Anda di halaman 1dari 5

Peranan Akuntansi Manajemen di Era Industri 4.

0
Oleh: Muhammad Akmal Abdul Qudduus

1. Pendahuluan
Menurut Chartered Institute of Management Accountants (CIMA), akuntansi
manajemen adalah proses identifikasi, pengukuran, akumulasi, analisis, penyusunan,
interpretasi, dan komunikasi informasi yang digunakan oleh manajemen untuk
merencanakan, mengevaluasi, dan pengendalian dalam suatu entitas dan untuk memastikan
sesuai dan akuntabilitas penggunaan sumber daya tersebut. Akuntansi manajemen juga
meliputi penyusunan laporan keuangan untuk kelompok non-manajemen seperti pemegang
saham, kreditur, badan pengatur dan otoritas pajak. Sedangkan menurut Rudianto akuntansi
manajemen adalah sistem akuntansi dimana informasi yang dihasilkannya ditujukan kepada
pihak-pihak internal organisasi, seperti manajer keuangan, manajer produksi, manajer
pemasaran, dan sebagainya guna pengembalian keputusan internal organisasi.
Maka secara ringkas Akuntansi Manajemen dapat didefinisikan yaitu suatu sistem
akuntansi yang fokus kepada penyediaan informasi akuntansi untuk kepentingan internal
yaitu manajemen suatu organisasi sebagai dasar mengevaluasi, pengendalian, dan
memutuskan kebijakan-kebijakan manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Akuntansi
Manajemen memiliki beberapa fungsi antara lain:
a. Menghasilkan informasi keuangan yang ditujukan kepada pihak manajemen
perusahaan.
b. Menganalisis dan menginterpretasi informasi keuangan dalam bentuk suatu laporan
keuangan yang sistematis, transparan dan detail.
c. Untuk menyajikan suatu laporan sebagai satu kesatuan usaha.
Terdapat beberapa pihak dalam perusahaan yang membutuhkan Akuntansi
Manajemen, antara lain:
a. Manajer Keuangan
Manajer keuangan membutuhkan informasi akuntansi manajemen berupa laporan
keuangan dan analisis laporan keuangan yang terdiri dari beberapa analisis seperti
tingkat pengembalian modal, tingkat pengembalian investasi, dan berbagai macam
informasi keuangan lainnya.
b. Manajer Produksi
Manajer Produksi memerlukan laporan mengenai rincian biaya produksi seperti biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, maupun biaya overhead dan juga biaya-
biaya lain yang berkaitan dengan harga pokok.
c. Manajer Pemasaran
Manajer pemasaran membutuhkan informasi tentang produk, harga jual produk,
penjualan tunai maupun kredit, sampai dengan komisi yang diterima dalam proses
pemasaran.
Dengan adanya Akuntansi Manajemen maka manajemen perusahaan bisa sangat
terbantu dalam membuat keputusan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2. Industri 4.0
Berbicara tentang Industri 4.0 sudah pasti menyangkut tentang Revolusi Industri.
Revolusi industri telah terjadi sejak abad 18, berikut adalah tahapan revolusi industri sebelum
hadirnya Industri 4.0 secara singkat:
a. Revolusi Industri 1.0
Revolusi industri pertama kali terjadi di Britania Raya. Pada awalnya pekerjaan
produksi barang atau jasa menggunakan 100% tenaga manusia, namun tenaga
manusia memiliki batasan tertentu sehingga proses produksi memakan banyak waktu
dan kurang efektif. Hingga pada tahun 1776 James Watt menemukan mesin uap.
Mesin uap ini mulai menggantikan pekerjaan manusia. Sebagai contoh kapal laut
yang awalnya menggunakan tenaga angin agar bisa melaju tergantikan dengan mesin
uap, dan juga dibuat kereta api uap. Hal ini dapat menghemat waktu sebesar 80%.
b. Revolusi Industri 2.0
Revolusi industri kedua diawali dari hasil penemuan ilmuwan terkenal seperti Nikola
Tesla, Thomas Alva Edison, hingga Albert Einstein. Penemuan yang paling penting
yaitu listrik. Listrik terus dikembangkan hingga menjadi sangat efisien. Namun masih
terdapat kendala industri dalam produksi yaitu efisiensi waktu dalam proses produksi
masal. Hingga pada tahun 1913 revolusi industri kedua dimulai dengan menciptakan
“Lini Produksi” atau Assembly Line yang menggunakan “Ban Berjalan” atau conveyor
belt di tahun 1913, sebagai contoh yaitu pada industri mobil awalnya tenaga kerja 1
atau 2 orang mengerjakan produksi dari awal sampai akhir, lalu dengan adanya lini
produksi maka tenaga kerja dijadikan spesialis pada pengerjaan tertentu. Banyak
tenaga kerja terserap dalam produksi masal ini dan lebih efisien waktu.
c. Revolusi Industri 3.0
Revolusi industri ketiga dipicu oleh terciptanya komputer dan robot. Revolusi ini
bermula pada akhir abad 20. Dengan adanya komputer dan robot maka proses
produksi bisa sangat efektif dan efisien. Namun, banyak perusahaan besar yang
melakukan mekanisasi akhirnya harus meminimalisir tenaga kerja karena telah
tergantikan oleh mesin.
Awal mula istilah “Industri 4.0” berasal dari sebuah proyek canggih pemerintah
Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Lalu istilah ini dipopulerkan kembali di
Hannover Trade Fair pada tahun 2011. Setelah itu dibentuk kelompok kerja industri 4.0 dan
