Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau

oleh gangguan peristaltis. Obstruksi usus disebut juga sebagai obstruksi mekanik.

Penyumbatan dapat terjadi dimana saja di sepanjang usus. Pada obstruksi usus

harus dibedakan lagi menjadi obstruksi sederhana dan obstruksi strangulata.

Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi dan volvulus

mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau

askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.1

Etiologi dan pola penyumbatan berbeda di berbagai negara. Di negara-

negara Barat hernia terhambat merupakan penyebab tersering obstruksi usus pada

abad pertama. Sekarang adhesi intraperitoneal adalah yang paling sering

menyebabkan. Tetapi di negara berkembang hernia masih menempati bagian atas

dari daftar penyebab kondisi pembedahan ini. Masalah yang dihadapi ahli bedah

dalam kondisi ini termasuk harus memutuskan diagnosis obstruksi usus untuk

selanjutnya dilakukan pembedahan segera agar tidak terjadi iskemia hingga

membutuhkan eksplorasi mendesak.2

Penyebab obstruksi kolon yang paling sering ialah karsinoma terutama

pada daerah rektosigmoid dan kolon kiri distal. Tanda obstruksi usus merupakan

tanda lanjut (late sign) dari karsinoma kolon. Obstruksi ini adalah obstruksi usus

mekanik total yang tidak dapat ditolong dengan cara pemasangan tube lambung,

puasa dan infus. Akan tetapi harus segera ditolong dengan operasi (laparatomi).

1
Umumnya gejala pertama timbul karena penyulit yaitu gangguan faal usus berupa

gangguan sistem saluran cerna, sumbatan usus, perdarahan atau akibat penyebaran

tumor. Biasanya nyeri hilang timbul akibat adanya sumbatan usus dan diikuti

muntah-muntah dan perut menjadi distensi/kembung. Bila ada perdarahan yang

tersembunyi, biasanya gejala yang muncul anemia, hal ini sering terjadi pada

tumor yang letaknya pada usus besar sebelah kanan.1

Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak di dunia dan

penyebab kematian kedua terbanyak (terlepas dari gender) di Amerika Serikat.

Dari data Globocan 2012, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per

100.000 penduduk usia dewasa, dengan mortalitas 9,5% dari seluruh kasus

kanker. Di Indonesia, kanker kolorektal sekarang menempati urutan nomor 3,

kenaikan tajam yang diakibatkan oleh perubahan pada diet orang Indonesia, baik

sebagai konsekuensi peningkatan kemakmuran serta pergeseran ke arah cara

makan orang barat (westernisasi) yang lebih tinggi lemak serta rendah serat.

Meskipun perkembangan pengobatan adjuvan akhir-akhir ini berkembang secara

cepat dan sangat maju, akan tetapi hanya sedikit saja meningkatkan harapan hidup

pasien kanker kolorektal bila sudah ditemukan dalam stadium lanjut.3

Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang terjadi pada

mukosa kolon di mana penyakit ini mempunyai angka morbiditas dan mortalitas

yang tinggi. Berdasarkan studi epidemiologi yang dilakukan oleh Haggar, et al

tahun 2009 dikatakan bahwa jumlah insiden kanker kolorektal di dunia mencapai

9% dari semua jenis kanker. Berdasarkan data dari World Cancer Research Fund

International (WCRF) tahun 2008 kanker kolorektal menempati peringkat ketiga

2
setelah kanker paru dan kanker payudara sebagai kanker dengan frekuensi

terbanyak dengan 1,2 juta kasus baru. Data World Health Organization (WHO)

tahun 2008 menempatkan kanker kolorektal pada urutan keempat setelah kanker

paru, kanker lambung dan kanker hati sebagai penyebab kematian akibat kanker

dengan 608.000 kematian.4

Kunci utama keberhasilan penanganan kanker kolorektal adalah

ditemukannya kanker dalam stadium dini, sehingga terapi dapat dilaksanakan

secara bedah kuratif. Namun sayang sebagian besar penderita di Indonesia datang

dalam stadium lanjut sehingga angka harapan hidup rendah, terlepas dari terapi

yang diberikan. Penderita datang ke rumah sakit sering dalam stadium lanjut

karena tidak jelasnya.3

Pada tahun 2008, kanker kolorektal menduduki peringkat ke 3 di antara

bentuk kanker nonskin yang paling banyak terjadi di A.S. untuk pria dan wanita.

Kanker kolorektal juga merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat

kanker; lebih dari 50.000 orang Amerika meninggal setiap tahun karena kanker

kolon atau dubur, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Ada

teknik penyaringan yang mapan di tempat yang bisa membantu mengurangi

jumlah kematian akibat kanker kolorektal setiap tahunnya. Prosedur ini umumnya

kurang dimanfaatkan oleh populasi yang berisiko; pada tahun 2000, sekitar 40%

orang dewasa berusia 50 tahun ke atas melaporkan bahwa mereka telah

melakukan endoskopi usus besar dalam 5 tahun terakhir atau tes darah okultisme

tinja (FOBT) di tahun sebelumnya. Selain itu, mereka yang berisiko terkena

3
kanker kolorektal mungkin tidak memiliki akses terhadap jenis perawatan dan

pencegahan.5

Sebagian besar penyakit kolorektal disebabkan oleh turunan dan cara

hidup variabel hanya dengan sedikit kasus karena masalah herediter tersembunyi.

Beberapa elemen bahaya masuk dalam rejimen makan, merokok, dan tidak

adanya latihan fisik. Unsur bahaya lainnya adalah provokatif di dalam penyakit,

yang mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. Bagian dari masalah

keturunan yang didapat yang dapat menyebabkan penyakit kolorektal mencakup

poliposis adenomatosa familial dan keganasan usus besar non-poliposis. Skrining

sangat penting untuk menjaga dan mengurangi beban dari pertumbuhan

kolorektal. Skrining disarankan dimulai dari usia 50 sampai 75 tahun. Aspirin dan

obat mitral non steroid lainnya mengurangi bahaya. Penggunaan umum mereka

tidak disarankan karena alasan ini, karena mungkin karena reaksi.6