Anda di halaman 1dari 6

Penerapan Etika Berdasarkan Pancasila

Abstrak

Manusia di muka bumi ini mendiami wilayah yang berbeda, ada yang mendiami
wilayah timur, wilayah barat dan wilayah timur tengah. Hal ini membuat kebiasaan, adat
istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia suatu wilayah berbeda dengan yang
lainnya. Negara Indonesia termasuk ke dalam bangsa timur, yang dikenal sebagai bangsa
yang berkepribadian baik. Bangsa timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan
bersahabat. Bangsa timur identik dengan benua Asia yang penduduknya sebagian besar
berambut hitam, berkulit sawo matang dan adapula yang berkulit putih, bermata sipit.
Sebagian besar cara berpakaian orang timur lebih sopan dan tertutup mungkin karena orang
timur kebanyakan muslim dan sangat menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Di
dunia, bangsa timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Budaya bangsa timur
juga ikut berperan dalam menanamkan nilai-nilai moral, kesatuan, persatuan, dan ketuhanan
dalam sistem dasar bangsa Indonesia, seperti yang terdapat dalam Pancasila. Suatu negara
tentu memiliki sebuah dasar negara, di mana dasar negara akan kuat bila dasar tersebut
berasal dari dan berakar pada diri bangsa yang bersangkutan. Bangsa Indonesia mempunyai
dasar negara yang bukan jiplakan dari luar akan tetapi asli Indonesia. Dengan kata lain unsur-
unsur Pancasila telah dimiliki oleh bangsa sejak dahulu. Unsur-unsur Pancasila terdapat di
dalam berbagai agama, kepercayaan, bangsa, adat-istiadat, serta kebudayaan Indonesia pada
umumnya. Oleh karena itu di dalam agama, kepercayaan, adatistiadat dan kebudayaan
tersebut terkandung nilai-nilai antara lain nilai moral maka Pancasila juga mengandung nilai
moral dalam dirinya. Saat ini, masyarakat Indonesia kehilangan jati diri dimana hukum
mulai memudar di kalangan atas, agama dijauhkan dari sistem pemerintahan yang akhirnya
melahirkan penguasa-penguasa yang korupsi, dan perbedaan dijadikan dasar untuk
pembelaan suatu badan atau seorang yang salah dimana kaum minoritas, masyarakat kelas
bawah dimodifikasi untuk membela badan atau oknum yang salah . Citra bangsa ini sebagai
bangsa yang besar dan ramah semakin memudar. Budaya ketimuran berubah dengan cepat
menjadi kebaratan. Hal ini memang tidak berlaku hanya di Indonesia. Banyak bangsa-bangsa
timur yang budayanya tergeser oleh budaya barat. Pernyataan di atas bukan berarti antipati
kepada budaya barat, karena budaya barat juga memiliki kebaikan-kebaikan tersendiri.
Namun citra kesantunan dan keramahan budaya timur yang khas itu sendiri yang patut
dipertahankan. Oleh karena itu, melalui artikel ini, penulis akan mengkaji keterkaitan antara
etika Pancasila dari bangsa Indonesia dan kebudayaan timur yang makin tergerus ini.

