Anda di halaman 1dari 41

PETUNJUK PRAKTIKUM

MATAKULIAH:
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
(ANATOMI TUMBUHAN)

Dr. ENDANG KARTINI A.M., M.S.Apt.


Drs. SULISETIJONO, M.Si

Tim Pengampu SPT 1

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI

2019

i
DAFTAR ISI
halaman

DAFTAR ISI …………………………………………………………… ii


KATA PENGANTAR ………………………………………………… iii
TATA TERTIB ………………………………………………………… iv
REAGENSIA YANG DIPERLUKAN UNTUK PENGAMATAN
MIKROSKOPIK …………………………………………………….… 1
ALAT-ALAT YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT
PREPARAT DAN MENGAMATI PREPARAT ……………………… 3
1. SEL …………………………………...…………………………………. 7
2. PARENKIMA ………………………………………………………….. 12
3. JARINGAN PENGUAT ……………………………………………….. 15
4. JARINGAN ANGKUT …………………………………………….…… 18
5. JARINGAN PELINDUNG …………………………………...………… 21
6. AKAR ………...…………………………………………………………. 24
7. BATANG …………………….…………………………………………. 27
8. DAUN ........................................................................................................ 29
9. BUNGA …………………….…...………………………………………. 32
10. BUAH DAN BIJI ...................................................................................... 35

10. BUAH DAN BIJI ...................................................................................... 33

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya


petunjuk praktikum ini dapat diselesaikan. Buku petunjuk praktikum Strukur dan
Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi Tumbuhan) ini dimaksudkan untuk
membantu para mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang
(UM) yang mengikuti matakuliah dan praktikum Strukur dan Perkembangan
Tumbuhan 1 (SPT 1) dan mahasiswa dari fakultas lain yang ingin mempelajari
Anatomi Tumbuhan.
Buku ini merupakan perbaikan dari petunjuk praktikum SPT 1 (Anatomi
Tumbuhan) sebelumnya. Beberapa bahan praktikum diambil dari tanaman yang
ada di sekitar kita yang sesuai dengan perkuliahan. Cara pembuatan reagensia
juga tercantum dalam petunjuk ini agar mahasiswa dapat menyiapkan sendiri.
Pengenalan mikroskop, cara pembuatan preparat, dan mikrometri sudah dimuat
pada Sipejar matakuliah SPT 1, harap dipelajari sendiri. Melalui praktikum
mahasiswa diharapkan lebih mudah memahami konsep-konsep yang dipelajari
dalam matakuliah SPT 1 (Anatomi Tumbuhan).
Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pemakai agar buku ini dapat
dipergunakan sebagaimana semestinya. Penulis dengan senang hati akan
memperhatikan kritik dan saran tersebut guna penyempurnaan buku ini.

Malang, Januari 2019


Penulis

Tim SPT 1 (Anatomi Tumbuhan)

iii
TATA TERTIB

Peraturan yang perlu ditaati demi kelancaran praktikum, mahasiswa:


1. bon alat dan bahan paling lambat 3 hari sebelum praktikum, sesuai dengan
peraturaan laboratorium,
2. datang 5 menit sebelum praktikum untuk menyiapkan alat,
3. memakai jas praktikum (jas laboratorium) di dalam ruang praktikum
(laboratorium),
4. membawa perlengkapan seperti gelas benda, gelas penutup, silet baru, lap untuk
gelas benda dan gelas penutup, pensil HB atau 2B, penghapus, mistar, bolpoin,
dan buku praktikum setiap kali praktikum,
5. tidak diperbolehkan membawa laporan praktikum dari offering lain atau
angkatan sebelumnya di ruang praktikum,
6. mengikuti seluruh kegiatan praktikum, jika tidak dapat hadir atau mengikuti
seluruh kegiatan praktikum pada hari itu harus memberitahu dengan surat dan
memberikan keterangan atas ketidakhadirannya,
7. mengerjakan laporan praktikum dalam buku gambar (buku laporan praktikum)
yang tidak boleh dibawa pulang, setelah selesai praktikum seluruhnya buku
laporan tersebut baru boleh diminta kepada pembimbing,
8. sebelum dan sesudah praktikum mengikuti tes yang hasilnya digunakan untuk
penghitungan nilai akhir,
9. mengumpulkan tugas terstruktur sebelum praktikum dan dalam waktu satu
minggu setelah jadwal pemberian tugas,
10. menyediakan bahan praktikum, jika bahan tidak tersedia pada waktu
praktikum, praktikum dianggap selesai,
11. tidak mengadakan praktikum susulan, dikarenakan padatnya jadwal dan
penggunaan mikroskop.

iv
REAGENSIA YANG DIPERLUKAN UNTUK PENGAMATAN
MIKROSKOPIK
Pengamatan mikroskopik memerlukan beberapa reagensia untuk
memperjelas pengamatan sehingga obyek yang akan diamati dapat terlihat.
Preparat segar pada umumnya mempunyai ketebalan tertentu sehingga belum
memadai untuk membedakan komponen sel dengan jelas. Gangguan pengamatan
dalam preparat segar juga disebabkan oleh zat-zat yang terdapat dalam bahan.
Gangguan dalam preparat segar dapat dikurangi dengan penambahan reagen
tertentu yang dapat melarutkan beberapa zat penganggu. Reagensia juga dapat
digunakan untuk mendeteksi komponen-komponen penyusun sel.
Reagensia yang sering digunakan dalam pengamatan mikroskopik adalah
sebagai berikut.
1. Iodium dalam air (IKI)
Larutan ini dapat dipakai untuk mendeteksi butir amilum yang terdapat di
dalam preparat, dapat digunakan pula sebagai zat warna untuk inti sel,
flagella, dan silia. Adanya amilum pada bahan ditandai dengan warna ungu
kehitaman. Cara pembuatannya: 1 g Iodium (padat) ditambah 2 g Potasium
Iodida (KI) atau Sodium Iodida (Na) digerus dalam mortar, kemudian
diencerkan dengan aquadest sedikit demi sedikit sampai 100 ml. Larutan
selanjutnya disimpan di tempat gelap.
2. Kloral Hidrat (Chloral Hydrate)
Larutan ini diperlukan untuk menjernihkan preparat (clearing agent). Indeks
bias larutan ini 1,44-1,48. Kloral hidrat berbentuk kristal putih bening dan
bersifat higroskopis, maka penyimpanannya harus kedap terhadap uap air
karena akan mencair. Larutan kloral hidrat dibuat dengan menimbang 50 g
kloral hidrat dilarutkan dalam 20 ml aquadest, sebaiknya larutan disimpan
dalam botol gelap. Larutan ini dapat melarutkan butir amilum sehingga jangan
digunakan untuk pengamatan bentuk butir amilum. Dinding sel akan tampak
jelas setelah penambahan larutan ini. Kristal kalsium oksalat juga larut tetapi
sangat lambat biasanya sekitar 3-4 minggu terendam dalam larutan ini, kristal
kalsium oksalat baru larut sempurna.
3. Asam Asetat Glasial
Larutan ini mendeteksi adanya kristal kalsium oksalat dalam sel. Asam asetal
glasial tidak dapat melarutkan kristal Ca oksalat.
4. Asam Klorida (HCl) Pekat: 25-31%
Larutan ini dipergunakan untuk mendeteksi kristal Ca oksalat dan kalsium
karbonat dalam sel. Pembuatan larutan asam kuat dengan konsentrasi tertentu
dilakukan dengan cara memasukkan aquadest terlebih dahulu ke dalam labu
takar kemudian menuangkan asam kuat yang akan diencerkan secara perlahan-
lahan melalui dinding tempat larutan sampai batas volume yang diinginkan.
5. Floroglusin (Phloroglucinol)
Larutan ini dapat digunakan untuk mendeteksi lignin jika ditambah HCl pekat
dengan volume sama. Penambahan HCl dan floroglusin dilakukan bersama
pada preparat, untuk mempercepat reaksi kadang-kadang perlu pemanasan,
tetapi preparat harus dijaga agar tidak sampai kering. Larutan ini dibuat
dengan cara melarutkan 1 g floroglusin dalam 100 ml alkohol 95%. Preparat
yang mengandung lignin akan berwarna merah.

1
6. Reagen Millon
Larutan ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya butir aleuron dalam
preparat. Cara membuatnya: sebanyak 1 ml Hg (merkuri) dilarutkan dalam 9
ml HN03 pekat berasap, jagalah suhu tetap dingin selama terjadi reaksi
(misalnya tempatnya dibungkus lap basah, atau dimasukkan ke dalam air).
Setelah merkuri larut sempurna, volumenya diencerkan dengan aquadest yang
sama banyak. Protein akan berwarna kuning atau merah bata jika bereaksi
dengan cairan ini.
7. Sudan III atau IV
Larutan ini digunakan untuk mendeteksi minyak dan suberin atau kutin yang
terdapat pada preparat. Cara membuatnya: sebanyak 0,01 g Sudan III
dilarutkan dalam alkohol 70% 5 ml kemudian ditambah 5 ml gliserin. Suberin
dan kutin akan berwarna merah, meskipun dipanaskan warna merah tetap ada.
Minyak dan minyak atsiri juga akan berwarna merah tetapi bila dipanaskan
warna merah akan hilang.
8. Asam Pikrat
Larutan ini mendeteksi adanya butir aleuron dalam preparat, selain itu berguna
sebagai larutan fiksatif jaringan berkitin. Cara membuatnya: sebanyak 1 g
asam pikrat dalam 95 ml aquadest. untuk melihar butir aleuron dan jamur
(fungi) digunakan larutan dalam alkohol. Larutan ini mengubah butir aleuron
berwarna kuning.
9. Reagen Mayer
Reagen ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya alkaloid. Cara
pembuatannya: a. sebanyak 1,36 g merkuri (Hg II) diencerkan dengan 60 ml
aquadest; 5 g KI dilarutkan dalam 20 ml aquadest; setelah itu dicampurkan a
dan b dan ditambah aquadest sampai volume 100 ml. Alkaloid akan
mengendap, endapan yang terbentuk berwarna putih.
10. Biru Metilen
Larutan ini dapat digunakan untuk mendeteksi sel yang hidup. Cara
pembuatannya: sebanyak 1 g biru metilen dilarutkan dalam alkohol 70%
(aquadest) sampai volume 100 ml. Jaringan yang hidup akan berwarna biru.
11. Feri Klorida (FeCl3)
Larutan ini digunakan untuk identifikasi tanin yang terkandung dalam
preparat. Cara pembuatannya: sebanyak 5 g FeCl3 dilarutkan dalam aquadest
sampai 100 ml. Sebaiknya larutan ini disimpan dalam botol gelap. Adanyan
tanin ditandai dengan munculnya warna biru-kehitaman.
12. Tinta Bak
Tinta ini digunakan untuk mendeteksi adanya lendir dalam preparat. Sel lendir
tidak bereaksi dengan tinta bak sehingga sel lendir akan berwarna jernih di
antara sel-sel yang berwarna hitam.
13. Alkohol 70%
Larutan ini digunakan untuk melarutkan minyak dalam preparat dan klorofil.
14. Gliserin 5-10%
Larutan ini digunakan untuk mengawetkan preparat.
15. Kalium Hidroksida 3%
Larutan ini digunakan untuk menjernihkan preparat supaya dapat diamati
dengan jelas.