disahkan oleh pemerintah federal jerman sebagai bapak perintis Industri 4.0.
Secara umum Industri 4.0 dapat dipahami sebagai tren industri yang mengandalkan
teknologi cyber untuk mengotomatisasi kinerja industri. Teknologi cyber ini meliputi cyber
physic system, Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan juga komputasi kognitif.
Beberapa orang meragukan revolusi industri 4.0 karena dianggap hanya sebagai perluasan
revolusi industri ketiga. Namun hal-hal besar muncul pada era ini, seperti Internet of Things,
Artificial Intelligence, Cloud Computing, dan lain-lain.
Hal mendasar yang membedakan revolusi industri 4.0 dengen revolusi industri 3.0
adalah Internet of Things (IoT). Semua menjadi serba internet, seperti mengirim data sampai
dengan menyimpan data bisa dilakukan oleh internet, ataupun melakukan transfer uang yang
semula harus dilakukan pada mesin ATM namun sekarang bisa dilakukan dimana saja dan
kapan saja. Hal ini membuat proses kegiatan menjadi real time atau on time. Pada era ini
besarnya suatu industri tidak menjamin keberlangsungan industri tersebut, namun industri
yang paling lincah yang bisa menjaga keberlangsungan industri. Industri harus cepat
menangkap informasi dan teknologi terbaru agar bisa memaksimalkan profit. seperti
perusahaan Uber yang mengancam keberlangsungan transportasi taxi konvensional.
Dalam meghadapi era Industri 4.0 yang tidak terelakkan maka Kementrian
Perindustrian (Kemenperin) merancang roadmap (peta jalan) untuk mengimplementasikan
Industri 4.0 di Indonesia. Rancangan ini bertajuk “Making Indonesia 4.0” yang telah
disosialisasikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto sejak 2018 di berbagai
kesempatan.
3. Akuntansi Manajemen di Era Industri 4.0
Dunia begitu cepat berubah akibat dari perkembangan teknologi yang massif. Hal
tersebut menunjukan bahwa manusia bersama-sama dengan teknologi berkembang begitu
pesat. Perkembangan teknologi dan inovasi seolah berkejaran dengan waktu. Disruptive
innovation, augmented intelligence, dan berkembangnya mesin mutakhir seakan berlomba
untuk meningkatkan efisiensi dunia industri. Inovasi-inovasi baru mendorong terciptanya
pasar baru dan menggeser keberadaan pasar lama. Apakah mesin dan robot pintar kini
mengambil alih peran kita? Seberapa besar inovasi-inovasi tersebut memengaruhi hidup kita?
Akankah perubahan ini menjadi ketakutan tersendiri ataukah menjadi tantangan yang harus
dihadapi?
Peranan akuntan saat ini tak lagi terbatas pada book-keeping. Namun, mencakup
pengendalian internal, memberikan analisa informasi bagi manajemen, terutama terkait
strategi-strategi keuangan perusahaan. Analisis akuntan dan keuangan juga akan berpindah
dari sifat retrospektif menjadi prediktif. Peran akuntan akan berubah secara radikal.
Penggunaan data akuntansi akan menjadi berbasis Cloud. Pekerjaan akuntan akan lebih
efisien dan mobile. Akuntan adalah expert dalam bidang penyedia informasi keuangan, maka
teknologi informasi sangat vital dan menjadi kebutuhan pokok Akuntan dalam menyediakan
informasi keuangan. Bagaimana merespon masa depan? Akuntan perlu melakukan lima hal
berikut ini:
a. Melakukan investasi pada pengembangan digital skills.
b. Menerapkan prototype teknologi baru, sambil learn by doing.
c. Pendidikan berbasis international certification dan digital skills
d. Responsif terhadap perubahan industri, bisnis dan perkembangan teknologi.
e. Kurikulum dan pembelajaran berbasis human-digital skills.
Pada kenyataannya teknologi memang dapat mengambil alih pekerjaan utama seorang
akuntan seperti menjurnal hingga penyusunan laporan keuangan secara rapi dan detail.
Namun laporan keuangan tidaklah cukup. Perusahaan membutuhkan informasi keuangan
yang lebih seperti analisa hingga prediksi keuangan. Pekerjaan ini tidak bisa menjadi baik
jika tidak dikerjakan oleh Akuntan. Hal inilah yang membuat peranan Akuntansi Manajemen
sangat vital dan tidak tergantikan oleh teknologi.
Akuntan manajemen di masa depan harus berpengetahuan, berkualitas,
berkemampuan memadai, mampu berkembang dan selalu berinovasi dengan tehnologi.
Kolaborasi merupakan faktor kunci dalam menciptakan nilai tambah akuntan bagi
pertumbuhan bisnis konvensional dan startup. Akuntan konvensional akan kehilangan daya
saingnya adalah hal yang pasti terjadi apabila tidak menghiraukan perubahan ini ke dalam
strategi bisnis mereka.
4. Kesimpulan
Teknologi atau kecerdasan buatan merupakan alat yang dapat digunakan dan
dimanfaatkan oleh akuntan maupun pemilik bisnis agar lebih efektif dan efisien. Namun hal
tersebut tidak dapat menggantikan peran intelektual Akuntan untuk melakukan analisa
terhadap hasil yang diperoleh dari laporan yang dihasilkan. Seorang Akuntan lah yang akan
menginterpretasikan setiap arti serta makna yang disajikan dalam laporan keuangan.
Sehingga hal tersebut dapat membantu pihak manajemen untuk mengambil keputusan yang
lebih baik di masa mendatang.