Anda di halaman 1dari 162

KITAB DIRI YG TERSEMBUNYI

‫بسم ا الرحمن الرحيم‬


(KITAB DIRI YG TERSEMBUNYI) Inilah kitab yang membicarakan sebelum alam ini
dijadikan. Bermulah Allah menjadikan Nyawa Muhammad, lalu Tuhan melihat kedepan tiada
sesuatu yang dilihatnya, kemudian melihat ke belakang, kekanan, dan kekiri namun tiada
melihat sesuatu pun. Sedangkan Ia ingin disembah dan dipuji, tidak ada yang memuji dan
menyembahnya. Maka dijadikanlah dirinya didalam dirinya, kemudian melihat ke atas dan
dikatakannya ( ALIF ), keluarlah Nur, inilah Rahasianya Muhammad, melihat ke atas jadilah
Arsy. Melihat ke bawah jadilah Rahasianya.
Kemudian Tuhan melihat ke depan dan dikatakannya ( I ), keluarlah Nur, inilah
Nyawanya Muhammad, melihat ke atas jadilah Kursiyah, melihat ke bawah inilah
Nyawanya. Kemudian Tuhan melihat ke kanan dan dikatakan ( U ), keluarlah Nur menjadi
hatinya Muhammad, melihat ke atas inilah syurga melihat kebawah menjadi hatinya.
Kemudian Tuhan melihat ke kirinya dikatakannya ( HA ), keluarlah suatu Nur, inilah
Misalnya Muhammad, melihat ke bawah jadilah misalnya.
Kemudian Tuhan melihat ke belakang dan dikatakannya ( HU ) , keluarlah suatu Nur
yang menjadi akalnya Muhammad, melihat ke atas jadilah Lauh-Mahfud, melihat ke bawah
jadilah akal Muhammad. Kemudian Tuhan melihat ke bawah dan dikatakannya ( HU ),
keluarlah suatu cahaya, inilah bayang-bayangan Muhammad, melihat ke atas inilah hati
kecil, melihat kebawahnya jadi Rupa. Kemudian Tuhan melihat kedalam diri-Nya, inilah
yang menjadi Hatinya Muhammad, inilah yang dinamakan Halus. Melihat keatas inilah yang
menjadi Rasa. Melihat kebawah inilah yang menjadi Air Mani.
Kemudian Tuhan melihat ke sekeliling-Nya, dikatakan-Nya (HUA HUA) menyebarlah
cahayanya, maka jelaslah Nur Muhammad didalam cahayanya laut kenyataannya Allah
Ta’ala didalam cahayanya Muhammad, dikatakannya dirinya Tuhan, maka dinampakkanlah
dirinya Tuhan dihadapan Muhammad, kemudian Tuhan berkata; “Jadi adakah engkau yang
menjadikan dirimu sehingga engkau melupakan Nyawamu disujudkan di Baitul Maujudi?”
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Maka berkatalah Muhammad: “Engkau baru kulihat, maka sebaiknya kita masing-
masing bersembunyi, barang siapa yang didapat itulah yang menjadi Hamba, yang tidak
dapat diketemukan itulah yang menjadi Tuhan”. Bersembunyilah engkau Muhammad
terlebih dahulu, Aku yang mencari. Maka bersembunyilah Muhammad di Wajah, di ingatan,
di akal, namun setiap persembunyiannya senantiasa diketemukan oleh Tuhan. Berkatalah
Muhammad, bersembunyilah, aku yang mencari.
Maka bersembunyilah Tuhan di waktu 5 (lima), namun Nur Muhammad tidak
menemukannya. Maka berkatalah Tuhan: “Carilah aku sungguh-sungguh, kemudian Tuhan
berpindah menyembunyikan dirinya di Rahasia, juga Muhammad tidak menemukannya.
Sehinga Muhammad berseru: “Dimanakah Engkau bersembunyi, sedangkan suara-Mu
kedengaran tapi aku tak melihat?” Maka Tuhan berkata: “Aku bersembunyi di Rahasia” Lalu
Muhammad mencarinya di Rahasia, namun Muhammad tidak dapat membuka matanya,
dikarenakan cahaya terang yang tidak dapat ditembus, sehingga Muhammad berkata:
“Sudahlah nyatakanlah diri-Mu, Engkaulah yang menjadi Tuhan” Maka berkatalah Tuhan:
“Mana tanda kepercayaan-Mu dan dimana letak berdiri kepercayaanmu?” Maka
dikatakanlah Muhammad: “ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH", lalu Tuhan menjawab:
“WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”.
Ketahuilah olehmu Muhammad “Rupa” itu Sifat-Ku dan nama bagimu, “Waktu” itu
Sifatmu. Berkatalah Muhammad: “bagaimana sehingga Wajah itu namaku sedangkan
adalah Sifat-Mu? Berkatalah Tuhan : adalah Rupa (Wajah) itu namamu dan Sifat-Ku,
karena itulah Aku ingin disembah, dipuji, dikenal, dikasihi, digembirai, sedangkan semua itu
tidak dapat dilakukan-Nya. Sehingga dengan demikian kujadikan diri-Ku dalam diri-Ku.
“Waktu” itu Nama-Ku dan Sifat itu Rupa-Ku, sebab Aku jugalah yang sembah diri-Ku.
Sesuai dengan dalil: Artinya: Adapun yang disembah dan menyembah itu satu. Jadi Aku
yang memuji diri-Ku, dan mengasihani diri-Ku, dan engkau kujadikan yaa Muhammad
Akulah yang menjadikan diri-Ku, dalam diri-Ku, adamu itu ada-Ku-lah itu. Kenyataanmu itu
kenyataan-Ku-lah itu.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Ketahuilah olehmu Muhammad Ada-mu pada Nama-Ku yang sesungguhnya di
dirimu. Adapun Sifat-Ku, ada pada DIAMMU Adapun Rupa-Ku, ada pada I’TIKADMU
Adapun Diri-Ku, ada pada MANFAATMU Adapun Lahir-Ku, ada pada GERAKMU Adapun
Perbuatan-Ku, ada pada PERBUATANMU Adapun Rahmat-Ku, ada pada PERKATAANMU
YG BENAR Adapun kehendak-Ku, ada pada HAJATMU Adapun kekekalan-Ku, ada pada
HATIMU YG BAIK, TEMPATNYA MUHAMMAD.
Fungsi-Fungsi Yang Dibebankan Allah Swt.
a. Fungsi Rahasia, Kebenaran dan Alam
b. Fungsi Nyawa, Penglihatan dan Nama-Ku
c. Fungsi Hati, Niat dan Pengenalan
d. Fungsi Ingat, Angan-angan dan Kekuasaan
e. Fungsi Akal, Yang Nyata dan Kebingungan
f. Fungsi Bayang-bayang, Kepintaran dan Kebodohan
g. Fungsi Nur, Pertimbangan dan Pengetahuan.
TANYA: Apa sebabnya Engkau jadikan yang tujuh itu?
JAWAB: Aku jadikan yang tujuh itu sebab Aku ingin disembah.
TANYA: Dimanakan yang disembah dari yang tujuh itu?
JAWAB: Aku disembah Nur pada bayang-bayang “Bayang-bayang, Ingat, Hati, Nyawa,
Rahasia, di Diri-Ku, dan Akulah yang sembah diri-Ku"
TANYA: Apa penyembahan Rahasia Pada-Mu Yaa Allah?
JAWAB: Penyembahan Rahasia itu, ketika ia mengatakan : “A” Penyembahan Nyawa itu,
ketika ia mengatakan : “I” Penyembahan Hati itu, ketika ia mengatakan : “U” Penyembahan
Ingat itu, ketika ia mengatakan : “Ha” Penyembahan Akal itu, ketika ia mengatakan : “Hi”
Penyembahan Bayang-bayang itu, ketika ia mengatakan : “Hu” Penyembahan Nur itu,
ketika ia mengatakan : “Engkaulah Yang Kusembah Yaa Allah” Adapun kenyataannya
Rahasia: “A” Adapun kenyataannya Nyawa: “I” Adapun kenyataannya Hati: “U” Adapun
kenyataannya Ingat: “Ha” Adapun kenyataannya Akal: “Hi” Adapun kenyataannya Bayang-
http://hambayangfana.blogspot.co.id
bayang: “Hu” Adapun kenyataannya Alif, Rasa, Nyawa Muhammad: "Mani" Adapun
Perbuatan Muhammad itu: “Antara” Adapun yang dinamakan: “Nama Dirimu” artinya “Kita
Berdua Berdiri, Akulah itu Muhammad. Adapun yang dinyatakan: “Engkaulah itu
Muhammad, itulah dinamakan kata “HIDUP TAK MATI” artinya yang disuruh dan yang
menyuruh.
Yang mengetahui hal itu serta dibenarkannya, panjang umurnya, dan disukai oleh
para penguasa, dipercaya oleh orang lain, dihindarkan dari bahaya ujian Tuhan. Ketahuilah
pula kemunculannya NUR: Nur muncul pada bayang-bayang Bayang-bayang muncul pada
Akal Akal muncul pada Ingat Hati muncul pada Nyawa Nyawa muncul pada Rahasia
Rahasia muncul pada Nur Nur muncul pada Tuhannya. Dari situlah kita datang dan disitu
pula kita kembali.
Maka kenalilah Aku sungguh-sungguh Muhammad bahwa, “Kita tidak berpisah” Aku
jadikan segala sesuatu karenamu, sedang engkau untuk-Ku. Muncullah engkau pada
kenyataan, Ku nyatakan engkau dan Ku lindungi engkau. Adapun kenyataan serta
pengertian Alif itu bersumber dari titik atau Zarra atau Nyawa-berlindung. Yang dinamakan
Nyawa berlindung yakni Rahasia atau Cahaya Zat dan Sifat itulah yang memperkenalkan
Tuhan. Adapun iman itu tempatnya Rahasia, Artinya Rahasia adalah Cahaya Hati-Nurani,
ketika baris atas, bawah dan titik itu terbagi, maka jadilah 4 (empat) huruf, pertama ALIF,
kedua LAM dimuka, ketiga LAM dibelakang, dan keempat HA, inilah lafasnya (Allah SWT).
Nyawa muhammad dinamai Ma'rifat Nyawa kita dinamakan Haqiqat Angan angan
kita dinamakan Thariqat Tubuh kita dinamakan Syariat ialah pengetahuan tentang
pengenalan diri didalam Tubuh kita. Apabila Nyawa itu melihat pada Allah SWT: Rahasia
namanya. Apabila Nyawa melihat pada Alam: Iman namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Akhirat: Nyawa namanya. Apabila Nyawa melihat ke
dunia: Badan jasmani namanya. Apabila Nyawa melihat kepada badan jasmaninya: hati
kecil namanya. Artinya : Adapun ilmu pada Allah, kebodohan terhadap sesuatu, Adapun
ma’rifat kepada Allah, menyangkali diri, Adapun bertauhid kepada Allah, keheran-heranan.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali: ketahuilah bahwa keluar masuknya nafas itulah
yang dikatakan sembahyang bathin selamanya tidak membedakan antara siang dan malam
dan diwaktu tidur dan diwaktu jaga.
Apabila nafas keluar dikatakannya "LAA" Apabila nafas masuk dikatakannya "HU"
Itulah nama Tuhan serta nama Nabi yang tidak berpisah atau dinamakan “SYAHADAT-
DUA” Keluar nafas: "Sunnah" Shalat dirinya Tubuh Masuk nafas: "Fardhu" Tanda
kematiannya :
 Ada yang dilihat seperti keranjang cermin, didalamnya ada orang seperti
wajahnya diwaktu ia masih muda.
 40 (Empat puluh) malam sesudah ia melihat lalu ia meninggal, empat puluh
malam didalam kubur, lalu naik ke syurga pertama. Keluar nafas: "Ilmu"
Shalat dirinya Iman Masuk nafas: "Pengetahuan" Tanda kematiannya : •
 Ada yang dilihat seperti lampu lilin dikepalanya, terus naik ke langit •
 Tiga puluh (30) malam sesudahnya itu, ia meninggal, sekian malam didalam
kubur lalu naik ke syurga yang kedua. •
 Pegangannya pada Qur’an 30 juz. Keluar nafas: "Dunia" Shalat dirinya Akal
Masuk nafas: "Akhirat" Tanda kematiannya : •
 Ada yang dilihat dikepalanya cahaya keluar, lalu naik ke langit •
 Dua puluh malam setelah itu lalu ia meninggal, sekian malam ia didalam
kuburnya ia naik kelangit ketiga. •
 Pegangannya “Sifat Dua Puluh” Keluar nafas: "Hamba" Shalat dirinya Ingat
Masuk nafas: "Tuhan" Tanda kematiannya : • Ia melihat sesuatu seperti telur,
didalamnya ada seperti masjid, cermin didalamnya, ada orang seperti
wajahnya diwaktu mudanya. •
 13 (tiga belas) malam merikutnya ia meninggal, sekian malam pula ia didalam
kuburnya lalu ia naik ke syurga yang ke 4 (empat). •

http://hambayangfana.blogspot.co.id
 Berdirinya Rukun 13. Keluar nafas: "Sifat" Shalat dirinya Hati Sanubari Masuk
nafas: "Zat" Tanda kematiannya: •
 Ia melihat nur yang berdiri di pusatnya, seperti terangnya bulan ke 14,
didalamnya ada orang seperti wajahnya diwaktu mudanya. •
 Lima malam sesudahnya ia meninggal, dan sekian lama juga dikuburnya, ia
naik ke syurga yang ke lima. Keluar nafas: "Nabi" Shalat dirinya Hati Nurani
Masuk nafas: "Tuhan" Tanda kematiannya: •
 Ia melihat “seperti rambut” berdiri diantara kedua matanyasampai ke syurga,
di dalamnya ada Nur yangmerah seperti matahari. •
 3 (tiga) malam sesudahnya ia meninggal, sekian malam juga di dalam
kuburnya, ia naik ke syurga yang ke 6 (enam). •
 Penerapannya dalam tafakkur : “ Mulut ditutup, nafas melalui hidung”. Keluar
nafas: "Rupa Tuhan" Shalat dirinya Nyawa Masuk nafas: "Wali Tuhan" Tanda
kematiannya: •
 Ia melihat seperti busa-busa emas sampai di langit (bulan) berdiri diantara
kedua kening seperti “rambut yang hijau” melekat di Arsy, ada juga seperti
bulan 14 munculnya. •
 1 (satu) malam kemudian ia meninggal, semalam juga dikuburnya ia laik ke
syurga yang ke 7 (tujuh). •
 Diberikan perasaan seperti orang yang sedang bersetubuh ni’matnya. Inilah
berdirinya “Jibril”. Keluar nafas: "HU" Shalat dirinya Rahasia Masuk nafas:
"HU" Tanda kematiannya: •
 Ia melihat permata yang jernih gilang gemilang, menjadi orang seperti dimasa
mudanya, bercahaya wajahnya dan dirinya. Itulah “Halus Kita” keluar, itulah
juga Nur, Itulah juga yang menjadi Tubuh kita. •

http://hambayangfana.blogspot.co.id
 Pada saat lepasnya Nyawa, diberikan perasaan seperti keluarnya mani. Pada
hari kematiannya itulah ia dikuburkan, hari itu juga ia naik ke syurga yang ke
8 (delapan) di “Arsy Kursyiyah”. •
 Inilah yang tidak menunggu bacaan talqin. •
 Inilah berdirinya Muhammad, •
 Inilah yang dinamakan: → “shalat yang berkekalan dan berkepanjangan”. →
Tali yang tidak putus pada Allah. → Kain Kafan yg tidak hancur Jika kita
berdiri untuk shalat, pada haqiqatnya ALIF itulah yang berdiri untuk shalat.
Maksudnya: Naikkan terlebih dahulu nafasmu kemudian berdiri, artinya:
Nyawa yang terlebih dahulu berdiri, kemudian Tubuh sebab tidak mungkin
Tubuh yang dapat mendirikan Nyawa, sebaliknya Nyawa itulah yang
mendirikan Tubuh.
Jangan bertentangan perbuatan Tubuh dengan Nyawa, karena yang demikian itu
sama halnya dengan orang yang menserikatkan Tuhan. Hal ini diibaratkan bahwa, Nyawa
itu ibarat Imam terhadap Tubuh, sudah tentu Imam itu terdahulu yang berdiri kemudian
ma’mum. Itulah sebabnya maka “Imam” itu wajib diketahui. Bilamana ada orang yang
bertanya siapa Imammu dalam shalat, maka jawablah bahwa “Al-Qur’an itulah Imamku”...
Apa artinya Al-Qur’an itu?... Al-Qur’an itu Kalamullah atau perkataan Tuhan, dan Tuhan itu
bersifat Qadim, jadi Al-Qur’an itupun Qadim.
Jadi pada haqiqatnya Tuhan itulah Imam, tanpa demikian ini berarti shalatnya tidak
sah. Sebab yang dimaksudkan shalat disini ialah Dzahirnya perbuatan. “Dzahir” artinya
perbuatannya Tuhan pada kita. Allah juga pada haqiqatnya. Sehingga kita bersatu kata atau
sekata dengan Imam (Imam dengan Ma’mum). Dikatakan “Imaman Lillahi Ta’ala”, artinya
Imam karena Allah Ta’ala. Dikatakan “Ma’muman Lillahi Ta’ala”, artinya Ma’mum karena
Allah Ta’ala. Imam itulah yang menggerakkan ma’mum, demikian pulalah Nyawa itulah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
yang menggerakkan Tubuh, dan tidaklah Nyawa itu dapat bergerak jika tidak karena
kehendak Tuhannya.
Bila hendak Ruku’, turunkan nafasmu dahulu, kemudian badanmu ruku’. Begitu pula
I’tidal (Sami Allahu Liman Hamida), naikkan kembali nafasmu, kemudian tegak. Sujud juga
demikian, turunkan dahulu nafasmu, kemudian sujud. Lawan sujud juga demikian, naikkan
dahulu nafasmu, kemudian mengangkat kepala (kembali duduk). Demikianlah Nafas itu
diikuti naik turunnya, begitulah Imam para Nabi termasuk Nabi Muhammad saw, dan para
Wali. Inilah yang dikatakan “IMAM TANPA DI IMAMI”.
Bila ada orang yang memakai (memperkenalkan) hal ini, maka itulah orang yang sah
dijadikan Imam. Jadi bila ada orang yang menjadi Imam sedang ia tidak mengetahui hal ini,
sedang Ma’mumnya ada yang mengetahui, maka dikatakanlah “IMAM YANG DI IMAMI
OLEH MA’MUM”. Selanjutnya bila sudah membuang Takbiratul Ihram, tahanlah nafasmu
sebentar, itulah yang dikatakan “Lenyap Kepada Nur Muhammad”. Adapun yang
dibicarakan masalah Nahwu dan Sharaf, “huruf” Baris, dan Lagunya”.
Jadi hanya masalah “Lafaz”. Bila dikatakan bahwa “Kata-Kata Tuhan Itu Bukan
Huruf, Bukan Suara, Bunyi, Tidak Berawal, Tidak Berakhir, Dan Tidak Tasdik”, maka
bingunglah orang-orang Nahwu dan Sharaf. Sebab bukan Huruf. Bahkan baris tiga Alif itu
tidak dilihat oleh Nahwu dan Logat. Sebab huruf tidak bersambung. Sebab Alif yang ditulis
dengan tinta itu menunjuk kepada Alif yang bukan tinta. Sedangkan Alif yang bukan tinta itu
menunjuk kepada kata-kata Tuhan. Bila tanda kematian telah tiba, maka hal yang sangat
penting untuk dilakukan adalah: -
 Perbanyaklah bertobat kepada Allah swt, atas segala kesalahan-kesalahan
yang pernah diperbuat lahir maupun bathin, besar atau kecil, sengaja
maupun yang tidak disengaja. –
 Perbanyaklah berdzikir kepada Allah swt: - Laa Ilaaha Illallah - Allah, Allah -
Hua, Hua - Ah, Ah –

http://hambayangfana.blogspot.co.id
 Serahkan dirimu sepenuhnya, artinya gaibkan dirimu kepada Nur
Muhammad, dengan demikian sampailah engkau atau kekallah engkau pada
Zat Allah swt, Sebab mustahil akan bercerai Nur dengan yang punya Nur,
laksana matahari dengan cahayanya. Insya Allah selamatlah engkau. -
Sangkalah dirimu didalam rahmat Tuhanmu, jika engkau menyangka dirimu
disiksa, maka disiksalah engkau, bila menyangka dirimu diselamatkan dari
segala bahaya, maka diselamatkanlah engkau. –
 Adapun tanda itu harus, artinya: boleh jadi ada, boleh jadi tidak ada,
tergantung kepada kehendak Allah swt. Hanya kematian itu yang pasti
adanya. Adapun tanda kematian itu sebagai berikut: -
 Melihat Nur yang lebih terang dari cahaya matahari. –
 Melihat ke langit tujuh susun tanpa halangan sampai pada Arsy Qursyiyah. –
 Melihat Nur yang terang, tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian hijau
berdiri disebelah kananmu lalu memegang telunjukmu dan berkata; “Lupakan
saja dunia yang gelap ini, akhirat itulah yang terang, kesanalah engkau, dan
Allah lebih mengetahuinya”, Muhammad itu yang mendatangimu dan
katakanlah: “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Annaka
Muhammadan Rasuulullah” Artinya: Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain
Allah, dan Anda adalah Muhammad Rasulullah. –
 Selanjutnya melihat Nur yang tidak dimengerti tak ada seumpamanya,
muncul lalu lenyap, muncul lagi dan segala sesuatu sudah pada sujud, itulah
tanda akhir hidupmu di dunia ini, tidak akan kembali lagi untuk selama-
lamanya. –
 Adapun perasaanmu lebih nikmat daripada bersetubuh antara suami dengan
isteri. Biasa saja terjadi kalau diketahui jalannya, dan sehubungan dengan hal
itu ada hadits Qudsi yang menunjangnya, yang artinya: “Ingatlah Aku (Allah)

http://hambayangfana.blogspot.co.id
diwaktu senangmu, maka Aku (Allah) mengingatmu diwaktu susahmu”.
Pertanyaan: -
 Manusia diwaktu senang, kapan? Dan manusia diwaktu susah, kapan? Dan
bagaimana caranya mengingat Allah diwaktu senang? –
 Adapun orang yang bias mendapatkan kenikmatan itu, tanda-tandanya:
Basah disekitar alat kelaminnya, karena keluarnya air mani ketika
berpisahnya Tubuh dengan Nyawa. –
 Sewaktu mengucapkan Laa Ilaaha: niatkan dirimu lenyap bersama Nur
Muhammad pada Dzat Allah - Kemudian mengucapkan Illallah: niatkan dirimu
kekal bersama Nur Muhammad pada Dzat Allah. Lailahailallah: - Laa Ilaaha,
artinya menafikkan atau meniadakan –
 Illallah, artinya mengisbatkan atau mengadakan pada wujud Allah. –
 Hati yg menarik, Nyawa yang ditarik, Rahasia tempat menarik. –
 Cahaya Cermin itu adalah tempat Manusia –
 Cahaya Intan itu adalah tempatnya Muhammad –
 Cahaya Jamrud itu adalah tempatnya Allah swt –
 Maka dimasukkanlah diri-Nya didalam Cahaya Cermin, kemudian berpindah
ke Cahaya Intan, kemudian ke Cahaya Jamrud didalam Nur Ilahi bersama
Muhamad –
 Demikianlah cara pengembalian serta pengekalan para Aulia Allah. -
Ketahuilah bahwa: -
 Dzat Allah itu bathin pada Nyawa Muhammad, sehingga tidak ada pemisahan
antara Hati Nurani (Nyawa kita) dengan Nyawa Nabi kita serta Dzatnya Allah,
artinya: tubuh itu dapat bergerak, berkehendak, kuasa, hanya karena perintah
dari Nyawa kita. Sedangkan Nyawa dibawah perintah Nur Muhammad,
sehingga ia dapat bergerak, kuasa dan mengetahui. –
http://hambayangfana.blogspot.co.id
 Adapun Nyawa Muhammad, nyata pada Dzatnya Allah, menurut dalil yang
mengatakan Artinya: Seandainya bukan karena engkau Muhammad, Aku
tidak menjadikan segala sesuatu. Arti Haqiqatnya: “Tidak berpisah Nur
dengan yang punya Nur”. Mengenal Allah, Dzat, Sifat, Asma, Af’al, Diri,
Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia, itulah bernama “Insan” atau “Tuhan”. –
 Yang memerintah Tubuh kita, Af’al (Perbuatan) pada Allah - Yang memerintah
Hati kita, Nama pada Allah –
 Yang memerintah Nyawa kita, Sifat pada Allah –
 Yang memerintah Rahasia kita, Dzat pada Allah . Sabda Nabi Muhammad
SAW Artinya : Pengenal pada diri ada empat: Tubuh, Hati, Nyawa, dan
Rahasia. Artinya : Beginilah pengenal pada diri (tubuh) kita serta Tuhan.
Artinya : Ketahuilah Kekuasaan Tuhan dan Kehendaknya dalam segala
sesuatu tiada yang mencampurinya. Artinya : Semua kata-kata dan kalimat
itu adalah kata-kata dan kalimat Tuhan. Artinya : Pengenalan dengan meng-
Esakan (men-Tauhidkan) Allah. Artinya : Tidak sempurna Islam seseorang,
kecuali mengenal Iman, Yang dikatakan orang beriman ialah, orang yang
“Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya”. Artinya : Hati orang beriman,
Rumah Allah. NAFAS:
Adapun bilangan keluar masuknya nafas dalam sehari-semalam sesuai dengan
bilangan huruf Al-Qur’an = 32.005.345 (tiga juta lima ribu tiga ratus empat puluh lima).
SYAHADAT : Adapun Syahadat itu, “Hidupnya” Allah yang dijadikan Tubuh pada kita.
Isyaratkan bahwa Tubuh kita tidak bercerai dengan Hidupnya Allah swt. SATINJA: Adapun
Satinja itu, Cahaya Allah yang menjadi kesucian pada hati kita, menjadi rumah-Nya orang
mu’min. Isyaratkan bahwa kesucian kita tidak berpisah dengan Nur Allah swt. Jadi Hati kita
tidak terpisah dengan Halusnya Allah swt. JUNNUP' : Adapun Junnu itu, Halusnya Allah
yang dijadkan Rasa Ni’mat pada diri kita.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Di isyaratkan, tidak berpisah ni’mat kita dengan Halusnya Allah swt.
PERSETUBUHAN: Sebelum melaksanakan malam pertama bagi pengantin baru (juga bagi
pengantin lama kalau belum pernah melaksanakannya), hendaknya melakukan terlebih
dahulu “Nikah Batin”. Seorang suami jangan hanya mengawini isterinya hanya tubuh
kasarnya saja, tapi yang harus dikawininya ada 6 (enam) macam, yaitu :
1) Tubuh
2) Hati
3) Nyawa
4) Rahasia
5) Tubuh Halusnya
6) Maunya Seorang suami harus meminta halalnya dari isterinya keenam macam itu.
Kalau tidak tahu silahkan tanyakan kepada yang tahu.
- Dimisalkan makanan yang telah dihidangkan:
- Maka sebelum dimakan diucapkanlah dzikirnya Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia.
- Pada suapan pertama: dikatakan "A" Tidak disentuh lidah. Inilah suara mula jadi.
- Pada suapan kedua: dikatakan "I, U" jangan disentuh lidah. Inilah “Junnu”.
Selamat dunia & akhirat. –
Jika sudah berulang-ulang kali suapannya, dikatakanlah "A" sebab itulah yang tidak
disentuh tulisan, jangan dilupakan sampai selesai. Beginilah cara Ali dengan Fatimah. -
Dalam buku Yoga dan sex, dalam waktu sekejap mata, sepasang suami isteri yang
mencapai klimax dari hubungan sexnya, akan lebih dekat dengan Allah swt. Justru itu
jangan kerja seperti alu, tidak ada hasil. Jadi kalau kerja pasti ada hasilnya. Apakah : -
Manusia berilmu? - Manusia berpangkat? - Manusia berharta?, dsb...Mudah-mudahan
mengerti maksudnya. –
Nabi Khaidir a.s: Bagaimana yang dikatakan “Awal Permulaan? → Nabi Muhammad
saw: Barang siapa yang mengetahui tentang awal permulaan ini, maka Allah Swt,
mengampuni segala dosa-dosanya serta kedua orang tuanya, begitu pula segenap sanak
http://hambayangfana.blogspot.co.id
keluarganya dan familinya, jauh maupun dekat, diampunkan segala dosa-dosanya dunia
dan akhirat. Sewaktu kita masih berada di dalam pengetahuan Allah Swt., kemudia pindah
kepada kenabian (alam nubuah) dan juga kita masih pada Angin, Air, dan Tanah. –
Nabi Khaidir a.s: Siapa nama kita pada awal permulaan? → Nabi Muhammad saw:
Adapun mula-mula nama kita pada Allah Ta’ala : - bagi laki-laki bernama ALI” - bagi
perempuan bernama “FATIMAH”. - Sewaktu kita tinggal pada Darah - 1 bulan - 2 bulan - 3
bulan - 4 bulan - 5 bulan - 6 bulan - 7 bulan di dalam rahim ibu lengkaplah Tubuh, maka
dibacakan “Al-Hamdu” - 8 bulan di dalam rahim ibu dibacakanlah “Qul Huwallaahu Ahad” - 9
bulan di dalam rahim ibu maka Tuhan berkata: "Bersiap-siaplah untuk keluar ke dunia,
disambut dengan malaikat dan rezeki yang murah, banyak, atau sedikit, demikian pula
umurmu panjang atau pendek".
Berkata syahadat pada Tuhan: Saya takut yaa Tuhan. Kenapa engkau takut sedang
Aku yang menyuruhmu? Saya takut sebab saya belum tahu siapa namamu yaa Tuhan.
Tuhan berkata: Alif namaku. Syahadat berkata: kalau begitu sama dengan kita. Tuhan
berkata: Siapa namamu? Syahadat berkata: Alif juga namaku. Kalau begitu sama namamu
dengan nama-Ku. Ketahuilah Aku, agar engkau Ku ketahui juga. Kenalilah Aku, agar
engkau Ku kenal pula. Dengan cara bagaimana aku mengetahui yaa Tuhan? Tuhan
menjawab: “Yaitu dengan baris diatas (A). itulah sebabnya tangis pertama bayi lahir
kedunia.
Bila ada orang yang bertanya kepadamu, bagaimana pengetahuanmu pada Allah
Ta’ala sehingga engkau dinamakan orang yang berma’rifat. Katakanlah kepadanya: “saya
mengetahui dengan pengenalannya sendiri, tempat saya melihat dan mengetahui, artinya
dengan pengetahuannya saya mengetahui, dengan pengenalannya saya mengenalnya”.
Ketahuilah olehmu tentang “Rahasia Mati” sebelum mati. Barang siapa yang telah
mengetahui hal tersebut, berarti itulah orang yang telah mempersiapkan dirinya bagi
Tuhannya, dan Tuhanpun tersedia baginya. Yang dimaksudkan ialah : - Mandikan dirimu,
bukan dengan air - Bungkus dirimu, bukan dengan kain kafan - Sembahyangi dirimu
http://hambayangfana.blogspot.co.id
sebelum matimu - Kuburkan dirimu, bukan dengan tanah Karena sesungguhnya Tuhan
telah berkata bahwa bagi hamba-Ku yang demikian itu, itulah yang tidak bercerai dengan
Aku, dan lepas dari segala tuntutan dunia dan akhirat.
Itulah hamba yang beriman sungguh-sungguh dan berserah diri sepenuhnya kepada
Allah Ta’ala semata. Adapun kematian itu ada 4 (empat) tingkat, yakni :
a. Kematian Syariat: Yaitu mengucapkan dzikir Laa ilaaha Illallah pada akhir
kematiannya
b. Kematian Thariqat: Yaitu mengucapkan dzikir Allah, Allah pada akhir
kematiannya
c. Kematian Haqiqat: Yaitu yang mengucapkan dzikir Huwa, Huwa pada akhir
kematiannya
d. Kematian Ma’rifat: Yaitu mengucapkan dzikir Ah, Ah, pada akhir kematiannya
→ Tanda-tanda Kematian Syariat: Yakni Hancur tubuhnya dalam kubur → Tanda-
tanda Kematian Thariqat: Yakni tubuhnya tidak rusak dan kering → Tanda-tanda
Kematian Haqiqat: Yakni Tubuhnya utuh dan rambutnya serta kukunya bertambah
panjang, wajahnya bercahaya-cahaya.
→ Tanda-tanda Kematian Ma’rifat: Yakni tubuhnya lenyap dalam kubur, diambil
oleh Malaikat, dibawa ke Tanah Suci menjadi “Wali Allah”. → Yang dikatakan
“sudah membungkus diri sebelum mati ialah: Lenyapkan Tubuhmu kedalam
hatimu. → Sudah memandikan diri sendiri bukan dengan air ialah : Lenyapkan
dirimu dilaut adanya Allah.
→ Sudah menyembahyangi diri sendiri, ialah Rahasiamu lenyap pada Nur
Muhammad, Nur Muhammad lenyap pada Nur Allah. → Tetapkan hatimu dalam
keyakinan bahwa Tuhan itu Esa adanya. → Bila sudah ada nur yang tiada
seumpamanya, sedang masih ada perasaan sakit dirasakan, itu belum yang
sebenarnya. Jangan di ikuti.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
→ Bila sudah merasakan ketenangan dan kenikmatan semata dan seluruh
perasaan telah sujud, berarti yakinilah bahwa Tuhanmu telah ada, apakah ada
Nur atau tiada, berangkatlah. Insya Allah anda telah selamat.
Adapun hikmah yang dikehendaki dalam Shalat Subuh itu, yakni mensucikan
seseorang daripada kelupaan dan kelalaiannya, sehingga menetapkan hadapannya
semata-mata kepada Allah Ta’ala yang tiada seumpamanya sesuatu. Itulah sebabnya maka
tidak ada shalat sunnah sesudah Shalat Subuh. - Adapun yang dikehendaki dalam Shalat
Dhuhur itu, yaitu: sucikan pandanganmu melihat ke-Esaan serta kesempurnaan Allah Ta’ala
sampai memasuki waktu Ashar. –
Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Ashar, yakni sucikan dirimu serta
himpunkan penglihatan sempurnamu menghadap pada Himpunan Allah (Tauhid) Yang
Maha Esa. Itulah sebabnya tidak ada shalat sunnah dibelakang shalat ashar. - Adapun yang
dikehendaki dalam Shalat Maghrib, yakni sucikan pendengaranmu, penglihatanmu, serta
kata-katamu. –
Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Isya’, yakni sucikan kegelapanmu menuju
yang terang, artinya hilangkan keakuanmu, serahkan dirimu kepada yang punya diri
(pencipta). Jelasnya hanya Allah swt yang berkuasa, berkehendak, yang hidup seterusnya,
tiada yang lain. –
Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Witir, yakni menetapkan ingatan lahir dan
bathin, tertuju kepada Allah semata-mata, demi untuk dan karena Allah semata. Bagi orang
yang telah memiliki keyakinan yang putus adanya maka tiada lagi hal yang tersembunyi
baginya, bahkan Tuhannya itulah yang paling nyata dalam segala hal. Baginya tiada
perbedan diwaktu hidup didunia dan diakhirat.
Mereka telah yakin bahwa hidupnya itu tidak akan mengalami kematian, sekalipun
kelak akan berpisah dengan tubuhnya. Dalam arti men-Tuhankan Allah swt. itu adalah
menyadari seluruh jiwanya bahwa segala bentuk serta penghayatan dirinya, pada
Tuhannyalah ia mengharapkan. Sebab segala yang ada adalah hak dan milik Tuhan,
http://hambayangfana.blogspot.co.id
bahkan dirinya sendiri telah bukan lagi miliknya. Mereka telah menyadari bahwa ke-aku-
annya selama ini adalah “palsu” belaka. Adapun yang bernama itu, laksana gelombang
dengan air lautan.
Bila gelombang itu telah tiada (sirna), maka yang ada hanya lautan itu sendiri.
Jelaslah dalam hal ini bahwa gelombang itu adalah merupakan sifat dari lautan. Laksana
bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang. Dengan demikian tiadalah bedanya
jika kita menyadari hal ini bahwa yang bathil itu, bathil sejak dahulu, sekarang maupun akan
datang. Sebaliknya bahwa “Haq” itu awal tak berpermulaan akhir tak berkesudahan, tiada ia
dicakup oleh ruang dan waktu, nyata ia dibalik segala yang dinyatakan.
Siapakah dia? Dia itulah yang sebenar-benarnya hakikat diri kita yang tak dapat
diragu-ragukan lagi. Bahwa Dzat itulah yang bersifat, artinya bahwa hidup kita ini adalah
kenyataan sifatnya, dan yang bersifat itulah yang menghidupi segala sesuatu. - Jadi yang
menjadi Hidup (Nyawa) Muhammad dinamai “Titik”, artinya Rahasia. –
Sedangkan yang dinamai “Rahasia” adalah Nur Zat. - Yang menjadi sifat itu adalah
yang dinamai “NUR”, artinya Nur yang tidak berubah-ubah (hidup yang tidak berubah). -
Adapun Jiwanya (Nyawa) adam, adalah Alif, artinya Himpunan, maka Nyawa namanya. -
Jadi Nyawa itu ada 2 (dua), yaitu; 1. Nyawa yang dinamai “Titik” adalah Nyawanya
Muhammad 2. Nyawa yang dinamai “Alif” adalah Nyawanya Adam. Inilah yang tiga tidak
berpisah Jadi bila hal tersebut telah menyata pada kita, berarti kita telah menyaksikan
(melihat) buktinya sempurna.dengan demikian maka selamatlah anda untuk selama-
lamanya, kekal abadi dunia akhirat. Inilah dapat dikatakan “kesempurnaan ilmu” atau
kepastian ilmu.
Segala yang dijadikan itu adalah bayang-bayang pada Tuhan. Sedang bayang-
bayang dengan yang punya bayang-bayang adalah “Satu”. Gerak bayang-bayang itu
adalah geraknya yang punya bayang-bayang. Yakinkan dan jangan ragu-ragu lagi nanti
salah. NYAWA: menurut Syariat = NYAWA namanya menurut Thariqat = NUR namanya
menurut Haqiqat = ZAT ALLAH namanya menurut Ma’rifat = TIDAK ADA YANG LAIN
http://hambayangfana.blogspot.co.id
KECUALI ALLAH. NABI MUHAMMAD SAW DENGAN ANAKNYA FATIMAH: Nabi
Muhammad saw berkata kepada anaknya: “Hai Fatimah, apakah engkau masih ingat yang
telah saya katakana padamu?” Fatimah menjawab: “Ya saya ingat semuanya” Ingatlah
sebuah “kata” yang tak berpisah dengan Tuhan, yaitu sewaktu Tuhan memesrahi sesuatu,
yakinkan dalam hatimu yang bersih.
Barang siapa yang menemukan pengenalan yang sesungguhnya didalam kehendak
Tuhannya, itulah orang yang memakai: Penglihatan Tuhannya ia melihat, Pendengaran
Tuhannya ia mendengar, dengan kata Tuhannya ia berkata, dan katakanlah nama itu tidak
berpisah dengan yang punya nama. Janganlah merasa ragu dalam hatimu, itulah sebabnya
sehingga ada yang dikatakan: “Kepastian Ilmu” atau Ilmil Yakin, Haqqul Yakin. Yakinkan
dalam hatimu, tidak berpisah dengan Tuhanmu serta Rasulnya.
Sebab haqiqat NYAWA yang suci itulah yang dinamakan “Muhammad” artinya orang
yang dicinta. Artinya: Insan itu Rahasia-Ku, dan Aku Rahasianya. Kuatkan Tauhidmu pada
Allah swt. Adapun pengertian sebenarnya kalimah: Laa Ilaaha Illallah yaitu “TIADA ASALKU
YANG SELAIN DARI ALLAH TA’ALA” Nabi Muhammad saw berseru kepada seluruh
umatnya: “Ketahuilah dirimu didalam dirimu” Yakni: ada 4 (empat) : Rahasia, Nyawa, Hati,
Tubuh. 1) Rahasia itu Nur Zatullah 2) Nyawa itu Nur Sifatullah 3) Hati itu Nur Asmaullah 4)
Tubuh itu Nur Af’alullah.
Dari ke 4 (empat) tersebut diatas, 3 (tiga) yang dapat melihat pada Allah. Allah itulah
yang menjadikan semesta alam beserta isinya dan berubah-ubah, Tuhan juga yang
meliputi, menembus, memesrahi beserta isinya. As-Syeikh Lukmanul Hakim bertanya
kepada anaknya : “Apa sebabnya Al-Fatihah dibaca dalam shalat”? Indrajaya menjawab:
“bahwa shalat lima waktu berasal dari surah Al-Fatihah, pada awalnya, yaitu: Al-Hamdu
terdiri dari lima huruf yaitu : Alif Lam Ha Mim Dal Allah swt menjadikan waktu yang lima itu
sebagai berikut :
a. Waktu Dhuhur: dijadikan dari huruf Alif-nya Al-Hamdu
b. Waktu Ashar: dijadikan dari huruf Lam-nya Al-Hamdu
http://hambayangfana.blogspot.co.id
c. Waktu Maghrib: dijadikan dari huruf Ha-nya Al-Hamdu
d. Waktu Isya’: dijadikan dari huruf Mim-nya Al-Hamdu
e. Waktu Subuh: dijadikan dari huruf Dal-nya Al-Hamdu

