan -perusahaan
industri yang berskala besar tentunya itu
merupakan domain dari pemerintah pusat melalui
Badan Penanaman Modal Asing dan Kementrian
perindustrian. Kami tidak berkapasitas untuk
menjawab pertanyaan tersebut, karena semua
perusahaan-perusahaan industri asing tent unya
melalui pemerintah pusat di Jakarta. Disamping itu
Disperindag kota Cilegon ebih banyak kegiatan
dalam Pembinaan UMKM . Tapi tentunya
pengawasan terhadap industri -industri dikota
Cilegon tetap menjadi perhatian bersama.
Berdasarkan pada jawaban infor man tersebut
dapat disimpulkan bahwa, Pemerintah Daerah Kota
Cilegon tetap mengawasi keberadaan industri -
industri di Kota Cilegon, tetapi apabila terjadi
permasalahan seperti ditemukan terhadap
pelanggaran Amdal maka pemerintah Kota Cilegon

108 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

dalam hal ini DLH hanya melaporkan saja, tetapi


tindak lanjut untuk menutup perusahaan atau
pemberian sangsi dilakukan oleh Pemerintah Pusat
dalam hal ini Kementrian Perindustrian dan
Perdagangan dan BPMA ( Badan Penanaman Modal
Asing).
Dalam program penecgahan dan mitig asi di
perusahaan industri, tentunya dilakukan beberapa
pendekatan pencegahan misalnya pendekatan
energi yaitu melalui pengendalian bahan kimia dlam
proses produksi melalui prosedur, WI dan peralatan
pengaman serta alat perlindungan diri. Selain itu
juga dilakukan dengan pendekatan manusia,
melalui training bulanan dan drill tahunan bersama
tim ERT, karyawan, relasi terakait dan CERT.

5.2.2.Kesiapsiagaan ( Preparedness )
Kesiapsiagaan adalah merencanakan tindakan
untuk merespon jika terjadi bencana. Terd apat
beberapa tindakan yang sudah dilakukan oleh
Pemerintah Daerah Kota Cilegon, dalam hal ini
adalah BPBD Kota Cilegon dalam merencanakan
tindakan untuk merespon jika terjadi bencana
industri di Kota Cilegon.
1. Melakukan sosialisasi dan pelatihan
kebencanaan. Sosialisasi memberikan
pengetahuan terkait tindakan yang dilakukan

Pramudi Harsono - Suflani 109


BAB 5 Hasil Penelitian

oleh masyarakat jika terjadi bencana industri di


Kota Cilegon. Pada Tahun 2016 BPBD Kota
Cilegon bekerjasama dengan BPBD Provinsi
Banten dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
telah melakukan Seminar dan workshop
Kebencanaan di Hotel Mangkuputra Cilegon.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan
perusahaan yang terdapat di Kota Cilegon,
perwakilan dari BPBD di seluruh Provinsi Banten
juga akademisi dari seluruh Indonesia.
Dihadirkannya perwak ilan dari perusahaan atau
industri di Kota Cilegon memang karena Cilegon
memiliki industri yang berpotensi menimbulkan
bencana industri. Bencana industri yang terdapat
di Kota Cilegon dapat terjadi karena kegagalan
teknologi maupun dampak dari bencana alam
yang lain, seperti gempa bumi. Terkait dengan
sosialisasi, berikut hasil wawancara peneliti
dengan informan :
“Mengenai sosialisasi penanganan bencana
industri serta peran serta dari organisasi hal ini
juga menjadi faktor penting dalam penanganan
bencana industri. Perusahaan industri disini
tentunya lebih menjadi garda terdepan dalam
penanganan bencana industri karena obyek dari
peluang terjadi bencana industri tentunya
datang dari sini (Perusahaan industri), bahkan
perusahaan industri lebih safety dan kes igapan
melalui staf bagian safety sering menjadi

110 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

narasumber ataupun mentor dalam sosialisasi


penanganan bencana industri dan bekerjasama
dengan BPBD melakukan sosialisasi penanganan
bencana secara bersama -sama. Mengenai potensi
bencana kan dapat dikelompok kan menjadi 3
macam, yaitu bencana yang disebabkan oleh
alam, non alam dan bencana sosial”.
Berdasarkan pada hasil wawancara tersebut
dapat disimpulkan bahwa sosialisasi bencana
industri sangat penting dilakukan untuk
mencegah terjadinya bencana industri.
Pemerintaha dalam hal ini BPBD juga
menegaskan bahwa phak perusahaan/industri
perlu kesiagaan industri melalui staff bagian
safety dan menjadi garda terdepan apabila
terjadi bencana industri.
Selain itu Pemerintah Kota Cilegon, melalui
DLH (Dinas Lingkung an Hidup) Kota Cilegon
juga melakukan sosialisasi terkait pencegahan
pencemaran linkungan yang disebabkan oleh
operasional industri. Berikut kutipan
wawancara terkait dengan sosialisasi tersebut :
“Upaya-upaya pencegahan pencemaran
lingkungan baik melalui pencemaran udara dan
pencemaran air juga perlu dilakukan melalui
oleh DLH. Kecenderungan limbah -limbah
industri yang dibuang oleh perusahaan -
perusahaan industri baik disengaja maupun
tidak disengaja akan berdampak buruk bagi

