Anda di halaman 1dari 13

PEMBANGUNAN JALAN TOL BALI MANDARA

Tugas Mata Kuliah Manajemen Pembangunan


Dosen Pengampu: Ir. Leksono Subanu MURP., PhD

Oleh :
Desty Rizkiani (14/370918/PTK/9741)
I Gede Wyana Lokantara (14/370914/PTK/9740)
Rivo Ardan (14/371058/PTK/9792)

PROGRAM STUDI MAGISTER PERENCANAAN KOTA DAN DAERAH


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
PEMBANGUNAN JALAN TOL BALI MANDARA
Desty Rizkiani, I Gede Wyana Lokantara, Rivo Ardan
Abstrak
Jalan merupakan media transportasi darat yang utama dalam infrastruktur
pembangunan suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi yang terkait dengan
kesejahteraan rakyat umumnya didahului dan didukung oleh infrastruktur yang
memadai, salah satunya adalah infrastruktur jalan. Pembangunan jalan tol di Bali
merupakan suatu upaya untuk mendukung masterplan program percepatan
pertumbuhan ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah ditetapkan oleh pemerintah
pusat. Pembangunan ini mencakup pembangunan jalan bebas hambatan pertama di
pulau Bali, pembangunan infrastruktur ini menarik untuk dibuat dalam sebuah
makalah dengan menggunakan landasan teori pembangunan transport and
development serta teori mengenai perencanaan transportasi. Makalah ini akan
menunjukkan bagaimana suatu pembangunan sarana transportasi mampu mendorong
pertumbuhan ekonomi melalui minat investasi khususnya di sektor pariwisata yang
menjadi andalan bagi pulau dewata ini.

I. PENDAHULUAN
Bali merupakan magnet wisata yang sudah mendunia. Keelokan alam dan
kentalnya tradisi mampu dipertahankan masyarakat setempat, sehingga hal ini
menjadikan Bali sebagai tujuan wisata para wisatawan mancanegara maupun
wisatawan domestik. Hal ini telah menimbulkan dampak positif dan negative bagi
masyarakat setempat maupun pemerintah daerah. Salah satu dampak negatif yang
ditimbukkan adalah munculnya kemacetan di Bali. Mengurai kemacetan di Bali
bukan perkara mudah, banyak hal yang menjadi kendala. Ketersediaan lahan di
daratan demikian terbatas. Selain itu dalam membangun infrastuktur juga harus
mempertimbangkan kearifan lokal yang harus terjaga. Maka, pemerintah dan pihak-
pihak terkait membangun infrastruktur berupa jalan tol di Bali.
Jalan tol dapat diartikan sebagai suatu jalan alternatif bebas hambatan, yang
berbayar sesuai dengan tarifnya, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas ataupun untuk
mempersingkat jarak dari satu tempat ke tempat lain. Terwujudnya salah satu mega
proyek jalan tol Bali Mandara di pulau Bali tidak terlepas karena usaha dan kerja
keras pemerintah daerah dan pusat yang telah bekerja sama dengan baik dalam
rangka merealisasikan MP3EI di sektor pariwisata. Jika ditinjau lebih detail lagi,
MP3EI terbagi menjadi 6 koridor, yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali
Nusa Tenggara, Papua-Maluku dengan 8 program utama, yaitu pertanian,
pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan telematika, serta
pengembangan kawasan strategis.