[RAHASIA YG DISEMBUNYIKAN]
‫بسم ا الرحمن الرحيم‬
(RAHASIA YG DISEMBUNYIKAN) sebagai umat muslim yg baik pasti dihati kita
banyak yg ingin pergi ke mekah hanya sekedar untuk melihat ka'bah Berbondong-bondong
manusia dari lapisan bumi ini yg berkerumun mengelilingi ka'bah, bahkan jika kita telah
sampai pada pengetahuan makrifat maka kita juga bisa menyaksikan juta'an jin yg jg
mengitari bangunan ka'bah ini berangkat dari sinilah pengetahuan ilmu haqiqat ka'bah ini
dimulai, kalau kita mampu menguak tabir haqiqat kabah ini, maka dapat kita mengakses
keajaiban-keajaiban serta fungsi-fungsi nya Diantara nya adalah raja dari raja pelarisan
usaha, raja pengasihan umum maupun khusus dll.
Baiklah mungkin diantara kita ada yg tidak sabar bagaimana sih caranya, mengapa
banyak jabar nya, tentu jabaran di atas sangatlah perlu, tanpa pengetahuan ilmu nya, tentu
kita tidak mampu meraih karomahnya
Baiklah langsung saja kita mulai bagaimana agar kita mampu meraih karomah
haqiqat ilmu ka'bah ini pertama-tama berwudhu lah terlebih dahulu, siapkan kamar yang
bersih, lalu duduklah yg rileks dan tenang Lalu rasakan dan menyatulah dengan alam,
masuk dan ikuti pergerakan alam tersebut tanpa melawan, kemudian bayangkan anda
berada di depan pintu ka'bah dan masuklah
Nah, pada tahap ini lupakan anda sedang berada dalam kamar tadi atau tepat
dimulainya proses ini serta perjalanan-perjalanan tadi Benar-benar rasakan bahwa anda
sedang duduk ditengah-tengah ka'bah tadi, dan rasakan dengan sebenar-benarnyalihatlah
sekeliling anda dg visualisasi bahwa anda anda dapat melihat sekeliling anda dan haqul
yaqin bahwa anda benar-benar ditengah-tengah ka'bah dan bukan ditempat lain - (tentunya

http://hambayangfana.blogspot.co.id
anda harus tahu dulu tentang kabah ini kan mustahil tidak tahu rupa kabah tapi
membayangkan ka'bah) diamkan jiwa anda berlama-lama didalam ka'bah tersebut, lalu
ucapkan dalam hati : "AL IDZATULILLAHI BI'ISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM jiwaku
adalah wujud kebenaran Allah, sirrullah dzatullah, sukma Cahaya dan rasa bathinku, Yahu,
(sebutkan kehendak) Hu Allah, dan ijabah lelaku yg kuinginkan, KUN SHOLLI ALA
MUHAMMAD KUNHI MUHAMADAN"
Ini adalah bagian dari kalimat yg disembunyikan kaum makrifat yg mengetahui inti
membangun kekuatan NUR Muhammad lalu jika sudah dirasa cukup akhirilah dengan
mengucapkan rasa syukur kita kepada ALLAH swt. Lakukan ini sesering mungkin insya
Allah jika anda benar dalam melakukan nya maka karomah dari ka'bah ini akan menyatu
dalam jiwa anda dan keajaiban akan anda rasakan disetiap langkah anda.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
NURHIDAYAT
‫حيملرا الرحمن ٱللل بسم‬

‫ى‬‫ب لدرُر ة ى‬
‫صــوباَلح تفــىِ لزوجاَوجــ ‌ةة ٱلززوجاَوجــلة وكأ ولنوہـاَ وكـروُوك ة ح‬ ‫صوباَ ‌حح ٱرلتم ر‬
‫ض وموثلل لنوُترتهۦِ وكتمرشوكـوُةةة تفيوہاَ تم ر‬ ‌ ‫ت ووُٱرلورر ت‬‫لنوُلر ٱللسومــووُٲَ ت‬
‫ضىىِلء ووُلوروُ لو رم وترموسرسله وناَ ة‌حر زنوُحر وعلوـىِ لنوُ ة‌ةر ويرہتدى‬‫ڪةةة وزريلتوُونةةة لل وشررتقليةةة ووُول وغررتبليةةة ويوكاَلد وزريلتوہاَ لي ت‬‫ليوُوقلد تمن وشوجورةةة زموبــور و‬
‫س ووُٱللل تبلكرُل وشرىِةء وعتليةحم‬ ‫ر و‬
‫ب ٱللل ٱلرموثــول تلللناَ ‌ ت‬ ‫ضتر ل‬ ‫ٱللل لتلنوُترتهۦِ ومن ويوشآَ ‌لء ووُوي ر‬
1. Allah yang menerangi langit dan bumi. Bandingan Nur Hidayat petunjuk Allah
(Kitab Suci Al-Quran) adalah sebagai sebuah "misykaat" yang berisi sebuah
lampu; lampu itu dalam geluk kaca (qandil), geluk kaca itu pula (jernih terang)
laksana bintang yang bersinar cemerlang; lampu itu dinyalakan dengan minyak
dari pokok yang banyak manfaatnya, (iaitu) pokok zaitun yang bukan sahaja
disinari matahari semasa naiknya dan bukan sahaja semasa turunnya (tetapi ia
sentiasa terdedah kepada matahari); hampir-hampir minyaknya itu dengan
sendirinya memancarkan cahaya bersinar (karena jernihnya) walaupun ia tidak
disentuh api; (sinaran nur hidayat yang demikian bandingannya adalah sinaran
yang berganda-ganda): cahaya berlapis cahaya. Allah memimpin sesiapa yang
dikehendakiNya (menurut undang-undang dan peraturanNya) kepada nur
hidayatNya itu dan Allah mengemukakan berbagai-bagai misal perbandingan
untuk umat manusia dan Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (24:35).
2. Surah 68:1 Nuun. Demi Pena dan apa yang mereka tulis.
3. Dan diriwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi, dianggapnya sahih juga, dari hadith Abu
Razin al-‘Uqaili, marfu’, “Bahawa air dicipta sebelum daripada ‘Arasy”.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
4. Dan dalam riwayat ibn ‘Asakir, marfu’, bahawa perkara awal yang dijadikan Allah
ialah Qalam, kemudian “Nun”, bekas dakwat, kemudian firmanNya, "Tulislah, apa
yang akan ada dan yang ada. "
5. Dan diriwayatkan oleh ibn Jarir bahawa baginda s.a.w. bersabda: Nun, Demi
Qalam dan apa yang mereka tulis. Katanya: Lauh daripada nur, Qalam daripada
nur, yang menulis tentang apa yang ada sehingga hari Kiamat.
6. Dalam “al-Najm”, al-Hakim al-Tirmidhi meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa
“Perkara awal yang dijadikan Allah ialah Qalam; kemudian Nun, iaitu Bekas
Dakwat, kemudian firmanNya; Tulislah, katanya :Apakah yang hamba (akan)
tulis? FirmanNya: "Tulislah apa yang ada, dan yang akan ada sampai ke Hari
Kiamat." Itulah firmannya: "Nun. Demi Qalam dan apa yang mereka tulis."
Kemudian dikhatamkan atas mulut Qalam, lalu ia tidak berkata-kata, tidak
berkata-kata sampai Kiamat. Kemudian Allah jadikan akal, Kemudian firmanNya;
Demi KekuasaanKu dan KehebatranKu, Aku akan sempurnakan engkau dalam
kalangan yang aku kasihi. Dan aku akan kurangkan engkau dalam kalangan
mereka yang aku murkai.
7. Kata al-Laqqani dalam Syarah Jauharahnya: Qalam adalah jisim nurani
(daripada nur), yang dijadikan Allah, lalu Ia perintahkan supaya ia menulis apa
yang ada dan yang akan ada sampai Kiamat; ia tidak menjazamkan untuk
menentukan hakikatnya; dalam setengah athar, perkara terawal yang Allah
jadikan ialah Qalam, kemudian diperintahnya menulis tiap-tiap sesuatu, dalam
setengah athar Allah menjadikan “yara” (seperti Qalam), atau Qasab, seperti
Batang, kemudian dijadikan daripadanya Qalam. Dalam satu riwayat perkara
awal yang dituliskan oleh Qalam ialah ‘Aku Maha penerima taubat, Aku
menerima taubat mereka yang bertaubat’.
8. Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq dengan sanadnya daripada Jabir bin ‘Abd
Allah dengan lafaz: Katanya: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bapa dan bonda
http://hambayangfana.blogspot.co.id
hamba menjadi tebusan tuan, beritahu kepada hamba tentang perkara terawal
yang dijadikan Allah sebelum segala sesuatu. Jawab baginda: Wahai Jabir,
sesungguhnya Allah jadikan sebelum segala sesuatu Nur Nabi engkau daripada
NurNya , kemudian Ia jadikan nur itu berkisar dengan kudrat cara yang
dikehendakiNya, walhal dalam masa itu tiada Lauh (Lauh Mahfuz), tiada Qalam,
Syurga dan Neraka, tiada malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan
manusia. Maka bila Allah kehendaki menjadikan sekelian makhluk ia
membahagikan Nur itu kepada empat bahagian, daripada juzu’ pertama ia
jadikan al-Qalam, daripada yang kedua Ia jadikan Lauh (Lauh Mahfuz), daripada
yang ketiga Ia jadikan ‘Arasy, kemudian Ia membahagikan pula juzu’ yang
keempat itu kepada empat bahagi , maka daripada juzu’ yang pertyama Ia
jadikan malaikat penanggung ‘Arasy, daripada juzu’ yang kedua Ia jadikan Kursi,
daripada yang ketiga Ia jadikan malaikat yang baki lagi.Kemudian Ia
membahagikan lagi juzu’ yang keempat itu kepada empat bahagi yang
pertamanya dijadikan langit-langit, yang keduanya bumi-bumi, yang ketiganya
Syurga dan Neraka.Kemudian yang keempatnya dibahagikan kepada empat
bahagian : yang pertamanya dijadikanNya nur pandangan mata Muslimin,
daripada yang kedua cahaya hati mereka, ia ma’rifat terhadap Allah,daripada
yang ketiga dijadikanNya nur kejinakan mereka (dengan Tuhan) iaitu ‘tiada
Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah’, demikian hadith dalam “al-
Mawahib”( iaitu al-Mawahib al-Laduniyyah karangan ahli hadith al-Qastallani
yang terkenal sebagai rujukan itu).
9. Al-Hafiz Abu Ya’la al-Hamadani : yang asah ialah ‘Arasy sebelum daripada
Qalam, mengikut riwayat yang sabit dalam kitab “Sahih” dari ibn ‘Umar; katanya :
Sabda Rasulullah s.a.w :Allah menentukan takdir bagi sekelian makhluk sebelum
Ia menjadikan langit-langit dan bumi lima puluh ribu tahun, ‘Arasynya atas air; ini
sarih atau nyata dalam perkara takdir berlaku selepas daripada penciptaan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
‘Arasy; takdir ada pada awal mula tercipta Qalam; maka hadith ‘Ubaidah bin al-
samit , marfu’, “Awal diciptakan Allah ialah Qalam, kemudian Ia berfirman:
Tulislah, kata Qalam: Apakah yang hamba (hendak) tulis? FirmanNya, “Tulislah
takdir segala sesuatu” (Riwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi; dianggapnya sahih).
10. Dan diriwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi, dianggapnya sahih juga, dari hadith Abu
Razin al-‘Uqaili, marfu’, “Bahawa air dicipta sebelum daripada ‘Arasy”.
11. Dalam Kitab “Nazm al-Mutanathir min al-Hadith al-Mutawatir” oleh Imam
Muhammad bin Ja’far al-Kattani rh, dalam ‘kitab al-iman sampai kitab al-
manaqib’, no.194 di bawah hadith:”awwalu ma khalaqa’Llah”, Al-Amir dalam
bahas berkenaan dengan wujud, dalam syarahnya ke atas “Jauharah al-
Laqqani”, bahawa hadith tentang itu mutawatir. Katanya: boleh dijawab
berkenaan dengan percanggahan yang ada ini, bahawa nur Muhammad itu awal
hakiki, yang lainnya awal secara idafi, atau bandingan, secara nisbah, tiap-tiap
satu daripada (yang lainnya ) dijadikan sebelum daripada yang terdiri daripada
jenisnya; maka ‘Arasy sebelum daripada jisim-jisim yang kasar, akal sebelum
daripada jisim-jisim yang halus (latif), ‘yara’ awal daripada makhluk tumbuhan
(nabatiah), demikianlah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
ALLAH MAHA MENGETAHUI.
Telah berkata Nabi s.a.w awal-awal yang dijadikan Allah Taala itu Cahaya-Ku, maka
cahaya ku itupun sujud bagi Allah Taala, maka firmanNya hai Nur Muhammad daripadaku,
sujudlah engkau selama 100,000 tahun maka cahayaku pun sujud selama 100,000 tahun
lamanya. Kemudian maka firman Allah Taala, Hai Nur Muhammad bangkitlah engkau
dengan firman ku, maka ia bangkitlah ia daripada sujudnya, maka firmannya lagi hai Nur
Muhammad bagi ummat mu ku fardukan sembahayang lima waktu dengan dia. Se-bermula
kejadian cahaya ku itu maka dijadikan Allah Taala bagi seekor burung yang indah rupanya,
daripada burung itu, bermula:-
Kepalanya Amirrul Mukminin Ali r.a.h, Mata kirinya Amirull Mukminin Hassan r.a.h
dan Lehernya itu Siti Fatimah r.a.h dan Lengan yang kanan itu Syaidina Abu Bakar r.a.h dan
Lengan yang kiri itu Syaidina Omar r.a.h dan Ekor burung itu Amirrul Mukminin Osman r.a.h
Dada burung itu Syaidinna Hamzah r.a.h Kanan burung itu Siti Khadijah r.a.h Kiri burung itu
Siti Aysiah r.ah
Kemudian firman Allah taala Hai Nur Kekasih ku, ku jadikan tujuh laut:- Pertamanya
laut Ilmu Kedua laut Latif Ketiga laut Sabar Keempat laut Akal Kelima laut Fikir Keenam laut
Rahmat Ketujuh laut Cahaya. Kemudian firman Allah taala hai cahaya ku Nur Muhammad
kekasihku pergilah engkau kepada sekelian laut itu 100,000 tahun engkau berenanglah,
maka Nur Muhammad itupun pergilah.
Firman Allah lagi taala keluarlah engkau daripada laut, maka Nur Muhammad itupun
keluar daripada sekelian laut. Firman Allah lagi Hai Nur Muhammad engkau gerakkan
dirimu, maka keluarlah air peluhnya. Bermula dua titis air daripada Mata Cahayaku yang
Kanan, titisan pertama menjadikan Allah Taala akan Jibril a.s dan titisan yang kedua
menjadikan Mikail. Dua titisan daripada titik air mata Cahayaku yang kiri itu, setitik yang
pertama menjadikan Allah Taala akan israfil a.s dan daripada titik yang kedua menjadikan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Allah taala akan Izrail a.s. Dan dua titis daripada telinga Cahayaku yang kanan itu setitk
yang pertama menjadikan Allah Taala akan Luh Mahfus dan titisan yang kedua menjadikan
Allah Taala akan Qalam.
Dan dua titis daripada telinga Cahayaku yang kiri itutitisan yang pertama menjadikan
Allah Taala akan Arash dan titisan yang kedua itu Kursy. Dan delapan titis daripada hidung
Cahayaku menjadikan lapan pangkat syurga dengan isinya. Dua titis air daripada leher
Cahayaku menjadikan Allah Taala akan Matahari dan titis yang kedua Bulan. Dan lima
titisan daripada tangan Cahayaku yang kanan, titis yang pertama menjadikan Allah akan
angina Har-har, titisan kedua angina Par-Par, titisan ketiga angina Rafak, titisan yang
keempat angina Sirrul Insan dan titisan yang kelima menjadikan Allah Taala akan roh yang
lain.
Dan lima titisan daripada tangan Cahayaku yang kiri, titis yang pertama menjadikan
Allah taala akan Sirratul Muntaha, titis yang kedua menjadikan Allah taala akan pohon kayu
Daufi, dan titis yang ketiga akan Sungai KalKausar, titis yang keempat menjadikan akan
“Hattamun Sulaiman a.s” dan titis yang kelima menjadikan Allah Taala akan Maqam
Ibrahim. Kemudian maka adalah Allah taala menjadikan empat unsur daripada empat
perkara, yang pertama itu Air, kedua Api, dan yang ketiga Angin dan yang keempat Tanah.
Maka firman Allah taala Hai Nur Muhammad, empat perkara ini kujadikan karena
mu, Maka Nur Muhammad pun pergilah kepada Angin dengan Izin Allah taala, maka dilihat
oleh Nur Muhammad itu kepada Angin itu sangat membesarkan dirinya, lantas Nur
Muhammad pun memberi salam dan bertanya kepada Angin, wahai Angin mengapa engkau
membesarkan diri engkau, maka sahut Angin siapa engkau maka sahut Nur Muhammad
aku seorang hamba Allah, Angin pun berkata yang ia juga hamba yang daif, maka ujar Nur
Muhammad mengapa engkau sangat membesarkan dirimu, jawab Angin aku berbuat
barang sekehandak ku. Jawab Nur Muhammad engkau Angin tidak dapat berbuat
sekehandakmu karena engkau hamba orang pelayaran karena seorang manusia pun tidak
nampak akan engkau, kemudian jawab angin engkau jua tiada cela. Maka Nur Muhammad
http://hambayangfana.blogspot.co.id
pun mengucap Istifar kepada Tuhan yang Maha Besar lagi Maha Kuasa serta memohon
keampunan dan mengakui dirinya yang lemah dan daif. Maka Angin itupun tahulah ia akan
Nur Muhammad itu hamba lagi persuruhnya. Kata Angin hai Nur Muhammad aku percaya
akan dikau maka wajiblah bagiku masuk akan agama mu dan ajarkanlah olehmu Kalimah
Syahadat selama-lamanya untuk ku.
Maka Nur Muhammad itupun pergi kepada Api, dan dilihatnya api itu terlalu gembira
dan membesarkan dirinya, lalu ia memberi salam dan bertanya hai Api mengapa engkau
sangat-samgat membesarkan diri dan sangat akan gembiranya. Maka jawab Api siapa
engkau, jawab Nur Muhammad aku hamba Allah maka aku hamba yang hina, Nur
Muhammad bertanya lagi mengapa engkau terlalu gembira dan membesarkan diri, maka
ujar api aku berbuat sekehandakku, kata Nur Muhammad adakah dirimu itu celaka atau
tiada, jawab api celaka juga, maka kata Nur Muhammad api yang membunuh itu air dan
menyucikan engkau itu angin, maka kata api engkau sahaja yang tiada cela, maka Nur
Muhammad pun mengucap Tasbih dan Istifar kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan tiada
sekutu baginya. Maka api itupun tahu yang Nur Muhammad itu Hamba Allah lagi
persuruhnya, kemudian mengajarkan Nur Muhammad akan Kalimah Syahadah kepada api
atas kehendaknya.
Kemudian Nur Muhammad pun pergi kepada Air dan dilihatnya air itu dalam
keadaan terlalu gembira dan membesar-besarkan dirinya. Lantas memberi salam Nur
Muhammad kepada air dan bertanya mengapakah engkau terlalu gembira dan
membesarkan diri, jawab air siapakah engkau, jawab Nur Muhammad akulah hamba Allah
yang lemah lagi daif, bertanya lagi Nur Muhammad mengapa engkau membesarkan dirimu,
jawab air aku berbuat sekehandak ku, Tanya Nur Muhammad lagi mengapa begitu
sedangkan engkau mempunyai cela iaitu membasuh cemar-cemar segala najis, maka ujar
air engkau jua yang tiada cela, Maka Nur Muhammad itu beristifat kepada Tuhan yang
kuasa lagi maha tinggi dan mengajarkan air kalimah Syahadaah seperti mana yang air
pinta.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Kemudian Nur Muhammad itu pun pergi kepada Tanah dan meberi salam ia dan
dijawab oleh tanah serta katanya Ya Nur Muhammad. Dilihat Nur Muhammad tanah itu
merendahkan diri dengan tangannya yang takzimnya serta berkata hai Nur Muhammad
terlalu Maha Baik segala aturan tuan hamba kepada Hadrat Allah Taala, maka Nur
Muhammad itu lalu dipeluk dan diciumnya maka dibawa persembah kepada hadrat Allah
Taala, Ya Rob Ya Maulana, Ya tuhanku dan terlebih tahu engkau wahai tuhanku bahawa
Tanah itu hambamu yang pilihannya, karena keempat itu aku sertakan dengan hambamu
yang daif ya Tuhanku.
Inilah Nabi Allah ADAM a.s dijadikan Allah Taala daripada emapt tabiat itu, dan
segala manusia itu setengah tabiat api, angin, air dan tabiat tanah. Maka sabda Nabi s.a.s
barang siapa daripada ummatku ada menaruh peri kejadian cahayaku ini atau membaca
dia dari permulaan sehingga datang kesudahannya bahwasanya Allah Taala anugrahkan ia
daripada kebajikan pahala seperti membaca empat buah kita yang pertama Taurat, Injil
Zabur dan AlQuran, dan lagi pahalanya seperti empat Malaikat yang Mukoribbin iaitu Jibrail,
Mikail, Israfil dan Izrail dan lagi seperti orang yang naik haji ke Biatullah, tujuh orang yang
mati syahid dalam perang sabilillah pahalanya.
Barang siapa menaruh atau membaca akan dia, tiada berpindah daripada didalam
dunia jikalau belum melihat akan tempatnya di dalam Syurga… Insyallah.. Bi"ismillah hi
jabbar jabarokah......saat ZAT ALLAH menerangkan kepada NUR MUHAMMAD dengan
beberapa keterangan yang tiada kekurangan,maka berfirman lagi zat ALLAH.."ya nur yang
bernama muhammad engkau titik kan lah air NUKTAH engkau buat menjadi malaikat yang
4, maka;
 apabila engkau menitik kan yang pertama bernama NUR MADA, -
 dan apabila engkau menitik kan yang kedua bernama NUR WADI, -
 dan apabila engkau menitik kan yang ketiga bernama NUR MANI, -
 dan apabila engkau menitik kan yang ke empat bernama NUR MANIKAM, -

http://hambayangfana.blogspot.co.id
 dan apabila engkau mengatakan "IYAKUN FAYAKUN" jadilah jibroil maka
menjadilah JIBROIL, -
 dan apabila engkau berkata IYAKUN FAYAKUN jadilah MIKAIL maka
menjadilah MIKAIL, -
 dan apabila engkau berkata IYAKUN FAYAKUN jadilah ISROFIL maka
menjadilah ISROFIL, -
 dan jika engkau berkata IYAKUN FAYAKUN jadilah IZRAIL maka menjadilah
IZRAIL.
Dan berfirman lagi zat ALLAH kepada nur muhammad, engkau perintahkan
perintahkan kepada malaikat JIBROIL dan engkau jadikan dari pada anasarnya yaitu
"BUMI" dan engkau jadikan dari pada anasarnya MIKAIL itu yaitu "AIR" dan engkau jadikan
dari pada anasarnya ISROFIL itu yaitu"ANGIN" dan engkau jadikan dari pada anasarnya
IZRAIL itu yaitu "API" dan engkau perintahkan ya NUR MUHAMMAD kepada jibroil untuk
mengambil qursainun/qursany di alam akbar/alam kaffah supaya memperkuat lembagan
ADAM, dan engkau perintahkan kepada MIKAIL untuk mengambil air dari alam MULLAH
untuk menghidupkan jiwa ADAM, dan engkau perintahkan ya nur muhammad kepada
malaikat ISROFIL untuk mengambil angin di alam IZZATI supaya memperbuat tubuh ADAM
dan engkau perintahkan kepada IZRAIL untuk mengambil api di alam AMARAH untuk
memperkuat lembaga ADAM. "JIBRIL, MIKAIL, ISROFIL, IZRAIL KAFFAH, MULLAH,
KALLAM, IZZATI KUDUS, KIDAM, KOMPEH, DEROJA KIROMAN, KATIBIN, MUNGKAR,
MUKKOROBIN"
1. Kelajuan cahaya (nur) tidak akan berubah kepada aku, hatta jika aku bergerak 1
saat lewat daripada kelajuan itu, ia tetap dengan kelajuan 1,079,252,484.80km/h.
Sehingga aku bergerak sama dengan kelajuan itu, WAKTU akan terhenti. (Israk
dan Mihraj). Semakin aku cuba untuk lebih laju lagi (tenaga), yang bertambah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
bukan kelajuan tetapi lebihan tenaga itu menjadi jisim. Sama ada disedari
ataupun tidak, kita sentiasa tetap pada kelajuan cahaya.
2. Malaikat mengamati aku, menjadikan aku sebuah alam tepu (jisim) dan jika
malaikat meninggalkan aku, maka aku menjadi gelombang cahaya. Dimana aku
mampu mengolah diri jasmani ke rohani. Mati aku - malaikat meninggalkan
pengawasan terhadap aku (Jisim). Tika saat itu perjalanan itu hanya dalam
Mimpi.
3. Setiap detik fikir (rohani) / niat terpancar gelombang ke seluruh maya, dan
disambut oleh malaikat yang AKAN mengamatinya untuk menjadikan ia pada
satu ketika satu masa kenyataan, (jisim).
4. Aku semestinya mampu untuk memadamkan atau mengalihkan pandang para
pengamat / permerhati / malaikat, baru aku mampu untuk bergerak sebagai
gelombang (menjadi rohani), terhentinya waktu, kembali ke hadratnya pada awal
kejadian. Jika tidak, para pengamat akan memerhatikan aku sehingga aku mati,
barulah aku mampu untuk menjadi rohani. Silauan cahaya ku menyilaukan
pandangan pengamat / permerhati pada aku
5. Para pengamat malaikat diperhati oleh ALLAH dan dia tidak sesekali
MEMERHATI Allah.
6. Tutup mata hitam aku, terbalikkan ke atas, lidah menongkat langit bagi
memghubungkan diri aku(Roh) kembali ke hadratnya (Cahaya/Nur).
7. Dunia ini diuruskan oleh Allah (Cahaya/Nur) yang sentiasa bergerak merangkumi
segala cakrawala dan seluruh jagat.
8. NUR (Cahaya) Muhammad Pena lawh al mahfoudh Arsy Ku bahagika kepada
empat bahagian Malaikat Penyangga Arsh Kursi Seluruh malaikat dan langit
seisinya Ku bahagikan kepada empat bahagian Membuat semua langit Bumi
Jinn dan Api Ku bahagikan kepada empat bahagian Cahaya airmuka orang

http://hambayangfana.blogspot.co.id
beriman Cahaya didalam jantung mereka - ilmu ilahi Cahaya tawhid pada
lidahnya (hu Allahu ahad) Berbagai cahaya dari ruh Muhammad saw yang lain.
9. Agama itu Ilham / fikiran / akal / Jibrail. Beragama itu berakal, berihlam, berfikiran
dan berjibril. Dan ilham itu akan turun ke "Mata hati".
10. Teling itu pintu dunia/sir, Mata itu tingkap dunia/sir, Masukilah ke sir melalui
pintunya dengan menuntup pintu dunia secara tidak langsung membuka pintu
sir/hati. Dengarkan kata-kata dari hati nurani itu, Karena Jibrail memberikan
wahyunya ke hati Rasulullah s.a.w.
11. Roh masuk ke badan melalui umbun-umbun, dan turun ke bawah hingga ke
hujung kaki dan keluarnya Roh dari badan bermula dari Hujung Jari. Apa yang
anda rasa ketika menutup mata terbalik ke atas dengan lidah menyentuh
lelangit?. Itulah hakikat segala sesuatu bagaimana dunia ini ditakbir dengan
begitu tersusun sekali, bagaikan jaringan sesawang (internet) yang menghubungi
setiap keakuan pada jagad raya ini. Ianya sentiasa bergerak (proton dan
electron) sentiasa bertindak balas umpama sebuah gelombang yang teramat
besar. Shingga membawa keakuan itu kembali ke Asal Kejadian iaitu Nur
Muhammad.
Allah itu cahaya sekelian alam . Warna ialah sifat cahaya yang ditentukan oleh
panjang gelombang. . Cahaya asas , Merah, Biru, Kuning . Merah+Kuning = Jingga/Oren,
Kuning+Biru = Hijau, Biru+Merah=Unggu/Indigo . Jumlah semua warna itu 7, . Sifat Maani =
Sifat yang ada pada zat yang menyebabkan zat itu dihukum dengan sifat. (Qudrat, Iradat,
Ilmu, Hayat, Sami', Bashir dan Kalam) . Sifat Maknawaiaah = hal yang wajib selama mana
zat itu bersifat dengan sifat maani. (Qadirun, Muridun, Alimun, Hayyun, Sami'un, Basir'un,
Mutakalimun). Kesimpulannya dimanakah letaknya cahaya yang 7 itu pada sifat maani ini?.
Cahaya Hitam? –
Titik Hitam itu NurAllah Cahaya lutsinar? Tarik nafas kita sehingga ke alam Qudsi
(Akal) dan maqam "Qalbu Qausani"(antara dua kening)- rapatkan dagu ke dada, naikkan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
bahu, maka secara automatiknya, laluan nafas ke tulang sulbi terbuka dan nyatakan dalam
"hati" Hapuskan wujudku yang kasar kepada wujudku yang batin kepada wujud zat, hanya
kepada CAHAYA zat semata-mata zuhudku . Hembuskan hafas sedikit lalu hirup sedikit
sebanyak 4x dan hembusan yang kelima sehingga hujung nafas, kemudian masukkan
kedua-dua tangan ke celah ketiak peluklah seluruh angota dengan kemas sekemasnya.
Cahaya Merah –
Terpancar dari tulang sulbi terus memenuhi sekitar kawasannya, perlahan-lahan
meliputi kedua-dua peha, bulu kulit, urat, darah, daging, tulang dan turun ke bawah dan
keluar melalui tapak kaki bersama cahaya
Cahaya Oren –
Terpancar dari kemaluan (alif) melitupi seluruh system peranakan, naik keatas
memenuhi ruang dada dan ke jantung lalu keluar melalui jantung bersama cahaya -
Cahaya Kuning –
Terpancar dari pusat memenuhi seluruh perut, turun ke system perkumohan(qubul
dan dubur) serta usus, lalu ke jantung dan keluar melalunya bersama cahaya -ve.
Cahaya Hijau –
Masuk melalui Jantung, memenuhi jantung, hati, paru-paru dan semua ruang dada,
naik ke atas bahu, memenuhi kedua-dua tangan hingga ke jari, turun melitupi
seluruh badan hingga ke jari kaki, naik ke atas tengkok, memenuhi
kerongkong/tekak/mulut/gigi, ke hidung, dua mata, telinga, akal dan roh, keluar
melalu paru-paru.
Cahaya Biru –
Masuk melalui kerongkong, memenuhi ruang dada, dan terus ke Jantung sehingga
tercipta satu lohong cahaya biru yang penuh antara Kerongkong dan Jantung.
Cahaya Indigo –
Masuk melalui antara 2 kening, memenuhi akal dan roh, seluruh angota kepala dan
turun melalui kerongkong, memenuhi dada, paru-paru dan terus ke Jantung.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Cahaya Ilahi (Putih) –
Masuk terus ke alam Qudsi (Akal) memenuhi Maqam Qalbu Quasaini (antara 2
kening) dan menyinari seluruh angota kepala, leher, memenuhi selluruh ruang dada,
paru-paru, hati dan jantung.

Nafas Dan Zikir


‫بسم ا الرحمن الرحيم‬
Sabda Nabi S.A.W yaitu "Barangsiapa keluar masuk nafas dengan tiada zikir ALLAH
maka sia-sialah ia". Bermula nafas itu atas dua langkah, satu Naik dan kedua Turun. Maka
tatkala naiknya itu sampai kepada 7 petala langit maka berkata “Wan Nuzuulu Yajrii Ilal
Ardhi Fa Qoola HUWALLOH”. Dan tatkala turun kepada 7 petala bumi maka nafas Nabi itu
bunyinya ALLAH. Tatkala masuk pujinya HUWA. Tatkala ia terhenti seketika antara keluar
masuk Tanaffas namanya, pujinya AH.. AH. Tatkala ia tidur atau mati Nufus namanya Haqqu
Daa'im.
Ingatlah olehmu dalam memeliharakan akan nafas itu dengan menghadirkan makna
ini sentiasa, di dalam berdiri dan duduk dan di atas barang yang diperbuat hingga memberi
bekas kepada sekalian badan dan limpah segala cahaya Nurul ‘Alam itu atas segala
anggota. Maka apabila tetaplah tilik hatimu maka jadilah engkau hidup di dalam Dua Negeri
yakni Dunia Akhirat dan dibahagiakan ALLAH baginya pintu selamat sejahteralah di dalam
Dunia dan Akhirat. Dianugerahi ALLAH Ta’ala mereka itu sampai kepada martabat segala
Nabi dan segala Muslimin dan mengharamkan ALLAH Ta’ala tubuhnya dimakan api neraka
dan badanya pun tiada dimakan tanah di dalam kubur.
Maka engkau tetaplah dengan hatimu wahai saudaraku pada hal ini dan jangan
engkau jadi daripada orang yang lupa, mudah-mudahan dibahagiakan ALLAH Ta’ala atas
mu dengan berhadapan sentiasa hingga sampai kepada ajalmu. Adapun nafas kita keluar
http://hambayangfana.blogspot.co.id
masuk sehari semalam yaitu pada siang 12 000 dan pada malam 12 000 karena inilah
bilangan jam sehari semalam 24 jam, pada siang 12 jam dan malam 12 jam, demikianlah
seperti huruf “Laa Ilaaha Illalloh, Muhammadur Rasuululloh”, masing-masing mempunyai 12
huruf berjumlah 24 huruf semuanya. Barangsiapa mengucap dengan sempurnanya yang 7
kalimah itu nescaya ditutupkan ALLAH Ta’ala Pintu Neraka yang 7. Juga barangsiapa
mengucap yang 24 huruf ini dengan sempurna nescaya diampuni ALLAH Ta’ala yang 24
jam.
Inilah persembahnya kita kepada Tuhan kita yang tiada berkeputusan yang dinamai
Sembahyang Daa'im dan puasa itu melakukan nafsu zahir dan batinnya. Sabda Nabi S.A.W
“Ana Min Nuurillah Wal ‘Aalami Nuurii” artinya “Aku daripada Cahaya ALLAH dan sekalian
alam daripada Cahayaku” sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul Arwah” artinya
“Muhammad itu bapa sekalian nyawa” dan dikatakan “Adam Abu Basyar” artinya “Adam
bapa sekalian tubuh”.
Adapun yang dikatakan Fardhu itu Nyawa karena Nyawa itu dapatlah bergerak
badan kita. Adapun Awal Muhammad Nurani adapun Akhir Muhammad Rohani. Adapun
Zahir Muhammad Insani adapun Batin Muhammad Robbani. Adapun Awal Muhammad
Nyawa kita adapun Akhir Muhammad Rupa kepada kita, adapun yang bernama ALLAH
Sifatnya, adapun sebenar-benar ALLAH itu Zat Wajibal Wujud, adapun yang sebenar-benar
Insan yaitu manusia yang tahu berkata-kata adanya. Wabillahit Taufiq Wal Hidayah.
JALAN KEPADA ALLAH Ketahuilah olehmu JALAN kepada ALLAH Ta’ala itu empat
jalan yaitu pertama Jalan Syariat, kedua Jalan Tariqat, ketiga Jalan Hakikat dan keempat
Jalan Ma’rifat. Adapun yang dikatakan Jalan Syariat itu Kata Nabi, Jalan Tariqat itu
Perbuatan Nabi, Jalan Haqiqat itu Tempat Kediaman Nabi dan Jalan Ma’rifat itu Rahsia.
Adapun Istana Syariat itu Lidah, Istana Tariqat itu Hati, Istana Haqiqat itu Nyawa dan Istana
Ma’rifat itu Kelakuan Nabi meliputi dengan semata-mata sekalian alam.
Bermula Syariat itu kerja Tubuh, Tariqat itu kerja Hati, Hakikat itu kerja Nyawa dan
Ma’rifat itu kerja Rahsia. Soal: Jika ditanya orang apa yang dijunjung oleh Islam? Jawab:
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Adapun yang dijunjung yakni titah itu empat bahagi, pertama Syariat dijunjung oleh Anggota
Islam, adapun Tariqat itu dijunjung oleh Hati Islam dan Haqiqat itu dijunjung oleh Nyawa
Islam, adapun Ma’rifat itu dijunjung oleh Orang Yang Mengetahui Islam yang empat itu.
Maka inilah orang yang dinamai Shofid Daaroini artinya Hidup Kepada Dua Buah Negeri.
Maka orang inilah sempurna Islamnya dan inilah segala orang yang ‘Arif Billah AlKhosul
Khos artinya Pilihan-pilihan dan Mukmin Shidiq, Mukmin sebenarnya.
Maka inilah bergantung pada Tali ALLAH yang tiada berputusan Musyahadah dan
Muqabalah dan Muraqobah dengan Haq ALLAH Ta’ala daripada ‘Adam kepada Wujudnya
dan daripada Wujud kepada ‘Adamnya tiada bercerai dan tiada bertemu dan lain-lain
daripadanya. Dan lagi ALLAH Ta’ala menjadikan sembahyang itu seperti Nabi Ahmad
Muhammad pun namanya. Maka Ahmad itu empat hurufnya yaitu Alif, Ha, Mim, Dal. Maka
Berdiri itu Alif, Ruku’ itu Ha, Sujud itu Mim dan Duduk itu Dal, demikianlah adanya. Adapun
asal tubuh manusia itu yakni tubuh Adam Alahis Salam asal kejadian empat unsur yaitu
Tanah, Air, Api dan Angin.
Adapun Tanah itu tempat nyata Wujud ALLAH yang bernama Hakim artinya Yang
Tahu Pada Hukumnya, dan Air itu tempat nyata Wujud ALLAH yang bernama Mahyun
artinya Yang Hidup, dan Angin itu tempat nyata Wujud ALLAH yang bernama Qawiyyun
artinya Yang Kuasa dan Api itu tempat nyata Wujud ALLAH yang bernama ‘Adzim artinya
Yang Agung. Maka ditilik dan dilihat ‘Arif Kamil Mukammil itu seperti yang tersebut, menilik
ia kepada bercerai maka ia melihat perhimpunan yang empat kepada Insan.
Maka dilihat dengan Mata Hati pada Insan, Wujud ALLAH yang bernama ALLAH,
inilah isyarat Hadith Nabi S.A.W “Man Nadzoro Ilaa Syai^in Wa Lam Yarollohu Fii Hi Wa
Huwa Baatil” artinya “Barangsiapa menilik kepada suatu tempat tiada dilihat ALLAH di
dalam, maka yaitu batal”. Inilah ‘Arif Kamil Mukammil tiada berkeputusan Dirinya, dan
Hatinya, dan Nyawanya dan Rahsianya itu berkehendak kepada Wujud ALLAH yang
bernama ALLAH. Wabillahit Taufiq Wal Hidaayah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Kemudian daripada ketahui pula akan nama ALLAH dan Muhammad S.A.W, adapun
nama ALLAH itu Empat Huruf yaitu Alif, Lam Awal, Lam Akhir dan Ha. Demikianlah suatu
ALLAH pada Insanpun Lima yaitu Jari Kelingking itu Huruf Alif, Jari Manis Huruf Lam Awal,
dan Jari Tengah itu Huruf Lam Akhir, dan Jari Telunjuk dan Ibu Jari itu Huruf Ha.
Demikianlah suatunya ALLAH pada Tangan Kiri dan Tangan Kanan dan Kaki Kiri dan Kaki
Kanan jua huruf Insan itu nama ALLAH dan Rasulullah S.A.W. Karena firman ALLAH dalam
Hadith Qudsi yaitu “Jismanii Insaana Wa Nafsahu Wa Qalbahu Wa Ruhahu Wa Sam’ahu
Wa Bashorahu Wa Lisaanahu Wa Yadahu Wa Rijlahu Wa Kullu Zaalika Adzharni Nafsahu
Laa Huwa Illa Ana, Wa Laa Ana Ghoiruhu”. Artinya “Tubuh Manusia dan nafsu dan hati dan
nyawa dan mendengar dan melihat dan lidah dan tangan dan kaki dan sekelian itu Aku
nyatakan bagi diriKu, maka tiada Insan itu lain daripadanya”. Maka sebenar-benar Insan itu
Muhammad S.A.W.
Maka ALLAH Ta’ala pun Tajallilah Ia kepada Insan itu seperti firman ALLAH Ta’ala “Al
Insaanu Sirrii Wa Anaa Sirruhu” artinya “Insan itu rahsiaKu dan Aku rahsianya. Dan firman
ALLAH Ta’ala “Al Insaanu Sirrii Wa Anaa Sirruhu Wa Shifaatu Laa Ghairuhu” artinya “Insan
itu rahsiaKu dan rahsiaKu sifat dan sifatKu itu tak lain daripada Aku”. Demikianlah
kemuliaan Insan kepada ALLAH Ta’ala, maka hendaklah diketahui akan keadaan rahsia
ALLAH itu jikalau tiada diketahui nescaya di dalam dosa yang maha besar seperti sabda
Rasulullah S.A.W yang artinya “Adamu itu rasa yang sebagi dengan Dia, rasaNya rasa
engkau, engkau di dalam rasaNya”.
Daripada karena inilah sabda Rasulullah S.A.W “Al ’Ilmur Ruh Wal ‘Amalu Jasad”
artinya “Ilmu itu nyawa dan amal itu jasad (tubuh)”. Yakni jikalau tiada nyawa itu maka tiada
dapat badan itu bergerak. Demikianlah di dalam kebaktian sekalipun karena kebaktian
jikalau tiada dengan ilmu maka tiada sempurna kebaktian kepada ALLAH Ta’ala. Adapun
nama Muhammad pada tubuh kita yaitu Empat Huruf, pertama Mim, kedua Ha, ketiga Mim,
keempat Dal. Adapun Kepala itu Huruf Mim Awal, adapun Tangan itu Huruf Ha, adapun

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Pinggang itu Huruf Mim Akhir dan adapun Peha kedua itu Huruf Dal. Demikianlah di dalam
Insan itu tiada lain daripada nama ALLAH dan Muhammad S.A.W.
Tiliklah nyata-nyata dengan memohon karena ALLAH Ta’ala Tuhan Yang Sebenar-
benarnya. DIRI TERDIRI DAN DIRI TERPERI Adapun diri kita itu DUA perkara, pertama Diri
Terdiri, kedua Diri Terperi. Maka Diri Terdiri inilah sifat kehinaan yang jadi daripada ibu-bapa
asal daripada Mani tatkala masuk ke dalam rahim ibunya dan tatkala 40 hari lamanya
‘Alaqoh namanya, artinya darah yang bergumpal. Dan tatkala genap 120 hari lamanya
Nutfah namanya, artinya daging yang tiada bertulang.
Kemudian daripada itu masa dirupakan ALLAH Ta’ala akan dia yang dikehendaki
merupakan dia dan telah sempurnalah kejadiannya, maka dititahkan Nyawa masuk ke
dalam dikehendaki. Dan apakala masuklah Nyawa ke dalam ibunya maka dikeluarkan
ALLAH Ta’ala dia daripada perut ibunya kepada Alam Wasitoh seperti orang yang telah jaga
daripada tidur. Maka dilihat tiada lagi rupa yang telah dilihat maka ia menangis, maka sebab
suara inilah dia bernama Insan. Tatkala ia tahu menangis Muhammad namanya, tatkala
inilah dijadikan ALLAH Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Tatkala ia tahu menyusu Sufiah
namanya, tatkala tahu berkata-kata Kitab namanya karena tatkala itu nyata rupa yang di
dalam kandungan ibunya inilah yang dikenalnya itu. Tatkala tahu meniarap Hanafi
namanya, tatkala tahu duduk Malik namanya, tatkala tahu berdiri Hambali namanya, tatkala
tahu merangkak Syafie namanya, inilah jalan Imam yang Empat itu dijadikan ALLAH Ta’ala.
Tatkala tahu berjalan Amrullah namanya, tatkala dalam peliharaan ibu-bapa tahu
berlari-lari Shuriah namanya karena masa itu suatupun tiada khabarkan dirinya ada lagi
kelebihan dalam rahim ibunya. Tatkala masa itu sudah cerdik, berjalan, berlari dan terus
berkata-kata oleh karena leka akan dunia, lupa ia pandangan yang dahulu dan lupa akan
rasa. Tatkala itu lupa akan dirinya maka masuklah kepada dunia ini, hilanglah ilmu itu
sehingga datanglah kepada hari mati maka sekalian itu menunjukkan diri kita yang terperi
itu ‘arodh jua segala guna yang ada ini tiada kekal ia pada kedua masuk bertambah dan
kurang itu satu Alam Jasmani jua bukan Alam Ruhani.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Artinya satu Alam Jasmani kedua Alam Ruhani itu tetap selama-lamanya tiada
berubah dan tiada kurang daripadanya inilah diri kita terperi dengan segala peri mulia.
Kedua, adapun Diri Terperi tiada makan dan minum dan tiada beranak dan tiada beristeri
dan tiada tidur dan tiada beribu dan tiada mati. Maka diri kita inilah dikurniakan ALLAH
Ta’ala Sifat Dua Kali Tujuh. Maka dengan sifat inilah martabat diri kita yang terdiri karena
diri kita yang terdiri itu umpama sebuah perahu diperintah oleh nakhodanya, masing-masing
perahu masing-masing nakhodanya.
Adapun Sifat Dua Kali Tujuh yang dikurniakan ALLAH Ta’ala itu kepada Ruh yaitu
Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah inilah dikurniakan ALLAH Ta’ala kepada Ruh kita supaya
berkuasa ia memerintah jasad kita itu, semata-mata seperti wayang tiada punya perintah
melainkan dengan perintah dalang jua. Dan adalah Ruh umpama pesawat, karena dalang
itu jika tiada pesawat nescaya tiada akan zahir hikmat dalang itu. Jangan terhenti
memandang pesawatnya itu, maka hendaklah ma’rifat yang tahqiq karena dalang itu tiada
bercerai dengan wayang dan wayangpun tiada bercerai dengan dalang.
Jikalau bercerai binasalah wayang tiada berketahuan lagi. Demikianlah keadaan
Tuhan dengan Hamba sentiasa tiada bercerai daripada Azali dan yang kepada Abadi. Inilah
firman ALLAH Ta’ala “Wa Huwa Ma’akum Aina Maa Kuntum” artinya “ALLAH beserta kamu
barang di mana ada kamu”. Artinya bertambah ada awal adalah ALLAH serta kita dan
martabat Ta’yin Thani pun beserta kita.
Maka ALLAH fardhukan kita jangan lalai daripada memandang serta Hamba dengan
Tuhan daripada Azali datang kepada Abada adanya. BAB EHWAL TATKALA TIDUR Adapun
tatkala kita tidur itu, hilang rasa kita sebab tiada diperintah Rahsia ALLAH. Maka jangan kita
hendak berbagai-bagai, ingatkan diri pun tiada, hanya yang ada itu Hayat karena Rahsia
ALLAH itu jadi berkehendak kepada manusia dan segala binatang. Jika tiada Rahsia
ALLAH dan Kehendak...
ALLAH maka tiada Batin dan Zahirnya itu berkehendak berbagai-bagai. Adapun ruh
itulah bernama manusia yang bernama tubuh sekalian Auliya^ ALLAH Ta’ala. Maka ruh
http://hambayangfana.blogspot.co.id
itulah tubuh Ahli Ma’rifat yang dapat berjalan batin dan yang dapat melihat batin. Yang
demikian itu, ruh itulah melakukan perintah Rahsia ALLAH kepada orang yang sudah
sampai ilmunya itu bertubuh akan Idhofi, bertubuh akan Muhammad adanya.

