Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian Penghindaran Pajak

Penghindaran pajak atau perlawanan terhadap pajak adalah hambatan-


hambatan yang terjadi dalam pemungutan pajak sehingga mengakibatkan
berkurangnya penerimaan kas negara. Perlawanan terhadap pajak terdiri dari
perlawanan aktif dan perlawanan pasif. Dalam buku-buku perpajakan Indonesia,
penghindaran pajak (tax avoidance) selalu diartikan sebagai kegiatan yang legal
(misalnya meminimalkan beban pajak tanpa melawan ketentuan perpajakan) dan
penyelundupan pajak (tax evasion/tax fraud) diartikan sebagai kegiatan yang ilegal
(misalnya meminimalkan beban pajak dengan memanipulasi pembukuan).
a. Penggelapan Pajak (Tax Evasion)
Penggelapan Pajak terjadi sebelum SKP dikeluarkan. Hal ini merupakan
pelanggaran terhadap undang-undang dengan maksud melepaskan diri dari
pajak/mengurangi dasar penetapan pajak dengan cara menyembunyikan sebagian
dari penghasilannya. Wajib pajak di setiap negara terdiri dari wajib pajak besar
(berasal dari multinational corporation yang terdiri dari perusahaan-perusahaan
penting nasional) dan wajib pajak kecil (berasal dari profesional bebas yang terdiri
dari dokter yang membuka praktek sendiri, pengacara yang bekerja sendiri, dll).
1. Pengertian Penggelapan Pajak
Pengertian Tax Evasion menurut Defiandry Taslim (2007), yaitu :
“Tax evasion (penggelapan pajak) yaitu usaha-usaha untuk memperkecil jumlah
pajak yang terutang atau menggeser beban pajak yang terutang dengan melanggar
ketentuan-ketentuan pajak yang berlaku. Tax evasion merupakan pelanggaran
dalam bidang perpajakan sehingga tidak boleh di lakukan, karenapelaku tax evasion
dapat dikenakan sanksi administratif maupun sanksi pidana”.
Pengertian Tax Evasion menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:147), yaitu :
Pengelakan Pajak (tax evasion) merupakan usaha aktif Wajib Pajak dalam hal
mengurangi, menghapuskan, manipulasi ilegal terhadap utang pajak atau
meloloskan diri untuk tidak membayar pajak sebagaimana yang telah terutang
menurut aturan perundang-undangan.
Pengertian Tax Evasion menurut Lyons Susan M dalam Erly Suandy (2008:7),
yaitu:
Tax Evasion is the reduction of tax by ilegal means. The distincion,however, is not
always easy. Some example of tax avoidance scheme include locatting assets in
offshore jurisdiction, delaying repatriation of profit earn in low-tax foreign
jurisdiction, ensuring that gains are capital rather than income so the gains are not
subject to tax (or a subject at a lower rate), spreading of income to other tax payers
with lower marginal tax rates and taking advantages of tax incentives.
2. Indikator Penggelapan Pajak
Adapun yang menjadi indikator dari Penggelapan Pajak menurut M Zain
(2008:51), yaitu :
1. Tidak menyampaikan SPT.
2. Menyampaikan SPT dengan tidak benar.
3. Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP atau Pengukuhan
PKP.
4. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipungut atau dipotong.
5. Berusaha menyuap fiskus.
3. Penyebab Penggelapan Pajak
Menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:149) yang menyebabkan terjadinya tax
evasion yaitu :
1. Kondisi lingkungan
Lingkungan sosial masyarakat menjadi hal yang tak terpisahkan dari
manusia sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu saling bergantung satu sama
lain. Hampir tidak ditemukan manusia di dunia ini yang hidupnya hanya bergantung
pada diri sendiri tanpa memperdulikan keberadaan orang lain, begitu juga dalam
dunia perpajakan, manusia akan melihat lingkungan sekitar yang seharusnya
mematuhi aturan perpajakan. Mereka saling mengamati terhadap pemenuhan
kewajiban perpajakan. Jika kondisi lingkungannya baik (taat aturan), masing-
masing individu akan termotivasi untuk mematuhi peraturan perpajakan dengan
membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya jika lingkungan
sekitar kerap melanggar peraturan. Masyarakat menjadi saling meniru untuk tidak
mematuhi peraturan karena dengan membayar pajak, mereka merasa rugi telah
membayarnya sementara yang lain tidak.
2. Pelayanan fiskus yang mengecewakan
Pelayanan aparat pemungut pajak terhadap masyarakat cukup menentukan
