Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI

Nama : Tn. AE
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Status : Belum Menikah
Alamat : Manisreggo

II. ANAMNESIS

 Keluhan Utama
Mata kanan nyeri
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke IGD RSUD Gambiran dengan keluhan mata kanan terkena
las sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan awalnya dirasakan pasien ketika bekerja
lalu mata kanan terkena las saat tidak memakai APD (Alat pelindung diri).
ketika melihat di cermin terlihat serpihan dari las tersebut. Nyeri mulai
dirasakan pasien setelah terkena las tersebut namun belum mengganggu
kegiatan pasien, pasien hanya menyiram air dan mengusap mata dengan kain.
Keesokan harinya mata terasa lebih nyeri dan pasien membelikan obat tetes
mata alleterol (dexamethasone sulfate, neomicin sulfate) dipakai 3x1 dan super
tetra (tetraciclin) 2 kapsul, pasien tetap sering menyiram dengan air dan
mengusap kain ke mata kanan. Setelah 4 hari mata terasa sangat nyeri sehingga
membuat pasien tidak bisa tidur, ambang nyeri dirasa angka 9 dari 10, kualitas
nyeri pasien terasa seperti ditusuk-tusuk dan semakin lama semakin nyeri, mata
kanan pasien juga menjadi merah dan keluar sekret mukopurulen berwarna
hijau kekuningan kemudian semakin lama mata kanan pasien tidak bisa

1
melihat. Pasien tidak mengeluhkan panas badan, mual dan muntah juga
disangkal. Pasien belum pernah memakai kacamata, sebelum terkena las pasien
tidak pernah mengeluhkan pandangan kabur maupun penglihatan dobel.
 Riwayat Penyakit yang Lalu
 Keluhan serupa (-)
 Hipertensi (-)
 Diabetes Mellitus (-)
 Riwayat Penyakit dalam Keluarga
 Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti pasien
 Riwayat Pengobatan
Setelah terkena las pasien membelikan obat tetes mata alleterol
(dexamethasone sulfate, neomicin sulfate) dipakai 3x1 dan super tetra
(tetrasiclin) 2 kapsul sendiri di apotik, namun keluhan tidak berkurang
kemudian mata kanan menjadi merah dan kornea berwarna putih,

III. PEMERIKSAAN FISIK


 Status Generalis
Keadaan umum : tampak kesakitan
Kesadaran : kompos mentis
TTV : TD 130/70 mmHg,
N 68x/menit
RR 20x/menit
T=36,4 C
Kepala : dbn
Thoraks : Tidak dilakukan
Abdomen : Tidak dilakukan
Ekstremitas : Akral Merah, Hangat, CRT <2 detik, Oedem (-)

2
 Status Oftalmologikus
OD OS

Visus tanpa koreksi LP + 6/60


-
Visus koreksi -

Kedudukan bola mata Ortoforia Ortoforia

Pergerakan bola mata -

Silia Arah : keluar Arah : Keluar

Trichiasis (-) Trichiasis (-)

Palpebra Superior edema(+),hiperemis(+) edema (-), hiperemis (-)

Palpebra Inferior edema(+),hiperemis(+) edema (-), hiperemis (-)

Konjungtiva tarsus Hiperemis (+) Hiperemis (-)

Konjungtiva Bulbi Hiperemis (+) Hiperemis (-)

Mixed Injection (+)

Kornea Leukokoria Jernih


Edema (+) Edema (-)
Ulkus (+) Ulkus (-)
Laserasi (+) Laserasi (-)
Korpus aleinum (+) Diameter 3mm
Diameter 3mm
Sekret Mukopurulen

3
Bilik Mata Depan Sulit dievaluasi Sedang, Hifema (-),
Hipopion (-)

Iris Sulit dievaluasi Coklat

Pupil Sulit dievaluasi Bulat, refleks cahaya (+),


diameter 3 mm
Reflek cahaya

Diameter

Lensa Sulit dievaluasi Jernih

IV. DIAGNOSIS
OD Ulkus kornea ec trauma okuli

Kalau tumor dasar, konsistensi, hiperemi atau tida

DIAGNOSA BANDING

1. Iritis
2. Endoftalmitis
3. Panoftalmika
4. Glaukoma sekunder

V. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan sediaan kultur
 Foto polos orbita
 Fluorescin
 B-scan ultrasonography saat sudah mata tenang
VI. PENATALAKSANAAN
Farmakologi

