Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG NAPZA DI RUANG DETOXIFIKASI

RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM

Tanggal 7- 8 Juni 2017

Oleh:
Fajar Rizki Rahayu, S. Kep
NIM 1630913320019

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG NAPZA DI RUANG DETOXIFIKASI


RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM

Tanggal 7 – 8 Juni 2017

Oleh :
Fajar Rizki Rahayu, S. Kep
NIM 1630913320019

Banjarmasin, Juni 2017


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Dhian Ririn Lestari, S.Kep,Ns,M.Kep Muhammad Hamsanie, S.Kep,Ns


NIP. 19801215 200812 2 003 NIP. 19820113 200501 1 005
LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG NAPZA DI RUANG DETOXIFIKASI

1. Definisi
NAPZA adalah jenis zat/obat yang diperlukan dalam dunia pengobatan, akan tetapi
apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan yang seksama dapat
menimbulkan ketergantungan serta dapat membahayakan kesehatan bahkan jiwa
pemakainya. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif lainnya.
A. NARKOTIKA :
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi
sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1) Golongan I: Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi
sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Heroin, Kokain, Ganja.
2) Golongan II: Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan
terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Morfin, Petidin.
3) Golongan III: Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Codein.
B. PSIKOTROPIKA :
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan
perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1) Golongan I: Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2) Golongan II: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan
terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Amphetamine.
3) Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
4) Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan
dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam
( BK, DUM ).
C. ZAT ADIKTIF LAINNYA :
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif
diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol: mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan
susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari
dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau
Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada
3 golongan minuman beralkohol :
a) Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b) Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c) Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny
Walker ).
2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa
senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga,
kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem,
Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di
masyarakat. Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian
rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya
pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan
NAPZA lain yang berbahaya.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat
digolongkan menjadi 3 golongan :
1) Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi
aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan
bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda ( Morfin,
Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti
cemas ).
2) Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh
dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif,
segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3) Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek
halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan
daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh:
Kanabis ( ganja ).
Macam-macam NAPZA adalah
1) Opiada
terdapat 3 golonagan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan.
Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan
putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai
kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan
oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer.
Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri
untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri
hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya
sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
2) Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Nama jalanan : koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju.
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas
permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan
penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan
cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya
diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
3) Kanabis
Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang. Berasal dari tanaman
kanabis sativa atau kanabis indica. Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai
rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai
cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan ( euphoria ), sering berfantasi / menghayal,
aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
4) Amphetamine
Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz.
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Ada 2 jenis Amphetamine :
a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice
Nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar
dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong )
5) LSD ( Lysergic Acid)
Termasuk dalam golongan halusinogen. Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk : biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat
perangko dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan kapsul.
Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit
kemudian, menghilang setelah 8 – 12 jam.
Efek rasa : terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah
dan bahkan menyeramkan dan lama – lama menjadikan penggunaanya paranoid.
6) Sedatif – hipnotik ( benzodiazepin ):
Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan hipnotika ( obat tidur ).
Nama jalanan : Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.
Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang,
stress, serta sebagai obat tidur.
7) Solvent / inhalasi :
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek api
gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin.
Biasanya digunakan dengan cara coba – coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang
kurang mampu.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan
fungsi paru, jantung dan hati.
8) Alkohol :
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia
Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan
kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga
dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %.
Nama jalanan : booze, drink.
Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran

2. Manifestasi Klinis
Secara umum tanda dan gejala pengguna NAPZA adalah
1. Tanda dan gejala fisik
a) Kesehatan fisik menurun, nafsu makan menurun, badan kurus, lemah
b) Penampilan diri tidak rapi, malas, takut kena air
c) Suhu badan tidak teratur, sering pusing
d) Pernafasan lambat dan dangkal, tekanan darah menurun, kejang otot
e) Pupil mengecil, mata memerah, sering menguap, sering membawa obat tetes mata
f) Kesadaran makin lama makin menurun,warna muka kebiruan
g) Diare dan perut melilit
h) Sering mengunyah permen karet untuk menghilangkan bau mulut
2. Tanda dan gejala psikologik
a) Mudah tersinggung, emosi labil, agresif (berkelahi, mabuk, tawuran) sikap defensif
dan penuh kebencian
b) Mengunci diri di kamar (isolasi sosial)
c) Sikap tidak peduli, berbohong, tidak menepati janji dan manipulatif
d) Malas mengurus diri,
e) Meninggalkan teman lama & bergaul dengan teman baru
f) Tidak ragu untuk memukul atau bersikap kasar orang lain