II. LANDASAN TEORI


Teori Transport and Development dalam sebuah negara, penyediaan
transportasi sangat penting karena menjadi infrastruktur dasar dalam
pembangunannya. Jika digolongkan berdasarkan GDP, terdapat 2 kelompok besar
yang cukup signifikan dalam penyediaan transportasi, yaitu negara maju dengan level
penyediaan transportasi yang baik dan negara yang lebih miskin dengan rendahnya
level penyediaan transportasi. Level penyediaan transportasi tidak hanya dilihat dari
panjang jalan yang telah dibangun, akan tetapi faktor pemeliharaannya juga menjadi
kunci penting. Transportasi memang merupakan elemen esensial dalam
pembangunan, tapi transportasi tidak selalu menjamin pembangunan. Melalui
kegiatan preservasi, perbaikan transportasi dapat dengan mudah digunakan untuk
mengangkut barang dan orang dalam volume yang lebih besar dan jarak yang lebih
jauh dengan biaya murah. Dengan menyediakan kemudahan dalam mobilitas dan
aksesibilitas, perbaikan transportasi secara potensi mampu mengembangkan
kesempatan ekonomi dan sosial tapi mungkin tidak mampu diikuti oleh individu atau
komunitas yang tidak dapat memanfaatkannya.
Perencanaan transportasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
perencaaan kota. Pertimbangan yang matang sangat diperlukan agar rencana kota
tidak menghasilkan dampak kesemrawutan lalu lintas di masa yang akan datang.
Menurut Tamin (1997:20), perencanaan transportasi adalah suatu proses yang
tujuannya mengembangkan sistem yang memungkinkan manusia dan barang
bergerak atau berpindah tempat dengan aman, murah dan cepat. Dengan perencanaan
transportasi diharapkan mampu mengurangi dampak pertumbuhan penduduk, kondisi
lalu lintas dan perluasan kota yang menyebabkan terjadinya perubahan guna lahan.
Perencanaan transportasi juga merupakan proses yang bertujuan untuk
menentukan perbaikan kebutuhan atau fasilitas transportasi baru dan layak untuk
daerah tertentu (Catanese, 1992:367). Dalam perencanaan transportasi perlu untuk
memperkirakan permintaan atas jasa transportasi. Permintaan atas jasa transportasi
baik untuk angkutan manusia ataupun barang menggambarkan pemakaian sistem
transportasi tersebut.
Adapun pertimbangan dalam membuat rencana pengembangan transportasi
diantaranya adalah :
1) When: pemilihan waktu yang tepat untuk mengembangkan sarana transportasi.
2) Which: penentuan lokasi pengembangan transportasi yang strategis dan
berpotensi.
3) What: menentukan teknologi yang digunakan.
4) Who: pengambil keputusan serta pihak-pihak yang terlibat didalamnya.
Selain bermanfaat untuk pembangunan, penyediaan transportasi ternyata juga
dapat menimbulkan dampak negatif, diantaranya adalah :
a) Land value meningkat drastis, perbedaannya cukup signifikan jika dibanding
dengan daerah dengan infrastruktur transportasi yang kurang.
b) Populasi meningkat akibat terjadi perpindahan penduduk sebagai dampak
ketimpangan kondisi ekonomi suatu daerah dengan daerah lain.
c) Permasalahan lingkungan hidup, pengembangan transportasi akan selalu diikuti
oleh pembangunan infrastruktur lainnya seperti gedung, pabrik, pemukiman dan
kawasan komersial akan berdampak pada tingginya polusi dan berkurangnya
daerah hijau. Oleh sebab itu maka dibutuhkan perencanaan yang baik dalam
penyediaan transportasi.

