Anda di halaman 1dari 22

CRITICAL BOOK REPORT

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS DARI 6 TUGAS KKNI

MATA KULIAH : BIMBINGAN KONSELING BELAJAR

DOSEN : ARMITASARI ,S.Pd., M.Pd.

DISUSUN OLEH :

ELISABETH ULIMA SIAHAAN

1183111102

PGSD REG E 2018

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat
kasih dan anugerahNya saya dapat mengerjakan tugas Critical Book Report untuk
memenuhi salah satu tugas dari program 6 tugas dalam KKNI. Dalam kesempatan
kali ini buku yang telah saya kritisi berjudul “ Pengantar Konseling ” yang ditulis
oleh John McLEOD. Sebagai buku pembanding, saya memilih buku Psikologi
Pendidikan yang ditulis oleh John W. Santrock.

Dalam mengkritisi buku ini, saya juga menyadari banyak kekurangan dalam
pengetikkan maupun pemilihan kata yang tepat. Oleh sebab itu, saya mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca agar penulisan laporan saya dapat lebih baik lagi
di lain kesempatan.

Saya mengucapkan terimakasih kepada dosen saya, yang telah membantu


saya memahami tentang tema yang ditetapkan. Saya juga berterimakasih terhadap
teman-teman yang telah membantu saya dalam mengerjakan tugas ini. Terkhusus
juga buat Yabes Ministry dan Departemen Praise and Worship yang tetap setia
mendukung perkuliahan saya.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih. Semoga laporan ini


bermanfaat.

Medan, September 2018

Elisabeth Ulima Siahaan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bimbingan dan Konseling belajar erat kaitannya dengan motivasi belajar


dalam pembelajaran. Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa
jadi tidak sama. Biasanya, hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang
bersangkutan. Misalnya, seorang anak mau belajar dan mengejar rangking pertama
karena diiming-imingi akan dibelikan sepeda oleh orangtuanya.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi
dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang
menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar,
sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat
diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak
akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan,
bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu
motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri
memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi
pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat
mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka
motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di
sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau
melakukan belajar. Oleh karena itu saya tertarik untuk mengkritisi buku yang
berjudul Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar
Dalam laporan Critical Book Report ini, saya sebagai penulis akan
menjelaskan perbandingan dari 2 buku yang berkaitan tentang Pengantar Konseling
dan Pskilogi Pendidikan.

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan Critical Book Report ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas dari 6 tugas kurikulum KKNI yang diberikan oleh dosen. Dan untuk
membandingkan isi dari materi pembahasan setiap buku yang saya kritik terkait
tentang motivasi belajar.

C. Manfaat
Manfaat dari penulisan laporan Critical Book Report ini adalah :
 Memenuhi salah satu tugas dari 6 tugas KKNI yang diberikan oleh dosen.
 Menambah informasi dan pengetahuan tentang motivasi dalam belajar.
BAB II

Identitas Buku

Identitas Buku I (Utama)

Judul : Pengantar Konseling


Penulis : John McLEOD
Penerbit : Prenadamedia Group
Tahun Terbit : 2008
Kota Penerbit : Jakarta
Edisi : Edisi ke-3
Jlh. Halaman : 685 Halaman
Ukuran : 23 cm x 18 cm
ISBN : 979-3925-42-6

Identitas Buku II (Pembanding)

Judul : Psikologi Pendidikan


Penulis : John W. Santrock
Penerbit : Prenadamedia Group
Tahun Terbit : 2004
Kota Penerbit : Jakarta
Edisi : Edisi ke-2
Jlh. Halaman : 750 Halaman
Ukuran : 19 x 25 cm
ISBN : 978-979-3925-82-0 370-15
BAB III
ISI RINGKASAN BUKU

