Anda di halaman 1dari 32

Re-Evaluasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan

Keluarga Kelurahan Lingkas Ujung RT 8 dan 18


Mini Project

Oleh:

dr. Christopher Adhisasmita Yandoyo


dr. Eva
dr. Juliana Rajagukguk
dr. M. Audi Muttaqin
dr. Mimi Azmiyati
dr. Robby M. Simangunsong
dr. Tommy

Pendamping:
dr. Erna Mayasanti

PUSKESMAS GUNUNG LINGKAS


KOTA TARAKAN
PROVINSI KALIMANTAN UTARA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, masalah kesehatan yang


dialami oleh keluarga pada satu unit terkecil ini dapat mempengaruhi masalah
kesehatan pada masyarkat secara umum.1 Hal ini menjadi perhatian khusus oleh
kepala puskesmas melalui program kerja yang dikembangkan pada wilayahnya
masing masing. Kesehatan keluarga yang prima dapat menjadi motivasi untuk
melakukan pemberdayaan masyarakat sehat, melalui keluarga sehat.2
Kesehatan adalah komponen untuk mendukung pembangunan ekonomi
negara serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang disesuaikan pada Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan
pada hakekatnya merupakan upaya yang dilaksanakan oleh segenap bangsa
Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang supaya tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.2
Dalam rangka mendukung Program Indonesia Sehat dengan pendekatan
keluarga yang merupakan salah satu dari Agenda ke-5 Nawa Cita yaitu
meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Program Indonesia Sehat
dengan pendekatan keluarga (PIS-PK) ini dituangkan dalam penjabaran dari
Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional 2015-2019, melalui
Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang
Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-2019.2,4,5
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik
di wilayah kerjanya.1 Puskesmas merupakan kunci dalam pelaksanaan
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga.
Pendekatan keluarga merupakan trategi pendekatan pelayanan terintergrasi
antara Upaya Kesehata Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM) yang didasari oleh data dan informasi profil kesehatan keluarga.1,2,3
Pendekatan keluarga sehat yang dapat dilakukan melalui kunjungan rumah
oleh petugas kesehatan. Dengan melakukan kunjungan rumah ini petugas
kesehatan bukan hanya mengumpulkan data kesehatan keluarga melainkan
petugas dapat mengenali masalah kesehatannya, upaya mengatasinya serta
memberikan motivasi agar keluarga di wilayah kerja puskesmas tersebut
mampu melakukan upaya pencegahan serta peningkatan status kesehatan
keluarganya dengan megoptimalkan potensi atau kemampuan yang
dimilikinya.2,3,4
Menurut data dari Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Tarakan Tahun
2016, menunjukkan bahwa ada program yang tercapai dan ada cakupan
kegiatan/program yang tidak tercapai, terutama untuk program Kesehatan ibu
dan anak. Cakupan indikator outputnya mengalami peningkatan dibanding
tahun 2015 namun indikator outcome nya juga meningkat. Salah satu alat
menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan
selama ini adalah dengan melihat angka kesakitan dan kematian dari tahun ke
tahun seperti di tahun 2016 Angka kematian Bayi (IMR) berjumlah 60 kasus
dengan demikian terjadi penurunan kasus kematian bayi dibanding tahun 201
adalah 5 83 kasus, terjadi peningkatan 23 kasus, namun dinas kesehatan masih
terus diusahakan pelaksanaan pembangunan kesehatan masyarakat yang
bertujuan merubah perilaku masyarakat menuju tercapainya perilaku sehat
melalui berbagai kegiatan, seperti program gizi, penerangan tentang imunisasi,
serta usaha untuk meningkatkan peran serta masyarakat pada upaya yang
sedang dijalankan Untuk angka kesakitan, ada beberapa penyakit yang tahun ini
jumlahnya meningkat yaitu penyakit DBD pada tahun 2016 (545 kasus) 4
diantanya meninggal sedangkan tahun 2015 menurun (474 kasus) 2 diantanya
meninggal. Malaria secara kumulatif dari tahun ke tahun terjadi penambahan.
Karakteristik kota Tarakan sebagai kota industri, perdagangan dan transit
terdapat beberapa masalah sosial seperti “illegal housing”. Parameter Kondisi
lingkungan Kota Tarakan dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti
persentase rumah sehat, rumah tangga dengan akses air bersih, sanitasi dasar
(saluran pembuangan air limbah, pembuangan sampah) dan rumah bebas jentik
dengan beberapa kriteria, seperti penilaian rumah sehat dengan komponen fisik
seperti ventilasi, luas bangunan, kepemilikan sanitasi yang meliputi sanitasi
dasar serta komponen perilaku hidup bersih dan sehat.
Puskesmas Gunung Lingkas merupakan salah satu Puskesmas di Kota
Tarakan dengan Jumlah penduduk tahun 2016 adalah 52.188 Jiwa dengan
wilayah kerja dalam Kecamatan Tarakan Timur yang mencakup 4 Kelurahan
yaitu Kelurahan Gunung Lingkas, Kelurahan Lingkas Ujung, Kelurahan
Kampung Satu Skip, dan Kelurahan Pamusian. Berdasarkan pelaksanaan PIS-
PK tahun 2018 didapatkan bahwa pada Kelurahan Lingkas Ujung khususnya
RT 8 dan RT 18 mendapatkan peringkat terendah dalam indikator PIS-PK di
wilayah kerja Puskesmas Gunung Lingkas. Maka dari itu perlu dilakukan re-
evaluasi serta peninjauan mengenai lingkungan tempat tinggal dan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan intervensi terhadap hal yang masih
menjadi poin yang menyebabkan rendahnya angka yang termasuk dalam
indikator keluarga sehat dari masing-masing anggota keluarga di wilayah RT
08 dan RT 18 Kelurahan Lingkas Ujung.1,8

B. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah pada Mini Project ini adalah “Bagaimana Capaian Program
Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga Kelurahan Lingkas Ujung RT 8 dan
18 Kota Tarakan setelah 1 tahun diimplementasikan ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui capaian program pasca pelaksanaan Kepuasan ditinjau
dari Gambaran Pencapaian Indikator Keluarga Sehat setelah pelaksanaan
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga Kelurahan Lingkas
Ujung RT 8 dan 18 Kota Tarakan.
2. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan kesehatan keluarga di RT 08 dan RT 18 Kelurahan Lingkas
Ujung Wilayah kerja Puskesmas Gunung Lingkas, Kota Tarakan periode
Maret 2019 sampai dengan Juli 2019
2. Memenuhi persyaratan akreditasi terkait Program Indonesia Sehat melalui
pendekatan keluarga sehat.
3. Sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter Internsip

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Hasil penelitian dapat menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti
khususnya mengenai program keluarga Sehat.
b. Hasil penelitian dapat menjadi data dasar dan menambah
referensi untuk penelitian selanjutnya.
2. Bagi Institusi Tempat Penelitian
Hasil penelitian dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi
Puskesmas Gunung Lingkas, Kota Tarakan dalam upaya peningkatan
program kesehatan khususnya keluarga sehat.
3. Bagi Masyarakat
Masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan tentang upaya
penerapan indikator keluarga sehat di lingkungan tempat tinggal masing
masing.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keluarga Sehat

1. Definisi Sehat

Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah


suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas
dari penyakit atau kelemahan. Dari definisi diatas yang dimaksudkan oleh
WHO, sehat terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang
membentuk ‘positif health’, yaitu: sehat jasmani, sehat mental, sehat spiritual,
kesejahteraan sosial.1,2,3

Pengertian sehat menurut UU No. 23/1992 merupakan keadaan sejahtera


dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Dari pengertian di atas maka seseorang di katakan sehat jika
memiliki tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal. Jika
salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan menjadi
tidak sehat.1,2

2. Definisi Keluarga Sehat


Keluarga sehat adalah semua perilaku kesehatan untuk memberdayakan
anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu mempraktekkan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari
ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakkan kesehatan
masyarakat.1,2,3

PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar/ menciptakan


suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan
membuka jalan komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi,
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku, melalui pendekatan
pimpinan (advokasi), bina suasana (social support) dan pemberdayaan
masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat
dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenai dan mengatasi
masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-
cara hidup sehat dalam rangka menjaga memelihara dan meningkatkan
kesehatannya.1,2

3. Manfaat Keluarga Sehat2,3,4,5


a. Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit
b. Anak tumbuh sehat dan produktif
c. Anggota keluarga giat bekerja
d. Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk
memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk
menambah pendapatan keluarga.5
4. Indikator Keluarga Sehat3,4
Indikator keluarga sehat adalah indikator yang dapat menunjukkan suatu
kondisi atau keadaan yang sehat atau penanda status kesehatan sebuah
keluarga, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi
ditetapkan 12 indikator, yang meliputi :2,3
a. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)
Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) :
suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan
jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan
kekutan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengetahuan
kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain meliputi
pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan
ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan dari tujuan program KB adalah:

1) Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ayah, ibu, anak,


keluarga dan bangsa
2) Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat
dan bangsa

3) Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR


yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah
kesehatan reproduksi.

b. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

Persalinan di fasilitas kesehatan adalah persalinan dalam rumah


tangga yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga
para medis lainnya). Meningkatnya proporsi ibu bersalin dengan bantuan
tenaga kesehatan yang terlatih, adalah langkah awal terpenting untuk
mengurangi kematian ibu dan kematian neonatal dini. Persalinan yang
ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman,
bersih dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya
kesehatan lainnya.

c. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap


Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu
penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan
terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten.
Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan
atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. Sedangkan pengertian
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila
kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit
ringan.
d. Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif

Bayi pada usia 0 – 6 bulan hanya diberi ASI sejak lahir sampai usia
6 bulan, tidak diberi makanan tambahan dan minuman lain kecuali
pemberian air putih untuk minum obat saat bayi sakit. ASI banyak
mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Zat gizi dalam ASI
sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik serta
kecerdasan. ASI mengandung zat kekebalan sehingga mampu
melindungi bayi dari alergi.