dalam pengambilan keputusan wajib pajak untuk membayar pajak. Hal tersebut
disebabkan oleh perasaan wajib pajak yang merasa dirinya telah memberikan
kontribusi pada negara dengan membayar pajak. Jika pelayanan yang diberikan
telah memuaskan wajib pajak, mereka tentunya merasa telah diapresiasi oleh fiskus.
Mereka menganggap bahwa kontribusinya telah dihargai meskipun hanya sekedar
dengan pelayanan yang ramah saja. Tapi jika yang dilakukan tidak menunjukkan
penghormatan atas usaha wajib pajak, masyarakat merasa malas untuk membayar
pajak kembali.
3. Tingginya tarif pajak
Pemberlakuan tarif pajak mempengaruhi wajib pajak dalam hal pembayaran
pajak. Pembebanan pajak yang rendah membuat masyarakat tidak terlalu keberatan
untuk memenuhi kewajibannya. Meskipun masih ingin berkelit dari pajak, mereka
tidak akan terlalu membangkang terhadap aturan perpajakan
karena harta yang berkurang hanyalah sebagian kecilnya. Dengan pembebanan tarif
yang tinggi, masyarakat semakin serius berusaha untuk terlepas dari jeratan pajak
yang menghantuinya. Wajib pajak ingin mengamankan hartanya sebanyak
mungkin dengan berbagai cara karena mereka tengah berusaha untuk mencukupi
berbagai kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak ingin apa yang telah diperoleh
dengan kerja keras harus hilang begitu saja hanya karena pajak yang tinggi.
4. Sistem administrasi perpajakan yang buruk
Penerapan sistem administrasi pajak mempunyai peranan penting dalam
proses pemungutan pajak suatu negara. Dengan sistem administrasi yang bagus,
pengelolaan perpajakan akan berjalan lancar dan tidak akan terlalu banyak
menemui hambatan yang berarti. Sistem yang baik akan menciptakan manajemen
pajak yang profesional, prosedur berlangsung sistematis dan tidak semrawut. Ini
membuat masyarakat menjadi terbantu karena pengelolaan pajak yang tidak
membingungkan dan transparan. Seandainya sistem yang diterapkan berjalan jauh
dari harapan, mayarakat menjadi berkeinginan untuk menghindari pajak. Mereka
bertanya-tanya apakah pajak yang telah dibayarnya akan dikelola dengan baik atau
tidak. Setelah timbul pemikiran yang menyangsikan kinerja fiskus seperti itu,
kemungkinan besar banyak wajib pajak yang benar-benar `lari` dari kewajiban
membayar pajak.
b. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
Penghindaran Pajak (tax avoidance) merupakan tindakan legal, dapat
dibenarkan karena tidak melanggar undang-undang, dalam hal ini sama sekali tidak
ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan. Tujuan penghindaran pajak
adalah menekan atau meminimalisasi jumlah pajak yang harus dibayar.
1. Pengertian Penghindaran Pajak
Pengertian Tax Avoidance menurut Lyons Susan M dalam Erly Suandy (2008:7),
yaitu:
“Tax Avoidance is a term used to describe the legal arrangements of tax fair’s
affairs so as to reduce his tax liability. It’s often to pejorative overtones, for example
it is use to describe avoidance achieved by artificial arrengements of
personal or bussiness affair to take advantage of loopholes, ambiguities, anomalies
or other deficiencies of tax law. Legislation designed to counter avoidance has
become more commonplace and often involves highly complex provision”.
Pengertian Tax Avoidance menurut Harry Graham dalam Siti Kurnia Rahayu
(2010:147), yaitu :
“Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) merupakan usaha yang sama yang tidak
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan”.
Pengertian Tax Avoidance menurut Robert H Anderson dalam Siti Kurnia Rahayu
(2010:147), yaitu :
“Cara mengurangi pajak yang masih dalam batas ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan dan dapat dibenarkan terutama melalui perencanaan
perpajakan”.
Pengertian Tax Avoidance menurut NA Barr SR James AR Prest dalam Siti Kurnia
Rahayu (2010:147), yaitu :
“Sebagai manipulasi penghasilannya secara legal yang masih sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk memperkecil jumlah
pajak yang terutang”.
2. Indikator Penghindaran Pajak
Adapun yang menjadi indikator dari Penghindaran Pajak menurut Arnold dan
McIntyre (1995) dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

