Anda di halaman 1dari 9

MODUL PERKULIAHAN

ETIK
UMB

ETIKA DAN SIKAP


PROFESIONALISME SARJANA

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

01
Ilmu Komputer Informatika 90004 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si

Abstract Kompetensi
Implementasi etika dan sikap Memahami pentingnya etika dan sikap
profesionalisme sarjana dalam profesionalisme sarjana dalam
kehidupan sehari-hari kehidupan sehari-hari

Pendahuluan
Latar Belakang

Pada dasarnya Milenium Development Goals (MDGs) menargetkan kualitas manusia


Indonesia kelak harus mampu menjadi insan pembelajar yang mandiri dan kreatif. Sejalan
dengan berlangsungnya proses tersebut, tugas lembaga pendidikan bergeser dari teaching
university ke knowledge server bahkan menjadi mitra jasa dalam bidang research and
innovation. Dalam kondisi seperti itu, lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi
menampung real students tetapi menjaring virtual students sehingga mampu melahirkan
beragam inovasi, dimana salah satu tantangan inovasi di masa mendatang adalah adanya
survivability kehidupan manusia di muka bumi untuk mengelola jumlah penduduk bumi,
perubahan iklim, dan ketersediaan pangan secara terpadu.
Pendidikan menuju kondisi seperti itu perlu dipikirkan dan dikembangkan dengan
berbasis pada konsep humanosphere. Konsep ini tidak menjadikan dunia harus terpisah-
pisah, melainkan menyatu dalam kesatuan sehingga terkadang kemajuan satu komponen
mempengaruhi secara negatif perubahan komponen lainnya. Namun, inovasi yang
terbangun diharapkan dapat menciptakan dunia beragam yang harmonis (harmonious
worldly worlds) Ini penting agar kemajuan satu komponen memacu komponen lainnya untuk
maju pula. Untuk mencapai target dan harapan itu semua diperlukan tenaga SDM yang
unggul dan professional di bidangnya.
Mendidik tenaga professional tentu harus dimulai secara bertahap, memakan waktu
yang panjang, adanya pembekalan yang cukup serta matang dan dibutuhkan sebuah etika
sehingga mampu menjadi pegangan ketika kelak berhadapan dengan dunia realitas. Dalam
konteks etika, khususnya seorang sarjana harus dipupuk dan dikembangkan sejak awal
sehingga mereka menjadi generasi yang mampu mempertahankan keunggulan moralitas
dan akhlak sebagai cerminan dari pelaksanaan etika itu sendiri. Sebab bagaimanapun,
seorang pekerja dikatakan unggul dan professional ketika dia mampu menggabungkan tiga
kecerdasan yakni intelektual, emosional dan spiritual dalam mengarungi kehidupan di dunia
kerjanya.

Pengertian Etika

A. Pengertian Etika

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Etika adalah salah satu cabang dari Ilmu Filsafat yang bertitik tolak dari masalah nilai
(value) dan moral manusia yang berkenaan dengan tindakan manusia. Secara etimologis,
kata etika berasal dari bahasa Yunani, yakni ethos yang artinya cara bertindak, adat, tempat
tinggal, kebiasaan. Sedangkan kata moral berasal dari bahasa Latin, yakni mos yang berarti
sama dengan etika. Istilah etika dipakai oleh Aristoteles (384 – 322 SM) untuk menunjukkan
pengertian tentang filsafat moral.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1993), etika adalah ilmu mengenai
apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban (ahlak). Sementara Martin (1993),
mendefinisikan etika sebagai “the discpline which can act as the performance index or
reference for our control system”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam
batasan atau standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertian lainnya, Drs. O.P. SIMORANGKIR mengartikan etika atau etik sebagai
pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Sedangkan Drs.
H. Burhanudin Salam mendefinisikan etika sebagai cabang filsafat yang berbicara mengenai
nilaidan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Secara filosofis, etika merupakan bagian dari ilmu filsafat yang mempelajari berbagai
nilai (value) yang diarahkan pada perbuatan manusia, khususnya yang berkaitan dengan
kebaikan dan keburukan dari hasil tindakannya. Dalam berbuat baik, manusia memerlukan
pertimbangan yang bersifat rasional. Pertimbangan rasional artinya mempertimbangkan
berbagai kemungkinan untuk berbuat baik atau melakukan tindakan secara jernih, tanpa
dilandasi dengan sikap emosional yang berlebihan. Mempelajari etika harus dilandasi
dengan pendekatan rasional dan kritis, agar etika itu dapat diterapkan pada tindakan
keseharian seseorang.
Etika sebagai filsafat moral berarti melakukan perenungan secara mendalam
mengenai berbagai ajaran moral (kebaikan) secara kritis. Namun harus dibedakan antara
etika dan moral. Etika mempelajari berbagai ajaran moral secara kritis dan logis. Sedangkan
moral adalah nasihat-nasihat yang berupa ajaran-ajaran pada adat istiadat suatu
masyarakat/golongan/agama. Moral bersifat aplikatif mengenai tindakan manusia yang baik
dan buruk.
Pokok bahasan yang sangat khusus pada etika adalah sikap kritis manusia dalam
menerapkan ajaran-ajaran moral terhadap perilaku manusia yang bertanggung jawab.
Ajaran-ajaran tersebut sangat menentukan bagaimana moral manusia itu “dibina” baik
melalui pendidikan formal maupun non formal.

