Anda di halaman 1dari 25

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Definisi
Asma adalah suatu kadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan
bronkus yang berulang namun reversibel, dan diantara episode penyempitan
bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. Keadaan ini pada
orang-orang yang rentan terkena asma mudah ditimbulkan oleh berbagai
rangsangan, yang menandakan suatu keadaan hipere aktivitas bronkus yang khas. .Penyakit
asma adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penyempitan saluran pernapasan
sementara waktu sehingga sulit bernapas. Asma terjadi ketika ada kepekaan yang
meningkat terhadap rangsangan dari lingkungan sebagai pemicunya. Diantaranya adalah
dikarenakan gangguan emosi, kelelahan jasmani,perubahan cuaca, temperatur,
debu, asap, bau-bauan yang merangsang, infeksi saluran napas, faktor makanan
dan reaksi alergi.

Penyakit asma bronkial di masyarakat sering disebut sebagai bengek, asma,


mengi, ampek, sasak angok, dan berbagai istilah lokal lainnya. Asma merupakan
suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel,
ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan
bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan
nafas.

Orang yang menderita asma memiliki ketidak mampuan mendasar dalam


mencapai angka aliran udara normal selama pernapasan (terutama pada ekspirasi).
Ketidak mampuan ini tercermin dengan rendahnya volume udara yang dihasilkan
sewaktu melakukan usaha eksirasi paksa pada detik pertama. Karena banyak saluran udara
yang menyempit tidak dapat dialiri dan dikosongkan secara cepat,tidak terjadi
aerasi paru dan hilangnya ruang penyesuaian normal antara ventilasidan aliran
darah paru. Turbulensi arus udara dan getaran mukus bronkus mengakibatkan
suara mengi yang terdengar jelas selama serangan asma, namun tanda fisik ini
juga terlihat mencolok pada masalah saluran napas obstruktif.Diantara serangan
asma, pasien bebas dari mengi dan gejala, walaupun reaktivitas bronkus
meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap berlanjut. Namun, pada asmakronik,
masa tanpa serangan dapat menghilang, sehingga mengakibatkan keadaan asma yang terus-
menenrus yang sering disertai infeksi bakteri sekunder.

2.1.2 Etiologi

Sampai saat ini etiologi dari asma bronchial belum diketahui. Berbagai teori
sudah diajukan, akan tetapi yang paling disepakati adalah adanya gangguan
parasimpatis (hiperaktivitas saraf kolinergik), gangguan simpatis (blok pada
reseptor beta adrenergic dan hiperaktifitas reseptor alfa adrenergik).

Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3


tipe, yaitu :

1. Ekstrinsik (alergik).

Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus


yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic
dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya
suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor
pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan
asma ekstrinsik.

2. Intrinsik (non alergik).

Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga
disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini
menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.

3. Asma gabungan

Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik.
Berdasarkan Keparahan Penyakitnya :

1. Asma intermiten
Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu, eksaserbasi ringan dalam beberapa
jam atau hari, gejala asma malam hari terjadi < 2 kali dalam 1 bulan, fungsi paru
normal dan asimtomatik di antara waktu serangan, Peak Expiratory Folw (PEF)
dan Forced Expiratory Value in 1 second (PEV1) > 80%

2. Asma ringan

Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu tetapi < 1 kali dalam 1 hari,
eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi > 2
kali dalam 1 bulan, PEF dan PEV1 > 80%

3. Asma sedang (moderate)

Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala
asma malam hari terjadi >1 kali dalam 1 minggu, menggunakan inhalasi beta 2
agonis kerja cepat dalam keseharian, PEF dan PEV1 >60% dan < 80%

4. Asma parah (severe)

Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam
hari sering terjadi, aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 <
60%

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronchial:

1. Faktor predisposisi

a. Genetik

2. Faktor presipitasi

a. Alergen

3. Perubahan cuaca
4. Stress

5. Lingkungan kerja

2.1.3 Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma
tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya.

Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada
interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil.
Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat,
alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan
menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya
histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient),
faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua factor-
faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil
maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot
polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat
meningkat.

Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada


selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa
menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian,
maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang
menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma
biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali
melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional
dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat
kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan
barrel chest.
2.1.4 Klasifikasi

Derajat Gejala Gejala malam Faal paru

Intermiten Gejala kurang dari Kurang dari 2 kali APE > 80%
1x/minggu dalam sebulan

Asimtomatik

Mild -Gejala lebih dari Lebih dari 2 kali APE >80%


persistan 1x/minggu tapi kurang dalam sebulan
dari 1x/hari

-Serangan dapat
menganggu aktivitas dan
tidur

Moderate -Setiap hari, Lebih 1 kali APE 60-


persistan dalam seminggu 80%
-Serangan 2
kali/seminggu, bisa
berahari-hari.