Pramudi Harsono - Suflani 111


BAB 5 Hasil Penelitian

ekosistem yang sudah terbentuk. Pencemaran


limbah oleh industri besar dan indsutri rumah
tangga sering terjadi melalui kali -kali kecil yang
terus berlabuh samapai pinggir pantai sering
menjadi permasahan bagi Dinas Lingkungan
Hidup (DLH.) Disini perlu adanya sosialisasi
dan pencegahan pencemaran oleh perusahaan
industri”.
Berdasarkan wawancara tersebut diperoleh
informasi bahwa pencegahan pencemaran
industri merupakan salah satu upaya
pencegahan bencana industri, hal ini disebabkan
karena industri di Kota Cilegon adalah industri -
industri besar dan industri kimia. Apabila
limbah industrinya tidak ditangani dengan baik
akan berdampak buruk bagi lingkungannya.
2. Menyediakan jalur evakuasi dan Tsunami drill.
Sejak terjadinya Tsunami di Aceh,
menimbulkan kesadaran bagi daerah -daerah
lain untuk lebih memperhatikan manajemen
bencana. Begitupun dengan Kota Cilegon, sejak
tahun 2007 pemerintah Kota Cilegon, sudah
menyiapkan jalur-jalur evakuasi apabila terjadi
tsunami di Kota Cilegon. Hal ini memang
menjadi suatu keharusan, karena wilayah Kota
Cilegon dikelilingi oleh lautan, dimana
lempeng selat sunda terdapat gunung anak
krakatau memiliki potensi bencana alam
berupa gunung meletus dan tsunami. Terkait

112 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

dengan Tsunami Drill, berikut hasil


wawancaranya
Jawaban Informan 2, yang didampingi
informan 8 :
“Pernah dilakukan dengan Tsunami Drill
tahun 2007, yang dapat memberikan
pengetahuan pengatahuan dasar untuk
penyelamatan dan evakuasi korban agar
selamat dari bencana. Dalam simulasi ini akan
digambarkan secara simulasi untuk upaya
penyelamatan secara ter organisir yang di
laksanakan oleh BPBD dan Satuan Pelaksana
Bencana Alam (Satlak PB), yang dihadiri oleh
20.000 peserta dari beberapa dinas terkait,
perusahaan industri dll, dan elemen
masyarakat.
Dari kutipan wawancara tersebut
menunjukkan bahwa Pemerinta h Kota Cilegon
serius dalam mensikapi kondisi kebencanaan di
Kota Cilegon, dengan melibatkan 20.000 peserta
dari perusahaan industri juga menunjukkan
bahwa kondisi kebencanaan di kota cilegon
tidak terlepas dari bencana industri yang
mungkin timbul akibat keberadaan industri di
Kota Cilegon.
3. Membentuk Pusat Pengendalian Operasi
Bencana. Pusat Pengendalian Operasi dibentuk

Pramudi Harsono - Suflani 113


BAB 5 Hasil Penelitian

oleh Pemerintah Kota Cilegon pada Tahun


2003. Pusdalop memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Penerima, pengolah dan pendistribusi
informasi kebencanaan.
b. Fungsi penerima, pengolah dan penerus
peringatan dini kepada instansi terkait dan
masyarakat.
c. Fungsi tanggap darurat sebagai fasilitator
pengerahan sumber daya untuk
penanganantanggap darurat bencana secara
cepat, tepat, efesien dan efektif.
d. Fungsi koordinasi, komunikasi dan
sinkronisasi pelaksanaan penanggulangan
bencana.
4. Membentuk Kelurahan Tangguh Bencana di
Kecamatan Gerem. Pelibatan masyarakat
dalam penaggulangan bencana melalui
desa/kelurahan tangguh bencana
(DETANA), dilakukan dengan memb entuk
relawan-relawan di titik rawan bencana.
Relawan-relawan tersebut memiliki tugas
menginformasikan apabila terjadi bencana
dan dipersiapkan sebagai tenaga
penyelematan sebelum pihak BPBD,
Pemadam Kebakaran, Tim Kesehatan hadir
di lokasi bencana tersebu t. Di Desa Gerem
dibentuk organisasi PRB (Pengurangan

114 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

Resiko Bencana) yang anggotanya


berjumlah 30 orang, terdiri dari warga , RT,
RW, Kader dan Karang Taruna.
5. Membangun Sirine Early Warning Bagi
Tsunami dan Bencana Industri. Sirine Early
warning selain dimiliki oleh Pusdalop
sebanyak 3 titik, juga dimiliki oleh
perusahaan-perusahaan yang ada di Kota
Cilegon. Terdapat 4 titik sirine early warning
di area industri ciwandan, salah satunya
adalah sirine milik PT. Asahimas Subentra
Chemical.
6. Melaksanakan Drill Kecelakaan Industri
bersama perusahaan -perusahaan yang
terdapat di Kota Cilegon. Drill kecelakaan
industri pernah dilakukan oleh perusahaan
–perusahaan di Kota Cilegon yang
tergabung dalam Ciwandan Emergency
Response Team. Perusahaan yang tergabung
dalam CERT antara lain PT. Asahimas
Subentra Chemical, PT. Chandra Asri
Petrochemical, Lautan Otsuka Chemichal,
dan Daekyung Heavy Industry.
Membangun kesiagaan sangatlah penting,
namun tidaklah mudah kaarena disini disamping
menyangkut emntal juga sikap budaya a tau
kebiasaan serta displin masyarakat. Kadang sikap
acuh tak acuh dari warga masyarakat terhadap

