Anda di halaman 1dari 109

\:

I
/

J
<:)
\".1)
\

)
,,-
./'.'-
')

x;\'J
.~:~
''-/"\

~~" .
-- -.:-'''-,
PERENCANAAN
STRUKTUR BAJA
DENGAN METODE LRFD
(SeSllai SNI 03-1729-2002)
UNDANG·UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2002
TENTANG HAK CIPTA

PASAL 72
KETENTUAN PI DANA AGUS SETIAWAN
SANKSIPELANGGARAN

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak


suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp1.000.000,OO (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp5.000.000.000,OO (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,


atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang
hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp500.000.000,OO (lima ratus juta rupiah).

~
PENERB/T ERLANGGA
J1. H. B.lping Raya No. ] 00
Ciracas, J.lkarta 13740
http://,..""\\\v.erlangga.co.id
e-mail: editor@erlangga.net
(AnggotJ. lKAPI)
PRAKATA

rderode ASD (A!!oultlble So·e.--s Design) daLtm srrukrur baj'l tdah cukup lan1a digunakan,
nanlltn beberapa tahun tcrakhir metode Jesain dalam ~truktur baja rnulai beralih ke metode
lain yang lebih rasional, yakni metode LRFD (Load R6iJtanre (llld Factor DeJign). ~letode
ini didasarkan pada ilmu probabilitas, sehingga d'lpat mengantisipasi segaLl ketidakpastian
dari material maupun beban. Oleh buena itu, n1etode LRFD ini dianggap cllkllp andal.
Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI 1987) tdah diganti dengan Tata
Cara Perencanaan Srrllktllr Baja untuk Banguncln Gedung, SNI 03-1729-2002 yang ber-
basis pada metode LRFD.
Bllkll ini mencoba memberikan penjdasan mengenai perencanaan struktur baja
dengan menggllnakan konsep LRFD tersebllt. Beberapa contoh soal yang diberikan relah
dilengkapi dengan langkah-langkah penyelesaiannya. Dan dalam perencan:u.n ~rruktur baja
metode LRFD yang digllnakan dalam buku ini, senllianya berpedoman pada SNI 03-
1729-2002 yang telah disebutkan sebeillmnya.
Sebagai bahan perkuliahan bukll ini dapat diberikan dalam dua semester pada mara
kuliah Srrllktllr Baja. Semester perrama mahasiswa mempdajari ten tang konsep dasar
LRFD, pengenalan material baja, batang tarik dan tekan, sambungan (ballt dan las),
komponcn struktur balok-kolom, komponen srruktur komposir serra jenis-jenis sambun-
gan pada konsrruksi bangunan baja.
Selain dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik SipiL bllku ini juga dapat dijadikan
pedoman perencanaan bagi konsllitan mauplln praktisi yang banyak berkecimpung di
dunia strllktur baja.
Penulis menyadari nusih ban yak kekurangan yang tercbpat dalam bllku ini, sehingga
Perellcanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD S~Han dari berbagai pihak sangat penulis harapkan guna perbaikan bukku ini pada edisi
(Sesuai SNI03-1729-2002) mcndatang. Akhir kata, penuli) berharap agar buku ini dapat memacu perkembangan
implementasi metode LRFD dabm perencan,un srruktur baja khususnya di Indonesia.
Agus Setiawan
Hak Cirra © 2008 pada pengarang. Hak terbit pada Penerbit Erlanggll
Semarang, November 2008
Ed i tor: Lemeda Simarmata
AgllS Setiavlan
Buku ini diset dan dilayout oleh Bagian Produksi Penerbit Erlallggll
dengan PO\ver Macintosh G4 (Adobe Garamond 10 pt)

Setting oleh: Bagian Produksi PT Penerbit Erlangga


Dicerak oleh: PT Gelora Aksara Pratama

12 II 10 09 986 5 432 I

Dif/lrang kerm mengutip, menjipLk. rnemfttokopi, atau memperbtUzyak dtzlam bentuk apa pun,
baik sebagian attW kesefuruhtm isi !Juku ini serta memperjuafbefikannya tanp,1. izin tn-tulis dari
Pellerbit Erlangga.

© HAl( CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

-l...
DAFTAR lSI

Prakata v
Daftar lsi vii

Bab 1 PEiV[JAHULUAN

1.1 Perencanaan Strllktllr


1.2 Beban 3
1.3 KOl1sep Dasar LRFD 5
1.4 Peludng Kegagabn 8
1.5 lndeks Keandalan 9
1.6 Desain LRFD Strllktllr Baja 11

Bab 2 JvIATEJUAL BAJA DAN SIFAT-SIFATlv'YA 15

2.1 Sejarah Penggunaan Material Baja 15


2.2 l\1aterial Baja 17
2.3 Siflt-sifdt l\:Iekanik Baja 18
2.4 Kellietan l\1aterial 21
2.5 Tegangan Iv111ltiaksial 22
2.6 Perilakll Baja pada Temperatllr Tinggi 23
2.7 Pengerjaan Dingin dan Pengllatan Regangan 25
2.8 Kerllntllhan Cetas 28
2.9 Sobekan Lamelar 27
2.10 Kerllntuhan Lelah 28

Bab 3 BATAIVG TARIK 29

3.1 Pendahllluan 29
3.2 Tahanan Nominal 31
3.3 Luas Netto 32
3.4 Efek Lubang Berselang-Seling pada Luas Netto 33
3.5 Luas Netto £fektif 36
3.6 Geser Blok (Block Shellr) 41
3.7 Kelangsingan StruktL.r Tarik 44
3.8 Transfer Caya Pada Sambungan 46
Scal-soal Latihan 47
viii DAFTAR lSI DAFTAR lSI ix

Bab 4 BATANG TEKAlV 50 Bab 8 TORSI 156

4.1 Pendahllillan 50 8.1 Pend,lhllltLlrl 156


4.2 Tekuk Elastik Euler 50 8.2 Torsi ,\1urni pclJ,l Penampang Homogen 156
4.3 Kekllatan Kolom 51 8.3 Pus::n Geser (Shfflr Center) 159
4.4 Pengaruh Tegangan Sisa 52 8.4 Tegangan Puntir Pada Profil I 165
4.5 Kllrva Kekllatan Kolom Akibat Tegangan Sisa 52 8.5 Analc\gi Torsl dengan Lentur 172
4.6 Tahanan Tekan Nomilul 56 50<11-soal Luihan 176
4.7 Panjang Tekllk 57
4.8 ~bs:1!ah Tekllk Lokal 61 Bab 9 TEI';UK TORSI LATERAL 178
4.9 Komponen Srruktur Tekan Tersllslln 61
4.10 Tekllk Torsi dan lekllk Lennir Torsi 66 9.1 Pendahulu,u1 178
Soal-soal Latihan 79 9.2 Perilaku Bdlok I Akibat Beban Mornen Seragarn 178
9.3 Tekllk Torsi Lateral Elastis 180
Bab 5 KOh/P01VEN STRUATUR LE1VTUR 81 9.4 Tekllk Torsi Inebstis 184
9.5 Desain LRFD Balok I 186
5.1 Pcndahllluan 81 9.6 Lencur DUd Arah 200
5.2 Lenrur Scderhana Profil Simcrris 81 50al-soal LJ.tihan 204
5.3 Perilaku Balok lerkekang Lateral 82
5.4 Dcsain Balok Terkckang Lateral 85 Bab 10 BALOA~ PELAT BERDI1VL)ING PENUH (PELAT GIRDER) 206
5.5 Lendlltan Balok 88
5.6 Gescr pada Penampang Gilas 91 10.1 Pendahuluan 206
5.7 Beban Terpusat Pada Balok 94 ] 0.2 Persyaratan Balok Pelat Berdinding Penllh 208
5.8 -n~ori Umum Lenrur 99 10.3 KUJt ~:lomen Nominal Balok PeLH Berdinding Penuh 210
SOell-soal Latihan 107 10.4 Kuat Geser :'\ominal 213
10.5 Kuat Geser ~ominal dengan Pengaruh Aksi Medan Tarik 216
Bab 6 SAA/BUNGAJ.V BAUT 109 10.6 Interaksi Geser dan Lentur 221
10.7 Pengaku Verrikal 222
6. 1 Pendahuluan 109 10.8 Pengaku Pendhan Gaya Tumpu 224
6.2 ~E1hallan Nominal BalH 110 10.9 Desain Balok PeLl.t Berdinding Penuh 233
6.3 Geser Eksentris 115 Soal-soal Luihan 244
6.4 Kombinasi Geser dan Tarik 123
6.5 Sambungan yang Mengalami Beban T~l[ik Aksi::d 127 Bab 11 BA LOK-KOL OA! 246
6.6 Geser dan Tarik Akibat Beban Eksentris 128
Soal-soal Latihan 132 11.1 Pendahuludn 246
11.2 Persao13an Diferensial untuk Kombinasi Caya Aksial dan Lentul 248
Bab 7 SAJ\!BUiVGA1'v'LAS 137 ] 1.3 Faktor Perbcsar3n Iv10men 252
11.4 Desain LRfD Komponen Strllktur B3lok-Kolool 254
7.1 Pendahuluan 137 11.5 Perbesaran ~Iomen untuk Struktur Tak Bergoyang 255
7.2 Jenis-jenis Sambungan 138 11.6 Perbesaran ~lomen untllk Struktur Bergoyang 255
7.3 Jenis-jenis Las 138 11.7 Tekuk Lok,11 \X/eb pada Komponen Struktur Balok-Kolorn 256
7.4 Pembatasan Ukuran Las Slldut 139 Soal-soal Larihan 277
7.) Lll.l~ Efcktif Las 140
7.6 Tahanall Nominal Sambungan Las 141 Bab 12 KOjlPO.YEN STR[IKTUR KO/'v/POSIT 280
7.7 Geser Eksentris-Iv1etoda Elastik 146
7.8 Geser Eksentris-Nletoda Pbstis 148 ] 2.1 Struktur Komposit 280
7.9 Beban Eksentris Normal pada Bidang Las 152 12.2 Tegangan Eldstis dalam Balok Kon1posit 282
Soal-soal Latihan 153
x DAFTAR lSI

1
12.3 Lebar Er'ekri f R.llok Komposit 284
12.4 Sistcm Pebk~anJ.<ln Komponcn Stfuktur Kornposit 288
12.5 Klldt Lentllr 1\ominal 292
12.6 Pcnghllbung Ge"~T 295
12.7 Balok Komposit pada Daerah l\1onlen Ncgarif 304
12.8
12.9
Lendutan 306
Dck Baja Gelombang 309
Pendahuluan
12.10 Kolom Komposit 315
50al-soal Latihan 320 TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah mClllpelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Bab 13 SAAIBUNG./LV PADA KONSTRUKSI BA!'/GUNAN Gf..lJU1VG 322 !vlendefinisikan semua jenis bebdn yang bekerja pada suatu stfukrur bangunan
!vlenyusun konlbirlasi pembebanan berdasarkan konsep LRFD
13.1 Sambungan Bdlok Induk dengan Balok Anak 322
13.2 Sambungan Balok-Kolonl 324 Pokok-pokok Pembahasan Bah
13.3 Sambllngan BaJok-Kolorn Dipcrkaku 325 1.1 Perencanaan Stfu.kIur
13.4 Sambungan Pendhan tv/fomen 327 1.2 Beban
13.5 Sanlbungan Balok-Kolom dengan Pengaku 329 1.3 Konsep Dasar LRfD
Soal-soaI Latih<ln 332 1.4 Peluang Kegagalan
1.5 Indeks Keandalan
LAA,tlPlRAN 334 1.6 Desain LRFD Suuktur Baja
JA\VABAN SOAL-SOAL LATIHAN 337
DAFTAR PUSTAKA 339
INDEKS 340 1.1 PERENCANAAN STRUKTUR

Pcrencanaan stfuktur d.lpat didefin:sikan sebagai canl puran antara stni dan illTIU
pcngetahllan yang dikorr:binasik:1n del!gan inruisi seorang ahli Struktllr nlengenai perilaku
stfuktur dengan dasar-dasar pcngetahuan dalam sratika, dinamika, nlekanika bahan, dan
analisa struktur, untllk menghasilkan suatu suuktur yang ekononlis dan arnan, selama
masa layannya.
Hingga tahun 1850 perencanaan strukrur nlerupakan SUdtU seni yang berdasarkan
pada intuisi untuk menentukan ukuran dan susunan eleolen struktur. Dengan bcrkenl-
bangnI'a pengetahuan rr.cngenai peribk'.l struktur da;} material, maka perencanaan srrukrur
menjadi lebih ilrniah.
Perhirungan yang mdibatkan prinsip-prinsip ilmiah harus dijadikan dasar dalanl pen-
gambilan keputllsan, na;nun tidak diikuti secara membabi buta. PengaIanlan inruisi seorang
ahli stfuktur digabungkan dengan hasil-hasil perhitungan ilnliah akan menjadi suatu dasar
proses pengambiLln kepurusan yang b<lik.
Tujuan dari perencanaan srrukrur menurut Tata Cara Perencanaan Struktur Baja
Untuk Bangunan Gedung (S~I 03-1729-2002) adalah nlenghasilkan suatu struktur yang
stabil, cukup kUJt, mampu layan, aV,'et, dan nlemenuhi rujuan-tujuan lainnya seperti
ekononli dan kemudahdn pela..~anaan. SUdru stfuktur disebur stabil jika tidak mudah
terguling, miring. atau tergeser selama umllr rencana bangunan. Risiko terhadap kegagalan
strllktur dan hilangnya kemampuhyanaD seLlffia umur rencananya juga h~uus dimininlalisir
dalalll b.lt.lS-h.1U5 yans ;-:usih 2.l.pat c::~f1m2. SlI:HU ~trllk[l1r ~"ang awet sen:c)tinya tidak
men1erlukan biaya pera",'oltan yd11g tc.rLIu bcrlebihan seLl.rna umllr layannya.
Perencanaan adalah sebua.h proses lIntuk mendapatkan suatu hasil yang optimun1.
Suatu stfuktur dikatakan opri01um aFJbiIa memenuhi kriteria-kriteria berikllt:
a. Biaya minimum
b. Berat minimum
c. \'Vaktll konstfuksi mInImum
I'

~-----
.-i
i
2 B,;-\B PENO,A.HULL :',i'~ 1.2 BEBAN 3

d. Tel1tl:-,t kerj .• mill:~:lllI11


c. Biay,: n1JIlLlr"dktur ;11inimum
f. ~la.nfJJ.t 111.aksimum pJda saa[ m,lsa I.r;an

KerangkJ rerencanaan suuktur adaLth pemilih'ln su')un:1r1 dan ukurdn dan demen
srruktur schin~~l hd'lJ.Il Y:E:; bekerja dLlp,lt dipikul S':(Jra arnan, d,in perpindalun yang
terjJdi D1Jsih d.Jam b.1[;lS-h.lLas :-ang disyaratkan. Prl\~cdur rerenClnJ.:1.l1 ~rruk[Ur Secara
it-:r,l.'li cbp,u diLkuL1I1 SCb::,::.li berikut:
a. Peran-:angJ.n. PenC'up:.Hl fungsi d.ui srrukrur
b. Pellc'c.:.p"lO konhfur'lsi s[ruktur awal tpreli}):iil/lJ)') sesuai Idngkah 1 rcrm,buk
pemi!::;:ln jenis n;l;:eriaI ~-ang akan digunak.m
c. PenetJ.pan beban k:rja stfukrur
d. PemiL;un a\\':u ber:(Uk d.1.n UkUrdl1 elemen 5[[ukrur btrciJs:lfkan langkah 1, 2, .3
c. Analisa struktur. l ntlIk Dlemperoleh gaya-ga:·J. dalarn dan perpindJ.han clemen
f. Evaltr-lsi. Apakah rerancangan slldah optimum sesuJi yang diharapkan
g. Peren-::J.TLun ulanS lJ.ngk.lh 1 hingga 6
h. Peren(,lnaan akhir. apJ.kah langkah 1 hi;:sga -; sudah memb~rik:H1 hasil
optimum

Salah sam tah'lpan pc-rHing dalam pcrenCdn:U.l1 SU:HU struktur bangunan adalah
pemilihan jeni, nldterial yang akan digunakan. Jenis-jeni~ nureri'll yang selan1a ini dikenal
Gambar 1.1 Konstruksi BJngunan Rangka Baja (Sumber: Kolcksi Pribadi)
C.iJLUll dunia konstruksi antd:-l lain adalah baja, bcton bcrrubng. seru kayu. ;\1arcrial baja
sebJgai bahan konstruksi rehh digunakan sejak bOla mcngingat beberapa kcunggulannya
Jibandingkan materi.li yang lain. Bcberapa keunggulan baja scbagai marerial konsrruksi, langsung dengan lldara atau air, secara periodik hanls dicat. Perlindungan terhadap bahaya
ant,U<l lain ad,lbh: kebakaran juga harus menjadi pcrhatian yang serius, sebab oldtcrial bajJ akan mengalan1i
penurunan kekuarJn secara drasris akibat kenaikan ten1perarur yang cukup tinggi, di
1. lvlempunyai keku:Han yang ringgi, sehingga C.lpat nlcngurangi llkuran srrukrur
samping iru baja juga merllpakan konduktor p:ln,lS yang baik, sehingga nyala api dalan1
serra mengurangi pula berar sendiri dari srrukrur. Hal ini cukup mengunrungkan
SU<lru bangundn jusrru dapat menyebar dengan lcbih cepat. Kelemahan lain dari srrukrur
bagi srrukrur-struktur jcmbatan yang panjang, gedung yang ringgi atJU juga
baja adalah o1asalah rekuk yang lnerupakan fungsi dari kelangsingan SULltU penarnpang.
bangunan-bangun.i11 yang berada pada kondisi tanah yang buruk
2. Keseragaman dan kea\\'ctan yang ringgi, tid,lk seperri lulnya materi,ll beroll
berrulJ.ng Y3.ng terdiri dari berbagai I1ucam b,lhan penyusun. material bajLl jauh 1.2 BEBAN
lebih scrag3.m/homogen serra mempunyai lingkat Kea\Veran yang j,wh lebih
tinggl jika prosedt:r per,l\\'atan dilakukaf1 seCH,l sen1e.stinya Beban adalah gaya luar yang bekerja pada suaru srruktur. Penenruan secara pasti besarnya
3. Sill[ e!J.stis. baja n:~mpunyai p~rilaku yang cukup dekat dcngan asumsi-asul11si beban yang bekerja pdda SlIatu srrukrur selama umur layannya o1erupakan salah satu
yang Jigun'lkan llnruk n1ebkukan anali"a, sebab bajJ. dapat berperibku eLlstis pekerjaan yang cukup sulir. Dan rada umumnya penenruan besarnya beban hanya
hingga tegangan Y2ng CUkllp ringgi mengikuri HukuIll Hooke. ~1oll1en incrsia merupakan SUJrll estimasi saja. ~1eskipun beban yang bekerja pada suaru lokasi d:ui srruk-
dari su.. Hu prolll b.l!J juga dapat dihituns d(ngan p.1sti sehingga 111ell1uc.bhk:111 tur dapat diketahui secara pasri, namun Jisrribusi beban dari elemen ke elemen, dabra
dalam mdakukan proses dnalisl jrrllktur suaru srruktur umumnya memerlukan asumsi dan pendekaran. Jika beban-beban yang
4. Daktilitas bajJ cukup tinR;i, karcna suaeu bJt..lng baja yang menerima regangan bekerja pada suatu strukrur rdah diestimasi, maka masalah berikurnya adalah menentukan
tJrik y~ng tinggi 2k~ln Inengabmi regangan tJrik cukup bc~ar sebelllm rerjadi konlbinasi-konlbinasi beban yang paling dominan yang n1ungkin bekerja pada struktur
kerllnEuhan tersebur. Besar beban yang bekerja pada suatu strukrur diatur oleh peraturan pembebanan
5. Beberapa keunrun&:m lain pen1J.kaian baja s-:bagai marcriJI konsrruksi .1Jalah yang berlaku, sedangkan masalah kombinasi dari beban-beban yang bekerja telah diatur
kemuchhan rcnyar:-lbunS.1n anrarelemen y~mf 5..ltll dcngan lJmnya menggunak.1I1 dalam SNI 03-1729-2002 pasal 6.2.2 yang akan dibahas ken1udian. Beberapa jenis beban
aLl[ .).:.~burl~ Lls ':'~lU n.l'..lt. Pl'mbllat,lf~ b..lj.: mcLllu: rro~~\ SiLts p:1f1. h Il1l'ng- yang sering dijun1pai antara lain:
3.kib.lt~:dn b.lj,l mc:r:iadi rnuddh diben[uk men ,ldi pendmpang-penJmp,H1~ yang a. Behan Mati, adalah berat dari SeITIUa bagian suatu gedung/bangunan yang ber-
cliinginkan. }(ecepardn pebksaan konsrrllksi bel ..l juga menjadi SUdtu kellnggllian sifat tetap selama masa layan struktur, termasuk unsur-unsur ran1bahan, jinij'hing,
outeri.l1 baja mesin-01esin serra peralatan tetap yang o1erupakan bagian tak terpisahkan dari
!

Ii Selain keur::ungan-keun::Jng.1n yang diseburk.1n t(r~C'bur. nlJreri.l1 b.lj,l juga rncmiliki


gedung/bangunan tersebut. Termasuk dalam beban ini adalah berat srruktur, pipa-
pipa, saluran listrik, AC, lampu-Iampu, penutup Iantai, dan plafon. Beberapa
,
I
I
beberapa kekurallgan. tcfutamJ d~ri sisi pemdihar.Ian. Konsrruksi bajJ yang berhubungan conroh berar dari beberapa komponen bangunan penting yang digunakan unruk

1.3 KONSEP DASAR LRFD 5


4 BAB 1 PENDAHULUAN

mcncntukan besarnya beban mati suatu gedllng/bangunan diperlihatkan cbLull


Tabel 1.1 berikut ini:

TABEL 1.1 BERAT SENDIRI BAHAN BANGUNAN DAN KOMPONEN GEDUNG

Bahan Bangunan Berat


Baja 7850 kg/m'
Beron 2200 kg/m'
Beron bcrru1ang 2400 kg/m'
Kayu (kelas 1) 1000 kgim"
Pa~ir (kering udara) 1600 kg/m'
Komponen Gedung
Spesi dari semen, per em rebal 21 kg/m~
Dinding bata merah Y2 baw 250 kg/m 2
Penuwp arap genring 50 kg/m 2
Penurup lanrai ubin semen per em rebal 24 kg/m~

(Sumba: Pc'r~Hllr;U1 Pembebanan Indonc'si.l Unwk Gedung. 1983)

h. Behan Hidup, adalah beban gravitasi yang bekerja pada srruktur dalam masa
Gambar 1.2 Konstruksi Rangka Arap dari Baja Ring~lI1 (Smarr Truss).
layannya, dan timbul akibat penggunaan suant gedung. Ternusuk beban ini
(SwlIher: Kol~ksi Pribadi)
adabh ber~lt manusia, perabotan yang dapat dipindah-pindah, kendaraan, dan
barang-barang lain. Karena besar dan lokasi beban yang senantiasa berubah-
ubah, maka pencntllan beban hidup secara pasti adabh merupakan suatll hal Nilai tekanan tiup yang dipcroleh dari hitungan di atas harus dikalikan dengan
yang cukup sulit. Beberapa contoh beban hidup menurut kegllnaan suatLl ban- suatll koel1sien angin, untuk mendapatkan gaya resultan yang bekerja pada bi-
gunan, ditampilkan dalam Tabel 1.2. dang kontak tersebur.
d. Behan Gempa. adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada struktur
TABEL 1.2 BEBAN HIDUP PADA LANTAI GEDUNG akibat adanya pergerakan tanah oleh gempa bUIlli, baik pergerakan arah vertikal
maupun horizontal. Namun pada umumnya percepatan tanah arah horizontal
Kegunaan Bangunan Berat
lebih besar daripada arah vertikllnya, sehingga pengarllh gempa horizontal jauh
Lantai dan rangga runuh tinggal sederhana 125 kg/m~
lebih nlenentukan daripada gcmpa \'enikal. Besarnya gaya geser dasar (statik
Lanrai sekolah, ruang kllli~lh, kantor, toko, toserba,
rcstoran, hotel, asrama, dan rumah sakir 250 kalm 2 ekivalen) ditentukan berdasarkan persamaan V = f~.iF, dengan C adalah
Lanrai ruang olah raga 400 k~/m~ R t

Lanrai pabrik, bcngkd, gudang, perpllstakaan, faktor respon gempa yang ditentukan berdasarkan lokasi bangunJn dan jenis
wang arsip, toko buku. ruang mesin, dan tanahnya, J adaIah faktor keutamaan gedung, R adalah faktor reduksi gernpa
bin-lain 400 kg/m 2
yang tergantung pada jenis strllktllr yang bersangkutan, sedangkan \t~ adalah
Lanrai gedllng parkir bertingkar, untllk bntai bawah 800 kg/m 2
ber~H toral bangunan termasuk beban hidup yang bersesllaian.
(Sum her : Peraruran P~mbcb;lnJn Indonesia Unruk Gedung, 1983)

c. Behan Angin, adalah beban yang bekerja pada struktur akibat tekanan-tckanan 1.3 KONSEP DASAR LRFD
dari gerakan angin. Beban angin sangat tergantung dari lokasi dan ketinggian
Dua filosol1 yang sering digunakan dalam perencanaan srrllktur baja adaIah perencanaan
dari struktur. Besarnya tekanan tillp harus diambil minimlln1 sebesar 25 kg/m\
berdasarkan tegangan kerja/working stu)")" design (Alfolut1ble Strej">" DesignlASD) dan peren-
kecuali untuk bangllnan-bangunan berikut:
canaan kondisi batas/ limit states design (Load and Resistance Factor De)"ignILRFD). Metode
1. Tekanan tiup di tepi laut hingga 5 km dari pantai harus dianlbil minimllrTI
ASD dalam pcrencanaan srrllktllr baja tdah disunakan dalam kllrun \vaktu kurang lebih
40 kg/m 2 100 tahun. Dan dalam 20 tahun terakhir pnn5ip perencanaan ,i\trllktllr baja nllliai beralih
2. Untllk bangunan di daerah iain yang kerTIungkinan tekanan tiupnya lebih
ke konsep (RFD yang jauh lebih rasional dengan berdasarkan pada konsep proGabili-
dari 40 kg/n1 2, harus diambil sebesar p = VI16 (kg/m:!), dengan Vadalah
tas. Untuk lebih menlahami latar belakang pengembangan metode LRFD dengan ilmu
kecepatan angin dalam m!s
probabilitas, maka berikllt akan sedikit dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar dalanl ilmu
3. Untuk cerobong, tekanan tiup dalam kg/m 2 harus ditentllkan dengan ru-
probabilitas. Dalam metode LRFD tidak diperlukan analisa probabilitas secara penuh,
mus (42,5 + 0,6h), dengan h adalah tinggi cerobong seluruhnya dabnl
terkecuali untuk situasi-situasi tidak llnlun1 yang tidak diatur dalam peraturan.
meter

F7""""t .... --,""'~""~',~-~,.I'>,':."~,..-li' .•~


6 BAB 1 PENDAHULUAN 13 KOr--JSEP DASfl.R LRFD 7

Ada beberapa tingkatan daLll11 desain probabilitas. L\letode Prolubilitas Pcnllh (FU!{i' 0,7
Pro(Jduilij-tic j\Ietho(~ I1lcrllpakan tingLlt II [, dan merllp~lkan cara an,llisa !",lns paling
kompleks. lvietode Probabilitas Penllh mCIl1erlukan dara-data tenrang distribusi prob;lbili- m = 1. G = 2/3
0.6
t~lS dari tiap-tiap variabel aeak (seperri tahanan, beban, dan Llin-lain) seru korel.lsi antar
variabel tersebur. Data-data ini biasanya ticbk tersedia dalam jumbh yang eukup sehingg.l
0,5
llmumnya nletode Probabilitas Penuh ini j.lrang digunakan dalam prabek.
Tingkat II dalam desain probabilitas dinamakan merode First-Order Second l\lornent
(FOSM) yang menggllnakan kar.lkteristik statistik yang lebih mudah cbri rahanan d.ln
beban. ~:Ietode ini mengasLll11sikan bahwa beban Q chn tahanan R saling bebas seeara
statistik. l\1etode LRFD l!l1luk perC:i1CJllaan srruktur baja yang diatur daldm SNI 03-1729-
S
Q
0/f?Z\\
/ 1/ \
2002, berdasarkan pada merode FOSi\1 ini. I ...,
_''''''__..... \

. . .' J
Reberapa istilah dalam ilmll st<lristik yang sering dijumpai, di antaranya: ~,,'\

1. Nilai rerata
Nilai rerata dari sekumpulan data, dapat dihitung dengan persamaan:
~\~
\~~
x
/1 = = m 1., CJ.. 3/2
x=---'-
JV
1.1
--I
/
O'J
.•..- -....

\,'--
~,.-
""---- "

dengan x adalah nilai rerata, -\ adalah data ke-i dan lVadalah jumlah d.ltJ. -4 -3 -2
i

-1 0
i

1
i

2 3 4
I

5
2. Scandar Deviasi x
\!ariasi data terhadap nilai rerata ditentukan dengan menjumlahkan kU.ldrar Gamhar 1.3 r\.Uf\ J Fung>1 KerapJ.tan l'robJbilitJS
selisih antara masing-masing data dengan nilai rerata dan mcmbaginya dengan
jumbh data minus satu.

= I(x , _X)2 ~ilJi P(x) terletak antara 0 hingga 1, sehingga:


V.uian
N-1
1.2 Frob (-00 < x < 00) = f p(x)d-.: = 1 1.6

Standar Deviasi, 0" diperoleh dengan n1eneari akar kuadrat dari Varian ]ika disrribusi dat3. tidak sim~tri, maka kun'a fungsi kerapatan probabilitas
logaritmik normal (lognormal) sering digunakan. Dinyatakan seeara nlaternatis,
a = JI(x, -x)' 1.3
jika Y = In(x) terdisrribusi norn1al, maka x dikatakan lognorn1al. Fungsi log-
normal digunakan dalam metode LRFD. Karena In(x) terdisrribusi normal, maka
N-1
nilai reraranva A dan Standar Deviasi C dapat ditentukan dengan transfoflnasi
3.
logaritmik dari t;ll1gsi disrribusi normal~ya.
Fungsi Kerapatan Probabilitas
Fllngsi Kerapatan Probabilitas (Probability Dt:'Jj"i~y Function/PDF) merupakan
fllngsi yang terdefinisi pada suatll selang interval kontinu. sehingga luas dJcrah di
bawah kllrva (yang didefinisikan oleh fungsi [ersebut) d,ln di atas sun1bu x adalah ,\ = Inl
r I '\; __]2 1.7
sarna dengan satu. Untllk suatu variabel aeak yang terdisrribusi normal (GauH-
.. L\:l+V
ian), maka kurva PDF akan mernpunyai bentuk seperri SUdtu gentallonecng.
dan mempllnyai persamaan: ( = ~ln (1+ V 2 )
1.8
1 [1 {x-m}-l
p(x)=---exp - - - - - oo~x<o< 1.4
dengan V = cr / x
adalah koefisien variasi serra x dan 0 didefinisikan seperti
a& 2 a J pada persamaan 1.1 dan 1.3.
4. Kodisien Variasi
dengan p(x) merupakan peillang terjadinya variabel ,".: sebagai fungsi dari nilai
Cntuk ddpat memberikan gambaran terhadap penycbaran data, n1aka biasanya
rerata m = x dan Standard Deviasi 0, dari Slldtll data yang terdisrribllsi normal.
d~gLlnJkan Koefisien Variasi (V) yang diperoleh dari penlbagian antara Standar
Bentuk kurva PDF tidak selalu tcrpllsat p~da sumbu koordinat n,ll11Un tergan-
D~vidsi (o) dc:ngan nilai rerata (x).
tung dari perubahan rtl dan cr. Beberapa bentuk kurva PDF untuk m d.lIl cr
yang berbeda ditunjukkan dalam Ganlbar 1.3. 5. Fakror Bias
Selanjutnya didefinisikan pula fungsi distribusi probabilitas, P(x) yang di- Faktor bias, /." merupakan rasio antara nilai rerata dengan niiai nominal.
run1uskan sebagai: ,\=~ 1.9
x
p(x) = Jp(x)dx 1.5
BAB 1 PENDAHULUAN
1,5 INDEKS KEANDALAN 9
8

1.4 PELUANG KEGAGALAN DaLull kt'du.1 kasu~ di aus, kondisi b,HdS tercap.ll jika R = Q dan kcgagaL1Il tcrj,ldi
pJd.l ~a,H :s,r{R,Q, < O. Tcori probabilius mcnyau.kan b.lhwa jika du.l hU..lh \'ariJbd aeak
Dalam konteks analisJ keandabn suatu struktur, yang dim.:1ksud dengan istil.lh kegagaLll1 :'Jng terdistribusi normal digabungkan, I113.ka akan mengh3.~ilkan fungsi kcrapatan yang
V;zilllrc) adalah terj.ldinya salah satu dari sejumlah kondisi batas yang relah direntukan normal pula. Auu dengan klta Llin jika R cbl1 Q rerdistribu5i normal mdka g(R,Q) juga
sebelurnnya. Faktor beban dan tahanan dipilih sedemikian rupa sehingga pcluang kegagalan ,11-:.111 tcrdistribu,i normal. HJl serupa dapat pula dinyauk.:.n jika R dan Q terdistribllsi
~uatu struktur ad,llah kecil sekali atau masih dalam b,Has-baras yang dapat diterio1,1. Pcluang lognorm.ll, makJ g(R, Q) juga terdistribusi lognormal.
kegagaLm suaru struktllr dapat ditentukan jika tersediJ data-data statistik (seperti nilai re- Peluang keS'lgalan dari R dan Q yang terdistribusi normdi dapat dihitllng berdasarkan
f,lta dan standar deviasi) dari tahanan dan rerscdia pub fungsi distribliSi dari beban. p~rsam,UI1:
U!1tuk mengilustrasikan prosedllr an~llisa keaIH.Lbn suatu strukrur, perh..ltikan kUf\"a (

l~~:'-~~~i~ J
,

fungsi keLlpar,ln probabilitas I PDF dalam GanlbJ.f 1.4 da.ri varia-bel aClk bc-b.lIl Q ~efl<t 1.13
tahanan R. Jika tahanan R lebih besar dari beban yang bekerja Q, maka strllktllr terscbut
Pi
1- F,
dJr~H dikatakan masih aman (survive). Karena nilai R dan Q bervariasi, olaka akan ada
kemungkinan kecil bahwa pada sllatu saat beban Q lebih besar daripada rahan.in R. SitU~lSi Scdangkan ul1tuk R dan Q yang rerdistribusi lognormal pelu.lng kegagaiJnnya:
ini direpresentasikan dcngan daerah berarsir pada Gambar 1.4. Hal inilah rang discbut
dengan kcgagabn (fizilure), dengan peluang suatu kegJgalan didefinisikan sebagai:

P; = P(R < Q) 1.10 PJ ~ 1- F,


m(}QJ]
JV:;+ l'r/
1.14

A Q
I dengan R dan Q ad.lbh nibi rer3.ta, ai\ dan a Q adalah srandar de\'iasi, \~": dan VQ adalah
/
'R(r) I / koefisien variasi dari tahanan dan beban, sena F,,( ) adabh fungsi distribusi kumulatif
! Fungsi distribusi kUI1lulatif adalah integrasi dari fx(.\) dengan batas integrasi adalah dari
fo(q) I / -00 hingga It dJI1 akan menghasilkan nilai peluJng di mana x lebih kecil daripada It. Hasil

integrasi ini dircrlihatkan dengan daerah yang berarsir dalan1 Gambar 1.5.
R

"""",,- 1.5 INDEKS KEANDALAN


""""-"-'''-
Alternatif lain yang lebih mudah ul1tuk menentukan peluang kegagalan adalah dengan
menggunakan indeks keandalan ~. Prosedur ini akan dibahas dengan menggunakan
N'"U • • ';., u; I » Q R distribllSi lognormal sesuai persamaan 1.11, sebab distribusi lognormal akan dapat men-
Q R ' cerminkan distribusi aktual serra R dan Q secara lebih akurar daripada distribusi normal.
Gamhar 1.4 Fungsi KerapJ[an Probabili[;lS Tahanan d,ll1 Beban Sdain itu, perhitungan secara n1ll11erik untuk fungsi g(R.Q) akan lebih stabil dengan
mcnggllnakan rJ-sio RJQ daripada selisih R - Q.
Fungsi kerapatan probabilitas dari R dan Q dalam Gambar 1.4 digambarkan untuk
menllnjukkan perbedaan nilai koefisien variasi dari tahanan dan beban, yaitll VR dan ~~r
Daerah di ba\vah masing-masing kllrva mempunyai lllas sama dengan satu, nan1un terlih~;t
bahwa tahanan R n1emiliki penyebaran data yang lebih lebar daripada beban Q. Daerah
yang terarsir menunjukkan daerah kegagalan (fililure) di mana nilai tahanan lebih kecil
dari beban. Namun demikian, Iuas dari daerah terarsir tersebur tidak sam,l dengan bc-
sarnya peluang kegagalan, sebab daerah tersebut n1erupakan gabungan dari dua buah fllngsi x
u
kerapatan yang rnemiliki standar deviasi serta nilai rerata yang berbeda. Untuk mencari Gambar 1.5 Defini:-i f~
nilai peluang kegagalan Pf biasanya lebih sering digunakan sebuah kurva fungsi kerapatan
g(R. Q) yang dapat digunakan secara langsung llntuk menentukan peluang kegagLllan sena
Jika fllng~i g(R,Q) dalam persamaan 1.12 mempunyai distribusi lognormal, n13ka
indeks keandalan suatu struktur. Jika R dan Q terdisuibusi nornlaL maka fungsi kerapaun
dl)tribll~i frekucnsinya akan mempllnyai bentuk seperti kurYJ dabm Gambar 1.6. Kurva
g(R, Q) dapat dituliskan menjadi:
ini adalah kurva distribusi frekuensi tunggal yang n1erupakan kombinasi dari R dall Q.
g(R,Q) =R-Q 1.11 Kondisi batas pada saar R < Q sarna dengan probabilitas pada saar In (RJ Q) < 0, yang
ditunjukkan dengan daerah berarsir dalam Gambar 1.6 tersebut.
Jika R dan Q terdistribusi secara lognormal, maka g(R Q) dapat ditlliiskan:
J
Jarak antara nilai reratJ rerhadap tirik pusat adalah sarna dengan {3.ai dan nlcnjadi
g(RJQ) In(R) - In(Q) = In( ~J 1.12 ukllran dari keamanan dan koefisien dari standar deviasi, f3~ sering disebur sebagai indeks
keandalan.

I
J_ _ 1
10 BAB 1 PENDAHULUAN 1.6 DESAIN LRFD STRUKTUR BAJA 11

f(g) II CO:\TOH 1.1

III
Scbu.lh b.llok jcmbatan dari bttol1 praregJng dengan panjang btntang 27 III eLm jJL1k
antar h.1!ok sq13.nj'lOg 2,4 m lnemiliki data-data statistik sebagai berikut:
Etek bcban : Q= 4870 kN.m uQ = 415 kN.rn

I
TJ!1.lnan : RI; = 7040 kN.m uf< = 1,05 ~~~ = 0,075

HitllngLlh indeks keandalan balok beton prategang tersebut.

