Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Audit berbasis ISA adalah sinonim dari audit berbasis risiko. Ciri penting dari audit
berbasis ISA adalah bahwa audit ini berbasis risiko (risk-based audit). Ciri ini terlihat dalam
tahap-tahap pada Bagan Proses Audit. ISA (International Standards on Auditing) merupakan
standar audit terbaru yang telah diadopsi di Indonesia yang diterbitkan oleh IFAC (The
International Federation of Accounting). Per 1 Januari 2013, Akuntan Publik di Indonesia
wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar yang baru ini. ISA
sepenuhnya mengadopsi pendekatan Audit Berbasis Resiko, sehingga saat ini penerapan
Audit Berbasis Resiko bagi auditor di Indonesia menjadi hal wajib (mandatory). Audit
Berbasis Resiko atau Risk Based Audit (RBA) merupakan pendekatan audit yang
berkembang pesat sejak tahun 2000an. Pendekatan saat ini mendapatkan perhatian yang luas
dan dianggap sebagai pendekatan yang paling efektif karena terbukti paling cocok diterapkan
untuk kondisi lingkungan bisnis yang selalu berubah-ubah seperti sekarang ini. Indonesia
telah meratifikasi ketentuan untuk menerapkan International Standards on Auditing (ISA)
mulai awal tahun 2013.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penulis
merumuskan hal-hal yang akan diketahui dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa tujuan menyeluruh suatu audit (SA 200.11/ISA 200.11) ?
2. Bagaimana gambaran umum Audit Berbasis Risiko ?
3. Apa itu Risiko Audit ?
4. Bagaimana pelaksanaan Audit Berbasis Risiko ?
5. Apa manfaat Audit Berbasis Risiko ?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan, maka tujuan pembuatan
makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui tujuan menyeluruh suatu audit (SA 200.11/ISA 200.11)
2. Untuk mengetahui gambaran umum Audit Berbasis Risiko
3. Untuk mengetahui Risiko Audit
4. Untuk mengetahui teknis pelaksanaan Audit Berbasis Risiko
5. Untuk mengetahui manfaat Audit Berbasis Risiko

1
BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 TUJUAN AUDIT UMUM


Ciri penting dari audit berbasis ISA ialah bahwa audit ini berbasis risiko (risk-based
audit). Tujuan menyeluruh dari suatu audit menurut ISA 200.11 adalah:
a. Memperoleh asurans yang layak mengenai apakah aporan keuangan secara
menyeluruh bebas dari salah saji yang material, yang disebabkan oleh
kecurangan atau kesalahan, untuk memungkinkan auditor memberikan pendapat
mengenai apakah laporan keuangan dibuat, dalam segala hal yang material,
sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; dan
b. Melaporkan mengenai laporan keuangan, dan mengomunikasikan segala
sesuatunya seperti yang diwajibkan ISAs sesuai dengan temuan auditor.

2.2 KONSEP DASAR AUDIT BERBASIS RISIKO


Untuk melihat secara utuh makna dari audit berbasis risiko dapat diapahami dengan
beberapa konsep dasar yang saling berakaitan:
1. Reasonable assurance (Asurans yang layak)
Asurans yang layak adalah asurans yang tinggi, tetapi bukan pada tingkat tinggi
yang mutlak (absolute level of assurance). Asurans yang layak dicapai ketika auditor
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat (sufficient appropriate audit evidence)
untuk menekan risiko audit. Risiko audit adalah risiko dimana auditor memberikan
opini yang salah ketika laporan keuangan disalahsajikan secara material. Auditor
ingin menekan risiko audit ini ke tingkat rendah yang dapat diterima (to an acceptably
low level). Dengan bukti audit yang cukup dan tepat, auditor sudah menekan risiko
audit, namun tidak mungkin samapai ke tingkat nol, karena adanya kendala bawaaan
dalam setiap audit. Auditor menekan risiko auditnya sampai ke tingkat yang disebut
“an accepatbly low level”, atau tingkat rendah yang dapat diterima oleh auditor.
Auditor tidak dapat memberikan absolute assurance (asurans mutlak). Auditor
menarik kesimpulan auditnya dan mendasarkan opini atau pendapatnya kepada bukti-
bukti audit.
2. Inherent limitations (Kendala bawaan)
Penyajian secara singkat kendala bawaaan (Inherent limitations) dalam penugasan
audit.

