Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem tenaga listrik dari pusat listrik ke beban tegangan rendah
melalui transmisi gardu induk. Jaringan tegangan menengah, gardu
distribusi, jaringan tegangan rendah selanjutnya kebeban perlu pengaman
terhadap gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik maupun pada
peralatan listrik. Pengamanan pada sistem tenaga listrik maupun pada
peralatan listrik sangat diperlukan karena pada sistem listrik tegangan
rendah banyak digunakan atau dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia
seperti untuk penerangan, proses produksi dan lain – lain yang membantu
proses pekerjaan manusia. Oleh karena itu untuk melindungi manusia dari
bahaya listrik, maka setiap pemasangan instalasi pada sistem tenaga listrik
tegangan rendah dan peralatan listrik harus mengacu pada suatu Standar
Nasional yang dikenal dengan Persyaratan Umum Instalasi Lisrik (PUIL)
tahun 2000 dan SPLN.
Pada salah satu isi bab dari PUIL 2000 adalah mengatur cara
mengamankan dari bahaya kejut listrik atau bahaya tegangan sentuh. Perlu
diketahui dengan menerapakan sistem pembumian merupakan salah satu
tindakan pengaman pada sistem tegangan rendah. Untuk sistem kelistrikan
di Indonesia sistem pembumian yang digunakan ada dua sistem pembumian
antara lain :
a.Sistem Pembumian Nertal Pengaman (TN). Sistem pembumian TN adalah
suatu sistem pembumian atau sistem pengamanan dengan cara
menghubungkan badan peralatan atau instalasi yang diamankan dengan
hantaran netral yang dibumikan atau dengan kata lain fungsi netral dan
fungsi proteksi tergabung dalam penghantar tunggal di sebagaian sistem,
sehingga jika terjadi kegagalan isolasi tercegahlah bertahannya tegangan
sentuh yang terlalu tinggi karena pemutusan arus oleh alat pengaman arus
lebih.
b.Sistem Pembumian Pengaman (TT). Adalah suatu sistem yang
mempunyai titik netral yang dibumikan langsung dan bagian konduktif
terbuka (BKT) instalasi dihubungkan ke elektroda bumi yang secara listrik
terpisah dari eletroda bumi sistem tenaga listrik. Untuk mendukung sistem
pembumian yang baik maka cara pemasangan dan keamanan elektroda
beserta penghantar bumi haruslah terjamin dengan baik. Pengujian ukuran
penampang elektroda bumi dan penghantar bumi harus memenuhi
persyaratan dimana hasil pengukuran tahanan pembumian haruslah
memiliki nilai tahanan yang kecil.
Sebagai mahasiswa Kesehatan Keselamatan Kerja maka dari itu
praktikum pengaman tegangan sentuh perlu dilakukan. Sehingga dapat
mengetahui bahaya yang mungkin diakibatkan oleh tegangan listrik.
1.4 Tujuan
1.2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu
mengaplikasikan teori keselamatan kerja pada saat memasang
instalasi listrik.
1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
 Mengetahui definisi dari tegangan gangguan.
 Mengetahui besarnya arus kejut terhadap body peralatan.
 Mengetahui batas tegangan yang aman bagi manusia.
 Mengetahui perbandingan antar Ub dan Uf.
1.3 Manfaat
a. Mengetahui definisi dari tegangan gangguan.
b. Mengetahui besarnya arus kejut terhadap body peralatan.
c. Mengetahui batas tegangan yang aman bagi manusia.
d. Mengetahui perbandingan antar Ub dan Uf.
1.4 Ruang Lingkup
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Reparasi Listrik Politeknik
Perkapalan Negeri Surabaya oleh :
Nama Kelompok : Dhea Chika Damayanthy (0517040005)
Erik Gumilar (0517040019)
Dandung Yunianto (0517040026)
Hari, Tanggal : 22 Maret 2019
Waktu : 13.00 – 17.00
BAB II
DASAR TEORI