Berdasarkan waktu produksinya, ASI digolongkan dalam tiga


kelompok yaitu:

1) Kolostrum

Kolostrum (susu awal) adalah ASI yang keluar pada hari pertama.
Setelah kelahiran bayi, berwarna kekuningan dan lebih kental,
karena mengandung banyak vitamin A, protein dan zat kekebalan
yang penting untuk melindungi bayi dari penyakit infeksi.
Kolostrum mengandung vitamin A, E dan K serta beberapa
mineral seperti natrium dan Zn.

2) ASI Transisi/ Peralihan

ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai


sebelum menjadi matang. Biasanya diproduksi pada hari ke 4 – 10
setelah kelahiran. Kandungan volume protein akam semakin
rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi
dibandingkan pada kolosrum, juga volume akan makin meningkat.

3) ASI Matur

ASI matang adalah ASI yang dikeluarkan pada sekitar pada hari ke
-14 dan seterusnya komposisi relatif tetap. Merupakan suatu cairan
berwarna putih kekuningan yang diakibatkan warna dari gambar c-
casenat riboflavin, dan karoten yang terdapat di dalamnya. Pada
ibu yang sehat dimana produksi ASI cukup. ASI ini merupakan
makanan satu – satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi
sampai berumur 6 bulan. Selama 6 bulan pertama, volume ASI
sekurang – kurangnya sekitar 500-700 ml/hari, bulan kedua sekitar
400 – 600 ml/hari setelah bayi berusia satu tahun.

Keuntungan menyusui bagi bayi:

1) Ditinjau dari aspek gizi


Kandungan gizi lengkap dan sesuai dengan kebutuhan bayi untuk
tumbuh kembang yang optimal. Mudah diserap dan dicerna.

2) Ditinjau dari aspek imunologi

Bayi tidak sering sakit. ASI mengandung kekebalan antara lain


imunitas seluler yaitu leukosit sekitar 4000/ml, misal IgA- enzim
pada ASI yang mempunyai efek antibakteri misalnya lisozim,
katalase dan peroksidase.

3) Ditinjau dari aspek psikologis

Bayi lebih sehat, lincah dan tidak rewel. Pemberian ASI


mendekatkan hubungan ibu dan bayi menimbulkan perasaan aman
bagi bayi, yang penting untuk mengembangkan dasar kepercayaan
dengan mulai mempercayai orang lain atau ibu dan akhirnya
mempunyai kepercayaan pada diri sendiri.

e. Balita mendapatkan pematauan pertumbuhan

Menimbang bayi dan balita mulai dari umur 0 sampai 59 bulan


setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) berturut-turut
dalam 3 bulan terakhir. Penimbangan balita dimaksudkan untuk
memantau pertumbuhan balita setiap bulan dan mengetahui apakah
balita berada pada kondisi gisi baik, gizi kurang, atau gizi buruk. Setelah
balita ditimbang di buku KIA atau KMS maka akan terlihat berat
badannya naik atau tidak turun. Naik apabila garis pertumbuhannya naik
mengikuti salah satu pita warna di atasnya. Tidak naik bila garis
pertumbuhannya mendatar dan garis pertumbuhannya naik tetapi warna
yang lebih muda. Bila balita mengalami gizi kurang maka akan dijumpai
tanda – tanda:

1) Berat badan tidak naik selama 3 bulan berturut – turut, badannya


kurus
2) Mudah sakit
3) Tampak lesu dan lemah
4) Mudah menagis dan rewel
f. Penderita tuberculosis paru mendapatkan pengobatan
sesuai standar

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang


disebabkan bakteri Mycobacterium Tuberculosis, yang dapat menyerang
berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau
pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya
hingga kematian. Gejala TB, antara lain :

1) Batuk berdahak selama 2 minggu / lebih


2) Dahak bercampur darah
3) Sesak nafas, badan lemas, malaise

4) Nafsu makan menurun, berat badan menurun

5) Berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang


lebih dari satu bulan

Apa yang terjadi jika berhenti minum obat TB sebelum waktunya :

1) Penyakit TB tidak sembuh dan dapat terus menerus ke orang lain

2) Kuman TB dalam tubuh menjadi kebal terhadap obat sehingga


pengobatan berikutnya akan lebih lama dan lebih mahal karena
jenis obatnya berbeda

3) Kuman TB yang kebal obat juga dapat ditularkan kepada orang


lain dengan status kebal obat (lebih bahaya)

g. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur

Definisi hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan


tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima
menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah
yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat
menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit
jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi
secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai.
h. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan
tidak ditelantarkan

Seseorang menderita gangguan jiwa ditandai dengan gangguan


pikiran, perasaan, dan adanya perubahan emosi, perilaku dalam 1 bulan
terakhir seperti :

