Anda di halaman 1dari 17

Laporan Tugas Mandiri

“SEJARAH SERTA TREND DAN ISU DALAM KEPERAWATAN JIWA


DAN EVIDENCE BASE PSYCHIATRIC NURSING PRACTICE”

Oleh :
Anggun Septiani
185070207111007

PROGRAM STUDI SARJANA ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jiwa adalah unsur manusia yang bersifat nonmateri, tetapi fungsi dan
manifestasinya sangat terkait pada materi. Setiap manusia memiliki jiwa, tetapi
ketika ditanya, “Mana jiwamu?” hanya sebagian kecil yang dapat menunjukkan
tempat jiwanya. Hal ini karena jiwa memang bukan berupa benda, melainkan
sebuah sistem perilaku, hasil olah pemikiran, perasaan, persepsi, dan berbagai
pengaruh lingkungan sosial yang merupakan manifestasi sebuah kejiwaan
seseorang. Jiwa bersifat abstrak dan tidak berwujud benda. Oleh karena itu,
untuk mempelajari ilmu jiwa dan keperawatannya, kita harus mempelajarinya
dari manifestasi jiwa terkait pada materi yang dapat diamati yaitu berupa
perilaku manusia. Manifestasi jiwa tersebut antara lain yaitu kesadaran, afek,
emosi, psikomotor, proses berpikir, persepsi, dan sifat kepribadian.
Jiwa yang sehat sangat sulit untuk didefinisikan dengan tepat.
Meskipun begitu, Karl Menninger mendefinisikan orang yang sehat jiwanya
adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri pada
lingkungan, serta berintegrasi dan berinteraksi dengan baik, tepat, dan bahagia.
Sedangkan, Michael Kirk Patrick mendefinisikan orang yang sehat jiwa adalah
orang yang bebas dari gejala gangguan psikis, serta dapat berfungsi optimal
sesuai apa yang ada padanya.
Dalam perawatan kesehatan, masalah terkait kejiwaan ditangani oleh
perawat jiwa atau perawat psikiatrik. Perawat jiwa dan perawat psikiatrik
merupakan dua jenis spesialis yang berbeda pada profesi keperawatan.
psychiatric nursing merupakan cabang keperawatan yang peduli terhadap
pencegahan, perawatan, serta penyembuhan gangguan mental. Beberapa
kegiatan perawat psikiatrik diantara yaitu menyediakan lingkungan teapi yang
aman, menangani klien terkait dengan masalah yang mereka hadapi,
mengidentifikasi dan merawat aspek fisik dari masalah pasien, melakukan
psikoterapi, serta memberikan bantuan klinis untuk perawat lain dan petugas
kesehatan yang lainnya juga.
Perawat psikiatri menurut American Psychoatric Nurses Association
(APNA), adalah pakar dalam intervensi krisis, penilaian kesehatan mental,
pengobatan dan terapi, serta tentunya berperan aktif dalam memberikan bantuan
kepada pasien. Perawat psikiatri pekerjaannya erat dengan pasien dalam rangka
membantu mereka untuk mengelola penyakit mental, serta menjalani kehidupan
yang produktif dan memuaskan. Klien yang ditangani dalam ranah perawat
psikiatrik diantaranya yaitu orang dengan gangguan kecemasan seperti
serangan panik dan fobia, gangguan mood seperti gangguan bipolar dan depresi,
masalah dengan penyalahgunaan zat seperti narkoba dan alcohol, serta orang
dengan penyakit Alzheimer dan bentuk lain dari dimensia. Perawat psikiatrik
bekerja erat dengan tim perawatan lain untuk mengembangkan rencana pasien
individual, yang bertujuan untuk memaksimalkan perawatan dan membantu
pasien menjalani kehidupan yang produktif. Mereka juga memberikan
konseling individual kepada pasien dan keluarga untuk membantu mereka
memahami penyakitnya
Sedangkan mental helath nurse atau perawat kesehatan mental, sama
halnya dengan perawat pshychiatric yang menangani pasien dengan masalah
kesehatan mental, namun mereka lebih memiliki keahlian dalam menilai,
mendiagnosis, dan mengobati masalah kejiwaan. Perawat kesehatan mental
bekerja sebagai bagian dari tim untuk memberikan perawatan medis total bagi
pasien. Tugas umum yang dilakukan oleh perawat kesahatan mental
diantaranya yaitu mengevaluasi kebutuhan kesehatan mental pasien,
mengembangkan rencana perawatan, memberikan layanan psikoterapi,
memberikan perawatan pribadi, berkoordinasi dengan keluarga, dokter, dan
tenaga kesehatan lainnya, serta berperan dalam pemberian obat-obatan kepada
pasien.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui sejarah keperawatan jiwa
2. Mengetahui tren dan isu keperawatan jiwa dalam setting pelayanan rumah
sakit, komunitas, dan perkembangan pelayanan jiwa secara global
3. Mengetahui evidence base pada praktik psychiatric nursing
1.3 Manfaat
1. Meningkatnya pengetahuan seputar sejarah keperawatan jiwa
2. Meningkatnya pengetahuan mengenai berbagai tren dan isu dalam dunia
keperawatan jiwa
3. Meningkatnya pengetahuan mengenai evidence base pada praktik
pshychiatric nursing
BAB II
ISI