Mari Mengaji A I U
‫بسم ا الرحمن الرحيم‬
Adapun dalil menyatakan Zat itu Huruf Alif Zat martabatnya Ahadiyat ertinya Esa Zat
dengan Kebesaran jadilah Alif Di Atas (A), Alif Di Bawah (I), Alif Di Hadapan (U) dengan
Kebesaran dan Kekayaan Zat. Maka tajallilah Sifat Asma^ dan Af’al. Dan sekalian ini Qadim
keempat-empatnya. Dan Sifat, Asma^, Af’al.. Sifat pun Sifat Zat, Asma^pun Asma^ Zat, Af’al
pun Af’al Zat, inilah erti Esa pada pihak Tanazzulnya . Dan pada pihak Taraqqinya Sifat,
Asma^, Af’al ini terpulang kepada martabatnya Ahadiyat yakni Esa Zat semata-mata, Laa
Ta’yin pun ia, Sir ALLAH pun ia.
Inilah Asal Niat yang tiada huruf dan tiada suara jadilah Usholli artinya Aku
Sembahyang Sifatnya Nafsi (Wujud ALLAH). Adapun Alif Di Atas (A) dalil menyatakan Sifat
Hurufnya di atas. Maka jadilah Lam Awal maknanya Sifat Asma^ Martabat Awal. Artinya
nyata yang pertama tajalli Sifat ALLAH yang Nur Muhammad, A’yan Thabitah pun ia, Wujud
Idhofi pun ia, Insan Kamil pun ia.
Namanya inilah yang menanggung Nama ALLAH. Inilah Asal Fardhu yang sebenar-
benar , maka jadilah ia Fardhu yang sebenar-benar Sifatnya Ma’ani. Adapun Alif Di Bawah
(I) itu dalil menyatakan Asma^ Hurufnya. Maka jadilah ia Lam Akhir maknanya yang
bernama ALLAH. Martabatnya Ta’yin Thani yakni kenyataan kedua. Maka tajallilah Ruh
Adam, dengan kelimpahan Ruh itulah yang menjadi Tubuh Adam. Dan daripada sesuatu
huruf yang tiga martabatnya A I U, maka bermakna Alif Zat ALLAH, Alif Di Atas maka jadilah
Lam Awal maknanya Sifat ALLAH, Alif Di Bawah jadilah Lam Akhir maknanya Asma^
ALLAH, Alif Di Hadapan jadilah Ha maknanya Af’al ALLAH, maka empat sifatnya. Alif Lam
Lam Ha maka bernamalah ALLAH. Terhimpun Zat, Sifat, Asma^ dan Af’al, maka jadilah
http://hambayangfana.blogspot.co.id
ALLAH Sifat Salbiah. Adapun Alif Di Hadapan (U) itu dalil menyatakan Af’al Alam Ruh maka
jadilah Ha. Maknanya Af’al martabat Alam Ruh Sifatnya Ma’nawiyah. Maka jadilah AKBAR.
Maka dengan kiraaan kelimpahan Ruh itulah menjadi Tubuh Kita. Wallahu A’lam BAB AF’AL
AF’AL hanya Ia semata-mata.
Adapun arti Ia Wujud kita yang Batin hingga sampai kepada Zat ALLAH Ta’ala, maka
dapatlah Asal (Asli). Adapun dikehendaki dengan Takbiratul Ihram itu seperti dalil “Tabdaala
Ajsadu Bi Nuuri Robbiha” maksudnya “Tukarkan Cahaya Diri Kamu Dengan Cahaya Tuhan
Mu”. Adapun murod tukar itu “Mautu Anta Qabla Muutu” artinya “Matikan Diri Kamu
Sebelum Kamu Mati”. Adapun Syarat Mati itu memulangkan Umanah ALLAH yang diberi
pinjam pada kita.
Adapun yang dikatakan Umanah ALLAH itu Wujud kita yang Kasar memegang
Amanah dan Wujud kita yang Batin yang mengAmanahkan Zat ALLAH Ta’ala. Maka Syarat
memulangkan Umanah ALLAH itu, tatkala kita menghadapkan ALLAH Ta’ala itu hendaklah
kita tarikkan nafas kita naik ke dalam Fu^ad kita sampai kepada Alam Qudsi dan Maqam
Qabu Qausaini. Adapun Alam Qudsi itu Ubun-Ubun dan Maqam Qabu Qausaini itu Antara
Kedua Kening.
Maka kita tahankan nafas kita hingga lenyap rasanya pada sekalian alam kita. Serta
kita Niat “Hapus Wujudku Yang Kasar Kepada Wujudku Yang Batin Kepada Wujud Zat
Hanya Zat Semata-mata" kepada syuhud kita. Maka hapuskanlah sekalian Sifat Basyariah
diri kita ke dalam lautan yang bernama Bahrul Qadim hingga nyata sifat laut semata-mata
yaitulah Laut ALLAH. Maka katakanlah ALLAHU AKBAR. Setelah Fana sekalian keadaan
diri kita maka nyatalah Baqa Tuhan semata-mata.
Inilah yang dikatakan Syuhud (inilah yang kita Syuhudkan) hingga sampai kita
Salam, jangan lalai kepada yang lain. Adapun Syuhud itu Pandangan Mata Hati,
Pengetahuan Nyawa dan Alam Nyawa. Sebenar-benar Alam Nyawa itu ialah Iman.
Sebenar-benar Iman itu ialah Sir ALLAH dan sebenar-benar Sir ALLAH itu Cahaya Alam
Sekalian Alam Zat ALLAH yang Tiada Berhuruf dan Tiada Bersuara, Wujud Yang Mutlaq
http://hambayangfana.blogspot.co.id
sebenar-benar Tuhan Zat Wajibul Wujud. Inilah yang dinamai Syuhud dan inilah pakaian
sekalian Anbiya' dan Auliya' ALLAH yang Arif Billah yang Kamil. Inilah Muqoronah Kamaliah
namanya.
Barang siapa dapat memakai Muqoronah ini, jikalau kanak-kanak sekalipun usianya
Tujuh Tahun maka dihukumkan ia Auliya'. Dipeliharakan ALLAH Ta’ala daripada sekalian
azab dan di anugerahi akan ALLAH Ta’ala atasnya jasa matinya hingga sampai Kiamat
seperti orang yang baru tidur pagi bangun petang.
Demikian perasaannya dipeliharakan ALLAH Ta’ala dengan tubuhnya yang kasar
tiada binasa karena Nyawanya berdiam di dalam Jasadnya. Inilah sebabnya tiada binasa
Jasad karena Jasad itu Kamil dengan Nyawa itu Kamil dengan Tuhannya. Maka jadilah
Kamil Mukammil. BAB ZAT TUHAN YANG MUTLAQ Inilah jalan kita mengi’tiqadkan
Ketuhanan seperti dalil “WALLOHU Kulli Syai'in Muhiit” bahawasanya ALLAH Ta’ala itu
Amat Rata yakni meliputi pada sekalian alam, pada Hayat, Ilmu, Qudrat, Iradat, Sama’,
Bashor dan Kalam atas Tujuh petala langit dan Tujuh lapisan bumi yang di bawahnya serta
antara kedua-duanya di luar dan di dalamnya.
Dan batu pejal dan di dalam rongga Adam dan roma yang halus sekalipun, amat rata
tiada lapang pada suatu pihak, inilah erti ‘Muhit’. Dan lagi dalilnya, “La Tatarraku Zarrotan
Illa Bi IzniLLAH” bahawasanya “Tiada bergerak walau sebesar habuk sekalipun melainkan
dgn Izin ALLAH”. Dan lagi dalilnya “Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa BiLLAH” maksudnya
“Tiada daya upayaku melainkan dengan daya daya upaya ALLAH”. Dalilnya lagi “Fa
Ainamaa Tuwallu Fa Thamma WajhaLLOH” artinya “Barang kemana-mana kamu hadapkan
mukamu di sanalah ALLAH”.
Maksudnya barang kemana pandanganmu hendaklah pandang ALLAH di dalamnya,
jika kamu memandang keadaan diri kamu hendaklah pandang Keadaan ALLAH . Jika kamu
memandang kehidupanmu hendaklah memandang dengan Hayat Tuhan, jika kamu
memandang pengetahuanmu hendaklah memandang Ilmu ALLAH, jika memandang
kuasamu hendaklah dipandang Qudrat Tuhan.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Jika kamu pandang kehendakmu hendaklah pandang Iradat Tuhan, jika kamu
merasa pendengaranmu hendaklah diingat dengan Sama’ ALLAH. Jika kamu ucap zatmu
hendaklah ucap dengan Kalam Tuhan. Dan lagi barang kemana pandanganmu, ALLAH di
dalamnya artinya barang kamu pandang segala kejadian itu adalah yang menjadikan,
jangan terhenti pada kata-kata itu pada sekalian yang jadi itu hingga sampai kepada yang
menjadikan yakni Wajibul Wujud. Wallahu A’lam Bis Showab.
1. Qosad, Ta'rudh, Ta'yin, Takbiratul Ihram Dan Junub
‫بسم ا الرحمن الرحيم‬
QOSAD Adapun sebenar-benar Qosad itu Sebenar-Benar Niat. Niat itu yang tiada
huruf dan suara, itulah yang Sebenar-Benar Niat. Yang ada huruf dan suara itu bukannya
Niat yaitu Adam. Yang sebenar-benar tiada huruf dan suara itu, itulah Zat ALLAH Ta’ala,
itulah Niat Yang Sebenar-Benarnya. Dan asal Niat dan tempat Niat pun inilah yang Niat,
Berniat Sebenar-Benar Tuhan Mutlaq Yang Bersifat Zat Wajibul Wujud Kholiqun Nas lagi
Bersifat Kamil. Wallohu A’lam.
TA’RUDH Adapun Ta’rudh itu menyatakan Fardhu. Adapun sebenar-benar Fardhu itu
Tajalli Sifat ALLAH, artinya Nyata ALLAH, yaitu Nur Muhammad, A’yanu Thabitah pun ia,
Wujud Idhofi pun ia, Insan Kamil pun ia. Inilah ialah (Dialah) Yang Sebenar-Benar Fardhu.
Asal Fardhu itu Ruh Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, semulia-mulia
tempat Tajalli sekalian Nabinya. Ruh Adam itulah sebenar-benar dikatakan asal Fardhu
yang sebenarnya. Karena sekalian Nyawa itu Tajalli daripada Nur Muhammad. Tersebutlah
di dalam Hadith “Ana Minallohi Min Nuur, Al-‘Aalamiina Minnii” yang bermaksud “Aku
daripada ALLAH dan sekalian Jisim Alam itu daripada Aku”. Tersebut juga “Ana Minallohi
Wal Anbiya^u Minnii” maksudnya “Aku daripada ALLAH dan sekalian Anbiya^ itu daripada
Aku”. Dan lagi “ Ana Minallohi Wal Mu^miniina Minnii” maksudnya “Aku daripada ALLAH
dan sekalian Mu^min daripada Aku”. Itulah sebabnya dikatakan Muhammad itu Abul Arwah
(Bapa Sekalian Nyawa) dan Adam Abul Basyar (Bapa Sekalian Tubuh). Inilah yang
dikatakan Sebenar-Benar Fardhu pada kita. (Nyawa) karena itu memerintahkan dan Tajalli
http://hambayangfana.blogspot.co.id
nyata gerak Tubuh oleh Nyawa. Tiada gerak Nyawa maka tiada gerak Badan. Wallohu
A’lam.
TA’YIN. Adapun Ta’yin itu menyatakan Fardu Zohor dan Asar dan yang lain-lainnya.
Adapun maksud sebenar-benar itu nyata itu Af’al ALLAH pada Jasad Adam, yaitu Tubuh
kita yang kasar. Inilah Sebenar-Benar Ta’yin dan Sebenar-Benar Nyata. Wallohu A’lam.
TAKBIRATUL IHRAM. Adapun Takbiratul Ihram itu hendaklah kita hadirkan Hati kita
seluruhnya kepada Zat ALLAH Ta’ala dahulu. (LAA) daripada Takbir tatkala Qamah itu
diniatkan di dalam Hati kita pulangkan sekalian pancaindera yang dipinjamkan kepada kita.
Demikian Niat “Tiada Pendengarku Hanya Ia, Tiada Penglihatanku Hanya Ia, Tiada Gerak
Dan Diamku Hanya Ia, Tiada Di Atas Dan Ke Bawah Hanya Ia, Tiada Di Kanan Dan Kiri,
Tiada Hampir Tiada Jauh, Tiada Di Dalam Dan Di Luar, Tiada Ada Bandingan, Hanya Ia
Tiada Hamba”.
HAKIKAT JUNUB Bab ini peri menyatakan yang bernama Junub itu. Adapun yang
bernama Junub yang sebenarnya itu maka terlalu amat mulia pada ALLAH Ta’ala pada
masa tetap di dalam ‘IlmuNya lagi yang bernama Nur Ma’lumat ALLAH ertinya cahaya yang
amat limpah di dalam ‘IlmuNya tatkala dikeluarkan Ruh sertanya Nur ‘Ali namanya iaitu
cahaya yang amat tinggi. Maka tatkala Ruh itu dimaujudkan kepada lembaga Adam ‘Alaihis
Salam, Nur Tanziah (Cahaya Suci) namanya.
Adapun seperti firman ALLAH Ta’ala “ Al Insaanu Sirrii Wa Ana Sirruhu” artinya
“Manusia itu adalah rahsiaKu dan Aku adalah rahsianya”. Sabda Rasulullah S.A.W “ Man
‘Arofa Haqiqatu Junuubahu Minal A’laa Imma Fis Samaawaati Wal Ardh” artinya “Maka
barangsiapa tahu dan kenal akan sebenar-benar Junub tiadalah ada yang sepertinya
barang di dalam isi langit dan isi bumi”. Maka sebab daripada itulah maka manusia itu
bernama Insan karena makna Insan itu amat tinggi martabatnya karena dilengkapi oleh
‘IlmuNya. Dan sabda Rasulullah S.A.W. “Man Laa Ya’rifu Haqiiqatul Junuubi Batolat
Janaabitahu” artinya “Barangsiapa tiada mengetahui akan sebenar-benarnya Junub, sia-
sialah Junubnya. Terhentilah pendapat di tempat mereka itu mengenal tiada sampai
http://hambayangfana.blogspot.co.id
pengenalannya selama-lama mereka itu siksanya yang amat besar jua karena ditaqsir
mereka itu tiada habis pelajarannya, sebab itulah kena siksa adanya.
Sebermula adapun sebenar-benar lelaki itu Jalal ALLAH artinya Sifat Kekuatan
ALLAH kita sebab itulah lelaki itu lebih daripada perempuan. Adapun sebenar-benar
perempuan itu Jamal ALLAH artinya sifat Kecantikan ALLAH Ta’ala, maka sebab itulah
lemah perempuan itu daripada lelaki. Demi ALLAH, Demi Kalam ALLAH jangan syak pada
perkataan ini Hai Salik, inilah “Man Syakka ‘Alaiha Fa Huwa Kaafir”. Maka barang siapa
syak di atas perkataan ini maka iaitu jadi kafir. Adapun sebenar-benar lelaki itu adalah Sir
ALLAH maka tempatnya Sir ALLAH itu kepada Ma'nikam.
Adapun Ma'nikam itu seperti Emas KurniaNya. Adapun sebenar-benar perempuan
itu Cinta Rasa daripada Ni’mat ALLAH maka tempat Cinta Rasa pada Mani perempuan,
adapun Mani itu seperti Fijar. Maka nyawa itu seperti api, maka apabila berhimpun yang
tiga itu, maka jadilah manusia yang tanggungkan amanat ALLAH atasnya. Adapun Sir itu
zatnya dan Cinta Rasa itu sifatnya dan yang sebenar-benar ni’mat itu yaitulah Janaabat
maka yaitulah Mani Perempuan, adapun yang bernama Rahmat itu yaitu Junub maka yaitu
Ma'nikam Mani Laki-laki.
Bermula ALLAH Ta’ala amat tahu barang yang di dalam ‘IlmuNya dan lengkap
dengan sekalian SifatNya dan Asma'Nya dan Af’alNya. Maka inilah Doa Membasuh Zakar: “
Nawaitul Ghusla Minal Junuubi Min Nuuris Samaawaati Wal Ardi, Innahu Huwas Samii’ul
‘Aliim”. Kemudian ini mandi “Nawaitu Bismillahi Ruh mandi dengan Adam, Adam mandi
dengan Jaa'im, Jaa'im mandi dengan Rahmatullahi Ta’ala”. Maka kemudian kita pulangkan
amanah ALLAH Ta’ala, inilah doanya “ Syuhud yang memandang zat, zat syuhud
memandang kepada Nur Muhammad asal zuriat.
Pulanglah kepada Nurulloh Ta’ala. Karamlah wujudku dan sifatku dan asma^ku dan
af’alku di dalam laut Nur Wujud ALLAH kepada awan yang putih. ALLAH, ALLAH, ALLAH,
Laa Ilaaha Illalloh”. Ya’ni hapuslah keadaan yang baharu yang tiada mempunyai segala
kuasa dan kehendak dan tahu dan barang sebagainya.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
2. Usuluddin - Kenyataan Sifat 20
‫بسم ا الرحمن الرحيم‬
Bagi mengesakan Zat, Sifat Salbiah digunakan sebagai perisai untuk menangkis
sebarang serangan dari pihak yang bertujuan untuk menyamakan, menyengutukan ataupun
menduakan Zat ALLAH Taala dengan apa jua sekalipun. Setelah dapat ia menafikan
manusia ada kuasa dan kehendak untuk bergerak atau diam maka dikatakan ia telah dapat
pula mengesakan ALLAH Taala pada Af'alnya pada sifat Kamalat ALLAH Taala pada
ZatNya. Harus bagi ALLAH menghidup atau mematikan, sesungguhnya manusia itu, bodoh,
lemah, nafsu, pekak, buta dan bisu.
Setelah yakin dengan sebenar-benar yakin maka barulah seorang itu dapat
mengesakan ALLAH pada sifat kamalat ALLAH Taala. Sifat inilah yang dinamakan Sifat
Maani. Salah satu ciri sifat ini ia berada berada diluar fikiran karena itu, tidaklah untuk
digambarkan dengan akal fikiran kita akan bagaimana sifat kamalat yang tujuh ini berfungsi.
Sebagai contoh bagaimana ALLAH melihat, akal tidak terpakai dalam kontek ini bagi
memikirkan bagaimana ALLAH Taala melihat.
Akan tetapi wajib kita sebagai umat Islam beriman dengan sifat ini, dalil al-qur'an :
'Dan ALLAH Maha Melihat apa yang kamu kerjakan'. Noktah. ! Maka pada tubuh atau jasad
anak Adam itulah zahirnya segala perbuatan ALLAH Taala melalui Sifat Maknawiyah yang
tujuh iaitu keadaan yang hidup, keadaan yang tahu, keadaan yang berkuasa, keadaan yang
berkehendak, keadaan yang mendengar, keadan yang melihat dan keadaan berkata-kata.
Ketujuh sifat Maknawiyah ini lalu dikatakan tidak memberi bekas.
Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an : 'Aku tidak menghendaki rezeki dari kamu,
bahkan Akulah yang memberi rezeki kepada mu' Lalu adalah pembahagian pada sifat
ALLAH Taala kepada dua yakni Istighna dan Iftiqqar iaitu sifat Maha Kaya ALLAH dan
Berhajat segala sesutu kepada sifat Kaya ALLAH ini. Andaikata tiada ALLAH Taala ciptakan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Nabi Adam As maka tiadalah manusia dimuka bumi ini bagi menzahir sifat Kaya ALLAH
Taala. Setelah diciptakan Manusia dan Jin maka diperintahkan kepada kedua golongan ini
supaya beribadat kepadaNya sebagaimana firmanNya bermaksud : 'Tidak Aku jadikan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu'. Bersabda Nabi Muhammad :
'syariat itu perkataanku, tarekat itu perbuatanku, hakikat kenyataanku dan makrifah itu
meliputi seluruh anggota tubuh badanku'. Berkata Rasulullah saw : 'Syariat itu perkataan
ku', maka dapat difahami ia sebagai khabar gembira dan peringatan atau ancaman. Umat
Islam percaya bahawa Nabi Muhammad itu maksum, maknanya terpelihara perbuatan zahir
batinnya dari segala dosa, lalu dikatakan tidaklah Baginda berkata melalui nafsu, akan
tetapi dengan iradat ALLAH Taala, namanya wahyu. Justeru dari 'perkataan' ini lahir pula
dua iaitu perintah dan larangan.
Perintahnya supaya tidak menyekutukan ALLAH Taala dengan sesuatu pada setiap
perbuatan zahir batin. Keduanya mestilah saling lazim melazimi antara satu sama lain,
supaya terlepas dari perumpamaan 'cakap tidak serupa bikin'. Perbuatan yang nyata, maka
dinamakan perbuatan yang zahir, manakala yang tidak nyata pula dinamakan perbuatan
yang batin. Inilah yang saya faham dengan maksud hadis 'Tarekat itu perbuatanku'. ALLAH
Taala ciptakan sekelian Jin dan Manusia supaya beribadat hanya kepadaNya, selain
dariNya syirik namanya, neraka tempat kekalnya diakhirat kelak.
Selain daripada perintah beribadat, manusia dan jin juga diperintahkan supaya
mengingati hanya Dia pada setiap detik, dikiaskan pada masa berdiri, duduk dan baring.
Banyak cara orang mengingati ALLAH Taala, Zikir Namanya. Dibahagikan kepada
beberapa bahagian, zikir jihar, zikir khafi dan Zikir Tanpa hurup tanpa suara. Ucapan yang
zahir ditangkap oleh kedua malaikat lalu dicatitkan,, manakala yang batin hanya ALLAH
Taala yang tahu. Dalam Solat, rukun qalbi tempat nya dihati, neracanya sifat ilmu bermula
dengan sifat kehendak Aallah Taala, rukun qauli nyata sifat kalam, neracanya pada sifat
samak, rukun fekli pula nyata pada qudrat dan Iradat, neracanya pada sifat basar.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Samada sedar atau tidak inilah yang terjadi pada kita setiap detik dan ketika samada
kita sedar atau tidak.. Niat ada padanya tiga bahagian, pertama tanpa huruf tanpa suara,
kedua lintasan sedetik dihati dengan kehendak ALLAH Taala untuk melakukan perbuatan
samada perbuatan itu baik atau tidak baik dan terakhir lafaz pada niat itu sendiri iaiatu
dinyatakan misalnya semasa mengatakan 'ussalli.....'. Kemudian bila dilaksanakan maka
'nyatalah' pada kita 'perbuatan dan kelakuan' ALLAH Taala yang terjadi keatas diri hamba
dengan 'sendirinya' semasa hamba itu mendirikan ibadah solat fardu atau apa jua
perlakuan zahir batin diluar solat. Dalil al-quran : 'ALLAH menghidupkan dan mematikan' ;
'Kami membacakan ( al-qur'an ) kepadamu maka tidak akan lupa, kecuali kalau ALLAH
menghendaki. Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi'; 'ALLAH Maha berkuasa
berbuat apa yang dikehendakiNya'.
Rasanya dalil al-qur'an ini jelas menunjukkan kepada kita bahawa Allahlah yang
memberi petunjuk dan Dia jualah yang menyesatkan. Manusia tak boleh buat apa-apa.
Asas tauhid itu adalah nafi dan isbat maka wajib dinafikan ada perbuatan dan kelakuan
pada diri hamba yang zahir dalam usuluddin, tasauf namanya pada diri yang batin dari satu
peringkat keperingkat yang lebih tinggi. Pada saya inilah yang dimaksudkan dengan
ungkapan 'Wujud Hanya ALLAH' iaitu bermula dengan wujud hanya af'al ALLAH ( gerak dan
diam ), kedua wujud hanya asmak (semua yang bernama kembali ia kepada yang empunya
nama ) ALLAH, ketiga wujud hanya sifat ( qudrat, iradat, ilmu, hayat, samak, basar, kalam )
ALLAH dan paling atas wujud hanya zat karena terhimpun pada af'al, asmak dan sifat
seperti dalil al-qur'an 'aku datang dari ALLAH datang kepada ALLAH aku kembali'.
Pada saya inilah maksud hadis 'hakikat itu pakianku' Dilarangkan sekeras-kerasnya
kita memisahkan antara zat, sifat, asmak dan af'al; dalil Aku beserta kamu walau dimana
sahaja kamu berada'. Pada saya ( ‫')شهوُد الكثرة فىِ الوُحدة()شهوُد الوُحد فىِ الكثره‬pandang satu
pada yang banyak' atau pandang banyak pada yang satu' masih lagi berkisar pada tahap
tauhid - dapatkah dia tauhid kelas ini 'DIA MEMANDANG DENGAN MATA KEPALA DAN
JUGA MATA HATI PADA AF'AL DAN KELAKUAN YANG BERLAKU SAMADA PADA
http://hambayangfana.blogspot.co.id
DIRINYA SENDIRI ZAHIR BATIN ATAU PADA SEKELIAN 'ALAM INI ZAHIR BATIN
ADALAH PERBUATAN DAN KELAKUAN ALLAH TAALA YANG TERJADI DENGAN
SENDIRINYA'. Yang perlu pada setiap individu adalah YAKIN.
Jika berada pada iman taklid, berusaha supaya naik kepada iman 'ainul dan
begitulah sterusnya sehinggalah tahap paling tinggi iaitu kamalul yakin. Keempat mahzab
diasaskan oleh Imam Malik, Imam Shafie, Imam Hanafi dan Imam Ahmad Hambal. Diantara
keempatnya Imam Ahmad Hambal yang paling muda ( wafat : sekitar 241 Hijrah ). Ilmu
Tauhid pula mulanya diasaskan dan disusun oleh Imam Abu Hassan As-Shaari dan
dikemaskini / dilengkapkan oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi dan seterusnya diperakui
oleh jumhur ulamak selepas kewafatan kedua-dua imam tersebut. Imam Abu Hassan As-
Ashaari dan Imam Abu Mansur Al-AMaturidi wafat pada sekitar 15 dan 24 tahun selepas Al-
Hallaj wafat.
Imam Abu Kassim Al-Junaid pula wafat pada sekitar 15 tahun sebelum wafatnya Al-
Hallaj manakala Sheikh Abdul Qadir Jalaini lahir 160 tahun dan Syeikh Abu Yazid Bustami
wafat sewaktu Al-Hallaj berusia pada sekitar 15 - 16 tahun. Dari fakta sejarah yang
diperakui Imam Abu Mansur Al-Maturidi telah menyususn serta melengkapkan secara
tersusun Ilmu Tauhid yang diajar kepada masyarakat umum sehinggalah kepada umat
Islam dewasa ini. Ini bermakna cara-cara penyampaian Ilmu Tauhid disampai dan dipelajari
oleh Islam selepas kewafatan Imam Ahmad Hambal sehingga tahun 333 Hijrah ( tarikh
kewafatan Imam Abu Mansur Al-Maturidi ) ada kemungkinan tidak sama dengan cara yang
dipelajari oleh umat Islam selepas tahun 333 Hijrah.
Dari fakta ini saya berpendapat kebangkitan mempelajari ilmu Feqah begitu kuat
dikalangan umat Islam berpandukan kitab-ktab Feqah yang dikarang oleh Ulamak-Ulamak
Feqah yang didorong oleh kitab-kitab yang dikarang oleh keempat Imam iaitu Imam Malik,
Imam Shafie, Imam Hanafi dan Imam Ahmad Hambal. Dalam tempoh yang sama juga
lahirnya beberapa tokoh tasauf besar dan terbilang seperti Rabi'atul Adawiyah, Sheikh Abu
Yazid Busthomi, Sahl Ibn Abdullah, Sheikh Abu Kassin Al-Junaid, Zunnun Al-Misri dan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
banyak lagi ahli sufi yang amat dikenali sehingga ke hari ini. Seperti mana yang diketahui
tingkah laku ahli-ahli sufi ini begitu sukar untuk difahami oleh mereka-meraka yang tidak
sealiran dengan perjalanan kesufian.
Kebanyakan dari ahli-ahli sufi ini suka mengungkapkan kata-kata yang pelik lagi
sukar untuk difahami oleh orang kebanyakan, antaranya : 'Siapa yang tidak kenal kepada
tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada ALLAH telah memenuhi seluruhku, hinggakan
tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan.' : Rabi'atul Adawiyah
'Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku
tidak melihat dan tidak tahu Tuhan.' :
Zunnun al-Misri 'Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur, kemudian
aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Ia membuat aku gila pada diriku
hingga aku mati. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya, dan akupun hidup. Gila
pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup).' : Sheikh
Abu Yazid Busthomi Tentu saja orang akan membuat berbagai tanggapan tentang sesuatu
yang diucapkan oleh orang lain yang dia sendiri tidak dapat memahaminya sepenuhnya.
Lihatlah saja daripada kenyataan Rabi'atul Adawiyah ; Rasulullah sendiri tidak ada tempat
dihatinya dikala dia sedang mabuk dengan cintanya kepada ALLAH Taala.
Sulit sekali untuk difahami cara-cara ahli-ahli sufi mengkhabarkan pendapat mereka
dan bahasa-bahasa yang mereka gunakan untuk memberitau orang lain tentang apa yang
mereka lalui, apa lagi untuk difahami oleh orang lain.
Pada saya pertembungan antara dua golongan yang berbeda aliran ini dapat
difahami melalui firman ALLAH Taala bermaksud :
a. 'Dan ( ingatlah) Musa berkata kepada muridnya : "Aku tidak akan berhenti
(berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan ; atau aku akan
berjalan sampai bertahun-tahun".
b. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan
ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
c. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya :
"Bawalah kemari makanan kita ; sesungguhnya kita telah merasa letih karena
perjalanan kita"
d. Muridnya menjawab : "Tahukah kamu tetakala kita mencari tempat berlindung
dibatu tadi, maka sesungguhnya aku lupa ( menceritakan tentang ) ikan itu dan
tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakan kecuali syaitan dan ikan
itu mengambil jalannya kelaut dengan cara yang aneh sekali".
e. Musa berkata : "Itulah ( tempat ) yang kita cari". Lalu keduanya kembali mengikut
jejak mereka semula.
f. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami,
yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami
g. Musa berkata kepada Khidir : "Bolehkah aku mengikutmu supaya kamu kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu"
h. Dia menjawab : "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar
bersamaku"
i. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?'
j. Musa berkata : "Insya ALLAH kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang
sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun"
k. Dia berkata : "Jika kamu mengikutku, maka janganlah kamu menanyakan
kepadaku tentang sesuatu sampai aku sendiri menerangkannya kepada mu".
l. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir
melobanginya. Musa berkata : "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang
akibatnay kamu menenggelamkan penumpangnya?. Sesungguhnya kamu telah
berbuat sesuatu kesalahan yang besar".
http://hambayangfana.blogspot.co.id
m. Dia ( Khidir ) berkata : "Bukankah aku telah berkata : "Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku ".
n. Musa berkata : " Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan
janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam hidupku".
o. Maka berjalanlah keduanya ; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan
seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata : "Mengapa kamu
bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain ?.
Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
p. Khidir berkata : "Bukankah aku telah berkata : "Sesungguhnya kamu sekali-kali
tidak akan sabar bersama dengan aku ?".
q. Musa berkata : "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali ) ini,
maka janganlah kamu memperbolehkan aku mengikutimu, sesungguhnya kamu
sudah cukup memberikan uzur padaku".
r. Maka berjalanlah keduanya ; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk
suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk
negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan
didalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan
dinding itu. Musa berkata : Jikalau kamu mau, nescaya kamu mengambil upah
untuk itu".
s. Khidir berkata : " Inilah perpisahan antara aku dengan kamu ; Aku akan
memberitahu kan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat
sabar terhadapnya"
t. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja dilaut,
dan aku bertujuan merosakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada
seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera"

http://hambayangfana.blogspot.co.id
u. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin,
dan kami khuatir bahawa dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada
kesesatan dan kekafiran"
v. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan
anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam
kasih sayangnya ( kepada kedua ibubapanya"
w. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim dikota itu,
dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang
ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya
mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu,
sebagai rahmat dari Tuhanmu ; dan bukan aku melakukannya menurut
kemahuanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya"
x. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba DIANTARA HAMBA-HAMBA Kami,
yang telah Kami berikan kepadanya RAHMAT dari SISI Kami, dan yang telah
kami AJARKAN kepadanya ILMU DARI SISI kami' Sebaiknya kita jadikan satu
ikhtibar akan perkara yang terjadi kepada Nabi Musa As betapa peranan limu
laduni ( ilham terus dari ALLAH Taala ), tentang Kurnia, Petunjuk atau Hidayah
dan juga Rahmat ALLAH Taala. Siapalah kita untuk dibandingkan dengan Nabi
Musa Kalamullah, ALLAH Taala kurniakan sembilan mukjizat sebagai bukti akan
Kenabiannya.
Lihatlah betapa hebat Qudrat dan Iradat ALLAH Taala, hanya dengan sebatang
tongkat dapat terbelah Lautan Merah. Semua orang Islam percaya apabila diceritakan Nabi
Musa dengan Izin ALLAH Taala mampu membelah Lautan Merah karena ada diceritakan
didalam Al-Qur'an, akan tetapi sukar sekali untuk mempercayai yang terjadi kepada mereka
yang terpilih tetapi tidak dinyatakan didalam Al-Qur'an. Sheikh Yazid Busthomi berkata
tentang fana' : 'Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur, kemudian aku
http://hambayangfana.blogspot.co.id
mengetahuiNya melalui diriNya dan akupun hidup'. Fana' bermakna lenyap atau binasa
atau ada juga orang mengatakan ghaib. Bila digunakan bahasa kiasan maka menjadilah ia
seperti 'binasa af'al hamba dalam af'al ALLAH jika seorang itu berada pada tauhid af'al,
atau 'ghaib kelakuan hamba dalam sifat ALLAH' apabila dia telah dapat mengesakan
ALLAH Taala pada sifatNya.
Dua rangkap ayat ini pendek tapi lihatlah betapa indahnya susunan kata-kata yang
diucapkan oleh Sheikh Abu Yazid Busthomi ini walaupun ia sulit untuk difahami dan
renungkanlah bagaimana beliau membezakan antara ilmu dengan makrifah. Yang
dikatakan beriman dengan ALLAH Ta'ala kita beriman kepada tiga bahagian iaitu af'al,
asmak, sifat dan ZatNya sebagaimana firman ALLAH Taala bermaksud :
a. Tentang tauhid Af'al - 'Bukan engkau yang membunuh mereka, akan tetapi
Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang ketika kamu melempar,
tapi ALLAH yang melempar' –
b. Tentang tauhid Asmak - 'Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi'
c. Tentang tauhid Sifat - "Mahasuci Engkau, tiadalah y ang kami ketahui kecuali apa
yang Engkau beritahu'
d. Tentang tauhid Zat - 'Kemana sahaja engkau hadapkan wajahmu, disitulah Zat
ALLAH'
e. Tentang Makrifah - 'dan Kami ajarkan dia ilmu dari sisi Kami' .

http://hambayangfana.blogspot.co.id
AL FATIHAH ITU ADALAH JUBAHKU

Dalam Al Qur’an surat AL FATIHAH di letakkan didepan karena AL FATIHAH


mempuyai arti atau makna pembuka. AL FATIHAH ITU ADALAH JUBAHKU. Dalam dunia
hakikat terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal yaitu : “AKU berada dalam qolbu
hamba KU yang EDAN”. (HR. Tuak ilahi). Qolbu tersebut dinamakan : "Mahligai–Nya AKU
atau Kerajaan-Nya AKU atau Istana-Nya AKU atau Masjid-Nya AKU atau Rumah-Nya AKU".
“Didalam QOLBU itu terdapat Induknya Rasa, didalam Rasa itu isinya yaitu HU atau AKU” .
"Ya Muhammad didalam Rasa itulah hakikatnya AKU" (HR. Tuak ilahi) jadi kesimpulannya
Qolbu itu adalah makhluk yang AKU ciptakan dari Diri-KU sendiri atau disebut juga dengan
Sifatullah atau Nurullah atau Jauhar Awal yaitu Hakekat sifat .

Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan
rahasia-Ku itu adalah sifat-Ku dan sifat-Ku itu tidak lain adalah AKU. (HR. Tuak ilahi).
“ALAM ini berasal dari NUR MUHAMMAD dan NUR MUHAMMAD ini berasal dari AKU (HR.
Tuak ilahi). Induknya Rasa itu terbagi atas 2 kategori dan Terdiri dari 5 rasa lahir dan 1 rasa
batin yang mencangkup kelima rasa tersebut tadi, Jadi jumlahnya ada 6 rasa .

 Rasa ke 1 : Nyatanya dibadan yaitu rasa jasad, Rosulnya Adam Kholifatullah.


 Rasa ke 2 : Nyatanya dibadan yaitu rasa pendengaran atau telinga, Rosulnya
Ibrahim Habibullah
 Rasa ke 3 : Nyatanya dibadan yaitu rasa penglihatan atau mata, Rosulnya
Daud Kholilullah .
 Rasa ke 4 : Nyatanya dibadanKU yaitu rasa mulut atau lidah, Rosulnya Musa
Kalamullah .
 Rasa ke 5 : Nyatanya dibadan yaitu rasa mencium atau hidung, Rosulnya Isa
Rohullah .

http://hambayangfana.blogspot.co.id
 Rasa ke 6 : Nyatanya dibadan yaitu rasa Qolbu, rasa lahir batin yang
mencakup 5 rasa tersebut diatas atau disebut Hakekatnya RosulKU atau
sama juga dengan RasaKU . "Para Nabi itu adalah bersaudara se ayah dan
se ibu, syareatnya berbeda-beda, sedangkan asal dan pokok agamanya satu
(HR. Tuak ilahi).

Adapun yang dimaksud Sahabat-sahabat dari Hakekat Rosul itu adalah Insan yang
benar-benar beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkat tinggi,
hingga diberi anugerah untuk dapat ma’rifat (bertemu, melihat dan mengenal) disebut
dengan Sifatullah atau Hakekat Syahadat, karna Dimana ada sifat disitu ada Dzat. Dimana
ada Muhammad disitu ada Allah, Merekalah yang dianugerahi Ilmu Laduni yaitu NURRUN
ALA NURRIN, melalui jalan Nya Al Fatihah.

Bismillahirrahmanirrahim... akan namaku.


Alhamdulillah... akan diriku .
Rab Bul Alamin... akan tubuhku.
Ar Rahman... akan uratku.
Ar Rahim... akan dagingku
Malikiyau middin... akan darahku
Iyya Kanaq Budu... akan tulangku
Wa iyya kanash taa in... akan otakku
Ih dinash siratul mustaqim... akan hidupku
Siraa tal laazi... akan hatiku
Na an am taa alai him... akan rupaku
Ghairil magh du bialaihim... akan ilmu taufikku
Wa lad dhallin... sebenar benar taufikku Amiin... aku lah yang meliputi luar dan
dalam)

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Wahai tuak ilahi

Wahai tuak ilahi, Jika kau telah mengenal diriMu yg sejati maka kau bukan lagi
seonggok daging atau sekujur tubuh. Apabila saat perkenalan itu telah tiba, maka zikirMu
tak lagi dengan suara atau dengan gerak, tetapi zikirMu adalah melihat siapa yg kau ingat.
Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada, dan kau tak lagi akan melihat mati itu
satu kematian, karna sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu, ketika itu kau
adalah cahaya Allah di bumi ini. Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di
akhirat nanti, dan sesungguhnya karna kau adalah milik Allah, terserah kepada Allah mau
dibuat apa kau itu karna kembali kepada AsalMu.