Daerah kegagalan
Luas daerah ~
I I i i " ,~ JA\\Il\B:
Indeks kc:.~dalan, fJ, dapat dihirung lIlellgguIlakdIl pn~,lcn.un 1.16, (erk'bill d,lhutu h,lfU.;;

dihitul1S R dan V~~:


ii = }\'R.l?" = 1,05(7040) = 7390 kN.m
9 == In(R Q)
I R \; -------- .. 415
9 == In ( Q; \ ~
an
-='-- = ---- = 0,08)_
Q 4870
Gambar 1.6 IIHkl-.s Kc".,:-,JJbn f3 umuk H d,ln Q logn\.lr:1ul.
Gunak.m persamaan 1.16 :
Jika tah<ln~ln R ddn hcban Q keduanya tcrdistribusi lognorm.ll sena tidak saling
In( R./ ) 7390;/ )
terkorebsi, maka niL~i rerau dari g(R) Q) adalah: .i = -fQ In (
.I 4870 _ = 3.68
~V/ ~V~2- ~0,0752 + 0,058
k = In ( ~) 1.14
Pelu,lng kegagalan dari balok beton prategang ini kurang lebih 10000.
sena standar deviasinya adalah:

a g =JV].
R +V.:
:. 1.15 1.6 DESAIN LRFD STRUKTUR BAJA

Secara umum, suatu struktur dikatakan aman apabila memenuhi persyarat<1n sebagai
dengan R dan Q acblah nilai rerdta, \~:: dan \'~~ adalah koefisien variasi dari R dan Q.
berikut:
Dengan n1enyamakan /3. 0:( dengan InC~~) m3ka diperoleh hubung3n:
)
oR" ~ Xr.Q 1.19

/1
In
----~-q~
( -
R/-_
(

1.16
Bagian kiri dari persamaan ] .19 111erepresentasikan tahanan atau kekuatan dari sebu3.h
komponen atau sistem struktuf. Dan bagian kanan persamaan menyatakan beban yang
.'- - ~V 2 +v:
R ? hanls dipikul struktur tersebut. Jika tahanan nomilul Rn dikalikan suatu faktor tahanan ¢
llLlka akan diperoleh tahanan rencana. Namun demikian, berbagai n1<1Clm beban (beban
Hubungan an tara Pt dengan /3 ddpat dihitung dcngan menggllnakan persamaan:
mati, bcban hidup, gempa, dan lain-lain) pada bagian kanan persamaan 1.19 dikalikan
PI = 460. exp(-t33) 1.17 su.ltU fJktor beban y untuk 111cndapatkan jumlah beban terfaktor Qt' Lt:.
In (4 69// P/ - ';\ ! Faktor Beban dan Kombinasi Beban
atau ;3 = -_/_~~ 10- 1 < p. < 10-') 1.18 Dabm persamaan 1.19 tampak bahwa tahanan rencana h~uus melebihi jUll1lah dari beban-
4,3 f beban kerja dikalikan dengan SUatLI faktor beban. Penjulnlahan beban-beban kerja ini
yang dinamakan sebagai kombinasi pembebanan. l\,1enurut peraturan baja Indonesia, S~l
TABEL 1.3 HUBUNGAN ANTARA PELUANG KEGAGALAN DAN INDEKS
03-1-:29-2002 pasal 6.2.2 mengenai kombinasi pembebanan, dinyatakan bahwa dahn1
KEANDALAN
perencJnaan suatu struktur bajJ. haruslah diperhatikan jenis-jenis kon1binasi pembebanan
f3 j' PI" f3 berikut ini:
2,50 O.S19E.-02 1.00£-02 2,50 a. l,4D 1.20.a
3,00 1,15E-03 1,00£-03 3,03 h. 1,2D + 1,6L + 0,5(L. atau H) 1.20.b
1
3,50 1,3-1£-04 1,00E-04 3,57
Co 1,2D + 1,6(L a atau 11) + (yeL atau O,8~fI) 1.20.c
4,00 1,56E-05 1,00E-05 4,10
4,50 1,82E-06 1,00E-06 4,64 d. 1,2D + 1,3 W + ycL + 0,5(L. atau H) 1
1.20.d
5,00 2,12£-07 1.00E-07 5,17 e. 1,2D ± 1,0£ + ~.L
1.20.e
5,50
I 2,46£-08 1,00£-08 5,71
f. 0,9D ± (l,3 \V atau LO£) 1.20.f

-L
!
I
---l , ..
--~-----..........,.,,....,
......... ,. '~'.-_._""",._~-:~~.~-,._._----

1
12 BAS 1 PENDAHULUAN 1.6 DESAIN LFRD STRUKTUR BAJA 13

dcng,ln: \\. T = 5(1) = 3 kN I m


D ad,t1,lh beb~ln mati yang di,lkibatkan olch bcrat konsuuklli pcrmancn, tc'rm,lsllk Pcriksa tcrludap kombinasi pembdJJnan 1.1 hingga 1.5:
dinding, Iantai ~ltap, plafon, partisi tetap, tangga dJn perala tan byan terap (1.20.a) [I = l,4D = 1,4(6,66) = 9,324 kNlrn
L adalah bcban hidllp yang ditimbllikan oleh pcnggllnaan gedung, tcrm:lsuk kejut, (1.20.b) U = 1,2D + I,GL + 0,5(L.I at;lll H)
rc:rapi tidak termasllk beban lingkung:ln scperti angin, hujan, Jan bin-bin 1,2(6,66) + 1,6(0) + 0,5(4,5) = 10,242 kN/m
L (lcLtlah behan hidup di atap yang ditilnbulkan selama perawatan oleh pekerja, perabtan,
I (l.20.c) U = 1,2D + 1,6(L" atall H) + (reL atall 0,8 \\1)
dan material atau selanla penggunaan biasa oleh orang dan benda bergeLlk 1,2(6,66) + 1,6(4,5) + 0,8(3) = 17,592 kN/m
H ad.llah bcban hujan, tidak termasuk yang di,lkibatkan genangan air (1.20.d) U =: 1,2D + 1,3 \F + 0' L + 0,5(L,1 atau H)
\F adalah beban angin 1,2(6,66) + 1,3(3) + 0 + 0,5(4,5) = 14,142 k1'\/m
E ad,llah beb:ln gempa yang ditentukan dari peratur:ln gcmpa 0 ::: 0,5 hila L . :: 5 kPa, (1.20.e) U = 0,9D ± 1,3 \V
dan 0 ::: 1 bila L ~ 5 kPa. Faktor beban llntuk L harus sarna dengan 1,0 llntuk = 0,9(6,66) + 1,3(3) = 9,894 kN/m atau 2,094 kN/m
garasi parkir, d,lerah yang digllnakan untuk perremllan Ulllum dan semua daerah Jadi, be-ban terfaktor yang harlls dipikul profil tersebut adalah sebesar 17,592 kN/m
yang memikul bcban hidllp lebih besar dari 5 kPa.
• CONTOH 1.4:
TABEl 1.4 HUBUNGAN KOMBINASI BEBAN DENGAN INDEKS KEANDALAN Sebuah kolom baja dari suatll struktur bangunan gedllng, memiklll beban-beban aksial
sebagai berikut: beban mati 85 ton, beban hidup dari atap 25 ton, beban hidllp dari lan-
Kombinasi Beban Indeks Kcandalan, f3 rai bangllnan 110 ton, beban angin ± 35 ton, beban gempa + 30 ton. Hitunglah beban
O&L .\0 lllltlik komponen srrllktur
desain kolofn 5esuai kombinasi LRFD!
4,5 unruk s3mbungan
D, L, <.bn \\1 2,5 llrHuk komponen struktuf JA\VAB:
0, L. J,lIl E 1,75 llntllk komponcn struktur Bcban-beban yang harlls dipikul profil terscbut adalah:
D = 85 ton \\7 = ± 5 ton
La = 25 ton £ = ± 30 ton
• CONTOH 1.2:
L = 110 ton misalkan diambil y, = 0,5
Suatll srruktllr pebt lantai dipikul oleh balok dari profil WF 450.200.9.14 dengan jarak
Pcriksa terhadap kombinasi pen1bebanan 1.1 hingga 1.6:
antar balok adalah sebesar 2,5 m (as ke as). Beban mati pelat lantai sebesar 2,5 kNI
(1.20.a) U = I,4D = 1,4(85) = 119 ton
m:! dan beban hidup 4 kN/m 1 • Hitunglah beban terfaktor yang harus dipikul oleh balok
(1.20.b) U = 1,2D + 1,6L + O,5L a
tersebut sesuai kombinasi LRFD (SNI 03-1729-2002)!
1,2(85) + 1,6(110) + 0,5(25) = 290,5 ton
JAWAB: (1.20.c) U = 1,2D + 1,6L + O,5L
II

Tiap balok hanls memiklll berat sendiri ditambah beban dari pelar sclebar 2,5 n1. 1,2(85) + 1,6(25) + 0,5( 11 0) = 197 ton
D ::: 0,76 + 2,5(2,5) ::: 7,01 kN/m (1.20.c) U = l,2D + 1,6L/1 + O,8W'
L ::: 2,5(4) = 10 kN/m 1,2(85) + 1,6(25) + 0,8(35) = 170 ton
Karena hanya ada 2 jenis beban yakni beban mati dan beban hidllp, nuka hanya pcrlll (1.20.d) U = 1,2D + 1,3 \V + O,5L + 0,5L[/
diperiksa terh:1dap kombinasi beban 1.1 dan 1.2 : 1,2(85) + 1,3(35) + 0'=;(110) + 0,5(25) = 215 ton
(1.20.a) U = 1,4D = 1,4(7,01) = 9,814 kN/m (1.20.e) U = l,2D ± 1,0£ + O,5L
(1.20.b) U = l,2D + 1,6L + 0,5(L<1 atall H) 1,2(85) ± 30 + 0,5(110) = 187 ton atau 127 ton
1,2(7,01) + 1,6(10) + 0,5(0) = 24,412 kN/m (1.20.f) U = 0,9D ± 1,3 WI
Jadi, beban tert1ktor yang o1cnentukan adalah sebesar 24,412 kN/m. = 0,9(85) ± 1,3(35) = 122 ton atau 31 ton
(1.20J) U = O,9D ± 1,0£
= 0,9(85) + 1,0(30) = 106,5 ton atau 46,5 ton
• CONTOH 1.3:
Jadi, beban terfaktor yang harus dipiklll oleh koloo1 tersebut adalah sebesar 290,5 ton.
Sllatu sisteol strukrur atap dari profil WF 400.200.8.13 yang diletakkan setiap jarak 3 tn,
digunakan llntllk memikul beban olati sebesar 2 kN/m 2 , beban hidllp atap 1,5 kN/m 2
serra beban angin 1 kN/m 2• Hitllnglah beban terfakror yang harus dipiklll olch profil Faktor Tahanan
tersebllt! Faktor tahanan daLlm pcrencanaan sUllktllr berdasarkan mctodc LRFD, ditcntukan d,lbn1
tabel 6.4-2 SNI 03-1729-2002, sebagai berikut:
JAWAB: a. Komponen struktur yang memikul lentur ¢ = 0,90
Beban-bcban yang harlls dipikul profil tersebut adalah: b. Komponen struktur yang Jnemikul gaya tekan aksial ¢ = 0,85
D = 0,66 + 3(2) = 6,66 kN/m c. Komponen struktur yang o1emikul gaya tarik
L °
= kN/m
La = 3(1,5) = 4,5 kN/m
1) Terhadap kuat tarik leleh ¢ = 0,90
\ 2) Terhadap kuat tarik fraktur ¢ = 0,75

i
-L..
14 BAB 1 PENDAHULUAN

d. Komponen srruktur yang rnemikul gaya aksial eLm kntuf

2
1> = 0,90
e. Komponcn struktur komposit
1) Kuat tekan ¢ = 0,85
2) Kuat tumpu beron 1> = 0,60
3) Kuat lcntur dengan distribusi tegangan plastis ¢ = 0,85

f.
4) Kuat lentur dengan distribusi tegangan elastis
Sambungan baut
¢
¢
=
=
0,90
0,75
Material Baja dan
g. Sambungan las
1) Las tumpul penetrasi penuh
sudu(, las tun1pul penetrasi s~babian, las pengisi
(jJ = 0,90 Sifat-sifatnya
2) LlS ¢ = 0,75
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
!v1emahami unsur-unsur penyusun material baja
Sifat-sifat mekanik dan perilaku material baja

Pokok-pokok PeInbahasan Bab


1.1 Sejarah Penggunaan Material Baja
1.2 lvIaterial Baja
1.3 Sifat-sifat Mekanik Baja
1.4 Keuletan Material
1.5 Tegangan Multiaksial
1.6 Perilaku Baja pada Temperatur Tinggi
1.7 Pengerjaan Dingin dan Penguatan Regangan
1.8 Keruntuhan Getas
1.9 Sobekan Lamelar
1.10 Keruntuhan LeIili

2.1 SEJARAH PENGGUNAAN MATERIAL BAJA

Pada m,lsa awal penggunaannya sekitar tahun 4000 SM, besi (komponen utama penyusun
baja) digunakan untuk membuat peralaran-peralatan sederhana. Material ini dibuat dalan1
benruk besi tempa, yang diperoleh dengan memanaskan bijih-bijih besi dengan n1eng-
gunakan arang. Sekitar akhir abad ke-18 dan pern1ulaan abad ke-19, besi tuang dan besi
tempa sudah mulai banyak digunakan untuk pembuatan struktur jembatan. ]en1batan
Lengkung Coalbrookdale yang n1elintang di atas Sungai Severn (Inggris) adaLlh jembatan
perrama yang terbuat dari besi tuang. ]elnbatan dengan panjang ben tang sekitar 30 mini
dibangun oleh Abraham Darby II 1.

1
Gambar 2.1 Coal brookdale Arch Bridge (Sumba: w\vw.greatbuildings.com)
16 BAB 2 MATERIAL BAJ.A DAN SIFAT-SIFATNYA
2.2 t\1ATERIAL BAJA 17

L)i Arnerika Scrikar jernbaran kerera api peruma yang dibuclr dari baja adabh jem-
b,ltan Eads, yang diselcsaikan pacL! tahun 1874. Jembatan yang mcmakan biaya sekiur
S 10.000.000 ini terdiri dari riga buah benrangan, bentangan tengah sepanjang 520 ft
sedangkan dua bentangan yang lain sepanjang 500 ft.
Strukrllr ponal rangka baja perrama adalah Horne Insurance Company Building
di Chicago yang dibanglln oleh \Villiam Le Baron Jenny. Jenn:- menggunakan kolom
dari besi tuang yang dibungkus dengan bara, balok-balok un£uk enam lanrai perrama
rerbuJt dari besi tempa, scdangkan balok-balok di lantai atasnya tcrbuat dari balok baj.l
strllkrural.

2.2 MATERIAL BAJA

Baja yang akan digllnakan dalam struktur dapat diklasifikasikan n1cnjadi baja karbon, baja
paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduano Sifat-sifat mekanik dari baja tersebut sepcrri
regangan leleh dan tegangan putusnya diarur dalam ASTJ\;l AG/A6:v1.
a. Baja karbon
Garnbar 2.2 Eads Bridge. Sc. louis, USA (Sumba: w\\w.hridgepos.com)
Baja karbon dibagi rnenjadi 3 karegori tergantung dari persenrase kandungan
karbonnya, yaitu: baja karbon rendah (C = 0,03-0.35Q,o), baja karbon mcdiunl
Pada aLad kc-19 muncul material baru yang dinamakan dengan baja yang nlerupJ.kJn
(C = 0,35-0,50~tQ), dan baja karbon tinggi (C = 0,55-1,70 % ). Baja yang sering
logam paduan antara besi dan karbon. Ivlarerial baja mengandung kadar karbon yang
digllnakan dalam struktur adalah baja karbon medium, nlisalnya baja BJ 37.
lebih sedikit daripada besi tuang, dan mulai digunakan dabm konstfuksi-konsrruksi bercH.
Kandungan karbon baja medium bervariasi d.lfi 0,25-0,290/0 terganrung kete-
Pembll:ltan baja dabm volume besar dilakukan perrama kali oleh Sir Henry Bcssenlcr dari
balan. Selain karbon, unSllr lain yang juga tcrdapat dalam baja karbon adalah
Inggris. Sir Henry menerima hak paten dari pemerintah Inggris pada tahun 1855 atas
nlangan (0,25-1,500/0), Silikon (0,25-0,30 % ), fosfor (nlaksimal 0,040/0) dan
temuannya tersebur. Beliau mempelajari bahwa dengan menghembuskan aliran udara di
sulfur (0,05 % ). Baja karbon menunjukkan titik peralihan leleh yang jelas, seperti
atas besi cair panas akan membakar kotoran-kotoran yang ada dalam besi tersebut, namun
nampak dalam Gambar 2.4, kurva a. Naiknya persentase karbon nleningkat-
secara bersamaan proses ini juga nlenghibngkan komponen-komponen penting sepcrri
kan tegangan ldeh namun menurunkan dakrilitas, salah satu dampaknya adalah
karbon dan I1ungan. Selanjutnya komponen-komponen penting ini dapat digantikan
membuat pekerjaan las nlenjadi lebih slliit. Baja karbon llmumnya memiliki
dengan suatu logam paduan antara besi, karbon dan mangan, di samping itu juga
tegangan leleh (j) antara 210-250 MPa
mulai ditambahkan batu kapur yang dapat mengikat senyawa fosfar dan sulfur. Dengan
b. Baja paduan rendah nlutu tinggi
ditemukannya proses Bessemer, maka di tahun 1870 haja karbon nlulai dapat diproduksi
Yang termasuk dalam kategori baja paduan rendah mllru tinggi (high-strength
dalam skala besar dan secara perlahan material baja nlulai menggantikan besi tuang sebagai
elemen konstruksi. Low-aLLoy steel/HSLA) menlpunyai tegangan leleh berkisar anura 290-550 ~lPa
dengan tegangan putus (j) antara 415-700 ~1Pa. Titik peralihan leleh dari
baja ini narnpak dengan jelas (Gam bar 2.4 kurva b). Penambahan sedikit
bahan-bahan paduan seperri chronlium, columbium, nungan, molybden, nikel,
fosfor, vanadium atau zirkoniun1 dapat I11emperbaiki sifat-sifat mekaniknya. Jika
baja karbon mendapatkan kekuatannya seiring dengan penambahan persentase
karbon, n1aka bahan-bahan paduan ini lnampu melnperbaiki si['u mekanik baja
dengan membentuk mikrostrukrur daIanl bahan baja yang lebih halus.
c. Baja paduan
Baja paduan rendah (low alLoy) dapat dirempa dan dipanaskan untuk mem-
peroleh tegangan leleh antara 550-760 MPa. Titik peralihan leleh tidak tampak
dengan jelas (Ganlbar 2.4 kurva c). Tegangan leleh dari baja paduan biasanya
ditentukan sebagai tegangan yang terjadi saat rimbul regangan permanen sebesar
0,2~tQ, atau dapat direnrukan pula sebagai regangan pada saat regangan mencapai
05%.

Baut yang biasa digunakan sebagai alat pengencang meI11punyai tegangan putus
minimum 415 MPa hingga 700 MPa. Baut mutu tinggi mempunyai kandungan karbon
Gamhar 2.3 Home Insurance Company Building. Chicago. maksinllUl1 0,300/0, dengan tegangan putus berkisar anrara 733 hingga 838 rvlPa.
(Sumba: \"'....w.Jf.utexas.edu)
i

_J
2.3 SIFAT-SIFAT MATERIAL BAJA 19
18 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

fu
tegangan leleh akibat regangan 0,5%
~800
tegangan leleh akibat regangan permanen 0,2% J!
100 '" 700
'"" baja dengan fy > 700 MPa;
tipikal untuk baja dengan fy > 450 MPa
fyll
fymtn

tan- 1 E

2%

±.
I"
20%
f sh 1,5%
.,1I
hl'-l------I- ::J 100 :::::;
I
I
I Gamhar 2.5 Kurva Hubungan Tegangin (fi vs Regangan (£)
I
I I I I
a 0,005 0,010 0,015 0,020 0,025

Regangan £, inci/inci daerah


plastis

Gamhar 2.4 Hubungan ccgangan-regangan cipibl. (Sumba: S.tlmon & Johnson, Stet,1
Behavior, 4 th ed.)
S:ructurfS Deiign tPld
fpj~ (l'''_ fy

2.3 51 FAT-51 FAT MEKANIK BAJA

Agar d'lpat memahami peribku suatu struktur baja, maka seorang ahli struktLlr h~HUS
n1emahaI11i pula sifat-sifat mekanik dari baja. Iv10del pcngujian yang paling tepat untuk
mendapatkan sifat-sifat mekanik dari material baja adalah dengan mdakukan llji tarik
terhadap suatu benda llji baja. Uji tekan tidak dapat memberikan data yang akurat
terhadap sifat-siElt mekanik material baja, karena disebabkan beberapa hal antara lain If"
adanya potensi tekuk pada benda uji yang n1engakibatkan ketidakstabilan dari benda uji 2%
tersehut, selain itu perhirungan tegangan yang terjadi di dalam benda uji lebih mudah
dilakukan untuk uji tarik daripada uji tekan. GaInbar 2.5 dan 2.6 n1entmjukkan suatu
I~egangan ·1
permanen
hasil uji tarik material baja yang dilakukan pada suhu kamar serra dengan memberikan
IajLl regangan yang normJI. Tegangan nominal (fi yang terjadi dabm b~nd.l uji diplot pada Gambar 2.0 Ba~ian Kurva Tegangan - Regangan yang DiperbesJ.r
~'lmbLl vertikal, sedangkan regangan (E) yang merllpakan perbandingan antac.l pertam-
bahan panjang dengan panjang mula-mula (!1L/L) diplot pada sumbu horizontal. Gambar Titik-titik penting dalam kurva tegangan-regangan antara lain adalah:
2.5 merupakan hasil uji tarik dari suatu benda uji baja yang dilakukan hingga benda uji ~ : batas proporsional
I11engalami keruntuhan, sedangkan Gambar 2.6 menunjukkan gambaran yang lebih detail J; : batas elastis
dari perilaku benda uji hingga n1encapai regangan sebesar ± 20/0. 1;1111; : tegangan leleh atas dan bawah

1
I
20 BAB 2 f\1ATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA 2.3 KEULETAN t,1ATERIAL 21

f : rcg.angaI1 purus ~ibi daktilitas dari berbagai m.Hcrial b"lj,l bcrbeda-bedd. BajJ mucu tinf~i melniliki
E, : regangan saat nllJlai terjadi efek stmill-harrlclling (pcnguaran regangan) nilat daktilius yang lcbih rendah dibandingkJ.1! mi~hllnya nl11tll BJ 37. Bc-berapJ h,lja ITlutU
Ell : regangan saar tercapain)'J. tegangan pUtLIS tinggi bahkan memiliki nilai daktilitas mendekati satu, atau dengan kata bin hampir
ridak ada bagian yang mendatar pada kurva tcgangan-reg.lngan. Untuk baja mutu tinggi
Titik-titik penting ini membagi kurva tegangan-regangan nlenjadi beberapa daeLlh ini juga tidak menunjllkkan nilai tegangan Ideh if) yang jelas, sehingga niLll tegangan
scbagai bcrikut:
Ideh dari baja nlutu tinggi didefinisikan seb~lgai besarnya tegangan yang d.lpar meninlbul-
I. Daerah linear anL1fa 0 dan 1;, dalanl daerah ini berJaku Hllkum I-looke, kan regangan permanen sebesar 0,2Qo. Rendilinya daktilius juga membuat mJterial baja
kemiringJ.n dari bagian kurva yang lurus ini disebut sebagai Ivlodulus Elastisitas menjadi lebih sensitif akibat adanya tegangan sisa yJ.ng terjadi se1.lma proses Fembuatan
atau Iv10dulus Young, E (= II E) baja tersebut. Proses pabrikasi baja mutu tinggi juga h~uus diawasi dengan kbih cerm.H,
2. Daa.lh e1Jstls aiitar~t 0 dall;;, paJa Jaerah ini jika beban dihilangkan maka beneb tcrUr:llna pada saat pengelasan yang dapat menimbulkan sobekan larnelar (dibahas dalanl
uji akan kembali ke bentuk SeIl1ula atJ.u dikatakan bah\va benda uji tersebut sub bab 2.9).
masih bersifat elastis
3. Daerah plastis yang dibatasi oleh regangan antara 2~;o hingga 1,2-1,50/0, pada
2.4 KEULETAN MATERIAL
bagian ini regangan nlengalami kenaikan akibat tegangan konstan sebesar f.
Daerah ini dapJ.t menunjukkan pub tingkat daktilitas dari material baja terse- Penggunaan material baja dengan mutu yang lebih tinggi dari BJ 37 tanpa ada perlakuan
but. Pada baja nlutu tinggi terdapat pula daerah plastis, narnun pada daerah ini panas (heat treatment) akan nlengakibatkan bahan tidak memiliki daktilitas yang baik
tegangan masih mengalami kenaikan. Karena itu baja jenis ini tidak Dlempunyai dan bahan yang getas/mudah patah, sehingga penggunaan m~HeriJI yang demikian perlu
daerah pLlstis yang benar-benar dat~lf sehingga tak dapat dipakai dalam analisa mendapat perhatian yang lebih dari seorang perencana stfuktuf. OJ-lam perencan"lan struk-
1 •
Pl.lStlS tur baja, keuletan material (toughnesj·) adalah ukurdn dari ~UJrll mat~ri"ll unruk menahan
4. Daerah penguatan regangan (strain-hardening) antara E'h dan E Untuk regangan
Jj

terjadinya punis (fi"flcture) atau dengan kata lain adalah kemampuan untuk menyerap
lebih besar dari 15 hingga 20 kali regangan elastis maksimum, tegangan kenl- energi. Keuletan Inaterial juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menahan ter-
bali mengalami kenaikan namun dengan kemiringan yang lebih kecil daripada jadinya perambatan rctak akibat adanYJ- takikan pada badan nlaterial. Retak yang merambat
kemiringan daerah elastis. Daerah ini dinamakan daerah penguatan regangan akan mengakibatkan keruntuhan getas pada nlaterill.
(strain-hardening), yang berlanjut hingga mencapai tegangan PUtLIS. Kelniringan Dahm uji tarik uniaksial, keuletan material dapat dihitung sebagai luas total dari
daerah ini dinamakan modulus penguatan regangan (E) kurva tegangan-regangan hingga titik putus benda uji (pada saat kurva tegangan-regangan
berakhir). Karena kondisi tarik uniaksial jarang dijumpai pada suuktur yang sebenarnya,
D~lLlIn perenclnaan stfuktur baja, SNI 03-1729-2002 menganlbil beberapa sifat-si(n nlaka indeks keuletan bahan dapat diukllr berdasarkan kondisi tegangan yang lebih konl-
mekanik dari material baja yang sarna yaitu: pleks yang terjadi pada suatu takikan.
Iv10dulus Elastisitas, E = 200.000 MPa Salah satu cara untuk mengukur keuletan dari nlaterial adalah dengan melakukan
iv10dulus Geser, G = 80.000 ~1Pa
eksperimen Charpy (Charpy V-notch Test). Uji Charpy ini menggunaka11 benda llji balok
Angka poisson = 0,30 beton persegi yang tertunlpu sederhana dan nlemiliki takikan berbentuk V pdda bagian
Koefisien nluai panjang, a = 12.10 - (,/oC tengah ben tang. Balok ini kemudian dipukul dengan suatli bandlll berayun hingga patah.
Energi yang diserap oleh benda uji dapat dihitung dari tinggi jatuh bandul hingga benda
Sedangkan berdasarkan tegangan leleh dan tegangan putusnya, SNI 03-1729-2002 uji patah. Energi yang dapat diserap suatu benda llji akan bertambah seiring dcngan ke-
mengklasifikasikan mutu dari material baja nlenjadi 5 kelas mutu sebagai berikut: naikan sllhu pada saar pengujian dilakukan.

TABEL 2.1 SIFAT-SIFAT MEKANIS BAJA STRUKTURAL


Jenis Baja Tegangan Punls minimum, Tegangan Leleh minimum, Regangan minimum 250

f.. (MPa) 1; (MPa)


~ 1~-=:t-=-~-=c-~~-=---:

(0/0)
;,:;0
BJ 34 340 210 22
BJ 37
] 150 ,.)--""""':..---- -------- - •
~;:-
370 240 20
BJ 41 410 250 18 l 1C{) .~\.j,,-~

j5:J¢~C~
BJ 50 500 290 16
B] 55 550 410 13
·100 o 100 200
Temp;;ra!ure("Cj
.H,gh Carbon sl~el <) LCAAl Carbon slEoel
Menurut Kuzmanovic dan \'«illems (1977), mendefinisikan daktilitas material baja .CI)IIjW()f~ed Brass CIAI'Jmini>Jm
• Copper ~A.uste"iltcStafl'\l~s Steel
sebagai rasio antara Esh dengan Ey : oAnnealed Brass

1) = c rh 2.1 Gambar 2.7 Hasil Uji Charpy pacia Berbagai Temperamr


c_
'"' J

i
i
.J,
2.6 PERILAKU BAJA PADA TEMPERATUR TINGGI 23
22 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

Daerah transisi anura rerilakll daktail dan getas dari sllatu material dapat dipcroleh 0'2 = -0', 1 = 0'1 0'2
0'2 = G.
dengan melakllkan llji Charpy pada berbagai temperatllr. Benda uji dapat didinginLln '! '(
ty
t
dengan nlenggllnakan nitrogen eair pada SUhll -19GoC. Cara lain ul1tllk nlend'-tpatLln
sllhll rendah adalah dengan membllat campuran antara nitrogen eair. aJkohol, es (H,O),
-0', ---0 - -0',
t~ ~to ~
!
i
0', 0--0',

dan es kering (CO J Untllk menaikkan temperatur dapat ditempuh dengan eara dirtn~LlIn !
+
= -0', 0'2 = G1
pada air mendidih ;tau dengan dipanaskan pada suatll tllngku pembdkar. Hasil llji Charpy
0'2 +1,oJ
\
untllk berbagai jenis material baja pada berbagai tenlperatur penglljian dinmjllkkan dalam geser murni I
\
Gambar 2.7.

2.5 TEGANGAN MULTIAKSIAL _ _ 0',

Untllk tiap kondisi tegangan mllltiaksial, diperlukan definisi leleh yang jelas, definisi ini
f
'/

dinamakan kondisi leleh (atau teori keruntuhan) yang merupakan suatu persamaan inter-
aksi antara tegangan-tegangan yang bekerja.

Kriteria Leleh (Huber - Von Mises - Hencky)


-0'2 = -G, \-1,0
Kriteria leleh llntllk kondisi tegangan triaksial menurut Huber - von lvlises - Heileky
adalah: \

-O,--~ 0..- -0,

., 1 [( a
a~-=2 l -a 2 )2 + ((Jl.-a j )2 + (a 3
-a l )2] <5:.ly-) 2.2
-02 = -0,
Dengan 0> (5l.' (53 adalah merllpakan tegangan-tegangan utanu, sedangkan G e adalah
tegangan efektif. Dalam banyak pereneanaan struktur (53 mendekati no) atau eukllp keeil
sehingga dapat diabaikan. Dan persamaan 2.2 dapat direduksi n1enjadi: Gambar 2.8 Kriteria Leleh Enagi Distorsi unruk Tegangan Bidang
1
a(2 = a I +a/-a 1a 2 :::;// 2.3
Atau dapat ditlliiskan pula sebagai: 2.6 PERILAKU BAJA PADA TEMPERATUR TINGGI
2 2
~+l_ a,az < 1 Proses desain suatu struktur untuk suatu beban layan pada temperatur normal, biasanya
1/ 1/2.4// - jarang sekali memperhitungkan perilaku nlaterial pada temperatur tinggi. Pengetahuan
mcngenai sifat-sifat/perilaku nlaterial baja pada temperatur tinggi sangat diperlllkan ter-
utama pada saat melakukan proses pengelasan atau pada saat struktur terekspose di dalam
Persamaan 2.3 dapat digaolbarkan sebagai kllrva seperti dalam Gambar 2.8.
api.
Pada temperatur sekitar 93°C, kurva tegangan-regangan akan berubah menjadi tak
Tegangan Geser Leleh
linear lagi, dan seeara bersamaan titik leleh material tidak tanlpak dengan jelas. Modulus
Titik leleh untuk kondisi geser murni, dapat ditentllkan dari kllrva tegangan-rcgangan
elastisitas, tegangan leleh dan tcgangan tarik semuanya akan tereduksi seiring dengan
dengan beban geser, atau dengan olenggunakao persamaan 2.3. Geser mllrni terjadi pada
naiknya temperatur material. Pada temperatur antara 430 - 540°C laju penurllD<ln
bidang 45° dari bidang utama, atau pada saat (Jz = -(J I' dan tegangan geser 't = (J I' Sllb-
sifat-sifat mekanik dari baja meneapai tingkat maksimum. Tiap material baja memiliki
stitusikan (J2 = -VI ke persamaan 2.3 sehingga diperoleh:
kandungan kimia dan mikrostruktur yang berbeda-beda, namun seeara umum hub un-
a~
2
=a l
2
+a l Z -al (
-a)
l = 3a12 = 3T.~ 2 [2Y 2.5 gan antara kenaikan temperatur dengan reduksi sifat-sifat mekaniknya ditunjukkan dalam
Gambar 2.9. Baja dengan kandungan karbon yang eukup, seperti BJ 37, menunjuk-
1 kan perilaku "strain aging' pada kisaran temperatur 150 - 370°C. Hal ini ditunjukkan
Atau: T
y
= \/3r:;/'::=:
Y
O,G/,
Y
2.6 dengan adanya sedikit kenaikan dari tegangan leleh dan tegangan tariknya. Tegangan tarik
mengalami k~naikan sekitar 1O~o pada ten1peratur tersebut dan pad.! cemperatur 260
_ 320°C tegangan leleh naik kembali seperti rada kondisi temperatur ruangan normal.
Modulus Geser (G), dirunluskan sebagai G = _E ()
2 l+p. "Strain aging" akan mengurangi daktilitas material baja.
Dengan E adalah modulus elastis bahan dan Jl adalah angka Poisson. Untuk baja, nilai
~1odulus elastisitas baja tereduksi seeara eepat pada temperatur di atas 540°C. Ketika
modulus geser, G::::: 80000 lvlPa temperatllr meneapai 260 - 320°C, baja mengalami deformasi seiring dengan pertambahan
24 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA
I
1
2.7 PENGERJAAN DINGIN DAN PENGUATAN REGANGAN 25

wakru di bawah beban yang dikerjakan. Fenon1ena ini disebut dengan istilah rclllgkak Efek lain yang terjadi pada material baja akibat kenaikan rempcratur anrara bin
\
(creep) yang biasanya dijumpai pada material beton, pad;} temperatur norn1.l1 fenomena adellah naiknya tahanan impak pada rakikan pada rempcrarur 65 - 95()C, n1eningkatn~'a
rangkak tidak dijumpai pada material baja.
I sifat geras n1arerial akibat peruhahan n1cralurgi dari marerial, dan naiknya ketahanan baja
rerhadap korosi pada temperarur 540°C.

;:
I
Temperatur, °C I

ro Q)
:s
ro t~ 6~0 8~0 10,00
I 2.7 PENGERJAAN DINGIN DAN PENGUATAN REGANGAN
"'0 0. 0. I Setelah regangan leleh Ey = J:IE pada lelch pertama rcrlampaui, dan benda uji dibebas-
ro ro E
0.
r..c
Q)
-g
L...
2
ru
l , 1
J

behankan. oemhch:lnan' kc-rnh:lli ::ibm rnf'rnhf'rik~n hllhllnCT::ln


-··v··-- fPCT::lna::ln-rpCT::lna1n
--v·---o-·· . -0-···<:'·.. • ;V·.lna
- -- - - - - - - - --- .. -. -- . - - ~··0

~2-g
~ .~~
O>.~
~::~
(1)
0,6 I berbeda dari hubungan semula. OaldITI gan1bar 2.1 0 pro~cs p~!l1bebasbebanan terj adi
dari lintasan A ke B, timbul regangan permancn OB. Kapasitas daktilitas berkurang dari
regangan OF ke BE Pembebanan kembali dilnulai dari ritik B hingga mencapai daerah
0,4
2~ ~ c penguaran regangan (titik C). Dari titik C dibebas-bebankan kembali sanlpai ke titik
.~ ~ ~ ~ 0.2 D.
ro E O'l cu
0:::222
o 400 800 1200 1600 2000 Tegal1gan Tarik
Temperatur, OF
(a) Efek Temreratur terhadap Tegangan Leleh Hubungan tegangan-
E (tegangan
c regangan elastis-plastis c putus)

---....:..../-~1
ro
0>
:s
ro
c
ro
0>
I
cu Q) ~ peningkatan I
-g g- E 1,0 I tegangan
0."'0
en cu .....
(1)
leleh I
B -E .§
~2 cu
0,8
Kemiringan
I akibat
I
._ 0. penguatan
~ ~ en 0,6 elastis
I regangan
I
O'l.~
c .....
B
~ :s
::l
0. 0,4 I I
2"§~c
.~ ~ ~ ~ 0,2
I I
cu E
0:::222
0> cu
oV I J I 0 ~ F J I. Regangan
o 400 800 1200 1600 2000
\ I Daerah plastis I penguatan regangan - - - -
Temperatur, OF Daerah elastis
(b) Efek Temperatur terhadap Tegangan Putus
:s Regangan J
ro permanen ·1
cu Q)
"'0 0.
ro c
0. Ci> Gambar 2.10 Efek Pengu:ltan Regangan
1,0
g-:;
~

~
;+;:"'0"'0

~ -E ~ 0.8.
cu 2 en Bila material baja yang mengalami pembebanan hingga mencapai daerah penguatan
w·- ~ 0.6
~.~:~
::l ..... ro
regangan dan kemudian beban dilepaskan beberapa saat, maka material itu akan menanl-
pakkan sifat yang berbeda. Hubungan tegangan-regangan tidak lagi melalui lintasan 0, C
-g:sw 0,4
~roen c E dalam Gambar 2.11) namun titik leleh baja akan meningkat. Fenomena ini disebut strain
::l
L...
0(1)-
._ 0. ::l g,
c
0,2 aging. Baja yang mengalami strain aging akan mengalami kenaikan tegangan leleh, regangan
~E-g ro r~lrik dan tegangan putusnya, daerah plastis dengan tegangan konstan juga n1engalan1i
0:::2~2
o 200 400 600 800 1000 kenaikan, namun daktilitas material ini mengalami penurunan.
Temperatur, OF Beban mulai diberikan kembali dari titik 0, panjang lintasan DC lebih panjang dari
lintasan BA yang mengindikasikan pula terjadi kenaikan titik ldeh, peristiwa ini disebut
(c) Efek Temperatur terhadap Modulus Elastisitas efek penguatan regangan. Proses pembebanan di luar daerah elastis yang berakibar pe-
Gambar ..2.9 Efek Kenaikan Temperatur terhadap Sifat-sifat Mekanik Material Baja. (Sumba: Salmon & rubahan daktilitas bahan, dan dilakukan pada tenlperatur ruangan dikenal dengan isrilah
Johnson, Steel Stntctttres Design and BeharJior, 4'h ed.) pengerjaan dingin (cold form).

