Anda di halaman 1dari 14

LATIHAN SOAL 1 - PEMILU DPR, DPD, DAN DPRD

1. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2011 mengatur tentang:


a. Badan Pengawas Pemilihan Umum;
b. Pengawas Pemilihan Umum
c. Penyelenggara Pemilihan Umum
d. Komisi Pemilihan Umum
e. Dewan Kehormatan Pemilihan Umum

2. Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota diatur dalam :


a. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah;
b. Undang-Undang nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilu;
c. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahaun 2014
Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota;
d. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden;
e. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pemerintah Daerah.

3. Kapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan
Gubernur. Bupati, Dan Walikota diundangkan:
a. Tanggal 25 September 2014
b. Tanggal 26 September 2014
c. Tanggal 30 September 2014
d. Tanggal 1 Oktober 2014
e. Tanggal 2 Oktober 2014

4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur.
Bupati, Dan Walikota mencabut dan menyatkan tidak berlaku :
a. Undang-Undang Nomior 32 Tahun 2004
b. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
c. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014
d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011
e. Undang-Undang Nomor 8 Tahuin 2012

5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 mengatur Tentang:


a. Penyelenggara Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
b. Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
c. Penyelenggara Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
d. Pemilihan Umum Gubernur, Bupati, Dan Walikota
e. Pemilu Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah

6. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur.
Bupati, Dan Walikota, dicatatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 :
a. Nomor 242
b. Nomor 243
c. Nomor 244
d. Nomor 245
e. Nomor 246

7. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur.
Bupati, Dan Walikota, mengatur mekanisme Pemilihan:
a. Melalui DPRD
b. Melalui DPD
c. Secara Langsung dan Demokratis
d. Secara Tidak Langsung
e. Melalui perwakilan

8. Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan
Gubernur. Bupati, Dan Walikota, diatur pengujian kompetensi dan integritas yang dilaksanakan secara
terbuka oleh panitia yang bersifat mandiri, yang disebut dengan:
a. Uji kelayakan dan kepatutan
b. Ujian Wawancara
c. Uji Publik
d. Uji Petik
e. Ujian akhir

9. Pelanggaran pada Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dilaporkan kepada :


a. Kepolisian
b. Kejaksaan
c. Pengawas Pemilu
d. KPU
e. DKPP

10. Dugaan pelanggaran Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dapat dilaporkan, diantaranya oleh:
a. Lembaga Swadaya Masyarakat
b. Pemantau Pemilu
c. KPU
d. Pengawas Pemilu Kepala Daerah
e. Partai Politik

11. Laporan dugaan pelangaran disampaikan secara tertulis paling sedikit memuat diantaranya:
a. Nama dan alamat KPU
b. Nama dan alamat Kepilisian
c. Nama dan alamat Pelapor
d. Nama dan alamat Pegawas Pemilu
e. Nama dan alamat Partai Politik

12. Laporan dugaan pelanggran Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota disampaikan kepada Pengawas
Pemilu untuk paling lama :
a. 3 (tiga) hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran
b. 5 (lima) hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran
c. 6 (enam) hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran
d. 7 (tujuh) hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran
e. 8 (delapan) hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran

13. Dalam hal laporan pelanggaran Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota telah dikaji, Panwas
Kabupaten/kota wajib menindaklanjuti laporan paling lama :
a. 1 (satu) hari setelah laporan diterima
b. 2 (dua) hari setelah laporan diterima
c. 3 (tiga) hari setelah laporan diterima
d. 4 (empat) hari setelah laporan diterima
e. 5 (lima) hari setelah laporan diterima

14. Dalam hal Panwaslu Kabupaten/Kota memerlukan keterangan tanbahan dari pelapor mengenai tindak
lanjut, dilakukan paling lama:
a. 1 (satu) hari setelah laporan diterima
b. 2 (dua) hari
c. 3 (tiga) hari
d. 4 (empat) hari
e. 5 (lima) hari

15. Pelanggaran terhadap etika penyelenggara Pemilihan yang berpedoman pada sumpah dan/janji
sebelum menjalankan tugas sebagai penyelenggara Pemilihan , adalah pelanggaran:
a. Pelanggaran Pemilu
b. Pelanggaran Kode etik Penyelenggara Pemilihan
c. Pelanggaran Pidana Pemilihan
d. Pelanggaran Administrasi Pemilihan
e. Pelanggaran Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikopta

16. Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum diatur dalam :


a. Peraturan Bersama Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu;
b. Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu;
c. Peraturan Bawaslu Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu
d. Peraturan Bersama KPU, Bawaslu, DKPP Nomor 13 Tahun 2012, Nomor 11 Tahun 2012, Nomor
1 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu
e. Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Etik Penyelenggara Pemilu

