Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN TUGAS AKHIR PSIKOLOGI KLINIS

Gender Dysphoria Pada Remaja Bullying

DOSEN PENGAMPU

Rahmi Fauzia, S.Psi, MA, Psikolog

Disusun Oleh :

Rolinda Septi Mardiana

1710914220051

Kelas A

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
BANJARBARU
2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Allah Swt. Yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga
penulis bisa menyelesaikan tugas akhir pada Mata Kuliah Psikologi Klinis dengan
judul kasus “Gender Dysphoria Pada Remaja Bullying”.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen


pengampu mata kuliah Psikologi Klinis yang telah membrikan ilmu yang sangat
bermanfaat sehingga penulis bisa menyelesaikan tulisan ini. Terima kasih yang
sebesar-besarnya tak lupa pula saya ucapkan untuk dosen pembimbing saya Ibu
Rahmi Fauzia, S.Psi, MA, Psikolog yang telah membantu saya dalam menyelesaikan
tugas ini. Penulisan ini juga tidak akan bisa hadir tanpa adanya partisipasi dari subjek
dan significan others, serta buku dan jurnal ilmiah. Semoga dengan adanya tulisan ini
akan memberikan banyak manfaat bagi para pembaca dan penulis sendiri. Saya
berharap kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan yang
terdapat pada tulisan ini.

Banjarbaru ,25 April 2019

Penulis

Rolinda Septi Mardiana


DAFTAR ISI

COVER………………………………………………………………………………i

KATA PENGANTAR……………………………………………………………….ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………iii

BAB I Identitas (Subyek-Keluarga)….……………………………..…………..……1

BAB II Agenda Kegiatan (Tanggal – Kegiatan Observasi/Wawancara – Tempat)…..2

BAB III Keluhan……………………………………………………………….3

BAB IV Hasil Pengumpulan Data……………………………………………..4

A. Observasi…………………………………………………………4
B. Wawancara ………………………………………………………4

BAB V Etiologi……………………………………………………………….7

BAB VI A. Kondisi Kognitif…………………………………………………..8

B. Bahasa……………………………………………………………..8

C. Motorik………………………………………………………….....8

D. Emosi…………………………………………………………..….8

E. Sosial………………………………………………………………8

BAB VII Dasar Teori…………………………………………………………..10

BAB VIII Dinamika Psikologis…………………………………………………14

BAB IX Diagnosis…………………………………………………………….15

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….17
LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………………….18

Foto…………………………………………………………………………………..18

Informed concent………………………………………………………………...…..19

Verbatim………………………………………...…………………………………...20

Guide observasi/wawancara…………………………...…………………………….26
BAB I

Identitas Subjek

Nama Mawar
Tempat Tanggal Lahir Palangka Raya, 13 Juni 1999
Umur 19 tahun
Suku Bangsa Dayak
Anak Ke- 2 dari 2 bersaudara
Pendidikan Menjalani S1
Jenis Kelamin Perempuan
Alamat JL. Komp. Beringin Gang Ketapi No. 91
Pekerjaan Mahasiswa
Status Belum menikah

Identitas Keluarga

Nama L/P Umur Pendidikan Ket


A L 55 S1 Ayah
B P 65 S1 Ibu
C L 24 S1 Kakak
BAB II

AGENDA KEGIATAN

No Tanggal Kegiatan Tempat

1 17 April 2019 Meminta persetujuan pada subjek Kampus

2 23 April 2019 Menanyakan apakah subjek Online (Via


memiliki 2 dari 6 kriteria yang ada Whatsapp)
dalam kriteria gender dysphoria.

3 25 April 2019 Mewawancarai subjek mengenai Kost saya


apa saja penyebab subjek bisa
mengalami gender dysphoria.

4 26 April 2019 Observasi bagaimana penampilan Kampus


dan perilaku subjek.

5 27 April 2019 Menanyakan keluhan subjek. Online (Via


Whatsapp)

6 27 April 2019 Mewawancarai significant other. Online (Via


Whatsapp)
BAB III

KELUHAN

Untuk keluhan dari subjek sendiri mengatakan tidak ada keluhan yang berarti,
subjek mengatakan sering bingung dengan perasaannya sendiri yang mengarah entah
kemana, kadang ia bisa merasa bahagia dan nyaman dengan gender aslinya, kadang
juga bisa merasa nyaman dan bahagia dengan gender lawan jenisnya. Semua itu
tergantung dari perasaan nyaman ketika berada dan diterima oleh lingkungan sekitar.

Subjek mengatakan sangat bahagia ketika diperlakukan layaknya seperti jenis


kelaminnya atau wanita pada umumnya. Ia merasa bahagia, namun sekaligus juga
merasa jijik dengan perasaannya sendiri. Bahagianya karena ia merasa dirinya
dihargai dan dianggap sebagai seorang wanita, namun jijiknya ketika ia merasa
sangat senang atau merasa seolah-olah lawan jenis yang memperlakukannya seperti
itu karena memiliki perasaan suka padanya. Hal tersebut sering membuat subjek
sering menyalahkan dirinya sendiri dan mengatakan bahwa dirinya terlalu berlebihan
dalam merespond perilaku lawan jenis yang mungkin memang berperilaku sama
kepada teman-temannya.

