Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
NAMA, KETENTUAN UMUM, RUANG LINGKUP, TUJUAN
Pasal 1
Nama
Nama dokumen ini adalah Statuta Keperawatan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok
Dua Dua Lontar Surabaya yang selanjutnya disingkat sebagai Statuta Keperawatan
Pasal 2
Ketentuan Umum
Dalam Statuta ini, yang dimaksud dengan :
(1) RUMAH SAKIT adalah Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar
Surabaya, yang terletak di Jalan Raya Lontar No. 109 Surabaya yang dalam hal
ini diwakili oleh seorang Direktur.
(2) DIREKSI terdiri dari Direktur, Kepala Bidang Pelayanan Medik, Kepala
Bidang Penunjang Medik, Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Bidang
Administrasi dan Umum, Kepala Bidang Keuangan dan Akuntansi Rumah
Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya, yang selanjutnya
disebut Direksi.
(3) TIM PENGAWAS (governing body)/SATUAN PENGAWAS INTERNAL
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya adalah badan
yang mewakili PT. Sandy Parasam Putra Jaya untuk melakukan pengawasan
terhadap kebijakan yang diambil direksi Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok
Dua Dua Lontar Surabaya dalam penyelengaraan rumah sakit yang selanjutnya
disebut Satuan Pengawas Internal.
(4) STATUTA KEPERAWATAN adalah aturan dasar yang mengatur tata cara
penyelenggaraan Asuhan Keperawatan/Kebidanan yang ditetapkan oleh
Komite Keperawatan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar
Surabaya.
(5) KOMITE KEPERAWATAN adalah Komite Keperawatan Rumah Sakit Ibu
Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya, yang merupakan perwakilan
kelompok profesi Perawat dan Bidan, yang anggotanya adalah perwakilan dari
seluruh Perawat dan Bidan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua
Lontar Surabaya, yang bertugas membantu Direksi dalam melakukan
kredensial, menentukan Standar Keperawatan/Kebidanan, membina Asuhan
Keperawatan/Kebidanan dan melaksanakan pembinaan disiplin profesi
keperawatan.
(6) PERAWAT dan BIDAN adalah setiap orang yang mempunyai kewenangan
profesi (clinical privilege) untuk melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan
2

di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya, berdasarkan
jenis keahlian yang sesuai dengan disiplin ilmu keperawatan.
(7) Clinical Privilege adalah kewenangan klinis untuk melakukan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan kepada pasien yang diberikan oleh Direksi Rumah
Sakit setelah dilakukan proses kredensial oleh komite keperawatan.
Pasal 3
Ruang Lingkup
(1) Statuta Keperawatan ini berlaku bagi seluruh Perawat dan Bidan yang
melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan di dalam maupun di luar Rumah
Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya dalam rangka
menjalankan tugas Direksi.
(2) Perawat dan Bidan yang bekerja di Rumah Sakit, tergabung dalam suatu
Komunitas Profesi Keperawatan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua
Lontar Surabaya, yang disebut dengan Komite Keperawatan, yang disahkan
oleh Direksi Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya.
Pasal 4
Tujuan
Tujuan Statuta ini adalah :
(1) Memberi wahana bagi Perawat dan Bidan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok
Dua Dua Lontar Surabaya untuk ikut berpartisipasi meningkatkan dan
mengembangkan kompetensi, profesionalisme serta perilaku Perawat dan Bidan
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya.
(2) Sarana bagi Komite Keperawatan dan Direksi untuk menyelesaikan berbagai
masalah yang terkait dengan Asuhan Keperawatan/Kebidanan, baik yang
menyangkut Perawat dan Bidan maupun pasien atau pengguna jasa.

BAB II
KOMITE KEPERAWATAN
Pasal 5
Organisasi Komite Keperawatan
(1) Di lingkungan Rumah Sakit, dibentuk suatu wadah non struktural, yang disebut
sebagai Komite Keperawatan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua
Lontar Surabaya, sebagai wahana bagi Perawat dan Bidan untuk berpartisipasi
dalam memberikan masukan perihal masalah profesi dan teknis keperawatan.
(2) Komite Keperawatan adalah satu-satunya wadah formal yang menghimpun,
memformulasikan dan mengkomunikasikan pendapat, kehendak Perawat dan
Bidan, dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan
3

keperawatan di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar
Surabaya.
(3) Komite Keperawatan berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya.
(4) Ketua Komite Keperawatan diangkat dan ditetapkan dengan Keputusan
Direktur Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua Lontar Surabaya.
(5) Hubungan kerja Komite Keperawatan dengan kepala bidang keperawatan
adalah hubungan kerjasama dan bukan komando.
Pasal 6
Tugas Komite Keperawatan
Komite Keperawatan bertugas :
(1) Menyusun Standar Asuhan Keperawatan/Kebidanan (SAK) sesuai dengan Visi
dan Misi Bidang Keperawatan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua Dua
Lontar Surabaya serta memantau pelaksanaannya.
(2) Menyusun sistem pelayanan keperawatan yang profesional seiring dengan
kebijakan yang ditetapkan oleh Direksi Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok
Dua Dua Lontar Surabaya.
(3) Bekerja sama dengan bidang Perawatan memantau dan membina perilaku
etik dan profesionalisme Perawat dan Bidan.
(4) Memantau dan meningkatkan profesionalisme Perawat dan Bidan, yang
meliputi kompetensi, yaitu pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang
relevan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan.
(5) Bekerjasama dengan Bidang Keperawatan merencanakan suatu program untuk
mengatur kewenangan profesi (clinical privilege) Perawat dan Bidan dalam
melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan.
(6) Memberikan rekomendasi dalam rangka pemberian kewenangan profesi
clinical privilege bagi Perawat dan Bidan yang akan melakukan tindakan
Asuhan Keperawatan/Kebidanan di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua
Dua Lontar Surabaya.
(7) Mengkoordinir kegiatan-kegiatan Perawat dan Bidan, dan menyampaikan
laporan kegiatan Komite Keperawatan secara berkala kepada seluruh Perawat
dan Bidan Rumah Sakit, serta memberikan tembusan kepada Direktur.
4

Pasal 7
Kepengurusan Komite Keperawatan
(1) Komite Keperawatan merupakan kelompok Perawat dan Bidan, yang terpilih
dari seluruh Perawat dan Bidan di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Lombok Dua
Dua Lontar Surabaya untuk menjadi anggota Komite Keperawatan.
(2) Keanggotaan dalam Komite Keperawatan adalah Perawat dan Bidan, tidak
harus kepala ruangan atau Perawat dan Bidan dalam struktural manajemen
Rumah Sakit, dengan susunan keanggotaan sebagai berikut :
a. Ketua merangkap anggota.
b. Sekretaris merangkap anggota.
(3) Ketua Komite Keperawatan dipilih Direksi.
(4) Anggota pengurus komite keperawatan selanjutnya dipilih oleh ketua terpilih.
Pasal 8
Ketua Komite Keperawatan
(1) Ketua dipilih dari 3 (tiga) calon pada pemilihan secara periodik, yang
diselenggarakan setiap tiga tahun sesuai dengan ketentuan dalam Statuta ini,
yang selanjutnya diajukan dan disetujui oleh Direktur.
(2) Ketua Komite Keperawatan adalah seorang Perawat atau Bidan Rumah Sakit.
(3) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Ketua Komite Keperawatan, sebelum
masa jabatannya berakhir, maka kekosongan jabatan tersebut diisi oleh Wakil
Ketua.
(4) Tugas Ketua Komite Keperawatan adalah :
a. Menyelenggarakan komunikasi yang efektif dan mewakili pendapat,
kebijakan, laporan, kebutuhan dan keluhan Perawat dan Bidan serta
bertanggungjawab kepada Direktur.
b. Menyelenggarakan dan memimpin rapat serta bertanggungjawab atas
semua risalah rapat yang diselenggarakan Komite Keperawatan.
c. Menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Direksi serta kepanitiaan
profesi lainnya.
d. Menunjuk dan menetapkan Pengurus Komite Keperawatan, untuk
kemudian diajukan dan disetujui oleh Direktur.
e. Menentukan agenda rapat Komite Keperawatan.
f. Menunjuk Wakil Ketua Komite Keperawatan dalam setiap kepanitiaan di
Rumah Sakit, yang memerlukan perwakilan dari Perawat dan atau Bidan.
5

Pasal 9
Wakil Ketua Komite Keperawatan
(1) Wakil Ketua ditetapkan oleh Ketua Komite Keperawatan.
(2) Wakil Ketua adalah seorang Perawat atau Bidan.
(3) Tugas Wakil Ketua Komite Keperawatan adalah :
a. Membantu pelaksanaan tugas Ketua Komite Keperawatan.
b. Mewakili Ketua Komite Keperawatan apabila Ketua berhalangan.
Pasal 10
Sekretaris Komite Keperawatan
(1) Sekretaris Komite Keperawatan ditetapkan oleh Ketua Komite Keperawatan.
(2) Sekretaris Komite Keperawatan adalah seorang Perawat atau Bidan.
(3) Sekretaris Komite Keperawatan bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan
tugas-tugas kesekretariatan Komite Keperawatan.
(4) Tugas Sekretaris Komite Keperawatan adalah :
a. Melakukan pemberitahuan (undangan) kepada semua anggota yang berhak
untuk menghadiri rapat-rapat Komite Keperawatan.
b. Mempersiapkan risalah rapat yang lengkap untuk dibacakan pada rapat
yang akan datang.
c. Menyusun dan menyimpan risalah rapat dan surat menyurat.
d. Melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Ketua Komite
Keperawatan.
Pasal 11
Rapat Komite Keperawatan
(1) Rapat Komite Keperawatan terdiri atas Rapat Rutin, Rapat Khusus dan Rapat
Pleno.
(2) Setiap Rapat Komite Keperawatan dinyatakan sah hanya bila undangan telah
disampaikan secara pantas, kecuali seluruh anggota Komite Keperawatan yang
berhak memberikan suara menolak undangan tersebut.
Pasal 12
Rapat Rutin Komite Keperawatan
(1) Komite Keperawatan menyelenggarakan rapat rutin 1 (satu) bulan sekali pada
waktu dan tempat yang ditetapkan oleh Komite Keperawatan.
(2) Sekretaris Komite Keperawatan menyampaikan pemberitahuan rapat rutin
beserta agenda rapat kepada para anggota yang berhak hadir, paling lambat 15
(lima belas) hari kerja sebelum rapat tersebut dilaksanakan.
(3) Rapat rutin dihadiri oleh Pengurus Komite Keperawatan.
(4) Ketua dapat mengundang pihak lain jika dianggap perlu.
6

Pasal 13
Rapat Khusus Komite Keperawatan
(1) Rapat Khusus Komite Keperawatan diselenggarakan dalam hal :
a. Diperintahkan oleh Ketua; atau
b. Permintaan yang diajukan secara tertulis oleh paling sedikit 3 (tiga)
pengurus Komite Keperawatan dalam waktu 48 (empat puluh delapan) jam
sebelumnya; atau
c. Permintaan Ketua Komite Keperawatan untuk hal-hal yang memerlukan
penetapan kebijakan Komite Keperawatan dengan segera
(2) Sekretaris Komite Keperawatan menyelenggarakan rapat khusus dalam waktu
48 (empat puluh delapan) jam setelah diterimanya permintaan tertulis rapat,
yang ditanda-tangani oleh seperempat dari jumlah anggota Komite
Keperawatan yang berhak untuk hadir dan memberikan suara dalam rapat
tersebut.
(3) Sekretaris Komite Keperawatan menyampaikan pemberitahuan rapat khusus
beserta agenda rapat kepada para pengurus yang berhak hadir, paling lambat 24
(dua puluh empat) jam sebelum rapat tersebut dilaksanakan.
(4) Pemberitahuan rapat khusus akan menyebutkan secara spesifik hal-hal yang
akan dibicarakan dalam rapat tersebut, dan rapat hanya akan membicarakan
hal-hal yang tercantum dalam pemberitahuan tersebut.
Pasal 14
Rapat Pleno Komite Keperawatan
(1) Rapat Pleno Komite Keperawatan diselenggarakan 2 (dua) kali setahun.
(2) Rapat Pleno dihadiri oleh seluruh Perawat dan Bidan Rumah Sakit.
(3) Sekretaris Komite Keperawatan menyampaikan pemberitahuan rapat tahunan
secara tertulis beserta agenda rapat kepada para anggota yang berhak hadir
paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum rapat tersebut dilaksanakan.
Pasal 15
Kuorum
(1) Kuorum tercapai bila rapat dihadiri oleh paling sedikit ½ (setengah) dari jumlah
Pengurus Komite Keperawatan ditambah satu, dari yang berhak hadir dan
memberikan suara.
(2) Keputusan hanya dapat ditetapkan bila kuorum telah tercapai.
7

Pasal 16
Pengambilan Keputusan Rapat
Kecuali telah diatur dalam Statuta ini, maka :
(1) Pengambilan keputusan rapat diupayakan melalui musyawarah dan mufakat.
(2) Dalam hal tidak tercapai mufakat, maka keputusan diambil melalui
pemungutan suara berdasarkan suara terbanyak dari anggota yang hadir.
(3) Dalam hal jumlah suara yang diperoleh adalah sama, maka Ketua berwenang
membuat keputusan hasil rapat.
Pasal 17
Tata Tertib Rapat
(1) Setiap rapat Komite Keperawatan berhak dihadiri oleh seluruh Pengurus
Komite Keperawatan.
(2) Rapat dipimpin oleh Ketua Komite Keperawatan atau yang ditunjuk oleh Ketua
Komite Keperawatan.
(3) Sebelum rapat dimulai, agenda rapat dan notulen dibacakan oleh Sekretaris
Komite Keperawatan.
(4) Setiap peserta rapat hanya dapat meninggalkan rapat dengan seijin Pimpinan
Rapat.
(5) Hal-hal yang menyangkut teknis tata-tertib rapat akan ditetapkan oleh Ketua
Komite Keperawatan sebelum rapat dimulai.
Pasal 18
Notulen Rapat
(1) Setiap rapat harus dibuat notulennya.
(2) Semua notulen Rapat Komite Keperawatan dicatat oleh Sekretaris Komite
Keperawatan atau penggantinya yang ditunjuk.
(3) Notulen tidak boleh diubah, kecuali untuk hal-hal yang berkaitan dengan
keakuratan notulen tersebut.
(4) Notulen rapat ditanda-tangani oleh Ketua Komite Keperawatan dan Sekretaris
Komite Keperawatan pada rapat berikutnya dan notulen tersebut diberlakukan
sebagai dokumen yang sah.
(5) Sekretaris Komite Keperawatan memberikan salinan notulen kepada Direktur,
paling lambat satu minggu setelah ditanda-tangani oleh Ketua dan Sekretaris
Komite Keperawatan.
8

Pasal 19
Sub Komite di Bawah Komite Keperawatan
(1) Di bawah Komite Keperawatan, dibentuk beberapa Sub Komite yang terdiri
dari :
a. Sub Komite Kredensial
b. Sub Komite Peningkatan Mutu dan Pelayanan
c. Sub Komite Disiplin dan Etika Profesi
d. Sub Komite lain yang akan ditentukan oleh Komite Keperawatan
(2) Tugas dan fungsi Sub Komite Keperawatan ditetapkan oleh Komite
Keperawatan dari waktu ke waktu dan disahkan oleh Direktur.

BAB III
PERAWAT DAN BIDAN
Pasal 20
Kategori Perawat dan Bidan
(1) Perawat dan Bidan yang dapat melakukan tindakan keperawatan di Rumah
Sakit adalah Perawat dan Bidan Rumah Sakit, yang telah dinyatakan
memenuhi syarat kredensial oleh Komite Keperawatan dan telah memperoleh
kewenangan profesi (clinical privilege) untuk melakukan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan di Rumah Sakit.
(2) Perawat dan Bidan Tamu atau Perawat dan Bidan Konsultan yang diundang
(invited nursing consultant), yang diijinkan untuk melakukan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan dalam batas-batas clinical privilege tertentu, dengan
persetujuan Direksi Rumah Sakit.
(3) Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan, yang dalam batas-batas kewenangan
(clinical privilege) tertentu, diijinkan melakukan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan, dengan persetujuan Direksi Rumah Sakit.
Pasal 21
Syarat Penerimaan Perawat dan Bidan
(1) Setiap Perawat dan Bidan yang akan melakukan Asuhan
Keperawatan/Kebidanan di Rumah Sakit, harus telah memenuhi kualifikasi
tertentu sebagaimana dipersyaratkan oleh Komite Keperawatan melalui Sub
Komite Kredensial dengan suatu sistem atau tata cara yang ditetapkan oleh
Komite Keperawatan.
(2) Hanya Perawat dan Bidan yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana di
maksud dalam ayat (1) pasal ini, yang dapat diusulkan/direkomendasikan untuk
diberi kewenangan (clinical privilege) menangani pasien di Rumah Sakit
9

sesuai dengan kompetensi dan persyaratan lain, yang ditentukan oleh Komite
Keperawatan.
(3) Perawat dan Bidan yang telah memperoleh kewenangan (clinical privilege)
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini, setuju untuk melaksanakan
Asuhan Keperawatan/Kebidanan dalam batas-batas standar profesi yang
ditetapkan oleh Komite Keperawatan.
(4) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini, akan dinilai
kembali oleh Komite Keperawatan melalui Sub Komite Kredensial dengan
suatu tata cara yang ditetapkan oleh Komite Keperawatan.
Pasal 22
Kualifikasi dan Syarat Umum
(1) Setiap Perawat dan Bidan sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 harus :
a. Lolos uji kompetensi, integritas dan perilaku oleh Komite Keperawatan
melalui Sub Komite Kredensial.
b. Menunjukkan kemampuannya untuk memberikan pelayanan Keperawatan
yang berkualitas dan profesional kepada pasien.
c. Mematuhi prinsip umum Etika Rumah Sakit.
d. Bebas dari keadaan yang dapat mendiskualifikasi kemampuannya dalam
melakukan pelayanan, akibat adanya kendala fisik, mental, maupun
perilaku yang dapat berpengaruh pada ketrampilan, sikap atau
kemampuannya dalam pengambilan keputusan.
e. Menunjukkan kemampuan untuk bekerjasama dengan sesama Perawat dan
Bidan, tenaga kesehatan lainnya serta keluarga besar Rumah Sakit pada
umumnya.
(2) Uji kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, didasarkan
pada pendidikan yang pernah dijalani dan pendidikan berkelanjutan, pelatihan,
pengalaman, kompetensi klinis mutakhir, pengambilan keputusan klinis serta
pengamatan kinerja, yang ditunjukkan dalam dokumen yang dimiliki oleh
masing-masing tenaga keperawatan.
Pasal 23
Kewenangan Melakukan Asuhan Keperawatan
(1) Perawat dan Bidan hanya dapat melakukan Asuhan Keperawatan sesuai dengan
kemampuannya, kecuali dalam keadaan darurat, setelah mendapatkan
penugasan klinis (clinical privilege) dari Direksi, yang ditetapkan dengan suatu
surat keputusan.
(2) Penugasan klinis sebagaimana tercantum dalam (ayat 1) pasal ini terdiri dari :
a. Penugasan klinis tetap sebagai Perawat dan Bidan Rumah Sakit.
10

b. Penugasan klinis sementara sebagai konsultan atau tamu.


c. Penugasan klinis sementara sebagai mahasiswa yang praktek lapangan
atau magang.
(3) Penugasan klinis sebagaimana tercantum dalam ayat (1) pasal ini hanya
diberikan pada Perawat dan Bidan yang telah memenuhi kualifikasi dan
persyaratan untuk mendapatkan kewenangan profesi (clinical privilege).
(4) Penilaian persyaratan dan jenis Asuhan Keperawatan untuk setiap Perawat dan
Bidan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini, ditetapkan oleh
Komite Keperawatan melalui Sub Komite Kredensial.
(5) Hasil Penilaian oleh Sub Komite Kredensial sebagaimana dimaksud dalam ayat
(4) pasal ini diserahkan kepada Komite Keperawatan untuk memperoleh
pengesahannya.
(6) Komite Keperawatan menyerahkan hasil pengesahan penilaian kredensial
sebagai rekomendasi kepada Direksi.
Pasal 24
Pemberian Kewenangan Perawat dan Bidan
Penentuan kewenangan untuk melakukan Asuhan Keperawatan didasarkan pada
pendidikan, pelatihan, pendidikan berkelanjutan, pengalaman, unjuk kemampuan
termasuk pengambilan keputusan, sebagaimana tercantum dalam berkas kredensial,
dan didasarkan pada pengamatan kinerja klinis serta dokumen hasil program
peningkatan kinerja yang bersangkutan.
Pasal 25
Berakhirnya Kewenangan Melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan
(1) Kewenangan untuk melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan seorang
Perawat dan Bidan di Rumah Sakit berakhir bila penugasan klinis (clinical
privilege) Perawat dan Bidan yang bersangkutan dicabut oleh Direksi
berdasarkan usulan Komite Keperawatan.
(2) Dalam hal hubungan hukum ketenagakerjaan antara Perawat dan Bidan dengan
Rumah Sakit berakhir, maka secara otomatis berakhir pula kewenangan yang
bersangkutan untuk melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan, dan Direksi
memberikan Surat Pemberitahuan tentang hal itu kepada Komite Keperawatan.
(3) Dalam hal seorang Perawat dan Bidan dikenai sanksi disiplin maka setelah
melalui rapat khusus Komite Keperawatan, Ketua Komite Keperawatan
memberikan Surat Pemberitahuan tentang hal itu kepada Direksi dengan
tembusan kepada yang bersangkutan.
11

Pasal 26
Pengendalian Mutu Pelayanan Keperawatan
(1) Untuk menjaga mutu pelayanan keperawatan, dilakukan audit keperawatan
secara berkala dan pendidikan keperawatan yang berkelanjutan dengan tata
cara yang lazim, yang ditentukan oleh Sub Komite Peningkatan Mutu
Pelayanan.
(2) Topik, jangka waktu dan tata cara audit keperawatan ditetapkan oleh Sub
Komite Peningkatan Mutu Pelayanan.
(3) Sub Komite Peningkatan Mutu Pelayanan melaporkan hasil audit keperawatan
dan analisisnya secara berkala kepada Komite Keperawatan untuk ditindak
lanjuti.
(4) Komite Keperawatan wajib melakukan tindakan korektif yang dianggap perlu
untuk menindak-lanjuti hasil audit keperawatan sebagaimana diatur dalam ayat
(3) pasal ini.
(5) Setiap Perawat dan Bidan wajib menjalani pendidikan keperawatan
berkelanjutan yang substansi dan tata caranya diatur oleh Sub Komite
Peningkatan Mutu Pelayanan.
(6) Sub Komite Peningkatan Mutu Pelayanan memberikan laporan kepada Komite
Keperawatan mengenai efektivitas dan kewajaran pelayanan keperawatan yang
diberikan oleh seluruh Perawat dan Bidan yang bekerja di Rumah Sakit.

BAB IV
TINDAKAN DISIPLIN KEPERAWATAN DAN PROSEDUR
PEMERIKSAAN PELANGGARAN DISIPLIN DAN ETIKA PROFESI
KEPERAWATAN
Pasal 27
Dasar Tindakan Disiplin Keperawatan
(1) Keadaan dan situasi yang dapat digunakan sebagai dasar dugaan
pelanggaran disiplin profesi keperawatan oleh Perawat dan Bidan adalah hal-
hal yang menyangkut :
a. Kompetensi Klinis
b. Asuhan Keperawatan/Kebidanan atas seorang pasien di Rumah Sakit
c. Dugaan penyimpangan etika profesi
d. Pelanggaran Prosedur Tetap
e. Penggunaan obat dan alat kesehatan atas delegasi Dokter sesuai dengan
standar profesi, berdasarkan ketetapan Komite Keperawatan
12

f. Hal-hal lain yang oleh Komite Keperawatan sepatutnya dianggap


menyangkut disiplin profesi keperawatan
(2) Setiap Perawat dan Bidan wajib memberitahukan adanya dugaan pelanggaran
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini kepada Ketua Komite
Keperawatan secara tertulis dalam suatu formulir yang disediakan untuk itu,
dan menyampaikan formulir pemberitahuan tersebut kepada atasan yang
bersangkutan untuk selanjutnya disampaikan kepada Ketua Komite
Keperawatan melalui Direksi.
(3) Ketua Komite Keperawatan wajib meneliti, menindak-lanjuti dan memberikan
kesimpulan serta keputusan atas setiap laporan yang disampaikan oleh Perawat
dan Bidan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini.
(4) Ketua Komite Keperawatan dapat menugaskan Sub Komite terkait di bawah
Komite Keperawatan untuk meneliti dan menindak-lanjuti setiap laporan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini.
(5) Ketua Komite Keperawatan memberikan kesimpulan dan keputusan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), berdasarkan hasil penelitian dan
rekomendasi Sub Komite terkait yang dapat berbentuk :
a. Saran kepada Perawat dan Bidan terkait serta manajemen Rumah Sakit.
b. Keputusan untuk melakukan penelitian lanjutan guna menentukan adanya
pelanggaran disiplin profesi dan kode etik.
(6) Semua keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) pasal ini
didokumentasikan secara lengkap oleh Staf Sekretariat Komite Keperawatan
dan diperlakukan secara konfidensial.
(7) Pengungkapan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) pasal ini
kepada pihak manapun, hanya dapat ditentukan oleh Direksi setelah
memperoleh persetujuan dari Ketua Komite Keperawatan.
Pasal 28
Penelitian Dugaan Pelanggaran Disiplin dan Etika Profesi Keperawatan
(1) Penelitian dugaan pelanggaran disiplin profesi keperawatan dan etika
keperawatan dimulai berdasarkan keputusan Ketua Komite Keperawatan untuk
melakukan penelitian lanjutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat
(5.b) Statuta ini dan dilaksanakan oleh Sub Komite terkait.
(2) Sub Komite Disiplin melaksanakan penelitian berdasarkan tata cara yang telah
ditetapkan dalam Statuta ini.
(3) Ketua Sub Komite Disiplin menyampaikan hasil penelitian dan
rekomendasinya kepada Ketua Komite Keperawatan untuk ditetapkan sebagai
keputusan Komite Keperawatan yang memuat :
13

a. Ringkasan kasus atau kejadian


b. Kesimpulan tentang ada atau tidak adanya pelanggaran
c. Rekomendasi tindakan korektif
(4) Ketua Komite Keperawatan wajib menetapkan keputusan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) dengan memperhatikan masukan dari Sub Komite
lain dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah diterimanya
keputusan Sub Komite Disiplin.
(5) Keputusan Komite Keperawatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) pasal
ini disampaikan kepada Direksi dengan tembusan kepada yang bersangkutan
dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah ditetapkannya keputusan
tersebut untuk segera ditindak-lanjuti oleh Direksi.
Pasal 29
Tim Ad-Hoc Penelitian Dugaan Pelanggaran Disiplin
dan Etika Profesi Keperawatan
(1) Dalam hal Ketua Komite Keperawatan menyampaikan putusan untuk
melakukan penelitian lanjutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat
(5.b) Statuta ini, maka Ketua Sub Komite Disiplin atau yang mewakilinya
mengusulkan kepada Ketua Komite Keperawatan untuk menetapkan Tim Ad-
Hoc dengan suatu Surat Keputusan.
(2) Penetapan Tim Ad-Hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
setelah dilakukan penelitian pendahuluan sesuai dengan tata cara yang telah
ditetapkan oleh Komite Keperawatan Sub Komite Disiplin.
(3) Tim Ad-Hoc menyelenggarakan sidang dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari
kerja setelah diterbitkannya Surat Keputusan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) pasal ini.
(4) Ketua Komite Keperawatan atau Staf lain yang ditunjuk, didampingi Ketua Sub
Komite Disiplin atau Staf lain yang ditunjuk, memimpin sidang pertama Tim
Ad-Hoc untuk menentukan Ketua dan Wakil Ketua Tim Ad-Hoc dan
menjelaskan tata cara persidangan kepada anggota Tim Ad-Hoc.
(5) Kepada Tim Ad-Hoc diperbantukan Sekretaris yang ditunjuk oleh Komite
Keperawatan untuk melancarkan persidangan.
(6) Tim Ad-Hoc bertugas melakukan pengkajian dan penelitian atas kasus yang
diterimanya dan melaksanakan persidangan sesuai dengan tata cara yang telah
ditetapkan dalam Statuta ini.
(7) Dalam rangka melakukan pengkajian, Tim Ad-Hoc berwenang meminta
informasi kepada “yang teradu” dan semua pihak di Rumah sakit, termasuk
14

meneliti rekam keperawatan dan bila diperlukan, meminta bantuan pihak lain
di luar Rumah Sakit dengan peretujuan Komite Keperawatan.
(8) Tim Ad-Hoc wajib melaksanakan rapat-rapat/persidangan untuk
menyimpulkan/ memutuskan suatu kasus yang diserahkan kepadanya dalam
suatu Surat Kesimpulan yang ditandatangani oleh Ketua bersama segenap
anggota Tim Ad-Hoc untuk diserahkan kepada Ketua Sub Komite Disiplin
melalui suatu keputusan yang memuat :
a. Ringkasan kasus atau kejadian
b. Kesimpulan tentang ada atau tidak adanya pelanggaran
c. Rekomendasi tindakan korektif
(9) Ketua Sub Komite Disiplin menerbitkan Surat Keputusan pembubaran Tim Ad-
Hoc sebagaimana dimaksud setelah menerima surat kesimpulan keputusan dan
semua berkas persidangan secara lengkap dalam ayat (8) pasal ini.
(10) Ketua Sub Komite Disiplin menyerahkan hasil rapat Tim Ad-Hoc kepada
Ketua Komite Keperawatan untuk ditindaklanjuti.
(11) Komite Keperawatan menyelenggarakan rapat khusus untuk menentukan
tindak lanjut sebagaimaan dimaksud dalam ayat (10) pasal ini.
(12) Keputusan Komite Keperawatan disampaikan kepada Direksi sebagai usulan.
Pasal 30
Tata Cara Persidangan Tim Ad-Hoc Sub Komite Disiplin
(1) Ketua Tim Ad-Hoc membuka persidangan dan menyatakan sidang tersebut sah
setelah kuorum tercapai dan setiap yang hadir menandatangani daftar hadir.
(2) Kuorum sebagaimaan dimaksud dalam ayat (1) tercapai bila rapat dihadiri oleh
paling sedikit setengah ditambah satu dari jumlah Tim Ad-Hoc dan seluruh
anggota yang berasal dari luar Rumah Sakit yang hadir.
(3) Tim Ad-Hoc melaksanakan persidangan dengan melakukan pemeriksaan atas
kasus tersebut, meminta keterangan dari berbagai pihak yang dianggap perlu.
(4) Persidangan dilakukan secara tertutup.
(5) Perekaman semua informasi dalam persidangan hanya dilakukan oleh tenaga
yang ditunjuk oleh Komite Keperawatan.
(6) Tenaga sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) pasal ini adalah seorang Staf
Keperawatan.
(7) Pada setiap akhir persidangan, tenaga sebagaimana dimaksud dalam ayat (5)
pasal ini, membacakan hasil rekaman sidang kepada seluruh anggota yang
hadir, untuk selanjutnya dibuatkan risalah rapatnya.
15

(8) Semua informasi, catatan dan dokumen dalam bentuk apapun, diperlakukan
secara konfidensial, dan catatan pemusnahan dokumen tersebut akan
ditentukan oleh Komite Keperawatan dari waktu ke waktu.
(9) Pengungkapan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) pasal ini
kepada pihak manapun hanya dapat dilakukan oleh Direksi.

BAB V
PEMAPARAN STATUTA, PERUBAHAN STATUTA, DAN
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 31
Pemaparan Statuta
Pengurus Komite Keperawatan dapat memperlihatkan Statuta ini kepada pihak
tertentu yang dinilai berkepentingan.
Pasal 32
Perubahan Statuta
(1) Komite Keperawatan berhak mengubah Statuta ini dengan persetujuan Direksi,
melalui rapat khusus yang diselenggarakan untuk itu.
(2) Usulan untuk mengubah Statuta ini hanya dapat dilaksanakan melalui Rapat
Pleno Khusus, yang diselenggarakan untuk keperrluan tersebut.
(3) Untuk setiap perubahan yang dibuat, seperti yang dimaksudkan dalam ayat (1)
pasal ini, harus mendapat persetujuan Direksi.
16

Pasal 33
Ketentuan Penutup
(1) Statuta ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya.
(2) Semua peraturan Rumah Sakit yang ditetapkan sebelum berlakunya Statuta ini
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Statuta ini.

Ditetapkan di Surabaya, 21 Agustus 2015

KOMITE KEPERAWATAN RSIA LOMBOK DUA DUA LONTAR

Ketua Komite Keperawatan Sekretaris Komite Keperawatan

Nunik Tri SC., Amd.Keb Diah Ayu P., S.Kep.Ners

DIREKTUR RSIA LOMBOK DUA DUA LONTAR

dr. Nabila Ba’agil