ISI RINGKASAN BUKU UTAMA

Judul : PENGANTAR KONSELING


BAB 1
KONSELING: SEBUAH PENGANTAR

Konseling adalah sebuah penemuan abad ke-20 yang indah . Saat ini,kita
hidup dalam dunia kompleks,sibuk,dan terus berubah maka dari itu popularitas
konseling datang untuk merefleksikan ketegangan dan kekacauan kehidupan dalam
masyarakat kontemporer.
Konseling adalah bentuk pertolongan yang fokus pada kebutuhan dan tujuan
seseorang. Terdapat banyak definisi konseling,masing-masing menekankan aspek
yang berbeda dari peran dan proses konseling. Konseling serupa namun tak sama
dengan bentuk pertolongan lain,seperti psikioterapi,pekerjaan sosial,dan perawatan
psikiatrik. Terdapat berbagai teori konseling,dan berbagai setting untuk praktik
konseling. Keragaman konseling juga tereflesikan dalam disiplin akademik yang
menjadi akarnya seperti filosopi,agama,seni,psikologi,dan psikiatri. Keragaman
konseling tersebut dapat dilihat sebagai kekuatan,karena merefleksikan sensitivitas
konseling terhadap keanekaragaman variasi pengalaman manusia.
Berikut ini adalah beberapa tujuan yang didukung secara eksplisit maupun
implisit oleh para konselor :
 Pemahaman . Adanya pemahaman terhadap akar dan perkembangan kesulitan
emosional,mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk lebih memilih kontrol
rasional ketimbang perasaan dan tindakan
 Berhubungan dengan orang lain. Menjadi mampu membentuk dan
mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan dengan orang lain,
misalnya,dalam keluarga atau di tempat kerja.
 Penerimaan diri. Perkembangan sikap positif terhadap diri,yang ditandai oleh
kemampuan menjelaskan pengalaman yang selalu menjadi subjek kritik diri dan
penolakan.
 Pendidikan psikologi. Membuat klien mampu menangkap ide dan teknik untuk
memahami dan mengontrol tingkah laku
Bab 2
AKAR KONSELING: TINJAUAN KULTURAL DAN HISTORIS

Konseling muncul pada paruh kedua abad dua puluh. Untuk memahami apa
definisi dan yang dilakukan oleh konseling,diperlukan pemahaman terhadap akar
sejarah dan perkembangan bentuk pertolongan ini. Pada periode pra-industrial, orang-
orang yang memiliki masalah emosional ditolong oleh para anggota atau anggota
konutas lainnya. Seiring dengan Revolusi Industri dan peningkatan sekulerisasi dalam
masyarakat,pada abad sembilan belas muncul industri dan profesi baru yang melayani
masalah “sakit mental”. Pada pertengahan abad sembilan belas, mesmerisme
(hipnotis) merupakan bentuk terapi psikologi yang digunakan secara luas.
Di pengujung abad sembilan belas,Freud mengintegrasikan berbagi pemikiran
psikologis, medis, dan filosofi dalam sebuah sistem psikoterapi lengkap pertama yang
kemudian dikenal dengan sebutan psikoanaisis. Psikoanalisis terus menjadi aktivitas
pinggiran sampai kemudian diadopsi dengan antusias oleh berbagai sektor dalam
masyarakat Amerika Serikat pada 1920-an dan 1930-an.
Teori client-cetred (berpusat pada klien) Carl Rogers mempresentasikan
pendekatan lebih populer dan bisa diterima yang berdampak pada peningkatan
penyebaran konseling. Perkembangan dan popularitas konseling yang terus menanjak
di Amerika disebabkan oleh mobilitas sosial dan konsumerisme tingkat tinggi yang
menghasilkan defesiensi makna, atau empty self, yang dibantu oleh terapi tersebut.
Elemen penting lain dalam evolusi konseling adalah panduan karier dalam
setting pendidikan dan sektor relawan. Adalah penting untuk menyadari bahwa dalam
masyarakat,konseling memainkan peran mempromosikan citra individu sebagai
makhluk yang self-deterministik dan independen,dan juga memainkan peran
mendukung strategi menghadapi berbagai permasalahan sosial di level individu.
Konseling adalah sebuah aktivitasbyang mustahil dipisahkan dari kultur
masyarakat industrial Barat, dan karena itu tidak harus relevan dengan permasalahan
yang dialami oleh anggota grup kultur lain.
BAB 3
TEORI KONSELING: KERAGAMAN DAN TITIK TEMU

Terdapat banyak teori konseling yang berbeda satu dengan yang lain. Tujuan
dari bab ini adalah memahami alasan dibalik banyaknya teori, dan untuk
mencerminkan peran teori dalam konseling.
Hingga tingkat tertentu, teori konseling yang berbeda merefleksikan citra
alternatif akan manusia, dan menyadari keyakinan filosofi berkenaan dengan sifat
manusia sebagai contoh dipandangnya manusia sebagai mesin, organisme, atau
makhluk hidup. Faktor signifikan dalam penyebaran teori adalah keluasan cakupan
fenomena yang mereka coba untuk dijelaskan. Biasanya, sebuah teori menjadi alat
proses yang menjelaskan segala sesuatu.
Dalam praktik, penggunaan teori oleh konselor harus dilihat sebagai upaya
untuk memahami klien,dimana pemahaman konselor juga bersumber dari perasaan
dan pengalaman pribadi mereka serta dari ide dan konsep. Beberapa teori yang
digunakan oleh konselor (seperti konsep “pertahanan diri”) didesain untuk
membentuk mereka mengklarifikasi dan memahami apa yang sedang terjadi dalam
sesi konseling. Konsep lain (seperti “bawah sadar”) lebih abstrak dan lebih cenderung
digunakan untuk membuat kerangka umum yang menjadikan terapi sebagai satu
kesatuan.
Akhirnya, konselor membutuhkan teori untuk membantu mereka untuk
melogiskan khaos,kebingungan, dan krisis yang ditunjukkan oleh beberapa orang
klien. Pemahaman teoretis memungkinkan konselor untuk menyelisik jauh kedalam
informasi yang diberikan dan mengembangkan perspektif yang digunakan untuk
memahami klien, proses konseling itu sendiri dan reaksi terhadap klien. Walaupun
demikian,bukanlah sesuatu yang membantu untuk menganggap teori konseling mirip
dengan model sains yang dengan mudah mengarah kepada prediksi, kontrol, dan
penjelaskan. Teori konseling harus diintegrasikan dengan pengalaman pribadi
konselor, dan akan menjadi lebih baik lagi apalagi teori tersebut dipandang sebangai
seperangkat alat heuritis pembanding yang apabila digunakan secara bijak akan
mengarahkan kepada pemahaman dan pendalaman hubungan terapeutik.
Cara lain untuk memandang keragaman teoritis adalah dengan memandang
terapi sebagai pasar. Maka, untuk “menjual” ”produk” konseling, merupakan suatu
yang penting untuk memaketkannya dalam “nama pendek” yang unik dan
menjanjikan “resep spesial”.
Bab 4
TEMA DAN ISU DALAM PENDEKATAN PSIKODINAMIK

