Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang unik karena memilki perbedaan dengan individu
lainnya. Sikap (attitude) merupakan konsep paling penting dalam psikologi sosial
yang membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun kelompok. Banyak
kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap, proses terbentuknya sikap,
maupun perubahan. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap
kaitannya denganefek dan perannya dalam pembentukan karakter dan sistem
hubungan antarkelompok.
Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan
kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap
stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan
untuk mendekat atau menghindar, posotitif atau negative terhadap berbagai
keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya
(Howard dan Kendler, 1974: Gerungan, 2000).
Oleh karena itu kami akan membahas lebih spesifik lagi mengenai sikap. Untuk
itu Dalam makalah ini penulis akan menguraikan mengenai pengertian sikap,
proses dan komponen sikap, faktor – faktor yang mempengaruhi sikap, teori- teori
tentang sikap dan hubungan sikap dengan perilaku.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sikap
Apakah sikap itu? Ada banyak defenisi mengenai sikap, akan tetapi terdapat
satu aspek sentral yang tidak pernah terlewatkan, yaitu aspek evaluative
(Albarracin, Johnson, Zanna dan Kumkale). Sikap sering kali dipandang sebagai
object-evaluation association. Dari beberapa defenisi mengenai sikap yang ada,
Eagly dan Chaiken pada tahun 1993, membaginya menjadi dua pendekatan atau
model pendefenisian. sikap didefenisikan sebagai sebuah kombinasi dari reaksi
afektif, kognitif, dan prilaku terhadap suatu objek tertentu.1
Meskipun sikap merupakan salah satu pokok bamahasan yang penting dalan
psikologi, khususnya psikologi sosial. Ada sejumlah pendapat lain yang sangat
mendasar mengenai sikap. Berikut ini adalah garis besar pandangan mengenai
sikap. Berikut ini adalah garis besar pandangan-pandangan sikap yang disusun oleh
pengamat Eiser.2
Sejumlah orang yang mempunyai sikap berbeda pada suatu objek akan berbeda
pula dalam pendapat masing-masing mengenai apakah yang benar atau salah
mengenai objek itu. Kemungkinn ada persamaan dan perbedaan dalam sikap berarti
bahwa seseorang akan menafsirkan pernyataan mengenai sikap sebagai suatu sikap
yang mengandung nilai kebenaran yang pada prinsipnya dapat diukur melalui
interaksi dengan objek bersangkutan. Namun, hal itu tidak berarti bahwa sikap
terbentuk setelah ada penyelidikan terlebih dahulu atas fakta-fakta terkait.
Hubungan antara keyakinan berlandaskan fakta dan penilaian harus dibuktikan di
lapangan.

1
Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial.( Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014) hal. 124
2
Alex Sobur, Psikologi Umum. (Bandung :CV Pustaka Seti, 2011)hal.356
Jung mendefinisikan sikap (attitude) sebagai suatu kecenderungan untuk
beraksi atau bereaksi dalam sebuah arah karakter. Ia bersikeras bahwa setiap orang
memiliki kedua sisi sikap ekstrover dan introver, walaupun hanya satu yang dapat
aktif pada saat satu sikap lainnya tidak aaktif. Seperti kekuatan psikologis analitis
lainnya, introversi dan ekstroversi menyumbangkan hubungan satu dengan yang
lainnya.
Warren dan Cantril merumuskan sikap sebagai disposisi atau predisposisi untuk
bereaksi. Baldwin dan juga Allport merumuskan sebagai kesiapan. Sedangkan
Allport menyebut sebagai berfungsinya disposisi.3
Ada sejumlah pendapat lain yang sangat mendasar mengenai sikap. Berikut ini
adalah garis besar pandangan-pandangan sikap yang disusun oleh pengamat Eiser
(1986, dalam Ross, 1994):
1. Sikap merupakan pengalaman subjektif. Asumsi ini menjadi dasar untuk
definisi-definisi pada umumnya, meskipun beberapa penulis, terutama Bem
(1967), menganggap bahwa berbagai pernyataan seseorang mengenai sikapnya
merupakan kesimpulan dari pengamatannya atas perilakunya sendiri.
2. Sikap adalah pengalaman tentang suatu objek atau persoalan. Rumusan ini
belum pernah didukung secara tegas. Tidak semua pengalaman memenuhi
syarat untuk disebut sebagai sikap. Sikap bukan sekadar “suasana hati” atau
“reaksi afektif” yang disebabkan oleh stimulus dari luar. Suatu persoalan atau
objek dikatakan merupakan bagian dari pengalaman
3. Sikap ialah pengalaman tentang suatu masalah atau objek dari sisi dimensi
penilaian. Jika kita memiliki sikap pada suatu objek, kita tidak cuma
mengalaminya, tetapi mengalaminyasebagai sesuatu yang hingga batas tertentu
diiinginkan, atau lebih baik, atau lebih buruk. Walaupun terdapat kesepakatan
bahwa ada unsur penilaian dalam sikap, belum ada kesepakatan tentang apakah
sikap itu hanya mengandung unsur penilaian saja. Bahkan, diantara para