2
Tabel 2.1 Inherent Limitation

Kendala Alasan
Sifat Pelaporan Pembuatan laporan keuangan memerlukan:
Keuangan  Judgement manajemen dalam menerapkan
kerangka pelaporan keuangan; dan
 Keputusan atau penilaian subjektif (seperti
estimasi) oleh manajemen dalam memilih berbagai
tafsiran atau judgement yang akseptabel.
Sifat Bukti Audit yang Kebanyakan pekerjaan auditor dalam merumuskan
Tersedia pendapatnya adalah mengumpulkan dan mengevaluasi
bukti audit. Bukti ini cenderung bersifat persuasif, dan
tidak konklusif.
Bukti audit terutama diperoleh melalui pelaksanaan
prosedur audit. Bukti ini juga meliputi informasi yang
diperoleh dari sumber lain seperti: audit yang lalu;
prosedur kendali mutu dalam rangka menerima /
melanjutkan hubungan dengan klien; catatan
pembukuan entitas; dan bukti audit yang dibuat tenaga
ahli yang digunakan entitas.
Sifat Prosedur Audit Bagaimanapun bagusnya rancangan prosedur audit, ia
tidak akan mampu mendeteksi setiap salah saji:
 Setiap sampel (kurang dari 100%) mengandung
risiko bahwa salah saji tidak akan terdeteksi;
 Manajemen / pihak lain (sengaja/tidak) mungkin
tidak neberikan semua informasi yang diminta;
 Kecurangan yang canggih, disembunyikan dengan
rapi;
 Prosedur audit untuk mengumpulkan bukti audit
mungkin tidak mendeteksi informasi yang hilang.
Pelaporan Keuangan Relevansi/ informasi keuangan cenderung menurun
Tepat Waktu dengan lewatnya waktu. Oleh karena itu, perlu ada
keseimbangan antara keandalan informasi dan
biayanya. 3
Pemakai laporan keuangan mempunyai ekspektasi
bahwa auditor memberikan pendapat dalam waktu yang
layak. Oleh karena itu, tidaklah praktis meminta semua
informasi yang mungkin ada, atau menuntaskan semua
masalah sehabis-habisnya, dengan asumsi bahwa
informasi mengandung kesalahan/kecurangan sampai
terbukti sebaliknya.
Sumber: (Tuanakotta, 2014)

3. Audit scope (Lingkup Audit)


Laporan auditor yang tidak dimodifikasi (unmodified auditor’s report) atau opini
wajar tanpa pengecualian (WTP) tidak menjamin keberhasilan dan daya bertahan entitas itu
di masa mendatang (future viability of the entity). WTP juga tidak mencerminkan apakah
manajemen mengelola entitas secara efektif dan efisien.
Setiap perluasan dari tanggung jawab audit yang utama, seperti yang mungkin
ditetapkan dalam ketentuan perundang-undangan, mewajibkan auditor untuk melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan tambahan dan memodifikasi atau memperluas laporan auditor sesuai
dengan perluasan tanggung jawabnya (Tuanakotta, 2014).

4. Material misstatement (Salah saji yang material)


Salah saji yang material (material messtatement) terjadi jika secara layak dapat
diharapkan, akan mempengaruhi keputusan ekonomis pemakai laporan keuangan.
Salah saji yang material bisa:
 Terjadi secara sendiri-sendiri atau bersama. Contoh, laporan keuangan mencantumkan
pabrik senilai Rp 10 miliar. Pabrik itu tidak pernah dibangun atau dibeli. Laporan
keuangan tersebut juga mengandung satu salah saji yang material. Laporan keuangan
dapat juga berisi beberapa salah saji, yang secara agregatif atau tergabung, berjumlah
material.
 Berupa salah saji yang tidak dikoreksi (uncorrected misstatement), misalnya yang
ditemukan oleh auditor dan dikomunikasikan kepada kepala bagian pembukuan (chief
accountant), dan diakui sebagai salah saji, namun kepada bagian pembukuan tidak
bersedia mengoreksinya.