2.1 Sejarah Keperawatan Jiwa


Seperti pada disiplin ilmu lainnya, keperawatan jiwa juga telah
mengalami berbagai perkembangan dari masa ke masa. Keperawatan jiwa yang
kita kenal pada masa sekarang ini merupakan hasil dari perkembangan atau
evolusi yang terjadi pada masa lalu. Perkembangan keperawatan jiwa itu
sendiri dapat dilihat berdasarkan perkembangannya di dunia dan berdasarkan
perkembangannya di Indonesia. Berikut ini adalah runtutan sejarah
perkembangan keperawatan jiwa di dunia :

A. Zaman Mesir Kuno

Pada zaman ini, gangguan jiwa dianggap disebabkan karena adanya


roh jahat yang bersarang di otak. Oleh karena itu, cara menyembuhkannya
dengan membuat lubang pada tengkorak kepala untuk mengeluarkan roh
jahat yang bersarang di otak tersebut. Hal ini terbukti dengan ditemukannya
lubang di kepala pada orang yang pernah mengalami gangguan jiwa. Selain
itu, ditemukan pada tulisan Mesir Kuno tentang siapa saja yang pernah kena
roh jahat dan telah dilubangi kepalanya. Tahun-tahun berikutnya, pasien
yang mengalami gangguan jiwa diobati dengan dibakar, dipukuli, atau
dimasukkan dalam air dingin dengan cara diajak jalan melewati sebuah
jembatan lalu diceburkan dalam air dingin dengan maksud agar terkejut,
yakni semacam syok terapi dengan harapan agar gangguannya menghilang.
Hasil pengamatan berikutnya diketahui ternyata orang yang menderita
skizofrenia tidak ada yang mengalami epilepsi (kejang atau hiperplasia).
Padahal penderita epilepsi setelah kejangnya hilang dapat pulih kembali.
Oleh karenanya, pada orang skizofrenia dicoba dibuat hiperplasia dengan
membuat terapi koma insulin dan terapi kejang listrik (elektro convulsif
theraphy).
B. Zaman Yunani (Hypocrates)

Pada zaman ini, gangguan jiwa sudah dianggap suatu penyakit. Upaya
pengobatannya dilakukan oleh dokter dan orang yang berdoa untuk
mengeluarkan roh jahat. Pada waktu itu, orang sakit jiwa yang miskin
dikumpulkan dan dimasukkan dalam rumah sakit jiwa. Jadi, rumah sakit
jiwa lebih banyak digunakan sebagai tempat penampungan orang gangguan
jiwa yang miskin, sehingga keadaannya sangat kotor dan jorok. Sementara
orang kaya yang mangalami gangguan jiwa dirawat di rumah sendiri. Pada
tahun 1841, Dorothea Line Dick melihat keadaan perawatan gangguan jiwa.
Ia tersentuh hatinya, sehingga berusaha memperbaiki pelayanan kesehatan
jiwa. Bersamaan dengan itu, Herophillus dan Erasistratus memikirkan apa
yang sebenarnya ada dalam otak, sehingga ia mempelajari anatomi otak
pada binatang. Khale kurang puas hanya mempelajari otak, sehingga ia
berusaha mempelajari seluruh sistem tubuh hewan (Notosoedirjo, 2001).