Pendahuluan

Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
etika umum dan etika khusus. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang
ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah suatu ilmu yang membahas
tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana
kita harus mengambil sikap bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral
(Suseno, 1987). Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap
tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya
dengan pelbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (etika individual) maupun
mahluk sosial (etika sosial). Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap diri
sendiri dalam kaitannya dengan kedudukan manusia sebagai warga masyarakat. Etika sosial
membicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat atau umat manusia.
Dalam masalah ini, etika individual tidak dapat dipisahkan dengan etika sosial karena
kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota masyarakat atau umat manusia saling
berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan
manusia lain baik secara langsung maupun dalam bentuk kelembagaan (keluarga,
masyarakat, dan negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia, ideologi-ideologi
maupun tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup. Etika sosial berfungsi membuat
manusia menjadi sadar akan tanggung jawabnya sebagai manusia dalam kehidupannya
sebagai anggota masyarakat. Etika berkaitan dengan pelbagai masalah nilai karena etika
pada pokoknya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai
“susila” dan “tidak susila”, “baik” dan “buruk”. Sebagai bahasan khusus etika membicarakan
sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bijak.Kualitas-kualitas ini
dinamakan kebajikan yang dilawankan dengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang
menunjukan bahwa orang yang memilikinya dikatan orang yang tidak susila. Sebenarnya
etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan
dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986). Dapat juga dikatakan bahwa etika berkaitan
dengan dasar-dasar filosofis dalam hubungan dengan tingkah laku manusia. Kata yang dekat
dengan etika adalah moral, berasal dari bahasa Latin “mores” artinya
adat kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia, moral diterjemahkan dengan arti susila. Moral ialah
sesuai ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan wajar.
Etika lebih bersifat teori, sedangkan moral menyatakan ukuran, sedangkan istilah moralitas
adalah sifat moral yang berkenaan dengan baik dan buruk. Kata yang juga sering dipakai
adalah etiket, artinya sopan santun, sehingga ada perbedaan antara etika dan etiket.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara memiliki arti pancasila menjadi
pandangan, tujuan, dan kontrol hidup sehingga merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai ideologi dasar bangsa Indonesia memiliki maksud pancasila merupakan
gagasan, ide-ide maupun keyakinan menyeluruh dan sistematis yang meliputi pelbagai
bidang kehidupan. Pancasila sebagai ideologi sangat dibutuhkan karena ideologi tersebut
merupakan pandangan, cita-cita, nilai, dan juga keyakinan yang akan diwujudkan dalam
kehidupan nyata. Ideologi dapat membangkitkan kesadaran seluruh rakyat dengan
kemerdekaan. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara adalah konsep yang meliputi
penanaman semangat masyarakat dalam bergerak melawan penjajah dan mewujudakan
kehidupan dalam bernegara. Pancasila memiliki lima sila, yaitu:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa


2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hilmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Masing-masing dari sila di atas mencerminkan cita-cita, tujuan, dan pandangan bangsa
Indonesia.

Definisi Etika Pancasila

Etika Pancasila berbicara tentang nilai-nilai yang sangat mendasar dalam kehidupan
manusia. Nilai yang pertama adalah ketuhanan. Secara hirarkis nilai ini bisa dikatakan
sebagai nilai yang tertinggi karena menyangkut nilai yang bersifat mutlak. Seluruh nilai
kebaikan diturunkan dari nilai ini. Suatu perbuatan dikatakan baik apabila tidak bertentangan
dengan nilai, kaidah dan hukum Tuhan. Namun belakangan ini, rakyat Indonesia sedang
ditimpa krisis etika dalam sila yang pertama ini. Agama yang seharusnya dijunjung tinggi
malah dijadikan suatu sumber pengapian dalam politik dimana sebenarnya agama dapat
berjalan dengan baik sejajar dengan politik. Jika etika dalam beragama dijunjung tinggi dan
banyak diamalkan dapat dipastikan keadaan politik Negara Indonesia akan menjadi stabil.
Pada dasarnya agama mengajarkan manusia tentang kebaikan, perdamain, hubungan
antarsesama manusia bahkan agama juga mengajarkan kepada manusia bagaimana sistem
pemerintahan dan politik yang baik, tetapi tetap saja ada suatu pihak yang membuat agama
terlihat sebagai unsur pendiskriminasi, pemecah belah kebhinekaan, dan suatu hal yang
SARA untuk disandingkan dengan politik.

Nilai yang kedua adalah kemanusiaan. Suatu perbuatan dikatakan baik apabila sesuai
dengan nilai-nilai kemanusiaan. Prinsip pokok dalam nilai kemanusiaan Pancasila adalah
keadilan dan keadaban. Keadilan mensyaratkan keseimbangan, antara lahir dan batin, jasmani
dan rohani, individu dan sosial, makhluk bebas mandiri dan makhluk Tuhan yang terikat
hukum-hukum Tuhan. Keadaban mengindikasikan keunggulan manusia dibanding dengan
makhluk lain, yaitu hewan, tumbuhan, dan benda tak hidup. Karena itu perbuatan itu
dikatakan baik apabila sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang didasarkan pada konsep
keadilan dan keadaban. Belakangan ini telah terjadi pencorengan terhadap etika yang
berkaitan dengan kemanusiaan, kita ketahui bahwa terdapt sebuah badan negara yang telah
melakukan penembakan terhadap sebuah kendaraan yang menghindari operasi lalu lintas.
Dari kejadian tersebut terdapat beberapa korban yang diantaranya anak-anak dan juga lansia.
Banyak yang mengecam kejadian ini dimana badan negara yang seharusnya menerapkan
nilai-nilai etika kemanusiaan, tetapi justru mereka yang melanggar etika tersebut. Jika etika
kemanusiaantersebut dijunjung tinggi, cita-cita masyarakat yang adil dan beradab akan dapat
dicapai.