2
16. Anilin Sulfat
Larutan ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya lignin. Lignin akan
berwarna kuning. Cara pembuatannya: sebanyak 1 g aniline sulfat dilarutkan
dalam 10 ml asam sulfur (O,1 N) kemudian ditambahkan 89 ml alkohol 70%

Catatan:
selain dengan kloral hidrat, leaf clearing dapat dilakukan dengan merendam
potongan daun dengan alkohol 70%, kalau perlu dilakukan pemanasan di atas
water bath. Setelah larutan berwarna hijau, alkohol dibuang, diganti dengan
alkohol yang baru sampai alkohol tidak berwarna lagi. Selanjutnya daun yang
sudah tidak berwarna ditambah dengan KOH 10%, direndam selama 1-2 jam,
segera KOH dibuang kemudian dicuci dengan aquadest tiga kali dan diberi larutan
gliserin 5% untuk mengawetakan preparat. Preparat ini dapat dipergunakan untuk
menghitung kristal Ca oksalat, stomata, dan sebagainya.

ALAT-ALAT YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT


PREPARAT DAN MENGAMATI PREPARAT

Peralatan yang harus selalu disediakan setiap kali menjalankan praktikum dan
dikembalikan dalam keadaan bersih. Adapun alat-alat tersebut adalah.
1. Kobokan
Kobokan diperlukan untuk tempat air bersih yang akan dipergunakan untuk
medium preparat.
2. Pipet Tetes
Pipet tetes dengan ukuran pendek dan panjang diperlukan untuk mengambil
air atau reagensia yang diperlukan. Mohon diingat setiap reagen harus
disediakan satu pipet tersendiri supaya reagen tidak saling tercampur.
3. Kuas Kecil
Kuas digunakan untuk mengambil preparat atau air. Ingat kuas tidak
diperbolehkan untuk mengambil reagen.
4. Jarum Preparat
Jarum preparat digunakan untuk mengambil preparat seperti serbuk sari,
spora, atau sebagainya.
5. Pinset
Ada dua jenis pinset, yaitu pinset berujung tumpul dan runcing. Pinset dengan
ujung tumpul digunakan untuk memegang gelas benda pada waktu
pemanasan, sedang yang berujung runcing digunakan untuk mengambil
sayatan epidermis yang akan dijadikan preparat.
6. Alat pemotong
Ada dua macam yang dapat digunakan yaitu pisau cukur dan silet. Keduanya
dapat digunakan untuk mengiris preparat dengan ketebalan yang memadai
untuk pengamatan mikroskopik.
7. Lampu Spiritus
Beberapa reaksi mikrokimia memerlukan pemanasan, maka lampu spiritus
digunakan untuk tujuan tersebut.

3
8. Gelas Arloji
Gelas arloji digunakan untuk menampung preparat yang akan dipilih sesuai
dengan ketebalannya.
9. Empulur Ketela Pohon
Empulur ketela pohon digunakan sebagai alat bantu untuk memegang bahan
yang akan dibuat preparat. Bahan yang perlu dibuat dengan bantuan empulur
adalah bahan yang tipis atau berukuran kecil. Empulur ketela pohon dapat
digunakan setelah dikeringkan terlebih dahulu.
10. Gelas Benda dan Gelas Penutup
Keduanya selalu dipakai berpasangan. Gelas benda lebih tebal dan besar
mempunyai ukuran standar 25 x 75 mm (1 x 3 inchi); sedangkan gelas
penutup lebih tipis dan berukuran lebih kecil. Ukuran gelas penutup
bermacam-macam, di antaranya: 22 x 22 mm, 22 x 40 mm, atau berbentuk
lingkaran dengan diameter 18 mm atau 22 mm.
11. Kertas Penghisap
Kertas penghisap biasanya berasal dari potongan kertas saring atau kertas
merang. Kertas penghisap digunakan untuk menghisap cairan dari gelas benda
dan membersihkan sisa medium yang berada di luar gelas penutup.
12. Lap flanel yang digunakan untuk membersihkan tubuh mikroskop.
13. Lap biasa yasng digunakan untuk gelas benda dan gelas penutup.
14. Kertas lensa yang digunakan untuk membersihkan lensa obyektif, okuler, dan
cermin mikroskop.
15. Alat pokok yang digunakan dalam pengamatan preparat adalah mikroskop.

4
Gambar 1. Format Penulisan Buku Laporan Praktikum

5
6
1. SEL
A. Dasar Teori
Sel merupakan unit dasar umum dari struktur organik. Sel tumbuhan diartikan
sebagai suatu kehidupan kecil yang mempunyai batas nyata atau dinding sel, di
dalamnya terjadi reaksi-reaksi kimia yang rumit (Pandey, 1980). Sel juga dikatakan
sebagai kesatuan struktur fisiologi yang terkecil dari organisme hidup. Sel tumbuhan
pada dasarnya terdiri dari protoplas yang dikelilingi dinding sel. Dinding sel biasanya
dianggap bagian mati sedangkan protoplas adalah bagian hidup dari sel.
Protoplas terdiri dari komponen protoplasmik dan nonprotoplasmik. Komponen
protoplasmik ada yang bersifat cair yaitu sitoplasma. Sitoplasma merupakan substansi
setengah cair lebih pekat (viscous) dari air dan bening (tembus cahaya; translucent)
sehingga sukar dilihat oleh mata meskipun telah menggunakan mikroskop. Sitoplasma
dapat dilihat dengan adanya aliran plasma sebagai indikator dari sel hidup. Aliran
plasma dapat berlangsung dalam satu arah, disebut rotasi; ataupun lebih dari satu arah,
disebut sirkulasi. Sitoplasma memenuhi ruang sel hidup dan di dalamnya terdapat
organel-organel serta vakuola. Bagian lain (organel) yang terdapat di dalam sitoplasma
dan dapat terlihat dengan mikroskop cahaya di antaranya inti sel, kloroplas, leukoplas,
kromoplas. Bagian lain seperti retikulum endoplasmik, mitokondria, diktiosoma,
ribosoma, sferosoma sukar dilihat dengan mikroskop biasa. Komponen
nonprotoplasmik yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya adalah vakuola yang
berisi cairan sel dan kadang-kadang juga zat warna. Di dalam cairan vakuola dapat
terlarut berbagai zat seperti gula, berbagai garam, protein, alkaloida, zat penyamak, dan
zat warna. Zat ergastik lain yang bersifat padat dan dapat terlihat antara lain butir
aleuron, butir amilum yang juga bermacam-macam bentuknya, dan kristal kalsium
oksalat dengan beberapa bentuk. Benda ergastik seperti lendir, tetes minyak, tanin dapat
dilihat dengan menggunakan reagen tertentu.

B. Tujuan
1. Mengamati bentuk-bentuk sel dan komponen-komponen sel seperti dinding sel dan
lumen sel.
2. Mengamati isi sel terutama komponen protoplasmik seperti inti, kloroplas, dan
plastida lain, aliran sitoplasma.
3. Mengamati komponen nonprotoplasmik penyusun sel antara lain vakuola dan isinya,
benda-benda ergastik misal macam-macam bentuk kristal kalsium oksalat, butir
amilum, lendir, minyak, butir aleuron.
4. Membedakan sel hidup dan sel mati.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet tetes,
dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) empulur ketela pohon, b) buah Capsicum annum, c) tanaman Hydrilla verticillata, d)
bunga Rhoeo discolor, e) daun Rhoeo discolor, f) tangkai daun kuping gajah, g) umbi

7
kentang, h) buah jagung, i) rimpang kencur, j) buah pir, k) batang bayam, l) tangkai
daun Begonia,
2. preparat awetan:
m) penampang membujur batang Pinus merkusii
n) akar Alium cepa fa ascalonicum
3. reagen:
larutan IKI, larutan floroglusin, HCL 25%, larutan gula 10%, asam asetat glasial

D. Tugas

Pertemuan I
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) Irisan melintang empulur ketela pohon. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di
kaca benda A dan tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah bentuk sel empulur
ketela pohon dengan mikroskop cahaya. Gambarlah pada buku laporan dan beri
keterangan lengkap tentang bentuk sel dan bagian-bagian selnya.
b) Irisan melintang dari buah Lombok. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di kaca
benda B dan tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah bentuk sel dan isi selnya.
Gambarlah pada buku laporan dan beri keterangan lengkap tentang bentuk sel dan
bagian-bagian selnya.
c) Ambillah daun Hydrilla verticillata dengan cara mengambil sehelai daun Hydrilla
verticillata terutama bagian pucuk. Letakkanlah daun pada tetesan air di kaca benda
C dan tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah aliran plasma yang tampak dan
tentukan tipenya. Gambarlah pada buku laporan dan beri keterangan lengkap
tentang bentuk sel dan bagian-bagian selnya.
d) Ambillah filamentum bunga Rhoeo discolor dengan cara pengamatan yang sama
dengan langkah no. 4.c).
e) Irisan paradermal epidermis bawah daun Rhoeo discolor. Letakkanlah hasil irisan
pada tetesan air di kaca benda E dan tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah bentuk
selnya dan warna cairan selnya, kemudian gambarlah pada buku laporan. Ambillah
preparat dari meja benda kemudian teteskanlah larutan gula 10% pada salah satu sisi
gelas penutup dan hisaplah dengan kertas penghisap pada sisi yang lainnya sehingga
air gula masuk dan menyentuh irisan. Amatilah pada mikroskop cahaya kembali
setelah beberapa menit, gambarlah hasil pengamatanmu pada buku laporan.
Tentukanlah, peristiwa apa yang terjadi?
5. Kembalikanlah mikroskop pada tempatnya setelah:
a) mematikan sumber daya
b) membersihkan meja benda dari sisa-sisa air dengan menggunakan lap flanel
c) membersihkan lensa okuler dari sisa-sisa lemak yang menempel dengan
menggunakan kertas lensa
d) mengembalikan tuas difragma pada posisi MIN dan kondensor pada posisi terjauh
dari meja benda
e) mengunci sekrup pemutar lensa okuler