3
Ibid., hal. 77
peneliti yang mendefinisikan sikap secara lebih sempit, masih ada yang
bersedia mengukur sikap dengan tolok ukur unsur penilaian dalam suatu
kontinum.4
Menurut Allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang
berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman individual masing-
masing, mengarahkan dan menentukan respon terhadap objek dan situasi. Sikap
adalah penilainan terhadap suatu objek yang terdapat dalam kehidupan kita,
termasuk diri kita sendiri. Sikap diperoleh melalui pembelajaran sosial, perolehan
informasi serta perilaku dan sikap melalui orang lain. Pengertian sikap menurut
para ahli meliputi:5
a. Reaksi evaluative yang disukai tau tidak disukai terhadap sesuatu atau
seseorang menunjukkan kepercayaa, perasaan, atau kecenderungan perilaku
seseorang (Zanna dan Rempel, 1988, dalam Voughn dan Hoog, 2002).
b. Sikap adalah tendensi psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi
entitas tertentu dengan beberapa derajat kesukaan dan ketidaksukaan (Eagly
dan Chaiken,1993)
c. Evaluasi terhadap beberapa aspek perkataan sosial (Baron dan Byrne, 2006).

B. Isi, Struktur Dan Fungsi Sikap


Isi Sikap, sikap menurut Maio dan Haddock (2007) adalah konstruk-kontruk
Psikologis yang diekspresikan oleh sikap, seperti keyakinan dan afeksi. Penelitian
mengenai isi dari sikap, seperti sudah disampaikan sebelumnya, didominsi oleh dua
perspektif, yaitu the three-component model dan the expectancy-value model.
Menurut perspektif yang pertama, sikap mengekspresikan perasaan, keyakinan, dan
perilaku dimasa lampau yang berhubungan dengan objek sikap, sedangkan menurut

4
Sarwono, Sarlito W dan Eko A.Meinarno. Psikologi Sosial. (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hal.
98
5
Alex Sobur, Psikologi Umum. (Pustaka Setia:Bandung, 2003), hal. 102
perspektif yang kedua sikap mengekspresikan keyakinan-keyakinan terhadap objek
sikap.6
Struktur Sikap, Seperti telah dijelaskan di depan para ahli dalam membahas
mengenai masalah sikap cukup menunjukkan adanya pandangan yang berbeda satu
dengan yang lain. Thurstone menekankan komponen afektif, pada Rokeach
menekankan pada komponen kognitif dan konatif, sedangkan pada Baron Byrne,
juga Myers dan Gerungan, pada komponen kognitif, afektif, dan konatif. Berkaitan
dengan hal-hal tersebut diatas pada umumnya pendapat yang banyak diikuti ialah
bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1. Komonen kognitif (komponen perceptual), yaitu komponen yag berkaitan
dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan
dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
2. Komponen afektif (komponen emosional) yaitu komponen yang berhubngan
dengan rasa senang atau tidak snagng terhadap bjek sikap. Rasa senang
merupakan hal yang positif, sdangkan rasa yang tidak senang merupakan hal
yang negatf. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan negatif.
3. Komponen konatif (Komponen prilaku, atau action component), yaitu
komponen yangberhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek
sikap. Komponen ini menunjukkan itensitas sikap, yaitu menunjukkan besar
kecilnya kecenderungan bertindak atau berprilaku seseorang terhadap objek
sikap.
Komponen-komponen tersebut diatas merupakan komponen yang membentuk
struktur sikap. Analisis dengan melihat komponen-komponen yang membentuk
sikap disebut analisis komponen atau analisis struktur.7

