Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata, biasanya


disebabkan oleh stafilokokus dan streptokokus.1,2 Hordeolum adalah kelainan
pada kelopak mata yang cukup sering di temukan di masyarakat. Dapat terjadi
pada semua umur, terutama pada usia dewasa dan lebih jarang pada anak-anak.2,3

Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.


Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar zeis atau moll dengan
penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Hordeolum internum merupakan
infeksi kelenjar meibom dengan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva
tarsal.1,3.4

Penderita hordeolum biasanya menunjukan gejala radang pada kelopak mata


seperti bengkak, terasa mengganjal, kemerahan disertai nyeri jika ditekan. Nyeri
yang dirasakan berupa rasa terbakar, menusuk atau hanya berupa perasaan tidak
nyaman.1,4

Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan tidak


ikut bergerak dengan pergerakan kulit, serta jarang mengalami supurasi dan tidak
dapat memecah sendiri. Hordeolum eksternum tonjolan kearah kulit, ikut dengan
pergerakan kulit dan mengalami supurasi, memecah sendiri kearah kulit.5

Pengobatan hordeolum biasa berupa tindakan konservatif maupun operatif.


Tindakan konservatif dapat diberikan berupa kompres hangat untuk mempercepat
peradangan kelenjar. Sedangkan untuk medikamentosa dapat diberikan
antiinflamasi topikal maupun antibiotik dan antibiotik topikal maupun antibiotik
sistemik. Tindakan operatif dilakukan bila setelah diberikan terapi konservatif
tidak terdapat perbaikan. Operasi dilakukan dengan anastesi lokal, berupa
tindakan insisi untuk mengeluarkan nanah.1,2,4

1
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : ny. D
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : IRT
Alamat : jl. S Hasan udin, Rt 25 Talang Bakung

2.2 ANAMNESIS
2.2.1 Keluhan Utama
Bengkak di kelopak mata kanan dan kiri sejak ± 5 bulan yang lalu.

2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik mata RSU H. Abdul Manap dengan keluhan
bengkak di kelopak mata kanan bagian bawah dan kelopak mata kiri bagian
atas dan bawah sejak ± 5 bulan yang lalu.
Awalnya timbul benjolan kecil seperti jerawat yang terasa nyeri bila
ditekan dan gatal kemudian semakin lama semakin membesar sehingga
kelopak mata kiri atas merah dan bengkak dan berisi nanah. Kemudian ± 4
bulan yang lalu pasien disarankan untuk dilakukan operasi untuk
mengeluarkan nanahnya.
Kemudian setelah dilakukan operasi keluhan bengkak pada mata
berkurang namun beberapa minggu kemudian timbul kembali bengkak pada
kelopak mata kanan bagian bawah dan kelopak kiri bagian atas dan bawah
yang terasa gatal, merah (+) dan nyeri bila ditekan, mata berair disangkal.

2
Pasien mengatakan bahwa keluhan seperti ini sudah berlangsung sejak
± 5 bulan yang lalu, keluhan dirasakan terus menerus. Pasien juga
mengatakan pasien jarang membersihkan muka, mata merah sebelumnya (-
), bengkak (-), keluhan mata mudah berdarah (-).
2.2.3 Riwayat Pengobatan Sebelumnya
Pasien rajin untuk kontrol ke poli dan mendapatkan obat xitrol salep,
sanbe ters, amoxcilin 3x1, pernah dioperasi di Rs. Royal ± 4 bulan yang lalu

2.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


‐ Riwayat dengan keluhan yang sama (-)
‐ Riwayat Trauma (-)
‐ Riwayat Alergi (-)

2.2.5 Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


- riwayat dengan penyakit yang sama dikeluarga pasien disangkal

2.2.6 Keadaan Sosial Ekonomi


Ekonomi pasien tergolong dalam ekonomi yang menengah ke atas

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


2.3.1 Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital :
Tekanan Darah: 110/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,5ᵒ C
‐ Kepala : Normocephal
‐ Mata : Status Oftalmologi
‐ THT : Tidak ada keluhan

3
‐ Mulut : Tidak ada keluhan
‐ Leher : Tidak ada keluhan
‐ Thoraks : Tidak ada keluhan
‐ Abdomen : Tidak ada keluhan
‐ Ekstremitas : Tidak ada keluhan

2.3.2 Status Oftalmologikus

4
Pemeriksaan OS
OD
Visus SC 6/6 6/6
CC

Kedudukan Bola Mata


Posisi Ortoforia Ortoforia

Pergerakan bola mata

- Duksi Baik Baik


- Versi Baik Baik

Pada palpasi ditemukan : Pada palpasi ditemukan :


Massa (+), konsistensi Edema (-), massa (-),
kenyal, hiperemis (+) dan hiperemis (-)
tidak bisa digerakkan,

