Anda di halaman 1dari 6

KUMPULAN PERTANYAAN-PERTANYAAN

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Kepala Leher

(THT –KL)

Disusun oleh :

Ahmad Hidayat 30101407119

Novia Karina 30101307029

Nurul Hidayati 30101307032

Puspita Wijaya R. 30101307045

Randika Ayu H. 30101307053

Silvia Gita A. 30101307082

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTANAGUNG

SEMARANG

2019
PERTANYAAN JOURNAL READING THE EVALUATION OF HOARSENESS AND
ITS TREATMENT

1. Apa saja kemungkinan penyakit pada pasien dengan keluhan suara parau?

Diagnosis banding suara parau

Laringitis

Kronis
Akut Kronis
spesifik

Laringiitis Laringitis
tuberkulosisi luetika

I. Laringitis
1. Laringitis Akut
Radang akut laring, pada umumnya kelanjutan dari rinofaringitis (common
cold). Bakteri yang menyebabkan radang local atau virus yang
gmenyebabkan peradangan sistemik.
Gejala :
demam, malaise (umum), suara parau atau sampai afoni, sumbatanlaring,
batuk kering atau dahak.
Pemeriksaaan fisik:
Mukosa laring hiperemis, membengkak terutama diatas dan bawah pita
suara.
Terapi:
o Istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari; menghirup udara
lembap; menghindari iritasi pada faring dan laring.
o Antibiotik diberikan bila peradangan berasal dari paru. Bila
terdapat sumbatan laring dilakukan pemasangan pipa endotrakea
atau trakeostomi.
2. Laringitis Kronik
Disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang berat, polip hidung
atau bronchitis kronis, vocal abuse.
Gejala :
Suara parau menetap, rasa terasngkut di tenggorokan, pasien sering
mendehem tanpa mengeluarkan secret karena mukosa menenbal
Pemeriksaan fisik: tampak mukosa menebal, hiperemis, permukaan tidak
rata
Terapi :
Mengobati peradangan di hidung, faring serta bronkus yang mungkin
menjadi penyebab laringitis kronis. Tidak banyak bicara.

3. Laringitis Kronik Spesifik


Laringitis TB
 Stadium Infiltrasi
o Pembengkakan dan hiperemis mukosa laring bagian
posterior, pita suara
o Submukosa : terbentuk tuberkel, mukosa tidak rata, tampak
bintik-bintik kebiruan, tuberkel ini makin membesar
tuberkel berdekatan bersatu mukosa diatasnya
meregang karena meregang pecah dan timbul ulkus

 Stadium ulserasi
o Akhir stadium infiltrasi ulkus, yang dangkal, dasarnya
ditutupi oleh perkijuan, nyeri ulkus makin dalam
mengenai kartilago arytenoid dan epiglottis.

 Stadium perikondritis
Terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik.
Gejala :
 rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring
 Suaraparau
 Hemoptisis
 Nyeri waktu menelan
 Keadaan umum buruk
 Pemeriksaanparu: terdapat proses aktif
 Stadium fibrotuberkulosis
Terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik.
Gejala Klinis :
• Rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring
• Suara parau
• Hemoptisis
• Nyeri waktu menelan
• Keadaan umum buruk
• Pemeriksaan paru : terdapat proses aktif
Terapi :
• Obat Anti tuberkulosis primer
• Vocal rest

Laringitis Luetika
Etiologi : Treponema Palidum
GambaranKlinis :

• Jika guma pecah ulkus

• Sifat ulkus : sangatd alam, bertepi dengan dasar keras, warna merah tua,
eksudat warna kekuningan, tidak nyeri , menjala rcepat

Gejala :

• Suaraparau

• Batukkronis

• Disfagia

Terapi :

• Penisilin: Dosis 1,2 juta U, i.m


• Pengangkatan sekuester

• Jika ada sumbatan Laring Lakukan Trakeostomi

2. Apa saja penyebab suara parau?


Penyebabnya bermacam-macam yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya.
Penyebabnya berupa radang, tumor (neoplasma), paralisis otot-otot laring, kelainan
laring seperti sikatriks akibat operasi, fiksasi pada sendi krikoaritenoid dan lain-lain.
Ada 1 keadaan yang disebut disfonia ventrikular yaitu keadaan plika ventrikular yang
mengambil alih fungsi fonasi dari pita suara, misalnya sebagai akibat pemakaian suara
yang terus-menerus pada pasien laringitis akut

3. Bagaimana cara pemeriksaan laringoskopi tidak langsung?


1. Penderita disuruh duduk tegak, kepala atau dagu agak dikedepankan sedikit.
2. Pemderita disuruh membuka mulut untuk melihat faring dan menentukan
kira-kira ukuran cermin laring yang dipakai. Ukuran kaca laring yang dipakai ini
penting karena kaca yang terlalu besar akan menyentuh tonsil dan dinding laring
yang akan menyebabkan muntah.
3. Tangan kiri memegang kain kasa guna memegang lidah, sedang tangan kanan
memegang kaca yang telah dipanasi dan dikontrol dengan punggung tangan.
4. Penderita diminta menjulurkan lidah, yang kemudian dipegang dengan jari
tengah yang dialasi kain kasa. Jari telunjuk dipergunakan untuk menahan bibir atas.
5. Dengan sangat hati-hati kaca dimasukan hingga berada pada posisi dekat
dinding belakang orofaring. Ingat, jangan sampai menyentuh bagian belakang
lidah, atau tonsil atau dinding laring, karena akan menyebabkan muntah.
6. Dengan seksama amati bayangan pada laring.
Laringoskopi tidak langsung dilakukan tanpa anastesi. Namun pada penderita
yang sensitif bisa diberikan anastesi lokal dengan tablet hisap atau semprot.

4. Apa saja fungsi laring?


Laring berfungsi sebagai proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi dan
fonasi. Fungsi laring untuk proteksi adalah untukmencegah agar makanan dan benda
asing masuk kedalam trakea dengan jalanmenutup aditus laring dan rima glotis yang
secara bersamaan. Benda asing yangtelah masuk ke dalam trakea dan sekret yang
berasal dari paru juga dapatdikeluarkan lewat reflek batuk. Fungsi respirasi laring
dengan mengaturbesar kecilnya rima glotis. Dengan terjadinya perubahan tekanan
udara maka didalam traktus trakeo-bronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah
tubuh.Oleh karena itu laring juga mempunyai fungsi sebagai alat pengatur
sirkulasidarah. Fungsi laring dalam proses menelan mempunyai tiga mekanisme
yaitugerakan laring bagian bawah keatas, menutup aditus laringeus, serta
mendorongbolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk kedalam
laring.Laring mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti
berteriak,mengeluh, menangis dan lain-lain yang berkaitan dengan fungsinya untuk
fonasidengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada.

5. Apa saja terapi yang dapat diberikan pada suara parau?


Pengobatan disesuaikan dengan kelainan atau penyakit yang menjadi etiologinya.
Terapi dapat berupa medikamentosa, vocal hygiene, terapi suara dan bicara (voice-
speech therapy) dan tindakan operatif. Tindakan operatif untuk mengatasi gangguan
suara atau disfonia disebut Phonosurgery.