8
Pertemuan II
6. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
7. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
8. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
9. Buatlah:
f) Irisan melintang tangkai daun kuping gajah. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air
di kaca benda dan tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah bentuk sel, bagian-
bagiannya, dan bentuk kristal yang ada di dalamnya. Berilah asam cuka pada
preparat dengan langkah yang sama dengan percobaan no. 4.e), amatilah apa yang
terjadi? catat dalam buku laporanmu. Setelah itu gantilah asam cuka dengan HCl
25% dengan cara pemberian yang sama; amatilah kembali, apa yang terjadi?.
Mengapa demikian, catat dalam buku laporanmu!
g) Ambillah sepotong umbi kentang, tusuk-tusuklah umbi tersebut dengan jarum
kemudian pencetlah, cairan yang keluar singgungkan pada air di atas gelas benda,
setelah air terlihat keruh tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah butiran-butiran
yang terlihat dengan mikroskop, carilah titik di dalam butiran dan lapisan-lapisan
yang mengelilinginya. Gambarlah hasil pengamatanmu dalam buku laporan. Setelah
itu teteskanlah larutan IKI dengan cara yang sama dengan percobaan no. 4.e).
Amatilah perubahan yang terjadi, tuliskan hasil pengamatanmu dalam buku laporan.
h) Ambillah sebutir buah jagung, lakukan seperti percobaan no. 9.g).
i) Ambillah rimpang kencur, buatlah irisan melintang setipis mungkin. Letakkanlah
hasil irisan pada kaca benda yang sudah disiapkan. Amatilah bentuk sel dan isi sel
yang tampak di dalamnya. Gambarlah hasil pengamatan dalam buku laporan.
Setelah itu, teteskan Sudan III dengan cara seperti pada percobaan 4.e), tunggulah
beberapa saat, amatilah dan laporkan apa yang terjadi. Tuliskan pada buku laporan.
j) Ambillah sepotong buah pir, buatlah irisan melintang setipis mungkin. Letakkanlah
hasil irisan pada tetesan air di kaca benda, kemudian tutup dengan kaca penutup.
Amatilah bentuk sel yang dindingnya menebal dan amatilah bentuk penebalannya.
Adakah bagian dinding sel yang tidak menebal?, gambarlah hasil pengamatanmu.
Setelah itu, bukalah gelas penutupnya tetesilah preparat dengan larutan floroglusin
dan HCl 25% dalam volume yang sama, kemudian tutup kembali preparat dengan
gelas penutup. Amatilah preparat pada mikroskop, perubahan apa yang terjadi?;
mengapa demikian?, bila perlu lakukan pemanasan di atas lampu spiritus (jaga agar
preparat tidak sampai kering).
k) Ambilah batang bayam, lakukanlah percobaan seperti no. 9.f). Gambarlah dan catat
hasil pengamatanmu dalam buku laporan
l) Ambilah tangkai daun Begonia, lakukanlah percobaan seperti no. 9.f). Gambarlah dan
catat hasil pengamatanmu dalam buku laporan
m) Ambillah preparat awetan penampang membujur batang Pinus merkusii. Amatilah
dengan seksama pada perbesaran terkuat. Gambarlah noktah ladam beserta bagian-
bagiannya
n) Ambillah preparat awetan penampang membujur akar Akar Alium cepa fa
ascalonicum. Carilah tahap-tahap pembelahan sel mulai tahap profase sampai
interfase. Gambarlah dalam hasil pengamatanmu.
10. Kembalikanlah mikroskop pada tempatnya setelah:
a) mematikan sumber daya

9
b) membersihkan meja benda dari sisa-sisa air dengan menggunakan lap flanel
c) membersihkan ensa okuler dari sisa-sisa lemak yang menempel dengan menggunakan
kertas lensa
d) mengembalikan tuas difragma pada posisi MIN dan kondensor pada posisi terjauh
dari meja benda
e) mengunci sekrup pemutar lensa okuler

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Sebutkan berbagai macam bentuk sel yang sudah saudara amati!
2. Dimanakah terdapat leukoplas?
3. a. Pada sel yang bagaimanakah terdapat aliran sitoplasma sirkulasi?
b. Pada sel yang bagaimanakah terdapat aliran sitoplasma rotasi?
4. Pada penampang permukaan daun Hydrilla verticillata:
a. bagaimana bentuk selnya?
b. bagaimana bentuk dan ukuran kloroplas?
c. apakah terdapat pigmen dalam vakuola?
d. bagaimana bentuk inti selnya?
5. Apa perbedaan sel pada empulur ketela pohon dengan sel-sel yang berwarna merah
(setelah perlakuan penetesan floroglusin dan HCl 25%) pada daging buah pir,
jelaskan!
6. Bagaimanakah hubungan antara leukoplas, amiloplas, dan kloroplas?
7. Sebutkan benda-benda ergastik yang saudara amati dan sebutkan pula yang tidak
sempat saudara amati!
8. a. Apa nama titik awal terbentuknya amilum?
b. Berdasarkan letak hilum dan jumlah hilum, macam amilum apakah yang terdapat
pada umbi kentang?
9. Jelaskan, dimanakah letak kromoplas yang kalian temukan?
10. a. Sebutkan bentuk kristal kalsium oksalat yang pernah saudara amati dan terdapat
pada organ tanaman apa?
b. Adakah bentuk lain yang belum teramati?
c. Dimanakah letak kristal kalsium oksalat di dalam sel tumbuhan?
11. Mengapa asam oksalat diendapkan dalam bentuk kalsium oksalat di dalam sel
tumbuhan?
12. Sebutkan reagensia yang digunakan untuk mengidentifikasi:
a. kristal kalsium oksalat d. zat lendir
b. minyak menguap e. butir aleuron
c. lignin
13. Sebutkan reagensia yang digunakan untuk mengidentifikasi:
a. kristal kalsium oksalat d. zat lendir
b. minyak menguap e. butir aleuron
c. lignin
13. Warna apa yang terjadi jika:
a. dinding sel mengandung selulosa ditetesi larutan biru metilen
b. butir amilum ditetesi larutan IKI
c. minyak atsiri yang ditetesi dengan Sudan III
14. Benda ergastik apa saja yang terdapat pada rimpang jahe?

10
15. a. Apakah yang disebut dengan noktah dan noktah buta?
b. Jelaskan apa yang disebut noktah halaman!
c. Apa perbedaan torus dengan margo?

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

11
2. PARENKIMA
A. Dasar Teori
Parenkima merupakan jaringan yang mengisi seluruh tubuh tumbuhan. Jaringan
parenkima bersifat hidup, sel-sel penyusunnya mengandung protoplas dengan vakuola
kecil-kecil. Dinding sel parenkima pada umumnya mengandung selulosa .
Sel-sel penyusun jaringan parenkima bentuknya bermacam-macam, tergantung
fungsinya, tetapi pada umumnya berbentuk isodiametris. Bentuk sel penyusun
parenkima yang lain misalnya:
a. Silindris
Bentuk silindris ada yang tersusun rapat sehingga tampak seperti pagar disebut
palisade pada umumnya terdapat pada mesofil daun, jaringan ini juga mengandung
kloroplas sehingga disebut klorenkima yang berfungsi sebagai tempat fotosintesis.
b. Isodiametris atau segitiga dengan ruang antar sel yang kecil-kecil sehingga terlihat
seperti spons. Jaringan ini pada umumnya terdapat pada mesofil daun.
c. Bintang
Jaringan parenkima yang sel-sel penyusunnya berbentuk bintang memiliki susunan
yang tidak rapat karena lengan dari sel yang satu bergandengan dengan lengan sel
yang lain sehingga membentuk ruang antar sel yang luas. Jaringan parenkima yang
sel-sel penyusunnya seperti bintang disebut aktinenkima, karena sel-selnya berbentuk
bintang sehingga memiliki ruang antar sel yang luas; karena memiliki ruang antar sel
yang luas jaringan parenkima demikian juga berfungsi sebagai penyimpan udara
sehingga disebut aerenkima. Jaringan ini sering dijumpai pada tangkai daun Canna
sp. dan tangkai daun pisang.
d. Bentuk tidak teratur dengan dinding yang berlekuk-lekuk dinamakan parenkima
lipatan. Parenkima ini dapat ditemukan pada mesofil daun Pinus merkusii.
Parenkima dapat juga difungsikan sebagai penyimpan cadangan makanan.
Cadangan makanan dapat berupa amilum, minyak, atau aleuron. Jaringan yang seperti
ini dinamakan parenkima cadangan makanan. Parenkima ini terdapat dalam kulit buah
pisang, dan endosperma biji-bijian.
Parenkima dapat dideferensiasi lagi dan dapat berkembang menjadi jaringan
meristematik kembali menjadi felogen atau jaringan lain.

B. Tujuan
1. Mengenal jaringan sederhana pada tumbuhan.
2. Mengamati dan menggambar berbagai macam bentuk jaringan parenkima menurut
bentuk dan fungsinya.
3. Mengidentifikasikan zat penyusun penebalan dinding sel parenkima.
4. Mengamati letak parenkima pada organ tumbuhan.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, empulur ketela pohon, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar

12
a) kulit buah pisang, b) tangkai daun Canna, c) rimpang kencur, d) daun sirsat, e) biji
palem
2. preparat awetan:
f) penampang melintang daun Pinus merkusii
3. reagen:
larutan IKI, biru metilen, sudan III, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) Kerokan bagian dalam kulit buah pisang dengan menggunakan jarum preparat.
Letakkanlah hasil kerokan pada tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan
gelas penutup. Amatilah preparat dengan mikroskop cahaya. Perhatikanlah bentuk sel
yang tampak serta susunan selnya. Apakah yang tampak di dalam isi selnya. Tetesilah
preparat dengan larutan IKI, catat perubahan warna yang tampak pada benda yang
berada di dalam sel. Gambarlah beberapa sel beserta isinya dan tentukan zat yang
terkandung di dalam sel. Tuliskan fungsi jaringan parenkima yang sedang saudara
amati.
b) Irisan melintang tangkai daun Canna. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di
gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Amati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam.
Berapakah jumlah lengan masing-masing sel pada umumnya. Berdasarkan bentuknya
termasuk parenkima apa? Dari fungsinya disebut parenkima apa? Gambarlah bentuk
parenkimanya.
c) Irisan melintang rimpang kencur. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di gelas
benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat dengan mikroskop
cahaya. Amatilah sel-sel penyusun rimpang beserta benda-benda yang berada di
dalam sel. Tetesilah preparat dengan Sudan III, amati dan catat perubahan pada benda
yang sedang saudara amati; selanjutnya tetesilah preparat dengan IKI, amati dan catat
perubahan pada benda yang saudara amati. Identifikasilah: benda-benda yang
terdapat di dalam sel, bentuk sel jaringan parenkima, dan fungsi jaringan parenkima
pada rimpang kencur. Gambarlah dan catat hasil pengamatan saudara.
d) Irisan melintang daun sirsat dengan menggunakan bantuan empulur ketela pohon.
Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan gelas
penutup. Amatilah preparat dengan mikroskop cahaya. Amatilah: jaringan dengan
sel-sel penyusun yang berbentuk seperti pagar, jaringan dengan sel-sel yang
berbentuk isodiametris atau segitiga dengan ruang antar sel yang kecil, dan jenis
komponen protoplasmik yang tampak. Gambarlah serta tentukan tipe parenkima yang
terdapat di daun sirsat berdasarkan bentuk dan fungsi.
e) Irisan melintang endosperma biji palem. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di
gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Amatilah sel-sel penyusun jaringan yang berdinding tebal dan
tipis. Tetesilah preparat dengan biru metilen. Gambarlah hasil pengamatan saudara,
dan tentukan fungsi parenkima yang terdapat pada biji palem.