Pendekatan psikodinamik dalam konseling bersumber dari teori psikoanalitik


Sigmund Freud. Merupakan hal yang esensial untuk menyadari nilai ide Freud dan
mengakui bahwa hingga tingkat tertentu,teorinya merupakan produk dari
budaya,tempat dan waktu tertentu. Asumsi kunci yang dibuat oleh Freud adalah :
a) Masalah emosional berakar pada pengalaman masa kanak-kanak.
b) Biasanya orang tidak sadar akan sifat alamiah dari pengalaman-pengalaman
ini
c) Materi bawah sadar secara tidak langsung muncul dalam konseling melalui
reaksi transference terhadap konselor dan dalam mimpi serta fantasi.

Banyak teman Freud seperti Adler dan Jung, tidak setuju dengan aspek
penting teorinya, seperti penekanannya terhadap karakter seksual memori bawah
sadar. Pada 1940-an dan 1950-an,diinspirasikan oleh Klien,Mahler dan yang lain,
aliran object relation psikoanalisis berkembang menjadi pendekatan psikodinamik
yang lebih memperhatikan hubungan antara klien dan objek penting lain dalam
hidupnya.
Tren terbaru yang penting adalah dikembangkannya metode tenggat waktu
dalam konseling,melibatkan banyk partisipasi aktif konselor dan fokus atas tema
kunci seperti attachment dan kehilangan.
Model percakapan dalam konseling psikodinamik, diciptakan oleh Hobson,
Mearers dan kolega mereka di Inggris dan Australia, merepresentasikan pndekakatan
interatif dan berbasis riset yang didasarkan pada berbagai elemen dalam tradisi
psikoanalitis.Pendekatan psikodinamik terhadap konseling adalah perspektif yang
menyertakan berbagai aliran pemikiran.

BAB 5
DARI BEHAVIORISME KE KONSTRUKTISME

Konseling kognitif-behaviorisme adalah sebuah pendekatan yang tumbuh dari


perkembangan dalam psikologi behavioral dan kognitif. Prinsip behavioral ini
diaplikasikan dalam konseling melalui teknik seperti desensitisasi sistematis dan
kontrol diri behavioral.
Konselor kognitif-behavorial merekomendasikan pendekatan yang memiliki
tujuan dan terstruktur, dan menggunakan teknik-teknik tertentu seperti penugasan
pekerjaan rumah, latihan relaksasi,monitor diri,dan pencegahan kambuhan (relapse
prevention).
Model konseling konstruktivisme baru menggunakan teori konstruksi
personal,tetapi melebihinya dalam penggunaan metafora, bahasa, dan narasi untuk
mengeksplorasi meaning-system seseorang. Terapi berfokus solusi mempresentasikan
pendekatan konstruktivisme radikal yang berkonsentrasi pada memotivasi
“pembicaraan tentang solusi” pada klien.
Pendekatan konseling kognitif-behavioral, konstruktivisme, dan berfokus
solusi digunakan secara luas dalam berbagai setting, dan didukung oleh bukti riset
yang substansial.

