Anda di halaman 1dari 7

Tuduhan Dusta Terhadap Istri Rasulullah “Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan,

tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya


Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan
wa sallam meriwayatkan, “Biasanya sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia.
keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun
mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di menemukan kalungku setelah para tentara berlalu.
antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat
keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan
undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”
beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun
berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa “Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk
sallam. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-
diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani tertinggal di
punggung onta) lalu berjalan bersama belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kembali sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-
dari perang tersebut. hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun
Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah
malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun
aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa
menunaikan keperluanku. Ketika telah usai, aku kembali inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku
ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara
kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari
lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan
tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta,
membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata
ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka dengan menuntun kendaraanu sehingga kami dapat
beranggapan bahwa aku berada di dalamnya. menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak
seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina).
Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin “Ketika itu aku ingin mengetahui secara pasti berita
Ubay bin Salul.” tersebut dari kedua orang tuaku. Rasulullah shallallahu
“Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah ‘alaihi wa sallam mengizinkanku datang kepada kedua
sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. orang tuaku. Lantas aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai
Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-
pembohong. Aku tidak tahu mengenai hal tersebut sama orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-
sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa apa. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik
sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku yang dicintai oleh suaminya sementara ia mempunyai
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya banyak madu melainkan para madu tersebut sering
aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya menyebut-nyebut aibnya.’ Lantas aku berkata, ‘Maha
masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan
keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi hal ini.’ Maka, aku menangis pada malam tersebut
aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur
aku keluar rumah.” sama sekali. Kemudian di pagi hari pun aku masih
“Lalu aku dan Ummu Misthah berangkat. Dia adalah putri menangis.”
Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
adalah puteri Shakhr bin Amr, bibi Abu Bakar ash- “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Anaknya bernama Misthah sallam memanggil Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
bin Utsatsah bin Ubbad bin Abdul Muththalib bin Abdu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ketika
Manaf. Lantas aku dan putri Abu Ruhm, Ummu Misthah wahyu tidak segera turun. Beliau shallallahu ‘alaihi wa
terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. sallam bertanya kepada keduanya dan meminta
Kontan ia berujar, ‘Celakalah Misthah.’ Lantas aku pendapat kepada keduanya perihal menceraikan
berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. istrinya.”
Kamu mencela seorang lelaki yang ikut serta dalam Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,
perang Badr.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau belum “Sedangkan Usamah radhiyallahu ‘anhu memberi
mendengar apa yang telah ia katakan?’ Aku bertanya, pendapat keapda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
‘Memang apa yang ia katakan?’ Ia pun menceritakan sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri
kepadaku mengenai ucapan para pembuat berita bohong beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia
(bahwa Aisyah telah berzina). Aku pun bertambah sakit.” ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usamah
“Ketika aku pulang ke rumah, aku berkata, ‘Bawalah aku mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Mereka adalah istri-
keapda kedua orang tuaku!” istrimu, menurut pengetahuan kami mereka hanyalah
orang-orang yang baik.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri.
Rasulullah! Allah tidak akan memberikan kesempitan Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj, maka apa yang
kepadamu. Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami
engkau bertanya kepada seorang budak perempuan, melaksanakan perintahmu.”
pasti ia akan berkata jujur kepadamu.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri.
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki
“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata
sallam memanggil Barirah radhiyallahu ‘anhu. Beliau kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu
bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat ada bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya
sesuatu yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal
melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.”
lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia
yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia
keluarganya, sehingga binatang piarannya datang, lalu berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu,
memakan adonan rotinya.” ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan
“Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk
atas mimbar seraya bersabda, ‘Wahai kaum muslimin! membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan
Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga
yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak hampir saja mereka saling membunuh padahal
mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas
mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan
datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsendiri juga
“Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari radhiyallahu terdiam.”
‘anhu berdiri lalu berkata, ‘Aku akan membelamu wahai Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
Rasulullah! Jika ia dari kabilah Aus, maka akan kami “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes
tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara- tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang
saudara kami kalangan Khazraj, maka apa yang engkau tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah
perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan hatiku.”
perintahmu.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,
“Ketika keduanya sedang duduk di sampingku namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu
sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang apa yang harus aku sampaikan kepada
perempuan dari kalangan Anshar meminta izin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku
kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih
sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah
Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika
duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kuktakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan
duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari
telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku.
perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu
sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya,
seraya berkata, ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi
sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian
dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan
tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan oleh Nabi Yusuf Alaihi Salam:
membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik
maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-
Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat
dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa tidurku.”
Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah “Aku wallahu a’lam ketika itu terbebas dan Allah-lah yang
selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah,
mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu
satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini.
sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan
wa sallam atas nama aku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, oleh Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadi sesuatu yang
aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di
berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas
Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”
tuduhan tersebut.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan
“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka
sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anha –beliau adalah orang yang
belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang memberikan nafkah kepada Misthah bin
keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan
wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa kerabat dan karena ia orang fakir- berkata, ‘Demi Allah,
sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai- aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk
sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’
padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat
lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” berikut:
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan
“Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum
tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang
katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka
wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah
Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur:
‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali 22)
hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah.
menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut: Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak
bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata,
kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya
bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu
dari mereka mendapat balasan dari dosa yang ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu
mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai
bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An- persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang
Nur: 11) kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab,
‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan Keenam, menjaga tatakrama yang baik bersama
penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah perempuan bukan mahram, terutama ketika di tempat
baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di sepi bersamanya dalam kondisi darurat, baik di tanah
antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lapang atau di tempat lain sebagaimana yang dilakukan
menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi oleh Shafwan radhiyallahu ‘anha, yaitu menderumkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat onta tanpa berbicara dan tanpa bertanya. Di samping itu,
wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti seyogyanya ia berjalan di depan perempuan tersebut,
Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. tidak di sampingnya, dan tidak pula di belakangnya.
Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” Ketujuh, sunnah membaca istirja, yaitu bacaan inna
“Ketahulah bahwa di dalam hadis tentang cerita bohong lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika tertimpa musibah, baik
ini terkandung beberapa faedah, yaitu: dalam bidang agama atau dunia, baik menimpa pada diri
sendiri maupun orang lain.
Pertama, kewajiban mengundi di antara beberapa istri Kesembilan, disunnahkan menutupi desas-desus
ketika hendak mengajak pergi sebagian di antara mengenai seseorang dari orang yang bersangkutan jika
mereka. tidak ada gunanya menuturkan isu tersebut,
Kedua, bolehnya seorang suami bepergian dengan sebagaimana mereka menyembunyikan isu tersebut dari
istrinya, mengajak istri safar berperang, kaum Aisyah radhiyallahu ‘anha selama sebulan. Setelah itu,
perempuan menaiki sekedup, dan laki-laki melayani Aisyah radhiyallahu ‘anha baru mendengarnya lantaran
perempuan ketika dalam perjalanan. ada suatu kejadian, yaitu pernyataan Ummi Misthah yang
Ketiga, boleh bagi kaum perempuan keluar untuk mencela Misthah.
memenuhi kebutuhannya tanpa izin suami. Ini termasuk Kesepuluh, sunnah bagi seorang suami bersikap lemah
hal-hal pengecualian. lembut dan berinteraksi dengan baik terhadap istrinya.
Keempat, seseorang yang menaikkan perempuan ke Dan apabila ada sesuatu yang dapat menghalangi
atas onta dan kendaraan lainnya tidak boleh mengajak hubungannya dengan istri dan lain sebagainya, maka
bicara perempuan tersebut jika bukan mahramnya suami mengurangi sikap lemah lembutnya dan
kecuali karena suatu kebutuhan. Sebab, para sahabat sebagainya agar istrinya paham bahwa ada sesuatu
hanya membawa sekedup. Mereka tidak mengajak yang terjadi, sehingga si istri menanyakan penyebabnya,
bicara orang yang mereka duga ada di dalam sekedup. lalu ia dapat melenyapkannya.
Kelima, menolong orang yang butuh pertolongan, Kesebelas, apabila seorang perempuan hendak keluar
membantu orang yang terpisah dari rombongannya, untuk memenuhi kebutuhannya, maka disunnahkan
menyelamatkan orang hilang, dan memuliakan orang baginya ditemani oleh perempuan lain yang dapat
yang mempunyai kedudukan sebagaimana yang membuatnya nyaman dan tidak diganggu oleh orang lain.
dilakukan oleh Shafwan radhiyallahu ‘anhu.
Kedua belas, seorang istri tidak diperkenankan pergi ke Read more https://kisahmuslim.com/3271-tuduhan-dusta-
rumah orang tuanya kecuali dengan izin suaminya. terhadap-istri-rasulullah.html#more-3271
Ketiga belas, sunnah bagi suami meminta pendapat
kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-
temannya mengenai persoalan yan gdihadapinya.
Keempat belas, terbebasnya Aisyah radhiyallahu
‘anha dari cerita bohong yang dituduhkan kepadanya. Ia
telah terbebas secara pasti berdasarkan nash Alquran.
Jadi, seandainya ada seseorang yang meragukannya,
wal-iyadzu billah, maka ia menjadi kafir dan murtad
berdasarkan ijma kaum muslimin.
Kelima belas, keutamaan-keutamaan Abu
Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagaimana tercantum dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan
dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa
mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum
kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang
yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka
mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur:
22)
Keenam belas, sunnah bersilaturrahim meskipun
kepada orang-orang yang buruk serta sunnah memberi
maaf kepada orang yang berbuat buruk.
Ketujuh belas, orang yang telah mengucapkan suatu
sumpah dan memandang ada sesuatu lain yang lebih
baik daripada mengikuti sumpahnya, maka disunnahkan
baginya melakukan sesuatu yang lebih baik dan mebayar
kaffarat atas sumpahnya tersebut.”