Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri

dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada

instansi pemerintah. Pegawai ASN melaksanakan kebijakan publik

yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan, memberikan pelayanan

publik yang profesional dan berkualitas dan mempererat persatuan dan

kesatuan NKRI.
Dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Pasal 63 ayat (3) dan

ayat (4) tentang Aparatur Sipil Negara mengamanatkan Instansi

Pemerintah untuk wajib memberikan Pendidikan dan Pelatihan

terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu tahun

masa percobaan. Berdasarkan Peraturan Kepala LAN Nomor 12 Tahun

2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, pelatihan ini

memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal di tempat pelatihan

serta di tempat kerja, yang memungkinkan peserta mampu

menginternalisasi, menerapkan dan mengaktualisasikan serta

membuatnya menjadi kebiasaan dan merasakan manfaatnya, sehingga

terpatri dalam dirinya sebagai karakter PNS yang professional.


Merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang

Manajemen PNS, PNS wajib menjalani masa percobaan yang

dilaksanakan untuk membangun moral, kejujuran, semangat

1
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan

bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi

bidang.
Pelatihan yang memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal

di tempat pelatihan dan di tempat tugas sehingga memungkinkan

peserta mampu mengaktualisasikan dan membuatnya menjadi

kebiasaan (habituasi), dan merasakan manfaatnya.Karakter PNS

profesional dibentuk dari sikap dan perilaku disiplin PNS, nilai-nilai dasar

profesi PNS, dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS

dalam NKRI serta mengusai tugasnya sehingga mampu melaksanakan

tugas dan perannya secara profesional sebagai pelayan publik.


Untuk mencapai Visi dan Misi pembangunan kesehatan kota

Semarang serta Visi dan Misi UPTD Puskesmas Ngesrep Kota

Semarang, maka perlu disusun sebuah dokumen perencanaan yang

komprehensif. Perencanaan kegiatan dilakukan dari organisasi paling

bawah atau disebut Bottom Up Planning. Puskesmas sebagai ujung

tombak institusi pelayanan kesehatan dituntut untuk dapat menyusun

perencanaan dengan baik berdasarkan prioritas masalah dengan

berdasarkan potensi dan sumber daya yang dimiliki.


Peran ASN di bidang kesehatan melalui kegiatan mewujudkan

pelayanan kesehatan yang berkualitas prima di Puskesmas meliputi

pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Agent, host dan

Lingkungan merupakan tiga faktor yang sangat berperan dalam riwayat

tumbuhnya penyakit. Maka dari itu untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat, kita harus menangani ketiga faktor tersebut baik

secara promotif, preventif maupun secara kuratif dan rehabilitatif.

2
Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)

Dinas Kesehatan Kabupaten yang bertanggungjawab terhadap

pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Oleh karena itu

puskesmas mempunyai peran menyelenggarakan upaya kesehatan

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat

bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Dengan demikian puskesmas berfungsi sebagai penggerak

pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga

dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Menurut pengamatan penulis selama bekerja di UPTD Puskesmas

Ngesrep Kota Semarang, ternyata ada beberapa hal yang kurang

optimal, yaitu kurang optimalnya informasi pencegahan stunting kepada

masyarakat di puskesmas ngesrep, kurang optimalnya layanan pasien

disabilitas di Puskemas Ngesrep Kota Semarang, belum sesuainya

kepesertaan pasien BPJS di fasilitas kesehatan tingkat pertama, kurang

optimalnya masyarakat dalam kegiatan Posbindu di Puskemas Ngesrep

Kota Semarang, Kurang optimalnya kerjasama antar lintas sektor

dalam menurunkan angka kehamilan tidak diharapkan di Kota

Semarang.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan

oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga

mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan

anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi

tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan

(genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang

3
hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal

seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan

yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku,

lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan.

Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa

dicegah.
Dari data Riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018

menunjukkan, 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting.

Angka ini turun jika dibandingkan data Riskesdas 2013, yakni 37,2

persen. Dan di puskesmas sendiri terdapat bayi dan balita stunting

sebanyak 17 balita .
Dalam rapat terbatas Pagu Indikatif RAPBN 2020 bersama

menteri kabinet kerja di Kantor Presiden, presiden Joko Widodo

meminta pemanfaatan dan prioritas Rancangan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 pada peningkatan kualitas sumber

daya manusia. Salah satunya di bidang kesehatan termasuk

pemberantasan stunting.
Menurut UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

menyatakan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan penyandang cacat

harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif

secara sosial, ekonomi, dan bermartabat. Pemerintah wajib menjamin

ketersediaan fasilitas fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi

penyandang cacat untuk hidup mandiri dan produktif.


Fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat 1 adalah tempat pertama

yang harus didatangi peserta BPJS kesehatan untuk berobat. Faskes

pertama merupakan fasilitas yang harus dipilih ketika datang pertama

4
kali mendaftar kepesertaan BPJS. Banyak peserta BPJS yang faskes

tingkat 1 yang tidak berobat sesuai faskes terdaftar.


POSBINDU (Pos Binaan Terpadu) adalah kegiatan monitoring

dan deteksi dini faktor resiko penyakit tidak menular terintegrasi serta

gangguan akibat kecelakaan dan tindakan kekerasan dalam rumah

tangga yang dikelola oleh masyarakat melalui binaan terpadu. Sasaran

program posbindu mencakup usia diatas 15 tahun. Di puskesmas

ngesrep, peserta posbindu sebagian besar berusia >50 tahun.


Berdasarkan laporan UNICEF, indonesia merupakan negara

dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh dunia, yaitu 457,6 ribu

perempuan usia 20-24 yang menikah sebelum berusia 15 tahun.

Pernikahan dini ini sering dikaitkan dengan adanya kehamilan di luar

nikah yang mendasarinya.

Untuk kebutuhan aktualisasi, dipilih satu core issue yang menjadi


prioritas untuk dipecahkan melalui kegiatan berdasarkan tupoksi,
inovasi, maupun tugas atasan yang dilandasi oleh nilai-nilai dasar ASN
yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti
korupsi (ANEKA) yang dituangkan dalam rancangan aktualisasi. Dari
beberapa isu yang ditemukan di Puskesmas Ngesrep, ditetapkan satu
core issue yaitu kurang optimalnya informasi pencegahan stunting
kepada masyarakat di puskesmas ngesrep
Berdasarkan uraian di atas, penulis membuat rancangan
aktualisasi dengan judul “Optimalisasi Informasi Pencegahan Stunting
Kepada Masyarakat Di Puskesmas Ngesrep Kota Semarang”.

2. Identifikasi Isu, Dampak dan Rumusan Masalah

5
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah

dalam rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar PNS terdiri atas identifikasi

isu dan penetapan isu sebagai berikut :

a. Identifikasi Isu

Isu atau masalah ditemukan dari adanya GAP atau

kesenjangan antara kondisi yang terjadi di Puskesmas Ngesrep

dengan kondisi yang diharapkan. Beberapa isu yang ditemukan oleh

penulis terkait dengan manajemen ASN, Whole of Government, dan

pelayanan publik sebagai berikut.

Tabel 1.1 Identikasi isu yang berada di Puskesmas Ngesrep

No Identifikasi Isu Sumber Isu Kondisi Saat Ini Kondisi yang


Diharapkan
1. Kurang Pelayanan 1. Kurangnya 1. Meningkatny
optimalnya publik pengetahuan a
informasi masyarakat pengetahuan
pencegahan tentang masyarakat
stunting kepada pencegahan tentang
masyarakat di stunting pencegahan
puskesmas stunting
ngesrep 2. Masih adanya
balita stunting di 2. Berkurangny
puskesmas a balita
ngesrep stunting di
puskesmas
ngesrep
2. Kurang optimal Manajemen tidak adanya jalur Optimalnya
layanan pasien ASN khusus untuk pasien pelayanan
disabilitas di disabilitas, sarana pasien
Puskemas Ngesrep dan dan prasarana jalur disabilitas
Kota Semarang pelayanan untuk pasien
publik disabilitas

3. Belum sesuainya Whole of Masih banyaknya Kesesuaian


kepesertaan pasien goverment pasien berobat faskes
BPJS di fasilitas tidak sesuai faskes peserta BPJS
kesehatan tingkat tingkat 1
pertama
4. Kurang optimalnya Pelayanan Kunjungan Kunjungan
masyarakat dalam masyarakat ke masyarakat

6
No Identifikasi Isu Sumber Isu Kondisi Saat Ini Kondisi yang
Diharapkan
kegiatan Posbindu publik posbindu kurang. ke posbindu
di Puskemas memenuhi
Ngesrep Kota meningkat.
Semarang
5 Kurang optimalnya Whole of Masih terdapat Meningkatnya
kerjasama antar government kehamilan tidak kerjasama
lintas sektor dalam diharapkan di antar lintas
menurunkan angka wilayah puskesmas sektor dalam
kehamilan tidak ngesrep menurunkan
diharapkan di Kota angka
Semarang kehamilan
tidak
diharapkan.

b. Analisis APKL

Rancangan aktualisasi yang akan dilaksanaan menggunakan

pendekatan Analisis APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan

Layak) digunakan untuk menentukan kelayakan suatu isu sebagai

berikut. (Modul Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV,

2008).