6
Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial,(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014) hal. 126
7
Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Penagantar), ( Yogyakarta: ANDI Yogyakarta: 1978) Hal. 111
Fungsi Sikap, Menurut Katz (1964) dalam buku Wawan dan Dewi (2010) sikap
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
a) Fungsi instrumental (fungsi penyesuaian/fungsi manfaat)
Fungsi ini berkaitan dengan sarana dan tujuan. Orang memandang sejauh mana
obyek sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai
tujuan. Bila obyek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya,
maka orang akan bersifat positif terhadap obyek tersebut. Demikian sebaliknya
bila obyek sikap menghambat pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap
negatif terhadap obyek sikap yang bersangkutan.
b) Fungsi pertahanan ego
Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan
ego atau akunya. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang
bersangkutan terancam keadaan dirinya atau egonya.
c) Fungsi ekspresi nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk
mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya. Dengan mengekspresikan diri
seseorang akan mendapatkan kepuasan dapat menunjukkan kepada dirinya.
Dengan individu mengambil sikap tertentu akan menggambarkan keadaan
sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.8
d) Fungsi pengetahuan
Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalaman-
pengalamannya. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap
suatu obyek, menunjukkan tentang pengetahuan orang terhadap obyek sikap
yang rsangkutan.

8
Slamet Santoso, Op. Cit., hal. 104
C. Sumber Sikap
Didalam sikap terdapat sumber yang menjadikan seseorang bersikap terhadap
objeknya. Tiga sumber ialah:9
1. Pengalaman pribadi. Sikap merupakan hasil yang menyenangkan atau yang
menyakitkan dengan objek sikap.
2. Sumber sikap dalam hal ini, sikap negatif adalah pemindahan perasaan yang
menyakitkan (terutama permusuhan) jauh dari objek yang sebenarnya pada
objek lain yang “lebih aman”.
3. Pengaruh sosial. Banyak dari sikap kita menjadi terlalu lunak kalau didasari
permusuhan yang tidak disadari, dan banyak lagi sikap itu tidak berkaitan sama
sekali dengan objek sikap itu.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, tampak bahwa meskipun terdapat
perbedaan, semuanya sependapat bahwa ciri khas dari sikap adalah mempunyai
objek tertentu (orang, perilaku, konsep, situasi, benda, dan sebagainya) dan
mengandung penilaian (suka – tidak suka, setuju –tidak setuju).

D. Proses Pembentukan Sikap


Sikap setiap orang sama dalam perkembangannya, tetapi berbeda dalam
pembentukannya (Krech, Crutchfield, dan Ballachey (1965:180). Hal ini
menyebabkan adanya perbedaan sikap seseorang atau individu dengan sikap
temannya, familinya, dan tetangganya. Banyak hal yang perlu kita ketahui untuk
menegetahui karakteristik sikap. Umpamanya, jika kita meramalkan tingkah laku
seseorang dalam waktu tertentu atau jika kita ingin mengontrol tindakannya, kita
harus mengetahui cara sikap itu berkembang dan berubah.
Masalah pembentukan sikap ini, menurut Krech dan kawan-kawan, tidak hanya
ditujukan untuk ilmu social saja, tetapi juga penting bagi semua orang yang ingin
mempengaruhi kegiatan social, seperti orang tua, pendidik, pemimpin, pembaharu,

9
Slamet Santoso, Op. Cit., hal. 101
politikus, pedagang, dan orang-orang yang tertarik untuk mengetahui cara
mengembangkan sikap-sikap baru dan cara menguatkan atau melemahkan sikap.
Ada orang atau sekelompok orang yang ingin mempertahankan sikap tertentu, ada
pula sementara orang yang ingin menhilangkan sikap; umpamanya, ingin
menghilangkan sikap diskriminatif.
Bagaimana sikap itu terbentuk? Sebagian orang berpendapat bahwa ada factor-
faktor genetic yang berpengaruh pada terbentuknya sikap (Waller dkk, 1990; Keller
dkk, 1992). Meskipun begitu, sebagian besar ahli psikologi social berpendapat
bahwa sikap terbentuk dari pengalaman, melalui proses Belajar. Pandangan ini
mempunyai dampak terapan, yaitu bahwa berdasarkan pendapat ini, bisa disusun
sebagai upaya (pendidikan, pelatihan, komunikasi, penerangan, dan sebagainya)
untuk mengubah sikap seseorang.10
Terbentuknya sikap seseorang pada dasarnya dilandasi oleh norma-norma yang
sebelumnya (telah dihayatinya), sehingga dengan “kacamata” norma-norma ini
beserta pengalamannya di masa lalu, ia akan menentukan sikap, bahkan bertindak.
Dengan demikian, sikap terjadi setelah individu mengadakan internalisasi dari
hasil-hasil:11
1. Observasi (terhadap kelompok dan kejadian) serta pengalaman partisipasinya
dengan kelompok yang dihadapi.
2. Perbandingan pengalamannya yang mirip dengan respons atau reaksi yang
diberikannya, serta hasil dan reaksi terhadap dirinya.
3. Apakah pengalaman yang mirip telah melibatkan emosinya atau tidak, karena
suatu kejadian yang telah menyerap perasaannya lebih sulit dilupakannya
sehingga reaksinya akan merupakan reaksi berdasarkan usaha menjauhi situasi
yang tidak diharapkannya.