Pramudi Harsono - Suflani 115


BAB 5 Hasil Penelitian

keberadaan perusahaan industri dan budaya


tentunya juga harus dipahami oleh manajemen
perusahaan industri terhadap keberadaan
masyarakat sekitar. Bagaimana pe ngaruh industri
terhadap keberadaan lingkungan, pencemaran dan
juga peran serta perusahaan terhadap kepedulian
lingkungan, sistem peran CSR terahdap
lingkungan sekitar. Bisa mulai dari partisipasi
dalam pembangunan daerah, bantuan material
maupun rohani terutama prioritas perekrutan
taenaga unskill atau skill yang dengan rekruitmen
yang terarah, bantuan pada peringatan peringatan
hari besar seperti peringatan keagamaan maupun
hari Kemerdekaan dan pembentukan Tangga
Bencana dengan melibatkan unsur masayaraka t.
Sehingga nantinya dalam kesiapsiagaan peran
serta dari berbagai unsur bisa menjadikan
kesiapan dalam menghadapai bencana. Karena
respon atau tanggap darurat merupakan
serangkaian kegiatan untuk mengatasi bencana
yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,
yang bertujuan untuk menghadapi keadaan atau
hal yang paling terburuk atas kejadi bencana
tersebut.

5.2.4.Respon/Daya Tanggap
Respon menurut Kusumasari (2014:28) adalah
tindakan yang dilakukan segera sebelum, selama

116 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

dan setelah bencana terjadi y ang bertujuan


menyelamatkan nyawa, mengurangi kerusakan
harta benda dan meningkatkan pemulihan. Respon
yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Cilegon
adalah dengan :
1. Mengoptimalkan peran BPBD.
BPBD memiliki peran yang sangat penting dalam
penanggulangan bencana, namun demikian
BPBD belum optimal dalam melaksanakan
tugasnya, karena BPBD belum memiliki SOP
BPBD Kota Cilegon, selama ini dalam bekerja
mereka menggunakan SOP Tanggap Darurat.
Dalam upaya penanganan bencana BPBD
membentuk Rupusdalop (Rumah Pu sat
Pengendalian dan Operasi) dan bergabung
dalam TRC-PB (Tim Reaksi Cepat -Penanggulang
Bencana).
2. Membentuk Tagana, Detana dan membentuk
Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana
(TRC-PB).
Upaya penaganan bencana memerlukan
pelibatan pemuda, masyarakat dan b eberapa
instansi terkait, oleh karena untuk mewadahi
peranan pemuda dalam penanganan bencana
dibentuklah Tagana atau Taruna Tanggap
Bencana. Untuk mewadahi pelibatan masyarakat
dalam penganganan bencana dibentuk desa
tanggap bencana atau Detana. Sementara itu

Pramudi Harsono - Suflani 117


BAB 5 Hasil Penelitian

karena penanganan bencana harus cepat dan


melibatkan beberapa instansi pemerintah seperti
BPBD dan Dinas Kesehatan maka dibentu TRC -
PB atau Tim Reaksi Cepat -Penanggulangan
Bencana. Untuk industri sendiri sudah dibentuk
CERT atau Ciwandan Emergency Resp onse Team.
Perusahaan yang tergabung dalam CERT adalah
perusahaan-perusahaan yang berada di
kecamatan Ciwandan Kota Cilegon. CERT
beranggotakan penanggung jawab safety pada
perusahaan-perusahaan tersebut. Mereka
mengadakan pertemuan rutin setiap bulan untu k
membahas permasalahan terkait keselamatan
dan keamanan kerja. Salah satu kegiatan bersama
yang telah mereka lakukan adalah industrial
disaster drill/drill kecelakaan industri. Selain itu
terdapat SOP yang menjadi kesepatan industri
yang harus diterapkan dalam mencegah dan
menangani bencana industri. Hal ini
disampaikan oleh informan berikut :
 Prosedur operasional pada perusahaan kami
tentunya mengacu pada Standart Operasional
Prosedur (SOP) dan Work Instruction (WI), yang
pelaksanaanya termasuk penanganan keselamatan
kerja yang mempunyai potensi kecenderungan
besar, tentynya ada di prosedur Safety, Healt &
Enviromental (SHE), dan masuk pada
prosedurnya masing-masing, (informan 4).

