Anda di halaman 1dari 25

BAB III

Toleransi komponen yang berpasangan

Kompetensi Dasar
1. Mengevaluasi suaian untuk pembubutan komponen yang berpasangan
2. Menyajikan suaian untuk membuat komponen yang berpasangan
3. Merancang komponen suaian yang berpasangan
4. Membuat komponen yang berpasangan

Materi
3.12.1 Menjelaskan standar toleransi komponen yang berpasangan
3.12.2 Mengukur komponen yang berpasangan
4.12.1 Mengoreksi toleransi komponen yang berpasangan
4.12.2 Menyajikan ukuran suaian yang harus dibuat untuk komponen yang berpasangan
3.13.1 Menentukan fungsi komponen yang berpasangan
3.13.2 Memilih jenis suaian dari komponen yang dipasangkan
3.13.3 Menentukan besarnya toleransi yang harus dibuat
4.13.1 Menentukan urutan proses pengerjaan komponen yang berpasangan
4.13.2 Melakukan pembubutan komponen yang berpasangan
4.13.3 Mengecek hasil benda pembubutan komponen yang berpasangan

Kata Kunci
1. Suaian
2. Toleransi
Gambar….toleransi pada proses pembubutan
Sumber : https://blog.misumiusa.com/wp-content/uploads/2016/07/Shafts-Blog-Img-
01.png

Toleransi adalah dua batas penyimpangan ukuran yang diijinkan pada suatu produk
atau benda kerja. Oleh karena itu, benda kerja yang telah dibuat yang memakai
toleransi akan masih dapat dipasangkan atau disusun antar komponennya.
Komponen-komponen benda kerja yang dibuat oleh operator harus memiliki
toleransi. Hal ini disebabkan, karena ada kemungkinan masing-masing komponen
dibuat oleh beda-beda perusahaan atau beda-beda operator. Hal yang harus dicapai
oleh masing-masing komponen benda kerja tersebut adalah antara satu komponen
dengan komponen yang lain itu harus bisa dipasang dengan mudah. Dalam hal ini
harus ada standar ketepatan ukuran yang harus dipatuhi dan dipakai sebagai pedoman
dalam mengerjakan sesuatu benda agar komponen-komponen mesin itu dapat
dipasang, bahkan ditukar dengan komponen lain yang sejenis.
A. Standar Toleransi Komponen dan Suaian dari komponen yang berpasangan
Sebelum masuk ke pembahasan tentang toleransi dan suaian, akan terlebih
dahulu dibahas apa itu komponen yang berpasangan. Komponen yang
berpasangan di sini maksudnya adalah kumpulan dua atau lebih komponen-
komponen untuk bisa dirakit atau dipasang satu dengan yang lain.
Dalam hal ini akan dibahas terlebih dahulu tentang perakitan. Perakitan adalah
suatu proses penyusunan dan penyatuan beberapa komponen komponen menjadi
suatu alat atau mesin yang mempunyai fungsi tertentu. Ada juga yang menyatakan
bahwa perakitan adalah penggabungan antara komponen yang satu terhadap
komponen yang lain atau pasangannya. Pada intinya, perakitan ini adalah ada
keterkaitan dan ketergantungan antar komponen.
Berbicara tentang perakitan , ada beberapa metode yang dapat diterapkan
sesuai dengan kebutuhan. Metode-metode perakitan tersebut adalah :
1. Metode perakitan yang dapat ditukar tukar.
Pada metode ini, komponen-komponen yang akan dirakit dapat ditukarkan
satu sama lain ( interchangeable ), karena komponen tersebut dibuat oleh
suatu pabrik secara massal dan sudah distandarkan baik menurut ISO, DIN,
JIS, dan lain sebagainya. Keuntungan bila kita menggunakan komponen atau
komponen yang telah distandarkan adalah waktu perakitan komponen yang
lebih cepat dan dalam penggantian komponen yang rusak dapat diganti
dengan komponen yang sejenis yang ada di pasaran. Akan tetapi tetap
mempunyai kerugian yaitu kita harus membeli komponen tersebut dengan
harga yang relatif lebih mahal.
2. Perakitan dengan pemilihan.
Pada metode perakitan dengan metode pemilihan, komponen-komponennya
juga dihasilkan dengan produksi massal yang pengukuran-pengukurannya
tersendiri menurut batasan-batasan ukuran.
3. Perakitan secara individual.
Perakitan secara individual dalam pengerjaannya tidak dapat kita pisahkan
antara pasangan satu dengan pasangannya. karena dalam pengerjaannya
harus berurutan tergantung komponen yang sebelumnya. Salah satu
komponen yang berpasangan tersebut kita selesaikan terlebih dahulu,
kemudian pasangan lainnya menyusul dengan ukuran patokan yang diambil
dari komponen yang pertama