~-I

26 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA 2.9 SOBEKAN LA~J'ELAR 27

2.9 SOBEKAN LAMELAR

Pcmbllatan profll baja 11111umnya dibkllkan dengan proses gilas paWlS. Proses ini 111cngaki-
peningkatan
I
c
ro I batkan profil mempunyai siLl( yang berbeda d,lbm arah giLls, arah trans\-ersal dan arah
peningkatan tegangan akibat
ketebalan. Dalam daerah elastis sifat-sifat baja dabm arah gilas dan trans\"t~rsal hampir
0)
c tegangan leleh strain
,---...... E
ro
0)
akibat aging sanu. N,ll11un daktiliras dalam ar,lh keteb.1lan j,luh Icbih kecil darip'lda daktiliras dabnl
~
penguatan
I arah gilasnya.
regangan
I I Sobekan Iarndar merupakan kerllntuhan getas yang terjadi pada bidang gilas akibat

I I gaya tarik besar yang bekerja tcgak lurlls ketebalan elemen pelar profil. Karella regan-
g,lfl yang diakib,ltkan olch bcban Lyan biasanya lcbih keci! dari regangan leIch, n1ak~
I
I beban-beban layan tak diperh~l(ikan sebagai penyebab sobekan lanlelJr. Pada sanlbllngan
I I las dengan kekang'ln tinggi, sobekan lamelar disebabkan oleh penyuslltan las yang Ineng-
I I akibatkan tinlbllinya regangan yang beberapa kali lebih besar daripada regangan lelehnya.
Kerllntuhan akibat sobckan lalnelar dikategorikan sebagai kerllntllhan getas. Sobekan lanle-
I
Regangan br un1umnya dijumpai pada sambungan-sambungan las berbentuk T seperti pada Gambar
~ Daktilitassetelah j 2.13. Oi samping itu ukuran las juga men1pengaruhi terjadinya sobekan lamelar, sebaiknya
penguatan regangan
ukllran las tidak melebihi 20 nlm untuk menghindari terjadinya sobekan lamelar.
dan strain aging

~
Gambar 2.11 Efek Srrain Aging
Z
I

/ transversal

z
2.8 KERUNTUHAN GETAS Arah penggilingan

J\1eskipun keruntuhan struktur baja pada uOlumnya nlerupakan keruntuhan daktail,


naOlun dalam bermacaIn variasi kondisi, keruntuhan baja dapat merupakan keruntuhan
getas. Keruntuhan getas adalah merupakan suatu keruntuhan yang terjadi secara tiba-tiba
z Z = Arah ketebalan
tanpa didahului deformasi plastis, terjadi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Keruntllhan
Gambur 2.12 Arah Gilas, Arah TransversJ1, dan Arah -Ketcbalan
ini dipengarllhi oleh temperatur, kecepatao pembebanan, tingkat tegangan, tebal pelat, dan
sistem pengerjaan. Secara garis besar, faktor-faktor yang dapat o1enimbulkan keruntuhan
gctas pada suatu elemen struktur ditampilkan dalam Tabel 2.2 berikut ini:

lABEL 2.2 FAKTOR-FAKTOR YANG POTENSIAL MENIMBULKAN KERUNTUHAN


GETAS
No Faktor Pengaruh Efek
Temperatur Makin tinggi temperatur makin bcsar peluang terjadinya
kerunruhan getas
2 Tegangan tarik Keruntuhan getas hanya dapat terjadi di bawah
tcgangan tarik
3 Ketebalan material Makin tebal material baja, makin besar peluang terjadinya Gal11bar 2.13 Sobekan Lamebr pada Sambungan T dart Las Sudut
keruntuhan getas
4 Kontinuitas 3 dimensi ~1enimbulkan efek tegangan multiaksial yang cenderung
mengekang proses leleh baja dan meningkatkan
kecenderungan terjadinya kerunruhan geras
Takikan Adanya takikan akan meningkatkan potensi keruntuhan
geras
6 Kecepatan pembeoanan rvlakin cepat kelajuan pembebanan, malin besar pula
peluang rerjadinya keruntuhan getas
7 Perubahan laju tegangan Naiknya kelajuan regangan akan meningkatkan potensi
keruntuhan getas
Las Rerakan pada las akan dapar beraksi sebagai suatu rakikan

Gambar 2.1~ Sobekan Lamelar Akibat Susut Sambungan Las

_L >
28 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

-t 3
Batang Tarik
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah ~empe1ajari bab 1m, ITlahasiswa diharapkan dapat:
Mengctahui perilaku keruntuhan suatu batang tarik
j\,felakukan proses desain penampang suatu komponen srruktur tarik

-t Pokok-pokok Pernbahasan Bah


1.1 Penda..~uluan
1.2 Tahanan Nominal
1.3 Luas ~etto
1.4 Efek Lubang Berselang-seling pada Luas Netto
1.5 Luas ~etto Efektif
1.6 Geser Slok (Block Shellr)
Gambar 2.15 Pengt:rjaall 1..15 umuk Mcnghindari Sobebn Larnehr 1.7 Kelangsingan Struktur Tarik
1.8 Transfer Gaya pada SaIT1bungan

Bagian peLu baja yang mengalami sobekan Iamelar akan rnenjadi berserabut (Gaolbar
2.14), hal ini mengindikasikan bahwa pelat tersebut memiliki daktilitas yang rendah d~lLlm 3.1 PENDAHULUAN
arah ketebalan.
B~Hang tarik ban yak dijumpai dalam banyak strllktur baja, seperti strllktur-struktur
Salah satll cara mencegah terjadinya sobekan lameLu adalah dengan memperb.liki
jembatan, rangka atap, menara transmisi, ikatan angin, dan lain sebagainya. Batang tarik
detail sanlbungan las. Beberapa cara perbaikan diperlih,nkan dalam Gambar 2.15.
ini sangat efektif dalam memikul beban. Batang ini dapat terdiri dari profil tunggal atallpun
profil-prohl [ersusun. Contoh-contoh penampang b~uang tarik adalah profil bulat, pelat,
2.10 KERUNTUHAN LELAH siku, siku g.lnda, siku bintang, kanal, WE dan lain-lain. Gambar 3.1 menllnjukkan
beberapa penampang dari batang tarik yang umllm digunakan.
Pernbebanan yang bersifat siklik (khususnya beban tarik) dapat menyebabkan keruntuhJ.n,
meskipun tegangan ldeh baja tak pernah tercapai. Keruntuhan ini dinanlakan kerllntuhan
lelah (ftltigue fiIi/ure). Keruntuhan ldah dipengaruhi oleh 3 faktor, yakni:
a. jumlah siklus pembebanan
b. daerah tegangan layan (perbedaan antara tegangan olaksimunl dan minimum)
• [ L
(a) pelat (b) bulat pejal (c) profil kanal (d) profil siku
c. cacat-cacat dalarn material tersebut, seperti retak-retak kecil

Pad,l proses pengelasan cacat dapat diartikan sebagai takikan pada pertemllan antara
~
dua elemen yang disambung. Lubang baut yang mengakibJtkan dikontinuitas pacL! elenlen
juga dapat dikategorikan sebagai cacat pada elemen tersebut. Cacat-cacat kecil dalam SUJtu
elemen dapat diabaikan dalam suatu proses desain struktur, namun pada struktur yang
-lL
(e) prof! siku ganda
r
(f) profil siku bintang
I
(g) profil WF
mengalami beban-beban siklik, maka retakan akan olakin bertambah panjang untllk tiap
siklus pembeb,man sehingga akan nlcngurangi kapasitas elemen untuk menlikul beb,ln
Iaran. Ivfutll baja tidak terlalu rnempengaruhi keruntuhan lelah ini.

J[
(h) profj kanal ganda
I
(i) profil S

Gambar 3.1 B-::'crapa f'enarnpJ;;g BatJ.ng Tarik

L.
3.2 TAHANAN NOMiNAL 31
30 BAB 3 SATANG TARIK

3.2 TAHANAN NOMINAL

Dahm menentukan tahanan nonlinal suatu b~ltang tdrik, h~uus Jiperiksa terhadap tiga
nncam kondisi keruntuhan yang menentukan, yaitu:
a. Icleh dari luas penampang kotor, di daerah yang jauh dari s:1mbungan
b. fraktur dari Iuas pen:1mpang efektif pad:1 dac:rah sambungan
c. geser blok pada sanlbungan

!'v1enurut SNI 03-1729-2002 pasal 10.1 dinyatakan bahwa semll.l konlponen strllktllr
van~
.I v
memikul vp-ava
.I
T.It I11:1ka harus melllenuhi:
tarik aksi:11 terf:1ktor sebes:1r

1;, ~ cp. Tn 3.1

SNI 03-1729-2002 menggunakan notasi l\~1 untuk mcnyat:1kan gaya tarik aksial tcr-
faktor, nanUlI1 dalam bukll ini digunakan notasi 7;, untuk nleIllbedakan dengan notasi
untuk gaya tekan aksial yang akan dibahas dalam bab selanjutnya. Tn adalah tahan:1n
nominal dari penampang yang ditentukan berdasarkan tiga nlacan1 kondisi keruntuhan
b~ltang tarik seperti telah disebutkan sebelumnya.
Gambar 3.2 Srrukrur Rangka ArJp Baja d~ng:lI1 Menggun;1bn Prohl Sikll. Besarnya tahanan nonlina!, T,z' suatu bat:1ng tarik untuk tipe keruntuhan leleh dan
(Sumber: Kolc.'ksi Pribldi)
fraktur ditentukan sebagai berikut:

StruktUf rangka atap biasanYJ menggunakan profil siku tunggal atau dapat pula digu- Kondisi Leleh dari Luas Penampang Kotor
nakan dua buah profil siku yang diletakkan saling rnembelakangi S~ltU sarna lain. Jarak di
antara dua buah profil siku tersebu{ harus cukup agar dapat diselipkan sebuah pelat (biasa Bila kondisi leleh yang menentukan, nlaka tahanan nominal, Tn' dari batang tarik me-
dinamakan pelat buhul) yang digunakan sebagai ternpat penyambungan antar batang. Inenuhi persamaan:
Siku tunggal dan siku ganda mungkin nlerupakan prahl batang tarik yang paling banyak T,/ == Al !; 3.2
digunakan. Profil T biasanya juga dapat digunakan dabm struktur rangka atap sebagai
Dengan A luas penampang kotor, mm 2
aiternatif dari profil siku. !;g = kuat lelch material, !'v1Pa

Kondisi Fraktur dari Luas Penampang Efektif pada Sambungan


Untuk b~ltang tarik yang nlempunyai lubang. misalnya untuk penempatan b.1Ut, nlaka
luas penampangnya tereduksi, dan dinamakan luas nerro (A). Lllbang pada batang me-
nimbulkan konsentrasi tegangan akibat beban kerja. Teori elastisitas DlenllI1jukkan bahwa
tegangan tarik di sekitar lubang baut tersebut adalah sekitar 3 kali tegangan rerata pada
penampang netto. Namun saat serat dalam Dlclterial mencapai regangan leleh Ey = J;/Es'
tegangan menjadi konstan sebesar 1;,
dengan defornlasi yang Dlasih berianjut sehingga
senlua serat dalam material mencapai Ell atau lebih. Tegangan yang terkonsentrasi di sekitar
lubang tersebut nlenimbulkan fraktur ·pada sambungan.

T_~_T
fre-~ ~
T_) c: ~ fy -1
~_T

Gambar 3.3 Srrukrur Rangka )embJran KereCl Api. (Sumba: Koleksi Pribadi)
r------+-
I
fmax ::: 3frerata

(a) Tegangan elastis (b) Keadaan batas


Pada struktur rangka jembatan dan rangka atap yang berbentang besar, umunl
diguna~an profil-profil \'\TF atau profil kanai. Gambar 3.4 Disrribusi TegangJn Akibar Adanya Lubang pada Penampang
32 BAB 3 BATANG TARIK 3.4 EFEK LUBANG BERSELANG-SELING ... 33

Bila kondisi fraktur pad.1 sambung.1n yang me ,I, maka tahan~H1 numinal, 7:" 3.4 EFEK LUBANG BERSELANG-SELING PADA LUAS NETTO
dari b~ltang tcrsebut memenuhi pcrsama.:lrl
Lub.1ng baut dapat diletakkan berselang-seling seperti dalam Gal11bar 3.5. Dalanl SNI 03-
T,I = £i~fll 3.3 1729-2002 p<lsal 10.2.1 di.ltur Inengenai cara perhitllngan Illas netro penampang dengan
Dcngan Ae = luas penampang cfcktif;::: U·A lllbang yang dilet;lkkan berselang-seling, dinyatakan bahwa luas netto harus dihitung
An luas netto penanlpang. mm 2
= herdas.ukan luas minimum antara potongan 1 dan potongan 2.
U koefisicn reduksi ( akan dijelaska
= njut)
r: = tegangan tarik punls, ~IPa
1

Dengan ¢ I;dalah f;ktor cahanan, yang besarnya ad


¢ = 0,90 untuk kondi~i klch, dan
1J = 0,75 ulltuk kOlldisi fraktur T~
r-+---+---±i
. ~ cr /'1 ~ ---+
1

r T

Faktor tahanan untuk kondisi fraktur diamb cecil daripada lllltuk kondisi
leieh, sebab kondisi fraktur lebih getds/bcrbahaya, aiknya tipe kerulltuhan jenis
in i dihindari.

3.3 LUAS NETTO Gambar 3.5 Kerunrul1.ln Powngan 1-1 <.bn Po(Ong~lI1 1-2

Lubang yang dibu3t pada sambungan untuk menel J.lat pengencang scpcrti baut
atau paku keling, mcngurangi IUdS penampang sehil: gllrangi pula tahanan penam- Dari potongan 1-1 diperoleh: An = Ag - ".d.t
pang tersebut. ~1enurllt SNI 03-1729-2002 pasal 17 m profil ~genai pelubangan untuk ballt,
dinyatakan bahwa sllatu lubang buLl( untuk baut haing men1tong dengan mesin pcmotong Potongan 1- 2: All = A - ll.d.t+ I~
dengan api, atau dibor ukuran penuh, atau diponsP agar d4ebih keeil dan kemudian di- g 4u
perbesar, atau dipons penuh. Selain itu, dinyatakan tgai remlwa suatu lubang yang dipons Dengan: Ag = luas penampang koror
hanya diijinkan pada material dengan regangan le!J<an profidak lebih dari 360 l'v1Pa dan
An = luas penampang netto
ketebalannya tidak nlelebihi 5600/1v mrTI. lakan da
= tebal penalnpang
Selanjutnya dabm pasal 17.3".6 diatur pula r ukuran lubang suatu baut,
dinyatakan bahwa diameter nominal dari suatu luba sudah jadi, harlls 2 mm lebih
d = diameter Iubang
besar dari diameter nominal baut untuk suatu baut 1I11eternya tidak lcbih dari 24 n = banyak lubang dalam satu potongan
mm. Untllk ballt yang dianleternya lebih dari 24 1111 ukuran lubang hanls dianlbil s,u = jarak antar sumbu lubang rada arah sejajar dan regak lurus surnbu
3 rnm lebih besar. komponen struktur
LlldS netto penampang batang tarik tidak bol, )il lebih besar daripad.l 85<}()
Iuas brurronya, An ~ 0,85 Ag'
• CONTOH 3.2:
• CONTOH 3.1: Tentukan A nwo minimum dari b~ltang tarik berikut ini. ¢ b,wt = 19 n1111, tebal peLlt GO
Hitung luas netto, An dari b~ltdng tarik berikut ini. digunakan berdiall1eter 19 n1m
mnl. Lubang dibuat dengan rnetode punching. JAWAB:

LUbang baut

/
¢ 19 mm

--------.
! ' so-
!
ss-~
I
i
Ii
I
.

60 . A i \ T

-I. J c
1~0 ---~4-----e-
JAWAB:
LUilS kotor, A = 6 X 100 = 600 mm 2 ber: Koleks )
--t-~r-
q

Lebar lubang ~, = 19 + 2 = 21 mn1 I


A/I = A - ( lebar lubang X tebal pelat ) 19ka aeaF 75 1
=~G60
t

-
- 6(21) = 474 nlm 2 < 85 0/o.Ag (= n 2) OK
34 BAB 3 SATANG TARIK 3.4 EFEK LUBANG BERSELANG-SELING .. , 35

Luas kator, Ag ::: 6 x ( 60 + 60 + 100 + 75 ) ::: 1770 mOl 2 Hitllng All minimum dari b~ltang tarik berikut) yang terbuat dari profil siku L 100.150.10.
Lebar Jubang ::: 19 + 2 ::: 21 mm
Dengan ¢ lllbang ::: 25 mm.
Porongan AD:
]A\X'AB:
An = 1770 - 2(21)(6) = 1518 mnl 1
Potongan ABO:

0-; F::A -?
6~-&-
2
5Yx6 55 x6 2
An = 1770-3(21)(6)+--+-- = 1513 mm
o
4x60 4x 100
n ) _ 0
Potongan ABC:
m \ ( 0 }o
sLfCh ~ ----O-~ ~os
2 1 'J B
55 x6 50 x6
All = 1770-3(21)(6)+--+-- = 1505,125 mm~
1

OC
4x60 4x 100

~
Periksa terhadap syarat AIJ .5 0)85·A
g
75 75
0)85·Ag ::: 0,85(1770) ::: 1504,5 mm 2
Jadi An minimum adalah 1504,5 0101 2 .

Luas kotor, A 2420 m01 2 ( tabel profil baja )


:::
Jika sambungan yang diletakkan berselang-seling tersebut dijumpai pada sebuah profil g
Lebar lubang ::: 25 + 2 ::: 27 mm
siku, kanal atau WF) Inaka penentuan nilai u dapat dilakukan sebagai berikut: 2
Potongan AC: An::: 2420 - 2(27)(10) ::: 1880 01111
a. Profil siku sama kaki atau tak sarna kaki 2
75 1 X 10 75 X 10 2
Potongan ABC: A ::: 2420 - 3(27)(10) + + ::: 1978)3 nlJ1l
11 4 X 60 4 X 105

~ o 0 Periksa terhadap syarat An .5 O,85·Ag

~'+92-t
2

~1
0)85.A ::: 0,85(2420) ::: 2057 mm
g
2
Jadi An mininuJm adalah 1880 nlm .

I o
• CONTOH 3.4:
Hitunglah Iuas netro dari pro hi CNP 20 berikut ini, jika baut yang digunakan berdiameter
b.
16 mm.
]AWAB:

o
--t---
-- ~~ -
0

o
91 + 92 - tw ~
s~ ~."' \ _}50 + 30_8,5
= 71,S
¢ 0 G)
I

o
o
o
100 I I
I
I 0 (f)
I
I

s~

I J
c. l'rohl Wt I I
• CONTOH 3.3: --.------1----
I I I I I Q ¢
~ o o
4 @ 50
2
J!2 o ~ All = 177( Ukuran lubang ::: 16 + 2 ::: 18 mIll
Potongan 1: All ::: 3220 - 2(18)(11,5) - 8,5(18) ::: 2653 mm
2

tw
50 2 X(l 1,5+8,5)/2 50 2 x8 5
o Potongan 2: A ::: 3220 - 2(18) (11,5) - 2(18)(8,5) +
1j 4 X 71, 5
+ ---'
4 X 100
o o ::: 2640,54 mm 2

,
36 BAB 3 SATANG TARIK 3.5 LUAS NETTO EFEKTIF 37

Pcriba rerludap sy;.u<lr AI' S O,85·A", Dcngan. C: = 1,00 untuk I 2. 2U'


0,85·A g ::: 0,85(3220) = 2737~ m1l1 2 U = 0.87 llIltuk lzl' > I ~ i.5z£'
U = 0.75 untllk i,5w > I > u'
lldi /i'l minin111rn adalah 2640,54 mm 2.
I = panjang las
ll' = jJrak Jatar bs !11CI11,lnj,lI1g (kb,u pd:u)
3.5 LUAS NETTO EFEKTIF

Kinerja suaru batang tarik dapat dipengaruhi oleh bcberapa hal, nall1un hal yang perlu garis berat -;- penampang \NF
dlperhatikan adal:lh masclbh sambllngan Luena adanya sambungan paela Sllaw b~ltang

h
1\
tarik akan memperlernah bJrang tcrsebur. Ensiell.-;i suatu Sall1bllngan lnerupakan fungsi rr--l
dari daktiliras material, jJrak antar alar pengencang, konsentra:::.i tegangan pac.b lubang
baur serra suatu fenomena ydng sering disebur dengan istilah shrill' lag.
Shear lag timbul jika SU<ltu kOlnponen srruktur tarik hanya disambung sebagian saja,
sebagai contoh aJalah sambungan uIltuk profil siku dalam Ganlbar 3.6. Profil siku tersebut
hanya disambung pada salah satu kakinya saja, sehingga bagian yang disambung akan
mengalami beban yang berlebihan sedangkan bagian lainnya tidak menerima tegangan yang
S3.ma besarnya. Salah satu cara mengatasi masalah shear lag adalah dengan n1emperpanjang
sambllngan. !vIasabh sheilr llg daIan1 pcrhitungan diantisipasi dengan menggunakan istilah
l I
luas nerro efektif, yang dapar diterapkan pada sambungan baut maupun las. Pasal 10.2
ril
I
I
- X

SNI 03-1729-2002 mengarur masalah perhitungan luas nerro efektif Dinyatakan bahwa Gambar 3.: Eks~fHri~i(;js ~,,-mbungdn, x umuk Prahl \('F
luas penan1pang efektif kon1ponen strllktur yang mengalami gaya tarik h:UllS ditentllkan
sebagai berikut:
Ae VA 3.4
Dengan: At' Lua~l efektif penampang
All IUds netto penampang

U = koefisien reduksi = l-i~0,9


x ::: eksentrisitas sambungan
L = panjang s~unbungan dalam arah gaya tarik

Garis berat -l. penampang siku dan petat


Gambar 3.8 Samhungan Us

~ t---

I
- - - x2
Sehin ketenruan di atas, koehsien recluksi U untuk beberapa pen<lmpang n1enUrll[
n1anual dJIi AISC, adahh:
1. Penan1pang-I dengan bl/; > 2/3 atau penampang T yang dipotong dari pcnam-
rlx1
pang I, dan sambungan pada pelat sayap dengan jumlah baut lebih atau sarna
dengan 3 buah per baris (arah gaya)
X = [max(x 1, x 2)} [J = 0,90
2. Untuk penampang yang bin (rcrmasuk penampang tersusun) dengan jumlah
Gambar 3.6 Nitai x unruk Profil Siku alat pcngencang minin1al 3 buah per baris
U = 0,85
Apabila gaya tarik disalllrkan dengan menggunakan alat sambllng las, Iluka akan ada 3. SemuJ penampang dengan banyak baut = 2 per baris ( arah gaya )
3 Inacan1 kondisi yang dijumpai, yai(u: l: = 0.-5
1. bila gaya tarik disalllrkan hanya oIeh las memanjang ke elemen bukan pelat,
atau oleh kombinasi las memanjang dan n1elintang, nlaka: At' = A(7
• COl\lOH 3.5:
2. bila gaya tarik disalurkan oleh las nlelintang saja: ~

A e = luas penampang yang disan1bung las (U = 1) Sebuah pdat lOx 150 mm dihubungkan dengan pelat berukuran lOx 250 mm meng-
3. ~ bila gaya tarik disalurkan ke elemen pelat oleh las nlen1anjang sepanjang kedua gunakan sambungan las sepeni pada gambar. Hitunglah tahanan tarik rencana dari struktur
sisi bagian ujung elemen: A e = U.Ag tersebut jika n1utu baja adalah BJ 41 if; = 250 l\1Pa, fu = 410 MPa)
38 BAB 3 SATANG TARIK 3.5 LUAS NETTO EFEKTIF 39

~
pelat 10 x 150 mm
a _

pelat 10 x 250 mm
~OO -~------9--i 80 + 100- 6,5 = 136 75
22'
bO
~
6,5
Co

~200----.l
I I
o
J I
ad
I
]A\VAB: I.... ...L... ~I
Kondisi lelch:
91'" = ¢JAil; := 0,90(10)(150)(250) = 33,75 ton
Kondisi fraktllr:
1,5u = 225 mnl > f = 200 film> lU := 150 mm
J
-7 U = 0,75
2
A = V·A = 0,75(10)(150) = 1125 mm
cpT11 = 'r'AAe"j~I'11 := 0,75(1125)(410) = 34,6 ton
Jadi, rahanan tarik rencana dari komponen srruktllr tersebut adalah sebesar 33,75 ton.
000 -.. 00 --.
• CONTOH 3.6:
Ae = 0,85·A n Ae = 0,75'A n
I--litunglah tahanan tarik rencana dari profil siku 50.50.5 yang dihubungkan pada suatu
pelat buhul seperti pada gambar berikut. Mutu baja adalah B] 37 (b) siku atau siku ganda
(a) siku atau siku ganda

T x = 14 mm
Ag = 480 mm 2
50
Tu~
~

----.. ~-
]AWAB:
Karena pada ujung profil siku juga terdapat sambungan las, maka nilai U harus dihitllng Ae
x A e = 0,85'A n
berdasarkan persanlaan 1- - ~ 0,9
Kondisi leleh: L (c) profil kanal (d) WF, b1h < 2/3
¢Tn = ¢JAg!; = 0,90(480)(240) = 10,368 ton

Kondisi fraktur:
x 14
V = 1- -
L
= 1- -50 = 0 ' 72 < 0 , 9 (OK)

J
-.

j-
¢Tn = ¢J.Aefu = 0,75(345,6)(370) = 9,59 ton
Jadi, tahanan tarik rencana dari komponen srruktur tersebu( adalah sebesar 9,':;9 ron.
I;! III III I

A e = 0,90'A n Ae = 0,90'A n
• CONTOH 3.7:
(e) WF, b/h > 2/3 (f) T, b/h > 2/3 (untuk profil WF induk)
Tentukan rahanan tarik rencana dari profil WF 300.150.6,5.9 pada gambar berikut ini,
jika baut yang digunakan mempunyai diameter 19 mm.
Gambac 3.9 Nilai U llncuk Berbagai Macam Tipe Sambungan
40 SAB 3 SATANG TARIK
3,6 GESER BLOK 41

JAWAB:
Pot. 1-4-6:
l'v1enghitllng ltus netro profil: 2 2
= 20020 - 3( 19 + 2) + 80 X 20 + 50 X 20 = 5881,G3 2
Potongan a-d: An Illm

'-, All = ~i678 - 4(9)(19+2) = 3922 mm 2


4xGO 4x60
Porongan a-b-c-d: 85~/o A = 0,85(320)(20) = 5440 nun 2
2
-+678 - 4(9)(19+2) - 2(G,5i(19f-2) + 2. 40 (6,5+9)/2
2 Jadi, A gmin = 5140 mm
All
4 x 1.)6,75 Koefisi;n reduksi U = 1 - ,X--IL = 1 - ( ~2·201130 ) = 0,923 > 0,9 ~ U = 0,9
3694,34 mm~
Kondisi Ideh:
85Q,<) Ag = 0,85(4678) = 3976,3 r-;lm 2
¢Tn = ¢JAgj: = 0,90(6400)(240) = 138,24 ton

]adi, An = 3694,3--i mm 2 Kondisi fraktur:


2
A = V·A = 0,9(5140) = 4626 mm
Karena tiap bagian profil tersan1bung, maka disuibusi tegangan terjadi secara mer,lta pada
bagian Rens dan web, sehingga nilai U dapar diambil sanla dengan 1,0.
Air
'f' II
= YAA{'.I':1'u = 0,75(4626)(370) == 128,3715 ton
¢Tn > Tu ( = 1,2D + 1,GL)
Kondisi leleh:
128,3715 == 1,2(0,27) + 1,6(0,87)
¢TfJ = ¢Ag/~ = 0,90(4678H240) = 101,04 ton
128,3715 = 0,24 T + 1,28 T ~ T = 84,45 ton
Kondisi fraktllr: Jadi, beban kerja maksimurTI yang boleh bekerja adalah sebesar 84,45 ton.
Ae = U.A n = 1,0(3694,3-4) = 369-t34 mm 2
~bTn = ¢.A<,~r. = 0,75(369--L34)(370) = 102,52 ton 3.6 GESER BLOK (BLOCK SHEAR)
Jadi, tahanan tarik rencana d~lfi komponen suukrur rcrsebur adaLlh sebesar 101,04 ton.
Scbuah elemen pelat tip is menerima beban tarik, dan disan1bungkan dengan abt pengen-
cang, tahanan dari komponen tarik tersebut kadang ditcntukan oleh kondisi baLls sobek,
• CONTOH 3.8:
atau sering disebut geser blok. Dalam Gambar 3.10 profil siku dengan beban tarik, y.lng
Suatu pelat baja setebal 20 mm disambungkan ke sebuah pelat buhul dengan abt sanl-
dihubungkan dengan alat pengencang, dapat mengalami keruntllhan geser blok sepanjang
bung baut berdianleter 19 111m. ]ika muru baja BJ 37, hitunglah beban kerja m,lksimum
porongan a-b-c. Bagian yang terarsir dalam gambar akan terlepas/sobek. Keruntllhdn jenis
yang dapar dipikul oleh pelat cersebut (beban kerja terdiri dari 2090 beban mati dan 80~o
bcban hidup) ini dapat pula rerjadi pada sambungan pendek yang n1enggllnakan dua alat pengencang
atau kurang pada garis searah bekerjanya gaya.
JAWAB:
Pengujian menunjukkan bahwa kerunruhan geser biok merupakan penjurnlahan tarik
leleh (atau tarik fraktur) pada satu irisan dengan geser fraktur (atau geser leleh) pada irisan
Ivlenghitung IUdS netro, All:
Pot. 1-2-3: lainnya yang saling tegak lurus. Dan tahanan nonlin;;ll tarik daIanl keruntuhan geser blok

An = 20(320 - 3(19 + 2» = 5140 nln1 2


diberikan olch persamaan:
1. Geser Leleh - Tarik Fraktur (fu·A,u ~ 0,6/t/.A m, )
Tn = O,GJ;.Agv + fu·Allt 3.5.a

T! 2. Geser Fraktur - Tarik Leleh (/f/·A m < O,Glt/·A/Il1 )

4@60j
j
J 60
0 4

05
0
2
)
\
T
-----':-
;
132o
I

I
Tn
Dengan:
=

Agv == Luas
A ~t = Luas
A: u
== Luas
O,G/u·Ant'

kotor
kotor
netro
+

akibat
akibat
akibat
J;.Agt

geser
tarik
geser
3.5.b

L I
I
A lit = Luas netro akibat tarik
...L I'
It/ = kuat tarik
Ivy = kuat leleh
1-50-r 80 -i
I geser
POL 1-,1-2-5-3:

An = 20(320 5(19 + 2» +
2
4· 80 X 20 = 6433,3 mm 2
I ---.r
4x60 J
POt. 1-4-5-3:

An "t = 20(320 - 4(19 + 2) + 2. 80~X 20


4x60
= 5786,6 mm 2
I tarik
Gambar 3.10 Kerumuhan Geser Blok

-~---- ~----- -
42 BAB 3 BATANG TARIK 3.6 GESER BLOK 43

Tahanan nominal suatu struktur tarik ditentukan oleh tiga maClm tipe keruntuhan yakni
ldeh dari penampang brutto, fraktur dari pcnampang efcktif dan geser blok pada saI11-
bungan. Sedapat n1llI1gkin dalanl mendisain suatu kOInponen suuktur tarik, keruntuhan
yang terjadi adalah leleh dari penampang bruttonya, agar dipcroleh tipe keruntuhan yang I
---.-• 50
daktail.
~o
I
I
I
• CONTOH 3.9: I
tarik

~I
Bib rasio beban hidup dengan beban mati adalah sarna deng;:m 3, LID = 3, hitunglah
beGan kerja yang dapat dipikul oleh profil L 100.100.10, dengan baut berdiameter 16 111m
I. J
4 x 30 I
yang disllsun seperti dalam ganlbar berikur. B] baja 37 = 240, III = 370 ) (1; x = 22,6

5 x 50 JAWAB:
Kondisi leleh:
I
¢. Tn = ¢.AgJ; = 0,9(1230)(240) = 26,568 ton
I

_rlo
I
Kondisi fraktur:
I
I o 0 A II = 1230 - 8 (19 + 2) = 1062 mIn 2
I
o 0 0 1
0,85·Ag = 0,85(1230) = 1045,5 mm 2

~x·1 V = 1- ~ = 1- 22,6 =
L 90
°' 75
Ae = V·A n = 0,75(1045,5) = 784,125 mn1 2
¢. Tn = ¢.Aefu = 0,75(784,125)(370) = 21,76 ton
JAWAB:
Kondisi leleh: Periksa terhadap geser blok:
¢.Tn = ¢.AgJ; = 0,9(1920)(240) = 41,472 ton 0,6i·AnlJ = 0,6(370)(120 - 3,5(19 + 2))(8) = 8,26 ton

Kondisi fraktur:
fu.A nt = 370(30 - 0,5(19 + 2))(8) = 5,77 ton

An! = 1920 - 10(16 + 2) = 1740 mm 2 (90,6 era A) Karena It/.A nt < O,6.fIl.Anv' gunakan persamaan 3.5.b, sehingga
2
A J = 1920 - 2(10)(16 + 2) + 50 X 10 = 1716,25 mm 2 (89,4 % A) Til = 0,6.!/A lll . + J;.Agt = 8,26 + (240)(30)(8) = 14,02 ton
11- 4 x 40 t'
¢. Tn = 0,75 x 14,02 = 10,515 ton
An rnenentllkan = 850/0 ~ = 0,85 X 1920 = 1632 mn1 2
Sehingga tahanan rencana, Td = 9,945 ton. Keruntuhan geser blok terjadi karena jarak
V = 1-~ = 1- 28,2 = 0 86
L 4x 50 ' antar baut yang kecil, Peraturan Baja Indonesia SNI mensyaratkan jarak mininlal antar
alat pengencang adalah 3 kali dianleter nomiIulnya.
Ae = V.A n = 0,86 X 1632 = 1403,52 mn/
<p. Tn = ¢.Aefu = 0,75(1403,52)370 = 38,95 ton
• CONTOH 3.11:
]adi, tahanan rencana, Td = 38,95 ton
Hitunglah tahanan rencana dari profil siku 100.100.10 pada sanlbungan berikut, jika mutu
Td > ~ =1,2D + 1,6 L
baja yang digllnakan adalah B] 41. Perhitllngkan pula terhadap geser blok!
38,95 = 1,2D + 1,6(3D)
= 6D
Diperoleh D = 6,49 ton dan L = 19,47 ton.
]AWAB:
Beban kerja, D + L = 6,49 + 19,47 = 25, 96 ton.
Kondisi leleh:
Bila digunakan baut berukuran besar (jllrn!..lhnya menjadi kbih sedikit) atau bila rcb.11
pelat sayap CUkllp tipis, maka pedu ditinjau kerllntuhan geser blok. ¢. Tn = ¢.AgJ; = 0,9(1920)(250) == 43,2 ton

Kondisi fraktur:
• CONTOH 3.10: All = 1920 01m 2
Hitunglah tahanan rencana kornponen struktur tarik berikllt, yang terbuat dari profit V = 1- ~ = 1- 28,2 = 0 624
L 80.80.8. Mlltu baja B] 37. Diameter baut 19 mm. L 75 '
44 SAS 3 SATANG TARIK 3.7 KELANGSINGAN STRUKTUR TARIK 45

A g = 1920 mm= 7,5 ton

X = 28.2 mm 0: QQ. 15 ton

Pel at 10 mm

v/
4m 70·70·7
~

T,/
]A\VAB:
2
At' = [1.Ll" = 0,624(1920) = 1198,08 mm Terlebih dahulu hanls dieari besar reaksi pada titik B serra gaya batang AS, dengan meng-
q>.T = 9·.. 4(~~ = 0,750198,08)(410) = 36,84 ton gunakan rumus-rumus d,bar ilmu stJtika.
ll

I Ale = 0
Periksa terhadap geser blok:
2
- RB(2) + 15(3 + 6 + 9) + 7,5(6) + 15(4) =0
Agl = (200)00) + (75)(10) = 2750 n1m
R.1 = 31,25 ton
Agt ' = 100(0) = 1000 nlIl1 2
Am' = 2750 n1m 2 Dengan eara Ritter n1elalui potongan I, dapat dieari besarnya gaya bau.ng AB:
Am = 1000 mm 2 D.... 15 ton I fif D = 0
, ~.tB(4) - 31,25(3) = 0
0,6fu·A,llJ = 0,6(410)(2750) = 67,65 ton

~
' S3D

1t/·A llt = 410(000) = 41 ton


SAB = 23,4375 ton

O,6fu·Am, > fu·A1lf tcrjadi geser fraktur - carik leleh


T,/ = 0,6i·An:' + J;.Agt = 0,6(410)(2750) + (250)(1000) = 69,487'5 ton - - - '"
¢. Tn = 0.75 X 69,4875 = 10,515 ton
/ Rb = 31.25 ton
SAB
Jadi, cahan an tarik reneana dari profil terscbut adaLth sebesar 36,84 ton.
Pada batang .. iB bekerja g,lya tarik terfaktor, T,I' sebesar:
~I = 1,2(0,2)(23,4375) + 1,6(0,8)(23,4375)
3.7 KELANGSINGAN STRUKTUR TARIK = 35,625 ton
Untuk mengurangi problem yang terkait dengan lendutan besar (Lm vibrasi, nuka kom- Periksa syarar kelangsingan b:1tang tarik:
ponen struktur tarik harus Illemenuhi syarat kekakuan. Syarat ini berdasarkan paJa rasio
kelangsingan, A = Llr. Dengan I.. adalah angka kebngsingan struktllr, I adalah panjang
L 300 = 141,5 < 240 OK
A = r. =2.12
:n1O

komponen srrukrur. sedangkan r adabh j.ui-jari girasi (r = J.Y:; ). Nilai A diambil maksi- Kondisi leleh:
Illllm 240 untuk b~1tang tarik utama, d,Hl 300 untuk batang tarik sekunder.
6· T'1 = o{·A
.. V g
= 0,90(240)(2)(940) = 40,608 ton

• CONTOH 3.12: Kondisi frakw[:


Suatu struktur rangka batang dengan pembebanan seperri pada gamb.u berikut: An = 2(940 - 7(21)) = 1586 mm 2
Periksalah apakah batang AB eukup kuat menJhan gaya tarik yang bekerja padanya, jika
Ambil [r = 0,85
beban kerja merupakan kombinasi dari 20~bD dan 809:oL. Asumsikan banyak baut adalah
1 baris (¢ baut = 19 n1m). Iv1utu baja BJ 37. 6T" = ofu·At: = 0,75(370)(0,85)0586) = 37,41 ton
1
Jadi, ¢Tn (= 37,41 ton) > ~I (= 35,625 ton), profil tersebut cukup kuat.
46 BAB 3 SATANG TARIK SOJ\L-SO,;L L:'.TiHAN 47

3.8 TRANSFER GAYA PADA SAMBUNGAN SOAl-SOAl lATIHAN


Pada umllmnya lubang pada b~ltang tarik digunakan oleh alat pengencang, baLlt, atau pakll P.3.1 Sebluh batang tarik bcrukuf.J.i1 10 mm X 1-5 mm disambung dcng3.n 3 bUJ;'" ballr berJi-
keling, llntuk mentransfer gaya dari satll barang tarik ke b~ltang tarik lainnya. ameter 25 mm. J\lutu baj<l :·J.ng digunakan 3.dJlah B] 3-. Hitunslah t.ln.1IlJll =.l.rik rc'ncal13.
Anggapan dasar: Alat pengencang dengan ukllran yang sama akan menyalurkan gaya b~ltang tcrscbut dengan men;Jsunlsikan . . --1,. = ;\'11'
~·'lng sama besarnya bib diletakkan secara simetri terhadJp garis netral kon1ponen struktur
tarik. ~ /10mmx175mm

II CONTOH 3.12:
LJ:~ .••__ l,L
llllUi1~l<Ul
__ •• ,
:;'c1)'d
~~_:1.
ldllt\..
~~ __ :._~1

llVl1111i<tl

t~b:tl peLH h mnl, diameter ballt 19 mnl, dan n111tll baja BJ 37.
i11aksiuUiD1 ddri komponen struktur rarik. berikut ini. Bita II 0 0 i ? 0
I \

/7
Gambar P.3.1

0
0
2
0
0
1
to P.3.2 Sebllah batang tarik dari pcbr berllkuran 10 D1ITI X 190 111m. h.lfUS n1emiku1 beban nuti
Tu sebesar 110 kN dan beban hidup 200 k1'-:, .\futu baja BJ 41 d,lI1 dianleter b.1Ut 25 01m,
3
0 0 ~
Dengan mengaslllllsikan A;: = ..in' periksabh kecukllpan b~Hang tersebut!
0

0
b
0
1
I 1:: 50
10 mm X 190 mm

--.--J o 0
r 60+ 60+60-j o 0

JAWAB:
Gamhar P3.2
a. potongan 1-3-1: ( Gaya 1000/0 ~I )

=S= 7
All = 6(300 - 3( 19 + 2)) = 1422 mm 2 (79 % .Ag)
P.3.3 Hitunglah besarnya luas efektif, At:' pada tiJp-ti'lp komponen srruktur tarik berikur ini!
~I = Aei = U·Anfu
U = 1- 0, 5 X 6 > 0 9
3xGO'
~ U = 09
, 1
125
~
mm
. I

/
16 mm X 125 mm
,125 mm
ffi
X 125 mm

~7
Til = 0,9(1422)(370) = 47,35 ton
b. F0tongan 1-2-3-2-1: ( Gaya 100<}o Tn )
60 2 x6
+ [7 f
2
A = 6(300 - 5(19 + 2)) + 4'-4--- 1602 n1m (89%.Ai
11 X)O
(a) las (b) las
T,! = V.Ani
= 0,9(0,85)(1800)(370) = 50,95 ton 4 @ 50 mm

c. potongan 1-2-2-1: ( Gaya 900/0 TTl)


2
60 x6 I
1512 mn1 2 (84%.A;
A
11
= 6(300 - 4(19 + 2)) + 2 . - -
4x50 000 0 --.
0.9. Til = V.Ani
= 0,9(1483,2)(370) = 50,35 ton
Gambar P3.3
~l = 50,35 / 0,9 == 55,94 ton
Jadi, ~I maksinlunl adalah 47,15 ton.
P.3.4 Sebuah batang tarik dari profil siku tunggal seperri pada gamb<lf (dari baj~ c,:ngan mu(u
BJ 41). Jika baut yang digunakan berdianleter 22 111m, hitungLili tahanan urik re-ncana
dari batang tersebut!