13
f) Amatilah preparat awetan penampang melintang daun Pinus merkusii dengan
menggunakan mikroskop cahaya pada perbesaran terkuat. Perhatikanlah jaringan
yang terletak di lapisan ke-3 dari arah luar, amatilah bentuk sel-sel penyusunnya.
Apakah bentuk dinding selnya berlekuk-lekuk?. Gambarlah hasil pengamatan saudara
dan tentukan tipe parenkima yang terdapat pada daun Pinus merkusii berdasarkan
bentuk dan fungsinya.
5. Kembalikanlah mikroskop pada tempatnya setelah:
a) mematikan sumber daya
b) membersihkan meja benda dari sisa-sisa air dengan menggunakan lap flanel
c) membersihkan lensa okuler dari sisa-sisa lemak yang menempel dengan
menggunakan kertas lensa
d) mengembalikan tuas difragma pada posisi MIN dan kondensor pada posisi terjauh
dari meja benda
e) mengunci sekrup pemutar lensa okuler

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Ada berapakah macam bentuk sel penyusun parenkima yang sudah saudara amati,
sebutkan!
2. Organel apa yang dapat saudara jumpai pada sel-sel parenkima pada bahan segar
yang telah saudara amati!
3. Benda ergastik apa saja yang saudara jumpai pada bahan amatan segar?
4. Berdasarkan fungsinya, ada berapa jenis parenkima yang sudah saudara amati,
sebutkan!
5. Mengapa jaringan parenkima disebut jaringan dasar, jelaskan alasanmu!
6. Mengapa parenkima yang menyusun tangkai daun Canna dapat digolongkan sebagai
aerenkima, jelaskan jawabanmu!
7. Pada bahan apa saja saudara dapat menemukan klorenkima, sebutkan!

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

14
3. JARINGAN PENGUAT
A. Dasar Teori
Jaringan yang menyokong tubuh tumbuhan agar tumbuh tegak dan kuat
dinamakan jaringan mekanik atau jaringan penguat. Jaringan penguat pada tumbuhan
ada dua macam, yaitu kolenkima dan sklerenkima.
Kolenkima terdiri dari sel-sel yang hidup, terdapat di daerah tepi di sebelah
dalam jaringan epidermis. Kolenkima dapat mengikuti perkembangan tubuh tumbuhan
dan bersifat plastis. Kolenkima dapat berfungsi sebagai jaringan penguat karena
penebalan yang terjadi pada dinding sel-sel penyusunnya. Penebalan dinding sel
kolenkima umumnya tidak merata, kecuali pada kolenkima anuler sehingga
menyebabkan lumen sel berbentuk bulat dikelilingi penebalan yang rata tampak seperti
cincin. Kolenkima dinamakan sesuai dengan letak dan bentuk penebalannya, sehingga
dikenal beberapa jenis kolenkima seperti kolenkima anguler (sudut) karena penebalan
terjadi pada sudut-sudut sel, lakuner (tubuler) memiliki penebalan pada daerah yang
berbatasan dengan ruang antar sel, lameler memiliki penebalan yang berbentuk seperti
pita pada dinding luar dan dinding dalam sel-sel penyusun kolenkima, dan kolenkima
anuler.
Sklerenkima terdiri dari sel-sel yang hidup tetapi lama kelamaan sel akan mati
karena sel-sel tersebut sangat tebal dan sitoplasmanya habis. Sklerenkima terdapat pada
bagian tumbuhan yang masih berkembang atau yang sudah permanen. Sklerenkima
tersusun dari 2 macam sel yang berbentuk serabut (serabut sklerenkima) dan sel batu
(sklereid). Serabut sklerenkima berbentuk panjang dan kedua ujung yang runcing
sedang sklereida memiliki berbagai bentuk seperti: brakhisklereid, trikosklereid,
osteosklereid, asterosklereid, dan makrosklereid. Sklereida dapat terjadi dari sel
parenkima yang mengalami penebalan. Zat penyusun penebalan dapat berupa selulosa,
pektin, lignin. Kolenkima maupun sklerenkima dapat membentuk lingkaran pada organ
atau kelompok-kelompok sel yang terpisah-pisah.

B. Tujuan
1. Mengenal jaringan penguat pada tumbuhan.
2. Mengamati letak jaringan penguat pada tumbuhan.
3. mengamati penampang melintang dan membujur sel-sel penyusun jaringan kolenkima.
4. Mengamati penampang melintang dan membujur sel-sel penyusun jaringan sklerenkima.
5. Membedakan kolenkima dan sklerenkima.
6. Menjelaskan macam-macam struktur, fungsi, serta letak jaringan kolenkima dan sklerenkima
dalam tubuh tumbuhan.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, empulur ketela pohon, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) tangkai daun Nerium oleander, b) tangkai daun Tithonia diversifolia, c) alat
pengapung Eichornia crassipes, d) buah pir, e) biji kacang merah yang telah
direndam dalam air selama 3 jam, f) daun Agave

15
2. preparat awetan:
g) penampang melintang daun Camellia sinensis
h) penampang melintang dan membujur batang Cucurbita
3. reagen:
biru metilen, floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) Irisan melintang tangkai daun Nerium oleander setipis mungkin. Letakkanlah hasil
irisan pada tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah
preparat dengan mikroskop cahaya. Amatilah bentuk sel-sel penyusun jaringan yang
terletak di lapisan kedua. Tetesilah preparat dengan biru metilen. Perhatikanlah letak
penebalan dinding selnya. Adakah komponen protoplasmik di dalam selnya? Gambarlah
dan tentukan bentuk kolenkimanya.
b) Lakukanlah prosedur yang sama dengan pengamatan tangkai daun Nerium oleander
untuk pengamatan tangkai daun Tithonia diversifolia.
c) Irisan melintang alat pengapung Eichornia crassipes setipis mungkin. Letakkanlah
hasil irisan pada tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup.
Amatilah preparat dengan mikroskop cahaya. Perhatikanlah sel-sel dengan ujung yang
runcing, terdapat di antara jaringan aerenkima. Tetesilah preparat dengan floroglusin
dan HCl 25%, masing-masing dengan volume yang sama. Amatilah perubahan yang
terjadi pada sel-sel dengan ujung runcing tersebut. Gambarlah dan tentukan tipe
sklereidanya.
d) Irisan melintang daging buah pir setipis mungkin. Letakkanlah hasil irisan pada
tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat
dengan mikroskop cahaya. Perhatikanlah sel-sel dengan dinding yang tebal dan
bernoktah. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-masing dengan
volume yang sama. Amatilah perubahan yang terjadi pada sel-sel yang berdinding tebal
dan bernoktah tersebut. Gambarlah dan tentukan tipe sklereidanya.
e) Irisan melintang biji kacang merah setipis mungkin. Letakkanlah hasil irisan pada
tetesan air di gelas benda kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat
dengan mikroskop cahaya. Perhatikanlah sel-sel di bagian kulit biji yang berbentuk
silindris, rapat, dan tegak lurus dengan permukaan biji; serta sel dengan lumen yang
berbentuk seperti tulang. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-
masing dengan volume yang sama, amatilah perubahannya. Gambarlah dan tentukan
tipe sklereidanya.
f) Irisan melintang daun Agave. Letakkanlah hasil irisan pada tetesan air di gelas benda
kemudian tutup dengan gelas penutup. Amatilah preparat dengan mikroskop cahaya.
Perhatikanlah sel-sel yang berbentuk segiempat dengan dinding sel tebal dan lumen sel
yang sempit. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-masing
dengan volume yang sama, amatilah perubahannya. Gambarlah dan tentukan tipe
sklerenkimanya.

16
g) Amatilah penampang melintang daun Camellia sinensis. Amatilah sel-sel yang
berbentuk seperti bintang, yang tersebar di antara parenkima palisade dan sponsa.
Gambarlah dan tentukan tipe sklereidanya.
h) Amatilah masing-masing penampang melintang dan membujur batang Cucurbita.
Pada penampang melintang, perhatikanlah: (1) penebalan dinding sel-sel di lapisan ke-2
kemudian tentukan tipe kolenkimanya; (2) sel-sel yang berbentuk segiempat, berlumen
sempit, dan berada di sebelah dalam dari jaringan kolenkima kemudian tentukan tipe
sklerenkimanya. Gambarlah hasil pengamatan saudara dan bandingkanlah sel-sel yang
telah saudara amati pada penampang melintang dengan penampakan sel-sel pada
penampang membujur, adakah serabut sklerenkimanya? apabila ada gambarlah,
perhatikan ciri sel serabut skerenkima apabila tampak secara melintang dan membujur!
5. Kembalikanlah mikroskop pada tempatnya setelah:
a) mematikan sumber daya
b) membersihkan meja benda dari sisa-sisa air dengan menggunakan lap flanel
c) membersihkan lensa okuler dari sisa-sisa lemak yang menempel dengan
menggunakan kertas lensa
d) mengembalikan tuas difragma pada posisi MIN dan kondensor pada posisi terjauh
dari meja benda
e) mengunci sekrup pemutar lensa okuler

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Pada pengamatan mikroskopis, bagaimanakah cara membedakan antara jaringan
kolenkima dan sklerenkima menurut: letaknya pada organ dan sifat sel penyusunnya?
2. Sebutkan tipe kolenkima dan sklerenkima pada bahan-bahan yang telah saudara
amati!
3. Sebutkan jaringan penguat yang berfungsi sebagai jaringan penguat pada organ
tumbuhan yang masih muda!
4. Jelaskan perbedaan antara serabut sklerenkima dan sklereida!
5. Mengapa untuk mengamati sklerenkima dan kolenkima diperlukan reagen yang
berbeda, jelaskan jawabanmu!
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan proses lignifikasi?
7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan proses sklerifikasi?

