Anda di halaman 1dari 12

2018

Review Jurnal
USULAN PENGEMBANGAN KAWASAN
PERKOTAAN MEBIDANGRO BERBASIS
REFORMASI TATA KELOLA TERPADU
Jurnal METROPOLITAN GOVERNANCE REFORM IN ASIA (APRODICIO A. LAQUIAN*) University of British Columbia,
Vancouver, BC, Canada,

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2018

Meishara Purnama Sari


0 | U A S K e l e m b a g a a n T r a n s p o22115059
rtasi
PL4301|Kelembagaan Transportasi
DAFTAR ISI
BAB I ........................................................................................ 2
PENDAHULUAN ............................................................................ 2
1.1 Latar Belakang....................................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 3
1.3 Tujuan ................................................................................ 3
BAB II ....................................................................................... 4
PEMBAHASAN .............................................................................. 4
2.1 Gamabaran Umum Kawasan Perkotaan Mebidangro ............................ 4
2.2 Permaslahan Kawasan Perkotaan Mebidangro ................................... 6
2.3 Usulan Pengembangan Kawasan Perkotaan Mebidangro ........................ 7
BAB III...................................................................................... 10
PENUTUP .................................................................................. 10
3.1 Kesimpulan ......................................................................... 10
3.2 Saran ................................................................................ 10

1|Page
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan suatu wilayaha dan Kota akan memberikan dampak positif
maupun dampak negatif bagi kehidupan masyarakat maupun wilayah dan kota
tersebut. Seiring dengan berkembangnya zaman yang didukung oleh perkembangan
teknologi perkembangan suatu wilayah dan kota perlu dilakukan penanganan
khusus untuk menciptakan kesejahteraan untuk wilayah dan kota tersebut.
Perkembangan Kota yang pesat harus dibarengi dengan perkembangan transportasi
yang mendukung untuk menghindari permasalahan dikemudian hari. Hubungan
kota dengan daerah sekitarnya sangat mempengaruhi perkembangan kota tersebut,
ntuk itu perlu dilakukan koordinasi antar daerah. Kebijakan pengembangan wilayah
sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya sehingga penerapan
kebijakan itu sendiri harus diselaraskan dengan kondisi wilayah tersebut, potensi
yang dimiliki serta isu permasalahan yang sedang terjadi diwilayah tersebut.
Dimana permasalahan pokok suatu wilayah saling berkaitan satu sama lain.

Dalam peengembangan suatu wilaya harus disesuaikan dengan tata ruang


wilayah tersebut. Tata ruang menjadi menjadi faktor penting, karena sesuai dengan
Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang tata ruang sebagai
wujud struktur ruang dan pola ruang, baik yang direncanakan maupun tidak. Dapat
diartikan bahwa penataan ruang wilayah merupakan bagian dari pengembangan
wilayah. Perkembangan wialyah perkotaan di Indonesia cukup pesat dibuktikan
dengan ditetapkannya kawasan-kawasan strategis nasional yang mendukung
kemandirian wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Pengembangan kawasan perkotaan yang dulu hanya terpusat di Pulau Jawa saat ini
mulai dikembangkan keseluruh pulau yang ada di Indonesia untuk mengurangi
kesenjangan antar wilayah. Adapun pengembangan kawasan perkotaan diluar Pulau
Jawa terdapat di Pulau Sumatera yang terdiri dari Kawasan Perkotaan Mebidangro
yang terdapat di Sumatera Utara, Palapa yang terdapat di Sumatera Barat, dan
Patungraya Agung yang terdapat di Sumatera Selatan. Selain di Sumatera
pengembangan ini juga dilakukan ke pulau lainnya yaitu Kalimantan, Nusa
Tenggara, dan Sulawesi hal ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan antar
wilayah. Selain itu didukung juga oleh penetapan Kawasan Strategis Nasional yang

2|UAS Kelem bagaan T rans portasi


dikuatkan PP No.26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN),
ditetapkan 76 KSN yang memiliki kepentingan ekonomi, lingkungan hidup, sosial
budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan teknologitinggi, serta pertahanan
dan keamanan. Di Pulau Sumatera sendiri terdapat KSN yaitu di Sumatera Utara
yaitu Kawasan Perkotaan Mebidangro. Dalam penrkembangannya kawasan
Mebidangro tidak berjalan dengan mulus terdapat permasalahan permasalahan
yang menghambat perkembangan Mebidangro. Adapun permaslahan yang dihadapi
berupa koordinasi antar wilayah, permaslahan sosial, ekonomi, lingkungan dan juga
transportasi. Permasalahan yang terjadi harus di selesaikan dengan cepat sehingga
tidak akan menganggu keberlanjutan kedepannya. Reformasi yang telah terjadi
belum sepenuhnya menyebabkan perkembangan kawasan perkotaan secara
signifikan. Hal ini mengingat belum terlaksananya reformasi secara penuh dalam
perkembangan kawasan perkotaan.

