Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR


Dosen Pengampu:
Nanang Purwanto, M.Pd.

Disusun oleh:
Mamila Putri Hapsari
(12208183165)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI 3B


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
2019
A. Hakikat belajar mengajar

Seperti yang telah kita ketahui bahwa tugas utama guru adalah mengajar
yang berarti membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan tertentu atau
kompetensi. Dengan kata lain guru mendorong dan membimbing siswa untuk
belajar. Tujuan atau kompetensi tersebut telah dirumuskan dalam kurikulum
yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan proses pembelajaran. Kemudian
dalam proses pembelajaran itu guru menggunakan berbagai strategi dan media
lainnya supaya siswa belajar.

Lalu apa sebenarnya belajar itu?

Sebenarnya banyak pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh para


ahli. Salah satunya adalah menurut Gagne (1985), bahwa belajar adalah suatu
proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman
(Ratna Wilis Dahar, 1989, hal.11). Dari pengertian itu, terdapat tiga pokok atau
ciri utama belajar, yaitu: proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.
Kemudian tiga pokok ini akan saya jabarkan di bawah ini.

1. Proses
Belajar merupakan proses mental dan emosional atau proses berpikira dan
merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya
aktif. Hal itu tentunya tidak dapat dilihat dengan kasat mata, tapi dapat
dirasakan oleh yang bersangkutan, serta guru tidak dapat mengamati aktivitas
pikiran siswa, tapi guru dapat mengamati manifestasinya yaitu berupa
kegiatan akibat dari proses berpikir dan merasakan dari siswa tersebut.
2. Perubahan perilaku
Hasil belajar ini berupa perubahan perilaku. Seseorang yang belajar akan
berubah atau bertambah perilakunya, baik itu pengetahuannya, keterampilan,
dan penguasaan nilai-nilai(sikap). Perubahan perilaku sebagai hasil belajar
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu: pengetahuan(kognitif),
keterampilan(psikomotorik), dan penguasaan nilai-nilai atau sikap (afektif).
3. Pengalaman
Belajar adalah mengalami. Dalam artian belajar terjadi di dalam interaksi
antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial. Contoh lingkungan fisik: buku, alat peraga, dan alam
sekitar. Contoh lingkungan sosial, antara lain guru, siswa, pustakawan, dan
kepala sekolah.
Belajar dapat melalui pengalaman langsung maupun tidak langsung.
Belajar langsung itu siswa melakukan sendiri, seperti siswa mengetahui
bahwa berat jenis minyak kelapa lebih kecil daripada berat jenis air, ia
mengetahui melakukan percobaan secara langsung. Sedangkan siswa yang
mempelajari melalui buku atau sumber sejenisnya itu disebut pengalaman
tidak langsung. Belajar dengan pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik
karena siswa akan lebih memahami, dan lebih menguasai pelajaran tersebut.1
B. Ciri-ciri belajar mengajar
Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka belajar-mengajar memiliki
ciri-ciri. Menurut Suardi (Sardiman, 2005) ciri-ciri tersebut adalah:
1. Memiliki tujuan, yaitu membentuk anak didik untuk mendapatkan keahlian
baru. Keahlian baru sebagai hasil dari belajar sehingga mengetahui,
menguasai, serta terampil dalam melakukan hal-hal baru yang sebelumnya
belum dimiliki. Kemudian akan bernilai edukatif bila proses belajar dan
pembelajaran mencapai tujuan yang telah dirancang pada awalnya.
2. Ada suatu prosedur sistematis dirancang untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3. Pengerjaan materi secara khusus. Sebelum diajarkan kepada anak didik,
materi sebelumnya telah dirancang sedemikian rupa oleh guru dengan
memperhatikan komponen-komponen belajar dan pembelajaran.
4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.
Aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya belajar dan
pembelajaran, karena yang mengalami proses tersebut adalah siswa itu
sendiri.
5. Peran guru sebagai pembimbing. Guru haruslah mampu untuk menjadi
motivator belajar bagi anak didiknya, serta mampu memfasilitasi

