Anda di halaman 1dari 7

INDIVIDUAL TAKE HOME EXAM

MANAJEMEN HIV AIDS

Untuk Memenuhi UAS Matrikulasi Manajemen HIV AIDS


Program Studi Profesi Ners

Disusun Oleh:

Is Kuswanto Tunggali
P17212195008

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN
2019/2020
1. Kajian data kejadian dan kematian HIV/AIDS di Jawa Timur di masing kab/kota
a. Kejadian HIV

Tabel diatas menunjukkan kejadian HIV tertinggi yakni di kota surabaya


sebanyak 951 kasus pada tahun 2016 dengan akumulasi kejadian sebanyak 2167
kasus. Sampai dengan Desember 2016, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah
17.394 orang, dan 36.881 kasus HIV. Dari jumlah tersebut 3.679 (21,1%)
diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut sesungguhnya jauh lebih kecil
dibandingkan angka yang sebenarnya terjadi, dan dari hasil estimasi sampai dengan
tahun 2012 diperkirakan jumlah ODHA di Jawa Timur mencapai 57.321 orang. Dan
sejak September 2003, Provinsi Jawa Timur ditetapkan sebagai wilayah dengan
prevalensi HIV yang terkonsentrasi bersama 5 (lima) provinsi lainnya, yaitu DKI
Jakarta, Papua, Bali, Riau dan Jawa Barat.

Secara teoritis WHO membagi tingkat epidemi HIV menjadi 3 tingkat, yaitu :

1. Tingkat epidemi HIV rendah (low level epidemic), dimana prevalensi HIV pada
kelompok risiko tinggi masih di bawah 5%.
2. Tingkat epidemic HIV terkonsentrasi (concentrated level epidemic), dimana
pada sub populasi tertentu (kelompok risiko tinggi) seperti kelompok Pekerja
Seks Komersial (PSK), kelompok Injecting Drug Users/Use (IDU), kelompok
Waria, Narapidana di Lembaga Permasyarakatan dan sebagainya, prevalensi
HIV sudah lebih dari 5% secara konsisten (dalam beberapa tahun pengamatan)
dan atau prevalensi HIV pada ibu hamil masih di bawah 1%.
3. Tingkat epidemic HIV meluas (generalized level epidemic), dimana pada
wilayah dengan tingkat epidemic HIV terkonsentrasi ditambah prevalensi HIV
pada ibu hamil sudah lebih dari 1%. Berdasarkan waktu, maka nampak sekali
pesatnya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari waktu ke waktu.

Kalau tahun 1989 hanya 1 orang penderita yang dilaporkan maka mulai
tahun 1999 meningkat tajam sekali dari tahun ke tahun dan jumlahnya terus
bertambah hingga Desember 2017. Penambahan kasus AIDS dari tahun ke tahun
sebagian besar berasal dari faktor seksual. Sampai Desember 2016 berdasarkan
faktor risiko penularan secara seksual berdasarkan kasus AIDS sebesar 80,22%. Dari
38 kabupaten/kota semua sudah melaporkan adanya kasus AIDS berdasarkan tempat
asal penderita di seluruh kabupaten/kota; Berdasarkan tempat tinggal sebagian besar
ditemukan di Kota Surabaya,Kab Malang Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Gresik
dan Kabupaten Jember, Namun sangat disadari bahwa kasus AIDS tersebut masih
jauh lebih sedikit dibandingkan kasus yang sesungguhnya mengingat tidak seluruh
kasus AIDS yang ada atau baru sebagian kecil yang dilaporkan (under reported).

Ditinjau dari cara penularan pada kasus AIDS dari data laporan Surveilans
nampak bahwa, faktor risiko yang tertinggi adalah heteroseksual 926 (83,4%) kasus,
kemudian penggunaan narkoba suntik (Penasun) 91 (8,2%) kasus dan Perinatal
sebanyak 53 (4,8%). Berdasarkan jenis kelamin, kasus AIDS pada tahun 2017
didominasi kelompok laki-laki sebesar 500 (67,5%) dan wanita sebesar 241 kasus
(32,5%). Namun proporsi perempuan cenderung mengalami peningkatan secara
tajam dari tahun ke tahun.

Dan dari segi kelompok umur, maka kasus AIDS didominasi oleh kelompok
umur seksual aktif, yang tertinggi adalah kelompok usia 25-49 tahun sebanyak 506
(68,2%) kasus. Disamping itu kasus HIV sudah ada yang manifestasi menjadi AIDS
di kalangan anakanak (0-14 tahun) sebanyak 22 anak.

b. Kematian Akibat HIV

Tabel diatas menunjukkan total jumlah kematian pada HIV di provinsi Jawa
Timur yakni 147 kasus kematian, dengan provorsi laki-laki 100(68,03%) dan
perempuan 47(31,97%) banyak terjadi pada kelompok umur 25-49 tahun yakni 99
kasus teridir dari 69 laki-laki dan 30 perempuan. Rata-rata kasus kematian akibat
aids pada laki-laki karena porsi penderita aids lebih banyak kasus pada laki-laki.
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan SIHA, 2017 total Jumlah
Kematian AIDS yang Dilaporkan Menurut Tahun, 1987- 2017 sebanyak 15.429
kasus. Kasus kematian terbanyak yakni pada tahun 2012 dengan jumlah 1.934 kasus.