1.2 Rumusan Masalah


Melihat dari latar belakang yang sudah dibahas maka bisa didapat rumusan
masalah sebagai berikut:

a) Apakah Permasalahan yang dihadapi Kawasan Perkotaan Mebidangro


diera reformasi ini?
b) Apakah usulan pengembangan Kawasan Mebidangro yang sesuai dalam era
reformasi ini?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang bisa diambil dari latar belakang yang diangkat yaitu
Usulan pengembangan Kawasan Perkotaan Mebidangro berbasis Reformasi.

3|Page
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Gamabaran Umum Kawasan Perkotaan Mebidangro

Kawasan Perkotaan Mebidangro terdiri dari kota dan kabupaten yang ada di
Sumatera Utara yang terdiri dari Luas wilayah Metropolitan Mebidangro, yang
memiliki luas adalah 301.697 ha, Pada tahun 2009 total jumlah penduduk
metropolitan ini mencapai 4.2 juta Jiwa. Dengan perkiraan pertumbuhan penduduk
selama 20 tahun terakhir sebesar 30,95%, diperkirakan jumlah penduduk pada
tahun 2029 akan mencapai 5.5 juta Jiwa. Dilihat dari daya dukung fisik dasarnya,
sekitar 37,55% lahan Metropolitan Mebidangro, yaitu 113.280 ha, potensial
dikembangkan untuk kegiatan perkotaan. Diperkirakan daya tampung kawasan
Metropolitan Mebidangro mencapai 6,8 juta jiwa. Pemerintah Provinsi Sumatera
Utara sendri menyadari pentingnya penetapan wilayah Metropolitan medan hal ini
mengingat perkembangan kota medan yang cukup pesat.
Pembentukan Mebidangro sebagai sebuah Kawasan Strategis Nasional (KSN)
bertujuan untuk mengembangkan wilayah Sumatera Utara sebagai daerah yang
memiliki potensi khusus dan dianggap strategis bagi negara, yang oleh karenanya
diprioritaskan penataan ruangnya. Salah satu hal yang menggunakan Mebidangro
sebagai instrumen yang strategis bagi penyelenggaraaan urusan negara dapat
dilihat dalam kerja sama ekonomi tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan
Thailand Growth Triangle (IMT-GT), dimana Indonesia diwakilkan oleh Sumatera
Utara (Mebidangro) karena wilayahnya yang paling strategis dan dekat dengan dua
negara tersebut. Kebijakan yang mengatur KSN ini merupakan alat koordinasi dalam
penyelenggaraan pembangunan di kawasan tersebut dan didukung pula oleh
kebijakan yang telah ada sebelumnya, yaitu Undang – Undang Nomor 26 tahun 2007
dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008.

Perkembangan kawasan perkotaan Mebidang cenderung untuk membentuk


suatu pola ruang yang ekstensif. Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara
lain:
1) Pengembangan beberapa kota baru dan permukiman skala besar yang
berada terlalu dekat dengan Kota Medan

4|Page
2) Kegagalan pengembangan kota-kota kecil mandiri yang menyebabkan
meningkatnya ketergantungan terhadap kota-kota utama (Medan, Binjai,
dan Lubuk Pakam).
3) Pengembangan bandara baru di Kuala Namu, yang disertai dengan pusat
pelayanan dan permukiman skala besar tanpa kawasan penyangga antara
Kota Medan dan Kuala Namu.
4) Pengembangan jalan tol baru yang menghubungkan Binjai-Medan
danKuala Namu.
5) Pengembangan jalan lingkar luar Kota Medan.
6) Pengembangan jaringan jalan yang merangsang pengisian ruang secara
ekstensif.