III. PEMBAHASAN
III.1 Konsep Pembangunan Jalan Tol Mandara
Jalan tol Mandara sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 2009. Berbagai
pernyataan dan pertanyaan bermunculan meragukan pembangunan jalan tol ini.
Beberapa diantaranya adalah pertanyaan mengenai penting atau tidaknya jalan tol
dibangun di Bali, sistem pendaan yang terlalu membebani APBD, hingga teknologi
yang akan digunakan terkait adanya permasalahan mengenai adat istiadat masyarkat
setempat. Kondisi ragam adat dan budaya masyarakat Bali yang sangat konservatif
menjadi isu yang sangat menjadi pertimbangan pemilihan jenis konstruksi bangunan
jalan tol yang harus dipilih oleh pemerintah dan kontraktor. Keterbatasan dana APBD
juga turut menunda realisasi pelaksanaannya pada saat itu. Salah satu kesepakatan
APEC ke-24 di Rusia pada bulan September 2012 lalu adalah akselerasi investasi
infrastuktur adalah strategi penting untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan
di Asia Pasifik. Namun seperti kesepakatan itu tidak berlaku secara langsung pada
pembangunan jalan tol Bali Mandara ini. Tidak adanya minat investor dalam
pembangunan infrastruktur ini sebagai pendukung pariwisata mendorong adanya
konsorsium BUMN, mengingat tidak dimungkinkannya penggunaan APBN dalam
pembangunan jalan tol ini.
Jasa Marga sebagai BUMN yang bergerak di bidang jalan tol tentunya punya
porsi kepemilikan yang lebih dibanding BUMN lain sebagai kontraktor yang ikut
andil dalam sinergi BUMN ini. Proyek yang menelan dana sebesar 2.5 Triliun Rupiah
ini pun memiliki susunan kepemilikan sebagai berikut, Jasa Marga sebesar 60%, PT.
Pelindo III sebesar 20%, PT. Angkasa Pura I sebesar 10%, PT. Wijaya Karya, Tbk
(Wika) sebesar 5%, PT. Adhi Karya, Tbk sebesar 2%, PT. Hutama Karya, Tbk
sebesar 2%, dan PT. Pengembangan Pariwisata Bali sebesar 1%. Tarif yang
dikenakan untuk golongan I (sedan, jip, pickup/truk kecil dan minibus) sebesar Rp
10.000,00 dan Rp 4.000,00 untuk golongan VI (kendaraan bermotor roda dua).
Pembangunan jalan tol dapat diselsesaikan dala jangka waktu 14 bulan yang
diresmikan pada tanggal 23 September 2013.
Selain untuk mendukung program pemerintah pusat tujuan utama lainnya dari
pembangunan jalan tol ini adalah untuk menguraikan kemacetan yang kerap terjadi di
ruas jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar menuju titik-titik penting di daerah kota
Denpasar, yaitu akses menuju bandara internasional Ngurah Rai dan pelabuhan
Tanjung Benoa yang merupakan pintu masuk menuju pulau Bali. Data statistik yang
diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali dibawah memperlihatkan bahwa
terjadi peningkatan mobilitas keluar dan masuk penumpang yang menggunakan jasa
penerbangan melalui bandara ngurah rai meningkat setiap tahunnya. Begitu juga
terhadap peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Pulau Bali khususnya kota
Denpasar terus meningkat setiap tahunnya.
Jalan Jalan Tol Bali, yang dibangun oleh konsorsium 7 BUMN dibawah
koordinasi PT Jasa Marga Bali Tol. Konsep yang diusung adalah Green, Strong &
Beautiful.
Konsep Green, keberadaan jalan Tol Bali ini diharapkan tetap ramah lingkungan.
Maka tak kurang dari 16 ribu bibit mangrove telah ditanam kembali di sekitar
jalan tol.
Strong, kualitas pekerjaan harus diutamakan. Bahan-bahan yang digunakan harus
teruji dan awet umurnya.
Beautiful, tol Bali selain jadi ikon konstruksi yang hebat harus tampil pula