 Menahan Diri

Yang dimaksud dengan menahan diri yaitu wajib pajak tidak melakukan
sesuatu yang bisa dikenai pajak. Contoh :
·Tidak merokok agar terhindar dari cukai tembakau
·Tidak menggunakan ikat pinggang dari kulit ular atau buaya agar terhindar dari
pajak atas pemakaian barang tersebur. Sebagai gantinya, menggunakan ikat
pinggang dari plastik.

Secara moral, hal ini tidak tercela karena tidak ada orang yang akan menganggap
perbuatan seorang perokok yang mengurangi kebiasaan merokoknya sebagai orang
yang menghindari pajak. Malah, orang yang mengurangi, atau malah tidak merokok
sama sekali dianggap sebagai tindakan terpuji.
 Pindah Lokasi

Memindahkan lokasi usaha atau domisili dari lokasi yang tarif pajaknya tinggi
ke lokasi yang tarif pajaknya rendah. Contoh:

Di Indonesia, diberikan keringanan bagi investor yang ingin menanamkan


modalnya di Indonesia Timur. Namun, pindah lokasi tidak semudah itu dilakukan
oleh wajib pajak. Mereka harus memikirkan tentang transportasi, akomodasi, SDM,
SDA, serta fasilitas-fasilitar yang menunjang usaha mereka. Hal ini harus sesuai
dengan kentungan yang akan mereka dapatkan dan keringanan pajak yang mereka
peroleh. Biasanya, hal ini jarang terjadi. Yang terjadi hanya pada pengusaha yang
baru membuka usaha, atau perusahaan yang akan membuka cabang baru. Mereka
membuka cabang baru di tempat yang tarif pajaknya lebih rendah. Hal ini tidak
tercela karena merupakan hak asasi setiap orang untuk memilih tempat atau lokasi
usaha/domisilinya.

 Penghindaran Pajak Secara Yuridis

Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga perbuatan-perbuatan yang


dilakukan tidak terkena pajak. Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan
kekosongan atau ketidak jelasan undang-undang. Hal inilah yang memberikan
dasar potensial penghindaran pajak secara yuridis. Contoh:

Di Indonesia, untuk pegawai diberi tunjangan beras (in natura). Menurut


undang-undang yang berlaku, hal ini tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
Penghindarannya dengan cara: perusahaan bekerjasama dengan yayasan dalam
penyaluran tunjangan ini. Perusahaan memberi uang kepada yayasan, dan yayasan
menyalurkannya ke pegawai dalam bentuk beras. Jadi, pegawai tetap dapat beras
dan hal itu dibebankan sebagai biaya sehingga pajaknya berkurang.

Dalam ketentuan perpajakan, masih terdapat berbagai celah (loophole) yang


dapat dimanfaatkan oleh perusahaan agar jumlah pajak yang dibayar oleh
perusahaan optimal dan minimum (secara keseluruhan). Optimal disini diartikan
sebagai, perusahaan tidak membayar sesuatu (pajak) yang semestinya tidak harus
dibayar, membayar pajak dengan jumlah yang ‘paling sedikit’ namun tetap
dilakukan dengan cara yang elegan dan tidak menyalahi ketentuan yang berlaku.

Permasalahannya adalah apakah penghindaran pajak selalu legal? Menurut


Roy Rohatgi (2002: 342), di banyak negara penghindaran pajak dibedakan menjadi
penghindaran pajak yang diperbolehkan (acceptable tax avoidance/tax planning/tax
mitigation) dan yang tidak diperbolehkan (unacceptable tax avoidance).

Artinya, penghindaran pajak dapat saja dikategorikan sebagai kegiatan legal dan
dapat juga dikategorikan sebagai kegiatan ilegal. Suatu penghindaran pajak
dikatakan ilegal apabila transaksi yang dilakukan semata-mata untuk tujuan
penghindaran pajak atau transaksi tersebut tidak mempunyai tujuan usaha yang baik
(bonafide business purpose). Oleh karena itu, untuk mencegah praktik
penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan multinasional, sebagian besar
negara telah mempunyai ketentuan anti penghindaran pajak (Brian J. Arnold dan
Michael J. McIntyre, 2002:81). Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga
wajar jika tidak satupun perusahaan (wajib pajak) yang dengan senang hati dan suka
rela membayar pajak. Karena pajak adalah iuran yang sifatnya dipaksakan, maka
negara juga tidak membutuhkan ‘kerelaan wajib pajak’. Yang dibutuhkan oleh
negara adalah ketaatan. Suka tidak suka, rela tidak rela, yang penting bagi negara
adalah perusahaan tersebut telah membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Lain halnya dengan sumbangan, infak maupun zakat, kesadaran dan
kerelaan pembayar diperlukan dalam hal ini. Mengingat pajak adalah beban –yang
akan mengurangi laba bersih perusahaan- maka perusahaan akan berupaya
semaksimal mungkin agar dapat membayar pajak sekecil mungkin dan berupaya
untuk menghindari pajak. Namun demikian penghindaran pajak harus dilakukan
dengan cara-cara yang legal agar tidak merugikan perusahaan di kemudian
hari. Penghindaran pajak dengan cara illegal adalah penggelapan pajak. Hal ini
perbuatan kriminal, karena menyalahi aturan yang berlaku. Contoh kasus
penggelapan pajak :

 Melaporkan penjualan lebih kecil dari yang seharusnya, omzet 10 milyar


hanya dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan sebesar 5 milyar
misalnya.
 Menggelembungkan biaya perusahaan dengan membebankan biaya fiktif;
 Transaksi export fiktif,
 Pemalsuan dokumen keuangan perusahaan

Jika kita analogikan pajak dengan karcis tol, Jika kita lewat jalan tol namun tidak
membayar karcis tol, maka itulah penggelapan pajak. Sedangkan jika kita
menghindari untuk membayar karcis tol dengan cara memilih lewat jalan biasa,
maka itulah penghindaran pajak. Menghindari membayar tol (pajak) dengan cara
tidak lewat jalan tol adalah cara yang legal.