Subjek juga sering merasa tidak berguna ketika ia merasa tidak bisa berbuat
banyak untuk membantu teman-temannya. Padahal jika dilihat subjek sering sekali
mengabaikan kepentingannya sendiri demi kepentingan orang lain, hal tersebut sering
kali membuat subjek dimarahi oleh teman-temannya dan membuat subjek sering
bertanya apakah ia bersalah jika peduli kepada orang lain. Sikap subjek yang selalu
ingin terlibat dalam penyelesaian masalah orang lain membuat subjek kadang merasa
ditolak karena tidak semua teman-temannya ingin berbagi cerita dan membutuhkan
bantuannya, dan dari penolakan akan bantuan yang ditawarkan subjek untuk teman-
temannya kerap kali membuat subjek merasa sedih dan berpikir apakah karena
dirinya bukan teman yang baik sehingga tidak bisa menjadi sandaran bagi teman-
temannya. Permasalahan seperti ini hampir setiap hari dikeluhkan subjek.
BAB IV

HASIL PENGUMPULAN DATA

A. Observasi
1. Observasi Penampilan Fisik

Menurut hasil observasi yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa, subjek
merupakan seorang Mahasiswa semester 4 yang memilki tinggi badan kutang lebih
160 cm dan berat badan kurang lebih 58 kg. Rambut dipotong pendek seperti gaya
rambut laki-laki, memiliki warna kulit sawo matang, mata below, dan hidung bangir.

2. Observasi Dalam Aktivitas Sehari-hari

Dalam aktivtas sehari-hari subjek sering terlihat lelah dan nampak sekali jika
tengah memiliki masalah. Berpenampilan seperti lawan jenis, hanya mengenakan rok
ketika kuliah saja, mengenakan pakaian feminim hanya ketika ada acara keluarga dan
sesekali ketika beribadah, bahkan walaupun beribadah subjek sering mengenakan
celana. Sering disangka lawan jenis karena penampilan dan perilakunya yang tidak
seperti jenis kelamin aslinya. Sangat ramah terhadap semua orang, mudah bergaul,
dan sopan, sering mengganggu atau kagum dengan kecantikan seseorang dalam artian
tertarik, padahal ia sendiri juga merupakan seorang wanita, hal tersebut yang
terkadang membuat teman-temannya kesal dan orang yang ia ganggu menjadi risih.

B. Wawancara

Pada saat melakukan wawancara dengan subjek, subjek menceritakan bahwa ia


memiliki keinginan untuk mengubah jenis kelaminnya dengan jenis kelamin lawan
jenis, namun juga masih dapat berpikir rasional, bahwa selain tidak ada biaya, subjek
juga mengaku takut dengan Tuhan jika harus mengubah kodrat atau jenis kelaminnya,
walaupun besar keinginan untuk melakukannya. Ia mengatakan bahwa tidak ada
riwayat obat atau zat ketika ibunya mengandung yang menyebabkan ia berperilaku
seperti sekarang, kemudian subjek juga berkata bahwa ketika kecil ia merasa tidak
jijik dengan kelaminnya, namun ia sempat mempertanyakan mengapa jenis
kelaminnya seperti itu. Ia berkata bahwa ibunya tidak menyadari bahwa ia tengah
mengandung ketika mengandung dirinya, selama proses kehamilan baik-baik saja,
padahal ibunya memilki riwayat lemah kandungan. Ia juga mengaku menggunakan
cross dressing karena merasa tidak terlalu nyaman ketika mengenakan baju yang
feminim. Kemudian ketika menanyakan perihal karakteristik gender dysphoria,
subjek mengaku hampir 45% cocok dengan kriteria yang ada, dan subjek mengatakan
ia lebih condong pada point pertama yang mengatakan bahwa ditandai dengan
ketidaksesuaian antara gender yang diidentifikasikan dengan karakteristik seks primer
dan atau skunder (atau pada remaja muda, karakteristik seks sekunder diantisipasi).
Kemudian subjek juga mengatakan condong pada point keenam yang mengatakan
bahwa memiliki keyakinan yang kuat bahwa seseorang memiliki perasaan yang khas
dan reaksi dari jenis kelamin yang lain (atau beberapa jenis kelamin alternatif yang
berbeda dari atau jenis kelamin yang ditetapkan). Subjek juga mengaku bahwa yang
menyebabkan ia berperilaku seerti saat ini adalah, karena adanya bullying yang
didapatkan dari teman-temannya bahkan ketika baru menginjak Sekolah Taman
Kanak-Kanak, kemudian dikucilkan dari lingkungan karena namanya yang menurut
orang sekitar aneh, sering dipukul oleh kakaknya waktu kecil, bahkan hingga luka-
luka. Lalu ayahnya yang sangat memanjakannya, sehingga kakaknya sering iri
dengan perhatian ayahnya dan sering memukulnya, ia berkata bahwa ia tidak mau
diperlakukan dengan sangat manja, hal tersebut yang membuatnya tertekan sehingga
membuatnya berpikir untuk membuktikan bahwa ia tidak lemah dan tidak mau
ditindas lagi, lalu memilih untuk berpakian dan berperilaku seperti laki-laki, dan
melindungi teman-temannya yang mendapatkan perlakuan sama dengannya. Ia
mengatakan pada masa awal transisinya ia juga menyukai sesama jenis, namun suka
dalam artian ingin melindungi, tidak mengarah ke seksual.
Kemudian didapatkan data dari significant other yang merupakan teman subjek
sejak Sekolah Menengah Pertama yang mengatakan bahwa, subjek berpenampilan
seperti lawan jenis ketika menginjak kelas 3 SMP, lalu ia juga mengatakan bawa
subjek pernah berandai-andai ingin menjadi jenis kelamin lain. Ia mengatakan tidak
pernah mendengar subjek ingin mengganti jenis kelaminnya, namun hanya berandai
jika seandainya ia menjadi lawan jenis. Kemudian ia juga berkata bahwa subjek
memilih pakaian seperti lawan jenisnya, ia juga berkata bahwa mungkin penyebab ia
berperilaku seperti itu karena ia sering mendengar cerita orang patah hati dengan
lelaki, ia tidak mau temannya bersedih dan ia mau menunjukkan bagaimana laki-laki
itu seharusnya memperlakukan perempuan. Ia juga berkata bahwa ia sebenarnya tahu
bahwa subjek menyukai sesama jenis, namun tanggapannya biasa saja. Dan yang
terakhir, ia berkata bahwa subjek hanya mengenakan dress ketika ada acara keluarga
saja, dan menggunakan rok atau pakaian yang berhubungan dengan gender atau
feminim hanya ketika ada tuntutan saja, selebihnya ia berpenampilan seperti lawan
jenis, karena merasa lebih nyaman jika berpenampilan seperti itu.
BAB V

ETIOLOGI

Dari hasil wawancara yang dilakukan, didapatkan fakta bahwa subjek


mengenakan pakaian dan berperilaku seperti lawan jenis semenjak subjek kelas 2
Sekolah Dasar. Faktor utama yang menjadi penyebab subjek berperilaku demikian
adalah karena subjek sering mendapatkan kekerasan dari kakaknya, subjek sering
disakiti oleh kakaknya. Kakak subjek ketika kesal sering melakukan kekerasan verbal
dan fisik pada subjek. Subjek dianggap seolah-olah seperti anak laki-laki. Tidak
jarang subjek sering terluka akibat dari kekerasan yang didapatkan dari kakaknya.
Kekerasan seperti dipukul, ditampar dikepala, dan lain sebagainya, itulah yang
membuat subjek berusaha tidak terlihat lemah di depan kakaknya dan menjadikan
subjek tidak mau berperilaku seperti seorang perempuan. Faktor lain juga yang
menyebabkan subjek berperilaku demikian adalah faktor keluarga dan pola asuh.
Subjek di rumah agak dikekang, sikap orangtua yang otoriter, terutama ia terlalu
diatur dengan ayahnya, itu yang membuat subjek menjadi risih dengan perilaku-
perilaku dari lawan jenisnya. Dimata subjek, pria itu menghambat dan mengganggu,
tidak ada kesan baik yang didapatkan dari seorang pria. Ia memilih untuk berperilaku
seperti lawan jenis karena ingin melindungi dirinya sendiri, melindungi dirinya dari
kekerasan yang dilakukan oleh kakaknya yang memperlakukannya tidak seperti
perempuan, oleh sebab itu ia memutuskan untuk berpenampilan seperti lawan jenis
agar tidak tertindas lagi. Dan yang paling berpengaruh juga lingkungan sekitar
subjek, karena subjek merasa perlu untuk melindungi orang-orang seperti dirinya,
yang terbully dan yang tidak berdaya. Karena merasa tidak berdaya ketika
diperlakukan kasar oleh kakaknya, dan ia tidak mau hal tersebut terjadi pada orang
lain, hal itu yang membuat subjek merasa perlu untuk melindungi orang yang
notabenya sama sepertinya. Beberapa penyebab di atas jelas membuat subjek tertekan
secara emosional sehingga menyebabkan subjek memutuskan untuk berperilaku
seperti seorang gender dysphoria.
BAB VI

PERMASALAHAN

A. Kognitif

Tidak ada masalah kognitif yang berarti pada subjek.

B. Bahasa

Tidak ada masalah bahasa yang berarti pada subjek.