C. Zaman Vesalius

Vesalius tidak yakin hanya dengan mempelajari anatomi hewan saja,


sehingga ia ingin mempelajari otak dan sistem tubuh manusia. Namun,
membelah kepala manusia untuk dipelajari merupakan hal yang mustahil,
apalagi mempelajari seluruh sistem tubuh manusia. Akhirnya, ia berusaha
mencuri mayat manusia untuk dipelajari. Sayangnya kegiatannya tersebut
diketahui masyarakat, sehingga ia ditangkap, diadili, dan diancam hukuman
mati (pancung). Namun, ia bisa membuktikan bahwa kegiatannya itu untuk
kepentingan keilmuan, maka akhirnya ia dibebaskan. Versailus bahkan
mendapat penghargaan karena bisa menunjukkan adanya perbedaan antara
manusia dan binatang. Sejak saat itu dapat diterima bahwa gangguan jiwa
adalah suatu penyakit. Namun kenyatannya, pelayanan di rumah sakit jiwa
tidak pernah berubah. Orang yang mengalami gangguan jiwa dirantai,
karena petugasnya khawatir dengan keadaan pasien.

D. Revolusi Prancis I
Phillipe Pinel, seorang direktur di RS Bicetri Prancis, berusaha
memanfaatkan Revolusi Prancis untuk membebaskan belenggu pada pasien
gangguan jiwa. Revolusi Prancis ini dikenal dengan revolusi humanisme
dengan semboyan utamanya “Liberty, Equality, Fraternity”. Ia meminta
kepada walikota agar melepaskan belenggu untuk pasien gangguan jiwa.
Pada awalnya, walikota menolak. Namun, Pinel menggunakan alasan
revolusi, yaitu “Jika tidak, kita harus siap diterkam binatang buas yang
berwajah manusia”. Perjuangan ini diteruskan oleh muridmurid Pinel
sampai Revolusi II.

E. Revolusi Kesehatan Jiwa II

Dengan diterima gangguan jiwa sebagai suatu penyakit, maka


terjadilah perubahan orientasi pada organo biologis. Pada saat ini, Qubius
menuntut agar gangguan jiwa masuk dalam bidang kedokteran. Oleh karena
itu, ganguan jiwa dituntut mengikuti paradigma natural sciences, yaitu ada
taksonomi (penggolongan penyakit) dan nosologi (ada tanda/gejala
penyakit). Akhirnya, Emil Craepelee mampu membuat penggolongan dari
tanda-tanda gangguan jiwa. Sejak saat itu, kesehatan jiwa terus berkembang
dengan berbagai tokoh dan spesfikasinya masing-masing.

F. Revolusi Kesehatan Jiwa III

Pola perkembangan pada Revolusi Kesehatan Jiwa II masih


berorientasi pada berbasis rumah sakit (hospital base), maka pada
perkembangan berikutnya dikembangkanlah basis komunitas (community
base) dengan adanya upaya pusat kesehatan mental komunitas (community
mental health centre) yang dipelopori oleh J.F. Kennedy. Pada saat inilah
disebut revolusi kesehatan jiwa III.