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengguna NAPZA


Penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA terjadi karena dua faktor yang saling
mempengaruhi yaitu :
1) Faktor internal
a. Faktor Kepribadian
Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung terjadi
pada usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep diri yang
negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai
oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif,
agresif, dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi. Selain itu, kemampuan untuk
memecahkan masalah secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari
pemecahan masalah dengan cara melarikan diri.
b. Inteligensia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia pecandu yang dating untuk melakukan
konseling di klinik rehabilitasi pada umumnya berada pada taraf di bawah rata-rata dari
kelompok usianya.
c. Usia
Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasan remaja menggunakan narkoba karena
kondisi sosial, psikologis yang membutuhkan pengakuan, dan identitas dan kelabilan
emosi; sementara pada usia yang lebih tua, narkoba digunakan sebagai obat penenang.
d. Dorongan Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu
Narkoba dapat memberikan kenikmatan yang unik dan tersendiri. Mulanya merasa enak
yang diperoleh dari coba-coba dan ingin tahu atau ingin merasakan seperti yang diceritakan
oleh teman-teman sebayanya. Lama kelamaan akan menjadi satu kebutuhan yang utama.
e. Pemecahan Masalah
Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan narkoba untuk menyelesaikan
persoalan. Hal ini disebabkan karena pengaruh narkoba dapat menurunkan tingkat
kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang ada.

2) Faktor eksternal
a. Keluarga
Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab menjadi pengguna
narkoba. Terdapat beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota keluarganya terlibat
penyalahgunaan narkoba, yaitu:
 Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan narkoba.
 Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak
konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya ayah bilang ya, ibu bilang tidak).
 Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang
memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah
dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara.
 Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Dalam hal ini, peran orang tua sangat dominan,
dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua dengan alasan sopan
santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri tanpa diberi
kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya.
 Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai
kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.
 Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang
kuat, mudah cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.
b. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman
atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar berperilaku seperti
kelompok itu. Peer group terlibat lebih banyak dalam delinquent dan penggunaan obat-
obatan. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor sosial tersebut memiliki dampak yang berarti
kepada keasyikan seseorang dalam menggunakan obat-obatan, yang kemudian
mengakibatkan timbulnya ketergantungan fisik dan psikologis.
c. Faktor Kesempatan
Ketersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga dapat disebut sebagai pemicu
seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang sudah menjadi tujuan pasar narkoba
internasional, menyebabkan obat-obatan ini mudah diperoleh. Bahkan beberapa media
massa melaporkan bahwa para penjual narkotika menjual barang dagangannya di sekolah-
sekolah, termasuk di Sekolah Dasar. Pengalaman feel good saat mencoba drugs akan
semakin memperkuat keinginan untuk memanfaatkan kesempatan dan akhirnya menjadi
pecandu. Seseorang dapat menjadi pecandu karena disebabkan oleh beberapa faktor
sekaligus atau secara bersamaan. Karena ada juga faktor yang muncul secara beruntun
akibat dari satu factor tertentu.

4. Rentang Respons Koping Kimiawi

Respons Adaptif Respons Maladaptif

Penggunaan Ketergantungan
‘Mabuk sering dari pada tembakau
Penggunaan
alamiah’ jarang dari tembakau, & alkohol.
Tembakau, Alkohol, Obat penyalahgunaan
Aktivitas Fisik
Alkohol, Obat yang atau
Meditasi yang diresepkan diresepkan, ketergantungan
Penggunaan pada obat
Rentang Respons Gangguan Penggunaan Zat Adiktif

Respons Adaptif Respons Maladaptif

Eksperimental Rekreasional Situasional Penyalahgunaan Ketergantungan

1. Eksperimental
Pengguna taraf awal, yang disebabkan rasa ingin tahu dari remaja. klien biasanya ingin mencari
pengalaman yang baru atau coba-coba.
2. Rekreasional
Penggunaan waktu berkumpul dengan teman sebaya, misalnya pada waktu pertemuan malam
mingguan, acara ulang tahun. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama teman-
temannya.
3. Situasional
Mempunyai tujuan individual, merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali
penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi.
Misalnya individu menggunakan zat pada saat sedang mempunyai masalah, stres, dan frustasi.
4. Penyalahgunaan:
Penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, minimal
selama 1 bulan, sudah terjadi penyimpangan perilaku mengganggu fungsi dalam peran di
lingkungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
5. Ketergantungan
Penggunaan zat yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis.
Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus zat (suatu kondisi
dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin pada dosis tertentu
menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga menimbulkan
kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan). toleransi adalah suatu kondisi dari
individu yang mengalami peningkatan dosis (jumlah zat), untuk mencapai tujuan yang biasa
diinginkannya.