'---~I
48 BAB 3 SATANG TARIK SOAL-SOAL LATIHAN 49

P.3.8 Profil sikll 100.100.12 disambung dengan baut berdiJrneter 19m I1l scpcTti pada gam bar.
I ~ L7575.7 Jika mlltll baja yang diglllukan adalah BJ 37, berap,lkah tJ.h,111.1n t,uik rcncanJ. (Lui kHang

10 0 : y~
tersebut?

I \

YI ~ o o ··············"!;

40 75 40 [
r ·
Gambar I~3.8

Gambar P3A P.3.9 Hitunglah tahanan geser blok dari suatu komponen struktur tarik berikut, jika mlltu baja
B] 41 dan dialneter baut yang dipakai adalah 22 mm~
P.3.5 Profil siku 100.150.10 dari bJja BJ 37 disarnbungkan ke sebuah pelat sirnpul dcngdn baut
berdiameter 25 n1n1. Batang ini n1~n1iklll beban nlJ.ti 200 kN, beban hidllp 400 kN serta
beban angin 150 k0J. Periksalah apakah profil siku 100.150.10 terscbllt mcncukupi untllk

6~
L.100.100.12
memikul beban-beb.ln yang bekeri.{~

o ----..
r-I"
40
3 @ 75 mm
L 100.150.10

150
t64- o
o
I
o
o
0
0
~
P.3.10
Gambar P.3.9
I~" 7f" "I
75 40

Hitunglah beban tarik terfaktor maksimllm yang dapat dipiklll olen batang tarik berikllt,
dengan n1empertimbangkan pengaruh geser blok. I\lutu baja yang digullakan adalah BJ
37 dan dianleter baut 19 mm.