Sedangkan untuk perkembangan keperawatan di Indonesi sangat


dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi akibat penjajahan yang dilakukan oleh
colonial Belanda, Inggris, dan Jepang. Perkembangan keperawatan jiwa di
Indonesia dimulai dari masa penjajahan sampai dengan masa kemerdekaan yang
dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Zaman Penjajahan Belanda
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat merupakan
penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser
sebagai penjaga orang sakit.Tahun 1799 pemerintah kolonial Belanda
mendirikan Rumah Sakit Binen Hospital di Jakarta, Dinas Kesehatan
Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat yang bertujuan untuk memelihara
kesehatan staf dan tentara Belanda. Jenderal Daendels juga mendirikan
rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti
perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk
kepentingan tentara Belanda.
B. Zaman Penjajahan Inggris
Gubernur Jenderal Inggris ketika itu dijabat oleh Raffles sangat
memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu
kesehatan adalah milik setiap manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk
memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain melakukan
pencacaran umum, cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan
kesehatan para tahanan Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan
Belanda, kesehatan penduduk Indonesia menjadi lebih baik. Pada tahun
1819 didirikanlah RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919
dipindahkan ke Salemba yang sekarang bernama RS. Cipto
Mangunkusumo (RSCM). Antara tahun 1816 hingga 1942 pemerintah
Hindia Belanda banyak mendiirikan rumah sakit di Indonesia. Di Jakarta
didirikanlah RS. PGI Cikini dan RS. ST Carollus. Di Bandung didirikan
RS. ST. Boromeus dan RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu
berdiri pula sekolah-sekolah perawat.
C. Zaman Penjajahan Jepang
Pada masa penjajahan Jepang, perkembangan keperawatan di
Indonesia mengalami kemundurandan merupakan zaman kegelapan,Pada
masa itu, tugas keperawatan tidak dilakukan oleh tenaga terdidik dan
pemerintah Jepang mengambil alih pimpinan rumah sakit. Hal ini
mengakibatkan berjangkitnya wabah penyakit karena ketiadaan persediaan
obat.
D. Zaman Kemerdekaan
Empat tahun setelah kemerdekaan barulah dimulai pembangunan
bidang kesehatan yaitu pendirian rumah sakit dan balai pengobatan.
Pendirian sekolah keperawatan dimulai pertama kali tahun 1952 dengan
didirikannya Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setingkat SMP.
Tahun 1962 didirikan Akademi Keperawatan milik Departemen Kesehatan
di Jakarta bertujuan untuk menghasilkan Sarjana Muda Keperawatan.
Tahun 1985 merupakan momentum kebangkitan keperawatan di Indonesia,
karena Universitas Indonesia mendirikan PSIK (Program Studi Ilmu
Keperawatan) di Fakultas Kedokteran. Sepuluh tahun kemudian PSIK FK
UI berubah menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan.Setelah itu berdirilah
PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dll.

2.2 Tren dan Isu Keperawatan Jiwa


Trend atau current issue dalam keperawtan jiwa adalah masalah-
masalah yang sedang hangat dibicarakan dan dianggap penting dalam
perkembangan keperawatan jiwa. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap
sebagai ancaman atau tantangan yang akan memberikan dampak yang besar
pada perkembangan keperawatan jiwa, baik yang berada di tatanan regional
maupun globa. Berikut ini adalah beberapa tren dan isu dalam keperawatan
jiwa saat ini :

Tren dan Isu Keperawatan Jiwa dalam Setting Pelayanan Rumah Sakit
A. Kesehatan Jiwa Dimulai Sejak Masa Konsepsi

Kesehatan jiwa mulai digencarkan dan menjadi tren terkait dengan


intervensinya yang dimulai sejak masa konsepsi. Kesehatan jiwa dianggap
sebagai masalah yang harus diitervensi sedini mungkin. Mulai dari masa
konsepsi, kesehatan jiwa seseorang harus dipantau dan dipertahankan
kenormalannya. Hal ini dilakukan juga karena masa-masa awal kehidupan
adalah masa emas atau golden age yang harus benar-benar diperhatikan agar
anak dapat tumbuh dan berkembang dengan kejiwaan yang bagus.

B. Peningkatan Masalah Kesehatan Jiwa


Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, dimana perkembangan
IPTEK telah terjadi begitu pesatnya membuat berbagai masalah kesehatan
jiwa juga mengalami peningkatan. Masalah-masalah kesehatan jiwa
tersebut diantaranya yaitu meningkatnya berbagai kasus seperti kasus
kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, beban hidup yang menjadi
semakin berat, tidak mengenal status sosial, kasus neurosis pada anak dan
remaja yang mengakibatkan trauma baik fisik maupun non fisik, serta
meningkatnya post traumatic syndrome disorder yang diantaranya dapt
diakibatkan oleh adanya bencana alam, peperangan, maupun pelecehan
seksual.