17. Laporan yang merupakan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum, oleh Bawaslu
diteruskan kepada :
a. KPU Kabupaten/Kota
b. Bawaslu RI
c. Kepolisian
d. Kejaksaan
e. DKPP
18. Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilihan yanag diduga dilakukan oleh Penyelenggara
Pemilihan di tingkat Kabupaten/Kota, yang dilaporkan kepada Panwas Kabupaten /Kota diteruskan
kepada DKPP melalui:
a. KPU
b. KPU Provinsi
c. DKPP Provinsi
d. Bawaslu RI
e. Bawaslu Provinsi

19. Pelanggaran terhadap tata cara yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan Pemilihan dalam
setiap tahapan Pemilihan, adalah :
a. Pelanggaran Pidana Pemilihan
b. Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilihan
c. Pelanggaran Administrasi Pemilihan
d. Pelanggaran Pemilihan
e. Pelanggaran Pemilu

20. Laporan yang merupakan pelanggaran Administrasi Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota oleh
Panwaslu Kabupaten/Kota diteruskan kepada :
a. KPU Kabupaten/Kota
b. Bawaslu RI
c. Kepolisian
d. Kejaksaan
e. DKPP

21. Panwaslu Kabupaten/Kota merekomendasikan pelanggaran administrasi Pemilihan kepada:


a. KPU
b. KPU Provinsi
c. KPU Kabupaten/Kota sesuai tingkatan
d. Bawaslu
e. Bawaslu Provinsi

22. Penyelesaian pelanggaran administrasi Pemilihan berdasarkan rekomendasi Panwaslu


Kabupaten/Kota oleh:
a. KPU Kabupaten/Kota sesuai tingkatan
b. KPU Provinsi
c. KPU
d. Bawaslu
e. Bawaslu Provinsi

23. KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota memeriksa dan memutus pelanggaran Administrasi
berdasarkan rekomendasi Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu Kabupaten/Kota paling lama:
a. 3 (tiga) hari sejak rekomendasi diterima
b. 5 (lima) hari sejak rekomendasi diterima
c. 6 (enam) hari sejak rekomendasi diterima
d. 7 (tujuh) hari sejak rekomendasi diterima
e. 8 (delapan)hari sejak rekomendasi diterima

24. Dalam hal KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, PPS, atau peserta Pemilihan tidak menindaklanjuti
rekomendasi Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu Kabupaten/Kota, Bawaslu Provinsi dan/atau
Panwaslu Kabupaten/Kota memberikan sanksi berupa:
a. Peringatan Lisan
b. Peringatan tertulis
c. Peringatan lisan atau peringatan tertulis
d. Sanksi Pidana
e. Sanksi Etik Penyelenggara Pemilihan

25. Dalam pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota terdapat sengketa antar peserta pemilihan, dan sengketa
antar peserta pemilihan dengan penyelenggara pemilihan, kewenangan penyelesaiannya pada:
a. Bawaslu
b. Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu Kabupaten/Kota
c. Bawaslu Provinsi
d. Panwaslu Kabupaten/Kota
e. KPU Provinsi
26. Bawaslu Provinsi atau Panwaslu Kabupaten/Kota berwenang menyelesaiakan sengketa antar peserta
pemilihan, dan sengketa antar peserta pemilihan dengan penyelenggara pemilihan, paling lama:
a. 3 (tiga) hari sejak diterima laporan atau temuan
b. 7 (tujuh) hari sejak diterima laporan atau temuan
c. 12 (duabelas) hari sejak diterima laporan atau temuan
d. 21 (dua puluh satu) hari sejak diterima laporan atau temuan
e. 30 (tiga puluh hari)hari sejak diterima laporan atau temuan

27. Bawaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota melakukan penyelesaian sengketa melalui tahapan:
a. Menerima dan mengkaji laporan
b. Mengkaji temuan
c. Mempertemukan para pihak yang bersengketa
d. Menerima dan mengkaji laporan atau temuan, Mempertemukan Pihak yang bersengketa untuk
mencapai kesepakatan melalui musyawarah dan mufakat
e. Mempertemukan Pihak yang bersengketa untuk mencapaui kesepakatan

28. Keputusan Bawaslu Provinsi dan Keputusan Panwaslu Kabupaten/Kota mengenai penyelesaian
sengketa pemilihan merupakan :
a. Keputusan yang dapat di ajukan upaya hukum Banding
b. Keputusan Terakhir dan mengikat
c. Keputusan terkhir
d. Keputusan mengikat
e. Keputusan tidak mengikat