118 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

 Kita telah membentuk dan mengimplementasikan


prosedur ada SOP dan WI operas ional, prosedur
untuk investigasi kecelakaan, tapi kadang
peralatan dan perlengkapan keselamatan karena
tidak ada kecelakaan sering diremehkan dan
ditangggalkan begitu saja. Untuk itu sering
diiformasikan dalam meeting terhadap kewaspaan
dan tanggap bencana. Untuk itu perlu adanya
investigasi atau penyelidikan bila menemukan
gejala-gejala bencana menyangkut satu
pandangan dengan pihak terkait dalam hal ini
pihak pemerintah daerah, pihak kepolisian dan
pihak-pihak swasta lainnya (baik antar perusahaan
industri sekitar, perusahaan asuransi dan pihak
lainnnya).(informan 5).
 SOP dan SHE tentang penanganan dan
pengendalian keadaan darurat. Kalau dalam
keadaan kondisi darurat emergency semua
departemen mengacu ke SOP. Keterlibatan spill
control termasuk dalam sis tem prosedur rescue,
teteapi secara pribadi dalam proses masuk ke WI
dan setiap orang mengetahui spill itu apa, kalu
kondisinya emeargensi tim akan bergerak kearah
sana artinya adanya aksi (tindakan yang nyata),
(informan 6).
Dari hasil wawancara tersebut dapat
disimpulkan bahwa Industri sudah memiliki
SOP (Standard Operational Procedure ) dan WI (
Works Instruction ) dalam penanganan

Pramudi Harsono - Suflani 119


BAB 5 Hasil Penelitian

keselamatan kerja. Sehingga Tim Safety sudah


memiliki pedoman dalam tindakan penanganan
dan penyelematan jika terjadi bencan a industri.
CERT juga mengirimkan anggotanya untuk
mengikuti berbagai pelatihan pengangan
bencana industri, seperti training AK3 dan PMI ,
dimana pelatihan tersebut mengikuti kurikulum
resmi dengan pemerintah yang disesuaikan
dengan kondisi perusahaan. Pre kuensi dan jenis
pelatihan secara umum dianggap cukup namun
untuk beberapa pelatihan secara umum untuk
beberapa pelatihan perlu ditambah dan perlu
dilakukan refreshing training.
3. Sistem Komunikasi Bencana.
Jarinan komunikasi bencana dikelola oleh
Pusdalop BPBD Kota Cilegon. Pusdalop Kota
Cilegon berfungsi mendiseminasikan peringatan
dini kepada masyarakat, yaitu melalui whats
app, handy talk dan radio komunitas. Selain itu
Pusdalop juga menggunakan jaringan
komunikasi media elektronik dan media cetak
untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada
masyarakat. Media cetak yang dipergunakan
sebagai sarana desiminasi peringatan dini
adalah: Koran Radar Banten, Kabar Banten,
Banten Pos dan Banten Raya. Sementara itu
media elektronik yang digunakan adalah :

120 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

Banten News, Local I-News, Sebelas news dan


Berita Cilegon.
Peringatan Bencana juga melalui radio,
yaitu : PT. Radio Top, Radio Swara Kukila
Kenari, Radio Top Persada, Radio Khatulistiwa
Sentra Senada dan Radio Cilegon Mandiri.
Peringatan bencana selain dikelola
pemerintah, bagi perusahaan mereka juga
membentuk sistem komunikasi dan deteksi dini
bencana industri. Seperti yang disampaikan oleh
informan dari sebuah perusahaan kimia di Kota
Cilegon :
a. Sistem komunikasi dan sistem selalu ada dan
dilaksanakan. Alarm ata u sirene ada, masalah di
uji teratur juga tiap bulan dilaksanakan. Dan
selalu sharing kesemua perusahaan -perusahaan
industri di sekitar, bisa melalui pesan Watshapp,
radio komunikasi Computer Emergency Readlness
Team (CERT).(Informan 4).
b. Terhadap masyaraka t secara tidak langsung
perusahaan melakukan komunikasi, tetapi tidak
menjurus ke emergency, artinya disini tidak
adabahaya secara langsung akan bahaya resiko,
resiko dan semuanya. Tanggap darurat,
masyarakay sendiri sudah dibangun oleh
pemerintah daerah, provinsi dan pusat melalui
TAGANA atau mungkin suatu drill yang
mencukupi secara keseluruhan yang

Pramudi Harsono - Suflani 121


BAB 5 Hasil Penelitian

mengikuatsertakan unsur lapisan masyarakat.


(informan 5).Pada intinya perusahaan sudah
saling memberikan informasi melalui komunikasi
bersama, dalam prosedur komunikasi, baik secara
eksternal amaupun internal.
Berdasarkan pada pernyataan tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam hal
ini industri juga memikirkan pentingnya sistim
komunikasi dalam menyampaikan informasi
bencana industri yang terjad i di lingkungan
industri. Hal ini penting karena dampak
kebakaran atau ledakan pada industri dapat
menimbulkan radiasi pada masyarakat sekitar,
maka upaya untuk menjauhkan masyarakat dari
lokasi bencana industrai sangat penting, dan hal
ini didasarkan pada sistem early warning pada
perusahaan tersebut.