4
 Cendo lyteers 1 tetes/jam (sodium klorida, kalium klorida, benzal kalium)
digunakan melumasi mata karena iritasi
 Vigamox 1 tetes/jam (Moxifloxacin) antibiotik quinolone digunakan untuk
terapi infeksi bakteri
 Cendo tropin 4x1 digunakan untuk mengurangi spasme pada iris,
melepaskan sinekia, dan menekan proses peradangan
 Injeksi Ceftriaxone 2x1 antibiotik sefalosporin untuk mencegah penyebaran
infeksi bakteri
 Glauseta (Azetazolamid) 3x1 diuresis digunakan untuk menurunkan sekresi
pada mata dan menurunkan tekanan intra okuli mata.

Kondisi pasien saat datang di IGD tanggal 14 Juli 2019

5
Kondisi pasien di ruang rawat inap tanggal 17 Juli 2019

6
Resume : Tn AE (33th) mengeluh mata kanan tidak bisa melihat 4 hari yang lalu.
Keluhan awalnya dirasakan saat pasien bekerja lalu mata kanan terkena las saat
pasien tidak memakai APD. Keluhan awalnya dirasakan pasien ketika bekerja lalu
mata kanan terkena las saat tidak memakai APD (Alat pelindung diri). ketika
melihat di cermin terlihat serpihan dari las tersebut. Nyeri mulai dirasakan pasien
setelah terkena las tersebut namun belum mengganggu kegiatan pasien, pasien
hanya menyiram air dan mengusap mata dengan kain. Keesokan harinya mata
terasa lebih nyeri dan pasien membelikan obat tetes mata alleterol (dexamethasone
sulfate, neomicin sulfate) dipakai 3x1 dan super tetra (tetraciclin) 2 kapsul, pasien
tetap sering menyiram dengan air dan mengusap kain ke mata kanan. Setelah 4 hari
mata terasa sangat nyeri sehingga membuat pasien tidak bisa tidur, ambang nyeri
dirasa angka 9 dari 10, kualitas nyeri pasien terasa seperti ditusuk-tusuk dan
semakin lama semakin nyeri, mata kanan pasien juga menjadi merah dan keluar
sekret mukopurulen berwarna hijau kekuningan kemudian semakin lama mata
kanan pasien tidak bisa melihat. Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa
sebelumnya. Dari pemeriksaan fisik didapatkan visus OD LP + OS 6/60. Pada

7
segmen anterior OD terdapat palpebra corpus aleinum gram las, edema dan
hiperemi, konjungtiva mixed injection, sekret mukopurulen, leukokoria dan
hipopion. Pemeriksaan penunjang diusulkan Foto polos orbita, B-scan
ultrasonography, fluorescin, dan kultur bakteri. Penatalaksanaan dengan terapi
medikamentosa Cendo lyteers 1 tetes/jam, Vigamox (Moxifloxacin) 1 tetes/jam,
Cendo tropin 4x1, Injeksi Ceftriaxone 2x1, Glauseta (Azetazolamid) 3x1.
Diagnosis pasien adalah OD Ulkus Kornea ec Trauma oculi dengan diagnosis
banding keratitis, uveitis, endoftalmitis, dan panoftalmika. Setelah dirawat inap
selama 4 di ruang rawat inap RSUD gambiran nyeri pada mata kanan pasien
banyak berkurang dengan ambang nyeri menjadi 3 dari 10, pada hari kamis 18 juli
2019 pasien dipulangkan dan melanjutkan terapi di rumah.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ULKUS KORNEA
2.1 Definisi
Ulkus kornea merupakan diskontinuitas atau hilangnya sebagian permukaan
kornea akibat kematian jaringan. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak
ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel
radang.
Ulkus bisa dalam keadaan steril (tidak terinfeksi mikroorganisme) ataupun
terinfeksi. Ulkus terbentuk oleh karena adanya infiltrat yaitu proses respon imun
yang menyebabkan akumulasi sel-sel atau cairan di bagian kornea.
2.2 Etiologi
1. Infeksi
a. Bakteri: Pseudomonas aeruginosa, Streptococcus pneumonia dan
spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Penyebab
ulkus kornea 38,85% disebabkan oleh bakteri.
b. Jamur: Candida, Fusarium, Aspergilus,Cephalosporium dan spesies
mikosis fungoides. Sekitar 40,65% ulkus korena disebabkan jamur.
c. Virus: virus herpes simplex dan herpes zooster
d. Acanthamoeba: sering terjadi pada pengguna lensa kontak. Infeksi
juga biasanya ditemukan pada individu yang terpapar air tercemar.
2. Non infeksi
a. Bahan kimia, baik asam atau basa
b. Radiasi atau suhu
c. Sindrom Sjorgen
d. Defisiensi vitamin A
e. Obat-obatan (kortikosteroid, idoxiuridine, anastesi topikal,
imunosupresan)
f. Kelainan membran basal, misalnya karena trauma
g. Neurotropik