40 75 75 40
CNP 20
Gambar P..3.5
~~~~
P.3.6 B~ltangtarik yang terbuat dari peLl[ berllkllrall G mnl X 125 nlm disambllng dengan las
mcmanjang di kedll.1 sisinya. Panjang 1.15 y,lllg digllnakan ad,llah 175 mm. Jika mutu baja
6°1 o o o
adalah BJ 41, hitungbh tahanan tarik rencarunya!
10°1 o o o
P.3.7 Sebllah pelat berllkuran 10 mm X 250 mm dari baja bernlutll B] 37 disambllngkan dengan
ballt berdiameter 22 mnl. Hitllngbh (;1h.1n,ln rarik rencana dari batJng terscbur~
50t --'--
t = 10 mm
Gambar P.3.10

50! P.3.11 Pilihlah profil siku yang cukup ekonomis yang dapat digunakan untuk batang bawah dari
sllatu konstfuksi kllda-kuda baja (BJ 37) berikut ini. Semu3 batang disambung dengan
75+ --.. nlenggunakan las memanjang.

::t ( 0 I
p u = 50 kN (tiP':~3!)

Gambar P3.7

~,
4.3 KEKUATAN KOLOM 51

4
Akib,lt rerIenrurny.l b:ltang tcrschllr, maka rinlblll Illorncn lcnmr sckllndcr rang
besarnya:
h!(x) = P"}(\) 4.1
Dcngan I11engingar bah\\-a:
d ~ }' _ _ fi! (x)
Satang Tekan d\·2 - Ef
4.2
Sehingga dari 4.1 d,1n 4.2 diperoleh slIatu persamaan difercnsial linear orde dU,l dengan
TUJUAN PEMBELAJARAN koehsicn konstJn:
,~ n
Sesudah mempelajari bab ini, maha~i:)wa diharapkan dapat: (l)' r
!\1emahami kondisi-h"l!1disi dalam n1erencan.lkan SU3.tu kOInponen struktur tekan d'(~ + Ef Y = 0
4.3
Iv1emahaIni pengaruh tegangan sisa, panjang tekllk dan tckuk lokal daJam Dengan nlengubah K l = PIEf, nlaka solusi persamaan 4.3 adalah:
merencanakan komponcn struktllr tekan y(.'() = A.sin K\ + B.co.i Kx 4.4
!\1elakukan anal isis dan desain penampang untuk memikul beban tekan aksial
Dari kondisi baras:
Pokok-pokok Pembahasan Bab y(O) = 0 -7 O=O+B -7B o 4.5.a
4.1 Pendahuluan y(L) = 0 -7 o = A sin KL 4.5.b
4.2 Batang Tekan
Solusi dari 4.5.b ada tiga kenlungkinan, A = 0 y.lng berani tak ada lendutan, KL = 0 yang
4.3 Kekuatan Kolom
berarri tak ada beban, serra KL = N. J[ (N = 1,2,3, ...). Sehingga diperoleh:
4.4 Pengaruh Tegangan Sisa
2 2
4.5 Kllrva Kekuatan Kolonl Akibat Tegangan Sisa K2 = N '7I
P
2
4.6 Tahanan Tekan Nominal L El 4.6
4.7 Panjang Tekuk Atau dari 4.6, dengan !'./ = 1 (N diretapkan sedemikian hingga P memberikan tingkat
4.8 Masalah Tekuk Lokal energi yang minimuI11), diperoleh:
4.9 Komponen Struktur Tekan TerSUSllI1
4.10 Tekuk Torsi dan Tekllk Lentur Torsi I:, 1[:;[
4.7
Dan tegangan tekan yang terjadi:
2
4.1 PENDAHULUAN P 71 £
fer = ~ = (L/r)2 4.8
D.lbm bab ini akan dil-uhas mengenai komponcn-komponen struktur yang mengalami
gaya aksial tekan. Batallg-batang tekan yang banr'lk dijumpai yaitll kolorn dan b~ltang­ Pendekatan Euler pad3. unlumnya diabaikan dalam disain karena hasil d:lfi percobaan-
b.nang tekan daJam struktur rangka batang. Komponen struktur tekan dapat terdiri dari percobJ.an yang dilakukan tak sesuai dengannya. Pendekatan Euler hanya mungkin terjadi
profil tllnggal atau profil tersusun yang digabung dengan Inenggunakan peLlt kopeI. bila nilai I yang cukup besar (l > 110). Untuk nibi 1 yang lebih keciI, akan terjadi tekuk
Syarat kestabiIan dalam nlcndisain konlponen struktllr tekan sangat perlu diper- inclastis. Dan bila nilai 1 < 20 akan rerjadi leleh pada seluruh penampang. Pada kenyataan-
hatikan, mengingat adanya bahaya tekuk (huck/ing) pada komponen-komponen tekan nya, kerllntuhan kolonl lebih banyak terjJ.di akibat tekuk inelastis.
yang I.1ngsing.
4.3 KEKUATAN KOLOM
4.2 TEKUK ELASTIK EULER
Kolonl ideal yang memenuhi persamJ.an Euler, harlls nlemenuhi anggapan-anggapan se-
Teori tekuk kolom pertama kali diperkenalkan oleh Leonhard Euler di tahun 1744. Kom- bagai berikut:
ponen strllktllr yang dibebani secara konsentris, di mana seIllruh seLlt bahan masih daIam 1. kurva hubungan tegangan-regangan tekan yang sama di seluruh pen3.mpang
kondisi elastik hingga rerjadinya tekuk, perlahan-bhan melengkllng. Perhatikan Gambar 2. [ak ada tegangan sisa
4.1. 3. kolonl benar-benar lurus dan prismatis
4. beban bekerja pada titik berar penampang. hingga batang melcntur
S. kondisi tumpuan harus ditenrukan secara pasti
P-----..§;_ ---- ]. ~---
- ?,jJ,,-.--P 6. berlakunya reori lendlltan kecil (srnal! deflection tht!ory)

1-- x --l 'y('~ 7. tak ada puntir pada penanlpang, selama terjadi lentur

Bila asuI11si-asumsi di atas dipenuhi, maka kekuatan kolonl dapat ditentukan berdasar-
Gambar ~.l Kolom Euler kan:
BAS 4 BATANG TEKAN 4.5 KURVA KEKUATAN KOLOM ... 53
52

daerah leleh (fer = fy )


-;:2£
~.r (L / r)2 A,~ = fr .. ig

L
4.9

dengan:
Et tangen T\10dulllS ELltisitas ad] reganS,lIl PIAg
(Y

fl luas kotor penalllpang barang fy


I ~~E~
kIlr = rasio kelangsingan efekrif I inelastik f
>.2
k
L
fakror panjang efekrif
panjang b~ltang ~~"
iari-jari girasi
I elastik
Komponen rekan yang panjang akan mengalami kerunruhan elasrik, sedangkan I
kOlnponen rekan yang CUkllp pendek dapat dibcbani hingga leleh arau bahkan hingga
menlasuki daerah penguaran regangan. Namun, dalam kebanyakan kasLls kerunruhan rekuk
rerjadi setelah sebagian dari penampang mdinrang barang mengalan1i leleh. Kejadian ini
dinamakan rekuk inelasrik
fer
71

~
2
E
I
- - -1- - - - - - ---+ - - - -
I
I
I
I

I
I
I
/ },

4.4 PENGARUH TEGANGAN SISA


o 20 90 110
Tegangan sisa (residualstres;)') adalah rcgangan yang masih ringgal dalan1 suaru komponen
Gambar 4.2 Pengaruh Tegangan Sisa
stfukrur yang dapar diakibarkan oldl beberapa hal seperti
1. proses pendinginan yang rak nlerara akibar proses gilas panas
2. pengerjaan dingin
Untuk memperhirungkan efek dari ldeh a\val yang diakibarkan oleh regangan sisa,
3. pembuaran lubang arau pemorongan saar fabrikasi
perharikan saru serar pada penam pang sejarak x dari sumbu dengan regangan nol yang
4. proses pengelasan diakibarkan oleh lenrur.
Pada un1umnya regangan sisa banyak dihasilkan akibar proses 1 dan 3. Besarnya
regangan sisa rak rerganrung pada kuar leleh bahan, namun berganrllng pada dimensi
dan konfigurasi penampang, karena faktor-faktor tersebur n1empengaruhi keceparan pen-
,. x------1 I
sumbu dengan regangan nol
dinginan. Profil WF arall profil H serelah dibenruk n1elalui proses gilas panas, maka
bagian sayap menjadi lebih rebal dari bagian badannya, mendingin lebih lambar daripada
bagian badan. Bagian ujung sayap n1empllnyai daerah senruh dengan lldara yang lebih tegangan = E(" f)
luas dibandingkan daerah pertemuannya dengan badan. Konsekuensinya, regangan rekan
sisa rerjadi pada ujung sayap dan pada daerah rengah dari badan. Sedangkan regangan sisa
rarik terjadi pada daerah perten1uan anrara sayap dan badan. L jarak ke serat terluar

4.5 KURVA KEKUATAN KOLOM AKIBAT TEGANGAN SISA


Gambar 4.3 Tegangan pada Serat Scjarak x dari Sumbu Regdng:ul Kal Akibat Lemur
Akibar pengaruh regangan sisa, kurva regangan regangan seperti diperliharkan pada Gambar
4.2.
Maka konrribusi momen lenrur dari regangan pada saru serar adalah:
PIA PIA
dM = (tegangtm)(luas)(lengan momen) = (8·E/x)(dA)(x) 4.10

P/A~ -f;;:-- akibal tegangan -------: t leleh Dan pada seluruh penampang:

Pp/A~
'L'(-"""Sisa
-;
:Trine,astik M = fe.E
.
.A
t
.x
2
d4 = efe.E ·x 2 d4
.A
t
4.11

II I
elastik
Dari reori lenruran balok, bahwa jari-jari kelengkungan:
"----------'---. E

R=e1
£ t
(a) (b)
4.12

I
54 BAB 4 BATI-.NG TEKAN 4.5 KURV.A KEKUATAN KOLOM ... 55

JAWAB:
1 ~
tJ = R= E'.! 4.13
Akibat beban luar. regangan yang timbu! daLlm ti.lp SCLl( b.llun adJbh sa!ll:~. Hingga rer-
capainya regangan leleh ey yang perranLl kali, beban ~,ang bckcrja diekspresikan dengan:
Sehingga: P = fa. dol = a· A
,!
J..,! • ,
£'.! = e = }" E:.x-di 4.14
Setelah seb.lgian dari penampang rnenS3lanli leleh, m.lka bebJn kerja lnenj.ldi:
P = (A - A~ ) I J + JI ·dr!
E' = r1·JEr·x-d-t
,
4.15 A~

• .-1
&

II --1 'y
Lihat kembali kllfva ttgangan regangan ideal (garis putllS) pada Ganlbar 4.2, ul1tllk I < II
1;, Dlaka Et = E, dan untuk I = fj Et = 0, Dlaka 4.15 menjadi: :v
II .
drabaikan I
: E = 200 GPa
£, = -£ f ·x·-1 I~
2d = E- 4.16
II
II
II
[A{t-!,zstiI: I I I
! .

2
71 £' _ ;72£ ~ b/4 £,
f~ 4.17
/\2 - .tX 2 I
Atau
,,' .£.(1, I!)A = fa A
roon
~
rrnnrj f/3

~r (k.L / r)-' g
4.18 f y /3

Bib tak ada tegangan sisa dalam komponen struktur tekan, pada saat It' == I, dan Ie, =
1;,
berlaku: Saat bekerja beban h, = PIA < 21/3, seluruh penampang masih elastik, sehingga Et = E,
atau mengingat persamaan 4.16 menghasilkan E1 = E (karen<l Ie = I), sehingga:
2
E rE
J;, =
7I
Y = f. arau -\ = "vI: 4.19
~ = 2(1/ 12)(tf)(b / 2f' = (b / 2f = ~
I 2(1/ 12)(tf)(b)3 bJ 8
fer
2

fy I r , atau -
k·L
= A =.. !1r (200000)
= 111,072 (titik 1)
(2/3)(240)
I

----!------ I
Bib bekerja gaya h,
Ie< I, sehingga:
= PIA> 21/3, ujung Hens akan nlulai mengalami leleh, yang berakibat
.
!
~ _ 2(1/ 12)(tf)(b / 2)3 (b/2f' _ ~
o i., I - 2(1/ 12)(tf)(b)3 bJ - 8
) _ fE
'y - ;r / -
1'"2
\1 f
~ y 2
21;r 1i E(Ic- / I) 7fl£
Gambar -tA Komponen Strukrur Tekan "[lnpa Tegangan Sisa Icr=-3-= (k.L/r)2 8(k.L / r)2

Tegangan sisa pada komponen struktllr tekan nlempengaruhi bentuk kurva pada k·L = A = (titik 2)
daerah 11 < 1 < 12 , di ffiJna 0 < Ie < I. Pada daerah 0 < 1 < 11, scr = fy.
Dan ketika bekerja gaya hr = PIA == 1;, nlaka:
• CONTOH 4.1: 1r 2
E
GaDlbarkan kurva lfc, ~'S A) untuk tekuk arah sumbu lemah, dari profil I berikut ini, yang ler = I] 8(k.L / r)l
mempunyai!r == 240 ~fPa. Profil hasil gilas panas ini mempunyai kurva tegangan sisa
yang sudah disederhanakan seperti pada gam bar. Abaikan kontribusi dari bagian badan 2
(web). Hasil pengujian menunjukkan kurva tegangan regangan material elastoplastik, E
k·L
A= 71 (200000) = 32,06 (titik 3)
(8)(240)
= 200.000 ~1Pa.
56 BAB 4 SATANG TEKAN 47 PANJANG TEKUK 57

Dan hila uk ada peng.lrllh tegangan Si:."l, aLHl dipcroleh Deng.m hcs~)[nya el) direntllk,ll1 olth Ac ' ~;alfll:

2 Untllk )"c < 0,25 maka 4.24.a


k.L 71 (200000) = 90,69
Ay 1,43
240 (titik 4) Untuk 0,25 < )"c < 1,2 n1.lka 4.24.b
1,6 - 0,67 Ac

fer
Untuk }"c > 1,2 nuka 1, 25/\ 2 4.24.(

J kurva Euler
4.7 PANJANG TEKUK

KoloIll dengan kekangan yang bcsar tcrhadap rotasi dan translasi pada ujung-u,iungnya
2i3 f y
(contohnya tumpllan jepit) akan ffidmpll Il1cnahan bcban yang lebih besar dibandingkan
deng:.ln kolonl yJ.ng mengalan1i rotasi serra translasi pada bagian tumpllan lljungnya (con-
tohnya adalah tumpuan scndi). Selain kondisi tllrnpuan ujung, besar beban yang dapar
diterima oleh SUdtu komponen struktur tekan juga tcrganrung dari panjang efektifnya.
Scrnakin kecil panjang efektif suatu kOlnponen struktur tekan, maka sen1akin kecil pula
risikonya terhadap masalah tekuk.
32,06 39,27 90,69 111,072

I I II
I
I ,

II
I
I
II
I
I
II
I
I
II
I
I
• il.c
"
= ).
\ I I l i ~ I !! +
!l ! ! t

o 0,35 0,433 1 1,225 I I j 'I \


?
Ir~I ~I.J

I I /1 :
I
I
Garis pulus
\
I ,
1
I
me~u.nJukkan
POSISIkolom
I "
\
I II
\
I
I
I 1
,
I
, I

I
TAHANAN TEKAN NOMINAL pada saat \ I I
I
4.6 I

I
tertekuk I \ I I I I
/
I

Suatll kOIl1ponen struktur yang Il1engalami gaya tekan konsentris, akibat bcban tcrf.1ktor
I J", I I
1lr ; ~
Nu, menurut SNI 03-1729-2002, pasal 9.1 hanls Il1emenuhi:

i~, < ¢c.lVn 4.20 II iii iii I i i


L -~~- l
' i I I

0,85 i I I
Dengan: CPr = I ~
Nu = beban terfaktor
I Harga. I 0,5 I 0,7 I 1,0 I 1,0 2,0 2,0
Nn = kuat tekan nOIl1inai kOIl1ponen struktur = Ag/~ IK~Offi~ I ~~~_I~~~__~I~~~~~~~~~~_
i I I i I
I 0,80 I 1,2
Tegangan kritis untuk daerah elastik, dituliskan sebagai:

T
.fer
=
7r
2

All = ~
E 1 4.21
[ K desain

I 1, I 0,65

.~~
I
I
1,0 2,10 2,0

J J C I ! :: jepit

schingga \
A IJI
= -;; ~ E
~
4.22
;
! Keterangan
I
I
"1 sendi

II Y rol tanpa rotasi

L
I
I
Daya dukung nominal N n struktur tekan dihitung sebagai berikut:
I? ujung bebas

I 4.23
Nil = Ag·fcr = Ag'~
w Gambar 4.5 Panjang Tekuk unruk BeberapJ Kondisi Perleubn (GJmbar ~.6-1 Sl\,II 03-1729-2002)
58 BAB 4 BATANG TEKAN
4.7 PANJANG TEKUK 59

Panjang d~krif SU,ltll kolom seCHa sedcrh<lIld dapar didcfinisikan sebagai jarak di
PefS<lma,lll 4.25 d'lpat dikeell,llikan llntllk kondisi-kondi;;i berikut:
,lllrara dua tirik pada kolom tersebllt yang mempunyai m01l1Cn S,llna dcngan nol, auu
didefinisikan pula sebagai jarak di antara dUd ritik belok dari kelengkungan kolom. Dalam a. llntuk komponen suukrur tekan yang d.lsarnya tidak rerhllbungkan seeara kakll
pcrhitungan kebngsingan komponen struktur tekan 0.. = Llr), panj.lng komponen srruktur
p~1da pondJsi (con rohnya rUIll puan sendi), nilai G ridak boleh diam bil kllrang dari 10,
ke..::uali bib diLlkukan analisa sC'cara khllSUS untllk mendJpatkan nilai G tersebut
yang digunakan h~UllS dikalikan suatu fakror panjang tekuk k untuk memperoleh panjang
efektif dari kolom rersebllt. Besarnya fakror panjang efektif sangar rergantung dJri kondisi b. llntuk komponen stfuktur tekan yang dasarnya rerhubllngkan seear;} kakll pada
pondasi (tUlllPU.lr1 jcpir), nibi G tidak boleh diarnbil kurang dari 1, keellali dilakukan
pcrletakan pada ujullg-lljllng komponen stfllkrur tersebut. Prosedur penentu.ln nilai k
J.:13,lisa seeara khuSllS untllk mC'ndaparkan nibi G tcrsebllt
dilakukan dengan analisa tekuk terhadap su<ltU k010m, dan eara anaIisa tersebut tidak
clibahas dabm buku ini.
~( T ~
SNI 03-1729-2002 pasal 7.6.3.1 mernbcrikan daftar nilai faktor panjang tekllk
untllk bcrbagai kondisi tumpuan ujung dari SUJtu kcbm. Nilai k ini diperoleh dengan
BC'saran Ll L) dihirung denS,ln Int'l1juIlllahkarl kekakuan semu3. komponen struktur

rnengasllnlsikan balnva kolom tidak mengalami goyangan atau translasi pada ujung-lljung tekan (kolom)-dengan bidang lenrur yang sama-yang terhubllngkan seeara kaku pada
tunlpllannya. ujung komponen sUuktllr yang sedang ditinjau.
Nilai k untuk komponen struktllr tekan dengan dengan kondisi-kondisi tumpuan
ujllng yang ideal seperti dalam Gambar 4.5 dapat ditentukan seeara mudah dengan meng-
gunakan ketentllan-ketentuan di atas, namun untuk suatu komponen stfuktur tekan yang
Bcsaran (1'
I L J, dihitung J"ngan menjumlahbn kekakuan semua komponen struktur

IC'l1tllr (b.llok)-dcngan bid<lllg lentur yang sama-yang rerhllbllngkan steara kakll pada
merupakan bagian dari sllatu stfllktur ponal kaku seperti dalam Gambar 4.6, maka nilai
lliung komponen StfUktllr yang sedang ditinjau.
k hafLls dihitung berdasarkan suatu nomogram. Tunlpuan-tumpuan pada lljung kolom
tersebut ditenrukan olch hubungan anrdra balok dengan kolom-kolom lainnya. Portal
GA K GB GA
dalanl Gal11bar 4.6.a dinamakan sebagai porral bergoyang sedangkan portal dalam Gambar K GB
\
x
4.6.b disebut sebagai portal tak bergoyang (goyang.ln dieegah dengan mekanisme kerja

r r:
500~

r'
~'500
dari bresing-bresing yang dipasang). 100
50
3 a 09
.50
30
100~~
50 ')
3 ['
20
roc 100

50
[;000
500
3.0

·4 a 20
20 20

r
08 90
6 'J
90
o
80

10~
100J

f"
7'J 70
08 60 6.0
07 50
06
05
to, -07
06
OS
40
20
50

40

30 30
04

03j
~"
\---03

02
b "l r20

r:
02
10 -J ~1 0
01~ -l. ~o, J
05 La j
(a) (b) (al K:Jrrpc"e-- S""~'o;tur tak be'gcyarg
(b) Kompcnen StruktlJ" be'goyar.g

Gamhar 4.6 Portal Kaku Bergoyang dan Tanpa Goyangan Gamhar 4.7 Nomogram Fakror Pal1jJ.ng 1ekltk, k (S~l 03-]-,29-2002 Gb.7.6-2)

• CONTOH 4.2:
Nilai k untuk masing-masing sisrem portal rersebut dapat dieari dari nomogram Hirunglah nihi k unrllk ma:'ing-n13sing kolom d,lbm stfukrur berikut:
dalam Gambar 4.7. Terlihat dalam Gambar 4.7 bahwa nilai k merllpakan fungsi dari GA ]A\VAB: F
dan GB yang merupakan perbandingan anrara kekakuan komponen struktur yang dominan
terhadap tekan (kolom) dengan kekakuan komponen stfuktur yang relatif bebas terhadap
c -,
13 m

-+/3,25
:11 ~:
gaya tekan (balok). Nilai G diterapkan berdasarkan persanlaan:

I(f} m

G=
t
I(i)L b
4.25
I
I
I
I
I
I
---L.

t- 6 m I I- 9 m ~I

,
4.9 KO~.1.::l0NEN STRUKTUR TEKAN TERSUSUN 61
60 BAB 4 BATANG TEKAN

4.8 MASALAH TEKUK LOKAL


Elktor kek,lkuJn ma:;ing-masing elcl11cn:
JiLt penampang n'.clinung su ::u komponen srruktur rekan cukup tipis. maka akan ad~l
I (ern") L (em) IlL
Elemen Prohl kCll1ungkilun timbul tekuk b:-:.l!. Jik.1 tekuk lokal terjadi nuka kOll1ponen srruktur rer-
3=)0 IjA8() sehut tidak akan Ll~i nlJI11PU l:'.-:'111iklll behln tc.'kan secara pcnuh, dan ada kCIl111ngkinan
\\TF 20U.200.8.12 4720
.\B pub suuktur ter~(but aLw m::ngaLlIl1i keruntuhan. Prohl-profil \VF dengan tcbal Hens
4720 300 15,73
Be \VF 200.200.8.12
11,57
:'ang [ipis cukup [lwan terhaClp b'lh.1:"a tekuk loka.l, sehingga pcnggunaan prohl-profil
\~fF 250.125.6.9 4050 350 dcmikian seb,likn~'J. dihincLui.
DE
300 13,5
EF \'\T 2=)0.125.6.9 4050 5:\1 0.1-1729-2002 memb.~r,lsi rasio aI1ULl lcbar dCIlgan kctehalJn SLlaru elemen. dan
4720 5)U i.iAR6 pc:nampang suatu komponen s~:-"'tktllr chpat Jiklasifikasikan menjadi penampang kompak,
GH \VF 200.200.S.12
4720 300 1'),73 tak kompak dan L1ng~ing. Suatu pen,lD1pang yang menerinu beban aksial tekan murni,
Hl \VF 200.200.8.1l
33500 600 55,83 kekuatJnI1ya hanlS dircduksi j:~:.l pen.1111pang: tcrsebut termilsuk penampang yang lang-
BE \'VF 450.200.9.1/~
600 39.5 sing. Rasio antara lebar dengan tebal suatu clemen hiasanya dinotasikan dengan simbol
\Vf 400.200.8.13 23700
CF k Untllk profil \\T maka keb!1gsingan Rens dan web dapJ.t dihitung berddsarkan rasio
56100 900 62,33
EH \,\'F 450JOO.ll.18 b( Ilt( dan /l1[II' dengan bf d,lI'l [f adaLlh leDJr dan tebal dari Hens sedangkan h dan (\v
38 7 00 900 43
n \'\/F 400.300.10.10 .ldalah (inggi dan rcbal dari \':::0. Jika niLli I lebih besar dari Slldtll batds yang ditentu-
kan, i. maka pendmpang dika:~gorikan seb.~gJ.i penan1pang Iangsing dan sangat potensial
T
,

menS'lbmi tekuk lokal. Batasa~-batasan }"I untuk berbagai tipe penampang ditllnjukkan
d~lLlln Gamb.n 4.S.
Fakrur G ti.lp-tiap joint:

S (I/L)c 1 S (I/L)b G
Joint
4.9 KOMPONEN STRUKTUR TEKAN TERSUSUN
10
:\
(13,486+15,73) 1 55,R3 0,523 Komponen strllktur rekan dapar terSLlsun dari dua atau lebih profil, yang disatukan dcngan
B
1 ),7.) 1 3~,=) 0.398 nlenggunakan peLH kope\. Analj)is kekuatannya harus dihitllng terhadap sumbu bahan
C
10 dan sumbu beGas bahan. Sumbu bahan adllah sumbu yang memotong semuJ. elemen
D
0,212
komponen strukrur tcrsebut, sedangkan sumbu bebas bahan adalah sumbu yang sama
E (11,57+ 13,5) 1 (55,83+62,33)
sekali tidak, atau hanya 01emowng sebagian dari elerr1en komponen struktur tersebut.
13.5 1 (39.5+43) 0,164
f Analisis dilakukan sebagai berikut:
10
G Kebngsingan pada arah sL:mbu bahan (sumbu x) dihitung dengan:
(13,486+ 15,73) 1 62,33 0.'169
H
1 15,73/43 0,366 \=~ 4.26
J~.

Dan rada arah sumbu bebas bdh,1f1 h~UllS dihitung kdangsingJi1 ideal /\:v:
Fakror panjang efektif, k, masing-masing kolom:
:' Ii!,:, 4.27
\., = ,//\ +~/\
GA Gn k
Kolom
10 0,523 1,80
AB d.ln
1, 15
Be 0,523 0.398
~ =
k·[
d,ti1 A = L:
0,212 1,72 l' 1 - 4.28
DE 10 ~}
7 ~1"f'
0,212 0,164 1,07
EF
0,469 1,79 Dengan:
GH 10
O.,·'i69 O,,)()() 1,1 R L.... ~y = panjang kornponcn stru~tur tckan ~lf~lh x dan arah y
HI
k = faktor paniang tekuk
r),:> ~l r min = jari-jari girasi kon1ponen srrul~tur
m = konstanta :;ang besarnya ditentukan dalam peraturan
L1 = jarak antar pdat kopel rada arah komponen srruktur tekan
Pelat kopcl yang digunakan harc.s cukup kaku sehingga memenuhi persamaan:

~--_.-
4.9 KOMPONEN STRUKTUR TEKAN TERSUSUN 63
62 BAS 4 SATANG TEKAN

bdakang yang tebalnya t deng.ln tinggi h, mdka


b/2 I I] = Inomcn inersia minimllll1 satu bU.lh profil
-- ~ lO- 4.29
tl I = jarak antar dua pus;:u titik berat elemen komponcn strllktur
Dengan: ~'J = momen inersi.l peLu kopel, untuk pelat kopel di rnuka dan di
Sdain ketc!1tuan terscbut di atas, untllk menjaga kestabilan demen-elemen pen am-
pang kon1ponen strllktur ter-"llSlln, maka harg;l ;~'\" Ai;:' dan )~] h~HllS n1en1enuhi:
bf /2 b )~x ~
I1"'-"',i
I
I 1, 2 )"] .
~ :
L_JJ \
t
.
_t.L_- r I ,
Alv
A;
~
~
1,2 A] 4.30

tT
-r
c=:-:=..J .- 50
T--I: 1 U ld Pelat kopel hanls dihitung dengan menganggap bah\va pada selurllh panjang kom-
ponen srruktllr tersUSlln tersebllt bekerja gay a lintang yang besarnya:
~~\ \h -~ ~ Du = 0,02 ~j 4.31
~ 250/ Jf: t I

j
b It
dlt5:335/K • CONTOH 4.3:
Rencanakan komponen stfuktur tekan berikut dengan memakai profil \XfF. Kondisi perle-
takan jepit-sendi. Beban aksial tekan terfakror LV/( = 120 ton. ~'111tU baja B] 37 = 240 if;
bf I 2t, ~ 250/ Jf: fu
MPa, = 370 MPa). Panjang batang L = 4500 111m.
hit" ~ 665/ Jf:

r b l---lt
l..--b~
I~--'
'1
h

L
b It ~ 25~/ Jf: bit ~ 200/ F blt~ 250/ K
665/ K
Gambar 4.9 Pelat Kopel pada B'ltang Tebn Tcr~ll~lln
hi tw 5,

Coba profil \VF 300.200.9.14


t d = 298 01n1
,4 b 'i i b = 201 01n1
I I

r~-l
t til' =9 Olm

hI
ibi ~
I
b

3r
-.

T1
I-. t.v tf i

I I

(f
t -r-=' ,
L'
I

rr
1t 1 d
bit ~ 625// 'V'y
b It ~ 625/ Jf: o It ~ 22000/fy
hI t~1 ~ 665/ Jf:
Nu
Gambar ·t8 ~ilai BaLls I.., umuk B~rbag;li Tire Penamp,mg

I
64 BAB 4 SATANG TEKAN 4.9 KO~.1PONEN STRUKTUR TEKAN TERSUSUN 65

t{ = 14 mOl k.L 0,8x4500 _ 7- 4"7


ro = 18 mm A
)
=- '=
l"y
y

47,7
- ), I

h = d-2(t + 1'0) = 234 mOl


1' = 126 mm
x
f

1'), = 47,7 n1m


,\

cY
0= ,\y
iT VE
u: = 75.47
iT
~ 240
200000
0= 0.832

Ag = 8336 mn12 1,43


0,25 < \1' < 1,2 --7 0..'y = 1,6 - 0,6 7 /\·1
JAWAB:
Pcriksa kdangsingan penalnpang: w'
y
= 1 / (1'\
1, 43
/-y 1'\ 0')")\
= I 372'
. 1, U - \ V , IJ / .': V, 0 _1 L )

b/2 _ 201
Flens t - 2x14 = 7,18 N
ly- = 8336·--
= A·g f = Ag .u.,'.~ 240;,_
= 1-,±),82 ton
f 11 1, 372 if

p; - .fi4O
250 _ 250
0= 16.14 ~
cj>·N
120
0,85x145,82 = 0,97 < 1
OK
r 11

b/2 Jadi, profil \X1F 300.200.9.14 CUkllp llntuk memikul beban tekan terfaktor 120 ton,
< A OK
tf f

• CONTOH 4.4:
Rencanakan komponen struktur tf'kan berikur, yang 111cnerima hcban aksial tekan rer-
\Veb h 234 [lktor, N u = 60 ton. Gllnakan profil T. PanjJng batang 4000 mnl, dengan kondisi tlln1puan
-;- = -- = 26
r,' 9 jepit-jepit. I\1Utll baja BJ 37.
Coba profit T125.250
~ _
p; - .fi4O 665
I-
b ... 1

t
42.92 d = 125 0101

~-T-1
0=

b = 250 mm
h OK t lU :: 9 nun
<A .. - ------- T -------- x
ttl. f 1" = 14 mm
d
2
Ag = 4609 mm
= 29,8 mm
I i-1_
k = 0,8. 1'
Kondisi tumpuan jepit-sendi,
Arah SUI11bu kuat (sumbll x): 4 x
1'
y
= 62,9 mm
~~
t
/\ = k.L.~. = 0,8x4500 = 28 57 JA\VAB:
x 1'\ - - / ,
Periksa kelangsingan penampang:

f7: 28.57 I~ 0 3149 Flens


b _ 250
~E ~ 200000
,\ 0= ,\. 0= 0= _J_1

0: IT IT ' 2.t( - 2x 14 = 8,93


_ 1,43
0,2)<\x<I,2 --7 w =16-067A
X
, , r~ p; - .fi4O
250 _ 250
0= 16,14
W = 1,43 = 1 0295
1,6 - (0,67 xO,3149) , bI
x
OK
I 240
2i; < \
y
N = A ·f = A .~ = 8336·-- = 194,3 ton
11 gag u.,'.\. 1, 0295
N 120 \XTeb d 125
_"- = = 0,73<1 - = - = 1388
OK tli' 9 '
Or .jV rz 0,85xI94,3
~=~=21,62
Arah surnbll lemah (sumbu y):
p;.fi40
.i
t
< A
f
OK
u

Kondisi tumpuan jepit-jepit, faktor panjang tekuk k = 0,65.


66 BAB 4 BATANG TEKAN
4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ._. 67

Arah sumbu lemah (sumbu x):


c. Tc~uk lcntur torsi, yang terjadi akib,lt kombinasi dari tekllk lc'ntur dan tckuk
\ _ k.L, _ 0,65x4000 _ 7-
/\ - - - - 87 ... ) torsi. Batan;; akan terlenrur dan terplll1tir secara bersamaan. Tekuk lentur torsi dapat
'r,_ 29,8 '
tcrjadi pada pCl1ampang-penarnpang dengan saru sumbll simetri saja sepcrti profil karul,

,\ = -\
,x TI ~E
fT = 87,25 ~I200000
240
If
= 0,9617 T, sikll gandJ, dan siku tunggal sama kaki. SeLlin itLI juga dapar terjadi pada penampang-
penamp<lng unpJ sumbll simctri seperti profil siku tllnggal tak sanla kaki dan profil Z.
Gamb.u .f.11.a menunjukkan sebuah komponen strllkrur tekan dengan penampang
1,43
0,25 < /\ <1,2
.,.
---7 w·
.,
=- --. \
1,6-0,67/"
nlelintang berbentuk silang, sedangkan Garnbar 4.11.b adaIah sebuah porongan sepanjang
dz, dari komponen Struktllf rersebut. Pada suatu potongan elemen dA bekerja gaya tekan
1,43
(. (. ' ~ = 1,6-(0,67xO,9617) = ,1 qyo.) 1,...;- ..
FdA.. Pada <lwalnya regangan yang terjadi adabh seragam pada selllruh panjang elenlen
,

l\'

_:l_
n

lV
9, '1V n
= A·gf a=g

Arah sumbu kUJr (sumbll y):


W
ly
A .-'---

60
0,85.\"73,93
x
=

=
4

° '
240

955<1
... .,
6 0 9 · - - = 1),93 ton
1,4963

OK

I
I
I
,,
,

I
I
I
I
r
I

/\ = ~ = 0,65x4000
I
,
I
, I

! ~y 62,9
41,335 , I

u:
I
I
,,
I
,
I

.A = .A.y = 41,335 ~ ,
" 11 VE 7r 200000
=04 56
' 5
\
\
\
,,
\
\
\
1,43 \
0,25 < A < 1,2 ---7 W = 6 A \
,,
.:" J 1,6-0, 7 cy
•• ~

u.:
.r
=
1,6-(0,67xO,4556)
1,43 = 1 1043
, j I ~
Iv, = A· f .I- = 240 = 100 16 ton
y
= A 4609·-- =lF~

_1'_
N
9, ·N.,
., g

=
CT

_
g WX

120
O,S)xl 00,16
= 0,70:; < 1
1, 1043 '

OK
=~"=J
II
I ~
?1F
«(
~
",4

~/
[

(a) Tekuk Lcntur (b) Tekuk Torsi (c) Tekuk Lentur Torsi
Jadi, profil T 125.250 CUklip llntllk memiklll hchan terfaktor l\~t = 60 ton. Gamhar 4.10 ~ga ~hcam Mood Tekuk Komponen 5trukrur Tekan

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR TORSI sebab beban tekan yang bekerja adalah konsentris. Akibat beban yang bekerja akhirnya
suatu titik yang tederak sejarak z dari ujllng elemen akan terrekuk seperti pada Gambar
Jika seb1l3h komponen srruktur tekan dibebani beban aksial tekan schingga tcrjadi tckuk 4.11.c. Perpindahan pada titik tersebut dari posisi awalnya adalah sebesar u. + du. Dari
tcrhadap keselllrllhan clemen tersebllt (bukan tekllk lakal), tnaka ada tiga macam poten~i Gambar 4.11.a diperoleh hubungan:
tekuk yang mllngkin terjadi di antaranya:
u = r-¢ 4.32
a. Tekllk lentur, pada llmllmnya kekllatan komponen struktur dengan behan aksiJI
tekJn mllrni ditentukan oleh tekuk lentllf. Hingga kini komponen struktllr tekan yang dengan I adalah sudut puntir dan r adalah jarak dari pusat geser ke dA.
dibahas adalah komponen struktur tekan yang mengalami tekuk lentur. Tekuk lentur
n1engakibatkan deAeksi tehadap sumbu lemah (sllInbu dengan rasio kelangsingan terbesar). ]umIahkan mamen-momen terhadap sun1bu z dalanl Gambar 4.9.b:
Setiap komponen strllktur tekan dapat n1engalami kegagalan akibat tekllk lentllr. dTv = Jr·dQ ·dr = 0 4.33
b. Tekllk torsi, model tekllk ini terjadi akibat adanya pllntir daLun sumbu melllLln-
jang komponen sUuktllr tekan. Tekuk torsi han)'a terjadi pada elemen-elemen yang langs- ]un11ahkan pd.l p.1omen-mnmen daIaITl Gan1bar 4.11.d:
ing dengan sUlnbu simetri ganda. Bentuk profil standar hasil gilas panas umumnya tidak dM·dr + Q·dr·dz + fdA.dlt = 0 4.34
nlempunyai resiko terhadap tekllk torsi, namun profil yang tersusun dari pelat-pelat tipis Dari persamaan 4.34, selesaikan untuk Q dan kemudian diferensialkan ke-z:
harus diperhitungkan terhadap tekuk torsi. Sebagai contoh, penampang yang riskan terha- dlvf du
dap tek~lk torsi adalah penampang berbentuk silang dalam Gambar 4.1 a.b. Penampang
Q.dr = --;;;:.dr - I·t/A· dz 4.35
ini dapat disusun dari empat buah profil siku yang diletakkan saling nlcmbelakangi.
68 BAS 4 BATANG TEKAN 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR '" 69

2 2
T l\,/.rlr = f]. rl 1{ _ r: r" ·Jr d l{
4.40
dz2 - L '12' dz2
b 2 u Dengan J = t).drI12 ad.:.Lili momen inersia dari eIt'men dA. Diferensiasikan persan1aan
4.40 dua kali ke-z d.lI1 sL:S~rirllsikan rf! A1/dz! ke dabm persamaan 4.39) sehingga diperoleh
hubllngan:
I
u + du
dT t ~ . d'; 11 d:' U
+E.-J-_ .r·dr+ I -.,r·d4 = 0
I
I
__I
4.41
dz 12_~d::,' Adz-
dA 1/ 1

(a)
LB (b)
1
2
Karena

samaan 4.41:

- G]
T,
.

. ·0 " +E.r~
,In

.'

'dr+ I'''I''
- - · 0 '- . I" r-·
12
'9 r~'{{'11
JII

~
/IT
= G.]. Ldz'v , ~hingga ~+ = G.] ~ . Sllbstitllsikan dTv/dz ke dalam per-
~

A
,.(l·A

~-

=0 4.42

Dengan mengingat bahwJ:


J 4 1 ~ !. 4.b-~
I r-'ar =
1
x-.r',I', = - - 4.43

J
A 3 I' 3

~
'dA
f
M·dr dan I":'.M = JP (I addlah Inersia polar)
l'
4.44
A

o dr_ •.. I.. !v1aka persamaan 4.42 d.lpat disederhanakan menjadi:


3
,\ ." E.(3 :-. 4.b
-G.].Q +-·0 . - + 1'9 ./
'II

\\ dz 12' 3 P
=0 4.45

(M+dM)dr \ '.f--ir.- + dO) d~


E.t
3 J
f'dA - - · 0:!· 4.b
., +(/·I -G.]).q"= 0 :J 4.46
"+fdA 12
(M + dM)dr J

(c) (d) 3
E .t ·b , iv +
atau --9-'9
3
(I .J i -
G . ]) ,9,,, = 0 4.47
Gamhar 4.11 Tekuk Lemur Torsi pada Penampang Berbentuk Sibng
Faktor b-3.t~/9 disebut sebagai konsranta torsi warping, Cw untuk penampang berbentuk
silang. Masalah konstanIJ torsi warping ini akan dibahas lebih lanjllt dalam bab VIII
ten tang torsi. Persamaan -i.47 dapat disederhanakan menjadi:
dQ d 2M d 2u I ·IP -G·] ·0 "-- 0
-·dr = ---·dr- 1·d4·- 4.36 ¢' iI' + 4 . 48
dz dz2 dz2 E.Cu.' '
Bagilah persamaan 4.33 dengan dz) dan sllbstitusikan hasilnya ke dalam persamaan
atau ¢/" + K
2
.c/J" = 0 4.49
4.36:
I·I -G· r
dT" dQ
- + I r·-·dr = 0 dengan K' = ;.C J 4.50
dz A dz w

dT + (d
_I' I
dz A dz2
2
M
--·dr
2
d u = 0
- 1·d4·-
dz2
J 4.38
Persalnaan 4.49 merupakan suatu pcrsamaan diferensial linear homogen orde keempat,
yang mempunyai soIusi:
¢ = A·sin Kz + Heos Kz + C·z + D 4.51
dT . d 2 Af d:'u
__I + Jr.- -, .dr- II-,r.d4 = 0 4.39
dz A dz~ ,i dz-
Konsranta £1, B, C, dan D da-pat ditentllkan dengan menggllnakan kondisi batas yang ada.
Jika tumpuan pada ujung-ujung kolom adalah jepit, maka dapat digllnakan empat buah
Karena A! adalah momen per satuan r) maka n10men pada eIemen dA (= t.dr) adalah kondisi batas sebagai berikur:
lvI.dr) sehingga: qn=O=O O=B+D
qn = L = 0 0 = A·sin KL + B·cos KL + CL + D
( ~} " 0 ~0 0 ~ AX + C

i
- - . . . 1 . - - -__
70 BAB 4 BATANG TEKAN 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR .. 71

11 CONTOH 4.5:
'lentllkan ripe kCrUl1tllh,ln komponcn stfllkrur tekan berikllr ini. jiLl diketahui bah\'. ~
( d!:
d...
Jz = L = 0 o == A·K·cos A'L - B·K·sin KL + C
p'lnjang kolom ter~ebut adalah 4,5 nl dJI1 pad'l ujung-ujung kolom tidak terjadi nlon-..en
torsi (kek'lngan jepit).
Elimin3.sikan C dan D dari keempat persamaan rersebut sehingga dipcroleh dua bU,lh
persamJan linear: JAWAB:
A(sin AI - KL) + B(cos KL - 1) = 0 4.52.a
I = I = 2.-~.[/.r
~ t
A(C05 KL - 1) - B.sin KL ::; 0 4.52.b .\' ) 3
t = 12 mm b = 15 em IXl ::;')X1.2 ,
= ~- ---- = l. '-UU CTI1'
-i
Solusi dari sistenl persamaan linear terscbut eksis jika determinan dari persamaan
tersebut sarna dengan no!' jika evaluasi terhadap determinan dilakukan dan disamakan
3
dengan no!, maka ak3.11 diperoleh persamaan: b = 15 em
= Ix + I} = 5400 ml-l
Ips

SIl1-'
. KL KLJ
. AL ( 2,sll1--A2·ms- =0 4.53
---l ! = 4. 2.b 3 .t = 4.~.15(l,2 /'
- 3 3 .
222 L15 emJ..15 cmJ
PersamJan 4.53 terpcnuhi, jika KLll = IT aUll KIl2 = 4,49. Subsritusikan nilai aku terkecil
=34,56 O1l-l
kc dalam persamaan 4.50, sehingga didapatkan tegangan kritis nlinimum: 5 3
b .r _ 05 x l,2l = 648 ml
,1 6
e!l' = 9 - 9
G·] + E.C~I'
Jrz

f~ =
4.54
I
p
( 1/ X L) .1p
/2 - . = ~1'2~OO
r.>: - '.Y /2
= 6.124 em

Jika ujung-ujung kolom adalah tumpuan sendi, maka kondisi batas yang ada adalah cfu/dz! 2 648 + 0,04(34,56)( 450/2)2 = 13,08 em 2
rt
= 0 p:lda z 0 dan z
== = L, serra c/J = 0 pada kedua ujung kolon1, maka diperoleh besar
5400
regangan kritis:
rt 3,62 cm
= G·J + Jr'!.£.Cw Jadi, profil tersebut akan nlengalami keruntuh3.n akibat tekuk lenrur torsi.
f .~ I L2 .] 4.55
? P
Secara umum 1;, dapat dituliskan menjadi: • CONTOH 4.6:
Periksalah apakah keruntuhan tekuk lentur torsi dapat terjadi pada profil \XTF 400.200.8.13
_ G·] + Jr2 E·Cw berikut ini:
f~ - I (.)'!. 4.56

,b, 200'-==S-T
P KL·I p
JAWAB:
Dengan k adalah faktor panjang efektif yang terganrung pada tunlpuan ujung kolol11, k =
1/2 ul1tuk jepit dan k = 1 untuk sendi. Persamaan 4.56 berlaku untuk profil-profil dcngan
= 13 J = H 2(200)(I})3 + (374 )(8)3J
dua sumbu simetri (sebagai contoh adalah profil silang dan profil WF). Selanjutnya dapat
ditentukan jari-jari girasi profil yang dap:lt menilnbulkln tekllk lentur torsi, yai ru dengan
II = 2140576mm-l

Ie, C u ' =J}.114


cara menyamakan dari persamaan 4.8 dan 1;, dari persamaan 4.56:
tw=~~OO J

= (400-13)2(1740.10 4 )/4
ji!.E G·J /izE.C u '
---=--+--- 4.56
(koX')' I, (KL)'.l p = 65 1495 15·1 0-4 mn1-}

Ip = h· + ~y = (23700 + 1740).104 = 25440.104 mm-i


C,.. +0,04.](k.L)!.
/65149515.10 4 , 0,04x2140576xL~
4.57
C,-,-.. 0,04J.L':.
Ips - -+ - - - - - = 1---'---1 - ---------~
IF If ~ 25440.10 1 25440.10 4
Jika rt dari persamaan 4.57 lebih kecil dari rx arall r profil, lllaka keruntuhan profil akan
J = ~2560,91 + O,000336.L~
ditentukan oleh tekuk lentur torsi. Ips dalam persamaan 4.57 adalah momen inersia polar
r, min = 50,60 mm (dicapai jika L = 0 mm)
terhadap pusat geser.
karena r: min> ry (= 45,4 film), maka profil ini tidak akan mengalami tekuk lenrur torsi,
d:ln kcrunruhannya akan ditentukan oleh tekuk lentur terhadap sumbu )'.
72 BAB 4 BATANG TEKAN 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ... 73

SNI 03-1729-2002 pasal 9.2 mens:'aratkan pemeriksd'lll terhadap rekuk Ie-Deur :,:':-si jA\'llli:
untuk profil-profit siku ganda d,Hl profil T. Dinyatakan bah\\'J kUdr reklo renc~na :lk:2,H Periksa kelangsingJn penampang
tekuk lcntur torsi, ¢n N1Jft dari kOInponen srruktur rekan yang terdiri ddfl siku ganda ':::,lLl
berbentuk T, harus memenuhi: Hens !?.. = 90 = 9

«I < ¢JJ «zit -!.58


t
200 _ 200 _
10
')
Dengan: If; - ilia - L,91
¢JJ = 0,85
~z!t = Agizlt b 200
-; < i{- -lo penampang tak kompak
...L {\I I + .+ .u l
({

j = ~cr\' J cr: II I II _ 11 _
/1 •
-r J en J cr:. ~-J 4.59
'\ J.Y

,Il 2H { V Cfn.+faJ 2
\XTeb Tak adJ syarat
Dan:
feT = G·) Kondisi (umpuan jepir-sendi, k = 0,8
~ -)
4.60 Dicoba menggun'lkan 6 buah pelat kopel:
A·'l)-
II = 3000 = 600
J +/ 2 2 6-1
_2 _ x·_.y +x + Yo
ro - A o -f.61

(2 \ '\
Al = !:L = 600 = 46,875 < 50 OK
12,8
"?"-J
x rmin

H==I-l 4.62 Arah sumbu bahan (sumbu x):

Keterangan:
A = k·L. = 0,8.\3000 =85.10
.1 r, 28,2
Yo merup3kan koordinat pusat geser terhadap eitik berat,
a. x()' X
o
=0 untuk siku
ganda dan profil T. Ax (= 85,10) > 1,2 Al (= 56,25) OK
b. fry = J;/OJ j)/

E Arah sumbu bebas bahan (sumbu y):


c. G adalah modulus geser, G = -(--)
2 1+ V Ay = 2 (}\l + Ag{cy + t/2)2)

. ,,1 Av = 2 (39,6,104 + 1410 (15,6+4)2) = 1.875.331,2 nlm 4


d. J adalah konstanta puntlr, J = L..J '3 b.t 3 A'pro,7.Cf= 2 x 1410 = 2820 mm 2

• CaNTOR 4.7:
r, == I
~ Apr,:/;!
Iy == /1875331,2 == 25.7878
~ 2820
mnl

Periksalah apakah profil J L 60.90.10 berikut cukup kuat menahan beban aksiaI ter£'L~wr
N u = 30 ton, jika panjang b~ltang 3 m dan kondisi perletakan jepir-sendi. ~'luru baj..1 B]
37. -1.) == k.L, == 0,8x 3000 == 93,06
rx 25,7878
~
Data profil

::.\\\\...
Ag = 1410 mnl l Kelangsingan ideal:
~m
f
I
e,>: = 30,5 mIn 2
)"1) = ~Ay- +2 AI
e Y= 15,6 nlnl
f 4
= 1 12. 10 nl n1
/'y = 39,6.10 4 nln1 4
T.,. = 28,2 mm
4
90

L
1----
ex
r.;;:;:;;;;; ,. I ~
).. ;. =
'.1
J93,062+~46,8752
~ 2
= 104,1989
~. ;. .:-:·~;- . . r':'"~·;··.·.~ ).. ;) ( = 104.1 989 ) > 1,2 Ai ( = 48,696 ) OK

f
Y 'L60J
~y = 16,8 nln1
1"11 = 12,8 mIn
Karena }'1y > Ax' tekuk terjadi pada sumbu bebas bahan
tp = 8 mm

Ary -
_ Ai]
Jr ~
r7: =
E
104,1989
Jr
I~ = 1,1489
~ 200000
74 BAB 4 BATANG TEKAN 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ... 75

1,43 • CONTOH 4.8:


0,2) < Aq < 1,2
(~} = 1,6-0,67Aq S-:blUh komponcn srriJktur r-:kan di:?ngan beb,Hl J.ksial tcrbktor iV = 80 ton dan memiliki
Funjang batang 4,5 m. Rcncdn,lkdIl ko'-mponen 5uuktllr rersebur d:ri dua buah profil kanal
1,43 rersusun, rencan,lkan Fula dimensi peldt kopeln:·~l. ='-1urll bJ.ja BJ 37.
OJ = = 1,722
y 1,6-(0,G7xl,1489)
]A\VAB:
,
N n = Ag·jer = A/T'----'- = 2820-- = 39,3 ton
h 240
Dicoba profil kanal C\:P 20: 75 10 75

Periksa terhadap tekuk lentur torsi:


o OJ x 1,722
~
Dlea C:\P 20
.. ~ = 3220 mm 2 r IT l
:-. -":": ;.. :.-:1I :'.:'r ;.... ':~.".~.:. :~:···.I
•. :'.........• ~

T = 20,1 mm
I
iV,,!t = Ag. hit = 1910.10· mm i 4
-f I
I = 148.10-1 mm 4 I
)[1- 11 4' fc fc",B] I
fit

fit
. = (!cry +!crz

. = (. f·r; + fer::
2H

2H
)[1- 14..fc
ry

V (fery +!crz)
'

r)"ferz. H
2

J
]
4
L
. = 77 nlm
= 21,4 mOl
=11,5 01111
= 8,5 mnl
2L I
I
I
I
I
I
(!cry + fen t = 10 mnl

j 'crz = G.]
-2
t
A.rO

G = _E_ = 200000 = 76923 MPa Kondisi tuOlpllan jepi[-sendi, k = 0,65


2(I+v) 2(1+0,3)
Periksa kelangsingan penamrang:
] = 2L~b.t3= 2r!.60.103+~.(90-10).103] = 93333,30101 4 ~ _ 75
3 3 3 Flens t - 115 = 6,52
Yo = ex - tl2 = 30,5 - (I0/2) = 25,5 Olnl 250 _ 250
X
o= 0
.[l; - ~2..jO = 16,137
b 2-)0
4
-<--- OK
2 1 +1 X}I
012+39,6).10 +0+2552 = 1187,84 mOl 2
2 2 _ , t i
Fa = ~+xo +Yo - 2820 ';!y

\V'eb h 200
76923x93333,3 = 2143,314 MPa ---;- = -8)- = 23,5~
fcrz = 2820xl187,84 Ii" ' . -

2 665 _ 665
_ x o +Y0 2 = 1- 0+25,52 = 0,4526 - '\ J" = 42,92
H -1- _2
ro
1187,84 Ii
'J J.} ..:40

h
- < }.. OK
1: = fy = 240 = 139,373 MPa t r
cry W
iy
1,722 u'

Dicoba pasang 10 pellr kopel:


hft = 134,41 MPa
4500 _
«.It = A,( felt = 2820 x 134,41 = 37,9 ton
L1 = - - = )00
10-1

Jadi, tekllk leotllr tOL'ii menentukan. )"1 = ~ = ~ = 23.30<50 OK


rmh 21...
¢c·Nnlt = 0,85 x 37,9 = 32,2 ton
~-\ :ah SUrl1bt. x:

~=~=O,93<1 OK A = k·L. = 0.65x4500 = 37 99


¢c . N n1t 32,2 • r.{ 77 '
Profil j L 60.90.10 cukup kuat. 1\. (= 37.99) > l~}.(= 28.032) OK

,
-I
76 SAS 4 SATANG TEKAN 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LEi'JTUR ... 77

Arah sumbu): 1 ,
I.. = 1 (Iy } + Ag(t:r + t/2)2 ) Bib I"' 1
= 2·-t.lr
2 ,den£an lebal tneLl( L'
(t = 8 rom), dineroleh
t
/; > 10.1,6 mm. Gunakan

~r 2 (148.10 1 + 3220 (20,1 + 5)~) = 7.017.264,4 mm


4
= h = 110 mm.
2
Ar'J,fi/= 2 x 3220 = 6440 mm
Cek keku3tan pelat kopel:

~ =
J- 1,_.-= ~/22l?264
6~40
,4_=33.01 I
D = 0,02 «I = 0,02 x 80 ton = 1,6 ton
A -,,~t?f
Gaya sebesar 1,6 ton dibagi llntuk 10 pel.u kopel, sehingga Ill;lsing-Inasing kope1 memikul
k-L, O.65x45C1Q = ~g.61 mOl
),• \ =--=-~Ol
l", _'I..),
0,16 ron .

Kelangsingan, ideal: Kuat geser pelat kopel:

l, = ~ ~
1 !~2 m,2
A~y = \j)) + 2""\ " t
=
8
= 13,75

i ") 2 ")
}~i" = ,188,61"+-23,36- = 91,64 k =5+_5-=5+ 5 =29
-' \ 2 11 (all1)2 (50'2/)2
A~, (91,64) > 1.2A(= 28,032) OK /110

KarenJ A~y > i..\., tekuk rerjadi pada sumbu bcbas hahan

f4 =
, I
·E
H
11 _n_=ll."
, V
/29x200000
240
y
=
