Anda di halaman 1dari 2

Limbah B3 Bukan Berkah

Posted on 7 Juli 2017by Greenjustice


Persoalan listrik di beberapa daerah di sumatera masih menjadi masalah utama
dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Tak heran berbagai proyek
pembangkit listrik dibangun dengan memanfaatkan potensi daerah. Termasuk di
Sumatera Barat, saat ini sedang berjalan pembangunan pembangkit listrik tenaga
batubara (PLTU Teluk Sirih) 2×112 megawatt di kota Padang, kehadirannya
digadang-gadangkan mampu mengatasi kekurangan listrik masyarakat, industri dan
dunia usaha lainnya. Banyak anggapan bahwa pembangkit listrik berbahan batubara
merupakan energi murah dan kebutuhan bahan bakunya yang melimpah. Penulis
tidak sepakat, justru batubara merupakan energi kotor, merusak lingkungan dan
kesehatan melalui pencemaran udara dari hulu (proses penambangan) sampai ke
hilir (proses pembakaran), mencemari udara, membunuh manusia dan
meningkatkan suhu bumi yang berakibat pada perubahan iklim dan lain-lain.
Banyak negara di dunia telah melupakan PLTU batubara dan beralih pada energi
yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam berbagai bentuk.

Salah satu limbah yang terkenal dihasilkan dari pembakaran batubara adalah fly
ash (abu terbang). Fly ash merupakan limbah padat berbentuk partikel halus yang
dihasilkan dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU
Batubara). Jumlah fly ash yang dihasilkan sekitar 15-17 persen dari tiap satu ton
pembakaran batubara (Safitri dkk. 2009). Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(Limbah B3), Fly ash dikategorikan sebagai limbah B3. Bahan Berbahaya dan
Beracun adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi,
dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup
lain. Kandungan bahan berbahaya dalam fly ash antara lain: arsenic, berilium,
boron, cadmium, chromium, cobalt, lead, mangan, merkuri, selenium, strontium,
thallium, vanadium, juga mengandung dioksin dan senyawa polycyclic aromatic
hydrocarbon (PAH). Ukuran partikel fly ash bervariasi mulai yang lebih kecil dari
1μm (micrometer) sampai yang lebih besar dari 100μm (beberapa literatur
menyebutkan ukuran 0,5 μm-300 μm), dengan sebagian besar partikel berukuran
kurang dari 20μm.
Menyulap Fly Ash menjadi Batako Ringan bukan solusi dalam mengurai dan
mengelola limbah B3 yang berasal dari pembakaran Batubara oleh Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU Batubara), justru akan memudahkan penanggungjawab
lari dari tanggungjawab pengelolaannya.
Diakui bahwa tidak semua fly ash yang bersumber dari pembakaran batubara
memiliki kandungan bahan berbahaya dan beracun yang sama, mungkin saja tipe
pembakaran dan kadar batubaranya berbeda. Maka harus dilakukan uji toksinologi
guna menetukan apakah limbah fly ash tersebut dapat dimanfaatkan untuk
keperluan lain. Terkadang pemanfaatan fly ash untuk dijadikan batako atau
sejenisnya hanya akal-akalan saja, sebagai wadah untuk ‘memudahkan’ pembuangan
limbah B3 tanpa pengelolaan atau perizinan dengan dalih meningkatkan ekonomi
masyarakat atau dengan menggunakan jargon ‘mengubah limbah menjadi berkah’.
Sumatera Barat memiliki pembangkit listrik batubara (PLTU Sijantang) 2×90
megawatt di kota Sawahlunto dan membutuhkan sekitar 1000 ton batubara per
harinya. Kebutuhan bahan baku batubara dipasok dari perusahaan tambang PT.
Bukit Asam dan sejumlah perusahaan lainnya. Surat kabar di Padang (Senin, 20
Maret 2017) memberitakan bahwa limbah yang dihasilkan PLTU Sijantang mencapai
300 ton per harinya. Selama ini, pemanfaatan limbah PLTU Sijantang dimanfaatkan
oleh PT. Semen Padang dan untuk pembangunan PLTU Teluk Sirih dan realisasinya
mencapai 50 ton per hari. Kemudian penulis dikejutkan ketika membaca bahwa
masyarakat dari desa sekitar kawasan PLTU Sijantang berkeinginan untuk
memanfaakan sisa pembakaran batubara untuk dijadikan Batako ringan.

Fly ash dikategorikan sebagai limbah B3 dikarenakan zat bahan berbahaya dan
beracun dikandungnya, yang diantaranya memiliki sifat tidak dapat diurai atau
persistent. Mengubah fly ash menjadi batako bukan merupakan bentuk pengelolaan
limbah B3 dan juga bukan sebuah solusi dari pengelolaan lingkungan. Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Pasal 59 ayat (1) menyebutkan bahwa ‘setiap orang yang menghasilkan
Limbah B3 wajib melakukan Pengelolaan Limbah B3 yang dihasilkannya’, pasal ini
secara tegas menyebutkan bahwa pengelolaan Limbah B3 menjadi tanggung jawab
penghasil, tidak dapat dialihkan untuk tidak dikelola dalam bentuk apapun kecuali
dikelola Pihak ketiga yang memiliki usaha pengelolaan limbah B3.
Penulis tidak dapat membayangkan seberapa besar dampak kesehatan yang
dirasakan masyarakat ketika mengelola limbah B3 menjadi batako ringan, tanpa izin
dan dilengkapi dokumen lingkungan (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan
tanpa pengetahuan khusus dalam pengelolaannya. Entah berapa pula dampak
lingkungan diakibatkan dari pengelolaan tersebut, terutama ketika tumpukan
material limbah B3 berupa fly ashdierbangkan angin, terbawa aliran air hujan dan
merusak tanah atau masuk ke dalam aliran air yang dimanfaakan masyarakat
lainnya. Jika hal ini terjadi siap-siap saja ancaman Pidana dan perdata menanti.
Pembuatan Batako dengan menggunakan bahan berbahaya dan beracun (fly
ash) tidak akan mampu menghilangkan kandungan zat berbahaya didalamnya.
Menjadikan Limbah B3 menjadi Batako hanya mampu ‘mengikat’ bahan berbahaya
dan beracun tadi tidak terlepas ke luar dengan menjadikannya padat. Namun harus
disadari, apakah kandungan Limbah B3 yang telah menjadi Batako Ringan tadi tidak
dapat dipengaruhi oleh unsur lain, misal; pengaruh panas matahari, pengaruh hujan
dan pengaruh suhu dan lain-lain.
Selanjutnya, jika limbah B3 (fly ash) dibagi-bagikan dengan dalih meningkatkan
usaha masyarakat untuk pembuatan Batako ringan dapat dikatakan sebagai tindakan
pengalihan tanggungjawab perusahaan dari pengelolaan limbah dan dapat dituntut
Pidana dan Perdata apalagi atas kerugian yang ditimbulkan. Sebaiknya perusahaan
fokus terhadap pengelolaan limbahnya sehingga tidak berdampak terhadap
lingkungan dan kesehatan atau menyerahkan pengelolaannya kepada Pihak ketiga
yang mengantongi izin dalam pengelolaan limbah B3. Pengelolaan limbah B3 adalah
tanggungjawab mutlak oleh penghasil. Masyarakat jangan ‘dikambinghitamkan’
dengan dalih meningkatkan ekonomi melalui pembuatan Batako dari limbah B3
yang dihasilkan, tingkatkan saja ekonomi masyarakat dengan cara lain yang lebih
baik dan sehat dan jangan sampai merusak lingkungan.*