BAB 6
TEORI DAN PRAKTIK PENDEKATAN PERSON-CENTERED

Kelahiran pendekatan person-centered biasanya diatributkan kepada ceramah


yangdiberikan Rogers tahun 1940 di Universitas Minnesota . Konseling client-
centered (yang di kemudian hari dikenal dengan person-centered) merupakan elemen
kunci ‘kekuatan ketiga’ gerakan psikologi humanistik pada era 1950-an dan 1960-an .
Konseling client-centered diinformasikan oleh pemikiran fenomenologis dan
pendekatan pada konsep diri individu serta kemampuan untuk tumbuh dan merasa
puas. Perkembangan teori Rogers didasakan kepada pekerjaan oara koleganya,seperti
Shlien,Raskin, Barrett-Lennard, dan Gendlin, serta melibatkan fusi,teori,riset,dan
praktik yang kreatif.
Barrett-Lennard mengajukan model lingkaran yang memperjelas pemahaman
ide utama person-centered,empati. Proses terapeutik dalam konseling person-
centered dilakukan melalui rangkapam tahapan pendalaman kesadaran eksperiensial
dan penerimaan diri.
Terlepas dari banyaknya teori Rogers yang tersebar dalam praktik
terapeutik,masih dapat sekelompok konselor person-centered yang memiliki
komitmen untuk mengembangkan model ini.
BAB 7
BEKERJA DENGAN SISTEM

Teori sistem umum menyajikan serangkaian konsep yang dapat diaplikasikan


untuk memahami pola hubungan antar-individu. Saat ini banyak konselor yang
menggunakan pendekatan sistematik yang didasarkan kepada elemen-elemen semua
model ini,menggunakan teknik seperti Genogram,ritual,dan keluarga atau group
sculpting.
Konseling yang beroperasi berdasarkan perspektif sistematik telah mampu
mengaplikasikan kemampuan mereka terhadap masalah didalam organisasi atau
instansi. Terlepas dari kekuatan pendekatan sistematik,tugas mengadopsi metode
relasional,berfokus sistem,tetap menjadi tantangan signifikan bagi konselor yang
dilatih dalam model tradisional one-to-one.

BAB 8
PENDEKATAN FEMINIS: RADIKALISASI KONSELING

Mendefinisikan konseling feminis adalah hal yang sulit karena teori


feminisme yang turut serta membangun kritik terhadap teori psikologi dan
psikoterapeutik yang didominasi oleh pria. Pengaruh dan nilai penting pendekatan
konseling feminisme semakin meningkat dalam beberapa jtahun terakhir ini;
konseling feminisme mempresentasikan usaha untuk mengintegrasikan berbagai isu
sosial dan politik ke dalam konseling. Sejumlah pendekatan unik konseling feminis
kontemporer telah teridentifikasi. Salah satunya adalah pendekatan integratif yang
bersumber dari beragam teknik konseling,tapi yang dipilih adalah metode dan teknik
yang sesuai dengan prinsip feminisme.
Terdapat perdebatan sengit seputar konseling feminisme. Misalnya, beberapa
orang penulis feminis lesbian berpendapat bahwa eksistensi konseling dan psikoterapi
mengalihkan perhatian dari tindakan politik kolektif. Yang lain berpendapat bahwa
sebagian besar konseling feminis merefleksikan pengalaman wanita kelas menengah
berkulit putih,dan tidak merefleksikan realita wanita berkulit hitam. Saat banyak
konselor wanita mengaku dipengaruhi oleh ide feminis,pendidikan, dan sistem
pendukung lainnya bagi para pengikut pendekatan ini malah minim.
BAB 9
PENDEKATAN KONSELING NARASI : BEKERJA DENGAN CERITA

Narasi telah menjadi sebuah topik yang luar biasa populer. Konsep narasi
telah digunakan dengan cara yang berbeda oleh masing-masing representasi
pendekatan konseling dan psikoterapi yang ada. Terdapat tiga jalur perkembangan
yang berbeda, yang berkaitan dengan evolusi model terapi narraktive-informed dan
narrative-oriented. Tiga aliran teoritis yang paling berperan dalam hal ini adalah
psikodinamik, konstruktivisme, dan pendekatan konstruksionis sosial
(McLeod,1997). Dalam aliran psikodinamik, cerita dipandang sebagai bukti “tema
hubungan” yang bersifat fundamental dan bawah sadar. Konselor konstruktivis
menggunakan metafora sebagai cara untuk menolong klien untuk menciptakan cerita
bertema solusi yang baru sebagai ganti dari cerita penuh deritanya yang lalu.
Konstruksionis sosial adalah sebuah sudut pandang filosofi yang menganggap
pengalaman dan makna pribadi tak hanya dibentuk oleh individu, tapi juga sesuatu
yang tertanam dalam budaya dan dibentuk oleh budaya.

BAB 10
MULTIKULTURALISME SEBAGAI SEBUAH PENDEKATAN KONSELING

Salah satu karakteristik dari dunia “postmodern” adalah nilai penting


perbedaan kultural. Konsep kultur sendiri merupakan konsep yang kompleks dan
multidimensional, mencakup konsep realitas, moralitas, diri dan waktu pola perilaku
seta hubungan yang dipegang oleh sekelompok orang. Kemunculan konseling
multikultural mempresentasikan contoh signifikan berkenaan dengan bagaimana ide
dan metode konseling mengadaptasi kondisi dan tuntutan sosial.
Dalam praktiknya, konseling multikultural peka terhadap hubungan antara
masalah personal dan konteks sosial. Karena, seorang konselor yang efektif adalah
mereka yang dapat mendemonstrasikanempati kultural, dan memiliki keinginan untuk
membicarakan isi kultural serta dapat bekrja berdampingan dengan sitem
kepercayaan serta metode penyembuhan tradisional.
Konseling multikultural adalah pendekatan integratif yang diambil dari
berbagai ide dan teknik yang berasal dari teori konseling yang ada, dan kemudian
menyatukan mereka dalam sebuah model praktik yang berpengetahuan kultur dan
peka kultur. Salah satu cara diperkenalkannya konseling multikultural adalah melalui
pengadaan latihan bagi para konselor. Biasanya, program ini mencakup pengujian
rasisme sebagai faktor kunci komunikasi multikultural.
BAB 11
KONSELING FILOSOFIS

Pemikiran filosofis menawarkan sumber daya intelektual dan kultur yang


kaya, yang dapat memberikan kontribusi kepada konseling melalui beberapa cara.
Konseling dan psikoterapi eksistensial mempresentasikan pendekatan berbasis filsafat
yang kuat. Terapi ekstensial berpusat pada eksplorasi perasaan eksistensi seorang
klien. Konseling filosofis berkembang dalam beberapa tahun terakhir sebagai bentuk
filsafat aplikatif.
Dalam praktiknya, konselor filosofis mengajak klien untuk menguji kembali
asumsi dasar yang mendukung pandangan dunia mereka, dan terlibat dalam dialog
seputar cara alternatif untuk memahami masalah. Dalam waktu yang lebih
luas,metode analisis filosofis dapat digunakan untuk menjelaskan makna konsep yang
digunakan dalam terapi seperti self dan anxiety. Gerakan dalam terapi menuju
integrasi yang lebih besar cenderung mengarah kepada ketertarikan yang lebih besar
pada ide filosofis di sisi konselor dan psikoterapis.

BAB 12
HUBUNGAN KONSELING

Nilai penting kualitas hubungan antara konselor dan klien dianggap penting
dalam semua pendekatan konseling dan psikoterapi. Terdapat beberapa cara alternatif
untuk memahami hubungan terapeutik,berkaitan dengan orientasi teoretis yang
berbeda. Bordin dan Charkson telah membangun model integratif hubungan
terapeutik yang berguna. Dalam praktik, pembuatan dan pemeliharaan hubungan
yang kuat dapat melibatkan metakomunikasi,penggunaan strategi untuk memecahkan
jalan buntu dan perwujudan hubungan dalam objek fisik yang disimpan oleh klien.
Nilai penting hubungan konselor-klien dalam konseling tercermin dalam
perhatian luas yang diberikan kepada karya eksperiensial dalam pendidikan konselor.
Kompleksitas hubungan terapeutik menyebabkan para praktisi konseling dan
psikoterapi harus disiapkan untuk terus belajar tentang gaya mereka dalam
berhubungan dengan orang lain sepanjang karier mereka.
BAB 13
PROSES KONSELING

Konsep proses digunakan secara luas dalam pembahasan mengenai


pengalaman apa yang sebenarnya terjadi dalam konseling. Walaupun terdapat
beberapa makna dari proses,tetapi semuanya merujuk kepada pemahaman akan
perubahan, gerakan, dan aktivitas dalam konseling. Akan sangat berguna untuk
membagi seluruh proses kedalam tiga fase besar yaitu awal,pertengahan,dan akhir.
Proses kunci fase awal konseling adalah menegoisasi harapan,penilaian terhadap
klien, dan pembentukan hubungan terapeutik. Proses kunci fase pertengahan
konseling adalah tahapan dimana sebagian besar pembelajaran dan perubahan yang
terjadi. Proses kunci pada fase akhir konseling adalah berkenaan dengan
mempertahankan pembelajaran dan perujukan.
Banyak proses berkenaan dengan aoa yang terjadi dalam diri klien dan
konselor dan atara keduanya merupakan hal yang rahasia dan tersembunyi. Tujuan
memplajari dan memahami proses adalah untuk menolong konselor agar bersikap
intentional secara lebih aktif berhitung, agar mewaspadai apa yang mereka lakukan
dan seluruh berada di posisi yang paling membantu bagi klien mereka.

BAB 14
POLITIK KONSELING: PEMBERDAYAAN, KONTROl, DAN KEKUASAAN

Konselor adalah figur yang kuat dalam hidup klien mereka; banyak konselor
yang menyatakan bahwa mereka mencoba untuk menguatkan klien melalui kerja
sama antara mereka. Karena itu,dinamika kekuasaan,politik hubungan konseling,
merupakan topik yang sangat penting. Konselor mengontrol proses yang terjadi
dalam konseling dengan berbagai cara kepemilikan sistem bahasa serta pembelaan;
bertanggung jawab terhadap ruang dan waktu; mengatur akses. Beberapa kritikus
berpendapat bahwa konseling mendukung kontrol institusi dan negara terhadap
individu dengan melakukan diskusi berkenaan dengan isu yang intim dan personal di
luar keluarga dan komunitas, dan membuat diri mereka terbuka terhadap kontrol
profesional eksternal.
Pengujian teori dan praktik konseling dalam hubungannya dengan tiga
kelompok (golongan miskin;gay, lesbian, dan biseksual; terikat secara religi)
menunjukkan bahwa anggota kelompok ini harus berjuang agar pengalaman dan nilai
mereka ditangani dengan serius oleh profesi konseling.
BAB 15
MORAL, NILAI, DAN ETIKA DALAM PRAKTIK KONSELING

Konselor kerap berhadapan dengan dilema moral yang dihadapi klien mereka
dalam kehidupan nyata, dan terkadang berhadapan dengan isu yang berkaitan dengan
praktik mereka. Karena itu, pengetahuan tentang perbuatan keputusan etika dan moral
merupakan hal yang esensial bagi praktisi. Ada empat pemikiran moral yang bisa
digunakan oleh konselor: intuisi personal, panduan etika yang dibentuk oleh
organisasi profesional,prinsip etika, dan teori umum tindakan moral. Penting bagi
konselor untuk selalu waspada terhadap perasaannya sendiri berkenaan dengan apa
yang benar dan yang salah.
Asosiasi profesional mempertahankan kode etik. Namun, akan ada masa
dimana panduan ini menjadi ambigu, atau situasi yang tidak tercakup dalam kode etik
tersebut. Diantara prinsip moral yang menjadi landasan kode etik adalah
otonomi,nonmaleficence,kebaikan, keadilan, dan loyalitas

BAB 16
KONTEKS ORGANISASIONAL KONSELING

Konteks organisasional pada tempat terjadinya konseling membuat perbedaan


dalam layanan yang ditawarkan kepada klien misalnya, jumlah sesi yang tersedia,
pelatihan dan supervisi konselor,bahkan atmosfer dan perabotan ruang konseling.
Ada banyak tipe agensi konseling, beragam dalam ukuran,praktik pribadi/sektor
sukarela,independen atau melekat kepada organisasi besar serpeti perusahaan
komersial atau universitas.Organisasi konseling adalah sistem sosial yang tergantung
kepada efektivitasnya terhadap pencapaian ekuilibrium antara elemen yang ada dalam
sistem (seperti manajer, supervisior,konselor) dan antara sistem tersebut dan sistem
interaksi lain (seperti badan penyantun,komunitas lokal,asosiasi profesional)
Budaya organisasional agensi merupakan faktor penting dalam menentukan
tingkatan ekspektasi positif yang dimiliki klien dan konselor, dan menjadikan mereka
mampu mengekspresikan perasaan mereka serta merasa aman. Cara yang berguna
untuk memahami dinamika organisasional adalah melalui pengaplikasian konsep
psikodinamik seperti proyeksi,pemilahan, penolakan, dan proses paralel. Sumber
kesulitan lain dalam agensi konseling adalah eksistensi hubungan ganda atau
konflikperan, dan stress pada saat belajar.
ISI RINGKASAN BUKU PEMBANDING
PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Judul Bab Ringkasan Bab


Dalam bab ini membahas tentang
pengertian Psikologi Pendidkan. Latar
belakang psikologi pendidikan yang
Bab 1 Psikologi Pendidikan : Perangkat dikemukakan oleh William James,
John Dewey, dan Edward Lee
Untuk Mengajar secara efektif.
Thorndike. Membahas juga tentang
cara mengajar yang efektif, dan
tentang riset dalam psikologi
pendidikan
Dalam bab ini membahas tentang
Pandangan Perkembangan Anak,
bahwa adalah penting mempelajari
tentang perkembangan. Juga
membahas tentang perkembangan
kognitif pada anak yang melibatkan
otak dan komponen-komponen otak.
Bab 2 Perkembangan Kognitif dan Bahasa Dalam bahasan ini, dibahas mendalam
tentang teori Piaget, sedangkan teori
lain yang dibahas adalah teori
Vygotsky. Perkembangan bahasa, yang
dibahas dalam materi ini adalah
pengertian bahasa, pengaruh biologis
dan lingkungan, bagaimana bahasa
berkembang, dan juga tonggak utama
bahasa.
Dalam bab ini membahas tentang
teori-teori kontemporer yaitu teori
Ekologi Bronfenbrenner dan teori
Bab 3 Konteks Sosial dan Perkembangan Perkembangan Rentang Hidup (Life-
Span) Erikson. Membahas tentang
Emosional konteks sosial dalam perkembangan
yaitu keluarga, sekolah, dan teman
sebaya. Membahas tentang
perkembangan sosioemosional,
penghargaan diri (self-esteem),
identitas diri, dan konsep moral.
Dalam bab 4 ini membahas tentang
Inteligensi, yang dibahas dalam
subbab ini adalah tes intelegensi
individual, tes individual versus tes
kelompok, teroi Multiple Intelligences,
Bab 4 Variasi Individual kontroversi dan isu dalam
inteligensi.Mmebahas tentang Gaya
belajar dan gaya berpikir, dan juga
evaluasi gaya belajar dan berpikir.
Membahas tentang kepribadian dan
tempramen.
Dalam bab ini membahas tentang
Kultur dan Etnis, hal-ha yang dibahas
adalah kultur, status sosioekonomi,
etnis dan isu bahasa. Membahas
tentang Pendidkan Multikultural;
bagaimana memberdayakan murid,
Bab 5 Diversitas Sosiokultural pengajaran yang relevan secara
kultural, pendidikan berorientasi isu,
meningkatkan hubungan antarmurid
dan kelompok etnis yang berbeda-
beda, persoalan mengenai apakah inti
dari nilai “Kulit Putih” harus
diajarkan atau tidak.
Dalam bab ini membahas tentang
siapakah anak yang menderita
ketidakmampuan itu, termasuk dalam
hal gangguan indra,
gangguan/ketidakmampuan fisik,
retardasi mental, gangguan bicara dan
bahasa, gangguan belajar, attention
deficit hyperactiveity disorder,
Bab 6 Pelajar yang Tidak Biasa
gangguan emosional dan perilaku.
Membahas tentang isu pendidikan
yang berkaitan dengan anak yang
menderita ketidakmampuan dari aspek
hukum, penempatan dan pelayanan,
orangtua sebagai mitra pendidikan, dan
teknologi. Membahas tentang anak-
anak berbakat, karakteristiknya, studi
teman klasik dan cara mendidik anak
berbakat.
Dalam bab ini membahas tentang apa
itu pembelajaran, apa yang disebut
belajar dan yang bukan, pendekatan
untuk belajar. Membahas tentang
pendekatan behavioral untuk
Bab 7 Pendekatan Behavioral dan Kognitif
pembelajaran yaitu dengan
Sosial pengkondisian klasik dan
pengkondisian operan. Membahas
tentang analisis perilaku terapan dalam
pendidikan. Membahas tentang
pendekatan kognitif sosial untuk
pembelajaran.
Dalam bab 8 ini membahas tentang
sikap pendekatan pemrosesan
informasi, memori, dan pikiran.
Membahas tentang memori, apa itu
memori, encoding, penyimpanan,
mengambil kembali dan melupakan
Bab 8 Pendekatan Pemrosesan informasi. Membahas tentang keahlian
dalam pembelajaran, bagaimana
memperoleh keahlian, serta keahlian
dan pengajaran. Membahas tentang
metakognisi, perubahan development,
model pemrosesan informasi yang
baik, strategi dan regulasi metakognisi.
Dalam bab ini membahas tentang
pembahasan konseptual. Apa itu
konsep, dan mempromosikan
pembentukan konsep. Membahas
tentang berpikir, apa itu berpikir,
penlaaran, pemikiran kritis, pembuatan
Bab 9 Proses Kognitif Kompleks keputusan, pemikiran kreatif.
Membahas tentang pemecahan
problem, langkah-langkah pemecahan,
rintangan dalam memecakan problem,
pembelajaran berbasis problem.
Membahas tentangg transfer dan tipe-
tipe transfer.
Dalam bab ini membahas tentang
Bab 10 Pendekatan Konstruktivis Sosial
pendektana konstruktivis sosial untuk
pengajaran. Membahas tentang guru
dan teman sebaya sebagai kontributor
bersama untuk pembelajaran murid.
Membahas tentang menyusun
kelompok kerja kecil. Membahas
tentang program konstruktivis sosial.
Dalam bab 11 buku ini membahas
Bab 11 Pembelajaran dan Kognisi di Area tentang pengetahuan ahli dan
pengetahuan isi pedagogis. Membaca,
Isi
menulis, matematika, sains, dan studi
sosial.
Dalam bab 12 buku ini membahas
tentang perencanaan instruksional,
kerangka waktu dan perencanaan.
Bab 12 Perencanaan, Instruksi, dan
Membahas tentang perencanaan dan
Teknologi instruksi Teacher-Centered,
perencanaan dan instruksi Learner -
Centered. Membahas tentang teknologi
dan pendidikan.
Dalam bab 13 buku ini membahas
tentang mengeksplorasi motivasi, apa
itu motivasi dan perspektif tentang
motivasi. Membahas tentang motivasi
untuk meraih sesuatu, motivasi
Bab 13 Motivasi, Pengajaran, dan
ekstrinsik dan intrinsik, proses kognitif
Pembelajaran lain, kecemasan dan prestasi,
ekspektasi guru. Membahas tentang
motivasi, hubungan, dan konteks
sosiokultural. Membahas tentang
murid yang berprestasi rendah dan
sulit di deteksi.
Dalam bab 14 buku ini membahas
tentang mengapa kelas perlu di kelola
secara efektif. Membahas tentang
mendesain lingkungan fisik kita.
Bab 14 Mengelola Kelas Membahas tentang menciptakan
lingkungan yang positif untuk
pembelajaran. Membahas tentang
menjadi komunikator yang baik.
Membahas tentang menghadapi
perilaku bermasalah.
Dalam bab 15 buku ini, membahas
tentang sifat tes standar atau ujian
yang dibakukan, tes kecakapan dan
Bab 15 Tes Standar dan Pengajaran prestasi, jenis-jenis tes prestasi
standadar, dan lainnya. Membahas
tentang peran guru. Membahas tentang
isu-isu dalam tes standar.
Dalam bab 16 buku ini membahas
tentang kelas sebagai konteks
penilaian. Membahas tentang ujian
Bab 16 Penilaian Kelas tradisional. Membahas tentang
penilaian alternatif. Membahas tentang
grading dan pelaporan kerja.
Membahas tentangkomputer dan
penilaian.
BAB IV
PEMBAHASAN
PERBEDAAN : KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

Education Psychology,
Aspek Pengantar Konseling
Global Text
Sangat banyak menggunakan
Tidak ada sama sekali. ilustrasi. Bahkan pada setiap
Sehingga pembaca harus lebih bab dan bahasan, penulis
Ilustrasi dalam Buku berkonsentasi untuk dapat menggunakan ilustrasi agar
memahami beberapa bahasan pembaca dapat lebih mudah
yang sulit dimengerti memahami. Dilengkapi dengan
banyak tabel.
Menggunakan bahasa yang
Sangat mudah di mengerti.
baku dan efektif. Selain
Bahasa yang digunakan dalam
Penggunaan Bahasa sederhana, bahasa yang
buku ini adalah bahasa yan
digunakan penulis adalah
sederhana.
bahasa yang baku dan efektif.

Keteraturan Isi Buku Tersusun dengan sistematis Tersusun dengan sistematis

Kelengkapan Materi Sangat lengkap. Sangat lengkap.


Keunggulan dan kelemahan buku bisa dibaca dari tabel di lembar sebelumnya.
Namun penulis juga akan mendeskripsikannya dalam bentuk paragraph.

Keunggulan
Keunggulan dari buku ini adalah dalam penyajian materinya sangat lengkap
dan pada buku ini kita diberikan topik untuk refleksi dan diskusi tentang kasus-kasus
yang ada serta diberikan sumber bacaan yang dianjurkan sehingga kita dapat mencari
lebih dalam tentang topik yang dibahas. Materi-materi yang disajikan juga tersusun
secara sitematis. Dalam fokus bab yang penulis pilih, materi disajikan dengan sangat
runtut. Setiap subbabnya dibahas dengan rinci.

Kelemahan

Kelemahan dalam buku ini adalah dalam penyajian materinya, tidak ada
menggunakan ilustrasi berupa gambar, perhitungan, tabel, atau yg lainnya sehingga
pembaca harus lebih berkonsentrasi dalam membacanya, berbeda dengan buku
Psikologi Pendidikan karangan John W Santrock, yang sangat banyak menggunakan
ilustrasi dalam berbagai bentuk. Kelemahan yang lainnya adalah terletak dalam
penggunaan bahasanya, bahasa yang digunakan sangat sulit dimengerti bahkan tidak
efektif dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terlalu
banyaknya kata-kata asing yang digunakan. Sehingga menyulitkan pembaca dalam
mengambil dan memahami materi yang diberikan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penting bagi kita sebagai calon guru untuk mengetahui apa sebenarnya konseling
dan perannya dalam pendidikan. Adanya konseling ini untuk mendidik,memotivasi
dan memberikan bimbingan kepada peserta didik. Tenaga pendidik bukan hanya
mengajar atau memberi materi, namun juga mendidik karakter siswa supaya lebih
baik dan juga memahami karakter dari masing masing siswa. Kita para pendidik
harus mendorong para siswa untuk memliki rasa keterbukaan sehingga siswa dapat
belajar menghadapi masalah yang dihadapinya. Dengan mengkritisi buku ini, penulis
lebih paham tentang bagaimana menciptakan bimbingan dalam belajar dengan
membandingkan kedua buku.

Saran
Dalam menulis buku, selain isi yang harus terperinci, penulis juga harus
memperhatikan karakteristik buku supaya para pembaca tertarik untuk membaca
buku. Kita sebagai calon guru, hendaknya menggali diri dalam hal belajar-mengajar,
memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, dan mengaplikasikan ilmu yang sudah
didapat.