Tabel 1.2 Tabel parameter APKL

No Indikator Keterangan

1 2 3

1 Aktual (A) Isu yang sedang terjadi atau dalam proses


kejadian, sedang hangat dibicarakan di kalangan
masyarakat, atau isu yang diperkirakan bakal

7
No Indikator Keterangan

terjadi dalam waktu dekat. jadi bukan isu yang


sudah lepas dari perhatian masyarakat atau isu
yang sudah basi.

2 Problematik Isu yang menyimpang dari harapan standar,


(P) ketentutan yang menimbulkan kegelisahan yang
perlu segera dicari penyebab dan
pemecahannya.

3 Kekhalayakan Isu yang secara langsung menyangkut hajat


(K) hidup orang banyak, masyarakat pelanggan pada
umumnya, dan bukan hanya untuk kepentingan
seseorang atau sekelompok kecil orang tertentu
saja.

4 Layak (L) Isu yang masuk akal (logis), pantas, realistis, dan
dapat dibahas sesuai dengan tugas, hak,
wewenang, dan tanggung jawab.

Berikut beberapa isu yang ada pada di UPTD Puskesmas

Ngesrep Kota Semarang yang ditetapkan menggunakan pendekatan

APKL :

Tabel 1.3 Tabel penetapan isu dengan APK L

8
Indikator Keterangan
No Isu Sumber Isu
A P K L
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Kurang optimalnya Pelayanan + + + + Memenuhi
informasi pencegahan publik Syarat
stunting kepada (MS)
masyarakat di
Puskesmas Ngesrep
Kota Semarang.
2 Kurang optimal layanan Managemen + + + + Memenuhi
pasien disabilitas di ASN Syarat (MS)
Puskemas Ngesrep Kota
Semarang.
3 Belum sesuainya Whole of + + + - Tidak
kepesertaan pasien goverment Memenuhi
BPJS di fasilitas Syarat
kesehatan tingkat (TMS)
pertama
4 Kurang optimalnya Managemen + + + - Tidak
masyarakat dalam ASN Memenuhi
kegiatan Posbindu di Syarat
Puskemas Ngesrep Kota (TMS)
Semarang.
5 Kurang optimalnya Whole of + + + + Memenuhi
kerjasama antar lintas goverment Syarat
sektor dalam (MS)
menurunkan angka
kehamilan tidak
diharapkan di Kota
Semarang.

c. Analisis USG

Analisis yang digunakan untuk memprioritaskan isu yang akan

ditindak lanjuti menggunakan Analisis USG (Urgency, Seriousness,

Growth) adalah Adapun indikator analisis USG adalah sebagai

berikut:

Tabel 1.4 Tabel penjelasan USG

No Komponen Keterangan

9
1 2 3
1 Urgency Seberapa mendesak isu tersebut dibahas dikaitkan demgan
waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu
tersebut untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu
2 Seriousness Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan
akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah
yang menimbulkan isu tersebut atau akibat yang ditimbulkan
masalah-masalah lain kalu masalah penyebab isu tidak
dipecahkan (bisa mengakibatkan masalah lain)
3 Growth Seberapa kemungkinan isu tersebut menjadi berkembang
dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan semakin
memburuk jika dibiarkan.

Tabel 1.5 Parameter USG


Urgency / Seriousness / Growth /
Nilai
Mendesak Kegawatan Pertumbuhan
1 Isu tidak mendesak untuk segera Isu tidak begitu Isu lamban
1 diselesaikan serius untuk berkembang
dibahas karena
tidak berdampak ke
hal yang lain
Isu kurang mendesak untuk Isu kurang serius Isu kurang cepat
2 segera diselesaikan untuk segera berkembang
dibahas karena
tidak kurang
berdampak ke hal
yang lain
3 Isu cukup mendesak untuk Isu cukup serius Isu cukup cepat
segera diselesaikan untuk segera berkembang,
dibahas karena segera dicegah
akan berdampak ke
hal yang lain
4 Isu mendesak untuk segera Isu serius untuk Isu cepat
diselesaikan segera dibahas berkembang untuk
karena akan segera dicegah
berdampak ke hal
yang lain
5 Isu sangat mendesak untuk Isu sangat serius Isu sangat cepat
segera diselesaikan untuk segera berkembang untuk
dibahas karena segera dicegah
akan berdampak ke
hal yang lain

Tabel 1.6 Penetapan Isu dengan Analisis USG

10
Analisis Pering
No. Identifikasi Isu Total
U S G kat

Kurang optimalnya informasi pencegahan


1. stunting kepada masyarakat di Puskesmas 5 5 5 15 1
Ngesrep Kota Semarang.

Kurang optimal layanan pasien disabilitas di


2. 4 4 3 11 2
Puskemas Ngesrep Kota Semarang

Kurang optimalnya kerjasama antar lintas


3. sektor dalam menurunkan angka kehamilan 3 4 4 10 3
tidak diharapkan di Kota Semarang.

d. Penetapan Isu yang Dipilih

Dari hasil analisis APKL dan USG, ditetapkan isu yang dipilih

dan ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan yang akan

dilakukan untuk mengatasi isu tersebut. Langkah yang dilakukan

dalam tahap ini merumuskan isu yang memuat focus dan locus,

menentukan gagasan kegiatan yang akan dilakukan,

mengidentifikasi sumber isu, aktor yang terlibat dan peran dari setiap

aktor, serta mendeskripsikan keterkaitannya dengan mata pelatihan

yang relevan (secara langsung maupun tidak langsung) dengan

konteks isu. Hasil perumusan isu yang terpilih adalah “Optimalisasi

Pemberian Informasi Pencegahan Stunting Pada Masyarakat Di

Puskesmas Ngesrep Kota Semarang”.

e. Dampak Jika Tidak Dilaksanakan

11
Dampak apabila rancangan aktualisasi ini tidak dilaksanakan adalah

a. pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat kurang


optimal, stunting di puskesmas tidak mengalami penurunan,

b. pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting belom


optimal

c. Calon PNS tidak menginternalisasikan nilai ANEKA, tentu ini


bertentangan dengan tujuan pelaksanaan latihan dasar.

f. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran identifikasi isu dan penetapan isu di

atas, rumusan masalah dalam rancangan aktualisasi ini adalah

bagaimana cara mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yang

tekandung dalam Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,

Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA) dalam optimalisasi

pemberian informasi pencegahan stunting kepada masyarakat di

Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.

3. Tujuan Penulisan

Tujuan yang akan dicapai dalam Latsar CPNS Golongan III

Kota Semarang ini adalah mengaktualisasikan nilai-nilai dasar

profesi PNS dengan berprinsip pada Manajemen ASN, Pelayan

Publik, dan WoG dalam Penentuan Gagasan Pemecahan Isu yang

akan dilakukan di Puskesmas Ngesrep dan cara mengaktualisasikan

nilai-nilai dasar PNS yang tekandung dalam Akuntabilitas,

Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi

(ANEKA) dalam optimalisasi pemberian informasi pencegahan

12
stunting kepada masyarakat di Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.

4. Manfaat

Kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut :

a. Manfaat untuk Peserta latsar :

 Dapat menerapkan nilai-nilai dasar ASN (ANEKA) pada saat


menjalankan tugas di Puskesmas Ngesrep.

 Dapat merubah pola pikir sehingga menjadi individu yang lebih


professional, berkomitmen, beretika dan berintegritas.

 Dapat memberikan pelayanan yag lebih baik lagi untuk


masyarakat dalam pemberian informasi pencegahan stunting
sehingga dapat menanamkan nilai ANEKA, WOG , Pelayanan
Publik.

b. Manfaat bagi unit kerja

 Terwujudnya visi dan misi, serta nilai-nilai layanan pada


Puskesmas Ngesrep.