1) Melukai diri sendiri maupun orang lain


2) Murung dan menyendiri
3) Kecewa dan ketakutan/cemas yang berlebihan
4) Perasaan fungsi sehari-hari terganggu (pendidikan, pekerjaan,
sosialisasi dengan keluarga dan masyarakat)
Untuk mencapai jiwa sehat :

1) Bernafaslah teratur dan lakukan relaksasi

2) Selesaikan 1 masalah untuk 1 waktu (hindari membuat keputusan


besar sekaligus)

3) Buat prioritas hidup dan rencanakan masa depan

4) Bicarakan masalah anda dengan seorang yang anda percaya

5) Olahraga dan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari

6) Berpikir positif, bergembira

7) Lakukan pekerjaan yang anda senangi, fleksibel, berbuat sesuai


dengan minat dan kemampuan

8) Terimalah sesuatu yang tidak dapat diubah

9) Segera ke sarana pelayanan kesehatan bila mengalami gangguan


jiwa.

i. Anggota keluarga tidak ada yang merokok


Anggota rumah tangga tidak merokok di dalam rumah. Tidak
boleh merokok di dalam rumah dimaksudkan agar tidak menjadikan
anggota keluarga lainnya sebagai perokok pasif yang berbahaya bagi
kesehatan.
Karena dalam satu batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan
sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya seperti nikotin, tar dan
carbonmonoksida (CO).
j. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN)

JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah jaminan berupa


perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau
iurannya dibayar oleh pemerintah.

Tujuan JKN :

Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam


sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak.

Manfaat JKN :

1) Memberikan manfaat yang komperhensif dengan premi


terjangkau

2) JKN menerapkan prinsip kendali mutu dan biaya, yang berarti


peserta mendapatkan pelayanan bermutu memadai dengan biaya
yang wajar dan terkendali.

3) JKN menjamin kepastian pembiayaan pelayanan kesehatan yang


berkelanjutan

4) JKN memiliki portabilitas, sehingga dapat digunakan di seluruh


wilayah Indonesia

k. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih

Air adalah sangat peting bagi kehidupan manusia. Manusia akan


lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan
makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air, untuk anank – anak sekitar 65%, dan untuk bayi sekitar 80%.
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum,
masak, mandi, mencuci (bermacam – macam cucian).

Air yang kita pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak,


mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur,
mencuci pakaian, membersihkan bahan makanan haruslah bersih agar
tidak terkena penyakit atau terhindar dari penyakit. Air bersih secara fisik
dapat dibedakan melalui indra kita, antara lain (dapat dilihat, dirasa,
dicium dan diraba). Meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman
penyakit. Kuman penyakit dalam air mati pada suhu 1000C.

Syarat – syarat air minum yang sehat agar air minum itu tidak
menyebabkan penyakit, maka air itu hendaknya memenuhi persyaratan
kesehatan sebagai berikut:

1) Syarat fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tidak
berwarna), tidak berasa, suhu di bawah suhu udara di luarnya, cara
mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

2) Syarat bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala
bakteri. Terutama bakteri patogen. Cara ini untuk mengetahui
apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen, adalah
dengan memeriksa sampel air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan
100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. Coli maka air tersebut
sudah memenuhi kesehatan.

3) Syarat kimia

Air minum yang sehat harus mengandung zat – zat tertentu dalam
jumlah yang tertentu pula.
l. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban
sehat

Akses jamban sehat adalah rumah tangga atau keluarga yang


menggunakan jamban/ WC dengan tangki septik atau lubang penampung
kotoran sebagai pembuangan akhir. Misalnya buang air besar di jamban
dan membuang tinja bayi secara benar. Penggunaan jamban akan
bermanfaat untuk menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau.
Jamban mencegah pencemaran sumber air yang ada disekitarnya.
Jamban yang sehat juga memiliki syarat seperti tidak mencemari sumber
air, tidak berbau, mudah dibersihkan dan penerangan dan ventilasi yang
cukup.
BAB III

METODE

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif serta eksperimental
dengan penilaian indikator menggunakan indeks keluarga sehat.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RT 008 dan RT 018 Kelurahan Lingkas


Ujung Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Lingkas, Kota Tarakan dan
dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2019.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah masyarakat RT 008 dan RT 018


Kelurahan Lingkas Ujung Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Lingkas

2. Besar Sampel

Besar sampel pada mini project ini adalah masyarakat yang


berdomisili di RT 008 dan RT 018 Kelurahan Lingkas Ujung Wilayah
Kerja Puskesmas Gunung Lingkas, Kota Tarakan

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan


wawancara terarah dan kuesioner yang berisi indikator keluarga sehat.

