Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Strategi Pembelajaran merupakan komponen dalam sistem pembelajaran. Strategi


pembelajaran terkait dengan bagaimana materi disiapkan, metode apa yang
terbaik untuk menyampaikan materi pembelajaran tersebut, dan bagaimana bentuk
evaluasi yang tepat digunakan untuk mendapatkan umpan balik pembelajaran.
Namun, strategi pembelajaran yang menjadi sorotan dekade terakhir adalah
bagaimana guru dapat merancang strategi itu agar para peserta didik dapat
menikmati pembelajaran dengan menyenangkan. Karena otak berpikir hanya
mampu berfungsi secara optimal, jika stimulus dari luar lingkungan (terutama
guru) sangat menyenangkan.

Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan


pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran
yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar,
memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan
individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan
memfasilitasi belajar kontekstual. Tapi saat sekarang realitanya kita dapat melihat
di dalam proses pembelajaran itu sendiri guru masih belum bisa mengondisikan
pembelajarannya sesuai yang diharapkan oleh siswa maupun kurikulum yang
dituntut. Tidak hanya itu, kadangkala guru belum bisa memahami seperti apa
pembelajaran siswa itu sendiri.

Pemilihan strategi pembelajaran sangatlah penting. Strategi yang diterapkan


dalam kegiatan pembelajaran disebut Strategi Pembelajaran. Pembelajaran adalah
upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efesiensi dan efektivitas
kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Pihak-pihak yang terlibat dalam
pembelajaran adalah pendidik (perorangan dan atau kelompok) serta peserta didik
(perorangan, kelompok, dan atau komunitas) yang berinteraksi edukatif antara
satu dengan yang lainnya.

1
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka rumusan dari masalah ini yaitu:

1.2.1 Apakah pengertian dari strategi pembelajaran itu?


1.2.2 Apakah strategi penyampaian pembelajaran itu?
1.2.3 Apakah strategi pengelolaan pembelajaran itu?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian strategi pembelajaran
1.3.2 Untuk mengetahui tentang strategi penyampaian pembelajaran
1.3.3 Untuk mengetahui tentang stretegi pengelolaan pembelajaran

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat kita peroleh dari makalah ini adalah:

1.4.1 Memahami dengan baik apa itu strategi pembelajaran


1.4.2 Memahami dengan baik strategi penyampaian pembelajaran
1.4.3 Memahami dengan baik strategi pengelolaan pembelajaran

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Pembelajaran


Strategi merupakan pola umum rentetan kegiatan yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu (Sanjaya, 2008: 99). Dikatakan pola umum, sebab
suatu strategi pada hakekatnya belum mengarah kepada hal-hal yang bersifat
praktis, masih berupa rencana atau gambaran menyeluruh. Sedangkan untuk
mencapai tujuan, strategi disusun untuk tujuan tertentu.
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai “a plan, method, or
series of activities designed to achieves a particular educational goal“ (J. R.
David, 1976). Demikian juga halnya dalam proses pembelajaran, untuk mencapai
tujuan pembelajaran perlu disusun suatu strategi agar tujuan itu tercapai secara
optimal. Tanpa suatu strategi yang cocok, tepat dan jitu, tidak mungkin tujuan
dapat tercapai.
Darsono (2001: 24) Secara umum mendefinisikan pengertian belajar
merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah
laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang
lebih baik.
Kegiatan pembelajaran dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di
lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Belajar dan pembelajaran
di sekolah sifatnya formal. Semua komponen dalam proses pembelajaran
direncanakan secara sistematis. Komponen guru sangat berperan dalam membantu
peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Jadi, seorang guru
dituntut mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang profesional
dalam membelajarkan peserta didik-peserta didiknya.
Secara khusus pembelajaran menurut teori Behavioristik adalah usaha
guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan
(stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respons (tingkah laku yang
diinginkan) perlu latihan dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah
dan atau reinforcement (penguatan).

3
Sedangkan menurut Gestalt pembelajaran adalah usaha guru untuk
memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga peserta didik lebih
mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
Bantuan guru diperlukan untuk mengaktualkan potensi mengorganisir yang
terdapat dalam diri peserta didik.
Memperhatikan beberapa pengertian strategi pembelajaran di atas, dapat
disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih
dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran
sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi
pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir
kegiatan belajar.

2.2 Strategi Penyampaian Pembelajaran


Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel
metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Fungsi strategi
penyampaian pembelajaran adalah menyampaiakan isi pembelajaran kepada
pembelajar, menyediakan informasi atau bahan- bahan yang diperlukan
pembelajar untuk menampilkan unjuk kerja.
Strategi penyampaian (delivery strategy) mengacu kepada cara-cara yang
dipakai untuk menampilkan pembelajaran kepada peserta didik dan sekaligus
untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari peserta didik. Oleh
karena fungsinya seperti ini, maka strategi juga disebut sebagai metode untuk
melaksanakan proses pembelajaran.
Menurut Degeng (1989) secara lengkap ada tiga komponen yang perlu
diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu sebagai
berikut: Secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam strategi
penyampaian yaitu:
1) Media pembelajaran,
2) Interaksi si belajar dengan media,
3) Bentuk belajar mengajar.

4
Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat
dimuati pesan yang akan disampaikan kepada si-belajar, apakah itu orang, alat,
atau bahan.
Interaksi si belajar dengan media adalah komponen strategi penyampaian
pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang dilakukan oleh si
belajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar
itu.
Bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian
pembelajaran yang mengacu kepada apakah siswa belajar dalam
kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan, ataukah mandiri.
1) Media Pembelajaran
Menurut pendapat Martin dan Briggs (1989) mengemukakan bahwa
media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan
komunikasi dengan si-belajar. Ini bisa berupa perangkat keras, seperti komputer,
televise, proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat-
perangkat keras itu. Dengan menggunakan batasan Martin dan Briggs, guru juga
termasuk media pembelajaran sehingga merupakan bagian dari kajian strategi
penyampaian.
Sekurang-kurangnya ada empat cara dalam mengklasifikasi media
pembelajaran untuk keperluan strategi penyampaian:
a. Tingkat kecermatan representasi
b. Tingkat interaktif yang mampu ditimbulkan
c. Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya
d. Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya.
Tingkat kecermatan representasi suatu media bisa diletakkan dalam
suatu garis kontinum, seperti benda konkrit, media pandang- dengar, deperti
film bersuara, media pandang, seperti gambar atau diagram. Media dengar
seperti rekaman suara dan simbol-simbol tertulis. Bagaimanapun juga kontinum
ini bisa bervariasi untuk suatu pembelajaran.
Bruner (1966) dalam pengembangan teori pengajarannya, mengemukakan
bahwa suatau pembelajaran harus bergerak dari pengalaman langsung ke
representasi ikonik (seperti: kata atau simbol-simbol lain). Banyak siswa telah

5
melihat berbagai aspek bagaimana cara pengaspalan jalan raya. Mereka
melihatbanyak kendaraan pengangkut bahan, seperti batu dan pasir. Mereka juga
telah melihat cara menata batu, serta ukurannya. Mereka melihat bagaimana cara
membakar aspal dan menuangkannya ke atas batu yang telah ditata. Mereka juga
melihat alat-alat besar lainnya, seperti bagaimana silinder bekerja. Bagaimanapun
juga, mereka sering mendapat pengalaman ini secara terpisah-pisah. Di suatu
tempat siswa melihat bagaimana menata batu dan di tempat lain mereka melihat
bagaimana membakar aspal, dan seterusnya. Bagaimanapun juga, mereka perlu
memiliki pengalaman yang terintegrasi yang menggambarkan bagaimana cara
pembangunan sebuah jalan raya. Media film tentang pembuatan jalan raya
akan dapat mengintegrasikan semua tahap ini sehingga pengalaman-
pengalaman siswa yang terpisah-pisah tadi terintegrasi ke dalam suatu
abstraksi yang bermakna.
Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh suatu media juga dapat
dibentangkan dalam suatu rangkaian, tetapi titik-titik dalam rangkaian ini
ditunjukkan oleh jenis media yang berbeda: komputer, guru, buku kerja, buku
teks/rekaman, dan siran radio/televisi. Media-media ini juga mempunyai
kemampuan menyajikan berbagai media yang telah dikemukakan sebelumnya.
Misalnya, guru dapat menyajikan semua media dari benda konkrit sampai simbol-
simbol verbal. Buku kerja dapat menyajikan gambar, diagram, serta simbul-
simbul tertulis. Juga dimungkinkan untuk menggunakan media secara
terkombinasi, seperti buku kerja dengan film atau benda konkrit bila sedang
bekerja di lab atau, buku kerja dikombinasi dengan buku teks atau siaran
radio. Kombinasi-kombinasi lain pun dapat diciptakan untuk keperluan suatu
pembelajaran.
Tingkat kemampuan khusus yang dimliki oleh suatu media juga dapat
dipakai untuk mempreskripsikan strategi penyampaian.Tiap media dari berbagai
media yang telah dibicarakan diatas, baik dari kontinum tingkat kecermatan
maupun tingkat interaktifnya, dapat diidentifikasi karakteristik khusus yang
dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampuannya dalam
menyajikan sesuatu yang tidak

6
dapat disajikan oleh media lain. Media-media yang mempunyai
kemampuan khusus inilah yang amat berpengaruh dalam menetapkan strategi
penyampaian.
Kemampuan-kemampuan khusus suatu media bisa dilihat dari
kecepatannya dalam menyajikan sesuatu, seperti film ttentang pembangunan
jalan raya akan lebih tepat memberi gambaran tentang bagaimana tahapan
pembuatan jalan raya, dibandingkan dengan mengamati langsung ke lokasi yang
memakan waktu lama sampai jalan itu selesai. Kemampuan simulative, seperti
dalam simulator terbang yang memungkinkan seorang pilot dapat mendaratkan
sebuah pesawat sepuluh kali dalam satu jam tanpa harus lepas landas lagi setiap
kali akan mengambil posisi mendarat berikutnya. Kemampuan-kemampuan
khusus juga sering dimiliki oleh media – media yang tingkat kecermatan
representasinya rendah.Media rekaman, umpamanya, tidak terikat oleh waktu dan
ruang. Media ini tingkat kecermatannya rendah, tetapi ia memiliki kemampuan
khusus untuk menyajikan sesuatu yang sudah berlalu dan tak dapat diulangi.
Tingkat pengaruh motivasional yang dimiliki suatu media juga penting
artinya untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian.Namun perlu
dicatat bahwa pengaruh motivasionala ini sering kali amat bervariasi sejalan
dengan perbedaan perseorangan diantara di-belajar. Umpamanya, seorang
guru, sebgai media belajar, dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang
siswa, tetapi pada saat yang sama ia justru menghancurkan motivasi belajar
siswa yang lain.
Suatu media pembelajaran bisa memberi pengaruh motivasional yang
berbeda.Perbedaan ini lebih banyak dapat dikaitkan dengan perbedaan
karakteristik si-belajar.Makin dekat kesamaan karakteristik si- belajar dengan
media yang dipakai maka makin tinggi pengaruh motivasional yang bisa
ditimbulkan oleh media itu.
Disamping interaksinya dengan karakteristik si-belajar, media juga dapat
berinteraksi dengan tipe isi. Tipe isi konsep lebih tepat didekati dengan media
benda konkrit, atau gambar serta diagram, sedangkan untuk tipe isi
procedural, film bersuara yang menunjukkan prosedur- prosedur yang sedang
dipelajari akan dapat menimbulkan pengaruh motivasional yang tinggi.

7
2) Interaksi Si-belajar dengan Media
Bentuk interaksi antara si-belajar dengan media merupakan komponen
penting kedua untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini
penting karena uraian mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa
memberi gambaan tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu
media pada kegiatan belajar siswa. Itulah sebabnya komponen ini lebih menaruh
perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan oleh siswa
dan bagaimana peranan media untuk merancang kegiatan-kegiatann itu.
Kegiatan belajar yang dapat dilakukan seorang siswa untuk mencapai
tujuan khusus yang telah ditetapkan banyak sekali ragamnya.Mulai dari kegiatan
yang paling dasar, seperti membaca, mendengarkan, menulis, sampai
mengintegrasikan kegiatan-kegiatan dasar tersebut, seperti mengerjakan tugas,
sajian kelas, membuat laporan diskusi dan seterusnya.
Tersedianya media penting sekali untuk merangsang kegiatan belajar
siswa. Kehadiran guru, untuk mengarahkan kegiatan belaja, buku teks, sebagai
sumber informasi ; proyektor, untuk menampilkan film; dan media-media lain,
amat diperlukan untuk merangsang kegiatan belajar siswa. Interaksi antara
siswa dengan media inilah yang sebenrnya merupakan wujud nyata dari
tindak belajar. Hal belajar terjadi dalam diri siswa ketika mereka berinteraksi
dengan media dank arena itu, tanpa media, belajar tidak akan pernah terjadi.

3) Bentuk belajar-mengajar
Cara-cara untuk menyampaikan pembeajaran ini lebih mengacu kepada
komponen yang kedua dan ketiga dari strategi penyampaian.Penyampaian
pembelajaran melalui ceramah, misalnya, menuntut penggunaan media guru,
dan dapat diselenggarakan dalam kelas besar. Kegiatan belajar yang dilakkan
siswa sering kali lebih banyak tergantung pada rangsangan guru.
Penyampaian pembelajaran dalam kelas besar menuntut penggunaan jenis
media yang berbeda dari kelas kecil. Demikian juga untuk pembelajaran
perseorangan dan table belajar mandiri. Tidak ada preskripsi baku mengenai mana
dari ketiga komponen strategi penyampaian ini yang harus ditetapkan lebih dulu.
Mediakah? Atau, kegiatan belajar siswakah? Ataukah bentuk belajar- mengajar.

8
Pemilihan pada salah satu dari ketiga komponen ini tidak bisa berdiri
sendiri.Ketiganya harus dipertimbangkan secara serentak, dan titik awalnya dapat
dimulai dari salah satu komponen.
Bila pemilihan dimulai dari media pembelajaran, maka bentuk belajar
mengajar harus disesuaikan dengan media yang telah ditetapkan, dan akhirnya
kegiatan belajar siswapun harus dijabarkan dari kedua komponen ini.
Umpamanya, keputusan untuk menggunakan media film dalam menjelaskan
prosedur pembangunan sebuah jalan raya, harus diikuti dengan pemilihan
kelas besar, dan kegiatan belajar seperti mencatat tahapan procedural yang
dilewati, mengamati cara pengaspalan dan seterusnya.
Bila diputuskan untuk memilih bentuk belajar-mengajar lebih dulu,
maka kedua komponen lainnya harus menyesuaikan. Katakanlah, yang dipilih
adalah belajar mandiri. Media yang sesuai dengan bentuk belajar jenis ini adalah
buku teks, laboratorium, komputer, serta media-media lain yang dapat
digunakan secara perseorangan. Kegiatan belajar yang sejalan dengan ini,
umpamanya adalah membaca, penelitian kepustakaan, penelitian laboraturium,
dan menulis laporan. Dengan cara yang sama kegiatan belajar siswa juga
dapat dijadikan titik sama. Kegiatan belajar siswa juga dapat dijadikan titik
awal pemilihan.

2.3 Strategi Pengelolaan Pembelajaran


Strategi pengelolaan berkaitan dengan penetapan kapan suatu strategi atau
komponen strategin tepat dipakai dalam situasi pembelajaran (Degeng, 1989). Menurut
Reigeluth dan Merrill (1979) paling tidak ada empat hal yang menjadi urusan strategi
pengelolaan, yaitu:

a) Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran


Mengacu kepada kapan dan berapa kali suatu strategi pembelajaran atau komponen
suatu strategi pengajaran dipakai dalam suatu situasi pembelajaran.
b) Pembuatan Catatan Kemajuan Belajar Siswa

9
Catatan kemampuan belajar siswa sangat penting bagi guru, karena dapat digunakan
untuk melihat efektifitas dan efisiensi pembelajaran, guru akan dapat menentukan
langkah-langkah selanjutnya, seperti:
1) Apakah strategi pembelajaran yang digunakan telah sesuai / belum,
2) Apakah rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh faktor guru atau siswa,
3) Apakah penjadwalan penggunaan strategi pelajaran sudah sesuai / belum.
c) Pengelolaan Motivasional
Menurut Degeng (1998) peranan strategi penyampaian untuk meningkatkan motivasi
belajar jauh lebih nyata dari strategi pengorganisasian. Ini berarti seni dan cara
penjadwalan penggunaan strategi penyampaian dapat memengaruhi motivasi belajar
siswa. Mengingat hal tersebut, seorang guru harus mampu mengembangkan kiat-kiat
khusus dalam melakukuan penjadwalan penggunan strategi penyampaian.
d) Kontrol belajar.
Kontrol belajar penting sekali untuk memprekrisikan strategi pengelolaan Karena ia
berguna untuk menetapkan agar pengajaran benar benar sesuai dengan karakteristik
perseorangan siswa. strategi pengelolaan yang berurusan dengan kontrol belajar banyak
terkait dengan aspek penjadwalan.

2.3.1 Tahap Pengelolaan Pembelajaran


Tahap-tahap pengelolaan pembelajaran terdiri dari :
1. Perencanaan, tahap perencanaan meliputi:
a. Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan bagaimana cara melakukannya;
b. Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang
maksimal melalui proses penentuan target;
c. Mengembangkan alternatif-alternatif;
d. Megumpulkan dan menganalisis informasi;
e. Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.
(Abu Ahmadi-Joko Tri Prasetya: 32)
2. Pengorganisasian, tahap pengorganisasian meliputi:
a. Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan rencana-rencana melalui proses penetapan kerja;
b. Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur;

10
c. Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi;
d. Memutuskan dan menetapkan metode dan prosedur;
e. Memilih, mengadakan pelatihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-
sumber lain yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
3. Pengarahan, tahap pengarahan meliputi:
a. Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci;
b. Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana dan
pengambilan keputusan;
c. Mengeluarkan instruksi–instruksi yang spesifik;
d. Membimbing, memotivasi dan melakukan supervisi.
4. Pengawasan, tahap pengawasan meliputi:
a. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang mengacu pada rencana;
b. Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi,
menyusun standar-standar dan saran-saran;
c. Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-
penyimpangan.

2.3.2 Tujuan dan Fungsi Pengelolaan Pembelajaran


Tujuan pengelolaan pembelajaran adalah untuk menciptakan proses belajar
mengajar yang dengan mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan dan
dikendalikan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan
efisien.
Fungsi pengelolaan pembelajaran yaitu :
a. Merencanakan tujuan belajar
b. Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
c. Memimpin, yang meliputi memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa.
d. Mengawasi segala sesuatu, apa sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau
belum dalam rangka pencapaian tujuan.

11
2.3.3 Faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran yaitu :
a. Kurikulum
Kurikulum kaitannya dengan pengelolaan pembelajaran haruslah di rancang sebagai
jumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggung jawab sekolah dalam membantu
anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana dan
terarah serta terorganisir, karena kegiatan pembelajaran bukan sekedar dipusatkan pada
penyampaian sejumlah materi pelajaran atau pengetahuan yang bersifat intelektualistik,
akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk
individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk yang bermoral.
b. Gedung dan Sarana Kelas / Sekolah
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan
dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya yang harus disesuaikan
dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat
beruabh. Sedang ruangan atau gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreativitas
dalam mengatur pendayagunaan ruang / gedung yang bersedia berdasarkan kurikulum
yang dipergunakan. Dalam konteks ini kepandaian guru dalam pengelolaan kelas sangat
dibutuhkan.
c. Guru
Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang
bertanggung jawab dalam membantu anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.
Guru dalam pengertian tersebut bukan sekedar berdiri didepan kelas untuk
menyampaikan materi atau pengetahuan tertentu, akan tetapi dalam keanggotaan
masyarakat yang harus aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan
perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.
Guru juga harus bisa juga menciptakan suasana dalam kelas agar terjadi interaksi belajar
mengajar yang dapat memotivasi sesuai untuk belajar dengan baik dan sungguh-
sungguh. Berdasarkan uraian-uraian diatas jelas bahwa jabatan guru sebagai suatu
profesi tidak saja mulia, karena berhubungan langsung dengan masalah pendewasaan
anak-anak, akan tetapi juga merupakan tugas yang cukup berat. Tugas yang mulia dan
hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap pekerjaan
mendidik.

12
d. Murid
Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan, merupakan kondisi yang
sangat penting artinya bagi terciptanya kelas yang dinamis. Oleh karena, setiap murid
harus memiliki perasaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam
kegiatan kelas. Perasaan inilah yang akan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap
kelasnya. Sikap ini akan tumbuh dengan baik apabila dilakukan tindakan-tindakan
pengelolaan kelas sebagai berikut :
1) Setiap murid dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kelas,
guru hanya sekedar memberi petunjuk dan bimbingan agar program atau kegiatannya
sejalan dengan kurikulum.
2) Murid diberi kesempatan dalam pembagian tugas-tugas untuk kepentingan kelas.
3) Bila guru atau wali kelas berhalangan, bagi dan serahkanlah kepercayaan berupa
tanggung jawab mengatur rumah tangga dan disiplin kealas diantar murid.
4) Motivasi agar setiap murid selalu bersedia mengatur kelasnya melalui kegiatan rutin,
misalnya membersihkan kelas, papan tulis dan lain-lain.
5) Kembangkanlah kesediaan bekerjasama dalam setiap kegiatan.
6) Guru bersama murid menyusun tata tertib dan disiplin kelas serta membentuk
pengurus kelas yang bekerja selama 1 tahun ajaran.
7) Mendorong murid secara terus menerus agar ikut memikirkan kegiatan kelas dan
berani mengusulkannya untuk dilaksanakan bersama didalam atau diluar kelas.
e. Dinamika kelas
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan oleh setiap wali
atau guru kelas untuk kepentingan murid dalam proses kependidikannya. Dinamika
kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk aktif secara
terarah yang dikembangkan melalui kretifitas dan inisiatif murid sebagai suatu
kelompok, untuk itu setiap wali atau guru kelas harus berusaha menyalurkan berbagai
saran, pendapat, gagasan, keterampilan, potensi dan energi yang dimiliki murid menjadi
kegiatan-kegiatan yang berguna. Dengan demikian kelas tidak akan berlangsung secara
statis, rutin dan membosankan.
f. Lingkungan sekitar

13
Lingkungan sekitar sekolah sangat mempengaruhi. Misalnya anak yang tinggal di
sekitar lingkungan yang masyarakatnya rata rata tidak bersekolah akan berbeda dengan
anak yang tinggal di lingkungan yang kenal dengan pendidikan.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pengelolaan pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan


pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan proses
panjang yang dimulai dengan perencanaan, pengorganisasian dan penilaian.

Ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi


penyampaian yaitu media pembelajaran, interaksi peserta didik dengan media,
bentuk belajar mengajar, pengelolaan variable dalam pembelajaran.

Dan paling tidak ada empat hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu
penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran, pembuatan catatan kemajuan
belajar siswa, pengelolaan motivasional, kontrol belajar.

15
DAFTAR PUSTAKA
Ryan dini D. P. (2017, 12 5). Strategi Penyampaian dan Pengelolaan. Dipetik
dari blogspot.com: (http://ryandinidwipuspita.blogspot.com/2017/12/strategi-
pembelajaran-strategi.html)
S. Umi Hanik (2010). Strategi dan Metode Pembelajaran. Dipetik dari:
(http://eprints.walisongo.ac.id/355/4/UmiHanik_Tesis_Bab2.pdf)

16