 Meningkatkan kualitas pelayanan pada Puskesmas Ngesrep

c. Manfaat bagi Masyarakat

 Masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal tentang


pencegahan stunting

 Masyarakat berperan aktif untuk mencegah stunting

13
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Bela Negara ASN


Pola pikir pegawai negeri sipil agar senantiasa terdorong berpola
pikir, bersikap dan berperilaku positif sesungguhnya telah dipikirkan dan
diakomodir oleh pemerintah. Dengan adanya Peraturan Pemerintah
Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dalam pasal
3 dijelaskan tentang kewajiban selaku pegawai negeri sipil sebagai
berikut :
1. Mengucapkan sumpah/janji PNS;
2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan;
3. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan Pemerintah;
4. Menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan;
5. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat
PNS;
7. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan/atau golongan;
8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut
perintah harus dirahasiakan;
9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk
kepentingan negara;
10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui
ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau
Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil;
11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
13. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan
sebaik-baiknya;
14. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
15. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
16. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan
karier; dan

14
17. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang.

Pola pikir positif yang demikianlah yang membentuk konsep diri


selaku pegawai negeri sipil. Adapun konsep diri Pegawai Negeri Sipil
adalah sebagai berikut :

1. Bekerja sebagai Ibadah;


2. Menghindari sikap tidak terpuji;
3. Bekerja secara profesional;
4. Berusaha meningkatkan kompetensi dirinya secara terus menerus;
5. Pelayan dan pengayom masyarakat;
6. Bekerja berdasarkan peraturan yang berlaku;
7. Tidak rentan terhadap perubahan dan terbuka serta bersikap realistis.

Disamping itu sebagai parameter kinerja di akhir tahun, pegawai


negeri sipil juga mendapatkan laporan kinerja pegawai dan/atau berupa
Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) yang tertuang dalam
Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1979, terdiri atas delapan norma-
norma sikap perilaku: 1. Kesetiaan 2. Prestasi Kerja 3. Tanggung Jawab
4. Ketaatan 5. Kejujuran 6. Kerjasama 7. Prakarsa, dan 8.
Kepemimpinan.

Dengan adanya peraturan dan ketentuan tersebut diatas, maka


norma dan aturan tersebut dimaksudkan dan diarahkan agar pegawai
negeri sipil dalam kesehariannya di tempat kerja dapat menjaga pola
pikir, sikap, perilaku, dan performa kerja (kinerjanya) dalam organisasi
pemerintah dengan sebaik-baiknya dalam rangka pencapaian target
kerja dirinya dan tercapainya output dan tujuan organisasi.

B. Nilai-Nilai Dasar ASN


Aparatur Sipil Negara memiliki beberapa Nilai-Nilai Dasar yang
harus dilaksanakan untuk melandasi semua sikap dan perilaku yang
dilakukan oleh seorang ASN. Nilai-Nilai Dasar ASN adalah sebagai
berikut:

1. Akuntabilitas

15
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban
pertanggungjawaban yang harus dicapai. Akuntabilitas merujuk pada
kewajiban setiap individu, kelompok, atau institusi untuk memenuhi
tanggung jawab yang menjadi amanahnya.

Dengan demikian kepercayaan masyarakat (public trust)


kepada birokrasi akan semakin menguat karena aparaturnya mampu
berperan sebagai kontrol demokrasi, mencegah korupsi dan
penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatkan efisiensi dan
efektivitas.

Indikator Nilai-Nilai Akuntabilitas :


a. Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas
ke bawah dimana pimpinan memainkan peranan yang penting
dalam menciptakan lingkungannya.
b. Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan
yang dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.
c. Integritas : konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
d. Tanggung Jawab : kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di
sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajiban.
e. Keadilan : kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
f. Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan. Kepercayaan ini yang akan melahirkan
akuntabilitas.
g. Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan
kerja, maka diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
h. Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab
harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang
menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan.
i. Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir.

16
2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri dan pandangan tentang rasa cinta terhadap bangsa dan
negara. Dengan nasionalisme yang kuat maka setiap ASN
memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik,
bangsa, dan negara. Nasionalisme merupakan pandangan atau
paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah
airnya yang didasarkan pada nilainilai Pancasila. ASN dapat
mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam
Pancasila agar memiliki karakter yang kuat dengan nasionalisme
dan wawasan kebangsaan.

Indikator Nilai-Nilai Nasionalisme :

a. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa


Ketuhanan YME menjadikan Indonesia sebagai negara yang
tidak membatasi agama dalam ruang privat. Nilai-nilai
ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah nilai-nilai
ketuhanan yang positif, yang digali dari nilai-nilai keagamaan
yang terbuka (inklusif), membebaskan dan menjunjung tinggi
keadilan dan persaudaraan.
b. Sila Kedua : Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Sila kedua memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar. Ke
dalam berarti menjadi pedoman negara dalam memuliakan
nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia. Ini berarti
negara menjalankan fungsi “melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
c. Sila ketiga: Persatuan Indonesia
Keberadaan bangsa Indonesia terjadi karena memiliki satu
nyawa, satu akal yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya,
yang menjalani satu kesatuan riwayat, yang membangkitkan
persatuan karakter dan kehendak untuk hidup bersama.
d. Sila Keempat : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan

17
Demokrasi permusyawaratan mempunyai dua fungsi. Fungsi
pertama , badan permusyawaratan/perwakilan bisa menjadi
ajang memperjuangkan asprasi beragam golongan yang ada
di masyarakat. Fungsi kedua, semangat permusyawaratan
bisa menguatkan negara persatuan, bukan negara untuk satu
golongan atau perorangan.
e. Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia
Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri
bangsa menyatakan bahwa Negara merupakan organisasi
masyarakat yang bertujuan menyelenggarakan keadilan.
3. Etika Publik
Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta
keyakinan untuk menentukanperbuatan yang pantas, guna menjamin
adanya perlindungan hak-hak individu mencakup cara-cara
pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal yang
baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan
sesuai nilai-nilai yang dianut.

Indikator Nilai-Nilai Etika Publik:


a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945.
c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik.
h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah.
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
k. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.

18
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.

4. Komitmen Mutu

Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada
orang lain yang tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu
kinerja pegawai. Bidang apapun yang menjadi tanggung jawab
pegawai negeri sipil semua mesti dilaksanakan secara optimal agar
dapat memberi kepuasan kepada stakeholder. Komitmen mutu
merupakan tindakan untuk menghargai efektivitas, efisiensi, inovasi
dan kinerja yang berorientasi mutu dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik.

Indikator Nilai-Nilai Komitmen Mutu:


a. Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan
target. Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian
target yang telah direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun
mutu hasil kerja.
b. Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan
efisiensi merupakan tingkat ketepatan realiasi penggunaan
sumberdaya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga
dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber daya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan mekanisme
yang ke luar alur.
c. Inovasi
Inovasi adalah hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga
akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter
sebagai PNS yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme
layanan publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar
menjalankan atau menggugurkan tugas rutin.
d. Mutu

19
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau
bahkan melebihi harapan konsumen. Mutu mencerminkan nilai
keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada masyarakat
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.

5. Anti Korupsi

Pada kebijakan hukum di Indonesia korupsi telah diidentifikasi


sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) sehingga seluruh
PNS harus mengembangkan sikap anti korupsi. Bahkan tidak hanya
korupsi yang identik dengan kerugian keuangan negara, korupsi
waktu, gratifikasi, mengharapkan pamrih dalam bekerja dan
melakukan diskriminasi pelayanan publik harus menjadi concern
utama dalam sikap anti korupsi yang perlu dikembangkan.
Indikator Nilai-Nilai Etika Publik:
a. Jujur
b. Peduli
c. Mandiri
d. Disiplin
e. Tanggung jawab
f. Kerja Keras
g. Sederhana
h. Berani
i. Adil

C. Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI

Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI yang terdiri dari 3 sub
materi, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Whole Of Government (WOG)
(WoG) adalah model pendekatan integratif fungsional satu
atap yang dewasa ini menjadi opsi alternatif dalam menyelesaikan
masalah masalah rumit (wicked problems) abad 21. Guncangan
globalisasi yang menghadirkan berbagai kontradiksi (paradoks) di
berbagai sektor kehidupan seperti korupsi, kemiskinan, dominasi

20
pasar bebas di sektor ekonomi dan lain-lain yang sulit diatasi dengan
cara dan pendekatan biasa (in the box) membuat WoG menjadi
keniscayaan yang tidak terhindarkan. Salah satu bentuk penerapan
WoG disektor pelayanan publik adalah egovernment.