29. Seluruh Keputusan Bawaslu Provinsi dan Keputusan Panwaslu Kabupaten/Kota dalam penyelesaian
sengketa, wajib dilakukan melalui proses:
a. Sesuai Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Pemilihan
b. Yang Transparan dan dapat dipertanggungjawabkan
c. Transparan
d. Dapat diperttanggungjawabkan
e. Sesuai KUHAP

30. Laporan yang merupakan Tindak Pidana Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota oleh Panwaslu
diteruskan kepada :
a. KPU Kabupaten/Kota
b. Bawaslu RI
c. Kepolisian
d. Kejaksaan
e. DKPP

31. Yang dimaksud dengan Tindak Pidana pada Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota adalah :
a. Pelanggaran dan/atau kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur Pemilihan Gubernur,
Buapti dan Walikota
b. Pelanggaran terhadap ketentuan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur Pemilihan Gubernur, Buapti dan
Walikota
c. kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur Pemilihan Gubernur, Buapti dan
Walikota
d. Pidana terhadap ketentuan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur Pemilihan Gubernur, Buapti dan
Walikota
e. Pelanggaran dan/atau kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota sebagaimana diatur dalam Peraturan KPU

32. Tindak Pidana pada Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, oleh Panwas Kabupaten/Kota diteruskan
kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia paling lama :
a. 1 X 24 jam sejak diputuskan oleh Panwas Kabupaten/Kota
b. 2 X 24 jam sejak diputuskan oleh Panwas Kabupaten/Kota
c. 3 X 24 jam sejak diputuskan oleh Panwas Kabupaten/Kota
d. 4 X 24 jam sejak diputuskan oleh Panwas Kabupaten/Kota
e. 5 X 24 jam sejak diputuskan oleh Panwas Kabupaten/Kota
33. Penyidik Kepolisian Negara Republik ndonesia menyampaikan hasil penyidikannya terkait Tindak
Pidana yang diteruskan oleh Panwas Kabupaten/Kota, beserta berkas perkara kepada Penuntut Umum
paling lama:
a. 5 (lima) hari sejak diterimanya Laporan
b. 7 (tujuh) hari sejak diterimanya Laporan
c. 14 (empat belas) hari sejak diterimanya laporan
d. 21 (dua puluh satu) hari sejak diterimanya laporan
e. 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya laporan

34. Dalam hal hasil penyidikan belum lengkap, Penuntut Umum mengembalikan berkas perkara kepada
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam waktu paling lama :
a. 1 (satu) hari
b. 2 (dua) hari
c. 3 (tiga) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari

35. Pengembalian berkas perkara oleh Penuntut Umum kepada Penyidik Kepolisian Negara Republik
Indonesia disertai dengan :
a. Laporan Tindak Pidana Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
b. Terlapor Tindak Pidana Pemilhan Gubernur, Bupati dan Walikota
c. Keterangan saksi terjadinya Tindak Pidana
d. Petunjuk tentang hal yang harus dilakukan dan dilengkapi
e. Alat bukti tindak pidana

36. Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara
beserta hasil perbaikan dan kelengkapan kepada Penununtut Umum dalam waktu paling lama :
a. 3 (tiga) hari
b. 2 (dua) hari
c. 1 (satu) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari

37. Penuntut Umum melimpahkan berkas perkara tindak pidana Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
kepada Pengadilan Negeri paling lama:
a. 3 (tiga) hari
b. 2 (dua) hari
c. 1 (satu) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari

38. Pengadilan Negeri dalam memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara tindak pidana Pemilihan
Gubernur, Bupati dan Walikota menggunakan:
a. KUHP
b. KUHAP Kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang yang mengatur Pemilihan Gubernur,
Bupati dan Walikota
c. KUHAP
d. Undang-Undang Yang mengatur Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
e. Peraturan KPU

39. Pengadilan Negeri memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak piana Pemilihan Gubernur,
Bupati dan Walikota setelah pelimpahan berkas perkara paling lama :
a. 3 (tiga) hari
b. 2 (dua) hari
c. 1 (satu) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari

40. Dalam hal Putusan Pengadilan Negeri tentang perkara tindak pidana Pemilihan Gubernur, Bupati dan
Waikota diajukan banding, Pemohon banding diajukan setelah putusan dibacakan paling lama:
a. 3 (tiga) hari
b. 2 (dua) hari
c. 1 (satu) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari
41. Pengadilan Tinggi memeriksa dan memutus perkara banding tindak pidana pemilhan Gubernur, Bupati
dan Walikota setelah permohonan banding diterima dalam waktu paling lama:
a. 3 (tiga) hari
b. 2 (dua) hari
c. 1 (satu) hari
d. 5 (lima) hari
e. 7 (tujuh) hari