4
 Berupa pengungkapan yang menyesatkan (misleading disclosures) dalam laporan
keuangan, atau pengungkapan yang tidak dicantumkan (missing disclosures) dalam
laporan keuangan. Ini salah saji yang material secara kualitatif.
 Berupa kesalahan (error) kecurangan (fraud).

5. Assertions (Asersi)

Asersi (Assertions) adalah pernyataan (representations) yang diberikan manajemen,


secara ekplisit maupun implisit, yang tertanam di dalam atau merupakan bagian dari
(embodied in) laporan keuangan.
Asersi berhubungan dengan pengakuan (recognition), pengakuan (measurement),
penyajian (presentation), dan pengungkapan (disclosure) dari berbagai unsur laporan
keuangan. Yang dimaksud dengan unsur laporan keuangan (elements in the financial
statements) adalah angka-angka/ jumlah (amounts) dan pengungkapan (disclosures). Asersi-
asersi ini digunakan oleh auditor untk mempertimbangkan berbagai jenis kemungkinan salah
saji yang bisa terjadi.

2.3 PEMAHAMAN RISIKO AUDIT

Risiko Audit (Audit Risk) adalah risiko memberikan opini audit yang tidak tepat
(expressing an inappropriate audit option) atas laporan keuangan yang disalah sajikan secara
material.
Tujuannya ialah menekan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima auditor,
dengan cara menilai risiko salah saji yang material dan menekan risiko pendeteksian.
Risiko audit terdiri atas 2 unsur, yaitu:
a. Inherent Risk (Risiko Bawaan) dan Control Risk (Risiko Pengendalian)
Sifat : laporan keuangan berpotensi mengandung salah saji material
Sumber : tujuan entitas dan implementasi pengendalian internal oleh manajemen.
b. Detection Risk (Risiko Pendeteksian)
Sifat : auditor mungkin gagal mendeteksi salah saji yang material dalam laporan
keuangan
Sumber : sifat dan luasnya prosedur audit yang dilaksanakan auditor.

5
2.4 TEKNIS PELAKSANAAN AUDIT BERBASIS RISIKO
Pelaksanaan Audit Berbasis Risiko seturut kutipan dari ISA 200 ialah sebagai
berikut:
a. Alinea 200.15 dengan pokok bahasan Skeptisme Profesional
Auditor wajib merencanakan dan melaksanakan suatu audit dengan skeptisme
profesiomal dengan menyadari bahwa mungkin ada situasi yang menyebabkan laporan
keuangan disalah sajikan secara material. (lihat alinea A18-A22)

b. Alinea 200.16 dengan pokok bahasan Kearifan Profesional


Auditor wajib melaksanakan kearifan professional dalam merencanakan dan
melaksanakan suatu audit atas laporan keuangan. (lihat alinea A23-A27)

c. Alinea 200.17 dengan pokok bahasan Asurans yang Layak


Untuk memperoleh asurans yang layak, auditor memperoleh bukti audit yang cukup
dan tepat untuk menekan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima, dengan demikian
memungkinkan auditor menarik kesimpulan yang layak untuk digunakan sebagai dasar
pemberian pendapat auditor. (lihat alinea A28-A52)

d. Alinea 200.21 dengan pokok bahasan Gunakan Tujuan Sesuai ISAs yang Relevan
Untuk mencapai tujuan menyeluruhnya, auditor wajib menggunakan tujuan yang
dinyatakan dalam ISAs yang relevan dalam merencanakan dan melaksanakan audit tersebut,
dengan memperhatikan keterkaitan diantara (berbagai) ISAs untuk: (lihat alinea A67-A69)
 Menentukan apakah prosedur audit tambahan disamping yang diwajibkan ISAs
memang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dinyatakan dalam ISAs; dan
(ref:para.A70).
 Mengevaluasi apakah bukti audit yang cukup dan tepat sudah diperoleh. (ref:para.A71).
Makna audit berbasis risiko tersirat dalam Bagan Proses Audit. Suatu audit berbasis risiko
mengandung 3 langkah kunci, yaitu:
a. Risk Assessment (Menilai Risiko)
Melaksanakan prosedur penilaian risiko untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah
saji yang material dalam laporan keuangan.
b. Risk Response (Menanggapi Risiko)
Merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya yang menanggapi risiko (salah
saji yang material) yang telah diidentifikasi dan dinilai, pada tingkat laporan keuangan
dan asersi.

