Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I

PENDAHULUAN

Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia yang cukup penting karena terdapat
dalam jumlah yang cukup besar dengan wilayah penyebarannya yang luas di
Indonesia (Handiwirawan dan Subandryo. 2004) dan merupakan sapi asli Pulau
Bali. Sapi Bali memiliki ciri khusus seperti adanya warna putih pada kaki yang
mirip atau menyerupai kaos kaki putih dan adanya warna putih membulat ada
bagian pantatnya yang merupakan ciri khas dan tidak dimiliki oleh sapi lain.
Keunggulan lain sapi Bali adalah memiliki tulang yang kecil sehingga sangat
disukai jagal karena dengan tulang kecil ini persentase daging menjadi lebih
banyak. Tetapi tulang kecil ini juga menjadi kelemahan sapi Bali yang berukuran
besar misalnya diatas 500 kg karena tulang yang kecil dan berat badan yang besar
menjadikan kaki sapi Bali mudah patah saat turun dari truk.

Sapi Pada dasarnya merupakan hewan liar yang telah didomestikasikan


untuk keperluan menghasilkan produk sesusai kebutuhan manusia. Dapat
dipastikan bahwa semua jenis ternak yang telah didomestikasikan itu masih
mempunyai sifat-sifat dasar, disamping itu ternak-ternak besar (seperti sapi)
mempunyai tenaga ekstra yang sangat kuat jika dibandingkan dengan kekuatan
manusia, sehingga untuk keperluan pengelolaan sehari-hari seharusnya bisa
menguasai teknik-teknik pengusaan ternak. Dalam menangani sapi, peternak perlu
memiliki pengetahuan mengenali tali temali terlebih dahulu agar bisa merestrain
dengan baik (Santosa, 2010).

Penanganan ternak sapi membutuhkan keterampilan. Dalam hal ini,


dukungan pengetahuan yang berkaitan erat dengan cara penanganan (misalnya
cara menggunakan tali, cara mengikat, serta cara menggunakan alat-alat), perlu
dipahami terlebih dahulu. Hal ini penting sebab penanganan ternak sapi sangat
jauh berbeda dengan penanganan ternak yang lain. Keberadaan tanduk pada sapi
bali dan juga sifat sapi yang suka menendang juga perlu diperhatikan, maka
dibutuhkan suatu teknik atau keterampilan khusus untuk menangani (handling) sapi
2

terutama ketika akan dilakukan perlakuan khusus sehingga ternak dibawa keluar
kandang. Untuk itu perlu dilakukan restrain. Masyarakat Indonesia telah mengenal
cara untuk menangani (restrain) hewan secara fisik menggunakan tali sejak lama.
Masyarakat Madura, Batak, Toraja, Jawa, Sumba, dam Bali memiliki cara budaya
beternak yang khas untuk menangani hewan, khususnya ternak sapi. Khusus untuk
masyarakat Bali, mereka telah menggunakan tali telusuk untuk menangani Sapi
Bali yang dipeliharanya.
Tali telusuk atau tali keluh adalah tali dengan ukuran 6-8 mm yang dipasang
simpul tertentu yang melingkari tulang tengkorak yang dipasang menembus sekat
hidung dan digunakan untuk mengendalikan sapi (Ferdaniar et al. 2012).
Penggunaan tali telusuk pada sapi bali bagi masyarakat Bali yang bermata
pencaharian sebagai peternak merupakan hal yang lumrah. Bukan hanya pada
peternak di Bali, tetapi pada masyarakat di daerah lainnya yang berprofesi sebagai
peternak sapi juga menggunakan tali telusuk. Tali telusuk mempunyai fungsi
sebagai cara untuk mengendalikan sapi. Teknik pemasangan tali telusuk cukup
sederhana akan tetapi hal inilah yang menjadi ciri khas dari pemeliharaan sapi. Lain
daerah lain pula cara pemasangan telusuk pada sapi. Pemasangan tali telusuk oleh
peternak dilakukan sendiri dengan cara yang sederhana. Berdasarkan jurnal
Ferdaniar et al. 2012 hasil wawancara dengan peternak sapi (Kasim, 2011) di
Banjar Celagi Basur, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, saat pemasangan tali telusuk
pertama-tama sapi diikat di pohon agar tidak banyak bergerak. Tali yang digunakan
untuk telusuk pada ujung tali dibakar sedikit agar mengerucut selanjutnya
dipasangkan kawat kecil. Ujung yang runcing tersebut dimasukkan pada hidung
untuk melubangi sekat hidung (septum nasales) secara perlahanlahan. Setelah ujung
ranting yang runcing dimasukan ke sekat hidung, ujung tali yang sudah diberi kawat
dimasukkan ke bagian runcing ranting. Setelah tali terlihat dari sisi hidung yang
lain, tali tersebut ditarik secara perlahan dan disimpul pada tali sebelumnya.
3