Keselamatan manusia merupakan faktor terpenting yang harus


diperhatikan di dalam pemakaian energi listrik. Salah satu bahaya yang dapat
ditimbulkan oleh pemakaian energi listrik adalah adanya tegangan sentuh yang
dapat mengancam jiwa manusia.
Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya
tegangann sentuh yang berlebihan. Metoda yang paling umum digunakan untuk
mengurangi bahaya tersebut dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Langkah – langkah pengamanan untuk mencegah terjadinya tegangan
sentuh, yaitu :
1. Isolasi total
Peralatan diberi isolasi tambahan untuk mencegah selungkup
bertegngan seandainya isolasi dasr gagal berfungsi.
2. Alas Isolasi
Manusia diisolir dari pembumian dan dari seluruh benda penghantar
listrik yang terhuung ke benda – benda tersebut.
3. Pengaman dengan pemisah
Peralatan listrik dihubungkan ke saluran utama melalui sebuah info
isolasi ( rasio transformasi 1 : 1)
4. Tegangan Ekstra rendah yang aman
Peralatan disulang dengan tegangan yang aman ( sampai 50 V ) yang
misalnya berasal dari sebuah trafo isolasi, baterai, atau yang lainnya.
b. Langkah – langkah pengamanan yang bertujuan mmutuskan bahaya
tegangan sentuh, yaitu :
1. Pentanahan pengamanan
Selungkup peralatan dihubungkan langsung ke pentanahan. Saat terjadi
hubung singkat ke rangka, arus gangguan yang mengalir ke pentanahan
sangat besar sehingga peralatan pengaman jatuh ( tripped )
2. Netralisasi
Cara ini merupakan bentuk pengamanan yang merupakan cara yang
paling lazim. Selungkup peraltan dihubungkan ke penghantar netral
yang ditanahkan, selanjutnya disebut dengan penghantar PEN. Pada
waktu terjadinya hubungan singkat ke rangka, arus gangguan yang
mengalir ke pentanahan terlalu besar sehingga pemutus arus atau
peralatan pangaman jatuh.
3. Sistem pemutus sirkuit gangguan tanah
Jika arus gangguan mengalir ke tanah pada salah satu titk di dalam
sirkuit yang hendak di amankan, maka pemutusan sirkuit gangguan
tanah segera memtuskan sirkuit tersebut.
Pada percobaan kali ini kita mempelajari hal – hal yang berkaitan dengan
pengukuran – pengukuran proteksi manusia terhadap adanya tegangan kejut
maupun arus kejut yang melibihi batas normal dari tubuh manusia adalah sebagai
berikut :
Kondisi AC DC
Objek Basah Kering Basah Kering
Manusia 25 V 50 V 60 V 120 V
Binatang 10 V 25 V 30 V 60 V

Tegangan gangguan adalah tegangan yang terjadi antara bagian konduktif


pada saat terjadi gangguan. Tegangnan sentuh adalah bagian dari tegangan
gangguan yang dapat mengalir pada tubuh manusia.
Ketika kita mengadakan pengukuran tegangan gangguan dan tegangan
sentuh. Kita harus mengingat kondisi yang dapat mmenyebabkan
terjadinyategangan tersebut. Terjadinya tegangan gangguan disebabkan oleh
gangguan isolasi. Tegangan ini dapat terjadi tanpa menyebabkan adanya arus
gangguan. Untuk mengukur terjadinya tegangan gangguan harus menggunakan
voltmeter yang memiliki resistansi dalam kira – kira sebesar 40 KΩ.
Tahanan Listrik Tubuh Manusia
Tahanan tubuh manusia tergantung pada sejumlah parameter, parameter
yang amat penting adalah kelmbapan kulit, daerah sentuhan dan tegangan yang
ada. Tahanan tubuh manusia merupakan gabungan dari tahanan kulit dan
tahanan internal tubuh manusia. Tahanan kulit ada bermacam – macam antara
beberapa ratus ohm untuk kulit yang tipis, lembab atau kasr sampai beberapa
juta ohm untuk kulit yang kering, kemungkinan juga menebal karena
pembengkakan, dll. Penyelidikan dan penelitian telah dilakukan oleh bebrapa
orang ahli untuk mendapatkan tahanan tubuh manusia, hasil yang diperoleh
adalah sebagaimana terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel Berbagai Harga Tahanan Tubuh Manusuia
Peneliti Tahanan Keterangan
( Ohm )
Dalziel 500 Dengan tegangan 60 cps
AIEE Committe 2.330 Dengan tegangan 21 Volt
Tangan ke tangan Ik = 9 mA
Report 1.130 Tangan ke kaki
1958 1680 Tangan ke tangan dengan arus searah
800 Tangann ke kaki dengan 50 pcs
Laurent 3000