Pada dasarnya, pembahasan ini akan erat sekali kaitannya dengan bahasan
toleransi dan suaian pada materi gambar teknik. Namun tidak salah jika dibahas
pada pembahsana tentang proses pembubutan.
Dalam hal perakitan komponen-komponen yang berpasangan ini akan erat
kaitannya dengan toleransi dan suaian. Inti dari pembahasan ini adalah antara satu
komponen dengan komponen lain dikerjakan itu harus bisa dipasang dengan
mudah. Sehingga dalam hal ini diwajibkan adanya ketepatan ukuran yang harus
dipatuhi dan dipakai sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu benda agar
komponen-komponen mesin itu dapat dipasang, bahkan ditukar dengan komponen
lain yang sejenis. Sesuai standar ISO, dalam bidang teknik toleransi terdiri dari 2
yaitu:
1. Toleransi Linier
Yang dimaksud dengan toleransi linier adalah ukuran dasar yang ditentukan
tiap-tiap batas ukuran yang ditentukan oleh penyimpangan. Oleh karena itu,
ketidak telitian pada proses pembuatan yang tidak dapat dihindari, suatu alat
tidak dapat dibuat setepat ukuran yang diminta. Agar supaya persyaratan dapat
dipenuhi, ukuran yang sebenarnya yang diukur pada benda kerja boleh terletak
pada dua batas yang diizinkan.

Gambar…..toleransi linear
Sumber : https://i2.wp.com/kursuscnc.com/wp-
content/uploads/2019/01/image-21.png?w=702

Dari gambar tersebut, akan diuraikan beberapa istilah yang ada, antara lain:
a. Ukuran nominal yaitu ukuran benda yang dibulatkan sampai dengan
ukuran mm dan merupakan ukuran patokan yang dijadikan batas-batas
ukuran yang diizinkan.
b. Ukuran minimum yaitu ukuranterkecil yang diizinkan baik untuk poros
maupun untuk lubang.
c. Ukuran maximum yaitu ukuran terbesar yang dizinkan baik untuk poros
maupun untuk lubang.
d. Penyimpangan membesar yaitu perbedaan ukuran antara ukuran nominal
dan ukuran maximumnya yang diizinkan.
e. Penyimpangan mengecil yaitu perbedaan ukuran antara ukuran nominal
dan ukuran minimum yang diizinkannya.
f. Toleransi umum yaitu untuk gambar-gambar dengan ukuran tanpa
persyaratan ketelitian khusus, atau ukuran tanpa keterangan dan kita dapat
memberikan catatan secara umum, nilai penyimpangan yang diizinkannya
disebut toleransi umum.
Pada toleransi linear ini akan dikenal berbagai istilah. Salah satu yang paling
sering dipakai adalah “Toleransi Internasional” atau “IT”. Dalam tolerasni
internasional atau lebih dikenal dengan IT, ada beberapa pembagian. Pembagian
tersebut biasa dikenal sebagai kualitas toleransi. Secara ISO, pembagian kualitas
toleransi ini dibedakan menjadi 18 kualitas toleransi,. Istilah yang lebih dikenal
seagai kualitas toleransi adalah IT 01, IT 0, IT sampai dengan IT 16. Standar
toleransi dapat dilihat pada uraian berikut ini.
Gambar…. Tabel standar toleransi
Sumber : https://extrudesign.com/wp-content/uploads/2018/03/fundamental-
deviation-of-shafts-and-holes-extrudesign.com-004.png

Dari tabel tersebut, diketahui besarnya nilai-nilai toleransi. Dari beberapa


tingkatan nilai tolerasni tersebut, dalam aplikasinya dibedakan lagi menjadi
beberapa jenis, yaitu:
a. Nilai IT 01 sampai IT 4 diperuntukkan pekerjaan yang sangat teliti, seperti
alat ukur, instrument optik dan sebagainya.
b. Tingkat IT 5 sampai dengan IT 11 dipakai pada bidang permesinan umum,
untuk bagian-bagian yang mampu tukar, yang dapat digolongkan pula
dalam pekerjaan sangat teliti dan pekerjaan biasa.
c. Tingkat IT 12 s/d IT 16 dipakai untuk pekerjaan kasar, misalnya seperti
pengecoran, penempaan, pengerolan.