17
1

A
q
= }'"
;r ~ E
91,64
1C
240
200000
= 1,0105 ') H·E
A
III'
<1,1 _'_I- se h'mgga
....,....,
y
1,43
0,25 < i.e! < 1,2
wy = 1,6 - 0,67 A0' \~I = 2.0,6~.Au' = 2(0,6)(240)(110)(8) = 25,344 ton

1,43 if \~, = 0)9 V:, = 0,9(25,344) = 22,8 ton


(I) = - - - - - - - = 1549
l=~=0009<1
.y 1,6-(0,67x1,0105) ,
OK
17
1'/ = A .f = A -~ = 6440--=--=-=- = 99,78 ton
240 ¢'V:l 22,8 '
/I g cr g. OJ,. 1,549
¢L .Nil = 0,85 X 99,78 = 84,8 ton • CONTOH 4.9:
N 80 Sebuah kolom dari prohl baja (B] 37) dengan panjang b~1tang 5 Ill, Illempunyai tunlpuan ujung
-11-=-=0,94<1 scndi-sendi. Pada arah sllmbu lemah diberi sokongan !ateral di tengah ben tang. Beban aksial
¢c .Nn 84,8 OK
terf..'ll<.tor, N" = 75 ron. Pilihlah prohl \X1F yang mencukupi kebutuhan kolom tersebut.
Perhitungan dimensi pebt kopcl:
Syarat kekakuan pd.n kopel, adalah harus di penuhinya: JAWAB:
1 I Coba profil INP 30:
1~10-l.. Data INP 30:
rbi
~I 100
a L1
d = 300 mm
4
I} = I"rin = 148.104 mm b = 125 mIll
I} = 500 mm t w = 10,8 mm tw
IZ = 2e + ~!' = (2 x 20,1) + 10 = 50,2 mm t = 16,2 mm
, I 1 r
h = 241 mrn d
1 ~l~.a 2500 Ag = 6910 nlm
f' Ii I = 9800.10 4 Inm 4
1 ~10.148.104 .50,2 j:, = 45 1.10 4 mm 4
P 500 rx = 119 mm
1/J!~ 1485920 mn1 4 r
y
= 25,6 mm

I
~
78 BAB 4 BATANG TEKAN
SOAL-SOAL LATIHAN 79

I\:riksa kebng~ingan peO.1mp,ll1g:


SOAL-SOAL LATIHAN
b/2 _ 125
Flens t - 2x16,2 = 3,858 P.4.1 - P.4.3
I Hitllnglah tahanan tekan re-ncana d.ui m'lsing-masing komponen strllktur tekan yang
~_
ft - ...fi4O
170
= 10,97
ditlllljukkan d::lLlm Gambar P-±.1 - P4.Y

b/2 170 ~
-"<
tf J!~
- ~ penampang kompak
-.-Y !
\Veb h 241
-=-=')2'11
tIL'

1680
10,8
1689
"-,~ WF 400.400.13.21
(BJ 37)
-1 WF 300.300.10.15
(BJ 41)
- - = - - = 10844
f7;...fi40 ' -l- I
h
-<--
1680
ft
'II. ----'-*
til' -» penampang kompak
I I
Gambar P4.1 Gambar E·L2
Arah sumbu bahan (sumbu x):

A = k.L.\. = 5000 = 42017


x '.'1: 119 '
~
Arah sllmbu bebas bahan (sllmbll y):

A = k.L\ = ~50~ =97656


1
\' ~\' 25,6 ' WF 250.250.9.14
(BJ 55)
Ay > Ax (batang menekuk ke arah sumbll lemah)

},,, = Ay
(J if VE
(4 = 97,656/ 240 = 1,0768
rc' 200000
o 25
,
< A
cy'
< 12 --) (I) =- -1,43
-
1,6-0,G7 A
.Y
cy
Gambar P.4.3

(I) =---~~~- = 1 6177 P.4.4 - P.4.6


\' 1,6-(0,67.x1.0768) ,- Pcriksaldh bahaya tekuk lokal dari masing-masing komponen strllktur tekan dalam soal

Nil =A 'j
h = 6910--
= Ag '-- 240
= 101 '88 ton
P.4.1 - P.4.3!
,I( cr (Or 1,6277
P.4.7 - P.4.9
~~- = _2~_ =0.866<1 OK Jika masing-masing kOIl1pOnen srruktur tekan dalarn soal P.4.1 - P.4.3 diberi pengekang
<Pc'NII 86.6 lateral dalam arah sLlmbu lemah, hitunglah besarnya tahanan tekan rencananya !

P.4.10 Profil \'\fF 350.175.7.11 digundk.ln sebagai suaw komponen struktur tekan dLng~ln f.lnjang
9 m. Pada tiap interval 3 m dipasang pengekang lateral dalam arah sumbu lemah. Ujung-
ujllng konlponen scrukrur tekan tersebllt berupa tumpuan sendi dan mutLl baja BJ 37.
Jika rasio D/ L = 0,5, hitllnglah beban kerja yang dapat dipikul oleh komponen struktur
tekan tersebut!

-..J...
;, "-'~~~·~~~~-·:r(",.T;/.~::-~,_:: :,:~.i\:: . ~:r~'~:~~'~~'~~~"!):::·~· .'~ .J ,:;" '•.' :' .~~.ryv~;.~~"'~~...•

i'"
80 BAS 4 BATANG TEKAN

P.4.11 .sehlLl~ komponen ~:':-lIkn.ll tekm didc~.lln ag.1r ll1amF'u l11elLihan b;:-ban [eLm aksi.ll ~'Jng
terdiri dari bcban m.:..~i 50C' k!\ dan beban hiJup 100U kl\. Barans ini mc-milikr panj.mg
8,5 m \.tlll pJJa jardk 3,) m d,ui t("pi .1US dipasang f"'C'ngd:Jng beer.ll dlbm ar:~h surnbu
lCIllJh. Dengan mcnggunak.ll1 mum hail B] 4 I pilihh.h profil \'\IF :'ang ekonom:s ! (rlll11-
5
pU.lll ~:!Llng ::1lLLlh. ~~ndij.

P.4.12 SUatll r"'orral bcrgo:;::r:g tcrJiri d.l;i kolnn1 \,\'F 200.200.8.1 ~ dJn balok \\'F 250.125.6.9, Komponen Struktur Lentur
mum b.1ja BJ 37. TiJp Q2t.lng disuStun seJemikian [upa schingg.l knrur terjlJi d.lbm
H:lh .;:oornh" bl H
~ .~_ • • -,,- ~ _~ ~ J,,',m<.:il-,n b
__ ~ _ .. a. \ =1n , Hin1l1al'lh hp,·-nIl\·:l /, Ilnrlll- kn)np1-!;n]nm r"
__ ~ -- -------: "::-.. nnn1]
- - - .. - - - - -__ .
---- ~
TUJUAN PEMBELAJARAN
tt:rseb~:t dengan mcn:;gunJ.kJIl ~omogr.lfll rant: ada. Hirungbh pub rah.lI1.1n tckan renCllla Sesud.lh mernpdajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
dari L-,lom tcrscbut~ :-vfebkllkan anal isis dan desain komponen strllktur lenrur yang memiliki kekangan
lateral secara menerus pada bagian sayap tekan
~lerrlahami perilaku balok akibat lentur dua arah

I
4,5 rn
Pokok-pokok Pembahasan BJb
1. 1 Pendahuluan
L 1.2 Lentur Sederhana Profil Simetris
1.3 Perilaku Balok Terkekang Lateral
1A Desain Balok Terkekang Lateral
I Sm I 1.5 Lendlltan Balok
1.6 Geser pada Penampang Gilas
Gamb,l{ P4.12 1.7 Beban Terpusat pada Balok
1.8 Teori Umum Lentur

5.1 PENDAHULUAN

Balok adalah komponen struktllr yang memikul beban-beban gravitasi, seperri beban mati
dan beban hidup. Komponen srruktur balok merupakan kombinasi dari elelnen tekan dan
clemen tarik, sehingga konsep dari komponen strukrur tarik dan tekan Y~lng telah dipelajari
dabm bab terdahulll, akan dikombinasikan dalam bab ini. Pembahasan dalam bab ini
diJsumsikan bahwa balok tak akan tertekllk, karena bagian clemen yang mengalami tekan,
scpenllhnya terkekang haik dalam arah sumbu kuat ataupun sllmbu lemahnya. ASUIl1Si
ini rncndekati kenyataan, sebab dalaln banyak ka)lls balok cukup terkekang secara lateral,
sehingga masalah srabilitas tidak perlll n1endapat pcnekanan lebih.

5.2 LENTUR SEDERHANA PROFIL SIMETRIS


Rlll11US umllm perhiwngan tegangan akibat momen lentur, seperri dipelaj.ui dalam mata
kuliah ~'lekanjka Bahan (0' = M.d!) dapat digunakan dalarrl kondisi yang umum. Tegangan
lentur pada penampang profil yang Illcmpunyai minimal satu sumbu sin1etri, dan dibcbani
pad.l PUS~lt gesernya, dapat dihitung dari pcrsama.ln:
r= A( + AI} 5.1
- 5, 5.7
f I
deng.tn 5\ -:- dan 5.} = ~ 5.2
} c\

sehingaa
... <:> j' _ Ivl r 'C r + NI·c
_)_.r
5.3
Ix I\.
Dcngan:
f = tegangan len tur
1\1.\ .NfY
J = momen len tur arah x dan y

----------------~-....,..,-".;.,,~.--~.,.-.-.""'~ .•. ,~._------.,.,..,..,......,..-------

1
5.3 PERILAKU SALOK TERKEKANG LATERAL 83
82 BAS 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

Sx' S~ = l"fodlllllS penampang arah x dan y


!\_. 1; = Momen Inersia af<lh x dan y

1
Daerah e!astis Daerah plastis
cx' ~v = jarak dari titik ber~lt ke tepi serat arah x dan y
fy
Gambar 5.1 menunjukkan bebcrapa penampang yang menlpLlnyai nlinimal sarLI buah I
I

-r-r
sLln1bll simetri.
I

x-r
I

-+-- ' y-tt


. I
~:r--Y n : __ I I
---=---=--'----~
ncr ,!
~-fx
I
x ( - I
: 1 x £1;' .. £
I
I
I I Gambar 5.3 Diagram TegJ.ngan-Reg:H'lgan ~farerial B3.ja
I
I
I
s y
-.l'.- s,{ ~
Cx C
S=~
c x
}'
0=fy
y Selanjutnya diperkenalkan istilah faktor bentuk (shtlpe factor, SF), yang merupakan
perbandingan antara modulus plastis dengan modulus rampang, yaitu:
Gamhar 5.1 Modulus Pcnampang Berbagai Tipe Profil Simcrri

....
!vi-p =Z- 5.6
SF = ~;::: Iv!] 5
5.3 PERILAKU SALOK TERKEKANG LATERAL
Untuk profil \'V'F dalam lenrur arah sumbu kllat (sumbu x), faktor bentuk berkisar an tara
Distribusi tegangan pada sebuah penampang WF akibat momcn lentur, diperlihatkan 1,09 sampai 1,18 (umun1nya 1.12). Dahm arah sumbu lemah (sumbu y) nilai faktor
dalanl Gambar 5.2. Pada daerah beban byan, penalnpang n1:lsih elastik (Galnbar. S.2.a), bentllk bisa mencapai 1,5.
kondisi ebstik berlangsung hingga tegangan pada serat terluar rnencapai kuat lelehnya (I).
Setelah mencapJi regangan leleh (E), regangan akJl1 terus n.lik tanpa diikuti kenaik~ul
• CONTOH 5.1:
tegangan (Gambar 5.3). -
Tentukan faktor bentuk penampang persegi berikut. dalam arah sumbu kuat (sumbu x)!
Ketika kuat leleh tercapai pJda serat terlLlar (Gambar S.2.b), tahanan nlomen nominal
sama dengan momen lelch A~;:(, dan besarnya aJalah:
JAWAB:
A~i.\ = SxJ;
z = iLb'~'~]
l
ll,/[n = 5.4
= .l.b.h?'
Dan pad.l saat kondisi pada Gambar 5.2.d tercapai, semua serat dalam penampang nlebm- 2 4
r 4
paui regangan lelehnya. dan dinalnakan kondisi plastis. Tahan,1n nlonlen nonlinal dabm
h I =~'b'h3
kondisi ini dinamakan momen plastis /'vIp' yang besarnya: r 12

Afp = J\r 'J" -v·dA


\
= Jr·Z
y

Dengan Z dikenal sebagai nlodulus plastis.


5.5
, ,J S = ~ = ~·b·h3.~ = l-·b·/12
x h/2 12 II 6
.l·b·jz2

E<Ej 0<fy E=E/ 0=fy E>Ej 0=fy f»Ey'


Lb-J SF=;:'= Zx =_4_=l=15
":l S
x
1
6
.,
_.!J./z- ?
.... '

M0-i z

M < Myx
-1 ~
M = Myx M yx < M < Mp M = Mp
• CONTOH 5.2:
Tentukan faktor bentuk dari profil \X/F berikut, terhadap sumbu y!

~13-f=-l-}'
d

(a) (b) (c) (d)


II
f

Gamhar 5.2 Distribusi "Iegangan pada Level Beban BerbedJ. ~~tf


i

~-- -
84 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 54 DESAIN BALOK TERKEKANG LATER.AL 85

]A\VAB: 5.4 DESAIN 8ALOK TERKEKANG LATERAL


Z = 11(2·_·t
b '-h) + 21((d-2t _ r
1
t )
).~.~ l~lhanan balok dalJI11 desain LRFD haru::-, l11emenuhi persyaratan:
1 \ '2 4 \ J 24-
9,.Af
11;/
> /\11/ 5.7
Z = l'r .// + -!-'(d-2r ).t 2
, '2 f 4 f"
Dengan: ¢j; = 0,90
1 1 ··Ix,] + -'(d-1t
= 2[ _·t 1 ).r
,
. All! = tahanan momen nominal
, 12 J 12 f I,
AlII = momen lentllr akibat beban terElktor

1 = ~'r '//+ -~(d-2t ).t J


\ 6 1 1'2 f 1\ Dalam perhitllngan tahanan momen nominal dibedakan antara penampang kon1pak,
I,. 1 ') 1 t -' tak kompak, dan langsing seperti halnya saat membahas batang tekan. Batasan pc.'nan1pang
S =--- = _·t .·b-+ -'(d-2t - ).~I kompak, tak kompak, dan bngsing adalah:
, b/2 3 J 6 r b
1. Penampang kompak : I.. . < A
2. Penampang tak konlpak : Ap < < Ar K
Dan bktor b~ntllk ~: 3. Langsing : A > Ar
1 ., 1 .,
---'r
....
)1
../J- + --·(d-2t.
Z, 4 J
)·t -
w 3
Mn
SF =.; = - . = ---------:::: - = 15
S 1 1 t J -2' kompak tak kompak
\ -_·t -./-/. + -_.( d - 2r f ).~
3 J 6 J b
I
Mp I
I
Pada saat tahanan momen plastis /'d tercapai, penampang balok akan tenlS ber- I

deformasi dengan tahanan lentur konstan p kondisi ini dinamakan sendi plastis. Pada A1 , i ~i
suatu balok tertumpu sederhana (sendi rol), mllnculnya sendi plastis di daerah tengah ._._-_._._._._._.:._._._._._._._._._._-_.~
Mr
ben tang akan menimbulkan sitllasi ketidakstabilan, yang dinamakan mekanisme kerun- ! !
tuhan. Secara llmum, konlbinasi antara 3 sendi (sendi sebenarnya dan sendi pbstis) akan
I
, .
I

.
I
.
I

nlengakibatkan mekanisme keruntllhan. I I


i i
Dalam Gambar 5.4 sudut rotasi e
elastik dalanl daerah beban layall M, hingga serat i i
= bit
terlllar mencapai kuat Ieleh 1;
pada saat My.\" Slldut rotasi kemudian menjadi inelastik
.
Ap
.
Ar
)I ).

parsial hingga momen plastis Alp tercapai. Ketika sendi plastis tercapai, kurva AI-8 menjadi
Gambar 5.5 Tahanan Momen Nominal Penampang Kompak dan Tak Kompak
horizontal dan lendutan balok tetap bertambah. Dan pada tengah bentang timbul rotasi
8u ' yang mengakibatkan lendutan balok tak lagi kontinu.
PENAMPANG KOMPAK
Agar penampang numpu mencapai 8u tanpa menimbulkan kerllntllhan akibat
Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan penan1pang konlpak:
ketidakstabilan ini, maka h~1fuS dipenuhi ketiga macam syarat yakni kekangan lateral,
perbandingan lebar dan tebal Hens (blt ), perbandingan tinggi dan tebal web (hlt ) . l'vln = Mp = Z.1; 5.8
f l

Dengan: M p = tahanan momen plastis


q = beban layan Daktilitas Kelengkungan ~ = eJe p Z = modulus plastis
IvJ
= kuat leleh
§~~~~~~'~~~L!.~ Mp
My PENAMPANG TAK KOMPAK
Tahanan momen nominal pada saat A = Ar adalah:
Mw Alfl = !vIr = (1; - f, ).5 5.9
qu = beban layan terfaktor Dengan: Iv = tahanan leleh
)j.11 In I I f I I I I J;
~-------i-
___ = tegangan sisa
5 = modulus penampang
8y 8u
Besarnya tegangan sisa f, = 70 MPa untuk penanlpang gilas panas, dan 115 1\IPa untllk
(a) penampang yang dilas.
(b) karakteristik momen-rotasi
Bagi penampang tak kompak yang Illen1punyai Ap < A < A" maka besarnya tahanan
Gambat 5.4 Sendi Plat is dJ.11 KUfva ~f-e momen nominal dicari dengan melakllkan interpolasi linear, sehingga diperoleh:

-- -----,
86 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.4 DESAIN SALOK TERKEKANG LATERAL 87

)~" -A )~-)I.n _ Pcnampang kompak!


AI =-'--A-1 +-~'LV! ).10
Ar -}I.[' }I.r -AI' I
4 u' .(d-2t rt
J
i' r
II
Zx = b.tj".(d-tl)+-·t J

Dengan:)... = kelangsingan penampang balok (= b/2~")


Af AI' = tabel 7.5-1 Peraturan Baja Z
x
= 350(19)(350 - 19) + ~4 (I 2)(350 - 2(19»)2 = 1493182 O1n1-'
Untuk balok-balok hibricb di nuna /;/ > 1;1(1 Inaka perhitungan Afr harus didasark:lD r~lJa
Mp = z.'( ./; = 2493182(240) = 59,84 ton.m
nilai terkecil an tara <J;f - I) dengan /;/l" "
Nfp (= 59,84 ton.m) > A1)¢ (= 56,4 ton.m) OK
• CONTOH 5.3:
Rencanakan balok untuk memikul beban mati, D = 350 kg/nl dan bcbJ.n hiJup, L = Untllkj; = 45U MPa
1500 kg/m. Bentang balok, L = 12 m. Sisi tekan Hens terkekang lateral. Gunakan profil Coba prahl 350.350.12.19
baja \V'F dengan /; = 240 NfPa dan /; = 450 l\1Pa.
A =~_= 350 =9,21
f 2.t 2x19
JAWAB: l

~ III I I III I I I III II i- q. = 1,2D + 1,6L = 1,2(350) + 1,6(1500)


= 2820 kg/m = 2,82 ton/m
A =!!..- = 350-2(20+19) = 22,67
w t u' 12

Ap Ar

I. 12m ---J 170 =~=801


.[7; ~ ,
370
--=
~ Iy - I,
370
-J 450-70
=18,98
1 2 1 2-
!v! = -q L =-·2,82·12 = )0,76 ton.m
u 8 l~ 8 1680 _ 1680 2550 _ 2550
f.l: -
t, l d
M u _ 50,76
M =¢;- 0,90
n
= 56,4 ton.m
.[7; - ~ = 79,2 ~ = 120,2

, Iw,J Z = b.tf(d-tf)+-·t .(d-2t f


x

1 2 1
4
1

1
W J
)
2
Penanlpang tak kompak!
Mp

lvf
=

=(
Zx'

I' -
J; = 2493182(450)
I' ).5 = ( I' _ I'
= 112,19 ton.ill
I
)._x
I· b I Z y =-·b
2 .tf+-·t
4 .(d-2tf )
Ii.'
r Jy Jr x Jy Jr d/2
h = d-2(ro+t ) 4
l AI = = (450 - 70)· 40300.10 = 87,5 ton.n1
r 350/2
Untuk 1; = 240 MPa (profil terlaiu kuat, coba profil lain yang lebih kecil)
Coba profil WF 350.350.12.19
Coba WF 300.300.10.15
b 350
}I.I =-=--=9,21
2.t 2x19 '1 _ _ b_ _ 300 - 10
l /1.1 - - -
2.t 2x15
l
A = ~ = 350-2(20 + 19) = 22,67
UJ t 12 A =!!..- = 300-2(18+15) = 23,4
w
u' t 10
w

Ap Ar Ap Ar
170 170 370 370 170 170 ~_ 370
.[7; = ..fiAO = 10,97 f.l: = ~ = 8,01 ~ f - f, - = 18,98
~ft-Ir -J240-70 = 28,37
J
"/450-70

2550 _ 2550 2550 _ 2550


1680 _ 1680
.JJ: - ..fiAO = 108,44 .f7: - ..fiAO = 164,6 1680 _ 1680
f.l: -~ = 79,2 f.l: - .J45O = 120,2
88 BAB 5 KO~.'PONEN STRUKTUR LENTUR 5.5 LENDUTAN SALOK 89

Pcn.lmp.1ng tak komp<lk! Ms


1 ) Karena AIo = /'v~, + 0,5(1\1 1 + i\/), nlaka
Z\ = b.tf.(d-tr)+-;.r:, .(d-2t r )-
. 4'
5·L!-
~l/'"
Z. = 300(15)(300 - 15) + ~(10)(300 - 2(15))2 = 1464750 mm 3 .-
=--(A1-0,l.AI1 -O,I.A[..,)
48.£/ s -
x 4
Aft = Zx .1;= 1464750(450) =65.91 ton.Ill Mo

l\I = (/:-/).5 = (f-f).~


y

) , x .' , d /2 Dalanl beberapa kaslls tertentll, terkadang masalah batasan lendlltan lebih nlenentu-
kan dalam pemilihan profil balok daripada lahana.Il rnolllenny.1.
= ( 450 - 70 ). 20400.10-\ - 51,68 ton.m
300/2
A -A A-}.. • CONTOH 5.4:
/'v111 - ' - \ [ +-_P !vI Reneanakan komponen struktllf balok berikut yang memikul beban mati, D = 200 kg/nl
}.. ,-A p P A,-A p ,
i.

dan beban hidllp L = 1200 kg/m. Panjang bentang balok L = 8 m. Mlltu baja B] 37.
"1 - 18,98-10 -6- 91 + 10-8,01 .5168 Disyaratkan batas lendutan tak melebihi L/300.
jV,. - .), , -- 6332
, ton.nl
. 18,98-8,01 18,98-8,01
JAWAB:
/'v~1) (= 63.32 ton.m) > J\~/¢ (= 56,4 ton.m) OK
qu = 1,2 0 + 1,6L
qlt = 1,2(200) + 1,6(1200) = 2,16 t/ m
~I I I I I I I I IIII III I~
5.5 LENDUTAN SALOK M = ~.q .Ll =~. (2,16)(8)!-
SNI 03-1729-2002 pasal 6.4.3 membatasi besarnya lendutan yang timbul pada balok.
Dalanl pasal ini disyaratkan lendlHan n1aksinl11m untuk balok pemikul dinding atall
L- L ----J 8 /I 8 It

= 17,28 ton.m

finishing yang getas adalah sebesar L/360, sedangkan llntuk balok biasa lendutan tidak
boleh lebih dari L/240. Pembatasan ini dimakslldkan agar balok memberikan kemampll-
Asumsikan penampang adalah kompak, maka tahanan reneana Cfb.lvfn adalah:
layanan yang baik (serviceability). Besar lendutan pada beberapa jenis pembebanan balok
yang umum terjadi ditunjukkan sebagai berikut: ¢b·MlI = ¢b·Mp = (h·Zx·J;
2 7
M 1·L M 17,28.10
0.. U2 =- 16.£./ Zx ! = rf,. flly = 0 , 90 X 240 = 800000 n1m 3 = 800 em 3
per It ~b'

0.. U2 =
5·q .L
4

384~£./ = 48
5 (1sqo·L-)EJ
") ~ = 48·5 M;./.L
2
Coba profil WF 300·200·8·12 (Zx
Cek kelangsingan penam pang:
= 822,60 em 3)

b _ 200 = 8,33
}"f = 2 .t- - 2x12

-fL ~L
1-
---J
D.
U2
= P.b(3L -4b
2

48·EJ
2
)

Au' = -t =
f

h
w
294-2(12+18) = 29,25
8

Ap Ar

+E~3-j-
l 2
j\/0 .L
5 _
= _ AI1 .L /'vI2.L_2
~ 170 _ 170 370 370
U2 48 EJ 16EJ 16£/ .fl: - ...)240 = 10,97 ~fJ-f, ..J240-70 = 28,37

L2 _
1680 _ 1680 2550 _ 2550
D. U2 = 48.E/()Mo-3MI -3M2 ) .fl: - .J24O = 108,44 .[l; - ..fi4O = 164,6
j

L
90 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5,6 GESER PADA PEN.;'oMPA~<::; GILt-.S 91

Penampang kompak! 7
l\l p _ 46,22.10
Selanjutnya dihitllng !\' perin untuk Inemenuhi syarat lendlltan. 2.\< periu 1925,83 em)
1 ., Iv - 240
Joy/L ==-·1200·8- == 18,75 ton.m == 18,75.107 Nnlm
8
Gun.lkan profil \\/F 500.200.10.16 (2... = 2096,36 em) ; !\' = 478(;<) em-
(llntllk memeriksa syarat lendlltan, hanya beban hidllp saja yang dipertimbangkan)
Akibat berat sendiri profil, momen lentur berramb.lh menjadi:
5.q.L4 5·Joy!·L2
.6.=--=--- 1\111 = 1,2(~.(0,0897)(8)2) + 41,6 = 42,4611 ton.m
384·EJ 48·EJ 8
J_ - c.,. /vf.r 2 C) ~.1 ()7 x
c., x'/,--- R()()()2
~--- ~ < ----
12000.10 4 0101
4 = 12000 cm-i Periksa syarat kelangsingan profil:
X perlL! - 48.£. (8000)
48 X 200000 X - -
300 ~=
2.t r
200 = 6,25
2 X 16
< I.p = u:
170
10,97

Profil WF 300.200.8.12 tak mencllkupi karena memiliki Ix = 11300 c01 4. Selanjutnya


profil diganti dengan WF 350.175.7.11 yang olemiliki Ix = 13600 crn 4 dan 2... = 840,85
cm 3•
h
till
500 - 2(16 + 20) = 42,8
10 < \ = u:
1680
108,44

Cek lendlltan: Penampang komrak!


4 2 7 2
.6.= 5.q.L _=?M.L = 5x9,6.10 x8000
l\ln = 2.,0.1; = 2096,36,103(240) = 50,31 ton.n1
384·EJ 48·EJ 48x200000X13600.10 4
O.A1n = 0,90(50,31) == 45,281 ton.m > 42.4611 ton.m OK
= 23,53 0101 < ~( = 26,67 nlm)
300 Periksa terhadap syarat lendlltan:
Dalam contoh soal ini tampak bahwa kondisi batas layan (lendlltan) lebih n1enentukan P.L3 10.10 4 X8000:'
daripada kondisi batas tahanan, dalam proses desain profil yang arnan. ilma.x.
48£[ - 48 X 200000 X47800 xl 0000
L
• CONTOH 5.5: 11,16 OlIn < - (= 26,66 mnl)
300
Rencanakanlah komponen struktllr balok baja berikut ini dengan menggunakan profil
\VF seekononlis mungkin. Asumsikan terdapat kekangan lateral yang cukup pada bagian
Hens tekan profi!. Disyaratkan pula bahwa lendlltan tidak boleh melebihi L/300. Gunakan 5.6 GESER PADA PENAMPANG GILAS
mutu baja BJ 37!
Pereneanaan balok yang olenliliki bentang panjang biasanya lebih direntukJ.D oleh syarar
=
P (0 4 ton;L = 10 ton) kndutan daripada syarat tahanan. Balok dengan bentang-benrang olcnengah. ~lkuran prohl

r
l;;
4m

j
7$r
kbih ditentukan akibat lentur pada balok. Namun demikian, pad..1 balok-balok dengan
ben rang pendek, rahanan geser lebih nlenentukan dalam pemilihan profil.
Untllk nlenurunkan persamaan tegangan geser untuk pen~!1pan~ ;imetri. lihdt
potongan dz dari balok pada Gambar 5.6, dengan free body-nya 2-a.1am Gdmbar 5.6.a.
1 8m ,I Bib tegangan geser satll,ln V, bekerja sejarak y! dari sumbu netraL makj. dari Gam bar
5.6.c diperoleh hubungan:
JAWAB: dC' = v.t.dz 5.11
Pu 1,2(4) + 1,6(10) = 20,8 ton
Dan gaya horizontal akibat momen lentllr adaLlh:
j\1 Pit X L _ 20,8 X 8 = 41,6 ton. rn = 41,6.10 7 N nl m
u 4 - 4 C' = f.f.dA 5.12
}I
Asumsikan profil kom pak! )2

M =
M u=41,6.10
M = - --- =
7
46 ,22.1 0 7 N mOl C' + dC' J
= (I +dl)dA 5.13
p n ¢ 0,9 )1

lv!p = ZxJ;
92 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.6 GESER PADA PENAMPANG GILAS 93

rata-rata Iuas penamp~1ng web, dcngan ll1engabaikan cfek dari lubang aLl[ pengencang,
f-df yaitu:

A c'l ~H
~,;JdC /:.
v V

f
5.19
AI/' d.tl/'
y -:t ~2
__ --L- _~
t
• CONTOH 55:
L I . Hitung distribusi tegangan geser e1astik pad a profil \'VF 350.350.12.19 yang mcnliklll
~
_I rl-.
,..---UL
~
dz
beban geser layan sebesar 95 ton. Hitllng pula berapa besar gaya geser yJng dipikui oic:h
Bens dan berapa yang dipikul olch pelat web.
(a) (b) Tegangan pada pertemuan antara Rens dan web:

v = 95 ton = 95.10!! N
Q = 350(19)( 175 - 9,5 ) = 1100575 mny'
4
-r=s.§§~c v1I'e'll -- 95.10 xI100575
4
= 216,2 MPa
40300.10 X12
Y1-~~
1--1 4

~d~vtdZ Vj1m
95.10 xII00575
40300.10'1 X350
= 7,41 MPa

(c)
Gamhar 5.6 Penumnall Persamaan Tegangan Geser Tegangan pada sumbu netral:
Q 1100575 + Y2 (175-19)2(12) = 1246591 mm 3
1\1engurangkan persamaan 5.13 dcngan persamaan 5.12 diperoleh: 4

v 95.10 X1246591 _ fl./. 88 i\1P


J2 40300.10 4 x 12 - . . . q.1, i a
dC' = f df·dA 5.14

=fr_
JI

df = dlvf.y
I
5.15 ,350 1 216,2 MPa

+
175
dC' = 'JdM'Y. dA = dAIfy.dA 5.16 12
244,88 MPa
}l I I yl

175
Dari persamaan 5.16 ddn 5.12 diperoleh hubllngan:
----l- ~
1

v = dM --.!...- f}'dA 5.17 7,41 MPa


dz t.I}1
y2 (a) (b) Tegangan geser
dengan mengingat blhwa V' = d!'vfldz. serra J
Q = y.dA, nlaka diperoleh persamaan bagi
)1

tegangan geser ydng sangat falniliar bagi kita: Gaya geser ~ang dipikul oleh Hens d<lI1 web, m~l.sing-masing ;ld21ah:

\!fi,:;>" = 2 (Yl)(7,4l)(19)(350) = 4,927 ton


v = V.Q 5.18
I.t Vwfb = 95 - 4,927 = 90,073 ton

Dengaq Vadalah gaya geser, dan Q adalah sratis momen terhadap garis nerral. Terkadang Tampak bahwa 940/0 gaya geser dipikul oleh web.
untllk menghitllng tegangan geser, digunakan rumus pendekatan yang nlerupakan harga Bila digunakan runlUS pendekatan dari persamaan 5.19:

,
94 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.7 BEBAN TERPUSAT Pf..DA BALOK 95

_J~_ = Y5.1~~_ (7,34~'o


Bib persamaan 5.23 dipenllhi, maka tak diperlllkan pensaku (.,·ti!fi'ner) pada pdat weo.
f.. = = 226,19 tv'IPa di oawah lurga l1laksimllm) Be:,.lrn:'a R" ditentllkan menllrllt S~I 03-1729-2002 pasdl 8.10:
\ d.tl/' 350x 12
1. Lentllr lokal pad a Hens

TAHANAN GESER NOMINAL PENAMPANG GILAS R,; = 6,25'~/f)f 5.24


Dahm contoh 5.5 tampak bahwa gaya geser sebagian besar dipiklll oleh web jika web o = 0,90
dabm kondisi stabil (artinya ketidakstabibn akibat kombinasi geser dan lentur tak terjddi).
Kll,lt geser nOlninal peIat web ditentllkan oleh SNI 03-1729-2002 pasa1 8.8.3, yaitu: 2. Leleh lokal pada web

1I
• 1/
= T.A
-J' - -IV
::::; n
-,
r;n 'Jryw"A-u'
~ ~
5.20 R'l = {a·k + AJ!;u,' til' 5.25

Dengan: 1;1</ = kllat feleh web C!. = {52.5 j>d


j~d
Au, = luas penanlpang web
6 = 1,0
Persamaan 5.20 dapat digunakan bila dipenuhi syarat kelangsingan llntllk tebal pelat \veb
k adalah tebal pelat sayap dirambah jari-jari peralihan, mnl
sebagai berikut:
J\. adalah dimensi longitudinal peIat perletakan, minimal sebesar k, mnl
h 1100
-<-- 5.21
t u' - f7::
Dan kllat geser rencana harus memcnuhi persam,ian:
j
k
R
IU
Ru

¢l: \~l 2: ~~J T - - --'-- 45°


5.22 ~N+5k_f'<

• CONTOH 5.6:
Tentllkan tahanan geser rencana profil WF 300.300.10.15, dara profil:
d = 300 nun l\1utll bJja B] 37 if; = 240 MPa, = 370 [\/1Pa) f:
b = 300 111m
l' = 15 nlm
t u ' = 10 mOl N = panjang dukung ~ k
k = jarak dari muka sayap terluar ke kaki
h = d-2 (r()+ 'i) = 300-2 (18 + 15) = 234 mOl lengkungan badan (yang diberikan dalam)
AISC Manual bersama dengan dimensi
Cek persamaan 5.21: (penampang)
R = beban terpusat yang disalurkan ke gelegar
= 23,4 1100 _ 1100
h _ 234
til' - 10 ft - 1240 = 71 Gam bar 5.7 Balok deng~1I1 BebJn "IcrpusJc

Karena persamaan 5.21 terpenllhi, maka:

r
3. Lipat pada 'Neb
Vn = 0,6J;.J.tu1 = 0,6(240)(234)(10) = 33,69 ton
Vd = 0,90· Vn = 0,90(43,2) = 30,321 ton R,,=aot,,{+{:; ~Eo~~o~ 5.26

5.7 BEBAN TERPUSAT PADA BALOK


0,79 j>d12;'1 = 3A'Irt
Bila balok dikenai beban terpusat, leIeh lokal akibat tegangan tekan yang tinggi diikuti
dengan tekuk ineIastik pada daerah web akan terjadi di sekitar lokasi beban rcrpus.lt iru. C!.=
I
Id
1] = J-.lV bila:1Y Id~0.2
Gaya tumpu periu (R) pada peIat web harus memenuhi:
Ru < ¢.Rn 5.23
0,39
j50dl2 ( I] = (4; -0,2 J bi/a:Nld>0,2

Dengan: ¢ = faktor reduksi ¢ = 0,75


1! Rn = kuat tUInpu nominal peIat web akibat beban terpusat

,
96 BAS 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR
5.7 BESAN TERPUSAT PAOA SALOK 97

4. Tekuk web bergoyang Periksa apJkah komponen struktur tersebut perlu j·tijftJler atau ridak! GUIl.lkan prohl \'\/F
Ru 300.800.14.26, k' = 54 Olm,.0= 240 ~lPa, JV = 200 111m.

JAWAB:
1. Leleh lokal pada web
Daerah Iapangan (j > d)
OR" = ¢ (a·k + 1'/). /1:U:tU'
1,0(5(54) + 200)(240)(14)
Gambar 5.H Tekuk \Veb Rt'rgoyang = 157,92 ton (> PUl = 60 ron. tak periu stiffener)

Ada dua kasLls pach tekuk web bergoyang: Daerah tumpuan (j < d)
a: bila sisi tekan Aens dikekang terhadap rotasi pada posisi kerja RlI : ¢R" = ¢ (a·k + LV)· !;u:tu'
/; hI' 1,0(2,5(54) + 200)(240)(14)
un[uk -.~ ~ 23

'\ i ( )3]
til' Lf, = 112,56 ton « P1/1+ Pill = 120 ton, perlu stiffiner)
Cr .E.t/!: ·t r h bf 2.
Rn = -------;2- . 1+ 0,4 -;-. L 5.27 Lentur lokal pada fiens
fJ il' b OR'I = ¢.6,25·~?J;f
. h bf Rn -)00 0,90(6,25)(262)(240)
]tka --.~ > 23 ~ =

till II, = 91,26 ton (> PI/l = 60 ton, tak perin stiffiner)
b. ]ika sisi tekan Aens tak dikekang terhadap rotasi
h b 3. Lipat pada web
untuk - - .f- ~ 1,7 Daerah lapangan (j > d/2)
t u ' Lb

l+it; JI. 1~~


5
[E7;t;
1
(t
_ Cr E . t/ll· ·tf 0,4(h
R --~ - .bl- )31 5.28 i/J·R" = i/J.a.t,/ [
II 1/ t w Lv

. h bf _
]\ka --.->1/
t L
lU b
'
~ Rn -)00
= 0,75(0,79)(14)2
[
800- 0,2 J( 26
1+ ( 4 X 200 14 J 15 J 200000 X 240 X 26
14
untuk:;"1 ~/vf
C = { 3,25 y = 142,14 ton (> PI/I = 60 ton, tak perlu stijfi'Jzcr)
r 1,62 Ulltllk:lvf>lvl y
Daerah tumpuan (j < d/2)
¢ = 0,85

r+ {J
5. Lennlf pada pebt web ¢·R = rfI·(X·t -
1
1 --
tw l,5~
E· f
- __
yf.t
" 'P It' t t
2408.t 3 L f u'
~
Rn = - 'h_ I i '\jL'}'yW 5.28
')( 800 54)
¢ 0,90 h b ~ 2- 300
---;-'1:l =
= _ 1

= 0,7)(0,39)(14)- 14 .6000
Ii' b
• CONTOH 5.7:
= 71,24 [on « PII1 +[>I/] = 120 ton, perlu stiJjener)

PU1= 60 ton Pu1 = 60 ton

~
4. Tekuk ,veb bergoyang (asnmsikan sisi tckan Hens rerkekang terhad<lp :otdsi)
i b ~(.~9Q - 54)
h
-.--=:"-
r 1-2- - - . 300
=- -- = 2,47 > 2,3
til' Lb 14 6000
I I I I I I
300 3000 6000 3000 300 Rn -) 00

,
;
BAS 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.8 TEORI U~.1UM LENTU~ 99
98

• CONTOH 5.8: ¢.Z/; ~ 1\1 1


/

Tellulkan dimensi bearing plat untuk tumpllan balok, bila diketahui rC'clksi tllI1lpU,ln clkib.lt
</>. %·N·? /~ ~ i\/I'
beb~ln mati, D = 10 tOil, dan reaksi akib:.u beban hidup, L = 20 ton. Balok yang digll-
nakan \'V'F 350.350.12.19 (k == 39 mm). Balok ini tedetak di atas beton yang n1cmpunyai 1 AI ·4
t" '? _ _1_1- - - - - , ma5ukkan h.uga-harga YJng
I ~ == 22, ') I\1Pa. I}.
0,9 X Xi\' .

JAWAB: slldah diketahlli, diperoleh t > 65 mm.


Rli
= 1,2D + 1,6L == 1,2(10) + 1,6(20) = 44 ton
Karena llkuran bearing plat terlalll tebal, maka dimensin:';a perlu diperbesar. Dicoba,
R'I - /-.!/¢ - 44/1,0 ~ 44 ton
lnenlakai N = 200 mm dan B = 360 mm. Dan bib dihirung kemh~.l1i akJ.n dltcmuk3n
Panjang bearing plat harus nlenlenuhi persamaan 5.25 dan 5.2e). persyaratan t > 33,5 OlIn. Ambil t == 35 nlm.
Dari persanuan 5.25: Secara umllm tebal pelat clapat dihitung melalui persanlaan:

= (2,5k + N)~u .. t/l'


2.~s;;-kr
Rn
t=
N=~-2,5k=44000~_(2,5x39) 55,27 1111ll ~ 60 n1nl ¢·fy
I)'U' ·tu ' 240x12

"[lhanan tumpu nOIninal cbri beton:


5.8 TEORt UMUM LENTUR
Pp == 0,85.(
. ( c' A j

Pp Sejauh ini penlbahasan hanya terbatas pada bentuk-benruk profil simetris, sehingga runlUS
440000 23000 mm 2
Al pa!u = 0,85. I'c
== 1= M·dI dapat digunakan untuk menghitung tegangan lentur elastik. Pembahasan berikut
0$5x22,5 akan lebih nlemperumum lenturan pada batang prismatis (batang yang mempunyai bentuk
Lebar pelat, B == 23000/60 == 383 nlm ::::: 390 mnl penampang melintang sarna di setiap potongannya). Diasunlsikan pula dalam b3.lok ini
tak terjadi pllntir.
Periksa lipat pada weh: Perhatikan balok dengan penampang seragam pada GambaI' 5.9 yang dikenai momen
NIt! = 60/350 == 0,17 < 0,2 pada bidang ABCD. Bidang ABeD membentuk sudut Y terhadap bidang xz.. Momen ini
direpresentasikan dengan vektor normal terhadap ABCD.
R = 0,39.t ,2[1 +
n u
3-!'{(~JI.s II EIyu.· f f

d tI ~ tu'
B
8,
A

R =
n
0,39X122[1+3~(gJI5]
350 19 ~
/200000x240x19 -
12 -
- ton
61,)
~ < i }' • .. z x
¢.Rn = 0,75 x 61,5 = 46,1 ton (> 44 ton, OK!)

Sehingga dimensi pela[, lv' == 60 nl111 X B = 390 mnl. Sebnjutnya adalah nlencntukan
tebal peLlt. y a.J Y t netral
Tegangan tumpu merata, p
~
440000
= ---=
60x390
18,8 ~lPa
x 7=-t
J L I
/0 potongan a-a

Dacrah kritis bagi lentur diaInbil sepanjang ujllng luar Hens hingga sejarak k d..ui tengah
\veb. Y

pf~;-krN Gambar 5.9 Balok Prism.uis Jengan LelHur .\lurni

Mu = 2
Perhatikan pula potongan sejarak z pada Ganlbar 5.10. Syarat kesetimbangan dalanl
N = 228758,4·jV free body dipenuhi bila:
M= 18,8·(l95-39)2.
2
AMn
It

Liz = 0 ---7 f(J.d4 = 0 5.29

I. · B
.I 'f -> A1u A
100 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.8 TEORI Utv1urv~ LENTUR 101

kf ),
IA~\ = 0 ~
(j = 5.38
j\1 \ = Lv.a.dA 5.30
Gunakan per.)amaan 5.29 hingga 5.31 memberi hasil:

Iid, = 0 ~ AIr = fx.a.rlA 5.31 k2 fx.d4 = 0 5.39


- A
A

!vlomen A~\_ dan !VIy positif bila mengl13.silkan lentur posirit~ arrinya Icnrur yang meng- A1..\ = k1 fX}/.r14.
- = k)./
- .\), 5.40
akibatkan tekan pada bagian aras balok ddn tarik pad<l b<lgian ba\'.-ah. A

2
• r-"'"T"lln '"'1\1 AI'" OlnA~I~ V7
M y = k2 fx .d4 = k2 ·1Y 5.41
Lt:I'll I un U1"'\L1"'\IVI UIU"'I'IV '"

Jika lennir terjadi d<llam bidang yz, tegangan (j proporsional rerhadJp ). sehingga: Dan sudur y haruslah:
(j = kry 5.32 Ai I
tany = -'\' =~ 5.42
Gunakan persanlaan 5.29 hingga 5.31 men1beri hasil: AI ) /}

k1Ly.dA =0 5.33 Dalam kasus penarnpang yang n1emiliki paling sedikit saru sun1bu sin1erri I == 0
XY
A
dan tan y = 0, maka beban dan lentur terjadi dalam bidang :'<:Z. -
Mx = kIL/·dA = k[.I x 5.34
A
LENTUR 01 LUAR BIDANG XZ DAN YZ
AI} = k1 f.\)'.dA = k1·1... ""1 5.35
Tegangan toral a merupakan penjllnl1ahan dari tegangan akibat lenrur dalam bidang xz
A
dan yz.
My (j = k j )' + kfx 5.43

N!.\. == k(!, + kfI).), 5.44

• r J I .. Z !v!y = k{!\-:l + kf~y 5.45

Ivl~nyelesaikan persamaan 5.44 dan 5.45 serra substitusi ke persanlaan 5.43 akan
(j.dA diperoleh:

M x .1) -!vly '/xy !vI" .Ix - A1x .I.\}'

x/ y
Z
a=
I x ·1y -Iry.
2 . 'J' +.1 ) - .X
/ x ./y -/ry -

Persarnaan 5.46 merupakan persamaan umum lenrur, dengan n1engasun1sikan: balok


5.46

Gamhar 5.10 Free Body Balok p~l&l Pocongan Sejarak z lurus, prismatis, sumbu x dan y adalah dua sumbu be rat saling tegak lurus, marerial elastik
linear, tak ada pengaruh puntir.
Persamaan 5.33 nlcnunjukkan bahwa x haruslah sumbu berar. Dari persan1aan 5.34 Bib penall1pang mempunyai seridaknya sarll sun1bll simerri, maka dengan mensub-
dan 5.35 memberikan: stirllsikan I xy = 0, persamaan 5.46 menjadi:

k = M\ = !vI y M Ai
1 5.36 a=-x.
I Y +-y
1 ·.X. 5.47
Ix I xy
x v
Dan sudut y dapar ditentukan sebagai: Al
/I.! [
Dari persamaan 5.37 dan 5.42 didefinisikan tany = lv'I.:
tany = --' = ~ 5.37
AI] 1.\} Bib tegangan dabn1 sumbu nerral san1a dengan no1, (j dal,:Jn1 persanU1.n 5.46 d.lp:n
Bila penampang Inen1iliki nlinimal satu sumbu simetri (fr.' = 0, y = Ji./2) maka beban disubstitllsi' dengan nol, selesaikan untuk -xly, akan diperoleh bentuk:
~
dan lentur terjadi dalam bidang yz.

LENTUR DALA¥ BIDANG XZ -y-


x _ [M.I
x y -M·I
y.ry
1./-1 2
J 1·/
x l .-/
ry2
A1·I-M·I
]
5.48
xy xy yx xX)'
Bib lentur cerjadi dalam bidang xz, tegangan (j proporsional terhadap x, sehingga:
I
I

J
,
102 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.8 TEORI UMUf'vl LENTUR 103

Dari Gambar 5.9 tampak bahwa tiln a = -x~)', sehingga pc?r~amaan ').48 <.hpat ditlllis
sebagai:
t1 75
j

rLu
Al c _~
-~-·I - I q = 0,75 ton/m
Gma =
AI
~
J xy

. !l~~~~~L £1111111111111iJ,. "I


/I. I
I - ----'-·1
Ix - I.C). tan y
5.49
I -l------.-x
" }vIr .'J

Jika penampang rnemiliki paling tidak S~ltll bllah sllIl1bll sinlt'tri (!n = 0): I. L=3m I 170 I
I .
...... rJ
f"''''I

l,llll.l.
-
-
)' ........ _ .. ,
~l<tllr 5.50 ;e;
j\1 = -.!. = 0,84375 tm AB I

• CONTOH 5.9:
\.

A!, = 0,84375.10
8
7
Nn1m
t
y
Sebllah profil \'VF 400.400.13.21 dikenai beban yang menlbentllk sudut 5° terhadap
1\1 = 0
slln1bll vertikal. Hitllng kemiringan sun1bu netral! )'

Data profil WF 400.400.13.21 : !\.


= 66600.10 4 nlln 4 dan Iy = 22400.10 4 mm'l.
tanY = tan 85°
Lentur terjadi pada arah sembarang:
I y
r Alx (I y ')'- I.X)' ·x) 4
7
tana = ----'--tany 0,84375.10 .(88,2.10 ·107,9- (-141 03255x-15.2))
Ix
. .1 1 .1 _ I 2
(709x88,2·1 0
8
)- (-14103255)2
x Y xy
22400 -0
tana = ~-.t~m(8) )
66600
=+ 145,88 MPa

7 4
a = 75,42° , AIx (1 y 'y-I.ry ·x) 0,84375.10 .(88,2.10 .107,9- (-14103255x- 5,2))
is = 1 .'1 -I i (709x88,2.10 8 )- (-14103255)2
x y :ry
= + 173,79 !vIPa

7
_Y
L fe
AIx (Iy .y-Ix,y .x)
1x .Jy -1_\)' 2
0,84375·1 0 •(( 88,2.10
4
·-62,1)- (-141 03255>:-15,2 ))
(709x88,2·1 08 )-( -14103255)2

= - 150,788 MPa

sumbu
Lentur dabln bidang vertikal saja:
netral
y 7
Mx'y _ 0,84375.10 ·107,9 = 128,4 MPa
• CONTOH 5.10: fA =Is =-----;:-- 709.10 4
Balok dengan ben tang 3 n1 mernikul beban D1erata 0,75 ton/nl (termasllk berat sendiri).
Digunakan profil siku tak sarna kaki L 75.170.10. Hitung tegangan pada titik A, B, dan 7
J; = Alx 'y = 0,84375.10 :-62,1 = -73,9 !vIPa
C, bila profil dapat melentur dalaol arah sembarang dan hitllng pula bila profil diasllmsi- e 1.\_ 709.10'*
kan hanya melentur pada bidang vertikal saja.
Persamaan-persamaan llmllm lentur di atas berlaku hanya llntuk material yang elastik
!\)' = [170(85 - 62,1)(-15,2 + 5) + 65(-62,1 + 5)(32,5 + 10 -15,2)]1 0
linear (cr < I). Bila material tdah mencapai batas plastis, Dl3.ka persanlaan berikut dapat
!\) = -141 0325,5 m n1 4 dipakai untlik material yang Inemiliki paling tidak satu sumbu simetri.
.\/ /yf
!\. = 709.10 4 mn1 4 _'_~+_~1~9'_~1
5.51
9b .Mnx ¢Jb •M ny
Iy = 88,2.10 4 mm 4

ex = 62,1 mOl
Dengan: M,t adalah monlen terfaktor
JvIT! adalah tahanan Ientur nominal
e
y
'= 15,2 mm <P b = 0,90

,
104 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR 5.8 TEORI U~.,1U~1 LENTUR 105

• CONTOH 5.11:
A~\. ~ (63,45)(4)2 126,9 kg.m
Rencanakanlah struktllr gording pada suatu rangka afap dcngan ketentllan-kercl1tllan 8
sebagai berikut:
Jarak antar gording = 1,25 m A1y ~ (29,59)(2)2 14,795 kg.m
8
Jarak antar kllda-kuda = 4 m
Slldut kemiringan atap = 25° Akibat beban hidllp:

p.Sina~~
Penutllp atar genteng, ber~1t = 50 kg/nl 2 P = 100 kg
Tekanan tiup angin = 40 kg/m 2

~
\\
JAWAB:
Coba menggunakan profil light lip channel 150.65.20.3,2, dengan data-data: P.cosa
p /,'
!\. 4
= 332.10 n1m
4
a
Iy = 54.104 mm 4 III( 65 .1
Zx
~
=

=
44,331.10 3 mIn 3
12,26B.I0 3 mm 3 1 20 M. = -.!. (p·cos a)·L
x 4 x
= -.!. (100)(cos 25)(4) = 90,631 kg.m
4

150 I -+-1 1..- 3,2 M = -.!. (P·sin a)·L = -.!. (100)(sin 25)(2) = 21,131 kg.m
y 4 y 4
Akibat angin:
Karena beban angin bekerja tegak lurus surnbu x sehingga hanya ada M.,
angin tekan: !vI = -.!:. (5)(4)2 = 10 kg.m
x 8
Behan mati:
angin hisap: !vI, = .!. (-20)(4)2 = -40 kg.m
Berat gording = 7,51 kg/m . 8
Berat atap = 1,25(50) = 62,'; kg/m
Kombinasi Beban:
q = 70,01 kg/m
Behan hidup: Kombinasi Beban Arah x (kg.m) Arah y (kg. m)
Oi tengah-tengah gording P = 100 kg
1. U = 1,4 D 177,66 20,713
2. U = 1,2D + 0,5L:1 197,5955 28,3195
Behan angin: 3. U = 1,2D + 1.6 La 297,2896 51,5636
Tekanan angin = 40 kg/m 2 U = 1,2D + 1,6La +'0,8W 305,2896 51,5636
Koefisien angin tekan = 0,02a - 0,4 4. U = 1,2D + 1,3 W1 + 0,5La 210,5955 28,3195
= 0,02(25) - 0,4 = 0,1 5. U = 0,9D ± 1,3H? 127,21 13,3155
Koefisien angin hisap = -0,4 74,21 13,3155
OJrck.Jn = 0,1 (40)(1 ,25) = 5 kg/m
OJlJisllP = -0,4(40)(1,25) = -20 kg/m Jadi ~IX = 305,2896 kg.m = 305,2896.10 4 N.mm
A1uy = 51,5636 kg.m = 51,5636.10~ N.mm
Mencari momen-nlomen pada gording:
Pada arah sumbu lemah dipasang trekstang pada tengah ben tang sehingga Ly = ~2 X jarak Asumsikan penampang kompak:
kuda-kuda = 2 m. . Iv! x = Z Iv
= 44,331.10 3 (240) = 10639440 N.mm
J

JIr/
ny = ZX.
yfy
J = 12,268.10 3 (240) = 2944320 N .mm
Akibat beban mati:
q = 70,01 kghn Untllk nIengantisipasi masalah pUl1tir n1aka Affly dapat dibagi 2 sehingga:
Af .
qx = q.cos 25 = 70,01 (cos 25) = 63,45 kg/m MIL( + I~' ~ 1,0
qy = q.sin 25 = 70,01(sin 25) = 29,59 kg/m r/)·MfL'(
'rb "'·M
'rb III /2
a 4 4
q 305,2896.10 + 51,5636.10 - 0,32 + 0,39 = 0,71 < 1,0 OK
0,9 xl 0639440 li ·0,9·2944320

,
106 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR SOAL-SOt-.L LATIHAN 107

Untllk strllktllr berpcnampang I dengan rasio b(lri ~ 1,0 Jan mcrllpakan b.1SIJ.n d,ui SOAl-SOAl LATIHAN
strllktllr dengan kekangan ldteral penuh maka harus dipellllhi persyar,lun scperti p,h.Lt SI\l
P.5.1 Suatll kOl11ponen strllktllr lentllr terbllat dari dua bllah pelac ~ayap ukllrdn 12 111m X 190
03-1729-2002 p~l~al 11.3.1 sebag..li berikut:
mm dan pe!Jt badan ukuran 9 mnl X 425 mm. Ivilltu b,lj.1 )'ang digunakan adaLlh BJ
Allf)' )" <10 41.
-i\{...
- '- \ ' +( --"- 5.52
( ¢b"M" J (hoM frY - , a) Hitllnglah modulus plastis penalnpang (2) dan momen pldstis (i\1p) d,lbnl arah sllmbu
kuat

(~
(C .!VI )' ~1,O
c 'j\l )'1 +~'L
1

5.53
b) f-litunglah besarnya modulus penampang elastis (5) dan nlomen leleh (:\1) dalam arah
sllmbu kllat .
(h· i\lllx (h· Mll)
Dengan ketenruan: P.5.2 Suatu komponen stfuktur lentur terbllat dari dua bllah pelat sayar yang berbe&l, yaitu
Untllk bild < 0,5 : ~ = 1,0 12 mm X 300 ml11 (sayap cHas) dall 12 mill X 175 nlIn (sayap ba\vah) serra pclat badan
Unruk 0,5 ~ bfld 5 1,0 : ~ = 1,6 ukllran 9 mm X 400 mm. Hitungbh besarnya 1110dlllus plastis penanlpang daLllTI arah
Untuk b(/d < 0,3 : 11 = 1,0 sumbu kuat dan hitllng pula besarnya nlomen plastis yang ber.)angklltan. Gunakan mutu