Palpebra
Superior Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (+), edema (+),

5
eritem (-), laserasi (-), laserasi (-), sekret (-)
Inferior sekret (-) Hiperemis (+), edema (+),
Hiperemis (+), edema (+), laserasi (-), sekret (-)
eritem (+), laserasi (-),
sekret (-)
Konjungtiva
Konjungtiva tarsus Hiperemis (-), Anemis (-), Hiperemis (-), Anemis (-),
superior Papil (-), folikel (-), lytiasis Papil (-), folikel (-),
(-) lytiasis (-)
Konjungtiva tarsus Hiperemis (-), Anemis (-), Hiperemis (-), Anemis (-),
inferior Papil (-), folikel (-), lytiasis Papil (-), folikel (-),
(-) lytiasis (-)
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (-), Injeksi konjungtiva (-),
Injeksi Silier (-), jar. Injeksi Silier (-),jar.
Fibrovascular (-) Fibrovascular (-)
Kornea
Jernih + +
Edema - -
Ulkus - -
Perforasi - -
Makula - -
Leukoria - -
Pigmen iris - -
Laserasi - -
Bekas jahitan - -
Jaringan fibrovaskuler - -
Limbus Kornea
Arcus sinilis - -
Bekas jahitan - -
Jaringan fibrovaskuler - -

6
Sklera
Sklera biru - -
Episkleritis - -
Skleritis - -
COA
Volume Sedang Sedang
Hipopion - -
Iris
Warna Cokelat Cokelat
Kripta Normal Normal
Prolaps - -
Pupil
Bentuk Bulat Bulat
Isokoria Isokor Isokor
Ukuran 3 mm 3 mm
RCL + +
RCTL + +
Lensa
Kejernihan Jernih Jernih
PEMERIKSAAN Tidak dilakukan Tidak dilakukan
SLIT LAMP
Tekanan Intra Okuler
Palpasi Normal Normal
Tonometer Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan
VISUAL FIELD TIDAK DILAKUKAN
FUNDUSKOPI TIDAK DILAKUKAN

7
2.3 DIAGNOSIS KERJA
Hordeolum Internum Okuli Dextra-Sinistra

2.4 DIAGNOSIS BANDING


- Hordeolum Eksternum
- Kalazion
- Blefaritis

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan

2.6 PENATALAKSANAAN
 Non Medikamentosa
- Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit.
- Bersihkan kelopak mata dengan air bersih.
- Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan
infeksi yang lebih serius.
 Medikamentosa
- Amoxicilin tablet 500 mg 3x1.
- Salep mata Hydrocortisone acetate 0,5 % dan Chloramphenicol 0,2%
digunakan pada mata yang sakit 3x sehari

2.7 PROGNOSIS
- Quo Ad Vitam : Ad Bonam
- Quo Ad Fungsionam : Ad Bonam
- Quo Ad Sanactionam : Ad bonam

8
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Palpebra
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata,
palpebra inferior menyatu dengan pipi.3 Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan
utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis
okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa
(konjungtiva palpebrae).3

1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.
2. Musculus Orbikularis Okuli
Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi
fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita.
Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam
palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal, bagian di atas septum orbitae adalah
bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli
dipersarafi oleh nervus facialis.
3. Jaringan Areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis
subaponeurotik dari kulit kepala.
4. Tarsus
Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa
padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan

9
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas
dan 20 buah di kelopak bawah).
5. Konjungtiva Palpebrae
Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

Anatomi Palpebra

Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi


tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula
Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang
bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu
mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini
terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi
(glandula Meibom atau tarsal).3
Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior
palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis. Fisura palpebrae adalah ruang elips di
antara kedua palpebra yang dibuka. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan
lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan
membentuk sudut tajam. Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian

10
muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan
berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum orbitale superius
menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior,
septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior.3
Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,
bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks
orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan
bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus
Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah
muskulus rektus inferior yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk
membungkus muskulus obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah
tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi
oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus
okulomotoris.3
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra.
Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V
(Trigeminus), sedangkan kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V
(Trigeminus).3

Hordeolum

Definisi
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang
terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan
hordeolum eksterna yang lebih kecil dan superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss
atau Moll.3
Klasifikasi
Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
Penjelasannya adalah sebagai berikut : 6
a. Hordeolum Eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll
dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Pada hordeolum

11
eksternum, nanah dapat keluar dari pangkal rambut. Tonjolannya ke arah
kulit, ikut dengan pergerakkan kulit dan mengalami supurasi, memecah
sendiri ke arah kulit.

Hordeolum Eksternum

b. Hordeolum Internum
Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di
dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit konjungtiva tarsal.
Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibandingkan
hordeolum eksternum. Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah
konjungtiva dan tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit serta jarang
mengalami supurasi dan tidak memecah sendiri.