Setelah itu baru apa yg kelihatan itu akan berwajah kau, dan disitu jugalah keadaan
yg mana yg memandang dan yg dipandang itu adalah kau yg esa, Kau melihat wajahMu
sendiri ketika pandang memandang itu. Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu
selain kau telah fana, itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat,
tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan. Jika kau masih juga tidak
faham dan yakin, maka akan kuterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal
mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yg disebut sulbi dan taraib

Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yg dikeluarkan oleh Allah dari mutu
manikam sehingga para ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib).
Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak, dan yg menjadi
IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu. Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal
ini tidak terlalu nampak karna birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat
kaum bapak, Karna kaum ibu ini hanyalah iradat, maka ulama mengistilahkan "SYURGA
ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU"

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Untuk lebih jelasnya aku akan terangkan bagian-bagian dari maksud yg di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi, madi, mutu, mani, atau disebut sulbi


BAGIAN IBU: tanah, air, angin, api, atau disebut taraib
BAGIAN ALLAH: ruh idhafi, ruh ruhani, ruh rahmani, ruh jasmani

BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

Tanah itu ialah badan muhammad


Air itu ialah nur muhammad
Angin itu ialah nafas muhammad
Api itu ialah penglihatan muhammad

Awal itu ialah nurani


Akhir itu ialah ruhani
Zahir itu ialah insani
Bathin itu ialah rabbani

Nurani itu ialah nyawa


Ruhani itu ialah hati
Insani itu ialah tubuh
Rabbani itu ialah rahasia

Nyawa itu ialah idhafi


Hati itu ialah ruhani
Tubuh itu ialah jasmani
Rahasia itu ialah aku yg sejati

Tubuh itu menyatu kepada hati


Hati itu menyatu kepada nyawa
Nyawa itu menyatu kepada rahasia
Rahasia itu menyatu kepada nur
Nur itulah bayang-bayang Allah yg sebenar-benarnya

Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA


Madi... kalimahnya: ILALLAH
Mutu... kalimahnya: ALLAH
Mani... Kalimahnya: HU

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Ruh jasmani kalimahnya: YAHU
Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU
Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU
Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU
Mutu manikam kalimahnya: MA'DAHU

TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:

1. Sifat amarah
2. Sifat lawwamah
3. Sifat mulhimah
4. Sifat mutmainah
5. Sifat radhiyatan
6. Sifat mardhiyah
7. Sifat ubudiyah

TUJUH PETALA LANGIT YG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:

1. Lathifatul qolbi
2. Lathifatul ruuhi
3. Lathifatul sirri
4. Lathifatul ahfa
5. Lathifatul hafi
6. Lathifatul nafsu natika
7. Lathifatul kullu jasad

JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL
YG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI
BERIKUT:

1. Hayatun jasadi bin-nafasi


2. Hayatun nafasi bir-ruhi
3. Hayatun ruhi bis-sirri
4. Hayatun sirri bil-imani
5. Hayatun imani bin-nuri
6. Hayatun nuri bil-qudrati
7. Hayatun qudrati bi mu'alamullahi ta'ala dzatullah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1. Asalnya jasad dari nafas


2. Asalnya nafas dari ruh
3. Asalnya ruh dari dalam rahasia
4. Asalnya rahasia dari dalam iman
5. Asalnya iman dari nur atau cahaya
6. Asalnya nur atau cahaya dari qudrat
7. Asalnya qudrat dari ke baqaan Allah

KALIMAHNYA SEPERTI INI:

1. Hayatun jasadi hurufnya Alif kalimahnya LA


2. Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA
3. Hayatun ruhi hurufnya Lam Akhir kalimahnya ILLA
4. Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya ALLAH
5. Hayatun imani hurufnya Alif (Allah) kalimahnya YAHU
6. Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IYAHU
7. Hayatun qudrati hurufnya Mim (muhammad) kalimahnya IYAHU YAMANIHU

Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqaan DZAT ALLAH,
maka ulama menamakanNya sebagai berikut:

1. Watujibul wajasadi fi fasaral qolbi


2. Watujibul qolbi fi fasaral ruhi
3. Watujibul ruhi fi fasaral sirri
4. Watujibul sirri fi fasaral imani
5. Watujibul imani fi fasaral nuri
6. Watujibul nuri fi fasaral qudrati
7. Watujibul qudrati fi fasaral dzati fil dzati

MAKA SEMPURNALAH JALANNYA ORANG ARIF BILLAH

http://hambayangfana.blogspot.co.id
KAEDAH MENGERJAKAN SOLAT

Bentangkan sejadah , kemudian naik atasnya dimulai dengan kaki kanan lalu azan dan
iqamat Berdiri betul ..tangan kanan dan kiri disilangkan ..kanan diatas..pejamkan mata
..pandang DIRI BATIN..apabila jelas ..ucapkan KALIMAH SYAHADAH 3 x dan bedoa
seperti berikut :

DOA…

Aku berdiri dengan HURUF ALIF, aku duduk dengan huruf BA ..diatas HAMPARAN
RASULLULLAH . Aku mengadap ke BAITULLAH KIBLAT DADA….KIBLAT RUH ke BAITUL
MAKMUR – ALLAH KHALIQUL ALAM. Ruhku yang MENYEMBAH ALLAH ZAT WAJIBUL
WUJUD – WUJUDUL MUKHDO ( Maha Suci ) yang BERDIRI PADA SIFAT LAISA
KAMISLIHI SYAIUN..

Mengucap 2 Kalimah Syahadah

Melafazkan NIAT mengikut solat yang hendak didirikan itu


Luruskan kedua tangan dan TARIK NAFAS dari hujung kaki hingga sampai ubun ubun ,
kemudian lafazkan TAKBIR – Allah Hu Akbar.beserta angkat kedua tangan.

Semasa kita QIAM…tangan kanan atas tangan kiri lalu kit abaca Kalimah ini didalam hati.
Kalimahnya spt berikut :-

Aa Uu Zubillah Minash Syaitanurrajim – Bismillah Hir Rahmanirrahim


Ya Muhammad RahasiaKU kepadamu. Ya Muhammad AKU yang mengadakan , AKU Zat
Allah Taala menjadi DIRI.

Baca DOA IFTITAH, Fatihah dan seterusnya sampai akhir


Semasa membaca TAHIYYAT maka hendaklah kita ingat akan MAKSUD Kalam Allah itu
seperti berikut :

Attahiyya ….hga …assalamualaika ..wabarakatuh

AKU yang BERHAYAT sebenar-benarnya. AKU Yang Esa yang mengadakan engkau
Muhammad. AKU Yang Memeberi RAHMAT engkau dan Yang Memberi Rahmat

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Assalamua ALAI NA….
AKU yang sebenar-benarnya Tuhanmu

Wa ala ibadillah….solihin
Dan yang ibadatullah itu yang amat baik itu AKU

Ash hadu Ila ha illalallah


AKU Tuhan Yang ESA..Tiada Tuhan Yang Disembah Melainkan AKU

Wa..ash hadu….rasullullah
AKU bersaksi Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah

Allahuma….wa ala alihi Muhammad..


Ya tuhanku juga yang member ANUGERAH itu ..Yang memberi kepada hambanya dan
sekalian umat

Salam…Inni ana ZATUL HAQ..kekanan…inni ana SIFATUL HAQ..kekiri

PERINGATAN

Semasa kita melangkah keatas sejadah dengan KAKI KANAN hendaklah dimulai bacaan
BISMILLAH

Semasa mengatakan ALLAH HU AKBAR..maka niat dalam hati…AKULAH YANG MAHA


BESAR

Semasa membaca FATIHAH maka hendaklah kita ingat akan SIFAT KITA dalam Fatihah.

Semasa RUKUK selepas baca subhana rabbial adzim…wabihamdihi 3 x ..maka baca


pula ..AKU mempunyai KEBESARAN dan YANG AMAT MENGETAHUI

Semasa kita ITTIDAL selepas baca sami allahu liman hamidah 3 x ..lalu kit abaca pula
..AKUlah YANG AMAT MENDENGAR dan AKU-lah YANG MEMBERI SEGALA KURNIAAN
1 x didalam hati

Semasa kita SUJUD selepas membaca subhana rabbial a'ala wabihamdihi 3 x lalu kit
abaca pula…AKU jua YANG DISEMBAH dan AKU jua YANG MENYAMBAH pada diriku
sendiri 1x didalam hati.

Semasa DUDUK ANTARA 2 SUJUD slepas membaca rabbigh firgli warhamni wa jeburni
warzukni wahdini wa'afni wa'fu anni 3x lalu kit abaca AKU-lah YANG MENGAMPUNKAN
http://hambayangfana.blogspot.co.id
DOSA dan MENGURNIAKAN RAHMAT dan KESEJAHTERAAN kepadamu 1 x didalam
hati.

TENTANG SOLAT

Sebelum kita memulakan solat terlebih dahulu kita fahami akan PERATURAN &
PEGANGAN dalam solat itu karena ia amat PENTING bagi kita. Tanpa pengertian ini, solat
kita tidak akan diterima oleh Allah dan tidak diakui oleh Nabi Muhammad SAW.

Sabda Nabi :

Sollu kama roai tumuni usolli


Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu lihat aku sembahyang

Perkara perkara itu adalah :-

1. AHDAH

Kita hendaklah mengerti bahawa ZAT YANG QODIM itulah DIRI BAGI MUHAMMAD ( ruh )
karena AHDAH itulah MERTABAT ZAT atau MUHAMMAD AWAL ( Ta'ain Awal )

2. WAHDAH

Sesungguhnya SEGALA PERBUATAN dan KEJADIAN itu DARI NUR MUHAMMAD…DIRI


bagi ADAM ( Tubuh ) karena ia adalah MERTABAT TA'AIN TSANI ..SIFAT bagi ZAT.

3. WAHDIAH

PENGAKUAN kita pada Allah karena MENERIMA JASAD, hakikatnya ialah KUDRAT &
IRADAT Allah jua didalam sembahyang itu atau dengan kata lain YANG SEMBAHYANG ITU
adalah RUH atau ZATUL BUKTI. Hilangkan perasaan kita pada pebuatan kita. YAND ADA
HANYA DIRINYA semata-mata.

La failun filsolati bihakikati illallah


Tidak ada perbuatan dalam solat itu melainkan Allah.

4. MIKRAJ

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Semasa kita mengatakan ALLAH HU AKBAR maka yang naik atau MIKRAJ ialah KUDRAT
& IRADAT Allah jua beserta naiknya NAFAS kita . Maka hilanglah UJUD kita pada
UJUDNYA dibawa WAHDATUL AF'AL.

5. IHRAM – TERCENGANG

Hilang perasaan kita ketika mengatakan ALLAH HU AKBAR , fana'kan perasaan kita
sampai kepada LA HAULAWALA QUWWATA ILLA BILLAHI ALIYYU ADZIM.

6. TUBADIL – TERGANTI

Gantikan pakaian zahir atau perbuatan zahir dengan perbuatanNYA. Jadi yang
sembahyang itu adalah DIA juga pada hakikatnya.

7. MUNAJAT – PERMOHONAN

Yang meminta itu adalah sebenarnya KUDRAT IRADATNYA jua…maknanya diri kita
bermunajat dengan HAKIKATNYA

http://hambayangfana.blogspot.co.id
HAKIKAT SOLAT BERDASARKAN ISRA' DAN MI'RAJ

Dalam Isra dan Mi'raj Nabi ‫ صلىِ ا عليه وُآله وُسلم‬telah diperjalankan dari Mekah ke
Baitul Muqaddis hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam solat, kita juga melakukan isra' dan
mi'raj 5 kali sehari semalam. Apakah isyarat peristiwa ini dengan solat yang kita lakukan?
Mekah ketika itu yang dipenuhi patung-patung berhala ditafsirkan ulama sufi sebagai
jasmani, tempat yang penuh zulmah.

Dari Mekah berpindah ke Baitul Muqaddis yang menjadi tempat Nabi ‫صلىِ ا عليه‬
‫ وُآلــه وُســلم‬mengimamkan solat yang para Nabi dan Rasul menjadi makmumnya, yakni
berpindah dari alam jasmani ke alam rohani. Kemudian berpindah ke Sidratul Muntaha
menghadap Allah dengan makna rohani itu bermuraqabah dan bermusyahadah dengan
Allah. Maka dalam solat kita, mesti isra'kan iaitu isra'kan jasmani menjadi rohani dan kita
mesti mi'rajkan rohani ke Sidratul Muntaha dalam bermusyahadah dengan Allah. Kalau
tiada lakukan hal tersebut maka ia dikatakan solat syariat yang tiada hakikat, maka solat
demikian tiada nilai di sisi Allah.

Tanda ditolak Allah ialah solatnya itu tak ubah sifat batin dan akhlaknya, walaupun ia
dilakukan dengan rajin dan penuh tekun. Solat tanpa hakikat rohani itu tiada mendatangkan
cahaya pada qalbinya menyebabkan tidak berlaku perubahan dirinya, bahkan ia semakin
jauh dari Allah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Allah berfirman :

"… Sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar." (Al-
Ankabut: 45)

Nabi ‫ صلىِ ا عليه وُآله وُسلم‬bersabda :

"Siapa yang dengan solatnya tidak dapat mencegah fahsya' dan munkar, tidak akan
bertambah daripada Allah melainkan semakin jauh dariNya."(Riwayat Tabrani dari Ibnu
Abbas)

Bila kita takbiratul ihram, "Allahu Akbar" bermakna kita telah berpindah dari alam
jasmani ke alam rohani. Maksudnya selepas takbir, kita tidak dibenarkan lagi melakukan
pekerjaan jasmani, tiada boleh makan, minum dan lain-lain perbuatan badaniah. Adapun
qalbi tiada boleh lagi mengingati hal-hal duniawi, akal juga tiada boleh berkhayal kepada
perkara-perkara lain, karena kita sudah berpindah dari jasmani kepada rohani, dari alam
dunia ke alam rohani untuk muraqabah dan musyahadah dengan Allah.

HAKIKAT SOLAT BERDASARKAN ISRA' MI'RAJ


Sambungan dari bahagian (1)

Sebab itu setengah ulama menyatakan kalau lapar atau mengantuk masa nak solat,
disunatkan makan atau tidur dahulu. Ini supaya hal-hal jasmani tiada menganggu urusan
rohani masa solat nanti. Oleh itu, bila sampai waktu solat bersungguh-sungguhlah kita
untuk jalankan rohani kepada Allah. Niat betul-betul dalam hati, tiada lain dalam batin,
melainkan untuk jalankan rohani kepada Allah, supaya rohani tiada terbelenggu di alam
dunia. Jasmani memang tempatnya di alam dunia, adanya makan dan minum, adanya ahli
keluarga, pekerjaan dan sebagainya, tapi rohani itu tiada memiliki apa-apa, ia yatim piatu
dan hanya ada Allah. Ia tak perlukan semua yang diperlukan jasmani itu, tapi hanya
perlukan Allah!

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Maka jika seorang itu tidak menjalankan rohaninya kepada Allah, maka ia akan
menderita karena telah melupakan satu diri lagi dalam dirinya, iaitu diri rohani. Bila terlupa
begitu, maka ia akan hidup, bekerja siang dan malam untuk kesedapan jasmani semata-
mata… mahu makan yang sedap, tidur, rumah besar, kenderaan mahal, kemewahan dan
memuaskan syahwatnya semata-mata. Itulah matlamat yang dikejarnya sehinggalah nanti
bila mati baru ia tersedar hakikat sebenar.Apabila mati, kita akan ditanam di suatu tempat
yang sempit dan tidak selesa pada jasmani (kubur). Sebab itu jangan tumpukan jasmani
lebih dari rohani karena kalau rohani mendapat kenikmatan maka jasmani dengan
sendirinya akan beroleh kenikmatan juga.

Sistem pendidikan kita hari ini, dari peringkat tadika hinggalah ke peringkat tinggi,
semuanya mengejar matlamat untuk kepuasan jasmani. Pelajaran dan pendidikan agama
bukan keutamaan, malah tidak menjadi syarat wajib untuk mendapat pekerjaan. Lebih
malang lagi ada di kalangan masyarakat yang melihat dengan adanya sijil dan kelulusan
tinggi itu akan menjamin masa depan, kalau belajar agama, belajar di pondok nanti akan
susah, tiada kerja dan hidup susah. Maka hiduplah masyarakat dengan nilai-nilai Barat,
sistem kepercayaan dan mentaliti Barat yang tiada roh tauhid. Walaupun kita solat, puasa,
zakat dan buat haji/umrah, tapi kehidupan kita hakikatnya jauh dari nilai-nilai rohaniah atau
nilai-nilai alam langit.

Begitu jauhnya dengan alam rohani… di mana dalilnya? Solat mereka tidak
mencapai khusyuk, tiada ruh. Ia solat tapi terikat di alam jasmani, dicengkam tarikan
duniawi, haiwani dan syaitaniah. Hanya zahir ia bertakbir, tapi rohaninya ditarik graviti
duniawi, khayal kepada perkara duniawi, urusan pekerjaan dan lainnya. Ia tiada 'terbang' ke
alam rohani, alam muraqabah dan musyahadah dengan Allah, sepertimana Nabi ‫صلىِ ا‬
‫ عليه وُآله وُسلم‬berhadap dengan Allah di Sidratul Muntaha. Solatnya tak sampai ke Sidratul
Muntaha, sedangkan solat itu diterima Nabi ‫ صلىِ ا عليــه وُآلــه وُســلم‬di alam sana. Solat

http://hambayangfana.blogspot.co.id
adalah satu-satunya ibadah yang diterima Nabi ‫ صلىِ ا عليه وُآله وُسلم‬di Sidratul Muntaha,
adapun yang lain diterima melalui wahyu di bumi ini. Justeru apakah isyarat dari Allah akan
hal ini? Ia ibarat Allah menyatakan, "Wahai HambaKu, 5 kali sehari hendaklah engkau
tinggalkan jasadmu, tinggalkan segala urusan duniamu, marilah berhadap kepadaKu.."

Jika solat kita masih di alam jasmani, dibelenggu graviti duniawi, amat bahaya ketika
kita nak mati nanti, boleh mati dalam azab. Ini karena ketika ruh diperintah meninggalkan
jasad, maka jasmani akan mencengkam rohani kita hingga boleh mendatangkan azab dan
kesakitan yang amat sangat. Tapi sekiranya kita sudah boleh mencapai khusyuk dalam
solat, insya Allah perjalanan rohani ketika sakaratul maut akan menjadi mudah karena
jasmani tiada lagi mengikat rohani. Sebab itulah dikatakan solat itu, 'kamu mati sebelum
mati'. Dalam solat juga kita diwajibkan menghadap kiblat, tangan diletakkan di perut (antara
dada dan pusat). Zahir menghadap Kaabah, batin berhadap kepada Allah.

Keadaan tangan itu juga melambangkan kita mati, lalu hendaklah dipulangkan
segala amanah kepada Empunyanya. Segala kudrat, iradat, ilmu, hayat dan sebagainya itu
dikembalikan kepada Haq Allah SWT. Kita kembali kepada sifat kehambaan yang tiada
memiliki apa-apa, la haula wala quwwata illa bilLahil 'aliyyil 'adzim.. hamba yang lemah,
faqir, hina dan dhaif. Justru, perkara solat ini tidak boleh dipandang ringan. Baik dan buruk
umat Islam kekuatannya pada solat. Maka melihat kepada pentingnya solat ini, untuk
jalankan rohani kepada Allah, ulama tasawuf dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah
khususnya di Nusantara ini telah wajibkan kepada murid-murid mereka akan ilmu tarekah.

Apa itu ilmu tarekah? Ia adalah ilmu atau kaedah untuk menjalankan hatimu kepada
Allah, untuk buangkan belenggu-belenggu dunia dalam hati. Bagaimana nak dilakukan itu?
Ialah dengan perbanyakkan zikrullah, menyebut sebanyak-banyak dalam hati akan zikir
"Allah, Allah, Allah"..[1] sehingga dunia itu tercabut dari hatimu, zulmah (kegelapan) akan
hilang, nafsu-nafsu yang mencengkam akan lemah, karena nafsu itu menjadi tunggangan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
syaitan. Ini samalah dengan merawat orang terkena jin. Kita membacakan ayat-ayat al-
Quran dan zikir-zikir tertentu kepadanya untuk melemahkan atau membuang jin itu dari
tubuh pesakit. Maka cara yang sama juga dilakukan untuk membuang jin/syaitan yang ada
di dalam hati. Maka dalam sufi, hakikat isra' dan mi'raj itu ialah dizikirkan hati (diangkat
rohani) dari hati yang ghaflah (lalai) menjadi hati yang sentiasa ingat kepada Allah.
Diajarkan zikir "Allah, Allah, Allah" pada qalbi sebanyak-banyak walau tanpa khusyuk
sekalipun. Rasa lazat atau manis itu bukanlah matlamat, yang penting untuk kekalkan
ingatan dulu kepada Allah.

Bila dah kekal ingatan kepada Allah, dengan sendirinya akan datangkan raza lazat
(zauk), asyik, cinta, rindu dan khusyuk. Dengannya hatimu akan ada nur muraqabah yakni
dapat melihat Af aluLlah pada setiap apa yang ada di depanmu, sehingga sampai kepada
musyahadah. Jadi bila hati dah sampai pada muraqabah dan musyahadah (Ihsan)[2] maka
inilah yang dibawa dalam solat (khusyuk). Untuk mencapai musyahadah ini perlulah melalui
latihan dalam tarekah, jika tak melaluinya maka akan sukar untuk hati itu mencapai
musyahadah, melainkan orang itu dikurniakan Majzub[3] oleh Allah. Adapun kita orang
awam perlulah melalui sistem tarekah ini sebagaimana yang disusun ulama sufi muktabar
nusantara.

1. "Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Surah 7: Al A'raf, Ayat 205

2. "... Ihsan itu bahawa engkau mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah engkau
melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, Dia tetap melihat engkau..." (petikan dari
hadis yang panjang riwayat Muslim)

http://hambayangfana.blogspot.co.id
3. Menurut istilah tasawuf majzub ialah "Manusia yang ditarik oleh Allah kepada
alam yang lain dari keadaan biasa". Ia juga disebut "sukr" iaitu mabuk yang dialami
oleh seorang sufi. Ada dikalangan majzub ini yang memperolehi ilmu tanpa belajar
dan berguru. Hal ini jarang berlaku tetapi disitulah sifat Harus bagi Allah untuk
mengangkat sesiapa yang dikehendakiNya. Mungkin doa dari para auliya' atau ibu
bapa, datuk, nenek dan sebagainya atau ada kebajikan yang dilakukan (oleh si
majzub tadi) yang besar nilainya pada pandangan Allah, atau hatinya sentiasa baik
sangka dengan Allah.

Syaikh Ahmad Fathani rahimahullah membahagikan golongan majzub kepada tiga


golongan,yaitu :

 Golongan yang ditarik kepada beberapa hal yang mulia dan beberapa maqam yang
tinggi didalam masa yang singkat serta dihilangkan akalnya sehinga ia tidak sedar
lagi di alam ini. Majzub inilah yang disebut oleh Syaikh Muhammad Abil Mawahib
Asy-Syazili :
"Bermula murid itu berjalan atas yang lurus dan majzub itu pada sisi kaum sufiah
adalah mandul."

Mereka ini sentiasa dalam keadaan fana', tiada boleh diambil pelajaran daripadanya
sama ada perkataan dan perbuatannya. Mereka akan bercakap dengan apa yang
diperlihatkan oleh Allah pada mereka sehingga kadangkala membuka dan menjatuhkan
keaiban orang yang bertemunya.

 b. Golongan yang dikembalikan kesedaran dan diturunkan ia daripada satu maqam


kepada satu maqam sehingga memiliki baginya ilmu Allah dan sampai kepada
puncak fana' fiLlah dan baqa'' biLlah.

 c. Golongan yang tiada dilenyapkan daripada akalnya sekali-kali. Golongan ini


disebut oleh Syaikh Muhammad Abil Mawahib asy-Syazili sebagai "Majzub yang
jaga ia, afdhal daripada majzub yang dihapuskan dengan sifat Tuhan."

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Untuk memimpin murid, golongan majzub perlu kembali pada salik iaitu memiliki ilmu
dan mengamalkannya mengikut disiplin tariqah tasawuf, wajib mempunyai syaikh untuk
dibimbing atau sentiasa merujuk segala hal ehwal rohaninya (kepada syaikh mursyid) agar
segala kedapatan rohaninya adalah benar, sehingga ilmunya benar-benar mantap, sama
ada yang zahir atau yang batin. Wallahu 'alam.

HAKIKAT ILAHIYAH DAN INSANIYAH

Tidak dapat kita sangkal bahwa tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Yang
Maha Tinggi lagi Maha Agung, artinya, Allah merupakan sumber daya dan upaya. Wihdatul
Wujud sesungguhnya membagi bagian-bagian yang menjadi hakikat (dan hak) ilahiyah dan
hakikat insan, sebagai khalifah Allah. Bagi Allah ada qudrat dan iradat, demikian pula qudrat
dan iradat insan. Qudrat Allah adalah menentukan sedangkan qudrat insan adalah
menjalankan ketentuan; iradah Allah adalah berkehendak dan iradah insan adalah
menginginkan; disini kita melihat bahwa ada hubungan absolut antara qudratiradat ilahiyah
dan qudrat-iradat insaniyah.

Dengan sebuah kesimpulan, bahwa keilahiyahan tidak akan terjadi tanpa


keinsanian, maka Allah menjadi Dzat Maha Mulia, karena terciptanya hamba yang rendah.
Allah, merupakan Tuhan saat Dia menciptakan makhluk karena Dia berkehendak seperti
itu. Jika tidak ada makhluk maka tidak ada yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan,
apakah Dia mengakui bahwa Dia Tuhan? Ya, Dia mengakuinya, namun iradahNya untuk
diketahui dan diakui menyebabkan turunnya insan dengan hakikatnya.

Hakikat insan adalah mengakui, dan hakikat ilahi adalah diakui. Namun di satu sisi,
hakikat insan juga harus diakui, yaitu Allah mengakui bahwa insan adalah hamba.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Pengakuan ini hanya bagi insan yang ingin mengetahui seberapa jarak antara dia dan
Allah, secara tegas disebutkan dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 186:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila
ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ini merupakan hak-hak insan yang diakui oleh Allah, segaligus penegasan hak-hak
ilahiyah. Apa yang dapat ditarik sebagai kesimpulan adalah adanya hubungan saling
mengakui hakikat masing-masing, dan bahkan saling mengikat antara satu dan yang lain.
Seorang insan ditegaskan untuk beriradah hanya kepada Allah, memenuhi segala qudrah
Allah, beriman kepada Allah, dan akhirnya berada dalam kebenaran atau terhindar dari
kesesatan.

Menyadari bahwa hakikat ilahiyah dan insaniyah adalah dekat, menyebabkan


lahirnya bimbingan langsung dari Allah tanpa perantara, mendapatkan kesadaran diawasi
secara langsung dari Allah. Kedekatan antara Allah dan Hamba adalah sangat dekat,
tentunya jika hamba itu mencintai Allah dan tidak hanya melaksanakan ibadah sebagai
rutinitas semata.

Pada akhirnya, tidak semua manusia diakui oleh Allah sebagai hambaNya. Hanya
sebagian dari sekian banyak manusia yang diakui sebagai hambaNya. Ini artinya bahwa
hakikat insaniyah dan ilahiyah juga merupakan hubungan kausal (jika mengakui maka
diakui); misalnya yang terdapat dalam ayat berikut:

“ Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali


orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat (al-Hijr: 42)”

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Ayat diatas menunjukkan bahwa kata "kecuali" merupakan penolakan terhadap
manusia yang sesat. Allah tidak mengakui sebagian manusia sebagai hambaNya, lantaran
mereka mengikuti syaithan. Dan bagi Allah, syaithan tidak akan bisa menggoda hambaNya.
Ini menunjukkan bahwa derajat "hamba" sangatlah tinggi untuk ukuran manusia, karena
sejauh ini, setiap manusia senantiasa masih dukuasai oleh syaithan. Dan ternyata, hanya
sebagian dari manusia di muka bumi ini yang diakui sebagai hamba Allah, yakni orang-
orang yang juga mengakui hakikat Allah sebagai Sang Ilahi, dengan pengakuan dan
persaksian yang sesungguhnya.

Melihat hakikat yang telah dipaparkan, maka insan dan ilahi itu laksana cahaya dan
sifat meneranginya, es dengan dinginnya, pedang dengan tajamnya.

Sebuah misal lain, adanya seorang ayah karena ada anak yang mengakuinya, adanya
seorang suami karena ada isteri yang mengakuinya. Artinya, secara hakikat, Ilahi dan
Insani itu merupakan kausalitas yang tak dapat dilerai satu dan yang lainnya. Dengan
demikian, adanya Allah sebagai kenyataan adanya hamba, dan begitu pula sebaliknya.
Maka, secara hakikat, Allah dan hamba itu tidak terpisahkan, atau merupakan rangkaian
hakikat yang tak terpisahkan.

Wihdatul Wujud, pada gilirannya, merupakan sebuah paradigma sufistik yang sarat
dengan makna hakikat dan bukan makna syariat. Para ahli syariat, yang sudah tentu tidak
ahli dalam hakikat, langsung saja menghempaskan ajaran al-Hallaj, Ibnu Arabi, al-
Busthami, dan Syekh Siti Jenar dalam kekafiran, padahal mereka tidak memahami bahwa
ajaran Wihdatul Wujud merupakan penyatuan secara hakikat, dan bukan dzat.

Tidak mungkin dzat Allah menyatu dengan dzat hamba, karena dzat Allah laisa
kamistlihi syai'un (tidak serupa dengan apapun) dan Maha Suci. Sementara dzat manusia
adalah kotor dan hina. Seperti yang digambarkan dalam surat al-Mursalat ayat 20 dan surat

http://hambayangfana.blogspot.co.id
as-Sajdah ayat 8; bahwa manusia diciptakan dari air yang hina. Para sufi yang berilmu
tentu saja tidak luput dari perhatian kearah ini. Tetapi secaha hakikat, ruh manusia
merupakan tiupan ruh (ciptaan) Allah yang juga suci. Karena yang suci akan berasal dari
Yang Maha Suci.

SIFAT ILAHIYAH DAN SIFAT INSANIYAH

Dari segi sifat, manusia mewarisi tiga sifat yang potensial; yakni sifat ilahiyah, sifat
malaikat, dan sifat hewani. Secara jasmaniah, insan mewarisi sifat hewani seperti makan,
minum, kawin, bertumbuh, memiliki rasa marah, dan sebagainya. Sifat ini diakomodir oleh
hawa nafsu, dan inilah sisi hewani manusia. Jika manusia lebih condong pada sifat hewani,
maka dia lebih rendah dari pada binatang. Untuk menghindari ini, maka manusia juga
diberikan akal dan ilmu. Dari segi malaikat, manusia memiliki naluri beriman, beribadah,
dan taat. Sedangkan sifat ilahiyah, hampir semua sifat Allah diwarisi oleh manusia, hanya
saja sifatnya tidak memiliki makna "Maha."

Jika Allah Maha Esa, maka manusia itu pun esa. Kita hanya terlahir sekali, dan kita
akan mati sekali. Kita tidak pernah ada bandingan dengan segala sesuatu apapun, atau
dengan seorang pun. Esa, unik dan memiliki kekhususan yang tidak akan pernah sama,
walaupun kembar identik. Ma'rifat terhadap sifat-sifat ilahiah yang terwarisi pada diri
merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Ini penting dalam rangka menuju hakikat insan
kamil. Segala sesuatu Allah wariskan kepada kita, namun kita saja yang kemudian
membuang satu demi satu. Sedangkan sebagian besar lebih mementingkan aspek
hewaninya, dan sebagian lagi mementingkan aspek malaikatnya.

Adanya sifat-sifat hewani dalam diri manusia adalah untuk menguji sifat malaikat.
Sedangkan adanya sifat malaikat itu disebabkan karena manusia diciptakan dengan model
http://hambayangfana.blogspot.co.id
ciptaan sebelumnya, yakni malaikat; sifat sifat malaikat menjadikan kita beriman dan taat.
Sementara sifat-sifat ilahiyah menjadi penuntun menuju insan kamil.

Apa yang menjadi titik temu antara hakikat ini dengan Wihdatul Wujud?

Kembali kita melihat para sufi yang berzuhud. mereka jarang makan, jarang minum
(puasa), mereka jarang tidur untuk berdzikir kepada Allah diwaktu malam, mereka menjauhi
obrolan yang sia-sia, mereka membenci pembunuhan, dan melatih kesabaran untuk
melumpuhkan hawa nafsu. Mereka melakukan mujahadah semacam ini demi menekan sifat
hewani dalam diri mereka habis-habisan. Pada saat yang sama, mereka juga menghiasi diri
dengan amalan-amalan ketaatan meniru apa yang dilakukan oleh para malaikat.

Disamping melaksanakan amalan fardhu dan rawatib, mereka juga melakukan


amalan yang dilakukan oleh para malaikat, yaitu berdzikir memuji Allah. Dengan melakukan
ini, mereka sebenarnya melakukan perjalanan ruhani menuju tingkat tertinggi, yakni tingkat
ma'rifatunnafs. Mereka menemukan diri mereka sebagai hamba yang memiliki Sifat sifat
ilahiyah, sebagian sufi menyebut sifat-sifat rabbaniyah.

Sebagai sesuatu yang diwarisi, mereka ingin bertemu dengan sumbernya, yakni
yang mewariskan sifat itu, Allah. Sebelum mereka sampai para mengenal Allah, mereka
harus mengenal diri sendiri, apa yang disebut ma'rifatunnafs. Ini tercermin dalam ungkapan
man arafa nafsahum faqad arafa rabbahum (barangsiapa mengenal dirinya maka dia
mengenal Tuhannya). Mereka kemudian mencari jati diri yang sebenarnya, dan ini akan
semakin mudah jika aspek-aspek selain Allah dihilangkan (dilupakan) lebih dahulu. Para
sufi kemudian melakukan perjalanan dengan pendekatan tauhid yang empat. Yaitu Tauhidul
Asma, Tauhidus Sifat, Tauhidul Af'al, dan Tauhiduzzat.

KEMBALI KEPADA SUMBER

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Allah merupakan Sumber segala sesuatu, karena segala sesuatu bersumber dari
kalam 'kun'Nya. Segala sesuatu merupakan kehendakNya, tentunya segala sesuatu juga
diberikan kodrat dan iradat agar mampu mempertanggungjawabkan perbuatan masing-
masing. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ini merupakan dasar dari pernyataan bahwa segala
sesuatu akan kembali kepada asal masing-masing. Jasad kembali kepada tanah
sebagaimana asalnya diciptakan nabi Adam as, ruh kembali kepada asalnya di alam arwah,
nafas kembali pada asalnya, dan kita pun kembali kepadaNya sebagai asalnya.
Akan tetapi apakah kita harus menunggu meninggal dunia baru bisa kembali kepada asal?
Atau haruskah kita mendapatkan musibah barulah kita menyebutkannya?

Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda "Matilah engkau sebelum engkau


mati", hadits ini merupakan petunjuk bahwa kita harus kembali kepada Allah, kepada
sumber, untuk mengenal diriNya secara kaffah sebelum kita mati. Kematian sebelum mati
diawali dengan matinya cinta kepada dunia, yaitu
dengan berzuhud. Kemudian dilanjutkan dengan matinya sifat-sifat dhalalah, memberantas
penyakit jiwa dengan takhalli. Kemudian mematikan seluruh ingatan terhadap segala
sesuatu selain Allah semata, dan ini dilakukan dengan cara berkhalwat.

Ucapkanlah la ilaha illallah, dan sadarkan diri bahwa ucapan ini mengandung dua
makna. Bahwa segala sesuatu selain Allah adalah ilah, termasuk diri sendiri. Arti kedua
adalah bahwa ilah itu sebenarnyalah ada dan Allah adalah satu-satunya ilah. Kedua makna
ini akan menggiring kesadaran insaniyah menuju ketenggelaman diri kedalam hakikat Allah,
sebagai sumber; laksana secercah cahaya yang kembali pada matahari, seperti setetes air
laut kembali pada samudra yang tak bertepi, dimana ilah tidak ada, yang ada hanya Allah.
Ingatlah, YANG ADA HANYA ALLAH.

Saat kesadaran insaniyah sudah melebur, tenggelam, dan sirna, maka


sesungguhnya yang berdzikir dan yang didzikirkan adalah satu. Apa dayanya secerah
http://hambayangfana.blogspot.co.id
cahaya lilin pada matahari? Apa dayanya setetes air laut pada samudra tak bertepi?
Kembalinya kita pada sumber selagi masih hidup membuahkan pengenalan luar biasa
kepada Allah Yang Maha Agung. Ada potensi besar dalam diri manusia, tetesan air atau
secercah cahaya yang kami maksudkan adalah Ruh, yang digambarkan dalam surat Shaad
ayat 72. Setitik ruh yang Allah tiupkan dari diriNya sendiri.

Banyak ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata "sebagian dari
ruhKu" adalah ruh ciptaanKu. Tentu saja tidak ada yang tidak diciptakan oleh Allah, tetapi
jika demikian, maka untuk apa para malaikat diharuskan bersujud? Jika manusia itu
hanyalah orang-orang seperti anda, yang bahkan tidak memahami bahwa di dalam diri
terdapat unsur ilahiyah? Oleh karena itu, kami lebih memahami ayat tersebut bahwa
sebagian diri Allah telah diteteskan pada manusia, sehingga manusia memiliki naluri untuk
kembali pada asalnya. Inilah alasan mengapa Allah ingin dikenal dan dia berkata "dan
denganKu mereka mengenalKu." Artinya dengan setetes dari diriNya itulah yang
menyebabkan kita mampu mengenalnya, dengan cara kembali kepada sumber kita.

Selain itu, Allah menciptakan alam semesta dari Nur Muhammad, dan Nur
Muhammad merupakan pancaran Nurullah. Perhatikan sebuah hadits
riwayat Jabir r.a. bahwa sesungguhnya Jabir r.a. bertanya kepada Rasulullah "Ya
Rasulullah, apakah yang mula-mula Allah ciptakan?" kemudian Rasulullah menjawab
"Mula-mula Allah menciptakan Nur nabimu, dan dari Nur itulah segala sesuatu diciptakan,
termasuk engkau Jabir." Allah Maha Awal, dan telah mengambil bahan baku penciptaan
alam semesta dari diriNya sendiri, yaitu dengan beriradah. Termasuklah manusia,
diciptakan dari Nur Muhammad, dan Nur Muhammad diciptakan dari cipratan Nurullah yang
memancar dari diriNya sendiri.

Terlalu dini untuk menyebutkan ini paham Syi'ah, karena ini merupakan Hadits
Rasulullah dan bukan perkataan Imam Syi'ah, bahkan bukan Sayidina Ali, tetapi langsung
http://hambayangfana.blogspot.co.id
dari Rasulullah; artinya, ini harus dipatuhi oleh semua golongan ummat Islam, bukan Syi'ah
saja. Wihdatul Wujud merupakan kenyataan kembalinya seorang hamba kepada Allah
sebelum dia mengalami kematian, dan memanglah tidak harus mengalami mati barulah
bertemu dengan Allah; justru bertemu dengan Allah dan kembali kepada Allah semasa
hidup lebih penting; agar segala perilaku lahir dan batin senantiasa mendapatkan
bimbingan dari Allah, dan senantiasa merasa mesra bersama Allah...

WIHDATUL WUJUD
Berawal dari Maksud Allah untuk Dikenal

Allah telah menciptakan mahlukNya dengan beberapa tingkatan niat. Mula-mula


Allah menciptakan makhluk dengan niat sebagaimana tertuang
dalam hadits qudsi : "Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, Aku ingin dikenal,
maka Kuciptakan makhluk dan denganKu mereka mengenalKu."

Allah merupakan Al-Awwal yang tidak diawali, Dia bersifat Ada Sedia (Wujud).
Kehendak Allah adalah untuk dikenali (untuk dima'rifati). "Kesendirian" Allah merupakan
kebenaran mutlak yang tak bisa ditolak, karena jika ada sesuatu selain Allah, maka Allah
bukanlah Yang Awal. Dalam kitab Daqaaiqul Akhbar disebutkan bahwa sebelum Allah
menciptakan para malaikat yang bertugas untuk menyebut dan memuji diriNya, Allah
memuji diriNya sendiri yang Maha Indah dan Elok. Allah ingin dikenal, sebagai Yang Maha
Esa dan itulah yang menjadi misi setiap nabi yang turun dimuka bumi, yaitu
memperkenalkan Allah Yang Maha Esa, misalnya surat Hud ayat 84.

Dengan demikian, mengenal Allah merupakan tugas utama makhluk, terutama


manusia. Mengenal Allah lebih signifikan dari pada mengenal hokum-hukumNya. Hal ini
saya sebutkan karena dengan mengenal Allah maka kitapun segera mengetahui apa yang
diinginkanNya dan apa yang tidak diinginkanNya. Mengenal Allah haruslah secara kaffah,

http://hambayangfana.blogspot.co.id
secara totalitas. Syekh Siti Jenar mengutamakan hal ini dalam persoalan ibadah, dimana
dia menyatakan bahwa ibadah tanpa ma'rifat adalah syirik. Bagaimana bisa anda beribadah
kepada Allah dengan niat lillahi ta'ala, sementara anda belum mengenal siapa Allah?

Bahkan jika ditanyakan apakah "Allah" adalah namaNya, bagaimana anda


menjelaskannya? Jika anda mengatakan "Ya" maka bagaimana mungkin anda memanggil-
manggil namaNya dengan namaNya, sedangkan anda begitu menghormati dosen anda
dang memanggilnya dengan "pak" atau "prof." Ini adalah tanda bahwa anda melakukan
ibadah tanpa ma'rifat. Jika anda bersaksi "Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah"
apakah benar anda menyaksikannya? Atau anda hanya menyebutnya sebagai formalitas
masuk Islam saja? Apa benar anda menyaksikan bahwa Allah adalah Esa? jangan-jangan
selama ini kita hanya melakukan persaksian palsu semata.

Syekh Siti Jenar menekankan bahwa bisa jadi kita selama ini menyembah akal budi
saja, artinya, pengenalan Tuhan itu tidak bersumber dari kesadaran ruhaniah tetapi karena
spekulasi akal budi saja. Ini sangat berbahaya, karena ini sudah termasuk syirik. Yang bisa
membawa makhluk (manusia) pada ma'rifatullah secara kaffah adalah dengan melalui
pengalaman ruhani, karena Allah tidak akan pernah bisa dikenal dengan logika saja.

Wihdatul Wujud, jangan hanya dipandang dari segi terminologinya saja, menyatunya
hamba dengan Tuhan. Lihat makna lebih dalam, hanya dengan "menghilangkan diri" dan
segala sesuatu selain Allah barulah kita bias menggapai ma'rifat. Setelah itu, Allah akan
senantiasa berada dalam hati, dan ibadah akan menjadi lebih sejuk. Arti hakiki dari ma'rifat
juga bukan sematamata mengenal Allah, tetapi Allah memperkenalkan DiriNya kepada kita,
sebagai rahmat, buah dari upaya keras kita melakukan perjalanan menuju dia.