Untuk kategori atau tingkat toleransi IT 5 s/d IT 16, besarnya nilai


toleransinya ditentuan oleh satuan toleransi i, yaitu:
3
𝑖 = 0,45 𝑥 √𝐷 + 0,001𝐷
Di mana, besarnya i dalam satuan mikron, dan D harga rata-rata geometrik
dari kelompok ukuran nominal, dalam mm.
Dalam kasus ini, disesuaikan dengan proses pembubutan, besarnya nilai
toleransi dari kelas IT 5 sampai dengan IT 16.

Gambar….besarnya nilai kualitas toleransi


Sumber :
https://slideplayer.info/slide/3119709/11/images/16/KUALITAS+TOLERANSI.jp
g

2. Toleransi geometrik
Toleransi geometri adalah suatu toleransi yang membatasi penyimpangan
bentuk, posisi tempat dan penyimpangan putar terhadap suatu elemen geometris.
Oleh karena itu, dalam memberikan tanda toleransi geeometri, harus diletakkan
pada daerah yang tepat. Hal ini dikarenakan toleransi geometri bertujuan aagar
bentuk benda kerja tidak mempunyai penyimpangan yang mencolok, yang
berakibat benda kerja tersebut tidak dapat dipakai. Hal yang perlu juga
diperhatikan dalam pemberian tolerasni geometric adalah bahwa toleransi
geometric hanya disarankan jika memang diperlukan saja, hal ini untruk
meyakinkan ketepatan komponen berdasarkan fungsinya.
Berikut ini disajikan tabel tentang toleransi geometri dalam gambar teknik.
Tabel …… simbol toleransi geometri
Sumber : http://desainmanufaktur.bayuwiro.net/wp-
content/uploads/2016/11/Toleransi-Geom-1.jpg
Kembali ke pembahasan tentang kualitas toleransi. Dengan adanya
pemberian toleransi, maka dengan sendirinya akan terjadi perbedaan-perbedaan
ukuran dari masing-masing bagian yang dikerjakan dan akan dipasang. Namun,
adanya perbedaan-perbedaan pada tiap-tiap komponen bisa dipasang dengan
bagian yang menjadi pasangannya. Bila bagian itu dipasang atau digabungkan
maka akan menjadi satu keadaan tertentu yang merupakan hasil dari gabungan
atau pasangan itu. Keadaan hasil pasangan tersebut dinamakan suaian (fits).
Suaian juga biasa dikenal sebagai hubungan yang terjadi atau yang ditimbulkan
oleh karena adanya perbedaan ukuran sebelum disatukannya dua buah komponen
yang dirakit.
Perlu digarisbawahi, bahwa, adanya perbedaan ukuran tersebut tetap
mengacu pada batas toleransi yang diijinkan sesuai dengan tingkat suaian yang
digunakan. Untuk menentukan suaian itu sendiri memiliki tiga kategori, yaitu:
a. Suaian longgar (clearance fit)
Suaian ini adalah suaian yang selalu menghasilkan kelonggaran, dimana
daerah toleransi lubang selalu terletak di atas daerah toleransi poros.
Suaian longgar sendiri memiliki 3 tingkatan, yaitu:
1) Suaian sangat luas, yaitu tingkatan suaian yang digunakan untuk
bagian-bagian yang mudah berputar, mudah dipasang dan
dibongkar tanpa paksa, misalnya dipakai pada poros roda gigi,
poros hubungan, dan bantalan dengan kelonggaran yang pasti.
2) Suaian luas, yaitu suaian yang biasa dipakai pada peralatan yang
berputar terus-menerus, misalnya dipakai pada bantalan yang
mempunyai kelonggaran biasa, yaitu bantalan jurnal.
3) Suaian geser, jenis suaian ini banyak dipakai pada peralatan yang
tidak berputar, misalnya senter kepala lepas, sarung senter, dan
poros spindel.
b. Suaian pas (transition fit)
Merupakan suaian hasil gabungan antara lubang dan poros yang akan
menghasilkan suatu keadaan kemungkinan longgar dan sesak, hal ini
tergantung dari daerah toleransi yang dipakai. Dalam suaian ini, ada
beberapa klasifikasi sebagai berikut:
1) Suaian punter, yaitu suaian yang digunakan apabila pasangannya
memerlukan kesesakan dan dengan jalan dipuntir waktu melepas
maupun memasang, misalnya sebuah metal dengan tempat
duduknya
2) Suaian paksa, yaitu suaian yang akan terjadi kesesakan
permukaan yang dipasang agak panjang. Contoh pemakaiannya
pada plat pembawa dalam mesin bubut, kopling, dan sebagainya.

c. Suaian sesak (interference fit)