5.2.4. Pemulihan ( Recovery)


Pemulihan adalah kegiatan mengembalikan
sistem infra struktur untuk mengembalikan
kehidupan ke keadaan dan kondisi normal, keadaan
yang lebih baik stelah bencana. Pemulihan bertu juan
untuk memperbaiki dan meulihkan semua aspek
pelayanan publik dan masyaakat samapai tingkat
yang memadai pada wilayah pasca bencana,
dperlukan rehabilitasi dengan sasaran utama

122 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

normalisasi atau berjalannya secara wajar semua


aspek pemerintah dan kehidu pan masyarakat.
Tindakan pemulihan merupakan tindakan
yang dilakukan setelah terjadinya bencana yang
meliputi :
1. Penyantunan dan pertolongan.
Tahap penyantunan atas bencana industri
berdasarkan pengalaman bencana yang terjadi
seperti banjir dan longsor m elibatkan TNI dalam
hal ini KODIM, Dinas Kesehatan Kota Cilegon,
PMI, Pemadam Kebakaran, TAGANA dan Dinas
Sosial Kota Cilegon. Karena bancana industri,
maka pihak perusahaan juga terlibat dalam
kegiatan penyantunan dan pertolongan. Bantuan
yang diberikan berupa bantuan logistik, pakaian
dan kebutuhan sehari -hari. Sedangkan untuk
pertolongan diarahkan untuk penyelamatan dan
tindakan medis apabila terdapat korban yang
mengalami luka ataupun sakit akibat bencana
tersebut. Dalam kegiatan pertolongan melibatkan
TRC-PB yang anggotanya terdiri dari BPBD dan
Dinas Kesehatan, Pemadam Kebakaran dan TNI.
Karena sudah terdapat Kelurahan Tanggap
Bencana, makan relawan yang tergabung dalam
organisasi PRB (Pengurangan Resiko Bencana)
juga turun melakukan kegiatan pertolong an,
mereka juga mengatur bantuan logistik pada
masyarakat. Khusus untuk bencana industri

Pramudi Harsono - Suflani 123


BAB 5 Hasil Penelitian

akibat kegagalan teknologi, apabila hanya


berdampak internal pada perusahaan maka
penyantunan korban sepenuhnya tanggung
jawab perusahaan, contoh nya pada kasus
meledaknya tangki PT. Dover, yang
mengakibatkan 1 orang tewas dan sejumlah
korban luka-luka menjadi tanggung jawab PT.
Dover. Sementara itu untuk upaya penyelematan
dapat melibatkan Dinas kesehatan dan pemadam
kebakaran.
Untuk Bencana Industri, perusahaan di
Kecamatan Ciwandan, CERT fungsi
penyelamatan, hal ini seperti yang disampaikan
oleh satu orang anggota CERT, berikut ini :
Kita punya CERT, yang mencakup kerjasama
bantuan dalam bidang kebakaran, pencemaran
lingkungan dan penangan korban akibat dari
bencana yang diakibatkan oleh
industri/kecelakaan kerja ataupun keselamatan
jiwa pekerja dan lain sebagainya. (informan 6).
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat
disimpulkan bahwa CERT memiliki peranan
yang sangat besar dalam penanganan bencana
industri pada perusahaan yang mengalami
kecelakaan kerja akibat kegagalan industri.
2. Konsolidasi
Kegiatan konsolidasi bertujuan untuk
meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam

124 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

penanganan pasca bencana. Karena, penanganan


bencana melibatkan banyak elemen, maka
konsolidasi dalam bentuk pertemuan -pertemuan,
rapat koordinasi, dan komunikasi berkala antara
BPBD, DLH, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial,
Dinas Pemadam Kebakaran, TAGANA,
Kodim/TNI dan pihak perusahaan menjadi
sangat penting.
3. Rekonstruksi obyek yang terkena dampak
bencana.
Pemulihan kembali kondisi pasca bencana
di Kota Cilegon, melibatkan Bappeda, Dinas
Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan dan Pihak
Perusahaan. Bappeda sebagai perencana
pembangunan memiliki kewenangan untuk
membuat program-program pemulihan atau
rekonstruksi daerah pasca bencana. Dinas
Pekerjaan Umum memiliki tugas untuk
memperbaiki infra strukutr yang rusak,
merehabilitasi sarana umum agar berfungsi
kembali. Pihak perusahaan melalui dana CSR
diharapkan juga memberikan bantuan dalam
pemulihan daerah bencana, apalagi jika bencana
tersebut merupakan bencana industri sebagai
akibat kegagalan teknologi, seperti di Porong
Sidoarjo.
4. Pemulihan traumatik pasca bencana.

