Anda di halaman 1dari 105

SKRIPSI

PERBEDAAN ACTIVE CYCLE OF BREATHING TECHNIQUE (ACBT) DAN PURSED LIPS BREATHING TECHNIQUE (PLBT) TERHADAP FREKUENSI NAFAS PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI POLI PARU RSUD DR. ACHMAD MUCHTAR BUKITTINGGI TAHUN 2018

DI POLI PARU RSUD DR. ACHMAD MUCHTAR BUKITTINGGI TAHUN 2018 Oleh : ISNAINI PUTRI SY 14103084105016

Oleh :

ISNAINI PUTRI SY

14103084105016

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PERINTIS PADANG

TAHUN 2018

SKRIPSI

PERBEDAAN ACTIVE CYCLE OF BREATHING TECHNIQUE (ACBT) DAN PURSED LIPS BREATHING TECHNIQUE (PLBT) TERHADAP FREKUENSI NAFAS PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI POLI PARU RSUD DR. ACHMAD MUCHTAR BUKITTINGGI TAHUN 2018

Penelitian Keperawatan Medikal Bedah Diajukan Sebagau Salah Satu Syarat Untuk Melakukan Penelitian Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Perintis Padang

Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Perintis Padang Oleh : ISNAINI PUTRI SY 14103084105016 PROGRAM STUDI SARJANA

Oleh :

ISNAINI PUTRI SY

14103084105016

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PERINTIS PADANG

TAHUN 2018

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas Diri

Nama

: Isnaini Putri SY

Umur

: 21 Tahun

Tempat, Tanggal Lahir

: Bukittinggi, 12 Oktober 1996

Agama

: Islam

Alamat

: Kayurantingan, Bukik Batabuah

Kewarganegaraan

: Indonesia

Jumlah Saudara

: 4 orang

Anak Ke

: 2

B. Identitas Orangtua

Nama Ayah

: Syafrizal, S.Pd

Pekerjaan Ayah

: PNS

Nama Ibu

: Yunarsih

Pekerjaan Ibu

: PNS

Alamat

: Kayurantingan, Bukik Batabuah

C. Riwayat Pendidikan

2002-2003

: TK Negeri Pembina

2003-2009

: SD Negeri 12 Bukik Cangang

2009-2011

: SMP Negeri 1 Bukittinggi

2011-2014

: SMA Negeri 5 Bukittinggi

2014-2018

: Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Perintis

Padang

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN STIKES PERINTIS PADANG

SKRIPSI, JULI 2018

ISNAINI PUTRI SY

14103084105016

PERBEDAANACTIVE CYCLE OFBREATHING TECHNIQUE (ACBT) DAN PURSEDLIPS BREATHING TECHNIQUE (PLBT) TERHADAP FREKUENSI NAFAS PASIENPENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI POLI PARU RSUD DR. ACHMAD MUCHTAR BUKITTINGGI TAHUN 2018

(Ix + vi Bab + 78 Halaman + 2 Skema + 2 Tabel + 6 Gambar + 9 Lampiran)

ABSTRAK

Latar belakang : Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) adalah penyakit paru kronis yang ditandai oleh terjadinya obstruksi atau hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversible atau reversible parsial. Penatalaksanaan keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien PPOK adalah latihan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips breathing technique (PLBT). Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips breathing technique (PLBT) terhadap frekuensi nafas pasien PPOK di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun 2018. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan metode quasi experimental study dengan rancangan penelitian two group pre test-post test design. Sampel pada penelitian ini berjumlah 20 orang dengan teknik quota sampling.Hasil : pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan frekuensi napas pasien PPOK setelah diberikan latihan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips breathing technique (PLBT). Dengan hasil pada latihan active cycle of breathing technique (ACBT) terjadi penurunan 3,69 dan pada latihan pursed lips breathing technique (PLBT) terjadi penurunan 2,25, dengan p value 0,000 . Kesimpulan dan saran : disimpulkan bahwa latihan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips breathing technique (PLBT) dapat menurunkan frekuensi napas pasien PPOK dan latihan active cycle of breathing technique (ACBT) lebih berpengaruh untuk menurunkan frekunsi napas. Oleh karena itu, disarankan hasil penelitian ini dapat diaplikasikan oleh perawat di rumah sakit untuk mengurangi keluhan sesak napas pasien.

Kata kunci : PPOK, Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT), Pursed Lips Breathing Technique (PLBT)

Daftar bacaan : 32 (2000-2016)

DEGREE OF NURSING STUDY STIKES PERINTIS PADANG

SCIENTIFIC PAPER, JULY 2018

ISNAINI PUTRI SY

14103084105016

AND

PURSEDLIPS BREATHING TECHNIQUE (PLBT) TO THE BREATHING FREQUENCY OF

POLYCLINIC

BUKITTINGGI 2018

DIFFERENCE OF

ACTIVE

CYCLE

OFBREATHING

TECHNIQUE

(ACBT)

COPD

PATIENT

INPULMONARY

ACHMAD

MUCHTAR

HOSPITAL

(Ix + vi Chapters + 78 Pages + 2 Schemes + 2 Tables + 6 Pictures + 9 Attachments)

ABSTRACT

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a chronic lung disease characterized by obstruction or airflow obstruction in progressive nonreversible or partial reversible airways. Nursing management that can be done in COPD patients are active cycle of breathing technique (ACBT) and pursed lips breathing technique (PLBT). This research aims to observe the difference of active cycle of breathing technique (ACBT) and pursed lips breathing technique (PLBT) toward breathing frequency of COPD patient in Pulmonary Polyclinic Achmad Muchtar hospital Bukittinggi 2018. This research is quantitative research, with quasi experimental study method using two group pre-test-post testdesign. The sample in this research amounted to 20 people with quota sampling technique. In this research showedthat there was a decreasing ofbreathing frequency in COPD patients after being given active cycle of breathing technique (ACBT) and pursed lips breathing technique (PLBT). Based on the result of active cycle of breathing technique (ACBT) and pursed lips breathing technique (PLBT), it was counted decreasing number for 3,69 and 2,25 respectively, for 0,000 p value. It was concluded that active cycle of breathing technique (ACBT) and pursed lips breathing technique (PLBT) technique can decrease the respiratory frequency of COPD patients where active cycle of breathing technique (ACBT) exercise is more influented to decrease breathing frequency. Furthermore, it is suggested that the results of this research can be applied by nurses at the hospital to reduce patients complaints of breathing shortness.

Keywords

: COPD, Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT), Pursed Lips Breathing

Technique (PLBT)

Reading List

: 32 (2000-2016)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatu’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatu’

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji dan syukur

kehadiran Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan judul “Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT) dan

Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien Penyakit

Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi

Tahun 2018”.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang telah memberi arahan

dan masukan yang membangun, demi terselesainya penulisan skripsi ini. Oleh karena itu,

peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Bapak Yendrizal Jafri, S.Kp, M.Biomed selaku Ketua STIKes Perintis Padang.

2. Ibu Ns. Ida Suryati, M.Kep selaku Ka.Prodi Sarjana Keperawatan STIKes Perintis

Padang dan sebagai pembimbing I, yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam

memberikan

bimbingan

dan

saran

kepada

peneliti

sehingga

skripsi

ini

dapat

terselesaikan.

3. Bapak Def Primal, S.Kep, M.Biomed, PA selaku Pembimbung II yang juga telah

meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan saran kepada

peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

4. Yang teristimewa kepada keluarga tersayang yang telah membesarkan, mendidik dan

mendoakanku, memberi dukungan moral maupun materil. Karena dengan ketulusan

cinta,

kasih,

sayang,

kepedulian

dan

perhatian

dari

mereka

saya

mampu

menyelesaikan pendidikan dan mampu menyelesaikan skripsi ini.

5.

Kepada rekan-rekan seperjuangan Sarjana Keperawatan yang telah memberikan

dorongan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini bukanlah

suatu kesengajaan melainkan karena keterbatasan ilmu dan kemampuan peneliti. Akhir kata

kepada-Nya jugalah kita berserah diri. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

khususnya dibidang keperawatan. Amin.

Bukittinggi, Juli 2018

Peneliti

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORIGINALITAS HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP ABSTRAK KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR SKEMA

vi

DAFTAR TABEL

vii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

ix

1.1 Latar Belakang Masalah

1

1.2 Rumusan Masalah

8

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan

Umum

8

1.3.2 Tujuan

Khusus

8

1.4 Manfaat Penelitian

9

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

10

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Konsep PPOK

2.1.1 Definisi

12

2.1.2 Etiologi

13

2.1.3 Patofisiologi

15

2.1.4 Manifestasi Klinis

17

2.1.5 Klasifikasi

19

2.1.6 Komplikasi

20

2.2 Konsep Sistem Pernapasan

2.2.1 Definisi

20

2.2.2 Anatomi

21

2.2.3 Fisiologi

24

2.2.4 Pola Pernapasan

25

2.2.5 Bunyi Pernapasan

27

2.2.6 Frekuensi Pernapasan

29

2.3 Konsep Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT)

2.3.1 Definisi

31

2.3.2 Fisiologi

31

2.3.3 Manfaat

33

2.3.4 Prosedur

33

2.4 Konsep Pursed Lips Breathing Technique (PLBT)

2.4.2

Fisiologi

35

 

2.4.3

Manfaat

36

2.4.3

Prosedur

37

2.5 Penelitian Terkait

39

2.6 Keranga Teori

40

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

41

3.2 Definisi Operasional

43

3.3 Hipotesis

 

44

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

46

4.2 Tempat dan Waktu penelitian

 

4.2.1 Lokasi Penelitian

47

4.2.2 Waktu Penelitian

47

4.3 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

 

4.3.1 Populasi

48

 

4.3.2 Sampel

48

 

4.3.3 Sampling

49

4.4 Instrumen Penelitian

49

4.5 Pengumpulan Data

 