C. Motorik

Subjek merupakan mahasiswa yang aktif, baik dalam organisasi maupun pada
kegiatan lainnya, dan fisik subjek sendiri bisa dikatakan kuat karena subjek jarang
diserang penyakit, walaupun memiliki banyak kegiatan, ia selalu merasa bersemangat
jika berhubungan dengan aktivitas gerak.

D. Emosi

Subjek kurang bisa menampilkan atau mengeluarkan emosinya, selalu merasa


tidak enakan pada rekan-rekannya, sehingga sering kali hal tersebut membuat subjek
tertekan. Dalam keluarga juga subjek sulit dalam menampilkan emosinya, karena
subjek sendiri mengaku menjadi sandaran keluarganya atau menjadi tempat curhat
seluruh anggota keluarga intinya, oleh sebab itulah subjek juga tidak bisa terbuka
terkait masalah emosional dengan keluarganya.

E. Sosial

Subjek merupakan orang yang mudah bergaul, sangat ramah terhadap siapapun,
tidak memilih-milih teman. Oleh sebab itulah ia memiliki teman yang banyak. Tapi
terkadang yang menjadi problematika subjek tidak diterima dalam sebuah lingkup
pertemanan adalah karena penampilan subjek. Dulu waktu kecil, subjek mengaku
sangat susah dalam bersosialisasi, karena subjek dikucilkan dari lingkungan, sehingga
subjek tidak memiliki teman. Namun seiring berjalannya waktu, dan subjek
menemukan orang-orang baru, subjek menjadi lebih terbuka dan bisa bersosialisasi
lebih baik lagi dari sebelumnya, karena lingkup pertemanannya yang berbeda.
BAB VII

DASAR TEORI

A. Definisi Gender Dysphoria

Normalnya identitas gender berdasarkan pada anatomi gender. Namun dalam


gangguan identitas gender (gender dysphoria) terdapat konflik antara anatomi gender
dan identitas gender. Gender dysphoria adalah gangguan yang mengacu pada keadaan
dimana individu merasa adanya tidak kesesuaian antara jenis kelamin yang telah
ditetapkan sejak lahir dengan jenis kelamin yang dia identifikasikan. Gender
dysphoria juga mengacu pada ketidakpuasan afektif atau kognitif individu terhadap
jenis kelamin yang telah ditetapkan. Karena adanya ketidakpuasaan terhadap jenis
kelaminnya tersebut, banyak individu yang merasa tertekan. Contoh: Seseorang yang
berjenis kelamin laki laki pada saat lahir dan dibesarkan sebagai laki laki, namun ia
mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang perempuan.

Gangguan identitas gender memungkinkan dimulai sejak kecil. Anak dengan


gangguan menemukan anatomi gender mereka sebagai sumber penderitaan secara
terus menerus. Diagnosisnya tidak secara sederhana diberikan pada anak perempuan
“tomboyish” dan anak laki-laki “sissyish”, tetapi diberikan kepada anak yang secara
kuat menolak sifat anatomi mereka (anak perempuan bersikeras dengan buang air
kecil berdiri atau menegaskan mereka tidak ingin menumbuhkan payudara mereka;
anak laki-laki menemukan penis dan testis mereka sebagai hal yang menjijikkan).
Gangguan ini dapat segera berakhir atau dapat berakhir ketika mereka remaja, dengan
anak menjadi lebih menerima identitas gender mereka. Sedangkan orang dewasa yang
didiagnosa mengalami gangguan identitas gender biasanya mengarah pada
transseksual. Individu yang transseksual mungkin menggunakan pakaian lawan jenis.
Mereka percaya bahwa mereka telah menggunakan pakaian yang sesuai dengan jenis
kelaminnya. Disforia gender tidak sama dengan ketidaksesuaian gender, yang
merujuk pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma gender atau stereotip gender
yang ditugaskan saat lahir. Contoh ketidaksesuaian gender (juga disebut sebagai
ekspansif gender atau kreativitas gender) termasuk anak perempuan yang berperilaku
dan berpakaian dengan cara yang secara sosial lebih diharapkan dari anak laki-laki
atau kadang-kadang melakukan cross-dressing pada pria dewasa. Ketidaksesuaian
gender bukanlah gangguan mental. Disforia gender juga tidak sama dengan gay /
lesbian.