sebagai ikon pariwisata yang elok dimata dunia. Tidak sekedar jembatan beton
yang gersang.
Jalan tol ini merupakan jalan tol yang dibangun di atas laut, sehingga harus
memperhatikan berbagai macam aspek dalam pembangunannya. Hal utama yang
harus diperhatikan adalah kualitas tiang pancang, pengiriman bahan, kedalaman laut
dan gangguan cuaca. Sifat air laut yang sangat korosi sangat diperhatikan oleh para
pembangun jalan tol ini karena akan sangat berpengaruh pada sekitar 14 ribu tiang
pancang yang akan dibenamkan kedalam tanah di dalam laut.
Jalan Tol Bali Mandara ini memiliki fungsi utama jalan tol itu nanti akan
menjadi akses alternatif yang menghubungkan tiga kawasan strategis yaitu Nusa dua,
Bandara ngurah rai, dan denpasar Bali melalui jalan akses pelabuhan Benoa dan
Pesanggaran, selain jalan tol ini diangun dengan tujuan sebagai alternatif untuk
mengurangi kemacetan jalan utama di Bali, mendukung fasilitas transportasi dan
pariwisata, mempermudah akses yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan,
mempermudah akses ke Bandara Ngurah rai, mengakselerasi mobilitas barang dan
jasa. juga menstimuli pertumbuhan ekonomi daerah. Berikut ini adalah tahap
pembangunan proyek jalan tol Mandara Bali:
1) Tahap Pra Konstruksi
Kawasan Teluk Benoa satu-satunya benteng alamiah melindungi wilayah
Bali selatan dari berbagai bencana seperti banjir tsunami dan lainnya. Kawasan
Tahura Ngurah Rai juga adalah wilayah teluk ini. salah satu fungsi kawasan teluk
Benoa adalah sebagai kawasan pelindung kawasan bali selatan dari bencana
tsunami dan abrasi. Teluk Benoa juga muara dari sejumlah sungai besar seperti
Tukad Badung dan Tukad Mati. Sebelum reklamasi serangan dan pembangunan
Pelabuhan Benoa, Perputaran air di kawasan teluk benoa sangat bagus sebelum
reklamasi kawasn teluk benoa perputaran perputaran arus air bagus dan hutan
mangrove juga masih sangat lestari.
2) Tahap Konstruksi
Pembangunan jembatan ini memerlukan waktu konstruksi selama 14
bulan dan pembuatan studi kelayakan serta amdal selama 2 bulan. Sementara
lahan yang dibebaskan relative sedikit mengingat jembatan diatas laut. Proyek
pembangunan jalan Tol Nusa Dua - Ngurah Rai - Benoa, Bali ini dikerjakan
bersama oleh 7 BUMN dan tenaga kerja yang terlibat dalam proyek ini adalah
3000 orang.
3) Tahap Operasi
Proses pembangunan Jalan Tol Bali Mandara ini dengan memanfaatkan
lahan yang cukup luas dari segi teknik bangunan didesain dengan baik dan kokoh
agar dapat bertahan lama dan proses pembangunannya menggunakan alat berat.
Curah hujan dan kecepatan Angin yang tinggi menjadi penghambat. Akibat dari
tidak ada akses darat, semua proyek tergantung dengan jadwal air pasang surut.
pada saat air pasang menjadi menjadi kesempatan untuk memindahkan atau
menggeser peralatan serta mengangkut material ke laut. Jika air surut tidak
banyak yang bisa dilakukan atau tidak bisa mengangkut alat maupun material ke
tengah laut, sementara rata-rata air pasang hanya sekitra 4-5 jam sehari.
4) Tahap Pasca Operasi
Jalan Tol di atas perairan ini akan menjadi jalan tol berstandar
Internasional yang indah dan modern. pada ruas jalan tol ini akan diberlakukan E-
Toll Card, sehingga masyrakat akan memperoleh pelayanan transaksi yang lancar.
Pembangunan jalan tol ini diharapkan aktivitas usaha serta mobilitas barang dan
jasa di segi tiga emas Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa akan semakin lancar dan
mampu merangsang pertumbuhan ekonomu, Sosial, dan Budaya.