Tegangan ekstra rendah adalah skema tipe proteksi dengan rangkaian yang
mempunyai tegangan rata – rata 50 V AC dan 120 Volt DC. Tegangan ini
dioperasikan pada basisi yang tidak ditanahkan dan supplay dari rangkaian yang
tegangannya lebih tinggi diisolasikan dari rangkaian tersebut.
Arus yang Melalui Tubuh
Apabila manusia memegang suatu bagian yang bertegangan maka sesuai
dengan hukum ohm akan mengalir arus dimana besarnya adalah pembagian
tegangan dengan tahanan tubuh orang tersebut. Batasan arus pengaruhnya pada
manusia menurut Dr Hans Prinz disusun dalam tabel dibawah ini :
Tabel Batasan – Batasan Arus dan Pengaruhnya pada manusia
Besar Arus
Pengaruh pada tubuh manusia
(mA)
Belum dirasakan pengaruhnya, tidak menimbulkan
0 - 0,9
reaksi apa -apa
Baru terasa adanya arus listrik, tetapi tidak
0.9 - 1.2
menimblkan akibat kejang
1.2 - 1.6 Kontraksi atau kehilangan kontrol
Mulai terasa seakan - akan ada yang menyerap di
1.6 - 6.0
dalam tangan
6.0 - 8.0 Tangan sampai ke siku merasa kesemutan
Tangan mulai kaku, rasa kesemtan makin
13 - 15
bertambah
Rasa sakit tidak tertahankan , penghantar masih
15 - 20
dapat melepaskan dengan gaya yang besar sekali
20 - 50 Otot tidak sanggup lagi melepaskan penghantar
Dapat mengakibatkan kerusakan pada tubuh
50 - 100 manusia, batas arus yang dapat menyebabkan
kematian

ELCB adalah alat proteksi terjadinya arus bocor yang bekerja dengan
prinsip elektromagnetik. Cara memeriksa masih baiknya ELCB yaitu dengan
menekan tombol trip, bila ELCB trip maka ELCB masih layak pakai.
Tegangan gangguan adalah tegangan yang terjadi antar bagian konduktif
pada saat terjadi gangguan. Tegangan sentuh adalah bagian dari tegangann
gangguan yang dapat mengalir pada tubuh manusia.
Ketika itu mengadakan pengukuran tegangan gangguan dan tegangan
sentuh, kita harus mengingat kondisi yang menyebabkan terjadinya gangguan
tersebut. Terjadinya tegangan gangguan disebabkan oleh gangguan isolasi.
Tegangan ini dapat terjadi tanpa menyebabkan adanya arus gangguan. Untuk
mengukur terjadinya tegangan gangguan harus menggunakan voltmeter yang
mempunyai resistansi dalam kira – kira sebesar 40 KΩ.
Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB) memiliki sebuah transformator
arus dengan inti berbentuk gelang ( Gambar 2.2 ). Inti ini melingkari semua
hantaran suplai ke mesin atau sistem yang di amankan, termasuk penghantar
netral.
Gambar ELBC
a. Kumparan Sekunder
b. Detektor arus gangguan
c. Mekanisme penahanan
d. Tombol Uji

Dalam keadaan normal, jumlah arus yang dilingkari oleh init


transformator sama dengan nol. Kalau ada arus bocor ke tanah, keadaan
seimbang akan terganggu. Karena itu dalam inti transformator akan timbul
suatu medan magnetik yang membangkitkan tegangan dalam kumparan
sekunder. Apabila arus bocor tersebut mencapai pada suatu harga tertentu
maka relay pada ELCB akan bekerja melepaskan kontak – kontaknya.
Berdasrkan PUIL 2000 pada 3.15.1.2 pemilihan ELCB untuk proteksi
tambahan dari sentuhan langsung dipilih ELCB dengan arus operasi arus
sisa penngenal 30 mA.
Perlu diketahui bahwa :
1. Tidak semua sistem proteksi instalasi bekerja secara efektif bila
digabungkan dengan pemakaian ELCB
2. ELCB / GPAS dengan nilai sensitivitas arus gangguan 30 mA akan
bekerja dibawah nilai arus tersebut , dan hal ini sesuai dengan
ketetapan dalam PUIL 2000 yang menyatakan peggunaan gawai
proteksi arus sisa, dengan arus ooperasi arus sisa pengenal tidak
lebih dari 30 Ma
3. Waktu pemutusan ELCB sangat singkat yaitu rata – rata selama
0,02275 detik dimana waktu tersebut jauh dibawah ketentuan
dalam PUIL 2000 yang menyatakan waktu pemtusan GPAS paling
lambat 0,4 detik
4. ELCB tidak akan bekerja pabila keseimbangan arus yang melewati
ELCB tetap terjaga yaitu tidak melebihi 30 Ma