4.5.1 Metode Pengumpulan Data

50

4.5.2 Prosedur Pengumpulan Data

50

4.6 Teknik Pengolahan Data

51

4.7 Analisa Data

 
 

4.7.1 Analisa Univariat

53

4.7.2 Analisa Bivariat

53

4.8 Etika Penelitian

 

4.8.1 Self Determinant

54

4.8.2 Anonimity

54

4.8.3 Confidentiality

54

4.8.4 Informed Consent

54

4.8.5 Beneficience

55

 

4.8.6 Justice

55

 

4.8.7 Non Maleficience

55

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Hasil penelitian

5.1.1 Analisis Normalitas

57

5.1.2 Analisis Univariat

58

5.1.3 Analisis Bivariat

60

5.2

Pembahasan

5.2.1 Analisis Univariat

62

5.2.2 Analisis Bivariat

70

BAB VI PENUTUP

6.2 Saran

77

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR SKEMA

Skema 2.6 Kerangka Teori

 

40

Skema

3.1

Kerangka

Konsep

42

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

44

Tabel 4.1 Rancangan Penelitian

47

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

13

Gambar 2.2

20

Gambar 2.3

21

Gambar 2.4

23

Gambar 2.5

37

Gambar 2.6

38

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 2

Lembar Persetujuan Responden

Lampiran 3

Lembar Observasi Penelitian

Lampiran 4

Prosedur Pelaksanaan (SOP) ACBT dan PLBT

Lampiran 5

Surat Izin Pengambilan Data dan Penelitian

Lampiran 6

Surat Balasan Izin Pengambilan Data dan Penelitian

Lampiran 7

Surat Balasan Penelitian dari RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi

Lampiran 8

Daftar Hadir Penelitian

Lampiran 9

Lembar Konsultasi Bimbingan

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Oksigen merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi tubuh. Apabila lebih dari 4 menit

seseorang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak

dapat diperbaiki dan bisa menyebabkan kematian. Tubuh membutuhkan asupan oksigen yang

konstan

untuk

menyokong

pernapasan

(Black&Hawk,2014).

Pernapasan

(respirasi)

merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran CO2 dan penggunaan energi yang

dihasilkan. Selain itu, respirasi juga diartikan sebagai pertukaran gas antara sel dengan

lingkungannya. Bila terdapat gangguan pada fungsional sistem pernapasan, maka pemenuhan

kebutuhan oksigen juga akan mengalami gangguan. Dan dapat menyebabkan terjadinya

peradangan atau sumbatan saluran napas. Sehingga oksigen yang didistribusikan darah akan

menurun, salah satu gangguannya adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). (Gordon,

2010).

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan salah satu penyakit yang memilki beban

kesehatan tertinggi. World Health Organization (WHO) dalam Global

Status

of

Non-

communicable Diseases tahun 2010 mengkategorikan PPOK ke dalam empat besar penyakit

tidak menular yang memiliki angka kematian yang tinggi. World Health Organization

(WHO) melaporkan terdapat 600 juta orang menderita PPOK di dunia dengan 65 juta orang

menderita PPOK derajat sedang hingga berat. Pada tahun 2002, PPOK adalah penyebab

utama kematian kelima di dunia dan diperkirakan menjadi penyebab utama ketiga kematian

di seluruh dunia tahun 2030. Lebih dari 3 juta orang meninggal karena

PPOK pada

tahun

2005, yang setara dengan 5% dari semua kematian secara global (WHO, 2015).

The

Global

Initiative

for

Chronic

Obstructive

Lung

Disease

(GOLD)

tahun

2015

mendefinisikan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sebagai penyakit respirasi kronis

yang dapat dicegah dan dapat diobati, ditandai adanya hambatan aliran udara yang persisten

dan biasanya bersifat progresif serta berhubungan dengan

peningkatan

respons

inflamasi

kronis saluran napas dan paru-paru terhadap partikel atau gas yang beracun yang disebabkan

oleh gas atau partikel iritan tertentu. Data prevalensi PPOK yang ada saat ini bervariasi

berdasarkan metode survei, kriteria diagnostik serta pendekatan analisis yang dilakukan pada

setiap studi. Prevalensi kejadian PPOK di dunia rata-rata berkisar 3-11% (GOLD, 2015).

Pada

tahun

2013, di Amerika Serikat PPOK adalah

penyebab utama kematian ketiga dan

lebih dari 11 juta orang telah didiagnosis dengan PPOK (American Lung Association, 2015).

Berdasarkan data dari studi PLATINO, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lima

negara di Amerika Latin (Brasil, Meksiko, Uruguay, Chili dan Venezuela) didapatkan

prevalensi PPOK sebesar 14,3% dengan perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 18,9%

dan 11,3%. Pada studi BOLD, penelitian serupa yang dilakukan pada 12 negara kombinasi

prevalensi PPOK adalah 10,1%, prevalensi pada laki-laki lebih tinggi yaitu 11,8% dan 8,5%

pada perempuan.

PPOK merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang menjadi

masalah

kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup

dan semakin tingginya pajanan faktor resiko (Persatuan

Dokter Paru Indonesia, 2011).

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 pada tahun 2007, PPOK menduduki

peringkat kedua penyakit tidak menular. Berdasarkan sudut pandang epidemiologi, laki-laki

lebih

berisiko

terkena PPOK dibandingkan

dengan

wanita karena kebiasaan

merokok

(Mannino & Buist,2007). Data di Indonesia berdasarkan RISKESDAS (2013)

pada tahun

2007 angka kematian akibat PPOK menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab kematian di

Indonesia dengan prevalensi PPOK adalah sebesar 3,7%. Angka kejadian penyakit ini

meningkat dengan bertambahnya usia dan lebih tingi pada laki-laki sebesar (4,2%) dibanding

perempuan sebesar (3,3%).

Propinsi Sumatera Barat berada pada urutan ke-23 berdasarkan jumlah penderita PPOK

di Indonesia, dengan prevalensi sebesar 3,0% (RISKESDAS, 2013). Berdasarkan jumlah

kunjungan di Rumah Sakit Khusus Paru Sumatera Barat memiliki jumlah penderita PPOK

cukup banyak dengan jumlah kunjungan sebanyak 2.284 dan kunjungan tersebut menempati

kunjungan ke-2 terbanyak setelah asma bronkial untuk penyakit paru non infeksi. Sedangkan

di RS Dr. Achmad Muchtar jumlah kunjungan pada tahun 2015 sebanyak 1.566 dan pada

tahun 2016 sebanyak 2.314. Disini terlihat terjadi peningkatan jumlah kunjungan.

Gejala yang paling sering terjadi pada pasien PPOK adalah sesak napas. Sesak napas juga

biasanya menjadi keluhan utama pada pasien PPOK karena bersifat progresif, persisten dan

bertambah berat dengan adanya aktivitas (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011). Sesak

napas terjadi karena penurunan pada Forced Expiratory Volume (FEV1), volume tidal dan

distribusi oksigen. Pasien biasanya mendefinisikan sesak napas sebagai peningkatan usaha

untuk bernapas, rasa berat saat bernapas, gasping dan air hunger (Tabrani, 2010). Gambaran

khas PPOK adalah adanya obstruksi saluran napas yang sangat bervariasi, mulai dari tanpa

gejala, gejala ringan, hingga berat. Sehingga menyebabkan keterbatasan dalam

aktivitas

sehari-hari penderita yang bergantung pada beratnya sesak, semakin berat derajat sesak

napas, maka semakin sulit penderita melakukan aktivitas (Zamzam et al; 2012). Sesak nafas

ditandai dengan pola pernafasan yang tidak teratur dan frekuensi pernafasan yang meningkat.

Frekuensi pernafasannya yaitu >24 kali/menit. Untuk mengatasi keluhan sesak napas pasien,

ada

intervensi

farmakologis

dan

non

farmakologis

yang

biasa

dilakukan.

Intervensi

farmakologis diantaranya yaitu pemasangan oksigen dan pemberian obat. Kedua hal tersebut

biasa didapatkan di rumah sakit, namun jika pasien mengalami sesak saat dirumah oksigen

dan obat tidak selalu ada dirumah. Sedangkan intervensi non farmakologis yang biasa

diberikan yaitu latihan teknik napas dalam, mengatur posisi semi fowler dan minum air

hangat. Hal tersebut tidak cukup untuk mengurangi keluhan sesak napas pasien PPOK karena

latihan teknik napas dalam hanya berfungsi untuk mengatur pernapasan agar teratur tapi tidak

bisa menurunkan keluhan sesak, begitu juga dengan posisi semi fowler dan minum air hangat

harus dilakukan terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Maka dari itu,

dibutuhkan intervensi non farmakologis lain untuk mengatasi keluhan sesak nafas pasien.

Intervensi non farmakologis atau terapi yang dapat dilakukan yaitu latihan teknik pernapasan

siklus aktif dan teknik pernapasan bibir. Latihan teknik pernapasan siklus aktif atau active

cycle of breathing technique merupakan salah satu latihan

pernapasan untuk mengontrol

pernapasan agar menghasilkan pola pernapasan yang tenang dan ritmis sehingga menjaga

kinerja otot-otot pernapasan dan merangsang keluarnya sputum untuk membuka jalan napas

(Guyton dan Hall, 2010). Latihan pernapasan ini dapat mengkoordinasikan dan dapat melatih

pengembangan (compliance) dan pengempisan (elastisitas) paru secara optimal (Pyor and

Webber, 2010), serta pengaliran udara dari dalam paru menuju keluar saluran pernapasan

secara maksimal

(Falling,

2009).

Latihan

pernapasan

siklus

aktif ini

berfungsi

untuk

membersihkan sekret, mempertahankan fungsi paru dan meningkatkan aliran ekspirasi

maksimum.

Hasil

penelitian

yang

dilakukan

Holland

(2004)

dalam

Elida

(2006)

menunjukkan pasien dengan cyctic fibrosis paru didapatkan hasil yang signifikan terhadap

peningkatan aliran ekspirasi maksimum dengan teknik pernapasan active cycle of breathing.

Serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan Tintin Sukartini (2008) menunjukkan pasien

dengan TB Paru didapatkan hasil signifikan terhadap keluhan sesak nafas dengan teknik

active cycle of breathing.

Selain latihan teknik active cycle of breathing, latihan teknik pernafasan lain yang dapat

dilakukan yaitu latihan teknik pernapasan pursed lips. Pursed lips breathing

adalah latihan

pernapasan dengan menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan udara dengan cara

bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan dengan waktu ekshalasi lebih di perpanjang. Terapi

rehabilitasi paru-paru dengan pursed lips breathing ini adalah cara yang sangat mudah

dilakukan,

tanpa

memerlukan

alat

bantu

apapun

dan

juga

tanpa

efek

negatif

seperti

pemakaian obat-obatan (Smeltzer & Bare, 2013). Tujuan dari pursed lips breathing ini adalah

untuk membantu klien

memperbaiki transport oksigen, menginduksi pola napas lambat dan

dalam, membantu pasien untuk mengontrol pernapasan, mencegah kolaps dan melatih otot-

otot ekspirasi untuk memperpanjang ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama

ekspirasi dan mengurangi jumlah udara yang terjebak (Smeltzer & Bare, 2013). Artikel yang

dikemukakan

oleh Fregonezi, G.A. de F, et al (2004), mengatakan bahwa pursed lips

breathing ini memiliki banyak

manfaat sebagai salah satu fisioterapi, seperti untuk pasien

dengan PPOK, asma, gangguan neuromuskular atau pun pada pasien yang mengalami

gangguan respirasi lainya seperti emfisema. Hasil penelitian yang dilakukan Budiono (2017)

dalam

menunjukkan

pasien

dengan

PPOK

didapatkan

hasil

yang

signifikan

terhadap

peningkatan saturasi oksigen dengan teknik pursed lips breathing. Serupa dengan hasil

penelitian yang dilakukan Laila Widya Astuti (2014) menunjukkan pasien dengan Emfisema

didapatkan hasil signifikan terhadap pola pernafasan dengan teknik pursed lips breathing.

Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada 3 orang pasien PPOK di Poli Paru RSUD Dr.

Achmad

Muchtar

Bukittinggi,

mengatakan

bahwa

mengalami

sesak

napas.

Untuk

mengurangi keluhan sesak napas, biasanya pasien meminum obat sesak nafas, memakai

inhaler, minum air hangat, mengatur posisi semi fowler dan melakukan latihan teknik napas

dalam. Namun intervensi non farmakologis yang mereka ketahui hanyalah minum air hangat,

mengatur posisi semi fowler dan melakukan latihan teknik napas dalam. Namun hal tersebut

tidak terlalu mengurangi keluhan sesak nafas pasien. Sedangkan dari hasil wawancara dengan

3 orang perawat di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi, perawat pernah

memberikan penyuluhan dan mengajarkan latihan teknik nafas dalam, namun tidak pernah

mengajarkan latihan pernapasan lain untuk mengurangi keluhan sesak nafas pasien. Latihan

teknik napas dalam tidak terlalu mengurangi keluhan sesak napas pasien karena latihan napas

dalam

harus

dilakukan

berkali-kali

untuk

mendapatkan

hasil

yang

maksimal

untuk

mengurangi keluhan sesak napas pasien PPOK. Namun, petugas Poli Paru mengatakan tidak

tau dan belum pernah melakukan intervensi latihan ACBT dan PLBT. Dari masalah di atas

peneliti tertarik meneliti tentang “Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT)

dan Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien Penyakit

Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun

2018”

1.2 Rumusan Masalah

Dilihat dari permasalahan diatas peneliti merumuskan masalah bahwa teknik bernafas active

cycle dan pursed lips breathing terhadap frekuensi nafas pasien PPOK dari latar belakang

diatas dapat dirumuskan tentang Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT)

dan Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien Penyakit

Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun

2018”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahui perbedaan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips

breathing technique (PLBT) terhadap frekuensi nafas pasien PPOK di Poli Paru

RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun 2018.

1.3.2

Tujuan Khusus

a. Diketahui

rata-rata

frekuensi

pernapasan

sebelum

dilakukan

active cycle of

breathing technique

 

b. Diketahui

rata-rata

frekuensi

pernapasan

setelah

dilakukan

active

cycle

of

breathing technique

c. Diketahui rata-rata frekuensi pernapasan sebelum dilakukan pursed lips breathing

technique

d. Diketahui rata-rata frekuensi pernapasan setelah dilakukan pursed lips breathing

technique

e. Diketahui perbedaan rata-rata active cycle of breathing technique (ACBT) dan

pursed lips breathing technique (PLBT)

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat bagi peneliti

Diketahui Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT) dan Pursed Lips

Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien PPOK di Poli Paru

RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun 2018 dan hasil penelitian ini dapat

diaplikasikan oleh peneliti setelah memasuki dunia kerja.

1.4.2 Manfaat bagi tenaga kesehatan

Hasil aplikasi ini diharapkan akan digunakan oleh perawat di rumah sakit untuk

mengajarkan pasien teknik bernafas siklus aktif dan teknik bernafas bibir karena

teknik pernapasan siklus aktif dan teknik pernapasan bibir dapat membantu pasien

untuk mengontrol pernapasan, mencegah kolaps, melatih otot-otot ekspirasi untuk

memperpanjang ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama ekspirasi dan

mengurangi jumlah udara yang terjebak serta dapat mempertahankan fungsi paru

mengkoordinasikan dan dapat melatih pengembangan (compliance) dan pengempisan

(elastisitas)

paru

secara

optimal

yang

nantinya

dapat

menurunkan

frekuensi

pernafasan dan mengurangi keluhan sesak nafas.

 

1.4.3 Manfaat bagi institusi pendidikan

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

akan

menjadi

bahan

masukan

bagi

pendidikan

keperawatan untuk memberikan materi tentang intervensi non farmakologis yang

dapat diberikan pada pasien PPOK.

1.4.4 Manfaat bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi/acuan penelitian yang berkaitan

dengan perbedaan active cycle of breathing technique (ACBT) dan pursed lips

breathing technique (PLBT) terhadap frekuensi nafas.

1.5 Ruang Lingkup

Penelitian ini membahas tentang Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT)

dan Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien Penyakit

Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun

2018. Variabel independen yang diteliti adalah active cycle of breathing technique (ACBT)

dan pursed lips breathing technique (PLBT) sedangkan variabel dependen yang diteliti

adalah frekuensi nafas pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode

Quasi experiment study yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang

timbul sebagai akibat dari adanya latihan pernapasan siklus aktif dan latihan pernapasan

bibir. Sedangkan jenis rancangan yang digunakan two group pretest-postest design yaitu dua

kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi

setelah intervensi. Pada penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melakukan (pre test) pada

kelompok

pertama

yaitu

menghitung

frekuensi

pernapasan

pada

responden

kemudian

memberikan intervensi kepada responden berupa latihan teknik bernapas active cycle.

Selanjutnya dilakukan pengukuran frekuensi pernapasan (post test). Pada kelompok kedua,

yaitu

dengan

memberikan

menghitung

frekuensi

pernapasan

intervensi

kepada

responden

berupa

pada

responden

latihan

teknik

(pre

test).

Kemudian

bernapas

pursed

lips.

Selanjutnya dilakukan pengukuran frekuensi pernapasan (post test). Pada penelitian ini,

peneliti menggunakan lembar prosedur kerja active cycle of breathing technique (ACBT) dan

pursed lips breathing technique (PLBT) serta lembar obsevasi frekuensi nafas sebagai

instrumen penelitian. Penelitian ini dilakukan pada Januari-Juli 2018. Penelitian ini dilakukan

di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi.

2.1 Konsep PPOK

2.1.1

Definisi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Paru Obstruksi Kronik adalah kelainan dengan klasifikasi yang luas,

termasuk bronkitis, brokiektasis, emfisema dan asma. Ini merupakan kondisi yang

tidak dapat pulih yang berkaitan dengan dispnea pada aktivitas fisik dan mengurangi

aliran udara (Suzanne C. Smeltzer, 2001).

Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan sekumpulan penyakit paru yang

berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara

sebagai gambaraan patofisiologi utamanya. Bronkitis kronis, emfisema paru dan asma

bronkial membentuk satu kesatuan yang disebut Chronic Obstructive Pulmonary

Disease/COPD (Sylvia Anderson Price, 2005).

Penyakit Paru Obstruksi Kronik adalah sejumlah gangguan yang mempengaruhi

pergerakan udara dari dan ke luar paru. Gangguan yang penting adalah bronkitis

obstruktif, efisema dan asma bronkial (Muttaqin, 2008).

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease

(COPD) adalah penyakit paru kronis yang ditandai oleh terjadinya obstruksi atau

hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversible atau

reversible parsial. PPOK meliputi bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan

keduanya. Bronkitis kronik yaitu suatu kelainan saluran pernapasan yang digejalai

oleh batuk berdahak yang kronik selama minimal 3 bulan selama setahun, minimal 2

tahun berturut-turut dan gejala tersebut bukan disebabkan oleh penyakit lain.

Sedangkan emfisema adalah pelebaran jalan udara bagian distal dari bronkiolus

terminal dan disertai dengan kerusakan pada dinding alveoli (Perhimpunan Dokter

Paru Indonesia, 2011).

dinding alveoli (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011). Gambar 2.1 Paru-paru normal dan paru-paru penderita PPOK

Gambar 2.1 Paru-paru normal dan paru-paru penderita PPOK

2.1.2

Etiologi

Menurut Zullies (2016), ada beberapa penyebab utama berkembangnya PPOK yang

dibedakan menjadi faktor lingkungan dan faktor resiko.

a. Faktor lingkungan

1. Merokok

Merokok merupakan penyebab utama terjadinya PPOK, dengan resiko 30 kali

lebih besar pada perokok dibanding dengan bukan perokok. Namun, perokok

pasif (tidak merokok tetapi sering terkena asap rokok) juga beresiko menderita

PPOK.