Hordeolum Internum

12
Epidemiologi
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum merupakan
jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan pada praktek
kedokteran. Insidensi tidak tergantung pada ras dan jenis kelamin.7

Etiologi
Staphylococcus aureus adalah agen infeksi pada 90-95% kasus hordeolum. 6

Faktor Risiko
Faktor risiko hordeolum adalah sebagai berikut : 1
a. Penyakit kronik.
b. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
c. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.
d. Diabetes.
e. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.
f. Riwayat hordeolum sebelumnya.
g. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih.
h. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik.

Patogenesis
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi staphylococcus yang kemudian
menyebabkan inflamasi pada kelopak mata. Patogenesis terjadinya hordeolum
eksterna diawali dengan pembentukan nanah dalam lumen kelenjar oleh infeksi
Staphylococcus aureus. Biasanya mengenai kelenjar Zeis dan Moll. Selanjutnya
terjadi pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan
mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi pembentukan
nanah dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak gambaran abses,
dengan ditemukannya PMN dan debris nekrotik.
Hordeolum interna terjadi akibat adanya infeksi sekunder kelenjar Meibom di
lempeng tarsal. Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom

13
yang terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan
reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya.1,8

Manifestasi Klinis

Gejala subyektif dirasakan mengganjal pada kelopak mata, bertambah kalau


menunduk dan nyeri bila ditekan. Gejala obyektif tampak suatu benjolan pada
kelopak mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila ditekan di dekat
pangkal bulu mata.1,8

Hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah


kelopak. Pada hordeolum eksternum nanah dapat keluar dari pangkal rambut.
Hordeolum internum memberikan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal,
dan biasanya berukuran lebih besar dibandingkan hordeolum eksternum. Dapat
disertai pseudoptosis atau ptosis akibat bertambah beratnya kelopak sehingga sukar
diangkat. Kadang disertai dengan pembesaran kelenjar preaurikel dan secara umum
gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil.1,8,9

Berdasarkan gejala:1,8
- Pembengkakan
- Rasa nyeri pada kelopak mata
- Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata
Berdasarkan tanda:1,8
- Eritema
- Edema
- Nyeri bila di dekatt pangkal bulu mata
- Seperti gambaran abses kecil

Diagnosis
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang
muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan mata berupa inspeksi dan
palpasi kelopak mata. Karena kekhasan hordeolum maka pemeriksaan penunjang
tidak diperlukan dalam mendiagnosis penyakit ini. 10

14
Diagnosa Banding
Diagnosa banding hordeolum adalah :
1. Kalazion, merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang
tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan
infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut.9,10
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak
hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Kelenjar
preaurikel tidak membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan
bentuk bola mata akibat tekanan sehingga terjadi kelainan refraksi pada
mata tersebut.1,10
2. Selulitis praseptal, merupakan infeksi umum pada kelopak mata dan
jaringan lunak periorbital yang di karakteristikkan dengan adanya eritema
pada kelopak mata yang akut dan edema. Infeksi yang umumnya terjadi
berasal dari persebaran dari infeksi lokal sekitar seperti sinusitis ataupun
trauma terhadap kelopak mata.10

Penatalaksanaan
Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari. 11
a. Non Farmakologi

1) Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
2) Bersihkan kelopak mata dengan air bersih ataupun dengan sabun atau sampo
yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat
mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
3) Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan
infeksi yang lebih serius.
4) Hindari pemakaian make-up pada mata, karena kemungkinan hal itu
menjadi penyebab infeksi.
5) Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.

15
b. Farmakologi
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak
ada perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah
hordeolum.10
1) Antibiotik Topikal

Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10
hari. Dapat juga diberikan eritromisin salep mata untuk kasus hordeolum
eksterna dan hordeolum interna yang ringan.1,8

2) Antibiotik Sistemik

Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda


pembesaran kelenjar limfe di preauricular.5 Pada kasus hordeolum internum
dengan kasus yang sedang sampai berat dapat diberikan cephalexin atau
dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin
atau cephalosporin dapat diberikan clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari
selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari.1,8

c. Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur
pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum.11
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan
pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain
di daerah hordeolum dan dilakukan insisi: 2
1) Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus
pada margo palpebra.

2) Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Cara insisi :1,8,9


- Berikan anestesi lokal dengan tetes mata pantocain.

16
- Kalau perlu diberikan anestesi umum, misal pada anak-anak atau orang-orang
yang sangat takut sebelum diberi anestesi umum
- Dilakukan anastesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum
- Pada hordeolum internum insisi dilakukan pada konjungtiva, ke arah muka
dan tegak lurus pada margo palpebra (vertikal) untuk menghindari banyaknya
kelenjar-kelenjar yang terkena
- Pada hordeolum eksternum arah insisi horizontal sesuai dengan lipatan kulit
atau sejajar dengan margo palpebra.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi


jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep
antibiotik.

