Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN Sebelum era antibiotik angka insiden

laringitis tuberkulosis mencapai 83% dari


Laringitis adalah satu dari banyak
seluruh kasus tuberkulosis ekstrapulmonal.
kelainan pada laring. Laringitis adalah
Setelah perkembangan antibiotik, insiden
proses inflamasi yang terjadi pada laring
laringitis tuberkulosis menjadi kurang dari
yang dapat bersifat akut ataupun kronis,
1% dari seluruh kasus tuberkulosis
infeksi atau noninfeksi, proses inflamasi
ekstrapulmonal dengan laju mortalitas
setempat atau sistemik.1,2
kurang dari 2%. Laringitis tuberkulosis lebih
Laringitis ialah pembengkakan dari banyak terjadi pada pria daripada wanita dan
membran mukosa laring. Pembengkakan ini sebagian besar pada rentang usia 40-50
melibatkan pita suara yang memicu tahun. Namun dalam 20 tahun belakangan
terjadinya suara parau hingga hilangnya ini, insidensinya meningkat pada penduduk
suara. Laringitis akut biasanya terjadi yang berumur lebih dari 60 tahun, terutama
mendadak dan berlangsung dalam kurun pasien-pasien dengan keadaan ekonomi dan
waktu kurang dari 7 hari dan biasanya kesehatan buruk, banyak di antaranya adalah
muncul dengan gejala yang lebih dominan peminum alkohol.1
seperti gangguan pernafasan dan demam.
Temuan klinis dini dari laringitis
Laringitis kronik adalah proses inflamasi
tuberkulosis paling banyak pada bagian
pada mukosa pita suara dan laring yang
posterior laring terutama pada pasien yang
terjadi dalam jangka waktu lama. Laringitis
berbaring lama ditempat tidur dan pada
kronis biasanya terjadi bertahap dan telah
pasien yang sputumnya terkumpul di regio
bermanifestasi beberapa minggu.1,2
interaritenoid. Bagian yang paling sering
Salah satu bentuk laringitis kronis terinfeksi adalah pita suara ( 50-70% ) dan
spesifik adalah laringitis tuberkulosis. yang paling jarang adalah epiglotis.4,5
Laringitis tuberkulosis adalah proses
Laringitis tuberkulosis umumnya
inflamasi pada mukosa pita suara dan laring
merupakan sekunder dari lesi tuberkulosis
yang terjadi dalam jangka waktu lama yang
paru aktif, jarang merupakan infeksi primer
disebabkan oleh kuman Mycobacterium
dari inhalasi basil tuberkel secara langsung.
tuberculosa. 3
Secara umum, infeksi kuman ke laring dapat
terjadi melalui udara pernapasan, sputum

1
yang mengandung kuman, atau penyebaran Stadium ulserasi, stadium perikonritis dan
melalui darah atau limfe. 6,7 stadium fibrotuberkulosis.8