Upaya para sufi adalah untuk bisa mengenal diriNya secara hakiki, bukan hanya
hasil pemikiran dan logika saja. Karena secara logika, Allah hanya bisa dikenali

http://hambayangfana.blogspot.co.id
perbuatanNya saja, tetapi untuk mengenali secara hakiki, maka kita harus mengenaliNya
dari nama, sifat, perbuatan, hingga dzat. Ini memang hanya bisa ditemukan dalam tasawuf,
dan ini merupakan hasil perjalanan spiritual dan bukan semata-mata spekulasi filsafat saja.

Untuk bisa ma'rifatullah secara kaffah, seperti yang telah disebutkan, manusia harus
mampu "menolak" segala sesuatu selain Allah. Ini hanya bisa dilakukan dengan zuhud, dan
kemudian melakukan perjalanan spiritual dengan cara bertarikat. Tarikat maksudnya jalan,
dan ibadah merupakan tarikat. Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suatu ketika
Sayidina Ali bertanya kepada Rasul tentang jalan dekat menuju Allah dan Rasul bersabda
"Dzikir." Ini merupakan landasan sufi untuk bertarikat, yakni dengan melakukan ritual
dzikrullah. Mengingat Allah dengan cara khusus, sebagaimana yang Rasulullah lakukan
selama berada di Gua Hira atau di kamar khusus yang disebut dengan kamar khalwat;
kemudian perjalanan tarikat ini disebut dengan berkhalwat, yakni bersunyi diri untuk
berdzikir kepada Allah.

Bagi anda yang suka menafsirkan kalimat sepotong-potong untuk mencari


kesalahan orang lain, saya ingatkan, khalwat disini bukan hanya duduk dengan tasbih di
tangan, tetapi disertai dengan zuhud, saya sudah menyebutnya di depan. Bersunyi diri agar
tidak terganggu, dan para sufi kebanyakan menjauhi keramaian sosial bukan untuk
mengisolasi dirim tetapi mengisolasi hati dari segala sesuatu selain Allah. Pada tingkatan
tertentu, bahkan diri yang mengingat pun sudah dilupakan, sehingga yang ada hanya yang
diingat saja, yakni Allah semata.

Mendekat, mendekat, lebih dekat, hingga hakikat melebur; inilah fana'. Apakah
selamanya seperti itu? Tidak, pengenalan dan penyatuan itu begitu singkat. Bagaimana
bisa kita tahu bahwa itu Allah? Ini tidak mungkin dijelaskan, karena hanya yang
mengalaminya saja yang memahaminya; bisa jadi iblis yang datang? Hakikat iblis tidak

http://hambayangfana.blogspot.co.id
setara dengan Allah dan hanya Allah tujuan kita. Dengan demikian, iblis tidak mungkin
mampu menembus hijab dzikrullah.

Mengapa para sufi tidak dapat menjelaskan hal tersebut secara rinci sehingga
dituduh mengada-ngada? Itu karena fana' diawali dengan lumpuhnya ilmu bahkan diri
sendiri. Hanya Nurullah semata yang dapat menjelaskannya kepada anda. Jika semua
yang dipaparkan benar (dan memang benar), maka sungguh celaka tangan-tangan yang
menuduh para sufi (waliyullah) sesat, bahkan membunuh mereka, karena yang mereka
tuduh dan bunuh adalah para kekasih Allah, para pemegang rahasia ketuhanan terbesar
dan terpenting bagi ummat manusia.

Alhasil, korupsi kiri-kanan, prostitusi kiri-kanan, intimidasi dan peperangan sana-sini,


karena kebenaran sudah diputarbalikkan menjadi kesesatan; manusia tidak lagi
menggenggam kebenaran, karena pemegang kebenaran sudah dibunuh, dari karakter
hingga jiwa. Mungkin kelak saya juga akan dibunuh karena menganut faham Wihdatul
Wujud, Alhamdulillah karena saya juga termasuk daftar orang-orang yang menyampaikan
kebenaran tersebut.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
SHALAT DAIM

Shalat dalam tinjauan tasawuf ada dua macam, yaitu sholat yang bersifat syariat
yaitu sholat lima waktu (shalat wajib dan sunnah), sedangkan yang kedua adalah sholat
Daim. Adapun daim berarti kekal atau tetap, Shalat daim berarti doa atau dzikir yang kekal
dan tetap. Shalat daim, seperti diungkapkan dalam firman Allah:
‫ٱللذَّيون لهمم وعلىِ و‬
‫صلَتتتهمم داتئلموُون‬
Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya secara terus-menerus (Qs. al-Ma’arij ayat 23)

Ketika Ruh masih dalam kondisi yang ruhani, Sebelum diberi badan jasmani dan
dibentuk oleh Allah. Pada hakekatnya Ruh sudah dibimbing agar selalu ingat (Dzikir)
kepada Allah.
‫ظلهوُترتهمم لذَّرُرليوتلهمم ووُ أومشوهودلهمم وعلىِ أومنفلتستهمم أولومس ل‬
َ‫ت تبوررُبلكمم قاَللوُا وبلىِ وشتهمدنا‬ ‫ووُ إتمذَّ أووخوذَّ ورزب و‬
‫ك تممن وبني آودوم تممن ل‬

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku
ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Qs.
Al-A‘raf:172)

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Shalat daim tersebut menurut mereka merupakan bentuk pengembaraan ahli
kerohanian dalam mencari Tuhan. Untuk menemui Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Suci,
dan Maha Sempurna, maka dalam pencarian itu seseorang harus suci secara lahir dan
batin. Karena itu ia harus menghidupkan hati dan perasaannya untuk selalu ingat dan
berzikir kepada Tuhan. Hal ini bisa dicapai dengan cara shalat daim dalam arti tasawuf,
yaitu “ ingat dan zikir yang terus-menerus”.
Dengan demikian shalat daim ini tidak dalam arti salat fardu lima waktu dan salat
sunah, melainkan lebih sesuai jika diartikan zikir secara sufi yang terus-menerus.
Al-Qur’an menganjurkan banyak berzikir di luar salat. Dalam hubungan ini Allah SWT
berfirman:
‫ا ووُ امذَّلكلروُا و‬
‫ا وكثيراا لووعلللكمم لتمفلتلحوُون‬ ‫صلَةل وفاَمنوتتشلروُا تفي املومر ت‬
‫ض ووُ امبوتلغوُا تممن وف م‬
‫ضتل ت‬ ‫ت ال ل‬ ‫وفتإذَّا قل ت‬
‫ضوي ت‬

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS.al-jumuah:10)

‫صلَوة وفاَمذَّلكلروُا و‬
‫ا تقياَماَ ا ووُ قللعوُداا ووُ وعلىِ لجلنوُتبلكمم‬ ‫ضميلتلم ال ل‬
‫وفتإذَّا وق و‬

Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah pada waktu kamu berdiri,
duduk, dan berbaring. (Qs. An-Nisa’: 103)

Rasulullah Saw. adalah contoh yang sempurna, beliau menjalankan shalat lima
waktu dan shalat sunnah-sunnah lainnya, tetapi beliau juga menjalankan shalat daim dalam
sehari-harinya.
‫صللىِ ال وعولميته ووُوسللوم يذَّكر ل‬
.‫ا علىِ كل أحياَنه‬ ‫ كاَن ورلسوُل ل ت‬:‫عن عاَئشة رضي ا عنهاَ قاَلت‬
‫ا و‬
‫ورووُاهل لمسلتحم‬.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Dari `Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam selalu
berzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan”. (HR. Muslim.)

AKU dan WAHDATUL WUJUD (1)

Pendahuluan

Wihdatul wujud merupakan sebuah konsep spiritual yang paling menggegarkan


dunia Islam semenjak itu pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi Persia (Iraq), al-Hallaj.
Dari istilahnya, Wihdatul Wujud dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang meniscayakan
penyatuan antara hamba dengan Tuhan. Hal ini merupakan gagasan yang sangat
"berbahaya", konon merupakan kesesatan paling besar yang pernah dihadapi oleh para ahli
fiqh.

Akan tetapi, hingga saat ini, belum ada yang mengerti apa sebenarnya Wihdatul
Wujud itu sendiri. Para sarjana Islam dan barat sudah mengemukakan berbagai hasil
penelitian mengenai hal tersebut, akan tetapi apakah Wihdatul Wujud itu bisa dijustifikasi
dengan logika?

Sementara penemunya sendiri menemukannya sebagai sebuah pengalaman


spiritual? Ini merupakan sebuah kenyataan yang aneh. Buku yang sedang anda baca ini
akan mengungkap hakikat Wihdatul Wujud yang sebenarnya. Anda jangan mengira anda

http://hambayangfana.blogspot.co.id
sudah cukup memahami Wihdatul Wujud sehingga anda menolaknya; saya akan dengan
segera menggengam pikiran anda dan mengajaknya jalan-jalan di sepanjang jalan spiritual
untuk menemukan kebenaran sejati. Ini bukan sekedar bacaan saja, anda akan saya ajak
mengembara ke alam kesadaran spiritual, untuk menemukan sebuah alasan bagi anda
untuk mengakui bahwa Wihdatul Wujud merupakan tujuan anda diciptakan dimuka bumi ini.

Jejak Wihdatul Wujud: Dari al-Hallaj hingga Syekh Siti Jenar Al-Hallaj

Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughits al-Husain ibn Manshur ibn Muhammad al-
Badawi. Beliau lahir di kota Thur, sebelah timur laut Baida, Persia atau sekarang dikenal
dengan Iraq. Terlahir pada sekitar tahun 244 H (857 M) dan meninggal pada tahun 309 H
(922 M). Seorang guru, sufi, yang sangat mashyur di zamannya, yaitu saat al-Hallaj
berumur kurang lebih 20 tahun, adalah syeikh Amral al-Maliki. Dari Syekh ini al-Hallaj mulai
mempelajari tasawuf. Beberapa tahun berguru pada syekh al-Maliki, al-Hallaj memilih untuk
melanjutkan penuntutannya kepada syekh selanjutnya, yaitu syekh al-Junaid al-Baghdadi.
Dari syekh al-Maliki, al-Hallaj mengenal tasawuf dan zuhud dan kemudian melaksanakan
kehidupan zuhud yang sesungguhnya, namun pemikiran politik yang berbeda antara al-
Hallaj dan syekh al-Maliki membuat mereka harus berpisah.

Yang memotivasi al-Hallaj hingga menemui syekh al-Baghdadi di Baghdad adalah


rasa kehampaan selama melaksanakan zuhud, al-Hallaj merasakan bahwa ada sesuatu
yang belum dia temukan dan wajib untuk dicari. Melalu syekh al-Baghdadi, al-Hallaj
menemukan jalan untuk melepaskan dahaga rohaninya, al-Baghdadi menyuruhnya untuk
menunaikan ibadah haji. Disaat melaksanakan ibadah haji, al-Hallaj menemukan sebuah
ilham, bukan inspirasi, yang membawanya pada kesadaran "penyatuan" antara dia dan
Allah. Ilham itu sudah tentunya merupakan privasi yang tak tersentuh oleh orang yang tidak
mengalaminya. Intisari dari ilham yang dia temukan itulah yang disebut Wihdatul Wujud,
untuk pertama kalinya.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Dengan kata lain, Wihdatul Wujud lahir pertama kali di Tanah Suci, di saat al-Hallaj
menunaikan ibadah haji. Sepulang dari ibadah haji, al-Hallaj mengemukakan pengalaman
spiritualnya, dalam sebuah konsep yang disebut dengan Hulul. Hulul artinya bahwa Tuhan
mengambil tempat dalam diri manusia ketika manusia itu mengalami Fana', sebuah proses
peleburan indrawi basyariyah. Tanpa pemahaman apa-apa tentang hal ini, tanpa diskusi,
golongan Mu'tazilah dan Syi'ah kemudian menggelar klaim akbar bahwa al-Hallaj telah
menyebarkan kesesatan terhadap umat Islam, khususnya tentang ketauhidan.

Apa yang disampaikan oleh al-Hallaj merupakan apa yang dia ilhami dari proses
tafakkurnya. Dan apa yang ditentang oleh kaum Mu'tazilah dan Syi'ah adalah bahwa tidak
benar Tuhan menempati diri manusia; tentu saja, jika manusia masih dengan kesadarannya
sebagai manusia, dan terutama karena mereka belum paham apa yang dimaksud oleh al-
Hallaj. Lagipula, menurut beberapa literatur, semua ini hanyalah sebuah alasan untuk
mengeliminasi al-Hallaj dari konstelasi politik saat itu. Al-Hallaj dicurigai dan dituduh
bersekongkol dengan sekelompok orang dalam upaya mengkudeta pemerintah.

Al-Hallaj merupakan pemerhati moral politik, suatu saat ada sekelompok besar masa
yang melakukan demonstrasi menuntut adanya reformasi moral politik, dan masa ini
mengaku mendapatkan dukungan dari al-Hallaj, dan hal ini menyebabkan al-Hallaj
dipenjara selama kurang lebih sembilan tahun. Al-Hallaj, singkat kata, dipenjara karena
alasan politik, merongrong tatanan pemerintah yang memang sudah harus ditata ulang, al-
Hallaj dianggap narapidana yang paling berbahaya karena berupaya menggulingkan
pemerintahan; anehnya, al-Hallaj sebenarnya menghabiskan waktunya untuk zuhud dan
berdakwah, dan tidak ada keuntungan baginya untuk menggulingkan kekuasaan siapapun
karena dia tidak tergolong orang yang cinta dunia.

Al-Hallaj kemudian dijatuhi hukuman mati, walaupun dari pihak kerajaan sudah
meminta ampunan untuk beliau, mengingat jasanya saat mengobati putra mahkota
http://hambayangfana.blogspot.co.id
kerajaan. Pada tahun 922 M, al-Hallaj disalib dan dipukuli dengan balok hingga darahnya
bercucuran dari kepala. Al-Hallaj dibiarkan separuh mati selama sehari, dan akhirnya al-
Hallaj dipenggal. Ajaran al-Hallaj dikenal dengan kata al-Hulul. Menurut al-Hallaj, diantara
hamba dan Tuhan terdapat garis pemisah yang menegaskan hakikat masing-masing. Garis
pemisah itu sangat dekat, yaitu yang menyembah dan yang disembah (al-Abid wal Ma'bud).

Pada kondisi dimana ingatan hanya tertuju kepada Allah semata, dan menolak
selain Allah, termasuk diri sendiri, maka al-Abid pun lenyap, dan tinggallah al-Ma'bud.
Kebaqaan al-Ma'bud merupakan konsekuensi dari fana'nya al-Abid. Pada titik inilah garis
pemisah dan pembeda hakikat pun hilang, sehingga pada hakikatnya yang menyembah
dan yang disembah adalah satu. Hanya saja, orang tidak memahami bahwa yang dimaksud
oleh al-Hallaj adalah bahwa al-Abid melebur masuk kedalam al-Ma'bud, dan bukan al-
Ma'bud merasuki tubuh al-Abid. Jika kesadaran al-Abid masih dhahir, maka tidak fana'lah
dia, dan jika fana' maka al-Ma'bud lah yang dhahir dan al-Abid menjadi batin atau rahasia
yang tersembunyi dibalik kebesaran Allah Swt.

Ibnu Arabi

Ibnu Arabi merupakan salah seorang sufi termasyhur dizamannya, di Andalusia


(Spanyol). Beliau lahir di kota Mursiyah pada tahun 560 H (1165 M) dan meninggal pada
tahun 1240 M. Nama aslinya adalah Abu Bakr Muhammad bin Ali, dan panggilan akrabnya
adalah Ibnu Arabi. Hasil pencarian jati diri dan pengalaman mistiknya menyimpulkan
sebuah kesadaran spiritual, yang kelak mendapatkan tantangan keras sebagaimana yang
dialami oleh al-Hallaj, yakni tidak ada yang maujud selain Allah. Ibnu Arabi menegaskan
bahwa Allah adalah kenyataan dari segala sesuatu.

Hal ini kemudian ditafsirkan sebagai kekeliruan mistik, padahal yang


dimaksud dengan "Allah adalah kenyataan dari segala sesuatu" adalah bahwa Allah yang

http://hambayangfana.blogspot.co.id
menjadikan segala sesuatu itu nyata, sehingga Allah-lah kenyataan mutlak yang harus
dipahami. Perumpamaan yang bisa diambil dari Wihdatul Wujud Ibnu Arabi adalah bahwa
segala sesuatu ini dapat terindrai karena cahaya dan udara, cahaya membuat segala
sesuatu terlihat dan udara membuat segala sesuatu terdengar. Kita akan menolak bahwa
cahaya dan udara merupakan kenyataan mutlak, namun kita tidak menolak bahwa
keberadaan cahaya dan suara untuk "menyatakan" segala sesuatu adalah mutlak sifatnya.
Begitu juga dengan Allah Swt, sudah barang tentu Allah Maha Nyata (Ad-Dhahir), mana
kala keberadaanNya membuat nyata segala sesuatu (termasuk diri anda) maka apakah
anda keberatan untuk menerima pandangan Ibnu Arabi di atas?

Titik Wihdatul Wujud Ibnu Arabi terletak pada kemesraan Allah dan segala eksistensi
yang ada di dunia ini. Hanya saja saya perlu meluruskan pandangan anda tentang hal ini,
bahwa yang dimaksud dengan "tidak ada yang maujud kecuali ujud Allah" adalah bahwa
Ujud Allah merupakan kemutlakan yang wajib untuk menyatakan segala yang maujud. Jika
Allah tidak ada, maka kita tidak ada. Untuk mengatakan bahwa pepohonan merupakan
Ujud Allah itu sangat naif, kesadaran spiritual tidak demikian, tetapi sesungguhnya yang
membuat pepohonan itu berwujud adalah adanya eksistensi Allah, sekaligus eksistensi kita
yang mengamati dan menyaksikan kenyataan pepohonan tersebut.

Ini bukanlah spekulasi filsafati, ini merupakan misal-misal bagi anda yang suka salah
paham dan salah tuduh. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini merupakan misal
tentang kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang berpikir. Tidak benar bahwa Ibnu Arabi
menemukan bahwa "wujud selain Allah adalah wujud bayangan", karena sesungguhnya
dengan Ujud Allah maka wujud selainnya menjadi berwujud, berkesistensi. Bukankah
segala sesuatu berasal dari kehendakNya? Sehingga yang ada itu hanya berasal dari
kehendak dan kehendak berasal dari yang Berkehendak.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Jika kita hanya wujud bayangan, maka tidak dikenakan hukum apapun, karena
bayangan hanya mengikuti gerak Ujud Allah. Tetapi Wujud merupakan kenyataan Ujud.
Alam semesta, termasuk manusia, merupakan kenyataan Ujud Allah; dengan kata lain,
Wujud selain Allah merupakan bukti nyata Ujud Allah. Ada pergerakan pemahaman
Wihdatul Wujud antara al-Hallaj dan Ibnu Arabi, jika al-Hallaj menemukan bahwa Allah
mengambil tempat pada diri manusia ketika manusia tersebut fana', maka Ibnu Arabi
menemukan bahwa bukan hanya manusia, tetapi alam semesta. Namun Ibnu Arabi
menegaskan pada aspek "kenyataan" dan bukan aspek "penempatan" sebagaimana
Hululnya al-Hallaj. Al-Hallaj menegaskan kesadaran spiritual internal,yaitu kesadaran
seorang hamba dalam keadaan fana bahwa Allah adalah satu-satunya Ujud; sedangkan
Ibnu Arabi menegaskan bahwa Ujud Allah merupakan kenyataan mutlak bagi Wujud selain
Allah.

Abu Yazid al-Busthami

Nama beliau adalah Abu Yazid Taifur ibn Isa al-Bustami. Beliau dilahirkan di Bistam,
Persia (Iraq) pada tahun 804 M. Menurut beberapa literatur, Abu Yazid merupakan pencetus
pertama konsep fana' dan baqa'. Salah satu teorinya adalah al-Ittihad. Abu Yazid berguru
kepada salah seorang Syekh yang bernama Syekh Shaddiq yang mengajarkan beliau
prinsip-prinsip dasar tasawuf. Dari Syekh Shaddiq, Abu Yazid mempelajari bahwa syariat
dan hakikat merupakan pasangan yang tak terpisah antara satu dan yang lain; begitupula
sebaliknya, syariat dan hakikat.

Persoalan fana dan baqa akan saya paparkan pada bagian kemudian secara
gamblang. Ittihad, sebagaimana Hulul-nya al-Hallaj, merupakan kesadaran spiritual
"bersatunya" hakikat Allah dan hakikat hamba dalam proses fana. Bahkan, penyatuan yang
dimaksud bukanlah pernyatuan rohani, apalagi jasmani. Penyatuan yang dimaksud adalah
peleburan hakikat hamba kepada hakikat Allah, laksana setetes air laut terjatuh ke dalam
http://hambayangfana.blogspot.co.id
samudra; atau dengan kacamata Ibnu Arabi kenyataan hamba yang hanya merupakan titik
melebur pada kenyataan Allah yang "menyamudra."

Pandangan Abu Yazid ini dianggap menyesatkan, karena meniscayakan adanya


penyatuan Allah dan hamba. Ini dianggap sebagai degradasi derajat Allah yang maha
Mulia; menganggap Allah sederajat dengan hamba merupakan pelecehan terhadap Allah.
Disinilah kesalah tafsiran para ulama pada saat itu (hingga saat ini). Yang dimaksud dengan
Hulul dan Ittihad bukanlah menyamakan derajat Allah dan hamba, melainkan justru
meniadakan hamba sehingga yang ada hanyalah Allah semata. Diri sendiri merupakan
sesuatu yang bisa menghalangi kita sampai kepada Allah, sehingga untuk menyatakan
Ujud Allah, maka Wujud diri harus melebur, atau disebut dengan fana.

Syekh Siti Jenar

Biografi Syekh Siti Jenar masih merupakan kontroversi hingga saat ini, bahkan ada
atau tidaknya beliau masih merupakan misteri. Sebuah literatur menyebutkan bahwa beliau
terlahir pada tahun 1426 M di Cirebon dan meninggal pada tahun 1517 M. Bapak beliau
bernama Syekh Datuk Shaleh dan beliau masih tergolong keturunan Sayidina Ali bin Abi
Thalib KW. Syekh Siti Jenar memiliki sejumlah nama (sebutan), beliau hampir memiliki satu
nama di setiap tempat di mana beliau menjalankan dakwahnya. Nama yang sangat jelas,
selain Siti Jenar, adalah Syekh Abdul Jalil dan Syekh Lemah Abang.

Syekh Siti Jenar tumbuh remaja di sebuah Padepokan Giri Amparan Jati, milik
paman beliau. Padepokan ini berada di atas Gunung Jati. Dapa usia 15 tahun, Syekh Siti
Jenar berhasrat untuk "turun gunung" untuk melihat keadaan luar. Disinilah perjalanan
spiritual Syekh Siti Jenar dimulai. Syekh Siti Jenar berangkat ke Baghdad (Iraq) untuk
memperdalam wawasan agama Islamnya. Dia berkenalan dengan seorang sufi masyhur,
yang kemudian menjadi gurunya mengenai tasawuf, yakni Syekh Ahmad Tawalud. Syekh

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Ahmad memiliki puluhan kitab ma'rifat yang merupakan peninggalan Syekh Abdul Mubdi al-
Baghdadi.

Syekh Siti Jenar diperbolehkan untuk tinggal di rumah Syekh Ahmad, dan dari
sekian banyak kitab ma'rifat yang ada di rumah itu, beberapa diantaranya adalah kitab milik
al-Hallaj, yang dipelajari secara sangat hati-hati oleh Syekh Siti Jenar. Bukan hanya itu,
kitab-kitab Ibnu Arabi dan al-Ghazali juga dipelajari sama hati-hatinya. Syekh Siti Jenar
juga melaksanakan perjalanan penuntutan di India, dan kembali ke Cerebon pada tahun
1463 M. Syekh Siti Jenar menjadikan Wihdatul Wujud sebagai pedomannya, namun sama
sekali bukan sebuah keputusan yang benar bahwa beliau menistakan syariat. Kembalinya
dia ke Cirebon membawa dia kepada suatu posisi dalam konstelasi Wali Songo, beliau
menjadi salah satu penyebar agama Islam di Jawa, di Indonesia.

Sebagai salah satu anggota penyebar Islam, Syekh Siti Jenar dipercayakan untuk
mengajarkan Syahadat (Persaksian). Pemikiran Syekh Siti jenar yang didominasi oleh
hakikat itu kemudian membawanya kepada sebuah kesadaran musyahadah tertinggi, yang
dia sebut Manunggaling Kawula lan Gusti. Beliau kemudian mengajarkan Manunggaling
Kawula lan Gusti kepada para santrinya yang menurut Sunan Kalijaga belum cukup
pegetahuan Syariatnya.

Syekh Siti Jenar juga pernah mempelajari hakikat dari Sunan Giri dan Sunan
Bonang, tetapi ini masih misteri. Ada sebuah mitos menarik, yakni Syekh Siti Jenar
"mencuri" ilmu Sunan Giri dengan berubah wujud menjadi cacing tanah. Para pencerita
mitos ini mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar menguasai ilmu kanuragan, termasuk ilmu
merubah wujud. Tetapi bagi saya tidak demikian, Syekh Siti Jenar tidak mempelajari
kanuragan, karena kanuragan itu hanya dipelajari oleh orang Buddha pada saat itu,
sedangkan Syekh Siti Jenar lahir dalam keluarga Islam yang fanatik. Lagi pula, Syekh Siti

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Jenar memiliki guru para sufi tersohor di Iraq dan India, dan mempelajari kitab langsung
dari para sufi-sufi salafusshalih.

Manunggaling Kawula Lan Gusti merupakan "penjawaan" Hulul dan Ittihad.


Istilahnya diubah ke dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat. Bisa
dikatakan bahwa Wihdatul Wujud telah mendarah daging pada Syekh Siti Jenar, dan itulah
kebenaran yang beliau temukan. Syekh Siti Jenar mengajarkan kepada para santrinya
bagaimana cara untuk bersaksi, yaitu harus menyaksikan agar tidak terjadi persaksian
palsu. Ini yang tidak diajarkan oleh para wali yang lain paa saat itu; dan tugas ini bukanlah
tugas yang mudah. Syekh Siti Jenar menjelaskan bahwa kenyataan manusia itu mesra
dengan kenyataan Allah, sehingga Allah senantiasa mengawasi dan senantiasa dekat,
bahkan lebih dekat dengan urat nadi; demikian Syekh Siti Jenar mengutip ayat al-Qur'an.
Akan tetapi Syekh Siti Jenar tidak serta merta memberikan penjelasan bagaimana
mengalami hal tersebut, karena Syekh Siti Jenar tahu betul bahwa santrinya masih pemula.

Ajaran Syekh Siti Jenar memang sangat kental dengan hakikat dan tasawuf yang
pada saat itu bisa dibilang baru, karena para wali, meskipun menguasai hal yang sama,
tetapi sama sekali tidak mengajarkan hal tersebut. Ini bisa dimaklumi, karena tugas yang
diemban berbeda-beda. Apa yang harus diajarkan lagi jika tugas yang diemban adalah
mengajarkan Syahadat? Sebuah Hadits menyebutkan bahwa "Awal dari Agama adalah
mengenal Allah." Dan ini merupakan titik tolak Syekh Siti Jenar, bahwa jika mereka tidak
ma'rifat maka mereka sebenarnya tidak menyembah Allah, melainkan menyembah budi
semata.

Menyadari hal ini, Syekh Siti Jenar kemudian mengajarkan kepada para santrinya
tentang hakikat ketuhanan, baik dari sumber-sumber yang dipelajarinya, maupun dari hasil
perjalanan spiritualnya. Ini diklaim oleh para wali dan pemerintah setempat sebagai upaya
penyesatan, namun sekali lagi, ini tidak benar. Sunan Kalijaga sendiri memahami apa yang
http://hambayangfana.blogspot.co.id
diajarkan oleh Syekh Siti Jenar, hanya saja Sunan Kalijaga keberatan jika manunggaling
Kawula lan Gusti diwejang kepada para santri yang masuh "bodoh" itu.

Syekh Siti Jenar menolak apa yang disebut-sebut oleh para wali sebagai "sesat" itu.
Karena dia tahu benar bahwa apa yang dia ajarkan itu penting, demi benarnya arah
peribadatan para santri. Lucunya, apa yang dialami oleh al-Hallaj kembali terulang, dengan
alasan politik, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum penggal. Misteri kematiannya juga sampai
saat ini belum terungkap dengan jelas.

Para pejabat kerajaan Demak Bintoro menjadi gelisah, mereka khawatir jika ajaran
Syekh Siti Jenar ini menimbulkan pemberontakan terhadap pemerintah. Salah satu murid
Syekh Siti jenar adalah Ki Ageng Pengging yang merupakan anak istana Majapahit yang
pada saat itu berstatus sederajat dengan Raden Patah. Pemerintah khawatir jika terjadi
bentrokan antara aden Patah dan Ki Ageng Pengging. Raden Patah pernah memanggil Ki
Ageng Pengging untuk menghadap demi klarifikasi ajaran Manunggaling Kawula lan Gusti,
namun Ki Ageng Pengging menolaknya, karenanya raden Patah dan para Wali
menyepakati untuk menyeret Syekh Siti Jenar di Sidang perwalian.

Mereka mengutus Syekh Domba dan pangeran Bayat, tetapi setelah melewati debat
yang ketat dengan Syekh Siti Jenar, Syekh Domba malah menjadi murid Syekh Siti Jenar.
Akhirnya, para Wali sendiri datangi Syekh Siti Jenar dan menghukumi Syekh Siti Jenar,
dengan alasan tidak mematuhi sultan demak pada saat itu. Belum lagi mereka
mengeksekusi Syekh Siti Jenar, beliau telah melepas diri dengan "jalan kematian" beliau
sendiri, dan kemudian diikuti oleh beberapa santri yang telah menguasai ilmu tersebut.

Demikianlah perjalanan Wihdatul Wujud sejak al-Hallaj hingga Syekh Siti Jenar,
yang sampai saat ini mendapatkan tudingan sesat, kafir, zindiq, murtad, dan sebagainya.
Melalui risalah "Aku dan Wihdatul Wujud" ini, anda akan menemukan jalan yang telah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
ditemukan oleh al-Hallaj, Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Butshami, Syekh Siti Jenar, dan saya
sendiri. Upaya yang saya lakukan ini bukan semata-mata untuk menantang balik tudingan-
tudingan tesebut, tetapi juga untuk memurnikan Wihdatul Wujud, dan mengenang para Sufi
termasyhur sepanjang sejarah, yang dituding-tuding seperti dan dilaknat seperti Fir'aun.
Saya masih tidak mengerti, mengapa para ulama di dunia ini hampir tidak bisa
membedakan Fir'aun dengan para Sufi.

MANUSIA SEBAGAI TAMU

Manusia hidup didunia ini hanyalah sebagai tetamu. Sebagaimana sabda Rasulullah
saw yang bermaksud ; "Adalah kamu semuanya manusia dudunia ini hanyalah tetamu" Jadi
semua manusia didunia ini adalah sebagai tetamu dan dunia ini hanyalah tempat
pertamuan.Hakikat manusia asalnya bukan didunia, yabg asli dari dunia hanyalah jasmani
manusia, sedangkan rohani asalnya bukan dari dunia.Jadi yang dimaksudkan dengan
"manusia sebagai tetanu" adalah ruhaninya bukan jasmaninya. Dan bila status manusia
(ruhaninya) itu hanya sebagai tetamu, maka tentunya waktu berada didunia tidaklah lama,
mesti akan kembali ketempat asalnya. Karenanya disetiap hari ada jutaan yabg lahir
kedunia (ada yang bertamu) dan ada yang mati (pulang keasalbya) terus menerus tidak
pernah putus.

Oleh karena itu sebagai tetamu didunia ini, maka Nabi Muhammad diserukan untuk
"Mengambil masjid sebagai tempat tinggal" sebagaimana lanjutan dari hadis diatas yang
bermaksud "naka ambillah mesjid-masjid sebagai tempat tinggal" Jika kita diperentahkan
oleh nabi untuk menjadikan mesjid sebagai tampat tinggal atau rumah .

Apakah maksudnya hadis ini?

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Apakah kita harus menjadikan mesjid sebagai tempat memasak dan sebagainya?,

Jika difahami secara zahir memang demikian dan perentah tersebut pasti membawa
masaalah, mengundang pertengkaran, oleh sebab itu untuk memahami hadis ini, tidaklah
boleh secara zahir sahaja. Adapun maksud dari hadis tersebut adalah "Agar ruhani
manusia itu menjadikan jasmaninya sebagai tempat tinggal, sebagai tempat mengabdikan
kepada Allah (mesjid)" Rasulullah bersabda yang membawa maksud " Bumi itu semuanya
adalah mesjid (untuk umatku)" Jadi menurut rasulullah bumi ini semuanya adalah mesjid
(tempat menyatakan sujud, tempat mengabdi kepada Allah)

Jasmani manusia adalah dari bumi, jika dikatakan bumi itu mesjid, maka automatik
jasmani kita adalah mesjid. Jadi mesjid-mesjid jasmani ini siapa yang menempatinya? Maka
perintah "jadikan mesjid sebagai rumah (tempat tinggal)" berarti yang dimaksudkan adalah
menjadikan jasmani kita ini sebagai tempat tinggal, sebagai sangkar, sebagai tempat untuk
menyatakan sujud kepada Allah, tempat pengabdian roh atau tempat pengabdian tetamu
dari alam kesunyian.

MEMBUANG SIFAT ke-aku-an ( ego )

Iblis itu adalah kita, kita yang bersifat keberadaan diri atau keberadaan sifat
keakuan, manakala mereka yang bersifat ikhlas itu, adalah mereka yang bersifat ketiadaan
diri ( tidak ada diri ). Bila mana sudah tidak ada sifat keberadaan diri, maka tidak ada lagi
sifat keakuan. Bilamana sifat keakuan atau sifat keberadaan diri itu sudah tidak ada, mana
lagi adanya iblis, mana lagi adanya syaitan! Bilamana keberadaan diri telah tiada dari mana
lagi datangnya godaan iblis atau syaitan pada diri.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Yang dikatakan iblis itu, adalah apabila adanya sifat aku atau yang masih adanya
sifat keakuan ( masih ada diri ). Bagi mereka yang tiada sifat keakuan dan tidak ada sifat
diri, mana lagi ada iblis dan mana lagi ada sifat goda menggoda! Diri yang sudah hilang,
sudah mati, dan diri yang sudah binasa, apa lagi yang boleh iblis nak goda!. Setelah
semuanya telah dipulangkan kepada Allah, tidak ada apa-apa lagi yang tinggal, tersisa atau
terbaki, apa lagi yang hendak syaitan atau iblis goda?

Apakah bodoh sangat iblis itu, nak menggoda orang yang sudah mati. Iblis tidak
sebodoh itu!. Sebenarnya iblis atau syaitan itu, adalah dirimu sendiri! Iblis itu, adalah diri
kita yang masih ada sifat diri dan yang masih ada sifat keakuan. Setelah tidak ada sifat
keakuan, maka tidaklah adanya sifat iblis dan syaitan! Maka akan menyusullah sifat ingat
kepada Allah. Bilamana sifat ingat kepada Allah telah mengambil tempat maka fana', baqo',
lebur dan binasalah sifat diri, dengan syaitan-syaitan dan dengan iblis-iblis itu sekali akan
binasa!

Bilamana sifat ingat kepada Allah telah meleburkan sifat iblis, maka itulah yang
dikatakan tahap "IKHLAS" mana mungkin orang yang ikhlas dapat digoda iblis. Orang
ikhlas itu adalah orang yang dirinya sudah mati, binasa dan hilang. Bilama diri sudah mati,
hilang ghaib didalam wajah Allah, apa lagi yang boleh iblis goda !. Apabila kita sudah
berada didalam wilayah ikhlas ( alam mengenal diri ) tidak boleh lagi ada didalam diri kita
sifat sombong, takabur, angkuh atau bongkak, segala-galanya Allah.

MENGEMBALIKAN HARTA ALLAH

Hidup kita ini hanya menumpang harta Allah, dengan itu kembalikanlah harta itu
kepada Allah. Kita ini tidak ubah seumpama lembaga / patung, jika tidak didukungi,
ditunjangi, dipayungi dan tidak didirikan oleh nyawa / roh, siapalah kita? Untuk melihat roh
yang bersemanyam didalam badan kita, kita hendaklah membinasa, melebur, melenyap

http://hambayangfana.blogspot.co.id
dan mengembalikan terlebih dahulu sifat diri yang zahir ini kepada Allah, barulah disitu akan
kelihatan dan akan terpandang tuan yang empunya badan iaitu Roh.Bagi yang tidak
nampak diri rohani yang tersembunyi disebalik jasad, maka akan jadilah sebagaimana yang
berlaku kepada iblis, Iblis ketika disuruh sujud kepada Adam, Ia tidak nampak bahawa
berdirinya Adam itu, adalah diatas dasar berdirinya roh. Yang menguatkan pembinaan jasad
anggota Adam itu, adalah roh.

Diketika itu iblis tidak dapat membaca hikmah atau rahsia Allah disebalik kejadian
Adam. Itu sebabnya iblis ingkar. Yang menyebabkan iblis itu dimurkai dan disingkirkan Allah
dari surganya, adalah diatas dasar sifat lupa iblis kepada roh Adam. Bahawasanya yang
mendiri dan yang menguatkan diri zahir Adam itu, sebenarnya adalah roh, yang disebalik
jasad Adam.

KUNCI PEMBUKA HIJAB

Kunci Pembuka Hijab Ingat Kepada Allah Kunci keramat untuk membuka hijab
kepada Allah adalah dengan "Tidak ingat kepada selain Allah"Kunci, petua, cara, kaedah
atau jalan yang boleh membuka hijab zulmat hati menuju cahaya ingat kepada Allah itu,
adalah dengan cara lupa kepada makhluk! Cara untuk lupa kepada sifat makhluk itu, adalah
dengan mengembalikan semua yang bersifat kepada Allah!

Inilah juga kunci pembersih hati dari bersifat kotor. Dengan cara berserah diri, diri
akan menjadi bersih, selepas diri menjadi bersih ingat kepada Allah akan datang sendiri !

BUANGKAN INGATAN kepada MAKHLUK – INGAT ALLAH semata-mata

Ingat kepada Allah itu, setelah ingatan kita tidak lagi terhenti atas sifat makhluk.
Selagi ingat makhluk, ingat dunia dan ingat alam benda, selagi itulah Allah tidak akan dapat
kira ingat. Setelah putusnya ingatan kita terhadap makhluk / diri, disitulah baru wajah Allah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
dapat kita lihat, pandang, tengok dan dapat kita ingat dengan jelas terang lagi nyata. Ingat
atau zikir kepada Allah itu, hendaklah sebagaimana berzikirnya makhluk-makhlik lain.
Ingat / zikir kepada Allah bukan sahaja makhluk manusia ! Malahan semua makhluk berzikir
dan bertasbih kepada Allah.

Tandanya makhluk lain dialam ini berzikir kepada Allah, adalah melalui sifat patuh,
sifat tunduk dan sifat taatnya kepada perintah dan ketetapan yang telah Allah
tetapkan.Tanda ingat dan tanda berzikirnya makhluk alam kepada Allah itu, adalah
seumpama tidak ada hujan yang terbit dari bumi kelangit. Tak ada bulan, bintang yang lari
atau targelincir dari paksi pusingan galaksinya. Sifat patuh, taat, akur dan tunduk itulah,
tanda berzikir dan ingatnya makhluk alam kepada Allah. Tanda ingatnya kita kepada Allah
itu, hendaklah juga sebagaimana ingatnya makhluk lain, iaitu dengan percaya, yakin, taat
dan patuh kepada ketetapan Allah !

Berzikirnya makhluk alam kepada Allah itu, bukan dengan cara sebagaimana
sebutan manusia. Berzikirnya makhluk alam itu, adalah dengan menggunakan cara atau
kaedahnya sendiri, iaitu dengan cara pasrah, berserah dan terserah kepada Allah, atas
segala ketetapan azali Allah.

Itulah cara atau kaedahnya berzikir, ingat dan bertasbihnya makhluk alam kepada
Allah Ta'ala . Seandainya kita sebagai makhluk manusia, boleh berzikir dan bertasbih
sebagaimana zikir dan tasbihnya alam semesta kepada Allah, alangkah tinggi dan mulianya
kedudukan zikir kita disisi Allah. Sayangnya kebanyakan dari kita ingatkan / zikir Allah itu,
hanya setakat lafasan bibir yang selalu berdusta dan mungkir. Amalan zikir / ingat kepada
Allah itu, adalah amalan yang teramat mudah dan teramat senang untuk diamalkan, tidak
seperti payahnya mengamalkan amalan-amalan lain.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Sayangnya dikarenakan terlalu mudah dan terlampau senangnya kaedah ingat
kepada Allah itu membuatkan kebanyakan dari kita lupa untuk mengamalkannya.

INILAH YANG DIKATAKAN HIJAB

CARA BERSERAH DIRI…

1. Sedar akan keberadaan wujud diri zahir dan batin kita.

2. Tanya dan soal kepada kesedaran itu wujud siapakah itu?

3. Tentukan jawapannya wujud Allah.

4. Tanda dan bukti penyerahan diterima, sudah tidak ada lagi wujud selain dari Allah
yang dipandang, dirasa, dinikmati.

5. Sehingga yang memandang, yang merasa yang menikmati wujud itu Allah sendiri..
Bagi mereka-mereka yang mengenal, ingat kepada Allah itu sudah cukup tercantum,
cukup lengkap, cukup terkumpul, cukup terungkap dan cukup terucap dengan hanya
melihat alam.

Dengan hanya melihat dan memandang kepada kejadian alam sekeliling dan
dengan hanya melihat kepada kejadian alam dirinya sendiri, ianya sudah lebih dari ingat
dan sudah lebih dari berzikir, sungguhpun ucapan zikirnya tidak terlafaz melalui bibir mulut.
Dengan hanya melihat alam baginya sudah lebih dari memadai untuk dijadikan tujuan bagi
ingat kepada Allah. Wajah Allah itu sudah cukup termaktub dan sudah cukup meliputi pada
wajah sekalian alam semesta. Itulah tanda terbuka hijab ! Dengan hanya melihat dalil atau
dengan hanya melihat bayang (wajah kita), kita sudah dapat mengenal dan dapat
mengingati tuan yang empunya bayang ( tuan yang empunya wajah ).