Perlu diingat sebagai berikut :


 Pada penggunaan di lapangan sebaiknya sebelum dipasang pada
instalasi ELCB dicoba dulu untuk memastikan kondisinya dalm
keadaan baik.
 Sebelu memasang ELCB pada instalasi listrik hendaknya instalasi
yang sudah ada diperiksa dulu untuk dapat memastikan tidak ada
kebocoran arus ke tanah karena apabila ada kebocoran yang
melebihi 30 mA sebagaimana setiing arus gangguan ELCB dengan
sensitivitas arus gangguan 30 mA maka ELCB akan jatuh dan
instalasi akan padam walaupun tidak ada aliran arus gangguan yang
disebabkan oleh tegangan sentuh.
 Pemasangan sebuah ELCB sebaiknya jangan dihubungkan dengan
terlalu banyak rangkaian akhir sehingga kalau ELCB bekerja

Miniature Ciruit Breaker (MCB)


Miniature Circuuit Breaker merupakan suatu pengaman untuk
memutuskan rangkaian listrik. Di dalam MCB dilengkapi dnegnan
pengaman thermis yang berupa logam bimetal sebagai pengaman
gangguan arus beban lebih dan pengaman pengaman elektromagnetik
sebagai pengaman hubungan singkat.

Diskripsi Kerja MCB


Pengaman thermis yanng berupa bimetal adalah 2 buah logam yang
memiliki koefisien muai yanag bebeda dn disatukan pada ujungnya. Jika
terkena panas yang diakibatkan oleh adnaya beban lebih , maka bimmetal
a kan mengearajakan kontak relai, dan kontak relai inilah yang akan
memtusksn kontak MCB. Jika terjadi gangguan hubung singkat , maka
rangkaian elektromagnetiik akan ter-energize, sehiingg akan
menggeraakan kontak relai. Kontk relai kemudian memutuskan kontak
MCB yang akhirnya memutuskan rangkaian.
Pada prktikum kali ini kita mempelajari hal – hal yang berkaitan
dengan pengukuran – pengukuran proteksi manusia terhadap adnya
tegangan kejut maupun arus kejut yang melebihi bataas normal dari tubuh
manusia.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


 Praktikum ELCB
1. System infeed 1 buah 2GA2376-4A
2. Load Conection 1 buah 2GA2376-4C
3. System Earth 1 buah 2GA2376-4M
4. Current Operated ELCB 1 buah 2GA2376-4G
5. Measuring Instrument 1 buah 2GA2376-SU
6. Single phase 1 buah 2GA2376-4E
7. Tes Potensio 1 buah 2GA2376-4X
 Praktikum VDE
1. System Infeed 1 buah 2GA3276-4A
2. Load Connection 1 buah 2GA3276-4C
3. System Earth 1 buah 2GA3276-4M
4. Body Resistor 1 buah 2GA3276-4T
5. Mesuring Instrument 1 buah 2GA3276-SU

KONDISI RANGKAIAN
 Praktikum ELCB
1. Line ResistNCE RL1 = 1 Ω
2. PEN Resistance RPEN = 1Ω
3. System Earth RB = 2 Ω
 Praktikum VDE
1. Line ResistNCE RL1 = 1 Ω
2. PEN Resistance RPEN = 1Ω
3. System Earth RB = 2 Ω
4. Contact Resistance RU = 500 Ω/50 KΩ
5. Conductive Port RK = 0 Ω
3.2 Prosedur Keselamatan
1. Perhatikan setiap langkah kerja yang akan saudara kerjakan semua harus
sesuai dengan SOP (Standart Operasi Prosedur).
2. Sebelum merangkai pastikan power dalam keadaan off atau mati.
3. Periksa semua peralatan dan komponen dalam keadaan aman digunakan.
4. Dalam melakukan pekerjaan rangkaian dilarang bercanda dan bercakap
yang tidak ada hubungannya dengan modul praktikum.
5. Sebelum mencoba pastikan dicek terlebih dahulu dengan menghubngi
instruktur bengkel / laboratorium.

3.3 Langkah Kerja

1. Merangkailah peralatan yang tersedia pada panel seperti pada gambar


percobaan, dengan smua power supply dalam keadaan OFF.
2. Sebelum power supply diOnkan, tanyakan pada instruktur apakah
rangkaian percobaa yang di pasang sudah benar.
3. Meminta persetujan instruktur untuk melanjutkan percobaan.
4. Mengamati dan catat hasil pengukuran pertama sesuai dengan lemar
tugas pengukuran.
5. Melanjtkan pengukuran sesuai dengan keadaan lebar kerja pengukuran.
6. Mematikan power supply dan rapikan kemali alat percobaan yang
digunakan pada tempat yang telah di sediakan.
3.4 Gambar Rangkaian

Pada praktikum ini, kami melakukan percobaan sebanyak tiga kali


dengan mengacu pada gambar rangkaian seperti dibawah ini :

 Percobaan 1
 Percobaan 2
 Percobaan 3

RL1
L1

L2

L3

N
RN
PE

RP

RB
A
BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Tugas Pendahuluan

1. Hitung berapa nilai dari Im, Ub, Uf secara matematis dan bandingkan
dengan hasil pengukuran?
2. Berapa prosentasi kesalahan antara keduanya, mengapa bisa terjadi
perbedaan, jelaskan?
3. Bandingkan hasil pengukuran RK = 0 Ω dengan RK = 1K Ω, mengapa bisa
terjadi perbedaan, jelaskan tabel 1?
4. Jelaskan apa yang terjadi apabila rangkaian pada skema proteksi tegangan
ekstra rendah memiliki tegangan dibawah dari tegangan rata-ratanya?
5. Buatlah penilaian dari pengukuran dari percobaan di tabel 2?
6. Amati dan analisa hasil pengukuran yang anda dapat!
7. Kalkulasi (hitung) secara teoritis yang ada, dari data-data yang anda peroleh
dan jika ada perbedaan jelaskan mengapa hal tersebut terjadi tabel 3?
Jawaban

1. Perhitungan pada RL1 = 1 Ω, RK = 0 Ω

Diketahui :

RU = 50000 Ω

RLI =1Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 1 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
53004 Ω

𝐼𝑚 = 0,0041 𝐴 = 4,1 𝑚𝐴

𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,0041 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,45 𝑉𝑜𝑙𝑡

𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,0041 𝐴 × (3000 + 50000) Ω

𝑈𝑓 = 219,9 𝑉𝑜𝑙𝑡

Perhitungan pada RL1 = 20 Ω, RK = 0 Ω

Diketahui :

RU = 50k Ω

RLI = 20 Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 20 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
53023 Ω

𝐼𝑚 = 0,00414 𝐴 = 4,14 𝑚𝐴
𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,00414 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,44 𝑉𝑜𝑙𝑡

𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,00414 𝐴 × (3000 + 50000) Ω

𝑈𝑓 = 219,9 𝑉𝑜𝑙𝑡

Perhitungan pada RL1 = 400 Ω, RK = 0 Ω

Diketahui :

RU = 50k Ω

RLI = 400 Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 400 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
53403 Ω

𝐼𝑚 = 0,00411 𝐴 = 4,11 𝑚𝐴

𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,00411 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,35 𝑉𝑜𝑙𝑡
𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,00411 𝐴 × (3000 + 50000) Ω

𝑈𝑓 = 218,33 𝑉𝑜𝑙𝑡

Perhitungan pada RL1 = 1 Ω, RK = 1 kΩ

Diketahui :

RU = 50k Ω

RLI =1Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

RK = 1000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀 + 𝑅𝐾
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 1 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω + 1000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
54004 Ω

𝐼𝑚 = 0,004 𝐴 = 4 𝑚𝐴

𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,004 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,22 𝑉𝑜𝑙𝑡

𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,004 𝐴 × (3000 + 50000) Ω


𝑈𝑓 = 215,9 𝑉𝑜𝑙𝑡

Perhitungan pada RL1 = 20 Ω, RK = 1 kΩ

Diketahui :

RU = 50k Ω

RLI = 20 Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

RK = 1000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀 + 𝑅𝐾
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 20 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω + 1000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
54022 Ω