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


a. Resiko Penyebaran Infeksi (kepada janin dan pasangan seksual)
b. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan HIV dan AIDS (perjalanan,
penyebaran penyakit, efek jangka panjang pada wanita dan janin).
c. Ansietas berhubungan dengan efek HIV atau AIDS dan akhirnya menyebabkan
kematian.
Tujuan yang ingin dicapai dalam intervensi keperawatan pada ibu hamil dengan
HIV positif antara lain :

a. Klien memahami proses penyakit dan pengobatan.


b. Klien mendapatkan kesempatan mendiskusikan ketakutan, kecemasan dan
perasaannya dengan orang yang memberi dukungan.
c. Status nutrisi dan berat badan dapat dipertahankan.
d. Penularan infeksi pada pasangan, orang lain dan bayi dapat dicegah.
e. Keluarga memahami penyakit, risiko penularan, dan koping yang tepat.
f. Isolasi sosial tidak terjadi.
g. Klien dapat menerapkan mekanisme koping yang tepat (Reeder, Martin & Griffin,
2011)

Dalam upaya pencapaian tersebut, maka intervensi keperawatan yang dapat


dilakukan antara lain :

a. Memberikan informasi pada klien tentang penyakit, pengobatan, penularan dan cara
pencegahannya.
b. Memberikan kesempatan kepada klien untuk mendiskusikan ketakutan, kecemasan
perasaan, kebutuhan dukungan, konseling serta perawatan.
c. Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan persepsi klien tentang
penyakitnya.
d. Memperbaiki toleransi terhadap aktivitas
e. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan.
f. Memperbaiki status nutrisi.
g. Mengurangi isolasi sosial.
h. Memperbaiki koping.
i. Memantau dan melakukan pencegahan komplikasi (Griffin, Martin & Reeder,2011).

3. Rencana Edukasi
Edukasi Pada kasus diatas sudah masuk pada Konseling pasca testing, yang mana
klien sudah dinyatakan positif HIV. Untuk konseling pasca testing rencana yang perlu
dipersiapkan sebelum ke klien yakni :
a. Periksa ulang seluruh hasil klien dalam catatan medik. (sebelum bertemu klien)
b. sampaikan hasil kepada klien secara tatap muka
c. berhati-hatilah dalam memanggil klien dari ruang tunggu
d. konselor tidak boleh memberikan hasil secara verbal maupun nonverbal saat klien
berada di ruang tunggu
e. hasil testing tertulis

Informasi dan cara peyampaian harus memperhatikan hal hal berikut yakni :

a. Perhatikan komunikasi non verbal saat memanggil klien masuk ruang konseling
b. Pastikan klien siap menerima hasil
c. Tekankan kerahasiaan
d. Lakukan secara jelas dan langsung
e. Sediakan waktu cukup untuk menyerap informasi tentang hasil
f. Periksa apa yang diketahui klien tentang hasil testing
g. Dengan tenang bicarakan apa arti hasil pemeriksaan
h. Galilah ekspresi dan ventilasi emosi

Fasilitas dan dukungan yang diberikan untuk klien yang positif HIV :

a. Tersedianya fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan


b. 24 jam pendampingan
c. Dukungan informasi verbal dan tertulis
d. Rencana nyata
e. Adanya dukungan dan orang dekat
f. Apa yang dilakukan klien dalam 48 jam
g. Strategi mekanisme penyesuaian diri
h. Tanyakan apakan klien masih ingin bertanya
i. Rencanakan tindak lanjut atau rujukan bila perlu

Rencana Penyuluhan Pada Ibu tentang HIV AIDS pada ibu hamil

a. Apakah perempuan HIV-positif boleh mendapatkan anak?


b. Bagaimana HIV menulari bayi?
c. Bagaimana obat antiretroviral melindungi bayi?
d. Apakah benar-benar aman memakai ARV saat hamil?
e. Apakah menjadi hamil akan mempengaruhi HIV?
f. Bagaimana bila satu pasangan HIV-positif dan yang lain HIV-negatif?
g. Perawatan dan pengobatan HIV sebelum lahir
h. Pilihan untuk persalinan dan penggunaan bedah sesar
i. Apakah kita sebaiknya pakai bedah sesar pilihan?
j. Apa yang harus kita mempertimbangkan untuk kesehatan kita sendiri?
k. Bagaimana dan kapan dapat mengetahui apakah bayi terinfeksi
l. Apakah bayi akan membutuhkan ARV setelah lahir?

Rencana Konseling Stigma Negatif agar ibu Hamil tidak ada tekanan psikologis meliputi

a. Sikap negatif yang diberikan pada ODHA(“Cap Buruk”)


b. Mendorong keterpinggiran ODHA dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV.
Mengingat HIV dan AIDS sering dikaitkan dengan seks, penggunaan narkoba dan
kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima dan takut terhadap
penyakit ini.
c. Menyebabkan beberapa ODHA dan orang yang rentan terhadap HIV dan AIDS
menjadi kurang dihargai dan merasa malu. Sedangkan kelompok lainnya merasa
superior.
d. Dukungan dari lingkungan (dukungan material, informasional, emosional, sosial,
atau spiritual) akan membuat kualitas hidup mereka membaik.

REFERENSI

http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_HIV_AIDS_TW_4_Tahun_2017__1_.p
df

http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2017/15_Jati
m_2017.pdf

http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Pedoman_Manajemen_PPIApdf.pdf

http://i-base.info/wp-content/uploads/2006/09/indonesian-pregnancy.pdf

http://www.gwl-ina.or.id/wp-content/uploads/2016/03/BAB-5-HIV-DAN-AIDS.pdf

http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/TM_12._KONSELING_HIV.pptx