5. Tahapan atau Progress Pengguna


Ada beberapa pola pemakaian narkoba sebagai berikut:
a. Pola coba-coba, yaitu karena iseng atau ingin tahu pengaruh tekanan kelompok sebaya
sangat besar, yang menawarkan atau membujuk untuk memakai narkoba.
b. Pola pemakaian sosial, yaitu pemakaian narkoba untuk tujuan pergaulan (berkumpul dalam
suatu acara tertentu) agar diakui atau diterima suatu kelompok.
c. Pola pemakaian situasi, yaitu karena situasi tertentu, misalnya kesepian, stress ataupun
lainnya, disebut juga tahap instrumental, karena pengalaman pemakaian sebelumnya
disadar narkoba dapat menjadi alat untuk mempengaruhi atau memanipulasi emosi dan
suasana hati
d. Pola habituasi (kebiasaan), ketika telah memakai narkoba secara teratur atau sering terjadi
perubahan pada faal tubuh dan gaya tubuhnya.
e. Pola ketergantungan dengan gejala khas, yaitu timbulnya toleransi atau gejala putus obat,
selalu berusaha untuk mendapatkan narkoba dengan berbagai cara, berbohong, menipu,
mencuri.
Proses seseorang menjadi ketergantungan dapat digambarkan seperti orang yang menembus
tembok. Pada tahap pemakaian ia masih dapat menghentikannya. Jika telah terjadi
ketergantungan, ia sulit kembali ke pemakaian sosial, betapapun ia berusaha, kecuali
menghentikan sama sekali pemakaiannya (abstinensia).

6. Penanganan Masalah NAPZA


Upaya pencegahan meliputi 3 hal :
1) Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan
melakukan intervensi. Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang
mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan
intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA. Upaya pencegahan ini
dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh
kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2) Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3) Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.

7. Pengobatan/Perawatan Pasien Ketergantungan NAPZA


Detoksifikasi adalah langkah awal dari suatu proses penyembuhan pasien engan
ketergantungan napza; jadi setelah langkah awal ini, perlu dilakukan langkah solanjutnya
agar pasien dapat tetap terbebas dari penggunaan napza. Untuk fase awel ini masih dapat
dilakukan pemaksaan pada pasien, misalnya dengan diborgol dan pengawasan ketat atau
dilakukan dengan ultra rapid toxification. Tetapi untuk langkah selanjutnya perlu adanya
kerjasama yang baik dari pasien tersebut, keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Selanjutnya akan dibicarakan mengenai perawatan pasien setelah terapi detoksifikasi yaitu
habilitasi dan rehabilitasi.