𝐼𝑚 = 0,004 𝐴 = 4 𝑚𝐴

𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,004 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,21 𝑉𝑜𝑙𝑡

𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,004 𝐴 × (3000 + 50000) Ω

𝑈𝑓 = 215,83 𝑉𝑜𝑙𝑡

Perhitungan pada RL1 = 400 Ω, RK = 1 kΩ


Diketahui :

RU = 50k Ω

RLI = 400 Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

RM = 3000 Ω

RK = 1000 Ω

Ditanya : Im, Ub dan Uf

Jawab :

𝑈
𝐼𝑚 =
𝑅𝑈 + 𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅𝑀 + 𝑅𝐾
220 𝑉
𝐼𝑚 =
50000 Ω + 400 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 3000 Ω + 1000 Ω
220 𝑉
𝐼𝑚 =
54403 Ω

𝐼𝑚 = 0,004 𝐴 = 4 𝑚𝐴

𝑈𝑏 = 𝐼𝑚 × 𝑅𝑀

𝑈𝑏 = 0,004 𝐴 × 3000 Ω

𝑈𝑏 = 12,13 𝑉𝑜𝑙𝑡

𝑈𝑓 = 𝐼𝑚 × (𝑅𝑀 + 𝑅𝑈)

𝑈𝑓 = 0,004 𝐴 × (3000 + 50000) Ω

𝑈𝑓 = 214,32 𝑉𝑜𝑙𝑡

Berdasarkan tabel perbandingan diatas, dapat diketahui bahwa hasil


percobaan dengan hasil perhitungan mempunyai perbedaan. Secara
keseluruhan hasilnya cenderung lebih besar teori.dibandingkan dengan
secara pengukuran Diketahui :
Tabel Perbandingan Hasil Percobaan dengan Teoritis

Pembanding Hasil Percobaan Hasil Teoritis

Pada RL1 = 1 Ω, RK = 0 Ω

Im 3,9 mA 4,1𝑚𝐴

Ub 16,2 V
12,45 𝑉𝑜𝑙𝑡
Uf 228,5 V
219,9 𝑉𝑜𝑙𝑡

Pada RL1 = 20 Ω, RK = 0

Im 3,3 mA 4,14 𝑚𝐴
Ub 12,7 V
12,44 𝑉𝑜𝑙𝑡
Uf 191,5 V
219,9 𝑉𝑜𝑙𝑡

Pada RL1 = 400 Ω, RK = 0



4,11 𝑚𝐴
Im 0,5 mA
12,35 𝑉𝑜𝑙𝑡
Ub 5,3 V
Uf 218,33 𝑉𝑜𝑙𝑡
44,5 V

Pada RL1 = 1 Ω, RK = 1
kΩ
4 𝑚𝐴
Im 3,8 mA
12,22 𝑉𝑜𝑙𝑡
Ub 14,8 V
215,9 𝑉𝑜𝑙𝑡
Uf 228,9 V
Pada RL1 = 20 Ω, RK = 1
kΩ 3,3 mA 4 𝑚𝐴
Im 11,1 V
12,21 𝑉𝑜𝑙𝑡
Ub 191,1 V
Uf 215,83 𝑉𝑜𝑙𝑡

Pada RL1 = 400 Ω, RK = 1


kΩ
4 𝑚𝐴
Im 0,5 mA
12,13 𝑉
Ub 5,2 V
Uf 214,32 𝑉
44,2 V

2. Ditanya : Presentse kesalahan pada masing-masing Im, Ub dan Uf

Jawab :

Pada RL1 = 1 Ω, RK = 0 Ω

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛

3,9 − 4,1
= × 100 %
3,9

= 5,12 %

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
16,2 − 12,45
= × 100 %
16,2

23,14%

 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛

228,5 − 219,9
= × 100 %
228,5

= 3,76 %

Pada RL1 = 20 Ω, RK = 0 Ω

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
3,3 − 4,14
= × 100 %
3,3

= 25,4 %

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
12,7 − 12,44
= × 100 %
12,7

= 2,04%
 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

191,5 − 219,9
= × 100 %
191,5

= 14,8%

Pada RL1 = 400 Ω, RK = 0 Ω

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛

0,5 − 4,11
= × 100 %
0,5

= 722 %

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
5,3 − 12,35
= × 100 %
5,3

= 133,01 %

 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

44,5 − 218,33
= × 100 %
44,5

= 390,6 %
Pada RL1 = 1 Ω, RK = 1 kΩ

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
3,8 − 4
= × 100 %
3,8

= 5,26 %

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑏𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
14,8 − 12,22
= × 100 %
14,8

