Anda di halaman 1dari 5

I.

Pengertian
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya
klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsang dari luar.
Halusinasi merupakan distorsi persepsi yang muncul dari berbagai indera (Stuart & Laraia,
2005 dalam Trimelia, 2011).
II. Rentang Respons
Respons neurobiologis individu dapat diidentifikasi sepanjang rentang respons adaptif
sampai maladaptif, menurut Stuart dan Laraia (1998) dalam Trimelia (2011) adalah
sebagai berikut:
Respons Adaptif Respons Maladaptif

 Pikiran logis  Pikiran kadang  Gangguan proses


 Persepsi akurat menyimpang pikir/delusi/waham
 Emosi konstan  Ilusi  Ketidakmampuan untuk
dengan pengalaman  Reaksi emosional mengalami emosi
 Perilaku sesuai berlebih/kurang  ketidakteraturan
 Hubungan sosial  Perilaku ganjil  Isolasi sosial
harmonis  Menarik diri  halusinasi

III. Faktor predisposisi menurut Trimelia (2011)


3.1 Predisposisi
1) Faktor biologis : Terdapat lesi pada area frontal, temporal dan limbik.
2) Faktor perkembangan : Rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga
menyebabkan individu tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi,
hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress adalah merupakan salah
satu tugas perkembangan yang terganggu.
3) Faktor sosiokultural : Individu yang merasa tidak diterima lingkungannya akan
merasa disingkirkan, kesepian dan tidak percaya pada lingkungannya.
4) Faktor biokimia : Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebihan dialami individu maka didalam tubuh akan
dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusogenik neurokimia seperti
Buffofenon dan Dimetytransferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neurotransmiter otak. Misalnya terjadi
ketidakseimbangan Acetylcholin dan Dopamin.
5) Faktor psikologis : Tipe kepribadian yang lemah dan tidak bertanggung jawab
mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Selain itu ibu yang
pencemas, overprotektif, dingin, tidak sensitif, pola asuh tidak adekuat, konflik
perkawinan, koping tidak adekuat juga berpengaruh pada ketidakmampuan
individu dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya.
Individu lebih memilih kesenangan sesaat dan lari alam nyata menuju alam
nyata.
6) Faktor genetik : Penelitian menunjukkan bahwa anak yang di asuh oleh
orangtua skizofrenia cenderung akan mengalami skizofrenia juga.
IV. Faktor Presipitasi menurut Trimelia (2011):
1) Biologis : Stressor biologis yang berhubungan dengan respons neurobiologik
yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur proses informasi dan adanya abnormalitas pada mekanisme pintu
masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi rangsangan.
2) Pemicu gejala : Pemicu atau stimulus yang sering menimbulkan episode baru
suatu penyakit yang biasanya terdapat pada respons neurobiologis yang
maladaptif berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku
individu.
V. Manifestasi klinis / tanda dan gejala
Menurut Stuart & Sundeen (1998) dan Carpenito (1997) dalam Trimelia (2011), data
subjektif dan objektif pasien halusinasi adalah sebagai berikut:
- Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
- Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
- Gerakan mata cepat
- Respons verbal lamban atau diam
- Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan
- Terlihat bicara sendiri
- Menggerakkan bola mata dengan cepat
- Bergerak seperti membuang atau mengambil sesuatu
- Duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba lari keruangan lain
- Disorientasi (waktu, tempat, orang)
- Perubahan kemampuan dan memecahkan masalah
- Perubahan perilaku dan pola komunikasi
- Gelisah, ketakutan, ansietas
- Peka rangsang
- Melaporkan adanya halusinasi.
VI. Pohon Masalah / Patway

Effect Risiko Tinggi Perilaku Kekerasan


Core Problem Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
Causa Isolasi Sosal
Harga Diri Rendah Kronis
Pohon masalah perubahan persepsi sensori: Halusinasi (Fitria, 2014)
VII. Proses Keperawatan
7.1 Pengkajian:
- Subjektif: Pasien mengatakan mendengar sesuatu, mengatakan melihat bayangan
putih, dirinya seperti disengat listrik, mencium bau bauan yang tidak sedap, seperti
feses, kepalanya melayang diudara, merasakan ada sesuatu yang berbeda pada
dirinya.
- Objektif: Pasien terlihat bicara atau tertawa sendiri saat dikaji, bersikap seperti
mendengarkan sesuatu, berhenti berbicara ditengah-tengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu, disorientasi, konsentrasi rendah, pikiran cepat berubah-
ubah, kekacauan alur pikiran.
7.2 Diagnosis keperawatan : Perubahan persepsi sensori: Halusinasi
7.3 Rencana Tindakan Keperawatan menurut Fitria (2014): melaksanakan SP
Halusinasi
VIII. Strategi Pelaksanaan Tindakan menurut Fitria (2014)
a. SP Klien: SP 1
- Mengidentifikasi jenis halusinasi
- Mengidentifikasi isi halusinasi
- Mengidentifikasi waktu halusinasi
- Mengidentifikasi frekuensi halusinasi
- Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
- Mengidentifikasi respons pasienterhadap halusinasi
- Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
- Mengajarkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal
kegiatan harian
SP 2
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
- Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain.
- Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
SP 3
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
- Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan
(kegiatan yang bisa dilakukan dirumah).
- Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
SP 4
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
- Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
- Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
b. SP Keluarga: SP 1
- Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
- Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala serta proses terjadinya halusinasi.
- Menjelaskan cara merawat klien dengan halusinasi.
SP 2
- Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan halusinasi.
- Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien.
SP 3
- Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk minum
obat (discharge planning).
- Menjelaskan follow up klien setelah pulang.
IX. Daftar Pustaka

Fitria, Nita. 2014. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
stretegi pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat bagi program S1 keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.

Trimelia. 2011. Asuhan Keperawatan Klien Isolasi Sosial. Jakarta: TIM.

Palangka Raya, September 2018


Ners Muda,

(Lisia Fransiska L.Djungan)


Preseptor Akademik, Preseptor Klinik IGD,

( ) ( )
Mengetahui,
Preseptor Klinik RSJ Kalawa Atei

( )