-Menggunakan obat
setiap hari

-Aktivitas & tidur


terganggu

Severe - Gejala Kontinyu Sering APE <60%


persistan
-Aktivitas terbatas

-Sering serangan
2.1.5 Manifestasi Klinis
Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai fase
inspirasi yang lebih pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi
mengi (wheezing), batuk yang disertai serangn napas yang kumat-kumatan. Pada
beberapa penderita asma, keluhan tersebut dapat ringan, sedang atau berat dan
sesak napas penderita timbul mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat
atau tiba-tiba menjadi lebih berat.

Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat ringannya wheezing


tergantung cepat atau lambatnya aliran udara yang keluar masuk paru. Bila
dijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot pernapasan, wheezing akan
terdengar lebih lemah atau tidak terdengar sama sekali. Batuk hamper selalu ada,
bahkan seringkali diikuti dengan dahak putih berbuih. Selain itu, makin kental
dahak, maka keluhan sesak akan semakin berat.

Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk
membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi ini
didapati juga pada pasien dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease
(COPD). Tanda lain yang menyertai sesak napas adalah pernapasan cuping
hidung yang sesuai dengan irama pernapasan. Frekuensi pernapasan terlihat
meningkat (takipneu), otot Bantu pernapasan ikut aktif, dan penderita tampak
gelisah. Pada fase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan PaO2
dan PaCO2, tetapi pH normal atau sedikit naik. Hipoventilasi yang terjadi
kemudian akan memperberat sesak napas, karena menyebabkan penurunan PaO2
dan pH serta meningkatkan PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan
darah dan denyut nadi sampai 110-130/menit, karena peningkatan konsentrasi
katekolamin dalam darah akibat respons hipoksemia.

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal.pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru yakni radiolusen yang bertambah
dan pelrburan rongga intercostalis,serta diafragma yang menurun.akan tetapi bila
terdapat komplikasi,maka kelainan yang didapat adalahsebagai berikut:
a. Bila disertai denga bronchitis,maka bercak-bercak dihilus akan
bertambah.
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD),maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi,maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelectasis lokal.
e. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperi
kardium, maka dapat dilihat bemtuk gambaran radiolusen pada paru.
2. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai allergen yang dapat
menimbulkan reaksi yan positif pada asma.

3. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi
menjadi bagian,dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema
paru yaitu:

a. Perubahan aksis jantung,yakni pada ummnya


b. Terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation.
c. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung,yakni terdapat RBB
(right bundle branch block).
d. Tanda-tanda hipoksemia,yakni terdapat sinus tachycardia, SVES, dan
VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
4. Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi
udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru.

5. Spirometri
Untuk menunjukan adanya obstruksi jalan nafas reversible,cara yang cepat
dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan
bronkodilator.
2.1.7 Penatalaksana Medis

Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :

1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.


2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan
asma
3. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai
penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya
sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan
bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkial terbagi 2, yaitu:

1. Pengobatan non farmakologik:

- Memberikan penyuluhan.
- Menghindari faktor pencetus.
- Pemberian cairan.
- Fisiotherapy.
- Beri O2 bila perlu.
2. Pengobatan farmakologik :
Bronkodilator

Nama obat :

- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutalin (bricasma)
3. Santin (teofilin)
Nama obat :
- Aminofilin (Amicam supp)
- Aminofilin (Euphilin Retard)
- Teofilin (Amilex)
4. Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan
asma.Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak-anak.
Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya
baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.