Pramudi Harsono - Suflani 125


BAB 5 Hasil Penelitian

Bencana industri tidak hanya menyebabkan


kerusakan, luka jasmaniah, seperti luka bakar
dan lain-lain, tetapi juga dapat menyebabkan
trauma bagi korban. Oleh karena itu pemulihan
yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan tidak
hanya pemulihan kesehatan, tetapi juga
pemulihan kejiwaan akibat bencana tersebut.
Untuk itu Dinas Kesehatan perlu menyediakan
tenaga psikolog dalam rangka pemulihan korban
bencana. Pemulihan traumatik akibat bencana
juga dapat dilakukan bekerjasama dengan LSM,
yang membantu mendampingi dan memberikan
motivasi bagi korban bencana.
Pemulihan merupakan awal upaya
pembangunan kembali dan me njadi bagian pada
umumnya yang dilakukan melalui rehabilitasi
dan rekonstruksi . Rehabilitasi dapat diartikan
sebagai upaya perbaikan dan mengembalikan
fungsi secara minimal terhadap sarana,
prasarana dan fasilitas umumyang rusak akibat
bencana. Sedangkan rekosntruksi adalah sebagai
segala upaya pembangunan kembali sarana dan
prasarana dan fasilitas umum dan kapasitas
kelembagaan yang rusak akibat bencana ,baik
pada level pemerintahan maupun masyarakat
atau komunitas. Tujuannya adalah dengan
sasaran utamanya untuk menumbuh
kembangkan kegiatan ekonomi, sosial dan
budaya (sosial budaya), tegaknya hukum dan

126 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 5 Hasil Penelitian

ketertiban masyarakat, dan pemulihan akibat


dari traumatik tersebut.

--oo0oo—

Pramudi Harsono - Suflani 127


BAB 5 Hasil Penelitian

128 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 6 Penutup

BAB 6
PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Wilayah kota Cilegon, provinsi Banten yang
dikelilingi oleh perusahaan -perusahaan industri di 3
(tiga) wilayah/zona, yang meliputi Ciwandan, Merak
dan Cilegon mepunyai potensi dalam mengalami
bencana industri yang beras al dari proses operasional
dan proses produksi industri dari beberapa perusahaan
diwilayah tersebu, dan berakibat memberikan dampak
bagi masyarakat dan perusahan - perusahaan disekitar
industri itu sendiri. Dan ini perlu diadakan identifikasi
potensi dan manajemen bencana industri yang ada dikota
Cilegon, provinsi Banten tahun 2017.
Dari hasil penelitian yang berkaitan dengan
identifikasi potensi dan manajemen bencana industri
tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
identifikasi potensi bencana industri dibeberapa
perusahaan industri di kota Cilegon, provinsi Banten
sudah dapat dikatakan cukup baik, terutama pada
perusahaan – perusahaan industri yang berbasis
perusahaan besar dan asing, karena, karena sebagian
telah tanggap dalam kesadaran sendir i dan telah
terbentuk Emergency Respon Team (ERT), walaupun masih
ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam upaya

Pramudi Harsono - Suflani 129


BAB 6 Penutup
proses identifikasi potensi dalam manajemen bencana
industri.
Untuk itu ada beberapa kesimpulan dalam
penelitian ini sebagai bahan acuan d alam menghadapi
bencana industri yang ada di kota Cilegon, provinsi
Banten, antara lain sebagai berikut :
1. Potensi bencana industri terbesar di Kota Cilegon
berasal dari industri kimia, persentase jumlah industri
kimia di Kota Cilegon adalah sebesar 36 %. Potensi
bencana industri yang dapat terjadi pada industri di
Kota Cilegon adalah : Kebakaran, Ledakan, Kerusakan
Infrastruktur, Kebocoran Gas, Keracunan, Epidemi
penyakit, Polusi udara dan air. Selain
mengidentifikasi potensi bencana industri di Kota
Cilegon, Pemerintah Daerah Kota Cilegon, juga
memiliki peran penting dalam mencegah bencana
industri, seperti mengendalikan pertumbuhan
industri, pemberian ijin amdal yang ketat,
pengawasan operasi industri dan pengelolaan limbah
industri.
2. Manajemen Bencana Industri di Kota Cilegon
dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan
yang meliputi mitigasi bencana, kesiapsiagaan
menghadapi bencana, response terhadap bencana dan
pemulihan akibat bencana. Kegiatan Mitigasi Bencana
Industri di Kota Cilegon dilakukan sebagai berikut :

130 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 6 Penutup
a. Mitigasi Bencana, dilakukan dengan :
1) Menetapkan kebijakan penanggulangan
bencana melalui perencanaan dan penendalian
pembangunan industri, memasukkan kegiatan
mitigasi bencana dalam Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Cilegon.
2) Membuat perencanaan pembangunan yang
memasukan unsur -unsur kebijakan
penanggulangan bencana dan bekerjasama
dengan pemerintah provinsi dan
kabupaten/kota lainnya.
3) Pengaturan teknologi yang berpotensi sebagai
sumber ancaman atas bahaya, dilakukan
melalui kerjasama denga n BPPT dan
Kemenristek untuk melakukan pengujian alat -
alat industri.
4) Perumusan kebijakan pencegahan penguasaan
dan pengurasan sumber daya alam yang
melebihi kemampuan alam pada wilayah Kota
Cilegon.
b. Kesiapsiagaan, meliputi tindakan sebagai berikut :
1) Melakukan sosialisasi dan pelatihan
kebencanaan yang melibatkan unsur
pemerintah (BPBD, Tagana), Masyarakat
(Detana, LSM) dan perusahaan (industri).