= 17,4 %

 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛

228,9 − 215,9
= × 100 %
228,9

= 5,67 %

Pada RL1 = 20 Ω, RK = 1 kΩ

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
3,3 − 4
= × 100 %
3,3
= 21,2 %

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
11,1 − 12,21
= × 100 %
11,1

= 10 %

 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 − 𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛

191,1 − 215,83
= × 100 %
191,1

= 12,9 %

Pada RL1 = 400 Ω, RK = 1 kΩ

 Presentase Kesalahan Im

𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝐼𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝐼𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
0,5 − 4
= × 100 %
0,5

= 722%

 Presentasi Kesalahan Ub

𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑏 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑏 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
5,2 − 12,13
= × 100 %
5,2
= 132,2 %

 Presentasi Kesalahan Uf

𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 − 𝑈𝑓 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
= × 100 %
𝑈𝑓 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

44,2 − 214,32
= × 100 %
44,2

= 384,8 %

Terjadinya perbedaan antara hasil perhitungan dengan hasil


percobaan di sebabkan karena adanya kesalahan dalam pembacaan alat
karena keadaan alat yang kurang baik sehingga hasil yang diperoleh
kurang akurat.
3. Terjadinya perbedaan antara RK = 0 ohm denagn RK = 1 Kohm karena
hambatan yang diberikan bertambah sehingga hasil pengukuran
tegangan gangguan (Uf) juga semakin besar karena tegangan
berbanding lurus dengan hambatan.
4. Jika rangkaian pada skema proteksi teganga ekstra rendah memiliki
tegangan dibawah tegangan rata-rata maka rangkaian tersebut aman
bagi manusia karena besar arus yang dihasilkan kecil dan berada
dibawah nilai arus maksimal yang membahayakan manusia .
5. Dari hasil pengukuran yang dilakukan tegangan yang melewati
manusia sangat kecil karena instalasi tegangan esktra rendah memiliki
tegangan dibawah rata-rata sehingga instalsi ini aman bagi manusia.
6. Dari data hasil pengukuran di atas ketika RP di turunkan atau RP
semakin kecil, arus yang melewati ELCB semakin besar akan tetapi
pada saat RP = 0 ohm arus yang melewati ELCB tidak sempat terukur
karena hanya dalam beberapa saat saja ELCB sudah trip hal ini
disebabkan arus yang lewat terlalu besar karena tidak ada hambatan,
dan arus yang besar ini menyebabkan suhu semakin tinggi dan hanya
dalam bebberapa saat saja ELCB langsung bekerja untuk memutus
rangkaian.
7. Perhitungan secara teoritis dilakukan pada saat Rp 0 %, 50 % dan 100
%

 Saat Rp 0%, R = 8,89 Ω

Diketahui :

RL1 =1Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

R = 7,58 Ω

ULN = 220 V

Ditanya : IA

Jawab :

𝑈𝐿𝑁
𝐼𝐴 =
𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅
220 𝑉
𝐼𝐴 =
1 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 7,58 Ω

220 𝑉
𝐼𝐴 =
11,58 Ω

𝐼𝐴 = 18,9 𝑚𝐴

 Saat Rp 50%, R = 20,18 Ω

Diketahui :

RL1 =1Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

R = 20,18 Ω

ULN = 220 V

Ditanya : IA

Jawab :
𝑈𝐿𝑁
𝐼𝐴 =
𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅
220 𝑉
𝐼𝐴 =
1 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 20,18 Ω

220 𝑉
𝐼𝐴 =
24,18 Ω

𝐼𝐴 = 9,09 𝑚𝐴

 Saat Rp 100%, R = 34,15 Ω

Diketahui :

RL1 =1Ω

RPEN = 1 Ω

RB =2Ω

R = 34,15 Ω

ULN = 220 V

Ditanya : IA

Jawab :