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

17
4. JARINGAN ANGKUT
A. Dasar Teori
Tumbuhan tingkat tinggi memiliki sistem pengangkutan yang mengangkut: (1) air dan
zat-zat yang terlarut di dalamnya dari akar ke daun, (2) zat-zat hasil fotosintesis yang
berasal dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan. Jaringan pertama dinamakan xilem
sedangkan jaringan kedua adalah floem. Sel-sel yang menyusun jaringan xilem dan
floem terdiri dari beberapa macam sel, sehingga memiliki fungsi lebih dari satu.
Unsur-unsur penyusun xilem disebut unsur vasal, yang terdiri dari trakea,
trakeida, serabut xilem, dan parenkima xilem. Unsur-unsur penyusun floem disebut
unsur kribal yang terdiri dari buluh tapis, sel pengiring, serabut floem, dan parenkima
floem. Dinding sel penyusun trakea dan trakeida memiliki berbagai penebalan yang
berbentuk cincin, spiral, tangga, jala, dan noktah. Dinding pembatas antara buluh tapis
juga memiliki banyak lubang sehingga seperti tapisan. Sel-sel penyusun xilem kecuali
parenkima biasanya mati. Sel-sel penyusun floem yang masih hidup adalah sel
pengiring dan parenkima floem. Sel-sel yang mati biasanya berdinding tebal dan terdiri
dari lignin sehingga jaringan angkut dapat berfungsi pula sebagai jaringan penguat.
Xilem dan floem selalu bersama-sama membentuk ikatan pembuluh atau berkas
pengangkut yang disebut fascis. Berbagai macam tipe berkas pengangkut ditentukan
oleh letak xilem terhadap floem dalam ikatan pembuluh. Tipe-tipe berkas pengangkut
meliputi: (1) radial, jika xilem dan floem terletak berdampingan membentuk jari-jari
yang menuju pusat; (2) kolateral, jika xilem dan floem berdampingan dengan letak di
luar dan dalam; (3) konsentris, jika xilem dikelilingi floem (konsentris amfikribal) atau
sebaliknya, floem dikelilingi xilem (konsentris amfivasal); dan (4) bikolateral. Tipe
kolateral ada 2 macam yaitu kolateral terbuka, jika di antara xilem dan floem ditemukan
kambium; dan kolateral tertutup, jika di antara xilem dan floem tidak terdapat kambium.
Pada tipe bikolateral xilem diapit oleh floem dalam dan floem luar. Kambium terdapat
di antara floem luar dengan xilem dan parenkima penghubung terdapat di antara xilem
dengan floem dalam. Berkas pengangkut ada yang dikelilingi oleh sklerenkima.
Pemberian nama pada tipe berkas pengangkut yang dikelilingi oleh sklerenkima,
ditambah dengan istilah fibrovaskuler.

B. Tujuan
1. Mengamati komponen-komponen jaringan angkut xilem (unsur vasal).
2. Mengamati komponen-komponen jaringan angkut floem (unsur kribal).
3. Mengamati macam-macam tipe berkas pengangkut pada tumbuhan.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, empulur ketela pohon, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) batang Aloe sp., b) batang sirih, c) batang Nerium oleander, d) kecambah kacang
merah, e. tangkai sari (filamentum) bunga Lilium.
2. preparat awetan:
f) maserat kayu Melaleuca leucadendron

18
g) penampang melintang daun Cymbopogon nardus
h) penampang melintang batang Zea mays
3. reagen:
floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) Preparat segar irisan melintang batang Aloe sp. Amatilah preparat dengan mikroskop
cahaya. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-masing dengan
jumlah tetesan yang sama. Perhatikanlah letak berkas xilem dan floem, kemudian
tentukan tipe berkas pengangkutnya. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
b) Preparat segar irisan melintang batang sirih. Amatilah preparat dengan mikroskop
cahaya. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-masing dengan
jumlah tetesan yang sama. Perhatikanlah letak: berkas xilem dan floem, kambium, serta
serabut skerenkima yang mengelilingi separuh berkas xilem yang terletak di bagian
luar; kemudian tentukan tipe berkas pengangkut pada batang sirih. Gambarlah hasil
pengamatan saudara.
c) Preparat segar irisan melintang batang Nerium oleander. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-masing
dengan jumlah tetesan yang sama. Perhatikanlah berkas: xilem, floem luar, dan floem
dalam; kemudian tentukan tipe berkas pengangkutnya. Gambarlah hasil pengamatan
saudara.
d) Preparat segar irisan melintang akar kecambah kacang merah. Amatilah preparat
dengan mikroskop cahaya. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-
masing dengan jumlah tetesan yang sama. Perhatikanlah letak berkas xilem dan floem,
kemudian tentukan tipe berkas pengangkutnya. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
e) Preparat segar irisan melintang filamentum bunga Lilium sp. Amatilah preparat
dengan mikroskop cahaya. Tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%, masing-
masing dengan jumlah tetesan yang sama. Perhatikanlah letak berkas xilem dan floem,
kemudian tentukan tipe berkas pengangkutnya. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
5. Amatilah:
f) preparat maserat kayu Melaleuca leucadendron pada mikroskop cahaya. Carilah
unsur-unsur penyusun xilem, yang meliputi: trakea, trakeid, serabut xilem, dan
parenkima xilem. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
g) preparat penampang melintang daun Cymbopogon nardus pada mikroskop cahaya.
Carilah unsur-unsur penyusun floem yang tampak pada preparat tersebut, yang meliputi:
pembuluh tapis, sel pengiring, parenkima floem. Tentukan pula tipe berkas pengangkut
pada preparat tersebut. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
h) preparat penampang melintang batang Zea mays pada mikroskop cahaya.
Perhatikanlah letak berkas xilem dan floem yang dikelilingi oleh serabut sklerenkima,
kemudian tentukan tipe berkas pengangkutnya. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

19
E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Unsur xilem apa saja yang terdapat pada preparat maserat kayu Melaleuca
leucadendron, Deskripsikan masing-masing bentuk sel penyusunnya!
2. Unsur floem apa saja yang terdapat pada preparat irisam melintang daun
Cymbopogon nardus!
3. Jelaskan perbedaan antara trakea dan trakeida!
4. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe berkas pengangkut yang telah saudara amati!
5. Jelaskan, apa yang dimaksud dengan berkas pengangkut fibrovaskuler?
6. Sebutkan beberapa contoh tanaman yang memiliki berkas pengangkut fibrovaskuler!

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

20
5. JARINGAN PELINDUNG
A. Dasar Teori
Tumbuhan memerlukan sistem jaringan pelindung untuk melindungi dirinya dari
kekurangan air dan dari serangan hama dan penyakit. Perlindungan terhadap kekeringan
dapat dijalankan melalui pengaturan lebar celah stomata, rambut-rambut penutup pada
daun dan batang serta penggulungan daun. Perlindungan terhadap serangan hama dan
penyakit dapat melalui pengeluaran zat yang mencegah penyerang mendekat atau dapat
juga mematikan penyerang. Stoma, rambut penutup, rambut kelenjar, sel kipas
merupakan derivat sel epidermis yang membentuk sistem jaringan pelindung bersama-
sama dengan epidermis. Stoma merupakan celah yang diapit oleh 2 sel penutup. Sel
penutup ada yang berbentuk ginjal dan ada yang berbentuk halter.
Rambut kelenjar mengeluarkan zat yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit
atau bahkan mematikan agensia penyerang. Sel yang berfungsi sebagai kelenjar dapat
ditemukan di bagian ujung atas (sel kepala) atau di bagian basal. Rambut penutup
merupakan tonjolan sel epidermis yang dibatasi oleh sekat. Rambut penutup ada yang
terdiri dari satu deret dan ada yang beberapa deretan sel. Bentuk rambut penutup ada
yang seperti gada, bintang, sisik, dan kerucut. Rambut kelenjar dapat memiliki sel
kelenjar pada bagian pangkal dan ujungnya.
Sel kipas terdapat bersama sel epidermis tetapi berukuran lebih besar dan
berdinding tipis sehingga pada saat turgor rendah beberapa sel yang membentuk deretan
seperti kipas tadi merapat. Pada saat turgor maksimum deretan sel kipas membuka.
Daun akan menggulung pada saat sel-sel kipas merapat.

B. Tujuan
1. Mengamati penampang melintang dan membujur bentuk sel penyusun epidermis.
2. Mengamati macam-macam bentuk sel penutup stomata berdasarkan penampang
membujurnya.
3. Mengamati berbagai macam tipe stomata pada daun.
4. Mengamati berbagai macam bentuk trikomata.
5. Mengamati derivat epidermis yang lain, seperti: sel silika, sel kipas, litosit, dan sel
gabus.
6. Menghitung indeks stomata dari daun lombok.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, empulur ketela pohon, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) daun Orthosiphon stamineus, b) daun Costus speciosus, c) daun Lycopersicon
esculentum, d) daun lombok, e) daun tebu, f) daun Durio zibethinus, g) batang tebu
2. preparat awetan:
h) penampang melintang daun Ficus elastica
i) penampang melintang daun Cymbopogon nardus
3. reagen:

21
Sudan III, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) preparat irisan paradermal epidermis bawah daun Orthosiphon stamineus. Amatilah
preparat dengan mikroskop cahaya. Tentukanlah: bentuk sel epidermis dan sel penutup
stoma, jenis trikoma. Tentukan tipe stoma berdasarkan jumlah sel tetangga yang
mengelilingi sel penutup. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
b) preparat irisan paradermal epidermis bawah daun Costus speciosus. Lakukanlah
pengamatan seperti pada daun Orthosiphon stamineus.
c) preparat irisan paradermal epidermis bawah daun Lycopersicon esculentum. Amatilah
preparat dengan mikroskop cahaya. Tentukanlah jenis-jenis trikoma yang terdapat pada
preparat. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
d) preparat irisan paradermal epidermis bawah daun lombok. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Tentukanlah: bentuk sel epidermis dan sel penutup stoma serta tipe
stomata berdasarkan jumlah sel tetangga yang mengelilingi sel penutup. Gambarlah
hasil pengamatan saudara. Hitunglah indeks stomata dari daun lombok.
e) preparat irisan paradermal epidermis bawah daun tebu. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Tentukanlah: bentuk sel epidermis dan sel penutup stoma.
Gambarlah hasil pengamatan saudara.
f) keroklah epidermis bawah daun Durio zibethinus di atas tetesan air pada gelas benda,
kemudian tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah dengan mikroskop cahaya. Amatilah
bentuk trikomanya. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
g) preparat irisan paradermal epidermis batang tebu. Amatilah preparat dengan
mikroskop cahaya. Teteskanlah reagen Sudan III pada preparat. Amatilah bentuk: sel
epidermis, sel silika, dan sel gabus. Tentukan kandungan zat yang terdapat pada sel
gabus. Gambarlah hasil pengamatan saudara.
5. Amatilah:
h) preparat penampang melintang daun Ficus elastica. Amatilah sel litosis yang terletak
di epidermis atas. Gambarlah sel litosis dan sistolit yang berada di dalamnya serta
beberapa sel epidermis yang terletak di sekitar litosis.
i) preparat penampang melintang daun Cymbopogon nardus. Amatilah bagian epidermis
atasnya, carilah sel-sel yang lebih besar dari sel epidermis dan berderet berbentuk
seperti kipas. Gambarlah. Kemudian amatilah epidermis bawahnya, carilah sel yang
lebih kecil dari sel epidermis. Sel apakah itu?, gambarlah.
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Sebutkan derivat-derivat sel epidermis pada preparat yang telah saudara amati!
2. Deskripsikan bentuk dan susunan sel-sel epidermis daun yang telah saudara amati!