2. Pekerjaan

Para pekerja tambang emas atau batu bara, industri gelas dan keramik yang

terpapar debu silika atau pekerja yang terpapar debu katun atau debu gandum,

toluene diisosianat dan asbes, mempunyai resiko yang lebih besar dari pada

yang bekerja di tempat selain yang disebutkan diatas.

3.

Polusi udara

Pasien yang mempunyai disfungsi paru akan semakin memburuk gejalanya

dengan adanya polusi udara. Polusi seperti asap pabrik, asap kendaraan

bermotor ataupun asap dapur.

4. Infeksi

Adanya kolonisasi bakteri menyebabkan peningkatan kejadian inflamasi yang

dapat diukur dari peningkatan jumlah sputum, peningkatan eksaserbasi dan

percepatan penurunan fungsi paru, yang semua ini dapat meningkatkan resiko

kejadian PPOK.

b. Faktor resiko

1. Usia

Semakin bertambah usia, semakin besar resiko menderita PPOK. Pasien yang

didiagnosa PPOK sebalum usia 40 tahun, kemungkinan besar mengakami

gangguan genetik berupa defisiensi a1-antitripsin. Namun ini hanya dialami

<1% pasien PPOK.

2. Jenis kelamin

Laki-laki lebih beresiko terkena PPOK daripada wanita, karena kebiasaan

merokok pada pria. Namin ada kecenderungan peningkatan prevalensi PPOK

karena meningkatnya jumlah wanita yang merokok.

3. Adanya gangguan fungsi paru yang sudah terjadi

Adanya gangguan fungsi paru merupakan faktor resiko terjadinya PPOK,

misalnya defisiensi Immunoglobulin A (IgA/hypogammaglobulin) atau infeksi

pada masa kanak-kanak seperti TBC dan brokiektasis.

4. Predisposisi genetik, yaitu defisiensi a1 antitripsin (ATT)

Defisiensi ATT terutama pada kejadian emfisema, yang disebabkan oleh

hilangnya elastisitas jaringan di dalam paru-paru secara progresif karena

adanya ketidakseimbamgan antara ensim proteolitik dan faktor protektif.

2.1.3

Patofisiologi

Obstruksi jalan napas menyebabkan reduksi aliran udara yang beragam tergantung

pada penyakit. Pada bronkitis kronis dan bronkhiolitis, terjadi penumpukan lendir dan

sekresi yang sangat banyak sehinggan menyumbat jalan napas. Pada emfisema,

obstruksi pada pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi akibat kerusakan

dinding alveoli yang disebabkan oleh overekstensi ruang udara dalam paru. Pada

asma, jalan napas bronkial menyempit dan membatasu jumlah udara yang mengalir ke

dalam paru. Protokol pengobatan tertentu digunakan dalam semua kelainan ini, meski

patofisiologi dari masing-masing kelainan ini membutuhkan pendekatan spesifik

(Muttaqin, 2008).

PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan

lingkungan. Merokok, polusi udara dan paparan di tempat kerja (terhadap batubara,

kapas dan padi-padian) merupakan faktor resiko penting yang menunjang terjadinya

penyakit ini. Proses ini dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahun. PPOK juga

ditemukan terjadi pada individu yang tidak mempunyai enzim yang normal untuk

mencegah penghancuran jaringan paru oleh enzim tertentu (Muttaqin, 2008).

PPOK merupakan kelainan dengan kemajuan lambat yang membutuhkan waktu

bertahun-tahun untuk menunjukkan awitan (onset) gejala klinisnya seperti kerusakan

fungsi paru. PPOK sering menjadi simptomatik selama tahun-tahun usia baya, tetapi

insidennya meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Meskipun aspek-aspek fungsi

paru tertentu seperti kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi paksa (FEV) menurun

sejalan dengan peningkatan usia, PPOK dapat memperburuk perubahan fisiologi yang

berkait dengan penuaan dan mengakibatkan obstruksi jalan napas misalnya pada

bronkitis, serta kehilangan daya pengembangan (elastisitas) paru misalnya pada

emfisema. Oleh karena itu, terdapat perubahan tambahan dalam rasio ventilasi-perfusi

pada klien lansia dengan PPOK (Brunner & Suddart, 2002).

PPOK dapat menimbulkan dampak pada penurunan elastisitas dan compliance paru

dan dapat meningkatkan kerja otot pernapasan serta penurunan kemampuan ekspirasi

maksimum (Guyton dan Hall, 2010). Penurunan elastisitas dan compliance paru dapat

pula menyebabkan ventilasi paru yang tidak maksimal dan jika tidak ditangani dengan

maksimal dapat menyebabkan kecacatan paru bahkan atelektasis yang berujung pada

kematian pasien (Mulyono, 2012).

2.1.4 Manifestasi Klinis

Gejala yang paling sering terjadi pada pasien PPOK adalah sesak napas. Sesak napas

juga biasanya menjadi keluhan utama pada pasien PPOK karena bersifat progresif,

persisten dan bertambah berat dengan adanya aktivitas (Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia, 2011). Sesak napas terjadi karena penurunan pada Forced Expiratory

Volume (FEV1), volume tidal dan distribusi oksigen. Pasien biasanya mendefinisikan

sesak napas sebagai peningkatan usaha untuk bernapas, rasa berat saat bernapas,

gasping dan air hunger (Tabrani, 2010). Gambaran

khas

PPOK

adalah

adanya

obstruksi saluran napas yang sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala ringan,

hingga

berat.

Sehingga

menyebabkan

keterbatasan

dalam

aktivitas

sehari-hari

penderita yang bergantung pada beratnya sesak, semakin berat derajat sesak napas,

maka semakin sulit penderita melakukan aktivitas (Zamzam et al; 2012).

Menurut Zullies (2016), ada beberapa manifestasi klinis yang biasa terjadi PPOK

yaitu :

a. Indikator kunci untuk mendiagnosis PPOK

1. Batuk kronis

Terjadi berselang atau setiap hari dan seringkali terjadi sepanjang hari (tidak

seperti asma yang terdapat gejala batuk malam hari).

2. Produksi sputum secara kronis

Semua pola produksi sputum dapat mengindiksi adanya PPOK.

3. Bronkitis akut

Terjadi secara berulang

4. Sesak napas (dipsnea)

Bersifat progresif/sepanjang waktu, terjadi persisten/setiap hari dan bertambah

berat jika beraktivitas atau memburuk jika berolahraga dan memburuk jika

terkena infeksi pernafasan.

5. Riwayat paparan terhadap faktor resiko

Merokok, partikel dan senyawa kimia, asap dapur

b. Gejala klinis PPOK

1. Smoker’s cough

Biasanya diawali sepanjang pagi yang dingin, kemudian berkembang menjadi

sepanjang tahun.

2. Sputum

Biasanya

banyak

dan

lengket

(mucoid),

kekuningan bila terjadi infeksi.

3. Dipsnea

berwarna

kuning,

hijau

atau

Terjadi kesulitan ekspirasi pada saluran pernafasan.

2.1.5

Klasifikasi

GOLD 2015 mengelompokkan pasien PPOK menjadi 4 golongan, sebagai berikut :

a. Pasien kelompok A

Resiko rendah, gejala lebih sedikit GOLD 1 tau GOLD 2, serangan akut 0-1 tahun

dan tanpa hospitalisasi, CAT <10 atau mMRC 0-1.

b. Pasien kelompok B

Resiko rendah, gejala lebih banyak GOLD 1 tau GOLD 2, serangan akut 0-1

tahun dan tanpa hospitalisasi, CAT ≥10 atau mMRC ≥2.

c. Pasien kelompok C

Resiko tinggi, gejala lebih sedikit GOLD 3 tau GOLD 4, serangan akut ≥2x/tahun

atau ≥1 dengan hospitalisasi, CAT < 10 atau mMRC 0-1.

d. Pasien kelompok D

Resiko tinggi, gejala lebih banyak GOLD 3 tau GOLD 4, serangan akut ≥2x/tahun

atau ≥1 dengan hospitalisasi, CAT ≥10 atau mMRC ≥2.

Klasifikasi keparahan keterbatasan aliran udara pada pasien PPOK berdasarkan nilai

FEV1 postbronkodilator (GOLD 2015).

Tingkat

Interpretasi

Nilai FEV1 dan gejala

GOLD 1

Ringan

FEV1 ≥ 80%

GOLD 2

Sedang

50% < FEV1 <80%

GOLD 3

Berat

30% < FEV1 <50%

GOLD 4

Sangat berat

FEV1 <30%

2.1.6

Komplikasi

Menurut Somantri (2008) ada beberapa komplikasi PPOK yaitu :

a. Hipoksemia

b. Asidosis respiratori

c. Infeksi saluran pernapasan

d. Gagal jantung

e. Distrimia jantung

f. Status asmatikus

2.2 Konsep Sistem Pernapasan

2.2.1 Definisi

Status asmatikus 2.2 Konsep Sistem Pernapasan 2.2.1 Definisi Gambar 2.2 Sistem Pernapasan Manusia Sistem pernapasan pada

Gambar 2.2 Sistem Pernapasan Manusia

Sistem pernapasan pada manusia adalah proses menghirup oksigen dari udara serta

mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. Dalam proses pernapasan, oksigen adalah

zat kebutuhan utama. Oksigen untuk pernapasan diperoleh dari udara di lingkungan

sekitar. Alat-alat pernapasan berfungsi sebagai memasukkan udara yang mengandung

oksigen dan mengeluarkan udara yang mengandung karbon dioksida dan uap air.

Pernapasan meliputi 2 proses yaitu :

a. Inspirasi

Yaitu pemasukan udara dari luar ke dalam tubuh melalui alat pernapasan

b. Ekspirasi

Yaitu pengeluaran udara pernapasan dari dalam ke luar tubuh melalui alat

pernapasan.