Kebijakan dalam Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro meliputi:


1) Pengembangan dan pemantapan fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro
sebagai pusat perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta
mampu bersaing secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi
subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia- Thailand.
2) Peningkatan akses pelayanan pusat-pusat kegiatan perkotaan Mebidangro
sebagai pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama
pengembangan wilayah Sumatera bagian utara.
3) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, serta prasarana
perkotaan Kawasan Perkotaan Mebidangro yang merata dan terpadu
secara internasional, nasional, dan regional.
4) Peningkatan keterpaduan antar kegiatan budi daya serta keseimbangan
antara perkotaan dan perdesaan sesuai dengan daya dukung dan daya
tampung lingkungan;
5) Peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung
lainnya di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, maka diambillah lima langkah strategis


pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro, yaitu pengembangan koridor
ekonomi internasional Belawan – Kuala Namu, pembangunan pusat-pusat
pelayanan kota baru, revitalisasi pusat kota lama Medan dan Kawasan Tembakau
Deli, pembangunan dan pemantapan Koridor Hijau Mebidangro, dan pengembangan

5|Page
Akses Strategis Mebidangro. Pengembangan Koridor Ekonomi Internasional
Belawan-Kuala Namu dilakukan dengan menata pusat Kota Medan menjadi pusat
kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan cagar budaya, dan kegiatan pariwisata
budaya dan buatan. Selain itu, dilakukan pula penataan kawasan agropolitan
tembakau Deli yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau perkotaan, wisata buatan,
dan trade mark perkotaan Mebidangro.

2.2 Permaslahan Kawasan Perkotaan Mebidangro

Sebagai Kawasan Perkotaan yang mengalami perkembangan yang cukup


pesat. Tidak terlepas dari permasalahan seperti pelayanan dasar perkotaan dan
pelayanan skala kawasan. Kondisi Transportasi Mebidangro sendiri menjadi peran
penting dari Kawasan Mebidangro ini dimana Medan sebagai ibu kota Provinsi
harus terintegrasi dengan daerah sekitarnya keterlibatan beberapa daerah menjadi
pertimbangan besar untuk merencanakan sistem transportasi yang
menghubungkan Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten
Karo harus terintegrasi dengan baik. Adapun permasalahan transportasi yang
dihadapi Kawasan Perkotaan Mebidangro yaitu: perkembangan kendaran pribadi
yang pesat, kendaraan umum yang ada usianya sudah tak layak pakai, integrasi
antar daerah yang belum baik , belum terintegrasinya sistem transportasi,
pelayanan, tingkat kemacetan yang meningkat, buruknya pelayanan angkutan
umum, masih terbatasnya pilihan angkutan umum.

Selain itu permasalahan yang dihadapi Kawasan Perkotaan Mebidangro


terkait pelayanan dasar seperti permasalahan persampahan dimana persampahan
yang membutuhkan tempat pengolahan dan pembuangan akhir (TPA) yang
terintegrasi secara regional yang akan di tempatkan di Kabupaten Deliserdang yang
memiliki lahan dan kondisi topografi yang memenuhi syarat TPA, selain itu juga
permasalahan pelayanan air bersih.

6|Page
Gambar 1 Jaringan Jalan Kawasan Perkotaan Mebidangro

Permasalahan paling komplit di Mebidangro yaitu Kemacetan, walaupun


kemacetan yang terjadi saat ini belum separah di Jakarta didalam prediksi yang
dilakukan ditahun 2024 Kota Medan akan mengalami stagnansi dimana diprediksi
akan terjadi macet yang begitu parah. Mengingat hal ini perlu dilakukan
perencanaan yang komprehensif untuk mengatasi hal tersebut. Masalah pelayanan
dasar juga harus dituntaskan agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai. Koordinasi
antar wilayah Mebidangro perlu dilakukan mengingat keterkaitan antar daerah di
Mebidangro itu sendiri. Diera reformasi ini di Kawasan Perkotaan Mebidangro
sendiri belum terlaksana pengembangan Kawasan Perkotaan yang berbasis
reformasi dan berkelanjutan.

2.3 Usulan Pengembangan Kawasan Perkotaan Mebidangro

Melihat dari permasalahan yang dihadapi Kawasan Perkotaan Mebidangro


mengacu kepada jurnal yang sudah saya baca tentang METROPOLITAN
GOVERNANCE REFORM IN ASIA (APRODICIO A. LAQUIAN*) University of British
Columbia, Vancouver, BC, Canada, dimana di dalam jurnal ini dijelkan mengenai