5. Ketolifen

Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin.Biasanya


diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari.Keuntungan obat ini adalah dapat
diberikan secara oral.
2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
agama dan alamat, serta data penanggung jawab.
2. Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Riwayat Kesehatan Dahulu
 Riwayat Kesehatan Keluarga
3. Pengkajian meliputi :
 Airway
 Kaji dan pertahankan jalan napas
 Lakukan head tilt, chin lift jika perlu
 Gunakan bantuan untuk memperbaiki jalan napas jika perlu
 Pertimbangkan untuk di rujuk ke anesthetist untuk dilakukan intubasi jika
tidak mampu untuk menjaga jalan napas atau pasien dalam kondisi terancam
kehidupannya atau pada asthma akut berat
 Jika pasien menunjukan gejala yang mengancam kehidupan, yakinkan
mendapat pertolongan medis secepatnya.
 Breathing
 Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, dengan tujuan
mempertahankan saturasi oksigen >92%
 Berikan aliran oksigen tinggi melalui non re-breath mask
 Pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask-ventilation
 Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk menkaji PaO2
dan PaCO2
 Kaji respiratory rate
 Jika pasien mampu, rekam Peak Expiratory Flow dan dokumentasikan
 Periksa system pernapasan cari tanda- tanda :
 Cyanosis
 Deviasi trachea
 Kesimetrisan pergerakan dada
 Retraksi dinding dada. Dengarkan adanya : wheezing, pengurangan aliran
udara masuk, silent chest berikan

 Berikan nebuliser bronchodilator melalui oksigen – salbutamol 5 mg dan


ipratropium 500mcg
 Berikan prednisolon 40 mg per oral atau hydrocortisone 100 mg IV setiap 6
jam
 Lakukan thorak photo untuk mengetahui adanya pneumothorak

 Circulation/ Sirkulasi

 Kaji denyut jantung dan rhytme


 Catat tekanan darah
 Lakukan EKG
 Berikan akses IV dan pertimbangkan pemberian magnesium sulphat 2 gram
dalam 20 menit
 Kaji intake output
 Jika potassium rendah makan berikan potassium

 Disability
 Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
 Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda ekstrim pertama dan pasien
membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive
 Exposure
 Pada saat pasien stabil dapat di tanyakan riwayat dan pemeriksaan lainnya.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Menurut teori Arif Muttaqin (2008), diagnose keperawatan yang biasa
muncul pada pasien dengan asma bronchial adalah :
1. Ketidak efektifan jalan napas berhubungan dengan adanya
bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronchus,
serta produksi yang berlebihan
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan pernafasan,
hipoksia, ancaman gagal napas, penyempitan bronkus
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan serangan asma menetap
4. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekua, anoreksia
5. Gangguan activity dayling living (ADL) berhubungan dengan kelemahan
fisik umum, keletihan
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat
mengenai proses penyakit dan pengobatannya

2.2.3 Intervensi Keperawatan


Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosa yang ada adalah :
1. Diagnosa keperawatan I :
Ketidak efektifan jalan napas berhubungan dengan adanya
bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronchus,
serta produksi yang berlebihan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pola napas kembali efektif
Kriteria hasil :
1. Napas tidak sesak
2. Sputum dapat dikeluarkan
3. Klien dapat bernapas dalam
Rencana tindakan :
1. Kaji jalan napas dan kedalaman pernafasan klien
Rasional : untuk mengetahui banyaknya sputum
2. Ajarkan klien teknik batuk efektif dan napas dalam
Rasional : untuk memudahkan mengeluarkan sputum
3. Berikan klien posisi semi fowler
Rasional : untuk meningkatkan ekspansi paru, mengurangi sesak
4. Anjurkan klien minum air hangat
Rasional : membantu mengencerkan sputum
5. Berikan inhalasi pada klien
Rasional : membantu mengencerkan dan mengeluarkan sputum

2. Diagnosa keperawatan II :
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan pernafasan,
hipoksia, ancaman gagal napas, penyempitan bronkus

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam


diharapkan pola napas kembali efektif
Kriteria hasil :
1. Pola napas efektif
2. Jalan napas bersih
3. Suara napas vesikuler
4. Klien tidak bernapas dengan menggunakan otot bantu pernafasan
Rencana tindakan :
1. Kaji kedalaman pernapasan klien
Rasional : untuk mengetahui ritme dan frekuensi pernapasan klien
2. Meninggikan kepala tempat tidur dan mengatur posisi klien
Rasional : duduk dengan meninggikan kepala tempat tidur memungkinkan
untuk memudahkan bernapas
3. Bantu klien napas dalam dan latihan batuk efektif
Rasional : untuk memudahkan pengeluaran sputum

3. Diagnosa Keperawatan III :


Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan serangan asma menetap,
supali oksigen yang tidak adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat
Kriteria hasil :
1. Dispnea hilang
2. Berpartisipasi dalam pengobatan
3. Analisa gas darah normal
4. Tanda tanda vital normal
Rencana tindakan:
1. Kaji frekuensi dan kedalaman pernapasan
Rasional : berguna dalam evaluasi derajat distress dan atau kronisnya proses
penyakit
2. Meninggikan kepala tempat tidur
Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi
dan latihan napas untuk menurunkan kolaps
3. Awasi tingkat kesadaran/status mental, selidiki adanya perubahan
Rasioanal : gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia
4. Awasi analisa gas darah dan nadi oksimetri
Rasional : Pa 002 normal/meningkat menandakan kegagalan pernapasan
yang akan datang selama asmatik