E-government adalah salah satu faktor pendorong strategis


(strategic enabler) yang memungkinkan WoG dapat dilaksanakan,
karena peran dan fungsi e-government adalah menciptakan jejaring
kerja (network) kolaboratif sehingga fungsi integrasi intra dan inter
agensi/instansi dapat dilaksanakan. Keberadaan jejaring kerja yang
ditopang oleh e-goverment berpotensi menjadi tuas pengungkit
(leverage) bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sosial dan
ingkungan, termasuk di dalamnya pelayanan publik. Berdasarkan hal
itu, maka e-goverment harus dilaksanakan di berbagai level
pelayanan publik.

Model pendekatan WoG memiliki sejumlah tantangan yang


meliputi kekurangan dan hambatan (barrier) sehingga menyebabkan
WoG tidak dapat dilanjutkan atau terhenti ditengah jalan dan pada
akhirnya kembali ke cara lama. Kekurangan-kekurangan WoG adalah
memerlukan waktu lama, relatif mahal (costly), tidak selalu cocok
dengan wicked problems yang akan ditangani, dan hasilnya sulit
diukur. Kekurangan-kekurangan ini pada akhirnya dapat menjadi
dorongan untuk kembali ke cara lama. Hambatan WoG terutama
disebabkan oleh tujuan, prioritas dan akuntabilitas yang tidak jelas,
benturan agenda dan kepentingan sehingga tidak dapat tercipta
kolaborasi, ego sektoral antar instansi dan insentif yang rendah.

Pada sektor pelayanan publik, masalah akuntabilitas yang


tidak jelas atau minim ini menjadi faktor kunci timbulnya korupsi di
sektor publik (Samuel Paul,2012:4 dalam Loura Hardjaloka,
2014:435). Pemerintah sebagai pelayan warga negara memiliki
unsur-unsur utama yang menunjang timbulnya korupsi yaitu:
monopoli, diskresi dan akuntabilitas yang 5 tidak jelas. Pemerintah

21
memiliki monopoli kewenangan atau kekuasaan untuk mengakses
sumber daya alam, sumber daya manusia dan membuat peraturan
perundang-undangan.

Monopoli membuka peluang transaksional bagi perdagangan


akses perijinan dengan imbalan suap atau gratifikasi. Lebih lanjut,
pemerintah memiliki kewenangan atau kekuasaan diskresi yang
dapat dimanfaatkan untuk memberikan akses atau hak istimewa
tertentu kepada pihak yang dapat memberikan imbalan atau suap.
Terakhir, unsur lemah atau tidak jelasnya akuntabilitas akan menjadi
enabler (faktor yang memungkinkan) terjadinya korupsi. Hubungan
ketiga unsur tersebut dapat digambarkan dalam rumusan berikut
(Loura Hardjaloka, 2014: 436):

KORUPSI = MONOPOLI + DISKRESI -AKUNTABILITAS

2. Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN)


Manajemen ASN (Aparatur Sipil Negara) adalah pengelolaan
ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk menghasilkan Pegawai ASN yang
profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen Pegawai
Tidak Tetap Pemerintah. Dalam menyelenggarakan manajemen ASN
dianut “asas efektif dan efisien” yakni sesuai dengan target atau
tujuan dengan tepat waktu sesuai dengan perencanaan yang
ditetapkan.

Penyelenggaraan manajemen ASN dilakukan berdasarkan asas:


a. Kepastian hukum;
b. Profesionalitas;
c. Proporsionalitas;
d. Keterpaduan;
e. Delegasi;
f. Netralitas;
g. Akuntabilitas;

22
h. Efektif dan efisien;
i. Keterbukaan;
j. Non-diskriminasi;
k. Persatuan dan kesatuan;
l. Keadilan dan kesetaraan;
m. Kesejahteraan.

ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip:


a. Nilai dasar;
b. Kode etik;
c. Komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan
publik;
d. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
e. Kualifikasi akademik;
f. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas; dan
g. Profesionalitas jabatan.

Nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi:

a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila;


b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non-diskriminatif;
f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur;
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik;
h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program Pemerintah;
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
k. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama;
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan; dan
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.

Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b untuk


menjaga martabat dan kehormatan ASN. Kode etik sebagaimana

23
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan


merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan
manajemen ASN. Untuk melakukan pembinaan profesi dan Pegawai
ASN, Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaan pembinaan
dan manajemen ASN kepada:
a. Menteri, berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan
umum pendayagunaan Pegawai ASN;
b. KASN, berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan
pembinaan profesi ASN dan pengawasan pelaksanaannya pada
Instansi dan Perwakilan;
c. LAN, berkaitan dengan kewenangan penelitian dan
pengembangan administrasi pemerintahan negara, pembinaan
pendidikan dan pelatihan Pegawai ASN, dan penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan untuk penjenjangan Aparatur Sipil
Negara; dan
d. BKN, berkaitan dengan kewenangan pembinaan manajemen
Pegawai ASN, penyusunan materi seleksi umum calon Pegawai
ASN, pembinaan Pusat Penilaian Kinerja Pegawai ASN,
pemeliharaan dan pengembangan Sistem Informasi Pegawai
ASN, dan pembinaan pendidikan fungsional analis kepegawaian.

Untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akurasi


pengambilan keputusan dalam manajemen ASN diperlukan Sistem
Informasi Aparatur Sipil Negara. Sistem informasi Aparatur Sipil
Negara diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi antar
berbagai Instansi. Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data
dalam Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara, setiap Instansi wajib
memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada
BKN. Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana
berbasiskan teknologi informasi yang mudah diaplikasikan, mudah
diakses dan memiliki sistem keamanan yang dipercaya. BKN

24
bertanggung jawab atas penyimpanan informasi yang telah
dimutakhirkan oleh Instansi serta bertanggung jawab atas
pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Aparatur Sipil
Negara.

3. Pelayanan Publik
Berdasarkan UU No. 25 Tahun 2009 Pelayanan Publik adalah
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
bagi setiap warga negara dan penduduk atas jasa, barang, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik.

Sedangkan menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan


Aparatur Negara No.63/KEP/M.PAN/7/2003, pelayanan publik adalah
segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara
pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima
pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Dan selanjutnya menurut Ridwan dan Sudrajat (2009:19)
pelayanan publik merupakan pelayanan yang diberikan oleh
pemerintah sebagai penyelenggara negara terhadap masyarakat nya
guna memenuhi kebutuhan dari masyarakat itu sendiri dan memiliki
tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Adapun menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur


Negara Nomor 81 tahun 1993, kinerja organisasi publik dalam
memberikan pelayanan publik dapat dilihat indikatornya sebagai
berikut :
a. Kesederhanaan,
adalah prosedurnya harus didesign sedemikian rupa, sehingga
penyelenggara layanan publik menjadi mudah, lancar, cepat, tidak
berbelit belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.
b. Kejelasan dan kepastian tentang tata cara,

25
khususnya mengenai biaya layanan, cara pembayaran, jadwal
waktu, pejabat yang berwenang dan tanggung jawab pemberi
layanan publik.
c. Keamanan,
adalah usaha untuk memberikan rasa aman dan bebas pelanggan
dari bahaya, resiko dan keragu raguan. Proses dan hasil
pelayanan publik dapat memberikan keamanan dan kenyamanan
serta memberikan kepastian hukum.
d. Keterbukaan,
adalah pelanggan dapat mengetahui seluruh informasi yang
mereka butuhkan secara mudah dan jelas yang meliputi informasi
tata cara persyaratan, waktu penyelesaian, biaya dan lain-lain.
e. Efesien,
adalah persyaratan layanan publik hanya dibatasi pada hal-hal
yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan,
dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dan
produk layanan publik yang diberikan. Disamping itu juga harus
dicegah adanya pengulangan yang tidak perlu, terutama tentang
persyaratan administratif.
f. Ekonomis,
adalah agar pengenaan biaya pelayanan ditetapkan secara wajar,
dengan memperhatikan nilai barang dan jasa dan dengan
kemampuan pelanggan untuk membayar.

g. Keadilan,
adalah yang merata meliputi cakupan dan jangkauan layanan
publik harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang
diperlakukan secara adil.
h. Ketepatan waktu,
adalah pelaksanaan layanan publik dapat diselesaikan dalam
waktu yang telah ditentukan.