4. Kriteria Sampel

Kriteria sampel pada mini project ini adalah :

a. Warga berdomisili di RT 008 dan RT 018 Kelurahan Lingkas


Ujung Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Lingkas
b. Bersedia menjadi responden
c. Berusia > 15 tahun
3.4. Definisi Operasional
Data umum dan khusus diolah dengan mengikuti kaidah-kaidah
pengolahan data, yaitu misalnya dengan menghitung rata-rata, cakupan, dan
lain-lain. Data keluarga diolah untuk menghitung IKS masing-masing
keluarga, IKS tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa dan cakupan tiap indikator
dalam lingkup RT/RW/Kelurahan/Desa, serta IKS tingkat kecamatan dan
cakupan tiap indikator dalam lingkup kecamatan.2,3,4,6
a. Menghitung Indeks Keluarga Sehat (IKS)
Formulir-formulir untuk setiap anggota keluarga dari satu keluarga
yang telah diisi, kemudian dimasukkan ke dalam formulir rekapitulasi
(jika digunakan formulir dalam bentuk aplikasi, maka rekapitulasi ini
akan terjadi secara otomatis).

Keterangan:

0 = Not applicable yang berarti indikator tersebut tidak


mungkin ada pada anggota keluarga.

N = indikator tersebut TIDAK BERLAKU untuk anggota


keluarga atau keluarga yang bersangkutan (misal: karena salah satu
sudah mengikuti KB, atau tidak dijumpai adanya penderita TB
paru).

Y = kondisi/keadaan anggota keluarga atau keluarga SESUAI


dengan indikator (misal: ibu memang melakukan persalinan di
fasilitas kesehatan).

T = kondisi/keadaan anggota keluarga atau keluarga TIDAK


SESUAI dengan indikator (misal: ayah ternyata merokok).

*) = Untuk indikator keluarga mengikuti KB jika salah satu


pasangan sudah mengikuti program KB (misalnya Ibu) maka
penilaian terhadap pasangannya (Ayah) Menjadi “N”, demikian
sebaliknya.
*) = Untuk indikator bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap,
jika ada salah satu anggota keluarga berusia 12-23 bulan maka
jawabannya diletakkan pada kolom anak yang berusia 5 tahun.

*) = Untuk indikator anggota keluarga tidak ada yang merokok


jika jawabannya “Ya merokok” maka dalam merekap statusnya “T”,
sebaliknya jika jawabannya “Tidak merokok” maka dalam rekapan
statusnya “Y”.

Penilaian terhadap hasil rekapitulasi anggota keluarga pada satu


indikator, mengikuti persyaratan di bawah ini:

1) Jika dalam satu indikator seluruh anggota keluarga dengan status Y,


maka indikator tersebut dalam satu keluarga bernilai 1.
2) Jika dalam satu indikator seluruh anggota keluarga dengan status T,
maka indikator tersebut dalam suatu keluarga bernilai 0.
3) Jika dalam satu indikator seluruh anggota keluarga dengan status N
maka indikator tersebut dalam satu keluarga tetap dengan status N
(tidak dihitung).
4) Jika dalam satu indikator ada salah satu anggota keluarga dengan
status T, maka indikator tersebut dalam satu keluarga akan bernilai
0 meskipun didalamnya terdapat status Y ataupun N.

Selanjutnya IKS masing-masing keluarga dihitung dengan rumus:

Jumlah indikator keluarga sehat yang bernilai 1 IKS

12 – Jumlah indikator yang tidak ada di keluarga

Hasil perhitungan IKS tersebut, selanjutnya dapat ditentukan kategori


kesehatan masing-masing keluarga dengan mengacu pada ketentuan
berikut:

1) Nilai indeks > 0,800 : keluarga sehat


2) Nilai indeks 0,500 – 0,800 : pra-sehat
3) Nilai indeks < 0,500 : tidak sehat
b. Menghitung IKS Tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa

IKS tingkat RT/RW/kelurahan/desa dihitung dengan rumus:

Jumlah keluarga dengan IKS>0,800


IKS RT/RW/Kelurahan/Desa =
Jumlah seluruh keluarga di wilayah

Hasil perhitungan IKS tersebut, selanjutnya dapat ditentukan


kategori masing-masing RT/RW/kelurahan/desa dengan mengacu
pada ketentuan berikut:

1) Nilai IKS tingkat RT/RW/ Kelurahan/Desa > 0,800


RT/RW/Kelurahan/Desa Sehat,
2) Nilai IKS tingkat RT/RW/Kelurahan/Desa = 0,500–
0,800
RT/RW/Kelurahan/Desa Pra Sehat
3) Nilai IKS tingkat RT/RW/ Kelurahan/Desa < 0,500

RT/RW/Kelurahan/Desa Tidak Sehat

Cakupan masing-masing indikator dihitung dengan rumus:

Jumlah keluarga bernilai 1 untuk indikator ybs


Cakupan indikator = x 100%
Jumlah seluruh keluarga yang memiliki indikator ybs*)

*) Jumlah seluruh keluarga yang yang memiliki indikator yang


bersangkutan sama artinya dengan jumlah seluruh keluarga yang
ada di RT/RW/kelurahan/desa dikurangi dengan jumlah seluruh
keluarga yang tidak memiliki indikator yang bersangkutan (N).

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Data didapatkan langsung dari subyek penelitian yaitu dengan


menggunakan instrument pengumpulan data berupa kuesioner warga di
wilayah kerja puskesmas sei pancur. Kuesioner didapatkan langsung dari
Puskesmas Sei Pancur dan didapatkan dari penelitian sebelumnya.

3.6. Pengolahan dan analisis data

Data yang diperoleh kemudian dicatat dan diolah secara manual,


kemudian disusun dalam beberapa tabel sesuai dengan sesuai dengan tujuan
penelitian dan skala ukur yang telah ditentukan pada definisi operasional,
kemudian dilakukan pengolahan data secara deskriptif.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil

Hasil kunjungan keluarga untuk monitoring dan evaluasi Program Indonesia


Sehat Pendekatan Keluarga yang telah dilakukan di RT 08 dan RT 18 Kelurahan
Lingkas Ujung Periode Maret 2019 sampai dengan Juli 2019. Jumlah keluarga yang
telah dikunjungi dan jumlah keluarga yang terpantau dapat di lihat pada Tabel 4.1
dan Tabel 4.2.

Tabel 4.1 Jumlah keluarga yang telah dikunjungi di RT 08 Lingkas Ujung

Jumlah Keluarga yang telah terkunjung (2018) 269


Jumlah Keluarga Terpantau (2019) 222
Cakupan (222/269) x100 % = 82.5 %

Tabel 4.2 Jumlah keluarga yang telah dikunjungi di RT 18 Lingkas Ujung

Jumlah Keluarga yang telah terkunjung (2018) 114


Jumlah Keluarga Terpantau (2019) 100
Cakupan (100/114) x100 % = 87.7 %

Pada table 4.1 menunjukkan bahwa jumlah keluarga terpantau di RT 08


sebanyak 222 keluarga (82.5%), jumlah ini berkurang dibandingkan dengan jumlah
keluarga yang telah terkunjung yakni sebanyak 269 keluarga. Hal ini serupa dengan
jumlah keluarga terpantau di RT 18 yakni sebanyak 100 keluarga (87.7%) dan
berkurang dibandingkan dengan jumlah keluarga yang telah terkunjung yakni
sebanyak 114 keluarga.
Tabel 4.3 Hasil Monitoring Indeks Keluarga Sehat (IKS) di RT 08 Lingkas
Ujung

Rata-rata IKS yang telah terkunjung (2018) 0.50


Rata-rata IKS yang terpantau (2019) 0.53

Tabel 4.4 Hasil Monitoring Indeks Keluarga Sehat (IKS) di RT 18 Lingkas


Ujung

Rata-rata IKS yang telah terkunjung (2018) 0.58


Rata-rata IKS yang terpantau (2019) 0.60

Tabel 4.3 dan tabel 4.4 menunjukkan adanya kenaikan nilai Indeks Keluarga
Sehat di RT 08 dan RT 18. Nilai rata-rata IKS di RT 08 yang sudah dikunjungi
adalah 0.50 dan meningkat menjadi 0.52. Nilai rata-rata IKS di RT 18 yang telah
terkunjung adalah 0.58 dan meningkat menjadi 0.60. Akan tetapi, peningkatan nilai
rata-rata ini tidak mengubah kategori IKS, baik RT 08 dan RT 18 masih termasuk
dalam keluarga Pra-Sehat.

Tabel 4.5 Hasil Monitoring Indikator Keluarga yang mengikuti KB RT 08 dan


18 Lingkas Ujung

Indikator Keluarga yang KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


mengikuti KB (2018) (2019)
RT 08
Ya 83 (37%) 99 (44%)
Tidak 111 (50%) 95 (43%)
Netral 28 (13%) 28 (13%)
RT 18
Ya 52 (52%) 41 (41%)
Tidak 34 (34%) 34 (34%)
Netral 14 (14%) 23 (23%)
Tabel 4.6 Hasil Monitoring Indikator Persalinan di Fasilitas Kesehatan RT
08 dan 18 Lingkas Ujung

Indikator Persalinan di KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Faskes (2018) (2019)
RT 08
Ya 11 (5%) 7 (3%)
Tidak 0 (0%) 1 (0.4%)
Netral 211 (95%) 214 (96.6%)
RT 18
Ya 1 (1%) 18 (18%)
Tidak 0 (0%) 0 (0%)
Netral 99 (99%) 82 (82%(

Tabel 4.7 Hasil Monitoring Indikator Bayi mendapat Imunisasi Lengkap RT


08 dan 18 Lingkas Ujung

Indikator Bayi mendapat KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Imunisasi Lengkap (2018) (2019)
RT 08
Ya 15 (6.7%) 12 (5%)
Tidak 1 (0.4%) 0 (0%)
Netral 206 (92.8%) 210 (95%)
RT 18
Ya 11 (11%) 13 (13%)
Tidak 0 0
Netral 89 (89%) 87 (87%)
Tabel 4.8 Hasil Monitoring Indikator Bayi mendapat ASI Ekslusif RT 08 dan
18 Lingkas Ujung

Indikator Bayi ASI KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Ekslusif (2018) (2019)
RT 08
Ya 10 (4.5%) 7 (3.1%)
Tidak 13 (5.8%) 5 (2.2%)
Netral 199 (89.7%) 210 (94.7%)
RT 18
Ya 9 (9%) 13 (13%)
Tidak 2 (2%) 0 (0%)
Netral 89 (89%) 87 (87%)

Tabel 4.9 Hasil Monitoring Indikator Pertumbuhan Balita Di Pantau RT 08


dan 18 Lingkas Ujung

Pertumbuhan Balita di KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Pantau (2018) (2019)
RT 08
Ya 39 (17.5%) 33 (14.8%)
Tidak 41 (18.4%) 23 (10%)
Netral 142 (64.1%) 166 (74.2%)
RT 18
Ya 32 (32%) 23 (23%)
Tidak 2 (2%) 2 (2%)
Netral 66 (66%) 75 (75%)
Tabel 4.10 Hasil Monitoring Indikator Penderita TB Paru berobat sesuai
standar RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Penderita TB Paru berobat KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


sesuai standar (2018) (2019)
RT 08
Ya 0 1 (0.4%)
Tidak 0 0
Netral 222 221 (99.6%
RT 18
Ya 1 (1%) 1 (1%)
Tidak 0 (0%) 0 (0%)
Netral 99 (99%) 99 (99%)

Tabel 4.11 Hasil Monitoring Indikator Penderita Hipertensi berobat teratur


RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Penderita Hipertensi KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


berobat teratur (2018) (2019)
RT 08
Ya 1 (0.4%) 33 (14.8%)
Tidak 57 (25.6%) 21 (0.9%)
Netral 164 (73.8%) 168 (75.6%)
RT 18
Ya 1 (1%) 9 (9%)
Tidak 12 (12%) 14 (14%)
Netral 87 (87%) 77 (77%)
Tabel 4.12 Hasil Monitoring Indikator Penderita Gangguan Jiwa tidak
Terlantar dan Diobati RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Penderita Gangguang KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Jiwa Tidak Terlantar dan (2018) (2019)
Diobati
RT 08
Ya 2 (0.9%) 2 (0.9%)
Tidak 0 (0%) 0
Netral 220 (99.1%) 220 (99.1%)
RT 18
Ya 0 (0%) 0 (0%)
Tidak 0 (0%) 0 (0%)
Netral 100 (100%) 100 (100%)

Tabel 4.13 Hasil Monitoring Indikator Anggota Keluarga Tidak Ada yang
Merokok RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Anggota Keluarga Tidak KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Ada yang Merokok (2018) (2019)
RT 08
Ya 88 (39%) 87 (39%)
Tidak 134 (61%) 135 (61%)
RT 18
Ya 35 (35%) 44 (44%)
Tidak 65 (65%) 56 (56%)
Tabel 4.14 Hasil Monitoring Indikator Keluarga Sudah Menjadi Anggota
JKN RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Anggota Keluarga Tidak KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Ada yang Merokok (2018) (2019)
RT 08
Ya 168 (75.6%) 186 (83.7%)
Tidak 54 (24.4%) 36 (16.2
RT 18
Ya 84 (84%) 87 (87%)
Tidak 16 (16%) 13 (13%)

Tabel 4.15 Hasil Monitoring Indikator Keluarga Mempunyai Saran Air


Bersih RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Anggota Keluarga Tidak KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Ada yang Merokok (2018) (2019)
RT 08
Ya 218 (98%) 220 (99%)
Tidak 3 (0.2%) 2 (1%)
RT 18
Ya 98 (98%) 99 (99%)
Tidak 2 (2%) 1 (1%)
Tabel 4.16 Hasil Monitoring Indikator Keluarga Menggunakan Jamban
Sehat RT 08 dan 18 Lingkas Ujung

Keluarga Menggunakan KK yang telah terkunjung KK yang terpantau


Jamban Sehat (2018) (2019)
RT 08
Ya 217 (97%) 5 (3%)
Tidak 5 (3%) 217 (97%)
RT 18
Ya 0 (0%) 1(1%)
Tidak 100 (100%) 99 (99%)

Tabel 4.5 sampai dengan tabel 4.16 merupakan hasil monitoring dan
evaluasi terhadap 12 indikator keluarga sehat. Dari keduabelas indikator yang telah
di evaluasi, terdapat 4 indikator yang tidak berubah secara signifikan dan
merupakan menjadi masalah kesehatan dalam keluarga, yakni indikator Keluarga
Berencana; Penderita hipertensi yang berobat teratur; Anggota keluarga yang
merokok; serta kepemilikan Jamban sehat.

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa keluarga yang telah terkunjung yang


mengikuti KB di RT 08 sebanyak 83 keluarga (37%) dan meningkat menjadi 99
keluarga (44%), akan tetapi setelah dilakukan evaluasi masih terdapat keluarga
yang tidak mengikuti KB yakni sebanyak 95 keluarga (43%). Sama hal nya dengan
keluarga di RT 18 yang tidak mengikuti KB setelah dilakukan evaluasi, yakni
sebanyak 41 keluarga (41%) yang mengikuti KB. Hal ini tidak mencapai target
pencapaian yakni sebesar 85%.