9
3. Reaksi hipersensitivias
2.3 Patofisiologi
Kornea adalah jaringan yang avaskuler, hal ini menyebabkan pertahanan pada
waktu peradangan tak dapat segera datang seperti pada jaringan lain yang
mengandung banyak vaskularisasi. Dengan adanya defek atau trauma pada kornea,
maka badan kornea, wandering cells, dan sel-sel lain yang terdapat pada stroma
kornea segera bekerja sebagai makrofag, kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi di perikornea.
Proses selanjutnya adalah terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear, sel
plasma, leukosit polimorfonuklear, yang mengakibatkan timbulnya infiltrat yang
tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas tak jelas dan
permukaan tidak licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel, infiltrasi,
peradangan dan terjadilah ulkus kornea. Ulkus kornea dapat menyebar ke
permukaan atau masuk ke dalam stroma.
Jika terjadi peradangan yang hebat, tetapi belum ada perforasi ulkus, maka
toksin dari peradangan kornea dapat sampai ke iris dan badan siliar dengan melalui
membrana Descemet, endotel kornea dan akhirnya ke camera oculi anterior (COA).
Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbullah kekeruhan di cairan
COA disusul dengan terbentuknya hipopion (pus di dalam COA). Hipopion ini
steril, tidak mengandung kuman. Karena kornea pada ulkus menipis, tekanan intra
okuler dapat menonjol ke luar dan disebut keratektasi. Bila peradangan terus
mendalam, tetapi tidak mengenai membrana Descemet dapat timbul tonjolan pada
membrana tersebut yang disebut Descemetocele atau mata lalat. Bila peradangan
hanya di permukaan saja, dengan pengobatan yang baik dapat sembuh dengan tidak
meninggalakan sikatrik.
Pada peradangan yang dalam penyembuhan berakhir dengan terbentuknya
sikatrik, yang dapat berbentuk nebula yaitu bercak seperti awan yang hanya dapat
dilihat di kamar gelap dengan cahaya buatan, makula yaitu bercak putih yang
tampak jelas di kamar terang, dan leukoma yaitu bercak putih seperti porselen yang
tampak dari jarak jauh. Bila ulkus lebih dalam lagi bisa mengakibatkan terjadinya
perforasi. Adanya perforasi membahayakan mata oleh karena timbul hubungan

10
langsung dari bagian dalam mata dengan dunia luar sehingga kuman dapat masuk
ke dalam mata dan menyebabkan timbulnya endoftalmitis, panoftalmitis dan
berakhir dengan ptisis bulbi. Dengan terjadinya perforasi cairan COA dapat
mengalir ke luar dan iris mengikuti gerakan ini ke depan sehingga iris melekat pada
luka kornea yang perforasi dan disebut sinekia anterior atau iris dapat menonjol ke
luar melalui lubang perforasi tersebut dan disebut iris prolaps yang menyumbat
fistel.
2.4 Klasifikasi
Berdasarkan lokasi, ulkus dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Ulkus kornea sentral
a. Ulkus kornea bakterialis
 Ulkus Streptokokus: Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke
arah tengah kornea (serpiginous). Ulkus berwarna kuning keabu-
abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung.
 Ulkus Stafilokokus: Pada awalnya berupa ulkus yang berwarna putih
kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek
epitel.
 Ulkus Pseudomonas: Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral
kornea yang dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea.
Gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran
yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus
ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapatterlihat hipopion
yang banyak. Secara histopatologi ditemukan sek neutrofil dominan
 Ulkus pneumokokus: terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral
yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu titik
sehingga memberikan gambaran yang disebut ulkus serpen. Ulkus
terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan.
Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung
dan di daerah ini terdapat banyak kuman.