Sering kali setelah diberi pengobatan, Stadium infiltrasi yang pertama-tama


tuberculosis parunya sembuh tetapi laringitis mengalami pembengkakan dan hiperemis
tuberkulosanya menetap. Hal ini terjadi adalah mukosa laring bagian posterior.
karena struktur mukosa laring yang sangat Kadang-kadang pita suara terkena juga. Pada
lekat pada kartilago serta vaskularisasi yang stadium ini mukosa laring berwarna pucat.
tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah Kemudian di daerah submukosa terbentuk
mengenai kartilago, pengobatannya lebih tuberkel, sehingga mukosa tidak rata, tampak
lama.7 bintik-bintik yang berwarna kebiruan.
Tuberkel ini makin membesar, serta beberapa
Berdasarkan mekanisme terjadinya
tuberkel yang berdekatan bersatu, sehingga
laringitis tuberkulosis dikategorikan menjadi
mukosa di atasnya meregang. Pada suatu
2 mekanisme, yaitu laringitis Tuberkulosis
saat, karena sangat meregang, maka akan
Primer dan laringitis Tuberkulosis Sekunder.
pecah dan timbul ulkus.8,9
Laringitis tuberkulosis primer jarang
dilaporkan dalam literatur medis. Laringitis Pada Stadium ulserasi ulkus yang
tuberkulosis primer terjadi jika ditemukan timbul pada akhir stadium infiltrasi
infeksi Mycobacterium tuberculosa pada membesar. Ulkus ini dangkal, dasarnya
laring, tanpa disertai adanya keterlibatan ditutupi oleh perkijuan, serta sangat
paru. Rute penyebaran infeksi pada laringitis dirasakan nyeri oleh pasien.8
tuberkulosis primer yang saat ini diterima
Pada Stadium perikondritis ulkus
adalah invasi langsung dari basil tuberkel
makin dalam, sehingga mengenai kartilago
melalui inhalasi. Laringitis tuberculosis
laring, dan yang paling sering terkena ialah
sekunder terjadi jika ditemukan infeksi laring
kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan
akibat Mycobacterium tuberculosa yang
demikian terjadi kerusakan tulang rawan,
disertai adanya keterlibatan paru. Laringitis
sehingga terbentuk nanah yang berbau,
tuberculosis sekunder merupakan komplikasi
proses ini akan berlanjut dan terbentuk
dari lesi tuberculosis paru aktif.4,5,8
sekuester (squester). Pada stadium ini
Secara klinis, laringitis tuberkulosis keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat
terdiri dari 4 stadium, yaitu stadium infiltrasi, meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan

2
maka proses penyakit berlanjut dan masuk dengan tuberculosis paru dan adakalanya
dalam stadium terakhir yaitu stadium dengan tuberculosis laring. Pada laringoskopi
fibrotuberkulosis.8 ditemukan gambaran sesuai stadiumnya.
Pada stadium infiltrasi; mukosa laring
Terakhir stadium fibrotuberkulosis.
membengkak, hiperemis (bagian posterior),
pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis
dan pucat dapat terlihat tuberkel berupa
pada dinding posterior, piata suara dan
bintik-bintik kebiruan. Stadium ulserasi
subglotik.8
dapat terlihat ulkus dangkal, dasarnya
Gejala klinis yang timbul tergantung ditutupi perkijuan. Pada stadium
pada stadiumnya, disamping itu terdapat perikondritis ulkus makin dalam mengenai
gejala rasa kering, panas dan tertekan di kartilago laring, kartilago aritenoid, dan
daerah laring, suara parau berlangsung epiglotis. Terbentuk nanah yang berbau
berminggu-minggu, sedangkan pada stadium sampai terbentuk sekuester. Pada stadium
lanjut dapat timbul afoni, hemoptysis, nyeri akhir dapat terlihat fibrotuberkulosis pada
waktu menelan yang lebih hebat bila dinding posterior, pita suara, dan subglotik.
dibandingkan dengan nyeri karena radang 4,8

lainnya, merupakan tanda yang khas. Pada


Pengobatan pada dasarnya ditujukan
pemeriksaan paru (secara klinis dan
terhadap penyakit parunya. Obat-obat anti
radiologik) terdapat proses aktif (biasanya
tuberkulosis seperti isoniazid yang
pada stadium eksudatif atau pada
dikombinasikan dengan rifampisin atau
pembentukan kaverne).8
etambutol paling sering digunakan untuk
Foto Rontgen thoraks hampir selalu mencegah timbulnya kuman yang resisten.
memperlihatkan kelainan dan harus Kombinasi yang berisikan isoniazid paling
dilakukan sejak mula pada kasus yang bermanfaat dan obat ini biasanya digunakan
dicurigai untuk menghindarkan penularan dengan rifampisin atau etambutol untuk
9,10
yang tidak perlu pada petugas. terapi permulaan pada kebanyakan kasus

Laringoskopi langsung dan biopsi paru. Ketiga jenis obat digunakan pada

dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis penyakit yang sangat lanjut, pada saat

tuberculosis dan untuk menyingkirkan ada pembedahan atau bila terdapat kuman yang
tidaknya karsinoma atau penyakit lain. resisten. Pasien dengan penyakit laring

Karsinoma terjadi cukup sering berkaitan biasanya menderita penyakit paru lanjut,

3
sehingga perlu diberikan terapi ketiga obat 100/70 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit,
sekaligus. Dosis yang biasa diberikan ialah frekuensi nafas 20x/menit, suhu 36,1 C, berat
isoniazid 300-400 mg/hari, rifampisin 10 badan 35 kg, tinggi badan 157 cm, Body Mass
mg/kgBB/hari dan etambutol 15-25 Index 14,1 (kesan underweight). Pemeriksaan
mg/kgBB/hari. Obat-obat ini diberikan otoskopi auris dextra dan sinistra tampak
sekurang-kurangnya selama enam bulan.8,10 kanalis akustikus eksternus dalam batas
normal, membran timpani intak, reflek
Respon penyakit laring terhadap
cahaya positif. Pada pemeriksaan rhinoskopi
pengobatan biasanya cepat. Jika ada rasa
anterior dan posterior dalam batas normal.
nyeri, biasanya akan menghilang dalam
Pemeriksaan orofaring tampak adanya
beberapa hari dan ulkus akan sembuh dalam
granulasi pada dinding faring posterior.
beberapa minggu. Istirahat suara total harus
Pemeriksaan laringoskopi indirect tampak
dipertahankan selama fase aktif penyakit
adanya granulasi pada epiglottis dan ulserasi
laring.8
pada plika vokalis (mouse eaten
appearance).
LAPORAN KASUS
Pada Pemeriksaan Penunjang
Pasien, perempuan, 35 tahun datang
Endoskopi laring tampak adanya gambaran
ke Poliklinik THT RSUP dr.Sardjito dengan
Pseudoedema pada mukosa laring, granulasi
keluhan utama suara serak dirasakan 1 tahun
regio interarithenoid dan corniculata, edema
sebelum ke rumah sakit, yang makin lama
plika ariepiglotika dan ulcerasi pada plika
makin memberat sejak 6 bulan terakhir.
vocalis (mouse eaten appearance).
Keluhan disertai nyeri menelan. Riwayat
Pasien di konsulkan ke bagian UPD
batuk lama sejak 3 tahun lalu, berdahak putih
paru untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan
kekuningan, kental. Riwayat sesak napas
lebih lanjut. Dari UPD pasien diperiksakan
disangkal.
Sputum BTA dengan hasil positif, Rontgent
Pasien mengatakan adanya
Thorax Kesan TB Milier dan gene expert
penurunan berat badan sejak 3 tahun yang
dengan hasil MDT detected medium.
lalu. Riwayat keluarga dengan keluhan yang
Pada pasien ini didiagnosis dengan
sama disangkal.
TB Milier dari UPD (Paru) dan diberikan
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
terapi OAT 4FDC 1X2 tablet, curcuma 2x1,
keadaan umum pasien tampak sakit sedang,
dan B6 1x1. Pasien diedukasi untuk rutin
kesadaran komposmentis, tekanan darah

4
minum obat Parunya dan rutin kontrol tiap berminggu-minggu, sedangkan pada stadium
bulan ke penyakit dalam bagian Paru. lanjut dapat timbul afoni, hemoptysis, nyeri
Pasien di diagnosa dengan Laringitis waktu menelan yang lebih hebat bila
TBC, berdasarkan dari anamnesis, dibandingkan dengan nyeri karena radang
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya, merupakan tanda yang khas.8
penunjang.
Laringoskopi langsung dan biopsi
Masalah yang akan diangkat pada
dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis
pasien ini adalah Penegakkan diagnosis.
tuberculosis dan untuk menyingkirkan ada
tidaknya karsinoma atau penyakit lain.
DISKUSI Karsinoma terjadi cukup sering berkaitan
Laringitis tuberkulosis umumnya dengan tuberculosis paru dan adakalanya
merupakan sekunder dari lesi tuberkulosis dengan tuberculosis laring. Pada laringoskopi
paru aktif, jarang merupakan infeksi primer ditemukan gambaran sesuai stadiumnya.
dari inhalasi basil tuberkel secara langsung. Pada stadium infiltrasi; mukosa laring
Secara umum, infeksi kuman ke laring dapat membengkak, hiperemis (bagian posterior),
terjadi melalui udara pernapasan, sputum dan pucat dapat terlihat tuberkel berupa
yang mengandung kuman, atau penyebaran bintik-bintik kebiruan. Stadium ulserasi
1,2
melalui darah atau limfe. dapat terlihat ulkus dangkal, dasarnya

Penegakkan diagnosis pada laryngitis ditutupi perkijuan. Pada stadium

TB adalah berdasarkan riwayat penyakit dan perikondritis ulkus makin dalam mengenai

penemuan klinis yang merupakan indikasi kartilago laring, kartilago aritenoid, dan

untuk pemeriksaan sputum dengan epiglotis. Terbentuk nanah yang berbau

pewarnaan Ziehl Neelsen. Penemuan basil sampai terbentuk sekuester. Pada stadium

tahan asam pada dahak pasien, bilasan akhir dapat terlihat fibrotuberkulosis pada

lambung atau bahan biopsi. Diagnosis juga dinding posterior, pita suara, dan subglotik.
4,8
dapat ditegakkan dengan menemukan foto
toraks yang abnormal.9,10 Tuberkulosis laring harus dibedakan
Gejala klinis yang timbul tergantung dari kanker dan penyakit granulomatosis lain
pada stadiumnya, disamping itu terdapat yang mirip secara klinis. Diagnosis
gejala rasa kering, panas dan tertekan di tergantung dari ditemukannya basil tahan
daerah laring, suara parau berlangsung

5
asam pada dahak pasien, bilasan lambung hasil MDT detected medium. Kemudian dari
atau bahan biopsi. Diagnosis juga dapat bagian THT-KL RS Sardjito, pasien
ditegakkan dengan menemukan foto toraks dilakukan endoskopi laring dengan hasil
yang abnormal. Beberapa pasien mungkin Pseudoedeme pada mukosa laring, granulasi
mempunyai dahak sedikit sekali dan foto regio interarithenoid dan corniculata, edema
toraks cukup normal, dan pemeriksaan bahan plika ariepiglotika adanya ulkus pada
biopsi dengan pewarnaan khusus mungkin dasarnya ditutupi perkijuan mouse eaten
perlu untuk menemukan basil tuberkulosa. appearance, yang khas pada laringtis TB.
9,10
Berdasarkan mekanisme terjadinya
laringitis tuberkulosis dikategorikan menjadi
Pada kasus ini, pasien perempuan, 35
2 mekanisme, yaitu laringitis Tuberkulosis
tahun datang ke Poliklinik THT RSUP
Primer dan laringitis Tuberkulosis Sekunder.
dr.Sardjito dengan keluhan utama suara serak
Laringitis tuberkulosis primer jarang
dirasakan 1 tahun sebelum ke rumah sakit,
dilaporkan dalam literatur medis. Laringitis
yang makin lama makin memberat sejak 6
tuberkulosis primer terjadi jika ditemukan
bulan terakhir. Keluhan disertai nyeri
infeksi Mycobacterium tuberculosa pada
menelan. Riwayat batuk lama sejak 3 tahun
laring, tanpa disertai adanya keterlibatan
lalu, berdahak putih kekuningan, kental.
paru. Rute penyebaran infeksi pada laringitis
Pasien juga mengatakan adanya penurunan
tuberkulosis primer yang saat ini diterima
berat badan sejak 3 tahun yang lalu.
adalah invasi langsung dari basil tuberkel
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
melalui inhalasi. Laringitis tuberculosis
keadaan umum pasien tampak sakit sedang,
sekunder terjadi jika ditemukan infeksi laring
kesadaran komposmentis, tekanan darah
akibat Mycobacterium tuberculosa yang
100/70 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit,
disertai adanya keterlibatan paru. Laringitis
frekuensi nafas 20x/menit, suhu 36,1 C, berat
tuberculosis sekunder merupakan komplikasi
badan 35 kg, tinggi badan 157 cm, Body Mass
dari lesi tuberculosis paru aktif.4,5,8
Index 14,1.
Pasien ini di konsulkan untuk Laringitis tuberculosis sangat jarang
pemeriksaan lanjutan ke bagian UPD paru terjadi tanpa didahului lesi primer dari paru.
dan didapatkan hasil pemeriksaan Sputum Laringitis tuberculosis primer dapat terjadi
BTA dengan hasil positif, Rontgent Thorax bila terdapat faktor predisposisi seperti
Kesan TB Milier dan gene expert dengan

6
adanya infeksi Human Immonodeficiensy
Virus (HIV).5
DAFTAR PUSTAKA
Pada pasien ini datang dengan 1. Huaidong Du, Guoyu Cai, et al,
keluhan suara serak sejak 1 tahun yang lalu Secondary laryngeal tuberculosis in
dan didahului dengan riwayat batuk sejak 3 Tibet China : A report of six cases.
tahun yang lalu. Dari pemeriksaan Rontgent Otolaryngology Case Report.
Thoraks didapatkan hasil kesan TB Milier. Elsevier. 2017, h : 26-8
Pada pasien ini telah diperiksa hasil test HIV 2. Danielides V, Nousia CS, Patrikakos
rapid test dengan hasil negative. G, et al. Effect of meteorological
Berdasarkan data Anamnesis, parameters on acute laryngitis in
Pemeriksaan Fisik dan pemeriksaan adults. Acta Otolaryngol 2009; 122:
penunjang, dapat ditegakkan diagnosis 655–660.
Laringitis TBC sekunder stadium ulseratif, 3. Gupta SK, Postma GN, Koufman JA.
yang terjadi akibat adanya infeksi Paru Laryngitis. Dalam: Bailey BJ &
sebelumnya. Johnson JT, Newlands SD,
penyunting. Head & Neck Surgery-
KESIMPULAN Otolaryngology. Edisi ke-4.
Philadelpia: Lippincot Williams &
Pasien, perempuan, 35 tahun datang
Wilkins, 2014. h. 829-835.
ke Poliklinik THT RSUP dr.Sardjito dengan
4. Ballenger John. Penyakit
keluhan utama suara serak dirasakan 1 tahun
Granulomatosa Kronik Laring.
sebelum ke rumah sakit, yang makin lama
Dalam: Penyakit Telinga, Hidung,
makin memberat sejak 6 bulan terakhir.
Tenggorokan, Kepala dan Leher Jilid
Keluhan disertai nyeri menelan. Riwayat
1.Jakarta: Binarupa Aksara.2013
batuk lama sejak 3 tahun lalu, berdahak putih
5. Lim, JY., Kim KM., Choi EC., Kim
kekuningan, kental. Pasien didiagnosis
Yo, Kim HS., Choi HS. Current
dengan laryngitis TBC dan di terapi dengan
Clinical Propensity Of Laryngeal
OAT 4FDC 1x2 tablet, curcuma 2x1, dan B6
Tuberculosis : Review of 60 cases.
1x1. Pasien diedukasi untuk rutin minum
Eur Arch Otorhinolaryngology.2006.
obat Parunya dan rutin kontrol tiap bulan ke
6. Ayoubi El, et al. Primary
penyakit dalam bagian Paru.
Tuberculosis of the Larynx dalam

7
European Annals of
Otorhinolaryngology, Head and Neck
Surgery Disease. 2014 . h : 361-4
7. Verma et Maharjan. Laryngeal
tuberculosis co-existent with
Pulmonary tuberculosis (The Internet
Journal of Pulmonary Medicine. 2008
Volume 10 Number 1 ). 2008.
Available from :
www.ntuh.gov.tw/ENT/Laryngeal%
20tuberculosis%2020061025.
Accessed : March 13, 2012.
8. Hermani, Bambang, Hartono
Abdurrachman, Arie Cahyono.
Laringitis Tuberkulosis dari:
Soepardi et al. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung
Tengggorok Kepala dan Leher Edisi
Keenam. FKUI. Jakarta. 2014. h :
239-241.
9. Colman BH. Disease of the Nose
Throat Ear Head and Neck,
tuberculosis of the larynx. 2007
10. Becker W. Ear, Nose and Throat
Disease, Spesific Form of Chronic
Laryngitis.2005.