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Tuan yang empunya bayang itu tidak perlu menzahirkan dirinya sebagaimana rupa
bentuk wajahnya yang asal, cukup dengan hanya memperlihat dan menzahirkan dirinya
melalui bayang wajahnya sahaja, sudah memadai dan sudah lebih dari cukup, bagi mereka-
mereka yang mengenal Allah Biarpun melalui bayang wajahnya, kita akan tetap dapat
mengenal Allah dengan sejelas-jelas dan senyata-nyatanya, Wajah Allah yang hakiki itu,
terzahir beserta dengan wajah makhluk! Bagi yang nampak makhluk, maka nampaklah
Allah ! Wajah Allah itu dimana-mana. Sebagaimana firman "Barang kemana engkau
mengadap, disitulah wajah Aku" Bayang dengan empunya bayang itu sebenarnya satu
(sama). Seumpama perkara nafi dengan perkara isbat. Sungguhpun nafi itu bukan isbat
dan tiada lain darinya! Perkara nafi dengan isbat itu, tidak boleh bersatu dan juga tidak
boleh berpisah. Barang siapa memisahkan antara nafi dan isbat, itulah sejahil-jahil umat
Muhammad. Seumpama samanya antara bulat air dengan bulatnya pembentong. Cuba
tuan-tuan tilik diri tuan-tuan sendiri dihadapan cermin besar.

Apakah sama tuan yang menilik dengan tuan yang ditilik!. Pernahkah wajah tuan-
tuan itu, berbeza dari yang tergambar didalam cermin? atau bayangan rupa paras tuan
yang didalam cermin itu berbeza dari wajah tuan yang asal ? Jika jawapannya memihak
kepada tidak, yakinlah dan percayalah, bahawa Allah itu sama dengan wajahNya. Manakala
wajah Allah itu, itulah makhlukNya ! Ya dengan syarat kita dan selain dari Allah sudah
binasa, tidak ada, lenyap ( fanafillah diganti dengan baqo'billah ) Jika masih rasa ada kita
dan selain dari Allah itu baru berada pada tahap ilmu...
Jika kita terhenti pada melihat makhluk, pandangan kepada Allah akan terlepas. Manakala
jika kita terhenti pada melihat Allah, akan terbatal, terpadam dan terbinasalah pula
pandangan terhadap makhluk. Pilihlah mana satu pandangan yang menjadi pilihan kita.

RAHASIA DI SEBALIK RAHASIA


http://hambayangfana.blogspot.co.id
Badan kita ini merupakan tempat tersembunyinya roh. Manakala disebalik roh pula, adalah
tempat tersembunyi rahsianya Allah. Diri kita ini menanggung dua rahasia. Pertama
menanggung rahsia roh, keduanya menanggung rahsia Allah. Rahsia Allah tersembunyi
didalam roh, manakala wajah roh pula tersembunyi didalam dada-dada kita semua. Untuk
mengintai kedua-dua wajah itu, tiliklah kedalam diri kita sendiri. Apabila sifat roh telah dapat
kita kenal dengan rata, InsyaAllah kedua-dua rahsia wajah itu akan dapat kita kenal dengan
nyata dan rata ( jelas dan terang ) Setelah kita mengenal diri dan asal saja kita mengenal
roh, segala rahsia itu, tidak lagi menjadi rahsia. Apabila kita sudah mencapai kepada tahap
makrifat kepada Allah, yang ghaib itu tidak lagi menjadi hilang, yang hilang tidak lagi
menjadi tanda tanya dan yang halus itu tidak lagi menjadi sulit. Apabila matahari sudah
mula menerbitkan sinar cahayanya. Kabus tebal yang menyelubungi kita, akan berlalu
dengan sendirinya. Dengan berlalunya kabus diri, akan menjelmalah terang sinar wajah
Allah, tanpa terselindung atau terdinding lagi, seterang hati mereka yang mengenal Allah.

Oleh karena terlalu terangnya cahaya Allah pada wajah sekalian makhluk menyebabkan
penglihatan kepada alam sudah menjadi kabur. Apabila pandangan terhadap makhluk
sudah kabur dan lenyap, pandangan terhadap Allah, tidak lagi terselindung dan terhijab,
dimana saja dialihkan pandangan kita, disitulah juga akan kelihatan wajah Allah besertanya.

Diri kita ini telah menjadi rahsia disebalik rahsia. Rahsia kepada badan itu adalah roh,
manakala rahsia kepada roh itu adalah Allah. Roh tersembunyi disebalik wajah badan,
manakala wajah Allah pula terselindung disebalik roh. Kita ini banyak menyimpan rahsia
ketuhanan. Apabila badan boleh menyingkap tabirnya, maka kita akan dapat melihat roh,

Apabila roh pula menyingkap tabirnya maka Allah pula akan kelihatan melaluinya. Barang
siapa yang dapat merungkaikan kedua-duanya sekali, akan kenallah ia kepada Allah.
Keikhlasan dan ketulusan iktikad hati orang makrifat dalam memandang Allah itu, adalah
http://hambayangfana.blogspot.co.id
dengan membinasakan pandangan terhadap makhluk, sesuatu, benda dan terhadap diri
kita sendiri, Itulah caranya membawa kita melihat dan memandang Allah. Dengan terang
dan nyata, pada setiap apa yang kita nampak. Dengan cara itu, ianya akan membuka pintu-
pintu ghaib dan membuka kunci-kunci khazanah ketuhanan yang belum kita ketahui.

Kunci pintu khazanah yang ghaib akan terbuka apabila diri zahir memandang diri yang batin
( apabila badan mengenal roh = rasa-rasa yang terasa dihujung-hujung jari ), Apabila roh
sudah mengenal dirinya sendiri ( apabila roh mengenal roh ), itu tandanya kita telah
mengenal Allah. Taala (makrifat)

MENCARI ALLAH

Mencari Allah itu bukan didalam gua, bukit, mesjid, surau dan bukan di Mekah atau
di negeri Cina, Tempat mencari Allah itu, ada didalam diri masing-masing. Belajarlah
mengenal diri (roh), agar Allah dapat kita kenal dengan terang dan nyata, Manakala
tanggung jawab dan janji Allah kepada kita sebagai hamba-hambanya adalah tidak sekali-
kali menganiayai hamba-hambanya.

Kita tidak perlu takut kepada Allah, karena Allah itu maha pemurah, maha pengasih
dan maha penyayang. Tidak pendendam. Tidak pembohong, tidak pendusta dan tidak
ingkar dengan janjinya dan tidak akan menganiaya hamba-hamba nya, asal saja kita, tidak
menyekutukanNya, mensyarikatkan Nya dan syirik kepada Nya

Bagaimana Untuk Menzahirkan Allah ?

Untuk menzahirkan Allah, adalah dengan cara membinasakan sifat makhluk,


termasuk perbuatan, nama, sifat dan zatnya. Apabila sifat maklok sudah binasa, barulah
sifat Allah terzahir, selagi ada sifat makhluk, selagi itulah Sifat Allah tidak akan dapat kita
http://hambayangfana.blogspot.co.id
zahirkan dan tidak dapat kita pandang. Setelah semua makhluk yang bersifat baharu ini
dibinasakan dan dikembalikan kepada Allah, barulah dengan sendirinya sifat Allah itu akan
terzahir dipermukaan hati kita. Wajah Allah itu akan ternyata terlihat dan terpandang oleh
hati, apabila sifat makhluk telah bertukar wajah, dari wajah makhluk kepada berwajah Allah.

Selagi adanya sifat diri kita dan selagi adanya sifaf makhluk, selagi itulah sifat Allah
tidak akan dapat dilihat, dipandang dan tidak akan dapat terzahir dipersada
Alam.Seumpama Nabi Musa melihat kepada Bukut Thur Sina, apabila sifat bukit yang
dipandang itu masih terlihat berwajah bukit, wajah Allah tidak dapat dipandang. Seolah-olah
ianya terhijab dan terselindung disebalik sifat bukit itu. Apabila sifat bukit yang dilihat itu
tidak lagi kelihatan berwajah bukit , sudah terlebur dan binasa, disitulah wajah Allah akan
dapat terlihat dan terpandang oleh mata hati kita.

Begitu juga apabila kita terserempak dengan harimau yang garang, apabila kita
masih beranggapan yang harimau itu bersifat haiwan yang garang, kita akan berperasaan
takut dan cemas.. Jika kita anggap / pandang sifat harimau sebagai wajah Allah, yang sama
dengan wajah-wajah sekalian makhluk lainnya, sifatnya yang garang itu akan bertukar
menjadi lemah.

Setelah sifat makhluk tidak lagi kelihatan pada pandangan kita, barulah wajah Allah
boleh dilihat dipandang dan digambarkan dengan sejelas-jelas dan nyata melalui
pandangan mata hati. Disitulah nantinya apa yang kita pandang itu akan nampak Allah
besertanya. Selepas sifat makhluk terpadam, karam, dan hilang ghaib di dalam wajah Allah,
semua wajah makhluk yang kita lihat akan terpandang wajah Allah.Pandang pada sifat
harimau, akan ternampak wajah Allah. Pandang sifat bukit akan ternampak wajah Allah.
Dan pandang pada sifat diri kita sendiri akan terzahir wajah Allah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Malahan Allahlah yang meliputi sekalian alam. Disitulah nantinya barang kemana
dan barang apa yang kita lihat, akan terpandang dan terlihat wajah Allah
besertanya.Mengenal diri itu, setelah tidak lagi tahu adanya diri. Mengenal Allah itu, setelah
tidak lagi tahu adanya makhluk. Ingatkan Allah itu, setelah tidak lagi tahu adanya ingatan
kepada makhluk. Tahu Allah itu, setelah tidak lagi tahu makhluk. Adanya Allah itu, setelah
tidak adanya makhluk. Jika masih ada (wujud) perkara selain Allah, itulah mereka-mereka
dalam berkedudukan syirik. Syirik itu adalah dosa yang tidak diampun oleh Allah.

Oleh itu jauhilah syirik dengan membinasakan makhluk ! Setelah makhluk binasa,
itulah tanda Allah itu Esa, setelah Esanya Allah itu, barulah terzahir dan ternyatanya Allah
Taala dipersada alam Ingat kepada Allah, setelah lupa kepada Makhluk. Selagi ingatan kita
masih ingat kepada makhluk, itulah tanda kita lupa kepada Allah.

Inilah sebenar-benar pengertian ingat (zikir) kepada Allah. Ingat kepada Allah itu,
seumpama diri diwaktu tidur. Dikala kita sedang tidur, anggota mulut, akal, ikhtiar, kehendak
dan seluruh anggota jasad kita juga turut lupa kepada makhluk. Lupa kepada makhluk,
itulah cara dan kaedah ingat kepada Allah

"Allah menggengam roh ketika mati dan ketika tidurmu " Az-Zumar : 42

Setelah kita berjaya berserah diri semasa belum tidur, bilamana diketika sedang
tidur, dengan sendirinya kita dikatakan selamanya dalam keadaan berserah diri. Apa lagi
diketika jaga. Sebenarnya diri kita ini adalah tergantung dan terserah kepada Allah Taala.
Apabila kita telah sampai ketahap penyerahan yang hakiki / sebenar ianya akan diri kita
kosong / fana' dan kosong itulah sebenarnya diri kita.. Selagi belum jadi kosong / fana', itu
bukan diri... Belum kenal diri. Jika belum kenal diri, manakan bisa mengenal Allah. Sebutan
Nama Allah yang kosong ( tanpa kehadiran rasa ), adalah permainan bibir yang kotor, sesat

http://hambayangfana.blogspot.co.id
lagi menyesatkan. Allah itu wujud ( ujud dan maujud pada segala sesuatu ) kenapa ingatan
kepada Allah, tidak dapat dizahirkan melalui sesuatu?

Firman Allah yang bermaksud:

"Mereka mengatakan dengan mulutnya barang yang tiada didalam hatinya. Dan Allah lebih
mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan"

Berzikirnya kebanyakan kita hanya menyebut-nyebut nama Allah dengan mengira


jumlah sebutan itu. Ingat / zikir kepada Allah bukan sekadar menyebut nama Allah, sekadar
menyebut nama Allah budak seusia 3 tahun pun boleh, malah burung tiong yang diajar
untuk menyebut nama Allah pun boleh..!

Zikir atau ingat kepada Allah itu hanya akan diterima Allah, bila ianya terkeluar dari
bibir mereka-mereka yang mengenal Allah. Bila perkataan "Allah" terkeluar dari mulut orang
yang tidak mengenal Allah ( jika guna pembesar suara sekalipun ) ianya tidak
mendatangkan apa-apa.

SIFAT DUA PULUH

SIFAT SALBIAH

Apakah Maksud Sifat Salbiah ?

Sifat salbiah itu merujuk kepada kesempurnaan Allah. Kesempurnaan dalam


kebesaran, keagungan, kesucian, ketinggian dan kekuasaanNya dalam segala-galanya.
Lengkap yang tidak ada kurang, gagah yang tidak ada yang lemah, suci yang tidak ada
kotor dan sebagainya. Tiada bandingan dengan selainNya. Inilah pengertian salbiah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Andainya ada sifat yang tinggi, kedudukan Allah itu, adalah lebih tinggi, jika ada sifat
yang halus, kedudukan Allah itu, adalah lebih halus, jika ada sifat yang baik, kedudukan
Allah itu, adalah lebih baik, jika ada sifat yang putih, pastinya kedudukan Allah itu, lebih
putih dan begitulah seterusnya. Inilah yang dikatakan sifat salbiah iaitu sifat kesempurnaan
Allah. Ketiga-tiga sifat nafsiah, ma'ani dan maknawiyah itu semuanya terkandung didalam
sifat salbiah (kesempurnaan)

Seandainya ada makhluk yang mendatangkan sebab, sesungguhnya Allahlah yang


terlebih dahulu memberi sebab. Seumpama kita dengar ada orang mati sebab dimakan
harimau. Mati dimakan harimau itu, hanya sekadar menjadi sebab mati atau menjadi punca
mati. Sedangkan punca dari segala punca dan sebab dari segala sebab itu adalah
datangnya daripada Allah. Mati karena sebab harimau itu adalah sekadar sebab tetapi yang
jadi penyebabnya adalah Allah sendiri. Allahlah menjadi penyebab dari segala sebab.

Ketetapan Allah itu, telah mendahului dan mengatasi kejadian makhluk. Inilah yang
dikatakan bahawa sifat salbiah itu, adalah sifat kebesaran dalam kesempurnaan Allah. Allah
itu sempurna dalam segala kejadianNya. Segala apa yang berlaku atas diri kita ini, adalah
datangnya dari ketetapan Allah yang terbaik. Terbaik untuk kita dan terbaik juga untuk
semua makhlukNya. Kita sebagai makhluk yang berserah diri kepada Allah, hendaklah
terima segala apa yang berlaku itu dengan hati yang terbuka dan dengan hati yang
berterima kasih kepada Allah. Terimalah segala yang berlaku atas diri kita itu, dengan
berlapang dada dan bersyukur, semua yang terjadi telah mengikut dari apa yang telah
tersurat.

Sifat salbiah itu bila dikaitkan dengan sifat 20, dibahasakan dengan panggilan
musabit iaitu punca dari segala punca dan sebab dari segala sebab. Menyabitkan sesuatu
dengan sesuatu. Sabit ertinya punca dari segala punca dan sebab dari segala sebab.
Berlakunya sesuatu sebab itu adalah datangnya dari punca sebab (penyebab) itulah yang
http://hambayangfana.blogspot.co.id
dikatakan musabit pada sifat 20. Punca dari sesuatu sebab, pasti datangnya dari penyebab
dan musabab dan sabit itu, adalah dari musabit. Sifat salbiah adalah sifat pada peringkat
punca, peringkat musabab atau peringkat musabab atau peringkat permulaan (musabit).

Sifat Apakah Yang Terkandung Dalam Salbiah ?


Sifat yang terkandung di dalam salbiah adalah ;-

1. Wahdaniah (Esa)

2. Sifat Qodim ertinya sedia Allah itu tanpa permulaan.

3. Baqo' ertinya kekal Allah itu tanpa kesudahan

4. Mukholafatuhu ertinya Allah itu tiada perbandingannya.

5. Qiyamuhu ertinya berdirinya Allah dengan tiada perlu bantuan.

Kelima-lima sifat tersebut tidak dimiliki oleh yang lain selain dari Allah.
Kesempurnaan dalam keEsaan Allah (wahdaniah) yang tidak dimiliki oleh selainnya. Allah
bersifat tunggal yang tidak berbilang-bilang pada sifat, perangai, nama atau pun pada
zatNya. Yang berbilang-bilang itu pada wajahnya bukan pada sifat, perangai (perbuatan),
nama arau zatNya.

Kesempurnaan Qodim atau sedianya Allah itu, dengan tidak ada permulaan, yang
tidak dimiliki oleh sifat makhluk lain selainNya. Alam ini terjadi dengan ada permulaan dan
ada akhirnya. Manakala sempurnaNya Allah itu apabila terjadinya Ia, dengan tidak ada
permulaan. Begitulah seterusnya pada sifat baqo', mukholafatuhu ta'ala lilhawadis dan
qiyamuhu binafsih.

Apakah Bentuk Sifat Salbiah ?

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Salbiah adalah sifat yang berbentuk perkhabaran, yang mengkhabarkan perihal
kesempurnaan, kebesaran, dan kemuliaan Allah. Sifat ini ada hanya ada pada fikiran dan
sifat ini hanya ada pada zat Allah sahaja. Sifat Allah yang tidak dapat diukur melalui jauh
dekat jaraknya, tidak dapat dianggarkan melalui ukuran besar kecilnya. Seumpama sifat
Qidam (sedia), sedianya Allah Ta'ala itu dengan tiada permulaan, kita tidak dapat untuk
menggambar atau membayangkan bagaimana mulanya Allah itu terjadi, akal yang diberi
Allah pada kita, tidak dapat untuk mengkaji dan tidak dapat untuk dicerita dan tidak dapat
untuk diperlihatkan secara zahir.

Begitu juga dengan sifat baqo' (berkekalan) Allah Ta'ala itu tiada kesudahan,
bentuknya tidak dapat untuk diukur, tidak boleh untuk disukat dan dianggarkan melalui
kenyataan zahir. Di atas sifat kebesaranNya, kita dikehendaki mempercayainya tanpa usul.

Apakah Peranan Sifat Salbiah ?

Sifat salbiah berperanan mengajar kita supaya mengenal erti sifat ketuhanan yang
tiada tandingan , tiada bandingan, tiada seumpama dengan yang lainNya. Sifat kita sebagai
makhluk ini, tidak sama dengan sifat Allah. Lihat sajalah sifat kebesaran Allah yang lima itu.
Allah difatNya tidak ada permulaan sedangkan kita ini bersifat baharu, yang ada mula dan
akhir.

Allah bersifat baqo' (kekal) sedangkan kita bersifat menerima binasa, Allah bersifat
bersalahan dengan yang baharu dan tidak serupa dengan makhluk kejadiannya, manusia
menggunakan mulut untuk bercakap, telinga untuk mendengar, manakala sifat Allah tidak
ada yang serupa, seumpama dan tidak ada yang sepertiNya. Sifat Allah yang qodim, tidak
sama dengan sifat yang baharu (makhluk)

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Allah berdiri dengan sendiri (qiyamuhu) tidak perlu ada pertolongan benda lain,
sedangkan kita hidup ini memerlukan benda lain untuk menumpang hidup, seumpama
anggota perlu kepada tulang, daging, air dan udara untuk hidup. Apabila sakit kita perlu
kepada ubat, sedangkan Allah Ta'ala tidak memerlukan sokongan sesiapa atau sokongan
dari apa-apa. Allah adalah Esa, satu atau tunggal, yang tidak ada bilangan, tidak beranak
dan tidak pula diperanakkan.

Manakala manisia perlu ibu bapa untuk dilahirkan. Sifat Allah tidak sama dan tidak
serupa dengan sifat makhluk. Janganlah sekali-kali kita mengaku yang kita ini Allah atau
kita ini Tuhan. Selagi bernama makhluk dan selagi bernama manusia, kita tidak boleh
mengaku yang kita ini Tuhan. Peranan sifat salbiah adalah bagi menunjukkan
kesempurnaan Allah, yang kesempurnaannya itu tidak ada tandingan dengan sifat-sifat
makhluk. Bagi mereka yang mengenal Allah, mengenal diri dan bagi mereka yang
mendalami sifat salbiah, mereka tidak sekali-kali mengaku yang dirinya sebagai Tuhan, apa
lagi mengadakan sesuatu patong untuk disembah sebagai tuhan. Bagi mereka yang benar-
benar mengenal Allah dan mengenal diri, pekerjaan seumpama mempertuhankan patung,
tidak akan terlintas dihatinya. Yang mendakwa dirinya tuhan, sesungguhnya mereka-
mereka itu dari golongan yang sesat, yang buta mata hati dan tersangat buta pula mata
zahirnya.

Bagi yang benar-benar mengenal Allah, nama Allah yang sebenar itu, bukan boleh
dilafaz dengan perkataan. Allah bukan suara dan bukan huruf. Allah bukan perkataan,
samada perkataan aku atau perkataan dia. Tidak ada lagi perkataan "Allah atau Tuhan",
Allah atau Tuhan itu, hanya sekadar nama. Sedangkan Allah dan Tuhan yang sebenar itu,
sifatNya tidak berhuruf dan tidak bersuara. Allah juga bukan terletak dan tidak tertaklok
kepada nama. Sedangkan Allah itu bersifat di atas segala kesempurnaan. Jika Allah ada
nama untuk di panggil, kesempurnaan Allah itu melebihi, mengatasi dan mendahului dari

http://hambayangfana.blogspot.co.id
panggilan. Allah itu adalah tuan kepada yang empunya nama itu sendiri. Inilah gambaran
kebesaran Allah, yang hendak disampaikan melalui ilmu salbiah. Panggilan nama atau
lafazan Allah dari bibir mulut seorang yang tidsk mengenal Allah, tidak ubah seumpama
lafazan yang keluar dari mulut orang kafir. Mereka hanya tahu sebut sahaja, sedangkan
hakikat tuan yang empunya nama, sedikit pun mereka tidak tahu dan tidak mereka kenal.

Allah bukan sekadar lafazan, ucapan atau sebutan dari bibir dan lidah yang tidak
bertulang. Allah bukan perkara yang berhuruf dan bukan perkara yang bersuara. Allah yang
sebenar itu, bukan sekadar panggilan nama. Allah itu bersifat maha besar, kesempurnaan
besarNya itu, melebihi daripada besarnya panggilan nama. Allah itu bersifat maha tinggi,
kesempurnaan tinggiNya itu, melebihi ketinggian panggilan nama.

Allah itu maha besar dari sekadar panggilan. Allah itu bukan sekadar sebutan suara
dari bibir dan Tuhan itu bukan sekadar lafazan dari perkataan lidah. Allah bukan ain (benda)
yang boleh digambar dengan sebutan nama, sebutan huruf atau sebutan suara. Allah
adalah Allah, yang kesempurnaanNya melebihi sekalian nama. Andainya Allah itu, masih
boleh dipanggil dengan suara dan masih boleh dipanggil dengan nama, bermakna ianya
bukan Allah yang sebenar. Inilah kaedah penyampaian ilmu salbiah, bagi meletakkan
kesempurnaan Allah itu, melebihi dari yang lain.

Peranan salbiah dalam sifat 20 itu adalah bagi menunjukkan bahawa apabila kita
sudah sampi kepada tahap ini (tahap sifat salbiah), kedudukan keyakinan hati kita
hendaklah hanya semata-mata kepada Allah. Tidak lagi ada basa basi dan tidak lagi dolak
dalih, melainkan segalanya adalah hanya Allah semata-mata. Sifat yang lain sudah tidak
lagi boleh di masuk perkiraan atau bilangan. Peringkat atau tahap sifat salbiah adalah
peringkat yang peranannya hanya nampak dan lihat kesempurnaan Allah dalam segala hal
dan segenap bidang.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Mereka-mereka yang sampai ke peringkat salbiah, hatinya sudah menjadi mabuk
dalam cahaya kesempurnaan Allah. Sehingga tidak ada lagi makhluk yang hendak dinafi,
ditolak, dibuang, dan tidak ada lagi makhluk yang hendak diisbatkan, diadakan semula,
ditarik balik, dimasuk dan diambil kembali, melainkan yang mereka nampak adalah hanya
Allah. Bagi mereka Allah itu, sudah jelas dan nyata dalam kebesaran dan
kesempurnaanNya.

Peringkat ini adalah peringkat zuk Atau pada peringkat karam. Mereka-mereka yang
sampi ke peringkat ini, adalah mereka-mereka yang jiwanya sudah tergadai dan sudah
terjual. Jiwa mereka-mereka ini, adalah jiwa yang hanya diisi oleh cahaya Allah dan wajah
Allah. Di jiwa mereka sudah penuh dengan cahaya iman, cahaya ihsan. Apabila berkata
mereka itu, katanya merupakan kalam Allah swt. Inilah diantara peranan pemahaman
pelajaran ilmu sifat salbiah. Melihat, mendengar dan sebagainya adalah dengan
penglihatan dan pendengaran Allah.

Jiwa dan raga mereka-mereka yang sebegini, adalah jiwa dan raga yang tidak lagi
berfungsi, tidak lagi memberi sebarang faedah, jiwa dan raga yang tidak lagi berupaya. Jiwa
mereka seumpama hilang, lenyap dan binasa. Hilang lenyap diri yang zahir, membawa
kepada hilang lenyap pula dirinya yang batin. Zahir dan batinnya sudah karam didalam
lautan wajah kesempurnaan Allah. Kefahaman sifat salbiah Allah yang lima perkara, telah
melimpah dan menerangi hatinya, yang tidak lagi dapat dikawal oleh anasir pancaindera.
Limpahan kefahaman sifat salbiah, tidak lagi terkawal atau tifak lagi tertaklok oleh akal.
Sirna cahaya wajah ilahi, telah menyinari dirinya, nur Allah telah membakar dirinya,
sehingga dirinya kini, bukan dirinya yang dahulu. Dirinya kini seumpama sudah mati dan
sudah pulang kerahmatullah dan sedah kembali kepangkuan Allah.

Sesungguhnya jantung dan nadinya masih berdenyut dan nyawanya pula masih
dikandung badan, diri mereka sebenarnya sudah mati dan sudah terkubur didalam cahaya
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Allah. Inilah peranan yang hendak diketengahkan, diterjemah dan disampaikan oleh sifat
salbiah. Inilah juga ilmu ulamak terdahulu, yang hendak disampaikan kepada kita supaya
difahami dan dimengerti oleh yang berpandangan.

Peranan sifat salbiah dan peranan sifat-sifat yang lain adalah sekadar hiasan
bahasa, sekadar kiasan dan sekadar perumpamaan semata-mata, sedangkan hati basyirah
yang berpandangan sahaja yang dapat menyelami bahasa yang tersirat disebalik yang
tersurat. Oleh itu renung-renunglah bahasa isyarat dan bahasa kiasan yang dipertontonkan
itu. Dengan mengenali bahagian-bahagian sifat 20 yang lima diatas, mudah-mudahan
membawa kita kepada mengenal Allah swt. Inilah lazat, manis, zuk, cantik, mantiq dan
nikmatnya bagi sesiapa yang dapat menyelami dan bagi sesiapa yang mempelajari bidang
ilmu ini. Inilah bidang ilmu makrifat dan ilmu kalam yang tersembunyi disebalik huruf.

Bagaimana Cara Merujuk Tafsiran Salbiah Pada Diri Kita?

Sifat salbiah tidak boleh terzahir pada diri kita, melainkan hanya bagi Allah sahaja
sifat itu. Sifat esa, sedia, kekal adalah sifat Allah yang bersalahan dengan sifat yang baharu
dan Allah berdiri dengan sendirinya. Lima sifat salbiah itu, adalah sifat Allah yang mutlak
bagiNya.

Sifat mutlak bagi kita pula adalah bersifat banyak dan berbilang-bilang, ada melayu,
cina, india, besar kecil, tua muda, gemuk kurus dan sebagainya. Kita bersifat baharu, ibu
melahirkan kita dan kita pula melahirkan anak, begitulah seterusnya. Kita bersifat binasa,
hidup kita ini tidak kekal dan akan menemui mati juga bila umur kita sudah tua. Sifat kita
bersamaan dengan makhluk lain, kita ada tangan makhluk lain juga ada tangan. Kita ada
kaki makhluk lain juga ada kaki dan sebagainya. Hidup kita juga bergantung kepada
pertolongan sifat lain, seumpama kaki memerlukan tulang untuk berdiri, hidup memerlukan
pula kepada nyawa, makan perlu melalui mulut dan sebagainya.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Sifat ilmu yang ada pada kita pula dapat diukur tinggi rendahnya, namun kita tidak
dapat untuk mengukur sifat pemberi ilmu. Kita dapat mengukur pendek atau panjangnya
usia hidup kita, namun kita tidak dapat mengukur sifat pemberi hidup.

Manakala sifat kebesaran Allah itu tidak dimiliki oleh sekalian makhluk, hanya Allah sahaja
yang memiliki sifat kebesaran, yang melimpah dan meresapi jantung kita. Limpahan
kebesarannya itulah yang ada pada diri kita.

Apabila kita mentelaah pelajaran sifat salbiah, jangan kita lupa untuk
menterjemahkannya pula kepada diri kita sendiri dan menghubung kaitkannya pula
kedalam kalimah syahdah. Pengajian ilmu ini bukan setakat untuk tahu meletakkan
perkatsan Allah pada tempatnya, yang lebih penting lagi adalah tahu akan maksud Allah
dalam sifat salbiah dan hubungkaitnya dengan kalimah syahdah dan diterjemahkan pula ke
atas diri.

Dalam pengajian ilmu makrifat, konsep kefahaman sifat salbiah, hendaklah sampai
kepada tahap penamat dan tahap penghujung ilmu penyerahan. Seandainya kita masih
dapati yang diri kita ini masih ada, bererti Allah tidak ada dan tidak Esa. Seandainya
pemahaman ilmu kita sampai ketahap salbiah, diri kita ini hendaklah berada didalam
kedudukan tidak ada atau dalam ertikata binasa secara keseluruhan. Selepas semua
makhluk telah dianggap binasa, barulah kita dapat nampak bahawa Allah itu benar-benar
wahdah, qidam, baqo' dan sebagainya.

Dalam ilmu makrifat, konsep penghayatan ilmu adalah amat penting. Iaitu konsep
meletakkan sifat Allah sesuai pada tempatnya dan membuat perbandingan pula dengan diri
sendiri. Inilah yang dikatakan konsep kefahaman yang berteraskan dan berasaskan kepada
pemahaman dan penghayatan makrifat. Faham apa itu sifat salbiah dan faham bagaimana
hubungkaitnya dengan kalimah syahdah dan faham pula bagaimana cara untuk meletak

http://hambayangfana.blogspot.co.id
dan menterjemahkan keatas diri sendiri. Sifat 20 didalam salbiah menyatakan yang Allah itu
Esa (satu atau tunggal), manakala jika diterjemahkan kepada diri kita, jadilah diri kita ini
sifat yang berbilang-bilang.

Maksud berbilang pula adalah merujuk kepada sifat kaki tidak sama dengan sifat
tangan. Apabila ada mulut ianya tidak sama dengan sifat telinga. Apabila ada isteri
(perempuan) tidak sama dengan sifat suami (lelaki). Sedanglan EsaNya Allah itu membawa
maksud bahawa hayatNya itu adalah kudratNya dan kudratNya pula adalah hayatNya. Sifat
Allah tidak berbilang-bilang, sifat Allah tidak berpisah dengan zatNya manakala zatNya pula
tidak bercerai dengan sifatNya. Empat sifat (zat, sifat, afa'al dan asma') itu, sebenarnya
adalah satu. Kata-kata Allah (kalam Allah) adalah juga ilmuNya dan ilmuNya adalah juga
kalamNya. Sedangkan kedudukan diri kita boleh dibahagi-bahagikan mengikut anggota,
boleh dibahagi-bahagikan mengikut nama dan sebagainya.

Semasa melafaskan kalimah syahadah (kalimah Allah), konsep lima sifat salbiah
hendaklah diterapkan sehingga sampai ketahap pemahaman yang tinggi. Allah itu
hendaklah diterjemah dan dikiaskan (ditafsirkan) kepada diri kita. Apabila dibalikkan kepada
diri, jadilah diri kita ini binasa, benda yang tidak kekal. Benda yang tidak kekal pada
kebiasaannya menemui mati (binasa).

Jika kita tahu yang diri kita ini bersifat binasa, apabila sudah binasa maknanya diri
kita ini tidak ada ( tidak wujud ), sesudah diri kita tidak ada, barulah sifat ada (sifat wujud) itu
benar-benar menjadi milik Allah yang mutlak. Setelah semuanya menjadi milik Allah,
barulah apa yang kita nampak, pandang dan lihat itu menjadi rupa paras wajah Allah.
Barulah apa yang kita lihat itu terpandang Allah. Selagi ada sifat makhluk, sifat hakiki Allah
akan tertutup dan terlindung, yang membuatkan kita tidak dapat untuk melihat wajahnya.
Sifat diri yang ada ini hendaklah dikembalikan kepada Allah. Setelah sifat diri dikembalikan

http://hambayangfana.blogspot.co.id
kepada Allah, itulah tandanya kita telah tahu konsep salbiah. Konsep ilmu salbiah itu,
apabila kita sudah dapat melihat kesempurnaan Allah atas sifat makhlukNya.

"Maka apabila aku telah mencintai kepadanya, akulah yang menjaga pendengaran
yang dengan itu dia mendengar, penglihatannya yang dengan itu dia melihat, tangannya
yang dengan itu dia memukul dan kakinya yang dengan itu dia berjalan dan bila dia
meminta kepadaku, sesungguhnya aku berikan dan bila ia meminta perlindungan kepadaku
sungguh akan aku lindungi"

SIFAT DUA PULUH


Sifat Maknawiyah

Apakah maksud sifat maknawiyah?

Pengertian sifat maknawiyah itu, membawa maksud sifat kekuasaan Allah, menjadi
tempat pergantungan segala rupa (sifat), nama (asma'), berperangai (fe'el) dan
pergantungan segala berzat (roh) krpadanya. Maknawiyah adalah tempat bergantungnya
sifat ma'ani. Contohnya, bergantungnya sifat mendengar kepada pendengaran Allah,
bergantung sifat melihat kepada penglihatan Allah dan begitulah seterusnya. Seumpama
sifat cahaya (ma'ani) yang bergantung harap kepada sifat matahari (maknawiyah).

Begitu jugalah hubungan di antara sifat maknawiyah dengan sifat ma'ani,


sebagaimana sifat ma'ani, sebegitulah rupanya sifat maknawiyah. Sebagaimana ciptaan,
http://hambayangfana.blogspot.co.id
sedemikianlah penciptanya. Sebagaimana hasil, sedemikianlah acuannya. Sebagaimana
yang awal sedemikianlah akhirnya, semuanya itu, adalah satu dari segi zatnya, cuma
berbeza pada panggilan nama. Sifat Allah dengan hasil nukilannya seumpama bercerai
tidak bersatu tiada. Pencipta (zat) dan ciptaan (sifatnya) adalah satu. Sifat bukan zat tetapi
tidak lain dari zat. Sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah, seumpama wajah orang yang
menilik, dengan bayangan wajah di dalam cermin. Sifat maknawiyah bermaksud adalah
bagi menggambarkan kekuasaan Allah. Sifat bagi menggambarkan akan kehebatan
kekuasaannya.

Sebagaimana kuasanya Allah itu, sebegitulah besarnya Dia. Walau bagaimana


besar dan kuasanya Allah itu, tidak bermakna tanpa ciptaannya (makluk kejadiannya).
Tanpa kejadian alam dan tanpa penzahiran makhluk, segala kehebatan, kekuasaannya,
dan segala kehebatan kebesaranNya tidak akan dapat diterjemah dan diperzahirkan untuk
dilihat makhlukNya.

Kekuasaan Allah di dalam sifat maknawiyah, diterjemah melalui sifat ma'ani,


manakala sifat ma'ani pula, diterjemah melakui pancaindera kita. Kejadian dan penzahiran
sifat makhluknya yang bersifat ma'ani. Allah yang bersifat dengan segala keperkasaan
pengetahuanNya, ianya tidak membawa apa-apa makna, tanpa diterjemahkan melalui diri
kita ( sifat makhluk ).

Sifat kepandaian yang ada pada kita itu, sebenarnya ilmu Allah, dengan itu, walau
setinggi manapun darjat kepandaian kita, kita tetap selaku hamba disisi Allah. Oleh itu
janganlah kita bersifat sombong dan angkoh bila berada dan berjalan dibumi Allah. Dengan
sifat mata yang cantik, wajah yang ayu, kuasa yang besar dan kekayaan yang menimbun,
jangan pula menjauhkan dari mengingati Allah. Ingatlah segala sifat yang ada pada kita itu
adalah wajah bagi Allah. Hendaknya kita itu, bersifat rendah diri, pemalu, tidak sombong,
murah hati dan bersifat sopan santun di dalam menzahirkan sifat Allah atas diri kita. Jangan
http://hambayangfana.blogspot.co.id
bakhil atau kedekut dengan harta yang Allah hamburkan melalui kita, rajin-rajinlah
bersedekah dan bantu membantu kepada orang yang memerlukan, samada dalam bentuk
wang ringgit, mahupun tenaga dari anggota zahir. Semua sifat itu, bukannya untuk
menggambarkan kebaikan atau kebesaran diri kita, tetapi bagi menzahirkan sifat
kekeasaan Allah Ta'ala.

Maksud diperkenalkan ilmu sifat maknawiyah, adalah bertujuan supaya kita dapat
memati, membinasa, dan mengembalikan sifat anggota jasad. Seumpamanya dengan
membinasakan sifat mata, dengan sendirinya akan membinasakan pula sifat meluhat.
Setelah kedua-dua sifat mata dan sifat melihat (basor) telah dapat dibinasakan
(dikembalikan) kepada Allah, dengan sendirinya sifat basirun Allah (sifat yang memberi
pengkihatan) akan dapat kita lihat.

Setelah ketiga-tiga sifat pancaindera, sifat ma'ani dan sifat maknawiyah dapat kita
serahkan semula kepada Allah. Disitulah nantinya, kita akan dapat melihat, bahawa diri kita
telah lebur, disitulah, kita akan dapat menatap dan memandang bahawa, semua yang ada
itu, adalah wajah Allah. Tidak sempurna ilmu maknawiyah jika kita tidak mengembalikan
ketiga-tiga sifat tersebut, jangan pula kita kembalikan sebahagian dan meninggalkan
sebahagian yang lain.

Seandainya dikembalikan sifat penglihatan sedangkan sifat mata tidak dikembalikan,


ini tidak membawa makna dan konsep maknawiyah. Maknawiyah bukan sahaja sifat yang
terletak pada kita, tetapi juga terletak pada sekalian makhluk alam seluruhnya. Termasuklah
alam haiwan, alam bukit bukau, alam jin dan seluruhnya seisi alam.

Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Maknawiyah ?

7 Sifat maknawiyah yang terkandung didalam sifat 20

http://hambayangfana.blogspot.co.id
1. Haiyun = Yang hidup
2. Alimun = Yang tahu
3. Muridun = Yang berkehendak
4. Qodirun = Yang berkuasa
5. Samiun = Yang mendengar
6. Basirun = Yang melihat
7. Mutakallimun = Yang berkata-kata.

Apakah Bentuk Sifat Maknawiah ?

Sifat maknawiyah (sifat kekuasaan Allah Ta'ala), hanya ujud pada zat Allah, tidak
memberi bekas kepada alam. Maknawiyah tidak boleh dikualiti atau dikuantiti. Maknawiyah
adalah suatu sifat yang menggambarkan ketinggian, kebesaran dan kekuasaan Allah. Sifat
kebesaran Allah itu tidak boleh diterjemahkan kepada penglihatan. Seumpama Allah
bersifat tinggi atau besar setinggi dan sebesar mana Allah itu, tidak dapat dizahirkan melalui
kuantiti penglihatan atau jangkauan akal. Tujuh sifat maknawiyah adalah tempat bergantung
tujuh sifat ma'ani. Maknawiyah menanggung dan mendukungi sifat ma'ani. Sifat
maknawiyah adalah tempat tumpang dan pergantungan sifat ma'ani.

Apakah Peranan Sifat Maknawiyah ?

Tujuan sifat maknawiyah dijadikan dan diciptakan Allah itu, adalah bertujuan untuk
menzahirkan, mempernampak dan untuk memperlihatkan sifat kekuasaannya atas
makhluk. Hendaknya dengan ciptaan sifat maknawiyah itu, makhluk akan dapat mengenal
Allah melalui tujuh sifat kekuasaanNya.

Rupa alam ini, adalah merupakan bekas, bayang atau wajah Allah. Oleh itu bagi
sesiapa yang berhajat untuk mengenal Allah, maka lihatlah alam dan jangan lupa untuk
melihat pula kepada diri sendiri. Diri kita ini hanya bersifat ma'ani (tetamu) yang
http://hambayangfana.blogspot.co.id
menumpang sifat maknawiyah Allah. Sifat maknawiyah Allah yang ternyata atas diri kita itu,
adalah seumpama rumah, manakala sifat ma'ani pula seumpama tetamu. Diri kita ini,
merupakan tetamu yang menumpang rumah Allah (ma'ani menumpang sifat maknawiyah).
Sifat tuan itu hanya ada pada Allah dan bukan pada diri kita, kita hanya selaku hamba
(tetamu).

Oleh itu kita jangan sekali-kali bersifat angkoh. Jangan anggkoh sesama manusia,
apa lagi kepada Allah, karena semua sifat yang ada pada kita itu adalah sifat menumpang,
jadi sedarlah diri itu sikit. Selaku menumpang, buatlah cara menumpang, jangan pula tinggi
kadok dari junjung. Untuk mengatakan alam ini merupakan Allah, sudah tentu kurang manis
pada pandangan syara' dan tidak layak pada hukum, mana mungkin sifat Allah untuk
disamakan dengan sifat makhluk, tetapi menurut pengajian ilmu makrifat dalam mentafsir
sifat 20, telah mengisyaratkan bahawa, segala sifat yang bersifat itu, sebenarnya adalah
sifat bagi Allah, segala nama yang bernama itu, adalah nama bagi Allah, segala perangai
atau gerak geri yang bergerak itu, adalah gerak Allah dan segala zat yang berzat itu, adalah
zat bagi Allah. Menurut kacamata ilmu makrifat, alam ini sudah binasa, sudah hilang ghaib
dalam wajah Allah. Yang ada (yang wujud) hanyalah Allah. Jikalau pun ada yang bersifat
wujud selain dari Allah, itu cuma sekadar bayangan nama dari hayalan akal.

Sifat Allah itu termasuk segala-galanya, yang batin mahupun yang zahir, termasuk
sifat yang dulu mahupun sifat yang sekarang. Awal itu adalah Allah, maka akhir pun juga
adalah Allah. Tinggal lagi cara mana kita memahami sifat 20 dan cara mana kita mentafsir
sifat maknawiyah dan sifat ma'ani keatas diri kita. Ianya bergantung kepada cara mana kita
meletakkan diri dalam wajah Allah dan cara mana wajah Allah itu, terletak pada diri kita.
Bagi yang pandai meletakkan sesuai pada tempatnya disitu kita akan dapat melihat dan
mengenal Allah melaluinya. Ianya saling berkaitan antara satu sifat dengan sifat yang lain.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Alam mendukung dan mengandungi sifat ma'ani, manakala ma'ani pula didukungi dan
dikandungi oleh sifat maknawiyah.