11
 Ulkus Neisseria gonorrhoeae: Gonore dapat menyebabkan perforasi
kornea dan kerusakan yang berarti pada struktur mata yang lebih
dalam.
b. Ulkus kornea fungi
Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan
yang agak kering. Tepi berbatas tegas irreguler, feathery edge dan
terlihat penyebaran seperti bulu di bagian epitel yang baik. Terlihat
suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat
satelit-satelit disekitarnya.
c. Ulkus kornea virus
 Ulkus kornea Herpes Zoster biasanya diawali rasa sakit pada kulit
dengan perasaan lesu timbul 1-3 hari sebelum timbul gejala kulit.
Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edema palpebra, konjungtiva
hiperemis, kornea keruh akibat terdapat infiltrat subepitel dan
stroma. Dendrit berwarna abu-abu kotor
 Ulkus kornea Herpes Simplex: Biasanya gejala dini dimulai dengan
tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu daratan sel
di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit.
d. Ulkus kornea Acanthamoeba: awal dirasakan sakit yang tidak
sebanding dengan temuan klinik, kemerahan, dan fotofobia. Tanda khas
yaitu ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural.
2. Ulkus kornea perifer
a. Ulkus marginal
Dapat berbentuk bulat atau segiempat, dapat satu atau banyak, dan
terdapat daerah kornea yang sehat dengan limbus.
b. Ulkus mooren
Merupakan ulkus kronik yang biasanya dimulai dari bagian perifer
kornea, berjalan progresif ke arah sentral tanpa adanya kecenderungan
untuk perforasi ditandai tepi ulkus bergaung dengan bagian sentral
tanpa ada kelainan.
2.5 Manifestasi Klinis

12
Gejala klinis pada ulkus kornea meliputi:
Gejala subjektif:
a. Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva;
b. Sekret mukopurulen;
c. Merasa ada benda asing di mata;
d. Pandangan kabur;
e. Mata berair;
f. Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus;
g. Silau;
h. Nyeri
Gejala objektif:
a. Injeksi silier;
b. Hilangnya sebagian kornea dan adanya infiltrat;
c. Hipopion.
2.6 Diagnosis
Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisis, dan pemeriksaan penunjang. Keberhasilan penanganan ulkus kornea
tergantung pada ketepatan diagnosis, penyebab infeksi, dan besarnya kerusakan
yang terjadi. Adapun jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu
penegakan diagnosis adalah:
 Anamnesis
Dari riwayat anamnesis, didapatkan adanya gejala subjektif yang dikeluhkan
oleh pasien, dapat berupa mata nyeri, kemerahan, penglihatan kabur, silau jika
melihat cahaya, kelopak terasa berat. Yang juga harus digali ialah adanya
riwayat trauma, kemasukan benda asing, pemakaian lensa kontak, adanya
penyakit vaskulitis atau autoimun, dan penggunaan kortikosteroid jangka
panjang.

 Pemeriksaan fisik

13
- Visus
Didapatkan adanya penurunan visus pada mata yang mengalami infeksi oleh
karena adanya defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi cahaya yang
masuk ke dalam media refrakta.
- Slit lamp
Seringkali iris, pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena adanya kekeruhan pada
kornea.
Hiperemis didapatkan oleh karena adanya injeksi konjungtiva ataupun
perikornea.
 Pemeriksaan penunjang
- Tes fluoresein
Pada ulkus kornea, didapatkan hilangnya sebagian permukaan kornea. Untuk
melihat adanya daerah yang defek pada kornea (warna hijau menunjukkan
daerah yang defek pada kornea, sedangkan warna biru menunjukkan daerah
yang intak).
- Pewarnaan gram dan KOH
Untuk menentukan mikroorganisme penyebab ulkus oleh jamur.
- Kultur
Kadangkala dibutuhkan untuk mengisolasi organisme kausatif pada beberapa
kasus.
2.7 Tatalaksana
2.7.1 Non medikamentosa
 Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya;
 Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang;
 Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin
dan mengeringkan dengan handuk atau kain yang bersih;
 Menghindari asap rokok, karena asap rokok dapat memperpanjang
proses penyembuhan luka.