Pramudi Harsono - Suflani 131


BAB 6 Penutup
2) Menyediakan jalur evakuasi di area industri
dan wilayah sekitar industri dan melakukan
tsunami drill.
3) Membentuk Pusat Pengendalian Operasi
Bencana (PUSDALOP).
4) Membentuk kelurahan tangguh bencana dan
desa tangguh bencana (DETANA).
5) Membangun Sirine Early Morning , atau sirine
peringatan dini pemeberitahuan.
6) Melaksanakan Drill kecelakaan industri
bersama perusahaan-perusahaan yang terdapat
di wilayah Kota Cilegon.
c. Daya Tanggap
1) Mengoptimalkan Peran BPBD
2) Mengaktifkan TAGANA, DETANA dan
membuat Tim Reaksi Cepat Penanggulangan
Bencana (TRC-PB).
3) Mengaktifkan Sistim Komunikasi Bencana.
d. Pemulihan
1) Penyantunan dan bantuan baik m aterial
maupun sprirituil serta pertolongan korban.
2) Konsolidasi secara menyeluruh yang bertujuan
meningkatkan koordinasi dalam penanganan
bencana.
3) Rekonstruksi obyek - obyek yang terkena
danpak bencana.

132 Pramudi Harsono - Suflani


BAB 6 Penutup
4) Pemulihan traumatik paska bencana, adalah
cara menghilangkan trauma kejadian/peristiwa
yang selalu menjadi pikiran, Sehingga perlu
adanya terapi psikologis.

6.2. Saran dan Rekomendasi


Saran dan Rekomendasi dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Mengingat bencana tidak mengenal batas
administrasi, maka diperlukan kerjasama antar dnias
terkait dan kerjasama antar kabupaten/kota/provinsi
dan pemerintah pusat dalam penanganan
kebencanaan melalui sistem komunikasi, Standart
Operation Prosedure (SOP), Drill , dll.
2. Menyusun data base peralatan dan jumlah tenaga ahli
penanganan bencana yang ada ditiap wilayah
kabupaten/kota/provinsi dan pemerintah pusat,
dimana data tersebut dapat diakses oleh wilayah lain
yang membutuhkan.
3. Koordinasi antar Dinas inas terkait utamanya BPBD,
terutama Crisis Centre, DLH, da n Disperindag, baik
Pemerintah Daerah Kota Cilegon, Kota dan
Kabupaten Serang, Pemerintah Provinsi Banten dan
Pemerintah Pusat, serta Perusahaan Industri di
wilayah Kota Cilegon dalam kaitannya dengan
penanggan tanggap bencana terutama bencana
industri.

Pramudi Harsono - Suflani 133


BAB 6 Penutup
4. Perlu mempertimbangkan pengadaan pusat komando
darurat dan memasukkannya dalam prosedur
penanggulangan bencana yang lebih intesif.
5. Mengadakan simulasi dan seminar tentang
pencegahan kebencanaan dengan mengajak peran
perusahaan industri diwilayah kota Cilegon .

--oo0oo—

134 Pramudi Harsono - Suflani


Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

ADVC, (2006), Hazard, Vulnerability and Risk,


“Workshop on Earthquake Vulnerability Reduction
for Cities and Damabge and Loss Estimation for
Recovery Planning Research Centre for Disaster
Studies”, Yogyakarta.
Affelstranger, Bastian, et all. (2007), Living With Risk, a
Global Review of Disaster Reduction Inditiatives,
(Seri Pertma), Jakarta, ISDR.
Alamsyah Baheramsyah, dkk 2013, dalam Jurnal Studi
Awal Risiko Bencana Industri di Indonesia, Pusat
Studi Kebumian Bencana dan Perubaha n Iklim,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember , Kampus
ITS, Sukolilo, Surabaya
Badan Nasional Penanggulangan Bencana – SC-DRR,
Rencana Penanggulanagan Bencana , 2010 – 2014
Bakornas. PB. (2006), Modul Pelatihan Manajemen
Kedaruratan dan Perencanaan Kontijensi .
Nakornas PB. (2007), Pengenalan Karakteristik Bencana dan
Upaya Mitigasinya, Edisi II.
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, 2017, Dalam Berita
Resmi Statistik Hasil Pendaftaran (Listing),

Pramudi Harsono - Suflani 135


Daftar Pustaka
Usha/Perushaaan Sensus Ekonomi 2016 Provinsi
Banten No. 31/05/36 /Th. XI, 24 Mei 2017,
Banten.
Carter, Nick W, 1991, Disarter Management, A Disarter
Manager’s Handbook , Manila, Aisan
Development Bank.
Casale, Riccard & Claudio Margotinni (Eds. 2004),
Natural Disarters and Suistainable Development ,
New York,: Springer.
Charlote Benson, et all, (2009), Perangkat Untuk
Mengutamakan Penguranagn Risiko Bencana,
Switzerlan, Provention, Consortium.
Hakim, Abdul Lubis, 2014, Usaha-Usaha Pemerintah Kota
Cilegon dalam Mengantisipasi Bencana Kegagalan
Teknologi, disampaikan pada Seminar Nasional
Antisipasi Bencana Akibat Kegagalan
Teknologi Pada Industri Di Provinsi Banten, 1
Desember 2014.
Kementrian Negara Perencanaan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional/
BAPENAS, (2009), Pembelajaran Penyusunan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Kumadi, Achdiat, 2004, Analisa Gap Sistem Tanggap
Darurat, dalam bahan Seminar Penanggulangan
Bencana Banten, Cilegon