2.2.2 Anatomi Sistem Pernapasan

Menurut Lyndon (2014) :

a. Sistem pernapasan atas

Pernapasan Menurut Lyndon (2014) : a. Sistem pernapasan atas Gambar 2.3 Saluran Pernapasan Atas Manusia 1.

Gambar 2.3 Saluran Pernapasan Atas Manusia

1.

Hidung

Pada

rongga

hidung

terdapat

kelenjar

mukus

dan

rambut

hidung

yang

berfungsi untuk menyaring udara yang masuk kerongga hidung. Kelenjar

mukus menghasilkan lapisan lendir yang berfungsi untuk menangkap kotoran

halus agar udara yang masuk ke tenggorokan menjadi lebih bersih. Fungsi

rongga

hidung,

yaitu

tempat

masuknya

udara,

penyaring

udara

melalui

rambut-rambut halus dan lendir di dalam hidung dan sebagai indra penciuman.

2. Faring (Tekak)

Faring merupakan persimpangan antara saluran pernapasan (tenggorokan) dan

saluran pencernaan (kerongkongan) yang berfungsi untuk meneruskan udara

yang masuk menuju pangkal tenggorokan.

3. Laring (Pangkal Tenggorokan)

Laring merupakan daerah pangkal tenggorokan, berfungsi sebagai tempat

melekatnya selaput atau pita suara. Pada laring terdapat katup epiglotis yang

otomatis tertutup saat menelan makanan hingga tidak masuk ke saluran

pernapasan. Laringtis (infeksi laring) terjadi bila udara kotor masuk. Gejala

yang lebih parah menyebabkan pembengkakan pita suara hingga suara serak.

b. Saluran pernapasan bawah

pembengkakan pita suara hingga suara serak. b. Saluran pernapasan bawah Gambar 2.4 Saluran Pernapasan Bawah Manusia

Gambar 2.4 Saluran Pernapasan Bawah Manusia

1. Trakea (Batang Tenggorokan)

Trakea terletak di depan kerongkongan dan tersusun atas tulang-tulang rawan

berbentuk cincin. Dinding bagian dalam trakea dilapisi oleh jaringan epitel

berambut (bersilia), yang berfungsi menahan dan mengeluarkan kotoran yang

terbawa oleh udara agar tidak masuk ke paru-paru dan dikeluarkan melalui

bersin.

2. Paru-Paru (Pulmo)

Paru-paru merupakan organ pernapasan yang terletak di dalam rongga dada

dan terdiri atas dua bagian, yaitu paru-paru kanan (terdiri atas tiga lobus) dan

paru-paru kiri (terdiri atas dua lobus). Pada paru-paru terdapat bronkus dan

bronkiolus. Bronkiolus mengalami percabangan yang diujungnya terdapat

gelembung

alveolus.

Alveolus

adalah

gelembung-gelembung

udara

yang

sangat

kecil

dan

banyak,

dan

berfungsi

sebagai

alat

pertukaran

udara

pernapasan CO2 dengan O2 di dalam paru-paru.

2.2.3 Fisiologi Sistem Pernapasan

Oksigen merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi tubuh. Apabila lebih dari 4

menit seseorang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak

yang tidak dapat diperbaiki dan bisa menyebabkan kematian. Tubuh membutuhkan

asupan oksigen yang konstan untuk menyokong pernapasan (Black&Hawk,2014).

Pernapasan (respirasi) merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran CO2 dan

penggunaan energi yang dihasilkan. Selain itu, respirasi juga diartikan sebagai

pertukaran

gas

antara sel dengan

lingkungannya.

Bila terdapat

gangguan

pada

fungsional

sistem

pernapasan,

maka

pemenuhan

kebutuhan

oksigen

juga

akan

mengalami gangguan. Dan dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau sumbatan

saluran napas. Sehingga oksigen yang didistribusikan darah akan menurun.

Fungsi paru-paru yaitu tempat pertukaran oksigen (O2) dari udara menuju ke sel-sel

tubuh dan keluarnya karbondioksida (CO2) dari sel-sel menuju udara bebas.

a. Pernapasan eksternal

Pernapasan

eksternal

adalah

proses

yang

memungkinkan

pertukaran

gas

berlangsung antara udara yang terletak di alveoli dan darah yang bepergian

melalui kapiler. Hal ini dimungkinkan melalui perbedaan tekanan antara oksigen

dan karbon dioksida yang terletak di udara dan oksigen dan karbon dioksida

dalam darah. Sebagai hasil dari ini, oksigen dari udara ditransfer ke darah

sementara karbon dioksida dari darah masuk ke udara. Oksigen yang berguna

kemudian dilakukan ke seluruh tubuh sedangkan karbon dioksida terhalau melalui

pernafasan (Lyndon, 2014).

b. Pernapasan internal

Pernapasan internal merupakan proses yang sama kecuali melibatkan pertukaran

gas antara darah di kapiler dan jaringan tubuh. Sekali lagi, perbedaan tekanan

memungkinkan

oksigen

untuk

meninggalkan

darah

dan

memasuki

jaringan

sementara karbon dioksida tidak sebaliknya (Lyndon, 2014).

2.2.4 Pola pernapasan

Menurut Lyndon (2014) :

a. Tachypnea

Pernapasan dangkal dengan frekuensi lebih dari 24 kali /menit. Proses ini terjadi

karena paru dalam keadaan atelektaksis atau terjadinya emboli.

b. Bradypnea

Penurunan frekuensi pernapasan dengan pola pernapasan yang lambat dan kurang

dari 10 kali/ menit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan peningkatan tekanan

intracranial yang disertai narkotik dan sedative.

c.

Apnea

Merupakan

keadaan

berhentinya

pernafasan.

Keadaan

ini

terjadi

karena

kurangnya tekanan CO2 yang diperluka dalam dara untuk menstimulasi pusat

pernafasan.

d. Hipernea

Pernapasan cepat dan dalam, dapat terjadi selama atau setelah latihan atau akibat

dari nyeri, kecemasan atau asidosis metabolik. Dapat menandakan pasien hipoksia

hipokalsemia pada pasien koma.

e. Pernapasan Kussmaul

Merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada orang

dalam

keadaan

osidosis

metabolic

khususnya

berkaitan

dengan

ketoasidosis

diabetikum dengan frekuensi pernapasam lebih dari 24 kali/menit dan bunyi

pernapasan yang dipaksakan.

f. Pernapasam Cheyne-Stokes

Merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula naik, turun, berhenti

kemudian mulai dari siklus baru. Dengan peiode apnea yang pendek. Dijumpai

pada pasien gagaj jantung, gagal ginjal atau kerusakan SSP.

g. Pernapasan Biot

Merupakan pernafasan dengan irama yang mirip dengan chyne stokes, tetapi

amplitudonya tidak teratur. Dengan periode apnea yang mendadak. Pola ini sering

dijumpai pada rangsangan selaput otak, tekanan intracranial yang meningkat,

trauma kepala, dan lain-lain.

2.2.5

Bunyi pernapasan

Menurut Lyndon (2014) :

a.

Normal

1. Trakeal

Trakeal mempunyai ciri-ciri yaitu bunyinya sangat kasar dan keras serta tinggi

dan

terdengar

kira-kira

pada

bagian

trakea

pada

ekstratoraks.

Panjang

bunyinya sama antara inspirasi dan ekspirasi. Namun, bunyi trakeal ini jarang

dinilai karena tidak mencerminkan adanya masalah klinis pada paru.

2. Bronkial

Bunyi Bronkial mempunyai ciri-ciri yaitu bunyinya keras dan nadanya tinggi,

bila diibaratkan seperti udara yang mengalir di dalam pipa. Panjang bunyi

ekspirasinya lebih lama dibandingkan inspirasinya dan ada jeda di antara

kedua fase itu. Bunyi ini dapat didengar di daerah manubrium sterni.

3. Bronkovesikuler

Bunyi bronkovesikuler bisa dikatakan adalah campuran dari bunyi bronkial

dan

bunyi

vesikuler.

Panjang

ekspirasi

dan

inspirasinya

sama

panjang.

Biasanya dapat didengar pada sela iga pertama dan kedua di dada depan dan

jika ingin mendengar di dada belakang maka dengar di antara skapula. Bunyi

ini berada di dekat karina dan bronkus utama.

4. Vesikuler

Bunyi vesikuler adalah bunyi yang lemah dan nadanya rendah, biasanya bisa

didengar di semua bagian parenkim paru. Panjang inspirasi lebih panjang

dibandingkan ekspirasi.

b. Abnormal

1. Crackles

Adalah

bunyi

yang

berlainan,

non

kontinu

akibat

penundaan

pembukaan

kembali jalan napas yang menutup. Terdengar selama inspirasi.

Digolongkan sebagai halus atau kasar.

2. Wheezing (mengi)

Adalah bunyi seperti bersiul, kontinu, yang durasinya lebih lama dari krekels.

Terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, secara klinis lebih jelas pada saat

ekspirasi.

Penyebabnya

yaitu

akibat

udara

melewati

jalan

napas

yang

menyempit/tersumbat sebagian. Dapat dihilangkan dengan batuk

3. Ronchi

Adalah bunyi gaduh yang dalam. Terdengar selama ekshalasi. Penyebabnya

yaitu gerakan udara melewati jalan napas yang menyempit akibat obstruksi

napas. Obstruksi : sumbatan akibat sekresi, odema atau tumor.

2.2.6 Frekuensi Pernapasan

a. Definisi

Frekuensi pernapasan adalah intensitas memasukkan atau mengeluarkan udara per

menit, dari dalam ke luar tubuh atau dari luar ke dalam tubuh. Pada umumnya

intensitas pernapasan pada manusia berkisar antara 16-24 kali/menit (Depkes,

2012).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi pernapasan

Menurut Francis (2006) :

1. Usia

Anak-anak lebih banyak frekuensi pernafasannya daripada orang dewasa. Hal

ini disebabkan anak-anak masih dalam usia pertumbuhan sehingga banyak

memerlukan energi. Oleh sebab itu, kebutuhannya akan oksigen juga lebih

banyak dibandingkan orang tua.