B. Pembagian Etika

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dalam perkembangannya etika terbagi atas etika deskriptif, etika normatif, metaetika
dan etika terapan.
1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif memberikan gambaran tingkah laku moral dalam arti luas, seperti
norma dan aturan yang berbeda dalam suatu masyarakat atau individu yang berada dalam
kebudayaan tertentu atau yang berada dalam kurun atau periode tertentu. Norma dan aturan
tersebut ditaati oleh individu atau masyarakat yang berasal dari kebudayaan atau kelompok
tertentu. Ajaran tersebut lazim diajarkan para pemuka masyarakat dari kebudayaan atau
kelompok tersebut.
Etika deskriptif adalah objek yang dinilai sikap dan perilaku manusia dalam mengejar
tujuan yang ingin dicapai dan bernilai sebagaimana adanya. Nilai dan pola perilaku manusia
seperti apa adanya sesuai dengan tingkatan kebudayaan yang berlaku di masyarakat.
Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku
atau sikap yang mau diambil.
Contoh: Masyarakat Jawa mengajarkan tatakrama terhadap orang yang lebih tua
dengan menghormatinya, bahkan dengan sapaan yang halus sebagai ajaran yang harus
diterima. Bila tidak dilakukakan, masyarakat menganggapnya aneh atau bukan orang Jawa.
2. Etika Normatif
Etika normatif mempelajari studi atau kasus yang berkaitan dengan masalah moral.
Etika normatif mengkaji rumusan secara rasional mengenai prinsip-prinsip etis dan
bertanggung jawab yang dapat digunakan oleh manusia. Dalam etika normatif yang paling
menonjol adalah penilaian mengenai norma-norma. Penilaian ini sangat menentukan
perilaku manusia yang baik dan buruk.
Etika normatif adalah adalah sikap dan perilaku sesuai norma dan moralitas yang
ideal dan mesti dilakukan oleh manusia/masyarakat. Ada tuntutan yang menjadi acuan bagi
semua pihak dalam menjalankan fungsi dan peran kehidupan dengan sesama dan
lingkungan. Jadi dapat dikatakan etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma
sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Etika normatif terbagi atas dua kajian yakni etika yang bersifat umum dan khusus.
Etika normatif umum mengkaji norma etis/moral, hak dan kewajiban, dan hati nurani.
Sedangkan etika normatif khusus menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum pada perilaku
manusia yang khusus, misalnya etika keluarga, etika profesi (etika kedokteran, etika
perbankan, etika bisnis, dll.), etika politik, dll.
3. Metaetika
Metaetika adalah kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun
kaidah-kaidah bahasa aspek moralitas, khususnya berkaitan dengan bahasa etis (bahasa