III.2 Implikasi Pembangunan Jalan Tol Bali Mandara


Pembangunan jalan tol Mandara diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 45
Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA
(Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) yang bertujuan: (1) Memperkuat peran
Bandara Ngurah Rai sebagai pintu gerbang Pulau Bali dan pengembangan kegiatan
ekonomi dan pariwisata, (2) Memperkuat peran Pelabuhan Benoa sebagai pusat
distribusi barang di Pulau Bali, pelayanan angkutan penumpang dan fungsi
pertahanan dan keamanan, (3) Memperkuat keterkaitan antara kota Denpasar dengan
kawasan perkotaan disekitarnya dalam Kawasan Metropolitan SARBAGITA, (4)
Mendukung pengembangan pariwisata di bagian selatan Pulau Bali, khususnya
Kawasan Nusa Dua dan Kawasan Kuta., (5) Mengurangi beban lalu lintas di ruas-
ruas jalan eksisting yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan
Benoa dengan Denpasar dan kawasan pariwisata di selatan Pulau Bali.
Adanya Surat Keputusan Gubernur Bali nomor 1545/04-B/HK/2011 tentang
kelayakan lingkungan hidup rencana pembangunan jalan tol Nusa Dua-Benoa,
mendorong kontraktor untuk menggunakan bahan-bahan konstruksi yang ramah
lingkungan, diantaranya dengan membangun jalan kerja di sepanjang trase jalan tol,
yang terbuat timbunan batu kapur, dll. Benturan terhadap isu adat istiadat masyarkat
Bali secara paralel dapat dihindari.
Perencanaan dalam pembangunan jalan tol ini telah memperhatikan kaidah
dalam teori transport and development serta perencanaan transportasi karena hampir
setiap faktor yang terlibat didalamnya menjadi perhatian dalam menentukan
keputusannya. Berikut penjelasnnya:
When: jalan tol ini sebenarnya sudah mulai diwacanakan sejak tahun 2004,
dimana pada saat ini berbagai kendala teknis dan non teknis menjadi penghambat
terealisasinya mega proyek ini. Sehingga di tahun 2009 sepertinya pemerintah
provinsi bali ikut ambil bagian ketika pemerintah pusat sedang mengatur
kebijakan percepatan ekonomi atau yang dikenal dengan MP3EI. Perencanaan
teknis terus dilakukan hingga tahun 2012 realisasi pembangunannya terlaksana.
Which: pemilihan jalan bypass ngurah rai dan simpang dewa ruci sebagai tempat
pembangunan jalan tol bukan tidak beralasan. Selain rencana pengembangan
bandara internasionalnya, akses di ruas jalan ini sangat padat. Lalu lintas menuju
dan dari arah bandara, pelabuhan alternatif benoa dan spot pariwisata sanur dan
nusa dua merupakan prioritas utama pemprov Bali untuk mengurangi kemacetan.
What: pembangunan jalan tol diatas laut ini merupakan keputusan yang efektif
mengingat secara teknis pembangunan jalan tol layang sangat tidak
dimungkinkan dilaksanakan di pulau dewata ini karena terbentur adat istiadat
masyarakat setempat. Selain itu juga, keputasan itu mampu menghemat anggaran
untuk pembebasan lahan yang cukup signifikan.
Who: Pemprov bali yang terkendala oleh pendanaan karena tidak mendapat
dukungan dari APBN tetap dapat merealisasikan proyek ini setelah melakukan
kerjasama melalui konsorsium BUMN yang sebagaian besar memang bergerak
dibidang konstruksi bangunan dan jasa jalan tol. Adanya pertimbangan jumlah
pengendara sepeda motor yang cukup banyak membuat keputusan untuk
menyediakan jalur tol khusus kendaraan bermotor roda dua. Diharapkan dengan
hadirnya jalan tol baru ini, aktifitas pariwisata di pulau Bali tidak terhambat oleh
kondisi lalu lintas yang padat.
III.3 Transportasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Salah
Pembangunan jalan tol mandara menimbulkan beberapa manfaat, yaitu:
1. Distribusi barang dan jasa menjadi lebih efisien dan efektif. Hal ini terbukti
dengan adanya jalan tol ini, proses distribusi barang menjadi lebih cepat.
2. Mengurai kemacetan yang terjadi di Bali Selatan.
3. Memberi nilai lebih sebagai kota tujuan wisata (landmark baru Pulau Bali)
4. Menarik minat investor untuk berinventasi dan berinovasi. Reklamasi daratan
memang bukan merupakan hal yang baru di Bali, akan tetapi untuk dapat
mereklamasi pulau dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah dibangunnya
jalan tol Bali Mandara ini. Rencana reklamasi ini selain merupakan dampak dari
beberapa pembangunan yang ada lainnya, seperti pengembangan bandara ngurah
rai yang hampir bersamaan dengan pembangunan jalan tol ini, juga berpengaruh
terhadap pembangunan wilayah provinsi Bali secara keselurahan. Hal ini sesuai
dengan teori transport and development yang menyebutkan bahwa jika
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sarana transportasi dilakukan dengan
baik, maka akan muncul suatu pembangunan yang berkelanjutan lainnya.
Diagram ini akan memberikan ilustrasi mengenai siklus dampak pembangunan
yang terjadi terkait dengan pembangunan jalan tol ini.