1
Sri Anitah, dkk., Strategi pembelajaran di SD, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014),
hlm. 3-7
lingkungan kelas yang kondusif agar proses belajar-mengajar menjadi
optimal.
6. Adanya disiplin. Dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar haruslah
sesuai dengan prosedur serta peraturan yang ada. Hal itu berlaku baik untuk
guru maupun anak didik. Apabila terjadi penyimpangan dari aturan yang
ada maka hal itu termasuk pelanggaran disiplin.
7. Ada batas waktu. Setiap selalu diberi waktu tertentu kapan tujuan tersebut
harus dicapai.
8. Evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas pembalajaran
yang telah dilakukan oleh guru. Evaluasi tidak selalu tentang menilai hasil
yang dicapai siswa, tapi juga menganalisis proses pembelajaran yang telah
berlangsung.2

C. Komponen-komponen dalam belajar mengajar


Agar proses belajar-mengajar berjalan dengan semestinya, guru perlu untuk
menentukan strategi pembelajaran yang efektif. Strategi pembelajaran dikatakan
efektif apabila sesuai dengan komponen pembelajaran lainnya. Makadari itu
guru diharapkan mampu menjelaskan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam menentukan strategi pembelajaran tersebut, yaitu berupa komponen-
komponen pembelajaran yang akan terurai di bawah ini:
1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran ini adalah sebuah acuan yang dipertimbangkan
untuk memilih strategi belajar-mengajar, yang pada kurikulum 2004
dirumuskan dalam bentuk kompetensi.
Tujuan pembelajaran menyangkut tiga kelompok perilaku, yaitu
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dan untuk masing-masing kelompok
perilaku digunakan strategi pembelajaran yang berbeda.
2. Materi pelajaran

2
Rahmah Johar dan Latifah Hanum, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Deepublish, 2016),
hlm. 18-19
Materi pelajaran yang digunakan dibedakan menjadi dua, yaitu materi
formal dan nonformal.
Materi formal yaitu isi pelajaran yang bersumber dari buku teks resmi
(buku paket) dari sekolah atau yang telah ditentukan oleh pemerintah,
sedangkan materi nonformal yaitu isi pelajaran bersumber dari luar sekolah
atau bisa dari mana saja yang relevan dengan pelajaran di sekolah.
3. Siswa
Sebelumnya kita ketahui bahwa tentunya siswa sebagai pribadi
tersendiri yang memiliki perbedaan-perbedaan. Baik itu lingkungan sosial,
lingkungan budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat
pemahaman. Maka dari itu hal ini perlu dipertimbangkan dalam
menentukan strategi pembelajaran seperti apa yang akan digunakan.
Selain mempertimbangkan secara individual, jumlah siswa akan
mempengaruhi pula terhadap penggunaan strategi pembelajaran. Misalnya
saja, apabila guru akan merancang kegaitan diskusi, guru harus yakin bahwa
siswa sudah mampu untuk mengajukan atau menanggapi pendapat secara
lisan. Contoh lain, apabila guru akan melakukan kegiatan di laboratorium,
guru harus yakin bahwa siswa sudah terbiasa dengan laboratorium. Jika
tidak, tentunya kegiatan di laboratorium tidak efektif sebab siswa belum
terbiasa menggunakan alat-alat di laboratorium.
4. Guru
Setiap guru tentunya memiliki kelebihan dan keterbatasan. Entah itu berupa
pengetahuan, kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar,
pandangan hidup, maupun wawasannya. Perbedaan inilah yang membuat
guru berbeda-beda dalam menentukan strategi pembelajaran.
5. Metode pengajaran
Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam
strategi belajar-mengajar. Hal ini perlu karena akan mempengaruhi bentuk
strategi belajar-mengajar.
6. Sarana (alat dan sumber), waktu, dan ruangan
Ketersediaan sejumlah alat dan sumber pembelajaran juga dijadikan
pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran. Misalnya, kita
sebagai guru menginginkan setiap siswa untuk melakukan sebuah
percobaan. Sementara itu, jumlah bahan dan alat percobaan yang tersedia di
sekolah tidak mencukupi. Tentu guru tidak dapat memaksakan setiap siswa
untuk melakukan percobaan tersebut. Tapi, siswa bisa tetap melakukan
percobaan secara berkelompok.
Disamping itu, waktu yang tersedia juga harus menjadi pertimbangan guru
dalam menentukan strategi pembelajaran. Misalnya guru hanya memiliki
waktu sedikit untuk membahas suatu materi, katakanlah hanya 20 menit,
tentu tidak tepat membahas materi tersebut dengan diskusi kelompok. Agar
materi tersebut tetap tersampaikan, maka guru bisa menyampaikan materi
dengan metode ceramah.
Bentuk ruangan yang tersedia juga perlu dipertimbangkan dalam
penentuan strategi belajar-mengajar.3
7. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu komponen yang digunakan oleh guru untuk
mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran. Evaluasi ini ada dua yaitu
evaluasi proses dan evaluasi produk. Evaluasi proses adalah evaluasi yang
diarahkan untuk menilai pelaksanaan proses belajar-mengajar yang telah
dilakukan untuk mencapai tujuan. Sedangkan evaluasi produk adalah
evaluasi yang diarahkan kepada bagaimana hasil belajar yang telah
dilakukan siswa dan bagaimana penguasaan siswa terhadap bahan/materi
pelajaran yang guru berikan.4