C. Masalah Ekonomi dan Kemiskinan

Berbagai masalah ekonomi dan kemiskinan telah membuat sesorang


mengalami kesulitan dalam perawatan kesehatan jiwa. Akibatnya, pada
beberapa daerah di Indonesia lebih memilih untuk mengurung atau bahkan
melakukan pemasung pada orang yang mengalami gangguan jiwa. Hal itu
tentunya terpaksa dilakukan oleh seseorang karena masalah ekonomi dan
kemiskinan yang menjerat keluarga mereka sehingga menyulitkan mereka
dalam upaya perawatan orang dengan gangguan jiwa tersebut.

Tren dan Isu Keperawatan Jiwa dalam Setting Pelayanan Komunitas


A. Pengaruh politik terhadap keperawatan professional

Keterlibatan perawat dalam dunia politik saat ini masih sangat


terbatas. Walaupun secara individu ada beberapa nama pada zaman dahulu
seperti F.Nightingale, Lilian Wald, Margaret Sunger, dan Lavinia Dock
yang telah mempengaruhi dalam berbagai bidang nampaknya perawat
kurang di hargai sebagai kelompok. Gerakan wanita telah memberikan
inspirasi pada perawat mengenai masalah keperawatan komunitas.
Kekuatan politik merupakan kemampuan untuk mempengaruhi atau
meyakinkan seseorang untuk memihak pada pemerintah untuk
memperlihatkan bahwa kekuatan dari pihak tersebut membentuk hasil yang
diinginkan (Rogge,1987). Perawat merasa tidak nyaman dengan politik
karena mayoritas perawat adalah wanita dan dunia politik lebih banyak
didominasi oleh kaum laki-laki (Marson,1990).

B. Pengaruh Perawat dalam Peraturan dan Praktik Keperawatan

Pospek keperawatan komunitas dimasa yang akan datang cenderung


akan semakin berkembang dan dibutuhkan dalam sistem pelayanan
kesehatan pemerintah. Peran perawat kesehatan masyarakat sangat
dibutuhkan dalam mengatasi sebagai masalah kesehatan yang terjadi di
masa yang akan datang karena mengikuti perubahan secara keseluruhan.
Dampak perubahan tersebut dapat berpengaruh pada peran yang dilkaukan
perawat. Intervensi keperawatan kesehatan masarakat diberbagai tingkat
pelayanan akan semakin besar dikarnakan adanya kelalaian, ketidaktahuan,
ketidakmauan, dan ketidakmampuan individu,keluarga, kelompok, dan
masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam tatanan masyarakat
tersebut diantaranya disebabkan oleh adanya pertambahan penduduk, tansisi
penyakit, perkembangan industrialisasi, semakin meningkatnya
pengetahuan masyarakat seiring dengan perkembangan IPTEK, serta tenaga
kesehatan yang kurang merata di seluruh pelosok Indonesia.

C. Puskesmas Idaman

Puskesmas Idaman adalah Puskesmas dengan pelayanan kesehatan


bermutu yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan serta memberi
pelayanan yang sesuai dengan standart operating procedure (SOP)
pelayanan kesehatan. “Puskesmas Idaman” sebagai pelayanan masyarakat,
akan berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
yang sesuai dengan harapan pelanggan, oleh karena itu Puskesmas Idaman
juga merubah paradigma dari “ Puskesmas yang mengatur Masyarakat”
menjadi “Puskesmas yang memenuhi harapan Masyarakat”.