HABILITASI
Perawatan ini ditujukan terutama untuk stabilisasi keadaan mental dan emosi pasien sehingga
gangguan jiwa yang sering mendasari ketergantungan napza dapat dihilangkan atau diatasi.
Keadaan ini merupakan langkah yang sangat panting, sebab usaha rehabilitasi dan resosialisasi
banyak tergantung dari berhasil atau tidaknya tahap ini.
Pada tahap ini kadang masih ditemukan juga keadaan yang kita sebut slip yang artinya episode
penggunaan kembali napza setelah berhenti menggunakan selama kurun waktu tertentu. Atau
dapat juga mereka terjatuh kembali menggunakan napza secara tidak terkontrol setelah berhenti
menggunakan napza selama kurun waktu tertentu yang dikenal dengan istilah relaps. Oleh sebab
itu pada tahap ini perlu dilakukan berbagai bentuk terapi atau kegiatan yang sesuai dengan
individu/ keadaan pasien tersebut. Jadi penanganan pada setiap pasien tidak bisa disamaratakan,
sangat personal. Pada tahap ini tidak jarang farmakoterapi masih diperlukan untuk mengobati
gangguan jiwa yang mendasari ketergantungan napzanya. Dalam hal ini yang biasa dipakai adalah
golongan antiancietas, anti-depresi atau anti-psikotik. Motivasi pasien untuk sembuh memang
merupakan kunci keberhasilan pada tahap ini. Pasien yang baik, dapat bekerjasama dengan
terapisnya tanpa pengaruh napza lagi. Sikap ini akan mempercepat tahap habilitasi, walaupun
memang perlu waktu untuk dapat bersikap seperti itu. Selain itu, efek pemakaian napza di otak
juga tidak dapat pulih dengan cepat karena berdasarkan penelitian, zat yang dipakai tersebut
berkaitan dengan neurotransmitter dalam otak. Untuk mernpercepat rehabilitasi ini, peran
lingkungan, terapis dan pendamping yang mendukung proses penyembuhan pasien sangat
diharapkan. Habilitasi dapat berupa berbagai bentuk terapi atau kegiatan yang dapat diberikan
kepada pasien sesuai dengan indikasi yang ada. Jadi tidak semua bentuk terapi dan kegiatan harus
diberikan kepada setiap pasien. Bentuk terapi/kegiatan tersebut antara lain :
 Latihan Jasmani : misalnya lari-lari pagi; karena menurut penelitian, dapat meningkatkan
kadar endorfin.
 Akupunktur : dapat meningkatkan kadar andorfin sehingga mengurangi keadaan depresi.
 Terapi Relaksasi : karena banyak pasien yang susah untuk relaks.
 Terapi Tingkah Laku : teknik terapi yang dikembangkan berdasarkan teori belajar. Hukuman
diberikan apabila pasien berperilaku yang tidak diinginkan (menggunakan napza) dan hadiah
diberikan bila pasien berperilaku yang diinginkan (tidakmenggunakan napza).
 Terapi Disulfiram (Antabuse) : merupakan terapi aversif pada ketergantungan alkohol; jadi
merupakan suatu bentuk terapi tingkah laku. Disulfiram menghambat metabalisme alkohol
dalam darah sehingga kadar asetaldehida dalam plasma meningkat. Jadi bila minum
Disulfiram, lalu kemudian meminum juga alknhol, maka akan timbul suatu perasaan yang
tidak enak misalnya mual, muntah, rasa penuh di kepala dan leher, nyeri kepala, muka merah,
wajah berkeringat, berdebar-debar, rasa napas pendek, rasa tak enak di dada, vertigo,
penglihatan kabur, dan kebingungan. Kontra indikasi pemberian disulfiram ialah penyakit
jantung. Dosis 250 mg setiap hari atau 509 mg tiga kali seminggu selama satu tahun.
Disulfiram sebaiknya diberikan bersama-lama dengan terapi lain seperti psikoterapi
individual atau kelompok, konseling individual atau mengikuti pertemuan alkohol anonimus.
Perlu pengawasan dari anggata kaluarga agar terjamin bahwa disulfiram tetap dimakan secara
teratur.
 Terapi antagonis opioida : misalnya neltrexon; kerjanya menghambat efek euforia dari opioida
sehingga pasien akan merasa percuma menggunakan opioida karena tidak mengalami euforia.
Di sini perlu sekali pengertian dari pasien, karena bila pasien tidak serius ingin berhenti
memakai opioida, maka bila dia menggunakan naltrexon, dan juga menggunakan opioida,
maka dapat terjadi overdosis opioida. Naltrexon diberikan sebanyak 50 mg perhari atau
disesuaikan dengan dosis pemakaian opioida; sebaiknya diberikan selama minimal 6-12
bulan.
Kontra indikasinya :
a. Pasien yang mendapat pengobatan dengan analgesik opioida.
b. Pasien yang kadang-kadang masih menggunakan opioida.
c. Pasien yang test urin untuk opioidanya masih positif.
d. Pasien dengan hepatitis akut atau fungsi hepar buruk.
 Methadone Maintenance Program : biasanya yang menjalani program ini adalah mereka yang
telah berkali-kali gagal mengikuti program terapi, habilitasi dan rehabilitasi lain. Untuk
menjalankan program ini diperlukan administrasi yang baik; untuk menghindari kemungkinan
adanya pasien yang mendapat jatah obat lebih. Jadi harus ada satu pusat catatan Medik
terpadu.Sebelum mengikuti program ini pasien harus diperiksa secara medis dahulu termasuk
pemeriksaan darah rutin, test fungsi hati, rontgen paru-paru dan EKG. Dosis methadon setiap
hari dimulai dari 30-40 mg, biasanya dosis maintenance sebesar 40-80 mg perhari. Jarang
melebihi 120 mg perhari. Setiap hari pasien harus datang ke pusat terapi dan minum jatah
methadon di hadapan petugas; biasanya diminum dengan segelas jus jeruk. Bagi mereka yang
sekolah atau bekerja dan konditenya baik dapat datang ke pusat terapi dua kali seminggu dan
membawa methadon pulang ke rumahnya (diberikan methadon yang berjangka waktu kerja
lama yaitu LAAM - L Alfa Aceto-Methadol). Sewaktu-waktu urin harus diperiksa untuk
memastikan bahwa methadon yang diperoleh dan dibawa pulang dipakai sendiri dan bukan
dijual.
 Psikoterapi individual : untuk mengatasi konflik intrapsikik dan gangguan mental yang
terdapat pada pasien, termasuk gangguan kepribadian.
 Konseling : dapat membantu pasien untuk rnengerti dan memecahkan masalah penyesuaian
dirinya dengan lingkungan.
 Terapi Keluarga : sangat diperlukan karena pada umumnya keluarga mempunyai andil dalam
terjadinya ketergantung napza pada pasien. Terapi ini juga mempersiapkan keluarga
beradaptasi dengan pasien setelah yang bersangkutan tidak menggunakan napza lagi.
 Psikoterapi Kelompok : banyak dilakukan dalam program habilitasi karena dirasakan banyak
manfaatnya. Pasien lebih dapat menerima kritik, konfrontasi, dan saran yang diberikan pasien
lain daripada terapis.
 Psikodrama : suatu drama yang dirancang berkisar pada suatu krisis kehidupan atau masalah
khusus. Drama ini dapat membantu pemainnya (pasien) mengenali masalah bagaimana ia
mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, terapi ini barmanfaat terutama
bagi orang yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal.