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa penderita hipertensi yang berobat teratur


pada keluarga yang telah terkunjung yakni sebanyak 1 keluarga (0.4%) di RT 08
dan sebanyak 1 keluarga (1%) di RT 18. Terjadi peningkatan penderita hipertensi
yang berobat teratur setelah dilakukan evaluasi, yakni menjadi sebanyak 33
keluarga (14.8%) di RT 08 dan sebanyak 9 keluarga (9%) di RT 18. Meskipun
terjadi peningkatan jumlah penderita hipertensi yang berobat teratur, akan tetapi
indicator ini masih menjadi masalah karena belum mencapai target yakni 100%.

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa masih banyak anggota keluarga yang


merokok. Pada keluarga yang telah terkunjung sebanyak 134 keluarga (61%) yang
merokok di RT 08 dan sebanyak 65 keluarga (65%) yang merokok di RT 18.
Setelah dilakukan evaluasi, tidak terjadi perubahan, yakni sebanyak 135 keluarga
yang merokok di RT 08 dan 56 keluarga yang merokok di RT 18.

Tabel 4.16 menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga di RT 08 dan RT


18 tidak memiliki jamban sehat. Hanya sebanyak 5 keluarga (3%) yang memiliki
jamban sehat di RT 08 dan hanya 1 keluarga (1%) yang memiliki jamban sehat.

4.2 Tindak lanjut


Terkait dengan hasil data evaluasi PIS-PK yang menunjukkan bahwa nilai
rata-rata IKS di RT 08 dan 18 masih rendah, kami melakukan beberapa kegiatan
dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan warga. Adapun kegiatan seperti
berikut :

1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi

Pada saat pengumpulan data, kami juga melakukan KIE kepada setiap keluarga
dan secara individual. Adapun KIE yang kami tekankan terutama aspek dimana
indicator yang paling buruk disetiap keluarga.

2. Penyuluhan

Kami melakukan penyuluhan kepada warga mengenai pentingnya setiap


keluarga untuk mencapai indeks keluarga sehat. Adapun tema penyuluhan yang
kami tekankan adalah mengenai bahaya rokok dikarenakan indicator tersebut yang
paling lemah dan dapat dilakukan intervensi.
3. Pemeriksaan Kesehatan

Kami melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warga RT 08 dan 18,


diantaranya pemeriksaan status gizi (Tinggi Badan, Berat Badan, Lingkar Perut),
Tekanan Darah, Gula Darah Sewaktu dan Kadar CO dalam tubuh. Pemeriksaan
kesehatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya kesehatan dalam keluarga. Selain itu juga pemeriksaan ini juga
dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data dasar sebagai pembanding untuk
pemeriksaan kesehatan selanjutnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga (PIS-PK)
merupakan salah satu dari Agenda ke-5 Nawa Cita yaitu meningkatkan kualitas
hidup manusia Indonesia.
Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama merupakan kunci dalam pelaksanaan
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga.
Pelaksanaan PIS-PK tahun 2018 didapatkan bahwa pada Kelurahan
Lingkas Ujung khususnya RT 8 dan RT 18 mendapatkan peringkat terendah
dalam indikator PIS-PK di wilayah kerja Puskesmas Gunung Lingkas. Setelah
dilakukan monitoring dan evaluasi terjadi peningkatan Indeks Keluarga Sehat
di RT 08 dan RT 18. Akan tetapi, peningkatan nilai rata-rata ini tidak
mengubah kategori IKS, baik RT 08 dan RT 18 masih termasuk dalam keluarga
Pra-Sehat.
Terdapat 4 indikator yang menjadi masalah utama dari 12 indikator yang
ada dalam penilaian keluarga sehat, yakni indikator Keluarga Berencana;
Penderita hipertensi yang berobat teratur; Anggota keluarga yang merokok;
serta kepemilikan Jamban sehat. Empat indicator tersebut memiliki nilai IKS
paling rendah, dan tidak mencapai target nasional baik di RT 08 maupun di RT
18.

B. Saran
1. Diperlukan evaluasi berkala secara terkait indeks keluarga sehat.
2. Diperlukan kerjasama lintas sektoral (dinas kesehatan, dinas lingkungan,
masyarakat, dinas kependudukan, dinas tata kota dan sebagainya) dalam
rangka meningkatkan indeks keluarga sehat.
3. Diperlukan sistem punishment dan reward bertujuan untuk meningkatkan
motivasi warga untuk meningkatkan indeks keluarga sehat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Petugas Puskesmas. Depkes RI.
Jakarta; 2007
2. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.
Kementrian Kesehatan RI. Jakarta: 2016
3. Modul Pelatihan keluarga Sehat. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta: 2018
4. Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan
Keluarga. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta: 2016
5. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005 – 2025.
Depkes RI. Jakarta; 2009
6. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Depkes RI. Jakarta; 2016
7. Profil Kesehatan Kota Tarakan Tahun 2016. Tarakan; 2016