Maknawiyah pula didukung oleh sifat salbiah, manakala sifat salbiah pula
mendukung kesemua sifat. Sifat ma'ani dan sifat maknawiyah (sifat menumpang dan sifat
yang ditumpangi) adalah menumpang pula sifat salbiah Allah (sifat kebesaran dan
kesempurnaan Allah)

Tujuan sifat maknawiyah dicipta adalah, bagi menyedarkan diri-diri kita semua,
bahawa hidup ini, adalah karena ada Yang Maha Menghidupkan, psndainya kita ini, adalah
kerena adanya Yang Maha berilmu, kuasanya kita ini adalah karena adanya Yang Maha
Berkuasa, kemahuan kita ini adalah karena ada Yang Maha Berkehendak. Makhluk tidak
boleh hidup tanpa yang empunya hidup, makhluk tidak berfikiran tanpa yang empunya ilmu,
makhluk tidak berupaya dan tidak berkemahuan, jika tidak dengan keupayaan dan
kemahuan Allah swt.

Apakah Hubungan Sifat Ma'ani dan Maknawiyah Dengan Diri Kita?

Perhubungan diantara sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah itu, adalah seperti berikut;

1. Bukan hayat yang hidup, sifat hidup yang ada pada hayat kita adalah bagi
menyatakan dan menzahirkan haiyun yang ada pada zat Allah.

2. Bukan ilmu yang tahu, sifat tahu yang ada pada ilmu kita itu adalah bagi menyatakan
dan menzahirkan sifat Alimun yang ada pada zat Allah

3. Bukan irodat yang berkehendak, sifat berkehendak yang ada pada irodat kita itu
adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat muridun yang ada pada zat
Allah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
4. Bukan kudrat yang berkuasa, sifat berkuasa yang ada pada kita itu adalah bagi
menyata dan bagi menzahirkan sifat kodirun yang ada pada zat Allah.

5. Bukan samak yang mendengar, sifat mendengar yang ada pada kita itu adalah bagi
menyatakan dan bagi menzahirkan sifat samiun yang ada pada zat Allah.

6. Bukan basor yang melihat, melihat yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan
dan bagi menzahirkan sifat basirun yang ada pada zat Allah.

7. Bukan kalam yang berkata-kata, sifat berkata-kata yang ada pada kita itu adalah
bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat mutakallimun yang ada pada zat Allah.

Sifat ma'ani menumpang sifat maknawiyah, sifat maknawiyah pula menjadi tempat
bergantungnya sifat ma'ani. Seumpama sifat penglihatan (ma'ani) bergantung kepada yang
memberi penglihatan (makknawiyah), manakala sifat yang memberi penglihatan
(maknawiyah) menumpang dan bergantung pula kepada Yang Maha Esa (salbiah).

Mempelajari sifat ma'ani yang tujuh dan mempelajari sifat maknawiyah yang tujuh tidak
akan memberi apa-apa menafaat, jika ianya tidak dihubungkaitkan dan jika tidak dirujuk
kepada diri kita sendiri. Dengan cara menghubungkaitkan pelajaran sifat-sifat tersebut
keatas diri kita, barulah ianya mendatangkan menafaat kepada diri.

Bagaimana cara untuk menghubungkaitkan sifat tersebut dengan diri kita ?. Kaedah
untuk menghubung kaitkan sifat tersebut dengan diri kita adalah dengan cara melihat
kepada sifat mata kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat basor (melihat),
melalui basirun Allah (penglihatan Allah).

Begitu juga dengan sifat nyawa kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat
hayat (hidup), melalui sifat haiyun Allah (penghidupan Allah). Apabila kita lihat sifat basor,
sifat hayat, sifat sama', dan lain-lainnya, yang ada pada diri kita ini, hendaknya jangan kita
http://hambayangfana.blogspot.co.id
lupa untuk memandang kepada tuan yang empunya sifat. Apa gunanya mata, jika tidak
dilengkapi dengan penglihatan, apa gunanya telinga, jika tidak dengan pendengaran.

Segala penglihatan dan segala pendengaran kita itu, dari mana asal datangnya, jika
bukan daripada Allah. Apabila kita tahu bahawa semua itu datangnya dari Allah, hendaknya
jangan kita lupa akan asal usul diri kita. Bila kita tidak lupa asal usul, membuatkan kita tidak
lupa kepada Allah selaku tuan punya kepada sifat yang ada atas diri kita ini. Apabila kita
sedar bahawa sifat-sifat yang kita miliki dan yang ada atas diri kita ini sebenarnya adalah
hak Allah. Dari itu jangan pula kita lupa untuk dikembalikannya semula kepada tuannya
yang asal (Allah). Inilah kaedah mengenal sifat maknawiyah Allah atas diri kita. Apa sahaja
ilmu yang kita belajar, semuanya menuju kepada penyerahan dan mengenal Allah Ta'ala.

Kita ada mata, telinga, mulut dan sebagainya, namun sifat-sifat tersebut, hanyalah
sekadar menumpang sifat penglihatan, pendengaran dan kalam Allah. Sifat yang ada pada
diri kita itu juga, hanyalah sifat sementara yang menumpang kasih dari sifat Allah. Setelah
sedar yang diri kita sekadar menumpang, janganlah kita bersifat anggkoh, bakhil, kedekut,
tamak, dengki, khianat dan jangan bersifat sombong. Buat apa sombong, sedangkan
pakaian yang kita pakai ini, bukannya milik kita.

Jika kita sudah sedar bahawa itu adalah barang pinjaman, harapnya dikembalikan
dengan seberapa segera yang boleh, jangan bertangguh-tangguh lagi. Jika ditangguh-
tangguh, bimbang nanti kalau-kalau ajal terlebih dahulu datang menjemput sebelum sempat
untuk dikembalikan.

Tujuh sifat ma'ani Allah dan sifat maknawiyah Allah itu, hanya akan dapat diterjemah
melalui penzahiran sifat makhluk, seumpama anggota mata pada sifat ma'ani bermakna
penglihatan pada sifat maknawiyah Allah, yang hanya dapat diterjemah melalui diri kita.
Seumpama sifat pendengaran dan berkata-kata pada maknawiyah, bila diterjemah pada diri

http://hambayangfana.blogspot.co.id
kita, ianya akan memperlihat dan mempamerkan sifat kekuasaan Allah atas sifat diri kita
sebagai makhluk. Sifat dua puluh itu, adalah sifat Allah, sungguhpun begitu, kita hendaklah
mentafsirkan ia ke atas diri kita, barulah kita dapat mengenal Allah melaluinya.

Dari itu juga, ianya menampakkan dan memperlihatkan lagi betapa kecil dan
kerdilnya kita. Tanpa sifat-sifat Allah, kita bukanlah siapa-siapa. Kita tidak boleh berdiri
sendiri, tanpa zat Allah. Bagi yang berpandangan, cuba-cubalah tiliki diri sendiri, dengan
cara mengenal diri sendiri, InsyaAllah mudah-mudahan supaya Allah pula dapat kita knenal.

Renungi sedalam-dalamnya ke dalam diri masing-masing. Disitu akan kita temui diri
kita yang sebenar dan temui juga akan kebesaran, kesempurnaan dan keagungan Allah.
Sifat yang kita pakai dan sifat yang kita bawa ini adalah hak Allah Taala sepatutnyalah dan
selayaknyalah dikembalikan dan dipulangkannya semula kepada yang berhak.

Diri kita tidak ubah seumpama sifat orang yang sudah mati. Sungguhpun orang mati
ada mata, ada telinga dan ada mulut tetapi mata, mulut dan telinganya tidak dapat
berfungsi apa-apa tanpa yang menghidupkannya. Yang menghidupkan ma'ani itu, adalah
sifat maknawiyah Allah.

Pelajaran ini adalah semata-mata untuk menyedarkan kita, untuk menginsafkan kita
bahawa, yang empunya penglihatan, pendengaran, suara, suami, isteri, anak, makan
minum, kesihatan, pakaian, perlindungan tempat tinggal dan sebagainya itu, adalah
datangnya dari Allah swt belaka dan bukannya dari hasil daya usaha atau titik peluh kita.
Kebanyakkan dari kita tidak nampak dan tidak sedar, yang semua itu adalah datangnya dari
Allah. Ada diantaranya, sengaja buat-buat tidak nampak.

Kebanyakkannya hanya pandang sifat mulut, hanya nampak sifat mata dan hanya
lihat sifat telinga, tidak terpandang oleh mereka kepada yang empunya penglihatan,
pendengaran dan tidak terpandang kepada tuan asal yang empunya segalanya. Sekali lagi
http://hambayangfana.blogspot.co.id
marilah sama-sama kita kembali kepada Allah. Supaya dengan cara ini, kita memperolehi
ketenangan jiwa, redho dengan apa yang berlaku, ikhlas dalam beribadah, jujur dalam
pekerjaan dan membuatkan hati kita sentiasa berserah kepada Allah Yang Maha Esa.

Bagi yang masih tidak nampak, sesungguhnya mereka itu buta. Buta mata zahir dan
buta mata hatinya. Selagi diri tidak dibinasakan (diserahkan) kepada Allah selaku tuan asal
yang empunya segalanya, selagi itulah kita tidak akan dapat untuk membezakan antara
sifat Allah dengan sifat diri kita. Apakah mereka sangka sifat diri kita sama dengan sifat
Allah! Sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk, tetapi dalam masa yang sama, ianya
juga tidak lain dari itu.

Hidup ini seumpama suara yang tersimpan di dalam halkum. Segala apa yang
terjadi (terzahir) dan yang bakal terjadi itu, sudah sedia ada dalam pengetahuan Allah,
sudah tertulis, termeterai dan terpahat di dalam ilmu Allah sejak azali lagi, tanpa berubah
atau terpinda sedikitpun darinya. Segala kejadian itu, akan terjadi dan akan terzahir
mengikut apa yang sudah tersurat, itulah makanya sebagai umat Islam, di sarankan supaya
berserah diri dan menyerahkan segala-galanya kepada Yang Maha Mengetahui.

Bagi mereka-mereka yang mengenal diri dan bagi mereka yang mengenal Allah,
sifat diri yang dimilikinya sudah dianggap telah menjadi milik Allah swt. Anggaplah yang diri
kita ini, sebenarnya telah mati (matikan diri kita sebelum kita mati), apabila tiba waktu mati
yang sebenar, kita tidak lagi membawa apa-apa hutang, tuntutan dan dakwaan Allah.

Seandainya telah berjaya mengembalikan semuanya kepada Allah, jadilah mati kita
itu, suatu mati yang suci, bersih dan diterima Allah. Mati para sufi, ambia', syahid dan mati
dalam golongan para-para syuhada. Hubungan sifat ma'ani, dengan kita itu, adalah untuk
menyatakan dan menzahirkan sifat hidup, berkuasa, mendengar, melihat, berkata-kata dan

http://hambayangfana.blogspot.co.id
berilmunya Allah itu, dizahirkan oleh Allah melalui sifat makhluknya. Melalui sifat kita dan
sifat makhluklah, Allah menzahirkan sifatnya.

Dari itu kita dapat mengenal Allah melaluinya. Jika tidak dijadikan makhluk,
bagaimana untuk mempamerkan kebesaranNya. Bagaimana lahar gunung berapi yang ada
diperut bumi memperkenalkan dirinya, jika tidak dizahirkan dengan cara memuntahkan
laharnya kepermukaan bumi. Begitu juga caranya Allah memperkenalkan dirinya melalui
sifat makhluk.

Bagaimana cara Allah memperkenalkan diriNya kepada kita, sebegitu jugalah


caranya kita mengenal Allah. Sebagaimana lahar gunung berapi memperkenal dan
memperlihatkan dirinya dengan memuntahkan laharnya kepermukaan bumi. Begitu juga
Allah memperkenalkan dirinya melalui penzahiran sifat makhluk. Dengan mencipta
makhluk, Allah dapat menzahirkan dan memperkenalkan dirinya kepada makhluk. Dengan
cara itu juga bagi sesiapa yang dihatinya berhajat untuk mengenal Allah, lihatlah kepada
kejadiannya (makhluk), dengan cara melihat makhluk dan dengan cara melihat kepada diri
kita sendiri, InsyaAllah bagi sesiapa yang berpandangan dan berhati basyirah, akan dapat
memandang Allah melaluinya.

Allah memperkenalkan diriNya melalui makhluk dan melalui diri kita, kenapa kita,
tidak dapat melihat Allah melaluinya!. Bagi yang tidak dapat nampak Allah melaluinya,
sesunggihnya teramat sangat butalah hati mereka. Bagi yang dibuka Allah akan pintu
penglihatan dan bibuka pintu pandangannya, pelajarilah sifat 20 dengan sempurna agar
Allah juga dapat dikenal dengan penuh sempurna. Bertitik tolak dari sifat 20, kita tahu siapa
diri kita dan hubungannya dengan Allah. Ilmu serta kefahaman kita dalam sifat maknawiyah,
nantinya akan membawa kita kepada tahap mengenal diri dengan lebih mendalam dan
sebenar.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Itulah tujuan diperkenalkan ilmu maknawiyah melalui sifat 20. Ilmu maknawiyah itu
tercipta bukan untuk sekadar menjadi hafalan dimulut ulamak atau hanya sekadar coritan
dihalaman kitab, diciptanya ilmu sfat maknawiyah dan sifat-sifat yang lainnya, adalah
bertujuan untuk dihayati, diamati, dan diselami sehingga sampi kepada tahap mengenal
Allah dan mengenal sifat hamba (diri sendiri). Supaya dengan cara itu, kita dapat
membezakan antara sifat hamba dengan sifat khalik (tuan)

Setelah timbulnya kesedaran itu, akan hilanglah perasaan dakwaan diri. Dakwaan
bahawa yang diri kita itu besar, kaya, kuat, alim, ulamak dan akan hilanglah perasaan
kebesaran diri. Apabila hilang sifat kebesaran, maka timbullah sifat kerendahan diri.
Kesedaran bahawa diri kita ini bersifat seorang hamba yang fakir, hina, merendah diri,
serba kekurangan, daif dan miskin yang perlu balik semula kepangkuan Yang Maha
Berkuasa.

Bagaimana Cara Untuk Berpegang Kepada Sifat Maknawiyah ?.

Pengajaran dan iktibar yang dapat kita ambil dalam kaedah mengenal diri melalui
sifat maknawiyah adalah bahawasanya di peringkat ini, Allah telah menzahirkan tujuh sifat-
sifatNya sebagaimana diatas, yang disandarkan ke atas diri makhlukNya (diri kita). Oleh itu
untuk melihat Allah lihatlah kepada sifat maknawiyah. Maknawiyah adalah seumpama
limpahan lahar gunung berapi. Semasa lahar masih berada di perut bumi, tidak ada siapa
yang mengenalinya, selepas laharnya diluahkan kepermukaan bumi, barulah kita kenal apa
itu lahar.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Begitu juga halnya dalam kaedah Allah, untuk memperkenalkan diriNya kepada kita.
Untuk diriNya dikenali, maka dizahirkanlah sifat maknawiyah seumpama sifat yang maha
memberi penglihatan (basirun), dilahirkan melalui sifat basor (melihat) dan diterjemahkan
atas mata kita. Sifat yang maha memberi pendengaran (sami'un), dizahirkan melalui sifat
sama' (mendengar) dan diterjemahkan atas telinga kita. Begitulah seterusnya cara Allah
memperkenal dan memperzahirkan sifatNya kepada kepada kita.

Bertitik tolak dari situ jugalah, membuatkan kita dapat mengenal Allah melaluinya.
Melalui penglihatan, pendengaran, akalan, tutur kata dan sebagainya, yang membawa kita
kepada mengenal sifat diri sendiri dan mengenal pula sifat Allah. Sekarang baru kita sedar
dan baru kita kenal diri kita yang sebenar bahawa segala sifat penglihatan, pendengaran
dan seumpamanya yang selama ini dianggap hak kepunyaan kita, sesungguhnya semua
itu, merupakan hak milik Allah dan bukannya hak milik kita, dengan itu kembalikanlah
kepadaNya.

Kuasa yang ada pada diri kita ini, sebenarnya merupakan kiasan Allah keatas diri
kita, kiasan bagi memperlihatkan sifat kekuasaan diriNya. Dari sifat kekuasaan diriNya itu,
supaya dapat pula dipandang dan dilihat oleh sekalian makhluk. Supaya melalui penzahiran
sifat kekuasaan Allah itu juga, mudah-mudahan bagi yang berpandangan jauh (tasauf) dan
bagi mereka yang berhati basirah, akan dapat mengenal Allah melakuinya. Dengan
terzahirnya sifat ma'ani atas diri kita, Allah telah menumpangkan pula sifat maknawiyahNya
ke atas sifat ma'ani.

Seumpama Allah jadikan mata, kemudian Allah menumpangkan pula sifat


penglihatanNya keatas mata. Dari situ membuatkan kita tahu dan sedar bahawa sifat
ma'ani dan maknawiyah itu, sebenarnya sifat Allah dan bukannya sifat kita. Apabila kita
tahu yang ma'ani dan maknawiyah itu sifat Allah, bermakna sifat mata dan sifat penglihatan

http://hambayangfana.blogspot.co.id
kita itu juga adalah hak milik dan kepunyaan Allah. Jadi, mana yang dikatakan sifat kita dan
mana yang dikatakan sifat diri kita, jika semuanta menjadi milik dan kepuntaan Allah!.

Sedarlah duhai diri kita sekalian, bahawasanya sifat diri kita yang sebenarnya, telah
tidak ada, telah diambil oleh Allah. Allah bukan merampas, meragut atau menyita hak kita,
tetapi Allah telah mengambil kembali hakNya. Apabila kita mengaku yang harta itu hak kita,
itulah yang menjadikan kita anggap Allah merampas dan menyita harta kita. Harta yang
diambil Allah itu, sebenarnya adalah harta milikNya. Yang sebenar menjadi perampas itu
bukan Allah, tetapi kita. Kitalah yang merampas harta Allah dan dijadikan sebagai harta
sendiri. Apabila Allah ambil balik, kita tuduh Allah pula yang merampas harta kita,
sedangkan kita itulah sebenarnya menjadi perampas, penyangak dan peragut harta Allah.

Setelah semua sifat telah menjadi hak Allah dan diserahkan semula kepada Allah,
jangan hendaknya kita merampas kembali apa yang sudah menjadi hak Allah. Biarkanlah
ianya tetap menjadi hak dan milik Allah selamanya dan biarkanlah kita kekal dengan sifat
kosong, fakir, kuli, hina, miskin, kuli dan hamba Allah selamanya. Tetap kekal dan
berkekalan sifat baqo' kita dalam wajah Allah. Biarpun kita disaluti dengan pakaian kuat,
gagah, cantik, melihat, mendengar, bertutur kata dan sebagainya, sesungguhnya semua itu
adalah hak Allah. Apabila ianya sudah menjadi hak Allah, janganlah hendaknya pakaian
Allah itu sampai terlekat pada tubuh kita. Yang menjadi pakaian kita, adalah sifat hina,
rendah diri, tawakkal, berserah, bertaubat, menyesal dan fana'.

Apabila kita pakai pakaian Allah, itulah yang membuatkan diri kita itu, dikatakan diri
yang terdakwa. Untuk menolak dakwaan Allah keatas diri kita, jangan sekali-kali memakai
pakaian Allah. Segala sifat kebesaran adalah pakaian Allah, jangan kita memakainya.
Tujuan diperkenalkan sifat maknawiyah, bagi mengajar diri kita bahawa tujuh sifat
maknawiyah yang kita pakai itu bukannya hak milik kita dan bukan sifat kita, tujuh sifat
tersebut adalah sifat yang menjadi hak milik Allah yang mutlak.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Dengan itu marilah sama-sama kita sedar dan sama-sama kita insaf bahawa
sesungguhnya tujuh sifat yang selama ini kita anggap milik dan kepunyaan kita itu,
sesungguhnya adalah hak dan milik Allah. Hendaknya ia dikembali dan diserahkan nya
semula kepada tuannya yang asal dan tuan punya yang empunya segala sifat.

Yang bernama nyawa kepada kita, sebenarnya itulah sifat hidup bagi Allah. Yang
bernama akal pada kita, sebenarnya sifat mengetahui bagi Allah. Yang bernama kekuatan
pada diri kita, sebenarnya itulah sifat berkuasa bagi Allah. Yang bernama niat pada kita,
sebenarnya itu adalah sifat berkehendak bagi Allah. Yang bernama mata pada kita,
sebenarnya itulah sifat melihat bagi Allah. Yang bernama telinga pada kita, sebenarnya
itulah sifat mendengar bagi Allah dan yang bernama kuat pada kita, itu adalah siat kudrat
bagi Allah.

Jadi marilah kita mengambil insaf bahawa, yang ada pada diri kita ini, sesungguhnya
adalah hak milik dan kepunyaan Allah yang tidak ada sedikit pun yang menjadi kepunyaan
kita, melainkan yang ada pada kita itu, hanyalah sekadar kiasan nama panggil-panggilan
semata-mata. Diri kita sesungguhnya tidak punya apa-apa. Ini sahajalah pengajaran yang
hendak disampaikan dan hendak diketengahkan oleh pencipta sifat 20, khasnya di tahap
sifat maknawiyah.

Sifat maknawiyah adalah sifat penzahiran sifat Allah atau sifat bagi menyatan
kekuasaan Allah yang sebelumnya terpendam dan tidak terzahir, kini Allah melimpahkan
dan menzahirkan sifatNya melalui makhlukNya supaya kita mengambil insaf dan
mengambil faham bahawa barang yang kita miliki ini, sebenarnya adalah barang
kepunyaan Allah, yang hendaknya dikembalikan semua kepada Allah.

Apabila sifat yang tujuh itu telah selamat dikembalikan semula kepada Allah, maka
selamatlah pelajaran kita dalam bab sifat maknawiyah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
SIFAT DUA PULUH
SIFAT MA'ANI

Apakah maksud sifat ma'ani ?

Pengertian sifat ma'ani adalah membawa maksud "PERGANTUNGAN". Ma'ani


adalah sifat yang menumpang kepada sifat lain, seumpama sifat hidup yang bergantung
kepada sifat haiyun, seumpama sifat basor, yang bergantung kepada sifat basiron dan
sebagainya. Sifat ma'ani adalah sifat yang bergantunh kepada sifat maknawiyah. Tanpa
maknawiyah sifat ma'ani tidak berfungsi. Berfungsinya sifat ma'ani adalah dengan karena

http://hambayangfana.blogspot.co.id
limpahan rahmat dari sifat maknawiyah ( kuasa Allah ). Sifat ma'ani itu, bergantung dan
menumpang sifat maknawitah. Sifat Apakah Yang Terkandung DI Dalam Ma'ani ?

Sifat yang terkandung di dalam sifat ma'ani ada 7 perkara:

1. Hayat. = hidup
2. Qudrat. = kuasa
3. Irodat. = berkehendak
4. Ilmu =. Mengetahui
5. Sama'. = mendengar
6, basot. = melihat
7. Qalam = berkata-kata

Apakah Bentuk Sifat Ma'ani ?

Bentuk sifat ma'ani itu, adalah sifat yang boleh dilihat dan boleh digambarkan oleh
akal. Ianya juga merupakan sifat yang terzahit (tergambar) pada fikiran dan terbayang pada
khayalan. Seumpama sifat hayat (hidup), ianya terbaayang kepada sifat nyawa, sifat
melihat, terbayang pada sifat mata dan pendengaran, terbayang kepada sifat telinga. Kita
boleh bayangkan sifat ma'ani, melalui pendengaran, penglihatan dan sebagainya.

Sifat ma'ani bukan sahaja terzahir pada khabar tetapi terzahir juga pada kenyataan,
ertinya maujud pada khayalan fikiran dan maujud juga pada kenyataan sebenar. Ujud sifat
ma'ani itu, adalah dikarenakan dengan sesuatu, karena yang lain. Tanpa karena sifat yang
lain, sifat ma'ani tidak boleh wujud dan tidak boleh zahir. Wujudnya sifat ma'ani adalah
dikarenakan menumpang sifat maknawiyah.

Bagaimana Menterjemah Sifat Ma'ani Pada Diri Kita ?


Sifat ma'ani Allah Ta'ala yang jelas terzahir pada diri kita ada 7.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkuasa
4. Berkehendak
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata-kata

Ada dengan terang dan jelas menzahir sifat-sifatNya ke atas diri kita. Tujuan
dizahirkan sifatNya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai
iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya. Allah bukan ain
(bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan sifat-
sifatnya ke atas diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan "Tempat memandang sifat-
sifatnya" kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.

Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, sifat mengetahui, sifat
berkuasa, sifat berkehendak, sifat melihat dan sifat berkata-kata yang dipakai Allah atas diri
kita, adalah menjadi tanda kebesaranNya atas diri kita supaya kita memerhati dan
melihatnya. Sifat-sifat tersebut bukannya sifat peribadi kita tetapi sifat tersebut sebenarnya
adalah hak kepunyaan mutlak Allah Ta'ala.

Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar
dan insaf akan hal itu. Kesemua sifat-sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan
Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada tuan yang empunya, sementara
hayat masih dikandung badan. Penzahiran sifat ma'ani (angin) atas makluk (diri kita) adalah
sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang akhirnya dikehendaki kembali
semula kepada tuan yang empunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan
sesuatu.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Maha seci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan
yang dinukilkan itu, hanya sekadar mempermudahkan faham. Sifat ma'ani itu, adalah
seumpama bayang-bayang, manakala Allah Ta'ala itu, adalah seumpama tuan yang
empunya bayang.

Firman Allah :-

25.Surah Al-Furqān (Verse 45)


‫ظلل ووُلوموُ وشاَوء لووجوعولله وساَتكاناَ لثلم وجوعملوناَ اللشمم و‬
َ‫س وعلوميته ودتليال‬ ُ‫ف وملد ال ر‬ ‫أولومم وتور إتلوـىِ وررُب و‬
‫ك وكمي و‬

“Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? - bagaimana Ia menjadikan


bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia
menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)!
Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-
bayang itu”

Maksud hadist :

"Allah Jadikan Manusia dalam bayangNya"

Maksud bayang itu, adalah merujuk kepada makhluk dan diri kita. Bayang (diri)
sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sifat. Bayang hanya sekadar sifat yang menumpang
dari yang empunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang empunya
bayang. Berdirinya bayang adalah dengan berdirinya tuan yang empunya bayang (Allah).
Mustahil bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang empunya bayang
(Allah). Bayang dengan yang empunya bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud bayang dengan yang
empunya bayang atau seumpama bayangan wajah dipermukaan cermin. Sifat ma'ani itu
tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara
sifat ma'ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara bayang
dengan yang empunya bayang, Contohnya seumpama sifat mata dengan penglihatan, sifat
telinga dengan pendengaran dan sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana
keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang
dikatakan hubungan sifat ma'ani dengan sifat ma'anawiyah itu, bercantum tidak bercerai
tiada.

Maksud hadist:

"Tiada bercerai antara nafi dan isbat, dan siapa-siapa ceraikan antara keduanya maka ora
g itu kafir adanya"

Bayang bukan cahaya tapi tidak lain dari cahaya. Cahaya bukan matahari tapi tidak
lain dari matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan diri kita. Dari itu
marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa sifat yang kita miliki ini,
sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang empunya.
Tujuan mempelajari sifat ma'ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa
sebenarnya diri kita ini tidak ada, tidak wujud dan terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang
terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama sifat bayang, terzahirnya bayang itu,
adalah bagi tujuan menampakkan dan menyatan sifat yang empunya bayang itu sendiri.

Di dalam keghairahan membicarakan soal sifat ma'ani, harus diingat bahawa Allah
tidak bertempat. Allah tidak menjelma keatas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di
luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah
bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Orang-orang yang mengaku

http://hambayangfana.blogspot.co.id
bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku Tuhan
dan sebagainya. Sesungguhnya mereka-mereka itu, adalah tergolong dikalangan mereka-
mereka yang sesat dan sejahil-jahil manusia.

Allah tidak ada dalam diri kita, tetapi kitalah yang ada dalam Allah. Bukan kita
mengandungi Allah, tetapi Allahlah yang mengandungi kita. Bukan kita yang meliputi Allah,
tetapi Allahlah yang meliputi kita. Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat
yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, sifat yang kekal dan yang
abadi itu, hanyalah Allah swt.

Firman Allah :

28.Surah Al-Qaşaş (Verse 88)


‫ا إتـولاهاَ آوخرور ول إتـولوه إتلل له‌ووُ لكزل وشميةء وهاَلت ح‬
‫ك إتلل ووُمجوه‌له ولله امللحمكلم ووُإتولميته لتمروجلعوُون‬ ‫ووُول وتمدلع وموع ل ت‬

“Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada
Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah
kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua
dikembalikan”.

Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh ?

Sifat ma'ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui sifat dan rupa paras roh,
melalui sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan
paras roh, sebegitulah wajah ma'ani Allah, karena rohlah sifat ma'ani Allah. Untuk melihat
sifat ma'ani Allah lihatlah pada wajah dan sifat rupa paras diri kita sendiri. Hubungan roh
dengan sifat ma'ani itu, seumpama sifat mata pada roh, penglihatan bagi Allah, telinga pada
roh, pendengaran bagi Allah dan begitulah seterusnya.

Apakah Hubungannya Sifat Ma'ani Dengan Kalimah Syahdah?


http://hambayangfana.blogspot.co.id
Tujuan kita mempelajari dan mendalami ilmu ma'ani itu, adalah untuk membawa
kepada pemahaman kalimah syahadah. Tujuan nafsiah membawa pengertian kepada
lalimah "Laa" adalah kslimah bagi menafikan kewujudan sifat makhluk. Manakala sifat
ma'ani kalimah "Ila ha" pula, bermaksud mengadakan atau mengiakan dan mengambil balik
segala apa yang kita telah tolak dalam kalimah "Laa". Jika dalam kalimah "Laa" kita tolak
semua sifat makhluk, manakala dalam kalimak "Ila ha" pula, ianya kita adakan semula.
Walaupun sifatnya diadakannya kembali, ianya adalah sekadar sifat yang menumpang.

Jika dalam kalumah "Laa" kita mengaku bahawa tidak ada lain, selain Allah,
manakala dalam kalimah "Ila ha" pula kita mengaku bahawa Allah telah menzahirkan
makhluknya melalui 7 sifatNya, seumpama sifat hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui,
mendengar, melihat dan sifat berkata-kata. Walau bagaimana pun 7 sifat tersebut diatas
hanya sekadar sifat menumpang. Seumpama sifat sama' menumpang sifat sami'un, sifat
basor menumpang sifat basirun dan begitulah seterusnya.

Untuk dihubung kaitkan dengan kalimah syahdah, kita hendaklah melihat sifat mata
yang kita miliki, tidak berguna, tanpa penglihatan Allah, telinga kita tidak akan bermakna
tanpa pendengaran Allah, mulut tidak bererti tanpa berkata-kata Allah, hidung tidak berguna
tanpa hidup Allah, akal tidak bererti jika tanpa ilmu Allah, anggota tidak bermakna tanpa
kuasa Allah. Segala-galanya yang ada pada kita bergantung dan menumpang sifat Allah.

Semasa melafazkan kalimah "Ila ha" dalam bersyahadah, kita dikehendaki


mengingati diri kita bahawa sifat yang ada pada diri dan yang kita bawa ini, tidak boleh
berdiri sendiri, hanyalah sekadar sifat yang menumpang dan bergantung kepada sifat Allah.
Diri kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak akan dapat melihat tanpa basirun Allah dan kita
tidak akan dapat mendengar tanpa samiun Allah. Dari kesedaran dan keinsafan itu,
membawa hati kita kepada suatu perasaan kosong, hiba, hina, kerdil, miskin, kecil dan
perasaan fakir dihadapan Allah. Inilah tujuan kita mempelajari sifat ma'ani.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Diri kita ini sesungguhnya yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Ibubapa, anak-
isteri, kaum-keluarga, harta benda, hidup mati dan kaya miskin itu, adala hak Allah ta'ala,
yang boleh diambilnya balik pada bila-bila masa. Yang kita miliki ini, adalah semata-mata
hak kepunyaan Allah. Ditangan Allahlah diri kita, segala kekuatan, kecantikan, kekayaan
dan kegagahan yang selama ini kita megah-megahkan itu, sebenarnya adalah milik
kepunyaan Allah. Dengan kefahaman bahawa, sifat diri kita ini, sebenarnya mati dan
menumpang. Seumpama sifat mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota,
menumpang wajah kebesaran Allah. Yang hendahnya dikembalikan semula sifat itu kepada
Allah.

Anggaplah diri kita ini, sudah mati, binasa, hilang dan lenyap dalam wajah Allah.
Yang kita miliki ini, semuanya adalah hak Allah Ta'ala belaka. Hendaklah kita serah kembali
kepada Allah. Kembalikan sifat-sifat tersebut kepada Allah. Jadikanlah diri kita ini
seumpama fakir, muflis, hina, mati, binasa dan hilang dalam kekuasaan Allah. Inilah
diantara hikmah dan diantara intipati mempelajari sifat ma'ani dalam sifat 20.

Bagaimana Mengenal Allah Melalui Sifat Ma'ani ?

Peranan sifat ma'ani hanya sekadar menjadi saksi (kesaksian) Sifat ma'ani
berperanan sekadar sifat menumpang. Seumpama basor, hanya menumpang kepada sifat
basirun. Telinga menumpang sifat sama', manakala sama' pula menumpang sifat samiun.
Lidah menumpang sifat kalam, manakala kalam pula menumpang sifat mutakallimun. Sifat
ma'ani adalah sifat menumpang sifat maknawiah (sifat kekuasaan Allahh).

Dari kefahaman itu, dapatlah kita tilik diri sendiri, betapa sifat yang ada pada diri kita
ini, semuanya kepunyaan Allah. Kita ada mata, tatapi Allah yang memiliki sifat penglihatan.
Kita ada telinga tetapi Allah yang memiliki sifat pendengaran. Kita ada mulut tetapi Allah
http://hambayangfana.blogspot.co.id
yang memiliki sifat berkata-kata. Begitulah seterusnya, yang menggambarkan bahawa diri
kita ini adalah kepunyaan Allah.

Sifat ma'ani bertujuan supaya sifat Allah dapat dilihat melalui pancaindera, pada roh
dan pada diri kita sendiri. Allah berilmu manakala diri pula bersifat mengetahui melalui akal.
Allah berkudrat, manakala diri pula bersifat berkuasa melalui pancaindera. Allah berirodat,
manakala diri pula bersifat berkehendak ( dapat berkeinginan melalalui rasa ). Allah bersifat
sama' manakala diri pula bersifat mendengar melalui telinga. Allah bersifat basor manakala
diri pula bersifat melihat melalui mata. Allah bersifat kalam, manakala diri pula bersifat
berkata-kata melalui lidah.

Jangan sekali-kali kita menjadi lupa diri, bahawa semua sifat-sifat yang kita miliki ini,
adalah kepunyaan Allah, diri kita ini, hanya sekadar menumpang sifat Allah. Apabila kita
faham sifat ma'ani, dengan sendirinya membawa diti kita pulang kepangkuan Allah dengan
tangan kosong, dengan menyerahkan segala sifat kepada Allah. Bahawasanya diri kita ini,
sebenar nya adalah kepunyaan dan milik Allah sepenuhnya secara mutlak. Sifat yang kita
pakai dan yang ada pada kita ini, seumpama sifat bayang (menumpang yang empunya
bayang).

Setelah kita sedar, bahawa sifat yang kita pakai ini adalah sifat pinjaman dan
menumpang sifat Allah, sebaiknya kembalikanlah semua sifat-sifat itu kepada Allah. Jangan
sekali-kali cuba memakai pakaian Allah, walaupun secara percuma atau secara pinjaman,
karena kita tahu bahawa pakaian Allah itu, amat tidak layak untuk dipakai oleh kita. Kita
tidak layak memakai pakaian Allah dan kita tidak sajak untuk menerima pijaman Allah.
Pakaian Allah itu, Allahlah pemiliknya, Allahlah yang layak memakainya. Sebenarnya kita
ini, tidak punya apa-apa pakaian atau persalinan. Kita ini adalah ibarat tangan kosong.
Yang menjadi milik dan kepunyaan kita bukan pakaian atau persalinan, yang menjadi mikik
dan kepunyaan kita yang mutlak, adalah Allah itu sendiri.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Inilah konsep yang hendak diketengahkan dan yang hendak diterapkan melalui sifat
ma'ani. Konsep serta kefahaman inilah yang benar-benar perlu kita fahami. Cuba fahami
dan hayati betul-betul sifat ma'ani yang tujuh itu, apabila kita telah kasyaf dalam
menghayati sifat ma'ani, di sinilah membawanya lebur dan terbakarnya sifat diri yang palsu
dan yang menumpang ini.

Bagi mereka-mereka yang mengenal Allah, apabila dia cuba untuk memakai sifat Allah.
maka hancur terbakarlah anggotanya, lebur musnahlah sifat jasadnya. Mereka tidak sekali-
kali berani memakai sifat pakaian Allah. Pakaian Allah itu ada tujuh iaitu seumpama sifat
hidup, ilmu, kudrat, irodat, samak, basor dan kalam, manakala pakaian kita juga tujuh isitu
seumpama

1. Pakaian sifat mati (binasa)

2. Pakaian sifat bodoh dungu

3. Pakaian sifat lemah, lumpuh tidsk berupaya.

4. Pakaian sifat tidak berkemahuan, tidak berkehendak

5. Pakaian sifat pekak dan tuli.

6. Pakaian sifat buta

7. Pakaian sifat bisu.

Inilah pakaian dan sifat-sifat yang kita pakai serta pakaian mereka-mereka yang
mengenal diri dan yang mengenal Allah swt. Mereka ini beranggapan dan beriktikat
bahawa, diri serta jasad mereka sudah mati, tidak ada, lebur dan binasa. Mereka tidak lagi
berakal tidak lagi mempunyai kekuatan, tidak lagi berkemahuan, tidak berpendengaran,

http://hambayangfana.blogspot.co.id
tidak lagi berpenglihatan dan tidak lagi bersuara,diri da. Jasad mereka sudah fana', sudah
baqo' dan karam dalam wajah Allah swt.

Diri mereka tidak ubah seumpama manyat yang hidup. Mereka tidak memakai
pakaian Allah, mereka tidak meminjam pakaian Allah, mereka tidak mengambil persalinan
Allah, mereka tidak memakai apa-apa yang menjadi haq Allah. Tidak layak bagi mereka
untuk menerima apa-apa yang menjadi milik Allah. Bagi mereka, segala-galanya adalah
dari Allah, kepada Allah dan berserta Allah. Baiklah didalam tidur, dalam jaga, dalam gerak,
dalam tutur kata, dalam penglihatan, pendengaran, berkeinginan Dan sebagainya,
semuanya milik Allah

Bukan sifat mata yang mereka pandang, tetapi penglihatan Allah, bukan sifat telinga
menjadi tumpuan, tetapi pendengaran Allah, bukan mulut menjadi keinginan, yang menjadi
keinginan mereka ialah suara (kata-kata) Allah Allah. Yang berkeinginan dan berkehendak
itu, adalah Allah swt. Yang berkuasa dan berilmu itu adalah Allah. Inilah kaedah pegangan
iktikad orang makrifat, dalam menterjemah sifat ma'ani. Yang menjadikan hati kita penuh
yakin kepada Allah.

Tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk dipelajari dan difahami, adalah untuk
membawa kita kepada suatu keinsafan diri, bahawa semua yang kita miliki dan yang ada
pada diri kita ini, sebenarnya adalah milik Allah. Setelah kita sedar yang segala-gala sifat itu
menjadi milik Allah, hendaklah kita kembalikannya semula kepada Allah. Seandainya yang
menjadi milik Allah itu telah kita serahkan semula kepada Allah, semasa hayat masih
dikandung badan dan semasa masih berada didalam dunia, apabila kita pulang
kerahmatullah kelak (setelah kita mati nanti), tidak ada apa-apa lagi yang perli ditanya,
perlu dihisab dan perlu dipersoalkan oleh Malaikat Mungkar Dan Nakir.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Perkara yang membuat kita ditanya dan disoal itu, adalah karena hutang sifat kita
semasa di dunia masih belum dijelaskan, mereka yang belum melangsaikan pinjaman dan
yang belum mengembalikan hak Allah semasa hayat masih ada dan semasa masih hidup
didunia, hutang sifat yang kita pinjam dari Allah, hendaklah dikembalikan semula kepada
Allah. Jika ianya dilangsaikan semasa di dunia, tidaklah ada lagi sial jawab dari Mungkar
dan Nakir didalam kubur.

Apa lagi yang Allah hendak tuntut, apa lagi yang Allah hendak tagih dari kita, jika
semuanya telah dikembalikan dan diserahkan kepadaNya. Hidup dan mati kita telah kita
serahkan kepada Allah, jasad zahir dan batin telah dikembalikan kepada Allah. Apa lagi
yang hendak Allah dakwa!, apa lagi yang hendak Allah tuntut !, yang hendak Allah dakwa
dan tuntut itu, bagi mereka-mereka yang kembali kepangkuannya dengan tidak
menjelaskan hutang sifat dan tidak mengembalikan hakNya. HakNya diambil pakai, diambil
guna, tapi tidak pandai untuk memulangkan dan tidak pula pandai mengembalikannya
semula kepada Allah.

Jika semuanya telah dikembalikan kepada yang empunya, nescaya tidak ada lagi,
tuntut menuntut, dakwa-dakwi dan tidak lagi ada soal jawab kubur, malah dipintu surgalah
kita disambut oleh Allah swt.

Inilah tujuan pengajaran sifat ma'ani diperkenalkan. Ini adalah tujuan sifat ma'ani
diketengahkan untuk di ambil tahu oleh sekalian kita. Dengan mempelajari sifat ma'ani,
akan membawa kita tahu untuk membezakan, yang mana hak kita dan yang mana hak
Allah swt. Perhatikan sekali lagi perkara ma'ani dan hendaknya kita hayati dan tilik dengan
mata hati yang kasyaf.

Selagi hayat masih dikandung jasad, kita di kehendaki mengembalikan hak kepada
yang berhak, nantinya bila tiba di alam akhirat kelak, kita akan mendapat layanan dan

http://hambayangfana.blogspot.co.id
sambutan yang istimewa dari penguasa langit, lain dari yang lain. Kita akan ditempatkan
bersama orang yang sempurna lagi terpuji. Roh orang-orang sebeginilah di namakan roh
mutmainnah, roh yang diterima Allah. Tempat kita itu, adalah disisi Allah, bukannya disisi
tanah yang mengandungi ulat dan cacing.

Roh sebeginilah yang dikatakan roh yang suci bersih, roh yang sentiasa disertai air
sembahyang, roh yang sentiasa di iringi dengan kalimah syahdah. Inilah roh mereka-
mereka yang mati sebelum mati dan roh mereka-mereka yang mengenal diri semasa
didunia. Inilah yang dikatakan roh yang mengenal tuannya. Tuan yang empunya roh itu,
tidak lain dan tidak bukan hanya Allah swt yang satu lagi esa. Inilah penjelasan dan
kupasan tentang kefahaman ilmu mengenal Allah (makrifat) melalui pelajaran sifat ma'ani
dalam sifat 20, yang bukan sahaja setakat tahu makna tetapi hendaklah dihayati dengan isi
disebaliknya.