Pembangunan jalan tol Mandara tidak hanya memberikan manfaat, namun juga
memberikan dampak negative, yaitu:
1. Potensi kapatalisme tinggi, bertentangan dengan budaya masyarakat setempat
yang terancam keberlangsungannya adalah sistem penghormatan seseorang
berdasarkan kasta. Adanya kapitalisme yang muncul, jika tidak dikendalikan
menyebabkan penghormatan terhadap seseorang dinilai dari harta yang
dimilikinya. Jika penghormatan terhadap pemimpin memudar, tidak menutup
kemungkinan adat istiadat masyarakat setempat perlahan-lahan memundar dan
hilang.
2. Tarif tol yang relatif tinggi akibat investasi tidak berasal dari APBN murni Tidak
adanya subsidi dari pemerintah membuat investor menginginkan keuntungan
yang maksimal dalam proses bisnisnya.
3. Jumlah kendaraan pribadi meningkat. Peningkatan kemudahan untuk mengakses
daerah yang ingin dijangkau membuat setiap orang memiliki tuntunan lebih,
diantaranya kenyamanan yang bisa diperoleh dengan memiliki kendaraan pribadi.
4. Memicu terjadinya urbanisasi yang tinggi.
Solusi untuk mengatasi dampak negatif tersebut adalah:
1. Penetapan relugasi yang ketat terhadap investasi di bidang pariwisata. Selain
untuk melindungi usaha menegah dan kecil lokal, penetapan regulasi investasi di
bidang pariwisata juga dirasa penting untuk menjaga suasana kondusif budaya
yang ada. Aspek sosial juga harus menjadi pertimbangan pemerintah dalam
menyetujuinya.
2. Pembatasan jumlah kendaraan dengan peraturan daerah. Adanya peraturan
mengenai batas tahun minimal kendaraan yang diperbolehkan masuk ke pulau
Bali merupakan tindakan awal yang cukup baik dilakukan oleh pemerintah
provinsi Bali.
3. Pengembangan transportasi umum dengan mulai mengembangkan transportasi
umum yang memadai selain pengembangan pembangunan jalan yang kurang lagi
efektif untuk dilakukan karena keterbatasan lahan.
4. Peningkatan kualitas public services dari return values investment. Dalam teori
transport and development disebutkan bahwa beberapa hal yang sering
dikorbankan oleh pembangunan infrastruktur transportasi adalah public services.
Pemerintah daerah yang berfokus menyediakan alokasi pendapatan wilayahnya
hanya untuk infrastruktur fisik sering melupakan kesejahteraan masyarakatnya
diluar dari dampak langsung terhadap pembangunan tersebut. Seharusnya terdapat
beberapa persen dari nilai balik investasi untuk menyelenggarakan program yang
menguntungkan rakyat kecil, seperti bebas biaya sekolah, dll.

IV. KESIMPULAN
Pembangunan Jalan Tol Bali Mandara merupakan program pemerintah
daerah untuk mendukung program MP3EI di sektor pariwisata dengan pembenahan
transportasi darat. Pembangunan jalan tol Bali Mandara menjadi awal pembangunan
transportasi modern di pulau Bali. Hal tersebut terbukti melalui adanya masterplan
pembangunan jalan tol lainnya yang menghubungkan Bali wilayah selatan dengan
bali wilayah barat dan utara. Dampak positif di sektor ekonomi dapat dirasakan
langsung dengan pembangunan ini. Kebijakan pemerintah dibutuhkan untuk
mengurangi dampak negatif pembangunan jalan tol ini. Teori transport and
development yang digunakan hampir dapat mengungkap semua paradigm yang ada
akan tetapi tidak semua sesuai pada studi kasus ini, dampak negatif kenaikan harga
lahan tidak terjadi secara signifikan karena pembangunan jalan tol dilakukan diatas
laut merupakan salah satunya. Perencanaan transportasi yang baik dapat dibuktikan
dengan aspek-aspek yang terkait didalamnya mampu bersinergi dengan baik, maka
pembiayaan dana proyek bukan merupakan isu yang menjadi jalan buntu terciptanya
pembangunan. Perencanaan pembangunan yang baik mampu menciptakan
pembangunan yang berkelanjutan lebih jauh lagi akan mendorong banyak dampak
positif serta mengurangi permasalahan sosial yang biasa muncul di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Tamin, Ofyar. Z, 1997, Perencanaan dan Permodelan Transportasi, Bandung: ITB
Press.
Desai, Vandana and Potter, Robert B. (2002). The Companion to Development
Studies. United States of America: Oxford University Press Inc. Indonesian-
Investments (2013), Masterplan for Acceleration and Expansion of Indonesia's
Economic Development.
Mary, Siti Rakhma, MP3EI, Mendorong Pertumbuhan dengan Mempercepat
Kehancuran, Program Hukum dan Resolusi Konflik HuMa
The Eddington Transport Study (2006). The Case for Action : Sir Rod Eddington’s
Advice to Government, Norwich: St. Clements House
http://regional.kompasiana.com/2014/05/26/dibalik-kemegahan-bali-mandara
657961.html (diakses pada 14 Mei 2015)