136 Pramudi Harsono - Suflani


Daftar Pustaka
Kusumasari, Bevaola,2014. Manajemen Bencana dan
Kapabilitas Pemerintah Lokal , Yogyakarta, Gava
Media
Lassa, Jonatan, dkk, (2 009), Kiat Tepat Mengurangi Risiko
Bencana : Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis
Komunitas (PRBBK), Jakarta, Grasindo.
Mita Widiastuti, Manajemen Bencana, Kajian dan Ruang
Lingkup, Jurnal Madani Edisi II, 2005
Mileti, D.M, 1991. Disaster by Design : A. Rea ssessment of
Natural Hazards in The United States .
Washington, D.C : Joseph Henry Press
National Action Plan Disarter Risk Reduction 2010 -2012,
State Ministry for National Development
Planning/National Development Planning Agency
for Disaster Management , The Word Bank,
UNDP Indonesia, SC -DRR, GFDRR
National Disaster Maangement Agency, 2007,
Implementation of Disaster Risk eduction in
Indonesia 2006 - 2007.
National Disaster Management Agency, 2007, SC -DRR,
UNDP Indonesia and DFID.
Noji,E.K, 1997. The Nature of Disaster: General
Characteristics and Public Health Effect. In E.K.
Noji (Ed), The Public Health Consequences in
Disaster, USA : Oxford University Press
Nurjanah, dkk, 2013, dalam bukunya “Manajemen
Bencana “, Alfabetha CV, Bandung.

Pramudi Harsono - Suflani 137


Daftar Pustaka
Parker, D, 1992. The Mismanagement of Hazards -Hazard
Management and Emergency Planning: Perspective
on Britain. London: James& James
Ramli, Soehatman, 2010, Manajemen Bencana, Cetakan
Pertama, PT. Dian Rakyat
Rencana Strategis (Renstra), Dinas Perdagangan dan
Industri, Kota Cilegon, Periode tahun 2016 -
2021, Cilegon, Banten.
Rencana Strategis (Renstra), Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD), Kota Cilegon, Periode
tahun 2016 - 2021, Cilegon, Banten.
Rencana Strategis (Renstra), Dinas Lingkungan Hidup
(DLH), Kota Cilegon, Periode tahun 2016 -
2021, Cilegon, Banten.
Rencana Strategis (Renstra) Kota Cilegon, Banten, Periode
tahun 2016 – 2021, Cilegon, Banten.
Syamsul Maarif, 2010, Kepala BNPB, Pengantar Manjemen
Penanggulangan Bencana di Indonesia, Course
Introduvtion, disampaikan pada Sekolah Tinggi
Strategis Perang Semesta, Universitas
Pertahanan, Jakarta.
Widjaja, HAW, 2005. Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia ,
Jakarta, RadjaGrafindo Perkasa
Wahle, T, et al, 2000, Disaster Management Guide for
Business and Industry, Washington DC, Federal
Disaster Manajemen Agency.

138 Pramudi Harsono - Suflani


Daftar Pustaka
Lainnya :
Ardina Dwiyani http://ardinadwiyaniinayah. blogspot.com
/2012/05/pengaruh-banyaknya-industri-di-
kota.html diakses pada 22 November 2014
BPBD Kota Serang, 2014 diunduh dari
http://bpbdserang01.page4.me/75 . html
Gusti Ayu E. Hartati, 2012 yang diunduh dari laman
http://gustiayuendanghartanti.blogspot.com/2012/0
4/tugas-dasar-k3-kesehatan-dan.html pada 23
November 2014)
Kemenperin.go.id https://bempolnes.wordpress.com
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang -
Undang No.12 Tahun 2018 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemeintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana
Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang
Undang-Undang No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisisr dan Pulau -pulau Kecil
Undang-Undang No.11 Tahun 2009, tentang
Kesejhahteraan Sosial

Pramudi Harsono - Suflani 139


Daftar Pustaka
Peraturan Presiden No.83 Tahun 2005 yang
disempurnakan dengan Peraturan Presiden
Nomor 3 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi
Nasional Penanggulangan Bencana
Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2008, tentang
Penyelenggaraan Penanggulanagn Bencana
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.3 Tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Penanggulangan Bencana Daerah,
Pedoman Pelaksanaan Latihan Kesiapsiagaan
Menghadapi Tsunami (Stunami Drill), Untuk
kota dan Kabupaten, 2008, Cetakan Pertama,
Kementrian Ristek dan Teknologi,

--oo0oo—

140 Pramudi Harsono - Suflani