Tren dan Isu Keperawatan Jiwa dalam Perkembangan Pelayanan Jiwa Secara
Global
A. Masih Banyaknya Tenaga Perawat Vokasional
Tenaga keperawatan vokasional terbukti masih banyak yerdapat di
seluruh dunia dan juga di Indonesia. Tenaga vokasional tentu akan berbeda
dalam intervensinya dengan tenaga perawat professional atau S1.
Banyaknya tenaga vokasional ini membuat pelayanan kesehatan secara
global masih kurang maksimal. Penumpukan tenaga vokasional ini terjadi
karena semakin menjamurnya sekolah-sekolah keperawatan yang hanya
memfasilitasi sampai jenjang diploma atau yang setara dengan itu. Institusi
pendidikan tersebut didirikan bukan dalam rangka untuk memenuhi
kebutuhan tenaga keperawatan yang professional namun sering kali
digunakan sebagai bentuk perbisnisan
B. Program Pendidikan Kesehatan Jiwa Belum Adekuat
Program pendidikan kesehatan jiwa baik di ranah global maupum di
Indonesia masih kurang adekuat. Institusi-institusi yang menyelenggarakan
program spesialis keperawatan jiwa masih sangat sedikit. Selain itu, tenaga
pendidik professional di bidang keperawatan jiwa juga masih sedikit. Hal
itu alhirnya juga memberikan dampak pada kualitas pelayanan kesehatan
jiwa secara global.

2.5 Evidence Base Psychiatric Nursing Practice


Pada masyarakat kita saat ini, orang dengan diagnosis gangguan
kesehatan jiwa sering kali di stereotipkan, atau dianggap sebagai sesuatu yang
negatif dan mengganggu masyarakat. Akibatnya, banyak pasien dengan
gangguan kesehatan mental berujung untuk berjuang mengatasi kondisi
mereka dan memilih untuk menolak diagnose mereka karena takut diadili oleh
masyarakat. Hal ini sering menyebabkan pasien kesehatan jiwa ragu-ragu
untuk mengejar unsur-unsur yang membentuk kualitas hidup, seperti
pekerjaan, perumahan yang nyaman, hubungan pribadi yang sehat, dan
memanfaatkan layanan kesehatan jiwa. Pernyataan posisi yang diterbitkan oleh
Mental Health America yang berjudul Evidence-Based Helathcare, menyoroti
komitmen organisasi terhadap penemuan splusi yang cepat untuk pasien yang
didiagnosis dengan kesehatan jiwa dan kondisi penyalahgunaan zat. Rumah
sakit mendukung pengembangan, evaluasi, dan penyebaran pengetahuan
berbasis bukti untuk mendukung pemulihan pasien kesehatan jiwa. Sejalan
dengan visi ini, Penyalahgunaan Zat dan Administrasi Layanan Manusia AS
(SAMHSA), telah berjanji untuk mempromosikan praktik berbasis bukti dalam
menemukan solusi untuk perawatan kesehatan jiwa. Berikut ini adalah tujug
praktik kesehatan mental yang sejalan dengan SAMHSA :