Merupakan suaian yang akan menghasilkan kerapatan, dimana daerah
toleransi lubang selalu terletak di bawah toleransi poros. Ciri suaian ini
adalah pasangan poros dan lubang akan sangat sulit untuk dipasangkan,
pada kondisi tertentu memerlukan alat bantu lain untuk dapat
memasangkan atau melepaskan poros dan lubangnya. Suaian sesak terdiri
dari:
1) Suaian kempa ringan, suaian ini dalam praktiknya bahwa,
pasangan benda kerja harus ditekan atau dipukui dengan
menggunakan palu plastik atau palu kulit. Pengunaan suaian ini
misalnya pada bus-bus bantalan dan pelak roda gigi
2) Suaian kempa berat, adalah jenis suaian dimana pada
pemasangan suaian ini harus ditekan dengan gaya yang agak berat
dan suatu ketika harus menggunakan mesin penekan. Suaian ini
digunakan pada kopling atau pada gelang tekan.

B. Penerapan Suaian dalam pemasangan komponen yang berpasangan


Dalam standar ISO telah ditetapkan dua (2) macam sistem suaian yang bisa
digunakan, yaitu: suaian sistem basis lubang dan suaian sistem basis poros.
Sistem basis lubang (hole basis system) artinya yaitu semua toleransi lubang
ditentukan di daerah “H” tanpa memperdulikan tingkatan suaian yang akan
dibuat. Mengenai macam tingkatan yang dikehendaki dapat dibuat dengan jalan
mengubah-ubah ukuran poros.
Pada sistem basis poros (shaft basis system) artinya adalah bahwa semua
toleransi poros ditentukan di daerah “h” juga tanpa memperdulikan tingkatan
suaian yang dibuat. Untuk mendapatkan macam-macam tingkatan yang
dikehendaki dapat dibuat dengan jalan mengubah-ubah ukuran lubang.
Di bawah ini diberikan gambaran di mana letak atau posisi dari ketiga jenis
suaian (longgar, pas, paksa) pada kedua sistem suaian.

Gambar ….Gambaran jenis-jenis suaian


Sumber : https://didinlubis.files.wordpress.com/2016/09/capture1.jpg

Menurut ISO, sistem suaian dan toleransi menggunakan kombinasi huruf dan
angka. Daerah toleransi terhadap garis nol dilambangkan dengan huruf. Huruf
yang digunakan adalah bhuruf kapital dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan
untuk golongan lubang dan huruf kecil untuk golongan poros. Adapun huruf I,
L, O, Q dan W beserta huruf kecilnya tidak digunakan. Hal ini untuk menghindari
kekeliruan dengan angka ukur.
Dalam aplikasinya, standar suaian dijelaskan dalam tabel berikut.
gambar …… Tabel Sistem suaian basis lubang (H)
Sumber : https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnzA504MJkz1rozMETer4JqmsZ2-
P1zE17tBFVIo2PjTVh9ScfVw

Gambar …… Tabel Sistem suaian basis poros (h)


Sumber : https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTSFysxhPLiP4tLfUCUuXrhaLlg2hlC6a
MSIlCq-pa5QMj1vn-T4g