42. Untuk menyamakan pemahaman dan pola penanganan tindak pidana Pemilihan Gubernur, Bupati dan
Walikota, Panwas Kabupaten/Kota, Kepolisian Resort dan Kejaksaan Negeri membentuk wadah
bersama yaitu :
a. Sentra Pelayanan Hukum Terpadu
b. Sentra Penanganan Hukum terpadu
c. Sentra Penegakan Hukum Terpadu
d. Sentra Penegakan Hukum Bersama
e. Sentra Pelayanan Hukum Bersama

43. Pasal berapa Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengatur tentang alat bukti
yang sah :
a. Pasal 148
b. Pasal 184
c. Pasal 481
d. Pasal 841
e. Pasal 814

44. Yang manakah dibawah ini adalah merupakan tindak pidana pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota:
a. Saksi parpol tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih
b. PPS tidak mendaftarkan Calon yang berasal dari dari daerah lain
c. Seseorang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri
atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih
d. Saksi dari Pasangan calon tidak hadir pada saat Pemutakhiran daftar pemilih
e. PPS terlambat memasukan nama masayarakat dalam pemutkhiran daftar pemilih

45. Sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara Pemilihan antara Calon Gubernur, Calon
Bupati, dan Calon Walikota dengan KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota sebagai akibat
dikeluarkanya Keputusan KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota, adalah:
a. Sengketa Tata usaha Pemilihan
b. Sengketa Hasil Pemilihan
c. Sengjketa Tata Usaha Negara Pemilihan;
d. Sengketa Pemilihan
e. Sengketa Pencalonan Gubernur. Bupati/Walikota

46. Pengajuan gugatan atas sengketa tata usaha negara Pemilihan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dilakukan,
setelah dilakukan seluruh upaya administratif di :
a. Bawaslu Provinsi
b. Panwas Kabupaten/Kota
c. Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu Kabpaten/kota
d. KPU Provinsi
e. KPU Kabupaten/Kotya.

47. Pengajuan gugatan atas sengketa tata usaha negara Pemilihan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dilakukan
paling lama:
a. 3 (tiga) hari setelah dikeluarkannya Keputusan Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu
Kabupaten/Kota
b. 2 (dua) hari setelah dikeluarkannya Keputusan Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu
Kabupaten/Kota
c. 1 (satu) hari setelah dikeluarkannya Keputusan Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu
Kabupaten/Kota
d. 5 (lima) hari setelah dikeluarkannya Keputusan Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu
Kabupaten/Kota
e. 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya Keputusan Bawaslu Provinsi dan/atau Panwaslu
Kabupaten/Kota

48. Dalam hal pengajuan gugatan atas sengketa tata usaha negara Pemilihan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara,
kurang lengkap penggugat dapat memperbaiki dan melangkapi Gugatan Paling lama:
a. 7 (tujuh) harisejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
b. 5 (lima) harisejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
c. 3 (tiga) hari sejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
d. 2 (dua) harisejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
e. 1 (satu) harisejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara

49. Dalam Hal jangka waktu 3 (tiga) hari sejak diterimanya gugatan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara,
Penggugat belum menyempurnakan gugatan, Hakim memberikan putusan bahwa :
a. Gugatan diterima
b. Gugatan Tidak Dapat Diterima
c. Gugatan dikabulkan
d. Gugatan dikabulkan sebagian
e. Gugatan tidak dikabulkan

50. Terhadap Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, “Tidak Dapat Menerima” Gugatan Penggugat
karena terlambat memperbaiki dan/atau melengkapi gugatan:
a. Dapat dilakukan Upaya hukum Kasasi
b. Dapat dilakukan upaya hukum lain
c. Tidak dapat dilakukan upaya hukum
d. Dapat dilakukan peninjauan kembali
e. Dapat diajukan permohonan gugatan kembali

51. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara memeriksa dan memutus gugatan atas sengketa tata usaha negara sejak
gugatan dinyatakan lengkap, paling lama:
a. 21 (dua puluh satu ) Hari
b. 15 (lima belas) hari
c. 12 (dua belas) hari
d. 7 (tujuh) hari
e. 3 (tiga) hari

52. Terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tentang Sengketa Tata usaha Negara Pemilihan
dapat dilakukan upaya Hukum :
a. Banding Ke Pengadilan Tinggi
b. Kasasi ke Mahkamah Agung
c. Ke Mahkamah Konstitusi
d. Komisi Yudisial
e. Peninjauan Kembali

53. Permohonan Kasasi sengketa Tata Usaha Negara Pemilihan diajukan palinmg lama:
a. 21 (dua puluh satu ) Hari sejak Putusan Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara
b. 15 (lima belas) hari Hari sejak Putusan Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara
c. 12 (dua belas) hari Hari sejak Putusan Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara
d. 7 (tujuh) hari Hari sejak Putusan Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara
e. 3 (tiga) hari Hari sejak Putusan Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara

54. Mahkamah Agung Republik Indonesia wajib memberikan Putusan atas permohonan Kasasi sengketa
Tata Usaha Negara Pemilihan, paling lama:
a. 30 (tiga puluh ) Hari sejak permohonan Kasasi diterima
b. 15 (lima belas) hari Hari sejak permohonan Kasasi diterima
c. 12 (dua belas) hari Hari sejak permohonan Kasasi diterima
d. 7 (tujuh) hari Hari sejak permohonan Kasasi diterima
e. 3 (tiga) hari Hari sejak permohonan Kasasi diterima

55. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap sengketa Tata usaha Negara Pemilihan :
a. Dapat dilakukan upaya hukum Lain
b. Dapat dilakukan Peninjauan kembali
c. Bersifat final dan mengikat serta tidak dapat dilakukan upaya hukum lain
d. Bersifat final
e. Bersifat mengikat

56. KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota wajib menindaklanjuti Putusan Pengadilan Tinggi Tata
Usaha Negera , atau Putusan Mahkamah Agung RI paling lama :
a. 30 (tiga puluh ) Hari
b. 15 (lima belas) hari Hari
c. 12 (dua belas) hari Hari sejak
d. 7 (tujuh) hari Hari sejak
e. 3 (tiga) hari Hari sejak

57. Perselisihan antara KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota dan Peserta Pemilihan mengenai
penetapan pertolehan suara pemilihan, adalah:
a. Sengketa Pemilihan
b. Sengketa Pemilu
c. Sengketa Hasil Pemilihan
d. Perselisihan Hasil Pemilihan
e. Perselisihan Pemiulihan

58. Perselisihan Penetepan perolehan suara yang signifikan dan dapat mempengaruhi penetepan calon
untuk maju ke Putaran berikutnya atau penetapan calon terpilih, adalah:
a. Perselisihan Penatapan Perolehan suara hasil pemilihan
b. Perselisihan perolehan suara
c. Perselisihan hasil suara
d. Perselisihan Pemilihan
e. Peselisihan suara pemilihan

59. Penyelesaian perselisihan Penetepan perolehan suara hasil pemilihan, peserta pemilihan mengajukan
kepada:
a. Pengadilan Negeri
b. Pengadilan Tinggi
c. Pengadilan Tinggi yang ditunjuk oleh Mahkamah Agung
d. Mahkamah Agung
e. Mahkamah Konstitusi

60. Pengajuan Permohonan Penyelesaian perselisihan Penetepan perolehan suara hasil pemilihan
dilengkapi dengan alat bukti berupa:
a. Surat
b. Saksi
c. Alat bukti dan Surat Keputusan KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota tentang hasil
Rekapitulasi Perhitungan suara
d. Keputusan KPU tentang Hasil suara
e. Keputusan KPU Tentang Penatapan Pemenang Pemilihan

61. Dalam hal pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kurang lengkap, pemohon dapat
memperbaiki dan melengkapi permohonan paling lama:
a. 1 X 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak diterimanya permohonan oleh Pengadilan Tinggi
b. 2 X 24 (dua kali dua puluh empat) jam sejak diterimanya permohonan oleh Pengadilan Tinggi
c. 3 X 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak diterimanya permohonan oleh Pengadilan Tinggi
d. 4 X 24 (empat kali dua puluh empat) jam sejak diterimanya permohonan oleh Pengadilan Tinggi
e. 5 X 24 (lima kali dua puluh empat) jam sejak diterimanya permohonan oleh Pengadilan Tinggi

62. Pengadilan Tinggi memutuskan perkara perselisihan sengketa hasil Pemilihan paling lama:
a. 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan.
b. 12 (dua belas) hari sejak diterimanya permohonan.
c. 7 (tujuh) hari sejak diterimanya permohonan.
d. 5 (lima) hari sejak diterimanya permohonan.
e. 2 (dua) hari sejak diterimanya permohonan.