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang digunakan dalam bidang moral). Kebahasaan seseorang dapat menimbulkan penilaian
etis terhadap ucapan mengenai yang baik, buruk dan kaidah logika.
Contoh: Bahasa iklan yang berlebihan dan menyesatkan, seperti pada tayangan iklan
obat yang menganjurkan meminum obat tersebut agar sembuh dan sehat kembali. Ketika
orang mulai mengkritik iklan tersebut, maka dimunculkanlah ucapan etis: “jika sakit berlanjut,
hubungi dokter”. Ucapan etis tersebut seolah dihadirkan oleh sekelompok produsen untuk
disampaikan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam meminum obat tersebut.
4. Etika Terapan
Etika terapan adalah studi etika yang menitikberatkan pada aspek aplikatif atas dasar
teori etika atau norma yang ada. Etika terapan muncul karena perkembangan pesat etika
dan kemajuan ilmu lainnya. Etika terapan bersifat praktis karena memperlihatkan sisi
kegunaan dari penerapan teori dan norma etika pada perilaku manusia.
Contoh: Etika terapan yang menyoroti permasalahan iklim dan lingkungan
menghasilkan kajian mengenai etika lingkungan hidup.
Ada beberapa sistem dalam menilai sebuah etika. Pertama, Titik berat penilaian etika
sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila.
Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah mendarah
daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah
dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal
penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati,
sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata.
Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga)
tingkat :
a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana
dalam hati, niat.
b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.

Etika Profesi

B. Etika Profesi

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a. Pengertian Etika Profesi
Etika profesi adalah etika yang berkaitan dengan profesi manusia atau etika yang
diterapkan dalam dunia kerja manusia. Di dalam dunia kerjanya, manusia membutuhkan
pegangan, berbagai pertimbangan moral dan sikap yang bijak. Secara khusus, etika profesi
membahas masalah etis yang berkaitan dengan profesi tertentu. Misalnya, etika dokter
(kedokteran), etika pustakawan (perpustakaan), etika humas (kehumasan), dll.
Etika profesi (dalam jurnal Qohar, 2012) adalah kesanggupan untuk secara seksama
berupaya memenuhi kebutuhan pelayanan professional dengan kesungguhan, kecermatan
dan keseksamaan mengupayakan pengerahan keahlian dan kemahiran berkeilmuan dalam
rangka pelaksanaan kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para warga
masyarakat yang membutuhkannya, yang bermuatan empat kaidah pokok.
Profesi berasal dari bahasa Latin: professues yang berarti suatu kegiatan manusia
atau pekerjaan manusia yang dikaitkan dengan sumpah suci. Pengertian lain mengartikan
sebagai perbuatan seseorang yang dilakukan untuk memperoleh nilai komersial. Ada pula
yang mengartikan etika profesi sebagai komunitas moral yaitu adanya cita-cita dan nilai
bersama yang dimiliki seseorang ketika ia berada dan bersama-sama dengan teman
sejawat dalam dunia kerjanya.

Budaya Kerja

C. Budaya Kerja

Ada beberapa budaya kerja yang harus ditanamkan dan dikembangkan di perguruan
tinggi yaitu disiplin, jujur, tanggung jawab, kreatif, ramah lingkungan dan sadar nilai lokal.
Disiplin adalah sikap taat kepada hukum dan aturan yang berlaku. Mahasiswa disiplin akan

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
datang tepat waktu dan tepat dalam jumlah kehadiran setiap semester. Jika ada tugas kuliah
maka dikerjakan tepat pada waktunya.
Jujur adalah sikap apa adanya, tidak melebihkan atau mengurangi perkataan dan
tindakannya. Setiap mahasiswa harus menjunjung tinggi kejujuran, termasuk dalam
menjalani ujian di kampus. Tanpa diawasi, mahasiswa tidak menyontek kepada mahasiswa
lainnya.
Tanggung jawab menurut KBBI artinya wajib menanggung segala sesuatunya. Orang
bertanggung jawab akan sadar pada tingkah lakunya baik disengaja atau tidak disengaja.
Kreatif adalah kemampuan seseorang membuat karya baik gagasan maupun karya nyata,
baik karya baru maupun kombinasi dari yang sudah ada. Kreatif juga berarti keyakinan dan
kemauan terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri.
Ramah lingkungan sangat penting dalam menghadapi pemanasan global. Indonesia
yang dikenal sebagai paru paru dunia, kini hutannya semakin berkurang sehingga
dibutuhkan sikap ramah lingkungan agar kondisi lingkungan tidak bertambah rusak.
Kearifan lokal mengacu kepada bahwa manusia diciptakan dalam kondisi yang
berbeda-beda atau heterogen. Demikian pula bangsa dan negara, memiliki kearifan lokal
yang berbeda-beda yang kekayaan itu wajib dipelihara dan dilestarikan setiap anak bangsa.
Bagaimana budaya menunjukkan jati diri bangsa.