22
3. Sebutkan jenis-jenis trikomata pada preparat yang telah saudara amati!
4. Jelaskan beberapa fungsi trikoma pada preparat yang telah saudara amati!
5. Sebutkan 2 macam tipe sel penutup stoma!
6. Jelaskan fungsi sel silika dan sel gabus pada batang tebu!
7. Jelaskan tipe-tipe stoma pada preparat yang telah saudara amati!

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

23
6. AKAR
A. Dasar Teori
Akar merupakan organ tumbuhan yang bertugas untuk menunjang tubuh
tumbuhan dan menyerap air dan unsur-unsur hara dari dalam tanah untuk disalurkan ke
daun. Akar yang tumbuh dari biji disebut akar primer sedang akar yang tumbuh dari
tempat lain disebut akar liar. Akar primer pada dikotil bersifat permanen dan pada
monokotil dapat permanen atau temporer.
Akar primer dan akar sekunder memiliki perbedaan struktur anatomi. Akar
dikotil memiliki pertumbuhan sekunder karena memiliki kambium sedang akar
monokotil tidak memiliki kambium. Struktur anatomi akar pada dasarnya terdiri dari
tiga sistem jaringan yang meliputi sistem jaringan pelindung (epidermis), korteks, dan
stele.
Epidermis akar memiliki bulu-bulu akar di bagian dekat ujung akar. Epidermis
akar sekunder diganti oleh jaringan gabus dan pada jaringan tersebut dapat terebentuk
lenti sel.
Korteks tersusun dari jaringan parenkimatik yang di dalamnya mungkin terdapat
jaringan penguat yang berupa kolenkima atau sklerenkima. Jaringan lain seperti
jaringan sekretorik mungkin juga ditemukan di daerah korteks. Korteks mungkin juga
berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan sehingga berisi butir-butir amilum.
Bagian terluar dari korteks disebut eksodermis yang terletak di bawah epidermis
langsung sehingga kadang-kadang disebut dengan hipodermis. Bagian terdalam korteks
disebut endodermis. Sel endodermis biasanya mengalami penebalan, tetapi ada yang
tidak menebal disebut sel peresap.
Stele terdiri dari jaringan pengangkut yang berupa xilem dan floem dengan letak
berganti-ganti sehingga berkas pengangkut pada akar bertipe radial. Xilem pada
tumbuhan monokotil primer berjumlah 3 sedang pada dikotil 4 atau 5. Kambium hanya
ditemukan pada akar dikotil. Stele pada akar disebut aktinostele karena jari-jari xilem
tampak seperti bintang. Anomali mungkin terjadi pada beberapa tumbuhan dengan
menunjukkan tipe berkas pengangkut yang bukan radial.

B. Tujuan
1. Mengamati struktur akar dikotil primer yang normal.
2. Mengamati struktur akar monokotil primer yang normal.
3. Mengamati struktur akar dikotil sekunder normal.
4. Mengamati struktur anomali pada akar.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) kecambah kacang tanah, b) kecambah jagung, c) umbi ketela rambat
2. preparat awetan penampang melintang akar:
a) Helianthus tua, b) jagung, c) anggrek

24
3. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a) Irisan melintang akar kecambah kacang tanah setipis mungkin, letakkan hasil irisan
pada kaca benda yang sudah ditetesi air, tutuplah dengan gelas penutup. Amatilah
dengan mikroskop pada perbesaran lemah, jika kurang jelas berilah kloral hidrat, kalau
perlu dipanasi. Buatlah gambar skemanya. Teteskan floroglusin dan HCl 25% sama
banyak, tunggu beberapa saat, kemudian amati lagi dengan mikroskop. Buatlah
gambarnya secara rinci: satu sektor di bagian korteks dan di bagian stele digambar
penuh. Tentukan jumlah lengan xilem, arah pertumbuhan xilem, tipe berkas
pengangkut, dan tipe stelenya.
b) Irisan melintang akar kecambah jagung setipis mungkin. Lakukan langkah-langkah
pengamatan seperti pada pengamatan struktur akar kacang tanah.
c) Irisan melintang umbi ketela rambat setipis mungkin. Lakukan langkah-langkah
pengamatan seperti pada pengamatan struktur akar kacang tanah. Carilah: lapisan
periderm, saluran getah, dan berkas pengangkut yang bersifat anomali. Apakah
anomalinya?
5. Amatilah:
d) preparat penampang melintang akar Helianthus tua. Amatilah dengan perbesaran
lemah. Gambarlah secara skema dan secara rinci satu sektor bagian korteks dan
digambar penuh pada bagian stelenya. Carilah: jaringan periderm, kambium pembuluh,
floem dan xilem sekunder, xilem primer; serta tentukan tipe berkas pengangkut dan tipe
stelenya.
e) preparat penampang melintang akar jagung. Amatilah dengan perbesaran lemah.
Gambarlah secara skema dan secara rinci satu sektor untuk bagian korteks dan digambar
penuh pada bagian stelenya. Hitunglah jumlah lengan xilemnya. Tentukan tipe berkas
pengangkut, tipe stele, dan arah pertumbuhan xilem.
f) preparat penampang melintang akar anggrek. Amatilah dengan perbesaran lemah.
Gambarlah secara skema dan secara rinci satu sektor untuk bagian korteks dan digambar
penuh pada bagian stelenya. Carilah lapisan: velamen, eksodermis, endodermis, dan sel
peresap. Hitunglah jumlah lengan xilemnya. Tentukan tipe berkas pengangkut, tipe
stele, dan arah pertumbuhan xilem.
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan, simpanlah di tempatnya.

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Sebutkan jaringan-jaringan yang menyusun akar primer!
2. Sebutkan dan jelaskan fungsi rambut akar?

25
3. Jelaskan fungsi velamen!
4. Jelaskan perbedaan antara akar dikotil yang belum dan telah mengalami pertumbuhan
sekunder, berdasarkan:
a. jaringan pelindung
b. jaringan angkut
c. tipe berkas pengangkut
d. tipe stele
5. Jelaskan sifat-sifat anomali pada akar Ipomoea batatas!

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

26
7. BATANG
A. Dasar Teori
Bagian tumbuhan yang berada di atas tanah yang mendukung daun dan alat-alat
reproduksi disebut batang. Batang juga terdiri dari 3 sistem jaringan seperti akar. Ketiga sistem
jaringan tersebut, yaitu: epidermis, korteks, dan stele.
Batang primer memiliki epidermis yang umumnya satu lapis, pada waktu masih muda
ada yang memiliki trikomata dan stomata. Korteks terdiri dari beberapa lapis sel yang bersifat
parenkimatis, pada waktu muda sel-sel penyusunnya ada yang mengandung kloroplas. Jaringan
penguat ada yang berupa kolenkima yang umumnya terletak di bawah epidermis atau
sklerenkima yang mungkin di bawah epidermis atau bagian yang lebih dalam. Jaringan
sekretorik mungkin ditemukan juga dalam kortek. Kristal kalsium oksalat maupun butir amilum
juga terdapat pada batang tumbuhan tertentu. Bagian terdalam dari kortek yang disebut
endodermis tidak tampak jelas. Perisikel umumnya satu lapis dan biasa disebut dengan
perikambium. Batang yang muda perikambiumnya seringkali mengandung butir amilum
sehingga disebut sarung tepung. Stele terdiri dari berkas pengangkut tipe kolateral (normal) dan
tersusun dalam satu lingkaran. Empulur seringkali terdapat di dalam stele.
Batang sekunder memiliki periderm yang menggantikan epidermis. Lenti sel terbentuk
pada periderm, sebagai jalan masuknya udara untuk pernafasan. Sel-sel penyusun korteks
umumnya juga mengandung kristal, sel minyak, sel lendir, sel getah, dan dan lain-lain
tergantung jenis tanamannya. Kolenkima kadang-kadang sudah tidak ditemukan karena
mungkin berubah menjadi sklereida. Batang antara korteks dan stele tidak jelas bahkan pada
batang monokotil korteks sangat sempit daerahnya. Berkas pengangkut yang normal pada
dikotil terdiri dari satu lingkaran yang teratur dan bertipe kolateral terbuka sedang pada
monokotil yang normal berkas pengangkut tersebar dan tipenya kolateral tertutup. Tipe stele
pada dikotil eustele sedang pada monokotil ataktostele. Anomali mungkin terjadi pada tipe
berkas pengangkut dan jumlah berkas pengangkut dalam batang.

B. Tujuan
1. Mengamati struktur primer dan sekunder batang dikotil dan monokotil.
2. Mengamati struktur anomali pada batang dikotil dan monokotil.
3. Menyimpulkan struktur batang normal dan anomali.

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet tetes, dan
lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) batang Amaranthus sp., b) batang Aloe sp., c) batang sirih
2. preparat awetan penampang melintang batang:
a) Cucurbita moschata, b) Hibiscus rosa-sinensis, c) Zea mays
3. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.