63. Pihak yang tidak menerima Putusan Pengadilan Tinggi dalam perkara perselisihan sengketa hasil pemilihan dapat
mengajuka permohonan keberatan ke Mahkamah Agung paling lama:
a. 1 (satu) hari sejak putusan Pengadilan Tinggi dibacakan
b. 2 (dua) hari sejak putusan Pengadilan Tinggi dibacakan
c. 3 (tiga) hari sejak putusan Pengadilan Tinggi dibacakan
d. 4 (empat) hari sejak putusan Pengadilan Tinggi dibacakan
e. 5 (lima) hari sejak putusan Pengadilan Tinggi dibacakan

64. Mahkamah Agung memutuskan permohonan keberatan terhadap Putusan Putusan Pengadilan Tinggi dalam
perkara perselisihan sengketa hasil pemilihapaling lama :
a. 12 (dua belas) hari sejak diterimanya permohonan
b. 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan
c. 21 (dua puluh satu) hari sejak diterimanya permohonan
d. 27 (dua puluh tujuh) hari sejak diterimanya permohonan
e. 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan

65. Peserta pemilihan Gubernur dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitunga suara
dengan ketentuan Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 2.000.000 (dua juta) jiwa, pengajuan
perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar
a. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
b. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
c. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
d. 2,5% (dua koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
e. 3% (tiga persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;

66. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000.000 (dua juta) sampai dengan 6.000.000 (enam juta),
pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar
a. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
b. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
c. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
d. 2,5% (dua koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
e. 3% (tiga persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;

67. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 6.000.000 (enam juta) sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta)
jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar
a. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
b. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
c. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
d. 2,5% (dua koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
e. 3% (tiga persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;

68. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 12.000.000 (dua belas juta) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan
suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar
a. 0,5% (nol koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi.
b. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
c. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
d. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;
e. 2,5% (dua koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi;

69. Peserta Pemilihan Bupati dan Walikota dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil
penghitungan perolehan suara dengan ketentuan Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan
250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat
perbedaan paling banyak sebesar
a. 0,5% (nol koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
b. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
c. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
d. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
e. 2,5% (dua kma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;

70. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa sampai dengan
500.000 (lima ratus ribu) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan apabila terdapat perbedaan
paling banyak sebesar:
a. 0,5% (nol koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
b. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
c. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
d. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
e. 2,5% (dua kma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;

71. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa sampai dengan 1.000.000
(satu juta) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar
:
a. 0,5% (nol koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
b. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
c. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
d. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
e. 2,5% (dua kma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;

72. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa, pengajuan perselisihan
perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar :
a. 0,5% (nol koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
b. 1% (satu persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
c. 1,5% (satu koma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;
d. 2% (dua persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Kabupaten/Kota;
e. 2,5% (dua kma lima persen) dari penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU
Kabupaten/Kota;

73. Sebutkan Klasifikasi jenis pelanggaran dalam Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota:
a. Pelanggaran Administrasi
b. Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu
c. Pelanggaran Pidana Pemilu
d. Jawaban a, b, c betul semua
e. Jawaban a, b, c salah semua;

74. Institusi apakah yang berwenang untuk menindaklanjuti rekomendasi Panwaslu Kabupaten/Kota
terhadap Tindak Pidana Pemilihan Bupati dan Walikota:
a. Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai tingkatanya
b. Kejaksaan Negeri
c. Pengadilan Negeri
d. Pemgadilan Tinggi
e. Komisi Pemilihan Umum.

75. Anggota KPU Kabupaten/Kota dapat diberhentikan dengan alasan yang salah satunya adalah:
a. Melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau kode etik Penyelenggara Pemilu.
b. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan secara berturut-turut selama 2 (dua) bulan
atau berhalangan tetap
c. Didakwa pidana penjara karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara
5 (lima) tahun atau lebih
d. Tidak melaksanakan tugas sebagai Anggota KPU Kabupaten/Kota
e. Pernah Tidak menghadiri rapat pleno yang menjadi tugas dan kewajibannya.

76. Dalam suatu kampanye pemilihan Bupati/Walikota, peserta pemilu menggunakan banyak kendaraan
yang tidak menggunakan nomor kendaraan dan pengendara sepeda motor tidak menggunakan helm.
Siapakah yang lebih tepat melakukan pemrosesan atas pelanggaran tersebut :
a. KPU Kabupaten/Kota
b. Bawaslu Provinsi
c. KPU Provinsi
d. Panwaslu Provinsi/ Kabupaten/ Kota
e. Kepolisian RI.

77. Dalam pelaksanaan kampanye pemilihan ada aturan dan ketentuan-ketentuan larangan dalam
kampanye yang harus ditaati, diantaranya yaitu:
a. Mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Mengganggu keamanan, ketentraman, dan ketertiban umum
c. Merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye.
d. menggunakan fasilitas dan anggaran Pemerintah dan Pemerintah Daerah
e. Semua jawaban adalah benar.

78. Pada pelaksanaan kampanye Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, Gubernur, dan Bupati, Walikota dan
Pejabat negara lainnya dapat ikut dalam kampanye, dengan syarat:
a. Menggunakan fasilitas Negara
b. Mengajukan cuti kampanye;
c. Tidak mengajukan cuti
d. Hanya pada hari libur
e. Ijin atasan

79. Pada masa kampanye Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, Pejabat negara, pejabat aparatur sipil negara, dan
Kepala Desa atau sebutan lain/Lurah dilarang:
a. Membuat Keputusan-Keputusan Tentang Pembangunan di Wilayahnya
b. Membuat keputusan-keputusan yang tidak Pro Rakyat
c. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu calon
d. Tidak membuat Keputusan tentang Penyelengaraan Pemerintahan
e. Membuat keputusan yang menguntungkan Rakyat

80. Dalam Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota terdapat Pasangan Calon dari Petahana, Petahana
dilarang:
a. Mengangkat Kepala Dinas
b. melakukan penggantian pejabat 6 (enam) bulan sebelum masa jabatannya berakhir
c. Melakukan cuti kampanye
d. Melakukan kampanye sesuai jadwal yang ditetapkan KPU Provinsi, Kabupaten/Kota
e. Jawaban diatas salah semua

81. Apabila Pada Pemilihan Gubernur, Buapti, Walikota terdapat Calon dari Petahana yang melakukan
penggantian pejabat 6 (enam) bulan sebelum masa jabatannya berakhir, dan menggunakan program
dan kegiatan Pemerintahan Daerah untuk kegiatan Pemilihan 6 (enam)m bulan sebelum masa
jabatannya berakhir, dikenai sanksi:
a. Pidana
b. Pembatalan sebagai calon
c. Administrasi
d. Kode Etik
e. Teguran tertulis

82. Pelanggaran atas ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 huruf a sampai dengan
huruf h PERPPU NOMOR 1 TAHUN 014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
merupakan:
a. Pelanggaran Administrasi
b. Pelanggaran Kode etik
c. Tindak Pidana
d. Pelanggaran Pemilihan
e. Bukan pelanggaran

83. Pada Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, Calon yang terbukti menjanjikan dan/atau memberikan
uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi Pemilih, berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap , dikenai sanksi pidana dan sanksi:
a. Adminsitrasi
b. Kode etik
c. Pembatalan sebagai calon
d. Teguran lisan
e. Teguran tertulis

84. Tim kampanye yang terbukti menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk
mempengaruhi Pemilih, berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap, dikenai sanksi:
a. Administrasi
b. Kode etik
c. Pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
d. Teguran tertulis
e. Teguran Lisan

85. Partai Politik dan/atau gabungan Partai Politik yang mengusulkan calon, yang menerima sumbangan
dana kampanye dari negara asing, lembaga swasta asing, lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara
asing, penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dan
badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan badan usaha milik desa atau sebutan lain. Melebihi
paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa Kampanye berakhir dan tidak menyerahkan sumbangan tersebut
kepada kas negara, dikenai sanksi:
a. Administrasi
b. Pidana
c. Kode Etik
d. Pembatalan calon yang diusulkan
e. Teguran tertulis

86. calon, yang menerima sumbangan dana kampanye dari negara asing, lembaga swasta asing, lembaga
swadaya masyarakat asing dan warga negara asing, penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak
jelas identitasnya, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dan badan usaha milik negara, badan usaha
milik daerah, dan badan usaha milik desa atau sebutan lain. Melebihi paling lambat 14 (empat belas)
hari setelah masa Kampanye berakhir dan tidak menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas negara,
dikenai sanksi:
a. Pidana
b. Kode Etik
c. Teguran tertulis
d. Teguran lisan
e. Pembatalan sebagai calon

87. Calon Bupati/Walikota , yang menerima sumbangan dana kampanye dari negara asing, lembaga
swasta asing, lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing, penyumbang atau pemberi
bantuan yang tidak jelas identitasnya, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dan badan usaha milik
negara, badan usaha milik daerah, dan badan usaha milik desa atau sebutan lain. Melebihi paling
lambat 14 (empat belas) hari setelah masa Kampanye berakhir dan tidak menyerahkan sumbangan
tersebut kepada kas negara, dikenai sanksi Pembatalan sebagai calon, dilakukan oleh:
a. KPU
b. KPU Provinsi
c. KPU Kabupaten/Kota
d. Bawasluj Provinsi
e. Panwaslu Kabupaten/Kota

88. Peserta Pemilu dilarang menerima sumbangan yang berasal dari pihak-pihak berikut ini, kecuali.
a. Pihak asing
b. Penyumbang yang tidak jelas identitasnya
c. Pemerintah, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah
d. Pemerintah desa dan badan usaha milik desa
e. Pengurus partai politik.

89. Pemeriksaan pengaduan dan/atau laporan atas adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh
anggota Panwaslu Kabupaten/Kota, dilakukan oleh:
a. Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
b. Dewan Kehormatan Bawaslu
c. Dewan Kode Etik KPU
d. Dewan Kehormatan KPU
e. Badan Kehormatan Bawaslu.