4. Diagnosa keperawatan IV
Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubung
dengan intake yang tidak adekuat, anoreksia
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil :
1. Klien menunjukan
2. Peningkatan berat beban
3. Nafsu makan baik
4. intake nutrisi adekuat
Rencana tindakan
1. Kaji kebiasan diet, masakan makanan hari ini.
Rasional: Pasien distress pernapasan akut sering anoreksia karena dyspnea
2. Auskultasi bising usus
Rasional : Penurunan atau hipo aktif bising usus menunjukan penurunan
mortilitas gaster dan Konstipasi
3. Hindari makanan penghasil gas dan miniman berkarbonal
Rasional : dapat dihasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas
abdomen danger akan diafragma
4. Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna
Rasioanal : metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi
atas kebutuhan Individu

5. Diagnosa Keperawatan V
Gangguan activity dayling living (ADL) berhubungan dengan kelemahan
fisik umum,keletihan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pola napas kembali efektif
Kriteria hasil :
1. Klien bias beraktifitas seperti biasa
2. Klien tidak sesak
3. klien bias memenuhi kenutuhan sendiri
4. frekuensi pernapasan dalam batas normal (16-20/menit)
Rencana Tindakan :
1. Berikan lingkungan yang aman dan batasi pengunjung
Rasional : menurunkan stress dan rangsangan yang berlebihan
2. Kaji repon klien sebelum dan sesudah aktifitas
Rasional : untuk mengetahui reaksi klien waktu melakukan aktifitas dan
tidak
3. Bantu klien menentukan posisi yang nyaman
Rasional : agar klien bias menentukan posisi yang nyaman dan dapat
mengurangi nyeri
4. Kaji klien terhadap sianosis
Rasional : bila ada sianosis kemungkinan terjadi gangguan supalai oksigen
tidak adekuat kedalam jaringan
5. Bantu aktivitas perawatan individu yang diperlukan
Rasional : meminimalkan kelelahan

6. Diagnosa keperawatan VI
Kurang pengetahuan berhubungan dengan inforamasi yang tidak adekuat
mengenai proses penyakit dan pengobatannya
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pengetahuan klien meningkat
Kriteria hasil :
1. klien dapat mengerti tentang asma
2. klien dapat mengetahui tanda gejala asma
3. klien dapat mengetahui penyakit asma
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat pemahaman klien tentang penyakit, perwatan dan pengobatan
Rasional : mengetahui sejauh mana pemahaman klien tentang penyakit dan
pengobatannya
2. Berikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga tentang asma
3. Rasional : dengan pendidikan kesehatan diharapkan pengetahuan klien
tentang penyakitnya meningkat sehingga dapat koopratif dalam program
pengobatan
4. Minta klien secara verbal untuk menjelaskan kembali tentang yang
dijelaskan dari pendidikan kesehatan
5. Rasional : menilai sejauh mana klien sudah mengerti terhadap penjelasan
yang diberikan
6. Berikan reinforcement positif
Rasional : meningkatkan motivasi dan percaya diri klien

2.2.4 Pelaksanaan Keperawatan


Pelaksanaan adalah inisiatif dan rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik
1. Tahapan pelakasaan terdiri dari
a. Persiapan
Kesiapan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan :
1) Review tindakan keperawatan yang didentifikasi pada tahap perencanaan
2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang diperlukan
3) Mengetahui komplikasi diri tindakan keperawatan yang mungkin timbul
4) Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang di perlukan
5) Mempersiapkan lingkungan yang kondusif sesuai dengan tindakan yang
dilakukan
6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etika terhadap resiko dari potensial
tindakan
b. Intervensi
Intervensi adalah kegiatan pelaksaan kegiatan pelaksaan tindakan dari
perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional Tindakan
keperawatan diadakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab serta
professional. Sebagaimana terdapat dalam standar praktek keperawatan
meliputi :
1) Independen
2) Interdependen
3) Dependent
4) Dokumentasi