BAB II

ISI

Pada praktikum lapangan ini, kelompok kami menemukan seekor sapi milik
Anak Agung Ngurah Suarsa yang berlokasi di Gang Jepun, Desa Mengwitani,
Badung. Sapi Bali ini lahir tanggal 17 Mei 2017, berjenis kelamin betina, dengan
umur 1,5 tahun, dan berwarna merah bata. Menurut kalender Bali, sapi ini lahir
pada Buda, Paing, Krulut. Beliau membeli bibit sapinya di Pasar Beringkit, yang
penjualnya adalah teman beliau yang bernama Wayan Gunarsa. Sapi ini dibeli
beliau dalam keadaan sudah ditelusuk oleh Pak Wayan Gunarsa. Sapi ini ditelusuk
saat berumur 6 bulan. Menurut kami, simpul tali telusuk yang digunakan di sapi ini
adalah jenis simpul Sheet Bend Knot . Simpul ini tetera dalam jurnal Ferdaniar et
al (2012).

Budworth (2006) menjelaskan bahwa Sheet Bend Knot diperkirakan sudah


diketahui sejak zaman Neolithik, sisa jaring pada zaman batu yang ditemukan
bersamaan dengan simpul jala yang menyerupai Sheet Bend. Simpul ini digunakan
untuk menggabungkan dua tali meskipun mempunyai ukuran diameter tali yang
berbeda. Dalam pemasangan sheet bend cukup mudah dan memiliki keamanan.
Cara pemasangan sheet bend yang tepat dan lebih aman dapat dilakukan pada salah
satu sisi yang sama pada simpul (Findley, 1999).
4

Simpul ini juga sudah kami praktikkan, dimana langkah – langkah pembuatan
simpul ini adalah sebagai berikut :

1 2 3

4 5 6

7 8
5

Foto kelompok bersama sapi milik Pak Ngurah Suarsa.


6

BAB III

PENUTUP

Jadi dapat disimpulkan bahwa tali telusuk sapi Pak Ngurah Suarsa adalah
jenis simpul Sheet Bend Knot yang sudah tertera pada jurnal FERDANIAR
FAKHIDATUL ILMI, I WAYAN BATAN, GEDE SOMA. Karakteristik Simpul
Tali Telusuk Sapi Bali dan Tali Keluh Sapi di Jawa. Indonesia Medicus Veterinus
2012 1(3): 309-319
7

DAFTAR PUSTAKA

Budworth, G. 2006. The Complete Book of Knots. Bounty Books, London

FERDANIAR FAKHIDATUL ILMI, I WAYAN BATAN, GEDE SOMA.


Karakteristik Simpul Tali Telusuk Sapi Bali dan Tali Keluh Sapi di Jawa. Indonesia
Medicus Veterinus 2012 1(3): 309-319

Findley, G L. 1999. Sheet Bend. http://www.ropeworks.biz/reader/sheben.pdf.


Tanggal Akses 9 November 2018.

Handiwirawan dan Subandriyo. 2014. Potensi dan Keragaman Sumber Daya


Genetik Sapi Bali. Wartazoa. Vol 14 (3): 107 – 115

Kasim. 2011. Komunikasi Pribadi Peternak Sapi Bali di Bukit Jimbaran.

Anda mungkin juga menyukai