B. Diagnosis

Simptom yang muncul pada penderita gender dysphoria anak dan dewasa juga
berbeda. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)
edisi ke-5, Gender dysphoria pada anak ditandai dengan adanya ketidaksesuaian
antara jenis kelamin biologis dan jenis kelamin yang ia identifikasikan, dan dalam
jangka waktu 6 bulan setidaknya muncul 6 dari kriteria berikut:

1. Memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi jenis kelamin lain atau memaksa
bahwa ia memiliki berjenis kelamin (atau beberapa jenis kelamin alternatif yang
berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan).
2. Pada anak laki-laki (jenis kelamin bilogis), memilih untuk menggunakan pakaian
perempuan: atau pada anak perempuan (jenis kelamin biologis), memilih untuk
mengenakan pakaian khas maskulin dan penentangan untuk mengenakan pakaian
feminin.
3. Memiliki keinginan yang kuat untuk berperan sebagai lawan jenis dan berfantasi
menjadi lawan jenis
4. Memiliki keinginan yang kuat terhadap mainan, game, atau kegiatan stereotip
yang digunakan atau terlibat dalam oleh jenis kelamin lain.
5. Memiliki keinginan yang kuat untuk berteman dengan jenis kelamin lain.
6. Pada anak laki-laki (jenis kelamin biologis), penolakan yang kuat terhadap mainan
maskulin, permainan, kegiatan dan penolakan terhadap permainan yang berat; atau
pada anak perempuan (jenis kelamin biologis), penolakan yang kuat terhadap
mainan perempuan, permainan, dan kegiatan perempuan.
7. Sangat tidak suka terhadap anatomi seksualnya (laki- laki merasa tidak suka
melihat penisnya, dan perempuan tidak ingin buang air kecil dengan cara duduk).
8. Memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki karakteristik seks primer dan / atau
sekunder yang sesuai dengan salah satu gender yang ia identifikasikan.

Kondisi ini menyebabkan distress klinis signifikan atau penurunan fungsi social,
sekolah, atau bidang-bidang penting lainnya yang berfungsi.

Sedangkan Gender dysphoria pada remaja dan dewasa ditandai dengan adanya
ketidaksesuaian antara gender yang diidentifikasikan dengan jenis kelamin biologis,
durasi minimal 6 bulan dan mencakup setidaknya dua hal berikut:

1. Ditandai dengan ketidaksesuaian antara gender yang diidentifikasikan dengan


karakteristik seks primer dan atau sekunder (atau pada remaja muda, karakteristik
seks sekunder diantisipasi).
2. Memiliki keinginan yang kuat untuk menyingkirkan karakteristik primer dan atau
sekunder dari jenis kelamin biologis nya.
3. Memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki karakteristik seks primer dan / atau
sekunder dari jenis kelamin lainnya.
4. Memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi jenis kelamin lainnya (atau beberapa
jenis kelamin alternatif berbeda dari jenis kelamin biologis).
5. Memiliki keinginan yang kuat untuk diperlakukan sebagai jenis kelamin lainnya
(atau beberapa jenis kelamin alternatif yang berbeda dari satu jenis kelamin yang
ditetapkan).
6. Memiliki keyakinan yang kuat bahwa seseorang memiliki perasaan yang khas dan
reaksi dari jenis kelamin yang lain (atau beberapa jenis kelamin alternatif yang
berbeda dari satu jenis kelamin yang ditetapkan).

Kondisi ini menyebabkan distress klinis signifikan atau penurunan fungsi sosial,
pekerjaan atau lainnya. Pada DSM terdapat dalam F64.2 – F64.9 dan merupakan
bagian dari Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa. Sedangkan dalam
PPDG kasus pada subjek merupakan Transvetisme Peran Ganda yang termuat dalam
Gender Dysphoria Pada Remaja dan Dewasa pada DSM.
BAB VIII

DINAMIKA PSIKOLOGIS

Mawar 19 tahun
perempuan

Keluhan Keluarga

Subjek sering merasa bingung dengan Kakak subjek yang kasar dan pola
perasaannya sendiri yang menganggap asuh otoriter yang diterapkan
dirinya 50% wanita dan 50% laki-laki. keluarganya serta terlalu ditekan oleh
ayahnya

Lingkungan Fisik & Sosial Budaya


Gejala-Gejala & Penyebab
Subjek diasingkan dari lingkungan sekitar
dan sering dibully sehingga subjek Subjek merasa tertekan secara
kesulitan dalam bersosialisasi emosional karena perilaku kasar
kakaknya dan pola asuh otoriter
orangtuanya serta pengasingan dan
bullying yang didapatkan dari teman-
temannya

Perilaku Yang Muncul

Subjek berpenampilan dan berperilaku seperti lawan jenis dalam kehidupan sehari-
hari agar tidak tertindas lagi, dan ia merasa nyaman dengan penampilannya yang
seperti itu, ditambah dengan perilakunya yang terkadang menyukai sesama jenis.

Diagnos

F64.1 Gender Dysphoria Pada Remaja Dan Dewasa


BAB IX

DIAGNOSIS

A. Diagnosis Multiaksial

Aksis I F64.1 Gender Dysphoria Pada Remaja Dan Dewasa


Aksis II Tidak Ada
Aksis III Tidak Ada
Aksis IV Masalah Berkaitan Dengan Lingkungan Sosial
Akais V 80 – 71 Gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.