2. Jenis kelamin

Laki-laki lebih banyak frekuensi pernafasannya daripada perempuan. semakin

banyak energi yang dibutuhkan, berarti semakin banyak pula O2 yang diambil

dari udara. Hal ini terjadi karena laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak

dari pada perempuan.

3. Suhu tubuh

4. Semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka frekuensi pernapasan akan semakin

cepat. Aktivitas ini membutuhkan energi

yang dihasilkan dari peristiwa

oksidasi dengan menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen

yang lebih banyak untuk meningkatkan pernapasannya.

5. Posisi Tubuh

Posisi tubuh sangat berpengaruh terhadap frekuensi pernapasan. Pada tubuh

yang berdiri, otot-otot kaki akan berkontraksi sehingga diperlukan tenaga

untuk menjaga tubuh tetap tegak berdiri. Untuk itu diperlukan banyak O2 dan

diproduksi banyak CO2. Pada posisi tubuh berdiri, frekuensi pernapasannya

meningkat.

6. Kegiatan Tubuh

Orang yang banyak melakukan kegiatan memerlukan lebih banyak energi

dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan kegiatan (santai/tidur).

Oleh karena itu, tubuh memerlukan lebih banyak oksigen untuk oksidasi

biologi dan lebih banyak memproduksi zat sisa. Tubuh perlu meningkatkan

frekuensi pernapasan agar dapat menyediakan oksigen yang lebih banyak.

c.

Frekuensi pernapasan normal

Menurut Depkes (2013) :

1. Bayi baru lahir

2. Anak-anak

3. Dewasa

: 40-60 kali/menit

: 20-30 kali/menit

: 16-24 kali/menit

2.3 Konsep Active Cycle Of Breathing Technique

2.3.1 Definisi

Latihan pernapasan active cycle of breathing technique dapat diartikan sebagai teknik

bernapas siklus aktif yaitu merupakan siklus pengendalian pernapasan dimana pasien

mengatur tingkat dan kedalaman pernapasannya sendiri dengan penggunaan dada

bagian bawah atau relaksasi dada dan bahu bagian atas (Pyor and Webber, 2010).

Latihan

pernapasan

active

cycle

of

breathing

merupakan

salah

satu

latihan

pernapasan untuk mengontrol pernapasan agar menghasilkan pola pernapasan yang

tenang dan ritmis sehingga menjaga kinerja otot-otot pernapasan dan merangsang

keluarnya sputum untuk membuka jalan napas (Guyton dan Hall, 2010).

2.3.2 Fisiologi

PPOK dapat menimbulkan dampak pada penurunan elastisitas dan compliance paru

dan dapat meningkatkan kerja otot pernapasan serta penurunan kemampuan ekspirasi

maksimum (Guyton dan Hall, 2010). Penurunan elastisitas dan compliance paru dapat

pula menyebabkan ventilasi paru yang tidak maksimal dan jika tidak ditangani dengan

maksimal dapat menyebabkan kecacatan paru bahkan atelektasis yang berujung pada

kematian pasien (Mulyono, 2012).

Latihan

pernapasan

active

cycle

of

breathing

merupakan

salah

satu

latihan

pernapasan

yang

selain

berfungsi

untuk

membersihkan

sekret

juga

dapat

mempertahankan fungsi paru (Pyor and Webber, 2010) termasuk didalamnya dalam

meningkatkan aliran ekspirasi maksimum (Peterson,

2011 dalam Judyanto, 2011).

Latihan pernapasan ini dapat mengkoordinasikan dan dapat melatih pengembangan

(compliance) dan pengempisan (elastisitas) paru secara optimal (Pyor

and

Webber,

2010) serta pengaliran udara dari dalam paru menuju keluar saluran pernapasan secara

maksimal (Falling, 2009).

Latihan teknik bernapas active cycle ini terdiri dari 3 cara yaitu breathing exercise,

thoracic expansion exercise dan huffing. Breathing exercise atau breathing control

merupakan pengontrolan pernapasan untuk menghasilkan pola pernapasan

yang

tenang dan ritmis, sehingga pasien dapat menghemat energi untuk bernapas atau

dengan kata lain dapat membantu mengurangi kerja otot pernapasan, mengembalikan

distribusi ventilasi serta membetulkan pertukaran gas sehingga pasien akan terbiasa

melakukan pernapasan yang teratur ketika mengalami sesak napas. Selanjutnya ada

thoracic expansion exercise merupakan latihan pengembangan dada yaitu latihan

yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi paru dan menambah jumlah udara yang

dapat dipompakan oleh paru sehingga menjaga kinerja otot-otot bantu pernapasan dan

dapat menjaga serta meningkatkan ekspansi sangkar thoraks. Pada saat melakukan

thoracic expansion exercise ini, tangan peneliti menekan daerah toraks pasien pada

saat inspirasi, tujuannya yaitu pada saat inspirasi terjadinya pengaliran udara dari luar

tubuh ke dalam paru dan diberi takanan pada daerah toraks yang berfungsi untuk

memberi rangsangan atau getaran pada paru sehingga dapat merangsang keluarnya

sputum dan membuka jalan napas pasien. Selanjutnya huffing, huffing yaitu manuver

ekspirasi paksa yang dilakukan dengan glotis terbuka, huffing dilakukan secara paksa

sehingga dapat membuka epiglotis dan menyebabkan batuk. Sehingga meningkatkan

volume tidal dan membuka sistem colateral saluran napas sehingga sputum mudah

dikeluarkan. Jika sputum sudah keluar maka jalan napas akan terbuka dan pertukaran

gas dari dalam keluar atau sebaliknya akan berjalan dengan lancar. Sehingga pola

pernapasan akan teratur dan keluhan sesak napas pasien berkurang.

2.3.3 Manfaat

a. Membuka jalan napas

b. Membersihkan jalan napas dari sputum

c. Meningkatkan ventilasi di paru-paru

d. Mensinkronkan dan melatih kerja abdomen

dan

thorax

untuk menghasilkan

tekanan inspirasi yang cukup dan untuk melakukan ventilasi maksimal

e. Mengurangi keluhan sesak nafas dan batuk

f. Memperbaiki pola nafas

2.3.4 Prosedur

a. Cuci tangan

b. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien

c. Selama latihan peneliti membimbing pasien untuk melakukan tahapan dalam

ACBT, yaitu :

1. Breathing exercise

a) Atur posisi pasien duduk rileks atau setengah duduk (semi fowler)

b) Dada dan leher dalam keadaan rileks

c) Selanjutnya posisi tangan peneliti di atas perut pasien

d) Suruh pasien bernapas lewat hidung dan keluarkan lewat mulut

e) Latih pernapasan pasien dengan menggunakan pernapasan perut (pastikan

pasien melakukan pernapasan perut dengan merasakan pergerakan dinding

perut dengan tangan peneliti)

f) Lakukan sebanyak 6x tanpa ditahan (santai)

g) Setelah itu suruh pasien merilekskan otot-otot pernapasannya

2. Thoracix expansion exercise/TEE

a) Selanjutnya letakkan tangan peneliti di toraks pasien (tepatnya dibawah

mamae)

b) Suruh pasien menarik napas lewat hidung, waktu inspirasi tekan toraks

c) Buang lewat mulut

d) Lakukan 3-4 kali

3. Huffing

a) Setelah itu suruh pasien tarik napas kembali lewat hidung

b) Disaat setengah inspirasi, suruh pasien untuk batuk

c) Lakukan 1-2 kali

d. Bila ketiga langkah diatas telah dilakukan oleh pasien, selanjutnya pasien diminta

untuk

merilekskan otot-otot

pernapasan.

pernapasannya dengan

tetap

melakukan

kontrol

e. Jika pasien masih belum merasa nyaman, lakukan siklus tersebut 3-4 kali atau

sampai pasien merasa nyaman saat bernapas.

2.4 Konsep Pursed Lips Breathing Technique

2.4.1

Definisi

Pursed lips breathing technique adalah latihan pernapasan dengan menghirup udara

melalui hidung dan mengeluarkan udara dengan cara bibir lebih dirapatkan atau

dimonyongkan dengan waktu ekshalasi lebih

diperpanjang. Terapi rehabilitasi paru-

paru dengan pursed lips breathing

ini adalah cara yang sangat mudah dilakukan,

tanpa memerlukan alat bantu apapun dan juga tanpa efek negatif seperti pemakaian

obat-obatan (Smeltzer&Bare, 2013).

2.4.2

Fisiologi

Gejala yang paling sering terjadi pada pasien PPOK adalah sesak napas. Sesak napas

juga biasanya menjadi keluhan utama pada pasien PPOK karena bersifat progresif,

persisten dan bertambah berat dengan adanya aktivitas (Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia, 2011). Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2011) menyampaikan salah

satu program untuk mengurangi keluhan sesak napas pasien PPOK adalah rehabilitasi.

GOLD (2015) merekomendasikan rehabilitasi pasien PPOK yaitu dengan latihan

pernapasan pursed lips.

Latihan pernapasan pursed lips dapat membantu memperbaiki keadaan sesak napas,

juga dapat membantu meningkatkan arus puncak ekspirasi,

mengurangi frekuensi

serangan PPOK, menurunkan tingkat nyeri, menurunkan tekanan darah dan juga

memberikan perasaan yang lebih nyaman dan tenang serta dapat memperlambat pola

pernapasan

saat

melakukan

aktivitas.

Latihan

pursed

lips

breathing

dapat

meningkatkan kekuatan otot pernapasan dan volume tidal (Kim, 2012).

