Anda di halaman 1dari 20

Health Education

IUD (INTRA UTERINE DEVICE)

Oleh:
Denisse Ch. Lampus
0801116315
Masa KKM 17 Juni – 25 Agustus 2019

Supervisor Pembimbing
dr. Ruddy Lengkong, Sp.OG(K)

Residen Pembimbing
dr. Joel Osbert

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di seluruh


dunia dengan laju pertumbuhan yang relative tinggi. Sebuah program yaitu Keluarga
Berencana (KB) dijalankan di Indonesia dengan tujuan untuk menurunkan fertilitas agar
dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan
bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Hal ini tertuang dalam UU No.10 Tahun 1992 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, definisi KB yaitu
upaya meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan
kesejahteraan keluarga guna mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. 1
Salah satu prioritas pembangunan nasional adalah mewujudkan penduduk tumbuh
seimbang. Pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas ditandai
dengan menurunnya Total Fertility Rate (TFR) menjadi 2,1 dan Net Reproductive Rate
(NRR) = 1 pada tahun 2025, serta keluarga berkualitas ditandai dengan keluarga yang
terbentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri
dan memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.1
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa pada wanita umur
15-49 tahun dengan status kawin menggunakan metode KB modern sebesar 59,3%. KB
modern terbagi menjadi 2 metode yaitu metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti
implant, metode operatif wanita (MOW), metode operatif pria (MOP), IUD, dengan
persentase pemakaian hanya sebesar 10,2% sedangkan metode kontrasepsi non jangka
panjang (MKNJP) yaitu kondom, suntikan, pil memiliki persentase sebesar 49,2%.
Sebesar 0,4% menggunakan metode tradisional, 24,7% pernah melakukan KB dan 15,5%
tidak pernah menggunakan KB.1
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, dalam periode 4 tahun (2015-
2018) , jumlah penduduk Indonesia meningkat sebanyak 10 juta jiwa, yaitu dari sebanyak
255 juta jiwa menjadi sebanyak 265 juta jiwa. Rata - rata laju pertumbuhan penduduk
(LPP) Indonesia meningkat dari sebesar 0,17 persen (2010-2015) menjadi sebesar 0,18
persen (2015-2020) . Namun, pada periode 10 tahun terakhir (2000-2010), LPP meningkat
kembali menjadi sebesar 1,49 persen.2

1
Mengingat IUD sebagai alat kontrasepsi jangka panjang yang efektif, tetapi angka
pemakaiannya masih rendah, maka perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan
angka cakupan pemakaiannya. Program BKKBN memberikan penekanan pada kontasepsi
AKDR terutama adalah CuT380 A yang menjadi primadona BKKBN. Namun begitu tidak
semua orang berminat terhadap alat kontrasepsi AKDR dikarenakan berbagai alasan yang
berbeda-beda seperti takut efek samping, takut proses pemasangan , dilarang oleh suami,
dan kurang mengetahui tentang KB AKDR. Untuk itu, dalam referat ini akan dibahas
tentang KB dengan metode IUD (Intra Uterine Device).

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian IUD

Gambar 1.3

Salah satu metode Keluarga Berencana yaitu dengan menggunakan Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Device (IUD). IUD adalah kontrasepsi yang terbuat
dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Copper T Cu 200,
Copper T 220 atau ML Cu 250) yang dipasang di dalam Rahim dengan memakai alat
khusus oleh dokter atau bidan paramedik lain yang sudah dilatih.
IUD juga adalah alat yang dibuat dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yang
ditempatkan di dalam rahim. Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan bisa dilepaskan
setiap saat bila klien berkeinginan untuk mempunyai anak. Alat ini kecil berbentuk-T
terbuat dari plastik dengan bagian bawahnya terdapat tali halus yang juga terbuat dari
plastik. Sesuai dengan namanya IUD dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah
kehamilan. Pemasangan bisa dengan rawat jalan dan biasanya akan tetap terus berada
dalam rahim sampai dikeluarkan lagi. IUD mencegah sperma tidak bertemu dengan sel
telur dengan cara merubah lapisan dalam rahim menjadi sulit ditempuh oleh sperma 4

3
Definisi IUD adalah merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang
relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pil, suntik dan kondom. Alat
kontrasepsi dalam rahim ini terbuat dari plastik elastik, dililit tembaga atau campuran
tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan waktu
penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja mencegah masuknya
sprematozoa/sel mani ke dalam saluran tuba. Pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi
ini harus dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan terlatih), dapat dipakai oleh
semua perempuan usia reproduksi namun tidak boleh dipakai oleh perempuan yang
terpapar infeksi menular seksual5,6
B. Jenis IUD 7

Gambar 2 3
Berbagai macam jenis IUD yang telah dikembangkan mulai dari generasi pertama yang
terbuat dari benang sutera dan logam sampai pada generasi plastik (polietien) baik yang tidak
ditambahi obat maupun yang dibubuhi obat.
Jenis IUD yang paling banyak digunakan dalam program keluarga berencana di Indonesia
ialah IUD jenis Lippes loop (Gambar 2 tipe C). IUD dapat dibagi dalam bentuk yang terbuka
linear dan bentuk tertutup sebagai cincin. Yang termasuk dalam golongan bentuk terbuka dan
linear antara lain adalah Lippes loop, Saf-T-coil, Dalkon Shield, Cu-7, Cu-T (Gambar 2 tipe
A), Spring coil, dan Margulies spiral sedangkan yang termasuk dalam golongan bentuk tertutup
dengan bentuk dasar cincin adalah: Otaring, Antigon F, Ragab ring, Cincin Gravenberg, Cincin
Hall-Stone, Birnberg bow, dll.

1. IUD Non – Hormonal


a. Menurut bentuknya IUD dibagi menjadi :
1) Bentuk terbuka (open device), misalnya Lippes Loop, CU-T, C 7, Marguiles,
Spring Coil, Multiload, Nova-T.
2) Bentuk tertutup (close device) , misalnya Ota-ring, Antigon, dan Graten Berg
Ring. (Gambar 2 Tipe D)

4
b. Menurut tambahan obat atau metal :
1) Medicated IUD, misalnya Cu-T-200 (daya kerja 3 tahun), Cu-T 220 (daya kerja
3 tahun), Cu-T 300 (daya kerja 3 tahun), Cu-T 380A (daya kerja 8 tahun), Cu-
7, Nova-T (daya kerja 5 tahun), ML-Cu 375 ( daya kerja 3 tahun). Pada jenis
Medicated IUD, angka yang tertera dibelakang IUD menunjukkan luasnya
kawat halus tembaga yang ditambahkan, misalnya Cu-T 220 berarti tembaga
adalah 200 mm2.
2) Unmediated IUD, misalnya Lippes Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Antigon.
2. IUD yang mengandung Hormonal
a. Progestasert-T (Gambar 2 Tipe B)
b. LNG-20.
C. Waktu Pemasangan IUD 8
Waktu pemasangan IUD adalah:
1. Kapan saja saat siklus menstruasi selama pasien tidak hamil
2. Pemasangan dini, 10 menit setelah plasenta lahir
3. Pemasangan biasa, 40 hari sesudah persalinan
4. Sesudah mengalami keguguran lengkap atau selesai dikuret dan tidak ada tanda-tanda
infeksi.
5. Sesudah haid, sampai dengan hari ke-10 dihitung dari hari haid pertama.
Pada dasarnya AKDR dapat dipasang setiap saat dengan syarat tidak ada
kontraindikasi. Ada keuntungan kalau pemasangan dilakukan pada waktu haid, bisa juga
saat akhir haid atau pada hari sebelum berakhirnya haid, Pertama karna ketika haid awal-
awal, mulut rahim terbuka, jadi lebih mudah untuk memasukkannya. Kedua, darah haid
juga berfungsi sebagai pelicin, jadi mempermudah. Yang ketiga, karena pada awal haid
masih terasa sakit perut datang bulan, jadi sakit atau kontraksi rahim akibat pemasangan
IUD jadi tersamarkan.

D. Mekanisme Kerja IUD


Mekanisme kerja yang pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme
kerja IUD yang telah dianjurkan3:
1. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik didalam cavum uteri sehingga
implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu.
2. Prodiksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambat
implantasi.

5
3. Teori reaksi benda asing yang menyebabkan pemadatan endometrium oleh sel-sel
makrofag dan limfosit yang menyebabkan blastokis rusak atau tidak dapat bernidasi.
4. Teori pengaruh zat bioaktif progesteron (untuk IUD yang berisi progesteron) yang
menghambat ovulasi, mempengaruhi endometrium yang berakibat menghambat
nidasi, mempengaruhi lendir serviks yang menghalangi gerak sperma.
5. IUD menimbulkan perubahan pengeluaran cairan, prostaglandin yang menyebabkan
rahim berkontraksi sehingga menghalangi transport sel sperma ke kavum uteri.
6. Ion Cu yang dikeluarkan IUD dengan Cuppes menyebabkan gangguan gerak
spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melaksanakan konsepsi.

E. Indikasi dan Kontraindikasi IUD 6,7,9


1. Indikasi pemakaian IUD
a. Usia reproduktif
b. Keadaan nulipara
c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g. Resiko rendah dari IMS
h. Tidak menghendaki metode hormonal
i. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama.
2. Kontraindikasi pemakaian IUD
a. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi)
c. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
d. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus
septik.
e. Penderita kanker hati dan penyakit hati akut
f. Kanker payudara
g. Alergi Tembaga
h. Riwayat kehamilan ektopik
i. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat
mempengaruhi kavum uteri.
6
j. Penyakit trofoblas yang ganas
k. Diketahui menderita TBC pelvik
l. Kanker alat genital
m. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

F. Keuntungan dan Kerugian IUD 6,10


1. Keuntungan pemakaian IUD
a. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi.
b. Sangat efektif – 0,6 – 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
c. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
d. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti).
e. Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat.
f. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
g. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
h. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A).
i. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
j. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak
terjadi infeksi).
k. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih stelah haid terakhir).
l. Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
m. Membantu mencegah kehamilan ektopik
2. Kerugian pemakaian IUD10
a. Efek samping yang umum terjadi:
1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang
setelah 3 bulan).
2) Haid lebih lama dan banyak.
3) Perdarahan (spotting) antarmenstruasi.
4) Saat haid lebih sakit.Komplikasi lain:
b. Komplikasi lain:
1) Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan.
2) Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan
penyebab anemia.
3) Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar).
7
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan.
e. Penyakit radang panggul dapat memicu infertilitas.
f. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan
AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan.
g. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR.
Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
h. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih
yang harus melepaskan AKDR.
i. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR
dipasang segera sesudah melahirkan).
j. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk
mencegah kehamilan normal.
k. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. Untuk
melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian
perempuan tidak mau melakukan ini.
Selain itu kelemahan dari penggunaan IUD adalah perlunya kontrol kembali untuk
memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Waktu kontrol IUD yang harus
diperhatikan adalah :
a. 1 bulan pasca pemasangan
b. 3 bulan kemudian
c. setiap 6 bulan berikutnya
d. bila terlambat haid 1 minggu
e. perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya.
G. Cara Pemasangan dan Pelepasan IUD 9
1. Cara pemasangan
Alat dan bahan yang harus disiapkan:
• Bivalve speculum (kecil, sedang atau besar)
• Tenakulum
• Sonde uterus
• Forsep/korentang
• Gunting
• Mangkuk untuk larutan antiseptic
8
• Sarung tangan (yang telah diDTT atau disterilisasi atau sarung tangan periksa
yang baru)
• Cairan antiseptic (mis : Povidon iodin) untuk membersihkan serviks.
• Kain kasa atau kapas
• Sumber cahaya yang cukup untuk menerangi serviks (lampu senter sudah
cukup)
• Copper T 380A IUD yang belum rusak dan terbuka
Berikut adalah langkah-langkah pemasangan (AKDR copper T 380A):
a. Jelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan mempersilakan klien
mengajukan pertanyaan.
b. Periksa genetalia eksterna. Setelah itu lakukan pemeriksaan speculum, dan
lakukan pemeriksaan panggul.
c. Lakukan pemeriksaan mikroskopik bila tersedia da ada indikasi.
d. Masukkan lengan AKDR Copper T 380A di dalam kemasan sterilnya.
e. Masukkan speculum, dan usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik,
gunakan tenakulum untuk menjepit serviks.
f. Masukkan sonde uterus.
g. Pasang AKDR Copper T 380A.
h. Buang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi sebelum melepas sarung
tangan. Bersihkan permukaan yang terkontaminasi.
i. Lakukan dekontaminasi alat-alat dan sarung tangan dengan segera setelah
selesai dipakai.
j. Ajarkan kepada klien bagaimana memeriksa AKDR (dengan menggunakan
model bila tersedia).
k. Minta klien menunggu hingga 15-30 menit setelah pemasangan AKDR.
2. Cara pencabutan
Berikut adalah langkah-langkah pencabutan (AKDR Copper T 380A), yaitu:
a. Menjelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan persilakan klien untuk
bertanya.
b. Memasukkan speculum untuk melihat serviks dan benang AKDR.
c. Mengusap serviks dan vagina dengan larutan antiseptic 2 – 3 kali.
d. Memberitahu kepada klien bahwa kemungkinan timbul rasa sakit tapi itu
normal. Jepit benang di dekat serviks dengan menggunakan klem lurus atau
lengkung yang sudah didesenfeksi tingkat tinggi atau steril dan tarik benang
9
pelan – pelan, tidak boleh menarik dengan kuat, AKDR biasanya dicabut dengan
mudah. Untuk mencegah benangnya putus, tarik dengan kekuatan tetap dan
cabut AKDR dengan pelan-pelan. Bila benang putus saat ditarik tetapi ujung
AKDR masih dapat dilihat maka jepit ujung AKDR tersebut dan tarik keluar.
e. Pasang AKDR yang baru bila klien menginginkan dan kondisinya
memungkinkan.