1. Program untuk Perawatan Masyarakat Asertif (PACT)


Perawatan komunitas yang asertif bertujuan untuk menyediakan layanan
kesehatan perilaku dalam pengaturan komunitas. Kerangka kerja melayani
kondisi seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan depresi. PACT, layanan
berusaha untuk mempertahankan perawatan rawat jalan dan memastikan
terapi yang teratur dan berkelanjutan. Menggunakan kerangka kerja
tersebut, berbagai praktisi perawatan kesehatan memberikan layanan seperti
bantuan dengan kegiatan sehari-hari (ADL), membantu mengelola
tanggung jawab keluarga, dan dukungan dalam mengamankan kebutuhan
penting seperti makanan dan perumahan.
2. Perawatan Terpadu untuk Gangguan Co-Occuring
Dengan kerangka kerja ini, tim multidisiplin menyediakan perawatan ganda
untuk pasien yang didiagnosis dengan gangguan perilaku kesehatan dan
penyalahgunaan zat. Dengan menggabungkan dua layanan, pasien biasanya
memiliki kesempatan lebih baik untuk membuat pemulihan penuh, jangka
panjang. Praktisi memberi pasien dengan layanan dan sumber daya seperti
manajemen kasus, penjangkauan, perumahan, dan bantuan pekerjaan.
Kerangka kerja ini bertujuan untuk membantu populasi diagnosa ganda
berisiko tinggi yang lebih mungkin untuk kambuh dan kembali
menggunakan narkoba, mengalami masalah keuangan, menderita kesehatan
yang buruk, dan / atau menghadapi tunawisma.
3. Manajemen Penyakit dan Pemulihan (IMR)
Manajemen dan pemulihan penyakit adalah kerangka perawatan psikiatris
berbasis bukti yang dirancang untuk memungkinkan pasien berpartisipasi
secara proaktif dalam pemulihan mereka sendiri. Selama sesi mingguan
yang sedang berlangsung, praktisi kesehatan perilaku membantu pasien
mengembangkan rencana perawatan dan mengidentifikasi tujuan. Ini dapat
mencakup pengajaran metodologi pemulihan, fakta kesehatan perilaku, dan
teknik manajemen stres. Praktisi juga mengajarkan pasien bagaimana
membangun dan memelihara jaringan dukungan sosial, mengurangi
kemungkinan melanjutkan penggunaan narkoba, dan menggunakan obat
yang diresepkan secara efektif. Teknik pengajaran dari kerangka ini
mungkin juga termasuk terapi kognitif-perilaku dan sesi motivasi.
4. Perumahan Pendukung Permanen
Perumahan suportif permanen adalah program yang menyediakan bantuan
bagi pasien kesehatan perilaku dalam menemukan perumahan mandiri.
Beberapa item yang mendefinisikan perumahan pendukung permanen yang
berkaitan dengan program ini adalah sebagai berikut:
• Penyewa harus memiliki sewa yang sah dan mengikat.
• Inklusi program tidak bergantung pada partisipasi dalam layanan
kesehatanperilaku.
• Tidak ada aturan perumahan yang tidak akan berlaku untuk aturan yang
ditetapkan di penyewa untuk penyewa yang tidak memiliki kondisi
kesehatan perilaku.

Peserta program juga harus memiliki peluang tanpa hambatan untuk terlibat dengan
peserta non-program yang tinggal di komunitas atau struktur yang sama. Selain itu,
peserta harus menerima layanan yang berubah (naik atau turun) karena kebutuhan
kesehatan perilaku mereka berubah.

5. Pengobatan, Evaluasi, dan Manajemen Pengobatan (MedTEAM)

Pengobatan pengobatan, evaluasi dan manajemen melibatkan aplikasi


sistematis, berdasarkan bukti obat-obatan kesehatan perilaku resep. Tujuan
dari kerangka kerja ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup bagi
pasien yang menderita dengan kondisi kesehatan perilaku yang parah.
Untuk menerapkan kerangka kerja ini, dokter yang meresepkan harus
mengetahui resep terbaik dan terkini yang tersedia, menggunakan resep
tersebut dalam lingkungan klinis, menerapkan pengetahuan ini pada kasus-
kasus secara individual, dan memasukkan pasien dalam proses perencanaan
dan pengambilan keputusan.
6. Kolaborasi Cochrane

Organisasi Cochrane adalah asosiasi internasional yang didedikasikan


untuk membantu individu membuat keputusan perawatan kesehatan dengan
informasi berdasarkan bukti. [3] Kolaboratif mencakup 15.000 peserta yang
berbasis di lebih dari 100 negara. Grup ini menerbitkan ulasannya dalam
Cochrane Database of Systematic Reviews (CDSR). Ulasan Cochrane
Collaboration adalah sumber daya vital bagi para profesional perawatan
kesehatan yang memiliki banyak informasi untuk dievaluasi, memiliki
waktu terbatas, dan yang mengelola beban hidup atau mati. Tinjauan
tersebut menilai dan memadatkan penelitian terkini yang paling relevan
berdasarkan bukti empiris; memvalidasi temuan; dan menyajikan informasi
klinis berbasis bukti baru dalam format sistematis.