Dalam praktiknya, sistem suaian (longgar, transisi, dan sesak) masih


dibagi-bagi dalam beberapa tingkatam yang lebih rinci. Tingkatan suaian dari
masing-masing sistem suaian dapat diuraikan dalam penjelasan berikut.
1. Suaian longgar basis lubang
Pada suaian longgar sistem basis lubang, daerah toleransi H
dipasangkan/disesuaiakan terhadap poros dengan daerah toleransi a, b, c, d,
e, f dan g. Contoh penulisan suaian system ini adalah ø 30 H7/f6. Beberapa
tipe suaian longgar basis lubang adalah sebagai berikut.
a. Suaian sangat luas
Suaian tipe merupakan hasil pasangan dari H11-c11, H9 d10 dan H9-
e9. Biasanya suaian ini digunakan untuk bagian-bagian yang mudah
berputar, mudah dipasang dan dibongkar tanpa paksa, misalnya dipakai
pada poros roda gigi, poros hubungan, dan bantalan dengan kelonggaran
yang pasti.
b. Suaian luas
Suaian tipe ini merupakan hasil pasangan H8-f7 dan H7-g6. Suaian ini
biasanya dipakai pada peralatan yang berputar terus-menerus, misalnya
dipakai pada bantalan yang mempunyai kelonggaran biasa, yaitu
bantalan jurnal.
c. Suaian geser
Suaian tipe ini merupakan hasil pasangan H7h6. Suaian ini sering
dipakai pada peralatan yang tidak berputar, misalnya senter kepala
lepas, sarung senter, dan poros spindel.
2. Suaian Transisi basis lubang
Tipe suaian ini adalah gabungan dari sistem lubang dan poros yang akan
menghasilkan suatu keadaan kemungkinan longgar dan sesak, hal ini
tergantung dari daerah toleransi yang dipakai. Pada suaian paksa sistem basis
lubang, daerah toleransi H dipasangkan terhadap poros dengan daerah
toleransi n, p, r, s, t, u, dan x. Contoh penulisannya adalah ø 80 H7/p6.
Beberapa jenis suaian yang termasuk dalam suaian transisi adalah sebagai
berikut.
a. Suaian puntir
Merupakan suaian gabungan antara H7-k6. Tipe suaian ini digunakan
apabila pasangannya memerlukan kesesakan dan dengan jalan dipuntir
waktu melepas maupun memasang, misalnya sebuah metal dengan
tempat duduknya.
b. Suaian paksa
Merupakan suaian gabungan H7-n6. Pada suaian ini akan terjadi
kesesakan permukaan yang dipasang agak panjang. Contoh
pemakaiannya pada plat pembawa dalam mesin bubut, kopling, dan
sebagainya.
3. Suaian sesak basis lubang
Pada suaian pas sistem basis lubang, apabila lubang dengan daerah toleransi
H dipasangkan terhadap poros dengan daerah toleransi h, js, k dan m. Contoh
penulisan dari system ini adalah ø 120 H6/h6.
a. Suaian kempa ringan
Merupakan suaian pasangan antara H7-p6. Pasangan dalam suaian ini
harus ditekan atau dipukul dengan menggunakan palu plastic atau
palu kulit. Pengunaan suaian ini misalnya pada bus-bus bantalan.
b. Suaian kempa berat
Suaian H7-p6. Pemasangan suaian ini harus ditekan dengan gaya yang
agak berat dan suatu ketika harus menggunakan mesin penekan. Suaian
ini digunakan pada kopling atau pada gelang tekan.
Tingkatan suaian dari masing-masing sistem suaian untuk poros dapat
diuraikan dalam penjelasan berikut
1. Suaian Longgar basis poros
Pada suaian longgar sistem basis poros, apabila poros dengan daerah
toleransi h dipasangkan pada lubang dengan daerah toleransi B, C, D, E, F
dan G. contoh penulisan system ini adalah ø 50 h7/F7. Sistem suaian ini
dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain.
a. Suaian sangat luas
Suaian h11-C11, h9-D10 dan h9-E9. Penggunaannya adalah pada
bantalan-bantalan yang mudah dipasang dan dilepas dengan poros.
b. Suaian luas
Suaian h7-F8 dan h6-G7. Contoh penggunaannya pada bantalan jurnal
dan peralatan yang tidak berputar.
c. Suaian geser
Suaian h6-H7. Penggunaan pada peralatan yang tidak berputar.
2. Suaian Transisi basis poros
Pada suaian transisi sistem basis poros, apabila poros dengan daerah toleransi
h dipasangkan pada lubang dengan daerah toleransi H, Js, K, dan M. contoh
penulisan system ini adalah ø 110 h5/H6. Beberapa pembagian suaian ini
adalah sebagai berikut.
a. Suaian puntir
Suaian h6-K7. Suaian ini dipakai pada peralatan yang pemasangannya
harus mengalami penekanan dan dipuntir.
b. Suaian paksa
Suaian h6-M7. Pada sistem ini juga terjadi kesesakan yang pasti.
3. Suaian Sesak basis poros
Pada suaian paksa sistem basis poros, apabila poros dengan daerah toleransi
h dipasangkan pada lubang dengan daerah toleransi N, P, R, S, T,U dan X.
system penulisan system ini adalah ø 55 h6/P6. Beberapa jenis pembagian ini
adalah.
a. Suaian kempa ringan
Suaian h6-P7. Pemasangan komponen dalam suaian ini harus ditekan.
b. Suaian kempa berat
Suaian h6-S7. Pemasangan komponen ini harus ditekan dengan gaya
yang lebih berat.
C. Menentukan Besarnya Nilai Toleransi
Dalam proses pemasangan beberapa komponen yang berpasangan, sangatlah
perlu untuk dilihat jenis suaian yang dipakai. Hal ini berpengaruh terhadap
besarnya nilai toleransi yang dipakai. Misalnya saja, komponen-komponen mana
saja yang termasuk komponen lubang dan komponen-komponen mana saja yang
termasuk dalam poros. Sebagai contoh, yang termasuk dalam komponen lubang
adalah dudukan dari poros, dudukan bantalan, libang poros gigi dan sebagainya.
Sedangkan untuk kompnen poros dapat dicontohkan antara lain poros, pasak-
pasak, baut, ring piston, dan sebagainya.
Gambar…. Tabel suaian (fits)
Sumber : https://docplayer.info/docs-images/64/51866418/images/23-0.jpg