D. STUNTING
1. Definisi
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang
atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur.

26
Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari
minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari
WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan
oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil,
kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita
stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam
mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.

2. Upaya Pencegahan
Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development
Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan
berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala
bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan
pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting
hingga 40% pada tahun 2025. Untuk mewujudkan hal tersebut,
pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program
prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia
Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk
menurunkan prevalensi stunting di antaranya sebagai berikut:
1. Ibu Hamil dan Bersalin
a. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;
b. Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu
c. Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;
d. Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi
kalori, protein, dan mikronutrien (TKPM);
e. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular)
f. Pemberantasan kecacingan;
g. Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke
dalam Buku KIA;
h. Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
dan ASI eksklusif
i. Penyuluhan dan pelayanan KB.
2. Balita
a. Pemantauan pertumbuhan balita;
b. Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan

(PMT) untuk balita;


c. Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan

27
d. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.
3. Anak Usia Sekolah
a. Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
b. Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;
c. Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS);

dan
d. Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan
narkoba
e. Cegah Stunting, itu Penting.
4. Remaja
Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok, dan mengonsumsi
narkoba; dan
Pendidikan kesehatan reproduksi.
5. Dewasa Muda
a. Penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana (KB);
b. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);
c. Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang,

tidak merokok/mengonsumsi

28
BAB III

DESKRIPSI UNIT ORGANISASI

A. Profil Puskesmas Ngesrep


1. Letak Geografi
Puskesmas Ngesrep merupakan Puskesmas yang terletak di
Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Dengan batas wilayah:
Utara : Kelurahan Jatingaleh
Timur : Jalan Tol
Selatan : Kelurahan Srondol Wetan
Barat : Sungai Kaligarang
Puskesmas Ngesrep dibangun pada tahun 1972, dengan luas
wilayah 6,23 km2 yang terdiri dari 3 kelurahan yaitu Kelurahan
Ngesrep, Kelurahan Sumurboto, dan Kelurahan Tinjomoyo dengan
jarak tempuh terjauh dari desa ke Puskesmas 5 km. Rata-rata setiap
desa dapat dijangkau dengan kendaraan roda 2 / roda 4 .

2. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ngesrep

Gambar 1 Peta Wilayah Kerja

29
3. VISI
“Terwujudnya pelayanan kesehatan berkualitas menuju
masyarakat Kecamatan Banyumanik sehat dan mandiri”

4. MISI
a. Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Kesehatan yang
Berkualitas.
b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.
c. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
d. Meningkatkan kualitas SDM agar memiliki kinerja yang tinggi,
mandiri dan profesional dan bertanggung jawab dalam bidang
kesehatan.

5. TATA NILAI
Tata nilai Puskesmas Ngesrep: RESEP
a. Ramah
b. Edukatif
c. Sabar
d. Empati
e. Profesional

6. TUPOKSI PUSKESMAS

UPTD Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan sebagian


kegiatan teknis operasional Dinas Kesehatan yang meliputi
pelayanan, pembinaan, dan pengembangan upaya kesehatan secara
paripurna kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Untuk
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, UPTD
Puskesmas mempunyai tugas :
1. Perencanaa program, kegiatan dan anggaran;
2. Pendistribusian tugas kepada bawahan;
3. Pemberian petunjuk kepada bawahan;
4. Penyeliaan tugas bawahan dalam lingkup tanggungjawabnya;
5. Pelaksanaan kegiatan penyusunan Sasaran Kerja Pegawai;
6. Pelaksanaan koordinasi dengan perangkat daerah lainnya dan
instansi terkait atas persetujuan pimpinan;

30
7. Pelaksanaan penyusunan pedoman pelayanan, pembinaan, dan
pengembangan upaya kesehatan kepada masyarakat di wilayah
kerjanya;
8. Pelaksanaan penyusunan rencana kebutuhan prasarana dan
sarana Puskesmas;
9. Pelaksanaan kegitan usaha pencegahab dan pemberantasan
penyakit termasuk imunisasi;
10. Pelaksanaan peningkatan kesehatan dan kesehatan keluarga
melalui kegiatan Kesejahteraan Ibu dan Anak, Keluarga
Berencana (KB), perbaikan gizi dan usia lanjut; pelaksanaan
pemulihan dan rujukan melalui kegiatan pengobatan termasuk
pelayanan darurat karena kecelakaan serta kesehatan gigi dan
mulut;
11. Pelaksanaan kesehatan lingkungan, penyuluhan dan peran serta
masyarakat memalui kegiataan penyehatan lingkungan, upaya
kesehatan, institusi dan olahraga, penyuluhan kesehatan
masyarakat dan perawatan kesehatan masyarakat;
12. Pelaksanaan kegiatan perawatan inap karena diperlukan
penanganan lanjut guna percepatan penyembuhan penyakit;
pelaksanaan kegiatan penelitian laboratorium dan pengelolaan
obat-obatan;
13. Pelaksanaan pelayanan khusus melalui kegiatan upaya
kesehatan mata, jiwa dan kesehatan lain;
14. Pelaksanaan pemeliharaan prasaranadan sarana UPTD
Puskesmas;
15. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
pelayan, pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan secara
paripurna kepada masyarakat di wilayah kerjanya;
16. Pelaksanaan ketatausahaan UPTD Puskesmas di wilayah
kerjanya;
17. Pelaksanaan kegiatan penyusunan dan pelayanan data dan
informasi di UPTD Puskesmas di wilayah kerjanya;
18. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pertangungjawaban
keunagnan di UPTD Puskesmas di wilayah kerjanya;
19. Pelaksanaan penilaian kinerja pegawai dalam lingkup
tanggungjawabnya;
20. Pelaksanaan monitoring da evaluasi program dan kegiatan;

31
21. Pelaksanaan penyusunan laporan program dan kegiatan; dan
22. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan
sesuai tugas dan fungsinya.

Jabatan fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian


tugas UPTD Puskesmas sesuai dengan keahlian dan kebutuhan
sesuai peraturan perundang-undangan.
a. Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10,
terdiri dari sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional
yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang
keahliannya. (2) Setiap Jabatan Fungsional dipimpin oleh
seorang tenaga fungsional senior dan bertanggungjawab kepada
Kepala.
b. Jumlah Jabatan Fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan
dan beban kerja.
c. Jenis dan jenjang Jabatan Fungsional diatur sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7. DATA SUMBER DAYA

Peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia


(SDM) dibidang kesehatan sangat diperlukan agar penyelenggaraan
upaya kesehatan dapat berjalan dengan baik dengan harapan mampu
bekerja secara profesional dan selalu berusaha untuk
mengenbangkan kemampuan secara keilmuan dan ketrampilannya
dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal kepada
masyarakat.
Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan
pengadaan tenaga serta pengelolaan kepegawaian. Puskesmas
Ngesrep mempunyai jumlah pegawai pada tahun 2018 sebanyak 42
orang terdiri dari 28 orang PNS dan 14 orang Non PNS

Tabel 3. 1 Data Ketenagaan Kesehatan Di Puseksmas Ngesrep Tahun 2018

32
No. Jenis Tenaga PNS Non PNS

1. Kepala Puskesmas 1 0

2. Kepala Tata Usaha 1 0

3. Dokter Umum 3 0

4. Dokter Gigi 1 0

5. Perawat 4 0

6. Penyuluh 1 0

7. Tenaga Gizi 1 0

8. Tenaga Laboratorium 1 1

9. Apoteker 1 0

10. Asisten Apoteker 2 0

11. Loket 3 1
12. Administrasi 1 1

13. Sopir 0 1

14. Tenaga Kebersihan 0 3

15. Penjaga Malam 0 1

Jumlah 28 14

8. STRUKTUR ORGANISASI

33
Gambar 2. Struktur organisasi

B. Tugas Jabatan Peserta Diklat


Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 139
Tahun 2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan Angka Kreditnya
adalah sebagai berikut :
1. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama;
2. Melakukan pelayanan spesialistik rawat jalan tingkat pertama;
3. Melakukan tindakan khusus tingkat sederhana oleh Dokter umum;
4. Melakukan tindakan khusus tingkat sedang oleh Dokter umum;
5. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sederahana;
6. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sedang;
7. Melakukan tindakan darurat medik/pertolongan pertama pada
kecelakaan (P3K) tingkat sederhana;