Teknik Pembedahan Pada Hordeolum.

17
Komplikasi
Komplikasi hordeolum adalah mata kering, simblefaron, abses, atau selulitis
palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum
orbita dan abses palpe

Pencegahan
Pencegahan hordeolum dapat dilakukan dengan cara berikut : 8
a. Menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.

b. Mengusap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat


untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.

c. Menjaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi


oleh kuman.

d. Menggunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

Prognosis
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan sendirinya, selama kebersihan daerah mata dijaga
dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai. Perlu
diperhatikan walaupun hordeolum tidak berbahaya dan komplikasinya sangat jarang
namun hordeolum sangat mudah kambuh.1

18
BAB IV

ANALISA KASUS

Pada kasus ini dilaporkan Pasien datang ke poliklinik mata RSU H. Abdul
Manap dengan keluhan bengkak di kelopak mata kanan bagian bawah dan
kelopak mata kiri bagian atas dan bawah sejak ± 5 bulan yang lalu.

Awalnya timbul benjolan kecil seperti jerawat yang terasa nyeri bila ditekan
dan gatal kemudian semakin lama semakin membesar sehingga kelopak mata kiri
atas merah dan bengkak dan berisi nanah. Kemudian ± 4 bulan yang lalu pasien
disarankan untuk dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanahnya.

Kemudian setelah dilakukan operasi keluhan bengkak pada mata berkurang


namun beberapa minggu kemudian timbul kembali bengkak pada kelopak mata
kanan bagian bawah dan kelopak kiri bagian atas dan bawah yang terasa gatal,
merah (-) dan nyeri bila ditekan, mata berair disangkal.

Pasien mengatakan bahwa keluhan seperti ini sudah berlangsung sejak ± 5


bulan yang lalu, keluhan dirasakan terus menerus. Pasien juga mengatakan pasien
jarang membersihkan muka.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan di kelopak mata kanan bawah dan
kelopak mata kiri bagiam atas dan bawah

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik mata kanan maka dapat
ditegakkan hordeolum internum Oculi Dextra-Sinistra. Hal ini sesuai literatur
yang mengatakan hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang
terletak di dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit konjungtiva
tarsal. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibandingkan
hordeolum eksternum. Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah
konjungtiva dan tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit serta jarang
mengalami supurasi dan tidak memecah sendiri.

19
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah pemberian antibiotik sistemik,
kortikosteroid topikal dan analgetik serta pasien diminta untuk melakukan
kompres hangat 4-6x sehari selama 15 menit. Dimana hal ini telah sesuai dengan
literatur yang mengatakan untuk penatalaksanaan medikamentosa pada hordeolum
diberikan antibiotik topikal dan sistemik serta kortikosteroid sedangkan untuk
penatalaksanaan non medikamentosa yaitu diberikan kompres hangat 4-6 kali
sehari selama 15 menit, bersihkan kelopak mata dengan air bersih dan jangan
menekan atau menusuk hordeolum karena hal ini dapat menimbulkan infeksi yang
lebih serius.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas HS. Hordeolum. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta, 2004 : 92-4.
2. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI,
Jakarta. 2004: Hal 92-94
3. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika,
Jakarta, 2000: Hal 17-20
4. Sidarta, I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, Balai Penerbit FK
UI, Jakarta 2003: Hal 15 -16
5. Ilyas HS. Hordeolum. Ilmu Perawatan Mata. Sagung Seto. Jakarta, 2004 :
96-97.
6. Sidarta I, SR Yulianti. Ilmu Penyakit Mata, Cetakan IV, Balai Penerbit FK
UI, Jakarta 2011: Hal1-2 ; 92-94
7. Panicharoen C, Hirunwiwatkul P. Current Pattern Treatment of
Hordeolum by Ophthalmologists in Thailand. J Med Assoc Thai. 2011;94
(6):721-4
8. SMF Ilmu Penyakit Mata. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi 3.
Surabaya: FKUNAIR; 2006
9. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta:
EMS; 2006
10. Raftery AT, Lim, Eric. Churchill’s Pocketbook of Differential Diagnosis.
Elseviers; 2010.
11. Keskinaslan I, Pedroli GL, Piffaretti JM, et al. Eyelid Sebaceous Gland
Carcinoma in a Young Caucasian Man. Klin Monbl Augenheilkd.
2008;225(5):422-3
12. Kodama T, Tane N, Ohira A, et al. Sclerosing Sweat Duct Carcinoma of
the Eyelid. Jpn J Ophthalmol. 2004;48 (1):7-11

21