Dari tabel tersebut bisa digunakan untuk mengetahui besarnya toleransi


komponen yang dibuat disesuaikan dengan suaian yang diterapkan. Untuk menggunakan
tabel tersebut, bisa dijelaskan dalam contoh berikut ini. Dalam suatu kasus ditanyakan
menentukan besarnya nilai toleransi dari suatu pasangan komponen yang menngunakan
suaian sangat luas dengan ukuran lubang 35 H11. Untuk mengetahui besarnya toleransi,
suain sangat luas, perhatikan H11, maka perhatikan Untuk mengetahui toleransi dari
H11, lihat pada lajur ukuran nominal paling kiri. Pada Kolom Suaian sangat luas dan
H11, lalu carilah rentang angka yang mencakup nnilai 20, yaitu pada rentang 30 sampai
+0,160
dengan40, dari situ akan terlihat bahwa besarnya nilai toleransi adalah 0 (dalam
satuan mikronmeter atau µm). Sehingga bisa diketahui bahwa besarnya nilai toleransi
+0,160
tersebut adalah 35 𝐻11 0 . Untuk nilai dan besar toleransi dengan jenis suaian
tertentu dan ukuran diameter tertentu dapat melihat tabel tersebut.
Selain metode penentuan toleransi dengan cara tersebut, dalam praktik
pembubutan dikenal juga metode pemberian toleransi maksimum dan minimum. Untuk
lebih jelasnya perhatikan penjelasan berikut ini.

Gambar…..toleransi maksimum dan minimum


Sumber : https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQOCQ2FfOTsNUMo3y5khDpeWLg69G4cAY
-ReeP9FbFsWzlGgQQg
Dari gambar yang ada tersebut, sebuah kotak memiliki toleransi sebesar ±0,5 mm
pada tiap-tiap ukuran, baik itu pda ukuran horizontal (panjang) dan vertikal (lebar). Dari
besarnya toleransi tersebut, bisa diartikn bahwa besarnya penyimpangan yang terjadi
adalah +0,5 mm dan - 0,5 mm. tanda + (positif) memiliki arti bahwa letak daerah
toleransi berada di atas garis batas dasar dan tanda – (negarif) memiliki arti bahwa letak
daerah toleransi berada di bawah garis batas dasar. Besarnya nilai penyimpangan +0,5
mm adalah penyimpangan membesar atau penyimpangan atas, biasa dikenal sebagai ES
(Ecart Superieur) . Untuk penyimpangan -0,5 mm adalah penyimpangan mengecil,
disebut juga penyimpangan bawah, biasanya diberi simbol El (Ecart Inferieur).
Sehingga, ukuran maksimum sisi panjangnya adalah 25 + (+0,5) = 25,5 mm.
Ukuran minimum dari sisi panjangnya adalah 25 + (-0,5) = 24,5 mm. Dengan demikian
daerah toleransinya, yaitu ukuran maksimum – ukuran minimum = 25,5 - 24,5 = 1 mm.
Cotoh metode pemberian toleransi ukuran yang lain adalah sebagai berikut,
perhatikan gambar berikut:

Dari gambar tersebut, bisa dijelaskan bahwa arti dari 60 H 6 adalah sebagai berikut:
a. 60 memiliki arti bahwa diameter lubang tersebut adalah 60 mm
b. H memiliki arti bahwa metode ukuran tersebut adalah daerah toleransi lubang
c. 6 memiliki arti bahwa benda kerja tersebut memiliki kualitas toleransi 6.

Untuk bisa membaca arti dari pemberian toleransi tersebut, perhatikan tabel berikut.

Gambar….tabel toleransi ISO basis lubang atau poros


Sumber : https://docplayer.info/docs-images/52/30803246/images/12-0.png
Dari tabel tersebut, maka akan diketahui arti dari 60 H 6. Penjelasannya adalah sebagai
berikut:
a. 60 artinya adalah diameter ukuran lubang dalam satuan mm
b. H6 memiliki arti bahwa benda kerja tersebut berbasis lubang dengan kualitas
toleransi 6.
c. Jika dilihat pada tabel tersebut 60H6 terletak pada range ukuran 50 – 80.
+19
Selanjutnya perhatikan kolom H6, di tabel tertera 0 dalam satuan µm

(mikronmeter). Di mana penyimpangan atas sebesar +19 µm dan penyimpangan


bawah sebesar 0 µm.
Untuk kasus lain, misalkan ukuran yang tercantum adalah 60 h 6 maka, ukuran
ini adalah menandakan bahwa diameter adalah 60 mm dengan basis poros dengan
0
tingkat toleransi h6 yang memiliki besar toleransi −19 dalam satuan mikron meter.
Dengan artian besarnya toleransiadalah penyimpangan atas 0 µm dan penyimpangan
bawah adalah sebesar 19 µm.