𝑈𝐿𝑁
𝐼𝐴 =
𝑅𝐿1 + 𝑅𝑃𝐸𝑁 + 𝑅𝐵 + 𝑅
220 𝑉
𝐼𝐴 =
1 Ω + 1 Ω + 2 Ω + 34,15 Ω

220 𝑉
𝐼𝐴 =
38,15 Ω

𝐼𝐴 = 5,75 𝑚𝐴

Tabel Hasil Perbandingan Secara Percobaan dengan Secara Teori

Pembanding Hasil Percobaan Hasil Teoritis

Saat Rp 0%, R = 7,58 Ω 0 mA 18,9 mA


Saat Rp 50%, R = 20,18 Ω 50 mA 9,09 mA

Saat Rp 100%, R = 47,60 Ω 34,15 mA 5,75 mA

Terjadinya perbedaan antara hasil perhitungan dengan hasil percobaan


disebabkan oleh pembacaan alat yang kurang tepat karena ketika pada
waktu pengukuran hasil yang terbaca pada alat terus berubah-ubah.
4.2 Tabel hasil praktikum

Dari praktikum yang telah dilakukan didapat hasil sebagaimana seperti yang
ada pada tabel berikut :

Tabel Hasil Percobaan 1

RK = 0 Ω RK = 1 kΩ
RL1 R PEN RB RU
Im Im Uf
(Ω) (Ω) (Ω) (kΩ) Uf (V) Ub (V) Ub (V)
(mA) (mA) (V)
1 20 5 0 3,9 228,5 16,2 3,8 228,9 14,8
20 20 5 500 3,3 191,5 12,7 3,3 191.1 11,1
400 20 5 5000 0,5 44,5 5,3 0,5 44.2 5,2
Tabel Hasil Percobaan 2

RE (Ω) 𝑰𝟐 / A Ta (s)
1 4,7 1,38
2 4,5 30
5 3,3 16,2 (menit)
15 50 menit - …
Tabel Hasil Percobaan 3

ULN Rp % I A (mA) R (Ω)


100 82,4 34,15
90 87,2 30,55
220 V 80 94,8 26,23
70 104,8 27,57
60 Trip 21,54
50 Trip 20,18
40 Trip 19,04
30 Trip 12,33
20 Trip 11,70
10 Trip 9,79
0 Trip 7,58

4.3 Analisa Data

Pada praktikum ini, kami melakukan tiga percobaan. Pertama adalah


percobaan pengaman terhadap tegangan sentuh, kedua adalah pengaman
terhadap tegangan ekstra rendah dan yang ketiga adalah pengaman terhadap
kejutan listrik ketika terkena bagian konduktif.

Berdasarkan hasil percobaan pertama (tabel 1), ketika kita


menambahkan nilai hambatan dari RK = 0 Ω menjadi RK = 5 kΩ, nilai
tegangan gangguan (Uf) dan tegangan beban (Ub) juga bertambah. Hal ini
dikarenakan tegangan berbanding lurus dengan hambatan.

Tabel 2 merupakan tabel hasil percobaan pengaman terhadap


tegangan ekstra rendah. Berdasarkan tabel 2 ini dapat diketahui bahwa
semakin besar hambatan pada L1 (RL1) maka nilai tegangan gangguan (Uf)
dan nilai arusnya semakin sedikit.

Hasil percobaan ketiga yaitu pengaman terhadap kejutan listrik


ketika terkena bagian konduktif ditunjukkan pada tabel 3. Dapat diketahui
bahwa semakin besar presentase Rp maka nilai tegangannya semakin besar
sedangkan arusnya semakin sedikit. Untuk Rp 0 % sampai 30 % arusnya
sebesar 0, hal ini dikarenakan pada saat percobaan ELCB lepas.
BAB V

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah


sebagai berikut :

 Terjadinya perbedaan antara RK = 0 Ω denagn RK = 5 kΩ karena


hambatan yang diberikan bertambah sehingga hasil pengukuran
tegangan gangguan (Uf) juga semakin besar karena tegangan
berbanding lurus dengan hambatan.
 Tegangan gangguan lebih besar dari pada tegangan sentuh karena selain
adanya resistansi dari manusia juga ada resistansi kontak alas kaki yang
di pakai manusia yang akan menaikan tegangan gangguan (Uf).
 Tegangan yang dihasilkan dari tegangan ekstra rendah ini sangat kecil
sehingga bila terkena manusia tidak membahayakan .
 ELCB bekerja berdasarkan besar arus yang melewatinya , sehingga
besar arus trip pada ELCB dapat ditentukan dan diatur, semakin besar
arus trip pada ELCB maka waktu pemutusan atau waktu trip juga
semakin cepat.