10
BAB III
PENUTUP

Intrauterine device (IUD)/ Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan alat
kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan
metode pil, suntik dan kondom. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari plastik elastik,
dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi
anti fertilitas dengan waktu penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja
mencegah masuknya sprematozoa/sel mani ke dalam saluran tuba.
Di Indonesia terdapat dua tipe IUD. Tipe pertama yaitu IUD pelepas progestin
(levonorgestrel), memiliki masa efektif selama 5 tahun. Selama periode 5 tahun tersebut,
hanya sekitar 0,5 % wanita yang mengalami kehamilan.
Tipe yang kedua adalah IUD yang melepaskan tembaga yang pada bagian
vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga, memiliki efektivitas sekitar 10 tahun. Selama
waktu tersebut, kurang dari 2% wanita hamil. Satu tahun setelah IUD dilepas, 80 sampai
90% yang ingin hamil, bisa hamil.
Benang plastik tetap menempel pada IUD sehingga wanita dapat memastikan alat
IUD masih pada tempatnya.
IUD/ AKDR memiliki keuntungan yaitu hanya perlu dipasang setiap 5-10 tahun
sekali, tergantung dari tipe alat yang digunakan. Pemasangan dan pencabutan alat
kontrasepsi ini harus dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan terlatih), dapat
dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi namun tidak boleh dipakai oleh perempuan
yang terpapar infeksi menular seksual. Jenis-jenis IUD yaitu : Copper-T, Copper-7, Multi
load, lippes loap.
Sama seperti alat kontrasepsi lainnya IUD juga memiliki beberapa efek samping
namun yang paling sering muncul adalah perdarahan sedangkan perforasi rahim juga
ditemukan namun (jarang sekali) dan yang menjadi pertimbangan dalam hal pemakaian
IUD adalah seringkali IUD / AKDR dapat terlepas.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.Pedoman Cara Pelayanan


Kontrasepsi AKDR.Jakarta:BKKBN; 2016.
2. Razali R (Direktur Statistik Kependudukan dan ketenagakerjaan BPS). Kebutuhan
Data Ketenagakerjaan untuk pembangunan berkelanjutan. ILO. 2015 [cited 11
October 2018]. Available from: http://www.ilo.org/jakarta/WCMS_346599/lang--
en/index.htm
3. Nowitzki K, Hoimes M, Chen B, Zheng L, Kim Y. Ultrasonography of Intrauterine
Devices. NCBI. 2015. [cited 11 October 2018]. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4484292/
4. Hartanto, Hanafi. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan;2010.
5. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC; 2012. Hal -243-245.
6. Saefuddin, Abdul Bari. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;2006.
7. Prawirohardjo, Sarwono. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal. Yayasan Bina
Pustaka : Jakarta;2010.Hal 24-25
8. Hardeman J, Weiss B. Intrauterine Devices: An Update. American Family Physician.
2014;89(6):445-450. [cited 11 October 2018]. Available from:
https://www.aafp.org/afp/2014/0315/p445.html
9. Johnson B. Insertion and removal of Intrauterine Device. American Family Physician.
2005;71(1):95-102. [cited 11 October 2018]. Available from:
https://www.aafp.org/afp/2005/0101/p95.html#sec-1
10. Al-Inany H. Current State of Intrauterine Devices. Middle East Fertility Social
Journal. 2007;12(1):8-12. [cited 11 October 2018]. Available from:
http://www.bioline.org.br/pdf?mf07002

12
LAMPIRAN

13
14
15
16