2.2.5 Evaluasi Keperawatan


1. Tujuan evaluasi
Untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan perawat dapat
mengambil keputusan berdasarkan respon klien terhadap terhadap tindakan
keperawatan rencana tindakan keperawatan yang diberikan yakni :
a. Meyakini rencana tindakan keperawatan (klien tujuan yang ditetapkan)
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien menemui kesulitan
untuk mencapai tujuan)
2. Proses Evaluasi
a. Mengatur mencapai tujuan
b. Membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan percapaian tujuan
(penentuan keputusan sampai tahap evaluasi) pada tahap ini ada 3 kepuasan
yakni :
1) Klien telah mencapai hasil yang telah ditentukan dalam tujuan
2) Klien masih dalam proses hasil yang ditentukan
3) Klien tidak dapat mencapai hasil yang telah ditentukan ada dua
komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatanya itu :
 Proses (formatif)
Fokus tipe evaluasi hasil adalah aktivitas dari proses keperawatan dan
kuantitas pelayanan tindakan keperawatan system penulisan pada tahap
evaluasi ini dapat menggunakan system “SOAP” atau model
dokumentasi lainnya
 Hasil (sumatif)
Focus hasil evaluasi adalah perubahan perilaku atau situs kesehatan klien
pada akhir tindakan keperawatan tipe ini dilaksanakan secara pari purna
pada akhir tindakan keperawatan, sunmatife evaluasi adalah objektif,
fleksibel dan efesien
3. Komponen Evaluasi
Dibagi menjadi 5 komponenya itu
a. Mentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi
b. Mengungkapkan dan menyertai keadaan klien terbaru
c. Menganalisa dan membandingi data terhadap kriteria dan standar
d. Merangkum hasil dan membuat kumpulan
e. Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan
CONTOH KASUS

Ny. P berusia 68 tahun masuk IGD RS X pada tanggal 4 maret 2015, pukul 09.00
WIB dengan keluhan sesak nafas. Ny. P datang bersama keluarga, saat
pemeriksaan TTV di dapat kan hasil : TD = 110/70 MmmHg, N = 96x/menit, RR
= 36x/menit. Tingkat kesadaran Ny. P Composmentis.

1. Identitas Klien

Nama : Ny. P

Umur : 68 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : SD

Agama : Islam

No RM : 247234

Alamat : Purwokerto

Tanggal Masuk : 4 Maret 2015, Pukul 09.00 WIB

2. Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit sekarang : pasien datang ke IGD dengan keluhan sesak napas
sejak tadi pagi karena udara yang dingin, ± 2 jam yang lalu pasien mendadak
merasa sesak napas, semakin lama napas terasa semakin sesak, napas cepat dan
dangkal, kemudian pasien dibawa ke rumah sakit
Riwayat penyakit dahulu : Pasien sebelumnya ± 7 tahun yang lalu pernah
dirawat dirumah sakit dengan penyakit yang sama tapi tidak separah ini.
Riwayat penyakit keluarga : Keluarga pasien mempunyai riwayat penyakit
asma yaitu ibu pasien.
3. Pengkajian Primer
Airway : Tidak terdapat adanya sumbatan (secret ataupun darah), lidah tidak
jatuh kebelakang, pasien kesulitan bernafas, batu-batuk, pasien kesulitan bersuara,
terdengar wheezing.
Breathing : Terlihat Pengembangan dada kanan dan kiri simestris, pasien
kesulitan saaat bernafas, RR : 36x/menit, irama nafas tidak teratur, nafas cuping
hidung, terlihat adanya penggunanaan otot bantu pernafasan
(sternokleidomastoid), nafas cepat dan pendek.
Circulation : TD : 110/70 mmHg, N : 96x/menit reguler, nadi teraba lemah,
terdengar suara jantung S1 dan S2 tunggal reguler, cappilary refille kembali <3
detik, tidak terdapat sianosis, akral hangat.
Disability : Kesadaran pasien compos mentis dengan GCS (E4, M6, V5),
pasien mengatakan cemas tentang kondisinya saat ini, pasien gelisah, terlihat tidak
tenang dan mengulang kata-kata.
Exposure : Rambut beruban dan kulit kepala tampak bersih tidak teradapat
hematoma, tidak terdapat luka pada tubuh pasien dan keluar keringat banyak.