B. Formula Kasus 7P

Predisposing Tekanan dari keluarga dan penolakan serta dikucilkan dari


lingkungan.
Precipitating Perilaku kekerasan verbal dan fisik yang dilakukan oleh
saudara subjek, serta pola asuh otoriter yang diterapkan oleh
orangtua subjek, dan bullying yang didapatkan subjek dari
lingkungan pertemanannya ketika kecil.
Prepetuating Orangtua subjek yang kurang memperhatikan subjek, serta
kenyamanan subjek terhadap penampilan barunya yang
membuat subjek lebih berani dan memiliki perubahan dalam
bersosialisasi dan diterima di lingkungannya.
Protective Keterbukaan subjek terhadap keluarga agar subjek dapat
menampilkan emosinya, dan tidak tertekan lagi secara
emosional.
Presenting Masalah yang dihadapi oleh subjek adalah mengenai gender
dysphoria pada remaja dan dewasa, perilaku yang paling
tampak saat penilaian adalah, cara berpaiakan subjek , cara
berjalan dan berperilaku subjek yang menyerupai lawan jenis.
Serta sering mengganggu sesame jenis dengan cara memeluk,
atau mencium atau mendekatinya.
Pattern And Keinginan untuk melindungi orang lain agar tidak merasakan
Onset hal yang sama seperti dirinya.
Prognosis Positif karena kemungkinan perilaku subjek akan berubah
menjadi pada umumnya jika subjek memiliki seorang kekasih
yang dapat merubah perilakunya menjadi normal kembali.
Dan saudara subjek juga sudah tidak berperilaku kasar lagi
pada subjek.
DAFTAR PUSTAKA

Nevid, J.S.; Rathus, S.A.; Greene, B.A. (2000) Abnormal Psychology In A Changing
World (4th edition). Prentice Hall: New Jersey.

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic And Statistical Manual of


Mental Disorder 5th Edition “DSM-5”. Washinton DC: American
Psychiatric Publishing.

Sameroff, A.J.; Lewis, M.; Miller, S.M. (2000). Handbook of Developmental


Psychopathology Second Edition. New York:Springer

Davidson, G.C & Neale, J.M. (1990). Abnormal Psychology 9th Edition. Canada:
Simultaneously

Oltmanns, T.F.; Martin, M.T.; Neale, J.M.; Davison, G.C. (2012).Case Studies in
Abnormal Psychology Ninth Edition. United States of America: John
Wiley & Sons, Inc

Hoeksema, S.N. (2007). Abnormal Psychology Fourth Edition. Texas: McGraw-Hill

Canadian Psychological Association. (2014). “Psychology Works” Fact Sheet:


Gender Dysphoria in Adolescents and Adults. (diakses 2 Januari 2016
pukul 14.25 di )
LAMPIRAN

1. Foto

Wawancara dengan significant other

Subjek yang di tengah


2. Informed Concent

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Jl. A. Yani, Km.36,00 Banjarbaru

LEMBAR PERSETUJUAN
(INFORMED CONSENT)
PERNYATAAN KESEDIAAN PARTISIPAN
Yang bertandatangan di bawah ini,
Nama/Inisial :
Usia :
JenisKelamin :

Menyatakan bersedia berpartisipasi dalam proses praktikum dengan judul “Gender


Sypshoria Pada Remaja Bullying”.
Selama proses penelitian, partisipan diharapkan datang tepat waktu sesuai waktu yang
telah disepakati. Kerahasiaan data yang diberikan oleh partisipan akan dijaga oleh
peneliti dan digunakan hanya untuk kepentingan penelitian/praktikum.
Berdasarkan semua penjelasan di atas yang telah saya baca dan pahami, maka saya
*BERSEDIA / TIDAK BERSEDIA menjadi partisipan praktikum ini.
Banjarbaru, ____________________2019

Praktikan Partisipan,

___________________
3. Verbatim

Verbatim Subjek

NO Wawacara Hasil Wawancara

1 Interviewer Selamat malam, jadi saya akan menanyai beberapa hal terkait
dengan kasus ini.
Interviewee Iya

2 Interviewer Kapan pertama kali anda berpenampilan atau mengenakan


pakaian menyerupai lawan jenis ?
Interviewee Sejak kelas 3 SD

3 Interviewer Apakah anda tertekan menjadi seorang wanita ?

Interviewee Iya kak saya tertekan, karena saya merasa tertekan tidak bisa
menjadi wanita pada umumnya, saya merasa tidak berdaya,
lemah, dan tidak berguna. Kalau saya tidak menjadi orang
yang kuat, saya tidak akan bisa bertahan di dunia ini gitu
mbak.
4 Interviewer Apakah kamu merasa seperti, disatu sisi kamu adalah wanita,
namun disisi lain kamu adalah seorang laki-laki, ataupun
kamu tidak merasa 100% wanita ?
Interviewee Saya merasa, saya 50% wanita dan 50% pria.

5 Interviewer Apakah kamu berkeinginan untuk mengganti jenis kelamin ?


Interviewee Ya pengen sih iya, tapi realistis aja pang, aku masih takut
dengan Tuhan dan ga ada biaya juga.
6 Interviewer Pernah risih ga dengan alat kelamin kamu ?