10
Bimo Walgito. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar) Edisi Revisi. (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 1998),
hal. 98
11
Alex Sobur, Psikologi Umum. (Pustaka Setia:Bandung, 2003), hal. 65
4. Mengadakan perbandingan antara sesuatu yang dihadapinya dan pengalaman
orang lain yang dianggap lebih berpengalaman, lebih ahli, dan sebagainya.
Semua unsur tersebut diperlukan guna penyesuaian diri untuk memperoleh
situasi yang paling favourable untuk manusia maka terdapatlah kesediaan untuk
menerima norma-norma kelompok, bahkan kadang-kadang kesediaan untuk
menyeragamkan diri.
Ada berbagai factor yang mempengaruhi proses pembentukan sikap
seseorang.12
a. Adanya akumulasi pengalaman dari tanggapan-tanggapan tipe yang sama.
Seseorang mungkin berinteraksi dengan pelbagai pihak yang mempunyai sikap
yang sama terhadap suatu hal.
b. Pengamatan terhadap sikap lain yang berbeda. Seseorang dapat menentukan
sikap pro atau anti terhadap gejala tertentu.
c. Pengalaman (buruk atau baik) yang pernah dialami.
d. Hasil peniruan terhadap sikap pihak lain (secara sadar atau tidak sadar).
Efektivitas pengendalian sangat bergantung pada kesiapan seseorang dan
penyerasiannya dengan keadaan mental yang bersangkutan. Pada dasarnya,
pembentukan sikap tidak terjadi dengan sembarangan. Pembentukannya senantiasa
berlangsung dalam interaksi manusia dan berkenaan dengan objek tertentu.
Interaksi social di dalam kelompok maupun diluar kelompok bisa mengubah sikap
atau membentuk sikap yang baru. Yang dimaksud dengan interaksi diluar
kelompok ialah interaksi dengan hasil kebudayaamn manusia yang santai padanya
melalui alat-alat komunikasi, seperti surat kabar, radio, televisi, buku, risalah, dan
lain-lainnya. Namun, pengaruh dari luar diri manusia karena interaksi diluar
kelompoknya itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya sikap atau
terbentuknya sikap baru.Factor yang turut memegang peranan ialah faktor intern
didalam diri pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihannya

12
Ibid., hal. 66
sendiri, atau minat perhatiannya untuk menerima dan mengolah berbagai pengaruh
yang datang dari luar dirinya.Jadi, dalam pembentukan dan perubahan sikap itu,
terdapat factor intern dan factor ekstern pribadi individu yang memegang peranan.
Sikap, utamanya sikap social, terbentuk dari adanya interaksi social yang
dialami oleh individu. Interaksi social mengandung arti lebih dari sekedar adanya
kontak social dan hubungannya antar individu sebagai anggota kelompok manusia.
Dalam interaksi social, terjadi hubungan saling memengaruhi antara individu yang
satu dan yang lain; terjadi hubungan timbal balik yang turut memengaruhi pola
prilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Lebih lanjut,
interaksi social itu meliputi hubungan antara individu dengan lingkungan fisik
maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya.
Untuk mengubah suatu sikap, kita harus ingat bagaimana sikap dengan pola-
polanya dibentuk. Sikap bukanlah diperoleh karena keturunan, sebagaimana telah
disinggung, tetapi dari pengalaman, lingkungan, orang lain, terutama dari
pengalaman dramatis yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam.Kita,
misalnya, mengubah sikap karyawan dengan memberikannya “pengalaman baru”
dengan kepuasan kerja. Tugas kita bukanlah menghukumnya karena perilakunya
yang negative, tetapi mengubah sikapnya yang merupakan penyebab perilakunya
itu.
Sikap seseorang sering kali mengikuti semacam logika internal, tetapi tidak
selalu logika formal yang kaku.Memang inilah sejenis psiko-logika, dan psiko-
logika inilah yang diteliti ahli psikologi social dalam label konsistensi
kognitif.Pendapat dasar konsistensi kognitif adalah kita semua berjuang agar
konsisten dalam keyakinan, sikap, dan perilaku, dan bahwa inkosistensi bertindak
sebagai iritan atau stimulus yang memotivasi kiata untuk memodifikasi atau
mengubahnya sampai mereka membentuk pakat yang koheren, bila kita dikatakan
logis. Sepanjang tahun ahli teori konsistensi telah menemukan banyak bukti
pendapat dasar ini.13