34
8. Melakukan kunjungan (visite) kepada pasien rawat inap;
9. Melakukan Pemulihan mental tingkat sederhana;
10. Melakukan Pemulihan mental kompleks tingkat I;
11. Melakukan Pemulihan fisik tingkat sederhana;
12. Melakukan Pemulihan fisik kompleks tingkat I;
13. Melakukan pemeliharaan kesehatan ibu;
14. Melakukan pemeliharaan kesehatan bayi dan balita;
15. Melakukan Pemeliharaan kesehatan anak;
16. Melakukan pelayanan keluarga berencana;
17. Melakukan pelayanan imunisasi;
18. Melakukan pelayanan gizi
Selain dari tugas diatas, peserta diklat juga mempunyai tugas
khusus di puskesmas, diantaranya,
1. Pelaksana pelayanan Balai pengobatan umum
2. Membantu pelaksanaan managemen puskesmas
3. Pelaksana rawat bersalin/ visite
4. Pelaksana pemeriksaan kesehatan haji
5. Melaksanakan tugas sebagai manager pelayanan
6. Ketua tim Audit Internal
7. Ketua tim PKP Puskesmas Ngesrep
8. Posyandu, pusling dan P3K
9. Pelaksana kegiatan supervisi BIAS
10. Koordinator tim siaga bencana
11. Melaksanakan tugas tambahan dari kepala puskesmas

C. Role Model

Nila Moeloek menyelesaikan pendidikan


sarjananya di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Kemudian ia
melanjutkan pendidikan spesialis mata,
serta mengikuti program sub-spesialis di
International Fellowship di Orbita Centre,
University of Amsterdam, Belanda dan di

35
Kobe University, Jepang. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan
konsultan Onkologi Mata dan Program Doktor Pasca-Sarjana di FKUI.
Selain menjadi dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Kirana, ia juga menjadi ketua umum Dharma Wanita Persatuan Pusat
(2004-2009), Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (Perdami), dan
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) periode 2011-2016.
Sebagai seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Menkes Nila F. Moeloek telah menulis lebih dari 250 karya
dalam bentuk tulisan maupun buku. Tidak hanya itu, beliau juga aktif
memimpin sejumlah organisasi di Indonesia, seperti Ketua Umum
Dharma Wanita Persatuan, Ketua Dokter Spesialis Mata Indonesia dan
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia.
Nila F. Moeloek tidak asing di dunia kesehatan terutama sejak
ditunjuk sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk MDG’s semasa
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II. Di bawah kepemimpinannya, Nila Moeloek
menggagas, membangun dan melaksanakan Pencerah Nusantara,
sebuah gerakan inovasi sosial bidang kesehatan khususnya pada
Puskesmas, Indonesia MDG Awards pada tahun 2011 – 2014, dan peta
kemitraan untuk pembangunan yang memuat data kemitraan lintas
sektor dan multi aktor untuk mencapai MDGs.
Saat ini beliau juga menjabat sebagai board member The
Partnership for Maternal Child and Neonatal Health, sebuah lembaga
yang melaksanakan inisiatif strategis Sekjen PBB untuk Kesehatan Ibu
dan Anak, serta advisory board member dari EAT Forum, sebuah
inisiatif global berfokus pada isu pangan, kesehatan dan sustainability.
Sikap Keteladanan beliau sebagai Pemimpin yang memberi
contoh adanya komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan
sehingga memberikan efek positif bagi pihak lain untuk berkomitmen
pula, terhindar dari aspek yang dapat menggagalkan kinerja. Dengan
kedisiplinan, tanggung jawab dan transparansi dalam setiap kinerjanya
sehingga beliau dijadikan sebagai Role Model.

36
37
BAB IV

RENCANA KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan


Nilai dasar ANEKA
Rencana kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di Puskesmas
Ngesrep sesuai dengan pedoman Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara
yaitu ANEKA dan berprinsip pada Manajemen ASN, Pelayanan Publik
dan Whole of Government (WoG). Rancangan kegiatan aktualisasi
dan habituasi dibuat berdasarkan identifikasi isu APKL (Aktual,
Problematik, Kekhalayakan,Kelayakan) dan dengan mengukur
urgensinya (Urgency), tingkat keseriusan masalah (Seriously) dan
perkembangan isu tersebut jika tidak dipecahkan (Growth), atau yang
dikenal dengan analisis USG. Sumber kegiatan berasal dari Sasaran
Kinerja Pegawai (SKP) dan Tupoksi,surat tugas pimpinan dan inovasi.
Dari isu yang telah terpilih melalui analisa APKL dan USG, maka isu
tersebut akan di breakdown menjadi kegiatan-kegiatan yang
bersumber dari Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan Tupoksi, Perintah
Pimpinan maupun Inovasi yang diciptakan untuk mendukung
pekerjaan yang dilaksanakan guna mendapat hasil yang maksimal.

38
Unit kerja : UPTD Puskesmas Ngesrep Kota Semarang
Identifikasi Isu :
a. Kurang optimalnya informasi pencegahan stunting kepada masyarakat di lingkungan Puskesmas Ngesrep Kota
Semarang.
b. Kurang optimal layanan pasien disabilitas di Puskemas Ngesrep Kota Semarang.
c. Belum sesuainya kepesertaan pasien BPJS di fasilitas kesehatan tingkat pertama
d. Kurang optimalnya sasaran masyarakat dalam kegiatan Posbindu di Puskemas Ngesrep Kota Semarang
e. Kurang optimalnya kerjasama antar lintas sektor dalam menurunkan angka kehamilan tidak diharapkan di Kota
Semarang
Isu yang diangkat : Kurang optimalnya informasi pencegahan stunting kepada masyarakat di lingkungan
Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.
Gagasan Pemecahan isu : Optimalisasi Pemberian Informasi pencegahan stunting kepada masyarakat di lingkungan
Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.

43
Tabel 4. 1 Rancangan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan ANEKA

No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

1 Membuat brosur 1. Menentukan tema terbentuknya tema Akuntabilitas terdapat pada Membuat brosur Membuat brosur
mengenai dan membuat dan desain kejelasan isi brosur tentang pencegahan mengenai
pencegahan desain sederhana sederhana untuk Komitmen Mutu terdapat inovasi saat stunting sesuai visi pencegahan
stunting brosur mendesain brosur puskesmas sesuai stunting dengan
visi Terwujudnya jelas akan
Anti Korupsi terdapat saat pelayanan kesehatan menguatkan nilai
pembuatan brosur ini secara berkualitas menuju edukatif
(sumber: inovasi) sederhana dan tanggung jawab masyarakat
Kecamatan
2. Konsultasi dengan saran dan masukan Etika Publik : tercermin dari
Banyumanik sehat
atasan serta persetujuan komunikasi dengan santun kepada
dan mandiri
dari atasan atasan dalam penyampaian desain
brosur , dan mewujudkan
nasionalisme: komunikasi dengan misi ketiga, yaitu
atasan mengunakan bahasa indonesia mendukung
yang baik dan benar kemajuan
masyarakat untuk
3. Mencari tempat Mendapatkan Nasionalisme terdapat saat bekerja
hidup sehat
percetakan brosur percetakan brosur sama dengan percetakan
Etika Publik terdapat pada pemilihan
kata yang santun kepada percetakan
yang telah di tentukan

4. Mencetak brosur Tersedia brosur yang Komitmen mutu Terdapat pada


yang inovatif inovatif yang dapat terbentuknya brosur yang inovatif
menambah
pengetahuan pasien

44
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

2 Penyuluhan 1. Menentukan draft Terbentuknya draft Akuntabilitas: tercermin dari terciptanya Melakukan Penyuluhan
tentang penyuluhan penyuluhan draft penyuluhan sebagai tanggung jawab penyuluhan informasi informasi
pencegahan dalam aktualisasi akan meningkatkan pencegahan
stunting kepada anti korupsi : terbentuknya materi angka kesehatan sunting dengan
masyarakat di penyuluhan yang sederhana dan mudah masyarakat, sesuai tepat dan sopan
puskesmas di pahami serta jujur sesuai data dan visi Terwujudnya santun, akan
ngesrep ilmu yang ada pelayanan kesehatan menguatkan nilai
berkualitas menuju edukatif dan
(sumber: SKP) komitmen mutu: Terbentuknya materi masyarakat ramah
peryuluhan yang efektif dan inovatif Kecamatan
Banyumanik sehat
2. Konsultasi dengan Saran dan masukan Etika Publik :tercermin dari komunikasi dan mandiri
atasan. serta persetujuan dengan santun kepada atasan dalam
atasan penyampaian draft penyuluhan misi keempat, yaitu
nasionalisme: komunikasi dengan meningkatkan
atasan mengunakan bahasa indonesia kualitas hidup
yang baik dan benar sumber daya
manusia
3. Berkoordinasi Terbentuknya Nasionalisme: kerja sama dengan
dengan petugas kerjasama dengan teman kerja
gizi, bidan, kepala petugas gizi dan Etika Publik: Tercermin dari komunikasi
TU bidan yang santun kepada teman kerja
(petugas gizi, bidan, kepala TU)