Pada tiap-tiap tahapan latihan pernapasan pursed lips, dapat melatih pernapasan

menjadi lebih lambat serta lebih memperpanjang ekshalasi untuk mengurangi jumlah

udara yang terjebak dan jumlah tahanan jalan

napas. Melalui latihan pernapasan

pursed lips, pasien dengan PPOK yang

mengalami pola pernapasan tidak efektif

dilatih untuk memperpanjang ekshalasi yang akan meningkatkan jumlah pengeluaran

karbonsioksida

yang terperangkap serta meningkatkan transportasi oksigen agar

medula oblongata tidak terstimulasi untuk melakukan peningkatan usaha pernapasan

karena telah terjadi keseimbangan homestasis gas didalam

tubuh pasien dan hal ini

akan menstabilkan pola pernapasan menjadi efektif (Smeltzer & Barre, 2013).

2.4.3 Manfaat

a. Untuk membantu klien memperbaiki transport oksigen

b. Menginduksi pola napas lambat dan dalam

c. Membantu pasien untuk mengontrol pernapasan dan mencegah kolaps

d. Melatih otot-otot ekspirasi

e. Memperpanjang

ekspirasi

ekshalasi

dan

meningkatkan

tekanan

jalan

napas

f. Mengurangi jumlah udara yang terjebak

2.4.4 Prosedur

a. Cuci tangan

b. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

c. Atur posisi responden senyaman mungkin

d. Lemaskan otot-otot leher dan bahu

selama

e. Hirup napas melalui hidung dalam 2 hitungan seperti saat menghirup wangi bunga

mawar, dengan mulut tetap dalam keadaan tertutup

2 hitungan seperti saat menghirup wangi bunga mawar, dengan mulut tetap dalam keadaan tertutup Gambar 2.5

Gambar 2.5 Inhale PLBT

f. Hembuskan

dengan

lambat

dan

rata

melalui

bibir

yang

dirapatkan

sambil

mengencangkan otot-otot abdomen (merapatkan bibir

meningkatkan tekanan

intratrakeal, menghembuskan melalui mulut

memberikan tahanan lebih sedikit

pada udara yang dihembuskan)

g. Hitung hingga 4 sambil memperpanjang ekspirasi melalui bibir yang dirapatkan

seperti saat sedang meniup lilin

bibir yang dirapatkan seperti saat sedang meniup lilin Gambar 2.6 Exhale PLBT h. Sambil duduk dikursi

Gambar 2.6 Exhale PLBT

h. Sambil duduk dikursi : Lipat tangan diatas abdomen, hirup napas melalui hidung

sambil menghitung hingga 2, membungkuk ke depan dan hembuskan dengan

lambat melalui bibir yang dirapatkan sambil menghitung hingga 4

i. Apabila anda mengeluh sesak saat sedang melakukan aktivitas, lakukan langkah

berikut : hentikan aktivitas yang sedang berlangsung, istirahat dalam posisi duduk,

lemaskan bahu, lakukan pernafasan dengan teknik pursed lips breathing hingga

keluhan

sesak

berkurang.

Lanjutkan

aktivitas,

lakukan

teknik

pursed

lips

breathing secara continue saat berjalan, bila perlu berjalan lebih lambat.

j. Lakukan langkah diatas sampai pasien merasa keluhan sesaknya berkurang atau

sampai pasien merasa nyaman.

2.5 Penelitian Terkait

Penelitian

yang dilakukan Tintin Sukartini (2008) dengan judul “Active Cycle Of

Breathing Menurunkan Keluhan Sesak Nafas Penderita Tuberkulosis Paru” Responden

sebanyak

14

orang,

dibagi menjadi

kelompok

perlakuan dan kelompok kontrol

masing-masing 7. Diketahui bahwa terdapat perbedaan

hasil post latihan nafas active

cycle of breathing yang signifikan terhadap

keluhan sesak nafas antara kelompok

perlakuan dan kelompok kontrol

dengan hasil uji statistik Mann Whitney U-Test

(p=0,010). Pada masing-masing kelompok menunjukkan rerata penurunan nilai dari 3,00

menjadi 2,14.

Penelitian yang dilakukan Laila Widya Astuti (2014) judul “Pengaruh Pursed Lips

Breathing Terhadap Pola Pernapasan Pada Pasien Dengan Emfisema Di Rumah Sakit

Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga”. Responden sebanyak 34 orang dengan 17 sebagai

kelompok

intervensi

dan

17

sebagai

kelompok

kontrol.

Diketahui

bahwa

sesudah

melakukan pursed lips breathing, pola pernapasan

responden kelompok intervensi yang

tidak efektif sejumlah 10 pasien (58,8%)

dan yang efektif sejumlah 7 pasien (41,2%).

Sedangkan pada kelompok

kontrol dengan pola pernapasan tidak efektif sejumlah 15

pasien (88,2%), dan pola pernapasan efektif sejumlah 2 pasien (11,8%). Berdasarkan

hasil dari uji Mann-whitney yang dilakukan terdapat pengaruh pemberian pursed lips

breathing terhadap pola pernapasan pada pasien dengan emfisema di RSP

dr.Ario

Wirawan Salatiga dengan nilai p-value 0,000 (α = 0,05).

2.6 Kerangka Teori

Penyebab PPOK : merokok, pekerjaan, polusi udara, infeksi

PPOK (ringan, sedang, berat dan sangat berat)

Peningkatan frekuensi pernapasan

berat dan sangat berat) Peningkatan frekuensi pernapasan Gangguan pola napas Peran perawat : sebagai pemberi asuhan

Gangguan pola napas

Peran perawat : sebagai

pemberi asuhan keperawatan

Diberikan latihan teknik

bernapas active cycle dan

pursed lips

Skema 2.6 Kerangka teori PPOK (Mansjoer, Arif 2000)

3.1 Kerangka konsep

BAB III

KERANGKA KONSEP

Kerangka konsep adalah suatu model konseptual yang membahas saling ketergantungan

antara variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi dinamika situasi atau hal yang

sedang atau yang akan diteliti sekarang. Penyusunan kerangka konsep akan membantu

kita untuk membuat hipotesa, menguji hubungan tertentu dan membantu peneliti dalam

menghubungkan hasil penemuan dengan teori yang hanya dapat diamati atau diukur

melalui konstruk atau variabel (Nursalam, 2008).

Variabel independent adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya

variabel dependent. Variabel independent yang akan diteliti adalah teknik pernafasan

active cycle dan pursed lips, sedangkan variabel dependent adalah variabel yang nilainya

ditentukan oleh variabel lain. Variabel dependent penelitian adalah frekuensi pernapasan

(Nursalam, 2003).

Variabel

perancu

adalah

variabel

yang

berhubungan

dengan

variabel

tergantung

berhubungan

tetapi

bukan

dengan

variabel

bebas

dan

merupakan

variabel

antara

(Sugiyono, 2013). Variabel perancu dalam penelitian ini adalah obat-obatan dan inhaler.

Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT) dan Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun 2017

Variabel independent

Teknik pernapasan active cycle dan pursed lips

Teknik pernapasan active cycle dan pursed lips Variabel dependent Frekuensi pernapasan normal Variabel

Variabel dependent

Frekuensi pernapasan normal

Variabel perancu

- Obat-obatan : kortikosteroid (baclomethasone, flixotide), antikolinergik, beta

adrenergik, theopylline

- Inhaler

Skema 3.1 Kerangka Konsep ACBT dan PLBT Terhadap Frekuensi Napas

3.2 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah proses perumusan atau pemberian arti pada masing-masing

variabel yang terlibat dalam penelitian (Nursalam, 2003).

Tabel 3.2

Perbedaan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT) dan Pursed Lips Breathing Technique (PLBT) terhadap Frekuensi Nafas

No

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat

Hasil ukur

Skala

 

Operasional

Ukur

Ukur

1

Independent

Teknik

Latihan pernapasan yang dapat mengkoordinas ikan dan dapat melatih pengembangan dan pengempisan paru secara optimal untuk mempertahank an fungsi paru

Intervensi :

Prosedur

Dilakukan

-

pernapasan

Mengajarkan

kerja

active cycle

pasien dan

 

melakukan

teknik bernapas

active cycle

 

Teknik

Latihan pernapasan dengan menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan udara dengan cara bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan dengan waktu ekshalasi lebih diperpanjang.

Intervensi :

Prosedur

Dilakukan

-

pernapasan

Mengajarkan

kerja

pursed lips

pasien dan

 

melakukan

teknik bernapas

pursed lips

2

Dependent

Frekuensi

Intensitas memasukkan atau mengeluarkan udara per menit, dari dalam ke luar tubuh atau dari luar ke

Observasi

Lembar

Kali/menit

Nomin

pernapasan

observasi

al

dalam tubuh.

Pada umumnya

intensitas

pernapasan pada

manusia

berkisar antara

16-24 kali/menit

3.3 Hipotesis

Hipotesis adalah

jawaban sementara penelitian, patokan duga atau dalil sementara yang

kebenarannya akan diteliti dan kebenarannya akan dibuktikaan dalam penelitian tersebut

(Notoadmodjo, 2005).

Terdapat dua macam hipotesa yaitu hipotesa nol (Ho) dan hipotesa alternative (Ha).

Secara umum hipotesa nol diungkapkan sebagai tidak terdapatnya perbedaan (signifikan)

antara dua variable atau lebih. Hipotesa alternative (Ha) menyatakan ada perbedaan

antara dua variabel atau lebih. Maka hipotesa dalam penelitian ini adalah :

1. Hipotesa kerja/alternative

Ha : Ada perbedaan active cycle of breathing technique dan pursed lips breathing

technique terhadap penurunan frekuensi napas pasien PPOK di Poli Paru RSUD

Dr. Achmad Muchtar tahun 2018.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang disusun sedemikian rupa

sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian (Setiadi,

2007).

Penelitian

ini

merupakan

penelitian

kuantitatif,

dengan

metode

Quasi

experimental study, yaitu rancangan penelitian yang digunakan untuk mengetahui

suatu gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu.