27
4. Buatlah: Irisan melintang batang Amaranthus sp, Aloe sp., dan batang sirih setipis
mungkin, letakkan hasil irisan pada kaca benda yang sudah ditetesi air, tutuplah dengan
gelas penutup. Amatilah masing-masing preparat dengan mikroskop pada perbesaran
lemah, jika kurang jelas berilah kloral hidrat, kalau perlu dipanasi hingga preparat
tampak jelas sel-sel penyusunnya. Teteskan floroglusin dan HCl 25%, tunggu beberapa
saat kemudian, amati lagi dengan mikroskop. Buatlah gambar skema dan tunjukkan
bagian-bagiannya. Buatlah gambarnya secara detail: satu sektor dan beri keterangan
yang lengkap. Tentukan tipe berkas pengangkut dan tipe stelenya! Apakah struktur
batang tersebut termasuk tipe normal atau anomali?
5. Amatilah preparat awetan irisan melintang batang Cucurbita moschata, Hibiscus
rosa-sinensis, dan Zea mays. Amatilah masing-masing preparat dengan mikroskop
cahaya. Gambarlah hasil pengamatanmu sesuai dengan pengamatan pada preparat segar.
Tentukan tipe berkas pengangkut dan tipe stelenya! Apakah struktur batang tersebut
termasuk tipe normal atau anomali?
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Jelaskan perbedaan struktur batang dikotil primer dan sekunder, dalam hal:
a. jaringan pelindung
b. daerah korteks
c. jaringan angkut
2. a. Darimanakah lapisan periderm berasal?
b. Jelaskan sifat monopleuris dan dipleuris pada felogen!
3. Jelaskan, pada batang di manakah dapat ditemukan jaringan penguat serabut
sklerenkima!
4. Jelaskan beberapa sifat anomali yang dapat ditemukan pada struktur batang!
5. Jelaskan perbedaan antara struktur batang dikotil dan monokotil berdasarkan:
a. daerah korteks
b. tipe berkas pengangkut
c. kambium pembuluh
d. tipe stele

F. Kepustakaan
[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

28
8. DAUN
A. Dasar Teori
Daun merupakan organ vegetatif tumbuhan yang berfungsi untuk fotosintesis
karena dalam jaringan penyusunnya ditemukan jaringan fotosintesis. Daun terdiri dari
tiga bagian: kosta, vena, dan lamina. Berkas pengangkut dalam kosta memiliki struktur
sama dengan batang tetapi letak xilem dan floemnya terbalik, dan berkas pengangkut
dalam kosta lebih besar dibanding berkas pengangkut yang terdapat di vena dan lamina.
Daun memiliki epidermis atas dan bawah yang menyelubungi mesofil. Mesofil
yang tidak berdeferensiasi umumnya hanya terdiri dari sponsa saja yang mengandung
kloroplast. Daun monokotil pada umumnya mesofilnya tidak berdeferensiasi. Daun
dikotil pada umumnya berdeferensiasi menjadi palisade dan sponsa. Sel-sel penyusun
jaringan palisade tersusun rapat dan kloroplasnya lebih banyak sedang sponsa memiliki
banyak ruang antarsel yang kecil-kecil.
Tipe-tipe daun dilihat dari struktur anatomi mesofilnya ada tiga, yaitu
dorsiventral, isolateral, dan sentris. Tipe daun menurut jumlah stoma pada sisi abaksial
dan adaksialnya ada tiga yaitu amfistomatik jika stoma berada pada permukaan adaksial
dan abaksial dengan jumlah yang hampir sama; hipostomatik jika stomata hanya pada
sisi abaksial atau jumlah stoma pada sisi tersebut lebih banyak dibandingkan dengan
yang terdapat pada sisi adaksial; epistomatik jika stomata ditemukan pada sisi adaksial
saja atau lebih banyak pada sisi adaksial dibanding dengan sisi abaksialnya.
Struktur daun dapat beradaptasi terhadap lingkungan. Adaptasi terhadap
lingkungan kurang air dilakukan dengan membentuk derivat epidermis tertentu atau
mempertebal kutikula dan menambah jumlah lapisan palisade. Tumbuhan yang
termasuk Cyperaceae dan Poaceae memiliki sel kipas untuk menggulung daun, mekipun
stomatanya faneropor dan lebih banyak terdapat di bagian adakxial. Daun Ficus elastica
memiliki epidermis yang lebih dari dua lapis, letak stomata di dalam (kriptopor).
Adaptasi dengan sinar ditunjukkan pada jumlah palisade yang lebih dari satu lapis.
Trikomata juga dibentuk untuk mengurangi penguapan. Tumbuhan yang termasuk
kelompok mesofit memiliki struktur daun dengan parenkima palisade di permukaan
adaksial dan sponsa di abaksial dan stomata terletak sama tinggi dengan lapisan sel
epidermis. Daun tumbuhan hidrofit memiliki stomata yang menonjol dan banyak
mengandung ruang udara yang luas.
Struktur daun ada yang mirip dengan tulang daun, disebut filodia; dan mirip
batang disebut kladodia. Filodia berasal dari pemipihan tangkai daun sedangkan
kladodia berasal dari pemipihan batang sehingga masing-masing memiliki struktur yang
mirip dengan tulang daun dan batang.

B. Tujuan
1. Mengidentifikasi jaringan penyusun daun dikotil dan monokotil.
2. Membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun daun dikotil
dan monokotil.
3. Mengamati jaringan penyusun daun yang beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya.

29
C. Alat dan Bahan
a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar
a) daun Acasia auriculiformis, b) daun Muchlenbeckia platyclada, c) daun Xanthosoma
sagittifolia.
2. preparat awetan penampang melintang daun:
a) Cymbopogon nardus/Zea mays, b) Ficus elastica, c) Lilium sp. d) Pinus merkusii.
3. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah masing-masing:
a. Irisan melintang daun Acasia auriculiformis. Letakkanlah hasil irisan pada gelas
benda yang telah ditetesi air kemudian tutuplah dengan kaca penutup. Amatilah masing-
masing jaringan penyusun daunnya. Jernihkanlah preparat dengan kloral hidrat. Setelah
tampak jernih tetesilah preparat dengan floroglusin dan HCl 25%. Perhatikanlah: (1)
bentuk sel epidermisnya, adakah stomatanya? (2) bentuk sel penyusun parenkima
mesofil; dan (3) tipe berkas pengangkut pada lamina dan kosta. Buatlah gambar
skemanya secara utuh dan gambar satu sektor melalui kosta dan sebagian laminanya.
Apa keistimewaan dari daun A. auriculiformis? Buatlah kesimpulan: (1) struktur daun
tersebut mirip dengan struktur apa?, (2) struktur daun tersebut beradaptasi dengan
lingkungan apa?
b. Irisan melintang daun Muchlenbeckia platyclada dan Xanthosoma sagittifolia.
Lakukan pengamatan sama seperti preparat 4a. Apa keistimewaan maisng-masing daun?
jika ada unsur adaptasi terdapat pada daun apa dan adaptasi terhadap lingkungan apa?
5. Amatilah preparat awetan irisan melintang daun:
Cymbopogon nardus/Zea mays, Ficus elastica, Lilium sp. dan Pinus merkusii. Cara
menggambar dan hal-hal yang perlu dicermati sesuai dengan pengamatan pada preparat
segar 4.a. Apa keistimewaan maisng-masing daun? jika ada unsur adaptasi terdapat
pada daun apa dan adaptasi terhadap lingkungan apa?
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Jelaskan perbedaan struktur anatomi daun dikotil dan monokotil berdasarkan bahan-
bahan yang telah kalian amati!
2. Deskripsikan struktur anatomi daun yang hidup di lingkungan:

30
a. kering
b. cukup air
3. Derivat epidermis apa saja yang kamu temukan pada preparat, jelaskan fungsinya
bagi tumbuhan
4. Adakah struktur daun yang menyerupai tangkai daun dan batang, jelaskan
jawabanmu!
5. Jelaskan perbedaan unsur-unsur berkas pengangkut di bagian kosta dan lamina!
6. Klasifikasikan semua preparat yang kamu amati, termasuk daun tipe yang mana?

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

31
9. BUNGA
A. Dasar Teori
Bunga merupakan organ generatif dari tumbuhan. Alat reproduksi tumbuhan
terdapat di dalam bunga. Bunga terdiri dari bagian infertil dan fertil. Bagian infertil
terdiri dari tangkai bunga, dasar bunga, kelopak, mahkota; sedang bagin fertil terdiri
dari benang sari dan putik.
Tangkai bunga memiliki struktur anatomi seperti batang, sedang daun kelopak
dan mahkota memiliki struktur seperti daun. Daun kelopak biasanya masih mengandung
kloroplas, sel sekretori menghasilkan minyak atsiri sehingga menimbulkan bau harum
atau zat warna seperti antosianida yang menyebabkan daun mahkota memiliki warna
yang bermacam-macam.
Benang sari terdiri dari filamentum dan anthera. Filamentum memiliki struktur
seperti batang. Anthera terdiri dari theca yang menghasilkan serbuk sari. Struktur
anatomi anthera meliputi exothecium, lamina fibrosa, lapisan tengah, dan tapetum yang
mengelilingi lokulus (waktu anthera masih muda) atau thecium (waktu anthera masak).
Kedua theca dihubngkan oleh konektivum yang memiliki berkas pengangkut. Polen
terdapat di dalam thesium.
Putik terdiri dari kepala putik, tangkai kepala putik, dan bakal buah. Bakal biji
terdapat di dalam bakal buah. Struktur anatomi bakal buah terdiri dari dinding bakal
buah yang umumnya terdiri dari satu lapis sel dan di sebelah dalam terdiri dari beberapa
lapis sel parenkimatis mengelilingi ruang ovarium yang di dalamnya terdapat ovulum.
Ruang ovarium dapat terdiri dari satu atau lebih tergantung jumlah karpelumnya.
Septum membagi ruang ovarium menjadi beberapa ruang. Ovulum terdiri dari
integumen dan nuselus yang bersifat parenkimatis.