4. Pengkajian Sekunder
1. Tingkat kesadaran : CM
2. GCS : E4 M6 V5
3. TTV : TD = 110/70 mmHg, N = 96x/menit, RR = 36x/menit, S = 36˚C
4. Pemeriksaan Fisik :
a. Kepala : Rambut beruban, kepala bersih, tidak ada hematom
b. Mata : Ukuran pupil kanan atau kiri (3mm/3mm), rangsangan cahaya pupil
kanan atau kiri (+/+)
c. Mulut :Sianosis, mukosa bibir kering.
d. Hidung : Tidak ada polip, bersih, nafas cuping hidung.
e. Telinga : Simestris, bersih, tidak ada serumen.
f. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
g. Dada : Paru-paru
I : Pengembangan dada simestris, tampak penggunaan otot bantu pernafasan
Pal : Vocal fremitus kanan kiri
Per : Sonor
A : Terdengar Wheezing, ekspirasi memanjang
h. Ekstremitas : akral hangat
Ekstremitas atas : CRT <3 detik, tidak ada edema
Ekstremitas bawah : Tidak ada edema

5. Pengkajian Ample
a. Alergi : Pasien memiliki alergi terhadap dingin
b. Medikasi : Pasien sebelum dibawa ke RS sudah menggunakan obat pelega
nafas (Vaporub) tapi tetap sesak.
c. Postilness : Pasien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti flu
d. Lastmeal : Pasien makan tadi pagi ± 2 jam sebelum dibawa kerumah sakit,
terakhir pasien mengkonsumsi nasi dengan sayur dan lauk pauk serta
minum es tawar.
e. Enviroment : Pasien tinggal dengan suami dan kedua anaknya, pasien
tinggal didesa dekat dengan sawah dan lingkungan pasien cukup padat
penduduk, keluarga menagatakan sirkulasi dirumah cukup baik.
6. Analisa Data

No Analisa Data Etiologi Problem


DX
1 DS : Klien mengatakan sesak Bronkospasme Ketidakefektifan
nafas bersihan jalan
DO : nafas
 RR : 36x/menit
 Pasien kesulitan bernafas,
batu-batuk, pasien kesuliatan
bersuara, terdengar suara nafas
wheezing
2 DS : Pasien mengatakan cemas Perubahan status Ansietas
DO : kesehatan
 Pasien gelisah, pasien keluar
keringat banyak, pasien
mengulang kata-kata, pasien
terlihat tidak tenang.

7. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidaefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan agen cedera
biologis, bronkhospasme
b. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

8. Intervensi Keperawatan

No Tujuan Untervensi Keperawatan Ttd


DX
1 Setelah dilakukan a. Jauhkan pasien dari
tindakan 1x24 jam, kerumunan orang
diharapkan jalan b. Berikan posisi semi fowler
nafas menjadi c. Tenangkan pasien
efektif dengan d. Hindarkan dari allergen
kriteria hasil : (dingin, debu, bulu kucing
 Sesak nafas dll)
berkurang e. Ajarkan batuk efektif
 Wheezing tidak f. Kolaborasi dengan dokter
terdengar dalam pemberian obat
bronchodilator
g. Auskultasi bunyi nafas
2 Setelah dilakukan a. Evaluasi tingkat kecemasan
tindakan 1x24 jam, b. Evaluasi reaksi fisik
diharapkan cemas nonverbal
berkurang dengan c. Tenangkan pasien
kriteria hasil : d. Gunakan pendekatan dan
 Pasien komunikasi terapeutik
menyatakan e. Berikan penjelasan tentang
cemas kondisi saat ini yang dialami
berkurang klien
 Pasien tenang f. Anjurkan keluarga untuk
dan rileks selalu mendampingi dan
memberikan support
g. Anjurkan pasien untuk berdoa
lebih tenang
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Asma bronchial adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif
intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode
bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas. Berdasarkan
penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
Ekstrinsik (alergik), Intrinsik (non alergik) ,Asma gabungan.
Dan ada beberapa hal yang merupakan faktor penyebab timbulnya serangan
asma bronkhial yaitu : faktor predisposisi(genetic), faktor presipitasi(alergen,
perubahan cuaca, stress, lingkungan kerja, olahraga/ aktifitas jasmani yang berat).
Pencegahan serangan asma dapat dilakukan dengan :
1) Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi
2) Menghindari kelelahan
3) Menghindari stress psikis
4) Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin
5) Olahraga renang, senam asma

3.2 Saran
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan kepada semua pembaca agar dapat
menelaah dan memahami apa yang telah terulis dalam makalah ini sehingga
sedikit banyak bisa menambah pengetahuan pembaca. Disamping itu saya juga
mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehinga kami bisa berorientasi
lebih baik pada makalah kami selanjutnya.