Rancangan yang peneliti gunakan two group pre test-post test design yaitu dua

kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi

setelah intervensi. Pada penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melakukan (pre test)

pada kelompok pertama yaitu menghitung frekuensi pernapasan pada responden

kemudian memberikan intervensi kepada responden berupa latihan teknik bernapas

active cycle. Selanjutnya dilakukan pengukuran frekuensi pernapasan (post test). Pada

kelompok kedua, yaitu dengan menghitung frekuensi pernapasan pada responden (pre

test). Kemudian memberikan intervensi kepada responden berupa latihan teknik

bernapas pursed lips. Selanjutnya dilakukan pengukuran frekuensi pernapasan (post

test).

Tabel 4.1

Rancangan Penelitian

Pre-test

Perlakuan

Post-test

01

X1

02

Pre-test

Perlakuan

Post-test

03

X2

04

Keterangan

:

01

: Pretest sebelum dilakukan intervensi

X1

: Melakukan intervensi latihan teknik bernapas active cycle

02

: Posttest setelah dilakukan intervensi

03

: Pretest sebelum dilakukan intervensi

X2

: Melakukan intervensi latihan teknik bernapas pursed lips

04

: Posttest setelah dilakukan intervensi

4.2Tempat dan Waktu Penelitian

4.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Poli Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi. Alasan

peneliti memilih rumah sakit tersebut yaitu rumah sakit memiliki pasien yang

dianggap presentatif untuk penelitian, selain itu pasien juga belum pernah dijadikan

responden penelitian terkait. Angka kejadian PPOK di rumah sakit tersebut cukup

tinggi yaitu sebesar 22,8% (Rekam Medis RSAM, 2017).

4.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Februari 2018 di RSUD Dr. Achmad

Muchtar Bukittinggi.

4.3Populasi, Sampel dan Sampling

4.3.1 Populasi

Populasi

adalah

wilayah

generalisasi

yang

terdiri

atas

:

obyek/subyek

yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari

dan

kemudian

ditarik

kesimpulannya

(Sugiyono,

2013).

Menurut

Notoatmodjo (2012), populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien PPOK yang berkunjung ke Poli

Paru RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukittinggi. Populasi dalam penelitian ini pada

tahun 2017 sebanyak 1656 orang. Dengan rata-rata perbulannya sebanyak 138 orang

pasien.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian kecil yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan

dianggap

mewakili

seluruh

populasi

(Notoatmodjo,

2012).

Sample

diambil

berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum

subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti.

Sedangkan kriteria eksklusi adalah kriteria subjek penelitian tidak dapat mewakili

sampel karena tidak memenuhi syarat penelitian, menolak menjadi responden atau

keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian (Nursalam, 2008).

Adapun yang menjadi kriteria inklusi dan ekslusi dalam sampel ini adalah:

a. Kriteria inklusi

1. Pasien yang kooperatif dan bersedia menjadi responden

2. Pasien baru atau pasien lama yang berobat ke Poli Paru RSAM dengan PPOK

3. Pasien yang mengalami peningkatan frekuensi pernapasan diatas normal yaitu

>24 kali/menit

4. Pasien dengan kesadaran penuh

5.

Pasien yang belum mengkonsumsi obat

b. Kriteria eksklusi

1. Pasien yang tidak bersedia

2. Pasien yang frekuensi pernapasannya dalam rentang normal

3. Pasien yang tidak sesak napas

4. Pasien dengan komplikasi

5. Pasien yang telah sembuh atau tidak berobat lagi

Taniredja (2012) menyatakan bahwa untuk penelitian eksperimental yang sederhana,

jumlah anggota sampel

minimal

masing-masing kelompok

antara 10-20

orang.

Peneliti membuat perhitungan besar sampel menggunakan rumus sampel minimum,

dengan rumus sebagai berikut :

(t-1) (r-1) ≥ 15

Keterangan :

t : banyak kelompok

r : jumlah replikasi kelompok Maka :

(t-1)(r-1) ≥ 15 (2-1)(r-1) ≥ 15

1(r-1)

≥ 15

r

≥ 16

Berdasarkan hasil diatas, maka jumlah sampel minimal adalah sebanyak 16 orang.

Maka untuk menghindari drop out peneliti menambah 4 orang lagi sebagai cadangan.

Maka jumlah sampel penelitian ini adalah sebanyak 20 orang, dengan 10 orang pada

kelompok ACBT dan 10 orang lagi pada kelompok PLBT.

4.3.3

Sampling

Sampling adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-

benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian (Nursalam, 2008). Pengambilan

sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik quota sampling (Riduwan, 2013).

Teknik quota sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan

jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam pengambilan sampel dari

populasi, dengan syarat populasi yang dijadikan sampel harus mengikuti kriteria

inklusi dan eksklusi sampel penelitian.

4.4Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam

pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik (cermat,

lengkap dan sistematis) sehingga lebih mudah diolah (Saryono, 2011). Pada penelitian

ini, peneliti menggunakan lembar prosedur kerja active cycle of breathing technique

(ACBT) dan pursed lips breathing technique (PLBT) serta lembar obsevasi frekuensi

nafas (penghitungan Respiratory Rate) sebagai instrumen penelitian.

4.5Pengumpulan Data

4.5.1 Metode Pengumpulan Data

Data ini diperoleh dengan teknik observasi untuk mengetahui perbedaan latihan

teknik bernapas active cycle dan pursed lips terhadap frekuensi pernapasan. Setelah

mendapatkan responden, pada kelompok pertama (kelompok ACBT dengan sampel

10 orang) dilakukan observasi terlebih dahulu (pretest) kemudian diajarkan teknik

bernapas active cycle selama 10-15 menit, setelah dilakukan intervensi (postest)

mengukur frekuensi pernapasan selama 1 menit dan hasilnya dicatat dalam lembar

observasi active cycle of breathing technique. Selanjutnya pada kelompok kedua

(kelompok ACBT dengan sampel 10 orang) dilakukan observasi terlebih dahulu

(pretest) kemudian diajarkan teknik bernapas pursed lips selama 10-15 menit, setelah

dilakukan intervensi (postest) mengukur frekuensi pernapasan selama 1 menit dan

hasilnya dicatat dalam lembar observasi pursed lips breathing technique. Latihan

bernapas ini dilakukan 10-15 menit 2 kali sehari selama 3 hari.

4.5.2 Prosedur Pengumpulan Data

a. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Juli 2018. Sebelum melakukan penelitian,

peneliti meminta surat izin penelitian dari Bidang Akademik Program Studi

Kampus STIKES Perintis Padang

b. Setelah mendapatkan surat, peneliti mengajukan surat ke rumah sakit pada bagian

keperawatan

c. Setelah mendapatkan surat izin penelitian, peneliti mengajukan tebusan surat dari

Diklat ke Kepala Ruangan Poli Paru

d. Setelah peneliti mendapatkan izin dari Karu, peneliti melakukan penelitian pada

responden yang ada di ruangan sesuai dengan kriteria sampel penelitian, peneliti

menemui langsung responden yang ada diruangan

e. Sebelum

peneliti

melakukan

penelitian,

peneliti

menjelaskan

dan

meminta

persetujuan penelitian atau informed concent terlebih dahulu pada responden. Jika

responden menyetujui, responden diminta untuk mengisi lembar persetujuan

informed concent

f. Selanjutnya peneliti mulai melakukan penelitian dengan menentukan kelompk

ACBT dan kelompok PLBT

g. Pada kelompok ACBT, responden diobservasi frekuensi nafasnya terlebih dahulu dan

dicatat nilai pre test frekuensi nafas pada lembar observasi ACBT. Setelah itu dilakukan

intervensi dengan mengajarkan latihan teknik bernapas active cycle. Setelah itu

diobservasi lagi dan dicatat nilai post test nya pada lembar observasi. Tindakan ini

dilakukan selama 10-15 menit 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut.

h. Pada kelompok PLBT, responden diobservasi frekuensi nafasnya terlebih dahulu dan

dicatat nilai pre test frekuensi nafas pada lembar observasi PLBT. Setelah itu dilakukan

intervensi dengan mengajarkan latihan teknik bernapas pursed lips. Setelah itu

diobservasi lagi dan dicatat nilai post test nya pada lembar observasi. Tindakan ini

dilakukan selama 10-15 menit 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut.

i. Setelah penelitian dilakukan, selanjutnya peneliti memasukkan data dan mengolah

data dengan computerisasi menggunakan SPSS.

4.6Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya (Notoatmodjo, 2012) :

a. Pengecekan (Editing)

Editing

merupakan

kegiatan

untuk

melakukan

pengecekan

lembar

observasi.

Diperiksa kelengkapan data apakah dapat sudah lengkap atau belum.

b. Memasukkan Data (Data Entry)

Dalam penelitian ini proses entry data secara computerisasi yang dilakukan peneliti

adalah :

1. Memasukkan data hasil pengukuran frekuensi nafas dengan teknik ACBT ke

SPSS terlebih dahulu

2. Setelah itu memasukkan data hasil pengukuran frekuensi nafas dengan teknik

PLBT ke SPSS

c. Pembersihan Data (Cleaning)

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan,

peneliti

mengecek

kembali

untuk

melihat

kemungkinan-kemungkinan

adanya

kesalahan-kesalahan

pengentrian,

ketidaklengkapan

dan

dilakukan pembetulan atau koreksi.

d. Memproses (Processing)

sebagainya.

Kemudian

Kemudian data diproses dengan mengelompokkan data kedalam variabel yang sesuai,

dengan menggunakan program SPSS di komputer.

4.7Analisa Data

4.7.1 Analisa Univariat

Analisa

ini

dapat

menggambarkan

variabel-variabel

yang

diteliti.

Variabel

independent yang diteliti yaitu teknik pernafasan active cycle dan pursed lips,

sedangkan variabel dependent adalah adalah frekuensi pernapasan. Hasil penelitian

disajikan dengan mencantumkan mean, standar deviasi, standar eror, N, minimum dan

maksimum.

4.7.2