Nilai yang ketiga adalah persatuan. Suatu perbuatan dikatakan baik apabila dapat
memperkuat persatuan dan kesatuan. Sikap egois dan menang sendiri merupakan perbuatan
buruk, demikian pula sikap yang memecah belah persatuan. Sangat mungkin seseorang
seakan-akan mendasarkan perbuatannya atas nama agama (sila ke-1), namun apabila
perbuatan tersebut dapat memecah persatuan dan kesatuan maka menurut pandangan etika
Pancasila bukan merupakan perbuatan baik. Isu kebhinekaan kerap dihembuskan dengan isu
tentang agama. Mereka telah salah mengartikan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti
berbeda-beda namun tetap satu jua. Mereka menganggap bhineka itu “menyamakan” sesuatu
yang berbeda. Padahal memang pada dasarnya manusia itu berbeda-beda dan perbedaan itu
tidak akan bisa dihilangkan. Perbedaan hanya dapat untuk dijunjung tinggi dan dihargai,
bukan untuk disamakan. Hal ini dapat dianalogikan bagaikan mencampur air dan minyak.
Perbedaan juga akan memperindah sebuah negara, seperti sebuah taman yang memiliki
berbagai macam warna bunga. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah perbedaan tidak dapat
dihilangkan, hanya tergantung cara kita memandanglah yang dapat memperindah perbedaan
tersebut yang pada akhirnya dapat membuatnya menjadi suatu bangsa yang bersatu padu.

Nilai yang keempat adalah kerakyatan. Dalam kaitan dengan kerakyatan ini
terkandung nilai lain yang sangat penting, yaitu nilai hikmat/kebijaksanaan dan
permusyawaratan. Kata hikmat/kebijaksanaan berorientasi pada tindakan yang mengandung
nilai kebaikan tertinggi. Atas nama mencari kebaikan, pandangan minoritas belum tentu kalah
dibanding mayoritas. Pelajaran yang sangat baik misalnya peristiwa penghapusan tujuh kata
dalam sila pertama Piagam Jakarta. Sebagian besar anggota PPKI menyetujui tujuh kata
tersebut, namun memperhatikan kelompok yang sedikit (dari wilayah Timur) yang secara
argumentatif dan realistis bisa diterima, maka pandangan minoritas ‘dimenangkan’ atas
pandangan mayoritas. Dengan demikian, perbuatan belum tentu baik apabila
disetujui/bermanfaat untuk orang banyak, namun perbuatan itu baik jika atas dasar
musyawarah yang didasarkan pada konsep hikmah/kebijaksanaan.

Nilai yang kelima adalah keadilan. Apabila dalam sila kedua disebutkan kata adil,
maka kata tersebut lebih dilihat dalam konteks manusia selaku individu. Adapun nilai
keadilan pada sila kelima lebih diarahkan pada konteks sosial.Suatu perbuatan dikatakan baik
apabila sesuai dengan prinsip keadilan masyarakat banyak. Menurut Kohlberg (1995: 37),
keadilan merupakan kebajikan utama bagi setiap pribadi dan masyarakat. Keadilan
mengandaikan sesama sebagai partner yang bebas dan sama derajatnya dengan orang lain.
Keadilan juga yang membuat hukum menjadi tajam ke segala arah, tidak hanya tajam ke
bawah. Namun belakangan ini, rakyat Indonesia sedang dilanda pelanggaran etika dalam sila
keadilan. Jika hanya rakyat biasa yang melanggar hukum, hukum itu akan secara tajam
mengejar sang terpidana, namun ketika sang pelanggar atau terpidana adalah seorang yang
memiliki jabatan yang tinggi atau penting sebagai contoh gubernur, hukum akan tenggelam
dan tidak terlihat sisi tajam akan keadilannya. Hukum seakan-akan terpasung diam membisu.
Jika etika dalam sila keadilan sosial dijunjung tinggi dan dilaksanakan maka tidak akan ada
kasus-kasus penuntutan pemenjaraan orang-orang penting pelanggar hukum, tidak akan ada
isu agama yang disanggutpautkan. Ini semua hanya disebabkan ketidakmampuan pisau
keadilan hukum untuk meraih orang-orang dengan jabatan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Kattsoff, Louis O. 1986. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana


Suseno, Van Magnis. 1987. Etika Politik. Jakarta: Gramedia