6
c. Reporting (Pelaporan)
Tahap melaporkan meliputi:
 Merumuskan pendapat berdasarkan bukti audit yang diperoleh
 Membuat dan menerbitkan laporan yang tepat, sesuai kesimpulan yang ditarik

2.5 MANFAAT AUDIT BERBASIS RISIKO (ABR)

a. Fleksibilitas waktu

Karena prosedur penilaian risiko tidak menguji transaksi dan saldo secara rinci, prosedur
itu dapat dilaksanakan jauh sebelum akhir tahun (dengan asumsi, tidak ada perubahan
operasional yang besar). Ini dapat menyeimbangkan beban kerja audit secara merata
sepanjang tahun. Ini juga memberi waktu yang cukup bagi klien untuk menanggapi
temuan mengenai kelemahan pengendalian intern dan permintaan bantuan sebelum
dimulainya pekerjaan lapangan pada akhir tahun. Namun, kalau informasi keuangan
interim (bulanan) tidak tersedia, prosedur penilaian risiko analitikal, terpaksa
dilaksanakan lebih lambat.

b. Upaya tim audit terfokus pada area kunci

Dengan memahami dimana risiko salah saji material bisa terjadi dalam laporan keuangan,
auditor dapat mengarahkan tim audit ke hal-hal berisiko tinggi (high-risk areas) dan
mengurangi pekerjaan pada lower-risk areas. Dengan demikian sumber daya/staf audit
dimanfaatkan sebaik-baiknya.

c. Prosedur audit terfokus pada risiko

Prosedur audit selanjutnya dirancang untuk menganggapi risiko yang dinilai. Oleh karena
itu, uji rincian (tests of details) yang hanya menanggapi risiko secara umum, akan dapat
dikurangi secara signifikan atau bahkan sama sekali dihilangkan.

d. Pemahaman atas pengendalian internal

Pemahaman terhadap pengendalian intern (yang diwajibkan ISA) memungkinkan auditor


mengambil keputusan yang tepat, untuk menguji/tidak menguji efektifnya pengendalian
intern. Uji pengendalian (beberapa pengendalian hanya perlu diuji setiap tiga tahun)
sering mengurangi banyak pekerjaan, dibandingkan dengan pelaksanaan uji rincian secara
ekstensif (extensive tests of details) untuk menentukan luasnya pengujian.

7
e. Komunikasi tepat waktu

Pemahaman terhadap pengendalian intern yang meningkat, memungkinkan auditor


mengindetifikasi kelemahan dalam pengendalian intern, yang sebelumnya tidak diketahui.
Mengomunikasikan kelemahan dalam pengendalian intern kepada manajemen secara
tepat waktu memungkinkan entitas mengambil tindakan yang tepat, dan yang
menuntungkan entitas. Hal ini juga dapat menghemat waktu pelaksanaan audit.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Risiko Audit (Audit Risk) adalah risiko memberikan opini audit yang tidak tepat
(expressing an inappropriate audit option) atas laporan keuangan yang disalah sajikan secara
material. Tujuannya ialah menekan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima auditor,
dengan cara menilai risiko salah saji yang material dan menekan risiko pendeteksian. ada tiga
langkah utama dalam audit berbasis risiko yaitu risk assessment(menilai risiko), risk response
(menanggapi risiko), dan reporting (pelaporan). Ada beberapa manfaat dari suatu audit
berbasis risiko mulai dari fleksibilitas waktu,upaya tim audit terfokus pada area kunci,
prosedur audit terfokus pada risiko,pemahaman atas pengendalian internal, sampai dengan
komunikasi tepat waktu.Selain itu audit berbasis risiko juga memiliki manfaat bagi auditor
dan klien.