45
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

4. melakukan Terlaksananya Etika Publik : terdapat pada


penyuluhan kegiatan penyuluhan penyampaian informasi dengan santun
kepada (Foto foto kegiatan) pada saat penyuluhan
masyarakat Nasionalisme: tercermin dari peserta
pencegahan penyuluhan yang berasal dari berbagai
stunting kalangan tanpa membeda-bedakan
Komitmen Mutu: terdapat saat
penyampian penyuluhan yang dilakukan
secara efektif dan efisien
Anti Korupsi: terdapat dari kegiatan
penyuluhan yang dilakukan secara
sederhana

5. Evaluasi Masyarakat Akuntabilitas: Tercerminnya adanya


bertambah evaluasi kegiatan dengan melakukan
pengetahuan tentang umban balik, tanya jawab tentang materi
stunting dan penyuluhan sehingga kita tahu jika
penyegahannya peserta penyuluhan tahu tentang
stunting.
3. Edukasi tentang 1. Menyiapkan draft Terbentuknya draft Akuntabilitas: tercermin dari Melakukan edukasi edukasi tentang
pentingnya ASI materi edukasi edukasi terciptanya draft edukasi sebagai tentang pentingnya pentingnya ASI
Ekslusif untuk tanggung jawab dalam aktualisasi ASI Ekslusif untuk Ekslusif untuk
mencegah anti korupsi : terbentuknya materi mencegah stunting mencegah
stunting kepada edukasi yang sederhana dan mudah di dapat mewujudkan stunting dengan
ibu post pahami serta jujur sesuai data dan ilmu visi Melakukan tepat dan sopan
melahirkan di yang ada penyuluhan informasi santun, akan
Ruang bersalin akan meningkatkan
PKM ngesrep komitmen mutu : Terbentuknya materi angka kesehatan
draft yang efektif dan efisien masyarakat, sesuai

46
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

(Sumber :SKP) 2. Konsultasi dengan Saran dan masukan Etika Publik : tercermin dari komunikasi visi Terwujudnya menguatkan nilai
kepala puskesmas serta persetujuan dengan santun kepada atasan dalam pelayanan kesehatan edukatif dan
atasan penyampaian draft edukasi berkualitas menuju ramah
nasionalisme: komunikasi dengan masyarakat
atasan mengunakan bahasa indonesia Kecamatan
yang baik dan benar Banyumanik sehat
dan mandiri

3. Koordinasi dengan Saran dan masukan Nasionalisme: kerja sama dengan dan misi keempat,
bidan jaga RB dari bidan jaga RB teman kerja yaitu meningkatkan
Etika Publik: Tercermin dari komunikasi kualitas hidup
yang santun kepada teman kerja (bidan) sumber daya
4. Melakukan edukasi Pelaksanaan edukasi Etika Publik : terdapat pada manusia
di RB (foto) penyampaian informasi dengan santun
pada saat memberikan edukasi
Nasionalisme: tercermin dari pasien
pemerima edukasi yang berasal dari
berbagai kalangan tanpa membeda-
bedakan
Komitmen Mutu : terdapat saat
penyampaian edukasi yang dilakukan
secara efektif dan efisien
Anti Korupsi : terdapat dari kegiatan
penyuluhan yang dilakukan secara
sederhana saat melakukan penyuluhan

47
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

5. evaluasi Ibu penerima Akuntabilitas: Tercerminnya adanya


edukasi bertambah evaluasi kegiatan dengan melakukan
pengetahuan tentang umban balik, tanya jawab tentang materi
pentingnya ASI edukasi sehingga kita tahu jika peserta
eksklusif untuk edukasi tahu pentingnya ASI eksklusif
mencegah stunting untuk mencegah stunting

4. Membuat stiker 1. Menentukan tema Mendapatkan desain 1. Akuntabilitas : terdapat pada Membuat stiker Membuat stiker
mengenai dan membuat stiker kejelasan isi stiker mengenai mengenai
pencegahan desain sederhana Komitmen Mutu : terdapat inovasi pencegahan stunting pencegahan
stunting saat mendesain stiker sesuai visi stunting dengan
Terwujudnya jelas akan
(Sumber : Anti Korupsi : terdapat saat pelayanan kesehatan menguatkan nilai
inovasi) pembuatan stiker ini secara berkualitas menuju edukatif
sederhana dan tanggung jawab masyarakat
Kecamatan
Banyumanik sehat
2. Konsultasi dengan Saran dan masukan Etika Publik : tercermin dari
dan mandiri
atasan dan persetujuan komunikasi dengan santun kepada
Atasan atasan dalam penyampaian desain dan misi pertama,
stikeR yaitu meningkatkan
nasionalisme: komunikasi dengan mutu pelayanan
atasan mengunakan bahasa indonesia kesehatan yang
yang baik dan benar berkualitas
3. Mencari tempat Mendapatkan Nasionalisme terdapat saat bekerja
percetakan stiker percetakan striker sama dengan percetakan
Etika Publik terdapat pada pemilihan
kata yang santun kepada percetakan
yang telah di tentukan

48
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

4. Tercetaknya stiker Tercetaknya stiker Komitmen mutu: terbentuknya stiker


yang inovatif inovatif yang dapat yang inovatif
menambah
pengetahuan pasien

5. Pemeriksaan dan 1. Melakukan Terperiksanya bayi Akuntabilitas tanggung jawab Pemberian zinc Membuat brosur
Pemberian Zinc pemeriksaan bayi dan balita Melakukan pemeriksaan bayi dan untuk pencegahan mengenai
kepada bayi dan dan balita balita stunting sesuai visi pencegahan
balita untuk Etika publik: komunikasi yang sopan Terwujudnya stunting dengan
mencegah dan santun pelayanan kesehatan jelas akan
stunting nasionalisme: tidak membeda berkualitas menuju menguatkan nilai
bedakan pasien sila v masyarakat profesional
(sumber: SKP) Komitmen mutu: pelayanan sepenuh Kecamatan
hati Banyumanik sehat
dan mandiri
2. Mencatat Hasil Tercatatnya hasil Anti korupsi pencatatan jujur sesuai
pemeriksaan dan pemeriksaan yang di hasilkan dan misi pertama,
pemeriksaan
antropometri yaitu meningkatkan
kesehatan dan
mutu pelayanan
antropometri
kesehatan yang
3. Mengidentifikasi Teridentifikasi bayi Nasionalisme tidak membeda bedakan berkualitas
bayi dan balita dan balita yang pasien (sila V)
yang membutuhkan zinc
membutuhkan
zinc

4. Pemberian zinc Diterimanya zinc Nasionalisme tidak membeda


pada bayi dan balita bedakan pasien (sila V)
Pelaksanaan
kegiatan (foto

49
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Dengan Materi Konstribusi Penguatan Nilai-
Kegiatan terhadap Visi Misi Nilai Organisasi
ANEKA Organisasi

1 2 3 4 5 6 7

6. Membuat media 1.Melakukan survei Mendapatkan lokasi Anti Korupsi terlihat dari lokasi Membuat media Membuat media
informasi lokasi yang tepat pemasangan media pemasangan banner yang strategis mengenai mengenai
pencegahan untuk pemasangan sesuai dengan sehingga siapa saja dapat melihat pencegahan stinting pencegahan
stunting berupa media kondisi lapangan infomasi yang ada di banner (adil) berupa banner akan stunting berupa
banner panjang Mendapatkan desain Akuntabilitas Tanggung jawab menambah banner yang
banner pengetahuan pasien sederhana dan
sesuai visi inovatif, akan
(Sumber : Terwujudnya menguatkan nilai
inovasi) 2.Konsultasi dengan Saran dan masukan Komitmen Mutu terdapat dari desain pelayanan kesehatan edukatif
atasan serta persetujuan banner yang inovatif berkualitas menuju
atasan Anti Korupsi tercermin dari desain masyarakat
banner yang sederhana Kecamatan
Banyumanik sehat
3.Menentukan tema Terciptainya desain Komitmen mutu
dan mandiri
dan membuat banner pencegahan Terdapat pada terbentuknya desain
desain sederhana stunting banner yang inovatif misi ketiga yaitu
mendorong
kemandirian
4.Mencetak banner tersedia banner yang Etika Publik terdapat dalam banner
masyarakat untuk
yang inovatif inovatif yang dapat yang mencatumkan informasi secara
hidup sehat
menambah santun dan berdaya guna
pengetahuan