B. Tujuan
1. Mengamati struktur anatomi tangkai bunga
2. Mengamati struktur anatomi daun kelopak
3. Mengamati struktur anatomi daun mahkota
4. Mengamati struktur anatomi filamentum
5. Mengamati struktur anatomi anthera
6. Mengamati struktur anatomi ovarium
7. Mengamati struktur anatomi tangkai kepala putik
8. Mengamati struktur anatomi polen

C. Alat dan Bahan


a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar: bunga kembang sepatu (yang masih kuncup).
2. preparat awetan penampang melintang dan membujur:
a) bunga cengkeh bagian hypoanthium dan epianthium
b) perianthium lilium
3. empulur ketela pohon

32
3. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah masing-masing:
a. Irisan melintang tangkai bunga, daun kelopak, daun makhota, filamentum, anthera
dari bunga sepatu. Empulur digunakan untuk membantu mengiris daun kelopak,
mahkota, filamentum, dan anthera. Amatilah maing-masing preparat pada mikroskop
cahaya. Gunakan reagen: (1) Kloral hidrat untuk menjernihkan preparat, (2) floroglusin
dan HCl 25% untuk memperjelas susunan berkas pengangkut. Amatilah jaringan
penyusun: tangkai bunga, kelopak, mahkota, filamentum, dan anthera. Buatlah gambar
skema secara penuh dan gambar secara rinci satu sektor atau satu bagian dari masing-
masing preparat yang kalian amati. Gambarlah bentuk polen yang tampak. Dari masing-
masing preparat, tentukanlah struktur yang menyerupai batang atau cabang dan struktur
yang menyerupai daun.
b. Irisan melintang dari ovarium dan stilus bunga sepatu. Amatilah maing-masing
preparat pada mikroskop cahaya. Gunakan reagen: (1) Kloral hidrat untuk menjernihkan
preparat, (2) floroglusin dan HCl 25% untuk memperjelas susunan berkas pengangkut.
Amatilah jaringan penyusun ovarium dan stilus. Pada ovarium tentukan tentukan tipe
plasentanya. Buatlah gambar skema secara penuh dan gambar secara rinci satu sektor
atau satu bagian dari masing-masing preparat yang kalian amati. Adakah bagian yang
tersusun sama seperti daun?
5. Amatilah preparat awetan irisan:
a. membujur bunga cengkeh
Amatilah preparat di bawah mikroskop cahaya pada perbesaran lemah. Identifikasilah
bagian-bagian dan jaringan penyusun bunganya. Di manakah dapat ditemukan kelenjar
minyak atsiri, ovarium, dan jaringan aerenkima. Buatlah gambar skema secara penuh.
b. melintang bunga cengkeh bagian hypoanthium dan epianthium
Amatilah preparat di bawah mikroskop cahaya pada perbesaran lemah. Identifikasilah
bagian-bagian dan jaringan penyusun bunganya. Di manakah dapat ditemukan kelenjar
minyak atsiri, ovarium, dan jaringan aerenkima. Apa tipe plasenta pada bunga cengkeh?
Buatlah gambar skema secara penuh dan gambar secara rinci satu sektor atau satu
bagian dari masing-masing preparat yang kalian amati.
c. melintang periantium bunga Lilium
Amatilah preparat di bawah mikroskop cahaya pada perbesaran lemah. Identifikasilah
bagian-bagian dan jaringan penyusun perianthiumnya. Amatilah tipe berkas
pengangkutnya. Buatlah gambar skema secara penuh dan gambar secara rinci satu
sektor atau satu bagian dari masing-masing preparat yang kalian amati.
6. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

33
E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. Sebutkan jaringan-jaringan yang menyusun daun kelopak dan mahkota bunga sepatu?
2. Jelaskan perbedaan struktur daun kelopak dan mahkota pada bunga sepatu!
3. Bagian-bagian bunga apa saja yang memiliki struktur anatomi seperti batang?
jelaskan jawabanmu!
4. Apakah daun mahkota dapat berfungsi untuk fotosintesis? jelaskan jawabanmu!
5. Jelaskan struktur anatomi daun buah (karpelum), apakah lebih menyerupai batang
atau daun?

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

34
10. BUAH DAN BIJI
A. Dasar Teori
Pembentukan buah terjadi setelah peristiwa fertilisasi (pembuahan). Dinding
ovarium akan menjadi dinding buah dan bakal buah akan menjadi buah. Bakal biji akan
menjadi biji.
Buah ada yang berdaging dan ada yang kering. Buah berdaging jika memiliki
dinding buah tebal dan mengandung air, buah demikian disebut dengan buah buni. Buah
kering ada yang kulit buahnya terpisah dengan kulit bijinya atau bersatu dengan kulit
bijinya. Buah yang kulit bijinya bersatu dengan kulit buahnya dinamakan akenium.
Kulit buah ada yang dua lapis dan ada yang tiga lapis. Kulit buah yang terdiri
dari 2 lapis meliputi eksokarpium dan endokarpium sedang yang tiga lapis meliputi
eksokarpium, mesokarpium, dan endokarpium. Endokarpium berbatasan dengan kulit
biji. Eksokarpium umumnya satu lapis sel, mesokarpium terdiri dari beberapa lapis sel,
sedang endokarpium dapat satu lapis atau lebih. Buah tertentu memiliki endokarpium
yang terdiri dari sel batu. Daging buah yang kita makan sehari-hari sebenarnya
mesokarpium.
Biji berkembang setelah fertilisasi juga. Integumen akan berkembang menjadi
kulit biji, sedang kantung lembaga akan berkembang menjadi endosperm dan embrio.
Embrio di dalam biji merupakan perkembangan dari zigot. Perkembangan embrio akan
membentuk calon akar (radikula), calon tunas (plumula), dan kotiledon. Endosperm ada
yang sudah habis untuk perkembangan embrio sehingga masa dormansi biji pendek. Biji
yang tidak memiliki endosperm dinamakan non-endosperm seed atau biji yang tidak
berputih lembaga atau exalbumineous seed. Cadangan makanan mungkin disimpan
dalam kotiledon. Biji ada juga yang masih memiliki endosperm pada waktu buah
masak, biji demikian disebut endosperm seed atau biji berputih lembaga atau
albumineous seed.
Bakal biji melekat pada dinding ovarium melalui funikulus dan plasenta.
Funikulus dapat melekat pada kulit biji terutama pada bakal biji yang mengangguk.
Setelah fertilisasi, bakal biji akan berkembang menjadi biji, funikulus akan menjadi
rafe. Bekas pelekatan plasenta dengan bakal biji disebut hilus atau hilum. Hilum
biasanya tersusun dari sel-sel yang strukturnya seperti trakeida sehingga dapat dilalui air
pada proses imbibisi.
Kotileon dapat juga berfungsi sebagai alat penyerap cadangan makanan
sehingga disebut dengan haustorium. Selain itu kotiledon dapat berubah menjadi hijau
setelah biji berkecambah dan kotiledon tadi menjadi alat fotosintesis.
Perkecambahan biji ada yang memunculkan kotiledon ke atas tanah sehingga
bagian hipokotil muncul ke atas tanah; tetapi ada juga biji yang perkecambahannya
tidak memunculkan kotil ke luar, kotil tetap berada di dalam tanah. Perkecambahan
yang tidak memunculkan kotil ke atas tanah disebut perkecambahan hipogeus.
Perkecambahan yang memunculkan kotil di permukaan tanah disebut epigeus.

B. Tujuan
1. Mengamati struktur anatomi buah berdaging.
2. Mengamati struktur anatomi buah kering.
3. Mengamati struktur biji.

35
C. Alat dan Bahan
a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet
tetes, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar:
a. buah buncis c. biji kacang hijau
b. buah adas d. buah jagung segar
c. buah cabe rawit
2. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat, IKI, Sudan III.
3. Empulur ketela pohon.

D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga
mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada
setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a. preparat irisan melintang buah buncis. Amatilah di bawah mikroskop cahaya.
Perhatikanlah komponen jaringan penyusun kulit buah. Ada berapa lapis kulit buahnya?
Jaringan apa saja yang menyusun kulit buah? Perhatikan pula bijinya, jaringan apa saja
yang menyusun biji? Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi? Buatlah
skemanya secara lengkap dan gambarlah hasil pengamatanmu secara rinci satu sektor.
b. preparat irisan melintang buah adas, dengan bantuan empulur ketela pohon. Amatilah
di bawah mikroskop cahaya. Lakukanlah pengamatan sesuai dengan langkah 4a.
Reaksikan preparat dengan Sudan III, apa yang terjadi?. Reaksikan juga dengan IKI,
apa yang terjadi? Catatlah hasil pengamatanmu pada buku laporan.
c. preparat irisan melintang buah cabe rawit. Amatilah di bawah mikroskop cahaya.
Lakukanlah pengamatan sesuai dengan langkah 4a.
d. preparat irisan melintang biji kacang hijau melalui hilusnya. Amatilah di bawah
mikroskop cahaya. Bagian-bagian apa saja yang tampak? Identifikasilah jaringan
penyusun kulit biji dan kotiledonnya. Bagian-bagian embrio apa saja yang tampak?
Buatlah skemanya secara lengkap dan gambarlah hasil pengamatanmu secara rinci satu
sektor melalui hilusnya. Reaksikan preparat dengan reagen Floroglusin dan HCl 25%,
amatilah jaringan penyusun yang bereaksi dengan reagen tersebut, jaringan apakah itu?
Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi? Biji kacang hijau dilihat dari
struktur anatominya termasuk biji yang mana?
e. preparat irisan membujur buah jagung. Amatilah di bawah mikroskop cahaya.
Bagian-bagian apa saja yang tampak? Identifikasilah jaringan penyusun kulit buahnya.
Bagian-bagian embrio apa saja yang tampak? Buatlah skemanya secara lengkap.
Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi?
5. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan
pengamatan.

36
E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya
kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. a. Jelaskan perbedaan struktur anatomi buah yang berdaing dan buah kering!
b. Berikan contoh dari bahan amatan, buah manakah yang termasuk buah kering dan
buah berdaging?
2. Sebutkan jaringan-jaringan apa saja yang menyusun kulit buah!
3. Jelaskan dari perkembangan apakah kulit buah?
4. Sebutkan bagian-bagian biji!
5. Jelaskan bagian-bagian yang menyusun kulit biji?
6. Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian embrio suatu biji!
7. Jelaskan perbedaan antara kulit buah dan kulit biji!

F. Kepustakaan

[1] R. F. Evert, K. Esau, and K. Esau, Esau’s Plant anatomy: meristems, cells, and tissues of the
plant body: their structure, function, and development, 3rd ed. Hoboken, N.J: Wiley-
Interscience, 2006.
[2] C. B. Beck, ‘An Introduction to Plant Structure and Development: Plant Anatomy for the
Twenty-First Century, Second Edition’, p. 465.
[3] T. A. Steeves and V. K. Sawhney, Essentials of developmental plant anatomy. New York, NY:
Oxford University Press, 2017.
[4] P. J. Rudall, ‘Anatomy of Flowering Plants: An Introduction to Structure and Development’, p.
160. https://kashanu.ac.ir/Files/Content/toluei/Anatomy_of_flowering_plants.pdf
[5] S. Sulisetijono & M. Sapta Sari. Bahan Ajar: Struktur & Perkembangan Tumbuhan 1 (Anatomi
Tumbuhan). Malang: Biologi FMIPA UM, 2019.
[5] K. Esau. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc., 1977.
[6] B.P. Pandey. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd, 1980.

37

Anda mungkin juga menyukai