2.7.2 Medikamentosa

14
Penatalaksanaan ulkus kornea harus dilakukan dengan pemberian terapi
yang tepat dan cepat sesuai dengan kultur serta hasil uji sensitivitas
mikroorganisme penyebab. Antimikroba yang dapat diberikan berupa:
a. Antibiotik
Antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang
berspektrum luas. Dapat diberikan berupa salep, tetes atau injeksi
subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salep
mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan dapat
menimbulkan erosi kornea kembali.
Sulfonamide 10-30%, Basitrasin 500 unit, Tetrasiklin 10 mg,
Gentamisin 3 mg, Neomisin 3,5-5 mg, Tobramisin 3 mg, Eritromisin
0,5%, Kloramfenikol 10 mg, Ciprofloksasin 3 mg, Ofloksasin 3 mg,
Polimisin B 10.000 unit.
b. Anti jamur
Pemberian anti jamur diberikan berdasarkan jenis jamur sebagai
berikut:
 Jamur berfilamen: topikal amphotericin B, Thiomerosal, Natamicin,
Imidazol;
 Ragi (yeast): Amphotericin B, Natamicin, Imidazol, Micafungin
0,1% tetes mata
 Actinomyces yang bukan jamur sejati: gol Sulfa, berbagai jenis
antibiotik
c. Anti virus
Untuk herpes simpleks pengobatan bersifat simtomatik. Pemberian
streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, antibiotik spektrum
luas untuk infeksi sekunder, analgetik bila terdapat indikasi, serta
antiviral topikal berupa salep asiklovir 3% tiap 4 jam.
d. Anti acanthamoeba
Dapat diberikan poliheksametilen biguanid + propamidin isetionat atau
salep klorheksidin glukonat 0,02%.
Obat-obatan lain yang dapat diberikan yaitu:

15
a. Sulfas atropin salep atau larutan. Kebanyakan dipakai karena bekerja
lama 1-2 minggu. Efek kerja yaitu:
1. Sedatif, menghilangkan rasa sakit
2. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang
3. Paralisis M. Siliaris sehingga mata tidak mempunyai daya akomodsi
sehingga mata dalam keadaan istirahat; dan paralisis M. Konstriktor
pupil sehingga terjadi midriasis dan sinekia posterior yang ada dapat
terlepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru
b. Skopolamin sebagai midriatika.
c. Analgetik. Dapat diberikan tetes pantokain atau tetrakain, tetapi tidak
boleh sering
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa pemberian nerve growth
factor (NGF) secara topikal menginisiasi aksi penyembuhan luka pada ulkus
kornea yang disebabkan oleh trauma kimia, fisik, dan iatrogenik serta
kelainan autoimun atau tanpa efek samping.
2.7.3 Penatalaksanaan bedah:
a. Flap Konjungtiva
Indikasi jika terapi non medikamentosa atau medikamentosa gagal,
kerusakan epitel berulang dan stroma ulserasi. Dalam kondisi tertentu,
flap konjungtiva adalah pengobatan yang efektif dan definitif untuk
penyakit permukaan mata persisten.
Tujuan dari flap konjungtiva adalah mengembalikan integritas
permukaan kornea yang terganggu dan memberikan metabolisme serta
dukungan mekanik untuk penyembuhan kornea. Flap konjungtiva
bertindak sebagai patch biologis, memberikan pasokan nutrisi dan
imunologi oleh jaringan ikat vaskularnya.
b. Keratoplasti
Merupakan jalan terakhir jika penatalaksanaan di atas tidak berhasil.
Indikasi keratoplasti: dengan pengobatan tidak sembuh; terjadinya
jaringan parut yang mengganggu penglihatan; dan kedalaman ulkus
telah mengancam terjadinya perforasi.