Interviewee Iyaa mba, dulu saya make hoodie atau baju kegedean biar
dada saya ga terlalu nonjol.
7 Interviewer Gender dyphoria, menyebabkan tekanan atau depresi klinis
dalam aspek sosial, pekerjaan, atau bidang-bidang lainnya,
pada individu pengidapnya, iya ga ?
Interviewee Iya, jujurlah, saya itu sering merasa depresi kalau misalnya
kan saya tidak memahami makna hidup saya.
8 Interviewer Pengidap gender dysphoria sering disibukkan tentang
penampilannya, terutama diawal transisi kehidupan dengan
awal gender barunya, bener ga ?
Interviewee Iya

9 Interviewer Hubungan dengan orangtua juga mungkin akan sangat


terganggu, tidak jarang pula orang dengan gender dysphoria
menerima pengasingan dari keluarga dan teman ?
Interviewee Iya, aku ga dekat dengan keluarga, ga diasingkan, jatuhnya
kaya keluaraku ga peduli.
10 Interviewer Apa penyebab kamu berperilaku dan berpenampilan seperti
ini ?
Interviewee Dulu sebenernya penyebab utamanya dari kakak saya, saya
sering diperlakukan kasar, dia menganggap saya seolah-olah
seperti anak laki-laki. Waktu itu pernah kami main game, dan
pada saat itu kondisi mood saya kurang bagus, dan mood
kakak saya juga kurang bagus, akhirnya kakak saya dengan
sengaja menendang saya sampai hidung saya tuh terkena
dengan sudut meja sampai berdarah, untungnya ga sampe
sempoyongan atau pingsan sih. Jadi hal-hal seperti itu sering
terjadi seperti dipukul atau ditampar di kepala. Jadi makanya
saya berusaha banget supaya eeee tidak terlihat lemah dan
kalah lagi dengan kakak saya. Jadi kekerasan fisikli itu yang
membuat saya ga mau menjadi cewe banget-banget.
11 Interviewer Apa penyebab kakak kamu memperlakukan kamu seperti itu ?

Interviewee Mungkinlah ya, dia tuh pengen adek cowo, tapi yang lahir
malah cewe. Dan mungkin juga dia ga suka soalnya aku dulu
tuh cengeng banget. Terus orangtua aku juga menerapkan
pola asuh otoriter, sama aku agak dikekang. Terutama papaku
yang suka terlalu ngatur aku, jadi dimata saya pria itu
menghambat dan mengganggu, jadi tidak ada kesan baik yang
saya dapatkan dari seorang lelaki.
12 Interviewer Tapi kenapa kamu memilih untuk berperilaku seperti lelaki,
padahal kan kamu tau ga ada kesan baik dari seorang lelaki ?
Interviewee Yaah kenapa saya berpikir dan mungkin berperilaku seperti
seorang laki-laki, yaa karena tadi, untuk melindungi diri saya
dari laki-laki itu sendiri. melindungi diri saya dari kekerasan
yang saya dapati dari kakak saya, dan kakak saya itu
memperlakukan saya bukan seperti anak perempuan gitu nah,
makanya saya berusaha sedemikian rupa supaya saya tidak
ditindas lagi oleh kakak saya.
13 Interviewer Ada problem psikososial dari lingkungangan lainnya yang
mempengaruhi ga ?
Interviewee Yang paling mempengaruhi lah juga lingkungan, karena saya
merasa saya perlu untuk melindungi orang-orang seperti saya.
Maksudnya orang-orang yang terbulinisasi, dan yang ga
berdaya gitu, karena saya kan merasa tidak berdaya dengan
sikap kakak saya seperti itu, yang memperlakukan saya
seperti bukan adeknya dan kaya saya tuh samsaknya dia gitu,
seenak hatinya dia untuk dipukulin gitulah anggapannya. Saya
ga mau juga hal itu terjadi juga ke orang lain, hal itu juga
yang membuat saya merasa perlu untuk melindungi orang
yang seperti saya yang notabenya adalah sama seperti saya
gitu.
14 Interviewer Okedeh terima kasih atas waktu dan jawaban yang telah anda
berikan dan luangkan.
Interviewee Yosh sama-sama.

Verbatim Significan Other

NO Wawancara Hasil Wawancara

1 Interviewer Halo salam kenal, ya aku temannya anu mau wawancara kamu
mengenai si anu boleh kan ?
Interviewee Oh iyaa, salam kenal juga ya, iya si anu tadi udah bilang kok
sama aku, boleh lin silahkan. Mau telpon atau lewat chat aja ?
2 Interviewer Lewat chat aja deh sekalian buat lapiran hehe ?

Interviewee Oke bisa bisa lin.


3 Interviewer Pertanyaan pertama, sejak kapan kamu berteman dengan anu ?

Interviewee Sejak SMP

4 Interviewer Kamu tau ga sejak kapan anu berpenampilan/berperilaku


seperti lawan jenis ?
Interviewee Kalo seingatku dari kelas 3 SMP deh

5 Interviewer Kamu temenan sama dia sejak kelas 1 SMP kah ?

Interviewee Iya, cumin kenal aja pas kelas 1 SMP terus sempat pindah
sekolah. Kelas 2 SMP aku balik satu kelas sama anu.
6 Interviewer Terus pernah ga anu bilang kalau dia ga nyaman sama jenis
kelaminnya ?
Interviewee Kalo bilang gak nyaman, gak pernah deh.. Tapi kaya berandai
gitu, kalo bisa jadi cowo.

7 Interviewer Dia pernah ga bilang kalau dia pengen ganti kelamin atau
operasi kelamin gitu ?
Interviewee Yaa tadi kaya kata aku, kaya berandai aja sih.. kalo operasi
nda pernah sih.

8 Interviewer Terus kan pas awal-awal dia berpenampilan seperti lawan jenis
apakah dia ada ketertarikan sama sesama jenis juga ?
sepengetahuan kamu ?

Interviewee Gak sih gak ada setau aku


9 Interviewer Apakah ada perilaku lawan jenis yang sangat nampak padanya
?

Interviewee Paling pemilihan baju aja sih anu kadang kaya cowo.

10 Interviewer Apakah kamu tau penyebab dia berperilaku demikian ?

Interviewee Gak tau sih, tapi mungkin kalo menurut aku oleh dia sering
denger cerita orang patah hati karna cowo… dia gak mau
temennya sedih terus dia nunjukin bagaimana cowo tu
seharusnya memperlakukan cewe wkwkwk
11 Interviewer Apakah kamu tau bahwa dia menyukai sesama jenis ? jika iya
bagaimana reaksimu ketika tau itu ?
Interviewee Tau sih, ya biasa aja sih

12 Interviewer Apakah dalam kegiatan sehari-hari dia berpenampilan seperti


lawan jenis ?
Interviewee Iya sih, kalo acara keluarga dia pake dress

13 Interviewer Okee terima kasih banyak chica atas jawabannya

Interviewee Iya sama sama lin


4. Guide observasi/wawancara

Guide Observasi

1. Mengamati gaya berpakaian subjek


2. Mengamati bagaimana interaksi subjek dengan teman-temannya
3. Mengamati perilaku subjek dengan orang disekitar
4. Mengamati kondisi kamar kost subjek

Guide Wawancara

Daftar guide wawancara untuk subjek

1. Selamat malam, jadi saya akan menanyai beberapa hal terkait dengan kasus
ini.
2. Kapan pertama kali anda berpenampilan atau mengenakan pakaian
menyerupai lawan jenis ?
3. Apakah anda tertekan menjadi seorang wanita ?
4. Apakah kamu merasa seperti, disatu sisi kamu adalah wanita, namun disisi
lain kamu adalah seorang laki-laki, ataupun kamu tidak merasa 100% wanita ?
5. Apakah kamu berkeinginan untuk mengganti jenis kelamin ?
6. Pernah risih ga dengan alat kelamin kamu ?
7. Gender dyphoria, menyebabkan tekanan atau depresi klinis dalam aspek
sosial, pekerjaan, atau bidang-bidang lainnya, pada individu pengidapnya, iya
ga ?
8. Pengidap gender dysphoria sering disibukkan tentang penampilannya,
terutama diawal transisi kehidupan dengan awal gender barunya, bener ga ?
9. Hubungan dengan orangtua juga mungkin akan sangat terganggu, tidak jarang
pula orang dengan gender dysphoria menerima pengasingan dari keluarga dan
teman ?
10. Apa penyebab kamu berperilaku dan berpenampilan seperti ini ?
11. Apa penyebab kakak kamu memperlakukan kamu seperti itu ?
12. Tapi kenapa kamu memilih untuk berperilaku seperti lelaki, padahal kan kamu
tau ga ada kesan baik dari seorang lelaki ?
13. Ada problem psikososial dari lingkungangan lainnya yang mempengaruhi ga
?
14. Okedeh terima kasih atas waktu dan jawaban yang telah anda berikan dan
luangkan.

Daftar guide nwawancara untuk significant other


1. Sejak kapan kamu berteman dengan anu ?
2. Sejak kapan mimo berpenampilan / bertingkah seperti lawan jenis ?
3. Pernah ga anu bilang kalau dia ga nyaman dengan jenis kelaminnya ?
4. Anu pernah bilang ga kalau dia pengen operasi atau ganti kelamin ?
5. Apakah ada perilaku dari lawan jenis yang sangat nampak padanya ?
6. Apakah kamu tau penyebab dia berperilaku demikian ?
7. Apakah kamu tau bahwa dia menyukai sesama jenis ? bagaimana reaksimu
ketika tau ?
8. Apakah dalam kehidupan sehari-hari dia berpenampilan seperti lawan jenis ?