E. Teori-Teori Sikap
1. Teori Keseimbangan
Pada teori ini fokusnya terletak pada upaya individu untuk tetap konsisten
dalam bersikap dalam hidup yang melibatkan hubungan- hubungan antara
seseorang dengan dua objek sikap.Dan dalam bentuk sederhana, ketiga
elemen tersebut dihubungkan dengan :
a. sikap favorable ( baik, suka, positif )
b. sikap Unfavorable ( buruk, tidak suka, negatif )
2. Teori Konsistensi kognitif – Afektif
Pada teori ini fokusnya terletak pada bagaimana seseorang berusaha
membuat kognisi mereka konsisiten dengan afeksinya dan penilaian
seseorang terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi
keyakinannya.Sebagai contoh: Tidak jadi makan direstoran X karena
temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal padahal di belum
pernah kesana
3. Teori Ketidaksesuaian
Pada teori ini fokusnya terletak pada bagaimana individu menyelataskan
elemen – elemen kognisi, pemikiran atau struktur ( Konsonansi selaras )
dan disonasi atau kesetimbangan yaitu pikiran yang amat menekan dan
memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.dimana terdapat 2 elemen
kognitif dimana disonasi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga
menganggu logika dan penghargaan. Sebagai contoh Misalnya: ”Merokok
membahayakan kesehatan” konsonansi dengan ”saya tidak merokok”;
tetapi disonansi dengan ”perokok”.

13
4. Teori Atribusi
Pada teori ini fokusnya terletak paad bagaimana individu mengetahui akan
sikapnya dengan mengambil kesimpulan sendiri dan persepsinya tentang
situasi. Pada teori ini implikasinya adalah perubhan perilaku yang
dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa
sikapnya telah berubah. Sebagai contoh memasak setiap kesempatan baru
sadar kalu dirinya suka menyukai/ hobi memasak.[9]

F. Hubungan Sikap antara Perilaku


Terdapat 4 teori yang membahas tentang hubungan sikap dengan perilaku.
Diantaranya adalah:14
1. Teori perilaku beralasan (theory of reason action-Fishbein dan Ajzen, 1980)
Fisbein dan Ajzen berpendapat bahwa keputusan untuk melakukan sebuh
perilaku tertentu merupakan hasil dari proses yang bersifat rasional. Teori ini
juga berpendapat bahwa tingkah laku individu dapat diramalkan dari tujuan
tingkah laku yang terbentuk dari attidute towardsthe behavior yaitu sejauh
mana individu menilai posiif atau negative mengenai konsekuensi tingkah laku
tertentu, dan norma subyektif yaitu sejauh mana individu percaya bhwa
significant others menyetujui atau menolak tingkah tersebut. Contohnya adalah
individu akan melakukan tingkah laku apabila tingkah laku tersebut berdampak
positif pada dirinya dan orang lain menyuki atau menyetujui tingkah lakunya
tersebut.
2. Teori perilaku berencana (theory of planned behavior_Azjen,1991)
Teori ini hamper sama dengan teori perilaku beralasan. Namun pda teori ini
azjen menambahkan satu determinan perilaku yang disebut sebagai Perceived
Behavior Control (PBC) atau kendali perilaku yang dipersepsikan. PBC
merupakan persepsi terhadap tingkat kesulitan sebuah perilaku untuk dapat