3
Sri Anitah, dkk., Strategi pembelajaran di SD, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014),
hlm. 31-40
4
Rahmah Johar dan Latifah Hanum, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Deepublish, 2016),
hlm. 26
D. Tujuan pengajaran

Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai dengan


kegiatan pembelajaran. Berdasarkan buku yang saya kutip, terdapa empat tujuan
pembelajaran, yaitu:

1. Tujuan pendidikan nasional


Tujuan pendidikan ini merupakan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai
dan didasari oleh falsafah negara. Termuat dalam UU no. 29 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional bunyinya
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya,…”
2. Tujuan Institusional/lembaga
Tujuan institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
sekolah atau lembaga pendidikan. Dan tentunya akan berbeda tujuan tiap
masing-masing sekolah atau lembaga pendidikan.
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi.
Tujuan ini dapat dilihat dari GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran)
setiap bidang studi. Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan
institusional.
4. Tujuan Instruksional/pembelajaran
Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran. Tujuan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tujuan instruksional umum
Tujuan instruksional umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya
masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih
spesifik. Tujuan ini dapat dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu
bidang studi yang ada di GBPP.
b. Tujuan instruksional khusus
Tujuan instruksional khusus adalah penjabaran dari tujuan instruksional
umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan
instruksional umum tersebut dapat lebih dispesifkasikan dan mudah
diukur tingkat ketercapaiannya. Untuk memudahkan penjabaran dan
perumusan tujuan instruksional khusus maka dapat dilakukan
pemilahan menjadi empat komponen, yaitu: ABCD (Audience,
Behaviour, Condition, dan Degree) (Baker, 1971) komponen ini sering
dipraktikan dengan penjelasan sebagai berikut:
c. A = audience: dirumuskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan
belajar itu.
d. B = behaviour: perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan atau
dimunculkan siswa setelah KBM
e. C = condition: keaadaan/syarat yang harus dipenuhi atau dikerjakan
siswa saat dites
f. D = degree: batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus
dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan.5
E. Cara belajar siswa aktif

Cara belajar siswa aktif atau CBSA adalah suatu konsep dalam
pengembangan aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh kedua belah
pihak, yaitu guru yang mengajar dan peserta didik yang belajar. Teori ini berasal
dari kurikulum yang dinamakan child centered curriculum yang penerapannya
didasarkan pada teori belajar yang menekankan pada proses mengalami untuk
memperoleh pemahaman yang disebut teori gestalt.