REHABILITASI
Dalam pengobatan ketergantungan napza perlu dilakukan hingga tingkat rehabilitasi. Alasannya,
selain menimbulkan gangguan fisik dan kesehatan jiwa, ketergantungan napza juga memberi
dampak sosial bagi pasien, lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya.
Rehabilitasi pada hakikatnya bertujuan agar penderita bisa melakukan perbuatan secara normal,
bisa melanjutkan pendidikan sesuai kemampuannya, bisa bekerja lagi sesuai dengan bakat dan
minatnya, dan yang terpemting bisa hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun
masyarakat sekitarnya. Satu hal lagi yang banyak diharapkan setelah mengikuti rehabilitasi, pasien
dapat menghayati agamanya secara baik. Itulah sebabnya banyak lembaga rehabilitasi yang
didirikan berdasarkan kepercayaan/agama. Terapi rehabilitasl ini meliputi beberapa hal :
 Rehabilitasi Sosial : meliputi segala usaha yang bertujuan memupuk, membimbing, dan
meningkatkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial bagi keluarga dan masyarakat.
 Rehabilitasi Edukasional : bertujuan untuk memelihara dan maningkatkan pengetahuan dan
mengusahakan agar pasien dapat mengikuti pendidikan lagi, jika mungkin memberi
bimbingan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan intelegensia dan
bakatnya.
 Rehabilitasi Vokasional : bertujuan menentukan kemampuan kerja pasien serta cara mengatasi
penghalang atau rintangan untuk penempatan dalam pekerjaan yang sesuai. Juga memberikan
keterampilan yang belum dimiliki pasien agar dapat bermanfaat bagi pasien untuk mencari
nafkah.
 Rehabilitasi Kehidupan Beragama : bertujuan membangkitkan kesadaran pasien akan
kedudukan manusia di tengah-tengah mahluk hidup ciptaan Tuhan; menyadarkan kelemahan
yang dimiliki manusia, arti agama bagi manusia, membangkitkan optimisme berdasarkan
sifat-sifat Tuhan yang Mahabijaksana, Mahatahu, Maha pengasih, dan Maha pengampun.

DAFTAR PUSTAKA

Abdallah, R, 2008. Bahaya Narkoba Dikalangan Remaja.

http://www.wikimu.com/news/displaynewremaja.aspx?id=5691. Diakses tanggal 25 Mei 2017.

Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. PT Bengawan Ilmu, Semarang.

Arikunto, S, 2002. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.

Bobby, H, P, 2007. KKK (Keluarga, Kerja, Narkoba).


http://www.mediaindonesia.com/webturial/ycab_old/?ar_id=mjc2. Diakses 25 Mei
2017.

Departemen Kesehatan RI, 2001. Kesehatan Reproduksi. Jakarta.

Dewi, W, 2006. Pengguna Narkotika Suntik Terinfeksi HIV/AIDS.


http/www.infoanda.com/wap/id.link.php. Diakses tanggal 25 Mei 2017

Djauzi, S, 2007. Waspadai Peningkatan Jumlah Pengguna Narkoba Suntikan.

http://www.kesrepro.info/?=forwand/336. Diakses tanggal 25 Mei 2017.

Eka, E, 2006. Pengaruh Kelekatan Pada Orang Tua Terhadap Harga Diri Remaja Akhir.
Psikologi, 2(2): 65-70.

Hapsari, M, 2007. Pelajar Pengguna Narkoba Meningkat.


http://www.kompas.interaktif.com/read/xml/200. Diakses tanggal 25 Mei 2017

Hawari, D, 2009. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Napza. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta.