Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ANALISIS GIZI KESEHATAN MASYARAKAT PESISIR DAN


KEPULAUAN
Dosen Pengajar :
1. dr. Nancy S. H Malonda, MPH
2. Prof. dr. Nova H. Kapantouw, DAN,MSc,SpGK
3. Maureen I. Punuh, SKM, M.Si
4. dr. Marsella D. Amisi, M.Gizi
5. Yulianti Sanggelorang, SKM, MPH

“Masalah Gizi Obesitas pada Masyarakat Pesisir dan Kepualuan”

DISUSUN OLEH:
SEMESTER 5 GIZI
KELOMPOK 5

SELVI 17111101067
NOVRANKA LENETTE 17111101170
VIRGINIA I. KOESNADI 17111101178

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua berupa ilmu dan amal. Dan berkat
rahmat dan karunia-Nya pula, kami dapat menyelesaikan makalah Analisi Gizi
Kesehatan Masyarakat Pesisir dan Kepulauan yang berjudul “Masalah Gizi
Obesitas pada Masyarakat Pesisir dan Kepulauan” yang dapat selesai seperti waktu
yang telah kami rencanakan.

Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang telah
memberikan bantuan secara materil dan moril, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan kami, makalah ini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Analisi Gizi Kesehatan
Masyarakat Pesisir dan Kepulauan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Kritik
dan saran yang membangun sangat kami butuhkan untuk dijadikan pedoman dalam
penulisan kearah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Amin

Manado, 21 Agustus 2019

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 2

1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................... 2

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Klasifikasi Obesitas .............................................................. 3

2.2 Penyebab Masalah Obesitas ........................................................................... 4

2.2.1 Penyebab Obesitas Secara Langsung .................................................... 4

2.2.2 Penyebab Obesitas secara Tidak Langsung .......................................... 7

2.3 Analisis Situasi ................................................................................................ 9

2.3.1 Prevalensi Masalah Obesitas setiap Provinsi ........................................ 9

2.3.2 Perbandingan Prevalensi Obesitas Tahun 2013 dan Tahun 2018 ....... 10

2.4 Penyakit akibat Obesitas .............................................................................. 10

2.5 Pencegahan dan Penanganan Obesitas .......................................................... 13

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 16

3.2 Saran .............................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obesitas merupakan suatu keadaan di mana terjadi penumpukan lemak berlebih di
dalam tubuh. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko munculnya berbagai
penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan stroke yang merupakan penyakit
penyebab kematian terbesar penduduk dunia.
Menurut WHO tahun 2014, secara umum kegemukan dan obesitas adalah
suatu kondisi abnormal yang ditandai oleh peningkatan lemak tubuh berlebihan,
umumnya ditimbun di jaringan subkutan, sekitar organ, dan kadang terinfliltrasi ke
dalam organ.
Saat ini prevalensi obesitas meningkat sangat tajam di seluruh dunia, yang
mencapai tingkatan yang membahayakan. Penderita obesitas di Indonseia terus
bertambah dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) 2018
menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia mengalami obesitas sebesar
21,8%. Prevalensi obesitas pada dewasa umur >18 tahun mengalami peningkatan
dari tahun 2013 (14,8%) menjadi 21,8% pada tahun 2018. Provinsi Sulawesi Utara
merupakan provinsi dengan prevalensi penduduk mengalami obesitas terbanyak.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian obesitas di antaranya
yaitu tingkat pengetahuan dan pekerjaan, asupan makanan, stress, aktivitas fisik,
kebiasaan makan yang salah diantaranya berlebihan, makan terburu-buru, tidak
sarapan pagi, waktu makan yang tidak teratur. Penyebab utama terjadinya obesitas
adalah ketidakseimbangan antara konsumsi berlebih dibandingkan dengan
kebutuhan atau pemakaian energi (Almastier,2001). Bila energi yang masuk
berlebihan dan tidak diimbangi akan memudahkan seseorang menjadi gemuk.
Aktivitas fisik diperlukan untuk proses pembakaran energi tubuh.
Obesitas tidak hanya ditemukan pada penduduk dewasa, tetapi juga pada
anak-anak dan remaja. Meskipun jumlah orang yang menjalani diet atau melakukan
senam kebugaran bertambah, jumlah penderita obesitas terus meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian obesitas?
2. Apa saja yang menjadi penyebab terjadinya obesitas di wilayah pesisir dan
kepulauan?
3. Berapa prevalensi obesitas di setiap provinsi dan perbandingan prevalensi
obesitas antara tahun 2013 dan tahun 2018?
4. apa saja penyakit akibat obesitas?
5. Bagaimana cara pencegahan dan penanganan obesitas di Kawasan pesisir
dan kepulauan?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk menjelaskan pengertian obesitas
2. Untuk menjelaskan penyebab terjadinya obesitas di Kawasan pesisir dan
kepulauan.
3. Untuk menjelaskan prevalensi obesitas di tiap provinsi dan perbandingan
prevalensi obesitas antara tahun 2013 dan tahun 2018
4. Untuk menjelaskan penyakit-penyakit akibat obesitas
5. Untuk menjelaskan cara mencegah atau menangani obesitas di Kawasan
pesisir dan kepulauan.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Agar pembaca dapat mengetahui dan memahami masalah obesitas dan
penyebabnya.
2. Agar pembaca dapat mengetahui cara mencegah atau menangani masalah
obesitas.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Klasifikasi Obesitas
2.1.1 Pengertian Obesitas
Obesitas adalah suatu kondisi terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan
terhadap tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, dan etnisitas hingga pada
batas yang merugikan. Dalam praktik klinis dan riset epidemiologis, obesitas
paling sering didefinisikan sebagai indeks massa tubuh atau body mass index
(BMI), yaitu suatu ukuran yang dapat memperkirakan adipositas secara logis.
BMI diperoleh dengan membagi berat badan individu dalam satuan kilogram
dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (kg/m2) .

Menurut WHO (World Health Organizatition) tahun 2014, secara umum


kegemukan dan obesitas adalah suatu kondisi abnormal yang ditandai oleh
peningkatan lemak tubuh berlebihan, umumnya ditimbun di jaringan subkutan,
sekitar organ, dan kadang terinfliltrasi ke dalam organ.
Obesitas adalah penyakit gizi berupa akumulasi jaringan lemak secara
berlebihan di seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh perilaku makan yang
berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan, aktivitas fisik yang
rendah, gangguan psikologis, laju pertumbuhan yang sangat cepat, genetic atau
faktor keturunan juga gangguan hormone.

Obesitas biasanya disebabkan oleh masukan energi yang melebihi


kebutuhan tubuh dan biasanya disertai kurangnya aktivitas jasmani.

2.1.2 Klasifikasi Obesitas

Berbagai metode dipergunakan untuk mengukur penumpukan lemak di dalam


tubuh atau untuk menentukan status obesitas yang dialami seseorang. Status
obesitas pada orang dewasa dapat ditentuka secara antropometri dengan
menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh).

IMT merupakan perbandingan berat badan dengan tinggi badan kuadrat


(dalam meter persegi) dikatakan sebagai metode yang murah, dan mudah
dipergunakan serta merupakan indikator obesitas yang reliable.

3
Rumus untuk menghitung IMT

IMT= BB (kg)/TB (M2).

Table 2.1 Klasifikasi kegemukan berdasarkan indikatorIMT bagi orang dewasa


Indonesia (SK Menkes No. 41/2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang)
Klasifikasi Kategori IMT
Sangat Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat <17,0
Kurus Kekurangan berat badan tingkat ringan 17 - <18,5
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk (Overweight) Kelebihan berat badan tingkat ringan > 25,0 – 27,0
Obese Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
Sumber: Hardinsyah dan I D. Nyoman Supariasa. 2017. Ilmu Gizi Teori dan
Aplikasi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Obesitas secara klinis dinyatakan dalam bentuk indeks massa tubuh (IMT) ≥30
kg/m2. Wanita dikatakan obese bila lemak tubuhnya lebih dari 27% berat badan,
sedangkan laki-laki disebut obese bila lemak tubuhnya lebih dari 25% berat
badannya.

Obesitas digolongkan menjadi tiga kelompok:

a. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%


b. Obesitas sedang: kelebihan berat badan 41-100%
c. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%

2.2 Penyebab Masalah Obesitas


2.2.1 Penyebab Langsung
Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengonsumsi kalori lebih banyak dari
yang diperlukan oleh tubuh. Obesitas terjadi karena banyak faktor. Faktor
utama adalah ketidakseimbangan asupan energi dengan keluaran energi.

Masukan makanan, kekurangan energi, dan merupakan faktor yang


dianggap mengatur perlemakan tubuh dalam proses terjadinya kegemukan.

4
Ada dua faktor penyebab langsung obesitas:

a. Asupan Energi dan Keluaran Energi


Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya masalah obesitas adalah
ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi. Asupan
energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan sedangkan keluaran energi
menjadi rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas rendah. Makanan
semakin mudah didapat dan semakin murah di beberapa dunia karena
perkembangan pertanian, industry pengolahan makanan, serta makanan
kaya energi lebih banyak tersedia dan semakin mudah dan semakin cepat
didapatkan.
Seseorang yang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan
tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang akan mengalami obesitas.
Survei WHO menyatakan lebih dari 80% populasi remaja di dunia kurang
aktif dalam melakukan aktivitas fisik dan secara global 1 dari 4 orang
dewasa tidak cukup aktif dalam melakukan aktivitas fisik.
Penimbunan lemak terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara
jumlah energi yang dikonsumsi dan energi yang digunakan misalnya apa
yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana
aktivitasnya.

Terutama zat gizi makro yang menyebabkan kegemukan bila


dimakan secara berlebihan, zat gizi ini akan disimpan dalam bentuk lemak
tubuh dan akan meningkatkan berat badan secara keseluruhan. Adapun zat
gizi makro yang dapat mempengaruhi kenaikan berat badan jika dikonsumsi
berlebihan antara lain:
1. Karbohidrat
Karbohidrat memang merupakan peranan penting dalam alam karena
merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya
relative murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Fungsi
utama karbohidrat adalah Sumber energi pemberi rasa manis dari makanan,
penghemat protein, mengatur metabolisme lemak, membantu pengeluaran
feces (altemaster, 2003).

5
Dalam diet seimbang, dianjurkan 50-60 % kebutuhan kalori berasal dari
karbohidrat, kegunaan utama energi. Kegunaan lainnya sebagai energy
cadangan, komponen struktur sel, dan sumber serat (Sayogo, 2006).
2. Protein
Protein adalah molekul makro dan merupakan bagian terbesar setelah
air. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino yang terikat satu
sama lain dalam ikatan peptide. Protein ini mempunyai fungsi khusus yang
tidak tergantikan oleh zat lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel
dan jaringan tubuh.
Kebutuhan protein remaja berkisar antara 44-59 gr/hari. Tergantung
pada jenis kelamin dan umur. Protein juga menyuplai sekitar 12-14%
asupan energi selama masa anak dan remaja (Suandi, 2003).
3. Lemak
Lemak merupakan salah satu zat gizi makro yang berfungsi sebagai
sumber energi, lemak juga menghasilkan 9 kal/gr nya, sebagai pelumas
yaitu membantu pengeluaran sisa-sisa pencernaan dan metabolism,
memelihara suhu tubuh dan pelindung organ-organ vital. Depkes RI
menganjurkan untuk mengkonsumsi lemak kurang dari 25% total energi per
hari (Sayogo, 2006).

b. Faktor Kesehatan
Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
1. Hipotiroidisme
2. Sindroma Cushing
3. Sindroma Prader-Willi
4. Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak
makan.

6
2.2.2 Penyebab tidak Langsung
a. Faktor Genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab
genetik. Anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan
kebiasaan gaya hidup yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Penelitian
terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh
sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
Peran faktor genetik dapat dibuktikan oleh peningkatan prevalensi
obesitas dua kali lipat dalam decade terakhir pada individu dengan riwayat
obesitas. Faktor genetic berperan terhadap terjadinya obesitas sekitar 30-
40% dari seluruh kejadian obesitas (Hardinsyah & Supariasa, 2017).
b. Faktor Psikis
Apa yang ada di pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan
makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya
dengan makan. Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab
obesitas, yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di
malam hari (sindroma makan pada malam hari). Kedua pola makan ini
biasanya dipicu oleh stress dan kekecewaan. Pada sindrom makan di malam
hari adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan
makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.
c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan termasuk perilaku, berkontribusi besar terhadap
peningkatan obesitas. Masyarakat di daerah pantai sebagian besar adalah
nelayan yang banyak mengonsumsi makanan sumber protein hewani yang
berasal dari laut seperti ikan. Bahan pangan sumber protein pada daerah
pantai dapat terpenuhi setiap hari dengan baik. Hal ini dikarenakan karena
hasil laut yang juga dikonsumsi oleh keluarga sendiri.
Faktor lingkungan dipengaruhi oleh aktivitas dan pola makan orang
tua anak, misalnya pola makan bapak dan ibunya tidak teratur maka dapat
menurun pada anak dan aktivitas fisik yang tidak mendukung.

7
d. Faktor Biologis dan Demografi
1. Umur
Obesitas cenderung meningkat pada usia dewasa. Kasus obesitas pada
orang dewasa ditemukan sekitar 80-90% yaitu mulai golongan usia 20-64
tahun berisiko terkena obesitas. Hasil studi cross sectional yang dilakukan
oleh National Examination Survey (NHANES III) menunjukkan
peningkatan berat badan mulai usia 40 tahun. Prevalensi obesitas tertinggi
ditemukan pada rentang usia 20-60 tahun dan setelah 60 tahun menurun.
2. Jenis Kelamin
Obesitas lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pada laki-
laki hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh produksi lemak tubuh pada
wanita lebih tinggi dan banyak tersimpan di daerah peripel seperti panggul
dibandingkan pria yang tersimpan di daerah perut. Secara fisik, wanita
memilki lemak yang lebih banyak daripada pria. Perbandingan lemak tubuh
antara 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita yang memilki
lemak lebih dari 30% dan pria yang memiliki lemak lebih dari 25%
dianggap telah mengalami obesitas (Popkins, 2012 dalam Hardinsyah &
Supariasa, 2017).

e. Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan


Pengetahuan dan pendidikan juga merupakan faktor penentu bagi seseorang
atau keluarga dalam memilih makanan yang tepat. Pengetahuan dan tingkat
pendidikan kurang tentang makanan sehat dan gizi seimbang membuat
masyarakat cenderung memilih makanan sesuai dengan selera, sosial ekonomi,
trend sosial yang terjadi di masyarakat. Masyarakat dengan pendidikan tinggi
disertai pendidikan tinggi disertai pengetahuan yang cukup tentang fungsi
makanan bagi tubuh akan cenderung selektif dalam mengonsumsi makan baik
bagi diri sendiri maupun keluarga.
f. Sosial Ekonomi
Masalah obesitas sebagian besar memiliki hubungan erat dengan
peningkatan status sosial ekonomi. Pada negara berkembang seperti Indonesia,

8
peningkatan pendapatan mengarah pada peningkatan daya beli terhadap
makanan, bertambahnya konsumsi makan.
Namun pada daerah pesisir yang dominan masyarakatnya sebagai nelayan
hanya akan mengonsumsi hasil laut seperti ikan setiap hari dan kebutuhan lain
seperti sayuran dan buah-buahan akan sulit didapatkan.

2.3 Analisi Situasi


2.3.1 Prevalensi Obesitas di Indonesia

Gambar 1. Proporsi Obesitas pada Dewasa Umur >18 Tahun Menurut


Provinsi,2018

9
Gambar 1. Menyajikan kecenderungan prevalensi obesitas pada dewasa umur >18
tahun di tiap-tiap provinsi pada tahun 2018. Prevalensi tertinggi di Provinsi
Sulawesi Utara (30,2%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (10,3).

2.3.2 Perbandingan Prevalensi Obesitas Tahun 2013 dan Tahun 2018

Gambar 2. Proporsi Berat Badan Lebih dan obese pada Dewasa >18 Tahun, 2007-
2018

Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan proporsi


obesitas dari tahun 2013 mengalami peningkatan dari 14,8% menjadi 21,8% pada
tahun 2018. Ini berarti bahwa obesitas di Indonesia semakin meningkat dari tahun
ke tahun.

2.4 Penyakit akibat Obesitas

Obesitas secara tidak langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang. Obesitas


meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun, seperti:

1. Diabetes Tipe 2 (timbul pada masa dewasa)


Massa lemak tidak hanya tempat penyimpanan cadangan energi, tetapi juga
sebagai jaringan dinamis dengan berbagai fungsi. Kelebihan massa lemak
juga dikaitkan dengan keadaan resistensi insulin yang berhubungan dengan
diabetes mellitus. Risiko diabetes mellitus akan meningkat secara linear
sesuai dengan peningkatan IMT. Overweight akan meningkatkan angka

10
kejadian obesitas mellitus 3-4 kali dibandingkan orang dengan IMT normal
(Adriani & Witjatmadi, 2014) .
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah diabetes
(penyandang diabetes mellitus) di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 25,2
juta orang. Jumlah ini akan diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun
yang akan datang. Diabetes sangat erat kaitannya dengan kegemukan atau
obesitas. Ini berarti orang yang mengalaimi obesitas akan memiliki resiko
yang besar terkena diabetes
2. Tekanan Darah Tinggi
Hubungan antara angka kejadian hipertensi dan berat badan meningkat
tajam sesuai peningkatan berat badan. Risiko terjadinya hipertensi
meningkat 1.6 kali untuk overweight dan menjadi 2,5-3,2 kali untuk obesitas
kelas 1 serta menjadi 3,9-5,5 kali untuk obesitas kelas 2 dan 3. Penurunan
berat badan juga dapat menurunkan tekanan darah (Adriani & Witjatmadi,
2014).
3. Stroke
Angka kejadian penyakit arteri coroner menunjukkan hubungan linear
bermakna dengan IMT. Obesitas kelas 1-3 menunjukkan risiko relatif,
umumnya antara 1,5-3 kali dengan risiko tertinggi pada obesitas kelas 3.
Stroke (cerebrovascular accident) juga berhubungan dengan obesitas.
Pola makan yang salah juga memicu terjadinya stroke usia muda.
Karena seringnya mengonsumsi makanan junk food yang tidak baik sebab
kandungan kolesterol tinggi. Kolesterol tidak baik bagi kesehatan, terutama
bila terjadi penyumbatan pada pembuluh darah, dan mengenai pembuluh
darah otak bisa membuat seseorang stroke (Adriani & Witjatmadi, 2014).
4. Gangguan Jantung Dan Pembuluh Darah
Obesitas merupakan penyebabutama terjadinya penyakit jantung dan
pembuluh darah (kardiovaskuler). Pasalnya, obesitas menyebabkan
peningkatan beban kerja jantung, karena dengan bertambah besar tubuh
seseorang maka jantung harus bekerja lebih keras memompakan darah ke
seluruh jaringan tubuh. Bila kemampuan kerja jantung sudah terlampaui,
terjadilah yang disebut gagal jantung. Tandatandanya, napas sesak dan
timbulnya bengkak pada tungkai. Pengidap obesitas juga seringmengalami
tekanan darah tinggi (hipertensi) karena pembuluh darah menyempit akibat
jepitan timbunan lemak. Kombinasi obesitas dan hipertensi ini tentu saja

11
memperberat kerja jantung. Akibatnya, timbul penebalan pada dinding bilik
jantung disertai kekurangan oksigen. Keadaan ini akan mempercepat
timbulnya gagal jantung (Misnadiarly. 2010).
5. Gangguan Fungsi Paru-Paru.
Pada pengidap obesitas, timbunan ini dapat menekan saluran pernapasan.
Ini bisa menyebabkan terjadinya, henti napas saat tidur (sleep apnea).
Gangguan seperti ini lama-lama dapat menyebabkan gagal jantung juga dan
berujung dengan kematian (Misnadiarly. 2010).
6. Gangguan Persendian
Obesitas akan menyebabkan peningkatan beban pada persendian penyangga
berat. Misalnya persendian lutut sehingga lama-lama dapat menimbulkan
peradangan persendian (osteoartritis). Gejala-gejalanya antara lain, nyeri
pada sendi, diikuti dengan pembengkakan. Sendi juga menjadi kaku tak bisa
digerakkan. Yang terparah, penderita tidak sanggup berjalan lagi
(Misnadiarly. 2010).
7. Gangguan Sistem Hormonal
Obesitas ternyata juga mempengaruhi sistem hormonal dalam tubuh. Pada
anak gadis, obesitas menyebabkan haid pertama (menarkhe) datang lebih
awal. Pada wanita dewasa, obesitas dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan hormonal (hiperandrogenisme, hirsutisme), dan gangguan
siklus menstruasi. Hiperandrogenisme berarti jumlah hormon androgen
(lelaki) meningkat. Akibatnya terjadi hirsutisme (tanda maskulinisasi).
Misalnya jerawatan, distribusi bulu2 di wajah dan badan, bahkan mungkin
perubahan suara menjadi berat seperti suara lelaki. Pada wanita, obesitas
juga peningkatan risiko timbulnya batu empedu. Ini terjadi karena cairan
empedu menjadi lebih kental (Misnadiarly. 2010).
8. Meningkatkan Risiko Penyakit Ganas
Hasil penelitian menunjukkan, pada wanita yang sudah mengalami
menopause, obesitas meningkatkan risiko timbulnya kanker rahim
(endometrium) dan kanker payudara. Sedangkan pada pria, kegemukan
dapat meningkatkan risiko terserang kanker prostat dan kanker usus besar
(kolorektal) (Misnadiarly. 2010).
9. Gangguan Psikologis
Orang dengan obesitas juga seringkali mengalami gangguan psikologis
berupa rasa rendah diri, keadaan depresi, bahkan bisa terkucil dari pergaulan
sosial. Terlebih lagi bila lingkungan di sekitarnya tidak memberi dukungan,
melainkan lebih banyak memperolok-olok kegemukannya (Misnadiarly.
2010).
Meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia akan membutuhkan budget yang
lebih besar jumlahnya untuk dapat mengatasi masalah obesitas tersebut. Namun,
dari berbagai informasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa obesitas akan dapat
menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan lainnya. Adapun kenyataannya

12
pada saat ini prevalensi obesitas meningkat, maka dapat diperkirakan hal ini berarti
akan meningkat pula penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang muncul
sebagai akibat dari obesitas (Adriani & Witjatmadi, 2014).

Tabel 2. Resiko Kesehatan yang berhubungan dengan Obesitas


NO Hal/Tipe Masalah Simtom
1 Kardiovaskuler Hipertensi: Jantung Koroner, vena varicose,
sindrom pickwickian
2 Endokrin dan reproduktif Non-DM (tergantung insulin), Amenore,
Infertilitas, Pre-Eklampsia
3 Gastrointestinal Kolesistitis dan Kolelitiasis, Fatty Liver
4 Psikiatri dan Sosial Diskriminasi
5 Muskuloskeletal & Dermis Osteoarthritis, iritasi, infeksi (lipatan kulit,
striae)
6 Keganasan Kanker Kolon, Rectum, Prostat, empedu,
Buah dada, Uterus, Ovarium
Sumber: Sudargo, rosiyani, kusmayanti. 2014. Pola Makan dan Obesitas.
Yogyakarta. Gadjah Mada University Press

2.5 Pencegahan atau Penanganan Masalah Obesitas


Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas yang meningkat dengan cepat di
banyak negara dan kesukaran penangannya yang termasuk meencapai dan
mempertahankan penurunan berat badan secara memuaskan pada diri mereka yang
obesitas berarti bahwa pendekatan preventif menjadi satu-satunya solusi jangka
panjang yang signifikan untuk menghentikan dan membalikkan epidemic obesitas
yang sudah mendunia.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani
maslaah obesitas:
1. Strategi di bidang makanan dan minuman
Perbaikan terhadap perilaku makan masyarakat dapat dilakukan dengan
mengontrol porsi makan yang dikonsumsi, menghindari konsumsi makanan yang
mengandung padat kalori seperti makanan yang mengandung banyak lemak dan
gula. Masyarakat dianjurkan lebih banyak mengonsumsi makanan padat zat gizi

13
seperti sayuran dan buah-buahan. Namun, perubahan perilaku makan penduduk
tidak hanya memerlukan perhatian yang bersifat individu, tetapi juga peranan dari
lingkungan tempat penyedia makanan dan minuman.
Upaya untuk perbaikan lingkungan penyedia makanan dan minuman yang dapat
dilakukan dengan strategi meningkatkan akses makanan padat zat gizi dan
mengurangi akses makanan dan minuman yang padat kalori (Hardinsya &
Supariasa, 2017).
2. Strategi Aktivitas Fisik
WHO mendefinisikan aktivitas fisik sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan
oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi, termasuk kegiatan yang
dilakukan saat bekerja, bermain, berolaraga, melakukan pekerjaan rumah tangga,
bepergian, dan terlibat dalam kegiatan rekreasi. Kenyataan saat ini, aktivitas fisik
masyarakat sebagian besar tergolong rendah. WHO menyatakan sekitar 31%
penduduk dewasa di dunia memiliki aktivitas kurang.
Strategi yang komprehensif untuk meningkatkan pengeluaran energi melalui
aktivitas fisik adalah dengan melakukan secara rutin aktivitas sehari-hari ditambah
dengan kegiatan latihan fisik atau olaraga minimal 1 kali seminggu selama 1 jam
atau 3 kali seminggu 20-30 menit (Hardinsya & Supariasa, 2017).

3. Mengatur Diet

Secara umum, penanganan nutrisi untuk menurunkan berat badan adalah


mengutangi asupan makanan (diet). Biasanya pengurangan asupan energy 500-
1000 kkal/hari dari keperluan kalori yang dibutuhkan secara berkelanjutan akan
menurunkan BB sebanyak 0,5-1 kg/minggu (Kapantouw,2010).

4. Penyediaan fasilitas kesehatan masyarakat

Tersedianya fasilitas kesehatan masyarakat baik berupa klinik kesehatan yang


bersifat individual atau pusat pelayanan kesehatan masyarakat memegang peranan
penting dalam pencegahan obesitas. Melalui pusat layanan kesehatan tersebut,
maka dapat dilakukan pemeriksaan secara rutin tentang perkembangan kesehatan,
berat badan dan status gizi individu yang obesitas atau berisiko obesitas. Kepada
mereka juga dapat diberikan edukasi dan konseling tentang bagaimana

14
meningkatkan aktivitas fisik dan mengatur pola makan sehari-hari yang memenuhi
standar diet yang sesuai untuk tingkat obesitas yang dialaminya obesitas. Adanya
jaminan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat juga memegang peranan
penting dalam mendukung dan memotivasi pasien obesitas. Jaminan kesehatan
mendorong pasien melakukan pemeriksaan atau mempertahankan kesehatan dan
berat badan ideal (Hardinsya & Supariasa, 2017).
5. Strategi Sekolah

Penggunaan sekolah merupakan salah satu strategi penting dalam mencegah


obesitas di kalangan anak dan remaja sekolah. Upaya yang dapat dilakukan untuk
mencegah obesitas pada anak sekolah dengan cara sebagai berikut:

a. Penyediaan makanan sekolah

Perlu adanya kebijakan atau program untuk mengatasi makanan dan


minuman yang tersedia di kantin yang mengandung padat energi serta
minuman yang banyak mengandung pemanis buatan dan bahan pengawet
lainnya dengan melibatkan peran pihak sekolah dan orang tua.

Program yang dapat dijalankan diantaranya penyediaan makanan di


sekolah yang mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak,
sehat serta aman dari berbagai senyawa berbahaya. Program ini dapat
dilakukan dalam bentuk School Feeding atau Pemberian Makanan
Tambahan (PMT) anak sekolah dalam bentuk sarapan pagi, pada saat
istirahat atau makan siang menjelang pulang. Program ini berdampak positif
terhadap perbaikan perilaku makan dan asupan gizi anak sekolah
(Hardinsya & Supariasa, 2017).
b. Aktivitas fisik sekolah

Kegiatan aktivitas fisik sekolah dapat dilakukan dengan


meningkatkan kegiatan olaraga, misalnya dengan senam pagi setiap hari,
kegiatan olaraga yang banyak memerlukan gerakan tubuh dan pengeluaran
energi (Hardinsya & Supariasa, 2017).

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masalah obesitas merupakan masalah kesehatan yang paling mendesak, yang telah
menjadi epidemic global baik di negara maju maupun negara berkembang.
Menurut WHO (World Health Organizatition) tahun 2014, secara umum
kegemukan dan obesitas adalah suatu kondisi abnormal yang ditandai oleh
peningkatan lemak tubuh berlebihan, umumnya ditimbun di jaringan subkutan,
sekitar organ, dan kadang terinfliltrasi ke dalam organ.
Obesitas adalah penyakit gizi berupa akumulasi jaringan lemak secara
berlebihan di seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh perilaku makan yang
berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan, aktivitas fisik yang rendah,
gangguan psikologis, laju pertumbuhan yang sangat cepat, genetic atau faktor
keturunan juga gangguan hormone. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kejadian obesitas di antaranya yaitu tingkat pengetahuan dan pekerjaan, asupan
makanan, stress, aktivitas fisik, kebiasaan makan yang salah diantaranya
berlebihan, makan terburu-buru, tidak sarapan pagi, waktu makan yang tidak
teratur. Penyebab utama terjadinya obesitas adalah ketidakseimbangan antara
konsumsi berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi.

3.2 Saran
Bagi penderita obesitas sebaiknya memilih makanan yang baik dan sehat serta
sesuai dengan kecukupan tubuhnya, mengubah pola makan yang salah . Melakukan
aktivitas fisik secara teratur untuk menghindari penyakit-penyakit yang bisa
disebabkan oleh obesitas serta melakuka pemeriksaan kesehatan secara teratur.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adriani, Merryana dan Bambang Wijatmadi. 2014. Pengantar Gizi Masyarakat.


Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri.
Anise. 2018. Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Cakrawati, Dewi dan Mustika NH. 2014. Bahan Pangan, Gizi dan Kesehatan.
Bandung: Alfabeta, cv.
Hardinsyah dan I D. Nyoman Supariasa. 2017. Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Kapantow, Nova H. 2010. Ilmu Gizi Klinik. Manado: Fakultas Kesehatan
Masyarakat UNSRAT.
Katsilambros, Nikolaos.,dkk. 2014. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013.
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hasil Utama RIKESDAS Tahun 2018.
Mann, Jim dan A. Stewart Truswell. 2014. Ilmu Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
Mardalena. 2017. Dasar-dasar Ilmu Gizi dalam Keperawatan. Yogyakarta;
Pustaka Baru Press
Misnadiarly. 2010. Obesitas sebagai beberapa resiko beberapa penyakit. Jakarta.
Yayasan obor Indonesia
Sasmiyanto dan Luh Titi Handayani. 2016. Studi Komparasi Indikator Sehat Bayi,
Balita dan Ibu Hamil di Wilayah Pesisir Pantai dan Pegunungan di
Kabupaten Jember Tahun 2015. Journal Nurseline. Vol. 1, No.2, Hal. 212-
2018.
Sudargo, rosiyani, kusmayanti. 2014. Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta.
Gadjah Mada University Press

17