16
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
 Kebutaan parsial atau komplit karena endoftalmitis
 Prolaps iris: muncul segera mengikuti perforasi
 Sikatrik kornea
 Katarak
 Glaukoma sekunder
2.9 Prognosis
Ulkus kornea dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut, yang
merupakan penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan. Kebanyakan
gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya
ditetapkan secara dini, maka pengobatan dapat diobati secara memadai.

17
PEMBAHASAN

Adanya corpus alienum pada mata ini merupakan sebuah kecurigaan adanya
suatu benda yang menembus mata sehingga memungkinan adanya penetrasi pada
kornea dan menimbulkan infeksi dan reaksi peradangan pada bagian mata tersebut
dan menimbulkan ulkus. Gejala diperberat setelah pasien memakai obat tetes yang
dibelinya di apotik. Pada kasus ini apabila setelah pemakaian tetes mata
memperberat gejala kemungkinan obat tetes mata ini mengandung steroid yang
menekan proses peradangan sehingga pertahanan tubuh terhadap infeksi ditekan
sehingga infeksi menjadi bertambah parah.

infiltrat putih keabu


abuan pada sentral

hipopion pada Coa

Mixed injection (injeksi silar


dan konjungtiva mata
hiperemis)

KASUS TEORI
Manifestasi klinis: Manifestasi klinis ulkus meliputi
gejala subjektif yaitu: Eritema
Palpebra edema dan hiperemi, ada
palpebra dan konjungtiva, Sekret
secret mukopurulen, nyeri dan rasa
mukopurulen, Rasa ada benda asing di
mengganjal, pandangan gelap,
mata, Pandangan kabur, Mata berair,
leukokoria, mixed injection, hipopion
Bintik putih pada kornea, silau atau
nyeri.
Serta gejala objektif: Injeksi silier,
Hilangnya sebagian kornea, Inflitrat
pada kornea, dan Hipopion.

18
Berdasarkan anamnesis, didapatkan Ulkus kornea disebabkan oleh infeksi,
riwayat trauma okuli dekstra terkena non infeksi, dan reaksi imun.
las. Dan riwayat pengobatan
Salah satu faktor non infeksi meliputi
menggunakan Alleterol dan
bahan kimia, radiasi, def. Vit A,
Tetrasiklin
trauma yang menyebabkan kerusakan
membran basal, steroid jangka
panjang, dan neurotropik.
Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan adalah tes fluoresein,
Oftalmoskopi direk
pewarnaan gram dan KOH, serta
Kultur bakteri kultur untuk menentukan
mikroorganisme penyebab
fluorescin
B-scan ultrasonography
Tatalaksana: Tatalaksana diberikan sesuai etiologi
ulkus kornea. Terapi meliputi non
MRS
medikamentosa, medikamentosa, dan
Cendo lyteers 1 tetes/jam terapi bedah

Vigamox (Moxifloxacin) 1 tetes/jam Medikamentosa: antibiotik, antijamur


(jika penyebab jamur), sulfas atropin,
Cendo tropin 4x1 skopolamin, analgetik
Injeksi Ceftriaxone 2x1 Bedah: flap konjungtiva, keratoplasti
Glauseta (Azetazolamid) 3x1

19
DAFTAR PUSTAKA

Ariana Austin, Tom L, Jennifer RN, 2017, Update on the Management of


Infectious Keratitis,American Academy of Ophtalmology, Elsevier

Esmaeil M Arbabi, Ross J Kelly & Zia I Carrim, 2018, Corneal ulcers in general
practice, British Journal of General Practice

Ilyas, Sidharta H, Yulianti, Sri R, 2018, Ilmu penyakit mata, Badan penerbit
Fakultas kedokteran FKUI : Jakarta, hl 167-174

Jesse Borke, 2018, Corneal ulcer and ulcerative keratitis in emergency medicine
clinical presentation, Medscape

Rajesh, SK, Patel DN, Sinha M, 2013, A clinical microbiological study of corneal
ulcer patients at western Gujarat India, Microbiological study of corneal
ulcer, hl 399

Yum, HR, Kim MS, Kim EC, 2013, Retrocorneal membrane after Descemet
endothelial keratoplasty, Cornea, hl 1288-90

20