Metode pemberian ukuran toleransi selanjutnya adalah toleransi umum.


Pengertian metode toleransi umum adalah bahwa batas toleransi yang diijinkan, tanpa
penunjukan pengkodean berupa huruf, biasanya toleransi ini berlaku menyeluruh pada
benda kerja yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, hanya saja semakin panjang
ataupun semakin besar benda yang diproses, maka semakin besar juga toleransi yang
dipergunakannya. Toleransi ini dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Toleransi panjang,
Besarnya toleransi umum berdasarkan panjang adalah sebagai berikut.

Gambar …tabel besarnya toleransi umum berdasarkan panjang


Sumber : https://suryaputra2009.files.wordpress.com/2012/01/panjang-
umum1.jpg
b. Toleransi radius
Besarnya toleransi berdasarkan radius adalah sebagai berikut.

Gambar…tabel besarnya toleransi umum berdasarkan radius


Sumber : https://suryaputra2009.files.wordpress.com/2012/01/panjang-
radius.jpg
c. Toleransi kemiringan serta toleransi sudut.

Gambar….tabel besarnya toleransi umum berdasarkan sudut


Sumber : https://suryaputra2009.files.wordpress.com/2012/01/panjang-
sudut.jpg

Contoh soal.

1. Hitunglah batas-batas toleransi dan kelonggaran untuk sebuah poros yang berdiameter
25 mm dengan daerah toleransi d dan angka kualitas toleransi 9, dipasangkan dengan
lubang yang berdiameter sama dengan poros dan daerah toleransinya H dengan
kualitas toleransi 8.
Penyelesaian:
Pasangan yang dimaksud adalah 25H8/d9, mengikuti sistem basis lubang. Untuk
diameter 25 mm menurut tabel tingkatan diameter nominal adalah terletak antara
tingkatan 18 mm dan 30 mm. Maka dari itu, harga D = = 23.2 mm. Toleransi standar i
:
Untuk kualitas 8 atau IT 8 maka harga toleransi standarnya = 25 i , Jadi:
IT 8 = 25i
= 25 x 1.3
= 33 mikrometer
Untuk lubang dengan daerah toleransi H penyimpangan fundamentalnya = 0. Dengan
demikian harga-harga batas lubang.
ei = 25 + 0 = 25 mm,
es = IT8 = 33 mikrometer
Untuk poros dengan kualitas toleransi 9 atau IT 9 toleransi standarnya :
40 i = 40 x 1.3 = 52 mikrometer.
Karena daerah toleransinya d maka menurut tabel 8 penyimpangan fundamentalnya:
= - 16 D0,44
= - 16 x (23.2)0.44
= - 65 mikrometer.
Maka harga-harga batas poros adalah 25 – 0.065 = 24. 935 mm dan 25 – (0.065 +
0.052) = 24. 883 mm. Jadi, toleransi poros = (24.935 – 24.883) mm = 0.052 mm.

2. Jika diketahui suatu benda kerja mempunyai dimensi ukuran dengan diameter 25 mm,
berapakah kualitas toleransinya menurut IT 8, IT 5 dan IT 6 ?
Jawab :

IT 8 dengan batas toleransi (µm) sebesar 25 x i


3
𝑖 = 0,45 𝑥 √𝐷 + 0,001𝐷
3
𝑖 = 0,45 𝑥 √25 + 0,00125
i =1,3158+0,025=1,3408 µm

Sehingga diperoleh :

IT 8 = 25 x i = 25 x 1,3408 = 33,5 µm = 0,0335 mm

IT 5 dengan Batas Toleransi (µm) sebesar 7 x i


3
𝑖 = 0,45 𝑥 √𝐷 + 0,001𝐷
3
𝑖 = 0,45 𝑥 √25 + 0,00125
i =1,3158+0,025=1,3408 µm
Sehingga diperoleh :

IT 5 = 7 x i = 7 x 1,3408 = 9,39 µm = 0,00939 mm

IT 6 dengan Batas Toleransi (µm) sebesar 10 x i

3
𝑖 = 0,45 𝑥 √𝐷 + 0,001𝐷
3
𝑖 = 0,45 𝑥 √25 + 0,00125
i =1,3158+0,025=1,3408 µm

sehingga diperoleh ukuran IT 6 adalah :