Pentingnya Etika Dalam Kehidupan

D. Pentingnya Etika Dalam Kehidupan

Beberapa alasan mengapa perlunya etika saat ini:


1. Pandangan moral yang beraneka ragam yang berasal dari berbagai suku, kelompok,
daerah dan agama yang berbeda dan yang hidup berdampingan dalam suatu
masyarakat dan negara.

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Modernisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam struktur
masyarakat yang akibatnya dapat bertentangan dengan pandangan-pandangan moral
tradisional.
3. Munculnya berbagai ideologi yang menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan
manusia dengan masing-masing ajarannya tentang kehidupan manusia.Etika dapat
membangkitkan kembali semangat hidup agar manusia dapat menjadi manusia yang
baik dan bijaksana melalui eksistensi dan profesinya.
Dalam bidang keilmuan, etika sangat penting karena pokok perhatiannya pada
problem dan proses kerja keilmuan, sehingga memunculkan studi etika keilmuan. Etika
keilmuan menyoroti aspek bagaimana peran seorang mahasiswa, ilmuwan dalam
kegiatannya. Tanggung jawab mereka dipertaruhkan dalam proses kegiatan ilmiahnya.
Pokok perhatian lain dalam etika keilmuan adalah masalah bebas nilai. Bebas nilai adalah
suatu posisi atau keadaan dimana seseorang ilmuwan memiliki hak berupa kebebasannya
untuk melakukan penelitian ilmiahnya. Mereka bebas meneliti apa saja sesuai dengan
keinginan atau tujuan penelitiannya. Kebalikan bebas nilai adalah tidak bebas nilai, yakni
adanya hambatan dari luar seperti norma agama, norma hukum, norma budaya yang
muncul dalam proses penelitiannya. Norma-norma tersebut semacam “pagar” yang
merintangi kebebasan seorang peneliti atas dasar tujuan dan kepentingan norma tersebut.
Misalnya, pada kasus penelitian kloning untuk manusia.

Kesimpulan
Era globalisasi oleh perguruan tinggi harus disikapi sebagai tantangan yang akan
menjadi peluang dengan mencetak lulusan yang unggul secara intelektual, kompeten
dibidangnya dan menguasai iptek, dan anggun secara moral. Keunggulan secara intelektual
lulusan perguruan tinggi dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang tercermin
dalam kelompok mata kuliah MKK, yang di dalamnya mencakup pengetahuan dibidangnya,
pengetahuan manajerial, dan pengetahuan umum.

Kompeten dibidangnya dan menguasai teknologi yang tercermin dalam kelompok


mata kuliah MKB dan MPB, meliputi: terampil dan menguasai bidang kerjanya, menguasai
teknologi informasi dan komunikasi, penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
internasional, dan bahasa asing yang sedang trend digunakan di dunia industri saat ini.
Sedangkan anggun secara moral yang tercermin dalam kelompok mata kuliah MPK dan
MBB, meliputi penanaman nilai-nilai religius, nasionalisme dan berkehidupan sosial, budi
pekerti, kepribadian, serta etiket dan etika profesional.
Dengan demikian, SDM yang dihasilkan perguruan tinggi dapat bersaing ditingkat
regional maupun internasional dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan peluang
secara tidak terbatas sejalan dengan tuntutan globalisasi. Masyarakat duniapun dengan
sendirinya akan menilai dan menanamkan kepercayaan penuh terhadap lulusannya. Etika
dan Sikap Profesional lulusan Perguruan Tinggi yang akan menjadi catatan penting di mata
masyarakat.

Daftar Pustaka
James, J. 1996. Thinking in the Future Tense. Simon & Schuster. Inc

Artiningrum, Kurniasih; Nugroho, 2012, Etika Perilaku Profesional Sarjana, Graha Ilmu,
Yogayakarta

Srijanti, Purwanto, Artiningrum, 2007, Etika Membangun Sikap Profesionalisme Sarjana,


Graha Ilmu, Yogyakarta

Isnanto, Rizal, 2009, Buku Ajar Etika Profesi, Universitas Diponegoro, Semarang.

Qohari, Adnan, 2012, Jurnal Pengertian Etika dan Profesi Hukum

Sutarsih, Cicih, 2012, Etika Profesi, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian
Agama RI, Jakarta.

2017 Etik
1 Inggar Saputra, S.Pd, M.Si
PusatBahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Anda mungkin juga menyukai