50
B. Jadwal Rancangan Aktualisasi

Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di Puskesmas Ngesrep pada tanggal 29 juli 2019 sampai dengan 1
september 2019. Kegiatan-kegiatan aktualisasi akan di jabarkan dalam timeline kegiatan pada:

Tabel 4.2 Jadwal Rancangan Aktualisasi


Bulan
Tanggal
No. Kegiatan Portofolio
Juli Agustus Sep
29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1

1. Membuat brosur V V V V V V a. Dokumentasi berupa


mengenai

51
Bulan
Tanggal
No. Kegiatan Portofolio
Juli Agustus Sep
29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1

pencegahan stunting foto / video

b. Dokumen brosur
2. Penyuluhan tentang a. Dokumentasi berupa
pencegahan stunting foto / video.
kepada masyarakat di V V V b. Print out powerpoint
puskesmas ngesrep

3. Edukasi tentang Dokumentasi berupa foto /


pentingnya ASI video.
Ekslusif untuk
mencegah stunting
V V V V V V V V
kepada ibu post
melahirkan di Ruang
bersalin PKM
ngesrep

4. Membuat stiker 1. Dokumentasi


mengenai V V V V berupa foto / video
pencegahan stunting 2. Foto stiker

52
Bulan
Tanggal
No. Kegiatan Portofolio
Juli Agustus Sep
29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1

5. Pemeriksaan dan Dokumentasi berupa


Pemberian Zinc foto / video
kepada bayi dan
balita untuk V V V V
mencegah stunting

6. Membuat media v v v 1. Dokumentasi


informasi pencegahan berupa foto / video
stunting berupa 2. Foto banner yang
banner panjang dibuat

53
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Aktualisasi nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) yang
telah diaplikasikan pada institusi tempat kerja banyak memberikan
kontribusi baik demi perubahan kearah yang lebih baik. Penyusun akan
terus berusaha untuk tetap mengaplikasikan nilai-nilai dasar Aparatur
Sipil Negara (ASN) yang terdiri dari Manajemen Aparatur Sipil Negara
(ASN), Whole of Government (WoG), dan Pelayanan Publik, sebagai
dasar dari segala kegiatan belajar mengajar maupun berorganisasi,
meskipun dalam pelaksanaanya mungkin akan menghadapi beberapa
kendala. Analisis potensi kendala terkait pelaksanaan kegiatan secara
sebagai berikut:

Tabel 4. 3 Antisipasi Kendala

Antisipasi mengatasi
No. Kegiatan Asumsi kendala
kendala
1. Membuat brosur 1. Pencetakan brosur di luar 1. Merancang dan
mengenai pencegahan waktu yang ditentukan memesan pencetakan
stunting 2. Percetakan melakukan brosur jauh hari
kesalahan cetak brosur 2. Memantau dan
memastikan desain
yang dicetak sesuai
2. Penyuluhan tentang 1. Masyarakat kurang jelas 1. Mengunakan bahasa
pencegahan stunting dengan penjelasan yang mudah di pahami
kepada masyarakat di penyuluhan oleh masyarakat dan
puskesmas ngesrep 2. Kurang tersedianya Menggunakan ilustrasi
sarana dan prasarana gambar saat
untuk kelangsungan penyuluhan
penyuluhan 2. Mengkoordinasikan
selalu oleh kepala TU
dan staff TU dalam
sarana prasarana yang
di butuhkan

3. Edukasi tentang Percetakan melakukan Mengunakan bahasa yang


pentingnya ASI Ekslusif kesalahan cetak stiker mudah di pahami oleh
untuk mencegah Ibu post melahirkan kurang masyarakat
stunting kepada ibu faham dengan penjelasan
post melahirkan di edukasi pentingnya ASI
Ruang bersalin PKM Ekslusif untuk mencegah
ngesrep
stunting
4. Membuat stiker 1. Pencetakan brosur di luar 1. Merancang dan
mengenai pencegahan waktu yang ditentukan memesan pencetakan
stunting 2. Percetakan melakukan stiker jauh hari
kesalahan cetak brosur 2. Memantau dan
memastikan desain

54
Antisipasi mengatasi
No. Kegiatan Asumsi kendala
kendala
yang dicetak sesuai

5. Pemeriksaan dan Kurang tersedianya zinc di Melakukan persiapan


Pemberian Zinc kepada apotik puskesmas ketersediaan zinc di apotik
bayi dan balita untuk
mencegah stunting

6. Membuat media 1. Pencetakan banner di luar 1. Merancang dan


informasi pencegahan waktu yang ditentukan memesan pencetakan
stunting berupa banner 2. Percetakan melakukan banner jauh hari
panjang kesalahan dalam 2. Memantau dan
pembuatan banner memastikan desain
yang dicetak sesuai

55
BAB V

PENUTUP

Rancangan aktualisasi ini merupakan rancangan kegiatan


untuk menyelesaikan isu dengan identifikasi isu
1. Kurang optimalnya informasi pencegahan stunting kepada
masyarakat di lingkungan Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.
2. Kurang optimal layanan pasien disabilitas di Puskemas Ngesrep
Kota Semarang.
3. Belum sesuainya kepesertaan pasien BPJS di fasilitas kesehatan
tingkat pertama
4. Kurang optimalnya sasaran masyarakat dalam kegiatan Posbindu
di Puskemas Ngesrep Kota Semarang
5. Kurang optimalnya kerjasama antar lintas sektor dalam
menurunkan angka kehamilan tidak diharapkan di Kota Semarang
Melalui analisa APKL dan USG, Isu yang diangkat adalah
Kurang Optimalnya Pemberian Informasi Pencegahan Stunting
Kepada Masyarakat Di Puskesmas Ngesrep Kota Semarang.
Rancangan ini dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan di
Puskesmas Ngesrep dan penting dalam menginternalisasi nilai nilai
dasar PNS yaitu ANEKA ( Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika
Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi ) selama habituasi
sehingga dapat menghasilkan PNS yang berintegritas dan sesuai
ekspektasi masyarakat, dengan rencana kegiatan sebagai berikut:

1. Membuat brosur mengenai pencegahan stunting

2. Penyuluhan tentang pencegahan stunting kepada masyarakat di


puskesmas ngesrep

3. Edukasi tentang pentingnya ASI Ekslusif untuk mencegah stunting


kepada ibu post melahirkan di Ruang bersalin PKM ngesrep

4. Membuat stiker mengenai pencegahan stunting

5. Pemeriksaan dan Pemberian Zinc kepada bayi dan balita untuk


mencegah stunting

56
6. Membuat media informasi pencegahan stunting berupa banner
panjang

57
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur


Sipil Negara.

Undang undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang


kesehatan

Peraturan Kepala BKN No. 8 Tahun 2019 tentang Pedoman Tata Cara dan
Pelaksanaan Pengukuran Indeks Profesionalitas ASN.

Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 12


Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi


Pegawai Negeri Sipil. Modul Penyelenggaraan Perdana Pendidikan
dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III.
Jakarta; Lembaga Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil
Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil
Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Manajemen ASN. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

58
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Pelayanan Publik. Modul
Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Whole of Government. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai
Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara

59
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas Diri

1. Nama Lengkap Andrean Oktiveni

2. Jenis Kelamin Perempuan

3. Formasi Jabatan Dokter Ahli Pertama

4. NIP 19871005 201902 2 004

5. Tempat dan Kudus, 05 Oktober 1987


Tanggal Lahir
Jl. Perum korpri bulusan no 132A, Bulusan,
6. Alamat Rumah Tembalang, kota semarang

7. Nomor Hp 081225807011

Jl. Teuku Umar no 271, Ngesrep,


8. Alamat Kantor
Banyumanik, Kota Semarang

Nomor
9. (024) 7474113
Telepon/Fax
10. Alamat e-mail Veniandrean87@gmail.com

RIWAYAT PENDIDIKAN

60
1. SDCN 03 DEMAAN KUDUS (1992-1999)

2. SLTP N 1 KUDUS (1999-2002)

3. SLTA N 1 KUDUS (2002-2005)

4. UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG (2005-2011)

61

Anda mungkin juga menyukai