IT 6 = 10 x i

= 10 x 1,3408 µm

= 13,408 µm

D. Melakukan Proses Pembubutan Benda yang Berpasangan


Pada pembahasan berikut, akan diuraikan bagaimana melakukan proses pembubutan
sederhana pada komponen yang berpasangan. Komponen ini merupakan komponen
berbasis lubang. Dengan menerapkan besarnya toleransi yang ada pada gambar, berikut
langkah-langkah proses pembubutan engsel sederhana berikut.
Gambar …..Gambar engsel
Sumber : https://1.bp.blogspot.com/-RG62mB8-
ZUI/VjK5QyV8rTI/AAAAAAAAADg/MIU_xySzYzk/s1600/Engsel%2B1.BMP
Langkah yang dilakukan untuk membuat engsel sesuai gambar tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Persiapkan mesin bubut dan peralatan pendukung lain yaitu: jangka sorong
dengan ketelitian min 0,05 mm, pahat bubut rata, cekam bor untuk kepala lepas,
center bor, mata bor Ø 6 mm dan Ø 14 mm.
b. Cekamlah benda kerja sedemikian rupa agar dapat mengerjakan sisi kanan benda
kerja sepanjang 25 mm untuk Ø14. Penjepitan benda kerja diupayakan
center/tidak oleng dan harus mempertimbangkan jarak bebas terhadap gerakan
pahat agar tidak menabrak cekam mesin bubut pada saat proses pengerjaan.
c. Pasanglah pahat bubut sedemikian rupa agar posisi ujung sisi sayat setinggi titik
center benda kerja dan pengaturan posisi eretan atas menyesuaikan agar ujung sisi
sayat pahat bubut dapat menjangkau jarak pembubutan yang diinginkan tetapi
masih aman terhadap tabrakan dengan cekam mesin
d. Periksa dan posisikan tuas pengatur putaran sesuai hasil perhitungan rpm benda
kerja, demikian juga tuas pengatur gerakan feeding mesin sesuai untuk
memperoleh kualitas permukaan yang diinginkan.
e. Lakukan pembubutan muka, sebaiknya cukup dilakukan dalam 1 kali penyayatan
saja sampai permukaan yang rata. Penyayatan dapat dilakukan secara manual
maupun dengan menggerakan eretan atas secara otomatis.
f. Selanjutnya lakukan proses pembubutan memanjang sepanjang 24 mm sehingga
diperoleh ukurn diameter 14 mm. Perlu diperhatikan bahwa dalam gambar kerja
telah dicantumkan toleransi umumnya adalah sebesar 0,1 mm. Artinya Karena
benda ini berbasis lubang, maka ukuran tidak boleh lebih besar dibandingkan
dengan diameter lubang yang akan dibuat. Sehingga berdasarkan toleransi yang
ada maka diameter yang dibubut adalah 13,9 mm.
g. Setelah diukur dan telah diperoleh ukuran tersebut, lakukan chamfer pada
ujungnya.
h. Berikutnya benda kerja dibalik untuk dilakukan proses pembubutan pada bagian
yang lain. Lihat gambar, lakukan proses pembubutan muka sehingga diperoleh
ukuran yang tepat sesuai gambar.
i. Berikutnya lakukan pembubutan rata sehingga diperoleh ukuran yang sesuai
dengan gambar.
j. Lakukan chamfer sesuai gambar kerja.
k. Setelah benda pertama selesai, maka dilanjutkan dengan benda ke dua.
l. Benda kedua ini adalah basis lubang, sehingga ukuran ini yang dijadikan patokan.
Langkah-langkahnya adalah lakukan pencekaman benda kerja kedua, selanjutnya
lakukan pembubutan muka dan pembubutan memanjang sehingga dicaai ukuran
sesuai gambar kerja.
m. Lakukan chamfer pada ujungnya. Berikutnya lakukan pengeboran dengan
menggunakan bor center.
n. Baliklah benda kerja untuk membubut bagian ujung lainnya. Lakukan proses
pembubutan muka dan memanjang sampai ukuran yang sesuai gambar kerja.
Lakukan proses chamfer pada ujung benda kerja.
o. Lakukan proses pengeboran dengan diawali proses pengeboran dengan
menggunakan bor center dilanjutkan dengan pengeboran bertahap diawali dengan
bor diameter 6 mm dan dilanjutkan dengan bor diameter 14 mm. Perhatikan
kedalaman pengeboran. Setelah dilakukan proses pengeboran, lakukan proses
chamfer pada ujung pengeboran.
p. Langkah terakhir adalah memasang kedua komponen benda menjadi komponen
engsel pintu.