14
dilaksanakan. PBC juga merefleksikan pengalaman masa lalu dan antisipasi
terhadapa hambatan yang mungkin terjadi ketika kita melakukan sebuah
perilaku. Menurut teori ini periaku dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: sikap, norma
subyektif dan PBC. Intensi dapat memengaruhi perilaku seseorang secara
langsung dan juga dapat menentukan apakah tingkah laku akan ditampilkan
atau tidak.
3. Attitude to Behavior Process Model (Fazio,1989)
Menurut teori ini huungan sikap dan perilaku adalah spontan. Jadi, apabila kita
dihadapkan pada sebuah kejadian atau peristiwa yang berlangsung secara cepat,
maka secara spontan sikap yang terdapat pada diri kita akan mengarah pada
perilaku. Beberapa kejadian tersebut juga dapat mengaktifkan pengetahuan kita
tentang norma sosial dan sikap sehingga keduanya akan membentuk define kita
tentang situasi (persepsi) yang akan menentukan tingkah laku yang akan kita
tampilkan. Contohnya adalah ketika kita melihat kecelakaanlalu lintas di jalan,
norma sosial kita mengenai tolong menolong yang telah diajarkan dari sejak
kecil akan mendorong kita untuk menolong korban kecelakaan tersebut.
4. Balance Theory dan Cognitive Dissonance Theory (Festinger)
Menurut teori ini tingkah laku dapat memengaruu sikap begitupun sebaliknya
sikap dapat memengaruhi tingkah laku. Menurut teori ini, kita sering menyadari
bahwa ada hal-hal yang tidak sejalan dengan diri kita yang memuat kita tidak
nyaman, dan kita akan berusaha untuk membuatnya balance dengan dua
pilihan, yaitu dengan cara mengubah sikap dan mengubah perilaku. Jadi,
apabila kita berada dalam sebuah situasi yang menekan atau menuntut
keseragaman, maka tingkah laku akan merubah sikapa dan apabila kita berada
pada situasi yang tidak menekan, maka sikap akan merubah tingkah laku.
Contoh sikap yang merubah tingkah laku: ketika kita menyukai seseorang, dan
mau berpacaran dengannya, tetapi karena mengetahui bahwa dia adalah
seorang perook dan kita tidak menyuki rokok, maka kita tidak jadi berpacaran
dengannya.
G. Merubah Sikap Melalui Komunikasi
Komunikasi adalah prasyarat kehidupan. Kehidupan manusia akan tampak
hampa atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena
tanpa komunikasi, interaksi manusia baik perorangan, kelompok ataupun
organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi
apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan
manusia (baik secara perorangan, kelompok ataupun organisasi) dalam ilmu
komunikasi disebut sebagai tindakan komunikasi.15
Tindakan komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara baik secara
verbal (dalam bentuk kata-kata baik lisan dan atau tulisan) ataupun non verbal
(tidak dalam bentuk kata-kata misalnya dalam gestur, sikap, tingkah laku, gambar-
gambar dan bentuk-bentuk lainnya yang mengandung arti). Tindakan komunikasi
dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Berbicara secara tatap muka, berbicara melalui telepon, menulis surat kepada
seseorang, sekelompok orang atau organisasi adalah contoh-contoh dari tindakan
komunikasi langsung. Sementara yang termasuk komunikasi tidak langsung adalah
tindakan komunikasi yang dilakukan tidak secara perorangan, tetapi melalui
medium atau alat perantara tertentu. Misalnya penyampaian informasi melalui surat
kabar, majalah, radio, TV, film, pertunjukan kesenian dsbnya.
Pada dasarnya manusia telah melakukan tindakan komunikasi sejak ia lahir ke
dunia. Tindakan komunikasi ini terus menerus terjadi selama proses kehidupannya.
Dengan demikian, komunikasi dapat diibaratkan sebagai urat nadi kehidupan
manusia. Kita dapat membayangkan bagaimana bentuk dan corak kehidupan
manusia didunia ini seandainya saja jarang atau hampir tidak ada tindakan

15
komunikasi antara satu orang/sekelompok orang dengan orang/kelompok orang
lainnya.16
Komunikasi juga merupakan salah satu fungsi dari kehidupan manusia. Fungsi
komunikasi dalam kehidupan menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi
seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya, dan perasaan hati
nuraninya kepada orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Melalui
komunikasi seseorang dapat membuat dirinya untuk tidak terasing/terisolasi dari
lingkungan disekitarnya. melalui komunikasi seseorang dapat mengenali orang
lain. melalui komunikasi seseorang dapat mengurangi atau menghilangkan
perasaan tegang karena berbagai permasalahan yang dihadapinya. Melalui
komunikasi seseorang dapat mengisi waktu luang. Melalui komunikasi seseorang
dapat menambah pengetahuan dan mengubah sikap serta perilaku kebiasaanya.
Melalui komunikasi seseorang juga dapat berusaha untuk membujuk dan atau
memaksa orang lain agar berpendapat, bersikap atau berperilaku sebagaimana yang
diharapkan. Singkat kata, komunikasi mempunyai banyak kegunaan dalam
kehidupan manusia.