Untuk 0,3 ~ bfld 5 1,0 : 11 = 0,4 + bfld ~ 1,0 baja B] 37!

• CONTOH 5.12: P.5.3 Suatu balok baja seperti pada gambar terbuat dari profil \X:F 500.200.10.1 G (dari baja
Periksalah kekuatan profil WF 250.250.9.14 untuk memikul momen akibat beb,U1 mati BJ 37), dengan kekangan lateral menerus pada sisi Hens tekan. Periksalah apakah profil
AID.\ - 2 ron.01, lvI[)y = 0,6 ton.m serra monlen akibat beban hidllp J1L \" = 6 ton.m dan tersebut meneukllpi untuk memiklll beban seperri pada gambar!
AILv = 2,8 ron.m. AS·lll11sikan terdapat sokongan LHeral yang cllkup untuk nlenjaga kesta-
biLln strllktur. Gunakan mutu baja B] 37! !P l = SO kN qo

JAWAB:
Hitung momen terfaktor dalam arah x dan y:
J 111111111111111111111111111111111111 Q( 20 kN/

~ 4osm-l4osm ~
Alux = 1,2(2) + 1,6(6) = 12 ron.m
A~IY = 1,2(0,6) + 1,6(2,8) = 5,2 ton.Ill

Periksa kelangsingan penampang: Gambar P.5 ..3

!.L = 250 = 8,93 < 170 (= 10,97)


2tf 2x14 .f7: P.5.4 Sebuah balok dengan panjang 7,5 111 tertun1pu dengan sendi pada ujung kanan, dan
tertllmpll dengan rol pada jarak 1,5 nl dari ujung kiri seperti pada gambar. Flens tekan
.!l..- - 250-2(14+16)= 21,1 < 1680 (= 108,44) balok terkekang lateral seeara nlenerus. Periksalah apakah profil \V'F 250.125.6.9 dari baja
tw - 9 .f7: B] 41 menellkllpi untllk memiklll beban-beban tersebut~ (beban sudah ternlasuk bercH
scndiri profil)
Penampang kompak!
Hitllng rasio bfld: / qo = S kN/m; ql = 20 kN/m
~ = 250
d 250
1~ periksa dengan persamaan 5.52 dan 5.53

M'L\- = j\Jpx = Zx~ = 936,89·103(240) = 22,48536 ton.nl


I11I111111 ;:mrrIl rm JIillrill I I TIl :2t-
M ny = J\lpy = ~~ 442·103(240) = 10,608 ton.m

~1'S m-I. m~
=

Karena /vln.. = j\1px M ny = M py serra dengan mengambil nilai Cmx


J Cmy 1,0 dan (0,4 6
+ bJd> = 1,4, maka persamaan 5.53 lebih menentukan!
c .j\! )1.4 (C
.jYI )1.4
+ ~ 51,0
Gambar P.5.4

( ----""------'
¢b .1\l <Pb·M"y
l1x P.5.5 Profil \XTF 400.200.8.13 sepanjang 10 111 ditumpu sederhdna pada kedud ujungnya, dan
digllnakan sebagai sllatu konlponen srruktur Ientur. Bagian sayap tekan terk~kang lateral
I,OxI2 JI.4 ( I,Ox5,2 )1.4 seeara menerllS dan mutll baja yang digunakan adalah B] 37. Jika rasio II D = 3, hitllnglah
( 0,9 X 22,48536 + = 0,9086 < 1,0 OK
0,9 xl 0,608
, beban kerja total yang diperbolehkan bekerja (dalam kN/m) pada balok tersebut!
]adi, profil \\'F 250.250.9.14 cukup kuat untllk melnikul beban momen Ientur tersebur.

f
108 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

P.5.6 Rcncanakanlah balok baja dengan profil \X'F rada suuktur bcrikut dcngan seekonomis
mungkin. Disyaratkan pula b,ltas lendlltan tidak baleh D1clebihi L/300 (n1l1tll baja B] 37).

!
Perhitungkln pula berat sendiri profil!

Po = 40 kN/m; Pc = 50 kN:m
6
Sambungan Baut
-/;;r~--I 7Ih-
I , TUJUAN PEMBELAJARAN
r-- 4m I 4m---1 Sesuctah mempdajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapar:
lvlenghitllng k2.pasitas ballt sebagai alat sambllng tLtLun suatu konstruksi baja
Gambar E5.6 t\1elakukan proses analisis dan desain sambungan baja yang menggunakan baut
sebagai alat sambungnya
P.5.7 Hitunglah besarnya tahanan geser rencana dari profil-profil berikut:
a) \X/F 700.300.13.24, J;. = 250 ~1Pa Pokok-pokok Pembahasan Bab
b) \X'F 400.400.13.21, J;. = 290 rvlPa 1.1 Pendahuluan
1.2 Tahanan Nominal Ballt
c) \,(fF 250.250.9.14, J;. = 410 !v1Pa
1.3 Geser Eksentris
1.4 Kombinasi Geser dan Tarik
P.5.8 Desainlah ukllran bearing plat yang diperlukan llntuk mendistribusikan rcaksi dari balok 1.5 Sambungan yang l\1engalami Beban Tarik Aksial
\'VF 500.200.10.16 yang nlel11iliki panjang ben rang 4,8 m diukur dari as ke as tUl11puan. 1.6 Geser dan Tarik Akibat Beban Eksentris
Balok memikul beban mati sebesar 50 kN/m dan beban hidup 50 kNlt11. Balok menllmpll
pada rEnding heton bertulang dengan f'e = 25 !\1Pa. i\1utu baja dan bearing plat adalah
B] 37.
6.1 PENDAHULUAN
P.5.9 Profil \V'F 400.200.8.13 olcnliklll bcban yang melllbentuk sudut Ion terhadap sumbu Setiap stfllktllr baja merupakan gabungan dari beberapa komponen b~Hang yang disatukan
vertikal. Hitunglah sudut kemiringan suolbu netral profil terscbut, dillkur dari sUl11bu dengan alat pengencang. Salah satu alat pengencang di samping las (akan dibahas dalam
vertikal penampang. bab VII) yang cukup populer adalah bau[ rerutama baut nlutu tinggi. Baut mutll tinggi
menggeser penggunaan pakll keling sebagai alat pengencang karena beberapa kelebihan
P.5.10 Desainlah profil \'(1F yang dapat memikul Olomen lentur dua arah sebagai berikut: yang dimilikinya dibandingkan paku keling, seperti jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit,
A1Dx = 80 Nmm A1r.x = 175 Nmm kemampllan menerima gar a yang lebih besar, dan secara keselurllhan dapat mengheolat
M Dy = 5 Nmm A1Lv = 15 N01m biaya konstruksi. SeLlin mu[u tinggi ada pula baut mutu normal A307 terbuat dari baja
Asumsikan terdapat pengekang lateral nlenerus pada balok terscbllt, gunakan mutll baja kadar karbon rendah.
B] 37! Dua tipe ddsar baut mutu tinggi yang distandarkan oleh AST~l adalah tipe A325 dan
A490. Baut ini mempunyai kepala berbentuk segi enam. Baut A325 terbuat dari baja kar-
P.5.11 Rencanakan struktur gording dari suatu rangka atap dengan data bcrikut: bon yang memiliki kuat leleh 560 - 630 ~/IPa, baut A490 terbuat dari baja alloy dengan
]arak antar gording = 1,5 n1 kllat leleh 790 - 900 ~1Pa. tergantung pada diameternya. Diameter baut ITIutU tinggi
Jarak antar kuda-kllda = 3,75 m berkisar antara Y2 - 1Y2 in, yang sering digunakan dabol struktur bangunan berdiameter
Sudut kemiringan atap = 20° ~1.4 dan 7/ 8 in. dalam desain jembatan antara 7/ ~ hingga 1 in.
Berat penutup atap = 25 kg/m 2 Oalam pemasangan bau£ mutu ringgi memerlukan gaya rarik awal yang cukup yang
Tekanan tiup angin = 20 kg/m 2 diperoleh dari pengencangan awal. Cara ini akan meI11berikan friksi sehingga cukup kuat
Gunakan mutu baja B] 37! untuk memikul beban yang bekerja. Caya ini dinamakan proof load. Proof lo,zd diperoleh
dengan mengalikan luas daerah tegangan tarik (A) dengan kuat leIeh yang diperoleh
dengan metod,l 0.2'1 0 tangLIl atau 0,5~o regangan (lih,u bab II) yang besarnya 70% jl~
untllk A325. d;ln 80%> /~ untllk A490.

A
s
= ~[d.
4"
_O. 9743]~
Jl
6.1

Oengan: db adaldh diameter nominal baut


1'1 adalah jumlah ulir per mm
110 B/~B 6 SAMBUNGAN BAUT 6.2 Tf\HANAN NOMiNAL BAUT 111

Rult mum norm,ll dipas3ng kencU1g ung.ll1. Baut muru tinggi rnub-mula dipasang I\:rsamaan G.4 berlaku untuk semua hauL sedangkan untuk lubJllg b.lut selOt panjang
kencang rangan, dan kc'mudian diikmi ~/2 puraran lagi (tUrJl-O!t!JC-Jlut Nlt'r!l(ld). Dabm tegak lurus arah gayJ, berlaku:
Tabel G.1 dit3mpilkan tipe-tipe ballt dengan diameter, proof!odd dan kll;lt tarik minimum-
n)"a.
Rn = 2, O. d/;o t p£ 6.6

Tata letak baut diatur dalam SNI pasal 13.4. Jarak antar pusat lub.lng baut hanls di-
TABEL 6.1 TIPE - TIPE BAUT
ambil tidak kurJng dari 3 kaii diameter non1inal bauL dan j.uak antJra baut tepi dengan
Tipe Batlt Diameter (mOl) Proof Stress (l\1Pa) Kuat Tarik :\Iin.(j\lPa) ujung pelat harus sekurang-kurangnya 1,5 diameter nominal bauL Dan iarak Inaksimun1
antar pusJ,t lubang baut tak boleh melehihi 1Sf (dengan tp adalah tebal pelat lapis tenipis
A307 6.35 - 104 60 p
:\325 12.7-25.4 coc
J0J
0'~
U-J
dalam sambungan) atau 200 mn1, sedangkan jarak tepi maksimum hanlS tidak melebihi
28.6 - .38.1 510 (4tp + 100 mm) atau 200 lTIln.
725 103=)
A490 12.7-38.1 82)

Sambungan batlt mutu tinggi dapat didesain sebagai sambungan tipe friksi (jika dikehen-
+_~S1
daki tak ada slip) atau juga sebagai sambungan tipe tumpu.
o
5
6.2 TAHANAN NOMINAL BAUT
51
Sllatu bJ,l1t yang memikul beban terhktor, R II
, sesuai persYJ,ratan LRFD h~uus me-
menuhi:
51 5 5
Ru .5. ¢.Rn 6.2 51
DengJ,n Rn adabh tahanan nominal baut sedangkan ep adalah hlktor redllksi yang diambil 3d b < S < 15tp atau 200 mm
sebesar 0,75. Besarnya Rn berbeda-bedJ, UI1tuk masing-masing tipe sambungJ,n.
1,5db < S1 < ( 4t p + 100mm ) atau 200 mm

Tahanan Geser Baut


Gamhar 6.1 l~lta Ler3k Ball(
TahanJn nominal saw buah baut yang n1en1ikul gaya geser memenuhi per~an1aan:

R" =m. rrl;/.A b 6.3


• CONTOH 6.1:
Dengan: 'J = 0.50 untuk batlt tanpa ulir pada biJang geser
Hitung beban kerja tarik mJ,ksimum untuk sambungJ,n tipe tumpu berikut, yang menyatu-
'J = 0,40 untuk b.1ut dengan ulir pada bidang geser
kan dua buah pelat (8J 37) berukuran 1G x 200 n1m. Baut yang digunakan berdiameter
j u'b Jdabh kuat tarik bJ,ut (~lPa)
Ab adalah luas bruto penampang batlt pada dJcrJh tak benllir
22 lTIm, f,/
= 825 lvIPa dan tanpa ulir dalan1 bidang geser. Beban hidup yang bekerj.l
bcsarnya 3 kali beban mati.
m adalah jumlah bidang gcser

Tahanan Tarik Baut 40


Baut yang memikul gaya tarik tahan:m nominalnya dihitlll1g menurut:

Dengall:
R" = O,75.J;,b.A b
Iud adalah kuat tarik baut (yIPa)
6.4
T.....- ----.. T
T
200

Tahanan Tumpu Baut


Ab adalah luas bruto penampang baut pada daerah tak benllir o o
1
1~lhanall tumpu nomin.l1 tergantung kondisi yan~ terlenuh dari baut aUti komponen pcLn:
yang disambung. Besarnya ditentukan sebagJi berikut:

Dengan:
Rn = 2,4.db·tpj~
do adalah diameter baut pada daerah tJk berulir
6.5 T"",-, I %b dill
- -
I ?-+T
16
t adalah tebal pelat
_/ kuat tJrik punls terendah dari baut atau pelat

----......"...",...-,.=c
.. ---..,...- 'C' ~.:::"~-,."...._._~-~.,~..",..------------------
112 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT 6.2 TAHANAN NOMINAL BAUT 113

JAWAB: Talunan geser menc.'rHukan!


Periks~l kekuatan pelat terlebih dahulu, lakukan analisa sepeni b.ltang tarik~
A == 16(200) == 3200 mm
2 I baut diperluLln == 43,56 = 2,48 == 4 baut
g J 17,54
An = 3200 - 2·( 22 + 3,2 )·16 == 2393,6 mrn~
Ae == An == 2393,6 mm 2
Leleh: ¢. Tn == ¢.J;.A == 0,90(240)(3200) == 69,12 ton I
Fraktur: rh. T == 'f/)/1
'r tA,l'.)e == 0,75(370)(2393,6) == 66,42 ton
1/
0 0 'I
I 150
I
Tinjau tahanan baut:
¢.Rll == ¢.O,5.fub.m.Ab == 0,75(O,5)(825)(I)(14·rr·22 2)= 11,76 ton/baut
o 0 I

~
Geser:
Tumpu: cp.Rn == ¢.2,4.db.tp.f/ = 0,75(2,4)(22)(16)(370) == 23.44 ton/baut > l-l
30 60 30
Tahanan geser menentukan, sehingga tahanan lIntllk 4 baut:
cp. Tn == 4 X 11,76 == 47,04 ton
• CONTOH 6.3:
Hitllng jllmlah baut yang diperlukan oleh kOlnponen struktur berikut yang memikul beban
Oari 3 kemungkinan tersebut, 9. T,l == 47,04 ton yang menentukan.
nlati (0 == 3 ton) dJn beban hidup (L == 15 ton). Gllnakan baut tanpa lllir di bidang
¢. Tn ~ 7;/
47,04 ~ 1,20 + 1,6L
geser, db = 19 nlO1, f/
== 825 tvfPa. Pelat yang disambung dari baja BJ 37. Aturlah baut
dalam 2 baris.
47,04 ? 1,20 + 1,6(30) == 60
o ~ 7,84 ton dan L ~ 23,52 ton
Jadi, beban hidup yang boleh terjadi sebesar 0 + L == 7,84 + 23,53 == 31,36 ton. 6 x250
T/2~1 ~ I~T
• CONTOH 6.2: T/2~ I 1
6
x250
Rencanakan sanlbungan baut sekuat pelat yang disarnbung bagi komponen struktur tarik
berikut ini. Pelat dari baja BJ 55 lfv == 410 MPa, fu == 550 ~fPa). Gunakan baut diameter
19 mm (tanpa ulii- di bidang geser, // == 825 lvIPa). Rencanakan baut diatur dalam dua JAWAB:
baris. Hitung beban tarik terfaktor, ~:

............-6 x 150 ~ == 1,20 + 1,6L = 1,2(3) + 1,6(15) == 27,6 ton

T/2-+-~ ~ I~T Pelat tengah menentukan dalam perhitungan kekuatan:


T12-+-
I "-10 x150 Ag == 6 X 250 == 1500 Inm
2

An == [ 250 - 2·(19+3,2)]·6 == 1233,6 mm 2


JAWAB: ~;lax All == 0,85·A g == 0,85 X 1500 = 1275 mln 2
Jumlah luas dua pelat luar lebih besar dari luas pelat tengah, sehingga perhitungan di- 2
Ae == An == 1233,6 mm
dasarkan pada pelat yang tengah.
Leleh: ¢. T,l == ¢J;.Ag == 0,90(240)(1500) = 32,4 ton
Ag == 10(150) == 1500 nln1 2
An == [ 150 - 2·( 19 + 3,2 ) ](10) == 1056 mm 2 Fraktur: ¢. T,l == ¢!/I.A( == 0,75(370)(1233,6) = 34,23 ton

Max.A == 0,85 A == 0,85 (1500) == 1275 mm 2 ¢. Tn ( == 32,4 ton) > ~ (== 27,6 ton) OK
Ae 1/ == An == 1~56 mm 2
Perencanaan baut:
Leleh: ¢. Tn == ¢.J;.Ag == 0,90(410)(1500) == 55,35 ton Geser: ¢.Rn = ep.O,5!/.m.A b = 0,75(0,5)(825)(2)(!A· It .19 2)
Frakrur: ¢. Tn == ¢.fI>A e == 0,75(550)(1056) == 43,56 ton
= 17,54 ton/baut
Jadi, jumlah baut dihitung berdasarkan gaya 43,56 ton.
TUlnpll: ¢·Rn == ¢2,4.db·tp!/ = 0,75(2,4)(19)(6)(370) = 7,59 ton/baut
Tinjau tahanan baut: . 27,6 4
Geser: ¢.Rn == ¢.O,5.//.m.Ab == 0,75(0,5)(825)(2)(~·n·192)== 17,54 ton/baut L baut dlperlukan - - = 3,6 == baut
7,59
Tumpu: ¢.Rn == ¢.2,4.db.tpfuP == 0,75(2,4)(19)(10)(550) == 18,81 ton/baut 1,5db == 28,5 ~ 30 nlm 3db == 57 ~ 60 mnl

J
6.3 GESER EKSENTRIS 115
114 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT

Sambungan Tipe Friksi


Semua contoh di atas didisain sebagai sanlbungan tipe rUJ11pll. apabib dikehendaki sam-
30
bungan tanpa slip (tipe friksi), maka satu baut yang hanya I11emikul gaya geser terfaktor,
~':I' dalam bidang permukaan friksi harus menlenuhi
190
~~, < y':, (= 9· V) 6.7
30
Kuat rencana, Vd == cp. ~" adalah kllat geser satu baut dabnl saI11bungan tipe friksi yang
besarn}? dihitung menllrut:

~ 1~! == 0. VI. == 1,13·ep· p. m· proof !oitd 6.8

Dengan: J.1 koefisien gesek = 0,35


Cek keruntllhJn geser blok~ m adalah junllah bidang geser
2
Am: = 2·( 90 - 1,5·( 19 + 3,2 ) ](6) == 680,4 n1n1 ¢ = 1,0 untuk lubang standar
2 ¢ = 0,85 untuk lubang seIot pendek dan lubang besar
An: = 2·[ 30 - 0,5·( 19 + 3,2 ) ](6) == 226,8 111m
cp = 0,70 untuk lubang seIot panjang tegak lurus arah gaya
O,6i,·A m .= 0,6(370)(680,4) == 15,1 ton
¢ = 0,60 untuk lubang seIot panjang sejajar arah gaya
fu· Alit = 370(226,8) == 8,39 ton
6.3 GESER EKSENTRIS
Karena O,6i4·AJlv > fu· Am ' maka kondisi gescr fraktur tarik leleh I11encntukan:
Apabila gaya P bekerja pada garis kerja yang tidak melewati titik berat kelompok ballt,
¢.Rbs = ¢. (O,6i,· AIl!' + 1;. Ag) maka akan timbul efek akibat gaya eksentris tersebut. Beban P yang nlempunyai eksentrisi-
tas sebesar e, adalah ekuivalen statis dengan mon1en P dikali e ditambah dengan sebuah
= 0,75 ( 0,6(370)(680,4) + 240(60)(6) ) == 17,80 ton
gaya konsentris P yang bekerja pada sambungan. Karena baik momen maupun beban
konsentris tersebut memberi efek geser pada kelompok baut, kondisi ini sering disebut
Ternyata keruntllhan geser blok lebih menentukan daripada keruntllhan leleh ataupun
sebagai geser eksentris.
fraktur, bahkan ev·Rhs < ~,' Untuk mengatasinya, maka jarak baut perIu diubah!
Dalan1 nlendisain sambungan seperti ini, dapat dilakukan dua macam pendekatan yaitu:
1. analisa elastik, yang mengasunlsikan tak ada gesekan antara peIat yang kaku
50 dan alat pengencang yang elastik
2. analisa plastis, yang mengasumsikan bahwa kclompok alat pengencang dengan
150 beban eksentris P berputar terhadap pusat rotasi sesaat dan deforn1asi di setiap
alat penyambung sebanding dengan jaraknya dari pusat rotasi.
50
P

I 50 I 80 I

2
~V)M
A'II' = 2·[ 130 - 1,5·( 19 + 3,2 ) ](6) == 1160,4 mm
2
An: = 2· [ 50 - 0,5·( 19 + 3,2 ) ](6) == 466,8 n1m

O,6i,-A,,:= 0,6(370)(1160,4) = 25,76 ron


Gambar 6.2 Contoh Sarnbungan Geser Eksentris
fu' Ant == 370(466,8) = 17,27 ton P

+
P
Karena O,6~r·A,;j' > //1' A,:_ . maka kondisi geser fraktllr tarik leleh J11enentllkan: I.... ...

D)
= Pe

..
M
1;' Ag)

~
l.
¢-Rbs = ¢. (O,GI/A m +
0,75 ( 0,6(370)(1160,4) + 240(100)(6) ) 30,12 ton > ~ OK • •
== ==
• • + :

I
• • • •
Gambar 6.3 Kombinasi Momen dan Geser

I
---l
116 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT 6.3 GESER EKSENTRIS 117

Analisa Elastik Ap,lbila gaya R, diuraikdI1 d3bm arah x c!J.n y s;:pcrti lLllam Galllbar 6.5, Inaka dapat
Prosedur analisa ini didasarkan pada konsep rnckanika bahan sederhana, dan digunakan dituliskan komponcn ga~'a dd!.lm ar.lh x d,ln y
sebagai prosedur konservatif. Untuk nlenurunkan persamaan yang digunakan dalam analisa
R =Z.R R =:::....R 6.16
ini, perhatikan sambungan yang nlenerima beban momen M dalam Gambar 6.4.a. Abaikan .; d .' d
gesekan antara pelat, mon1en san1a dengan jumlah gaya dalanl Gambar 6.4.b dikalikan
Substitusikan 6.15 ke 6.14 difcroleh:
jaraknya ke titik berat kelompok bauL
R = M.y R = .\f·:~:
A! = RrdJ + RZd] + ... + R(j.d6 = L R.d 6.9 ,. Id 2 .' Id 2 6.17

R4

R3~'\ Ij5
/R "- R

.1. r d3

R ,d1
d

d2/"~ds
d6
I
I
I

, 'V d/ : Y

L-x=J~
6

Gambar 6.4 Sambungan dengan Beban Momen

Gambar 6.5 Gaya R Diuraikan dal.ill1 Arah x dan y


]ika tiap baut dianggap elastik dan nlempunyai luas yang sama, maka gaya R dari tiap
baut juga proporsional terhadap jarak ke titik be rat kelompok baut tersebut.
Karena rI = :l + I, maka persamaan 6.17 secara umum dapat dituliskan lagi:
R1 = R]. = R(l
6.10 lv!· y AI·x
d( d
2
••• d(,
R.; = Ix2+ Lyl R- --"z
.T_Ix2+L.,.-Y 6.18

Atau RJ, R2' ... R6 dapat dituliskan dalam bentuk:


Dengan hukum penjumlahan Yektor, nlaka gaya R didapatkan dari:
R(-_Rld·R-R1d ·
d' (' 2 - d' ].,......... ', R() -- ld'
i d(, 6.11 2 2
I ( 1
R=JRx +RJ 6.19
Substitusikan 6.10 ke persanlaan 6.8: Untuk menghitung gaya total akibat beban eksenuis seperti pada Gambar 6.2.a, nlaka
R( 1 Rid:! RGdl peng:uuh gaya RL• menlberikan kontribusi gaya kepada tiap baut sebesar:
M = -.d( +-. -. + ...... +-. (,
d( dl - d(,
R=~
L' IN 6.20
M = -R1 [d (+ d 2 + ..... +d6 2J =-'L..J
R1 "d 2
2 2
6.12
d( d1 Dengan N adalah jumlah bauL Dan total resultan gaya pada tiap baut yang mengalami
gaya eksentris adalah:
Sehingga gaya pada baut 1:
M·d IRx 2 + (R , + R
R =V )2 6.21
R( = Id~ 6.13 L'

Dengan cara yang sanla, maka gaya pada baut-baut yang lain adalah:
• CONTOH 6.4:
Af.d:! AI.dj Al.dG Hitunglah gaya maksimal yang bekerja dalarr. satu baut, untuk SUJtu kcmponen struktur
Rz = Id2 ; Rj =: Id2; ..... ; R(, = Id z 6.14
berikut yang memikul gaya eksentris seperri pada gambar.

Atau secara umum dituliskan:


JAWAB:
R= M·d 6.15 Baut yang menerima gaya terbesar adalah baut nomor 1, 3, 4, dan 6. Pada baut nomor
t Id 2 4 bekerja gaya-gaya:

I
118 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT
63 GE~=KEKS=NTR,S 119

R ::: .\1.} 1500x75


\ Ix~ + If~::: 37500 ::: 3 ron ----)
75

/
100

:.
1----, 100 --+-- 75 II ~P u = 20 ton

I:
1\- ~T- - - - - th-
T
1 I 4
p = 7:; + ')0 12'5 mnl u.- u-ut_u _
11 ~

1St :+ ~ )\pu=slon
:=
-I' - I - . - -

I
I
j\1 = 12(125) = 1500 ton mnl

+-j-t.~---~t
5
Ix + I 2
y2 = 6(50)2 + 4(75)2

75. I
= 37500 mm 2 I
3
1- -e-----+_ I I

I 100 I
Total gaya R pada baut 2:

R = .\[·x 1500x50 R=~(Rx+R,J+(R,+R,,)'


J Ix~ + L),2 = 37500 = 2 ton -t
P 12 R= ~( 1,85 + 1)' + (1,23 + 0,75)' = 3,47 ton
Rv = N ::: 6 = 2 ton -t
Gaya total pada balH nomor 4: • CONTOH 6.6:
R=~R.'+(R,+R.)' =J}'+(2+2)' = 5 ton Dna buah profil CNP 24 dihubungkan dengan pelat serebal 10 nlIT~. sebagai alat sambunf:
digunakan baut A325 db = 22 mnl (tanpa ulis dalam bidang gescr). Terscdia clua pob.
baut seperti dalam gambar, yaitu pola I dan pola II. Pada kondis tersebur bekerja beban
• CONTOH 6.5: terfaktof Pu yang sarna besar dan berlawanan arah. ]ika diketahui perbandingan beban
hidup dengan beban mati adalah 3 (L = 3D):
Hirung gaya R yang bekerja pada baut nomor 4 berikut ini, bila kelonlpok baut tersebur
a. tentukan pol a mana yang lebih baik
memikul beban Pu = 5 ton yang membentuk sudut a terhadap sunlbu horizontal, di
mana besarnya tan Ct. = 3/4. b. dengan pob yang lebih baik tersebut, hitung beban kerj2. yang dlpat dipikul

JAWAB: Pu Pu
= 160 mm
jy[ = 5 (160) := 800 ton mm

Ix + Ly2
2
= 4(50)2 + 4(75)2 = 32500 mn1 2 ••
------------

••
50
60
14{
A/-~"
W J
-e- I

••
I ;

Gaya-gaya yang bekerja pada baut nomor 2:


60 A
'+'t'_--$-_/
-e-
------------ 50
~V.y 800x75
Rx =, '+ '"
L,;x- L,;y-
J =---0
32)0
=1,8)_ ton ---7 Pu

jJ·x 800x50 u I 184 I 72 I 184 I I , I


RJ = I x-+
' I - = 1,23 ton
y-' = -32500 -t
R = P·r05a = 5xO,8 = 1 ton ---7
H 4 4

.. P·~na _ 5.\"0,6
R.., = -4-- 4
= 0,75 ton -t
I

I
_1
120 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT
63 GESER EKSENTRIS 121

}A\VAB: Dari persamaan kest?timbangan diperoleh hubung;ln:


Pola baut I: ballt yang n1enerima gaYd terb-:s~u <'h.blah baul-b,,,·...:: au.s d,Hl b,l\\ ah
~ FJ, =0
L..J " R·/ si n / e - Psi n 8 = 0
AI = P: 184 + 72 + 184 ) = 440 P:,
j
' ( L..J 6.22
2 2
'I = J36 + 60 = 70 mm
I r;, = 0 "L..J R/ ·eose/ - Peas8 = 0 6.23
RI=~~i= _440·~1·70 /=1

I/"2 (4x702)+(2x362)= 1,3879.Pu


IiVI=O ~ R·d -P(e+x ,cosD+ J" .sin8)=0
L..J I 1 0 () 6.24
1=1
Pola haut II : semua baut n1enerinu gaya yang sanu besar
;vr = P:.-( 220 + 220 ) = 440 P/I Dengan substitusi: '0 = xo'cos 8 + )'o'Jin 8, persamaan 6.24 menjadi:
= 70 mm
IM=O IR/.d/ - P(e+ '0) = 0 6.25
R = lvl·,. _ 440·~. ·70 /=1

Ir.:! - 6x70 2 = 1.0476,P/I Di mana '0 adalah jarak terdekat ant:1fa pusat rotasi sesaat (Ie) dengan titik berat baut
(CG).
Ternyata pob baut II lebih baik, gaya yang dipikul tiap balH S2:11a besar d,ln lebih kecil
daripada gaya InaksimUITI bau( 1 pada pob 1. Sambungan Tipe Tumpu
Untuk sambungan tipe tumpu, slip diabaikan dan deformasi tiap alat pengencang propor-
Selanjlltnya Inenghitung tah,lnan satu buah baut:
sional terhadap jaraknya ke PUS~lt rotasi sesaat. Analisa dilakukan sebagai berikut:
Geser: ¢.Rn = ¢J.O,5f/·m.Ab = 0,75(O,5)(825)(2)(!;~·TC·2~~)= 23,52 ton
R =R1 1Il
[1- exp(-0,4 /
)JOSi 6.26
Tllmpu: ¢.Rn = ¢.2,4.db·tpf/ = 0,75(2,4)(22)(10)(370) = I-f,652 ton
Dengan: R; adalah tahanan nominal satu baut
Tahanan tumpu menentukan~
L1. adalah deformasi baut i dalanl mm,
1,0476.Pu ~ 14,652 ton L1'lfI,L"( dari hasil eksperimental adalah sanla dengan 8)6 Inm
Pu 5 13,986 ton
13,986 > 1,2D + ] ,6L • CONTOH 6.7:
] 3,986 > 1,2D + 1,6(3D) = 6D Hitung Pll yang boleh bekerja pada sambungan berikut ini, lakukan analisa plastis. Alat
D 5 2,331 ton L 5 6,993 ton sambung yang digunakan adalah baut A325 (db = 22 mm, = 825 ~fPa) tanpa ulir f'/
dalalTI bidang geser.
Beban kerja yang boleh bekerja D + L ~ 9,324 ton (= 2,331 + 6,993)

JA\VAB:
Analisa Plastis e = 75 + 50 = 125 mm
Cara analisa ini dianggap lebih rasional dibandingkan dengan cara el.lsrik. Beban P yang
R"i = O,5j}.Ab·m = 0,5(825)(Y4·n·22 2)(l) 15,68 ton
bekerja dapat menimbulkan translasi dan rotasi pad.l kelon1pok balIt. Translasi dan rotasi
ini dapat direduksi menjadi rotasi murni terhadap pusat rotasi ~csaat. Lihat ganlbar 6.6. Ri = Rni [l - exp(-0,4.~)JO.')5

R,,~ Pn
~ e 8

. -t1 t
Yo!
r
7.5

-~J r
"
--!
IC Titik berat kelompok
/ x alat penyambung (C.G.) 75 I I

~ .JL dL
Pusat rotasi
sesClat (I.C.)
; Gambar 6.6 Pusat Rorasi SeS:lJ.r
I

L
122 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT 6.4 KOMBINASI GESER DAN TARIK 123

Beban bekerja pada sumbu y, 8 = 0, dcngan rnengganti J/d: untuk Sill 8: serra x/d: Sambungan Tipe Friksi
llnruk cos 8:, nlaka persamaan 6.22, 6.23, 6.25 menjadi: Analisa hampir sarna dengan tipe rumpll h,lnya saja Ri konstan yairu:

6.26 R: = 1,13x ,ll X Proof Load X 1n 6.29


"'
.!...J
R .L-=O
I d,

• CONTOH 6.8:
"' R.~=P 6.27 Kerjakan kenlbali contoh 6.7 sebagai sambungan ripe friksi. K;uena Ri konstan, maka
L 'd, '!
persamaan 6.25, 6.26, dan 6.27 nlenjadi:

IR,.d, = P (e + ~J)
n
6.28 R,I~=O 0.38

Ingat juga aSllmsi: =~ d


= d~~ .8,6 R"'~=P
,L d 6.31
dm:rr. j

Persamaan 6.25 hingga 6.27 diselesaikan dengan trial and error.


R,Id, =P(e+~) 6.32
1. ~1isalkan r diambil san1<1 dengan 75 nlln, proses hirungan ditabelkan sebagai
o JAWAB:
berikur: Dengan cara trial and error, diperoleh hasiL ro = 59,569 Dlm.
No, baut x j dj ~j Rj (Rj,x j I d) Rj,d j
Yj No. Baut xi :1. di xi/di
1 25 75 79,057 4,664 14,295 4,520 1130,090
9,569 75 75,60797 0,12656
2 25 0 25,000 1,475 10,053 10,053 251,323
2 9,569 0 9,56900 0,00000
3 25 -75 79,057 4,664 14,295 4,520 1130,090 9,569 -75 75,60797 0,12656
3
4 125 75 145,774 8,600 15,401 13,207 2245,127 4 109,569 75 132,77939 0,82520
5 125 0 125,000 7,374 15,223 15,223 1902,883 5 109,569 0 109,56900 1,00000
6 125 -75 145,774 8,600 15,401 13,207 2245,127 G 109,569 -75 132,77939 0,82520

I 60,730 8904,640 I 535,91272 2,90351

Dari persamaan 6.27 didapat Pn = 60,730 ton Dari 6.31: P" = R,.2,90351
8904,640 R (535,91272)
Dari persanuan 6.28 didapar p" = (_
12) + 75
) = 44,5232 ron Dari 6.32: p" = (;25 + 59,569) = R,.2, 90359

Karena hasil tidak cocok, proses diulangi lagi. Karena R i = 1,13 X 0,35 X IA'7('22 2 X 0,75 X 585 X 1 = 6,5963 ton (digunakan baut
A32S, db = 22 mrn), sehingga Pn = 2,90359 X 6,5963 = 19,153 ton.
2. Coba 1'0 = 51,46 mnl

No. baut Xj Yj dj ~j Rj (Rj,xj I d) Rj.d j 6.4 KOMBINASI GESER DAN TARIK


1,46 75 75,014 5,113 14,530 0,283 1089,942 Pada un1uD1nya sanlbungan yang ada nlerupakan kombinasi geser dan tarik. Conroh
1,46 0 1,460 0,100 2,634 2,634 3,845 sarnbungan yang merupakan kombinasi geser dan tarik terlihat pada Gambar 6.7. Pada
1,46 -75 75,014 5,113 14,530 0,283 1089,942 sambungan (a) akibar Dlomen Dlaka baut tepi atas akan mengalami tarik yang sebanding
4 101,46 75 126,171 8,600 15,401 12,385 1943,217 dengan nlonlen yang bekerja. Sambllngan ini digunakan bila mODlen tidak terlalu besar,
5 101,46 0 101,460 6,916 15,130 15,130 1535,055 dan unrllk nlomen yang besar biasanya digunakan sambungan, (b) D10men disalurkan
6 101.46 -75 126,171 8,600 15,401 12,385 1943,217 melalui sayap dan direrima oleh baut-baut pada sayap tersebut.
L 43,099 7605,219
Sambungan Tipe Tumpu
PersaDuan interaksi geser dan tarik dari berbagai srlldi eksperin1ental, dapar direpresenta-
Dari persamaan 6.27 didapat Pn = 43,099 ton
sikan sebagai persamaan lingkaran berikut ini:
7605,219
= (125+ 5 1, 46) = 43,0988 ton OK
Dari persamaan 6.28 didapat p" R ]2 + [R
__
:.t_ ]2 1 6.33
[¢r.Rllr
_1_'11_ ::;

¢,.. R III
,
124 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT 6.4 KOMBINASI GESER O,A,N TARIK 125

Dengan: Rllt (h.blah beban tarik terfaktor pada baut R


~Rtarik
Rill' adalah beban geser tcrfaktor pada baut t nt

¢t .Rnt adabh tahanan reneana pada baut dalam tarik saja =1


¢z' .R lIl
, adalah tahanan reneana pad<l baut dalanl geser saj3.
1.0
¢ t .<!>u = 0,75
'" / \~~~R- + (-~"----- 1
2
R J2
RIlf dan RlI!' masing-nLlsing adabh tahanan nominal tarik dan geser yang besarnya: . ' " , " , o R ) -1
-

Rnt = O,75// .A b
J
6.34
r ' · 0'

I ~
~(RI2
Rnz' = m.O,5!/;.A tf 6.35.a

atau RlIl , = m.O,4f}·A b 6.35.b _1I_1 (R /,,,


2
oR -!.i-~
, m) \O,RoJ =1,3

2 profil siku R uv
o 1,0 ~
v "1'1
geser

Gambar 6.8 KUf\ a Imeraksi Tahan.:tn Gcser-Tarik (Sambungan Tipe Tumpu)

Bagi persamadn 6.37 dengan Au (lU<lS pen am pang baut), dan substitusikan R1Jt dan R .
m
dari persamaan 6.34 dan 6.35. diperoleh:
R 11(0 75. rb).A,
~~cy , u J " 9(0, 75·fub).AiJ R/{l'
6.38
Ah Ah 0,75.(0,5·!u b ).Ab Ab
(a) (b)
fur -S: [ ¢>J; = rp.(O, 75 f}·C - 2fu)] 6.39
Profil
T struktural
Untuk baut dengan ulir pada bidang geser diperoleh:

fur -S: [$i = $.(0, 75f}·C - 2,5fujJ 6.40


2 profil siku

Nilai konstanta C dalam peraturan ditetapkan besarnya adalah 1,3. Nilai 2 dan 2,5
(koefisien [ ) dalam peraturan direduksi menjadi 1,5 dan 1,9.Besarnya nilai $.1; untuk
masing-nusing mutu baut ditabelkan berikut ini dalam Tabel 6.2.
DalaIll perencanaan sambungan yang memikul kombinasi geser dan tarik, ada dua
persyaratan yang harus dipenuhi:

(c) (d)
1. fll' = -" ~
V {o 5·¢J·fb.
,/ , lib
m Tanpa ulir di bidang geser
6.41
rJ·Ab 0 ' q.D. f
Y _:,
·ttl Dc:ngan ulir di bidang geser
Gambar 6.7 Sambungan Kombinasi Geser dan Tarik

2. ¢J.Rlit = IflJ.Ab > -Tu


'r"jt 6.42
Persamaan 6.35.a untuk balH tanpa ulir dalam bidang geser, sedangkan 6.35.b untuk 1l
baut dengan ulir pada bidang geser.
Peraturan menyederhanakall persamaan interaksi geser-tarik pada 6.32, nlenjadi sebuah
TABEL 6.2 NILAI </J.ft UNTUK BERBAGAI TIPE BAUT
persalnaan garis lurus:

R ]2 [R l2 Tipe Baur ~.J;


[¢,.R., + ¢".R", J -<
ut ii' C~
6.36
A325 dengan' uljr di bidang geser q>·(807 - 1,9fuJ < <1>.621
A325 ranpa ulir di bidang geser q>·(807 -- 1.5f:.) < <1>.621
Dengan C adalah suatu konstan tao
Persanuan 6.36 dapat dituliskan sebagai: A490 dengan ulir di bidang geser <1>·(1010 - 1,9fu) < <1>·779
A490 ranpa ulir di bidang geser <1>·(1010 - 1,5fu) < <1>·779
R ~C . .R _¢t·Rm.R 6.37
ul ¢Jt fit ¢. R la'

_J
126 BAB 6 SAMSUNGAN SAUT 6.5 SA~v1BUNGAN YANG MENGALAMI BEBAN... 127

Sambungan Tipe Friksi


Untuk sambungan tipe friksi bc:rlaku hubungan: T 1 Jl) [43, 8~)
/ ]
=
V~
n
S;¢.V
1/
(I __ T-=-:._I_ll__ )
1,13 x prooflald
6.43
a·V
'1/

~/n >
(
1- It

1, 13· prooflotld
=6,597.1- ,6
1, 13 X 16,68

¢. ~~! (baut tak nIencukupi untuk sambungan tipe friksi!!)


.f,038 ton

Dengan: V:z = I,Ij'.U.proofload.m


Proof load = 0,75 X A o X proof stress 6.5 SAMBUNGAN YANG MENGALAMI BEBAN TARIK AKSIAL
Ab adalah luas bruto baut
Tarik aksial yang terjadi tak bersamaan dengan geser, dijurnpai pada batang-batang tarik
T d.dalah bebdn tarik tcrfaktof seperri penggantung (iJi1llger) atau eiemen stfuktur iain yang garis kerp bebanny8. tegak
1/ adalah jumlah baut lurus dengan batang yang disambungnya. Untuk mernah,lnIi efek akibat beban eksternal
pada baut mutu tinggi yang diberi gaya tarik awal, perh,1tikan sebuah baut dan daerah
pengaruhnya pada pelat yang disan1bung. Pelat yang disambung melnpunyai ketebabn t
• CONTOH 6.9:
dan luas kontak antara pelat adalah Ap'
Hitung kecukupan junIlah baut bagi sarl1bungan berikut ini (tipe tumpu dan tipe friksi),
diketahui beban terdiri dari 10Qo beban olati dan 90~'o beban hidup. Baut A325 tanpa
ulir di bidang geser.
Ap
jA\VAB:
PH = 1,2(0,1)(35) + 1,6(0,9)(3'))
Pli = 54,6 ton
r p r
~
T;. = P"x = 0,8 x 54,6 = 43,68 ton
~. = Puy = 0,6 x 54,6 = 32,76 ton

4
c/
3
Tf
Tb = pratarik awal
'~
35 ton Gambar 6.9 Pengaruh Pratarik Awal Akibat Beban Tuik Aksial

a. Sambungan tipe tumpu: Pada saat penIasangan a\val, baut nIutu tinggi sudah diberi gaya pra tarik awal Tb, hal
V 32,76 ini olengakibatkan pelat tertekan sebesar C z' dari keseimbangan gaya:
Geser: fl4 = - " = 1/ ' = 143,634 l\1Pa
".Ab 6'/4·][·22- Cj = Tb 6.44
O,j.¢!}.m = 0,5 X 0,75 X 825 X 1 = 309,375 l\IPa Beban luar akhirnya bekerja, sehingga kesein1bangan gaya sekarang seperti tampak
fu:.
< O,5·¢!}.m OK dalam Gambar 6.9.c.:

P+Cf=Tf 6.45
Tarik: j~ = 807 - 1,5il' = 807 - (1,5 X 143,634) = 591,549 MPa
Gaya P mengakibatkan baut memanjang sebesar:
¢.R'l = ¢/r.Ab = 0,75 X 591,549 X ~~ ·rr·22~ = 16,865 ton
Tf -Tb
T;/n = 43,68/6 = 7,28 ton 0b =---.t 6.46
Ab·Eb
Tin < ep.Rn OK
Pada saat yang sarna tekanan di antara pelat mengakibatk3.n pelat olemendek sebesar:
b. S.lmbungan tipe friksi
C -C
\~I = 1,13 X ,L1 X proof lo,;d X m o =_1--.t f
6.47
P A:E
p p
= 1,13 X 0,35 X 1 X proof load = 0,3955
proof load = l/~ ·rr·2i~ X 0,75 X 585 = 16,68 ton Dengan: EIJ Ep adalah modulus elastisitas baut dan pelat

¢. ~'~I = 1 X 0,3955 X 16,68 = 6,597 ton T adalah gaya akhir yang bekerja pada baut setelah beban bekerja
f
~/n = 32,76/6 = 5,46 ton C adalah gaya tekan akhir antara pelat setelah beban bekerja
f
128 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT 6.6 GESER DAN TARIK AKIBAT BEBAN ... 129

l\'fenyamakan Db dan Dp dipcroleh hubungan: II


II
Tf -T~} = C -C r II
6.48

.~I n-:I
I

~
AIJ·Eo Ar,·E p
•• ••
SubstitLlsikan Cr dari 6.44 d,-Ul C dari 6.45 ke pcrsal11aan 6.48 didaparkan:
f • •
T t -Tb Tv -Tj +P • •
AiJ·E[, A.E
p p
6.49 : : /I
LJ~
Karena Eb dan Ep sarna unruk matenai baja, maka 6.49 dapat dnuiis daiam benruk: ~
~h~
p
T j = To + -A-'- / 6.50 (fbi - fib)
1+ ~
/ Ab
~ rI H
II CONTOH 6.10:
Baut A325 berdian1eter 22 mnl menerirna gaya tarik aksial scpeni dalanl gambelL ]ika All
= 6000 mm 2• Hitung gaya rarik akhir pada baut (T) bila bebdn kerja terJiri dari 20~'~
beban mati dan 80% beban hidup.

~ (fb,+ r,b~
]A\VAB:
¢.Rn = O,15fub.O,15·Ah = 0,75(825)(0,75)(W·n·22 2)= 17,64 ton
Ru = 1,2(O,2R) + 1,6(O,8R) = 1,52 R = 17,64 ton
R = 11,61 ton
7b = proof stress X 0,75 Ah = 585(O,75)(1A·rr·22 2)= 16,678 ton Gambar 6.10 Geser dan T,uik AkibJ[ Behan Ekselluis

Dengan LTb adalah proofload kali jllmlah baut. Tegangan tarik h,; pada bagian atas bidang
kontak akibat momen Jvf, adalah:
r = Jvf·d /2= 6·Jvf
A 600~ = 15,784 J tb J b.d 2 6.52
_'L
b
= 1" 1'1\'22 2
A /4 11.61 Beban T pada baut teratas sanla dengan perkalian an tara daerah pengaruhnra (lebar b kali
T = Tb-r-. P
A. = 16,678 + 1~-15,-78 jarak antara baut, p) dengan hb'
atau:
' 1+ ~(A
/ b
T = hh·b·P 6.53
Tf = 17,37 ton
Substitusikan persamaan 6.52 ke 6.53 diperoleh hllbungan:
T = 6.!V/.p 6.54
d2
6.6 GESER DAN TARIK AKIBAT BEBAN EKSENTRIS Jika balH terluar berjarak pl2 terhadap bagian atas bidang kontak, maka T n1enjadi:
Perhatikan mom en M yang bekerja pada sambungan konsol dalam Gamb.u 6.10 yang
T=6.M'P.(d- P ] 6.55
Illengakibatkan tarik pada b<lllt ~Has. Jika digunakan baut muru ringgi rant: mcrnpunyai d2 d
gaya pra tarik awal, maka ga:'a ini akan I11enekan peLlt at.ILl peJl~mpang yanf disambung.
Sumbu netral akibat beban mamen A1 akan terjadi di titik berat daerah konr-lk.
Tekanan tumpu awal J;Jl akibat gaya pratarik, dianggap seragarn sepanjang daerah kon- • CONTOl-I 6.11:
tak b.d yang sarna dengan: Hitung beban kerja P dalam sambungan berikut ini, jika digunakan baut A325, db = 19
L~ ~ mm (tanpa ulir di bidang geser). Beban yang bekerja terdiri dari 200/0 beban mati dan
AI =/;d 6.)1 80% beban hidup.
130 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT
6.6 GESER Dp.N TARIK AKIBAT BEBAN '" 131

75 Persamaan G.57 scbcnarn:'a idel1tik dengan G.55, jika d daLtm G.55 sall1a dcngan 1I.p,
di mana Jl adalah jumlah b<lUf d,lL1ll1 sattl baris, maka G.55 IllenjaJi:

p. - pJ== 12.!'vf.[p(n-l) l
, , .[n. 1/.p

T == 6.Af. p
-$- n-.p- , ) 2 J
n'·/>-
6.58

1:: •• ••
80
Perhatikan bahwa p(n - 1)/2 adalah jarak ballt terluar terhadap ~etengah tinggi kontak
area, yang identik dengan)' dabIn G.57. Satu baris ballt dengan jarak p dapat diasuInsikan

u
scbagai tan1pang persegi dcngan lebar A/p d3.n tinggi n.p. ).!oIllcn inersid pcndmp<lng ini
..J.. I ..l..
aJal.Jh:
140 1-tP-1I 11-<4T I
J==~A
12"-·(1/·p)3 6.59
P
Prosedllr penJekatan yang terakhir ini lebih mudah daripada cara analisa yang ter-
dahlllll.
JAWAB:
Pu == 1,2(O,2P) + 1,6(0,8P) == 1,52.P • CONTOH 6.12:
T == 6.Jvf P
/I J"2
ll ' .[d-.d p]= GX1,52'P~75X80.[320-80]==
320~ 320
0,40.P
Hitung jllD1lah ballt (A325, db = 22 n1n1) untuk sambungan berikllt ini, yang Inenerima
beban n1ati D = 3,5 ton dan beban hidllp L = 25 ton.

v
u
= ~
N
= 1,52·P =
8
°
'
19.P 75

¢.Rl/l' = 0,75(0,5 f'}) m. A h = 0,75(0,5)(825)(l)(~·1t·192)= 8,77 ton


¢fur'A b = ¢.A b·( 807 - 1,5ful' ) < q>.62/.A 1J
= 0,75(807)A b - 0,75(1,5fulJ·A b)< 0,75(62l)A b
= 0,75(807)(~)(rr)(l92)- 0,75(l,5i! -AI)
40

n@80

·1
2

••
< 0,75(621)(Yi·n:·19 )
max ~ = 17,16 - 1,125·~ < 13,2 ton
140
Samakan ~ dengan max ~:
OA·p = 17,16 - 1,125( 0,19 P)
P = 27,96 ton

Periksa max ~i dan batas atas ~ (13,2 ton):


~I = 0,19·P = 0,19(27,96) = 5,3124 ton < 8,77 ton JAWAB:
Pu = 1,2(3,5) + 1,G(25) = 44,2 ton
T,t == O,4·p = 0,4(27,96) = 11,184 ton < 13,2 ton OK
¢.R,w = 0,75(0,5//)m·A b = 0,75(O,5)(825)(l)(1A·1t·22~)= II,7G ton
Schingga bcban kerja P adalah 27,96 ton.

Cara lain untuk menganalisa sambungan kombinasi geser dan tarik yang Inenerima Coba pakai 10 baut (5 buah per baris):
beban eksentris dilakukan dengan menghitllng tegangJn tarik dalam baut dengan Inemakai
L)l = 4 [160 2 2
+ 80 ] = 128000 mn1 2
f
teori lentllr = AI.y/f, atau:
M.y AI.y , !'vl.y 44,2x150XIGO
!r =-1-= LAb.y:! 6.56 7u == LUy2 == 128000 = 8,2875 ton

Jika semua baut memiliki ukuran sarna. maka gaya tarik T dalam sebllah ballt adalah: P 44,2
V == ---!!... == - == 4,42 ton < ¢.R (= 11,76 ton) OK
u n 10 m
T ;- AbJ; = AI'J 6.57
. LY:!
132 SAS 6 SAMSUNGAN SAUT SOAL-SOAL LATIHAN 133

Periksa interaksi geser d,ln tarik: P.6.3 Tentukan junllah batlt yang diperlukan untuk Inenahan gaya rarik sekuat profil J L
100.100.10 sepcrri tampak dalam gambar, unfuk beberapa tipe sambungan sebagai
J; = (807 - 1,51111' ) < 621
berikut:
= (807 - 1,5· ~) < 621
AI) Kasus ~111fU baja o baut Tire sambungan

44J·I0·\ 13J 37 Y.. " - A 325 Ulir di luar bidang geser


807 -1,5· " - 632,58 I'v1Pa b BJ 37 ~!4 " - A 325 Sambungan tanpa slip
1,;4 .7[.J)2
"-- BJ 37 -:I s " - A 325 Ulir di daiain bidang geser
Gunakan 1; = 621 .tY1Pa d B] 37 7 I 8 " - A 325 S,lnlbungan tanpa slip
ep.Rllt = epJ;.A b = 0,75(621)(~'~·TC·222)= 17,705 ton

~I (= 8,2875 ton) < ep.RJU (= 17,705 ton) OK t = 12 mm

JL 100.100.10
SOAl-SOAl lATIHAN

P.6.1 Hitunglah beban kcrja layan yang dapat dipikul oleh komponen struktur tarik berikut T...-- -----. T
ini, jika baut yang digunakan adabh baut n1utu tinggi A325 berdiameter %" dengan ulir
di luar bidang geser, sedangkan mutu peLlt baja adalah BJ 37. Diketahui pula bahwa
perbandingan beban hidup dan beban nuti adalah 3 (LID = 3).
Gambar P.6.3
5°~14 t == 10 mm
P.6.4 Sebuah b~ltang tarik dari siku tunggal 120.120.12 (BJ 37) digunakan untuk nlenahan gaya
tarik yang terdiri dari 40 kN beban mati dan 120 kN beban hidup. Asumsikan tebal pelat
50T
i sambung adalah 12 mm. Jika digunakan ballt A325 berdianleter 1/2" dengan ulir di luar
50 ,t -$--$- ~ bidang geser, hitllnglah jumlah batlt yang diblltuhkan !

50I
-$--$-
P.6.5 Hitunglah besarnya beban byan yang dapat dipikul oleh profil 2CNP20 dari baja BJ 37
seperti pada gambar berikllt. Baut yang digunakan adalah A325 berdiaineter 7/ 8 " dengan
ulir di Iuar bidang geser. Beban terdiri dari 25% beban nlati dan 75<310 beban hidup.
Gambar EG.I

P.6.2 Dua buah pelat setebal 20 mm disan1bung dengan suatu pelat sambung setebal 10 mm t= 15 mm
seperti tampak dalam gan1bar. Baut yang dipakai sebagai alat pengencang adalah baut
A325 berdian1eter 5/8" dengan ulir di Iuar bidang geser. tvIutu pelat baja adalah BJ 37.
Hitunglah tahanan tarik rencana yang diperbolehkan bekerja pada komponen struktur
tersebut!
-$- -$- -$- -$-
~o
~~~
~o