7. Organisasi Kecenderungan Anak

Legislator meratifikasi Membawa Depresi Pascapersalinan Out of the


Shadows bertindak sebagai bagian dari tindakan Cures Abad 21 pada
Desember 2016. Undang-undang ini menetapkan $ 5 juta untuk setiap tahun
dari 2018 hingga 2022 untuk perawatan depresi pascapersalinan. [4] Saat
ini, bukan praktik standar untuk memeriksa ibu dengan kondisi tersebut,
meskipun penelitian menunjukkan bahwa 18 - 25 persen ibu dengan depresi
pascapersalinan atau psikosis tidak terdiagnosis.
Pusat Layanan Kesehatan dan Medicaid mendesak perawat untuk
mendorong ibu untuk menjalani skrining depresi postpartum setelah
melahirkan. Pendukung kesehatan, seperti organisasi Tren Anak, percaya
bahwa jaringan skrining postpartum nasional akan meningkatkan hasil
kesehatan untuk ibu yang menderita kondisi tersebut.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Keperawatan jiwa telah mengalami banyak sekalai perkembangan
hingga akhirnya berada pada tahap yang sekaran ini. Perkembangan tersebut
dapat diuraikan secara global di dunia maupun juga perkembangan di Indonesia.
Dalam setiap perjalanannya, semakin menuju ke zaman yang baru, pandangan
masyarakat mengenai keperawatan jiwa menjadi semakin modern dan rasional.
Dalam perkembangannya tersebut, keperawatan jiwa juga menghasilkan tren
dan isu yaitu berupa masalah-masalah yang hangat dibicarakan oleh masyarakat
dan dianggap pentik dalam proses perjalanan keperawatan jiwa. Selain itu, juga
terdapat berbagai evidence base dalam praktik psychiatric nursing. Setiap
evidence base praktek tersebut dilakukan guna mewujudkan kesejahr=teraan
kesehatan jiwa.

3.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa mempelajari terkait sejarah perkembangan
keperawatan jiwa agar mahasiswa mengetahui progress dari keperawatan jiwa
dan agar nantinya mereka dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan tahap
perkembangan keperawatan jiwa saat ini. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan
selalu update mengenai informasi terkait tren dan isu serta evidence base dalam
dunia keperawtan jiwa agara selalu dapat memberikan intervensi kepada pasien
sesuai dengan kondisi yang berkembang di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Admin. (2014). Sejarah Keperawatan Jiwa.


http://grhasia.jogjaprov.go.id/berita/93/sejarah-keperawatan-jiwa.html. diakses
tanggal 4 September 2019

Admin. (2016). What do Psychiatric and Mental Nurses do?.


https://nursejournal.org/psychiatric-nursing/what-do-psychiatric-and-mental-
health-nurses-do/. diakses tanggal 6 September 2019

Chruch, F. (2019). Psychiatric-Mental Health Nurses.


https://www.apna.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=3292. diakses tanggal 6
September 2019

Kahfi, R. (2016). Sejarah Pelayanan Keperawatan Kesehatan Jiwa.


https://www.academia.edu/8915254/Sejarah_Pelayanan_Keperawatan_Kesehatan
_Jiwa. diakses tanggal 6 September 2019

Nurhalimah. 2016. Keperawatan Jiwa. Pusdik SDM Kesehatan. Jakarta

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Penerbit Salemba Medika. Jakrta

Roy, L. (2016). Praktek Berbasis Bukti dalan Keperawatan Jiwa.


https://study.com/academy/lesson/evidence-based-practice-in-psychiatric-
nursing.html. diakses tanggal 6 September 2019

Yusuf, A, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawtan Kesehatan Jiwa. Penerbit Salemba
Medika. Jakarta

Zulfatus, N. (2011). Trend Issue Keperawatan Komunitas.


https://www.academia.edu/37217368/Trend_Issue_Keperawatan_Komunitas.
diakses tanggal 5 September 2019

7 Praktek Berbasis Bukti Kesehatan Mental dalam Keperawatan. Artikel.


https://online.regiscollege.edu/blog/7-mental-health-evidence-based-practices-
nursing/. diakses tanggal 6 September 2019