H. Perubahan Dan Pengubahan Sikap Melalui Komunikasi Persuasif


Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam
suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata
diperlukan factor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Adapan
berikut ini akan diuraikan tentang perubahan sikap dan pengubahan sikap yaitu:
1. Perubahan sikap, perubahan sikap harus didahului oleh suatu stimulus dan
stimulus (langkah awal) akan lebih berarti apabila diberikan penguatan. Melalui
stimulus yang diperkuat akan akan menumbuhkan adanya perhatian.
Membangkitkan perhatian merupakan langkah awal dalam melakukan

16
perubahan sikap. Untuk membangkitkan perhatian itu ada beberapa usaha
diantaranya:
a. Argumentasi harus jelas, yaitu memberikan suatu pernyataan atau alasan
yang jelas mengapa menganjurkan suatu perubahan sikap kepadanya.
b. Sumber jelas dan relevan, yaitu sumber informasi harus kualifaid dan dapat
dipertanggungjawabkan.
c. Cara dan komunikasi yang menarik dan akrab, dapat menggunakan
komunikasi dua arah dan sesuai dengan kondisi komunikasi.
2. Langkah kedua pengertian (comprehension), bila seseorang sudah memahami
dan mengerti tentang sikap yang diharapkan, selanjutnya individu akan
menggunakan setiap aspek psikologinya untuk menyikapi perubahan atau
perubahan itu. Untuk tercapainya pengertian diperlukan hal-hal berikut;
a. Informasi jelas, informasi yang diharapkan sebagai bentuk perubahan sikap
disampaikan secara jelas, apa, mengapa, bagaimana dan untuk apa
perubahan sikap itu, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan keraguan
yang mengakibatkan kaburnya bentuk perubahan yang diharapkan.
b. Berkepentingan, perubahan sikap itu benar-benar diberikan kepada individu
yang membutuhkan dan berkepentingan. Sesuatu yang dibutuhkan biasanya
akan semakin menarik untuk dikaji dan dihayati.
c. Keseimbangan, membahas hal-hal yang fositif dan negative dari sikap yang
diharapkan, bukan hanya segi fositifnya saja.
d. Kepercayaan, bukan hanya percaya kepada tokoh pembaharu, seperti
peminpin formal dan informal, namun juga bentuk perubahan itu dipercayai
dan memberikan suatu yang bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya, baik
untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat.
3. Langkah ketiga, langkah ini merupakan penerimaan proses ahir dalam
perubahan sikap,walaupun wujud dari perubahan sikap itu masih di pengaruhi
bebrapa factor, dalam langkah ke 3 ini terdapat beberapa kegiatan untuk sampai
kpd pengambilan keputusaan yaitu:
a. Ada konsep, ide dan gagasan merupakan salah satu dari komponen sikap
individu. Karna itu sangat dibutuhkan dalam penerimaan perubahan atau
pembaharuan. Konsep muncul atas pengalaman, selanjutnya di intropeksi
melalui kognisi dan sisten nilai dan norma yang berlaku sehingga timbul
pengertian dan seterusnya mengerti dengan berbagai kelemahan dan
keunggulannya atas dasar efaluasi dan informasi. Melalui penalaran barulah
sampai pada suatu konsep yang ahirnya konsep itu dipercayai dan diyakini,
bahwa perubahan itu bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.
b. Terjadinya keputusan, keputusan akan perubahan sikap individu itu sendiri.
Pengambilan keputusan setelah mengkaji berbagai kemungkinan manfaat
dan melakukan pertimbangan dari berbagai bahan masukan dari dalam atau
dari luar dirinya.
c. 2. Pengubahan sikap, komunikasi merupakan media utama dalam
mengubah sikap di samping persuasi, edukasi, dan teladan. Sebagai
pembicara tidak mungkin tidak mungkin hanya memakai suara dan bahasa
saja, termasuk menggunakan seluruh tubuh termasuk otot, emosi, fikiran
dan kepribadiannya. Albert Meharabien dalam Ibrahim Elfiky, menemukan
sebuah konsep blirian dalam komunikasi 3 V (Verbal,Vokal,Visual).
d.
e. a. Verbal, aspek aspek lisan hanya mencakup 7% dari keseluruhan proses
komunikasi, kata-kata tidak mempunyai makna kecuali makna yang kita
berikan kepadanya. Kata-kata tidak memiliki energi selain energy yang kita
berikan melaluinya. Anda sunggu tidak dapat mengontrol persepsi dan
pengertian orang lain. Tetapi tentu saja efektifitasnya bisa mencapai angka
100% bagi beberapa orang. Oleh karena itu dalam berkomunikasi berhati-
hatilah memilih kata-kata.
f. b. Vocal, vocal bernilai lebih 38%. Cukup beralasan jika warna suara
individu dimaknai berbeda dari pesan yang di simbolkan oleh kata-kata
pesan vocal lebih kuat efeknya dari pada pesan verbal. Ucapan yang sama
bisa bermakna berbeda ketika seseorang mengujarkan atau
mengucapkannya dengan berbagai warna suara.
g. c. Visual, aspek visual memiliki 55% dari proses komunikasi
keseluruhan. Aspek verbal dan vocal jika keduanya di gabungkan tidak
akan mampu menandingi hebatnya pengaruh ekspresi wajah dalam proses
komunikasi.
h. Pengetahuan tentang V 3 mengajarkan bagaimana kata-kata dapat memberi
pengaruh fositif. Untuk itu dituntut credibility intentions dari komunikator,
untuk mendapatkan ridibity intentions diperlukan:
i. a) Memahami posisi, yaitu authority dan kemampuan harus jelas sebagai
individu yang mempengaruhi dan merubah sikap orang lain. Pemegang
authority biasanya menjadi perhatian tersendiri bagi komunikan.
j. b) Dapat dipercaya dan disegani atau sebaliknya akan mempengaruhi
proses perubahan sikap.
k. c) Memiliki perencanaan atau terprogram, komunikasi yang dilakukan
secara mendadak terkesan tidak memilki persiapan dan perencanaan.
Karena itu persiapan diri baik mental, penampilan dan materi sangan
diperlukan.
l. d) Intensitas, bukan hanya bergantung pada kuantitas berkomunikasi
namun dituntut bobot informasi yang diberikan. Informasi yang jelas dan
dipercaya biasanya menggambarkan intensitas isi dari pesan tersebut.
Intensitas juga dapat bermakna intensif, maksudnya harus memenuhi
persyaratan komunikasi yang baik, seperti pesan yang jelas, cara
penyampaian yang mudah diterima, menggunakan media yang tepat, sesuai
dengan latar belakang komunkan, keluasan ilmu dan pengetahuan serta
keterampilan komunikator.
m. e) Motivasi, stimulus atau pesan yang disampaikan mempunyai nilai
motivasi yakni dapat menyentuh kebutuhan, keinginan, harapan
mengandung makna bagi peningkatan pendapatan komunikan. Untuk itu
diperlukan kesamaan bahasa, argumentasi yang jelas dan menggunakan
komunikasi dua arah (dialogis)
n. f) Gunakan variasi media komunikasi, seperti verbal, vocal dan visual,
system lingkunga, kelompok media cetak elektronik, media drama dan lain-
lain.[10]

DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Pustaka Setia:Bandung
Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Surabaya: Aditama
Sarwono, Sarlito W dan Eko A.Meinarno. 2011. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba
Humanika
Walgito, Bimo. 1990. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar) Edisi Revisi.Yogyakarta:
Andi Yogyakarta
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Pustaka Setia:Bandung
Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2010. Teori Kepribadian. Salemba Humanika:Jakarta
B. Saran
Adapun saran dari penulis adalah gunakanlah makalah ini dengan sebaik-
baiknya dan jadikanlah sebagi bahan referensi untuk makalah yang sejenis.

DAFTAR PUSTAKA
M. Luddin Abu Bakar 2011. Psikologi Konseling. Cipta Pustaka Media
Perintis. Bandung
Rahman Agus Abdul. 2014. Psikologi Sosial. PT. RajaGrafindo Persada.
Jakarta.
Sobur Alex. 2011. Psikologi Umum. CV Pustaka Setia. Bandung
Walgito Bimo. 1978. Psikologi Sosial (Suatu Penagantar). Yogyakarta: ANDI.
Yogyakarta
http://i-purnama.blogspot.co.id/2015/11/makalah-psikologi-tentang-sikap.html
http://makalahtentangsikapversiedo.blogspot.co.id/
https://bukunnq.wordpress.com/2012/03/06/makalah-sikap/

[6] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Penagantar), ( Yogyakarta: ANDI


Yogyakarta: 1978) Hal. 115-116
[7] Alex Sobur, Psikologi Umum. (Bandung :CV Pustaka Seti, 2011)hal.162
[8] http://makalahtentangsikapversiedo.blogspot.co.id/
[9]https://bukunnq.wordpress.com/2012/03/06/makalah-sikap/
[10] Abu Bakar M. Luddin, Psikologi Konseling. (Bandung, Cipta Pustaka Media
Perintis, 2011) hal. 140-145