LAQAD JA AKUM LAKARAN dan KUNCI WASIAT..

Salam tentang komen saya berkaitan posting sdra SALAM AKHIR yang sangat
menakjubkan itu ..ianya berkaitan rapat dengan apa ygmahu saya sampaikan dalam
Lakaran Tulisan Tangan posting yang lalu ...

Saya telah satukan huraian saya dalam komen komen itu supaya senang sdra baca spt
dibawah :
http://hambayangfana.blogspot.co.id
HURAIAN..

Zat Allah itu pada kita ..boleh kita kategorikan kepada dua ..pertama POSITIF - Asmaul
HusnaNya HADI maksudnya MEMBIMBING...kesannya disebut dalam Ilmu sebagai
MAKRUF ...kedua NEGATIF ( yakni pasangan positif ) Asmaul HusnaNya MUDHIL
maksudnya MENYESATKAN kesannya dalam ilmu disebut sebagai MUNGKAR ...

Bila kedua-dua kategori Zat ini SENTIASA MELIPUTI ALAM dan diri kita sbg manusia maka
KEUPAYAAN SEGALA Sifat Sifat Allah itu sentiasa ADA bersama kita ...umpama cahaya
matahari sentiasa ADA..tak pernah takda...malam dimana takda cahaya matahari bukan
bermakna cahaya matahari tak ada.

Contohnya ..Zat Allah itu ada yang Asmaul HusnaNya ..YA RASHID maksudnya MAHA
MENYEMBUHKAN ...Keupayaan Menyembuhkan ini telah DIANUGERAHKAN Allah sejak
dunia ini ujud..sentiasa ADA...diluar badan kita ..dan didalam badan kita juga//contoh lagi
Allah itu KAYA dan MENGAYAKAN ..Asmaul Husna utk KAYA = Ya Ghaniyyu manakalan
Asmaul husna Yang MENGAYAKAN ialah YA MUGHNIY..maksudnya Keupayaan Allah dan
Iradat Allah hendak mengayakan kita itu SENTIASA ADA..sudah Tuhan sediakan untuk
kita..begitulah dengan lain lain Keupayaan yang dijelaskan oleh lain lain Asmaul Husna...

Itulah yang bapak Dr Bagindo Muchtar maksudkan bila berkata * apa lagi yang kamu minta
pada Tuhan sedangkan apa yang kamu pinta itu telah Tuhan SEDIAKAN untuk kamu
..kejahilan dan kebodohan kamulah yang membuatkan kamu hidup susah...* ini kata kata
BBM yang menggoncang kepala saya sejak lama ..dan Alhamdulillah Allah sampaikan
pemahamannya..

Dalam KUANTUM FIZIK kita tahu KUDRAT ILAHI itu meruapakan ZAT MUTLAK yang
merupakan GELOMBANG TENAGA YG BERGETAR disebut sebagai GELOMBANG ALAM
KETUHANAN istilah sainsnya TENAGA KOSMIK....
http://hambayangfana.blogspot.co.id
GELOMBANG TENAGA KOSMIK ini sentiasa ada MELIPUTI sekalian Alam ..macam
gelombang RTM -lah sentaiasa ada diudara..kita buka TV atau tidak gelombang sentiasa
ada..mcm handphone kita juga ..gelombang yg dikodkan pada nombor handphone itu
sentiasa ada wp kita tak guna hp tu..

Dalam Ilmu Hakikat kita ini disebut MUHAMMAD ...Ruh Allah yang menjadi Nyawa kita
disebut Nur Muhammad ..dalam IP BBM bapak menyebutnya sebagai AKU....
Dalam Ilmu utk faham disebut ada dua Muhammad yakni Muhammad Awal ( Ruhullah ) dan
Muhammad Akhir yakni badan. Pada hakikatnya ada SATU dan ESA je sebab Nur
Muhammad itu ( Muhd Awal ) telah MENZAHIRKAN ( Tajalli ) menjadi JASAD ( Muhd Akhir )
mcm biji sawit GHAIB menjadi pokok sawit ..mati setitik dan sebutir telur dah jadi tulang
daging darah dan pelabagai anggota kita mengandungi 16 trillion sel sel ( particle )

Ruhullah itu ada DUA WAJAH..satu menghadap ke Zat Allah Yang Meliputi sekalian alam
itu satu menghadap kebadan..

Wajah Ruhullah yang menghadap Ke Alam itu ( Allah ) bertindak sebagai PENERIMA atau
RECEIVER manakala apa yang diterima disampaikan kejasad kita sebut sbg
TRANSMITTER....

Keseluruhannya kita katakan ZAT ALLAH YG MELIPUTI SEKALIAN ALAM itulah


PEMANCAR segala KEMUNGKINAN ...dengan pelbagai KEUPAYAAN....manakala kita ini
pula adalah PENERIMA atau RECEIVER..mcm radio-lah ..RTM itu sentiasa memancarkan
gelombangnya..radio kat rumah tu yang menjadi penerima dan ke-nyata-an RTM itu...mcm
itulah kita ini semuanya atas Sifat kita sebagai KEKASIH ALLAH...

Dalam Ilmu BBM ada dua perkara pertama disebut sebagai GERAK kedua apa yg disebut
sebagai RASA yakni getaran dihujung hujung jari....

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Untuk dapat GERAK dan RASA..passwordnya ialah DUA KALIMAH SYAHADAH..sebab
atas Kehendak Allah ..Dua Kalimah Syahadah itu adalah password untuk mendapat
gelombang Alam Lahut / Gelombang Ketuhanan / Gelombang Tenaga Kosmik ...
Maksudnya Kalimah Syahadah MENGHASILKAN Gelombang Ketuhanan / Gelombang
Kosmik..disini maksudnya ialah ..dengan ada RASA Getaran Lataif ( Seni / halus / suci ) kita
sebagai penerima sudah bersedia untuk MENERIMA atau CONNECT dengan pelbagai
Gelombang Zat Allah spt yg dijelaskan oleh 99 Asmaul Husna itu.. yang sudah TERSEDIA
diluar kita ..dia alam kita ini ( Zat Allah Meliputi seluruh Alam )....

Baiklah ..tak kanlah kita mahukan kesemua 99 gelombang yang membawa pelbagai
keupayaan itu ? Pada satu satu masa kita berdoa untuk sembuh ..maka SANGKA SANGKA
kita atau NIAT kita ialah untuk sembuh dari sakit...Asma' Allah Yang Maha Menyembuhkan
ialah YA RASHID jadi bagaimana kita nak CONNECT dengan gelombang tenaga Ya Rashid
itu ?????

Caranya begini...kita TENANG dahulu..baca password dan bila RASA GETARAN dihujung
jari mula TERASA kita lafazkan NIAT kita....dan kita ZIKIR Ya Rashid didalam HATI
..tumpukan kpd Tafakur kita hingga kita rasa ...Yang Wujud Hanya Allah..dalam kes radio
bila kita cari stesyen dengan memutarkan knob tu dan bila radio berbunyi ikut stesyen yg
kita nak ( ikut gelombang ) bermakna gelombang stesyen pemancar SUDAH SAMA atau
ESA dengan gelombang diradio ,,maka berbunyilah radio itu..ini disebut sebagai
RESONANSI....dah berbunyi radio ..apa kita nak buat..takda apa ..dengar sajalah radio itu
sebab itulah hajat atau niat kita..jangan diusik lagilah knob cari stesyen itu..dlamkes tafakur
mcm mana kita tahu gelombang Ketuhanan dan RESONAN dengan gelombang AKU / Diri
kita ? selagi lg saya jelaskan ..saya hisap rokok dulu ya ....

oops ..saya teruskan..dalam tafakur kaedah BBM ...tanda kita dah berresonansi atau
gelombang dah sama ..atau dah ESA ada dua ...pertama zikir hati tu berhenti sendiri ( tiba
http://hambayangfana.blogspot.co.id
tiba kita sadar kita dah tak berzikir lagi ) kedua ialah RASA dihujung jari itu terasa amat
kuat..maka teruskanlah tafakur hingga RASA itu reda / berkurangan dgn sendirinya....

apa nak buat lagi setelah gelombang berresonansi...dalam tafakur kita itu ? ..mcm radio
tadilah..TAKDA apa melainkan BERSERAH dan MENYERAHKAN pada Zat Allah untuk
menunaikan NIAT kita itu dengan PENUH YAKIN dan jangan sekali-kali guna OTAK /
FIKIRAN ..untuk menghuraikan bagaimana Allah akan sembuhkan kita umpamanya
....YAKIN sepenuhnya Allah akan sembuhkan kita ..bagaimana Allah nak
sembuhkan..bukankah Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Penyayang..Bukankah kita ini
KEKASIHNYA...

Kalau nak KAYA ..maka zikirnya YA MUGHNIY..katalah kita ni kerani je..tak munasabah
boleh jadi JUTAWAN ...ini SALAH sebab kita TAK YAKIN pada Tuhan dan kita tak
berpegang bahawa pada Tuhan tidak ada YG MUSTAHIL..Tuhan nak bagi kita RM ..tak
perlu nak dicetak ????mcm tu...jangan guna AKAL FIKIRAN lagi sebab akal fikiran ini
memang nak berhujah je kerjanya...

Rumusan KUNCI WASIATNYA ialah : ALIF itu Allah..yakni KUN...yakni yang


menganugerahkan pelbagai Gelombang Kudratullah ikut sangka sangka kita...MIM itu
Muhammad yakni Sifat Allah dimana Allah ME-NYATA-KAN pelbagai Keupayaannya
( FAYAKUN - Jadi & Nyata )...ALIF itu TRANSMITTER...MIM itu RECEIVER..macm
RTM ....dan Kotak TV dirumah...dan Gelombang Megahertz...ketiga-tiga mesti ada barulah
ada KESAN dan HASIL pelbagai program RTM itu..begitu jugalah umpama kita manusia
sebagai Tajalli Tuhan dimana Tuhan MENAMPAKKAN KEUPAYAAN 2 NYA YG
AGUNG....itulah KUNCI WASIAT - ALIF - LAM - MIM yang saya terima
pemahamannya..sebab kita ini sbg manusia BUKAN APA APA dan BUKAN SAPE SAPE
...La Maujuda Illalah ..

http://hambayangfana.blogspot.co.id
sekian pemahaman saya ..entah betul atau tidak saya serahkan semuanya kepada Allah
SWT jua ..dan saya sampaikan sebagai sandaran Allah jua dgn hati yang ikhlas
seikhlasnya...demi TAFAKUR ISLAMIK yang snagat tinggi nilai ibadahnya dibulan
Ramadhan yang MULIA ini. Allah Hu Akbar.

Saya yakin kita semua disini..ahli ahli laman ini SUDAH CUKUP pemahaman tentang Ilmu
Hakikat dan sudah TAHU sape kita dan kaitan serta hubungan kita dgn Allah SWT. Untuk
Kenal DIRI dan Kenal Allah SWT kaedahNya ialah TAFAKUR dan cara pengenalan /
Makrifahnya ialah dengan RASA..dan KESADARAN ...Carilah Kaedah TAFAKUR ISLAM
yang anda suka bersesuaian dengan diri anda sendiri.

Bagi saya tidak ada yang SEMUDAH - SEINDAH dan EEFEKTIF berbanding Kaedah
BBM...bukan promosi ..tetapi berdasarkan kajian ilmiah saya sendiri...Ini adalah karena
selain mencapai TAUHID HAKIKI - La Maujuda Bihaqqi Illallah - Tiada Yang Wujud Hanya
Allah..kaedah BBM ini juga WAJAR diapplikasikan dengan percubaan percubaan ( baca
pengalaman ) untu kita dapat MENIKMATI kehidupan DUNIAWI dengan Bahagia,,baik dari
segi kesehatan, rumahtangga mahupun kewangan atau rezeki ...

semuanya TELAH DIANUGERAHKAN Allah SWT kepada kita...karena MUHAMMAD itu


adalah KEKASIH Allah....dan badan itu KEKASIH Nyawa..dan Nyawa memangnya mahu
badannya HIDUP BAHAGIA dan SEJAHTERA....Firman Allah SWT ..maka NIKMATILah
olehmu DUNIA dan NEGERI AKHIRAT yang telah diAnugerahkan kepadamu ..Akhirat disini
maksudnya BATIN...dan Dunia = Zahir...

Rujuk Lakaran ...Yang disebut sbg DIRI RAHSIA atau AKU atau RUH ALQUDSI atau
TIFLUL MAANI atau DIRI YG SEBENARNYA DIRI itu ialah ZAT ALLAH YG MUTLAK YG
MELIPUTI DIRI kita YG MEMILIKKI SEGALA SIFAT MAKNUYAHNYA atau SIFAT MAHA
MAHA itu...KESAN nya pada badan manusia UMUMNYA hanyalah SIFAT MAANI yg 7 itu.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Ini adalah karena Atas KehendakNya INSAN itu adalah AKU pada MAKAM KEHAMBAAN
dan ini terjadi karena Allah MENGHADKAN Keupayan Sifat Maknuyah itu dengan LAPISAN
LAPISAN CAHAYA KETUHANAN yang disebut sebagai RUH SULTANI - RUH RUHANI dan
JASMANI...bila AKU sendiri KEMUKA maka kesan kesan Maknuyah itu akan NYATA atas
KehendakNya bukan Kehendak kita sebab hal ini hanya berlaku apabila kita membuangkan
segala kewujudan kita dalam KESADARAN yakni IMAN dan TAUHID kita.....dalam ilmu ini
disebut sebagai MAKAM KETUHANAN .....yakni MAKAM AKU kata Bapak BBM..

Alhamdulillah pada jam 2.30 pagi ini ..saya sudah dapat menyampaikan huraian rajah
lakaran yg susah utk difaham jika tidak ada PENJELASANNYA....Salam saya dah nak tidur

SIFAT DUA PULUH

Apakah maksud sifat dua puluh ?

Sifat dua puluh adalah satu konsep ilmu yang ciptaannya sangat ajaib, didalam
mentafsir kaedah mengenal Allah melalui ilmu makrifat.

Sifat 20 dicipta oleh ilham para sufi dan para aulia' terdahulu, bagi tujuan mengajar
kita menuju jalan mengenal Allah. Barang siapa mempelajari sifat 20 dengan bersungguh-
sungguh, berserta faham akan maksud dan makna yang tersirat, InsyaAllah ia akan dapat
mengenal Allah swt dengan nyata dan terang. Banyak cabang ilmu dan banyak kaedah

http://hambayangfana.blogspot.co.id
pembelajaran yang telah didedahkan melalui kitab, melalui pondok, melalui sekolah dan
tidak kurang pula melalui guru-guru agama.

Semua itu bertujuan bagi mencari jalan, mencari cara dan mencari kaedah untuk
mengenal Allah. Diantara banyak-banyak cara dan diantara banyak-banyak kaedah, cara
dan kaedah terbaik bagi mengenal Allah swt adalah dengan mempelajari sifat 20.

Allah tidak akan dapat dikenal melalui mata zahir, ianya dapat dikenal melalui mata
hati dengan mempelajari sifat-sifatnya. Tidak ada jalan, tidak ada cara dan tidak ada
kaedah lain untuk mengenal Allah, melainkan melalui ilmu mengenal sifat-sifatNya. Hanya
melalui sifat-sifatNya sahaja yang membolehkan kita mengenal Allah Ta'ala. Andaikata
adanya jalan lain, selain dari kaedah itu, ternyata ianya adalah dusta yang teramat besar.

ADAKAH ALLAH LAYAK UNTUK DISIFAT-SIFATKAN ?

Sebelum sifat 20 diperjelaskan, suka dingatkan disini bahawa, Allah sebenarnya


tidak bersifat dan Allah sebenarnya tidak boleh disifatkan. Seandainya Allah bersifat bererti
Allah itu boleh di kualiti dan boleh dikuantitikan. Sedangkan Allah tidak berbilang, tidak
berkualiti dan tidak berkuantiti. Maha suci Allah dari sifat berbilang-bilang yang menyerupai
sifat makhluknya. Allah tidak boleh dipersifatkan.

Allah itu sangat tinggi, sangat jauh, lebih tinggi dan lebih jauh dari kedudukanNya.
Hingga tidak sampi akal untuk mengkajiNya. Allah tidak terhad dan Allah tidak terbatas,
sedangkan akal kita amat terhad dan amat terbatas. Allah tidak ada awal, dan tidak ada
akhirnya. Tidak mungkin tercapai oleh akal untuk menjangkaunya.

Mana mungkin Allah bersifat, Allah adalah suatu zat yang bukan Ain ( bukan benda ).
Allah bukan barang, dan Allah bukan sesuatu. Allah adalah perkara yang tidak boleh
disifatkan. Sifat yang disifatkan dan sifat yang dinyatakan itu adalah semata-mata thamsil,

http://hambayangfana.blogspot.co.id
semata-mata misalan, semata-mata usul, semata-mata perumpamaan dan semata-mata
sekadar contoh bagi mempermudahkan faham.

APAKAH ASAS SIFAT 20 ?

Sifat 20 berasaskan kepada 4 perkara ;

1). Zat. ( roh )


2). Sifat. ( rupa )
3). Afa'al ( perangai-perbuatan )
4. Asma' ( nama )

APAKAH SIFAT ALLAH YANG 20 ITU ?

1. Ujud = Ada
2. Qidam = sedia
3. Baqa' = kekal
4. Mukholafatuhu lilhawadis = bersalahan dengan yang baharu
5. Qiamuhu binafsih = berdiri sendiri
6. Wahdaniah = esa
7. Qudrat = kuasa
8. Irodat = menghendaki
9. Ilmu = mengetahui
10. Hayat = hidup
11. Sama' = mendengar
12. Basor = melihat
13. Kalam = berkata-kata
14. Qodirun = maha berkuasa
15. Muridun = maha menghendaki
http://hambayangfana.blogspot.co.id
16. Alimun = maha mengetahui
17. Hayyun = maha hidup
18. Sami'un = maha mendengar
19. Basirun = maha melihat
20. Muutakallimun = maha berkata-kata

20 sifat Allah itu terbahagi kepada berapa bahagian ?

20 sifat-sifat Allah terbahagi kepada 4 bahagian.

1. Bahagian sifat Nafsiah


2. Bahagian sifat ma'ani
3. Bahagian sifat ma'nawiah
4. Bahagian sifat salbiah

Bahagian yang empat inilah yang dikatakan menjadi intipati dan isi kepada ilmu
mengenal Allah. 4 bahagian inilah nantinya yang akan mengupas dan yang akan
menterjemahkan sifat 20. Barang siapa yang berhajat untuk mengenal Allah, perlu diambil
perhatian kepada ke empat-empat bahagian tersebut.

SIFAT NAFSIAH

Apakah sifat yang terkandung dalam nafsiah ?

Sifat yang terkandung didalam nafsiah itu, hanya satu iaitu sifat wujud. Wujud yang
membawa maksud ada. Adanya Allah itu, meliputi segala yang zahir mahupun yang batin.

Apakah maksud sifat nafsiah (menolak) ?

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Sifat nafsiah itu, bermaksud menafikan keujudan yang lain selain Allah. Hanya Allah
sahaja yang ada dan hanya Allah sahaja yang wujud. Wujudnya Allah itu, adalah ujud yang
disertai sekali dengan zat, sifat, afa'al dan asma'Nya. Zat Allah itu merupakan sifatNya dan
sifat Allah itu adalah juga merupakan zatNya. Zat dengan sifat Allah itu adalah ujud yang
terpisah, berpisah, bercerai dan ujud yang tidak berasingan.

Keujudan zat dengan keujudan sifat Allah itu, adalah esa (satu juga pada
hakikatnya). Seumpama sifat ilmu dengan sifat kalam Allah. Apabila sifatnya bersifat
mendengar (sama'), bererti zatnya juga, bersifat berpendengaran (sami'un). Apabila Allah
bersifat melihat (basor), bererti zatNya bersifat berpenglihatan (basirun). Apabila Allah
bersifat kuasa (kudrat), bererti zatNya bersifat kekuasaan (kodirun). Begitulah seterusnya
dengan sifat-sifatnya yang lain.

Sifat Allah itu seumpama sifat angin dengan sifat bergoyang (bertiup). Apabila kita
melihat pokok bergoyang, itu menandakan adanya angin. Bergoyangnya pokok, adalah
bagi menandakan bergoyangnya angin. Sifat bergoyang itu sebenarnya bukan sifat pokok,
yang bergoyang itu sebenarnya adalah sifat angin. Walau bagaimana pun sifat angin dan
sifat bergoyangnya pokok itu, adalah satu sifat yang sama. Jika tidak ada angin, masakan
pokok bergoyang. Pokok tidak boleh bergoyang dengan sendiri, jika bukan karena digoyang
dan ditiup oleh angin. Begitulah juga sifat Allah dengan ZatNya, tidak boleh bercerai.

Begitulah juga kaedahnya kita mentafsir sifat 20. Apabila ianya dirujuk kepada diri.
Barulah kita dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Seandainya sifat 20 itu, tidak
dirujuk kepada diri, selama itulah kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah. Dalam
memahami sifat nafsiah (nafi) iaitu sifat menafikan, menidakkan, atau sifat menolak. Kita
dikehendaki menidakkan sifat-sifat yang lain selain Allah. Kita dikehendaki menidakkan
kewujudan sifat alam dan sifat diri kita sendiri. Menidakkan sifat diri kita, supaya ianya
menjadi tidak ada dan tidak wujud (binasa). Cara untuk menidakkan sifat diri kita dan untuk
http://hambayangfana.blogspot.co.id
mewujudkan sifat Allah itu, adalah dengan cara, menyerah atau membinasakan diri kepada
Allah.

Bilamana sifat telinga telah dipulangkan, ianya akan disambut dengan sifat
pendengaran Allah. Bilamana sifat mata telah binasa, akan disambut dengan sifat
penglihatan Allah. Sifat berfikir, akan disambut dengan ilmu Allah. Selagi sifat mata menjadi
sebahagian daripada sifat kita, sudah pasti kita tidak akan dapat melihat Allah melalui
pandangan dan penglihatanNya.

Setelah sifat mata kita itu dipulangkan kepada Allah, akan bertukar menjadi sifat
basor Allah, barulah sifat penglihatan basirun Allah itu, boleh melalui sifat mata kita.
Bermaknanya disini bahawa, sifat mata yang ada pada kita sekarang ini, tidak boleh dan
tidak layak menerima penglihatan Allah melaluinya, melainkan sifat mata makhluk telah
binasa dan bertukar kepada sifat wajah Allah.

Maka kita tidak layak untuk menanggung atau menerima sifat penglihatan Allah yang
maha tinggi. Sifat makhluk tidak layak untuk menanggong sifat Allah, melainkan sifat kita itu
ditukar milik, supaya menjadi milik Allah, setelah melalui proses penyerahan diri
(penyerahan tugas dan penyerahan hak milik) kepada Allah. Apabila sudah menjadi milik
Allah, barulah mata kita itu, dapat melihat melalui penglihatan Allah. Apabila mata kita itu
telah menjadi milik Allah, barulah sifat basirun (penglihatan) Allah itu dapat terpancar
melalui mata kita.

Apabila penglihatan Allah sudah menembusi mata kita, dengan sendirinya sifat mata
akan binasa. Mata makhluk akan hangus terbakar, binasa dan lenyap lantaran dipenuhi
oleh cahaya Allah. Cahaya penglihatan Allah itu sendiri, yang membinasakan sifat mata
kita. Hanya Allah sahaja yang dapat menanggung sifat Allah. Sifat mata kita tidak dapat
untuk menanggung sifat penglihatan Allah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Selagi mata masih bersifat makhluk atau masih menjadi sebahagian dari anggota
diri kita, selagi itulah wajah Allah tidak boleh mengambil tempat. Selagi sifat Allah tidak
dapat mengambil tempat, selagi itulah, kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah
melaluinya. Inilah konsep nafsiah, iaitu konsep menidakkan sifat makhluk supaya dapat
menjadikan semuanya bersifat wajah Allah. Setelah kita berjaya dalam menidakkan, fana'
dan leburkan diri kita ke dalam cahaya Allah, maka jadilah telinga kita itu, merupakan
pendengaran Allah, jadilah mata kita itu, penglihatan Allah dan sebagainya.

Mata kita tidak layak untuk menanggung penglihatan Allah. Begitu juga dengan sifat-
sifat yang lain, ianya merupakan pakaian dan persalinan Allah. Sifat kita selaku makhluk,
tidak layak untuk memakai yang menjadi persalinan Allah. Seandainya kita terpakai
persalinan Allah, cepat-cepatlah bertaubat.

Apabila Allah bersifat basor, Allah juga bersifat basirun. Apabila Allah bersifat qudrat,
Allah juga bersifat Qodirun dan sebagainya. Oleh yang demikian bagi yang telah sampi
kepada mskam (tahap) makrifat, menjadikan yang dilihat itu, adalah juga yang melihat dan
yang melihat itu, adalah juga yang dilihat, yang disembah itu, adalah yang menyembah dan
yang menyembah itu, adalah juga yang disembah. Dengan syarat diri kita telah binasa,
mati, lebur, dan karam dalam zuk cahaya wajah Allah. Walaupun Allah itu bersifat dengan
20 sifat, namun semua 20 sifat itu, adalah esa (satu) juga dalam zatNya. Walaupun sifat
Allah itu banyak, tetapi ia satu dalam zatNya.

Yang menjadikan sifat Allah itu berbilang-bilang adalah dikarenakan khayalan fikiran
dan lemahnya sangkaan akal manusia. Sedangkan pada dasar dan pada hakikatnya,
kesemua sifat Allah itu adaslah satu (esa), tidak berbilang-bilang. Mempelajari, memahami
serta mengetahui sifat nafsiah bertujuan memberi peringatan kepada kita bahawa, tidak ada
yang berbentuk, melainkan yang berbentuk itu adalah bentuk bagi Allah dan tidak ada yang

http://hambayangfana.blogspot.co.id
bersifat, melainkan yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah. Tidak ada yang berupa
melainkan yang berupa itu adalah rupa bagi Allah.

Di dalam memahami sifat nafsiah, kita dikehendaki menafikan, mematikan,


melenyapkan, menghilangkan dan membinasakan semua sifat-sifat yang lain selain dari
sifat Allah. Di peringkat pengajian ilmu sifat nafsiah, kita dikehendaki melihat bahawa hanya
Allah sahaja yang ada, ujud, wujud dan maujud. Keujudan makhluk alam pada peringkat ini
belum lagi boleh diletak dalam gambaran fikiran dan belum lagi boleh dibayangkan dalam
ciptaan khayalan akal. Yang ada dan yang ujud pada peringkat sifat nafsiah itu, hanyalah
Allah semata-mata.

Sifat nafsiah adalah sifat bagi mengajar kits tentang kewujudan Allah secara mutlak
dan secara "wujudiah". (wujud yang meliputi), meliputi sekslian alam, meliputi sekalian
makhluk dan meliputi sekalian diri kita. Sifat nafsiah dalam wujudiah itu adalah membawa
makna keujudan Allah secara mutlak, secara bersendirian, secara keesaanNya, tanpa
adanya lagi yang lain selain Allah. Seumpama bukan pokok yang bergoyang tetapi yang
bergoyang itu adalah angin. Walaupun kita nampak yang bergoyang itu pokok, didalam
kefahaman pengajian ilmu makrifah yang bergoyang itu bukan lagi pokok, sesungguhnya
yang bergoyang itu adalah sifat angin. Inilah kedudukan sifat nafsiah dalam tafsiran
makrifat.

Di dalam kita belajar sifat nafsiah dalam sifat 20 kita jangan lupa untuk
menghubungkaitkan dengan kalimah syahadah. Pelajaran sifat nafsiah dalam sifat 20,
bukan sekadar bertujuan untuk dihafal. Pelajara sifat nafsiah itu selain bertujuan untuk
mengenal sifat Allah melalui sifat 20, ianya juga adalah bertujuan bagi mentafsir kalimah
syahdah. Sifat nafsiah itu, adalah satu kaedah kiasan sahaja. Tujuan sebenar kiasan sifat
nafsiah itu, adalah disasarkan kepada tafsiran dan pemahaman kalimah syahdah.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Sifat nafsiah apabila dikaitkan, diletak atau diterjemahkan pada tafsiran syahadah, ia
berada pada kedudukan kalimah "LAA" (iaitu kalimah nafi). Kalimah nafi adalah kalimah
menolak yang lain selain Allah, membinasakan yang lain selain Allah. Kuwujudan sifat-sifat
yang lain itu, seumpama bayang cahaya. Apabila hilang cahaya maka hilanglah bayang.

Apabila kita dapat memahami dan menghayati pengertian isi ilmu nafsiah dalam sifat
20 dengan penuh penghayatan, ianya membuatkan ucapan syahdah kita, benar-benar
diterima Allah.

Bagaimana cara ucapan syahdah yang penuh makna ! Adapun ucapan syahdah
yang penuh makna itu, adalah dengan melafazkan ungkapan kalimah "Laa" dengan
menghilangkan dan membinasakan sifat-sifat yang lain, selain Allah. Sehingga tidak ada
lagi keujudan bulan, bintang, alam, dunia dan keujudan kehidupan diri, melainkan Allahlah
yang ujud, wujud dan maujud, pada sekalian wajah alam.

Ucapan perkataan "Laa" adalah tahap ucapan yang tidak ada lagi sesiapa. Tidak
ada apa-apa dikiri, dikanan, diatas, dan tidak apa-apa lagi dibawah kita, melainkan semasa
melafazkan kalimah "Laa" kita dikehendaki mengisi keyakinan hati dan mengisi
kepercaysan akal, bahawa tidak ada yang lain lagi pada keujudan alam ini, melainkan
sekalian yang ada ini, adalah wajah Allah (yang meliputi segalanya). Itulah diantara tujuan
kita mempelajari sifat nafsiah ( sifat 20 )

APAKAH BENTUK SIFAT NAFSIAH ?

Sifat nafsiah adalaj berbentuk "PERKHABARAN", sifat yang hanya ada pada zat
Allah dan tidak memberi bekas kepada alam, sifat nafsiah itu, tidak pula boleh dikualiti dan
tidak boleh dikuantitikan. Adanya Allah adalah ada yang mutlak, ada yang tidak dikarenakan
oleh suatu karena yang lain.

http://hambayangfana.blogspot.co.id
Sifat nafsiah adalah sifat yang mengkhabarkan kepada kita bahawa Allah itu ada,
adanya Allah itu melalui perkhabaran yang tidak dapat dipegang atau dirasa dengan
tangan, tidak dapat dizahirkan untuk dilihat. Perkhabaran adalah perkara yang tidak boleh
disifatkan, tidak boleh dikualiti atau dikuantitikan. Ia hanya boleh dirasa dan diyakini oleh
hati tanpa usul

BERHATI HATI DIUSIA 40TAHUN


Tak ada yang menyadari bahwa dalam al-Quran ada perkara tentang usia ini. Tentu
ada yang sangat penting, perlu diperhatikan dan diambil serius akan perkara ini. Allah swt.
berfirman,
‫ي ووُأومن‬‫ت وعولــلي ووُوعولــىِ ووُالتــود ل‬ ‫ك اللتتــىِ أومنوعممــ و‬ ‫ب أوموُتزمعتنــىِ أومن أومشــلكور تنمعوموتــ و‬
ُ‫شلدهل ووُوبلووغ أومروبتعميون وسوناة وقاَول ور ر‬
‫وحلتىِ إووذَّا وبلووغ أو ل‬
‫ك ووُإترُنىِ تمون امللممسلتتمميون‬ ‫صلتمح تلىِ تفىِ لذَّرُرليتتىِ إترُنىِ لتمب ل‬
‫ت إتلومي و‬ ‫ضاَهل ووُأو م‬
‫صاَلتاحاَ وتمر و‬ ‫أومعومول و‬
"Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku,
tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan

http://hambayangfana.blogspot.co.id
kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang
engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak
cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk
orang-orang muslim." (al-Ahqaf: 15)
Usia 40 tahun disebut dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia
mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fizikal, intelektual, emosi, mahupun
spiritualnya. Benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia
dewasa yang sebenar.
Doa yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang
berusia 40 tahun dan ke atas. Di dalamnya terkandung penghuraian yang jelas bahawa
mereka; telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang
positif, telah mempunyai keluarga yang harmoni, kecenderungan untuk bertaubat dan
kembali kepada Allah

Pada ayat yang lain, firman Allah;


‫أوووُولمم لنوعرُممرلكمم وماَ ويوتوذَّلكلر تفميته وممن وتوذَّلكور ووُوجاَوءلكلم اللنتذَّميلر‬
Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempoh yang cukup untuk berfikir bagi
orang-orang yang mahu berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?
(al-Fathir: 37)
Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq,
yang dimaksud dengan "umur panjang dalam tempoh yang cukup untuk berfikir" dalam ayat
tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.Menurut Ibn Kathir, ayat ini memberikan
petunjuk bahawa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbaharui
taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh sungguh
Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janjiNya dalam
ayat selepas itu: (maksudnya) Kematangan. Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita
http://hambayangfana.blogspot.co.id
bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan
kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu
dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak hairan tokoh-tokoh pemimpin muncul
secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi s.a.w, seperti yang disebut oleh Ibn 'Abbas:
"Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun" (riwayat al-Bukhari).
Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga
dengan nabi2 yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.
Banyak negara menetapkan untuk menduduki jabatan2 elit seperti ketua negara,
disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri mengakui prestasi
seseorang mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden
pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44
tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.
Mengapa umur 40 tahun begitu penting .
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) period,
iaitu :
1. Kanak-kanak ( sejak lahir hingga akil baligh )
2. Muda atau syabab ( sejak akil baligh hingga 40 tahun )
3. Dewasa ( 40 tahun hingga 60 tahun )
4. Tua atau syaikhukhah ( 60 tahun hingga mati )
Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa
mudanya dan beralih kepada masa dewasa penuh. Kenyataan yang paling menarik pada
usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama sedangkan
semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Seolah-olah macam satu fitrah di usia ini
ramai yang mula menutup aurat dan mendekati kuliah-kuliah agama.
Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,
‫ ووُإتوذَّا‬، ‫ ووُإتوذَّا وبولوغ تسرُتميون وسوناة وروزوقله ال وتوعاَولىِ املتوناَوبوة إتولميته‬، ‫حوساَوبله‬
‫ف ال وتوعاَولىِ ت‬ ‫لوعمبلد امللممسلتلم إتوذَّا وبولوغ أومروبتعميون وسوناة وخلف و‬
‫ ووُإتوذَّا وبولوغ تتمستعميون‬، ‫ت ال وتوعاَولىِ وحوسوناَتتته ووُوموحاَ وسرُيوئاَتتته‬‫ ووُإتوذَّا وبولوغ وثوماَتنميون وسوناة وثلب و‬، ‫وبولوغ وسمبتعميون وسوناة أووحلبله أومهلل اللسوماَتء‬
http://hambayangfana.blogspot.co.id
‫ا تفىِ أومر ت‬
‫ضته‬ ‫ب تفىِ اللسوماَتء أوتسميور ت‬
‫ ووُوكوت و‬، ‫وسوناة وغوفور ال وماَ وتوقلدوم تممن وذَّمنتبته ووُوماَ وتأ ولخور ووُوشلفوعله ال وتوعاَولىِ تفىِ أومهتل وبميتتته‬
‫– روُاه الماَم أحمد‬
"Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan
hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun, Allah akan memberikan
anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepadaNya. Bila usianya mencapai 70
tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80
tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan
bila usianya mencapai 90 puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah
lalu dan dosa-dosanya yang dahulu, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada
anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi.
(riwayat Ahmad)
Hadis ini menyebut usia 40 tahun paling awal memiliki komitmen terhadap
penghambaan kepada Allah swt. sekaligus konsisten terhadap Islam, maka Allah swt. akan
meringankan hisabnya. Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan
keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Tetapi umur 40 tahun merupakan saat harus
berhati2 juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk senja.
Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, "Barangsiapa mencapai usia 40 tahun
dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dpt mengalahkan amal keburukannya, maka
hendaklah ia bersiap-siap ke neraka."
Imam asy-Syafi'i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai
tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, "Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah,
aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu
burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam
sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa2 syahwat untuk
menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun
sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang

http://hambayangfana.blogspot.co.id
hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara' lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada
Allah."
Lantas, apa yang harus kita lakukan menginjak usia 40 tahun?
1. Meneguhkan tujuan hidup
2. Meningkatkan daya spiritual
3. Menjadikan uban sebagai peringatan
4. Memperbanyak bersyukur
5. Menjaga makan dan tidur
6. Menjaga istiqamah dalam ibadah.
Jika ada yang mengatakan bahawa: Life began at forty, saya cenderung
berpendapat kehidupan yang dimaksudkan ialah kehidupan terarah kepada mendekatkan
diri kepada penciptaNya dengan sebenar-benarnya. Tetapi satu perkara yang kita harus
sentiasa sedar bahawa kematian memanggil kita bila-bila masa tanpa tanda, tanpa alamat
dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk baru
memulakan kehidupan yang dimaksudkan di atas, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika
umur kita tidak panjang.
Maksud sabda Nabi Muhammad S.A.W ," Orang yang bijak adalah orang yang
selalu mengingati mati". Banyak manusia tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang
bersifat sementara. Sejak Nabi Adam as. sehingga kini, kesemuanya telah kembali kepada
Allah swt. tidak kira kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Mengingati mati bukan
bermakna kita akan gagal di dunia tetapi dengan mengingati mati kita akan menjadi insan
yang berjaya di dunia dan di akhirat. janganlah menunggu sehingga esok untuk membuat
persediaan menghadapi kematian, Karena mati akan datang pada waktunya

http://hambayangfana.blogspot.co.id
MIMPI SEORANG AHLI KASYAF
Apa hubungan kaitnya seekor lalat dengan syurga indah yang memiliki taman-taman
sungai-sungai yang mengalir..? Tentu kita tidak dapat melihat apa-apa hubungan kait pun
antara seekor lalat dengan syurgawi yang penuh kenikmatan. Tetapi tidak demikian dengan
apa yang dialami oleh seorang ulama sufi, ahli kasyaf dan imam besar iaitu Imam Ghazali
yang dialami dilihatnya dalam mimpi...

Suatu malam, Imam Ghazali sedang sibuk menulis kitab. Tiba-tiba datang terbang
seekor lalat hinggap berdekatannya. Imam Ghazali mengamati lalat itu dan ia kelihatan
sedang kehausan. Memang betul tanggapan Imam Ghazali Karena lalat itu kemudian
masuk ke dalam bekas tinta air atau pun dakwat pena beliau dan meminum tinta air itu.
Beliau membiarkan lalat itu menghisap tinta airnya. Sesudah si lalat puas minum, Imam
Ghazali membantunya keluar daripada bekas tinta air itu. Terbanglah lalat itu kembali bagi
meneruskan perjalanannya entah ke mana.
Mungkin tidak ada pun yang luar biasa dalam peristiwa itu. Apakah artinya menolong
seekor lalat yang kotor dan hina..? Memang begitulah pandangan manusia selalunya
secara umum... tetapi bagaimana pula pandangan Allah..?
Tidak lama selepas kejadian itu Imam Ghazali tertidur dan bermimpi bertemu
berhadapan-hadapan dengan Allah s.w.t dalam mimpinya itu Allah s.w.t bertanya kepada
Imam Ghazali, " Wahai Ghazali..! tahukah engkau apa yang menyebabkan Aku
memasukkan engkau ke dalam syurga-Ku..? "
Imam Ghazali termangu-mangu dan berfikir akan jawapan... beliau menyangkakan
semua amal ibadah yang dilakukannya selama ini seperti solat, puasa, zikir dan seterusnya
menyebabkan dia dimasuk kedalam syurga Allah s.w.t
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Lalu Imam Ghazali menjawab... " Karena ibadah solatku, ya Allah..? "
" Bukan..! " tegas Allah.
Imam Ghazali berkata lagi... " Karena ibadah zakatku, ya Allah..? "
" Bukan..! " tegas Allah lagi.
Seterusnya, Imam Ghazali berkata... " Karena ibadah puasaku, ya Allah..? "
Allah tetap berkalam, " Bukan..! "
Imam Ghazali mencuba lagi... " Karena ibadah hajiku, ya Allah..? "
Allah masih berkalam, " Bukan..! "
Semua jawapan dalam pengetahuan Imam Ghazali ternyata bukan jawapan betul bagi Allah
Karena Allah terus berkalam, " Bukan..! "
Akhirnya, Imam Ghazali berkata, " Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui. "
Maka Allah s.w.t berkalam menjelaskan, " Wahai Ghazali..! masihkah engkau ingat
sewaktu engkau sedang menulis kitab pada malam hari itu. Terbang seekor lalat masuk ke
dalam bekas tinta air mu. Engkau berasa belas kasihan kepadanya dan engkau
membiarkan lalat itu minum sepuas-puasnya. Apabila ia selesai minum, engkau
membantunya keluar daripada bekas itu. Lalat itu kemudian terbang pergi dengan gembira
selepas dahaganya hilang.
Dengan sebab itulah yang menyebabkan Aku memasukkan engkau ke dalam
syurga-Ku iaitu keikhlasanmu membantu makhluk-Ku walaupun ia hanya seekor lalat. "
Allahu Haq subhanallah... begitulah fadilat amal yang ringin dipandang mata dilakukan
dengan ikhlas dengannya mampu membawa Imam Al-Ghazali ketanah taman syurgawi.
Sebaliknya amalan yang besar tetapi jika tidak ikhlas bagaikan ia fatamorgana sangkaan
yang tiada nilai sandarannya. Imam Ghazali pernah berkata, " Orang yang tidak berilmu
mendapat siksaan, orang yang berilmu tanpa amalan juga menerima siksaan, orang yang
beramal tanpa keikhlasan turut juga ia mendapat siksa. " Oleh sebab itulah penting
mengamalkan ilmu, amal dan ikhlas ia adalah tiga serangkaian perkara yang tidak dapat
dipisahkan.
http://hambayangfana.blogspot.co.id
Kisah ini memberi tahu betapa pentingnya keikhlasan dalam kehidupan harian yang
walaupun ianya hanya perkara yang kecil pada pandangan mata tapi ianya besar pada
pandangan Allah akan sifat belas kasihan dalam berakhlak walaupun hanya kepada seekor
serangga lalat.
Ada orang mendirikan amal ibadah Karena menginginkan surga dan ada juga orang
menjauhi dosa Karena takut neraka. Andai kata syurga dan neraka itu tiada adakah amalan
kita itu tadi masih kekal sama sifat perilaku kita itu. Bukan kah yang wajib diiginkan dan di
takuti itu Allah s.w.t pemilik yang empunya syurga dan neraka.

*** Wassalam ***

http://hambayangfana.blogspot.co.id