Berdasarkan teori ini belajar merupakan hasil dari proses interaksi siswa
dengan lingkungannya. Mereka tidak semata-mata belajar dari menghafal apa
yang telah dijelaskan oleh gurunya. Mereka belajar dari berbagai proses seperti
mengalami, mengerjakan, dan memahami. Maka hasil dari belajar dapat siswa
peroleh apabila siswa aktif dan tidak pasif.6192

Dalam pelaksanaan CBSA ini, guru memiliki fungsi dalam pengajaran, meliputi:

1. Memberi motivasi belajar kepada peserta didik untuk belajar lebih giat
2. Mengarahkan tentang cara belajar sukses

5
Naniek Kusumawati dan Endang Sri M., Strategi Belajar Mengajar di Sekolah Dasar, (Magetan:
Media Grafika, 2019), hlm. 6-7
6
Chomaidi dan Salamah, Pendidikan dan Pengajaran: Strategi Pembelajaran Sekolah, (Jakarta:
PT Grasindo, 2018), hlm. 192
3. Mendorong peserta didik agar melakukan kegiatan belajar kepada suatu
tujuan tertentu
4. Menyiapkan sra prasarana pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran dan
mampu memanfaatkannya dengan baik. 193

Ciri-ciri CBSA, yaitu:

1. Ada keterlibatan siswa dalam menyusun atau membuat perencanaan, proses


belajar-mengajar, dan evalusi
2. Adanya keterlibatan intektual emosional siswa baik melalui kegiatan
mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap
3. Adanya keterlibatan siswa dalam menciptakan situasi yang cocok untuk
pelaksanaan proses belajar-mengajar dengan cara yang kreatif
4. Guru tidak mendominasi kegiatan di kelas. Guru sebagai fasilitator dan
koordinatoe kegiatan belajar siswa
5. Penggunaan berbagai metode yang bervarisi, alat, dan media pengajaran.7

Selanjutnya yaitu prinsip-prinsip CBSA yang dikemukakan oleh Nana


Sujana (1989), beliau mengajukan prinsi-prinsip belajar siswa aktif meliputi
stimulus belajar, perhatian dan motivasi, respons yang dipelajari, penguatan dan
umpan balik, serta pemakaian dan pemindahan. Sementara itu, Depdikbud
(1986) mengajukan prinsip-prinsip belajar siswa aktif sebagai berikut: motivasi,
latar belakang, pemusatan perhatian, keterpaduan, pemecahan masalah,
menemukan, belajar sambil bekerja, belajar sambil bermain, hubungan sosial,
dan perbedaan perseorangan.8

Berikut teknik dan metode yang dapat diterapkan dengan pendekatan Cara
Belajar Siswa Aktif:

1. Teknik bertanya
2. Metode diskusi
3. Umpan balik dalam interaksi belajar-mengajar
4. Metode karyawisata/widyawisata

7
Chomaidi dan Salamah, Pendidikan dan Pengajaran: Strategi Pembelajaran Sekolah, (Jakarta:
PT Grasindo, 2018), hlm. 193
8
Ibid, hlm.198
5. Metode bermain peran/sosiodrama
6. Metode proyek 9

9
Chomaidi dan Salamah, Pendidikan dan Pengajaran: Strategi Pembelajaran Sekolah, (Jakarta:
PT Grasindo, 2018), hlm. 205
DAFTAR RUJUKAN

Anitah, Sri, dkk. 2014. Strategi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan :


Universitas Terbuka.

Johar, Rahmah dan Latifah Hanum. 2016. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta:
Deepublish.

Kusumawati, Naniek dan Endang Sri Maruti. 2019. Strategi Belajar Mengajar di
Sekolah Dasar. Mgetan: Media Grafika.

Chomaidi dan Salamah. 2018. Pendidikan dan Pengajaran: Strategi Pembelajaran.


Jakarta: PT Grasindo.

https://books.google.co.id/books?id=MsKIDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl
=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false

diakses pada 04 September 2019 pukul 19.21 WIB

https://books.google.co.id/books?id=LICWDwAAQBAJ&pg=PA8&dq=strategi+
belajar+mengajar+w+gulo&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjby4XEkLbkAhVDiX
AKHUzNAlYQ6AEIPzAD#v=onepage&q=strategi%20belajar%20mengajar%20
w%20gulo&f=false

diakses pada 04 September 2019 pukul 19.30 WIB

https://books.google.co.id/books?id=YbB1DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq
=cara+belajar+siswa+aktif&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwji-
tXawbfkAhUIp48KHdK4BAwQ6AEIWTAG#v=onepage&q=cara%20belajar%2
0siswa%20aktif&f=false

diakses pada 04 September 2019 pukul 19.43 WIB