::tU:I:D
-$- -$- -$- -$-
~o

~ cd ~~omm~
bJ.---:: 75 1~
Gambar. P.6.5

t = 10 mm
Gambar P.6.2
134 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT
SOAL-SOAL LATIHAN 135

P.6.6 Hitunglah bes.nnya be-ban byan mabimum, ~ yang menimbulkan geser ebcnrris pada P.6.8 Rencuukan sarnbllng~ln geser eksenrris dell-1m GambL1r rG.8 clc'ngan baut A325 berdiameter
sambllngan da!.lm Gambar P.6.6. Beban terdiri dari 25~/o beban mati dan ~51~() beban '/'/'. Disyaratkan bahwa baut dislisun daLul1 clua LIj~lr clengan jL1Llk verrikal antar bJur
hidllp. B:.lut yang digunakan adalah A325 berdialnetcr 7/8" de-ngdl1 ulir di ltur bidang adabh 75 mm. Beban tercEri (Lui ..fOt~o he-ban nuti dan 60%> beban hidup. GUllak,lll
geser. ASlllllsikan pebt cllkup kuat menahan beban tersebllt (BJ 37) metode elastis. 0.1utu be1ja BJ 37.
a) Gllnakan mewde elastis
b) Gllnakan rnetode plastis

j12°T15°1n
; -l - r Posisi ba~t teratas

1-- tt~1
150 I II I I
L __
-$~tl 130 kN
t = 10 mm

t = 10 mm

Gambar 1~6.6 Gambar P.6.8

P.6.7 Hitunglah besarnya beban layan, ~ yang terdiri dari 20% beban mati dan 80 0/0 beban P.6.9 Sambungan geser eksentris (sambungan A) dalam Gambar 1~6.9 berikut ini menggunakan
hidup, pada sambllngan yang terlihat dalam Gall1bar P.6.7, gllnakan baut A325 berdiam- baut A325 berdiaoleter 7/ 8" dengan ulir di luar bidang geser. Beban terdiri dari 30 kN
eter 7/ 8" dengan ulir di dalam biddng geser. IV111tu baja BJ 37 beban Olati dan 150 kN beban hidup. Hitllnglah jumlah baut yang dibutuhkan dengan
a) Gunakan metode elastis L
cara elastis. Berikutnya rencanakan pub sambungan profil J 100.100.10 ke Bens kolom
b) Gunakan metode plastis (sambungan B), t Rens = 20 n1m.

150 200

Sambungan B---------- t = 10 mm

Sambungan A
3@75

JL 100.100.10
Pelat, t = 12 mm
4>-
~
75
Gambar P.6.9

P.6.10 Hitunglah junllah baut yang dibutuhkan pada sanlbungan dabrn Gan1bar 'Po6.1 0, jika sam-
bungan A direncakan sebagai san1bungan sekuat profil. Gunakan baut A325 berdiameter
Gambar P.6.! '12" dengan ulir di luar bidang geser.

1
136 BAB 6 SA~'i1BUNGAN BAUT

Sambungan B
tf = 20 mm

tw = 20 mm 7
Sambungan A
Sambungan Las
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah mempebjari bah ini, rn:llta\i~\\a diharapkan dapac
rv1ampu membedakan jenis-jenis sambungan las
I\1enghitung kapasitas las dari masing-nlasing jenis las
I\'felakukan proses analisis dan desain sambungan konstruksi baja dengan
3
n1enggunakan berbagai jenis las yang ada

Gambar P.G.lO
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Pendahuluan
T 1.2 Jenis-jenis Sambungan
1.3 Jenis-jenis Las
1.4 Pembatasan Ukuran Las Sudu!
1.5 Luas Efektif Las
1.6 Tahanan Nominal Sambungan Las
1.7 Geser Eksentris - Metode Elastik
1.8 Geser Eksentr1s - Metode Plastis
1.9 Beban Eksentris Normal pada Bidang Las

7.1 PENDAHULUAN

Pengelasan adalah suatu proses penyambungan bahan logam yang menghasilkan peleburan
bahan dengan memanasinya hingga suhu yang tepat dengan atau tanpa pemberian tekanan
dan dengan atau tanpa pemakaian bahan pengisi. Meskipun pengetahuan tentang las
sudah ada sejak beberapa ribu tahun silam, naITIUn pemakaian las dalam bidang konsrruksi
dapat terbilang masih baru, hal ini antara lain disebabkan pemikiran para ahli mengenai
bebcrapa kerugian las yaitu bah\va las dapat n1engllrangi tahanan lelah bahan (fatigue
strength) dibandingkan paku keling dan n1ereka juga berpendapat bahwa tidak mungkin
untuk Inemastikan kualitas las yang baik.
Melalui banyak penelitian ten tang las, belakangan las nlldai banyak digunakan dalam
bid.lng konstruksi. Hal ini antara lain karena proses penyambungan dengan las memberi-
kan beberapa keuntungan, yakni:
1. dari segi ekonomi, harga konstruksi dengan menggunakan las lebih murah dibanding-
kan dengan pemakaian baut atau keling, hal ini dikarenakan pemakaian pelat-pelat
sambungan maupun pelat buhul dapat dikurangi. Pada konstruksi rangka jembatan
bahkan dapat mengurangi berat baja hingga 15% jika dipakai sambungan las
2. pada beberapa jenis elemen struktllf tertentu, tidak n1ungkin memakai baut
atau keling untuk menyambllngnya, seperti contoh adalah proses penyambungan
kolom bundar, tentu lebih memungkinkan untuk memakai las
3. strllktllr yang disambung dengan las akan lebih kaku daripada baut/keling
4. komponen struktur dapat tersambung secara kontinu
5. mudah untuk membuat perubahan desain dalan1 stfuktur
6. tingkat kebisingan da1am pekerjaan las lebih rendah daripada baut/keling
138 BAB 7 SAMBUNGAN LAS 7.4 PEMBATA,SAN UKURAN LAS SUDUT 139

7.2 JENIS-JENIS SAMBUNGAN


Beberapa jcnis sambungan yang sering ditel11ui dabm sambungan las ad3L1h:
1. Sanlbungan sebidang (buff joint), sambungan ini ull1umnya dipakai un(uk pelat-
peLu datar dengan keteb1bn sam1 atau hampir sama, keuntungan S.lDlbungan
Of tH 0 ....
ini adalah tak adanya ek~entrisi(as. UjuIlg-ujung yang hendak disambung h~lruS ~ I -.:>
~
.... <,..
dipersiapkan terlebih dulu (diratakan atau dimiringkan) dan elemen yang di- (a) qr-:;ove welds (b) fillet welds
sambung h~1fuS diperremukan secara hati-hati.
2. Sambungan le\vatan (/tlp joint), jenis sambllngan ini paling banY1k dijumpai
karena s1mbungan ini mudall disesuaikan kcadaan di lapangan dan. juga penY~lm­
bungannya relatif lebih mudah. Juga coeok untuk tebal pelat yang berlain.lil.
;, A A
3. Sambungan tegak (tee joint), sambungan ini banyak dipakai terutama uIltuk
membuat penampang tersusun seperti bentuk I, pelat girder, stiffener, ---f L ~
4. Sambungan sudut (corner joint), dipakai untllk penampang tersusun bcrbentuk
kotak yang digunakan untuk kolom atall balok yang menerinla gaya torsi yang
besar
IriS3:l A-A j.{~san A-A
5. Sambungan sisi (edge joint), sambung~lll ini bukan jenis struktural dan digunakan
untllk nlenjaga agar d1l1 at1u lebih pel1t tidak bergeser satu dcngall lainnya C r=.--=J I/ " e-r=J /'
I I
(c) s./ot welds (d) plug 'rvelds

-';~ I :?- ,--- -> Gambar 7.2 Jeni:->-jenis SJ.i":;l>ungan Las


<; I

(a) buN joint (b) lap joint 7.4 PEMBATASAN UKURAN LAS SUDUT

Ukllf;lD las slldllt ditentukan oleh panjang kaki. Panjang kaki harlls ditentukan sebagai

LL
panj3.ng a l dan a2 (Gan1bar 7.3). Bib kakinya sanla panjang, llkllrannya adalah tw. Ukllran
minir.lum las sudllt, diterapkan dabnl Tabd 7.1.

(c) tee joint (d) corner joint


I
(e) edge joint
~
Gambar 7.1 Tipe-tipe 5ambungan Las

7.3 JENIS-JENIS LAS


~
(a) Las sudut konkaf
,~
(b) las sudut konveks

Jenis-jenis las yang sering dijumpai antara lain: Gambar 7.3 Ukuran LIS ~t.:2U[

1. Las tumpul (groove welds), las ini dipakai untuk menyambllng batang-
b~uang sebidang, karena las ini harus menyalurkan secara penllh beban yang lABEL 7.1 UKURAN MINIMUM LAS SUDUT
bekerja, maka las ini harus memiliki kekuatan yang sama dengan batang yang
Tebal Pelat (t, mm) Paling Teba! Ukuran ~'1inimum Las Sudut (a, ffinl)
disambungnya. Las tunlpul di mana terdapat penyatuan an tara las dan bahan
induk sepanjang tebal penuh saDlbungan dinamakan las tun1pul penetrasi penuh. t.:s. 3
Sedangkan bila tebal penetrasi lebih kecil daripada tebal penuh sambungan, 7 < t .:s. 10 4
dinamakan bs tllmpul penetrasi sebagian. 10 < t .:s. 15 5
2. Las sudut (fillet u'elds), tipe las ini paling banyak dijllmpai dibandingkan tipe las 15 < ; c;
yang lain, 800/0 sambungan las nlenggunakan tipe las sudut. Tidak nlemerlukan
presisi tinggi dalam pengerjaannya. Scdangkan pemb,nJ.san ukllran mab,imlln1 las suJut:
3. Las baji dan pasak (slot and plug welds), jenis las ini biasanya digunakan bersama- a. Untllk kO[llpOnen deng::ln rebal kurang d:lfi 6,4 mm, diambil s(:'tebal kom-
sarna dengan las SUdllt. ~1anfaat utamanya adalah menyalurkan gaya geser pada ponen
sambungan lewatan bila ukuran panjang las terbatas oleh panjang yang tersedia b. Unruk kOffiponen dengan rebal 6,4 nlm at.111 lebih, diambil 1,6 mDl kllrang
untuk las sudut. dari rebal komponen
140 BAB 7 SAMBUNGAN LAS
7.6 TAHAN,A.N NOMINAL SAMBUNGAN LAS 141

Panjang erektif las SUdllt adalah seluruh panjang las slldut berukllran pel1uh dan paling

~
tidak harus 4 kali ukuran las, jika kurang maka ukllran las untuk perencanaan di'lnggap
sebesar I/l kali panjang efektif. a.b

12. 6,4 mm

:,=tt
1< 6.4 mm

+-
~~
~ 8m ,,,= ~
m

{ ~.. .. ~ I 8

I (a)

Gambar 7A Ukurall tvLlksimull1 LD


(b)
L~ Lb
7.5 LUAS EFEKTIF LAS Gambar 7.6 TebJ.l Efth:::- Las 5uJur

Kekuatan dari berbagai jenis las yang telah dibahas di depan, berdasarkan pada luas efektif
las. Luas efektif bs sudut dan las tumpul adalah hasil perkalian antara tebal efektif (I) 7.6 TAHANAN NOMINAL SAMBUNGAN LAS
dengan pLlnjang las. Tebal efektif las tergantung dari ukuran dan bentuk dari las tersebut, Filosofi umum dari LRFD terhddap persyaraun keamanan suatLl stfuktur, dalam hal lnl
dan dapat dianggap sebagai lebar rninimum bidang kcrunruhan.
tcrutama untuk las. ddalah terpenuhinya persamaan:
Las Tumpul ¢.R,: 1
,. L RlJ 7.1
Tebal efektif las tumpul penetrasi penuh aclalah tebal pelar yang tertipis dari komponen Dengan: ¢ adal.ili faktor tahanan
yang disan1bung. Untuk las tumpul penerrasi sebagi:ln perh:ltikan Gambar 7.5. R u adalah tahanan nominal per satuan panjang las
Las Sudut R:: adalah beban terfaktor per sanun panjang l;~
Tebal efektif las sudut adalah jarak nominal terkecil dari kemiringan las dengan titik sudut Las Tumpul
di depannya. Asumsikan bahwa las sudut mempunyai ukuran kaki yang sama, fl, maka Kuat las tumpul ptnerrasi penuh ditetapkan sebagai berikur:
tcbal efektif t,. adalah 0,707([. Jika ukuran las tak sama panjang, maka tebal efektif h~ULlS a. Bib sambungan dibebani dengan g3.Y~l tarik arau ga:'a tekan aksial terhadap luas
dihitung dengan memakai hukum-hukum trigonornetri. efektif, maka:
¢.Rn _ = 0,90. t,..1; (bahan dasar) 7.2.a

~ ~
ep.R"1:' = O,90.t,..1:1< (las) 7.2.b
1 1
f ;, t {r
f
~ P b. Bib sambungan dibebani dengan gd~'a geser terhadap lllas efektif, nuka:
¢.R<;:._ = O,90.t,..(0,6/) (bahan dasar) 7.3.a
(a) T1 < T2 ; Ie =T 1 (b) T = T, + T2 r fe =T ¢.R~;. = OJ80.t,..(O,6j~) (las) 7.3.b
Dcngan f dan i adalah kuat leleh dan kuat tarik plltuS.

Las Sudut
45° ~ a < 60 0 a ~ 60 0
r.:uat rencana per Sdruan panjang las sudut, ditentukan sebagai berikut:
¢.R"u' = O,75·t,..(O,6!u) (las) 7.4.a
¢.R lIu
. = O,75·te·(0,6f) (bahan dasar) 7.4.b

(d) fe =0 Las Baji dan Pasak


Tidak ada celah
Kuat rcncana bagi bs baji dan pclsak ditentukan:
(c) fe =0 - 3,2 mm
= O,75·(O,6/).A 7.5
¢.R"U' u

Gamhar 7.5 Tebal Efekrif Las Tumpul


Dengan All' adalah luas geser efektif las
f . . adalah kuat tarik putus logam las
142 BAB 7 SAMBUNGAN LAS
7.6 TAHANAN NOMINAL SA~.'BUNGAN LAS 143

II CONTOH 7.1: Sambungan Seimbang (Balanced Connection)


Tenrukan llkllran d.ln tebal las sudllt padd samblll1gan lewatan berikllt ini. Sarnbllngan Dalam beberJ.pa kaslls, b~ltang menerima tari~ aksial yang lllemiliki eksentrisitas t~rh.i.dap
Inenah.ln bcban tarik D = 10 ton dan L = 30 ton. Diketahlli f.1l
= 490 MPa; = 400 f. sambllngan las. Pcrhatikan profil siku yang n1enerin1d beban earik aksial daLull Gan1bar
!vfPa.
16 x 180
7.7 dan disarnbung dengan 111emakai las sudut. Gaya T bekerjJ pada titik ber~lt profil siku.
Beban T ini akan ditahan oleh gaya F I , Fy dan F.:; dari sambungan las. Gaya F ddn F.~
I
diasllmsikan bekerja tepat pada sisi profil sikll. Gaya F~ akan bekerj.l pada titik be rat las
2 yang berjarak d/2 dari sisi profil sikll. Ambil keseimbangan momen terhadap titik A:

40 ton IA I f1 = - F; ·d- F2 .J / 2 + T·e = ° 7.6


-4--

Lj '1 ----..
a.b
te = Ja 2 +b 2
atau:

~ =I:!__ !2
d 2
Gaya F:: dihitung berdasarkan tahanan las cjJ.R":i' kali panjang las, L:.:
7.7

JAWAB: F:: = ep.Rnz:Lu . 7.8


Persyaratan ukllran las: Dari kesein1bangan gaya horizontal diperoleh:
0.faksiIlllln1
':"{iniIllllIll
= rebal pelat - 1.6 = 16 - 1,6 = 14,4 111m
= 6 mn1 (Tabel 7.1) IFf! = T -~-I~-F3 = ° 7.9
GUlukan las llkuran 10m m Seles~likan persamaan 7.6 dan 7.9 didapatkan:

F == T( 1- 7)-;
to: = 0,707·tZ = 0,707 X 10 = 7,07 mm
3 7.10
Kllat rencana las sudllt ukllran 10 mm per mm panjang:
¢·Rnu • = ¢.tr ·(O,60!u) = 0,75(7,07)(0,60 X 490) = 1558,935 Nltnm
Dan kapasitJs las ini tak boleh n1elebihi kuat runtuh geser pelat:
J\,Iax ¢.RI/l~' = ¢.t.(O,60!) = 0,75(16)(0,60 X 400) = 2880 N/mm
Beban tarik terfaktor, z: f
~ = 1,2D + 1,6L = 1,2(10) + 1,6(30) = 60 ton --.! ----le d
l
Panjang total las diblltllhkan, L//}:
60.10 4
L = ---- = 384,8 n1m ::::: 390 mm
w 1558,935 Gamhar 7.7 Pcnyeimhangan S'lmbungan Las

Jika L1S sudllt yang digllnakan hanya berupa las nlcmanjang saja pada b~ltang tarik
datar, panjang tiap las slldllt tidak baleh kllrang dari jarak tegak lurlls di antara kedllanya, Selanjlltnya panjang las 1 dan 3 dihitllng sebagai berikut:
dan panjang total tidak melebihi 1,5 kali panjang yang dibutuhkan. Oleh karena itll, untuk
III'1
~ L , = -~)
persoalan di aeas, mdka dian1bil panjang las tiap sisi adalah 250 mm (Gambar (a)). Dapat ¢.Rflll • Il'_) ¢.R l'
7.11
lll
pula digabllng antara las memanjang dan las melintang, yang dapat mengllrangi panjang
sambungan lewatan (Gambar (b)).
• CONTOH 7.2 :
10 I\. 250 10 ... 150 Rencanakan sambungan las slldut untllk mcnahan gaya tarik sekuat profil siku L
100.100.10 dari BJ 37. rVlutll las.t:~ = 490 MPa.

~ --.. ....-.- --.


T---1
-----... e = 28,2 mm
10 v180 t

"'~~"':~7~"""'f.~:·_"",'1·;-7·"·-V~~
.• _~~~~.-._'
144 BAB 7 SAMBUNGAN LAS
7.6 TAHANAN NOMINAL SAMBUNGAN LAS 145

JAWAB:
• CONTOH 7.4:
Hitung tahanan rencana dari profil sikll, diambil harga terkccil dari:
Hitung bcban kcrja yJng balch bekerja pad~l sambungan berikut ini, jika dikctahui persen-
¢. 7~, = O,90!;.!lg = 0,90(240)(1920) = 41,472 ton rase beban mati adab.h 20~o d,ln bcban hidup 80~'o. Pelat yang disalnbllng terbllat dari
9' 7~J = O,75f·A~ = 0,75(370)(0,85 X 1920) = 45,288 ton b,ljd B] 3 7 dan I1UltU LIs 1:" = 490 wfPa.

Pelat 15 x 250
Sambungan akan didesain terhadap ¢. T,/ = 41,472 ton
Pilih llkuran las dan hitung (jJ.R IiII

Ukllran Ininimum = 4 mm (Tabel 7.1)


Ukuran maksimllm = 10 - 1,6 = 8,4 mm
Pakai ukuran las 11 mm
¢.R lIIl = ¢.t(.O,60/ = 0,75(0,707 X 4 )(0,60)(490) = 623,6 N/n1m
lIu

n1ax ¢.R = rp.t.O,60fu = 0,75(10)(0,60)(370) = 1665 N/mm


lIlI
• Las sudut 10 mm, Lw = 120 mm
Mcnen tllkan llkuran L15
}A\VAB:
F] = (jJ·Rnu .i ] = 623,6 X 100 = 6,236 ton
Il
Hirung kuat rencana dari las sudllt berukuran 10 mm dengan panjang 120 mm
F. =!~ - [L = 41,472x28,2 6,23~ = 8,58 ton l/>,Rnl.' = o.t(.O, 60 !uu. = 0,75(0,707 X 10)(0,60)(490) = 1558,935 N/I11n1
d 2 100 2
Q.t.O, 60 f = 0,75(15)(0,60)(370)
1
ma..x ¢·R lIil
= = 2497,5 N/n1n1
Fj = 41,472 - 8,58 - 6,236 = 26,656 ton
T] = i:;,/¢.R'nu = 2(120)(1558,935) = 37,41 ton
4
L
I
= _JL_ = 8,58x 10 137,58 ::=: 140 mm
Kuar rencana yang diberikan oleh las pasak berdiamerer 35 n1I11:
w ¢. R/Jil' 623,6
F 4 T, = ¢·R = 0,75x!.1!'.35 1 XO,60x490= 21,21 ton
L = _3_ = 26,656x 10 = 427,45::=: 430 n1I11 ~ " 4
w3 ¢.RIIIU 623,6
cp.T,/ = 1'] + 1'] = 37,41 + 21,21 = 58,62 ton
Periksa kekllatan pe!at:
4 ~ 140
¢.T" = O,90J;.AJ = 0,9(240)(15)(250) = 81 ton
4V 100 ¢.Tn = O,75fu·A( = 0,75(370)(15)(250) = 104,1 ton
----. Kllat rencana las menentukan~!
cp. 7~, = 58,62 ~ 1,20 + 1,6 L
~ 1,2(0,27) + 1,6(0,87)
4. 430
~ 1,52 T
l' ~ 3856 ton

• CONTOH 7.3: • CONTOH 7.5:


Rencanakan kembali contoh 7.2, namun tanpa las ujung (las 2). Hitung beban kerja sambungan las sudur dan baji berikut ini. Bila diketahui perbandingan
beban mati dan hidup adalah 1 : 5 (D/L = 1/5). Pelat yang disambung dari baja B] 37
jA\VAB: dan mutu las 1::,. = 490 I\1Pa.
F. = T·e _ F2 = 41,472x28,2 11,7 ton
I d 2 100 / Las sudut, a = 5 mm, Lw = 100 mm

F.; = 41,472 - 11,7 = 29,772 ton

T·e F, 41,472X28,2_ 137,58::=: 140 n1I11


~ =d-2---= 100 -
4
Pelat 10 x 200
L _~=8,58X10 = 427,45::=:430I11ffi
!' 1['1 - (jJ.R ' 623,6
nu 50 mm
146 BAB 7 SAMBUNGAN LAS 7.7 G:::SER E'-<SENTRIS - ~,IETOD.w.. ELASTIK 147

jA\X!AB: Dan tcgangan akibat puntiran:


Kuat rencana las sudut:
I" = T.,
-'-'~ -
(?e
~_L_~_
+ p.t' ).}'
7.15.a
ep.R'1/(' = cp.t~.(O,60f.) = 0,75(0,707 x 5 )(0,60)(490) = 779,4675 N/mrn .\ I I
p p
T, = L,.:cp.Rnw = 2(100)(779,4675) = 15,58 ton (P.e + P .c )..'."
"= T '.\. _x_~__
Kuat rencana las baji: I ) I I
7.15.b
i' P
Aw = (50 - 10)·20 + 1I8·n·20.! == 957 mln 2
Dengan:
T] = ¢.Rn = cp.A,.'O,60!.1I = 0,75(957)(0,60)(490) = 21, 1 ton 2
7.16
[P= 1\ + I .l
= '1'x+'A.Y.'!+'I
L..J .\. .L..J - L ".. +'IL.x:
L
rp.Tn = T, + T! ~ 15,58 t 21,1 = 36,68 ton
:\lomen Inersia polar, Ip ' untuk las dalam Gambaf -.S.b ad.llah:
Periksa kekuatan pelat:
3]
9' Tn = O,90!,.Ag = 0,90(240)(10) (200)
cp. I'll = O,75/".A~ = 0,75(370)(10)(200) = 55,5
= 43,2 ron
ron
~ =) {
L t
';~' + {L" .t,i]+ Lr 'I;'3lJ
t L

Sehingga cp. T" = 36,68 ron ~ 1,2D + 1,6 L


~ 1,2D + 1,6(5D) =0
GL L Ii'
.t 2 +12.L .-y2+ L
e u: - U' J
3l 7.17
~ 9,2 D
Untuk keperluan praktis suku penama dalam -.17 diabaikan karena t~ cukup kecil,
Didapar D 5. 3,98 ron dan L 5. 19,9 ton. Beban kerja T 5. 3,98 + 19,9 (= 23,88 ton). sehingga persamaan 7.17 dap::,r dituliskan ken1bali 5cbagai =

I t - .y-2+ L 3]
= -..!-l12.L
6
7.18
7.7 GESER EKSENTRIS - METODA ELASTIK p IV W

Analisa didasarkan pada prinsip mekanika bahan homogen, menggabungkan antara geser
langsung dengan puntir. Tegangan pada penampang homogen: • CONTOH 7.6:
Hitung beban maksimum (N/nlm) pada konfigurasi las berikut ini. Asumsikan ketebalan
I' =!....
A
(tegangan akibat geser langsung) 7.12
pelat tak menlpengaruhi. Jika diketahui pula beban r~rdiri dari beban mati 20~D dan beban
hidup 80 0/0, rencanakan ukuran las yang mencukuFi ifuw = 490 i\.1Pa)
I n
= -
T·r (tegangan akib at momen puntlr
.)
Ip 7.13

Dcngan r
~
adalah jarak dari ritik berat ke titik regangan
adalah monlen inersia polar
P=6,5 ton Y~305 ~
Untuk kasus dalanl Gambar 7.8, komponen tegangan yang diakibatkan oleh geser lang-
1°1 - l
I
sung adalah: r-- I,
1--30
-,
100
p
I' ~.
f~ = ~ .--- -x
= 200
x
A 7.14

y~e
I
~ ,45
rL+-I---l 150 J
I
t
---, e

- f ~----~Px
d p y e : JAWAB:
p Hitung letak. titik berat kelompok las, ambil statis Domen rerhJdap las regak:

x= 2x150x75 =45 mm
(2xI50) + 200
(a) Sambungan
(b) Penampang lintang efektif
Gambar 7.8 Samhungan Konsol dcngan Geser Eksentris
7.8 GESER EKSENTRIS - METODA PLASTIS '149
148 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

Panjang las, L,. :::: ( 2 x 150 ) + 200 :::: SOU mm Dcng.ln:


R. ad,lbh tallanan nominal segmen bs, 0:/mm
Jp = -~.200·) + (150·1 00 2 ·2h- 2.~.150~ + (2.150.30 2 ) + 200.45 2 8 aJdlah slldut beban diukur dari sumbll memanjang las, derajat
12 ' 12
= 49041 G6,67 111m-'
~ adlbh dcformasi elemcn ke - i = 1',' [.:.\rL'] .
111111

Konlponen Gaya pada las di titik A dan B akibdt geser langsung: _\ .., = 5,31.(8 + 2j-(,'·'2. tl , n1m
l7,61.(8 + 6j(j,6'i. a 5 4,318.11 , mm
R,=-~-=~~}~= ~ =
1300:/mm 1- adcllah panjang kaki las sudut, mn1
\ Lll' 500
Komponen gaya akibat corsi rerh,lctdp titik ber~H bs: L,1ngkah-Iangkah dalam rnenyelesaikan soal geser eksenuis sarnbungan las (n1etod2

R =! l = 6,5.10 4 X 305 xI 00 404,25 0:/mn1 ~


plastis) adabh sebagai berikut:
1. B..lgilah konfigurasi las menjadi segmen-segn1en yang lebih kecil
x Jp 4701666,667
2. Tentukan letak pllsat rotasi sesaat (coba-coba)
R = T·.': 6,5.10 4 x305x 105 3. Asumsikan gaya R, dan R dari tiap segmen las bekerja d::dam arah tegak lllrus ter-
424,46 ~/mm J, J
)' J 4701666,667 hldap garis yang menghubungkan pusat rotasi sesaat dengan titik berat segn1en
f'
las
Rcsultan gaya, R:
4. Hitung e, dalam derajat
R= ~421,G62+(442,74+130)2 686,18 ~'\/mill
5. Hitung L1 m , L1 u dan kelnlldian cari harga L1/r minimum
6. Hirung L1i
7. Hirung Rj dari persan1aan 7.20
Gaya terfaktor, Pu:
8. Dari persanuan kesetimbangan:
p/ = 1,2D + 1,6L = 1,2(0,2 X 6,5) + 1,6(0,8 X 6,5) = 9,88 ton
I

'L ly! = 0 P (e + ro)


n
=
I
LR.r l
+ "LR.r.
J J
7.21
Caya terfaktor yang bekerja pada las, R u
:

R = R.(P,/P) = 711,216 (9,88/6,5) = 1042,99 N/mm P = ""


LJ R.·"
I I
+""
LJ R.·r.
J J 7.22
II
n
e+rO
1~lhanan oleh bs, ¢.Rn!v:
"'LF=O Pn = L(R)y+ L(R)y 7.23
ep.R IIW
= O,75·t".O,60fu,1' = 0,75 (O,707·a) 0,60 X 490 = 155,8935 tl )'

P = LR. cos 8 + "LR. ·sin 8 7.24


Untllk mencari llkllran las, samakan C/J.Rm .. dengan R,,: II 1 1 ) )

155,8935.tl = 1042,99 ~ tl = 6,69 mm =7 mm

Rj
7.8 GESER EKSENTRIS - METODA PLASTIS
!\1etoda ini jauh lebih rumit daripada mecoda elastik, seperti halnya pada saat pembahasan -t-e-t-.+~
geser eksentris pada sambungan baut. Beban dianggap berputar terhadap pusar rotasi sesaar. • 1 ~~~~
/~ ~ va

~
~ ~~~~~f.~
Dahm analisa plastis ini kelompok las dibagi-bagi menjadi scgrnen-segmen yang lebih
kecit. Dan tahanan R, dari 111asing-masing segmen las ini proporsional terh.ldap jaraknya
+'p
~ ~~._._ I
ke pllsat rotasi sesaat. Arah kerja R diasumsikan tegak lllrus terhadap garis jarak titik berar
segmen las ke pllsat rotasi sesaat.
1
'PR """ - • ---t------------
Tahanan rencana dari segmen las per satuan panjang adalah: rI ' I RI
',T
ep.RTJ!< = ¢.t".O,60/,.,,:(J + O,50·Jin,·5e) 7.19
Dengan ¢ = 0,75
e adalah sudut beban diukur dari sumbu memanjlng afdh las

Jika segn1en las merupakan bagian dari suatu konfigurasi las yang terkena beban seser
J '8~
eksentris, maka persamaan 7.19 dimodifikasi menjadi:

R 1
= O,60J' ·t·(1
~) II/<'
+ O'50.sil/-'e)[~(19-09'~J]0,3
!:J.. ~"l ' ,
7.20
Gambar 7.9 Tahanan R dari Segmen Las Suduc
m
c.n
o

OJ

rJQ r- '--4
»
OJ
~g:~.
Vl
SO;?
~ (jS ~ ~
(n (Jl
::J P-l ...., (~ o
I+'
~. ::J
=:r ;:;.
;:.; c
--t v'~:J~5;
_. 0
....-:J (1)
:J ••
,..J
S
e-u;t.
§~.
0 r
n (J)
»
VJ en
VI
::J
:::..:. aq
~
v I'D 0- rt ::;- Z -' =?
co
~ ~
o ~
'~:J ~ ....,~ fr~?fo~
~
::J I I :=." :J
C
Z
r.,l ~ 0- ;r,- ';3 §-::C
::J
~ ~
::::-7;:;'
~ c~
'\J

~
I
(Jl
o
C1~.
:J
5
...
~ ci~ s-: ~
G)
»
z
VI (D
_.
,..J -' .
~
:J v n :;J
~
""0
~p~
-""0
~

Vl -
g-/- ~.
~
(1:""
;-0-:
_.
,..,
C UQ _.
0.-
~
£..§,..,
ru
::Jg.
r
»
(J)

Eo.-o.-
• (1) r.,l
(Jl
:J ~:'J
o (13 ~. 7.""0\
:J -r.,l
aq rt ~
:::
~ 3 ~
en ~. ~
c g. <t>
~

3 ;3
r~
(jQ ""O~
b.