7|Page
perkembangan perkotaan di Asia yang mulai menerapkan reformasi tata kelola
pemerintahan terpadu yang berkelanjutan demi mewujudkan kesejahteraan bagi
masyarakat dan pelibatan masyarakat serta private sektor dalam perwujudan
pembangunan yang berkelanjutan. Analisis yang digunakan dalam jurnal ini bisa
diambil juga dan diterapkan di Indonesia yang juga telah diterapkan di Jakarta.
Pelibatan aspirasi masyarakat dalam perencanaan akan sangat berpengaruh
mengingat masyarakat sendiri merupakan tujuan daari pembangunan suatu wilayah
dan pelibstan sektor swasta dalam penyediaan infrastruktur di Mebidangro
tentunya akan menciptakan tersedianya infrastruktut dan pelayanan yang lebih baik
kepada masyarakat. Integrasi antara daerah juga diperlukan dalam pembangunan
dan perkembangan Mebidangro kedepannya koordinasi antar lembaga terkait
dengan pengembangan wilayah perlu dilakukan mengingat untuk tercapainya
tujuan dari pembangunan tersebut. Di Indonesia sendiri sudah didukung dengan
adanya otonomi daerah yang di berikan oleh pusat kepada setiap daerah untuk
mengatur daerahnya sendiri. Dengan terbentuknya koordinasi yang baik antar
lembaga akan memudahkan dalam proses penyediaan pelayanan dasar baik
transportasi, sanitasi, air bersih, persampahan kepada masyarakat pada umumnya,
terkhusus pada masyarakat di kawasan Mebidangro.

Dimana di Indonesia sendiri telah menerapkan struktur metropolitan


berjenjang/bertingkat. Dimana perencanaan kawasan harus terintegrasi kesemua
sektor pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat. Aglomerasi yang terjadi di
kawasan Mebidangro harus ditangani dengan baik untuk mengantisipasi tumbuhnya
permukiman kumuh dan dan permukiman liar. Untuk membantu pembiayaan
pembangunan kawasan sendiri perlu dilakukan reformasi keuangan dimana
pembangunan tidak bergantung hanya kepada pemerintah, disini kita bisa
memanfaatkan kerjasama dengan swasta dan juga masyarat guna meningkatkan
pembangunan sehingga pelayanan terhadap public dapat meningkat dan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarat. Pembenahan struktur didalam organisasi
juga menjadi faktor penting dalam reformasi perkembangan suatu wilayah dan kota.

Dalam merencanakan pembangunan di Kawasan Mebidangro kita juga harus


memperhatikan aspirasi masyarat dengan melihat demand dan supply yang
dibutuhkan masyarakat. Pengelolaan sumberdaya merupakan salah satu hal
terpenting dalam perkembangan suatu wilayah baik itu sumber daya alam, modal

8|Page
maupun manusia. Koordinasi dan kerjasama antar lembaga terkait menjadi kunci
yang cukup berperan dalam pengembangan suatu wilayah. Aspek Keberlanjutan
juga menjadi tujuan utama dalam reformasi perkembangan wilayah. Dimana semua
aspek harus saling terintegrasi dan saling berhubungan sehingga pembangunan
yang berkelanjutan dapat terlaksana dengan baik.

9|Page
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perkembangan suatu wilayah diperlukan peran dan koordinasi dari semua
stakeholder terkait seperti pemerintah, masyarakat, dan swasta. Penerapan
perencanaan dari bawah akan sangat bermanfaat bagi pembangunan yang
berkelanjutan. Pengembangan suatu wilayah atau kota harus melihat aspek social,
ekonomi serta lingkungan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

3.2 Saran
Saran untuk pemerintah Kawasan perkotaan Mebidangro untuk meningkatkan
koordinasi dan hubungan kerjasama dan tidak hanya mementingkan kepentingan
daerah masing-masing, untuk mewujudkan Kawasan Mebidangro yang sejahtera.

10 | P a g e
Referensi:
http://www.academia.edu/29120693/KONDISI_and_PERMASALAHAN_ANGKUTAN
_UMUM_MASSAL_MEBIDANGRO_KAWASAN_AGLOMERASI_METROPOLITAN diakses
10 Mei 2018 pukul 15.00 WIB
Jurnal METROPOLITAN GOVERNANCE REFORM IN ASIA (APRODICIO A. LAQUIAN*)
University of British Columbia, Vancouver, BC, Canada,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/43595/Chapter%20I.pdf
;jsessionid=2AD3D5D4941385AAA2D34F905804F72D?sequence=4 diakses 11 Mei
2018 pukul 19.20 WIB
https://www.scribd.com/document/344690869/Permasalahan-Dan-Isu-
Pengembangna-Kota-Medan diakses 11 Mei 2018 pukul 19.35 WIB

11 | P a g e