90. Berikut ini adalah masalah-masalah hukum dalam Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, kecuali:
a. Pelanggaran pidana pemilu
b. Sengketa pemilu
c. Pelanggaran pemilu
d. Pelanggaran lalu lintas dalam masa kampanye
e. Perselisihan hasil pemilu.

91. Penyelesaian tindak pidana pemilu dilakukan melalui sistem peradilan pidana. Lembaga-lembaga yang
tergabung dalam sistem peradilan pidana adalah sebagai berikut, kecuali?
a. Kepolisian
b. Kejaksaan
c. Pengadilan
d. Pengawas Pemilu
e. Lembaga Pemasyarakatan
92. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) di atur tentang alat bukti, apa saja yang
dimaksud dengan alat Bukti :
a. Keterangan saksi dan Keterangan ahli
b. Bukti surat
c. Petunjuk dan Keterangan terdakwa
d. Jawaban a,b,c, salah semua
e. Jawaban a,b,c benar semua

93. Putusan pengadilan Tinggi dalam memeriksa Tindak Pidana Pemilihan harus sudah disampaikankepada penuntut
umum paling lambat
a. 1 (satu) hari setelah putusan dibacakan
b. 2 (dua) hari setelah putusan dibacakan
c. 3 (tiga) hari setelah putusan dibacakan
d. 4 (empat) hari setelah putusan dibacakan
e. 5 (lima) hari setelah putusan dibacakan

94. Putusan pengadilan Tinggi dalam memeriksa Tindak Pidana Pemilihan harus sudah dilaksanakan
paling lambat:
a. 1 (satu) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa
b. 2 (dua) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa
c. 3 (tiga) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa
d. 4 (empat) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa
e. 5 (lima) hari setelah putusan diterima oleh Jaksa

95. Putusan pengadilan terhadap kasus tindak pidana Pemilihan yang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta
Pemilihan harus sudah selesai paling lama :
a. 1 (satu) hari sebelum KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan hasil Pemilihan
b. 2 (dua) hari sebelum KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan hasil Pemilihan
c. 3 (tiga) hari sebelum KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan hasil Pemilihan
d. 4 (empat) hari sebelum KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan hasil
Pemilihan
e. 5 (lima) hari sebelum KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan hasil
Pemilihan

96. Salinan putusan pengadilan terhadap kasus tindak pidana Pemilihan yang dapat mempengaruhi
perolehan suara peserta Pemilihan harus sudah diterima KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, dan
peserta Pemilihan pada hari:
a. Pertama Putusan dibacakan
b. Kedua Putusan dibacakan
c. Ketiga Putusan dibacakan
d. Keempat Putusan dibacakan
e. Putusan Pengadilan dibacakan

97. Sidang pemeriksaan perkara tindak pidana pemilihan dilakukan oleh Majelis khusus yang ditetapkan
secara khusus yang terdiri atas :
a. Hakim Pengadilan Negeri
b. Hakim Pengadilan Tipikor
c. Hakim Pengadilan Niaga
d. Hakim Pengadilan TUN
e. hakim khusus yang merupakan hakim karier pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan
Tinggi

98. hakim khusus yang merupakan hakim karier pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang ditetapkan secara
khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana Pemilihan, ditetapkan berdasarkan:
a. Keputusan Ketua KPU
b. Keputusan Ketua Bawaslu
c. Keputusan Ketua Mahkamah Agung
d. Keputusan Ketua DKPP
e. Keputusan Presiden
99. hakim khusus yang merupakan hakim karier pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang ditetapkan secara
khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana Pemilihan harus memenuhi syarat telah
melaksanakan tugasnya sebagai Hakim palinmg singkat:
a. 3 (tiga) tahun
b. 4 (empat) tahun
c. 5 (lima) tahun
d. 6 (enam) tahun
e. 7 (tujuh) tahun

100. hakim khusus yang merupakan hakim karier pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang
ditetapkan secara khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana Pemilihan
harus memenuhi syarat telah melaksanakan tugasnya sebagai Hakim palinmg singkat 3 (tiga) Tahun,
kecuali:
a. Hakim Agung
b. Hakim Pengadilan Tinggi
c. Hakim Pengadilan Negeri
d. Hakim Pengadilan Tipikor
e. dalam suatu pengadilan tidak terdapat hakim yang masa kerjanya telah mencapai 3 (tiga)
tahun

Catatan :
UNTUK JAWABAN YANG DI BLOK DENGAN WARNA MERAH ADALAH JAWABAN YANG
BENAR.